Anda di halaman 1dari 4

1. Tartazine Yellow Tartrazine adalah pewarna kuning yang banyak digunakan dalam makanan dan obat-obatan.

Selain berpotensi meningkatkan hiperaktivitas anak, pada sekitar 1- 10 dari sepuluh ribu orang , tartrazine menimbulkan efek samping langsung seperti urtikaria (ruam kulit), rinitis (hidung meler), asma, purpura (kulit lebam) dan anafilaksis sistemik (shock). Intoleransi ini tampaknya lebih umum pada penderita asma atau orang yang sensitif terhadap aspirin. Tartazine merupakan salah satu pewarna makanan sintetis (pewarna kuning). Di indonesia sebenarnya masih diijinkan untuk digunakan. Di

beberapa negara di dunia, tartrazine sudah dilarang, dan dibeberapa belahan dunia lainnya sudah dibatasi dengan ketat. Bersama tartrazine ini, terdapat juga pewarna Ponceau 4R, Sunset Yellow, Quionoline Yellow, dan Carmoisine, yang sama-sama masuk kategori E dalam penggolongan pewarna pangan (Anonim, 2011). Dampak tartrazine bagi kesehatan terutama adalah bagi anak-anak. Dari suatu penelitian di Inggris, ditemukan bahwa anak yang mengkonsumsi pangan yang mengandung tartrazine dapat menyebabkan hyperaktif, kesulitan konsentrasi dan kesulitan belajar membaca. Sementara jika digabung dengan pengawet natrium benzoat, maka kedua bahan ini saling melengkapi menyebabkan sakit kepala migrain yang parah. Dampak lain tartrazine adalah dapat memicu alergi, anak-anak siaga penuh (maksudnya tidak bisa tidur) pada malam hari, pandangan mengabur, bercak ungu pada kulit (sumber: The New Additives Code Breaker). Di Indonesia sendiri, memang belum ada surveilan yang mengaitkan gaya hidup/pola makan dengan penyakit tertentu. Hanya dari data RSCM, disebutkan bahwa 1 diantara 150 rb anak menderita kanker. Setiap bulan RSCM menerima 30 kasus baru kanker pada anak. Leukemia menempati urutan pertama, diikuti dengan kanker mata, kelenjar getah bening, ginjal serta tumor otak. Salah satu penyebab disinyalir karena pola makan yang terlalu banyak mengandung bahan tambahan sintetis atau kimia (Anonim, 2011).

2. Metanil Yellow

Methanyl Yellow / Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan. Kuning metanil umumnya digunakan sebagaipewarna tekstil, dan cat. Saat ini banyak kuning metanil disalahgunakan untuk pangan, beberapa telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan di antaranya, kerupuk, mie,pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna kuning metanil biasanya, berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar, banyak memberikantitik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk). Berdasarkan rumus kimianya, zat warna sintetis dalam makanan menurut Joint FAO/WHO Expert Commitee on Food Additives (JECFA) dapat digolongkan dalam beberapa kelas yaitu : azo, triaril metana, quinolin, xantin, indigoid. Methanyl Yellow ini termasuk ke dalam zat warna sintetis azo (Lita, 2013). Zat pewarna kuning Metanil yellow, merupakan zat pewarna industry tekstil yang dilarang untuk produk makanan, yang pada umumnya menggunakan zat anorganik ataupun mineral alam. Zat warna anorganik berasal dari persenyawaan logam berat seperti aluminium,besi, tembaga dan lainnya. Zat warna ini bersifat racun dan berbahaya karena mengandung residu logam berat. Industri tekstil menggunakan logam berat sebagai bahan pengikat warn aagar warna warna yang dihasilkan menjadi lebih terang dan indah. Bahkan ada beberapa industry tekstil yang menggunakan logam berat sebagai bahan pewarna. Logam berat yang terkandung di dalam pewarna tekstil dapat dilihat dari jenis limbah yang dihasilkan industrytekstil tersebut, terutama arsenic (Ar), Kadmium (Cd), krom (Cr), timbal (Pb), tembaga (Cu),zinc/seng (Zn). Proses pembuatan zat pewarna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa antara yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hasil

akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,00014 persen dantimbal tidak boleh lebih dari 0,001 persen, sedangkan logam berat lainnnya tidak boleh ada (Sherma, 2003). Pewarna kuning metanil sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasipada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih. Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah. Bahaya lebih lanjutnya yakni menyebabkan kanker pada kandung dan saluran kemih. Zat warna sintetis yang memiliki rumus kimia C18H14N3O3SNa dengan penampakan fisik berwarna orange sampai kuning ini memiliki struktur seperti dibawah ini :Nama lain atau sinonim/nama dagang dari kuning metanil adalah :Sodium phenylaminobenzene ,Metaniline Yellow ,CI Acid Yellow 36 ,CI No. 13065 ,Metanilyellow, Monoazo, Amacid Yellow M, Fenazo Yellow M, Kiton Yellow MS, Acid Golden G,Metanil Yellow C, Metanil Yellow E, Metanil Yellow F, Metanil Yellow G, Metanil YellowK, Metanil Yellow M, Metanil Yellow O, Metanil Yellow S, Metanil Yellow Y, MetanileYellow O, Kiton Orange MNO, Metanil Yellow PL, Metanil Yellow VS, Metanil Yellow WSNamun zat warna sintetis ini juga memiliki beberapa kelebihan yaitu dapat menghasilkan warna yang lebih kuat, lebih seragam, dan lebih stabil. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan danpemanasan. Selain itu, penggunaanya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, jika pewarna tersebut terkontaminasi logam berat, maka akansangat berbahaya.

3. Aquades

Air murni (H2O) adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum dan tidak mengandung zat tambahan lain. H2O memiliki berat molekul 18,02 g/mol dengan densitas 0,998 g/cm dalam fase cairan dan 0,92 g/cm dalam fase padatan. Titik leburnya 0 C (273,15 K) (32 F) dan titik didihnya 100 C (373.15 K) (212 F). Pemeriaannya cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dengan pH antara 5,0 - 7,0. Wadah dan penyimpanannya dalam wadah tertutup rapat (Anonim, 1995).

4. Etanol 96% Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna, bersifat mobile/dapat bergerak/mengalir, mudah terbakar, bau penenang, rasa membakar, padat pada suhu kurang dari -30C. Kelarutan : Campur dengan air dan pelarut organik umunya Titik didih : 78,5C Titik leleh : -141,5C n20D : 1,361 BJ : 0,7904-0,7935 BM : 46,07 (Anonim, 1995)