Anda di halaman 1dari 57

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pada masa perkuliahan, para mahasiswa mempelajari teori-teori di kelas yang menjadi landasan pemikiran suatu disiplin ilmu. Selain itu mahasiswa juga dituntuk untuk bisa menerapkannya teori-teori yang ia dapat di kelas dengan mengaplikasikan terori-teori tersebut di lapangan. Salah satu sarana perkuliahannya adalah mata kuliah Kerja Praktek. Salah satu inti bentuk penerapan disiplin ilmu arsitektur adalah dalam bidang perencanaan dan perancangan. Perencanaan sebagai padanan kata asing planning, dapat diartikan sebagai suatu sarana untuk mentransformasikan persepsi-persepsi mengenai kondisi-kondisi lingkungan ke dalam rencana yang berarti dan dapat dilaksanakan dengan teratur (William A. Shrode, 1974). Perencanaan merupakan suatu proses menyusun konsepsi dasar suatu rencana yang meliputi kegiatan-kegiatan: 1) Mengidentifikasi. Menentukan komponen-komponen yang menunjang terhadap objek, yang merupakan kompleksitas fakta-fakta yang memiliki kontribusi terhadap kesatuan pembangunan. 2) Mengadakan studi. Mencari hubungan-hubungan dari factor-faktor terkait, yang memiliki pengaruh spesifik. 3) Mendeterminasi. Menentukan setepat mungkin faktor-faktor yang dominan dengan memperhatikan kekhususan dari unit perubahan yang spesifik yang memberikan perubahan terhadap faktor lain. 4) Memprediksi. Mengadakan ramalan bagaimana suatu factor akan berubah sehingga mencapai keadaan lebih baik di masa depan. 5) Melakukan Tindakan. Berdasarkan prediksi di atas, melakukan tindakan terstruktur untuk mencapai tujuan pembangunan. (William L. Lassey, 1977).

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Salah satu komponen dalam kegiatan perancangan bangunan adalah penyusunan tata ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan dan spesifikasi kegiatan yang akan diwadahi ruang tersebut. Dalam perencanaan ruang terdapat banyak aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek struktur, aspek arsitektural serta aspek utilitas. Aspek utilitas sangatlah penting dalam perencanaan ruang, karena bisa menjadi salah satu faktor penentu kenyamanan ruang. Persyaratan utilitas ruang secara umum diartikan sebagai suatu persyaratan fisik lingkungan dan suasana suatu ruang yang mengarah pada terciptanya ruang berkualitas, ditinjau dari aspek kesehatan, kenyamanan dan kemudahan, yang bisa diformulasikan lagi sebagai suatu ruang yang menyenangkan Dalam hal ini penulis telah mengadakan Kerja Praktek di sebuah Konsultan yang tengah menangani Proyek Perencanaan dan Perancangan Pengembangan Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Sungai Baturusa Pangkal Pinang. Kawasan PPI Baturusa terdiri dari beberapa fasilitas, yaitu Tempat Pelelangan Ikan, Dermaga, Kolam Dermaga, Kantor Balai Ketrampilan Penangkapan Ikan, fasilitas Drainase, Jalan dan Pagar, dan Mess Karyawan. Kawasan ini merupakan kawasan pengembangan PPI Muara Sungai Baturusa. PPI Baturusa yang telah berdiri saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Kurangnya perawatan dan pengelolaan yang baik, yang tampak dari tidak adanya system pembuangan dan pengelolaan sampah yang baik. Sehingga pada titik tertentu terdapat tumpukan sampah.

Gambar 1-1. Tumpukan Sampah

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Hal inilah yang menjadi pusat perhatian penulis, sehingga hal diharapkan pada perencanaan dan perancangan Kawasan PPI yang baru, system pengelolaan dan pembuangan limbah lebih teratur, sehingga limbah tidak lagi menjadi momok perusak bagi PPI Baturusa dan lingkungan di sekitarnya.

1.2

Gambaran Umum Proyek Proyek Perencanaan dan Perancangan Kawasan Muara Sungai Batu Rusa ini berupa kawasan Pusat Industri Pelabuhan Pendaratan Ikan, yang meliputi: a) Perencanaan kolam dermaga. b) Perencanaan dermaga arah alur sungai. c) Perencanaan jalan, drainase, dan pagar d) Perencanaan bangunan mess karyawan. e) Perencanaan kantor balai keterampilan penangkapan ikan, bengkel kerja/workshop. f) Perencanaan Tempat Pelelangan Ikan

Dalam rangka pengembangan sektor kelautan dan perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan program Provinsi Bangka Belitung bermaksud serta

melaksanakan

pembangunan

Pelabuhan

Perikanan,

meningkatkan kualitas lingkungan kawasan. Pelabuhan yang dirancang sebagai tempat pelayanan bongkar muat ikan dan perbekalan serta kegiatan lain yang terkait dengan pendaratan ikan yang hygenis serta memenuhi standar pelabuhan, dan merupakan tempat untuk pembinaan dan pemantauan kegiatan sektor perikanan di Provinsi Bangka Belitung maupun skala Regional dan Nasional. Selaras dengan visi Pemerintah Kota Pangkalpinang Meningkatnya Kesejahteraan Rakyat Melalui Pembangunan Yang Berbasis Perdagangan Dan Jasa Dengan Dukungan Sektor Industri Unggulan dengan demikian semua potensi daerah baik sumberdaya alam maupun

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

sumberdaya manusia sedapat mungkin memberikan andil terhadap pembangunan daerah. Agar cita-cita organisasi dapat tercapai dengan baik, Dinas Kelautan dan Perikanan mempunyai beberapa misi yang salah satunya adalah meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana dalam mendorong pengembangan usaha dan investasi dibidang kelautan dan perikanan serta mewujudkan kawasan industri perikanan Muara Sungai Baturusa, serta

mengembangkan dan mengelola secara optimal sumberdaya kelautan, perikanan dan wilayah pesisir. Dalam rangka mewujudkan kawasan industri perikanan Muara Sungai Batu Rusa serta mengembangkan dan mengelola secara optimal sumber daya kelautan, perikanan dan wilayah pesisir, merupakan pertimbangan yang kuat untuk mewujudkan perencanaan penataan kawasan PPI Muara Sungai Batu Rusa yang mampu memenuhi secara optimal fungsi dan

pemanfaatannya, tata letak dan arsitektural serta kontribusi positif bagi perkembangan di daerah. Selain untuk mengembangkan sektor kelautan dan perikanan tangkap di Muara Sungai Batu Rusa, Juga melihat kondisi muara sungai Batu Rusa yang sangat strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Pangkal Balam selain itu juga telah dibangun jembatan Batu Rusa yang bisa digunakan pada tahun 2013. Sehingga pelabuhan perikanan yang direncanakan di Muara Sungai Batu Rusa ini bisa disebut sebagai Pelabuhan Perikanan Lingkar Luar (Outer Ring Fishing Port). Dengan demikian, tujuan dari rencana pembangunan pelabuhan perikanan ini adalah : a. Penyediaan sarana dan prasarana bagi nelayan Pangkal Pinang dan sekitarnya, b. c. d. Pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap, Pengembangan jaringan pemasaran produk perikanan, Dalam kondisi darurat dapat dijadikan sebagai basis pertahanan negara

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

1.3

Permasalahan Dari latar belakang dan gambaran umum proyek di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu, bagaimana mengetahui proses perencanaan system sanitasi PPI yang baik, agar dapat mewadahi kegiatan yang sesuai dengan fungsinya dan memenuhi tujuan yang ada sesuai dengan apa yang direncanakan. Permasalahan sanitasi yang terjadi pada proses perencanaan dan

perancangan kawasan PPI Batu Rusa adalah : a. Bagaimana mengetahui proses perencanaan sebuah kawasan Pusat Pelelanan Ikan yang bersih, teratur, dan nyaman. b. Bagaimana menciptakan pusat pelelangan ikan dengan system pembuangan limbah yang baik sehingga bisa mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan di sekitarnya. c. Bagaimana menciptakan master plan serta memiliki pola integrasi yang baik dengan sarana prasarana serta lingkungan sekitarnya, sehingga memberikan effek positif di bidang ekonomi.

1.4

Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari kerja praktek ini adalah mahasiswa diharapkan dapat menerapkan teori-teori yang didapat di bangku perkuliahan ke lapangan. Tujuan dari kerja praktek ini adalah: a. Mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman tentang sistem sanitasi secara umum dan khusus di bidang perencanaan Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan. b. Mahasiswa memiliki pemahaman dalam merencanakan Pusat

Pelalangan Ikan yang memiliki sistem pembuangan limbah yang baik sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. c. Mahasiswa memiliki pemahaman dalam merencanakan suatu master plan PPI yang memilik pola intergrasi yang baik dengan sarana prasarana serta lingkungan di sekitarnya.
Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

1.5

Ruang Lingkup Pembahasan Berdasarkan latar belakang dan tujuan yang telah disajikan, maka dalam pembahasan ini hanya dibatasi pada proses Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pelelangan Ikan (PPI) Baturusa Pangkal Pinang, sehingga dapat diketahui kendala yang dihadapi selama proses perencanaan dan perancangan, serta membandingkan antara teori yang telah didapat dengan kondisi di lapangan.

1.6

Metode Pembahasan Metode pembahasan yang dilakukan adalah bersifat analisis deskriptif, yaitu dengan pengumpulan data primer dan sekunder, kemudian merumuskan dan menafsirkan data-data yang ada sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang proyek tersebut. Pengumpulan data-data tersebut dilakukan dengan menggabungkan data yang didapat dari : a. Data proyek yang diperoleh dengan mengikuti kegiatan Perencanaan dan perancangan proyek, secara tulisan maupun lisan. b. Konsultasi dengan Pimpinan Proyek, rekan satu tim pada proyek Kawasan Pusat Pelelangan Ikan Batu Raja. c. Konsultasi dengan dosen pembimbing. d. Mempelajari literature yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.

1.7

Sistematika Pembahasan Secara garis besar sistematika pembahasan dan laporan ini dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I

Berisi tentang uraian secara umum latar balakang objek, gambaran umum proyek, maksud dan tujuan, permasalahan, ruang lingkup pembahasan, metode pembahasan dan sistematika pembahasan.

BAB II Berisi tentang teori Perencanaan Sistem Sanitasi dan gambaran umum proyek Pangkalan Pendaratan Ikan yang serupa yang
Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

dijadikan sebagai studi objek Perencanaan Pangkalan Pendaratan Ikan Baturusa.

BAB III Berisi

tentang

penggambaran

proyek

Perencanaan

dan

Perancangan kawasan Pusat Pelelangan Ikan yang meliputi Perencanaan kolam dermaga, Perencanaan dermaga arah alur sungai, Perencanaan jalan, drainase, dan pagar, Perencanaan bangunan mess karyawan, Perencanaan kantor balai keterampilan penangkapan ikan, bengkel kerja/workshop, dan Perencanaan Tempat Pelelangan Ikan, serta sejarah dan struktur konsultan perencaannya, terutama pada system Sanitasi.

BAB IV Berisi tentang pembahasan dengan membandingkan antara teori dan kondisi di lapangan, sehingga bisa memberikan penggambaran yang akurat tentang proyek tersebut.

BAB V Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran.

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

BAB II STUDI LITERATUR


2.1 Pelabuhan Perikanan Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian RI (1981) dalam Murdiyanto (2003), Pelabuhan Perikanan adalah pelabuhan yang secara khusus menampung kegiatan masyarakat perikanan baik dilihat dari aspek produksi, pengolahan maupun aspek pemasarannya. Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per. 16/MEN/2006 Tentang Pelabuhan Perikanan, pelabuhan ikan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya denga batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan system bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan peleyaran dan kegiatan penjunjang perikanan. Peraturan Menteri Kelauatan dan Perikanan Nomor Per. 16/MEN/2006 Tentang Pelabuhan Perikanan, pelabuhan perikanan dapat diklasifikasikan menjadi empat kelas, yaitu: 1. Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut territorial, ZEE Indonesia dan laut lepas Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurangkurangnya 60GT Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, dengan

kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m Mampu menampung sekurang-kurangnya 6.000 perikanan sekaligus Ikan yang didaratkan sebgaian untuk tujuan ekspor Terdapat indrustri perikanan GT kapal

2. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Melayani kapal perikanan yang melakukan kegaitan perikanan di laut territorial dan ZEE Indonesia Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 30 GT Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, dengan

kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m Mampu menampung sekurang-kurangnya 75 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 2.250 GT kapal perikanan sekaligus Terdapat industri perikanan

3. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perariran pedalaman, perairan kepulauan dan laut territorial Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan

berukuran sekurang-kurangnya 10 GT Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, dengan

kedalaman kolam sekurang-kurangnya 2 m Mampu menampung sekurang-kurangnya 30 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT kapal perikanan sekaligus 4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan pedalaman dan perairan kepulauan Memiliki fasiltas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang kurangnya 3 GT Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, dengan kedalaman kolam minus 2 , Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 60 GT kapal perikanan sekaligus

Lia Amelia (03081006040)

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

2.2

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) 2.2.1 Definisi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) merupakan tempat bertambat dan labuh perahu / kapal perikanan, tempat pendaratan hasil perikanan dan merupakan lingkungan kerja ekonomi perikanan yang meliputi areal perairan dan daratan, dalam rangka memberikan pelayanan umum dan jasa untuk memperlancar kegiatan perahu / kapal dan usaha perikanan. Lebih lanjut PPI merupakan salah satu unsur prasarana ekonomi yang dibangun dengan maksud untuk menunjang tercapainya pembangunan perikanan terutama untuk perikanan skala kecil. Mengingat peranan PPI sangat strategis, maka pengelolaannya harus dilakukan secara profesional agar asset pembangunan tersebut dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat nelayan dan pada gilirannya akan dapat memberikan kontribusi berupa pendapatan asli daerah (PAD) pemerintah daerah setempat. (Direktorat Jenderal Perikanan, 1996/ 1997). Menurut Ayodhyoa (1975), PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan) adalah pelabuhan khusus yang merupakan pusat pengembangan ekonomi perikanan, baik dilihat dari aspek produksi maupun pemasarannya.

2.2.2 Ruang Lingkup Kegiatan PPI Pangkalan Pendaratan Ikan merupakan tempat bertambat dan labuh perahu / kapal perikanan, tempat pendaratan hasil perikanan dan melelangkannya yang meliputi areal perairan dan daratan dalam rangka memberikan pelayanan umum serta jasa, untuk memperlancar kegiatan usaha perikanan baik penangkapan ikan mauoun

pengolahannya. Pangkalan Pendaratan Ikan sebgai salah satu unsure prasarana ekonomi, dibangun dengan tujuan untuk menunjang keberhasilan pembangunan perikanan, terutama perikanan skala kecil.

Lia Amelia (03081006040)

10

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Sesuai dengan fungsinya, ruang lingkup kegiatan PPI dibedakan menjadi 3 (tiga) hal pokok, yakni : a. Kegiatan yang berkaitan dengan produksi meliputi: tambat labuh perahu / kapal perikanan, bongkar muat ikan hasil tangkapan, penyaluran perbekalan / logistik kapal dan awak kapal, serta pemeliharaan kapal dan alat-alat perikanan. b. Kegiatan yang berkaitan dengan pengawetan, pengolahan dan pemasaran meliputi : penanganan / handling hasil penangkapan, pelelangan ikan (bakul dan nelayan), pengepakan, penyaluran / distribusi, pengolahan dan pengawetan. c. Kegiatan pembinaan dan pengembangan masyarakat nelayan meliputi : penyuluhan dan pelatihan, pengaturan (keamanan, pengawasan dan perijinan), pengumpulan data statistik perikanan, serta pembinaan perkoperasian dan ketrampilan nelayan.

Ditinjau dari fungsinya, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) merupakan prasarana penangkapan yang diperuntukkan bagi

pelayanan masyarakat nelayan berskala usaha kecil dalam rangka mendukung pengembangan ekonomi perikanan, pengembangan wilayah, agribisnis dan agroindustri serta sebagai pendukung dalam pelaksanaan otonomi daerah. Fasilitas yang tersedia di PPI terdiri dari fasilitas dasar (pokok), fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. (Direktorat Jenderal Perikanan, 1996/ 1997) 2.3 Definisi dan Syarat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ikan merupakan komoditi yang mudah busuk. Sesudah diangkat dari kapal, ikan harus segera ditangani secara tepat untuk mempertahankan mutu ikan secara maksimum. Sistem pemasaran menjadi kompleks karena sifatnya yang mudah busuk. Beberapa cara pelayanan untuk mendistribusikan produk perikanan yang dapat dilakukan :

Lia Amelia (03081006040)

11

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

1. Melalui tempat pelelangan ikan di pelabuhan perikanan dan pasar induk di luar kota sebelum akhirnya sampai pada konsumen. 2. Diangkut dengan kapal langsung ke pasar di kota konsumen tanpa melewati tempat pelelangan ikan. 3. Para pengolah membeli ikan untuk bahan mentah di tempat pelelangan. 4. Setelah membeli ikan di pelelangan ikan, tengkulak memasok para konsumen di lingkungan perkotaan seperti restoran, pabrik, rumah sakit, pasar swalayan dan sebagainya.

Hasil tangkapan yang dibongkar dari kapal ikan perlu mendapatkan pelayanan yang memudahkan terlaksananya pekerjaan dalam serangkaian proses seperti sortasi, pencucian, penimbangan, penjualan dan pengepakan di tempat pelelangan ikan (TPI) tersebut. Setelah itu ikan dikirim sebagian untuk konsumsi lokal dalam bentuk segar, sebagian lainnya ke pabrik untuk prosesing dan sisanya ke tempat pembekuan ikan untuk diawetkan. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan salah satu fasilitas fungsional yang disediakan di setiap Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Dengan demikian TPI merupakan bagian dari pengelolaan PPI. Fasilitas lain yang disediakan oleh PPI adalah fasilitas dasar seperti dermaga, kolam pelabuhan, alur pelayaran serta fasilitas penunjang seperti gudang, MCK, keamanan dan lain sebagainya. Berdasarkan Keputusan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian dan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor : 139 Tahun 1997; 902/Kpts/PL.420/9/97; 03/SKB/M/IX/1997 tertanggal 12 September 1997 tentang

penyelengaraan tempat pelelangan ikan, bahwa yang disebut dengan Tempat Pelelangan Ikan adalah tempat para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan melalui pelelangan dimana proses penjualan ikan dilakukan di hadapan umum dengan cara penawaran
Lia Amelia (03081006040)

12

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

bertingkat. Ikan hasil tangkapan para nelayan harus dijual di TPI kecuali : a. Ikan yang digunakan untuk keperluan lauk keluarga b. Ikan jenis tertentu yang diekspor dan ikan hasil tangkapan pola kemitraan dengan pertimbangan dan atas dasar persetujuan dari Kepala Daerah. TPI merupakan tempat pembongkaran hasil tangkapan yang diperoleh untuk selanjutnya mengalami proses sortasi, pencucian, penimbangan, penjualan dan pengepakan. Setelah in ti produk akan didistribusikan, sebagian untuk konsumsi lokal dalam bentuk segar, sebagian untuk prosesing, ekspor, maupun disalurkan ke tempat pembekuan untuk selanjutnya diawetkan.

Tempat Pelelangan ikan mempunyai fungsi yaitu untuk melelangkan ikan baik hasil tangkapan maupun budidaya, dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli. Menurut Lubis (2006) letak dan pembagian ruang di gudang pelelangan harus direncanakan supaya aliran produk (flow of product) berjalan dengan cepat (Faubiany, 2008).

Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. Kep. 01/MEN/2007 tanggal 5 Januari 2007 Bab IV A poin satu, tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi, bahwa tempat pelelangan ikan (TPI) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) Terlindung dibersihkan. b) Mempunyai lantai yang kedap air yang mudah dibersihkan dan disanitasi, dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan mempunyai sistem pembuangan limbah cair yang hygiene. dan mempunyai dinding yang mudah untuk

Lia Amelia (03081006040)

13

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

c) Dilengkapi dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan toilet dalam jumlah yang mencukupi. Tempat cuci tangan harus dilengkapi dengan bahan pencuci tangan dan pengering sekali pakai. d) Mempunyai penerangan yang cukup untuk memudahkan dalam pengawasan hasil perikanan. e) Kendaraan yang mengeluarkan asap dan binatang yang dapat mempengaruhi mutu hasil perikanan tidak diperbolehkan berada dalam Tempat Pelelangan Ikan/Pasar grosir. f) Dibersihkan secara teratur minimal setiap selesai penjualan; wadah harus dibersihkan dan dibilas dengan air bersih atau air laut bersih. g) Dilengkapi dengan tanda peringatan dilarang merokok, meludah, makan dan minum, dan diletakkan di tempat yang mudah dilihat dengan jelas. h) Mempunyai fasilitas pasokan air bersih dan atau air laut bersih yang cukup i) Mempunyai wadah khusus yang tahan karat dan kedap air untuk menampung hasil perikanan yang tidak-layak untuk dimakan.

Menurut Lubis (2006) tempat pelelangan ikan harus miring 2 ke arah saluran pembuangan agar air dari penyemprotan kotoran sisasisa ikan setelah aktivitas pelelangan dapat mengalir ke saluran pembungan dengan mudah sehingga tempat pelelangan terpelihara dengan bersih (Faubiany, 2008)

2.4

Sistem Utilitas : Sanitasi 2.4.1 Pengertian Sanitasi Sanitasi mempunyai definisi yang bermacam-macam. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 965 tahun 1992, sanitasi didefinisikan sebagai segala upaya yang dilakukan untuk
Lia Amelia (03081006040)

14

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

menjamin terciptanya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 1992). Menurut Dr. Azrul Azwar, MPH yang dikutip dalam artikel hygiene sanitasi, sanitasi mempunyai pengertian cara yang dilakukan masyarakat dalam

pengawasan yang menitikberatkan pada pengawsan berbagai factor lingkungan yang berkemungkinan dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat (Ain Jie, 2009). Sanitasi adalah suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia, terutama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak perkembangan fisik, kesehatan dan kelangsungan hidup. Sanitasi juga membantu mempertahankan lingkungan biologik sehingga posisi berkurang dan membantu melestarikan hubungan ekologik yang seimbang (Liswati, 2000 vide Rusmali, 2004). Dalam memenuhi persyaratan kesehatan ini, maka dalam setiap upaya membangun fasilitas sanitasi ini harus terencana dan teratur. Fasilitas-fasilitas sanitasi ini antara lain adalah sarana penyediaan air besih, kamar kecil, tempat cuci tangan, kamar ganti pakaian, tempat sampah, dan sarana pembuangan air limbah (Kementerian Kesehatan RI, 1992). Dalam pengembangan industri perikanan, pelabuhan

perikanan merupakan bagian dari rantai produksi yang harus memenuhi persyaratan kelayakan dasar sanitasi dan hygiene yang meliputi (Departemen Pertanian, 2002 vide Rusmali, 2004): 1) Lokasi dan lingkungan 2) Konstruksi bangunan 3) Dinding, penerangan dan ventilasi 4) Saluran pembuangan 5) Pasokan air dan bahan bakar 6) Es 7) Penanganan limbah
Lia Amelia (03081006040)

15

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

8) Toilet 9) Konstruksi dan pemeliharaan alat 10) Peralatan dalam penanganan awal 11) Pembersihan dan sanitasi 12) Kontrol sanitasi Selanjutnya dikatakan bahwa hasil yang diharapkan dengan dijalankannya program sanitasi di pelabuhan perikanan antara lain yaitu terciptanya lingkungan kerja yang bersih, mutu ikan yang tetap terjaga dan kebersihan para pelaku di pelabuhan perikanan. Seluruh kelayakan dasar sanitasi di pelabuhan perikanan harus dapat dipenuhi untuk memperbaiki kinerja dan operasional pelabuhan, apalagi bila pelabuhan tersebut memiliki wilayah distribusi yang luas dan berkapasitas besar.

2.4.2

Peraturan Sanitasi Menurut Codex Alimentarius 2009 Codex Alimentarius 2009 merupakan suatu badan hukum antar negara yang memiliki anggota lebih dari 180 negara, yang bergerak dalam program standardisasi suatu produk makanan yang didirikan oleh FAO (Food And Agriculture Organization of the United Nation) dan WHO (World Health Organization), dengan tujuan menjaga kesehatan para konsumen dan menjamin praktek perdagangan makanan yang sesuai persyaratan. Peraturan tersebut juga dibuat dengan mempertimbangkan koordinasi dari semua negara berkenaan dengan standardisasi suatu produk makanan berskala internasional. Selain itu, Codex Alimentarius 2009 juga mengatur mengenai hasil tangkapan dan produk perikanan yang bertujuan untuk mengatur semua hal yang berhubungan dengan penanganan, produksi, penyimpaan, distribusi, ekspor, impor, serta penjualan hasil tangkapan dan produk perikanan. Peraturan ini akan

Lia Amelia (03081006040)

16

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

membantu dalam mencapai keamanan dan kegunaan produk perikanan sehingga bisa dijual di pasar nasional dan internasional. Peraturan yang tercantum dalam Code of Practice for Fish and Fishery Products (Codex Alimentarius, 2009) tersebut terdiri dari: a. Konstruksi bangunan: permukaan dinding dan batas dinding dengan lantai harus terbuat dari bahan yang kedap air dan mudah dibersihkan; fasilitas yang digunakan harus memadai, menggunakan bahan yang halus, tahan karat, dan mudah dibersihkan; lantai harus mudah dibersihkan dan disertai dengan sistem drainase yang memadai; penerangan di area penanganan ikan harus cukup; langit-langit atau atap dan semua perlengkapan harus dapat mencegah akumulasi kotoran, menghambat pertumbuhan jamur dan jatuhnya partikel; serta setiap bak pencuci atau fasilitas lainnya yang disediakan untuk mencuci hasil tangkapan harus memiliki pasokan air yang cukup sesuai persyaratan dan harus tetap bersih. b. Saluran pembuangan: saluran pembuangan harus mampu menampung sampah/limbah dalam jumlah yang banyak; akumulasi limbah padat, semi padat atau cair harus diminimalisir untuk mencegah kontaminasi. c. Pasokan air: pasokan air bersih harus cukup dan air yang digunakan untuk mencuci hasil tangkapan harus terhindar dari kontaminasi. d. Es: harus diproduksi dengan menggunakan air bersih dan harus terlindung dari kontaminasi. e. Penanganan limbah/sampah: limbah/sampah harus dijauhkan dari area penanganan dan pengolahan ikan; dan fasilitas untuk menampung sampah/limbah harus dipelihara dengan baik. f. Kebersihan pelaku: para pelaku penanganan ikan harus dibiasakan mencuci tangan pada awal penanganan ikan dan
Lia Amelia (03081006040)

17

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

saat kembali memasuki area pengolahan, serta segera setelah menggunakan toilet; dan para pelaku di area penanganan ikan tidak diizinkan untuk merokok, meludah, makan, bersin dan batuk pada saat hasil tangkapantidak ditutup, memakai perhiasan yang menimbulkan ancaman bagi keselamatan.

2.4.3

Sistem Penyediaan Air Bersih Air merupakan suatu kebutuhan yang mendasar dan penting untuk kehidupan manusia. Air bersih adalah air yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dengan kuantitas dan kualitas yang memenuhi syarat kesehatan serta dapat digunkian sebagai air minum apabila air tersebut sudah dimasak terlebih dahulu (Ginanjar, 2008).

a. Sumber Air Bersih Air minum dapat diambil dari air hujan, air sungai dan sebagainya, serta dari mata air atau air tanah (kedalaman > 3 m). a. Penampungan dan pengolahan air hujan Air hujan dari langit, bersih (tidak mengandung kumankuman), dikumpulkan dari tirisan arap melewati talang dan pipa lembahan, dpat digunakan segai air minum, meskipun tidak mengandung mineral yang berguna untuk gigi, tulang dan lain-lain. (Frick. Setiawan, 2002) Penggunaan air hujan merupakan salah satu alternative, terutama di wilayah di mana terjadi kekurangan air bersih,atau air perusahaan air minum sering kali tidak mengalir. Penampung air hujan dapat dibangun di bawah rumha tau tertanam di dalam tanah sehingga air tidak memanas oleh suhu matahari. Supaya air tidak berlumut atau membusuk, penampung harus dibuat dari beton atau batu alam yang

Lia Amelia (03081006040)

18

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

diplester kedap air, harus gelap (tanpa lubang cahaya), bebas dari nyamuk dan binatang sejenis yang bertelur di air. b. Air sungai atau air danau Karena air sungai atau air danau senagai air dari permukaan tanah tercemar secara fisik, kimi, dan bakteriologis, maka air itu belum bersih dan tidak dapat langsung diminum, sehingga perlu adanya penyaringan. c. Air dari mata air Penggunaan air dari mata air sebagai air minum harus memenuhi persyaratam seperti air dari permukaan tanah yang telah diuraikan. Supaya mata air bebas tanah, maka ditanami batu kali yang ditutupi denga tanah liat atau pelat beton sehingga tidak dapat dikotori dari atas, lalu air dialirkan ke penampungan. Lahan yang mengelilingi mata air ditanami rumput dan dipagari, sehingga tidak ada orang atau binatang yang bisa mencemari mulut mata air. Bak penampung tertanam di dalam tanah lengkap dengan lubang pemeriksaan, ventilasi, dan sambungan pipa air minum dan pipa pembersihan. d. Air tanah Air tanah sebagai sumber air minum harus sedalam >3 m dari permukaan tanah, dan jarak ke septic tank terdekat harus >10 m, sehingga kebersihan air terjamin. Penggunaan air dari dalam tanah dilakukan denga penggalian sumur atau dengan pipa pancang. Sumur yang digali oleh tukang yanag ahli dapat dibuat dari bis beton atau batu bata >80 cm. penggalian sumur dengan bis beton mirip dengan fondasi sumur. Dasar sumur harus cukup dalam, sehingga tinggi air pada musim kemarau masih > 0,5 m. dasar sumur dibuat dari kerikil kasar 30-80 mm setebal 30 cm. Dinding selubung sekeliling sumur harus setinggi 70 cm dari permukaan tanah, demi keamanan
Lia Amelia (03081006040)

19

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

anak-anak kecil dan binatang ternak. Lubang sumur selalu haru ditutup sehingga air tidak mudah tercemar.

Berikut Sumur Gali -

persyaratan

teknis

kesehatan

dari

sumber

penyediaan air bersih (Depkes RI, n.d):

Lokasi : jarak minimal 10 meter dari sumber tercemar misalnya jamban, tempat penampungan air

kotor/comberan, tempat pembuangan sampah, atau kandang ternak. Lantai : harus kedap air, minimal 1 meter dari tepi/dinding sumur, tidak retak/bocor, mudah dibersihkan dan tidak tergenang air (kemiringan minimal 1%-5%) Bibir sumur : tinggi bibir sumur 80 cm dari lantai, terbuat dari bahan yang kuat dan rapat air. Dinding sumur : minimal sedalam 3 meter dari lantai dari bahan kedap air dan kuat (tidak mudah retak/longsor). Tutup sumur : jika pengambilan air dengan pompa listrik harus di tutup rapat. Jika pengambilan air dengan ember harus ada ember khusus dengan tali timbanya. Penampungan air hujan (PAH) Talang air : talang air yang masuk ke bak PAH harus dapat dipindahkan atau dialihkan agar air hujan pada menit pertama tidak masuk ke dalam bak. Bak saringan : tinggi bak saringan minimal 20 cm (volume bak saringan 0,6 x 0,6 x 0,2 meter agar orang dapat masuk untuk membersihkan dan terbuat dari bahan yang kuat dan rapat nyamuk. Susunan saringan terdiri dari kerikil, ijuk dan pasir.

Lia Amelia (03081006040)

20

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Pipa peluap (over flow) harus dipasang kawat kasa rapat nyamuk Bak serapan : susunan batu, pasir pada bak resapan minimal 0,6 meter dari lantai. Kemiringan lantai bak : mengarah ke pipa penguras, mudah dibersihkan (tidak terdapat sudut mati)

Perpipaan Sumber air/ air baku : dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum didistribusikan. Kalau air baku

memenuhi persyaratan air minum langsung dapat dimanfaatkan sebagai sumber air. Pipa : pipa yang digunakan tidak melarutkan atau mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Angka kebocoran pipa tidak lebih dari 5%. Pemasangan pipa tidak boleh terendam air kotor atau air sungai. Bak penampunan : harus rapat air dan tidak dicemari oleh sumber pencemar. Pengambilan air : pengambilan air dari sarana perpipaan harus dilakukan melalui kran.

b. Kualitas Air Tujuan terpenting dari system penyediaan air adalah menyediakan air bersih. Penyediaan air minum denga kualitas yang tetap baik merupakan prioritas utama. Banyak Negara telah menetapkan standar kualitas untuk tujuan ini. Untuk gedunggedung yang dibangun di tempat terpencil di pegununga atau di pulau, penyediaan air bersih akan diambil dari sungai, air tanah dangkal, atu dalam instalasi pengolahan agar dicapai standar kualtas air yang berlaku.

Lia Amelia (03081006040)

21

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Air minum harus memenuhi persyaratan fisik, kimia, dan bakteriologis yang ditentukan oleh dinas kesehatan Negara. Persyaratan fisik air minum adalah : harus jernih, bersih dan tidak berwarna. Persyaratan kimia : tidak berbau, tidak memiliki rasa, dan tidak mengandung zat kimia yang mengganggu kesehatan; persyaratan bekteriologis : tidak mengadung bakteri coli dan kuman lain yang mengganggu kesehatan manusia.

Pengawasan Kualitas Air Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 907 tahun 2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum, air bersih harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Fisik Air yang akan dimanfaatkan sebaiknya tidak berwarnam tidak berasa dan tidak berbau. Setiap air bersih harus memenuhi ketiga persyaratan fisik air bersih tersebut. b. Bakteriologis Untuk menggunakan air bersih, air tersebut harus bebas dari kuman yang dapat mengganggu kesehatan. Air bersih yang akan dimanfaatkan sebaiknya berada jauh dari sumber pencemar yang mengandung banyak kuman penyakit seperti sumber air berada jauh dari pembuangan kotoran manusia. c. Kimia Untuk menjaga kesehatan, sebaiknya air bersih juga harus bebas dari bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan d. Radioaktifitas Dalam penggunaan air bersih kadar radioaktif yang

diperbolehkan adalah gross alpha activity (0,1 Bq/L) dan Gross beta activity (1 Bq/L)

Lia Amelia (03081006040)

22

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

c. Pompa Air Jika penampung air lebih tinggi daripada sumber air, maka air perlu dinaikkan dengan menggunakan pompa. Pompa selalu dipasang sedemikian sehingga tinggi penaikan (pengisap) jadi sekecil (rendah) mungkin. Pompa air dapat dibagi atas pompa torak atau pompa sayap yang biasa dikerjakan dengan lengan, dengan keterbatasan menaikkan air <7.00 m, serta pompa kisaran (pompa sentrifugal) yang biasanya menggunakna mesin listrik atau motor bahan bakar, dengan kenaikan air <24,00 m. (Heinz Frick, 2002)

2.4.4

Saluran Air Limbah Air limbah adalah air buangan (air bekas pakai/air kotor) dari air bersih yang sudah dipakai sebelum air limbah dibuang ke saluran umum atau ke alam/tanah hendaknya diolah terlebih dahulu. Untuk mempermudah pengolahan, sebaiknya air limbah dibagi menurut cara pencemarannya : air gujan, air sabun (grey-water), air tinja (air limbah manusia), dan air limbah industry, sehingga masing-masing air limbah dapat diolah secara terpisah sesuai kebutuhannya.

1) Jenis Air Limbah dan Sistem Salurannya Pada prinsipnya air yang akan disalurkan dibagi berdasarkan sumber-sumbernya, : yaitu : air hujan, air sabun, air tinja, dan air limbah industry. a. Air Hujan akan menuntuk sistem saluran air limbah jika turun bukan pada ladang terbuka, melainkan pada atap rumah, jalan, atau pekarangan rumah yang kedap air. Air hujan dapat ditampung sebagai serana air bersih, atau dikembalikan ke tanah sedekat mungkin dengan menggunakan sumur resapan. Air hujan yang disalurkan ke saluran umum kota akan

Lia Amelia (03081006040)

23

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

menambah bahaya banjir di daerah yang lebih rendah pada saat hujan deras. b. Air Sabun (grey-water) berasal dari kegiatan rumah tangga (cuci piring, cuci pakaian, mengepel lantai), kegiatan mandi, cuci kendaraan, dan sebagainya. Air ini jika bebes dari minyak dan bahan pelumas lain (perlu diperhatikan dengan khusus jika mencuci kendaraan bermotor), serta bahan

larutan kimia, dapat dimanfaatkan untuk siram bunga, sayur dan sebagainya, atau diolah secara biologis sebelum dirembeskan ked lama tanah atau dikembalikan ke kakli atau sungai. Air sabun dapat disalurkan lewat selokan terbuka. c. Air Tinja (air limbah manusia) merupakan kotoran manusia berbentuk cair maupun padat (1,5 liter per orang/hari) ditambah air siram. Karena air tinja mengandung kolibakteri dan kuman lain yang dapat mengganggu kesehatan manusia serta berbau tidak sedap, maka harus disalurkan dalam pipa tertutup. Sebagai bahan organic tinja mengalami proses fermentasi yang membutuhkan lubang hawa pada titik tertinggi system pemipaan , sumur pengolahan, maupun septic tank sehingga gas-gas yang terjadi dapat menguap. d. Air Limbah Industri merupakan air yang tercemar sehingga tidak memenuhi standar air bersih. Selain hasil pencemaran air oleh industry, hal ini juga terjadi jika mencuci kendaraan bermotor, karena air itu mengandung bahan bakar, minyak, dan bahan pelumas lainnya. Karena kebanyakan air yang digunakan dalam proses produksi bahan kebutuhan manusia sering dinilai terlalu rendah. Produksi 1 ton semen membutuhkan 3.600 liter air, 1 ton besi membutuhkan 15.000-20.000 liter air ,dll. Air limbah yang tercemar oleh siapa pun harus diolah menjadi air bersih lagi sebelum dikembalikan ke alam. Pengolahan air limbah industry dapat
Lia Amelia (03081006040)

24

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

dilakukan oleh perusahaan

sendiri atau oleh instransi

pemerintah yang akan membebankan biaya pengolahan kepada pihak industri. 2) Sistem-sistem Saluran a. Saluran Terbuka merupakan system parit buatan yang dapat digunakan untuk menyalurkan air hujan ke kali, sungai, danau dan sebagainya. b. Pemipaan Bawah Tanah merupakan system pipa-pipa (dari tanah liat, beton, semen berserat, tau bahan sintetik) untuk menyalurkan air sabun ke luar rumah (menuju kolam pengolahan atau selokan kota yang merupakan system ganda, karena membedakan antara pipa yang menyalurkan air hujan (yang tidak tercemar) dan air limbah (yang tercemar). Pada pemipaan air limbah industry atau system saluran kota di luar negeri air limbah maupun air hujan disalurkan dalam pipa yang sama, menuju ke pusat pengolahan air limbah. System pemipaan ini merupakam system pengurasan, adalah system yang menghemat biaya pipa tetapi mempersulit proses pengolahan an kelestarian lingkungan.

3) Sistem Penanganan dan Pengolahan Limbah Sistem Penanganan dan Pengolahan Limbah -Pengolahan limbah merupakan suatu proses yang dilakukan agar dapat menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan (tidak baik) yang biasanya disebut dengan kontaminan dari air limbah. Proses yang digunakan dapat dilakukan dengan cara-cara biologis, kimiawi maupun fisika.Pengolahan limbah ini dilakukan agar dapat menghilangkan zat yang tidak baik untuk lingkungan, misalnya racun baik itu senyawa anorganik maupun yang organik. Terdapat beberapa cara pengolahan air limbah pada suatu wilayah khususnya untuk limbah rumah tangga, fasilitas sosial
Lia Amelia (03081006040)

25

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

maupun umum serta industri, diantaranya terdapat 6 cara yaitu dengan cara pembuangan dengan sistem pengenceran,

penggunaan sumur peresapan, penggunaan kolam pembuangan, penangkap lemak, penggunaan sistem tangki pembusukan dan saluran limbah cair buangan. Penjelasan lebih detailnya adalah sebagai berikut ini:

1. Pembuangan dengan sistem pengenceran : Pada badan air dengan permukaan yang besar, seperti laut, sungai, telaga maupun danau, limbah cair dari perumahan atau dari masyarakat dapat secara langsung dibuang ke badan air tersebut. Dalam hal ini, pipa pemasukan limbah cair ke badan air harus bermuara pada satu titik yang benar-benar berada di bawah permukaan air atau air laut yang terendah, atau biasanya di dekat dasar badan air penerima. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin pengenceran secara sempurna limbah cair yang dihasilkan saat musim kemarau, atau limbah yang beratnya lebih ringan yang biasanya akan naik dan tersebar ke seluruh badan air pelarut.

2. Penggunaan sumur peresapan : Sumur peresapan menerima efluen dari kolam

pembuangan, jamban air serta tangki pembusukan dan meresapkannya ke dalam tanah. Terkadang, pembuangan limbah cair dari ruang cuci, dapur serta kamar mandi menggunakan sumur peresapan ini. Sumur peresapan juga dapat dibuat pada ujung terendah dari saluran peresapan efluen di bawah permukaan tanah untuk menangkap efluen tangki pembusukan yang tidak teresap di sepanjang saluran. Sumur peresapan terdiri dari sebuah lubang bulat dalam tanah yang digali cukup dalam menembus 1,8 meter atau lebih
Lia Amelia (03081006040)

26

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

ke lapisan tanah yang berpori. Lubang biasanya dibuat dengan diameter 1,0 - 2,5 meter dan kedalaman 2 - 5 meter. Dinding lubang diperkuat dengan pasangan bata atau batu kali tanpa adukan semen di bawah ketinggian pipa inlet. Lubang yang tidak memerlukan penguatan dinding dapat diisi dengan batu kali. Sumur peresapan harus ditutup dengan penutup rapat yang akan mencegah masuknya nyamuk, lalat, serta air permukaan. Minimal terdapat jarak 5 meter dari sumur atau sumber air minum dari sumur peresapan, dan paling tidak

penempatannya pada tanah yang lebih rendah dibandingkan dari sumber air minum tersebut. Pembuatan sumur peresapan seharusnya tidak boleh diizinkan oleh petugas terkait pada kawasan padat penduduk, disebabkan air tanah yang ada lebih banyak digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh penduduk setempat.

3. Penggunaan kolam pembuangan : Kolam pembuangan merupakan lubang tertutup yang menerima buangan limbah cair kasar. Kolam pembuangan dapat berupa tipe kedap air ataupun tipe rembes air. Kolam pembuangan kedap air biasanya dibuat dengan kapasitas 68 liter per orang per bulan, atau 408 liter per orang apabila akan dikosongkan setiap 1 semester. Kolam pembuangan rembes cair berdiameter 90 cm atau lebih, dilengkapi dengan dinding dengan sambungan terbuka di bawah ketinggian inlet. Kolam pembuangan harus ditempatkan paling tidak 15 meter dari dari sumur serta lebih rendah dari sumur, agar dapat mencegah terjadinya pencemaran bahan-bahan kimia,

sedangkan untuk kolam pembuangan yang lebih tinggi dari sumur, jarak antar sumur dan kolam pembuangan tersebut
Lia Amelia (03081006040)

27

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

minimal sejauh 45 meter. Kolam pembuangan tipe rembes air harus ditempatkan sekurang-kurangnya pada jarak 6 meter di luar fondasi rumah.

4. Penangkap Lemak : Limbah cair dari dapur besar, seperti dapur hotel, rumah sakit maupun perkantoran kemungkinan mengandung banyak lemak yang dapat masuk ke tangki pembusukan bersama-sama dengan efluen dan dapat menyumbat pori-pori media penyaringan pada bidang peresapan. Penangkap lemak disini dapat memasukkan limbah cair yang panas dari pada cairan yang sudah ada dalam bak dan didinginkan olehnya. Hasilnya, kandungan lemak akan menjadi beku dan secara otomatis akan naik ke permukaan, sehingga

pengambilan dapat dilakukan secara berkala. Penangkap lemak harus dibuat sedemikian rupa untuk mempermudah proses pembersihan maupun untuk kebutuhan pemeriksaan. Untuk penanganan limbah cair dan perumahan atau instalasi kecil lainnya, penangkap lemak tidak perlu dibuat.

5. Penggunaan sistem tangki pembusukan : Salah satu cara pengolahan limbah adalah dengan tangki pembusukan. Tangki pembusukan digunakan untuk menangani buangan dari masing-masing rumah, kelompok perumahan, atau perkantoran yang berada di luar radius pelayanan sistem saluran limbah cair suatu wilayah. Pada tangki pembusukan, terdapat tangki pengendap yang harus dalam keadaan tertutup. Melalui saluran limbah cair buangan, limbah cair kasar akan dimasukan kedalam tangki tersebut. Pengolahan tahap pertama terjadi di dalam tangki

Lia Amelia (03081006040)

28

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

pembusukan, sedangkan untuk pengolahan tahap kedua terjadi di bidang peresapan efluen.

6. Saluran limbah cair bangunan : Saluran limbah cair bangunan merupakan bagian dari perpipaan horizontal dari sistem drainase bangunan yang membentang mulai dari satu titik yang berjarak 1,5 meter di luar sisi dalam fondasi tembok bangunan rumah sampai ke sambungan saluran limbah cair umum atau unit pengolahan limbah cair perorangan (kolam pembuangan, tangki

pembusukan atau tipe sarana pembuangan lainnya).

Saluran pembuangan air limbah atau yang sering disingkat SPAL adalah perlengkapan pengelolaan air limba, dapat berupa saluran perpipaan maupun yang lainnya yang dapat dipergunakan untuk membuang air buangan dari sumbernya sampai ke tempat pengelolahan atau tempat buangan air limbah (Yasrin, 2011).

Persyaratan kesehatan sarana pembuangan air limbah adalah sebagai berikut (Depkes RI, n.d) : d. Tidak mencemari air tanah dan air e. Tidak menimbulkan sarang nyamuk dan jalan tikus f. Tidak menimbulkan kecelakaan g. Tidak menimbulkan bau dan gangguan pemandangan

2.4.5

Sistem Pengolahan Sampah Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan , pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, atau
Lia Amelia (03081006040)

29

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan

zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat. Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, di antaranya tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area.

1) Metode Pengolahan Sampah a. Penimbunan Darat Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai, lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang higienis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, di antaranya angin berbau sampah, menarik berkumpulnya Hama, dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di
Lia Amelia (03081006040)

30

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Bandung

kandungan

gas

methan

ini

meledak

dan

melongsorkan gunung sampah).

Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern di antaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya, dan ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyak penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik. b. Metode Daur Ulang Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik. Metode-metode baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan di bawah.

Lia Amelia (03081006040)

31

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Pengolahan kembali secara fisik

Baja dibuang, dan kelengkapan dilaporkan dipilih pada kemudahan Central European Waste Management (Eropa) Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang

dikumpulkan untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur. Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminium, Botol HDPE dan PET, majalah, dan kaleng baja makanan/minuman, kertas plastik karton,koran, lain seperti

botol kaca, Jenis

kardus.

(PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa didaur ulang. Daur ulang dari produk yang kompleks seperti komputer atau mobil lebih susah, karena bagian-bagiannya harus diurai dan

dikelompokkan menurut jenis bahannya.

Lia Amelia (03081006040)

32

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Pengolahan biologis

Gambar 2. Pengkomposan

Material sampah ((organik), seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa

digunakan sebagai pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, di mana sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk dikomposkan

Pemulihan energi

Gambar 2. Komponen pencernaan Anaerobik di pabrik Lbeckmechanical biological treatment diJerman, 2007

Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menjadi bahan bakar tipe lain. Daur ulang melalui cara "perlakuan
Lia Amelia (03081006040)

33

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebagai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakuan panas yang berhubungan, ketika sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih

digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap.

c. Metode Penghindaran dan Pengurangan Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan termasuk "pengurangan penggunaan sampah". kembali Metode barang pencegahan bekas pakai,

memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai

(contohnya kertas tisu), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).

Lia Amelia (03081006040)

34

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

2.4.6

Jamban Menurut Departemen Kesehatan RI (1992), jamban adalah suatu bangunan yang berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran manusia yang terdiri dari tempat jongkok dengan leher angsa atau cemplun yang di lengkapi dengan tempat penampungan kotoran dan air uantuk membersihakn kotoran (Ginanjar, 2008) Persyaratan kesehatan sarana pembuangan kotoran manusia adalah sebagai berikut: Tidak mencemari tanah permukaan Buangan kotoran tidak di sembaran tempat Bebas dari serangga Lubang jamban harus ditutup Rumah jamban harus terang dan ada ventilasi

Tidak menimbulkan bau dan nyaman untuk digunakan Gunakan jambang leher angsa Lantai kedap air

Aman digunakan oleh pemakai Lantai tidak licin da kuat Mudah dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan bagi pemakai Lantai miring kearah lubang pembuangan Air cucian tidak disalurkan pada lubang jamban Terdapat tempat sampah

Selain itu, hal harus diperhatikan juga adalah jenis dari pembuangan akhir tinja Tangki Septik (Septic Tank). Septic tank adalah bangunan yang digunakan untuk mengolah dan mengurai ekstrata manusia. Tangki ini dibangun dengan menggunakan bahan yang kedap air sehingga air yang terdapat di dalam tangki septic tidak dapat merembes ke tanah. Karena air yang keluar dari tangki septik ini masih berbahaya bagi kesehatan manusia.
Lia Amelia (03081006040)

35

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

BAB III GAMBARAN UMUM PROYEK


3.1 Gambaran Umum CV. Faluya Karya Persada 3.1.1 Sejarah Singkat CV. Faluya Karya Persada CV. FALUYA KARYA PERSADA adalah Perusahaan Komanditer yang bergerak dalam bidang penyajian Jasa Konsultasi dalam bidang keahlian teknik dan rangkaian kebijakan, baik untuk sektor Pemerintah maupun untuk sektor Swasta, dalam rangka berperan serta dalam kegiatan pembangunan di Indonesia. Sejak didirikannya CV. Faluya Karya Persada telah menghimpun beberapa tenaga professional dari berbagai bidang keahlian. Mereka telah terlatih untuk bekerja-sama dalam regu-kerja dengan pendekatan multi-disiplin yang terpadu, untuk memperoleh hasil kerja yang optimal sesuai kebutuhan pemberi tugas dan dengan mempertimbangkan faktor lingkungan dan kepentingan masyarakat. Dari kenyataan pelaksanaan berbagai tugas tersebut, CV. Faluya Karya Persada telah membuktikan kemampuannya

berkomunikasi dan berkerjasama dengan berbagai pihak yang berkepentingan dan berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya, juga mampu menjalin kerjasama dengan rekan konsultan lain yang disyaratkan oleh Pemberi Tugas, dengan tujuan peningkatan kemampuan bersama. CV. FALUYA KARYA PERSADA dipimpin oleh Dewan Direksi yang bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris selaku pemegang saham perusahaan. Perusahaan mempunyai kantor pusat yang berkedudukan di Pangkalpinang. Untuk menjaga kualitas jasa pelayanan konsultansi, perusahaan telah mengkaryakan sejumlah tenaga ahli teknik yang berkemampuan tinggi dari berbagai disiplin ilmu dan telah pula mengembangkan kegiatannya melalui penerapan peralatan/perlengkapan hasil teknologi baru.
Lia Amelia (03081006040)

36

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

3.1.2 Lingkup Layanan Jasa Konsultasi Dukungan tenaga ahli dengan berbagai tingkat bidang keahlian, telah memungkinkan CV. FALUYA KARYA PERSADA

menyediakan tim multi disiplin untuk berbagai tingkatan proyek. Lingkup jasa konsultan yang dapat dilayani oleh CV. FALUYA KARYA PERSADA meliputi : Studi Kelayakan Survei dan Investigasi Perencanaan Teknik Perencanaan Umum Pengawasan Teknik Manajemen Proyek

Bidang Spesialisasi pekerjaan yang biasa ditangani oleh CV. FALUYA KARYA PERSADA meliputi : a. Bidang Pengairan : Sungai dan Studi Kelautan, Waduk & Bendungan, Pengembangan Daerah Rawa & Pasang Surut, Irigasi, Drainase, dan Pelabuhan. b. Bidang Pengembangan Wilayah : Perencanaan Pemukiman, Tata Kota, Perencanaan Prasarana Kota, dan Transmigrasi. c. Bidang Teknologi Bangunan dan Arsitektur d. Bidang Jalan dan Jembatan e. Bidang Manajemen Konstruksi f. Bidang Pertanian dan Perikanan

3.1.3 Struktur Organisai CV. Faluya Karya Persada CV. FALUYA KARYA PERSADA dalam kesehariannya dipimpin oleh Direktur Utama, yang secara langsung membawahi 3 Direktur, yaitu Direktur Teknik, Direktur Keuangan, dan Direktur
Lia Amelia (03081006040)

37

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Pemasaran. Struktur organisasi CV. FALUYA KARYA PERSADA adalah seperti tergambar dalam diagram berikut ini.

Gambar : Bagan Struktur Organisasi CV. Faluya Karya Persada

3.2

Data Umum Proyek Nama Proyek : Proyek Pengembangan Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan di Muara Sungai Batu Rusa Pangkal Pinang Pemilik Proyek : Dinas Pekerjaan Umum Pangkal Pinang Konsultan Perencana: CV. Faluya Karya Persada Kontraktor : CV. Faluya Karya Persada

Lokasi Proyek : Muara Sungai Batu Rusa kota Pangkal Pinang Nilai Kontrak Proyek : Rp 3.422.600.000,00 (Tiga milyar empat ratus dua puluh dua juta enam ratus ribu rupiah) Jenis Pekerjaan : Perencanaan dan Perancangan Deskripsi Proyek : Bangunan pada kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Lia Amelia (03081006040)

38

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Gambar : Master Plan PPI Baturusa

3.3 Kondisi Umum Perikanan Kepulauan Bangka Belitung Potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan luas areal 65.301 km2 sebesar 499.500 ton/tahun dengan nilai ekonomis Rp. 2.497.500.000.000. Jumlah produksi untuk tahun 2006 adalah 122.841,6 ton (24,59% dari potensi produksi) dengan nilai produksi Rp. 1.235.632.162.000 (49,47% dari potensi nilai ekonomis). Jenis ikan dominan antara lain: Tenggiri, Tongkol, Kembung, Layang, Selar, Tembang, Kakap, Kerapu, Bawal Hitam, Bawal Putih, Kerisi, Ekor Kuning, Udang Windu, dan Udang Putih. Di samping potensi sumber daya perikanan tangkap tersebut di atas, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan panjang pantai 1.200 km dan 251 buah pulau-pulau kecil merupakan wilayah yang cocok untuk usaha budidaya laut seperti ikan kerapu, teripang, rumput laut dan kerangkerangan. Luas areal untuk budidaya laut adalah seluas 120.000 Ha dengan potensi produksi 1.200.000 ton. Pada tahun 2006 produksi budidaya laut hanya sebesar 17.78 ton (0.07% dari potensi produksi). Selain sumberdaya perikanan laut Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi lahan budidaya air payau (tambak) dan air tawar (kolong).
Lia Amelia (03081006040)

39

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Dengan panjang pantai 1.200 km potensi lahan untuk budidaya tambak mencapai 250.000 Ha dengan potensi produksi 100.000 ton. Pada tahun 2006 produksi budidaya air payau hanya sebesar 153.55 ton (0.07% dari potensi produksi). Untuk budaya perikanan air tawar, potensi lahan yang dimiliki mencapai 1.602 Ha yang terdiri dari dari perairan kolong, sungai dan kolam dengan potensi produksi 16.000 ton. Pada tahun 2006 produksi budidaya air tawar hanya sebesar 751.24 ton (0.07% dari potensi produksi). Peluang investasi yang ditawarkan pada sektor perikanan dan kelautan ini adalah: Industri Pakan Pakan ikan laut; kapasitas 50 ton/hari; 25 unit Pakan ikan payau; kapasitas 50 ton/hari; 10 unit Pakan ikan tawar; kapasitas 50 ton/hari; 2 unit Industri Bioteknologi Benih ikan laut 40.000.00050.000.000 ekor/tahun Benih ikan payau 40.000.000-50.000.000 ekor/tahun Benih ikan tawar 4000.000-5000.000 ekor/tahun Pabrik Pengolahan Cold Storage kapasitas 200 500 Ton; 30 unit Pabrik Es; kapasitas 10-20

ton/hari; 10 unit Industri Tepung Ikan; kapasitas 5-10 ton/hari; 10 unit Industri Galangan Kapasitas 60 unit/tahun; 10 unit Galangan Kapal Industri Pembuatan Alat tangkap : 1 Unit

Lokasi Pekerjaan

Gambar 3.1 PPI dan TPIyang tersebar di Kepulauan Bangka Belitung

Lia Amelia (03081006040)

40

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Perkembangan Produksi perikanan Dengan jumlah penduduk kota Pangkalpinang per Desember 2011 sejumlah + 193.651 jiwa dapat diasumsikan bahwa tingkat komsumsi ikan sebesar 10.927.410 kg\193.651 = 56,428 kg\tahun\kapita

Tabel 3.1 Perkembangan Produksi Perikanan Budidaya Kota Pangkalpinang Tahun 20102011

Komoditas Lele Nila Patin Gurame Mas Bawal Tawar Vannamei Kepiting Bandeng Jumlah

Produksi 2010 Produksi 2011 Target 2011 147,23 286 270 81 150 120 64,08 60,7 30 3 4 3 6,4 15 4 9,22 20 25 301,08 446 3000 46,4 42,7 0 1,5 1,5 0 659,91 1.025,90 3.452,00

Tabel 3.2 Jumkah dan Jenis Benih Ikan yang Tersalurke Pembudidayaan ikan Kota Pangkalpinang 2011

No 1 2 3

Jenis Ikan Jumlah Benih Jumlah Penerima Lele 36.600 62 Nila 57.125 56 Mas 100 1 Jumlah 93.825 119
Produksi perikanan yang dimaksud meliputi perikanan tangkap dan

produksi perikanan budidaya laut dan budidaya perikanan darat (air tawar). Perairan umum di Kota Pangkalpinang terdiri dari Sungai Muara Batu Rusa, Sungai rangkui, Sungai Selindung, Sungai Air Mawar di Air Itam dan kolong-kolong bekas Penambangan Timah, dengan luas + 285 Ha.

Lia Amelia (03081006040)

41

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Kegiatan penangkapan ikan di Kota Pangkalpinang sebagian besar didominasi oleh nelayan usaha skala kecil dengan menggunakan kapal motor dengan bobot 1sampai 10 GT, dengan alat tangkap seperti jaring , pancing , bubu dan lainnya. Jumlah armada perikanan di Kota Pangkalpinang hingga tahun 2011 berjumlah 1.160 unit yang terdiri dari 134 unit perahu tanpa motor, 388 unit motor tempel dan jumlah kapal motor yang tercatat sebanyak 640 unit. Jumlah masyarakat perikanan (nelayan dan pembudidayaan ikan serta pengolah ikan) di Kota Pangkalpinang sampai dengan tahun 2011 sebanyak + 193.651 jiwa, maka persentase jumlah nelayan sebesar 3 %.
Tabel 3.3 Perkembangan Produksi Perikanan di Kota Pangkalpinang Tahun 2007 2011

No 1 2 3 4 5

Tahun Volume (Ton) Nilai (Rp.X 1.000) 2007 19714,2 285132462 2008 19726,1 394522000 2009 20500,3 400550000 2010 24086 281213655 2011 28,986 347832480

Sumber: Dinas Kelautan Perikanan Kota Pangkalpinang,2011

Produksi Perikanan Kota Pangkalpinang pada tahun 2011 adalah sebesar 28.986,04 ton dengan nilai Rp 347.832.480.000,00. Dari jumlah produksi tersebut pemanfaatannya dapat digolongkan sebagai berikut : Komsumsi lokal : 13.150,48 ton Pengolahan : 4.015,42 ton Ekspor/antar pulau via bandara : 835,58 ton Ekspor antar pulau via pelabuhan laut : 10.984,56 ton

Wilayah Administrasi Tempat Pembangunan PPI Batu Rusa Di kecamatan Bukit Intan yang mana luas kecamatan + 36,54 km2 terdiri dari 7 kelurahan : 1. Kelurahan Semabung Lama
Lia Amelia (03081006040)

42

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

2. Kelurahan Semabung Baru 3. Kelurahan Bukit Intan 4. Kelurahan Bukit Besar 5. Kelurahan Sriwijaya 6. Kelurahan Air Itam 7. Kelurahan Bajang

Kondisi Penataan Kawasan PPI Muara Sungai Batu Rusa berdekatan dengan Pelabuhan PAngkal Balam yang digunakan sebagai sarana transportasi Kelautan. Dengan kondisi yang strategis maka Penataan Kawasan PPI Muara Sungai Batu Rusa sangat penting untuk kemajuan kepulauan Bangka Belitung dan juga diharapkan dapat meningkatkan sector perikanan di Kepulauan Bangka Belitung.

Daerah Penangkapan Ikan Pengelolaan sumberdaya perikanan laut Indonesia pada awalnya dibagi menjadi 9 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yang didasarkan pada Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/99. Selanjutnya, seiring dengan lahirnya Undang-Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan serta kebijakan revitalisasi perikanan, maka dipandang perlu untuk melakukan penyempurnaan atau penataan kembali WPP yang sudah ada. Dalam kaitan ini, pada tahun 2006 dilakukan konsultasi antara satuan kerja di lingkup Departemen Kelautan dan Perikanan serta Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan (Komnas Kajiskan), berkaitan dengan arah dan format WPP. Akhir dari kegiatan ini adalah lahirnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 1 tahun 2009 tentang Pengelolaan Wilayah Perikanan. Sebagai catatan bahwa lahirnya Undang-Undang No. 45 tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan tidak meliputi perubahan atas penetapan WPP. Dalam peraturan menteri tersebut,

Lia Amelia (03081006040)

43

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

pengelolaan perikanan dibagi menjadi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yaitu : 1) Wilayah Pengelolaan Perikanan I (WPP-RI 571), meliputi perairan Selat Malaka dan laut Andaman. 2) Wilayah Pengelolaan Perikanan II (WPP-RI 572), meliputi Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera dan selat Sunda. 3) Wilayah Pengelolaan Perikanan III (WPP-RI 573), meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Selatan Pulau Jawa hingga sebelah Selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu dan Laut Timor bagian Barat. 4) Wilayah Pengelolaan Perikanan IV (WPP-RI 711), meliputi perairan Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. 5) Wilayah Pengelolaan Perikanan V (WPP-RI 712), meliputi perairan Laut Jawa. 6) Wilayah Pengelolaan Perikanan VI (WPP-RI 713), meliputi perairan Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali. 7) Wilayah Pengelolaan Perikanan VII (WPP-RI 714), meliputi perairan Teluk Tolo dan Laut Banda. 8) Wilayah Pengelolaan Perikanan VIII (WPP-RI 715), meliputi perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram dan Teluk Berau. 9) Wilayah Pengelolaan Perikanan IX (WPP-RI 716), meliputi perairan Laut Sulawesi dan sebelah Utara Pulau Halmahera. 10) Wilayah Pengelolaan Perikanan X (WPP-RI 717), meliputi perairan Teluk Cenderawasih dan Samudera Pasifik. 11) Wilayah Pengelolaan Perikanan XI (WPP-RI 718), meliputi perairan Laut Aru, Laut Arafuru dan Laut Timor bagian Timur.

Parameter Penentu Utama Parameter penentu utama ialah parameter yang memiliki pengaruh langsung dan kuat dalam penentuan kelayakan Penataan Kawasan PPI Sungai Batu Rusa. Parameter tersebut meliputi teknis kepelabuhanan
Lia Amelia (03081006040)

44

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

perikanan,

potensi

perikanan

tangkap

dan utama

kondisi akan

lingkungan. menyebabkan

Ketidaklayakan

Parameter

penentu

ketidaklayakan pembangunan Pelabuhan Perikanan Muara Sungai Batu Rusa; sehingga parameter-parameter berikutnya yaitu Parameter penentu tambahan tidak perlu dikaji. Penilaian Aspek Parameter Penentu Utama Penataan Kawasan PPI Muara Sungai Batu Rusa Score No Parameter Buruk =1 1 2 3 4 5 6 7 Fisik Perairan Fisik Lahan Hasil Tangkapan Daerah Penangkapan Ikan Unit Penangkapan Nelayan Pemasaran HT (12) 8 Prasarana Umum Utama 3 dan Distribusi 2 3 3 2 3 Sedang =2 2 3 Baik =3

Nilai 21/24 x 100 = 87,5

Secara keseluruhan, analisa terhadap Parameter Penentu Utama, menunjukkan bahwa indikator-indikatornya memperlihatkan

dukungan bagi kelayakan pembangunan Kawasan PPI Muara Sungai Batu Rusa. Terdapat satu parameter penentu utama yang tidak dimasukkan dalam analisa kelayakan yaitu aspek lingkungan, karena kelayakan dari aspek lingkungan akan dilakukan terpisah pada Studi Analisis Dampak Lingkungan.

Lia Amelia (03081006040)

45

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Parameter Penentu Tambahan Parameter penentu tambahan ialah parameter yang memiliki pengaruh tidak langsung dan kurang kuat dalam menentukan kelayakanPenataan Kawasan PPI Muara Sungai Batu Rusa.

Tabel : Analisis Gabungan Kelayakan Pembangunan Dermaga Kawasan Sungai Batu Rusa

Parameter/subparameter I. Parameter Dasar

Kelayakan

Mendukung 1. Aspirasi Dasar Masyarakat Kelayakan Mendukung 2. Kebijakan Pemerintah Kelayakan Mendukung 3. Ketersediaan Lahan 4. Potensi SDI Kelayakan Layak Bersyarat Mendukung 5. Existing Aktifitas Perikanan Tangkap II. Parameter Penentu Utama 6. Teknis Kepelabuhanan Mendukung 6.1 Fisik Perairan Kelayakan Mendukung 6.2 Fisik Lahan 7. Kondisi Perikanan Tangkap Mendukung 7.1 Hasil Tangkapan Kelayakan Mendukung 7.2 Daerah Penangkapan Ikan Kelayakan Mendukung 7.3 Unit Penangkapan Kelayakan Kelayakan Kelayakan

Lia Amelia (03081006040)

46

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Parameter/subparameter

Kelayakan Mendukung

7.4 Nelayan

Kelayakan Mendukung

8. Pemasaran dan Distribusi HT

Kelayakan Mendukung

9. Prasarana Umum Utama III. Parameter Penentu Tambahan 9. Kondisi Umum :

Kelayakan

Mendukung 9.1. Geografis Kelayakan Mendukung 9.2. Kependudukan Kelayakan Mendukung 9.3. Pendidikan Kelayakan Mendukung 9.4. Sosial Budaya 10. Prasarana Umum Mendukung 10.1 Pendidikan Kelayakan Mendukung 10.2 Kesehatan Kelayakan Mendukung 10.3 Ibadah Kelayakan Mendukung 10.4 Komunikasi Kelayakan Mendukung 11. Perekonomian Daerah Kelayakan Mendukung 12. Kelembagaan Kelayakan Kelayakan

Lia Amelia (03081006040)

47

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Parameter/subparameter 14. Pengolahan Hasil Tangkapan

Kelayakan Kurang Mendukung Mendukung

Kesimpulan Akhir

Kelayakan

3.4

Sistem Sanitasi Kawasan PPI Baturusa Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatanmanusia.

Gambar : Eksisting Kawasan PPI Baturusa

3.3.1 Sistem Pengolahan Sampah Pada PPI lama tidak terdapat system pengolahan sampah yang baik sehingga terjadi penumpukan sampah pada titik-titik tertentu.

Lia Amelia (03081006040)

48

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Hal ini tentunya sangat mengganggu kesehatan dan kebersihan pada lingkungan PPI ini. Hal ini menjadi pertimbangan pada perencanaan system pengolahan sampah pada kawasan PPI yang sedang direncanai dan dirancang oleh CV. Faluya Karya Persada.

Gambar : kondisi sampah di PPI lama

3.3.2 Sistem Pengolahan Limbah

Gambar : Kondisi Pengolahan Limbah di PPI lama

Lia Amelia (03081006040)

49

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

3.3.3 Sistem Air Bersih

Gambar : titik Sumur Bor

Lia Amelia (03081006040)

50

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Standar Sistem Sanitasi

No. 1.

Katagori Konstruksi bangunan

Parameter - Lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan - Tinggi bibir sumur 80 cm dari lantai, terbuat dari bahan yang kuat dan rapat air - Dinding sumur minimal sedalam 3 meter dari lantai dari bahan kedap air dan kuat (tidak mudah retak/longsor). Air - Air bersih yang digunakan harus jernih, bersih dan tidak berwarna, tidak berbau, tidak memiliki rasa, dan tidak mengandung zat kimia yang mengganggu kesehatan - Jarak sumber air bersih minimal 10 meter dari sumber tercemar

Ket.

2.

Sistem Bersih

3.

4.

Penampungan - talang air yang masuk ke bak PAH harus air hujan (PAH) dapat dipindahkan atau dialihkan - Volume bak saringan 0,6 x 0,6 x 0,2 meter - Pipa peluap (over flow) harus dipasang kawat kasa rapat nyamuk - Bak serapan : susunan batu, pasir pada bak resapan minimal 0,6 meter dari lantai - Kemiringan lantai bak : mengarah ke pipa penguras Perpipaan - Dilakukan pengolahan air dari sumber air terlebih dahulu sebelum didistribusikan - Pipa yang digunakan tidak melarutkan atau mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan - Angka kebocoran pipa tidak lebih dari 5% - Pemasangan pipa tidak boleh terendam air kotor atau air sungai - Bak penampungan harus rapat air dan tidak dicemari oleh sumber pencemar - Pengambilan air dari sarana perpipaan
Lia Amelia (03081006040)

51

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

5.

Pembuanan Saluran limbah

harus dilakukan melalui kran - Tidak mencemari air tanah dan air air - Tidak menimbulkan sarang nyamuk dan jalan tikus - Tidak menimbulkan kecelakaan - Tidak menimbulkan bau dan gangguan pemandangan Penimbunan darat Metode Daur Ulang Metode Penghindaran dan Pengurangan Tidak mencemari tanah permukaan Rumah jamban harus terang dan ada ventilasi - Gunakan jambang leher angsa - Lantai miring kearah lubang pembuangan - Dibangun dengan menggunakan bahan yang kedap air sehingga air yang terdapat di dalam tangki septic tidak dapat merembes ke tanah

6.

7.

System Pengolahan sampah Jamban

8.

Septic tank

4.2 Sistem Sanitasi Pada Perencanaan dan Perancangan PPI Baturusa No. 1. Katagori Konstruksi bangunan Parameter - Lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan - Tinggi bibir sumur 80 cm dari lantai, terbuat dari bahan yang kuat dan rapat air - Dinding sumur minimal sedalam 3 meter dari lantai dari bahan kedap air dan kuat (tidak mudah retak/longsor). Air - Air bersih yang digunakan harus jernih, bersih dan tidak berwarna, tidak berbau, tidak memiliki rasa, dan tidak mengandung zat kimia yang mengganggu kesehatan - Jarak sumber air bersih minimal 10 meter dari sumber tercemar Ada Tidak

2.

Sistem Bersih

Lia Amelia (03081006040)

52

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

3.

4.

5.

Penampungan - talang air yang masuk ke bak air hujan (PAH) PAH harus dapat dipindahkan atau dialihkan - Volume bak saringan 0,6 x 0,6 x 0,2 meter - Pipa peluap (over flow) harus dipasang kawat kasa rapat nyamuk - Bak serapan : susunan batu, pasir pada bak resapan minimal 0,6 meter dari lantai - Kemiringan lantai bak : mengarah ke pipa penguras Perpipaan - Dilakukan pengolahan air dari sumber air terlebih dahulu sebelum didistribusikan - Pipa yang digunakan tidak melarutkan atau mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan - Angka kebocoran pipa tidak lebih dari 5% - Pemasangan pipa tidak boleh terendam air kotor atau air sungai - Bak penampungan harus rapat air dan tidak dicemari oleh sumber pencemar - Pengambilan air dari sarana perpipaan harus dilakukan melalui kran Pembuanan - Tidak mencemari air tanah Saluran air - Tidak menimbulkan sarang limbah nyamuk dan jalan tikus - Tidak menimbulkan bau dan gangguan pemandangan System Pengolahan sampah Jamban - Penimbunan darat - Metode Daur Ulang - Metode Penghindaran dan Pengurangan - Tidak mencemari tanah permukaan - Rumah jamban harus terang dan ada ventilasi

6.

7.

Lia Amelia (03081006040)

53

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

- Gunakan jambang leher angsa - Lantai miring kearah lubang pembuangan 8. Septic tank - Dibangun dengan menggunakan bahan yang kedap air sehingga air yang terdapat di dalam tangki septic tidak dapat merembes ke tanah

Lia Amelia (03081006040)

54

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab terdahulu, dapat disimpulkan bahwa masih banyak yang harus diperhatikan dalam perencanaan sistem utilitas pada Pengembangan Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Baturusa di Pangkal Pinang. Belajar dari pengalaman terdahulu di PPI Baturusa yang telah ada, masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam perencanaan sistem sanitasinya. Hal ini berimbas pada kinerja dari PPI itu sendiri. Sehingga kondisi lingkungan PPI menjadi tidak nyaman karena system yang tidak berjalan dengan baik. Banyak sekali tumpukan sampah ditemui, serta genangan air limbah ikan. Menyesuaikan dengan standar sanitasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan sumber literatur lain, dapat diketahui masih ada beberapa bagian yang belum sesuai, seperti jarak antara sumur gali sebagai salah satu sumber air bersih dengan sumber tercemar kurang dari 10 meter. Pada sistem pembuangan limbah cair, pembuangan terakhir adalah muara sungai Baturusa. Ini juga belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan tentang pengolahan limbah. Dan masih banyak lagi aspek lain yang harus diperhatikan. Sehingga secara keseluruhan perencanaan sistem sanitasi pada Perancangan Pengembangan Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Baturusa belum cukup baik.

5.2 Saran Dari kesimpulan di atas tersebut, dapat disarankan perlunya peninjauan kembali pada beberapa aspek perencanaan sistem sanitasi pada Perancangan Pengembangan Kawasan PPI Baturusa, terutama pada aspek sumber air bersih dan pengelolaan limbah serta sampah, sehingga harapan terciptanya PPI yang bersih dan nyaman dengan sistem pengolahan sampah dan limbah yang baik dapat terwujud.
Lia Amelia (03081006040)

55

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

DAFTAR PUSTAKA
Ain Jie. Pengertian Hygiene & Sanitasi. 2009. http://ain-

hygiene.blogspot.com/2009/08/pengertian-hygiene-sanitasi.html (29 Mei 2013). Ayodhyoa. 1975. Lokasi dan Fasilitas Pelabuhan Perikanan. Bagian Penangkapan Ikan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Dinas Kelautan Perikatan Kota Pangkal Pinang. 2011. Produksi Perikanan Kota Pangkal Pinang. Frick, Heinz. L Setiawan, Pujo. 2002. Ilmu Konstruksi Perlengkapan dan Utilitas Bangunan. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Frick, Heinz. Suskiyatno, FX Bambang. 1998. Dasar-Dasar Eko-Arsitektur. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Ginanjar, Reza. 2008. Hubungan Jenis Sumber Air Bersih dan Kondisi Fisik Air Bersih Dengan Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Sukmajaya Tahun 2008. Skripsi. Depok. Universitas Indonesia. Irdianty, Eka. 2011. Studi Deskriptif Sanitasi Dasar di Tempat Pelelanan Ikan Lempasing Teluk Betung Bandar Lampung Tahun 2011. Skripsi. Depok. Universitas Indonesia Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2006. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16/MEN/2006 Tentang Pelabuhan Perikanan. Moh. Noerbambang, Soufyan. Morimura, Takeo. 2000. Perencanaan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta. Pradnya Paramita. Rusmali, K.W. 2004. Analisis Aktivitas Pendaratan dan Pemasaran Hasil Tangkapan dan Dampaknya Terhadap Sanitasi di Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta, Muara Baru DKI Jakarta. Skripsi. Bogor. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia.

Lia Amelia (03081006040)

56

Laporan Kerja Praktek : Tinjauan Perencanaan Sistem Sanitasi Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batu Rusa

Yasrin.

2011.

Definisi

Saluran

Pembuangan

Air

Limbah

(SPAL).

http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2171364-definisi-saluranpembuangan-air-limbah/ (25 Mei 2013) http://id.wikipedia.org/wiki/Sanitasi http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah http://dokter-kota.blogspot.com/2013/01/sistem-penanganan-dan-pengolahanlimbah.html

Lia Amelia (03081006040)

57