Anda di halaman 1dari 42

KUALITAS HIDUP

A. Definisi Kualitas Hidup Menurut Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto, kualitas hidup adalah tingkat di mana seseorang menikmati hal-hal penting yang mungkin terjadi dalam hidupnya. Masing-masing orang memiliki kesempatan dan keterbatasan dalam hidupnya yang merefleksikan interaksinya dan lingkungan. Sedangkan kenikmatan itu sendiri terdiri dari dua komponen yaitu pengalaman dari kepuasan dan kepemilikan atau prestasi (Universitas Toronto, 2004). Hays (1992) menyatakan bahwa kualitas hidup dapat disimpulkan dua bagian yaitu pertama kesehatan fisik terdiri dari fungsi fisik, keterbatasan peran fisik, nyeri pada tubuh, dan persepsi kesehatan secara umum, kedua kesehatan mental terdiri dari vitalitas, fungsi sosial, keterbatasan peran emosional, dan kondisi mental. Kualitas Hidup berarti hidup yang baik, hidup yang baik sama seperti hidup dengan kehidupan yang berkualitas tinggi (Ventegodt, Merriek, Andersen, 2003). Hal ini digambarkan pada kebahagiaan, pemenuhan kebutuhan, fungsi dalam konteks sosial, dan lain-lain. Menurut WHO (1994), kualitas hidup didefenisikan sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau wanita dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka tinggal, dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini merupakan konsep tingkatan, terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status psikologis, tingkat kebebasan, hubungan kepada karakteristik lingkungan mereka.

B. Komponen Kualitas Hidup Beberapa literatur menyebutkan kualitas hidup dapat dibagi dalam 3 bagian yaitu internal individu, kepemilikan (hubungan individu dengan lingkungan), dan harapan (prestasi dan aspirasi individu). a. Internal individu Internal individu dalam kualitas hidup dibagi 3 yaitu secara fisik, psikologis, dan spiritual. Secara fisik yang terdiri dari kesehatan fisik yang terdiri dari kesehatan fisik, personal higienis, nutrisi, olohraga, pakaian, dan penampilan fisik secara
1

umum. Secara psikologis yang terdiri dari kesehatan dan penyesuaian psikologis, kesadaran, perasaan, harga diri, konsep diri, dan kontrol diri. Secara spiritual terdiri dari nilai-nilai pribadi dan kepercayaan spiritual. b. Kepemilikan Kepemilikan (hubungan individu dengan lingkungannya) dalam kualitas hidup dibagi dua yaitu secara fisik dan sosial. Secara fisik yang terdiri dari rumah, tempat kerja/sekolah, secara sosial terdiri dari tetangga/lingkungan dan masyarakat, keluarga, teman/rekan kerja, lingkungan dan masyarakat. c. Harapan Harapan (prestasi dan aspirasi individu) dalam kualitas dapat dibagi dua yaitu secara praktis dan secara pekerjaan. Secara praktis yaitu rumah tangga, pekerjaan, aktivitas sekolah atau sukarela dan pencapaian kebutuhan atau sosial. Secara pekerjaan yaitu aktivitas peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta adaptasi terhadap perubahan dan penggunaan waktu santai, aktivitas relaksasi dan reduksi stress.

World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL) membagi kualitas hidup dalam enam domain yaitu fisik, psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial, lingkungan, spiritual, agama atau kepercayaan seseorang (WHO, 1998). 1. Domain fisik WHOQOL membagi domain fisik pada tiga bagian, yaitu: a. Nyeri dan ketidaknyamanan Aspek ini mengeksplor sensasi fisik yang tidak menyenangkan yang dialami individu, dan selanjutnya berubah menjadi sensasi yang menyedihkan dan mempengaruhi hidup individu tersebut. Sensasi yang tidak menyenangkan meliputi kekakuan, sakit, nyeri dengan durasi lama atau pendek, bahkan penyakit gatal juga termasuk. Diputuskan nyeri bila individu mengatakan nyeri, walaupun tidak ada alasan medis yang membuktikannya (WHO, 1998). b. Tenaga dan lelah Aspek ini mengeksplor tenaga, antusiasme dan keinginan individu untuk selalu dapat melakukan aktivitas sehari-hari, sebaik aktivitas lain seperti rekreasi. Kelelahan membuat individu tidak mampu mencapai kekuatan yang cukup untuk merasakan hidup yang sebenarnya. Kelelahan merupakan akibat dari

beberapa hal seperti sakit, depresi, atau pekerjaan yang terlalu berat (WHO, 1998). c. Tidur dan istirahat Aspek ini fokus pada seberapa banyak tidur dan istirahat. Masalah tidur termasuk kesulitan untuk pergi tidur, bangun tengah malam, bangun di pagi hari dan tidak dapat kembali tidur dan kurang segar saat bangun di pagi hari (WHO, 1998).

Sedangkan

Unit

Penelitian

Kualitas

Hidup

Universitas

Toronto

mengidentifikasikan Physical being sebagai aspek dari kesehatan fisik, kebersihan diri, nutrisi, olahraga, perawatan, berpakaian, dan penampilan fisik (Universitas Toronto, 2004).

2.

Domain Psikologis WHOQOL membagi domain psikologis pada lima bagian, yaitu: a. Perasaan positif Aspek ini menguji seberapa banyak pengalaman perasaan positif individu dari kesukaan, keseimbangan, kedamaian, kegembiraan, harapan, kesenangan dan kenikmatan dari hal-hal baik dalam hidup. Pandangan individu, dan perasaan pada masa depan merupakan bagian penting dari segi ini (WHO, 1998). b. Berfikir, belajar, ingatan dan konsentrasi Aspek ini mengeksplor pandangan individu terhadap pemikiran,

pembelajaran, ingatan, konsentrasi dan kemampuannya dalam membuat keputusan. Hal ini juga termasuk kecepatan dan kejelasan individu memberikan gagasan (WHO, 1998). c. Harga diri Aspek ini menguji apa yang individu rasakan tentang diri mereka sendiri. Hal ini bisa saja memiliki jarak dari perasaan positif sampai perasaan yang ekstrim negatif tentang diri mereka sendiri. Perasaan seseorang dari harga sebagai individu dieksplor. Aspek dari harga diri fokus dengan perasaan individu dari kekuatan diri, kepuasan dengan diri dan kendali diri (WHO, 1998). d. Gambaran diri dan penampilan Aspek ini menguji pandangan individu dengan tubuhnya. Apakah penampilan tubuh kelihatan positif atau negatif. Fokus pada kepuasan individu dengan
3

penampilan dan akibat yang dimilikinya pada konsep diri. Hal ini termasuk perluasan dimana apabila ada bagian tubuh yang cacat akan bisa dikoreksi misalnya dengan berdandan, berpakaian, menggunakan organ buatan dan sebagainya (WHO, 1998). e. Perasaan negatif Aspek ini fokus pada seberapa banyak pengalaman perasaan negatif individu, termasuk patah semangat, perasaan berdosa, kesedihan, keputusasaan, kegelisahan, kecemasan, dan kurang bahagia dalam hidup. Segi ini termasuk pertimbangan dari seberapa menyedihkan perasaan negatif dan akibatnya pada fungsi keseharian individu (WHO, 1998).

Sedangkan

Unit

Penelitian

Kualitas

Hidup

Universitas

Toronto

mengidentifikasikan Psychological being sebagai aspek dari kesehatan psikologis dan penyesuaian seseorang, pengertian, perasaan, dan perhatian pada evaluasi diri, dan kontrol diri (Universitas Toronto, 2004).

3.

Domain Tingkat kebebasan WHOQOL membagi domain tingkat kebebasan pada empat bagian, yaitu: a. Pergerakan Aspek ini menguji pandangan individu terhadap kemampuannya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bergerak di sekitar rumah, bergerak di sekitar tempat kerja, atau ke dan dari pelayanan transportasi (WHO, 1998). b. Aktivitas hidup sehari-hari Aspek ini mengeksplor kemampuan individu untuk melakukan aktivitas seharihari. Hal ini termasuk perawatan diri dan perhatian yang tepat pada kepemilikan. Tingkatan dimana individu tergantung pada yang lain untuk membantunya dalam aktivitas kesehariannya juga berakibat pada kualitas hidupnya (WHO, 1998). c. Ketergantungan pada pengobatan atau perlakuan Aspek ini menguji ketergantungan individu pada medis atau pengobatan alternatif (seperti akupuntur dan obat herba) untuk mendukung fisik dan kesejahteraan psikologisnya. Pengobatan pada beberapa kasus dapat berakibat negatif pada kualitas hidup individu (seperti efek samping dari kemoterapi) di

saat yang sama pada kasus lain menambah kualitas hidup individu (seperti pasien kanker yang menggunakan pembunuh nyeri) (WHO, 1998). d. Kapasitas pekerjaan Aspek ini menguji penggunaan energi individu untuk bekerja. Bekerja didefenisikan sebagai aktivitas besar dimana individu disibukkan. Aktivitas besar termasuk pekerjaan dengan upah, pekerjaan tanpa upah, pekerjaan sukarela untuk masyarakat, belajar dengan waktu penuh, merawat anak dan tugas rumah tangga (WHO, 1998).

4.

Domain Hubungan sosial WHOQOL membagi domain hubungan sosial pada tiga bagian, yaitu: a. Hubungan perorangan Aspek ini menguji tingkatan perasaan individu pada persahabatan, cinta, dan dukungan dari hubungan yang dekat dalam kehidupannya. Aspek ini termasuk pada kemampuan dan kesempatan untuk mencintai, dicintai dan lebih dekat dengan orang lain secara emosi dan fisik. Tingkatan dimana individu merasa mereka bisa berbagi pengalaman baik senang maupun sedih dengan orang yang dicintai. (WHO, 1998). b. Dukungan sosial Aspek ini menguji apa yang individu rasakan pada tanggung jawab, dukungan, dan tersedianya bantuan dari keluarga dan teman. Aspek ini fokus pada seberapa banyak yang individu rasakan pada dukungan keluarga dan teman, faktanya pada tingkatan mana individu tergantung pada dukungan di saat sulit (WHO, 1998). c. Aktivitas seksual Aspek ini fokus pada dorongan dan hasrat pada seks, dan tingkatan dimana individu dapat mengekspresikan dan senang dengan hasrat seksual yang tepat (WHO, 1998).

Sedangkan

Unit

Penelitian

Kualitas

Hidup

Universitas

Toronto

mengidentifikasikan Social belonging sebagai hubungan dengan lingkungan sosial dan termasuk perasaan dari penerimaan yang dekat, keluarga, teman, rekan kerja, dan tetangga serta masyarakat (Universitas Toronto, 2004).

5.

Domain Lingkungan WHOQOL membagi domain lingkungan pada delapan bagian, yaitu: a. Keamanan fisik dan keamanan Aspek ini menguji perasaan individu pada keamanan dari kejahatan fisik. Ancaman pada keamanan bisa timbul dari beberapa sumber seperti tekanan orang lain atau politik. Aspek ini berhubungan langsung dengan perasaan kebebasan individu (WHO, 1998). b. Lingkungan rumah Aspek ini menguji tempat yang terpenting dimana individu tinggal (tempat berlindung dan menjaga barang-barang). Kualitas sebuah rumah dapat dinilai pada kenyamanan, tempat teraman individu untuk tinggal (WHO, 1998). c. Sumber penghasilan Aspek ini mengeksplor pandangan individu pada sumber penghasilan (dan sumber penghasilan dari tempat lain). Fokusnya pada apakah individu dapat mengahasilkan atau tidak dimana berakibat pada kualitas hidup (WHO, 1998). d. Kesehatan dan perhatian sosial: ketersediaan dan kualitas Aspek ini menguji pandangan individu pada kesehatan dan perhatian sosial di kedekatan sekitar. Dekat berarti berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan bantuan (WHO, 1998). e. Kesempatan untuk memperoleh informasi baru dan keterampilan Aspek ini menguji kesempatan individu dan keinginan untuk mempelajari keterampilan baru, mendapatkan pengetahuan baru, dan peka pada apa yang terjadi. Termasuk program pendidikan formal, atau pembelajaran orang dewasa atau aktivitas di waktu luang, baik dalam kelompok atau sendiri (WHO, 1998). Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto mengidentifikasikan Growth becoming sebagai kegiatan perbaikan atau pemeliharaan pengetahuan dan keterampilan (Universitas Toronto, 2004). f. Partisipasi dalam kesempatan berekreasi dan waktu luang Aspek ini mengeksplor kemampuan individu, kesempatan dan keinginan untuk berpartisipasi dalam waktu luang, hiburan dan relaksasi (WHO, 1998). Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto mengidentifikasikan Leisure becoming sebagai aktivitas yang menimbulkan relaksasi dan penurunan stress. Disini termasuk permainan kartu, pembicaraan dengan tetangga, dan

kunjungan keluarga, atau aktivitas dengan durasi yang lama seperti liburan (Universitas Toronto, 2004). g. Lingkungan fisik (polusi/ keributan/ kemacetan/ iklim) Aspek ini menguji pandangan individu pada lingkungannya. Hal ini mencakup kebisingan, polusi, iklim dan estetika lingkungan dimana pelayanan ini dapat meningkatkan atau memperburuk kualitas hidup (WHO, 1998). h. Transportasi Aspek ini menguji pandangan individu pada seberapa mudah untuk menemukan dan menggunakan pelayanan transportasi (WHO, 1998).

6.

Domain Spiritual/ agama/ kepercayaan seseorang Aspek ini menguji kepercayaan individu dan bagaimana dampaknya pada kualitas hidup. Hal ini bisa membantu individu untuk mengkoping kesulitan hidupnya, memberi kekuatan pada pengalaman, aspek ini ditujukan pada individu dengan perbedaan agama (Buddha, Kristen, Hindu, dan Islam), sebaik individu dengan kepercayaan individu dan kepercayaan spiritual yang tidak sesuai dengan orientasi agama (WHO, 1998) Sedangkan Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto

mengidentifikasikan Spiritual being sebagai refleksi nilai diri, standar diri dari tingkah laku, dan kepercayaan spiritual dimana terhubung atau tidak dengan pengaturan kepercayaan (Universitas Toronto, 2004).

Sedangkan World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL)-BREF membagi kualitas hidup dalam empat domain yaitu fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan.

Berikut akan dibahas satu per satu dari indikator kualitas hidup lanjut usia.

I. SPIRITUAL
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terlihat ada hubungan yang positif antara agama, spiritualitas dan well-being (Burke, Chauvin & Miranti, 2005). Di Amerika, lansia Afrika Amerika dan kelompok minoritas lainnya mempunyai tingkat komitmen beragama dan partisipasi yang tinggi daripada kaum mudanya. Hasil penelitian ini menghasilkan sesuatu yang positif yaitu kuatnya sistem keyakinan di dalam diri, menemukan kebenaran pada kekuatan yang lebih tinggi, dan akhirnya akan membawa pada kebermaknaan dalam kehidupan sehari-hari bagi lansia, dan system keyakinan ini akan membuat hilangnya stereotip negatif pada lansia. Aspek positif dari keterlibatan religious/spiritual dapat ditemukan pada orang dewasa lanjut (Levin & Vanderpool,1992). Berdasarkan karakteristik tersebut, Idler (1987), menemukan fakta bahwa populasi lansia wanita yang melakukan kegiatan agama di masyarakat memperlihatkan tingkat depresi yang lebih rendah dibandingkan dengan pria, mereka melakukan perilaku beragama secara pribadi dan berpengaruh terhadap tingkat depresi yang rendah. Perbedaan gender memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan. Perasaan terisolir biasanya juga dialami oleh lansia, mereka juga kehilangan mobilitas dan merasa kehilangan akan kematian keluarga dan teman dekat. Koenig, George, dan Siegler (1988) melaporkan hasil penelitiannya bahwa agama dan spiritual adalah sumber coping yang biasanya digunakan oleh lansia ketika mengalami sedih, kesepian dan kehilangan. Krause dan Tran (1989) menemukan bahwa keyakinan beragama dan spiritual dapat menangani individu yang mengalami stress. Tornstam (2003) dalam Lee, dkk (2007) menempatkan lansia sebagai individu yang bergerak dalam memandang hidup secara materialistic kepada cara pandang transenden dan spiritual. Berdasarkan pendapat Tornstam tersebut, lansia yang transenden (gerotranscendent) berubah secara transenden dalam memandang hidup yang ditandai dengan tiga faktor berikut : 1. Cosmic transcendent, yaitu merasa terhubung dengan alam semesta dan seisinya). 2. Coherence, yaitu memaknai hidup 3. Solitude, yaitu merasa puas dengan diri sendiri/bersyukur dan lebih bijaksana.

Atkinson

(1983)

menjelaskan

latar

belakang

yang

menjadi

penyebab

kecenderungan sikap keagamaan pada manusia usia lanjut, secara garis besar ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah : 1. 2. 3. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan. Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh. 4. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur. 5. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan usia yang bertambah lanjut.

Spiritual Well-Being and the FACIT-Sp


(FACIT-Sp: Functional Assessment of Chronic Illness Therapy Spiritual well-being)

10

11

12

II. PEKERJAAN

ADL Kegiatan hidup sehari-hari (ADL = activity daily living) adalah istilah yang digunakan dalam perawatan kesehatan untuk merujuk kepada harian aktivitas perawatan diri dalam tempat individu tinggal, di lingkungan luar, atau keduanya. Profesional kesehatan rutin mengacu pada kemampuan atau ketidakmampuan untuk melakukan ADL sebagai pengukuran status fungsional dari seseorang, terutama dalam hal para penyandang cacat dan orang tua. ADL didefinisikan sebagai "hal-hal yang biasanya kita lakukan ... seperti memberi makan diri kita sendiri, mandi, berpakaian, perawatan, pekerjaan, kerumahtanggaan, dan rekreasi." Sejumlah survei nasional mengumpulkan data tentang status ADL dari penduduk AS. Sementara kategori dasar ADL telah diusulkan, apa yang secara khusus merupakan ADL tertentu dalam suatu lingkungan tertentu untuk orang tertentu mungkin berbeda. ADL dasar (BADLs) terdiri dari perawatan diri tugas, termasuk: 1. 2. 3. 4. Personal hygiene dan perawatan Memakai dan membuka baju Makan sendiri Fungsional transfer (masuk ke dan keluar dari tempat tidur atau kursi roda, mendapatkan ke atau dari toilet, dll) 5. 6. Manajemen BAK dan BAB Ambulation (berjalan dengan atau tanpa menggunakan perangkat bantu (walker, tongkat, atau kruk) atau menggunakan kursi roda

13

Berikut adalah contoh pasien yaitu oma Laningsih Surya ADL Mandiri Mandi Transfer Berpakaian Kebersihan Ke toilet Makan Menyiapkan makanan Mengatur keuangan Mengatur pengobatan Menggunakan telepon Apakah klien inkontinensia ? Urin : tidak Alvi : tidak + + + + + + + + + + Memerlukan bantuan orang lain Bergantung pada orang lain

IADL Instrumental kegiatan hidup sehari-hari (IADLs) tidak diperlukan untuk fungsi dasar, tapi mereka membuat individu hidup mandiri di masyarakat.

Yang dinilai adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pekerjaan rumah tangga Mengambil obat yang diresepkan Mengelola uang Belanja untuk bahan makanan atau pakaian Penggunaan telepon atau bentuk komunikasi lainnya Menggunakan teknologi (sebagaimana berlaku) Transportasi dalam masyarakat

14

INSTRUMENT ACTIVITY DAILY LIVING A. Ability to use telephone - operates telephone on own initiative, looks up & dials numbers,etc(1) - dials a few well-known numbers (1) - answers telephone but does not dial (1) - does not use telephone at all (0) B. Shopping - takes care of all shopping needs independently (1) - shops independently for small purchases (0) - needs to beaccompanied on any shopping trip (0) - completely unable to shop (0) C. Food preparation - plans, prepares & serves adequate meals independently (1) - prepares adequate meals if supplied with ingredients (0) - heats, serves, dan prepares meals or prepares meals but doesnt maintain adequate diet (0) - needs to have meals, prepared and served (0) D. Housekeeping - Maintains house alone or with occasional assistance (1) - Performs light daily tasks such as dish washing, bed making (1) - Performs light daily tasks but cannot maintain acceptable level of cleanliness (1) - Needs help with all home maintenance tasks (1) - Does not participate in any houskeeping tasks (0) E. Laundry - Does personal laundry completely (1) - Launders small items, rinses stockings etc (1) - All laundry must be done by others (0) F. Mode of Transportation - Travel independently on public transportation or drive own car (1) - Arrange own travel via taxi, but does not otherwise use public transportation (1) - Travels on public transportation when accompanied of another (1) - Travel limited to taxi or automobile with assistance of another (0) - Does not travel at all (0)
15

G. Responsibility for own medication - Is responsible for taking medication in correct dosages at correct time (1) - Takes responsibility if medication is prepared in advance in separate dosage (0) - Is not capable of dispensing own medication (0) H. Ability to handle finances - Manage financial matters independently (budgets, writes checks, pays rent, bill goes to bank) collect & keeps track of income (1) - Manage day to day purchases, but needs help with banking major purchases (1) - Incapable if handling money (0)

Hasil : Clients are scored according to their highest level of functioning in that category. A summary score ranges from 0 (low function, dependent) to 8 (high function, independent) for women, and 0 through 5 for men. Kesimpulan : score 6 independent

16

III. SOSIAL
Global Assessment of Fuctioning (GAF) adalah skala numerik (0 sampai 100) yang digunakan oleh dokter spesialis jiwa dan dokter umum untuk menilai subyektif fungsi sosial, pekerjaan, dan psikologis orang dewasa, misalnya, seberapa baik atau adaptif seseorang memenuhi berbagai masalah dalam hidup. Skala disajikan dan dijelaskan dalam DSM-IV-TR. Skor tersebut sering diberikan sebagai suatu range, seperti diuraikan di bawah:

GLOBAL ASSESMENT OF FUNCTIONING (GAF) SCALE 100 91 90 81 = Gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada masalah yang tidak tertanggulangi = Gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalah harian biasa. 80 -71 70 61 = Gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam pekerjaan, sosial, sekolah, dll. = Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik. 60 51 50 41 40 -31 30 21 20 11 = = = Gejala sedang (moderate), disabilitas sedang. Gejala berat (serious), disabilitas berat. Beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi. = Disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu berfungsi dalam hampir semua bidang. = Bahaya mencederai diri sendiri atauapun orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri. 10 01 0 = = Seperti diatas persisten dan lebih serius Informasi tidak adekuat

17

IV. AKTIVITAS FISIK


Bertambahnya usia seseorang akan diikuti oleh berbagai perubahan yang berpotensi menimbulkan masalah-masalah kesehatan. Setiap perubahan kesehatan dapat menjadi stressor yang mempengaruhi konsep diri seseorang. Salah satunya adalah adanya perubahan fisik yang mengakibatkan ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dasar sehari-harinya. Perubahan kondisi fisik lanjut usia berpengaruh pada kondisi psikis, ketidakmampuan dalam melakukan perawatan diri akan mempengaruhi konsep diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat kemampuan perawatan diri lansia dengan perubahan konsep diri lansia. Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran, terutama di bidang kemampuan fisik yang dapat

mengakibatkan penurunan pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain. Perubahan patofisiologis pada korteks serebri mengakibatkan lansia mengalami defisit perawatan diri. Sehingga perlu diupayakan penyusunan aktivitas sehari-hari yang lebih sederhana dan singkat yang dapat menimbulkan kepuasaan bagi lansia dalam melakukannya (Smeltzer, 2001). Dalam Nursalam (2009), klasifikasi tingkat kemampuan perawatan diri (tingkat ketergantungan klien) berdasarkan teori Orem terdiri dari butuh sedikit bantuan (minimal care), butuh bantuan sebagian dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri (partial care), dan butuh bantuan penuh dalam mmenuhi perawatan diri (total care). Berdasarkan indeks Activity Daily Living (ADL) Barthel, tingkat ketergantungan klien terdiri dari mandiri, ketergantungan ringan, ketergantungan sedang, ketergantungan berat, dan ketergantungan total. a. Aktivitas kehidupan sehari hari / Indeks Katz 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bathing Dressing Toiletting Transfering Continence Feeding : Mandiri : Mandiri : Mandiri : Mandiri : Mandiri : Mandiri

18

Interpretasi hasil : Katz A : mandiri dalam hal makan, kontinen BAK/BAB, mengenakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi Katz B : mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi di atas Katz C : mandiri, kecuali mandi dan salah satu dari fungsi di atas Katz D : mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan salah satu dari fungsi di atas Katz E : mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet dan salah satu fungsi diatas Katz F : mandiri, kecuali mandi, bepakaian, ke toilet, berpindah dan salah satu dari fungsi di atas Katz G : ketergantungan untuk semua fungsi di atas

b. Indeks ADL (Activity of Daily Living) Barthel

No. Fungsi 1 Mengontrol BAB

Nilai 0 1 2 0 1 2 0 1 0 1 2 0 1 2 0 1 2 3 0

Keterangan Inkontinensia Kadang kadang Kontinen teratur Inkontinensia Kadang kadang Kontinen teratur Butuh pertolongan orang lain Mandiri Butuh pertolongan orang lain Perlu pertolongan pada beberapa aktivitas Mandiri Tidak mampu Perlu seseorang memotong makanan Mandiri Tidak mampu Perlu banyak bantuan untuk bisa duduk (2 orang) Bantuan minimal 1 orang Mandiri Tidak mampu
19

Mengontrol BAK

3 4

Membersihkan Diri (Lap Muka, Sisir Rambut, Sikat Gigi) Toileting

Makan

Berpindah Dari Tidur Ke Duduk

Mobilisasi/ Berjalan

1 2 8 Berpakaian 3 0 1 2 0 1 2 0 1

Naik Turun Tangga

10

Mandi

Bisa berjalan dengan kursi roda Berjalan dengan bantuan orang lain/ walker Mandiri Tergantung orang lain Sebagian dibantu Mandiri Tidak mampu Butuh pertolongan Mandiri (naik turun) Tergantung orang lain Mandiri

Nilai ADL : 20 12 19 9 11 58 04 : mandiri : ketergantungan ringan : ketergantungan sedang : ketergantungan berat : ketergantungan total

20

V. PERKEMBANGAN KEHIDUPAN PRIBADI LANSIA

A. TEORI PERKEMBANGAN (Development Theory) Teori ini menekankan pentingnya mempelajari apa yang telah di alami lanjut usia pada saat muda hingga dewasa, dengan demikian perlu di pahami teori Freud, Buhler, Jung dan Erikson. Sigmund Freud meneliti tentang psikoanalisa dan perubahan psikososial anak dan balita. Erikson (1930) membagi kehidupan menjadi 8 fase dan lanjut usia perlu menemukan integritas diri melawan keputusasaan (ego integrity versus despair), seperti berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lanjut usia menerima apa adanya Lanjut usia takut mati Merasakan hidup penuh arti Penyesalan diri Lanjut usia yang bertanggung jawab Merasakan kegetiran dan kehidupannya berhasil merasa terlambat untuk memperbaiki

Havighurst

dan

Duvall

menguraikan

tujuh

jenis

tugas

perkembangan

(developmental tasks) selama hidup yang harus dilaksanakan oleh lanjut usia yaitu: a) Penyesuaian terhadap penurunan fisik dan psikis

b) Penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan pendapatan c) Menemukan makna kehidupan

d) Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan e) f) Menemukan kepuasan dalam hidup keluarga Penyesuian diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia

g) Menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia Pokok pokok dalam development theory adalah: a) Masa tua merupakan saat lanjut usia tua merumuskan seluruh masa kehidupannya

b) Masa tua merupakan masa penyesuaian diri terhadap kenyataan soasial yang baru yaitu pensiun dan menduda atau menjanda

21

c)

Lanjut usia harus menyesuaikan diri, akibat perannya yang berakhir di dalam keluarga, kehilangan identitas dan hubungan sosial akibat pensiun, di tinggal mati oleh pasangan hidup dan teman-temanya.

Tugas perkembangan lansia adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan Menyesuaikan diri dengan masa pension dan penurunan pendapatan, Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan Memantapkan secara eksplisit bahwa ia ada pada kelompok usianya itu, Mengadopsi dan mengadaptasi peran sosial secara fleksibel dan Menetapkan pengaturan kehidupan yang memuaskan.

PROSES PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN PADA LANJUT USIA

Banyak

literature

yang mengatakan bahwa

masa dewasa sebagai

fase

perkembangan kepribadian yang mendatar/plateu, dan ini tentunya berbeda dengan perkenbangan masa anak/remaja yang serung kali digambarkan dalam fase berkembang/menanjak. Memang ada berbagai fungsi yang terpengaruh oleh kemunduran fisik sehingga kemampuan dalam bereaksi, seperti refleks maupun kemampuan menjawab dan menanggapi diskusi, agak menurun-walau persentase menunjukkan angka sekitar 10%. Sesungguhnya terdapat pula hasil penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir para lanjut usia masih tetap intact (penuh), sedangkan kemampuan dibidang emosi tentunya banyak dipengaruhi oleh kelambanan yang terjadi karena faktor fisik. Baik dari teori Erikson maupun dari pengalaman para lanjut usia sendiri terungkap bahwa kepribadian tetap berkembang dan setip manusia ingin mencapai dan mengarahkan hidupnya untuk mencari kesempurnaan/wisdom. Oleh karena itu, setiap ada kesempatan para lanjut usia sering mengadakan introspeksi. Dalam perjalanan hidup tadi, terjadi proses kematangan dan bahkan tidak jarang terjadi pemeranan gender (jenis kelamin) yang terbalik. Para wanita lanjut usia ternyata menjadi tegar dalam menghadapi hidup, seolah-olah mereka tidak kalah dengan laki-laki, apalagi dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Sebaliknya, banyak pria lanjut usia tidak segan22

segan memerankan peran wanita seperti mengasuh cucu, menyediakan sarapan pagi, membersihkan rumah dan lain kegiatan yang biasanya justru dilakukan oleh pihak perempuan. Walaupun teori perkembangan kepribadian masih tetap berkembang, kiranya ada baiknya kita menelaah hasil kelompok ahli dari WHO pada tahun 1959, yang mengatakan bahwa mental yang sehat/mental health mempunyai cirri-ciri sebagai berikut: 1. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif dengan kenyataan/realitas, walau realitas tadi buruk. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Memperoleh kepuasan dari perjuangannya. Merasa lebih puas untuk memberi daripada menerima. Secara relative bebas dari rasa tegang dan cemas. Berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong dan saling memuaskan. Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran untuk hari depan. Menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif. Mempunyai daya kasih saying yang besar.

No. 1

Kriteria Penyesuaian terhadap penurunan fisik dan psikis

Nilai 0 1 2

Keterangan Tidak dapat menyesuaikan terhadap penurunan fisik dan psikis Kurang menyesuaikan terhadap penurunan fisik dan psikis Dapat menyesuaikan terhadap penurunan fisik dan psikis Tidak dapat menyesuaikan terhadap pensiun dan penurunan pendapatan Kurang dapat menyesuaikan terhadap pensiun dan penurunan pendapatan Dapat menyesuaikan terhadap pensiun dan penurunan pendapatan Tidak menemukan makna kehidupan Dapat menemukan makna kehidupan tapi tidak dapat mengerti makna kehidupan Menemukan dan mengerti makna kehidupan

Skor 2

2.

Penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan pendapatan

0 1

2 3. Menemukan makna kehidupan 0 1

23

4.

Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan

0 1

2 5. Menemukan kepuasan dalam hidup keluarga 0 1 2 6. Penyesuaian diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia 0

2 7. Menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia 0 1 2

Tidak dapat mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan Kurang dapat dapat mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan Dapat mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan Tidak menemukan kepuasan dalam hidup keluarga Kurang menemukan kepuasan dalam hidup keluarga Menemukan kepuasan dalam hidup keluarga Tidak dapat menyesuaikan diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia Kurang dapat menyesuaikan diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia Dapat menyesuaikan diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia Tidak dapat menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia Kurang menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia Dapat menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia

24

VI. ORIENTASI MASA DEPAN


Orientasi masa depan didefinisikan sebagai fenomena luas yang berhubungan dengan bagaimana seseorang berpikir dan bertingkah laku menuju masa depan yang digambarkan dalam Motivation, Planning dan Evaluation. Adanya orientasi masa depan akan mendorong seseorang untuk menigkatkan kualitas hidup seseorang (Quality of Life) a. Motivasi (Motivation) Menurut Nurmi, Motivation merujuk pada minat-minat yang dimiliki individu di masa depannya. Motivasi merupakan aspek utama pendorong perubahan kualitas hidup (quality of life). Selain itu unsur nilai (value) yang dimiliki oleh seseorang juga termasuk pada bagian motivation kemudian membentuk tujuan-tujuan pribadi (personal goals) yang ingin dicapai individu di masa mendatang. Dalam hal ini maka peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi sehingga kualitas hidup (quality of Life) dapat menjadi lebih baik. Menuurut Nuttin, Sebagian besar motif, keinginan dan tujuan yang ada diarahkan pada masa depan dalam upaya mengantisipasi kejadian di masa depan dan tujuan yang akan dicapainya. Motif, keinginan dan tujuan dipelajari dengan mempertanyakan harapan (hope) dan ketakutan (fear) yang dialami individu terhadap masa depan. Isi dari harapan dan ketakutan tersebut akan dianalisis berdasarkan topik yang mereka minati seperti pekerjaan, aktivitas di waktu luang, keluarga, kekayaan dan aktualisasi diri. Tahapan proses motivasi : INTEREST EXPLORATION GOAL SETTING COMMITMENT Menurut Hainz Heckhausen (1967) motivasi akan mendorong individu untuk meningkatkan dan mempertahankan kecakapan setinggi mungkin dalam segala aktivitas di mana suatu standar keunggulan digunakan sebagai suatu pembanding. Enam ciri individu yang memiliki motivasi yang akan mendorong seseorang tersebut untuk mendapatkan kualitas hidup (quality of life) yang lebih baik antara lain: a. b. Memiliki gambaran diri yang positif, optimis dan percaya diri Lebih memilih tugas yang tingkat kesukarannya lebih tinggi dibandingkan tugas yang biasa saja
25

c. d. e. f.

Berorientasi terhadap masa depan Sangat menghargai waktu Tabah dan tekun dalam mengerjakan tugas Lebih memilih seorang yang ahli sebagai mitra daripada orang yang simpati

b. Perencanaan (Planning) Perencanaan terdiri dari 3 fase : 1. Individu membuat suatu representasi dari tujuan dan konteks masa depan yang ingin dicapainya dengan didasarkan pada pengetahuan individu tentang konteks dan aktivitas masa depan. Representasi ini menjadi dasar bagi fase berikutnya dalam perencanaan. 2. Individu menyusun rencana, proyek, dan strategi untuk mencapai tujuan dengan konteks yang telah dipilih. 3. Rencana maupun strategi yang dibuat kemudian dilaksanakan dan dilihat tingkat realisasi dari perencanaan yang telah dibuat. Dengan kata lain setiap tahapan yang dijalankan setiap individu harus dicocokkan dengan tujuan awal sehingga tujuan dapat dicapai dengan cara sistematis.

c.

Evaluasi (Evaluation) Evaluasi (Evaluation) adalah proses di mana seseorang memikirkan kembali kemungkinan tercapainya tujuan-tujuan pribadi yang telah ia tentukan dan rencanarencana yang telah ia kembangkan. Evaluasi ini dibangun dalam 2 komponen yaitu caussal atribution dan affects. Caussal attribution merujuk pada sejumlah penyebab keberhasilan atau kegagalan dapat diantisipasi dalam mempengaruhi prilaku menuju masa depan sedangkan affects adalah respon emosi dan perasaan tertentu yang muncul dari apa yang telah diperoleh atau belum diperoleh namun telah dapat dibayangkan sebagai bentuk evaluasi. Menurut Meadows kualitas hidup (Quality of Life) merupakan suatu tingkat kesejahteraan. Tingkat kesejahteraan itu adalah pemenuhan kebutuhan dasar (ultimate means), pemenuhan keburuhan primer (intermediate means), pemenuhan kebutuhan sekunder (intermediate ends) dan pemenuhan kebutuhan tersier (ultimate ends). Dengan adanya peningkatan kesejahteraan maka dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut memiliki orientasi masa depan yang ingin dicapainya.
26

Score : Oma Azhar Apakah anda merasa kehidupan anda tidak ada harapan? Tidak 0 Apakah anda mempunyai semangat yang baik tiap hari? Ya 0 Apakah anda menikmati kegiatan yang anda lakukan sekarang ini? Ya 0 Apakah anda mempunyai ketakutan dalam hidup anda dalam menghadapi masa depan? Tidak 0 5. Apakah anada merasa keberhasilan anda saat ini mempengaruhi kehidupan anda di masa mendatang ini? Ya 0 6. Apakah anda merasa kegagalan anda saat ini mempengaruhi kehidupan anda di masa mendatang ini? Tidak 0 7. 8. Apakah anda merasa puas dengan kehidupan yang anda capai saat ini? Ya 0 Apakah anda merasa kehidupan orang lain lebih baik keadaannya dibandingkan kehidupan anda? Tidak 0 9. Apakah anda termasuk orang yang sangat menghargai waktu anda? Ya 0 10. Apakah anda termasuk orang yang positif, optimis, dan percaya diri? Ya 0

1. 2. 3. 4.

Hasil Score <5 6- 8 9-10 : tidak memiliki orientasi masa depan : kemungkinan memiliki orientasi masa depan : memiliki orientasi masa depan

27

VII. EKONOMI
Pada umumnya para lanjut usia adalah pensiunan atau mereka yang kurang produktif lagi. Secara ekonomis keadaan lanjut usia dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu golongan mantap, kurang mantap dan rawan (Trimarjono, 1997). Golongan mantap adalah para lanjut usia yang berpendidikan tinggi, sempat menikmati kedudukan/jabatan baik. Mapan pada usia produktif, sehingga pada usia lanjut dapat mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Pada golongan kurang mantap lanjut usia kurang berhasil mencapai kedudukan yang tinggi, tetapi sempat mengadakan investasi pada anak-anaknya, misalnya mengantar anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi, sehingga kelak akan dibantu oleh anak-anaknya. Sedangkan golongan rawan yaitu lanjut usia yang tidak mampu memberikan bekal yang cukup kepada anaknya sehingga ketika purna tugas datang akan mendatangkan kecemasan karena terancam kesejahteraan. Pemenuhan kebutuhan ekonomi dapat ditinjau dari pendapatan lanjut usia dan kesempatan kerja.

Pendapatan Pendapatan orang lanjut usia berasal dari berbagai sumber. Bagi mereka yang dulunya bekerja, mendapat penghasilan dari dana pensiun. Bagi lanjut usia yang sampai saat ini bekerja mendapat penghasilan dari gaji atau upah. Selain itu sumber keuangan yang lain adalah keuntungan, bisnis, sewa, investasi, sokongan dari pemerintah atau swasta, atau dari anak, kawan dan keluarga. Upah/gaji sebagai imbalan dari hasil kerja para lanjut usia tidaklah tinggi. Di perkotaan upah/gaji para lanjut usia yang bekerja relatif lebih tinggi daripada di perdesaan. Namun hal ini tidak berarti lanjut usia perkotaan lebih sejahtera daripada lanjut usia perdesaan. Adanya upah lanjut usia yang sangat minim jika tidak ditunjang dengan dukungan finansial dari pihak lain baik anggota keluarga maupun orang lain tidak dapat berharap bahwa lanjut usia tersebut akan hidup dalam kondisi yang menguntungkan. Tingkat pendidikan lanjut usia pada umumnya sangat rendah. Hal ini berpengaruh terhadap produktivitas kerja sehingga pendapatan yang diperoleh juga semakin kecil. Menurut Sedarmayanti (2001) pekerjaan yang disertai dengan pendidikan dan keterampilan akan mendorong kemajuan setiap usaha. Dengan kemajuan maka akan meningkatkan pendapatan, baik pendapatan individu, kelompok maupun pendapatan
28

Nasional. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber utama kinerja yang efektif yang mempengaruhi individu adalah kelemahan intelektual, kelemahan psikologis,

kelemahan fisik. Jadi jika lanjut usia dengan kondisi yang serba menurun bekerja sudah tidak efektif lagi ditinjau dari proses dan hasilnya.

Kesempatan Kerja Bekerja adalah suatu kegiatan jasmani atau rohani yang menghasilkan sesuatu (Sumarjo, 1997). Bekerja sering dikaitkan dengan penghasilan dan penghasilan sering dikaitkan dengan kebutuhan manusia. Untuk itu agar dapat tetap hidup manusia harus bekerja. Dengan bekerja orang akan dapat memberi makan dirinya dan keluarganya, dapat membeli sesuatu, dapat memenuhi kebutuhannya yang lain Saat ini ternyata di antara lanjut usia banyak yang tidak bekerja. Tingkat pengangguran lanjut usia relatif tinggi di daerah perkotaan, yaitu 2,2%. Dengan makin sempitnya kesempatan kerja maka kecenderungan pengangguran lanjut usia akan semakin banyak. Partisipasi angkatan kerja makin tinggi di perdesaan daripada di kota. Lanjut usia yang masih bekerja sebagian besar terserap dalam bidang pertanian. Di perkotaan lebih banyak yang bekerja di sektor perdagangan yaitu 38,4% sedangkan yang bekerja disektor pertanian 27,0%, sisanya berada disektor jasa 17,3%, industri 9,3% angkutan 3,3%, bangunan 2,8% dan sektor lainnya relatif kecil 1%. Seringkali mereka menemukan kenyataan bahwa sangat sedikit kesempatan kerja yang tersedia bagi mereka, walaupun mereka ingin bekerja dan sanggup untuk melakukan pekerjaan tersebut, karena pendidikan yang dimiliki lanjut usia tidak lagi terarah pada pasar tenaga kerja tidak dimasukkan dalam kebijakan-kebijakan pendidikan yang berkelanjutan. Pembinaan keterampilan dan pelatihan yang dilakukan terus-menerus hanya berlaku bagi orang-orang muda. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya lanjut usia bersaing di pasaran kerja, sehingga banyak orang lanjut usia yang tidak bekerja meskipun tenaganya masih kuat dan mereka masih berkeinginan untuk bekerja. Ada beberapa kondisi yang membatasi kesempatan kerja bagi pekerja lanjut usia (Hurlock, 1994) : (1) Wajib Pensiun, pemerintah dan sebagian besar industri/perusahaan mewajibkan pekerja pada usia tertentu untuk pensiun. Mereka tidak mau lagi merekrut pekerja yang mendekati usia wajib pensiun, karena waktu, tenaga dan biaya untuk melatih mereka sebelum bekerja relatif mahal. (2) Jika personalia perusahaan dijabat orang yang lebih muda, maka para lanjut usia sulit mendapatkan pekerjaan.
29

(3) Sikap sosial. Kepercayaan bahwa pekerja yang sudah tua mudah kena kecelakaan, karena kerja lamban, perlu dilatih agar menggunakan teknik-teknik modern merupakan penghalang utama bagi perusahaan untuk mempekerjakan orang lanjut usia. (4) Fluktuasi dalam Daur Usaha. Jika kondisi usaha suram maka lanjut usia yang pertama kali harus diberhentikan dan kemudian digantikan orang yang lebih muda apabila kondisi usaha sudah membaik.

Ketersediaan Dana Dana dapat diartikan sebagai uang yang dapat digunakan sewaktu-waktu dan bilamana perlu. Dana dapat berasal dari simpanan/tabungan uang di bank maupun institusi keuangan yang diperoleh semasa usia muda sampai menjelang usia tua. Selain tabungan, dana dapat diperoleh dari berbagai penghasilan, yaitu penghasilan utama (primer) dari hasil usaha atau pekerjaan dan penghasilan sampingan (sekunder), misalnya dari bunga tabungan atau hasil penanaman modal. Contoh Indeks Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi No. Kriteria 1 Sumber Pendapatan Nilai Keterangan Tidak bekerja, sokongan dari pemerintah atau 0 swasta, atau dari anak, kawan dan keluarga Keuntungan dari bisnis, sewa, dan investasi; gaji 1 yang berasal dari dana pensiun Bekerja mandiri mendapat penghasilan dari gaji 2 atau upah Tidak memiliki keinginan untuk bekerja 0 Memiliki keinginan untuk bekerja, namun tidak 1 ada kesempatan dan tidak mampu menyalurkan pikiran/gagasannya dikarenakan kesulitan bersaing dengan orang yang lebih muda Memiliki keinginan dan kesempatan bekerja, serta 2 mampu menyalurkan pikiran/gagasannya Tidak mampu mengatur keuangan sehari-hari 0 Mampu mengatur keuangan untuk belanja 1 keperluaan sehari-hari, namun perlu bantuan dalam urusan perbankan, pembelian jumlah besar Mampu mengatur masalah keuangan (anggaran 2 rumah tangga, membayar sewa, kwitansi, urusan bank) Skor 1

Kesempatan Kerja

Mengatur Keuangan

30

Dana Abadi

0 1

2 5 Keadaan Keuangan 0 1 2

Kemampuan Keuangan

0 1

Harta Kekayaan

0 1 2

Pendapatan per Bulan

0 1 2

Tidak memiliki investasi pribadi Memiliki investasi yang memadai untuk saat ini, namun tidak memiliki investasi pribadi jangka panjang Memiliki investasi jangka panjang yang dikelola sendiri, seperti asuransi, bunga deposito, dll. Hidup kekurangan bergantung dengan bantuan keuangan dari pihak lain Hidup berkecukupan dengan pendapatan yang berasal dari sisa tabungan sendiri Hidup berlebih dengan pendapatan yang berasal dari bekerja secara mandiri atau tabungan dalam jumlah besar Tidak mampu mebiayai keinginan dan kebutuhan hidupnya Tidak mampu memenuhi keinginan dengan biaya yang besar, hanya mampu membeli kebutuhan hidup sehari-hari Mampu memenuhikeinginan dengan biaya yang besar, misalnya memiliki biaya untuk bepergian keluar negeri, makan mewah , dll Tidak memiliki harta keuangan secara pribadi Memiiki semua kebutuhan dasar, seperti rumah yang sederhana, pakaian, dll Mampu memiliki barang mewah pribadi, seperti: properti mewah, mobil, dll Tidak memiliki pendapatan Penghasilan di bawah pendapatan per kapita di daerahnya Penghasilan di atas pendapatan per kapita di daerahnya 12

JUMLAH

16

Penilaian: 12 16 : Mandiri di bidang ekonomi 7 11 46 03 : Ketergantungan ringan di bidang ekonomi : Ketergantungan sedang di bidang ekonomi : Ketergantungan berat di bidang ekonomi

31

Kesimpulan Kualitas perekonomian bagi lansia tidak hanya dipengaruhi oleh berapa besar pendapatan atau jumlah uang yang dimilikinya, namun sebagian besar dipengaruhi oleh bagaimana cara pengelolaan sumber keuangan yang dimiliki bagi pemenuhan kebutuhan hidup di usia lanjut.

32

VIII. MASALAH KELUARGA


Masalah (problem) P, adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota (individu) keluarga. Penyebab (etiologi) E, adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu kepada 5 (lima) tugas keluarga. Tanda (sign) S, adalah sekumpulan data subyektif dan obyektif yang diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak yang mendukung masalah dan penyebab.

Tipologi diagnosa keperawatan terdapat 3 (tiga): Diagnosa Aktual Diagnosa Resiko / Resiko Tinggi Diagnosa Potensial / Wellness

DIAGNOSA AKTUAL Adalah masalah keperawatan yang sedang dialami keluarga & memerlukan bantuan perawat dengan cepat.

RESIKO / RESTI Adalah masalah keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda untuk menjadi masalah keparawatan actual dapat terjadi dengan cepat apabila tidak segara mendapat bantuan / ditangani.

POTENSIAL / WELLNESS Adalah suatu keadaan sejahtera dari keluarga ketika keluarga telah mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya & mempunyai sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.

CONTOH 1. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur khususnya pada Ny. W keluarga Tn. S yang b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan yang nyaman untuk istirahat dan tidur. 2. Perubahan peran menjadi orang tua tunggal (single parent) pada Tn. M yang b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah peran orang tua tunggal setelah istrinya meninggal. 1. Resiko terjadinya serangan ulang yang berbahaya khususnya pada lansia Ny. P keluarga Tn. N yang b/d ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas) yang dekat dengan tinggal keluarga. 2. Resiko tinggi gangguan perkembangan balita khususnya pada An. U yang b/d ketidakmampuan keluarga melakukan stimulasi pada balita. 1. Potensial peningkatan kesejahteraan khususnya Ny. S yang sedang hamil pada keluarga Tn. B. 2. Potensial tumbuh kembang yang optimal bagi anak khususnya An. Y pada keluargaTn. W.

33

Adalah Skoring dilakukan apabila rumusan diagnosis lebih dari satu, proses scoring menggunakan skala dirumuskan oleh Bailon & Maglaya (1978). Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosis, yang terdiri dari : Tentukan skornya sesuai dengan criteria yang telah dibuat. Skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot.

No. 1.

Kriteria Sifat Masalah Tidak/kurangsehat Ancaman kesehatan Krisis atau keadaan sejahtera Kemungkinan Masalah Dapat Diubah Dengan mudah Hanya sebagian Tidak dapat Potensi Masalah Dapat Dicegah Tinggi Cukup Rendah Menonjolnya Masalah Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani Masalah tidak dirasakan 3 2 1

Skor

Bobot 1

2.

2 2 1 0 3 2 1 2 1 0 1

3.

4.

Keterangan : Proses skoring dilakukan untuk diagnosa dengan ketentuan: Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat Selanjutnya skor dibagi dengan angka yang tertinggi dan dikalikan dengan bobot

Jumlah skor untuk setiap ktiteria, skor tertinggi adalah 5, sama dengan jumlah keseluruhan dari bobot

Kriteria yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas masalah : 1. Sifat masalah Sifat masalah dapat dikelompokkan kedalam tidak atau kurang sehat diberikan bobot yang lebih tinggi karena masalah tersebut memerlukan tindakan yang segera dan biasanya masalahnya dirasakan atau disadari oleh keluarga. Krisis atau
34

keadaan sejahtera diberikan yang paling sedikit atau rendah karena faktor-faktor kebudayaan biasanya dapat memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi masalahnya dengan baik.

2.

Kemungkinan masalah dapat dicegah Adalah kemungkinan berhasilnya mengurangi atau mencegah masalah jika ada tindakan (intervensi). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan skor kemungkinan masalah dapat dicegah : Pengetahuan dan teknologi serta tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani masalah Sumber-sumber yang ada pada keluarga baik dalam bentuk fisik, keuangan atau tenaga Sumber-sumber dari keperawatan misalnya: dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan waktu Sumber-sumber di masyarakat misalnya: dalam bentuk fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dukungan sosial masyarakat

3.

Potensi masalah dapat dicegah Adalah sifat dan beratnya masalah yang akan timbul yang dapat dikurangi atau dicegah. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah : Kepelikan dari masalah Yaitu berkaitan dengan beratnya penyakit atau masalah, prognosa penyakit atau kemungkinan merubah masalah. Lamanya masalah Hal ini berkaitan dengan jangka waktu terjadinya masalah tersebut. Biasanya lamanya masalah mempunyai dukungan langsung dengan potensi masalah bila dicegah. Adanya kelompok high risk atau kelompok yang peka atau rawan Adanya kelompok atau individu tersebut pada keluarga akan menambah potensi masalah bila dicegah

4.

Menonjolnya masalah Adalah merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah tentang beratnya masalah serta mendeksaknya masalah untuk diatasi. Hal yang perlu diperhatikan
35

dalam memberikan skor pada kriteria ini adalah perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga tersebut melihat masalah. Dalam hal ini jika keluarga menyadari masalah dan merasa perlu untuk menangani segera maka harus diberikan skor yang tinggi. Contoh Prioritas : Resiko terjatuh (terpeleset) pada lansia yang tinggal di keluarga Tn. A yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menyediakan lingkungan yang aman bagi lansia.
No. 1. Kriteria Sifat masalah Skala : Ancaman kesehatan Kemungkinan masalah dapat diubah Skala : Mudah Potensial masalah untuk dicegah Skala : Cukup Menonjolnya masalah Skala : Masalah tidak dirasakan Total Skor Skor 2/3 X 1 = 2/3 Pembenaran Bila keadaan tersebut tidak segera diatasi akan membahayakan lansia yang tinggal bersama keluarga, karena lansia setiap hari dirumah tanpa pengawasan Penyediaan sarana yang murah dan mudah didapat oleh keluarga (misal; sandal karet) Keluarga mempunyai kesibukan yang cukup tinggi, tetapi merawat orang tua yang telah lansia merupakan penghormatan & pengabdian anak yang perlu dilakukan. Keluarga merasa keadaan tersebut telah berlangsung lama dari tidak pernah ada kejadian yang mengakibatkan lansia mengalami suatu cidera (terjatuh) dirumah akibat lantai yang licin. 3 1/3

2.

2/2 X 2 = 2

3.

2/3 X 1 = 2/3

4.

0/2 X 1 = 0

Rencana tindakan pada keluarga meliputi : 1. Menstimulasi kesadaran / penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan, dengan cara; memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan keluarga, mendorong sikap emosi untuk mendukung upaya kesehatan. 2. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara; mengidentifikasi konsekuensi bila tidak melakukan tindakan, mengidentifikasi sumber yang dimiliki keluarga, diskusi tentang tipe tindakan. 3. Memberikan kepercayaan diri selama merawat anggota keluarga yang sakit, dengan cara; demonstrasi, menggunakan alat dan fasilitas dirumah, mengawasi keluarga melakukan perawatan. 4. 5. Membantu keluarga untuk memelihara (memodifikasi) lingkungan. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada disekitar.
36

IX. KESEHATAN
Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari harapan hidup penduduknya. Demikian juga Indonesia sebagai suatu negara berkembang, dengan perkembangan yang cukup baik, makin tinggi harapan hidupnya diproyeksikan dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2000. GBHN dalam rumusan mengenai usia lanjut menyatakan bahwa: Dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan makin panjangnya usia harapan hidup sebagai akibat kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan selama ini, maka mereka yang memiliki pengalaman, keahlian dan kearifan perlu diberi kesempatan untuk berperan dalam pembangunan. Kesejahteraan penduduk usia lanjut yang karena kondisi fisik dan/atau mentalnya tidak memungkinkan lagi untuk berperan dalam pembangunan, perlu mendapatkan perhatian khususnya dari pemerintah dan masyarakat. Untuk memperpanjang angka usia harapan hidup para lanjut usia, berbagai upaya dalam meningkatkan kesehatan sangat diperlukan. Sedangkan untuk mencapai tingkat kesehatan yang baik pada usia lanjut diperlukan upaya pencegahan penyakit dan penjagaan kesehatan yang dari segi ilmiah bisa dimasukkan dalam kategori ilmu gerontologi preventif atau geriatri preventif. Yang penting adalah bahwa harus diketahui bahwa konsep kesehatan pada usia lanjut yang agak berbeda dengan konsep kesehatan pada populasi lain. pada populasi usia lanjut ini terdapat pengertian status/ kapasitas fungsional yang dimanifestasikan dengan AHS (=aktivitas hidup sehari-hari=activity of daily living), masalah kesehatan utama yang sering dikeluhkan oleh penderita lanjut usia (sindroma geriatrik) dan penyakit. Status/ kapasitas fungsional adalah keadaan lansia sebagai akibat dari interaksi antara fungsi kesehatan fisik, psikologik dan sosial-ekonomi (religius spiritual). Interaksi dari ke-3 komponen tersebut menggambarkan keadaan fungsional organ dan/atau tubuh secara keseluruhan, yang dapat dimengerti, merupakan gambaran kesehatan secara luas pada usia lanjut. Status fungsional ini pada lansia menunjukkan apakah seorang lansia sebagai individu masih dapat melakukan fungsinya sehari-hari. Manifestasi status fungsional ini secara praktis diperiksa dengan menilai kemampuan hidup sehari-harinya (=KHS=ADL). Untuk itu diperlukan sebuah asesmen yang dapat memberikan gambaran mengenai status fungsional seorang lanjut usia.

37

Pelaksanaan fungsi fisik dan psikis lanjut usia dapat dibagi beberapa jenis, yaitu: 1. Aktivitas hidup sehari-hari (Activity Daily Living / ADL), yang hanya memerlukan kemampuan tubuh untuk berfungsi sederhana, misalnya bangun dari tempat tidur, berpakaian, ke kamar mandi/WC. 2. Aktivitas hidup sehari-hari instrumental (Instrumental ADL / IADL), yang selain memerlukan kemampuan dasar, juga memerlukan berbagai koordinasi kemampuan otot, susunan saraf yang lebih rumit, juga kemampuan berbagai organ kognitif lain. 3. Kemampuan mental dan kognitif, terutama menyangkut fungsi intelek, memori lama dan memori tentang hal-hal yang baru saja terjadi.

Keadaan sosio-ekonomi para lanjut usia umumnya akan makin menurun dengan bertambahnya usia dan akan lebih bergantung pada orang lain, yaitu keluarga, badanbadan sosial (LSM), pemerintah dan sebagainya. Keluarga (anak-anak) masih merupakan tempat berlindung yang paling disukai oleh lansia ini. Sampai sekarang penelitian dan observasi tak menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa anak/keluarga segan untuk melakukan hal ini. Menempatkan orang lansia di panti werda masih merupakan alternatif terakhir. Asesmen geriatri belum bisa dikatakan lengkap tanpa melakukan asesmen terhadap lingkungan yang cukup penting untuk dapat menentukan kemampuan berfungsi seorang lansia. Pelaksanaan asesmen lingkungan ini sebenarnya dapat dilaksanakan di mana saja dengan menggunakan form yang telah tersedia, akan tetapi yang paling baik adalah melaksanakannya di rumah penderita. Selain menanyakan berbagai hal mengenai keadaan rumah, si penanya dapat dengan objektif melihat keadaan rumah dan lingkungannya. Adanya hambatan, halangan bagi mobilitas lansia, keadaan penerangan di kamar mandi dan lain sebagainya. Dari berbagai asesmen baik dari aspek fisik, psikologik, maupun sosio-ekonomi, dapat dibuat asesmen sederhana yang kira-kira dapat mencakup gambaran mengenai kesehatan lansia, seperti pada tabel di bawah ini.

No. 1.

Pertanyaan Ada/tidak gangguan penglihatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dengan melakukan tes baca koran atau dengan tes Snellen pada kedua mata. (tidak ada gangguan sama sekali = skor 0, sangat mengganggu = skor 5)

Skor (0 5)

38

2.

Ada/tidak gangguan pendengaran yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dengan melakukan tes bisikan kata pada telinga kanan dan kiri. (tidak ada gangguan sama sekali = skor 0, sangat mengganggu = skor 5)

3.

Fungsi anggota atas, dengan tes jabat tangan dan meminta klien untuk mengangkat tangan di belakang kepala (bergantian, kanan-kiri). (berfungsi sangat baik = skor 0, tidak berfungsi sama sekali = skor 5)

4.

Fungsi anggota bawah, dengan meminta klien bangkit dari duduk dan berjalan. (berfungsi sangat baik = skor 0, tidak berfungsi sama sekali = skor 5) Fungsi aktivitas hidup sehari-hari (ADL), tiap poin nilainya 0 2. Mandi Transfer Berpakaian Kebersihan Ke toilet Makan Menyiapkan makanan Mengatur keuangan Mengatur pengobatan Menggunakan telepon # Nilai 0 = mandiri, 1 = perlu bantuan, 2 = bergantung total pada orang lain # Total nilai 0 = skor 0, 1-4 = skor 1, 5-8 = skor 2, 9-12 = skor 3, 13-15 = skor 4, 16-20 = skor 5 Fungsi instrumental aktivitas hidup sehari-hari (IADL), nilai tiap poin 0 2. Menggunakan telepon Berbelanja Menyiapkan makanan Mengurus rumah Mencuci pakaian Mengadakan transportasi Tanggung jawab pengobatan Mengatur keuangan # Total nilai 0 = skor 0, 1-3 = skor 1, 4-6 = skor 2, 7-9 = skor 3, 10-12 = skor 4, 13-16 = skor 5

5.

6.

7.

Tentang kontinensia, ditanyakan seberapa baik klien dapat mengontrol BAK

39

dan/atau BAB-nya. (mengontrol dengan sangat baik = skor 0, sama sekali tidak dapat mengontrol = skor 5) 8. Status gizi klien dilaksanakan dengan mengukur TB/BB melalui IMT

Skor = 0 Normoweight Skor = 1 Underweight Skor = 2 Overweight Skor = 3 Obesitas grade I Skor = 4 Obesitas grade II Skor = 5 Obesitas grade III
9. sedih dan tertekan.

: 18,5 22,9 : < 18,5 : 23,00 - 24,9 : 25 29,9 : 30 34,9 : 35

Kemungkinan depresi diperiksa dengan menanyakan apakah klien sering

(tidak pernah = skor 0, selalu depresi = skor 5) 10. Tentang dukungan sosial-ekonomi diperiksa dengan menanyakan ada atau tidak orang yang membantu biaya dan seberapa mampu bila klien sakit atau dalam keadaan darurat lain. (dukungan pasti ada = skor 0, tidak ada dukungan sama sekali = skor 5) 11. Status kognitif diperiksa dengan menyebutkan 6 objek dan diminta mengulang setelah 5 menit. (Benar 6 = skor 0, 5 = skor 1, 4 = skor 2, 3 = skor 3, 2 = skor 4, 1 = skor 5, 0 = skor 6) 12. Keterangan tentang lingkungan diperiksa dengan menanyakan ada tidaknya bahaya di sekitar rumah (anak tanggi tinggi, penerangan KM/WC) (selalu aman = skor 0, sangat tidak aman = skor 5) 13. Tentang kehidupan spiritual/keagamaan, ditanyakan seberapa puas klien dengan agama yang dianutnya saat ini. (sangat puas = skor 0, tidak puas = skor 6) TOTAL 65

Derajat Kesehatan : Sangat baik Cukup baik Kurang baik Sangat buruk = skor 0 10 = skor 11 25 = skor 26 45 = skor 46 65

40

Contoh Kasus : Oma N. S.


No. 1. Pertanyaan Ada/tidak gangguan penglihatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dengan melakukan tes baca koran atau dengan tes Snellen pada kedua mata. (tidak ada gangguan sama sekali = skor 0, sangat mengganggu = skor 5) 2. Ada/tidak gangguan pendengaran yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dengan melakukan tes bisikan kata pada telinga kanan dan kiri. (tidak ada gangguan sama sekali = skor 0, sangat mengganggu = skor 5) 3. Fungsi anggota atas, dengan tes jabat tangan dan meminta klien untuk mengangkat tangan di belakang kepala (bergantian, kanan-kiri). (berfungsi sangat baik = skor 0, tidak berfungsi sama sekali = skor 5) 4. Fungsi anggota bawah, dengan meminta klien bangkit dari duduk dan berjalan. (berfungsi sangat baik = skor 0, tidak berfungsi sama sekali = skor 5) 5. Fungsi aktivitas hidup sehari-hari (ADL), tiap poin nilainya 0 2. Mandi Transfer Berpakaian Kebersihan Ke toilet Makan Menyiapkan makanan Mengatur keuangan Mengatur pengobatan Menggunakan telepon 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 3 1 0 Skor (0 5) 0

# Nilai 0 = mandiri, 1 = perlu bantuan, 2 = bergantung total pada orang lain # Total nilai 0 = skor 0, 1-4 = skor 1, 5-8 = skor 2, 9-12 = skor 3, 13-15 = skor 4, 16-20 = skor 5 6. Fungsi instrumental aktivitas hidup sehari-hari (IADL), nilai tiap poin 0 2. Menggunakan telepon Berbelanja Menyiapkan makanan Mengurus rumah Mencuci pakaian Mengadakan transportasi 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 2

41

Tanggung jawab pengobatan Mengatur keuangan

0 1 2 0 1 2

# Total nilai 0 = skor 0, 1-3 = skor 1, 4-6 = skor 2, 7-9 = skor 3, 10-12 = skor 4, 13-16 = skor 5 7. Tentang kontinensia, ditanyakan seberapa baik klien dapat mengontrol BAK dan/atau BAB-nya. (mengontrol dengan sangat baik = skor 0, sama sekali tidak dapat mengontrol = skor 5) 8. Status gizi klien dilaksanakan dengan mengukur TB/BB melalui IMT 0 0

Skor = 0 Normoweight Skor = 1 Underweight Skor = 2 Overweight Skor = 3 Obesitas grade I Skor = 4 Obesitas grade II Skor = 5 Obesitas grade III
9. sedih dan tertekan.

: 18,5 22,9 : < 18,5 : 23,00 - 24,9 : 25 29,9 : 30 34,9 : 35


1

Kemungkinan depresi diperiksa dengan menanyakan apakah klien sering

(tidak pernah = skor 0, selalu depresi = skor 5) 10. Tentang dukungan sosial-ekonomi diperiksa dengan menanyakan ada atau tidak orang yang membantu biaya dan seberapa mampu bila klien sakit atau dalam keadaan darurat lain. (dukungan pasti ada = skor 0, tidak ada dukungan sama sekali = skor 5) 11. Status kognitif diperiksa dengan menyebutkan 6 objek dan diminta mengulang setelah 5 menit. (Benar 6 = skor 0, 5 = skor 1, 4 = skor 2, 3 = skor 3, 2 = skor 4, 1 = skor 5, 0 = skor 6) 12. Keterangan tentang lingkungan diperiksa dengan menanyakan ada tidaknya bahaya di sekitar rumah (anak tanggi tinggi, penerangan KM/WC) (selalu aman = skor 0, sangat tidak aman = skor 5) 13. Tentang kehidupan spiritual/keagamaan, ditanyakan seberapa puas klien dengan agama yang dianutnya saat ini. (sangat puas = skor 0, tidak puas = skor 6) TOTAL 7 0 0 0 0

Kesimpulan : Derajat kesehatan sangat baik

42