Anda di halaman 1dari 9

Konsep Gangguan Jiwa: 1.

Adanya Gejala Klinis yang bermakna Sindrom atau pola perilaku Sindrom atau pola psikologik

2. Gejala klinis tersebut menimbulkan penderitaan (distress) 3. Gejala klinis tersebut menimbulkan disabilitas (disability)

DIAGNOSIS MULTIAKSIAL Gangguan jiwa bukan hanya disebabkan oleh kondisi medic umum, namun banyak faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab dari gangguan jiwa, sehingga etiologi dari gangguan jiwa merupakan bio-psiko-sosial. Oleh karena itu dalam mendiagnosis suatu gangguan jiwa, banyak aspek yang harus diperhatikan. Itulah sebabnya dalam mendiagnosis gangguan jiwa diperlukan diagnosis multiaksial, yang terdiri dari: Aksis I : - gangguan klinis - kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis Aksis II : - gangguan kepribadian - retardasi mental Aksis III : - kondisi medik umum Aksis VI : - masalah psikososial dan lingkungan Masalah terkait dengan hubungan dengan orang lain, pendidikan, Pekerjaan, ekonomi, sosial Aksis V : - penilaian fungsi secara global Seberapa besar tingkat gejala, dan seberapa besar pengaruh gejala tersebut Hingga menyebabkan disabilitas

Contoh pencatatan diagnosis multiaksial: Aksis I Aksis II Aksis III Aksis VI Aksis V Z63.0 Masalah dalam hubungan dengan pasangan F60.7 Gangguan kepribadian dependen H90.1 otitis media, berulang tidak ada pekerjaan GAF = 83 (taraf tertinggi tahun ini)

F23 GANGGUAN PSIKOTIK AKUT dan SEMENTARA Pedoman diagnosis Mengguanakan urutan diagnosis:

a) Onset yang akut ( 2 minggu atau kurang) b) Adanya sindrom klinik yang khas (berupa polimorfik = beraneka ragam dan berubah cepat, atau skizophrenia-like = gejala skizofrenia yang khas) c) Adanya stress akut d) Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode manic attau episode depresif, walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol Tidak ada penyebab organik

F23.0 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa Gejala Skizofrenia Pedoman diagnosis a) Onset harus akut ( 2 minggu atau kurang)

b) Harus adda beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah dalam jenis dan intesnsitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama c) Harus ada keanekaragaman emosional yang sama beraneka ragamnya d) Walaupun gejala beraneka ragam, tidak ada satupun dari gejala itu ada secara cukup konsisten dapat memenuhi criteria skizofrenia atau episode manic atau episode depresif

F23.1 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut dengan Gejala Skizofrenia Pedoman diagnosis a) Memenuhi criteria a) b) c) diatas yang khas untuk gangguan psikotik akut b) Disertai gejala-gejala yang memenuhi criteria untuk diagnosis skizofrenia (F20.-) yang harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis psikotik itu secara jelas c) Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia

F23.2 Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia (skizofrenia-like) akut Pedoman diagnosis a) Onset harus akut ( 2 minggu atau kurang) b) Disertai gejala-gejala yang memenuhi criteria untuk diagnosis skizofrenia (F20.-) yang harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis psikotik itu secara jelas c) Kriteria psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi d) Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia

F23.3 Gangguan Psikotik Lainnya dengan Predominan Waham

Pedoman diagnosis a) Onset harus akut ( 2 minggu atau kurang) b) Waham dan halusinasi harus sudah ada dalam sebagian besar wahtu sejak perkembangannya keadaan psikotik yang jelas c) Kriteria psikosis polimorfik akut dan skizofrenia tidak terpenuhi d) Kalau waham menetap lebih dari 3 bulan lamanya, maka diagnosis harus diubah menjadi Gangguan Waham Menetap. Apabila hanya halusinasi yang menetap lebih dari 3 bulan lamanya, maka diagnosis diubah menjadi Gangguan Psikotik Nonorganik Lainnya

F23.8 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara Lainnya Gangguan psikotik akut lain yang tidak dapat diklasifikasi ke dalam katergori manapun dalam F23

F23.9 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara YTT

F25 GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Pedoman Diagnosis Diagnosis hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dengan episode penyakit yang berbeda Tidak termasuk dalam diagnosis Depresi Pasca-skizofrenia Beberapa pasien dapat menjalani episode skizofrenia berulang, baik berjenis manic maupun depresif atau campuran. Pasien lain mengalami satu atau dua episode skizoafektif terselip diantara episode manic atau depresif

F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik Pedoman diagnosis Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektik tipe manic yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manic Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas

F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif Pedoman diagnosis Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektik tipe depresif yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe depresif Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian episode depresif Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas

F25.2 Gangguan Skizoafektif Tipe Campuran Gangguan dengan gejala-gejala skizofrenia berada secara bersama-sama dengan gejalagejala afektif bipolar campuran

F25.8 Gangguan Skizoafektif Lainnya F25.9 Gangguan Skizoafektif YTT Sumber: PPDGJ III

PEMERIKSAAN PENUNJANG CT Scan Merupakan pemeriksaan non-invasif yang dapat melihat anatomi kepala. Indikasi spesifiknya adalah: episode [ertama psikosis di atas umur 40 tahun, episode pertama gangguan afektif setelah umur 50 tahun, episode pertama gangguan kepribadian yang tak diketahui penyebabnya, katatonia persisten, anorexia nervosa. (Maramis) MRI Kelebihan dibandingkan CT scan yaitu: tidak melibatkan radiasi radioaktif, irisan dapat dilakukan di berbagai bidang, dapat lebih baik mendiferensiasi masa putih dan masa abu-abu otak sehingga lebih sensitive untuk kelainan anatomi otak, dan lebih baik untuk melihat kelainan di fosa posterior dan batang otak. (Maramis) Elektroensefalografi (EEG) Mengukur aktivitas elektrik di permukaan otak. Indikasi umum adalah pasien muda dengan episode pertama psikosis dan pasien dengan riwayat kemungkinan cedera otak atau gangguan neurologis. (Maramis)

PENATALAKSANAAN SKIZOAFEKTIF Apabila ada pikiran bunuh diri atau ide-ide membunuh diindikasikan untuk dirawat inapkan dirumah sakit. Terapi dalam melibatkan keluarga, pengembangan skill social dan berfokus pada rehabilitas kognitif. Pengobatan, digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti depresan bila memenuhi criteria diagnosis gangguan skizoafektif tipe depresif Apabila gangguan skizoafektif tipe manic terapi kombinasi antara antipsikotik dengan mood stabilizer. (Prihatini, R, 2008)

Sumber: Prihatini, Rahayu. 2008. Gangguan Skizoafektif. elib.fk.uwks.ac.id (diakses tanggal 17 November 2013)

PROGNOSIS PSIKOTIK AKUT Pasien biasanya sembuh sempurna dalam beberapa hari, dan prognosis jangka panjangnya baik, walaupun pasien berisiko untuk mengalami episode singkat di masa mendatang bila mengalami stress yang cukup bermakna. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC

PENDAHULUAN Mengamuk Sdr. A, 20 tahun, laki-laki, karyawan swasta, dibawa ke UGD Rumah Sakit Jiwa oleh orang tua dan saudara-saudaranya karena mengamuk, merusak barang-barang di rumah, dan mengancam akan membakar rumahnya. Pasien juga merasa dimusuhi oleh orang tua dan saudara-saudaranya, bahkan khawatir makanan atau minumannya diberi racun oleh mereka. Menurut orang tuanya, pasien mulai tampak perubahan tingkah laku sejak 2 minggu sebelumnya karena merasa rekan-rekan kerjanya tidak suka dan memusuhinya, sehingga pasien tidak mau masuk kerja. Orang tuanya menduga, pasien mengalami stress yang berat setelah tidak bekerja. Dari riwayat keluarga diketahui bahwa adik laki-laki ibunya juga pernah mengalami gangguan serupa. Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan status mental pada pasien didapatkan halusinasi auditorik dan thought insertion, insight (tilikan diri) derajat 1.

PENUTUP

KESIMPULAN Jenis gangguan jiwa yang dialami Sdr. A adalah gangguan jiwa Psikosis. gangguan psikosis adalah . berdasarkan onset dan gejala klinis yang muncul, gangguan psikosis dibagi menjadi skizofrenia, gangguan psikotik akut, gangguan waham, dan skizoafektif. Karena onset gangguan yang dialami penderita adalah 2 minggu, dan gejala klinis yang muncul merupakan gejala klinis yang menyerupai skizofrenia serta riwayat keluarga yang sama maka diagnosis sementara yang dapat disimpulkan adalah gangguan psikotik skizofrenia-like. Yang utama dibutuhkan adalah farmakoterapi anti-psikosis. jika gejala menetap dalam waktu lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia.

SARAN 1. Dibutuhkan data mengenai riwayat pasien sebelumnya, baik keadaan medik umum maupun adanya gangguan jiwa lainnya. 2. Terapi gangguan jiwa tidak hanya bertumpu pada farmakoterapi saja, namun terapi sosial dan kerohanian juga dibutuhkan dalam upaya penyembuhan pasien. 3. Perlu dicari etiologi yang jelas dari gangguan jiwa pasien, dan berusaha menjauhkan dari faktor etiologi dan keadaan stress terrsebut untuk mengurangi keadaan relaps. 4. Jika suatu saat keadaan pasien mengancam jiwa dirinya sendiri maupun orang lain, segera dibawa atau dirujuk ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terkait.