Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH

ACARA 1 SIDIK CEPAT PENETAPAN TEKTUR,STRUKTUR DAN KONSISTENSI TANAH DI LABORATORIUM

OLEH : NAMA : HENDRA PANGARIBUAN

NPM : E1J012075 Co.Ass : BELLY LAMOR RAMANANDA

LABORATORIUM ILMU TANAH FAPERTA UNIB 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1. TEKSTUR 1. Latar Belakang Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir (sand ), debu (silt), dan lempung (clay). Penentuan kelas tekstur dilapangan digunakan dengan rasa peraba yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori kasar ,licin, dan lekat. Kekasaran,kelicinan ,dan kelekatan tanah selanjutnya digunakan untuk menetukan kualitas proporsi pasir, debu dan lempung. Prinsip dalam penetapan proporsi kualitas fraksi penyusun tanah dengan metode rasa mengikuti beberapa definisi sebagai berikut : A. Pasir, adalah bahan yang terasa kasar apabila kita remas dengan jari . butir butir pasir juga dapat terlihat langsung oleh mata. B. Debu, adalah material yang tidak terasa kasar ataupun lekat, melainkan terasa licin seperti sabun bila dibasahi dan diremas dengan jari . C. Lempung, biasanya membentuk bongkahan tanah keras apabila kering , dan terasa lekat apabila salam keadaan basah ,dalam keadaan lembab ,lempung dapat dibuat pita dengan memilin diantara ibu jari dan jari telunjuk . D. Geluh, adalah campuran ketiga fraksi tersebut ( pasir, debu, lempung ). Tanah bertekstur halus (dominant liat) memiliki permukaan yang lebih halus dibanding dengan tanah bertekstur kasar (dominan pasir). Sehingga tanah tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur unsur hara yang lebih

besar. Dan umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air lebih besar dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih luas. Tanah tanah berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air (water retension). Tanah tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air.

2. Tujuan Praktikum 1. Menentukan kelas tekstur dengan metode rasa perabaan di laboratorium 2. Melatih mahasiswa menguasai sidik cepat penetapan tekstur sebelum melakukan deskripsi profil di lapangan

1.2. STRUKTUR TANAH

1. Latar Belakang Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil)

oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular. Sruktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari butiran-butiran atanah. Gumpalan ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti : bahan organic, oksida besi dll. Didaerah curah hujan yang tinggi umumnya ditemukan struktur tanah remah atau gramuler dipermukaan dan gumpal dihorison bawah. 2. Tujuan praktikum Menentukan bentuk, ukuran dan kekuatan struktur tanah secara cepat Melatih mahasiswa dalam penetapan struktur berbagai macam tanah sebelum terjun ke lapangan 1.3. KONSISTENSI TANAH 1. Latar Belakang Konsistensi tanah merupakan kekuatan daya kohesi butir butir tanah atau daya adhesi butir butir tanah dengan benda ain. Hal ini ditunjukan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Tanah yang memilki konsistensi yang baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Oleh karena tanah dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah atau kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut.

Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan ke dalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh ( agak sulit dicangkul). Dalam keadaan kering tanah dibedakan kedalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basa dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat. Dalam keadaan lembab atau kering konsistensi tanah ditentuka dengan meremas segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dikatakan berkonsistensi gembur bila lembab atau lunak bila kering. Bila gumpalan tanah sukar hancur dengan remasan tersebut tanah dikatakan berkonsistensi teguh (lembab) atau keras (kering). 2. Tujuan Praktikum Menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah, lembab dan kering Melatih mahasiswa alam penetapan konsistensi tanah sebelum terjun kelapangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penetapan kelas tekstur akan mengikuti bagian air,yaitu suatu metode yang dikembangkan oleh Notohadiprawiro(1985). Ada beberapa macam definisi tanah, menurut Joffe dan Marbut ( ahli ilmu tanah dari USA ), tanah adalah tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam atau natural forces terhadap bahan-bahan alam (natural material ) dipermukaan bumi.Tanah tersusun atas : bahan mineral, udara dan air tanah. Susunan utama tanah berdasarkan volume dari jenis tanah dengan tekstur berlempung, berdebu dengan catatan tanaman dapat tumbuh dengan baik yaitu udara 25 %, air 25 %, mineral 45 % dan bahan organik 5%. Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakansesuai dengan kemampuan yang dibebankan kepadanya. Kemampuan untuk menjadi lebih keras dan menyangga kapasitas drainase, menyimpan air, plastisitas, mudah untuk ditembus akar, aerase dan kemampuan untuk menahan retensi unsur-unsur haratanaman. Semuanya erat hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Salah satu sifatfisik tanah yang terpenting adalah tekstur tanah.Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Teristimewatekstur merupakan perbandingan relatif pasir, debu dan liat atau kelompok partikeldengan ukuran lebih kecil dari kerikil. Tekstur tanah sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan memegang

air, aerase dan kapasitas tukar kation serta kesuburan tanah. Walaupun faktor-faktor lainnya dapat mengubah hubungan tersebut.Dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah) tingkat famili, kasar halusnya tanahditunjukkan dalam sebaran besar butir (particle dari size distribution) tanah yang dengan

merupakan penyederhanaan

kelas

tekstur

memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih besar / kasar dari pasar (Anonim, 2009) Struktur tanah adalah salah satu sifat dasar tanah yang sangat mempengaruhi sifat tanah yang lain serta besar pengaruhnya terhadap kemampuan tanah sebagai media pertanaman. Struktur digunakan untuk mendeskripsikan agregasi secara umum atau susunan bagian padat tanah. Suatu penampang tanah dapat didomonasi oleh suatu corak tanah tertentu. Kadang-kadang berbagai corak agregasi akan dijumpai ketika meneliti horizon demi horizon suatu profil tanah. Bentuk-bentuk struktur dalam keadaan tidak terganggu terjadi dari dua keadaad=n non structural, yaitu: zarah lepas dan masiv. Pasir merupakan contoh pertama bahan organic mengikat zarah lepas menjadi keolompok-kelompok atau agregat-agregat(Anonym, 2011) Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Keadaan tersebut ditunjukkan dari daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Gaya yang akan mengubah bentuk tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan penggaruan. Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa tanah-tanah

yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: 1. basah 2. lembab 3. kering Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Pada kondisi basah, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat plastisitas dan tingkat kelekatan. Tingkatan plastisitas ditetapkan dari tingkatan sangat

plastis, plastis, agak plastis, dan tidak plastis (kaku). Tingkatan kelekatan ditetapkan dari tidak lekat, agak lekat, lekat, dan sangat lekat. Pada kondisi lembab, konsistensi tanah dibedakan ke dalam tingkat kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya. Konsistensi lembab dinilai mulai dari: lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh, dan ekstrim teguh. Konsistensi tanah gembur berarti tanah tersebut mudah diolah, sedangkan konsistensi tanah teguh berarti tanah tersebut agak sulit dicangkul. Pada kondisi kering, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat kekerasan tanah. Konsistensi kering dinilai dalam rentang lunak sampai keras, yaitu

meliputi: lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan ekstrim keras (Yurike, 2011)

Macam macam struktur tanah : 1. Struktu tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut Crumbs atau Spherical. 2. Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm. 3. Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited). 4. Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.( B.Klasifikasi Tekstur Tanah Pengelompokan tanah terdiri dari : pasir, debu, liat 1) Pasir - memiliki ciri terasa kasar jika dipegang - tidak lengket - berbutir - tidak bias dibentuk bola

atau gulungan - pengalirkan air (porous/permeable) 2) Debu/Endapan - terasa tidak kasar - agak melekat 3) Liat - terasa berat - dapat dibentuk bola dengan baik - juka dibentuk pita panjang mencapai 5 cm atau lebih digulung - agak sulit menyerapkan air (tidak porous /impermeable) ( wikipedia.org/wiki/tekstur.) Faktor yang mempengaruhi pembentukan agregat 1. Bahan Induk Variasi penyusun tanah tersebut mempengaruhi pembentukan agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Kandungan liat menentukan dalam pembentukan agregat, karena liat berfungsi sebagai pengikat yang diabsorbsi pada permukaan butiran pasir dan setelah dihidrasi tingkat reversiblenya sangat lambat. Kandungan liat > 30% akan berpengaruh terhadap agregasi, sedangakan kandungan liat < 30% tidak berpengaruh terhadap agregasi. 2. Bahan organik tanah Bahan organik tanah merupakan bahan pengikat setelah mengalami pencucian. Pencucian tersebut dipercepat dengan adanya organisme tanah. Sehingga bahan - halus - sangat - mudah - masih terasa berbutir - dapat dibentuk bola atau tegak

organik dan organisme di dalam tanah saling berhubungan erat. 3. Tanaman Tanaman pada suatu wilayah dapat membantu pembentukan agregat yang mantap. Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk celah-celah. Disamping itu dengan adanya tekanan akar, maka butir-butir tanah semakin melekat dan padat. Selain itu celah-celah tersebut dapat terbentuk dari air yang diserp oleh tnaman tesebut. 4. Organisme tanah Organisme tanah dapat mempercepat terbentuknya agregat. Selain itu juga mampu berperan langsung dengan membuat lubang dan menggemburkna tanaman.Secara tidak langsung merombak sisa-sisa tanaman yang setelah dipergunakan akan dikeluarlan lagi menjadi bahan pengikat tanah. 5. Waktu Waktu menentukan semua faktor pembentuk tanah berjalan. Semakin lama waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah tersebut semakin mantap. 6. Iklim Iklim berpengaruh terhadap proses pengeringan, pembasahan, pembekuan, pencairan. Iklim merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan agregat tanah. ( wikipedia.org/wiki/agregat-tanah.) (I) Konsistensi Basah 1.1 Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori: (1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau

benda lain. (2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain. (3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain. (4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain. 1.2 Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut: (1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah. (2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm. (3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut. (4) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut. (II) Konsistensi Lembab Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir). (2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas. (3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas

dapat menghancurkan gumpalan tanah. (4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. (6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.( Anonymous, 2010)

(III) Konsistensi Kering Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir). (2) Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur. (3) Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah. (4) Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan

tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah. (5) Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur. (6) Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul). Metode pengukuran konsistensi tanah ada 2 yaitu : a. Secara Kualitatif

Metode pengukuran konsistensi tanah secara kualitatif yaitu penentuan ketahanan massa tanah terhadap remasan, tekanan atau pijitan tangan pada berbagai kadar air tanah. b. Secara Kuantitatif

Metode pengukuran konsistensi tanah secara kuantitatif sering diistilahkan dengan angka Atterberg. Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah: (1) tekstur tanah, sruktur tanah, kadar air tanah. (2) sifat dan jumlah koloid organik dan anorganik tanah. ( Anonymous, 2010)

BAB III METODOLOGI A. Bahan dan Alat a) Tekstur Bahan yang digunakan berupa contoh tanah kering angin < 2mm , botol

semprot dan akuades. Sedangkan alat yang digunakan terdiri dari cangkul ,pisau sekop, dan meteran b) Stuktur tanah Bahan yang digunakan berupa contoh bongkahan tanah dari berbagai lapisan

dan jenis tanah ,sedangkan alat yang digunakan terdiri dari cangkul ,pisau,sekop dan meteran. c) Konsistensi tanah Bahan yang digunakan berupa contoh bongkahan tanah dari berbagai lapisan

dan aquades,sedangkan alat yang digunakan terdiri dari cangkul ,pisau,sekop dan meteran.

B. Cara Kerja a) Tekstur Penetapan kelas tekstur denagn metode rasa perabaan mengikuti bagian alir

yang dikemukakan oleh Notohadiprawiro(1985) pada gambar 1.1 b) Struktur Tanah Penetapan struktur dengan metode langsung melihat di lapangan

c) Konsistensi Tanah Tanah basah

Kelekatan (stickiness) ditentukan dengan menekan gumpalan kecil tanah diantara ibu jari dan jari telunjuk . Nilai kelekatan dibagi menjadi: tidak lekat . setelah ditekan tidak ada tanah yang menempel pada ibu jari/ jari telunjuk agak lekat. Setelah ditekan tanah menempel pada kedua jari tetapi akan lepas dan tidak meninggalkan bekas pada salah satu jari tersebut. Lekat . setelah ditekan tanah menempel di kedua jari . saat jari lepas tanah cenderung streched dan tetap menempel pada kedua jari. Sangat lekat . setelah ditekan tanah menempel erat di kedua jari , streched dan tidak lepas dari kedua jari

Keliatan = plastisitas (plasticy) ,ditentukan dengan membuat tanah stik diantara ibu jari dan jari telunjuk . nilai plastisitas tanah dibagi menjadi: tidak plastis . gelintir tanah tidak dapat dibentuk . agak plastis gelintir tanah dapat dibentuk tetapi tmudah berubah bentuk. plastis . gelintir tanah dapat dibentuk untuk mengubah bentuknya dibutuhkan

tekanan sedang . sangat plastis gelintir tanah dapat dibentuk dengan baik dan sangat tahan

terhadap tekanan.

Tanah Lembab

Untuk penentuan konsistensi dipilih tanah yang lembab lalu diremas remas dengan tangan . nilai konsistensi ditentukan sebagai berikut : Lepas (loose).tanah tidak dapat berbentuk gumpalan Sangat gembur (very friable)tanah sangat mudah hancur oleh sedikit tekanan ,tetapi dapat disatukan lagibila kita kepal. Gembur (friable) tanah mudah hancur dengan tekanan lemah sampai sedang diantara ibu jari dengan telunjuk dan dapat disatukan lagi bila dikepal Teguh (firm).tanah dapat dihancurkan dengan tekanan sedang pada ibu jari dan jari telunjuk Sangat teguh (very firm) .tanah hanya hancur dengan tekanan kuat . Luar biasa teguh (extremely firm). Tanah tidak dapat dihancurkan diantara ibu ibu jari dan jari telunjuk ,dan hanya dapat dipecahkan sedikit demi sedikit. Tanah Kering

Untuk mengevaluasi konsistensi tanah kering dipilih tanah kering angin dan dihancurkan dengan tangan .nilai konsistensi ini adalah : Lepas (loose) tanah tidak saling menempel Lunak (soft). Masa tanah sangat mudah dihancurkan dan mudah hancur menjadi tepung atau butir butir tunggal Agak keras . tanah mudah dipecahkan demgan menekan ibu jari dan jari telunjuk.

Keras . tanah mempunyai resistensi sedang dan sulit dipecahkan diantara ibu jari dan jari telunjuk. Sangat keras .tanah sangat resisten terhadap tekanan,dapat dipecahkan dengan tangan tapi tidak pecah dengan ibu jari dan telunjuk Luar biasa keras . tanah luar biasa ini resisten terhadap tekanan dan tidak dapat dipecahkan dengan tangan.

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Lapisan Tekstur Struktur Konsistensi Warna Batas horizon Atas ( top soil) Bawah (Sub soil) Lempung (clay) Granular (Butiran) 4.sangat teguh 7,5YR 3/3 (Very firm) 2 Gembur ( Friable ) Dark brown 2,5YR 6/8 light red Vertisol (Baur) Bawah 150 kelerengan

Liat berbasir Lempeng (sandy clay)

4.2 Pembahasan Praktikum yang dilakukan di laboratorium tanah adalah untuk mengetahui tekstur ,struktur,konsistensi,warna,batas horizon,dan kelerengan pada lapisan atas dan bawah,dengan alat dan bahan yang sudah disediakan,sehingga praktikan harus cepat dalam menentukan suatu tektur dan strukturtanah.

Tekstur tanah yang diamati pada bagian atas adalah lempung,sedangkan pada bagian bawah liat berasir.Struktur tanah yang ada dalam pengamatan di laboratorium tanah ialah, pada bagian atas granular ( Butiran),sedangkan bagian bawah strukturnya lempung. Untuk dapat menentukan struktur tanah ini tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat saja, akan tetapi harus di rasa secara langsung oleh praktikan dengan indra perabah.

Konsistensi tanah adalah ketahan tanah terhdap gaya-gaya yang bekerja padanya untuk mengubah bentuk atau untuk memecah bongkahan. Dalam hal ini penentuan ketahan tanah tersebut dapat di peroleh sebai berikut : konsistensi empat (4), yaitu tanahnya hanya hancur dengan tekanan yang kuat,itu pada bagia Top soil.Untuk sub soil konsistensi yang didapat adalah dua (2),yaitu gembur (Friable),tanahnya mudah hancur dengan tekanan lemah sampai sedang diantara ibu jari dengan telunjuk dan dapat disatukan lagi bila di kepalPenilaian konsistensi tersebut dapat dilakukan dengan tangan dengan cara meremas-remas tanah tersebut, dengan ketentuan penilaian sebagai berikut : Konsistensi tanah basa : 0. 1. 2. 3. Tidak lekat Agak lekat Lekat Sangat lekat Kansistensi tanah lembab 0. 1. 2. 3. Lepas (loose) Sangat gembur (very friable) Gembur (friable) Teguh (frim)

4. 5.

Sangat teguh (very frim) Luar biasa teguh (extremely frim). Konsistensi tanah kering

0. 1. 2. 3. 4. 5.

Lepas (loose) Lunak (soft) Agak kasar Kasar Sangat kasar Luar biasa kasar.

Pada warna tanah didapatkan hasil,pada sub soil 2,5YR 6/8 yaitu light red,untuk top soilnya adalah 7,5YR 3/3 yaitu Dark brown.

KESIMPULAN
Struktur tanah merupakan salah satu sifat dasar tanah yang sangat mempengaruhi sifat tanah yang lain serta besar pengaruhnya terhadap pengaruh tanah sebagai media pertanaman. Bentuk bentuk struktur tanah ada 7 yaitu : Granular,Remah,Lempeng,Gumpal membulat,Gumpal bersudut,Prisma, Dan

Tiang. Faktor-faktor yang mempengaruhi strutur tanah ialah tekstur tanah,aktifitas organism,bahan organic, kandungan liat,dan perakaran sedangkan factor factor yang dipengaruhi oleh struktur tanah adalah pergerakan air , perakaran tanah, pengolahan , konsistensi, erosi, dan porositas 1. Konsisteni tanah dipengaruhi oleh tekstur, sifat dan jumlah koloid organik maupun anorganik, struktur dan yang terutama adalah kadar air tanah. 2. Urutan konsistensi kering dari yang paling keras adalah rendzina, vertisol, ultisol, alfisol, dan entisol. 3. Urutan konsistensi basah paling lekat adalah rendzina, vertisol, ultisol, entisol, dan alfisol. 4. Semakin tinggi kandungan lempung dalam tanah maka semakin tinggi konsistensi tanahnya dan semakin banyak kandungan pasir dalam tanah maka semakin rendah konsistensi tanahnya.

Saran Dalam pengamatan yang dilakukan di llaboratorium secar langsung ini, praktikan harus sangat dituntut untuk hiperaktif, akan apa-apa yang ada dan yang dilihat. Akan sangat mudah memahami tektur tanah ,struktur tanah,dan juga warna tanah atau yang lainnya,jika peralatan dalam pengamatan lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,

2009. http://lingkungangeografi.blogspot.com/2009/02/tekstur-dan-

struktur-tanah.html diakses tanggal 8 Oktober 2012 Anonym, 2011. http://nabilussalam.wordpress.com/2011/09/30/strukturtanah/ Diakses pada tanggal 8 oktober 2012. Anonymous. 2010. ilmutanahuns.files.wordpress.com//konsistensi-tanah.pdf. Anonymous. 2010. ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2010/04/kesuburan-05.pdf.. Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta. Noto hadi prawiro,T.1985.Sidik Cepat Ciri Tanah di Lapangan.Ghlia Indonesia. 94 pp. Yurike, 2011. http://blog.ub.ac.id/yurike/2011/05/01/konsistensi-tanah/. Di akses pada tanggal 8 Oktober 2012.
Wikipedia. 2012. Tanah . From http://id.wikipedia.org/wiki/tanah, 09 Oktober 2012 Wikipedia. 2012. Tekstur tanah. From http://id.wikipedia.org/wikw/tekstur, 09 Oktober 2012

Anda mungkin juga menyukai