Anda di halaman 1dari 13

MEKANISME COPING Koping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima tubuh

dan beban tersebut menimbulkan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik yaitu stres. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut (Ahyar, 2010). Mekanisme koping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat, yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari dampak stressor tersebut. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi eksternal dan internal, sehingga yang berperan bukan hanya bagaimana lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu, persepsi, serta kognisi terhadap stressor tersebut. Mekanisme koping bersumber dari ego, sering di sebut sebagai mekanisme pertahanan mental, yaitu yang terdiri dari; denial ( menyangkal) menghindarkan realitas ketidak setujuan dengan mengabaikan atau menolah untuk mengenalinya, projeksi yaitu mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain, regresi yaitu menghindarkan stres terhadap karakteristik perilaku dari tahap perkembangan yang lebih awal, displacement (mengisar) yaitu mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang atau benda tertentu ke benda atau orang yang netral atau tidak membahayakan, mencari dukungan sosial seperti keluarga mencari dukunga atau bantuan dari kelurga, tetangga, teman atau keluarga jauh, reframing yaitu mengkaji ulang kejadian stres agar lebih dapat menanganinya dan menerimanya, mencari dukungan spiritual seperti mencari dan berusaha secara spiritual, berdoa, menemui pemuka agama atau aktif pada pertemuan ibadah, dan yang terakhir adalah menggerakkan keluarga untuk dapat menerima bantuan, keluarga berusaha mencari sumber-sumber komunitas dan menerima bantuan orang lain. Sedangkan mekanisme koping yang berorientasi pada tugas di gunakan untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan dasar. Terdapat 3 macam reaksi yang berorientasipada tugas yaitu; prilaku menyerang (Fight), prilaku menarik diri (withdrawl), dan kompromi (Rasmun, 2004). Pada prilaku menyerang, individu menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahankan integritas pribadinya. Prilaku yang di tampilkan dapat merupakan tindakan konstruktif maupun destruktif yaitu tindakan agresif (menyerang)

terhadap obyek, dapat berupa benda, barang, orang lain atau bahkan terhadap diri sendiri. Sedangkan tindakan konstruktif adalah upaya individu dalam menyelesaikan masalah secara asertif, yaitu dengan kata-kata terhadap rasa ketidak senangannya. Seperti kompromi juga merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk menyelesaikan masalah. Lazimnya kompromi dilakukan dengan cara bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Secara umum kompromi dapat mengurangi ketegangan dan masalah dapat diselesaikan. Perilaku menarik diri adalah perilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain, jadi secara physik dan psikologis individu secara sadar pergi meninggalkan lingkungan yang menjadi sumber stressor misalnya; individu melarikan diri dari sumber stres, menjauhi sumber beracun, polusi dan sumber infeksi. Sedangkan reaksi psikologis individu menampilkan diri seperti apatis, pendiam dan munculnya perasaan tidak berminat yang menetap pada individu (Ramun, 2004). Selain mekanisme koping, juga di kenal istilah strategi koping. Strategi koping adalah cara yang dilakukan untuk merubah lingkungan atau situasi atau menyelesaikan masalah yang sedang dirasakan/dihadapi (Rasmun, 2004). Menurut Stuart dan Sundeen (1995) Mekanisme koping juga dapat di golongkan menjadi 2 (dua) yaitu : mekanisme koping adaptif dan mekanisme koping maladaptif. Mekanisme koping adaptif merupakan mekanisme yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif (kecemasan yang dianggap sebagai sinyal peringatan dan individu menerima peringatan dan individu menerima kecemasan itu sebagai tantangan untuk di selesaikan). Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme yang menghambat fungsi integrasi, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar dan aktivitas destruktif (mencegah suatu konflik dengan melakukan pengelakan terhadap solusi). Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu: problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres; dan emotionfocused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam

rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus & Folkman, 1984). Ahyar (2010), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping, yaitu; kesehatan fisik, keyakinan atau pandangan positif, keterampilan memecahkan masalah, keterampilan sosial, dukungan sosial dan materi. Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar. Sementara itu keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (external locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping. Pada sisi lain keterampilan juga menjadi salah satu sumber koping, yaitu keterampilan memecahkan masalah dan keterampilan sosial. Keterampilan memecahkan masalah meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat. Sedangkan keterampilan sosial meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. Dukungan sosial dan materi juga merupakan faktor strategi koping. Dukungan sosial meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Sedangkan materi merupakan dukungan sumber daya berupa uang, barang barang dapat dibeli.

MEKANISME PERTAHANAN DIRI (DEFENCE MECHANISM) Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri merupakan bentuk penipuan diri.

Berikut ini beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama para remaja yang sedang mengalami pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah kedewasaan. Dari mekanisme pertahanan diri berikut, diantaranya dikemukakan oleh Freud, tetapi beberapa yang lain merupakan hasil pengembangan ahli psikoanalisis lainnya. a. Represi Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, konflik batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan mimpinya, karena mereka membuat keinginan tidak sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Sudah menjadi umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya: 1) Individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan, 2) Berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian yang menyesakkan dada, 3) Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk, 4) Lebih mudah mengingat hal-hal positif daripada yang negatif, 5) Lebih sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan dan enggan menekankan yang tidak membahagiakan. b.Supresi

Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Individu sewaktuwaktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi) c. Reaction Formation (Pembentukan Reaksi) Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah ketika dia berusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau supresi), dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. Dengan cara ini individu tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri pribadi yang tidak menyenangkan. Kebencian, misalnya tak jarang dibuat samar dengan menampilkan sikap dan tindakan yang penuh kasih sayang, atau dorongan seksual yang besar dibuat samar dengan sikap sok suci, dan permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan. d. Fiksasi Dalam menghadapi kehidupannya individu dihadapkan pada suatu situasi menekan yang membuatnya frustrasi dan mengalami kecemasan, sehingga membuat individu tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau selamanya. Dengan kata lain, individu menjadi terfiksasi pada satu tahap perkembangan karena tahap berikutnya penuh dengan kecemasan. Individu yang sangat tergantung dengan individu lain merupakan salah satu contoh pertahan diri dengan fiksasi, kecemasan menghalanginya untuk menjadi mandiri. Pada remaja dimana terjadi perubahan yang drastis seringkali dihadapkan untuk melakukan mekanisme ini. e. Regresi Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi frustrasi, setidak-tidaknya pada anak-anak. Ini dapat pula terjadi bila individu yang menghadapi tekanan kembali lagi kepada metode perilaku yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Ia memberikan respons seperti individu dengan usia yang lebih muda (anak kecil). Misalnya anak yang baru memperoleh adik,akan memperlihatkan respons mengompol atau menghisap jempol tangannya, padahal perilaku demikian sudah lama tidak pernah lagi

dilakukannya. Regresi barangkali terjadi karena kelahiran adiknnya dianggap sebagai sebagai krisis bagi dirinya sendiri. Dengan regresi (mundur) ini individu dapat lari dari keadaan yang tidak menyenangkan dan kembali lagi pada keadaan sebelumnya yang dirasakannya penuh dengan kasih sayang dan rasa aman, atau individu menggunakan strategi regresi karena belum pernah belajar respons-respons yang lebih efektif terhadap problem tersebut atau dia sedang mencoba mencari perhatian. f. Menarik Diri Reaksi ini merupakan respon yang umum dalam mengambil sikap. Bila individu menarik diri, dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun. Biasanya respons ini disertai dengan depresi dan sikap apatis. g.Mengelak Bila individu merasa diliputi oleh stres yang lama, kuat dan terus menerus, individu cenderung untuk mencoba mengelak. Bisa saja secara fisik mereka mengelak atau mereka akan menggunakan metode yang tidak langsung. h. Denial (Menyangkal Kenyataan) Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap tidak ada atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri. i. Fantasi Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya, individu sering merasa mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan kecemasan dan yang mengakibatkan frustrasi. Individu yang seringkali melamun terlalu banyak kadang-kadang menemukan bahwa kreasi lamunannya itu lebih menarik dari pada kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi bila fantasi ini dilakukan secara proporsional dan dalam pengendalian kesadaraan yang baik, maka fantasi terlihat menjadi cara sehat untuk mengatasi stres, dengan begitu dengan berfantasi tampaknya menjadi strategi yang cukup membantu. j. Rasionalisasi

Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alasan yang dapat diterima secara sosial untuk membenarkan atau menyembunyikan perilakunya yang buruk. Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah baik, atau yang baik adalah yang buruk. k. Intelektualisasi Apabila individu menggunakan teknik intelektualisasi, maka dia menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan dengan cara analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah, maka situasi itu akan dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional. Dengan intelektualisasi, manusia dapat sedikit mengurangi hal-hal yang pengaruhnya tidak menyenangkan bagi dirinya, dan memberikan kesempatan pada dirinya untuk meninjau permasalah secara obyektif. l. Proyeksi Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya sangat cepat dalam memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan itu akan cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya sendiri

Kategorisasi Vaillant tentang mekanisme pertahanan Level 1: Patologis Mekanisme pada tingkat ini , ketika mendominasi , hampir selalu sangat patologis . Keenam pertahanan , dalam hubungannya , izin satu untuk secara efektif mengatur ulang pengalaman eksternal untuk menghilangkan kebutuhan untuk mengatasi dengan kenyataan . Para pengguna patologis mekanisme ini sering muncul irasional atau gila untuk orang lain . Ini adalah " psikotik " pertahanan , umum di psikosis terbuka . Namun, mereka ditemukan dalam mimpi dan sepanjang masa juga. Mereka termasuk : Proyeksi Delusional : Delusi tentang realitas eksternal , biasanya bersifat persecutory .

Konversi : Ekspresi dari konflik intrapsikis sebagai gejala fisik , beberapa contoh termasuk kebutaan, tuli , lumpuh , atau mati rasa . Fenomena ini kadang-kadang disebut histeria . Denial : Penolakan untuk menerima kenyataan eksternal karena terlalu mengancam , berdebat melawan stimulus kecemasan-merangsang dengan menyatakan itu tidak ada , resolusi konflik emosional dan pengurangan kecemasan dengan menolak untuk melihat atau sadar mengakui aspek yang lebih menyenangkan dari eksternal realitas. Distorsi : A membentuk kembali kotor realitas eksternal untuk memenuhi kebutuhan internal . Memisahkan : Sebuah pertahanan primitif. Impuls negatif dan positif yang memisahkan diri dan tidak terintegrasi , sering diproyeksikan ke orang lain . Membela mensegregasikan pengalaman individu ke dalam kategori all- baik dan semua - buruk, dengan tidak ada ruang untuk ambiguitas dan ambivalensi . Ketika " membelah " dikombinasikan dengan " memproyeksikan " , sifat-sifat negatif bahwa Anda tidak sadar menganggap diri Anda sebagai memiliki , Anda sadar atribut yang lain . Ekstrim proyeksi: The terang-terangan penolakan kekurangan moral atau psikologis, yang dianggap sebagai kekurangan dalam individu atau kelompok lain . Kompleks Keunggulan : Sebuah mekanisme pertahanan psikologis di mana perasaan seseorang superioritas melawan atau menyembunyikan nya perasaan rendah diri . Kompleks Rendah diri : Sebuah perilaku yang ditampilkan melalui kurangnya harga diri , peningkatan keraguan dan ketidakpastian, dan perasaan tidak mengukur sampai standar masyarakat . Level 2 : Imatur Mekanisme ini sering hadir pada orang dewasa . Mekanisme ini mengurangi tekanan dan kecemasan yang dihasilkan oleh orang-orang yang mengancam atau oleh kenyataan tidak nyaman . Penggunaan berlebihan pertahanan tersebut dipandang sebagai sosial yang tidak diinginkan , karena mereka belum dewasa , sulit untuk menangani dan serius kehilangan kontak dengan realitas. Ini adalah apa yang disebut " dewasa " pertahanan dan berlebihan hampir selalu menyebabkan masalah serius dalam kemampuan seseorang untuk mengatasi secara efektif . Pertahanan ini sering terlihat dalam depresi berat dan gangguan kepribadian . Mereka termasuk :

Memerankan : ekspresi langsung dari suatu keinginan sadar atau impuls dalam tindakan , tanpa kesadaran dari emosi yang mendorong perilaku ekspresif . Fantasi : Kecenderungan untuk mundur ke fantasi untuk menyelesaikan konflik dalam dan luar . Wishful thinking : Membuat keputusan sesuai dengan apa yang mungkin menyenangkan untuk membayangkan bukan dengan menarik bukti , rasionalitas , atau kenyataan Idealisasi : Tanpa sadar memilih untuk melihat orang lain sebagai memiliki kualitas yang lebih positif daripada dia sebenarnya mungkin memiliki . agresi Pasif : Agresi terhadap orang lain dinyatakan langsung maupun pasif , seringkali melalui penundaan. Proyeksi : Suatu bentuk primitif paranoia . Proyeksi mengurangi kecemasan dengan memungkinkan ekspresi dari impuls yang tidak diinginkan atau keinginan tanpa menjadi sadar sadar mereka, menghubungkan pikiran seseorang sendiri diakui tidak dapat diterima atau tidak diinginkan dan emosi yang lain , termasuk prasangka parah dan kecemburuan , hypervigilance terhadap bahaya eksternal , dan " ketidakadilan mengumpulkan " , semua dengan tujuan pergeseran pikiran dapat diterima seseorang , perasaan dan impuls ke orang lain , sehingga pikiran-pikiran yang sama , perasaan, keyakinan dan motivasi yang dianggap sebagai yang dimiliki oleh yang lain . Identifikasi proyektif : Obyek proyeksi memanggil dalam orang itu justru pikiran, perasaan atau perilaku diproyeksikan . somatisasi : Transformasi perasaan negatif terhadap orang lain ke dalam perasaan negatif terhadap diri sendiri, rasa sakit, penyakit , dan kecemasan . Level 3 : Neurotik Mekanisme ini dianggap neurotik , tapi cukup umum pada orang dewasa .Pertahanan tersebut memiliki keuntungan jangka pendek dalam mengatasi , tetapi sering dapat menyebabkan masalah jangka panjang dalam hubungan , pekerjaan dan menikmati hidup bila digunakan sebagai gaya utama seseorang untuk mengatasi dunia . Mereka termasuk : Pemindahan: Mekanisme Pertahanan yang menggeser impuls seksual atau agresif untuk target yang lebih dapat diterima atau kurang mengancam , mengarahkan emosi ke stopkontak

aman , pemisahan emosi dari objek nyata dan pengalihan emosi yang intens terhadap seseorang atau sesuatu yang kurang menyinggung atau mengancam untuk menghindari berhadapan langsung dengan apa yang menakutkan atau mengancam . Sebagai contoh, seorang ibu mungkin berteriak pada anak karena dia marah dengan suaminya . Pemisahan : modifikasi drastis sementara identitas pribadi seseorang atau karakter untuk menghindari tekanan emosional , perpisahan atau penundaan perasaan yang biasanya menyertai situasi atau pikiran . Hypochondriasis : Sebuah keasyikan berlebihan atau khawatir tentang memiliki penyakit serius . Intelektualisasi : Suatu bentuk isolasi; berkonsentrasi pada komponen intelektual dari sebuah situasi sehingga untuk menjauhkan diri dari emosi terkait kecemasan-merangsang , pemisahan emosi dari ide-ide , berpikir tentang keinginan dalam formal, istilah afektif hambar dan tidak bertindak atas mereka ; menghindari emosi yang tidak dapat diterima dengan berfokus pada aspek intelektual ( isolasi , rasionalisasi , ritual , kehancuran , kompensasi , dan pemikiran magis ) . Isolasi : Pemisahan perasaan dari ide dan aktivitas, misalnya , menggambarkan pembunuhan dengan rincian grafis tanpa respons emosional . Rasionalisasi ( membuat alasan ) : Meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada yang salah telah dilakukan dan bahwa semua atau benar sepanjang gagal dan salah penalaran . Indikator mekanisme pertahanan dapat dilihat secara sosial sebagai perumusan alasan nyaman. Pembentukan Reaksi : Konversi keinginan sadar atau impuls yang dianggap berbahaya atau tidak dapat diterima menjadi anti- , perilaku yang benar-benar kebalikan dari apa yang benarbenar ingin atau merasa , mengambil keyakinan sebaliknya karena keyakinan yang benar menyebabkan kecemasan . Regresi : reversi Sementara ego ke tahap awal pembangunan daripada menangani impuls dapat diterima dengan cara yang lebih dewasa, misalnya, menggunakan merengek sebagai metode berkomunikasi kendati sudah setelah memperoleh kemampuan untuk berbicara dengan tata bahasa yang sesuai . Represi : Proses mencoba untuk mengusir keinginan terhadap naluri menyenangkan , disebabkan oleh ancaman menderita jika keinginan puas , keinginan tersebut akan

dipindahkan ke alam bawah sadar dalam upaya untuk mencegahnya memasuki kesadaran , naif tampaknya dijelaskan , selang memori atau kurangnya kesadaran situasi dan kondisi orang itu sendiri , emosi sadar , tetapi ide di balik itu tidak ada. kehancuran : Seseorang mencoba untuk ' membatalkan ' pemikiran yang tidak sehat , merusak atau mengancam dengan bertindak keluar kebalikan dari diterima . Melibatkan simbolis meniadakan pemikiran yang tidak dapat diterima atau bersalah memprovokasi , ide, atau perasaan oleh pengakuan atau penebusan . Penarikan : Penarikan adalah bentuk yang lebih parah pertahanan . Hal ini menuntut menghapus diri dari acara , rangsangan , dan interaksi di bawah ancaman diingatkan pikiran dan perasaan yang menyakitkan . perbandingan sosial ke atas dan ke bawah : Kecenderungan defensif yang digunakan sebagai sarana evaluasi diri . Individu akan melihat ke orang lain atau kelompok pembanding yang dianggap lebih buruk untuk menjauhkan diri dari kesamaan dirasakan dan untuk membuat diri mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri atau situasi pribadi mereka . Level 4 : Mature Ini biasanya ditemukan di antara orang dewasa sehat secara emosional dan dianggap matang, meskipun banyak memiliki asal-usul mereka dalam tahap perkembangan belum matang. Mereka telah diadaptasi selama bertahun-tahun dalam rangka mengoptimalkan keberhasilan dalam masyarakat manusia dan hubungan. Penggunaan pertahanan ini meningkatkan kesenangan dan perasaan kontrol. Pertahanan ini membantu mengintegrasikan konflik emosi dan pikiran , sementara masih tersisa yang efektif . Mereka yang menggunakan mekanisme ini biasanya dianggap saleh . Mereka termasuk : Kerendahan Hati : Sebuah mekanisme dimana seseorang , mengingat cacat mereka sendiri , memiliki rendah hati diri pendapat . Kerendahan hati adalah cerdas kehormatan diri yang membuat satu dari berpikir terlalu tinggi atau terlalu kejam terhadap diri sendiri . Mindfulness : Mengadopsi orientasi tertentu terhadap pengalaman seseorang pada saat ini , orientasi yang ditandai oleh rasa ingin tahu , keterbukaan , dan penerimaan . Penerimaan : persetujuan seseorang terhadap realitas situasi , mengakui proses atau kondisi (sering situasi negatif atau tidak nyaman ) tanpa berusaha mengubahnya , protes , atau keluar

.Agama dan perawatan psikologis sering menyarankan jalur penerimaan ketika situasi yang baik disukai dan tidak dapat diubah , atau bila perubahan dapat dilakukan hanya dengan biaya besar atau resiko . Syukur : Perasaan syukur atau penghargaan yang melibatkan apresiasi dari berbagai orang dan peristiwa . Syukur kemungkinan akan membawa tingkat yang lebih tinggi kebahagiaan , dan menurunkan kadar depresi dan stres . Sepanjang sejarah , terima kasih telah diberikan posisi sentral dalam teori agama dan filsafat . Altruisme : layanan Konstruktif kepada orang lain yang membawa kesenangan dan kepuasan pribadi . Toleransi : Praktek sengaja membiarkan atau mengizinkan hal yang satu tidak menyetujui . Rahmat : perilaku Kasih pada bagian dari mereka yang berkuasa . Pengampunan : Penghentian kebencian , kemarahan atau marah sebagai akibat dari pelanggaran yang dirasakan , ketidaksetujuan , atau kesalahan , atau berhenti untuk menuntut pembalasan atau restitusi. Antisipasi : perencanaan realistis untuk ketidaknyamanan masa depan . Humor : ekspresi jelas baru ide dan perasaan ( terutama yang tidak menyenangkan untuk fokus pada atau terlalu mengerikan untuk dibicarakan secara langsung ) yang memberikan kesenangan kepada orang lain . Pikiran mempertahankan sebagian penderitaan bawaan mereka , tetapi mereka " mengitari sekitar " oleh gurauan , misalnya sikap meremehkan diri . Identifikasi : pemodelan sadar diri seseorang pada karakter dan perilaku orang lain . Introjeksi : Mengidentifikasi dengan beberapa ide atau objek begitu dalam sehingga itu menjadi bagian dari orang itu . Sublimasi : Transformasi emosi negatif atau naluri dalam tindakan positif , perilaku , atau emosi , misalnya , bermain olahraga kontak berat seperti sepak bola atau rugby dapat mengubah agresi menjadi sebuah permainan. Pemikiran penekanan : Proses sadar mendorong pemikiran ke prasadar , keputusan sadar untuk menunda memperhatikan emosi atau butuhkan untuk mengatasi kenyataan ini;

sehingga memungkinkan untuk kemudian mengakses emosi tidak nyaman atau menyedihkan sementara menerima mereka . Emotional self-regulation : Kemampuan untuk merespon tuntutan berlangsung pengalaman dengan berbagai emosi dengan cara yang secara sosial ditoleransi .