Anda di halaman 1dari 7

BAB VII PENGANTAR DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI LEMBAGA SOSIAL

Disusun untuk memenuhi matakuliah Pengantar Pendidikan yang dibimbing oleh Bapak Syaad Patmanthara

Oleh: PRANADYA BAGUS IMANSYAH 130533608126 OFFERING E


FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS NEGERI MALANG SEPTEMBER 2013

BAB VII FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI LEMBAGA SOSIAL Oleh Drs. Sanapiah Faisal

A. PRANATA SOSIAL DALAM MASYARAKAT Di dalam setiap masyarakat, baik sederhana maupun kompleks, terbelakang ataupun maju, padanya mesti terdapat pranata-pranata sosial (social institutions). Dalam hubungan ini, paling tidak mesti terdapat 5 macam pranata sosial, yaitu : (1) Pranata pendidikan, (2) Pranata ekonomi, (3) Pranata politik (4) Pranata teknologi, dan (5) Pranata moral atau etika. Masing-masing pranata mempunyai urusan dan fungsi essensial tertentu bagi kelangsungan hidup dan perkembangan masyarakat bersangkutan. Pranata pendidikan, inti urusannya terletak pada upaya sosialisasi, sehingga para warga masyarakat memiliki kemampuan dan ciri-ciri pribadi sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat bersangkutan. Pranata ekonomi inti urusannya terletak pada upaya pemenuhan kemakmuran hidup, sehingga warga masyarakat memperoleh kelayakan hidup secara ekonomis. Pranata politik, inti urusannya terletak pada upaya penciptaan integrasi dan stabilitas hidup di suatu masyarakat. Pranata teknologi, inti urusannya terletak pada upaya innovasi peralatan dan cara-cara penanganan usaha, sehingga tercipta efisiensi dan efektifitas kerja di dalam masyarakat. Sedangkan pranata etika atau moral, inti urusannya terletak pada upaya interprestasi tentang baik-buruknya penyikapan atau tindakan di dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Kelima pranata sosial tersebut saling berhubungan dan saling pengaruh

mempengaruhi, antara satu dengan lainnya. Katakanlah misalnya pranata pendidikan. Pranata ini berpengaruh dan dipengaruhi juga oleh pranata ekonomi, begitu pula dengan halnya dengan pranata-pranata sosial lainnya. Hubungan pengaruh timbal-balik tersebut, kalau digambarkan menjadi sebagai berikut :

B. SEKOLAH SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN FORMAL Sekolah sebagai pusat pendidikan formal, ia lahir dan berkembang dari pemikiran efisiensi dan efektivitas di dalam pemberian pendidikan kepada warga masyarakat. Lembaga pendidikan formal atau persekolahan, kelahiran dan pertumbuhan. Artinya, sekolah sebagai pusat pendidikan formal merupakan perangkat masyarakat yang diserahi kewajiban pemberian pendidikan. Perangkat ini ditata dan dikelola secara formal, mengikuti haluan yang pasti dan diberlakukan di masyarakat bersangkutan. Haluan tersebut tercermin di dalam falsafah dan tujuan, penjenjangan, kurikulum pengadministrasian serta pengelolaannya. Fungsi pemberian pendidikan, memang bukan sepenuhnya dan memang tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada lembaga persekolahan. Sebab pengalaman belajar pada dasarnya bisa diperoleh disepanjang hidup manusia, kapan pun dan dimana pun, termasuk juga lingkungan keluarga dan masyarakat itu sendiri. Soalnya sekarang adalah : Apakah fungsi khas dari sekolah sebagai pusat pendidikan formal? Di awal bagian ini telah dijelaskan, bahwa sekolah merupakan lembaga sosial yang tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Lembaga sosial formal tersebut, bisa disebut sebagai satu organinasi, yaitu terikat kepada tata aturan formal, berprogam dan bertarget atau bersasaran yang jelas, serta memiliki struktur kepemimpinan penyelenggaraan atau pengelolaan yang pasti atau resmi. Karena itu, fungsi sekolah terikat kepada target atau sasaran-sasaran yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri. Istilah masyarakat disini, di dalamnya termasuk orang tua, pemerintah, lembaga lembaga pemberi kerja dalam masyarakat, serta lembaga-lembaga sosial lainnya yang berkepentingan dengan hasil pendidikan. Itulah gambaran umum tentang pendidikan yang menjadi fungsi sekolah, yaitu untuk mencapai target atau sasaran-sasaran pendidikan bagi warga negara sebagaimana yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pada butir A juga telah dijelaskan, bahwa pendidikan mempunyai hubungan timbal balik dengan pranata-pranata sosial lainnya. Dalam hubungan ini peranan sekolah dituntut untuk tanggap dan fungsional terhadap kelangsungan dan perkembangan masyarakat lingkungannya. Kelangsungan dan perkembangan masyarakat tersebut, jelas dipengaruhi oleh pranata-pranata sosial didalamnya, termasuk pendidikan, ekonomi, politik, teknologi serta moral atau etika. Atas dasar itu, peranan yang juga seharusnya fungsional terhadap eksistensi dan pengembangan pranata-pranata sosial lainnya (ekonomi, politik, teknologi, serta moral atau etika). Hal ini menggambarkan bidang-bidang sasaran yang menjadi muara dari fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sekolah menanggung kewajiban fungsional terhadap kelangsungan dan perkembangan hidup masyarakat, yaitu dengan jalan penyiapan dan pembinaan warga masyarakat, sehingga memiliki kemampuan dan pribadi yang diharapkan.

Penjabaran dari fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan formal, terlihat pada tujuan institusional, yaitu tujuan kelembagaan pada masing-masing jenis dan tingkatan sekolah. Di Indonesia dikenal lembaga pendidikan formal Prasekolah, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah pertama dan Atas yang terdiri dari sekolah menengah umum dan kejuruan, dan perguruan tinggi dengan aneka ragam bidangnya. Tujuan institusional untuk masing-masing tingkat atau jenis pendidikan, pencapaiannya ditopang oleh tujuan-tujuan kulikuler dan tujuantujuan instruksional. Baik tujuan institusional, kulikuler maupun istruksional, kesemuanya musti diarahkan kepada pembentukan corak pribadi dan kemampuan warga masyarakat sebagaimana yang menjadi target atau sasaran pendidikan di masyarakat bersangkutan. Ini merupakan konsekuensi logis dari kedudukan sekolah sebagai lembaga sosial yang terorganisir secara formal. C. HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT Hubungan antara sekolah dengan masyarakat, paling tidak bisa dilihat dari dua segi, yaitu : (1) Sekolah sebagai patner dari masyarakat di dalam melakukan fungsi pendidikan, dan (2) Sekolah sebagai produser yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat lingkungannya. Uraian tentang hubungan sekolah dengan masyrakat ini, akan diteropong sesuai dengan kedua macam sudut pandangan diatas. Dilihat dari sudut pandang pertama, yaitu sekolah sebagai patner masyarakat, berarti kedua-duanya dilihat sebagai pusat-pusat pendidikan yang potensial. Sehubungan dengan sudut pandang tersebut, berikut ini diberikan dua gambar hubungan fungsional di antara keduanya. Pertama, fungsi pendidikan di sekolah, sedikit banyak dipengaruhi oleh corak pengalaman seseorang di lingkungan masyarakat. Pengalaman pada berbagai kelompok pergaulan di dalam masyarakat, jenis bacaan, tontonan serta aktivitas-aktivitas lainnya di tengah masyarakat, kesemuanya membawa pengaruh terhadap fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah terhadap diri seseorang. Kondusif tidaknya dan positif tidaknya pengalaman seseorang di lingkungan masyarakat, tak dapat dielakkan pengaruhnya terhadap keberhasilan fungsi pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, sekolah juga berkepentingan dengan perubahan lingkungan seseorang di tengah-tengah masyarakatnya, antara lain bisa dilakukan dengan melalui fungsi layanan konseling, penciptaan forum komunikasi serta lembaga-lembaga lainnya di masyarakat. Sebaliknya, partisipasi sadar seseorang untuk senantiasa belajar dari lingkungan masyarakat, sedikit banyak juga ditentukan oleh tugas-tugas belajar serta pengarahan belajar yang dilancarkan di sekolah.

Fungsi sekolah untuk seoptimal mungkin membelajarkan anak asuhannya yang tak terbatas pada dinding kelas, tetapi juga dari sumber-sember belajar di lingkungan masyarakatnya, hal tersebut akan secara langsung mencari partisipasi belajar seseorang di dalam lingkungan sosial dan budaya sekelilingnya. Kedua, fungsi pendidikan di sekolah, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh sedikit banyaknya serta fungsional tidaknya pendayagunaan sumber-sumber belajar di masyarakat. Kekayaan sumber-sumber belajar belajar di tengah masyarakat, seperti adanya ora-orang sumber, adanya perpustakaan umum, adanya museum, adanya kebun binatang, adanya peredaran koran atau majalah serta sumber-sumber berlajar lainnya, disamping berfungsi sebagai medium pendidikan bagi masyarakat luas, sumber-sumber tersebut juga bisa dan berfungsi pula untuk didayagunakan bagi fungsi pendidikan sistem persekolahan. Pendayagunaan sumber-sumber belajar di masyarakat bagi kepentingan fungsi pendidikan di sekolah, peningkatannya bisa dilakukan dengan jalan penentuan strategi belajar-mengajar yang mengaktifkan keterlibatan mental siswa di dalam mengkaji sumber-sumber belajar di lingkungannya. Sebaliknya, gerakan-gerakan pendidikan yang diorganisir di tengah-tengah masyarakat (baca: pendidikan non-formal), penuaian fungsi dari pendidikan di masyarakat itu juga bisa dan fungsional jika mendayagunakan sumber-sumber sekolah yang berupa guru, gedung serta perlengkapan lainnya. Dilihat dari sudut pandang kedua, yaitu hubungan sekolah sebagai produser di satu pihak dengan masyarakat sebagai pemesan atau konsumer di pihak lain, berarti keduanya memiliki ikatan hubungan rasional bedasarkan kebutuhan di kedua belah pihak. Sehubungan dengan sudut pandang tersebut, berikut ini diberikan tiga gambaran hubungan rasional diantara keduanya. Pertama, sekolah sebagai lembaga layanan terhadap kebutuhan pendidikan masyarakatnya, sudah tentu membawa konsekuensi-konsekuensi konseptual dan teknis, sehingga berkesuaian antara fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah dengan apaapa yang dibutuhkan masyarakatnya. Pengertian masyrakat disini, didalamnya termasuk komponen-komponen lainnya di masyarakat. Tujuan pendidikan, baik di tingkat tujuan instruksional, tujuan kurikuler maupun di tingkat instruksional, kesemuanya harus disesuaikan secara rasional dengan persyaratan-persyaratan kemampuan dan kepribadian yang secara ideal maupun praktis diciptakan atau dibutuhkan oleh masyarakat bersangkutan. Untuk itu diperlukan mekanisme informasi timbal balik yang rasional, obyektif dan realistis antara sekolah sebagai produser pendidikan dengan masyarakat yang konsumir luaran (output) persekolahan. Kedua, akurasi sasaran-sasaran atau target pendidikan yang ditangani oleh lembaga atau organisasi persekolahan, akan ditentukan pula oleh kejelasan formulasi kontrak antara sekolah (selaku pelayan ?) dengan masyarakat (selaku pemesan). Rumusan-rumusan umum tentang kebutuhan dan cita-cita pendidikan yang diinginkan masyarakat, sudah tentu memerlukan operasionalisasi dan spesifikasi, sehingga memungkinkan pengukuran terhadap

terpenuhi tidaknya fungsi layanan sekolah sebagaimana yang dibebankan oleh masyarakat. Di sinilah diperlukan pendekatan komprehensif di dalam pengembangan program dan kurikulum untuk masing-masing jenis dan jenjang persekolahan. Ketiga, penuaian fungsi sekolah sebagai pihak yang dikontrak untuk melayani pesanan-pesanan pendidikan oleh masyarakatnya, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh ikatan-ikatan obyektif di antara keduanya. Ikatan obyektif tersebut bisa berupa perhatian, penghargaan dan topangan-topangan tertentu seperti dana, fasilitas dan jaminan-jaminan obyektif lainnya yang memberikan makna penting terhadap eksistensi dan produk persekolahan. Hubungan antara sekolah dengan masyarakat yang mengontraknya, kalau tak disertai dengan jaminan dan ikatan-ikatan obyektif sebagaimana layaknya yang terjadi antara pihak pengontrak dengan pihak yang dikontrak, maka sedikit banyak akan berpengaruh pada penuaian fungsi lembaga persekolahan. Untuk itu, penggarapan pada tingkat sistemik yang berfungsi melembagakan kewajiban dan tanggungjawab masyarakat terhadap eksistensi serta produk persekolahan, dengan sendirinya menjadi sangat penting.

DAFTAR KEPUSTAKAAN.

1. Alex Inkeles and David H. Smith.; Becoming Modern, Harvard University Press, USA, 1976. 2. C. Lempelius; Bidang Pendidikan dan Masyarakat, berupa catatan teoritis, Prisma, nomor 3, April 1972. 3. Edgar Faure, et.all; Learning to be, the world of education today and tomorrow; Unesco, Harrap London, 1972. 4. Educational Planning in the Asian Region; Unesco, Bangkok, 1975. 5. ENM Gooding, Ph.D.; Mass education for illiterates, Techniques of Teaching, Pergamen Press, volume Three. 6. Eugene Stanley; Relating Primary Secondary Education to Development, Inadia, diperbanyak oleh Departemen P dan K RI. 1972. 7. Elmer Hanisonl The Foundation of Modern Education, Rinehart, USA, 1955. 8. F. Harbison and A Charles Myers; Education, Manpower and Economic Growth; McGrawHill, USA, 1964. 9. Havighurst R.I. and Neugarten BL: Society and Education, Allyn and Bacon; USA, 1964. 10. John Vay Zey; Education and economic development School and Society, Rouletdge & Kegan Paul, London, 1971. 11. Makato Aso and Ikuo Amono; Education and Japans Modernization, Ministry of Foreign Affairs, 1972. 12. Margaret Mead. Cultural Pattern and Technical Change, Unesco, New York, 1955. 13. Robert M. Bear; The Social function of education; The Macmillan Company, USA, 1973. 14. Ronald. M. Pavalko; Sociology of education; F.E. Peacock Publishers Inc., USA, 1976. 15. S. Sudarmadi; Pendidikan Seumur hidup dan pembangunan, Prisma, No. 3 April 1972. 16. W.P. Napitupulu; Pendidikan yang relevan kini dan esok, Gunung Mulia, Jakarta, 1974.

Kesimpulan, Semua aspek berkaitan dan saling mempengaruhi