Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

STOIKIOMETRI REAKSI LOGAM DENGAN GARAM

Oleh:
NAMA

: MUH. YAMIN A.

NIM

: F1C1 08 049

KELOMPOK

: I (SATU)

ASISTEN

: SARLAN

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2009

STOIKIOMETRI REAKSI LOGAM DENGAN GARAM


A. Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui stoikiometri reaksi logam dengan
garam.
B. Landasan Teori
Di awal kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi
kimia, tidak mendapat banyak perhatian. Bahkan saat perhatian telah diberikan,
teknik dan alat percobaan tidak menghasilkan hasil yang benar. Salah satu contoh
melibatkan teori flogiston. Flogistonis mencoba menjelaskan fenomena pembakaran
dengan istilah zat dapat terbakar. Menurut para flogitonis, pembakaran adalah
pelepasan zat dapat etrbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang kemudian disebut
flogiston. Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan pembakaran sebagai
pelepasan flogiston dari zat terbakar (Takeuchi, 2008).
Salah satu kompleks dari tembaga yang memiliki bilangan koordinasi 6
adalah ion heksaakuotembaga(II) [Cu(H2O)6]2+ yang terbentuk jika ion Cu2+ bertemu
dengan air dalam larutan, contohnya ketika garam Cu 2+ seperti CuSO4 dan Cu(NO3)2
dilarutkan dalam air. Kompleks ini berwarna biru muda dan berbentuk oktahedral
terdistorsi tetragonal. Tidak seperti oktahedral normal, pada bentuk terdistorsi ini 2
ikatan Cu-Ligan yang berada di atas dan bawah bangun oktahedral lebih panjang dari
4 ikatan Cu-Ligan yang lain (Tokan et al., 2009).

Senyawa kompleks dari logam-logam tanah cenderung bersifat tidak stabil


dan ligan-ligan yang ada cenderung disubstitusi oleh molekul-molekul air dari udara.
Sintesis senyawa kompleks tersebut biasanya dilakukan dalam tabung Schlenk di
bawah lindungan gas argon. Isolasi uap air yang tidak sempurna cenderung
memberikan senyawa kompleks yang terkoordinasi oleh molekul-molekul air.
Senyawa kompleks dari garam-garam logam alkali tanah dengan liganligan yang
merupakan basa nitrogen menghasilkan kompleks dengan bilangan koordinasi 4
sampai 10 dengan berbagai bentuk struktur (Effendy, 1996).
Salah satu sifat unsur transisi adalah mempunyai kecenderungan untuk
membentuk ion kompleks atau senyawa kompleks. Ion-ion dari unsur logam transisi
memiliki orbital-orbital kosong yang dapat menerima pasangan elektron pada
pembentukan ikatan dengan molekul atau anion tertentu membentuk ion kompleks.
Ion kompleks terdiri atas ion logam pusat dikelilingi anion-anion atau
molekul-molekul membentuk ikatan koordinasi. Ion logam pusat disebut ion pusat
atau atom pusat. Anion atau molekul yang mengelilingi ion pusat disebut ligan.
Banyaknya ikatan koordinasi antara ion pusat dan ligan disebut bilangan
koordinasi.Ion pusat merupakan ion unsur transisi, dapat menerima pasangan elektron
bebas dari ligan. Pasangan elektron bebas dari ligan menempati orbital-orbital kosong
dalam subkulit 3d, 4s, 4p dan 4d pada ion pusat. Ligan adalah molekul atau ion yang
dapat menyumbangkan pasangan elektron bebas kepada ion pusat. Ligan ada yang
netral dan bermuatan negatif atau positif. Pemberian nama pada ligan disesuaikan

dengan jenis ligannya. Bila ada dua macam ligan atau lebih maka diurutkan menurut
abjad (Maulana, 2007).
Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapantahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan
yang berbeda-beda. Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi
pergantian ligan melalui efek trans. Proses membuat perhitungan yang didasarkan
pada rumus-rumus dan persamaan-persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri
(dari kata Yunani: stoicheion, unsur dan metria, ilmu pengukuran). Suatu rumus
molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya dalam suatu molekul atau
satuan terkecil suatu senyawa (Syahbatini, 2009).

C. Alat dan Bahan


Alat dan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
1. Alat
- Gelas kimia 50 ml
- labu takar 50 ml
- Pipet Volum 25 ml
- Gelas ukur 50 ml
- Erlenmeyer 100 ml
- Buret
- Pemanas
- Timbangan analitik
- Statif dan klem
- Labu semprot
- Filler
2. Bahan
- Asam oksalat 2 gram
- H2SO4 2,5 M
- Larutan Standar KmnO4 0,38 M

D. Prosedur Kerja
Standardisasi larutan KMnO4 0,02 M

Asam oksalat
-

ditimbang 0,63 g
dilarutkan dalam labu takar 100 ml
diencerkan dengan aquadest sampai
tanda tera

Larutan asam oksalat


-

diambil 5 ml asam oksalat


disimpan dalam Erlenmeyer 100 ml
ditmbahkan 20 ml H2SO4 2,5 M

Larutan Campuran
-

dititrasi dengan larutan standar KMnO4


yang akan distandarisasi dari buret
diulangi titrasi sebanyak 3 kali
dihitung molaritas rata-rata larutan
standar KMnO4

[KMnO4] Sebenarnya = 0,223 M

E. Hasil Pengamatan

1. Larutan Asam Oksalat


2 gram asam oksalat di larutkan dalam labu takar 50 ml
Diketahui : - Mr asam oksalat

= 90 gr/mol
1 mol

- Mol asam oksalat = 2 gram x 90 gram


= 0,022 mol
- Konsentrasi

mol

= volum =

0,022 mol
= 0,44 M
0,05 L

2. Standardisasi larutan 0,02 M KmnO4


Konsentrasi KmnO4 = 0,38 M
Perlakuan pertama
30 ml asam oksalat dititrasi dengan KmnO4
Volume KmnO4 = 19,7 ml
Perlakuan kedua
30 ml asam oksalat dititrasi dengan KmnO4
Volume KmnO4 = 19,7 ml
V1 . M1 = V2 . M2
19,7 ml . 0,44 M = 10 ml . M2
M2

4,4

= 19,7
= 0,223 M

F. Pembahasan

Stoikiometri merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari


berbagai aspek yang menyangkut kesetaraan massa antara zat yang terlibat dalam
reaksi kimia, baik dalam skala molekuler maupun dalam skala eksperimental.
Pengetahuan tentan kesetaraan massa antar zat yang bereaksi merupakan dasar
penyelkesaian hitungnan yang melibatkan reaksi kimia. Konsep mol diperlukan untuk
mengkonversikan kesetaraan massa antara zat dari skala mlekuler ke dalam skala
eksperimental dalam laboratorium. Sebagai contoh dapat dikemukakan, dengan
mengetahui stoikiometri reaksi dalam proses analisis volumetri, data hasil titrasi
dapat digunakan untuk menghitung konsentrasi suatu senyawa yang terlibat dalam
proses itu.
Sebenarnya pada percobaan kali ini kita akan mempelajari stoikiometri reaksi
antara logam dengan garam besi (III) dalam suasana asam dengan menganalisa hasil
reaksi secara volumetri dengan metode titrasi. Namun, yang dilakukan pada
percobaan ini hanya sebatas standardisasi larutan KMnO4 dengan asam oksalat. Yang
bertujuan untuk menentukan konsentrasi yang sebenarnya dari KMnO 4 sehingga
dapat digunakan sebagai larutan baku dalam penentuan stoikiometri reaksi antara
logam dengan garam besi (III) dengan metode titrasi tersebut. Standardisasi ialah
suatu usaha untuk menentukan konsentrasi yang tepat dari calon larutan baku.
Titrasi yang dilakukan pada percobaan ini disebut sebagai titrasi redoks.
Dimana KMnO4 merupakan oksidator kuat dan telah digunakan secara luas. Larutan
ini juga mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator karena memiliki warna
sendiri. Permanganat dapat mengalami reaksi yang bermacam-macam, karena Mn

dapat berada dalam keadaan dengan bilangan oksidasi, +2, +3, +4, +6, dan +7, karena
titrasi ini menggunakan oksidator kuat maka disebut sebagai oksidimetri dimana
larutan cuplikan merupakan reduktornya. Permanganat yang bereaksi dengan larutan
campuran yang bersifat asam akan mengalami reduksi menjadi Mn2+ dimana
biloksnya turun dari +7 menjadi +2. reaksinya adalah:
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O
Dari hasil percobaan yang dilakukan diperoleh konsentrasi KMnO4 yang
digunakan untuk menitrasi asam oksalat yang telah lebih dahulu diketahui
konsentrasinya dan volumenya sehingga diperoleh konsentrasi KMnO 4 adalah sebesar
0,223 M.
G. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
konsentrasi KMnO4 yang diperoleh sebesar 0,223 M.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, 1996. Sintesis dan Struktur Senyawa-Senyawa Kompleks Logam-logam


Alkali Tanah. Media Komunikasi Kimia, Vol 1, No 2.
Maulana, 2007. Senyawa atau Ion Kompleks. http://masterkimia.com
Syabatini, A., 2009. Stoikhiometri
annisanfushie. wordpress.com

Kompleks

Ammin

Tembaga(II).

http://

Takeuchi, Y., Metoda Pemisahan Standar. http://www.chem-is-try.org


Tokan, S., Eka K., dan M.D. Ekawati, 2009. Senyawa Kompleks Tembaga. http://
sifrianustokan.wordpress.com/senyawa-kompleks-tembaga/

Stoikiometri
Kata Kunci: massa atom, massa molekul, satuan massa atom, stoikiometri
Ditulis oleh Yoshito Takeuchi pada 01-03-2008
a. Tahap awal stoikiometri
Di awal kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi kimia,
tidak mendapat banyak perhatian. Bahkan saat perhatian telah diberikan, teknik dan
alat percobaan tidak menghasilkan hasil yang benar.
Salah satu contoh melibatkan teori flogiston. Flogistonis mencoba menjelaskan
fenomena pembakaran dengan istilah zat dapat terbakar. Menurut para flogitonis,
pembakaran adalah pelepasan zat dapat etrbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang
kemudian disebut flogiston. Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan
pembakaran sebagai pelepasan flogiston dari zat terbakar. Perubahan massa kayu bila
terbakar cocok dengan baik dengan teori ini. Namun, perubahan massa logam ketika
dikalsinasi tidak cocok dengan teori ini. Walaupun demikian flogistonis menerima
bahwa kedua proses tersebut pada dasarnya identik. Peningkatan massa logam
terkalsinasi adalah merupakan fakta. Flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini
dengan menyatakan bahwa flogiston bermassa negatif.
Filsuf dari Flanders Jan Baptista van Helmont (1579-1644) melakukan percobaan
willow yang terkenal. Ia menumbuhkan bibit willow setelah mengukur massa pot
bunga dan tanahnya. Karena tidak ada perubahan massa pot bunga dan tanah saat
benihnya tumbuh, ia menganggap bahwa massa yang didapatkan hanya karena air
yang masuk ke bijih. Ia menyimpulkan bahwa akar semua materi adalah air.
Berdasarkan pandangan saat ini, hipotesis dan percobaannya jauh dari sempurna,
tetapi teorinya adalah contoh yang baik dari sikap aspek kimia kuantitatif yang
sedang tumbuh. Helmont mengenali pentingnya stoikiometri, dan jelas mendahului
zamannya.
Di akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias Benjamin Richter (1762-1807)
menemukan konsep ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan
pengamatan teliti reaksi asam/basa, yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa
dalam reaksi netralisasi. Ekuivalen Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen
kimia, mengindikasikan sejumlah tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam
netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk

STOIKHIOMETRI KOMPLEKS AMMIN TEMBAGA(II)


Oleh annisanfushie pada Semester 4. Ditandai:KIMIA ANORGANIK II. &
Komentar
STOIKHIOMETRI KOMPLEKS AMMIN TEMBAGA(II)

STOIKHIOMETRI COMPLEX AMMIN COPPER (II)


ANNISA SYABATINI
JIB107032
KELOMPOK 1
PS S-1 KIMIA FMIPA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
ABSTRACT
The objective of this experiment is to determine the molecular formula ammin complex copper
(II). This attempt divided to become 3 that is standardization some condensations for NaOH, HCl and
NH3. Secondly is determination of distribution coefficient amoniak between water and chloroform, and
determination of copper complex formula ammin . For determination of distribution coefficient,
condensation NH3 packed into separatory funnel in parallel with water then shakes it during 5-10
minutes, after hushed just hence formed by 2 layer. Chloroform then is added with water and methyl
indicator orange, and titration with standard solution HCl that ammonia earns pot is clean to react and
number of ammonias in the chloroform is determinable. Complex compound formed from metal ion
and ligand, complex compound ammin copper can be formed by adding excessive ammonia into
condensation of copper (II) which has been known the numbers, ammonia distribution coefficient
value is 0,0795. Number of complex moles at this attempt is equal to 4 mmol.

Key Words : Chloroform


ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan rumus molekul kompleks ammin
tembaga(II). Percobaan ini terbagi menjadi 3 yaitu standarisasi beberapa larutan yaitu untuk NaOH,
HCl dan NH3. Yang kedua adalah penentuan koefisien distribusi amoiak antara air dan kloroform, dan
penentuan rumus kompleks tembaga ammin. untuk penentuan koefisien distribusi, larutan NH 3
dimasukkan ke dalam corong pemisah bersamaan dengan air kemudian mengocoknya selama 5-10
menit, setelah didiamkan sebentar maka terbentuk 2 lapisan. Larutan kloroform kemudian
ditambahkan dengan air dan indikator metil orange (mo), dan dititrasi dengan larutan standar HCl agar
amoniak dapat habis bereaksi dan jumlah amoniak dalam kloroform tersebut dapat ditentukan.
Senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan, senyawa kompleks ammin tembaga dapat
terbentuk dengan menambahkan ammonia berlebih ke dalam larutan tembaga (II) yang telah diketahui
jumlahnya, nilai koefisien distribusi amoniak adalah sebesar 0,0795. Jumlah mol yang terkomplekskan
pada percobaan ini adalah sebesar 4 mmol.

Kata Kunci : kloroform


PENDAHULUAN
Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapantahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam serta ligan
yang berbeda-beda. Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian
ligan melalui efek trans [1].

Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan


persamaan-persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri (dari kata Yunani:
stoicheion, unsur dan metria, ilmu pengukuran). Suatu rumus molekul menyatakan
banyaknya atom yang sebenarnya dalam suatu molekul atau satuan terkecil suatu
senyawa [2].
Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia
melebur pada 1038C. Karena potensial elektrode standarnya positif (+0,34 V untuk
pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun
dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ada dua deret senyawa tembaga.
Senyawa-senyawa tembaga(I) diturunkan dari tembaga(I) oksida Cu2O yang merah,
dan mengandung ion tembaga(I), Cu+. Senyawa-senyawa ini tak berwarna,
kebanyakan garam tembaga(I) tak larut dalam air, perilakunya mirip senyawa
perak(I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga(II), yang dapat
diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garam-garam tembaga(II) umumnya
berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air. Garamgaram tembaga(II) anhidrat, seperti tembaga(II) sulfat anhidrat CuSO 4, berwarna
putih (atau sedikit kuning). Dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks tetraakuo
[3]
.

SENYAWA KOMPLEKS TEMBAGA


Sifrianus Tokan, Eka Kurniawan, Maria Dian Ekawati,
Mahasiswa Jurusan Kimia
Fakultas MIPA, Universitas Nusa Bangsa, Bogor
Dalam hal kompleks dari logam Cu, terdapat beberapa macam bilangan
koordinasi yang dapat dibentuk oleh logam ini dengan ligan, yaitu:
Bilangan Koordinasi 2 dimana struktur molekulnya yang lazim adalah
linear, contoh: ion diklorokuprat(I) [CuCl2]-, ion dibromokuprat(I)
[CuBr2]-, karbonilklorotembaga(I) [Cu(CO)Cl], Kalium disianokuprat(I)
K[Cu(CN)2], ion diaminatembaga(I) [Cu(NH3)2]+.
Bilangan Koordinasi 3 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah
trigonal

planar,

contoh:

ion

triklorokuprat(I)

trinitratokuprat(II)
klorobis(trisikloheksilfosfina)tembaga(I) [CuCl(Pcy3)2].

[CuCl3]2-,

ion

[Cu(NO3)3]-,

Bilangan Koordinasi 4 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah


tetrahedral atau bujur sangkar, contoh: ion tetrasianokuprat(I)
[Cu(CN)4]3-, amonium tetraklorokuprat(II) (NH4)2[CuCl4], cesium
tetraklorokuprat(II)

Cs2[CuCl4],

cesium

tetrabromokuprat(II)

Cs2[CuBr4], ion tetraaminatembaga(II) [Cu(NH3)4]2+


Bilangan Koordinasi 5 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah
trigonal bipiramidal, contoh: ion pentaklorokuprat(II) [CuCl5]3Bilangan Koordinasi 6 dengan struktur molekulnya yang lazim adalah
oktahedral, contoh: ion heksaakuotembaga(II) [Cu(H2O)6]2+, ion
heksaaminatembaga

(II)

tris(etilenadiamina)tembaga(II)

[Cu(NH3)6]2+,
[Cu(en)3]2+,

ion
kalium

heksafluorokuprat(III) K3[CuF6], dan cesium heksafluorokuprat(IV)


Cs2[CuF6].
Struktur Molekul Kompleks Bilangan Koordinasi 6
Salah satu kompleks dari tembaga yang memiliki bilangan koordinasi 6
adalah ion heksaakuotembaga(II) [Cu(H2O)6]2+ yang terbentuk jika ion Cu2+ bertemu
dengan air dalam larutan, contohnya ketika garam Cu 2+ seperti CuSO4 dan Cu(NO3)2
dilarutkan dalam air. Kompleks ini berwarna biru muda dan berbentuk oktahedral
terdistorsi tetragonal. Tidak seperti oktahedral normal, pada bentuk terdistorsi ini 2
ikatan Cu-Ligan yang berada di atas dan bawah bangun oktahedral lebih panjang dari
4 ikatan Cu-Ligan yang lain.

Media Komunikasi Kimia, Vol 1, No 2 (1996)

Home
About
Log In
Register
Search
Current
Archives

Home > Vol 1, No 2 (1996) > Effendy


Font Size:

Sintesis dan Struktur Senyawa-Senyawa Kompleks Logam-logam


Alkali Tanah
Effendy Effendy

Abstract
Senyawa kompleks dari logam-logam tanah cenderung bersifat tidak stabil dan liganligan yang ada cenderung disubstitusi oleh molekul-molekul air dari udara. Sintesis
senyawa kompleks tersebut biasanya dilakukan dalam tabung Schlenk di bawah
lindungan gas argon. Isolasi uap air yang tidak sempurna cenderung memberikan
senyawa kompleks yang terkoordinasi oleh molekul-molekul air. Senyawa kompleks
dari garam-garam logam alkali tanah dengan liganligan yang merupakan basa
nitrogen menghasilkan kompleks dengan bilangan koordinasi 4 sampai 10 dengan
berbagai bentuk struktur.