Anda di halaman 1dari 6

Risky Febrian - 170210110049 (A) Analisis Kebijakan Luar Negeri

Konstruktivisme Konstruktivisme merupakan suatu teori sosial dan bukan suatu teori substantif politik internasional. Teori sosial pada dasarnya sadar dan mengetahui bagaimana cara mengkonseptualisasi hubungan antara agen dan struktur, sedangkan teori substantif menawarkan klaim-klaim spesifik dan hipotesis-hipotesis tentang pola-pola dalam politik dunia. Konstruktivis membentuk konsep berdasarkan kesadaran manusia, memperlakukan ide-ide sebagai faktor-faktor struktural, mempertimbangkan dinamika hubungan antara ide dan kekuatan material sebagai konsekuensi bagaimana para aktor menginterpretasikan realitas material mereka, dan tertarik dalam bagaimana agen menghasilkan struktur dan bagaimana struktur menghasilkan agen. Seperti critical theory dan postmodernisme, konstruktivisme

menyatakan Tidak ada realitas social yang objektif. Ide kuncinya adalah, dunia sosial termasuk hubungan internasional, merupakan konstruksi manusia. Konstruktivisme merupakan metodologi kuno. Dapat dilihat pada tulisan Giambattisa (Pompa 1982). Pemimpin teori konstruktivisme ini dalam hubungan internasional adalah Friedrich Kratochwill (1989), Albert Wendt (1992) dan John Ruggie (1998). Bagi para konstruktivis, dunia sosial adalah domain intersubjektif yang sangat berarti bagi pihak yang membangun dan tinggal di dalamnya. Dunia sosial dibangun dan di konstitusikan oleh pihak-pihak tertentu pada waktu dan tempat tertentu. Konstuktivis memberikan perhatian pada wacana umum yang ada di tengah masyarakat karena wacana membentuk dan merefleksikan keyakinan, kepentingan dan mempertahankan norma-norma dan nilai-nilai yang melandasi masyarakat untuk bertindak. Wacana adalah instrumen perantara untuk mempertahankan norma-norma yang menjadi landasan bertindak masyarakat (accepted norms of behavior). Masyarakat yang termasuk di dalamnya individu-individu atau negara-negara pada

Risky Febrian - 170210110049 (A) Analisis Kebijakan Luar Negeri

dasarnya sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari konteks nilainilai kolektif yang membentuk kesatuan itu. Secara ontologis, konstruktivisme dibangun diatas tiga proposisi utama, yaitu: 1. Struktur sebagai pembentuk perilaku aktor sosial dan politik, baik individual maupun negara, tidak hanya terdiri dari aspek material, tetapi juga normatif dan ideasional. 2. Berbeda dengan neorealis dan marxis, yang menekankan pada struktur material dalam bentuk kekuatan militer dan ekonomi dunia yang kapitalis, konstruktivis berargumen bahwa sistem nilai, keyakinan dan gagasan bersama sebenarnya juga memiliki karakteristik struktural dan menentukan tindakan sosial maupun politik. 3. Sumber-sumber material sebenarnya hanya bermakna bagi

tindakan atau perilaku melalui struktur nilai atau pengetahuan bersama. Struktur normatif dan ideasional-lah yang sebenarnya membentuk identitas sosial aktor-aktor politik.

Ada beberapa hal penting yang sangat sentral dalam konsturktivis. Pertama adalah Perubahan, dimana ide-ide tentang konstruksi sosial diajukan secara berbeda bersilangan dalam berbagai konteks dan bukanlah sebuah realitas objektif yang tunggal. Kedua Dimensi-dimensi sosial, menekankan norma-norma, aturan-aturan dan bahasa serta bagaimana hal-hal yang material dan ideasional menjadi faktor-faktor yang dikombinasikan dalam berbagai kemungkinan konstruksi yang berbeda dengan segala hasil keluarannya. Ketiga Proses-proses interaksi, dimana aktor-aktor menentukan pilihan dalam setiap proses interaksi dengan aktor-aktor lainnya dengan mengikutsertakan kesejarahan, kebudayaan dan berbagai perbedaan realitas politik kedalam interaksi tersebut.

Risky Febrian - 170210110049 (A) Analisis Kebijakan Luar Negeri

Konstruktivisme dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar: Systemic Constructivism Pendekatan ini lebih banyak mengadopsi pandangan neorealisme yakni melihat interaksi antar unit internasional/states. Mereka

mengabaikan struktur yang ada pada level domestik. Fokus kajiannya adalah bagaimana munculnya norma, nilai dan identitas bersama dalam bentuk interaksi antar negara seperti kerjasama di dalam organisasi internasional, kerjasama regional dan juga konflik antar negara. Unit-level constructivism Pendekatan ini adalah kebalikan dari systemic

constructivism. Fokus kajiannya adalah hubungan antara entitas sosial di tingkat domestik dengan norma-norma hukum, indentitas dan kepentingan sebuah negara. Holistic Constructivism Berbeda dengan Sistemic dan Unit-level Constructivism, Holistic Constructivism internasional. tidak memisahkan ini lebih analisa melihat sektor domain domestik domestik dan dan

Perspektif

internasional sebagai sebuah kesatuan yang berinteraksi satu sama lain dalam proses pembentukan identitas dan nilai. Fokus utama kajiannya adalah menganalisis perubahan yang terjadi di dalam sistem

internasional. Bagi konstruktivis struktur sosial adalah subyek nilai-nilai,

konstruktivis memberi perhatian pada sumber-sumber perubahan (sources of change). Struktur sosial adalah kesepahaman suatu masyarakat tentang nilai-nilai, apa yang dapat diterima dan dijalankan oleh anggotaanggotanya (legitimate behavior). Dapat dicontohkan dengan seseorang masuk dalam suatu komonitas tidak ditentukan oleh kekayaannya namun bagaimana aktor yang menjalankan komunitas itu menetapkan nilai-nilai dan identitas apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Konstruktivis

Risky Febrian - 170210110049 (A) Analisis Kebijakan Luar Negeri

memberikan perhatian kajiannya pada persoalan-persoalan bagaimana ide dan identitas dibentuk, bagaimana ide dan identitas tersebut berkembang dan bagaimana ide dan identitas membentuk pemahaman negara dan merespon kondisi di sekitarnya. Dengan kata lain identitas dan kepentingan merupakan hasil dari sebuah proses interaksi.Salah satu karakteristik dari konstruktivisme adalah non-universalis. Sementara itu ide-ide yang dikemukan oleh konstuktivisme dibentuk melalui tiga mekanisme, yaitu: 1. Imagination Struktur non-material (norma, nilai, cara pandang), yang

menetapkan cara pandang aktor, bagaimana dia bertindak, persepsinya terhadap aktor lain, dan strategi apa yang diambil untuk mencapai tujuannya masing-masing. 2. Communication Ide dan persepsi yang terbangun sebelumnya kemudian

dikomunikasikan kepada pihak lain (misal seorang kepala negara mengkomunikasikan idenya kepada parlemen untuk mendapatkan

legitimasi yang kemudian menjadi sebuah tindakan dari sebuah negara). 3. Constraint Yang berupa justifikasi terhadap norma dan nilai yang dibangun oleh aktor-aktor di dunia internasional. Justifikasi ini menguntungkan sebagaian pihak, namun di sisi lain juga menghalangi tindakan yang lain. Dimata neorealism setiap negara dibatasi tindakannya oleh sistem internasional yang anarki, oleh kapasitas dan oleh distribusi power yang dimilikinya. Bagi konstruktivis tindakan negara dibatasi oleh ide-ide kolektif (Onuf; 1989).

Risky Febrian - 170210110049 (A) Analisis Kebijakan Luar Negeri

Idealisme dan holisme merupakan komitmen inti Konstruktivisme (Wendt;1999). Holisme adalah pandangan bahwa struktur tidak dapat decomposed pada unit-unit individual dan interaksi mereka disebabkan struktur lebih dari jumlah total dari bagian-bagian mereka dan irreducibly sosial. Dampak dari struktur, lebih jauh, go beyond semata-mata constraining para aktor, tetapi juga mengkonstruksi struktur tersebut. Konstruktivisme menganggap bahwa struktur internasional membentuk identitas dan kepentingan para aktor. Penekanan pada idealisme bukan berarti penolakan realitas material. Melainkan, mengenali makna dan konstruksi dari realitas material itu tergantung pada ide-ide dan interpretasi. Balance of Power yang secara objektif diharapkan ternyata tidak tercipta melainkan negara-negara hanya mendapatkan ketimpangan kekuatan sehingga mengharuskan negara-negara dengan kekuatan lemah mencari solusi baru. Holisme mengakui bahwa para agen memiliki sebagian otonomi dan praktek serta interaksi mereka membantu mengkonstruksi, menghasilkan kembali, dan mengubah struktur-struktur tersebut. Meskipun struktur perang dingin nampaknya menempatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam situasi perang, tetapi para pemimpin di kedua negara dengan kreatif mengubah hubungan mereka dan, dengan hal itu, menciptakan struktur nyata politik global. Fakta sosial seperti kedaulatan, human rights, uang, terorisme dan pengungsi ada karena adanya kesepatan manusia, sementara fakta fisik seperti batu, gunung, sawah dan lautan, eksis bebas dari kesepakatan dan terus eksis sekalipun manusia musnah atau menolak eksistensi mereka. Konsep strukturasi menangkap bagaimana struktur normatif membentuk identitas dan kepentingan para aktor dan bagaimana praktek serta interaksi mereka menciptakan kembali struktur itu. Konstruksi sosial melakukan upaya denaturalizes, yaitu sesuatu yang dianggap apa adanya (taken for granted), mengajukan pertanyaan tentang asal atau keaslian dari apa yang sekarang dianggap sebagai mempertimbangkan pandangan alternatif a fact of life mungkin dan dapat

yang

menciptakan dunia alternatif yang lebih baik.

Risky Febrian - 170210110049 (A) Analisis Kebijakan Luar Negeri

Meskipun para aktor menganggap bahwa aktivitas-aktivitas mereka dibentuk oleh dasar budaya, makna tersebut tidak selalu tetap, akan tetapi merupakan suatu fitur sentral politik. Meskipun konstruktivisme dan pilihan rasional umumnya dipandang sebagai pendekatan yang bertentangan, kadang-kadang mereka dapat dikombinasikan untuk memperdalam pemahaman kita tentang politik global. Konstruktivisme sosial

menawarkan prospek dalam menjembatani jurang pemisah antara teoriteori kaum rasionalis dan kaum reflektivis. Robert Keohane menyatakan bahwa selain kaum reflektivis dapat muncul dengan suatu program riset, mereka juga akan tetap di marjin dari disiplin tersebut. Perspektif konstruktivisme dalam menjelaskan analisis kebijakan luar negeri berangkat dari asumsi bahwa dunia merupakan hasil konstruksi sosial. Mekanisme penjelasan yang digunakan melalui keberadaan internasional. birokrasi, Apabila decision-making dibandingkan dan pengaruh dan masyarakat liberalisme,

realisme

konstruktivisme melalui mekanisme yang digunakannya lebih mendekati penjelasan yang dibutuhkan dalam analisis kebijakan luar negeri. Hal tersebut dapat dilihat dari motif kepentingan birokrasi (tidak hanya negara) dalam mengambil keputusan.