Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI PERCOBAAN 1 PEMBUATAN SIMPLISIA

Disusun oleh : KELOMPOK 2 1. IIN SOLIHATI 2. KURNIA PUSPA HARLEYNDA 3. IMROATUL KANZA A.A 4. WIGATI NURAENI 5. ABNER EDI S 6. ADE RIZKI NUR A (G1F011013) (G1F011015) (G1F011017) (G1F011019) (G1F011021) (G1F011023)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2011

PERCOBAAN 1 PEMBUATAN SIMPLISIA

I. Tujuan Percobaan Mampu membuat simplisia dengan kandungan zat yang berkhasiat tidak mengalami kerusakan dan dapat disimpan (tahan lama).

II. Dasar Teori Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan (mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan, atau eksudat tumbuhan.Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum). Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. Eksudat tumbuhan ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa kimia murni. Prinsip percobaan dalam pembuatan simplisia yaitu pengurangan kadar air. Dengan menurunkan kadar air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat dicegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Selain itu untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Untuk dapat

memenuhi persyaratn minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain bahan baku simplisia, proses pembuatan, serta cara pengepakan dan penyimpanan. Pemilihan sumber tanaman sebagai bahan baku simplisia nabati merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada mutu simplisia, termasuk di dalamnya pemilihan bibit (untuk tumbuhan hasil budidaya) dan pengolahan maupun jenis tanah tempat tumbuh tanaman obat. Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang dapat memenuhi mutu simplisia dalam berbagai artian yaitu komposisi senyawa kandungan, kontaminasi dan stabilitas bahan. Namun demikian, simplisia sebagai produk olahan, variasi senyawa kandungan dapat diperkecil, diatur, dan diajegkan. Hal ini karena penerapan (aplikasi) IPTEK pertanian pasca panen yang terstandar. Berikut tahap-tahap pembuatan simplisia secara garis besar, diantaranya: 1. Pengolahan bahan baku Daun : daun tua atau muda (daerah pucuk) dipetik dengan tangan satu persatu Herba : tanaman dicabut dari tanah, diambil dengan umur yang seragam 2. Sortasi basah Sortasi basah dilakukan pada saat bahan masih segar. Proses ini untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. 3. Pencucian Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang menempel pada bahan. Pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam simplisia.

4.

Perajangan Pengubahan bentuk dilakukan dengan menggunakan pisau tajam yang terbuat dari bahan steinles.

5.

Pengeringan Pengeringan dilakukan untuk mengeluarkan atau menghilangkan air dari suatu bahan.keringDengan menurunkan kadar air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat dicegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Secara umum kadar air simplisia tanaman obat maksimal 10%.

6.

Sortasi kering. Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda asing, seperti bagian-bagian yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal.

7.

Pengepakan dan penyimpanan Setelah bersih, simplisia dikemas dengan menggunakan bahan yang tidak berracun/tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. Pada kemasan diberi dicantumkan nama bahan dan bagian tanaman yang digunakan. Tujuan pengepakan dan penyimpanan adalah untuk melindungi agar simplisia tidak rusak atau berubah mutunya karena beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Simplisia disimpan di tempat yang kering, tidak lembab, dan terhindar dari sinar matahari langsung.

III. Alat dan Bahan 3.1 Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan pembuatan simplisia yakni timbangan, pisau, gunting, aluminium foil, nampan.

3.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan simplisia yaitu daun dari bunga Hibiscus rosa-sinensis .

IV. PROSEDUR PERCOBAAN 4.1 Cara Kerja 1. Bahan baku yang sudah dikumpulkan kemudian disiapkan dan ditimbang seksama sebanyak 50 gram (dicatat maassanya), kemudian ditempatkan diatas nampan bambu. 2. Disortasi basah terhadap tanah dan kerikil, rumput-rumputan,

bahan/bagian tanaman lain, bagian tanaman yang rusak. 3. Dilakukan pencucian terhadap simplisia. 4. Diubah bentuknya meliputi perajangan (rimpang, daun, herba),

pengupasan (buah, biji-bijian yang besar), pemotongan (akar, batang, ranting). 5. Ditempatkan dalam nampan dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 70o C. 6. Disortasi kering. 7. Ditimbang lagi dengan seksama dan dicatat massanya. 8. Dilakukan pengepakan dan disimpan. 9. Dibuat laporan kerja hasil praktikum.

4.2 Skema Kerja

Bahanbaku Disiapkan Ditimbang seksama sebanyak kurang lebih 50 gram Dicatat hasil penimbangannya Ditempatkan pada wadah bambu datar (tampah) Disortasi basah Dicuci Diubah bentuk meliputi perajangan (rimpang, daun, herba) , pengupasan (buah, biji-bijian yang besar) , pemotongan (akar, batang, ranting) Ditempatkan dalam nampan Dikeringkan Disortasi kering Ditimbang dan dicatat beratnya Dimasukan dalam kertas dan simpan ditempat kering Hasil

V. Hasil Bobot awal Lama pengeringan Suhu pengeringan Bobot akhir Rendemen : 49.9 gram : 7 jam : 70o C :10,5gram : : x 100 x 100%

: 21,04%

Gambar 1.1 Bahan Baku Simplisia

Gambar 1.2 Bahan Baku Simplisia (Hibiscus rosa-sinensis folium)

Gambar 1.3 Simplisia Hibiscus rosa-sinensis folium

VI. Pembahasan Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apa pun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan

yang dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). 1. Simplisia nabati Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya. 2. Simplisia Hewani Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum). 3. Simplisia Pelikan atau Mineral Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu ajeg (konstan) karena disadari adanya variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi (umum dan cara) panen, serta proses pascapanen dan preparasi akhir. Walaupun ada juga yang berpendapat bahwa variabel tersebut tidak berakibat besar pada mutu ekstrak nantinya. Variabel tersebut juga dapat dikompensasi dengan penambahan/pengurangan bahan setelah sedikit prosedur analisis kimia dan sentuhan inovasi teknologi farmasi lanjutan sehingga tidak berdampak banyak pada khasiat produksi. Usaha untuk menjaga variabel tersebut dianggap sebagai usaha untuk menjaga mutu simplisia (Anonim, 1985).

Syarat simplisia nabati / hewani meliputi : 1. Harus bebas serangga, fragmen hewan, kotoran hewan 2. Tidak boleh menyimpang dari bau, warna 3. Tidak boleh mengandung lendir, cendawan, menun jukkan tanda-tanda pengotoran lain 4. Tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya 5. Kadar abu yang tidak larut dalam asam maksimal 2% Sedangkan syarat pada simplisia pelican bahwa simplia tersebut harus bebas dari pengotoran tanah, batu, hewan, fragmen hewan dan bahan asing lainnya. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut : 1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis(identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis), sertaaturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi). 2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obattetap diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya,yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat). 3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggungjawab terhadap respons biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaituinformasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Anonim,2000). Proses pembuatan simplisia :

Pengumpulan bahan baku . Tahapan ini sangat menentukan kualitas bahan baku, dimana faktor yang paling berperan adalah masa panen. Misal : Biji, pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah.

Sortasi basah. Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar, dilakukan terhadap : tanah dan kerikil, rumput-rumputan, bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, serta bagian tanaman yang rusak( dimakan ulat).

Pencucian. Bertujuan untuk membersihkan kotoran yang melekat pada tanaman, terutama yang berasal dari dalam tanah (akar, umbi, rimpang, dsb), dan yang tercemar oleh pestisida.

Pengubahan bentuk. Bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan bahan baku sehingga proses pengeringan akan berlangsung cepat. Contoh perlakuan untuk pengubahan bentuk: Perajangan pada rimpang, daun dan herba.

Pengeringan. Mengurangi kandungan air sampai kadar kurang lebih 10 %, proses pengeringan simplisia bertujuan untuk : 1. Mengurangi kadar air, sehingga simplisia tidak mudah dikontaminasi oleh fungi/jamur dan bakteri 2. 3. 4. Menghentikan aktivitas / kerja enzim Mengurangi atau mencegah perubahan kimia kandunngan yang berkhasiat Ringkas, mudah disimpan, tahan lama.

Sortasi kering. Merupakan pemilihan bahan setelah proses pengeringan, dimana bahan-bahan yang rusak( terlalu gosong, terlindas kendaraan) dan kotoran hewan yang mungkin terdapat didalamnya harus disortasi/dibuang.

Pengepakan dan penyimpanan. Pengepakan dilakukan dalam wadah tersendiri tiap-tiap simplisia dengan identitas (label) dan disimpan dengan baik. Persyaratan wadah yang digunakan : inert, tidak beracun, mampu melindungi simplisia dari cemaran, penguapan kandungan aktif, pengaruh cahaya, oksigen dan uap air. Wadah simplisia umumnya dipakai : karung goni, plastik, peti kayu, karton, kaleng tahan air, dan alumunium. Bahan cair menggunakan botol kaca, atau guci porselen. Bahan beraroma menggunakan peti kayu yang dilapisi timah atau kertas timah (Anonim, 1985). Setelah dilakukan pengepakan dan penyimpanan, untuk menjaga keajegan mutu simplisia perlu dilakukan pemeriksaan mutu. Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pemberiaanya dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia. Simplisia yang bermutu adalah simplisia yang memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia, Materia Medika Indonesia. Kontrol kualitas merupakan parameter yang digunakan dalam proses standarisai suatu simplisia . Parameter standardisasi simplisia meliputi parameter nonspesifik dan spesifik. Parameter nonspesifik lebih terkait dengan faktor lingkungan dalam pembuatan simplisia sedangkan parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang ada di dalam tanaman. Penjelasan lebih lanjut mengenai parameter standardisasi simplisia sebagai berikut: 1. Kebenaran simplisia Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan dengan caraorganoleptik, makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan dengan menggunakan indera manusia dengan memeriksa kemurnian dan mutu simplisia dengan mengamati bentuk dan ciri-ciri luar serta warna dan

bau simplisia. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik dilanjutkan dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia (Anonim, 2009). 2. Parameter nonspesifik Parameter nonspesifik meliputi uji terkait dengan pencemaran yang disebabkan oleh pestisida, jamur, aflatoxin, logam berat, dan lain-lain. a) Penetapan kadar abu Penentuan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai diperoleh simplisia dan ekstrak baik yang berasal dari tanaman secara alami maupun kontaminan selama proses, seperti pisau yang digunakan telah berkarat). Jumlah kadar abu maksimal yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi. Prinsip penentuan kadar abu ini yaitu sejumlah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik yang tersisa. kadar abu = bobot akhir/bobot awal x 100% Penyebab kadar abu tinggi dapat berupa cemaran logam maupun cemaran tanah. b) Penetapan susut pengeringan Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri). Susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x100% Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.

c)

Kadar air Tujuan dari penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal

atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%. Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: Metode titrimetri Metode ini berdasarkan atas reaksi secra kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hidrogen.Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen pereaksi, sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan tertentu. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara (Anonim, 1995). Metode azeotropi (destilasi toluena) Metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya penguapan berlebih. Sistem yangdigunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh kelembaban(Anonim, 1995). kadar air ( v/b) = volume air yang terukur / bobot awal simplisia x 100% d) Kadar minyak atsiri Tujuan dari penetapan kadar minyak atsiri adalah untuk mengukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang terdapat dalam simplisia. Penetapan dengan destilasi air dapat dilakukan karena minyak atsiri tidak dapat bercampur dengan air, sehingga

batas antara minyak dan air dapat terlihat dan diukur berapa banyak kadar minyak atsiri yang ada pada simplisia tersebut. kadar minyak atsiri = volume minyak atsiri yang terukur/bobot sampel x 100%

e) Uji cemaran mikroba Uji aflatoksin Untuk mengetahi cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus. Uji angka lempeng total Untuk mengetahui jumlah mikroba/ bakteri dalam sampel. Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^6 CFU/ gram. Uji angka kapang Untuk mengetahui adanya cemaran kapang.Batasan angka lempeng total yang ditetapkan oleh Departemen kesehatan yaitu 10^4 CFU/ gram. Most probably number (MPN) Untuk mengetahui seberapa banyak cemaran bakteri coliform(bakteri yang hidup di saluran pencernaan) (Anonim, 2009).

3. Parameter spesifik Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia.Uji kandungan kimia simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya dilkukan dengan analisis kromatografi lapis tipis (Anonim, 2009). Pada umumnya cara kerja pembuatan simplisia yang dilakukan praktikan pada percobaan 1 dengan cara kerja pembuatan simplisia dalam pustaka sama. Berikut penjelasan mengenai cara kerja pembuatan simplisia yang dilakukan pada percobaan 1 :

1. Bahan baku (daun) yang telah disediakan dipilih menurut kriteria masingmasing bahan, tentunya bahan yang masih segar. Bahan baku kemudian ditimbang hingga diperoleh bobot awal kurang lebih 50 gram. Penimbangan ini dilakukan untuk mengontrol bobot simplisia akhir. Kemudian bahan baku diletakkan di wadah. 2. Bahan baku (daun) kemudian disortasi basah menggunakan air untuk memisahkan atau membuang benda-benda asing seperti tanah, kerikil, rumput liar, dan lain-lain dari bahan baku simplisia sehingga didapatkan bahan baku yang benar-benar layak untuk diproses selanjutnya. 3. Bahan baku (daun) dicuci sampai bersih. 4. Bahan simplisia diubah bentuk sesuai keadaan bahan. Dalam hal ini praktikan mendapatkan bahan baku simplisia berupa daun. Sehingga tidak perlu dilakukan pengubahan bentuk seperti perajangan, pemotongan, dan lain-lain dikarenakan bentuk daun sudah cukup kecil dan tipis. 5. Bahan baku (daun) ditempatkan pada wadah sesuai jenis bagian tanaman dan kandungan zat aktifnya untuk dilakukan pengeringan. 6. Bahan baku (daun) yang telah dikeringkan kemudian disortasi kering untuk memastikan simplisia berupa daun yang benar-benar memenuhi syarat (dalam artian tidak mengalami kerusakan) setelah dilakukan pengeringan. Setelah pengeringan, daun sudah dapat disebut sebagai simplisia. 7. Simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen simplisia. Digunakan metode gravimetri, yaitu : Rendemen = berat akhir / berat awal x 100% 8. Simplisia dikemas dengan wadah yang sesuai dengan sifatnya, selanjutnya disimpan di tempat yang kering (Anonim, 2000).

Monografi simplisia Nama latin Nama lain Nama Tanaman Asal Keluarga : Hibiscus rosa-sinensis : Daun kembang sepatu : Hibiscus rosa-sinensis (L) : Malvaceae

Zat Berkhasiat Utama / Isi : Hibisetin, zat pahit, lender Penggunaan Pemerian Bagian Yang Digunakan Penyimpanan : kompres, peluruh dahak : tidak berbau, rasa agak asin, berlendir : Daun : Dalam wadah tertutup baik

Morfologi daun kembang sepatu yaitu daun tunggal berwarna hijau kecokelatan dan tersusun spiral, helaian daun berbentuk bundar telur, panjang helaian daun 3,5 - 9,5 cm, lebar 2,0 - 6,0 cm, ujung daun meruncing, tepi daun bergerigi kasar, tulang daun menjari, tangkai daun panjang 1,0 - 3,7 cm (Anonim, 1995). Fungsi simplisia Hibiscus rosa-sinensis Akarnya berkhasiat menyejukkan dan menurunkan panasdemam yang keras Akar Hibiscus rosa - sinensis jika dicampur dengan akar Hibiscus tiliaceus danakar bahar putih bila digosokkan dan dimakan akan menyembuhkan rasa menusuk nusuk pada lambung Daun berlendir,menyejukkan dan dapat mematangkan bisul Daun kembang sepatu ini dapat digunakan sebagai obat demam pada anak anak, obat batuk, dan obat sariawan Daun digunakan untuk membantu persalinan,diminum mempercepat kelahiran Daun dan bunga yang dilumatkan dipakai sebagai obat bisul dan borok Daun atau bunga ditambah sedikit air dan gula batu diembunkan selama satu malam dan rendamannya diminum sebagai obat pereda pada penyakit kencing bernanah ( gonorrhoe )

Bunga jika dilumatkan dan diminum, berfungsi untuk memperlancar haid Bunga dapat dipakai sebagai bahan pewarna makanan, misal mewarnai cuka nira enau ( aren ) menjadi merah (Anonim, 1977).

Hasil rendemen yang didapatkan setelah percobaan yaitu %. Adapun hasil tersebut diperoleh dari : Rendemen = = x 100% x 100%

= 21,04% Rendemen merupakan perbandingan bobot akhir simplisia dengan bobot awal simplisia yang dinyatakan dalam persen. Hasil rendemen tersebut menggambarkan bahwa terjadi perbedaan bobot simplisia yang tergolong cukup besar yakni 21,04%. Hal ini menunjukkan bahwa faktor pengeringan memberikan pengaruh penting dalam susut pengeringan simplisia yakni dari bobot simplisia yang mula-mula 49,9 gram menjadi 10,5 gram.

VII.

Kesimpulan

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apa pun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang dikeringkan Proses pembuatan simplisia : - Pengumpulan bahan baku - Sortasi basah - Pencucian - Pengubahan bentuk - Pengeringan - Sortasi kering

Pengepakan dan penyimpanan Simplisia yang bermutu adalah simplisia yang memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia, Materia Medika Indonesia. Parameter standarisasi simplisia meliputi nonspesifik ( kadar air, kadar abu total, kadar abu tak larut asam, cemaran residu pestisida, cemaran logam berat, dan cemaran mikroba ) dan spesifik ( kadar sari larut air dan kadar sari larut alkohol serta kadar zat aktif ).

VIII.

Daftar Pustaka

Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 1977. Materia Medika Indonesia, Jilid II. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Anonim. 2000. Simplisia.http://www.farmasi.usd.ac.id/projects/simplisia/. Diakses tanggal 2 Juni 2011 Anonim. 2009. Teknologi Pembuatan Simplisia. http://benkafarma.blogspot.com/2009/06/bagaimana-cara-membuat-ekstrakyang.html. Diakses tanggal 2 Juni 2011 http://thepharmacyst.blogspot.com/2008/12/definisi-simplisia-definisisimplisia.html