Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI MUSCULOSCELETAL
dibuat untuk memenuhi tugas praktikum Modul Musculosceletal and Integument System

Oleh: Kelompok 9 M. Ilyas Saputera Azwar Lauzardi Ilham Murtala Noor Shabrina Reni Dwi Parihat Mulia Sari Annisafitria Eka Rahma Abqariyatuzzahra M. Novia Putri R.

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya serta nikmat yang tiada hentinya kepada manusia. Terutama nikmat iman dan akal yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Dengan nikmat akal tersebutlah kita dituntut untuk dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya tanpa menyimpang dari perintah-Nya. Salawat serta salam bagi makhluk mulia junjungan kita baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan ilmu dari Allah kepada umat-umatnya. Ilmu tersebut tidak akan habis sekalipun air laut dijadikan tinta untuk menuliskan ilmunya itu. Dan manusia hanya diberi sedikit sekali. Alhamdulillah, kami dapat menyelesaikan laporan praktikum tentang fisiologi musculoskeletal. Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan kita. Tiada gading yang tak retak demikian pepatah mengatakan. Karena itu tiada menutup kemungkinan jika dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, segala kritik dan saran kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Terima Kasih.

Ciputat, 15 Januari 2013

Kelompok 9

1|Page

A. Topik Praktikum Kelelahan otot pada manusia

B. Tujuan 1. Memahami perbedaan kerja steady state dan kerja dengan kelelahan. 2. Memahami pengaruh berbagai faktor eksternal (beban kerja ) dan interna (aliran darah lokal, waktu istirahat, massage) terhadap kerja otot. 3. Mendeteksi berbagai perubahan yang terjadi akibat berbagai faktor pada butir 2 (baik melalui analisis hasil mekanomiogram maupun analisis pada OP) dan menjelaskan mekanisme yang mendasari terjadinya berbagai perubahan tersebut.

C. Prinsip Kerja Mencatat tinggi mekanomiogram hasil kontraksi otot fleksor jari telunjuk yang menarik ergograf jari pada berbagai beban kerja (frekuensi kontraksi dan berat beban) dan kondisi kerja (keadaan peredaran darah lokal, faktor istirahat dan masssage ).

D. Tinjauan Teori Banyak yang diketahui tentang gangguan fisiologis yang dapat menyebabkan kelelahan otot. Hal ini diketahui bahwa kelelahan dapat disebabkan oleh mekanisme yang berbeda, mulai dari akumulasi metabolit dalam serat otot ke generasi perintah motor yang tidak memadai di korteks motorik, dan bahwa tidak ada mekanisme global yang bertanggung jawab untuk kelelahan otot. Sebaliknya, mekanisme yang menyebabkan kelelahan khusus untuk tugas yang dilakukan. Perkembangan kelelahan otot biasanya diukur sebagai penurunan kekuatan maksimal atau kapasitas daya otot, yang berarti bahwa kontraksi submaksimal dapat dipertahankan setelah timbulnya kelelahan otot. Bahkan ada bukti bahwa durasi beberapa tugas yang berkelanjutan tidak dibatasi oleh kelelahan otot-otot utama. Di sini kita meninjau pendekatan eksperimental yang berfokus pada identifikasi mekanisme yang membatasi kegagalan tugas daripada mereka yang menyebabkan kelelahan otot. Perbandingan Dipilih tugas, kelompok individu dan intervensi dengan pendekatan tugaskegagalan dapat memberikan wawasan tentang tingkat-membatasi penyesuaian yang membatasi fungsi otot selama kontraksi melelahkan.
2|Page

Kurangnya ATP sering dianggap sebagai penyebab kelelahan. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa jumlah ATP yang jatuh tidak lebih dari ~ 70% dari tingkat preexercise selama latihan intensitas tinggi. Namun, ada spekulasi bahwa 70-80% dari ATP sarkoplasma terbatas pada mitokondria dan tidak tersedia untuk lintas-jembatan Dengan kata lain, ATP "terkotak" dan, sementara ATP yang cukup di dalam sel, itu tidak berada di lokasi dimana diperlukan. Hidrogen Ion Sebagai Faktor Membatasi Glikolisis anaerob menghasilkan asam laktat dan, pada pH fisiologis, sebagian besar berdisosiasi asam laktat menjadi H
+

dan laktat. Sementara mayoritas H


+],

diproduksi di otot
+

adalah dari produk glikolitik, ada juga kontributor lain untuk intraseluler H termasuk pengurangan intraseluler [K

akumulasi
2

sintesis CP, dan penyangga dari CO

yang

dihasilkan dalam mitokondria. Penurunan pH otot mempengaruhi beberapa situs dalam otot yang menyebabkan kelelahan. Penghambatan glikolisis oleh keasaman H +. Peningkatan dikaitkan dengan transformasi penurunan b fosforilasa ke bentuk aktif, dan penghambatan fosfofruktokinase (PFK). Namun, apakah H
+

penghambatan glikolisis

memiliki peran utama dalam generasi kelelahan otot dipertanyakan karena [ATP] dalam otot selama latihan mungkin tidak menurun ke tingkat di mana myosin ATPase reaksi akan melambat. Penghambatan eksitasi-kontraksi kopling oleh H +. Sebuah pH menurun telah ditunjukkan untuk mengurangi afinitas troponin untuk Ca 2 +. Hal ini tampaknya mempengaruhi Type II serat lebih dari I. Tipe Sementara mekanisme tidak jelas, H + mungkin bersaing dengan Ca 2 + untuk situs troponin-mengikat. Mekanisme selular kelelahan otot adalah fenomena yang kompleks yang mencakup kegagalan pada lebih dari satu situs di sepanjang rantai eksitasi-kontraksi peristiwa. Output Angkatan menurun serta memperpendek kecepatan yang menunjukkan perubahan dalam sifat kinetik dari salib-jembatan. Edman (1992) menyarankan bahwa sementara kelelahan dapat

3|Page

ditelusuri ke sedikit terpasang lintas-jembatan, bagian utama dari penurunan kekuatan disebabkan keluaran tenaga berkurang dari jembatan individu. Dalam buku lain juga disebutkan bahwa kelelahan otot dapat terjadi jika respon otot terhadap suatu rangsangan tidak sama derajat kontraksinya. Kelelahan otot adalah

mekanisme pertahanan perlindungan terhadap otot dimana ATP tidak dapat diproduksi. Jika tidak dapat menghasilkan ATP maka akan terjadi rigor mortis yaitu kekakuan mayat. Beberapa factor yang diduga berperan penting adalah : Meningkatnya fosfat inorganic local dan ADP sehingga dapat mengganggu pelepasan kembali Ca+ oleh reticulum sarkoplasma. Penimbunan asam laktat yang dapat enzim- enzim di jalur enghasil energy. Penimbunan K+ ekstrasel sehingga menyebabkan penurunan lokal potensial membrane. Terkurasnya cadangan energy glikogen. E. Alat yang diperlukan 1. 2. 3. 4. Kimograf + kertas + perekat + kipas kimograf dengan berbagai ukuran Manset stigmomanometer Ergograf Metronom ( frekuensi 1 detik )

F. Tata Kerja i. 1. 2. Persiapan Alat dan Orang Percobaan (OP) Pasang semua alat sesuai dengan yang diperintahkan (sesuai gambar) OP duduk di samping ergograf dan meletakkan lengan kanan bawah pada papan fiksasi ergograf jari, (sesuai petunjuk gambar). 3. Pasang metronom (mintalah bantuan petugas laboratorium).

ii. 1. 2.

Syarat Pencatatan Pencatatan dilakukan pada tromol yang berputar. Kecepatan putaran tromol disesuaikan dengan frekuensi tarikan jari sehingga menghasilkan mekanomiogram yang baik (hemat kertas namun tetap dapat terlihat perubahan tinggi antara satu mekanomiogram dengan mekanomiogram berikutnya).
4|Page

3.

Perubahan frekuensi kerja dilakukan dengan mengubah frekuensi tarikan dengan frekuensi motronom yang berfrekuensi 1 detik.

4.

Perubahan beban beban kerja dilakukan dengan mengatur pegas dan susunan tuas pada ergograf jari.

Bagaimana cara mengatur berat pembebanan ergograf jari? Jawaban : Dengan mengatur susunan tuas dan mengatur ketegangan pegas.

iii.

Proses Pencatatan

KERJA STEADY STATE DAN PENGARUH GANGGUAN PEREDARAN DARAH 1. Instruksi OP untuk melakukan satu tarikan tiap 4 detik menurut irama metronom di ruang praktikum, sampai putaran tromol. 2. Setiap kali setelah melakukan tarikan, lepaskan segera jari OP dari pelatuk sehingga pelatuk kembali ke tempat semula. 3. Selama melakukan percobaan, OP tidak boleh memperhatikan hasil kerjanya.

Apa yang dimaksud dengan kerja steady state? Jawaban : Status otot yang selalu siap karena selama kerja terdapat waktu pemulihan yang cukup.

4.

Setelah OP beristirahat 5 menit, pasang manset sfigmomanometer pada lengan atas kanan.

5.

Sebagai latihan, lakukan beberapa kali onklusi pembuluh darah lengan atas dengan jalan memompa manset dengan cepat sampai denyut arteri radialis tak teraba lagi.

Apa yang dimaksud dengan oklusi pada percobaan ini? Jawaban : Penghambatan atau penutupan aliran darah arteri dan vena dengan tekanan dari luar oleh manset.

5|Page

Bagaimana kita mengetahui bahwa oklusi sudah tercapai pada latihan ini? Jawaban : Kertika Arteri radialis sudah tidak teraba lagi.

Percobaan selanjutnya (langkah 6 s/d 10 ) dilakukan terus menerus dengan frekuensi tarikan tetap yaitu satu tarikan tiap 4 detik.

6.

Dengan manset tetap terpasang namun tanpa oklusi, lakukan 12 kali tarikan yang tercatat pada kimograf.

Mengapa frekuensi yang digunakan tetap satu tarikan tiap 4 detik? Jawaban : Karena yang akan diujikan adalah pengaruh oklusi bukan waktu pemulihannya, sehingga waktu pemulihan harus tetap dipertahankan seperti semula. 7. Tanpa menghentikan tromol pada tarikan ke-13, mulailah memompa manset dengan cepat sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba lagi. 8. Berilah tanda pada kurva, saat denyut nadi arteri radialis tidak teraba lagi. 9. Setelah terjadi kelelahan total, turunkan tekanan di dalam manset dengan cepat sehingga peredaran darah pulih kembali. Mengapa terjadi kelelahan? Jawaban : Karena terjadinya kekurangan oksigen, energi (ATP) yang rendah, gangguan keseimbangan elektrolit, dan penumpukan sisa metabolisme karena terjadinya oklusi yang disebabkan oleh manset. Bagaimana saudara menegtahui kelelahan total telah terjadi? Jawaban :

6|Page

Saat OP sudah tidak sanggup lagi melakukan tarikan tersebut, serta ditandai dengan pucatnya tangan kanan OP, (ketika dioklusi).

Bagaimana saudara mengetahui peredaran darah telah pulih kembali? Jawaban : Dengan melihat tangan kanan OP telah berwarna (merah) kembali seperti semula, sebagai bukti bahwa aliran darah telah normal kembali dengan cara menghentikan oklusi pada tangan kanan OP.

10.

Teruskan tarikan dan pencatatan sehingga pengaruh faktor oklusi tidak terlihat lagi.

Apa tandanya pengaruh oklusi tak terlihat lagi? Jawaban : Dengan melihat tangan OP kembali berwarna (merah) kembali seperti semula sebagai bukti bahwa aliran dalah telah mengalir kembali seperti biasa. PENGARUH ISTIRAHAT DAN MASSAGE 1. Latihan ini dilakukan oleh OP lain. 2. Besarkan beban ergograf sampai hampir maksimal.

Mengapa beban harus sedemikian berat? Jawaban : Untuk menguji pengaruh beban terhadap kelelahan otot.

3. Sambil dicatat, lakukan satu tarikan tiap 1 detik sampai terjadi kelelahan total, kemudian hentikan tromol.

Mengapa frekuensi dipercepat menjadi satu tarikan tiap detik? Jawaban :

7|Page

Agar waktu pemulihan tidak cukup sehingga dapat diuji pengaruh waktu pemulihan terhadap kelelahan otot.

4.

Berilah istirahat selama 2 menit. Selama istirahat, lengan tetap dibiarkan di

meja. 5. Setelah tromol diputar dengan tangan sepanjang 2 cm, jalankan kimograf dan lakukan kembali tarikan dengan frekuensi dan beban yang sama sampai terjadi kelelahan total, keudian hentikan tromol. 6. Berilah istirahat selama 2 menit lagi. Selama masa istirahat ini, lakukanlah massage pada lengan orang percobaaan.

Apa tujuan massage dalam latihan ini? Jawaban: Untuk memulihkan kembali kelelahan otot kerja tangan OP . Bagaimana kita melakukan massage? Jawaban : Memijatkan lengan tangan kanan OP dari fossa cubiti sampai ke jari-jarinya dengan mengurutkan / meluruskan arteridan venanya , dari yang besar ke kecil. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pembuluh darah mengalirkan darahnya agar pemulihan kelelahan otot terjadi. Bagian mana dari lengan yang di- massage? Jawaban : Dari fossa cubiti sampai jari jemari.

7. Setelah tromol diputar dengan tangan sepanjang 2 cm,jalankan kimograf dan lakukan kembali tarikan seperti butir 5. 8. Bandingkan ketiga ergogram yang saudara peroleh dan buat analisis hasil percobaan tersebut serta kesimpulannya.

RASA NYERI PERUBAHAN WARNA DAN SUHU KULIT KARENA ISKEMIA 1. Latihan ini dilakukan pada orang percobaan lain dan tanpa pencatatan.
8|Page

2. Pasanglah manset pada lengan atas kanan OP dan berikan pembebanan yang cukup berat sehingga penarikan hanya akan memperlihatkan penyimpangan ujung pencatat yang kecil. 3. Lakukan satu tarikan tiap satu detik sambil diadakan okusi sehingga terjadi kelelahan total atau sampai terjadi rasa sakit yang tak tertahankan. Perhatikan suhu dan warna kulit lengan kanan OP selama melakukan percobaan ini.

Bagaimana terjadinya rasa sakit pada iskemia? Jawaban : Ketika terjadi penumpukan asam laktat menyebabkan pH turun dan ditangkap oleh ujung saraf bebas sebagai rasa nyeri.

4. Hentikan tindakan oklusi segera setelah OP merasa nyeri yang hebat sekali. Perhatikan suhu dan warna kulit lengan bawah kanan OP setelah percobaan dihentikan.

Bagaimana mekanisme terjadinya perubahan warna kulit selama dan setelah okulasi? Jawaban : Warna kulit yang segar dan merah dihasilkan karena aliran darah, apabila aliran darah dihentikan maka kulit akan tampak pucat.

G. Hasil Pengamatan

9|Page

Gb. ergogram

Percobaan pertama= 76 kali Percobaan kedua= 55 kali Percobaan ketiga= 35 kali

Data diatas menunjukkan seberapa banyak tarikan yang diperoleh sehingga terjadi kelelahan otot. Pada percobaan yang pertama diperoleh 76 kali tarikan, pada percobaan kedua sebanyak 55 kali sedangkan pada percobaan terakhir diperoleh 35 tarikan sehingga meyebabkan kelelahan otot.

10 | P a g e

Gb. Menunjukkan tanda iskemia yaitu berubahnya warna yaitu bertambah pucat karena kekurangan darah.

Hasil praktikum ini dipengaruhi oleh: Faktor kelelahan OP Kenyamanan posisi lengan OP (karena pada percobaan menggunakan tangan kiri, meja yang dipakai berbeda dengan meja yang dipakai ketika melakukan percobaan dengan tangan kiri). Lamanya waktu pemulihan

H. Pembahasan Kelelahan otot terjadi dapat dibuktikan dengan berkurangnya jarak tarikan dapat dilihat pada tromol yang berputar. Pada frekuensi 4 detik kelelahan otot belum terlihat karena dalam waktu 4 detik belum terjadi kekurangan ATP dan penimbunan asam laktat. Sedangkan ketika frekuensi tarikan dipercepat yaitu 1 detik, maka terjadi keurangan ATP dan penimbunan asam laktat karena asam laktat yang seharusnya disingkirkan terhambat. Ketika lengan pasang manset dan diberikan tekanan dengan cara dipompa, sehingga arteri branchialis terhambat, maka penimbunan asam laktat dan kekurangan ATP terjadi semakin cepat sehingga kelelahan otot juga semakin cepat terjadi. Untuk mengetahui bagaimana arteri branchialis terhambat kita dapat meraba pergelangan tangan tempat arteri radialis dapat diraba, jika denyut arteri radialis tidak teraba, maka arteri branchialis sudah terhambat, karena arteri radialis merupakan percabangan dari arteri branchialis.
11 | P a g e

Pada percobaan kedua dilakukan massage yang dilakukan untuk memperlancar laju darah yang melewati arteri dan vena. Sehingga terjadi pemulihan lebih cepat daripada jika tidak dilakukan massage terlebih dahulu. Pada percbaan terakhir di lakukan tarikan dengan melakukan semua factor yang dapat menyebabkan kelelahan otot antara lain dengan frekuensi dipercepat yaitu 1 tarikan per detik dan dipasang manset supaya arteri dan vena tersumbat. Pada percobaan ini, terjadi iskemia yang ditandaii dengan perubahan suhu dan warna pada tangan orang percobaan. Perubahan suhu yang semakin rendah dan perubahan warna yang kian pucat disebabkan oleh kekurangan darah.

I. Kesimpulan Percobaan yang dilakukan menunjukkan adanya kelelahan otot yang dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain: 1. Penyumbatan arteri sehingga suplai ATP berkurang 2. Penyumbatan vena sehingga terjadi penimbunan H+ sehingga pH rendah dan penimbunan asam laktat

J. Soal Pretest

1. 2. 3. 4.

Apa perbedaan rangsang maksimal dan rangsang supra maksimal? Apa saja faktor yang membuat kelelahan otot? Apa yang dimaksud oklusi? Apakah definisi rangsang?

K. Sumber : 1. Campbell, Nell A dan Jane B.Reece.2010.Biologi Eight.Edition Neil A.Campbell & Jane B.Reece. Jakarta : Erlangga. 2. Sherwood, Lauralee.2011. Fisiologi Manusia; dari sel ke sistem.Ed.6.Jakarta: EGC. 3. 4. http://www-rohan.sdsu.edu/course/ens304/public_html/section1/Fatigue.htm Roger M Enoka dan Jacques Duchateau dalam Journal Physiol 1 Januari 2008
12 | P a g e

A. Topik Praktikum Pengukuran Beban maksimun yang Dapat Ditahan oleh Otot Bisep pada Berbagai Sudut Sendi

B. Tujuan Menguji konsep bahwa perbedaan sudut sendi akan mengubah panjang otot dan keuntungan mekanisnya ; yang akibatnya adalah berat beban maksimum yang mapu ditahan akan bervariasi. C. Landasan Teori Sebagian besar otot rangka melekat ke tulang melewati sendi, membentuk sistem tuas. Tuas adalah struktur kakau yang mampu bergerak mengelilingi satu titik sumbu yang dikenal sebagai flukrum. Di tubuh tulang berfungsi sebagai tuas dan sendi sebagai flukrum dan otot rangka menghasilkan gaya untuk menggerakkan tulang. Bagian tuas antara flukrum dan titik tempat gaya ke atas terbentuk disebut lengan daya, bagian antara flukrum dan gaya kebawah yang ditimbulkan beban disebut lengan beban(1) Sistem tuas yang paling umum dicontohkan oleh sendi siku. Otot-otot rangka, misalnya sendi yang menekuk sendi siku, terdiri dari banyak serat penghasil tegangan yang sejajar, yang dapat menghasilkan gaya besar di tempat insersi tetapi memendek hanya dalam jarak pendek dan kecepatan relatif rendah. Sistem tuas sendi siku memperkuat gerakan lambat pendek bisep menjadi gerakan tangan yang lebih cepat dan jangkauan lebih panjang. Kekurangan sistem tuas ini adalah insersio harus mengasilkan gaya tujuh kali lebih besar daripada beban. Hasil kali panjang lengan daya dan gaya ke atas yang diberikan harus sama dengan hasil kali panjang lengan beban dan gaya ke bawah yang ditimbulkan oleh beban(1)

Otot-otot bekerja dengan mengunakan tegangan pada tempat-tempat insersi di dalam tulang, dan tulang-tulang kemudian membentuk berbagai jenis sistem pengungkit. Bila kita
13 | P a g e

mengganggap bahwa sebuah otot bisep yang besar mempunyai luas penampang lintang sebesar 6 inci persegi, maka kekuatan kontraksi maksimal adalah sekitas 3oo pound. Bila lengan bawah berada tepat pada sudut siku-siku dengan lengan atas, perlekatan tendo biseps kira-kira 2 inci di sebelah anterior dari fulkrum sendi siku, dan panjang seluruh pe ngungkit lengan bawah kirakira 14 inci. Oleh karena itu jumplah daya angkat bisep pada tangan hanya satu per tujuh dari 300 pound kekuatan otot, atau kira-kita 34 pound. Bila lengan dalam keadaan ekstensi penuh, perlekatan bisep akan lebih pendek dari 2 inci dari sebeleh anterior flukrum dan kekuatan yang dapat menggerakkan tangan kedepan lebih kecil dari 43 pound(2)

D. Alat Dan Bahan 1. Orang Percobaan 2. Karton berukuran 60 x 30 cm dengan gambar busur derajat atau fleksometer

3. Beban(dumbell) berukuran 1 kg, 2 kg, dan 3 kg masing-masing dua buah

14 | P a g e

E. Cara Kerja 1. Lengan orang percobaan diletakkan di depan karton atau fleksometer, dengan lengan(bahu hingga siku) mendatar di permukaan alas. Lengan bawah diangkat sehingga siku fleksi setinggi 20, berpatokan pada garis di kertas atau petunjuk fleksometer.

2. Perkirakan berat beban yang akan mampu ditahan oleh OP pada posisi tersebut. Letakkan dumbell yang sesuai beratnya pada telapak tangannya. OP harus berusaha menahan beban tersebut sesuai dengan sudut awalnya 3. Jika OP masih dapat menahan beban yang diberikan, tambahkan beban sedikit demi sedikit hingga dia tidak dapat menahan beban tersebut 4. Catat beban maksimum yang dapat ditahan 5. Ulangi langkah 1-4 untuk sudut-sudut selanjutnya, serta lengan yang lain 6. Terapkan nilai yang diperoleh pada grafik 7. Berdasarkan hasil percobaan jawablah soal berikut: Pada sudut fleksi berapa otot bisep dapat menahan beban maksimum? Pada sudut fleksi berapa lengan ada pada keuntungan mekanis yang maksimal? Pada sudut fleksi berapa lengan ada pada keuntungan hubungan panjangketegangan otot? Mengapa?

15 | P a g e

F. Hasil Kerja Sudut () 20 45 60 90 120 Beban Maksimum Lengan Beban Maksimum Lengan Kiri (Kg) 4 5 5 7 4

Kanan (Kg) 3 4 4 6 4

Hasil dalam grafik:


8 7 6 Berat (kg) 5 4 3 2 1 0 20 45 60 Sudut () 90 120 berat kiri berat kanan

G. Analisis Berdasarkan percobaan, didapatkan hasil bahwa tangan kiri OP lebih kuat menahan beban. Hal ini dikarenakan daya yang dimiliki oleh tangan OP untuk mengangkat beban telah berkurang diakibatkan telah dipakai untuk mengangkat beban sebelum percobaan yang sesungguhnya. Secara singkat, suatu analisis mengenai sistem pengungkit tubuh bergantung pada: a)pengetahuan tentang tempat insersi otot, b)jaraknya dari fulkrum pengungkit, c)panjang lengan pengungkit, d)posisi pengungkit(2) . Berdasarkan hasil percobaan tersebut, maka jawaban dari soal-soal sebelumnya yaitu: - Pada sudut fleksi 90 otot bisep dapat menahan beban maksimum, terlihat dari beban terbesar yang dapat ditahan oleh orang percobaan baik di lengan sebelah kiri atau sebelah kanan yaitu pada sudut fleksi 90.

16 | P a g e

- Pada sudut fleksi 90 lengan berada pada keuntungan mekanis maksimal, karena pada sudut fleksi 90 posisi beban tepat berada di atas titik tumpu. Sehingga beban yang diberikan pada orang percobaan akan ditahan oleh penumpu.

Titik Kuasa Titik Tumpu Gambar: Contoh tuas(pengungkit)(3) Pada prinsip kerja tuas(pengungkit), semakin jauh posisi titik kuasa dari titik tumpu, maka gaya ke atas(Fe) akan lebih kecil sehingga apabila diberi gaya tekan ke bawah, maka gaya tekan yang dibutuhkan juga kecil. Sebaliknya jika posisi titik kuasa mendekati titik tumpu maka gaya ke atas (Fe) akan lebih besar sehingga gaya tekan yang dibutuhkan untuk juga besar. Seperti pada prinsip kerja pengungkit tersebut, ketika lengan fleksi pada sudut 20 yang berarti posisi beban atau jika pada pengungkit disebut kuasa, lebih jauh dari titik tumpu maka beban yang dapat ditahan(gaya tekan ke bawah) akan lebih kecil dari ketika lengan fleksi 45 yang berarti posisi beban lebih mendekati siku(titik tumpu). Sedangkan pada saat lengan fleksi 90, maka beban yang diberikan akan di tahan oleh titik tumpu, sehingga lengan dapat menahan beban maksimal pada fleksi lengan 90. - Pada sudut fleksi 60 lengan berada pada keuntungan hubungan panjang-ketegangan otot. Secara teori, panjang regangan otot mempengaruhi kekuatan kontraksi otot. Semakin panjang, panjang awal regangan otot, maka semakin besar kekuatan otot yang terjadi. Namun, pada percobaan ini kekuatan otot bisep yang diukur tidak hanya dipengaruhi oleh panjang awal regangan otot, tetapi mendapat pengaruh juga dari keuntungan mekanis prinsip tuas(pengungkit) yang terdapat pada siku. Panjang awal regangan otot terpanjang adalah ketika lengan bawah membentuk sudut 20 dari bidang horizontal, namun posisi beban berada jauh dari titik tumpu sehingga beban yang dapat ditahan tidak maksimal. Ketika lengan fleksi pada sudut 60 dan 120, pada posisi ini sudut yang terbentuk pada garis horizontal adalah sama yaitu 60 sehingga jarak beban keduanya dengan titik tumpu juga sama. Namun beban yang dapat ditahan oleh lengan fleksi

17 | P a g e

pada sudut 60 dengan 120 tidaklah sama. Hal tersebut berhubungan dengan panjang awal regangan otot dari kedua posisi tersebut. Panjang awal lengan fleksi 60 lebih panjang dari pada panjang awal lengan fleksi 120, sehingga beban yang dapat ditahan lengan fleksi 60 akan lebih besar dari pada fleksi lengan 120. Secara garis besar, sistem pengungkit yang bekerja pada lengan memiliki pengaruh terhadap kerja otot. Pada saat lengan fleksi , pelekatan tendon bisep kira-kira 2 inci di sebelah anterior dari fulkrum sendi siku, dan panjang seluruh lengan pengungkit kira-kira 14 inci(2). Sedangkan pada saat lengan dalam keadaan ekstensi penuh, maka pelekatan tendon bisep akan kurang dari 2 inci, sehingga panjang lengan pengungkit lebih panjang dari pada panjang lengan pengungkit fleksi 90, yang menyebabkan beban yang dapat ditahan akan lebih ringan.

H. Kesimpulan Lengan dapat menahan beban maksimum pada sudut 900, dan lengan berada pada keuntungan mekanis maksimal pada sudut fleksi 900 karena pada sudut tersebut posisi beban tepat berada di atas titik tumpu. Pada sudut fleksi 60 lengan berada pada keuntungan hubungan panjang-ketegangan otot.

I. Referensi 1. Lauralee S. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Ed 6. Jakarta: EGC; 2012 2. Guyton, Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed 11. Jakarta: EGC; 2008 3. Prinsip kerja pengungkit, available from

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/DIKTAT%20KULIAH%20FISIKA_KERJ A%20DAN%20PESAWAT%20SEDERHANA_0.pdf

18 | P a g e

A. Topik Praktikum Pengaruh Sikap Tubuh Terhadap Kekuatan Kontraksi Otot Ekstensor dan Fleksor Manusia

B. Tujuan Praktikum Memahami Kekuatan Kontraksi otot ekstensor dan fleksor pada berbagai sikap tubuh dengan menggunakan dinamometer

C. Landasan Teori Kontraksi maksimal dapat

dicapai jika suatu serat otot berada pada panjang optimalnya (Io)

sebelum awitan kontraksi, karena ini adalah titik tumpang tindih optimal jembatan silang filamen tebal dan tempat pengikatan jembatan silang tipis . persentasi jembatan maksimal dapat berkurang ketika panjang otot lebih besar atau lebih kecil daripada Io sebelum kontraksi. Jika lebih panjang, lebih sedikit tempat tempat pengikatan di filamen tipis yang dapat berikatan dengan jembatan silang pada filamen tebal, karena filamen tipis tertarik menjauh dari antara filamen-filamen tebal. Ketika serat lebih pendek, lebih sedikit tempat pengikatan filamen tipis yang

terpajan ke jembatan silang filamen tebal karena filamen-filamen tipis bertumpang tindih. Juga, pemendekan dan pembentukan tegangan lebih lanjut terhambat karena filamen-filemen tebal menekan menekan garis Z. Di tubuh, panjang otot istirahat adalah di Io. Selain itu, karena restriksi yang

19 | P a g e

ditimbulkan oleh perlekatan ke tulang, panjang otot tidak dapat bervariasi lebih dari 30% di kedua arah. Di batas-batas dari kisaran ini, otot masih dapat mencapai sekitar 50% dari kontrasi maksimalnya. Faktor lain yang mempengaruhi pengurangan kontraksi ini adalah kurangnya Ca2+ yang dibebaskanselam penggabungan eksitasi-

kontraksi oleh sebab yang belum diketahui. Selain itu, oleh mekanisme yang masih belum jelas, kemampuan Ca2+ mengikat troponin dan menarik kompleks troponin-tropomiosin ke samping berkurang pada panjang otot yang kecil. Karena itu, lebih sedikit bagian aktin yang terpajan untuk ikut serta dalam aktivitas jembatan silang.

D. Alat dan Bahan Dinamometer (Timbangan) Ban Kulit Kawat baja Katrol

E. Cara kerja I. Persiapan Alat dan Orang Percobaan 1. Untuk mengukur kekuatan otot fleksor tungkai, OP duduk menghadap dinamometer, dinamometer. 2. Untuk mengukur kekuatan otot fleksor, digunakan kawat penghubung yang pendek ke pergelangan kaki, sedangkan untuk otot ekstensor digunakan kawat yang panjang. sedangkan untuk ekstensor, OP duduk membelakangi

II. Syarat Pencatatan 1. Setiap gerakan fleksi maupun ekstensi dilakukan sebanyak 3 kali pencatatan. 2. Nilai kekuatan kontraksi merupakan nilai rerata dari 3 kali pencatatan. 3. Pada waktu melakukan gerakan, tangan OP diletakkan di paha (tidak diperkenankan berpegangan di meja)

20 | P a g e

III. Proses Pencatatan 1. OP duduk di pinggir meja, dengan posisi membelakangi timbangan dan tungkai bawahnya tergantung secara bebas 2. Pasang ban kulit pada salah satu pergelangan kaki dan hubungkan ban kulit tersebut dengan kawat baja yang dapat menarik timbangan melaui katrol. 3. Suruhlah orang percobaan meluruskan tungkainya (ekstensi lutut) sekuat tenaga sebaganyak 3 kali dan catat nilai rerata kekuatan kerutan otot ekstensor untuk tiap sikap berikut ini. 3.1.Duduk tegak 3.2.Duduk sambil membungkukkan badan sejauh-jauhnya 3.3.Berbaring telentang 4. OP duduk di pinggir meja, dengan posisi menghadap timbangan dan tungkai bawahnya tergantung secara bebas 5. Pasang ban kulit seperti butir 2 6. Suruhlah orang percobaan membengkokkan tungkainya (fleksi lutut) sekuat tenaga sebaganyak 3 kali dan catat nilai rerata kekuatan kerutan otot fleksor untuk tiap sikap seperti pada butir 3 7. Catatlah semua hasil percobaan.

F. Hasil Praktikum

EKSTENSOR LK L I 24 II 28 II 29 AVERAGE 27 I II II AVERAGE 12 12 13 12,33 46 45 41 44 R 32 37 33 34 20 20 23 21 53 38 45 45,33 PR L 21 21 20 20,67 10 12 13 11,67 26 26 25 25,67 R 15 16 16 15,67 13 13 12 12,67 26 20 21 22,33

FLEKSOR LK L I 15 II 18 II 17 AVERAGE 16,67 I II II AVERAGE I II II AVERAGE 19 16 17 17,33 10 9 11 10 R 20 18 17 18,33 18 18 17 17,67 10 9 8 9 PR L 7 8 8 7,667 11 12 13 12 6 6 6 6 R 7 9 8 8 12 13 13 12,67 6 6 6 6

DUDUK

BUNGKUK

I II BERBARING II AVERAGE

21 | P a g e

G. Pembahasan P ada percobaaan ekstensor didapatkan hasil bahwa posisi tubuh yang menghasilkan kekuatan kontraksi otot tertinggi adalah berbaring telentang, dan yang menghasilkan kontraksi otot terendah adalah posisi duduk dengan membungkukkan badan. Hal ini terjadi karena saat kita berbaring telentang otot quadrisep femoris yang merupakan otot yang berperan dalam ekstensi otot tertarik dan menambah panjang awal otot sebelum kontraksi. Karena panjang awal yang maksimal pada saat berbaring telantang, kontraksi yang dihasilkan pun optimal, berbeda dengan posisi tubuh pada saat duduk tegak dan membungkuk yang mengakibatkan panjang awal otot ekstensor tidak sepanjang saat berbaring telentang. Hal inilah yang menyebabkan kontraksi otot ekstensor saat berbaring telentang lebih besar daripada duduk tegak, dan kontraksi otot ekstensor saat duduk tegak lebih besar daripada duduk sambil membungkukkan badan. Namun, pada percobaan fleksi didapatkan bahwa posisi tubuh yang menghasilkan kontraksi otot fleksor tertinggi adalah saat membungkuk, sedangkan berbaring telentang menghasilkan kontraksi otot yang paling rendah. Hal ini berkebalikkan dengan keadaan ekstensi, karena otot fleksor memiliki panjang awal yang lebih besar saat posisi tubuh dalam keadaan membungkukkan diri, dan sebaliknya memilki panjang awal yang lebih kecil saat dalam posisi berbaring telentang. Perbedaan ini terjadi akibat perbedaan panjang awal otot ekstensor maupun fleksor.

H. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang dilakukan dan hasil pengamatan yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa panjang awal otot sebanding dengan kekuatan kontraksi otot tersebut. Semakin besar panjang awal suatu otot, maka akan menghasilkan kontraksi yang lebih besar pula. Dan sebaliknya, semakin kecil panjang awal otot, maka semakin kecil kontraksi otot yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan landasan teori yang didapatkan.

22 | P a g e

I. Daftar pustaka Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia: dari sel ke sistem. ed 6-. Jakarta: EGC; 2011. Guyton, Arthur C. Hall, Jhon E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. ed 9-. Jakarta: EGC; 1997. Sherwood, Lauralee. Human Physiology: From Cells to Systems.-ed 7-. Canada: Cengage Learning; 2010. Guyton, Arthur C. Hall, Jhon E. Textbook of medical physiology.-ed 11-. China: Elsevier Saunder; 2006.

23 | P a g e

A.

Topik Praktikum Tes Ketahanan Otot

B.

TUJUAN 1. Untuk mengetahui kinerja otot dengan melakuakan satu set uji kinerja otot. 2. Untuk menganalisis hasil dari uji kinerja otot setiap individu dan kelompok.

C.

LANDASAN TEORI Mekanisme kerja otot akan berlangsung sepanjang saraf motorik sampai saraf

sensorik dimana potensial aksiterjadi didalamnya. Ketiaka terjadi mekanisme ini terdapat sedikit neurotransmiter yang akan di sekresikan oleh ujung saraf yaitu Asetilkolin. Asetil kolin akan bekerja di membran serat otok untuk membuka salurannya melalui molekulmolekul protein. Dengan terbukanya saluran ini maka sebagian besar ion natrium akan berpndah menuju membran otot pada bagian terminal saraf. Hal ini akan menimbulkan terjadinya potensial aksi yang menyebabkan depolarisasi dan menyebabkan ion kalsium yang ada didalam retikulum sarkolema akan melepas sejumlah ion kalsium menuju kedalam miofibril. Ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filament aktin dan myosin yang menyebabkan bergerak bersama-sama menghasilkan kontraksi. Setelah kurang dari satu detik kalsium dipompakan kembali kedalam reticulum sarkoplasma tempat ion-ion disimpan sampai potensial aksi otot yang barulagi.

a) SIT UP Sit up secara bebas diartikan, gerakan duduk berdiri. Artinya, gerakan yang dilakukan dengan posisi badan terlentang dan kemudian bangkit (berdiri) sampai pada posisi duduk, lalu mengulangi kembali gerakan awal, berbaring-duduk-berbaring. (http://carapedia.com/olahraga_efektif_melangsingkan_perut_info1945.html)

Sit-up adalah salah satu dari latihan berat badan paling mudah. Tujuan dari dilkukannya sit-up adalah untuk memperkuat fleksor pinggul dan otot perut. Hal ini dilakukan dengan cara berbaring dengan punggung dilantai, biasanya dengan lengan di dada atau tangan dibelakang kepala dan lutut ditekuk. (http://adindadindaa.blogspot.com/2012/01/olahraga-atletik.html)

24 | P a g e

Adapun otot yang bekerja dalam sit up ini adalah: Segmen otot yang bekerja pada saat melakukan gerakan ini adalah : Sternocleidomastoid (anterior fibers). Rectus abdominis. Rectus femoris. O : Caput longum: spina iliaca anterior inferior Caput obliquum: tepi atas depan acetabulum. Fungsi : Antifleksi, abduksidan eksorotasi paha. Sartorius. O : Spina iliaca anterior inferior. Fungsi : Antifleksi, eksorotasi, abduksi paha, fleksi dan endorotasi tungkai bawah. Segmen tulang yang bekerja adalah : Vertabre secara keseluruhan. Coxae . Femur untuk keseimbangan. Dihubungkan oleh articulation coxae dengan femur dan sendi-sendi yang menghubungkan vertebre ( tulang belakang ) Kemungkinan gerakan yang dibentuk dari otot dan tulang tersebut adalah fleksio dan ekstensio. Alat Dan bahan: Orang percobaan Laptop Modem

Protokol percobaan:

Subjek melakukan sit up sebanyak mungkin dengan posisi sit up seperti pada gambar dalamwaktu 60 detik secara kontinu. Sebelum percobaan dimulai, subjek melakukan sit up 23 kalisebagai pemanasan. Hitung berapa kali seorang subjek dapat melakukan sit up dalam waktu 60detik.

Yang harus diperhatikan :


25 | P a g e

Kaki subjek dipegang/ ditahan oleh partner percobaan Lutut membentuk sudut 90 Tangan menyilang dibelakang kepala Saat sit up, siku menyentuh lutut Bahu harus menyentuh lantai

HASIL Kunjungi website http://www.exrx.net/calculators/situps.html Nantiakanmuncultampilansepertigambar di bawahini

26 | P a g e

Masukkaninformasi (sex, age, repetitions) di kolomsebelahkiri Klik calculate Catathasilnya

SIT UP NAME ILHAM AZWAR AGE 18 19 REPETITIONS 40 40 RATING FAIR FAIR

b) PUSH UP Push up adalah suatu jenis senam kekuatan yang berfungsi untuk mengutakan otot bisep maupun trisep. (http://adindadindaa.blogspot.com/2012/01/olahraga-atletik.html ) Segmen Otot yang bekerja adalah : Erector spinae Pectoralis major Deltoideus. Triceps. Pronator terres. Infraspinatus.
27 | P a g e

Rhomboid major. Protokol percobaan:

Posisi awal tidur tengkurap dengan tangan di sisi kanan kiri badan. Kemudian badan didorong ke atas dengan kekuatan tangan. Posisi kaki dan badan tetap lurus atau tegap. Setelah itu, badan diturunkan dengan tetap menjaga kondisi badan dan tetap lurus. Badan turun tanpa menyentuh lantai atau tanah. Setelah itu, naik lagi dan lakukan secara berulang. kaki

HASIL Kunjungi website http://www.exrx.net/calculators/situps.html Nantiakanmuncultampilansepertigambar di bawahini

28 | P a g e

Masukkaninformasi (sex, age, repetitions) di kolomsebelahkiri Klik calculate Catathasilnya SIT UP

NAME ILHAM AZWAR

AGE 18 19

REPETITIONS 30 25

RATING FAIR FAIR

c)

VENTRICAL JUMP

Test vertical jump ini menggunakan sistem energi anaerobik karena rentang waktu pelaksanaan pelatihan antara 0-2 menit. Metabolisme energi dominan anaerobik akan menghasilkan produk berupa asam laktat yang apabila terakumulasi dapat menghambat kontraksi otot sehingga menimbulkan gerakan yang bertenaga tetapi tidak dapat dilakukan secara berlanjut dalam waktu yang panjang maka harus diselingi dengan interval istirahat (Irawan, 2007).

29 | P a g e

Fokus dalam pelatihan ini adalah daya ledak. Daya ledak dominan menggunakan gerakangerakan yang eksplosif. Menurut Harsono dalam Satriya, dkk (2007), dalam daya ledak terdapat dua komponen biomotorik yaitu kekuatan dan juga kecepatan, sehingga untuk meningkatkan daya ledak otot maka diberikan beban tahanan sebesar 40%-80% dari kemampuan maksimal. Proses terjadinya kontraksi pada otot dikarenakan adanya ransangan yang menyebabkan aktif nya filamen aktin dan filamen myosin. Semakin cepat rangsangan yang diterima dan semakin cepat reaksi yang diberikan oleh kedua filamen tersebut maka kontrasi otot menjadi lebih cepat, sehingga daya ledak yang dihasilkan kerena penggabungan kecepatan dan kekuatan tersebut menjadi lebih besar. Dampak yang terjadi akibat pelatihan tersebut adalah terjadi peningkatan persentase massa otot, sehingga mengalami hipertropi, bertambah sebanyak 30-60 persen (Guyton dan Hall, 2008). Terjadinya hipertropi karena perubahan otot rangka atau peningkatan diameter pada serabut (fiber) otot cepat (fast twitch), maka dengan sendirinya juga terjadi hipertropi. Semua hipertrofi otot akibat dari suatu peningkatan jumlah filamen aktin dan miosin dalam setiap serabut otot, menyebabkan

pembesaran masing-masing serabut otot (Guyton dan Hall, 2008). Untuk latihan kecepatan yang menjadi hipertropi, adalah otot cepat ( Fox, 1984). Dengan adanya peningkatan jumlah dan ukuran mitokondria pada sel-sel otot maka akan dapat menyebabkan fungsi dari mitokondria lebih efektif. Dengan adanya peningkatan jumlah mitokondria dalam sel otot sehingga secara fisiologis merangsang perbaikan pengambilan oksigen (Nala, 2002) disamping itu akibat dari pelatihan yang teratur dan maksimal mitokondria melakukan replikasi sehingga dapat mengerahkan sistem energi dominan untuk selalu siap menyediakan energi yang diperlukan (Guyton dan Hall, 2008). Gerakan dari Test vertical jump ini dalam meningkatkan daya ledak otot tungkai adalah gerakan tungkai sehingga tenaga berada pada otot tungkai sebagai penggerak utama. Dalam mengayun tungkai, otot melakukan usaha/kerja karena massa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan suatu percepatan tertentu dan memaksimalkan usaha/kerja untuk otot tungkai. Dengan memaksimalkan kerja otot tersebut maka dapat meningkatkan otot tungkai. Dalam pelatihan ini hipertrofi yang sangat luas terjadi karena otot diberikan beban selama proses kontraksi (Guyton dan Hall, 2008). Kontraksi yang terjadi pada saat awalan menggunakan kontraksi isometrik karena terjadi pemendekkan otot, sedangkan pada proses lanjutan menggunakan kontraksi eksentrik karena otot memanjang, dan kontraksi alodinamik karena

30 | P a g e

otot yang digunakan sejak awal sampai akhir berbeda bebannya dan arahnya vertikal serta melawan gravitasi bumi. Berdasar pada beberapa pendapat para ahli dalam literatur yang saya dapatkan, dapat ditarik suatu pengertian bahwa daya ledak otot tungkai adalah suatu kemampuan otot tungkai untuk melakukan aktivitas secara cepat dan kuat untuk menghasilkan tenaga. D. Alat dan Bahan Orang percobaan Papan pengukur Bubuk kapur Laptop Modem

E.

Cara Kerja

1. Meletakkan ujung jari pada bubuk kapur yang telah disediakan 2. Berdiri dengan kedua tangan di atas dan mencatat tinggi yang mampu dicapai saat kaki datar dengan cara menempelkan jari di papan pengukur 3. Menyiapkan posisi untuk melakukan vertical jump dengan menggunakan kedua lengan dan kedua kaki 4. Meloncat setinggi-tingginya dan ketika diatas menempelkan jari tangan pada papan kembali agar terlihat jarak yang dapat di capai 5. Melakukan poin ke ke 3 dan 4 beberapa kali, dan memcatat 3 nilai tertinggi 6. Menghitung tinggi net yang telah dilakukan pada kalkulator vertical jump pada exrx.net

F.

Hasil Pengamatan

31 | P a g e

32 | P a g e

Loncatan ke 1 51

Azwar Loncatan ke 2 62

Loncatan ke 3 40

G.

Diskusi Pembahasan Tinggi yang dapat di capai saat vertical jump dari setiap orang berbeda-beda, ada yang

di kategorikan anak-anak (10-17 tahun), adult (18-29 tahun), dan kelas atlet dunia. Namun juga di pengaruhi oleh faktor daya ledak otot, kelelahan otot, dan juga pelatihan yang rutin.

H.

Kesimpulan Pada praktikum sit up yang menjadi perhatian adalah jenis kelamin, umur, serta

pengulangan yang dilakukan secara berurutan selama 60 detik. Maka akan didapatkan penilaian yang di dasari adanya rata-rata populasi biasanya. Begitu pula sdenag push up dasar, yang perhitungannya mirip dengan sit up hanya berbeda di waktunya. Kalau push up tidak ada patokan waktu tetapi sekuat tenaga. Pada vertikal jump otot quadriceps femorisnya teregang maksimal agar kontraksi tungkai atas maksimal jadi lompat setinggi-tingginya. Usaha kita untuk menekuk kaki lebih rendah sebelum melompat ditunjukkan agar ototnya teregang maksimal.
33 | P a g e

I.

Daftar pustaka Guyton AC,Hall JE. Textbook of medical physiology. Edisi 10. Philadelphia: W.B. Saunders Company; (2007). h 67-79 dan 80-6. Irawan. A.(2007). Metabolisme Energi Tubuh dan Olahraga. [Diakses 21 juni 2012]. Vol.01.N0.07. Satriya., Sidik, S., Imanudin, I. (2007). Metodologi Kepelatihan Olahraga. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI. Fox, E.L. (1984). Sport physiology. 2thEdition, Philadelphia: Saunders College Publishers.

34 | P a g e