Anda di halaman 1dari 17

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

TUGAS PENGUKURAN LISTRIK GALVANOMETER


OLEH : WENI SRI YUNITA D411 12 979

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG


Proses pengukuran dalam system tenaga listrik merupakan salah satu prosedur standar yang harus dilakukan. Karena melalui pengukuran akan diperoleh besaran-besaran yang diperlukan, baik untuk pengambilan keputusan dan instrumen kontrol maupun hasil yang diinginkan oleh seorang user. Pada alat kumparan putar jenis magnet permanen ,jarum penunjuk meter akan berhenti apabila torsi penyimpang dan torsi kontrol sama besarnya, sehingga torsi penympang sebanding dengan arus yang mengalir.Karena alat ukur kumparan putar jenis magnet permanent bekerja berdasarkan gaya Lorentz maka torsi penyimpang yang terjadi apabila arus yang melewati kumparan menimbulkan gaya dikedua sisinya .hal ini sebanding apabila arus yang malalui kumparan 1 ampere maka magnitude gaya akan ditimbulkan pada tiap sisi kumparan. Apabila kumparan dipasang pegas-pegas pengatur ,maka torsi elektromagnetik akan membangkitkan torsi mekanik pegas yang arahnya berlawanan sehingga kumparan tersebut dapat berputar. Pada saat terjadi kesetimbangan torsi ,kumparan defleksi dengan sudut tertentu .bresarnya sudut defleksi ditunjukan oleh jarum penunjuk sehingga dapat ditera antara arus listrik dan sudut defleksinya. Dalam penulisan makalah ini akan memaparkan tentang galvanometer ,jenis jenis galvanometer, kemudian prinsip kerja dari galvanometer, serta menjelaskan beberapa aspek penting yang terdapat pada galvanometer.

B.

TUJUAN
1. Mempelajari tentang teori dasar dan jenis jenis dari Galvanometer. 2. Mempelajari tentang sensitivitas dan prinsip kerja dari galvanometer. 3. Mengetahui tentang Defleksi Galvanometer dalam Keadaan Mantap (Steady State deflection ). 4. Mengetahui tentang sifat dinamik galvanometer.

C.

Batasan Masalah
Makalah ini membahas tentang beberapa jenis dari Galvanometer. Dalam makalah ini dijelaskan tentang prinsip kerjanya serta bagianbagiannya, dan menjelaskan beberapa aspek penting yang terdapat pada galvanometer.

BAB II PEMBAHASAN 1. TEORI DASAR


Istilah galvanometer diambil dari seorang yang bernama Luivi Galvani. Penggunaan galvanometer yang pertama kali dilaporkan oleh Johann Schweigger dari Universitas Halle di Nurremberg pada 18 september 1820. Andre-Marie Ampere adalah seorang yang memberi kontribusi dalam mengembangkan galvanometer. Galvanometer pada umumnya dipakai untuk penunjuk analog arus searah, dimana arus yang diukur merupakan arus-arus kecil misalnya yang diperoleh pada pengukuran fluks magnet. Oleh karena itu galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakn untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung . Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt). Pada mulanya bentuk galvanometer seperti alat yang dipakai Oersted yaitu jarum kompas yang diletakkan dibawah kawat yang dialiri arus yang akan diukur. Kawat dan jarum diantara keduanya mengarah utara-selatan apabila tidak ada arus di dalam kawat. Akibat adanya arus listrik yang mengalir melalui kawat akan tercipta medan magnet sehingga arah jarum magnet di dekat kawat akan bergeser arah jarum magnetnya. Kepekaan galvanometer semacam ini bertambah apabila kawat itu dililitkan menjadi kumparan dalam bidang vertical dengan jarum kompas ditengahnya. Dan instrument semacam ini dibuat oleh Lord Kelvin pada tahun 1890, yang

tingkat kepekaanya jarang sekali dilampaui oleh alat-alat yang ada pada saat ini.

Gambar 1. Galvanometer analog

A. MACAM - MACAM GALVANOMETER 1. Galvanometer Suspensi Cikal bakal dari alat-alat ukur arus searah yang menggunakan kumparan gerak (moving coil) bagi sebagian besar alat-alat ukur arus searah adalah Galvanometer suspensi. Galvanometer suspensi masih digunakan untuk pengukuran-pengukuran laboratorium sensitivitas tinggi tertentu, jika keindahan instrumen bukan merupkan masalah dan probabilitas bukan menjadi prioritas. Prinsip kerja galvanometer ini yaitu mekanisme kumparan putar magnet permanen (PMMC).

Gambar 2. Galvanometer Suspensi 2. Galvanometer Balistik Untuk mengukur fluksi maknit digunakan galvanometer balistik, dimana galvanometer ini bekerja menggunakan prinsip d Arsonval

dan dirancang khusus untuk pemakaian selama 20 30 sekon dengan kepekaan tinggi. Pada pengukuran balistik ini, kumparan menerima suatu impuls arus sesaat, mengakibatkan kumparan berayun ke satu sisi dan kemudian kembali berhenti dalam gerakan berosilasi. Jika impuls arus berlangsung singkat, maka defleksi mula-mula dari posisi berhenti berbanding lurus dengan kuantitas pengosongan muatan listrik melalui kumparan. Nilai relatif impuls arus yang diukur dalam defleksi sudut mula-mula dari kumparan adalah : Q=K Dimana, Q = muatan listrik (coulomb) K = kepekaan galvanometer (coulomb / radian defleksi) = defleksi sudut kumparan (radian) Harga kepekaan galvanometer ( K ), dipengaruhi oleh redaman dan besarnya diperoleh secara eksperimental, melalui pemeriksaan kalibrasi pada kondisi pemakaian yang nyata.

Gambar 3. Galvanometer Balistik

3. Galvanometer tangen Galvanometer tangen adalah alat ukur awal yang digunakan untuk pengukuran arus listrik. Ia bekerja dengan menggunakan jarum kompas untuk membandingkan medan magnet yang dihasilkan oleh arus tidak diketahui oleh medan magnet Bumi. Ia mendapat namanya

dari prinsip operasi, hukum tangen magnetisme, yang menyatakan bahwa persoalan dari sudut jarum kompas membuat sebanding dengan rasio kekuatan dari dua bidang tegak lurus magnet. Ini pertama kali dijelaskan oleh Claude Pouillet pada tahun 1837.

Gambar 4. Galvanometer tangent 4. Galvanometer Astatic Galvanometer ini dikembangkan oleh Leopoldo Nobili. Tidak seperti galvanometer kompas jarum, glvanometer astatic ini memiliki dua jarum magnetik sejajar satu sama lain, tetapi dengan kutub magnet terbalik. Perakitan jarum ditangguhkan oleh benang sutra dan tidak memiliki momen dipol magnetik. Hal ini tidak dipengaruhi oleh medan magnet bumi. Jarun yang lebih rendah di dalam kumparan akan dibelokkan oleh medan magnet yang diciptakan oleh arus yang lewat.

Gambar 5. Galvanometer Astatic

5. Galvanometer Refleksi Cermin Galvanometer refleksi cermin adalah gavanometer yang sangat sensitif. Galvanometer yang digunakan pada kepekaan tinggi seperti ini menggunakan sistem refleksi cahaya. Alat penunjuk (pointer) yang digunakan berupa cermin pemantul yang dipasang pada bagian yang berputar. Berkas cahaya dipantulkan dari cermin tersebut kemudian diproyeksikan pada sebuah kaca buram yang mempunyai garis-garis skala pembagi.

Gambar 6. Galvanometer Refleksi Cermin

B. TORSI DAN DEFLEKSI PADA GALVANOMETER Torsi merupakan kemampuan gaya yang dapat menghasilkan suatu perputaran terhadap suatu poros sumbu putarnya. Pada galvanometer, torsi ini dipengaruhi oleh kerapatan fluks (garis gaya medan magnet), luas efektif kumparan, arus yang mengalir pada kumparan, jumlah lilitan pada kumparan. Persamaan untuk torsi pada galvanometer dapat ditulis sebagai berikut :
T=BxAxIxN

dimana : T = torsi (Nm) B = kerapatan fluks (Wb/m2) A = luas efektif kumparan (m2) I = arus di dalam kumparan (A) N = jumlah lilitan kumparan Defleksi merupakan besarnya simpangan jarum pada galvanometer. Besarnya sudut defleksi pada galvanometer biasanya diukur dalam radian dan milimeter. Untuk menghitung kuantitas pengosongan muatan, defleksi diukur dalam radian. Sedangkan untuk menghitung besarnya sensitivitas, defleksi diukur dalam milimeter (mm). 1. Defleksi Galvanometer dalam Keadaan Mantap ( Steady State deflection). Pada defleksi galvanometer dalam keadaan mantap diterapkan di galvanometer suspensi dimana ini terhadap jenis instrumen yang lebih baru, yaitu mekanisme kumparan putar maknet permanen ( PMMC : permanent magnet moving coil ). Dimana konstruksi PMMC dan bagian-bagiannya ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 7. Konstruksi PMMC Dimana cara kerjanya jika arus mengalir di dalam kumparan, akan timbul torsi elektromaknetik yang menyebabkan berputarnya kumparan, dan torsi ini akan diimbangi torsi mekanis dari pegas-

pegas pengatur yang diikat pada kumparan. Kesetimbangan torsitorsi dan posisi sudut kumparan putar, dinyatakan oleh jarum penunjuk terhadap referensi tertentu, yang disebut skala. Karena kerapatan fluksi dan luas kumparan merupakan parameterparameter konstan untuk sebuah instrumen, maka persamaan torsi harus berbanding lurus dengan arus I (T~I). Dimana torsi menyebabkan defleksi jarum ke keadaan mantap, serta torsi diimbangi oleh torsi pegas pengontrol. Perencana hanya dapat mengubah nilai torsi pengatur dan jumlah lilitan kumparan untuk mengukur arus skala penuh. Umumnya luas kumparan praktis 0,5 2,5 cm, kerapatan fluksi untuk instrumen modern 1500 5000 gauss ( 0,15 0,5 Wb/m2).

2. Sifat Dinamik Galvanometer. Jika arus bolak balik dialirkan ke sebuah galvanometer pencatat, maka pencatatan yang dihasilkan oleh gerakan kumparan putar meliputi karakteristik respons dari elemen yang berputar itu sendiri, dengan demikian penting untuk mempertimbangkan sifat

dinamiknya. Sifat dinamik galvanometer adalah : kecepatan respons, redaman dan over-shoot. Sifat dinamik galvanometer dapat diamati dengan memutuskan arus input secara tiba-tiba, sehingga kumparan berayun kembali dari posisi defleksi menuju posisi nol. Sebagai akibat dari kelembaman (inersia) dari sistem yang berputar, jarum berayun melewati titik nol dalam arah berlawanan dan berosilasi kekiri dan kekanan, dan secara perlahan-lahan osilasi ini akan mengecil sebagai akibat dari redaman elemen berputar dan akhirnya jarum berhenti pada posisi nol.

Gerakan sebuah kumparan didalam medan maknet, diketahui dari tiga kuantitas, yaitu : 1. Momen inersia kumparan putar terhadap sumbunya ( J ). 2. Torsi lawan yang dihasilkan oleh gantungan kumparan ( S ). 3. Konstanta redaman ( D ). Penyelesaian persamaan diferensial yang menghubungkan ketiga faktor diatas, menghasilkan tiga kemungkinan yang masing-masing menjelaskan sifat dinamik kumparan dan sudut defleksinya ( ).

Gambar 8. Sifat dinamik galvanometer. Dari gambar 8 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : Kurva I : Keadaan terlalu redam, dimana kumparan kembali secara perlahan ke posisi diam tanpa lonjakan atau osilasi. Kurva II : Keadaan kurang redam, dimana gerakan kumparan dipengaruhi oleh osilasi sinusoida teredam. Laju dimana osilasi berhenti ditentukan konstanta redaman ( D ), momen inersia ( J ) dan torsi lawan ( S ) yang dihasilkan gantungan kumparan. Kuva III : Keadaan redaman kritis, dimana jarum kembali dengan cepat ke keadaan mantap tanpa osilasi. Idealnya, respons galvanometer adalah sedemikian rupa, sehingga jarum jam bergerak ke posisi akhir tanpa lonjakan, berarti gerakan tersebut harus pada keadaan redaman kritis, akan tetapi dalam praktek, pada umumnya galvano- meter sedikit kurang teredam,

sehingga jarum sedikit melonjak sebelum berhenti, dan lebih lambat dari redaman kritis. C. Sensitivitas Galvanometer Ada empat konsep yang dapat digunakan untuk menyatakan sensitivitas galvanometer (Galvanometer Sensitivity), yaitu :

1. Sensitivitas Arus Sensitivitas arus (Current Sensitivity) ialah perbandingan diantara simpangan jarum penunjuk galvanometer terhadap arus listrik yang menghasilkan simpangan tersebut. Besarnya arus listrik biasanya dalam orde mikroampere (A). Sedangkan besarnya simpangan dalam orde milimeter (mm). Jadi untuk galvanometer yang tidak memiliki skala yang dikalibrasi dalam orde milimeter, harus dikonfersi dulu ke dalam skala mili meter. Secara matematis, sensitivitas arus dinyatakan dengan : S1 =

S1 = Sensitivitas arus dalam mm/A d = Simpangan Galvanometer dalam mm I = Arus pada Galvanometer dalam A

2. Sensitivitas Tegangan Sensitivitas tegangan (Voltage Sensitivity), ialah perbandingan antara simpangan jarum penunjuk galvanometer terhadap tegangan yang menghasilkan simpangan tersebut. Sensitivitas tegangan dinyatakan dengan notasi matematis sebagai berikut : Sv =

SV = Sensitivitas tegangan dalam mm/ mV d = Simpangan Galvanometer dalam mm V = Arus pada Galvanometer dalam mV

3. Sensitivitas Mega ohm Sensitivitas mega ohm (Megaohm Sensitivity), ialah besarnya resistansi mega ohm yang terhubung seri dengan galvanometer (termasuk CDRX Shunt-nya) untuk menghasilkan simpangan jarum menunjuk

galvanometer sebesar 1 bagian skala jika tegangannya yang disatukan sebesar 1 Volt. Karena besarnya hambatan ekivalen dari galvanome ter yang terhubung paralel dapat diabaikan bila dibandingkan dengan besarnya tahanan mega ohm yang terhubung seri dengannya, maka arus yang masuk praktis sama dengan 1/R A dan menghasilkan simpangan satu bagian skala. Secara numeric sensitivitas mega ohm sama dengan sensitivitas arus dan dinyatakan sebagai berikut : SR = S1
A

SR = Sensitivitas mega ohm dalam mm/ A D = Simpangan Galvanometer dalam mm I = Arus pada Galvanometer dalam A

4. Sensitivitas Balistik Konsep lain sebagai tambahan adalah konsep Sensitivitas Balistik (Ballistic Sensitivity) yang biasa digunakan pada Galvanometer Balistirk. Sensitivitas Balistik adalah perbandingan antara simpangan maksimum dari jarum penunjuk Galvanometer terhadap jumlah muatan listrik Q dari sebuah pulsa tunggal yang menghasilkan simpangan tersebut. Sensitivitas Balistik dinyatakan dengan formula berikut : SQ = C

SQ = Sensitivitas Balistik dalam mm/C d = Simpangan Galvanometer dalam mm Q = Besarnya muatan Listrik dalam C

2.

PRINSIP KERJA GALVANOMETER


Galvanometer pada umumnya dipakai untuk arus tetapi dalam mengukur kuat arus listrik galvanometer bekerja berdasarkan prinsip bahwa sebuah kumparan yang dialiri arus listrik dapat berputar ketika diletakkan dalam satu daerah medan magnetic. Pada dasarnya kumparan terdiri dari banyak lilitan kawat. Sebuah galvanometer yang digantungkan pada kumparan, kopel magnetic akan memutar kumparan seperti yang telah kita ketahui kumparan hanya dapat berputar maksimal seperempat putaran kedudukan kumparan tegak lurus terhadap medan magnet. Cara kerja galvanometer sama dengan motor listrik, tapi karena dilengkapi pegas, maka kumparannya tidak berputar. Karena muatan dalam magnet dapat berubah, dimana adanya arus listrik yang mengalir didalamnya. Galvanometer pada umumnya dipakai untuk arus searah tetapi prinsipnya menggunakan konstruksi kumparan putar ,yaitu berputarnya kumparan karena munculnya dua gaya Lorentz sama besar tetapi berlawan arah yang dimana bekerja pada dua sisi kumparan yang saling berhadapan. Kawat tembaga dililitkan pada inti besi lunak berbentuk selinder membentuk satu kumparan, dan diletakkan diantara kutub-kutub sebuah magnet permanen. Arus listrik memasuki dan meninggalkan kumparan melalui pegas spiral yang terpasang diatas dan dibawah kumparan, maka sisi kumparan yang dekat dengan kutub utara dan kutub selatan mengalami gaya Lorentz yang sama tetapi berlawanan arah, yang akan menyebabkan kumparan berputar jarum untuk menunjukkan pada skala tertentu. Angka yang ditunjukkan oleh skala menyatakan besar arus listrik yang diukur.

Gambar 9. konstruksi kumparan putar pada Galvanometer

Oleh karena itu galvanometer adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen internalnya yang tidak mendukung.

BAB III KESIMPULAN


1. Galvanometer dipakai untuk penunjuk analog arus searah. 2. Jenis jenis galvanometer ada beberapa yaitu, galvanometer suspensi, balistik, tangen, astatic, serta galvanometer refleksi cermin. 3. Pada galvanometer kita ketahui torsi dipengaruhi oleh kerapatan fluks (garis gaya medan magnet), luas efektif kumparan, arus yang mengalir pada kumparan,dan juga jumlah lilitan pada kumparan. 4. Kesetimbangan torsi-torsi dan posisi sudut kumparan putar, dinyatakan oleh jarum penunjuk terhadap referensi tertentu, yang disebut skala. 5. Sifat dinamik galvanometer adalah : kecepatan respons, redaman dan overshoot. 6. Sensitivitas pada galvanometer terdiri dari : Sensitivitas Arus, teangan, mega ohm dan balistik. 7. Prinsip kerjadari galvanometer jika arus mengalir di dalam kumparan, akan timbul torsi elektromaknetik yang menyebabkan berputarnya kumparan, dan torsi ini akan diimbangi torsi mekanis dari pegas-pegas pengatur yang diikat pada kumparan.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

http://desyfisika.blogspot.com/2012/01/galvanometer.html http://id.wikipedia.org/wiki/Galvanometer http://ikabuh.files.wordpress.com/2012/02/isi-makalah-dc.pdf http://smart-fisika.blogspot.com/2012/01/galvanometer.html http://www.jevuska.com/2007/08/16/fungsi-galvanometer http://www.mediabali.net/listrik_dinamis/galvanometer.html http://www.scribd.com/document_downloads/direct/86060666?extension=pdf &ft=1381473043&lt=1381476653&user_id=179964864&uahk=RvnKa6kpoTQnpQ QjCX723XJv1Do http://www.scribd.com/document_downloads/direct/70748009?extension=pdf &ft=1381473216&lt=1381476826&user_id=179964864&uahk=0sBJ7TNfG0O7Os n/ItUTn0pgS5k http://www.scribd.com/document_downloads/direct/135267624?extension=pdf &ft=1381474757&lt=1381478367&user_id=179964864&uahk=DGR3SThDEKqXtp c49TbSRSSb+V0