Anda di halaman 1dari 0

7

antara data raster dengan data vektor sehingga


dapat digunakan sebagai sebuah sumber data
yang valid.

10 Pengembangan Sistem
Perangkat dan teknologi diaplikasikan untuk
membangun aplikasi web yang telah dirancang.
Pengembangan sistem ini dilakukan dengan
konfigurasi layer pada mapfile.

11 Pengujian Sistem
Pengujian terhadap sistem dilakukan dengan
menggunakan metode black-box. Pengujian ini
dilakukan dengan cara memberikan masukan
tertentu untuk memeriksa apakah keluaran yang
dihasilkan sesuai dengan harapan.

12 Penggunaan dan Perawatan Basis Data
Sistem yang telah selesai dibangun perlu
dibuatkan dokumentasi dan prosedur formal
yang nantinya dapat digunakan untuk keperluan
perubahan maupun pengembangan sistem
tersebut. Hal ini diperlukan karena mayoritas
SIG mempunyai basis data yang memerlukan
perawatan pada data.


HASIL DAN PEMBAHASAN

1 Analisis Kebutuhan
Proses analisis kebutuhan sistem dilakukan
untuk merumuskan spesifikasi kebutuhan
perangkat lunak, meliputi spesifikasi pengguna
dan kebutuhan fungsional sistem, serta batasan
sistem.
1.1 Deskripsi Sistem
Sistem informasi geografis fasilitas Kota
Bogor adalah sebuah sistem berbasis web yang
dikembangkan dengan tujuan menyajikan
informasi secara dinamis dan interaktif
mengenai lokasi fasilitas-fasilitas yang ada di
kota Bogor. Sistem ini memberikan informasi
mengenai peta wilayah administratif, landuse,
lokasi fasilitas pemerintahan, lokasi fasilitas
layanan umum, lokasi fasilitas sentral bisnis,
dan lokasi fasilitas wisata.
Sistem ini diharapkan dapat membantu serta
mempermudah masyarakat dalam mengetahui
lokasi fasilitas-fasilitas yang tersedia di Kota
Bogor.
1.2 Spesifikasi Pengguna
Pengguna sistem ini dapat dibagi menjadi
dua kategori. Penggolongan ini dilakukan
berdasarkan tanggung jawab dan hak akses
yang dimiliki masing-masing pengguna
terhadap sistem. Hierarki pengguna dapat
dilihat pada Gambar 6.
Pengguna SIG FasTaBo
Pengguna Umum Administrator

Gambar 6 Hierarki pengguna sistem.
Perbedaan administrator dan pengguna
umum terletak pada hak akses terhadap data-
data sistem. Administrator memiliki wewenang
untuk mengolah data sistem sedangkan
pengguna umum tidak memilikinya.

1.3 Kebutuhan Fungsional Perangkat
Lunak
Teknologi Internet yang diintegrasikan
dengan aplikasi SIG memungkinkan pengguna
untuk mengakses informasi dan data lebih
mudah tanpa menggunakan perangkat lunak
SIG yang spesifik. Internet memungkinkan
pengguna untuk mengakses SIG Fasilitas Kota
Bogor dan berinteraksi secara langsung dengan
fungsi-fungsi yang tersedia di dalamnya.
Fungsi-fungsi umum yang dimiliki oleh
sistem ini adalah:
1 Menyediakan fasilitas buku tamu.
2 Menyediakan fasilitas search.
3 Menyajikan koleksi foto-foto tentang Kota
Bogor dalam fasilitas galeri.
4 Menyajikan berita terkini seputar Kota
Bogor.
5 Menyajikan informasi mengenai event-event
yang diadakan di Kota Bogor.
6 Menyajikan informasi sekilas tentang Kota
Bogor, meliputi sejarah pemerintahan, visi
dan misi, lambang Kota Bogor, potret Bogor
tempo dulu, dan potret Bogor masa kini.
7 Menyajikan informasi tentang kekhasan
daerah, meliputi produk khas, cinderamata,
makanan khas, dan seni tradisional.
8 Menyajikan informasi tekstual mengenai
fasilitas-fasilitas yang tersedia di Kota
Bogor.
9 Pengelolaan basis data yang hanya dapat
dilakukan oleh administrator.
Sedangkan fungsi-fungsi operasi peta yang
dimiliki sistem adalah:

8

1 Menampilkan peta wilayah administratif
Kota Bogor secara umum.
2 Memilih layer peta yang ingin diaktifkan.
3 Menampilkan menu legenda yang berisi
simbol dan keterangan dari layer yang ingin
ditampilkan.
4 Perbesaran maksimum sesuai dengan
besarnya frame.
5 Melakukan pergeseran posisi tampilan peta.
6 Melakukan pengukuran jarak dari satu titik
ke titik yang lain dalam peta.
7 Menambahkan objek baru di dalam view
peta.
8 Print preview peta dalam skala tertentu.
9 Memperbesar dan memperkecil ukuran peta.
10 Melakukan proses searching berdasarkan
pilihan pengguna.
11 Dapat melakukan konversi peta dalam
bentuk PDF maupun HTML.
Deskripsi tentang proses masing-masing fungsi
dapat dilihat pada Lampiran 2 (input-proses-
output).

2 Perancangan Konseptual
Perancangan konseptual meliputi
perancangan konseptual basis data dan desain
proses dari sistem. Perancangan basis data
mengidentifikasikan data yang dibutuhkan.
Desain proses dibuat berdasarkan kebutuhan
fungsional dan kebutuhan data. Aliran informasi
dan data yang terjadi diilustrasikan dalam
diagram konteks.
2.1. Kebutuhan Data
Berdasarkan analisis kebutuhan system yang
telah dilakukan pada tahapan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa data yang dibutuhkan
berupa:
1 data spasial dan atribut wilayah administrasi
Kota Bogor sampai tingkat kelurahan/desa,
2 data spasial dan atribut jalan dan sungai di
Kota Bogor,
3 data spasial dan atribut lokasi bangunan di
Kota Bogor meliputi fasilitas pemerintahan,
layanan umum, sentral bisnis, dan wisata,
4 data spasial dan atribut landuse Kota Bogor,
5 data-data sekilas tentang Kota Bogor,
koleksi foto-foto Kota Bogor, berita terkini
seputar Kota Bogor, event-event yang
diadakan oleh pemerintah Kota Bogor, dan
informasi tentang kekhasan daerah di Kota
Bogor.
Analisis kebutuhan fungsional yang telah
dilakukan sebelumnya akan menjadi acuan
untuk melakukan pengembangan pemodelan
kebutuhan fungsional.
2.2. Pemodelan Kebutuhan Fungsional
Kebutuhan fungsional dimodelkan dengan
menggunakan Data Flow Diagram (DFD). DFD
merepresentasikan proses aliran keluar dan
masuknya data dalam sistem. Gambaran sistem
secara umum dapat dilihat pada diagram
konteks Gambar 7.
Gambar 7 Diagram konteks sistem.

Diagram konteks (DFD Level 0) dapat
dikembangkan lagi menjadi DFD level 1.
Adapun DFD level 1 dapat dilihat pada
Lampiran 3. DFD Level 1 memiliki informasi
proses yang terjadi dalam sistem serta aliran
data dari entitas ke sistem dan sebaliknya.

3 Survei Ketersediaan dan Pengumpulan
Data
Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan
data yang akan digunakan maka pada tahapan
ini dilakukan inventarisasi dan dokumentasi
data peta beserta sumber datanya. Adapun hasil
yang diperoleh dari proses ini adalah:
1 data spasial dan atribut wilayah administrasi
Kota Bogor sampai tingkat kelurahan/desa
dapat diperoleh dari data peta format vektor
pada penelitian sebelumnya yakni Sistem
Informasi Geografis Fasilitas Kota Bogor
Berbasis Web Menggunakan ALOV MAP
oleh Anggraeni (2008) atau dapat juga
diperoleh dari Departemen Ilmu Tanah,
Institut Pertanian Bogor.
2 data spasial dan atribut jalan, sungai, lokasi
bangunan, landuse Kota Bogor dapat
diperoleh dari data peta format vektor pada
penelitian sebelumnya yakni Sistem
Informasi Geografis Fasilitas Kota Bogor
Berbasis Web Menggunakan ALOV MAP
oleh Anggraeni (2008).

9

3 data sekilas tentang Kota Bogor, koleksi
foto-foto Kota Bogor, berita terkini seputar
Kota Bogor, event-event yang diadakan oleh
pemerintah Kota Bogor, dan informasi
tentang kekhasan daerah di Kota Bogor
dapat diperoleh di alamat website resmi
pemerintah Kota Bogor yaitu
http://www.kotabogor.go.id dan dapat
ditambahkan dengan melakukan pengamatan
langsung di lapangan.
Selanjutnya dilakukan proses pengumpulan
data sesuai dengan kebutuhan informasi
tersebut.
Data yang akan digunakan dalam penelitian
ini meliputi data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dengan melakukan
pengamatan langsung ke lapangan
menggunakan perangkat GPS (Global
Positioning System). GPS yang digunakan
adalah GPS keluaran Garmin GPS 60.
Pengambilan data ini dimaksudkan untuk
memperoleh data terbaru mengenai fasilitas-
fasilitas di Kota Bogor. J umlah titik yang
diambil yaitu 193 titik baru. Data primer
lainnya yang digunakan adalah data lokasi yang
diperoleh dengan perangkat GPS yang
dilakukan Anggraeni (2008), ditambah dengan
koleksi foto-foto dan beberapa informasi
mengenai fasilitas yang terdapat di Kota Bogor
diperoleh dengan pengamatan langsung di
lapangan.
Data sekunder merupakan data yang telah
tersedia dari suatu instansi atau lembaga. Data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data yang diperoleh dari
BAKOSURTANAL dan aplikasi Megapolitan
(Map and Street Guide 2007-2008) oleh Dr.
Riadika Mastra. Data sekunder tersebut adalah
data yang digunakan dalam penelitian
Anggraeni (2008). Data sekunder ini adalah
data peta Kota Bogor tahun 2005 dengan skala
1:25.000 dalam format shapefile yang terdiri
atas empat file yaitu:
1 data spasial dan atribut wilayah administrasi
Kota Bogor sampai tingkat kelurahan,
2 data spasial dan atribut jalan di Kota Bogor,
3 data spasial dan atribut sungai di Kota
Bogor,
4 data spasial dan atribut landuse Kota Bogor.
Semua data spasial yang digunakan harus
memiliki sistem proyeksi yang sama, karena
MapServer dengan framework Pmapper hanya
dapat meng-overlay data yang memiliki sistem
proyeksi yang sama. Sistem proyeksi yang
digunakan adalah UTM Zona 48S karena Jawa
Barat terletak pada zona 48S dalam sistem
proyeksi Universal Transver Mercantor (UTM),
termasuk Kota Bogor di dalamnya, sedangkan
datum yang digunakan yaitu WGS 1984 dengan
satuan meter. Data sekunder lainnya adalah
data-data pendukung yang diperoleh dari
website resmi pemerintah Kota Bogor.

4 Survei Perangkat Keras dan Perangkat
Lunak Sistem
Berdasarkan kebutuhan fungsional sistem,
jenis perangkat lunak yang dibutuhkan untuk
implementasi sistem adalah:
1 Perangkat lunak untuk membuat dan
mengolah data spasial. J enis perangkat lunak
ini dibutuhkan untuk membuat data dengan
format shapefile (*.shp) yang akan
digunakan sebagai layer pada implementasi
sistem. Perangkat lunak yang tersedia di
antaranya ArcView, Quantum GIS dan
MapInfo.
Secara umum, kedua perangkat lunak
tersebut merupakan perangkat lunak yang
mendukung antarmuka berbasis grafik
(Graphical User Interface) sehingga
memudahkan pengguna untuk bernavigasi
dengan menggunakan elemen user interface
seperti button, menu, toolbar, dan lain-lain.
Selain itu, keduanya juga dapat membantu
pengguna untuk membuat data spasial dalam
format shapefile yang nantinya akan
digunakan sebagai data dalam perangkat
lunak SIG berbasis web.
2 Perangkat lunak dengan pengembangan
sistem berbasis web. J enis perangkat lunak
ini dibutuhkan untuk membangun sebuah
sistem berbasis web yang sesuai dengan
kebutuhan perangkat lunak. Perangkat lunak
yang tersedia di antaranya MapServer dan
ArcIMS. Sedangkan framework MapServer
yang tersedia di antaranya Pmapper,
Chameleon, Kmap, dan lain-lain.
3 Perangkat lunak sebagai Sistem Manajemen
Basis Data (Database Management System,
DBMS). J enis perangkat lunak ini digunakan
untuk membangun basis data yang berisi
data dari SIG Fasilitas Kota Bogor.
Perangkat lunak yang tersedia diantaranya
MS SQL Server, MySQL dan PostgreSQL.
Pada tahapan survei perangkat keras, perangkat
keras yang akan digunakan dalam proses
pengembangan sistem adalah:
1 Intel

Core
TM
Duo Processor T2250,
2 Memori 1536MB DDR2 SDRAM,
3 Harddisk 120 GB.

10

5 Pengujian Kesesuaian Perangkat Keras
dan Perangkat Lunak Sistem
Pada tahapan ini dilakukan pengujian antara
spesifikasi kebutuhan minimum perangkat keras
dengan perangkat perangkat lunak yang akan
digunakan dan telah disurvei pada tahapan
sebelumnya.
Tahapan ini berguna untuk mendapatkan
kesesuaian antara perangkat keras dan
perangkat lunak yang akan digunakan dalam
pengembangan sistem.
Pengujian yang dilakukan hanya
berdasarkan kebutuhan minimum perangkat
lunak yang dapat berjalan pada perangkat keras
yang dimiliki. Kriteria perangkat keras yang
diuji dapat dilihat pada Lampiran 4.
Adapun perangkat lunak yang diuji yaitu:
1 ArcView 3.3 dan Quantum GIS 1.1.0 Pan
Unstable sebagai perangkat lunak untuk
mengolah data spasial,
2 MapServer sebagai perangkat lunak untuk
mengembangkan sistem berbasis web,
3 PostgreSQL sebagai perangkat lunak Sistem
Manajemen Basis Data (Database
Management System, DBMS).

Hasil pengujian perangkat lunak yang akan
digunakan adalah:
1 Perangkat lunak untuk membuat data
spasial.
Untuk pengujian perangkat lunak dalam
membuat data spasial dapat diklasifikasikan
ke dalam dua kategori yaitu capabilities dan
performance. Pengujian capabilities
dikatakan baik jika perangkat lunak dapat
menjalankan tugas khusus seperti proses
overlay, melakukan export ke .map dan
membuat file .sql Untuk pengujian
performance berhubungan dengan seberapa
baik dan seberapa cepat perangkat lunak
menjalankan tugas yang diminta. Secara
umum ketiga perangkat lunak (ArcView,
Quantum GIS, dan MapInfo) merupakan
perangkat lunak yang mendukung antarmuka
berbasis grafik (Graphical User Interface)
sehingga memudahkan pengguna untuk
bernavigasi. Selain itu ketiganya juga dapat
membantu pengguna untuk membuat data
spasial dalam format shapefile. Hanya saja
ArcView memberikan nilai benchmark yang
baik karena perangkat lunak ini dapat
melakukan tugas khusus yang diminta
berupa overlay, export ke .map yang lebih
lengkap apabila dibandingkan dengan
MapInfo ataupun Quantum GIS.
Capabilities yang baik akan memberikan
nilai performance yang baik pula. Untuk
Quantum GIS dalam penelitian ini
digunakan untuk mengambil dan mengolah
data yang diperoleh dari GPS saja.

2 Perangkat lunak dengan pengembangan
sistem berbasis web.
Untuk pengujian perangkat lunak dalam
pengembangan sistem berbasis web, kriteria
yang digunakan adalah ketersediaan library
yang mendukung interaksi antara peta
dengan pengguna dan license and
Maintenance costs. Secara umum kedua
perangkat lunak (MapServer dan ArcIMS)
memiliki library yang mendukung interaksi
antara peta yang ada dengan pengguna
sistem tersebut. Adapun perbedaan yang
mendasar di antara keduanya adalah
MapServer merupakan perangkat lunak yang
open source sedangkan ArcIMS merupakan
perangkat lunak yang komersial. Perbedaan
inilah yang memberikan nilai benchmark
yang baik untuk MapServer dengan
kelebihan yang dimiliki.

3 Perangkat lunak sebagai Sistem Manajemen
Basis Data (Database Management System,
DBMS).
Untuk pengujian perangkat lunak sebagai
Sistem Manajemen Basis Data (Database
Management System, DBMS) dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu
license and Maintenance costs dan
capabilities. License and Maintenance costs
dikatakan baik jika perangkat tersebut
meminimalkan biaya dan pengujian
capabilities dikatakan baik jika perangkat
lunak dapat menyimpan data spasial ke
dalam suatu basis data relasional. Perangkat
lunak yang tersedia adalah MS SQL Server,
MySQL dan PostgreSQL.
MS SQL Server mempunyai library yang
lebih banyak dibandingkan MySQL. Hanya
saja, tidak seperti MySQL yang bersifat
open source, MS SQL Server merupakan
perangkat lunak yang bersifat komersial.
Nilai benchmark yang baik dimiliki oleh
PostgreSQL dalam Sistem Manajemen Basis
Data (Database Management System,
DBMS) yang dibutuhkan dalam penelitian
ini. Hal ini dikarenakan PostgreSQL
merupakan perangkat lunak open source.
Selain itu, PostgreSQL juga memiliki
kemampuan untuk melakukan kueri secara
spasial. Kemampuan PostgreSQL dalam
menyimpan dan mengolah data spasial lebih
unggul apabila dibandingkan dengan
MySQL.


11

6 Akuisisi Perangkat Keras dan Perangkat
Lunak
Setelah dilakukan pengujian dengan menilai
kinerja perangkat keras melalui benchmark pada
tahapan sebelumnya, kemudian dilakukan
pemilihan perangkat lunak dan perangkat keras
yang akan digunakan. Tujuan benchmark adalah
untuk menilai kinerja dan karakteristik dari
perangkat keras dan perangkat lunak dalam
platform sistem operasi yang sama.
Berdasarkan penilaian kinerja perangkat
lunak berdasar fungsi khusus yang dilakukan
dipilih ArcView sebagai perangkat lunak untuk
mengolah data spasial dan Quantum GIS untuk
mengambil dan mengolah data dari GPS,
MapServer sebagai perangkat lunak untuk
pengembangan sistem berbasis web, dan
PostgreSQL sebagai sistem manajemen basis
data. Untuk penilaian kinerja perangkat keras
dengan Everest maka prosessor Intel


Core
TM
Duo Processor T2250 layak digunakan
untuk perangkat lunak yang dipilih.

7 Perencanaan dan Perancangan Basis Data
Perancangan basis data dilakukan melalui
tiga tahap yaitu tahap konseptual, logical, dan
physical. Pada tahap konseptual dilakukan
identifikasi data yang dibutuhkan dan penyajian
model data.
7.1 Perancangan Konseptual Basis Data
7.1.1 Indentifikasi Jenis Data
J enis data yang digunakan yaitu data vektor.
Salah satu format data vektor yang didukung
MapServer adalah shapefile sehingga semua
data yang akan digunakan harus memiliki
format shapefile (*.shp) untuk data spasial dan
format dbaseIV (*.dbf) untuk data atribut.
Format data ini dihasilkan menggunakan
perangkat lunak ArcView GIS 3.3.
Bentuk data vektor yang digunakan dalam
SIG Fasilitas Kota Bogor ini yaitu:
polygon, untuk wilayah kecamatan,
kelurahan, dan landuse,
line, untuk sungai dan jalan,
point, untuk fasilitas pemerintahan, layanan
umum, sentral bisnis, dan wisata.
Dapat dilihat bahwa pembuatan sistem ini
membutuhkan data kecamatan, kelurahan/ desa,
jalan, sungai, fasilitas (pemerintahan, layanan
umum, sentral bisnis, dan wisata), dan landuse.
Data tersebut menjadi entity yang memiliki tipe
entitas masing-masing dan saling berhubungan.
Dalam basis data spasial setiap entity dilengkapi
dengan keterangan bentuk data spasial (point,
line, polygon).


12

Hasil perancangan konseptual digambarkan
dalam Entity Relationship Diagram pada
Lampiran 5. Notasi yang digunakan pada
diagram tersebut merujuk pada [Buffalo]
(2004).
7.2 Perancangan Logical Basis Data
Perancangan logikal basis data ditampilkan
dalam diagram keterhubungan antartabel, dapat
dilihat pada Lampiran 6. Tabel basis data
dirancang sesuai dengan kebutuhan sistem.
Daftar tabel basis data dapat dilihat pada Tabel
1. Struktur basis data dapat dilihat pada
Lampiran 7.
Layer yang terbentuk dari hasil organisasi
data yaitu:
1 kecamatan, berisi atribut nama, dan luas
(m
2
) kecamatan di Kota Bogor,
2 kelurahan, berisi atribut nama, luas (m
2
),
dan keliling (m) kelurahan di Kota Bogor,
3 namakelurahan, berisi atribut nama
kelurahan di Kota Bogor,
4 namakec, berisi atribut nama kecamatan di
Kota Bogor,
5 jalan, berisi atribut jenis dan nama jalan,
6 sungai berisi atribut jenis dan nama sungai,
7 landuse, berisi atribut penggunaan lahan
Kota Bogor.
8 pemerintahan 1, berisi atribut koordinat,
jenis, dan nama fasilitas pemerintahan
berdasarkan pengambilan data dengan GPS,
9 pemerintahan 2, berisi atribut jenis, dan
nama fasilitas pemerintahan berdasarkan
data Bakosurtanal,
10 pemerintahan 3, berisi atribut nama fasilitas
pemerintahan dan kategorinya berdasarkan
pengambilan data dengan GPS,
11 layanan umum 1, berisi atribut koordinat,
jenis, dan nama fasilitas layanan umum
berdasarkan pengambilan data dengan GPS,
12 layanan umum 2, berisi atribut jenis, dan
nama fasilitas layanan umum berdasarkan
data Bakosurtanal,
13 layanan umum 3, berisi atribut kategori dan
nama fasilitas layanan umum berdasarkan
pengambilan data dengan GPS,
14 sentral bisnis 1, berisi atribut koordinat,
jenis, dan nama fasilitas sentral bisnis
berdasarkan pengambilan data dengan GPS,
15 sentral bisnis 2, berisi atribut jenis, dan
nama fasilitas sentral bisnis berdasarkan
data Bakosurtanal,
16 sentral bisnis 3, berisi atribut kategori, dan
nama fasilitas sentral bisnis berdasarkan
pengambilan data dengan GPS,
17 wisata1, berisi atribut koordinat, jenis, dan
nama fasilitas wisata berdasarkan
pengambilan data dengan GPS,
18 wisata2, berisi atribut kategori, dan nama
fasilitas wisata berdasarkan pengambilan
data dengan GPS,
7.3 Perancangan Physical Basis Data
Perancangan physical dilakukan dengan
menentukan tipe data dari tiap data atribut dan
menyimpan data dalam bentuk yang dapat
dengan mudah digunakan dalam sistem. Oleh
karena itu, data spasial dan atribut disimpan
dalam shapefile yang memiliki tiga format file
turunan yaitu *.shp, *.shx, *.dbf. Desain
physical berupa tabel tipe data dapat dilihat
pada Lampiran 8.

8 Pembangunan Basis Data
Proses pembangunan basis data terdiri atas
pengumpulan data spasial, pengolahan data,
pengelompokan dan seleksi data, penambahan
informasi, klasifikasi, konversi data shapefile ke
dalam bentuk PostGIS, dan membuat database
baru dalam PostgreSQL. Data spasial yang
terkumpul untuk pengembangan sistem
memiliki format vektor.
8.1. Pengolahan Data

8.1.1 Pengolahan Data pada Quantum GIS
Data primer melalui pengambilan
langsung menggunakan GPS yang berupa
way point mempunyai format data awal
(*.wp). File tersebut berisi simbol dan nama
fasilitas. Data atribut dipanggil
menggunakan perangkat lunak Quantum
GIS, dengan menu: Plugins Gps Gps
Tools Download from Gps sehingga
terbentuk data spasial berbentuk point
(*.gpx). Langkah selanjutnya adalah me-
load data (*.gpx) yang diperoleh dari
langkah-langkah sebelumnya dengan menu:
Plugins Gps Gps Tools Load GPX file
(pilih Feature types Waypoints saja).
Kemudian konversi point (*.gpx) menjadi
shapefile (*.shp) dari menu: Layer Save
as Shapefile. Data spasial yang diperoleh

13

dari BAKOSURTANAL sudah dalam
format shapefile sehingga tidak perlu
dikonversi.
8.1.2 Pengolahan Data pada ArcView
Setelah data primer yang berasal dari
pengambilan GPS sudah dalam bentuk
shapefile, maka yang perlu dilakukan pada
data tersebut adalah membenahi field tabel
nama-nama fasilitas yang tersimpan
sebelumnya, hal ini berkaitan dengan
kemampuan GPS dalam menyimpan
karakter nama suatu point terbatas hanya
sepuluh karakter saja, lalu dilanjutkan
dengan penambahan informasi dengan cara
menambahkan field kategori.

Selanjutnya data point-point tersebut
dipisahkan menjadi shapefile baru berdasarkan
jenis kategorinya (termasuk ke dalam kategori
pemerintahan, layanan umum, sentral bisnis,
atau wisata). Sehingga terbentuk empat buah
shapefile baru dengan nama pemerintahan3.shp,
layananumum3.shp, bisnis3.shp, dan
wisata2.shp.
Data-data mengenai fasilitas yang ada
diklasifikasikan sebagai berikut:
1 pemerintahan diklasifikasikan menjadi
kantor walikota, kantor camat, kantor lurah,
kantor desa, kantor polisi, kantor/gedung,
dan balai penelitian,
2 layanan umum diklasifikasikan menjadi
mesjid, gereja, balai pertemuan, taman
kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah
menengah pertama, sekolah menengah atas,
universitas, bimbingan belajar, rumah sakit,
puskesmas /klinik dokter, apotek, terminal/
stasiun, lembaga kesehatan lain, kantor pos,
SPBU, customer service, dan pemakaman,
3 sentral bisnis diklasifikasikan menjadi bank,
pasar tradisional, mall, outlet, industri,
pegadaian, salon, bengkel, asuransi, factory
outlet, studio foto, studio musik, dan
residence,
4 wisata diklasifikasikan menjadi penginapan,
biro perjalanan, wisata kota, wisata sejarah,
wisata kuliner, sport, museum, dan theater.

Penyimpanan data fasilitas-fasilitas tersebut
dilakukan terpisah dengan tujuan memudahkan
jika terjadi penambahan data.

8.2 Konversi Data
Tahapan selanjutnya adalah memasukkan
data shapefile ke database dengan melakukan
konversi data shapefile ke basis data yang
dipakai untuk pengembangan SIG, yaitu
PostgreSQL terlebih dahulu. PostgreSQL
bersifat open source yang mendukung PostGIS
di dalamnya. PostGIS merupakan ekstensi
PostgreSQL yang menawarkan kemampuan
untuk mengelola data spasial. Konversi data
shapefile ke dalam PostGIS dilakukan dengan
mengimport data. Sebelum dilakukan koversi
data dari format shapefile menjadi format
PostGIS, copy-kan dulu semua data yang akan
digunakan ke direktori
C: \ Pr ogr amFi l es\ Post gr eSQL\ 8. 2\ bi n
Syntax yang diketikkan pada Command
Pr ompt Post gr eSQL seperti berikut:
shp2pgsql [ shapefile]
[ tablename] > [ file name *. sql ] .

8.3 Pembangunan Basis Data pada
PostgreSQL
Pembangunan basis data pada PostgreSQL
diawali dengan membuat database kosong yang
baru di PostgreSQL. Untuk proses pembuatan
database di PostgreSQL dapat dilihat pada
Gambar 8.

Gambar 8 Pembangunan basis data di
PostgreSQL.
Untuk memasukkan tabel-tabel ke dalam
database baru tersebut, data yang digunakan
adalah data hasil konversi tipe data shapefile
(*.shp) ke dalam bentuk tipe data PostgreSQL
(*.sql) yang telah dilakukan pada tahapan
konversi data, dengan cara mengeksekusi
perintah ini pada SQL terminal monitor:
psql d [ t ar get _dat abase] U
[ t ar get _user _owner _dat abase] f
[ f i l ename *. sql ]
Lalu akan muncul:

14

Passwor d f or user
[ owner_database] :
Ketikkan password user_owner_database
yang diminta.
Setelah data spasial dimasukkan ke dalam
basis data postgreSQL langkah selanjutnya
adalah memberikan gi x i ndex pada masing-
masing tabel. Hal ini dilakukan untuk
mempercepat proses query. Untuk itu
diperlukan suatu kolom yang unique pada suatu
tabel geometri. Kemudian lakukan vacuum
anal yze untuk meng-update statistik
geometri. Eksekusi perintah ini di menu SQL
quer i es atau di Command Pr ompt
Post gr eSQL:
CREATE I NDEX [ t bl _name] _gi st _i ndex
ON [ t bl _name] USI NG GI ST ( t he_geom
GI ST_GEOMETRY_OPS) ;
VACUUM ANALYZE [ t bl _name]
( t he_geom) ;
Kemudian dilanjutkan dengan membuat gi d
i ndex pada masing-masing tabel.
CREATE I NDEX [ t bl _name] _gi d ON
[ t bl _name] ( gi d) ;
Langkah CREATE I NDEX GI ST,
VACUUM ANALYZE, dan CREATE I NDEX
GI D tidak harus berurutan seperti yang
dijelaskan di atas. Urutan pelaksanaannya tidak
berpengaruh terhadap hasil keluarannya.

9 Integrasi dan Perancangan Antarmuka
Sistem
9.1 Arsitektur Sistem
Perancangan arsitektur sistem didasarkan
pada three tier architecture yaitu datatier, logic
tier dan presentation tier. Arsitektur yang
digunakan dalam pengembangan sistem dapat
dilihat pada Gambar 9. Diagram hierarki
Sistem Informasi Geografis Fasilitas Kota
Bogor dapat dilihat pada Lampiran 9 dan 10.
Pada Three Tier Architecture, Arsitektur
paling bawah adalah server basis data itu sendiri
(datatier). Pada lapisan ini terjadi konversi data
dari data shapefile ke dalam PostGIS. Agar data
pada DBMS PostgreSQL dapat ditampilkan
pada aplikasi MapServer, maka perlu dibuatkan
mapfile (*.map) yang menyimpan konfigurasi
untuk menampilkan data tersebut. Hasil
konfigurasi mapfile tersebut dibangkitkan oleh
Pmapper untuk menyajikan bentuk tampilan
peta dengan menu navigasi yang interaktif dan
dinamis.
Pada MapServer terjadi konversi data
shapefile ke tiff/jpeg sehingga MapServer dapat
menempatkan sebuah gambar peta statis pada
halaman web. Gambar ditempatkan pada
sebuah file dengan bentuk HTML. Proses dari
tampilan MapServer, konfigurasi mapfile pada
Pmapper, dan penanganan komunikasi antara
client dan server terjadi pada lapisan logic tier.
Pada presentation tier, lapisan ini
bertanggung jawab dalam penyedia antarmuka
ke pengguna yaitu web browser. Pada lapisan
inilah client melakukan sebuah permintaan ke
web server.
Keuntungan dari three tier architecture
salah satunya adalah perubahan pada antarmuka
pengguna tidak saling mempengaruhi satu sama
lain, membuat suatu aplikasi mudah berevolusi
untuk memenuhi kebutuhan baru.














Gambar 9 Arsitektur sistem dengan Three Tier
Architecture.
9.2 Perancangan Antarmuka
9.2.1 Antarmuka halaman utama
Antarmuka halaman utama SIG Fasilitas
Kota Bogor terdiri atas beberapa bagian, yaitu
header , menu, form login, navigasi, counter
pengunjung, sekilas bogor, satuan kawasan
wisata, berita, event, iklan, dan footer. Tampilan
perancangan antarmuka halaman utama dapat
dilihat pada Gambar 10.





Web Server
(Apache)
Pmapper
Mapserver
PostgreSQL
PostGIS
Presentation Tier
Menampilkan
halamanweb
Web Browser
Logic Tier
Menangani komunikasi antara
pengguna yang mengakses web
browser
Aplikasi untuk menampilkan data
spasial (peta) di web
Konfigurasi hasil mapfile untuk
pemunculan peta dan menu
navigasi
Konfigurasi untuk pembuatan
dan perancangan mapfile
Konversi dari format shapefile ke
format tiff
ArcView
Shapefile
Aplikasi untuk membuat dan
mengolah data shapefile dikonversi

15













Gambar 10 Antarmuka halaman utama.
9.2.2 Antarmuka halaman peta
Antarmuka halaman peta terdiri dari 8
bagian yaitu header, search, tools, peta,
navigasi, skala, layer dan legenda serta
referensi. Pengguna dapat melakukan pemilihan
layer dan informasi terkait pada bagian layer-
legenda. Legenda berisi keterangan atau simbol
dari peta. Pengguna dapat melakukan proses
pencarian pada tombol search. Pada bagian
tools terdapat pilihan download dan print peta.
Bagian referensi berupa tampilan peta dasar.
Tampilan perancangan antarmuka halaman
utama digambarkan pada Gambar 11.
Gambar 11 Antarmuka halaman peta.

10 Pengembangan Sistem
Komponen penting yang akan digunakan
pada tahapan pengembangan ini adalah paket
MapServer (MS4W) 2.3.1 yang dapat diunduh
di www.maptools.org. Setelah berhasil men-
download paket ms4w yang dikehendaki
ekstraksi isinya ke direktori C:\ seperti pada
Gambar 12. Kemudian eksekusi apache-
install.bat untuk menginstal service Apache.
Apabila service sudah berjalan, maka akan
terlihat proses httpd.exe pada jendela Task
Manager Windows. Dapat dilihat dengan
membuka http://localhost pada web browser.

Gambar 12 Struktur paket MS4W.
Penambahan aplikasi baru ke dalam paket
tersebut diletakkan di C:\ms4w\apps dalam satu
folder baru, dan diperlukan konfigurasi ulang
pada beberapa file di direktori
C:\ms4w\apps\...\config, seperti file config.ini,
php_config.php dan mapfile-nya, serta
penambahan file pada C:\ms4w\Apache\htdocs
dan C:\ms4w\httpd.d.
Setelah MapServer terinstal dan dapat
menjalankan semua fiturnya dengan baik, dan
semua data yang diperlukan dalam
pengembangan sistem sudah lengkap, serta
kebutuhan desain antarmuka sistem telah
selesai, maka tahap penggabungan sistem dapat
segera dilakukan. Halaman utama sistem yang
dibangun dapat dilihat pada Gambar 13.
Menu-menu yang tersedia di dalam sistem
ini dibuat dengan tujuan untuk mendukung dan
melengkapi fasilitas SIG yang ada di dalamnya.
Di bagian atas ada menu-menu utama yang
terdiri atas Home, Buku Tamu, Galeri, Kontak
Kami dan Search. Halaman awal pada sistem ini
adalah halaman Home yang berisi tentang
Sekilas Bogor sebagai pembuka dan Berita.
Di sebelah kiri ada form login untuk
administrator, menu navigasi, dan catatan
kunjungan. Di sebelah kanan ada menu Info
Event yang memuat event-event yang sedang
atau akan diselenggarakan oleh Pemerintah
Kota Bogor, dan ada Iklan Baris yang ditujukan
bagi masyarakat umum yg berminat untuk
mempromosikan usahanya. Fasilitas SIG sendiri

16

dapat di akses melalui submenu Peta Fasilitas
pada menu Navigasi atau melalui gambar peta
di halaman Home.
Submenu Sekilas Bogor terdiri atas Sejarah
Pemerintahan, Visi dan Misi, Lambang Kota
Bogor, Potret Bogor Tempo Dulu, dan Potret
Bogor Masa Kini. Submenu Khas Daerah terdiri
atas Produk Khas, Cinderamata, Makanan Khas,
dan Seni Tradisional. Submenu Fasilitas
Pemerintah berisi tentang fasilitas-fasilitas yang
dikategorikan ke dalam fasilitas pemerintahan,
seperti kantor/gedung pemerintah, kantor
walikota, kantor camat dan balai penelitian.

Gambar 13 Halaman utama sistem.
Fasilitas Umum berisi tentang fasilitas-
fasilitas yang dikategorikan ke dalam fasilitas
layanan umum, seperti masjid, gereja, wihara,
SPBU, makam, sekolah-sekolah, balai
pertemuan, terminal, dan layanan kesehatan.
Fasilitas Sentral Bisnis berisi tentang fasilitas-
fasilitas yang dikategorikan ke dalam fasilitas
sentral bisnis, seperti bank, pasar, mall, outlet,
salon, asuransi, studio musik, dan studio foto.
Fasilitas Wisata berisi tentang fasilitas-fasilitas
yang dikategorikan ke dalam fasilitas wisata,
seperti penginapan, biro perjalanan, wisata kota,
wisata kuliner, wisata sejarah, dan theater.
Produsen Produk Khas memuat informasi
mengenai produsen produk khas yang ada di
Kota Bogor. Untuk menampilkan antarmuka
halaman peta, data-data yang digunakan
dikonversi dahulu ke format mapfile.
Struktur umum sebuah mapfile dapat dilihat
pada Gambar 14. Mapfile secara umum terdiri
atas pendefinisian objek map yang umumnya
berisi tentang extension peta, size, dan lain-lain,
pendefinisian objek layer, pendefinisian objek
class, pendefinisian objek style, dan
pendefinisian objek label.











Gambar 14 Struktur umum mapfile
(Kropla 2005).
Salah satu contoh pendefinisian objek layer
dalam mapfile dengan tipe data polygon pada
sistem yang terintegrasi dengan database dapat
dilihat pada Gambar 15.
MAP

LAYER

CLASS

STYLE

END #AKHI R DEFI NI SI OBJ EK STYLE

LABEL

END #AKHI R DEFI NI SI OBJ EK LABEL

END #AKHI R DEFI NI SI OBJ EK CLASS

END #AKHI R DEFI NI SI OBJ EK LAYER


END # AKHI R DEFI NI SI OBJ EK MAP


ter
se
lay
da
da
sc
CO
de
pa
ya
me
me
CL
sis
CL
de
tid
CL
de
da
sy
da
me
vi
Un
da
RE
ma
me
di
tid
pe
de
RE
Gambar 15
Pendefinisia
rintegrasi d
dikit berbeda
yer pada siste
atabase yang
ata shapefile-n
ript CONNEC
ONNECTI ON
engan databas
ada penulisan
ang tak ka
empengaruhi
enerjemahkan
LASSI TEM
stem yang
LASSI TEM
engan huruf ke
dak terint
LASSI TEM
engan huruf b
alam mapfile
ystem yang tid
apat dilihat pad
Perbedaan y
enimbulkan
sualisasi yan
ntuk sistem
atabase, ap
ESULT_FI EL
aka Map
emvisualisasik
sampaikan ke
dak berhasil
engguna. Untu
engan databa
ESULT_FI EL
Pendefinisian
terintegrasi d
an objek layer
engan datab
a dengan pe
m yang tidak
datanya di-l
nya. Selain te
CTI ONTYPE
pada sistem
se, perbedaan
script DATA
alah penting
MapS
nnya ada
dan RESU
terintegrasi
dan RESUL
ecil, sedangka
tegrasi de
dan RESUL
besar. Pendef
dengan tipe
dak terintegra
da Gambar 16
yang sederhan
permasalaha
ng dilakukan
m yang ter
pabila CLA
LD ditulis de
pServer
kannya ke w
epada penggu
l muncul d
uk sistem yan
se, apabila C
LD ditulis d
n objek layer y
database.
r pada sistem
base Postgr
endefinisian
terintegrasi d
load langsung
rdapat penam
dan konfi
m yang terint
n lain juga ter
A. Perbedaan
gnya, dan
Server
alah pen
ULT_FI ELD,
dengan data
LT_FI ELD d
an pada sistem
engan dat
LT_FI ELD d
finisian objek
data polygon
asi dengan dat
6.
na, namun m
an dalam p
oleh MapS
rintegrasi d
ASSI TEM
engan huruf
tidak m
web browser
una, sehingga
di web br
ng tidak terint
CLASSI TEM
dengan huruf

yang
m yang
reSQL
objek
dengan
g dari
mbahan
igurasi
tegrasi
rdapat
n lain
dapat
dalam
nulisan
pada
abase,
ditulis
m yang
tabase
ditulis
k layer
n pada
tabase
mampu
proses
Server.
dengan
dan
besar,
mampu
untuk
a peta
rowser
tegrasi
dan
kecil,
tid
m
un
un
be
m
ko
G
ha
s.
G
se
1
la
da
ke
si
in
na
m
dak terjadi
memvisualisasi
ntuk ditampi
ntuk fitur
erjalan den
memunculkan Q
osong.
Gambar 16
Antarmuka
Gambar 18.
Penjelasan
alaman peta
d Lampiran 2
Pada hala
Geografis Fa
embilan kateg
Kategori Pe
Kategori in
ayer keluraha
an nama kec
ecamatan m
mbol berbent
ni bisa dilihat
ama kelura
menggunakan l
Gamb
masalah
ikan kode-ko
lkan kepada
Identify(
gan baik.
Query Results
Pendefinisian
tidak terinteg
halaman peta
mengenai b
dapat dilihat
0.
aman peta
asilitas Kota
gori layer, yai
eta Administra
ni terdiri atas
an, kecamatan
camatan. Lay
menggunakan
tuk polygon. L
t pada Gamb
han dan
legenda denga
bar 17 Legend



saat Map
ode dalam m
pengguna, n
) tidak
Identify
s dengan tabe
n objek layer
grasi database
a dapat diliha
bagian-bagian
pada Lampir
Sistem Info
a Bogor te
itu:
asi
empat layer
n, nama kelu
yer keluraha
legenda d
Legenda untuk
ar 17. Untuk
nama keca
an simbol poin

da tipe polygon
17
Server
mapfile
namun
dapat
hanya
el-tabel

yang
e.
at pada
pada
ran 11
formasi
erdapat
yakni
urahan,
n dan
dengan
k jenis
k layer
amatan
nt.
n

18

Gambar 18 Halaman peta.
2 Kategori Landuse
Kategori ini terdiri atas satu layer yakni
layer landuse. Layer pada kategori ini
menggunakan legenda dengan simbol berbentuk
polygon.
3 Kategori Sungai
Kategori ini terdiri atas satu layer yakni
layer sungai. Sungai terdiri atas tiga jenis, yaitu
sungai satu garis, sungai dua garis, dan garis
tepi perairan alam. Ketiga jenis sungai ini
disimpan dalam satu layer karena sungai saling
berhubungan. Layer pada kategori ini
menggunakan legenda dengan simbol berbentuk
garis dengan warna biru.
4 Kategori Bangunan
Kategori ini terdiri atas satu layer yakni
layer bangunan. Layer pada kategori ini
menggunakan legenda dengan simbol berbentuk
point.
5 Kategori Fasilitas Pemerintahan
Kategori ini terdiri atas tiga layer yakni
layer pemerintahan 1, pemerintahan 2, dan
pemerintahan 3. Layer- layer pada kategori ini
menggunakan legenda dengan simbol berbentuk
point.
6 Kategori Fasilitas Layanan Umum
Kategori ini terdiri atas tigas layer yakni
layer layanan umum 1, layanan umum 2, dan
layanan umum 3. Layer- layer pada kategori ini
menggunakan legenda dengan simbol berbentuk
point.
7 Kategori Fasilitas Sentral Bisnis
Kategori ini terdiri atas tiga layer yakni
layer sentral bisnis 1, sentral bisnis 2, dan
sentral bisnis 3. Layer- layer pada kategori ini
menggunakan legenda dengan simbol berbentuk
point.
8 Kategori Fasilitas Wisata
Kategori ini terdiri atas dua layer yakni
layer lokasi wisata 1 dan lokasi wisata 2. Layer-
layer pada kategori ini menggunakan legenda
dengan simbol berbentuk point.
Untuk mengetahui simbol-simbol legenda yang
digunakan untuk menunjukkan lokasi-lokasi
yang berbentuk point pada layer dapat dilihat
pada Lampiran 21.

11 Pengujian Sistem
Secara fungsional, sistem dapat digunakan
pada browser Internet Explorer 6, Mozilla
Firefox 3.0 dan Safari 4. Administrator dan
pengguna umum dapat menggunakan sistem ini
sesuai dengan dengan hak akses dan tanggung
jawab yang telah ditentukan. Sesuai dengan
pembagian kategori pengguna, administrator
mempunyai hak akses dan tanggung jawab
melakukan manajemen basis data, hanya saja
manajemen data spasial tidak dapat dilakukan
secara langsung dalam sistem ini dikarenakan

19

batasan sistem. Untuk melakukan pengolahan
dan pengeditan data spasial menggunakan
perangkat ArcView.
Pengujian sistem dilakukan dengan
menggunakan metode pengujian black-box.
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
apakah fungsi-fungsi yang ada dalam sistem
berjalan dengan baik serta memeriksa terjadinya
error pada saat sistem digunakan. Pengujian ini
dilakukan dengan memeriksa kesesuaian input
dan output yang dihasilkan oleh sistem. Hasil
pengujian yang didapat dari serangkaian
pengujian yang dilakukan menyatakan bahwa
sistem berhasil menjalankan fungsi-fungsinya
dengan baik. Hasil pengujian selengkapanya
dapat dilihat pada Lampiran 22.

12 Penggunaan dan Perawatan Basis Data
Prosedur penggunaan sistem dibuat
berdasarkan interaksi pengguna dengan sistem.
Pada prosedur tersebut dijelaskan bagaimana
interaksi antara pengguna dengan setiap
halaman yang ada pada sistem. Prosedur
tersebut didokumentasikan dalam bentuk tulisan
ini.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Sistem Informasi Geografis Fasilitas Kota
Bogor berhasil dikembangkan melalui
serangkaian tahapan pengembangan sistem.
Masukan data pada sistem berupa data spasial
dan data atribut berbentuk vektor.
Sistem Informasi Geografis Fasilitas Kota
Bogor dikembangkan sebagai sistem yang
menyediakan informasi mengenai fasilitas yang
ada di Kota Bogor secara utuh, berbasi web,
dinamis dan interaktif. Informasi tersebut
meliputi enam kecamatan dan fasilitas-fasilitas
yang terdapat di Kota Bogor sehingga pengguna
dapat memilih objek yang menjadi perhatian
pengguna. Pengguna dapat mencari kecamatan,
kelurahan atau desa, jalan, sungai, fasilitas
pemerintahan, layanan umum, sentral bisnis,
dan wisata.
Dikatakan dinamis karena dalam
penyajiannya sistem ini dibangun menggunakan
framework Pmapper yang menyediakan fungsi
yang besar serta multiple untuk memanipulasi
peta. Fungsi manipulasi peta yang tersedia yaitu
mencari suatu lokasi kelurahan, kecamatan,
fasilitas pemerintahan, fasilitas layanan umum,
fasilitas sentral bisnis, dan fasilitas wisata,
memperbesar dan memperkecil ukuran skala
peta, melakukan cetak peta dalam bentuk PDF
atau HTML, identifikasi layer secara automatis,
melakukan pengukuran jarak, menambahkan
objek baru dan mengambil informasi yang
berkaitan dengan lokasi tersebut. Sistem ini
berbasis web online sehingga pengguna dapat
dengan mudah mengakses dimanapun dan
kapanpun.
Saran

Sistem Informasi Geografis Fasilitas Kota
Bogor ini masih memiliki kekurangan yang
disebabkan oleh keterbatasan perangkat yang
tersedia. Sistem ini melakukan pengolahan data
di ArcView dan halaman peta terbatas
menampilkan data saja tanpa bisa dilakukan
pengolahan data oleh pengguna. Dengan
demikian, penelitian selanjutnya diharapkan
dapat melakukan pengolahan data pada halaman
peta, masukan data dapat berupa data raster, dan
adanya halaman administrator untuk
pengolahan data pada PostgreSQL.


DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, A. 2008. Sistem Informasi
Geografis Fasilitas Kota Bogor Berbasis
Web Menggunakan ALOV MAP[Skripsi].
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Aronoff S. 1989. Geographic Information
System: A Management Perspective. Ottawa
Canada: WDL Publication
Barus B, Wiradisastra US. 2000. Sistem
Informasi Geografi : Sarana Manajemen
Sumberdaya, Bogor: IPB.
[Buffalo]. Department of Geography University
at Buffalo. 2004. GIS Development
Guide.http://www.geog.buffalo.edu/ncgia/sa
ra/index.html, volumei.pdf dan
volumeiii.pdf. [12 J anuari 2009].
Burrough P.1986. Principle of Geographical
Information System for Land Resources
Assesment. Claredon Press : Oxford.
Harmon J E, Anderson SJ . 2003. Design and
Implementation of Geographic Information
Systems. New J ersey:J ohn Wiley and Sons.
Kang TC. 2002. Introduction to Geographic
Information System. New York: The
McGraw-Hill Companies, Inc.