Anda di halaman 1dari 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Menstruasi 1. Pengertian Menstruasi Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang wanita, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause. Menstruasi atau haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode ini penting dalam reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia pubertas dan menopause (Nining, 2008). Menstruasi pada wanita adalah suatu perdarahan rahim yang sifatnya fisiologik (normal) yang datangnya teratur setiap bulan (siklus haid) dan timbulnya perdarahan tersebut sebagai akibat perubahan hormonal yaitu estrogen dan progesterone Menstruasi bisa menjadi salah satu pertanda bahwa seorang perempuan sudah memasuki masa suburnya. Secara fisiologis menstruasi menandakan telah terbuangnya sel telur miliknya sudah matang.Pengeluaran menstruasi terdiri dari sebagian besar darah, sekitar 2/3. Sisanya 1/3 adalah lendir, pecahan-pecahan lapisan uterus, dan sel-sel dari lapisan vagina (Bobak, 2004).

2. Siklus Menstruasi Selama siklus menstruasi, endometrium mengalami perubahan histologis dan sitologis serial yang akan mencapai kulminasi dengan menstruasi bila tidak terjadi kehamilan. Perubahan siklik endometrium berdasarkan perubahan anatomis dan fungsional glandula, vaskular, dan komponen stroma endometrium. Siklus ini terjadi sebagai respon terhadap siklus hormonal ovarium. Secara morfologi, endometrium dibagi menjadi 2 bagian, yaitu lapisan basal pada 1/3 bawah dan lapisan fungsional pada 2/3 atas. Lapisan fungsional berfungsi untuk menyiapkan implantasi blastokis, oleh karena itu lapisan tersebut mengalami proliferasi, sekresi dan degenerasi. Lapisan basal berfungsi untuk regenerasi endometrium setelah menstruasi. Siklus endometrium ada 3 fase yaitu tahap proliferasi, fase sekresi dan fase menstruasi (Suheimi, 2008) yaitu : a. Fase Proliferatif (Follicular, estrogenic) Sebelum menstruasi selesai, telah dimulai restorasi epitel permukaan lapisan fungsional. Sel epitel dari kripta glandula dalam pada stratum basale akan mengalami migrasi melalui ujung glandula yang terbuka dan akan melapisi stroma yang masih telanjang hingga tertutup oleh lapisan epitel. Proses ini disertai regenerasi dari pembuluh darah dan sel stroma. Selama regenerasi hingga ovulasi, endometrium mengalami peningkatan ketebalan hingga beberapa kali lipat. Endometrium didapatkan beberapa gambaran mitosis di epitel,

glandula dan stroma. Arteri spiralis akan mengalami regenerasi hingga ke stratum fungsionalis dan bercabang-cabang dalam stroma. Pertumbuhan arteri spiralis hingga ke stratum fungsionalis maka endometrium tampak lebih sembab dan kaya vascular. Glandula memanjang dalam tunica propria dan awalnya berbentuk tubular secara bertahap akan lebih berkelok-kelok. Glikogen mulai mengalami akumulasi dalam epitel glandula dan adanya organela sitoplasmik seperti retikulum endoplasmik kasar dan aparatus Golgi yang mengindikasikan peningkatan kapasitas sintesis. Fase ini dipengaruhi hormon estrogen. b. Fase Sekretori (Luteal, Progestasional) Fase sekretori berlangsung mulai dari saat ovulasi dan pembentukan korpus luteum hingga menstruasi. Fase sekretori terutama dipengaruhi oleh progesteron bersama dengan estrogen yang relatif masih tinggi pada fase ini. Glandula pada fase sekretori sangat berkelok-kelok; lumen dari glandula mengalami dilatasi, sakulasi dan terisi produk sekretori glikogen yang akan berfungsi sebagai sumber nutrisi embrio. Akumulasi timbunan glikogen dalam jumlah besar dalam sitoplasma basal sel glandula, akan mendesak nuklei lebih ke apek sebelum inisiasi sekresi aktif. Edema stroma akan menyebabkan peningkatan ketebalan endometrium hingga 5 mm. Arteri spiralis akan mengalami elongasi dan konvolusi dalam tunika propria dan akan mencapai stroma yang

10

tampak lebih kaya sel dan padat. Progresi ini berlangung hingga hari ke 21 siklus menstruasi, pada saat itu endometrium mencapai status sekretori penuh dan dapat mendukung implantasi embrio. c. Fase Menstruasi Mendekati menstruasi, terjadi spasme arteri spiralis yang diperantarai prostaglandin yang akan menurunkan suplai darah ke stratum fungsionalis hingga 2/3 bagian. Sekresi lokal prostaglandin tersebut selain menyebabkan spasme dan nekrosis iskemik, juga akan menyebabkan kontraksi uterus. Nekrotik yang terjadi dengan adanya pelepasan kontriksi yang terjadi secara tiba-tiba akan menyebabkan ruptur pembuluh darah perifer dan darah keluar ke stroma dan lumen uterus. Setelah 3-4 hari maka seluruh lapisan fungsionalis akan mengalami nekrosis dan akan lepas. Selain itu terdapat siklus endometrium yang terdiri dari 4 fase (Manuaba, 1998) yaitu : a. Fase menstruasi atau dekuamasi Fase ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai perdarahan hanya stratum basale yang tinggal utuh. Darah haid mengandung darah vena dan arteri dengan sel-sel darah dalam hemolisis atau aglutinasi, sel-sel epitel dengan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi, sel-sel epitel dan struma yang

11

mengalami disintegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, cervik, dan kelenjar-kelenjar vulva. Fase ini berlangsung 3-4 hari. b. Fase regenerasi atau pasca haid Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir yang tumbuh dari sel-sel endometrium. Tahap ini telah mulai sejak tahap menstruasi dan berlangsung kurang lebih 4 hari. c. Fase Proliferasi Fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. Tahap ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid. Fase Proliferasi dapat dibagi atas 3 subtahap yaitu: 1) Fase proliferasi dini (early proliferation phase) Berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut kelenjar. 2) Fase proliferasi madya (mid proliferation phase) Berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan tinggi. Tampak adanya banyak mitosis dengan inti berbentuk telanjang (nake nukleus). 3) Fase proliferasi akhir (late proliferation) Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan

12

banyak mitosis. Inti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stoma bertumbuh aktif dan padat. d. Fase pra haid atau fase sekresi Fase ini dimulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke14 sampai ke-28. Pada tahap ini endometrium tebalnya tetap, bentuk kelenjar berubah menjadi panjang, berkeluk-keluk, dan mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Di dalam endimetrium tertimbun glikogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi. 3. Kelainan / Gangguan Menstruasi Kelainan menstruasi yang biasanya dijumpai dapat berupa kelainan siklus atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya perdarahan. Kelainan menstruasi tersebut antara lain : PMS, Amenorrhoe, Pseudomenorroe, Menstruasi praecox, Hypomenorhoe, Oligomenorrhoe, Hipermenorrhoe/Menorrhagia, Polimenorrhoe, Metrorrhagia, Dismenore. Ada beberapa faktor dalam menghadapi menstruasi yang mempengaruhi kesiapan mental anak perempuan menghadapi menstruasi awal antara lain (Suara merdeka, 2006): a. Menstruasi dikaitkan dengan perubahan fisik Anak perempuan yang mencapai kematangan lebih awal merasa malu karena perubahan tubuhnya yang melebihi temantemannya dan merasa tidak nyaman dengan perubahan tubuhnya. Memiliki perbedaan mencolok akan memberikan pengaruh buruk

13

terhadap cara seseorang memperlakukan orang lain dan bagaimana ia berfikir mengenai dirinya sendiri. b. Menstruasi dikaitkan dengan perubahan interaksi sosial Remaja perempuan sangat merisaukan penampilannya ketika mengalami menstruasi. Mereka takut kalau teman laki-lakinya mengetahui mereka sedang menstruasi dan kemudian mengejeknya. Mereka juga takut kalau orang lain mencium bau yang tidak sedap dari tubuhnya. Ketidaksenangan ini akan bertambah bila mereka harus menerangkan alasan-alasan untuk tidak beraktivitas dengan temantemannya (Suara merdeka, 2006). c. Menstruasi dikaitkan dengan ketidakpopuleran dan ketidakbebasan beraktivitas Hetherington dan Parke (2003) menyatakan bahwa remaja perempuan yang lambat matang (late maturating girl) menjadi lebih bisa bersosialisasi (sociable) dan populer dibandingkan dengan yang cepat matang. Remaja perempuan yang lebih cepat matang sering merasa terganggu dan merasa minder dengan keadaan tubuhnya sehingga membuat dia tidak selincah teman-teman sebayanya yang lain dalam beraktivitas. Hal ini yang menyebabkan mereka kurang bisa bersosialisasi lagi dan tidak lagi menjadi tempat rujukan bermain karena ketidak merdeka, 2006). populerannya diantara teman-temannya (Suara

14

Morison mengatakan bahwa menstruasi sebagai peristiwa yang baru akan menimbulkan kesulitan-kesulitan tertentu yang mengurangi kebebasan bergerak dan biasanya tidak menyenangkan bagi remaja yang umumnya memiliki aktivitas yang banyak (Suara merdeka, 2006). d. Menstruasi dikaitkan dengan perubahan psikologis dan reputasi yang jelek Penelitian Pierwan, Thombora, Fitria dan Cahyani (2000) didapatkan hasil bahwa beberapa responden merasa lebih cepat marah, mudah merasa tersinggung dan tidak merasa bebas. Selain itu adapula yang mengaku lebih sabar meskipun kemudian teman-temannya yang belum menstruasi yang ada dalam kelompok itu menyanggah dan menilai bahwa temannya itu menjadi lebih cepat marah dan tersinggung setelah mendapat menstruasi (Sulistyaningsih, 2004). Kematangan itu terjadi pada perempuan melebihi teman-teman sebayanya yang lain maka seiring dengan timbulnya perasaan-

perasaan senang terhadap lawan jenis akan membuat risih temantemannya dan bahkan ia akan memperoleh sebutan sebagai seorang yang tertarik dengan lawan jenisnya. Keadaan ini seringkali menimbulkan pengaruh buruk pada anak perempuan ini, baik masa puber maupun dikemudian hari (Laurier, 2006).

15

e. Menstruasi dikaitkan dengan tuntutan masyarakat Menstruasi dikaitkan dengan kedewasaan dan keharusan untuk melakukan berbagai kewajiban yang telah ada sebagai tuntutan masyarakat. Seringkali anak merasa takut dan cemas untuk menjadi dewasa. Sebenarnya ketakutan untuk berubah dan meninggalkan aktivitas lain sesuai tuntutan perkembangan tidak hanya dialami oleh anak saja tetapi oleh hampir dalam seluruh tahap perkembangan manusia dari mulai masa kanak-kanak sampai usia dewasa dalam menghadapi menopouse dan masa usia lanjut.

B. Dismenore 1. Pengertian Dismenore adalah nyeri di perut bawah, menyebar kedaerah pinggang, dan paha. Nyeri ini timbul tidak lama sebelumnya atau bersamasama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. sebelum dan selama menstruasi. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare dan sebagainya (Wiknjosastro, 2007). 2. Etiologi Menurut Wiknjosastro (2007) mengatakan banyak teori dikemukan untuk untuk menerangkan penyebab dismenore primer, tetapi tetap belum jelas penyebabnya hingga saat ini.menurutnya ada beberapa factor memegang peranan sebagai penyebab dismenore primer, antara lain: factor

16

kejiwaan, konstitusi, obstruksi kanalis servikalis, endokrin dan alergi. namun penelitian dalam tahun-tahun terakhir ini menunjukan adanya pengaruh zat kimia dalam tubuh yang disebut prostaglandin. Prostaglandin berperan dalam mengatur berbagai proses dalam tubuh, termasuk aktifitas usus, perubahan diameter pembuluh darah dan kontraksi uterus. Para ahli berpendapat, bila pada keadaan tertentu, dimana kadar prostaglandin berlebihan, maka kontraksi uterus (rahim) akan bertambah. Hal ini menyebabkan terjadi nyeri yang hebat yang disebut dismenore. Beredarnya prostaglandin yang berlebihan ke seluruh tubuh akan berakibat meningkatkan aktifitas usus besar, prostaglandin inilah yang menimbulkan gejala nyeri kepala, pusing, rasa panas dan dingin pada muka, diare serta mual yang mengeringi nyeri pada waktu haid (Widjajanto, 2005). 3. Patofisiologi Selama fase luteal dan menstruasi, prostaglandin f2 alfa (PGF2a), disekresi. Pelepasan PGF2a yang berlebihan meningkatkan amplitude dan frekuensi kontraksi uterus dan menyebabakan vasospasme arteiol uterus, sehingga mengakibatkan iskemia dan kram abdomen bawah yang bersifat siklik. Respon sistemik terhadap PGF2a meliputi nyeri punggung, pengeluaran keringat, gejala saluran cerna (anoreksia, mual, muntah, dan diare) dan gejala system syaraf pusat meliputi : pusing, sinkop, nyeri kepala dan kosentrasi buruk (Wiknjosastro,2007).

17

4. Gejala klinis Gejala dismenore yang paling umum adalah nyeri mirip kram di bagian bawah perut yang menyebar kedaerah pinggang, dan paha Gejala terkait lainya adalah muntah, sakit kepala, cemas, kelelahan, diare, pusing, dan kembung atau perut terasa penuh, bahkan beberapa wanita mengalami nyeri sebelum menstruasi dimulai dan bisa berlangsung hingga beberapah hari (Wiknjosastro,2007). 5. Jenis - jenis dismenore Smeltzer (2002) menyebutkan bahwa dismenore ada dua yaitu primer dan sekunder. a. Dismenore primer Dismenore primer adalah menstruasi yang sangat nyeri, tanpa patologi pelvis yang dapat diidentifikasi, dapat terjadi pada waktu menarche atau segera setelahnya. Dismenore primer ditandai oleh nyeri kram yang dimulai sebelum atau setelah awitan aliran menstruasidan berlanjut selama 48 jam hingga 72 jam. Pemeriksaan pelvis menunjukan temuan yang normal. Dismenore diduga sebagai akibat dari pembentukan prostaglandin yang berlebihan, yang menyebabkan uterus untuk berkontraksi secara berlebihan dan juga mengakibatkan vasospasme arteriolar. Bertambahnya usia wanita, rasa nyeri cenderung menurun dan akhirnya hilang sama sekala setelah melahirkan anak (Smeltzer, 2002).

18

b. Dismenore sekunder Dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan yang jelas pada organ pelvis, Kelainan anatomis ini kemungkinan adalah haid disertai infeksi, endometriosis, mioma uteri, polip endometrial, stenosis serviks, dan penggunaan IUD. Pasein dismenore sekunder sering mengalami nyeri yang terjadi beberapa hari sebelum haid disertai ovulasi dan kadangkala pada saat melakukan hubungan seksual (Smeltzer, 2002). 6. Derajat Dismenore Riyanto (2007) menyebutkan bahwa derajat dismenore ada tiga yaitu derajat 0-3 yaitu : a. Derajat 0 Tanpa rasa nyeri dan aktivitas sehari-hari tak terpengaruhi. b. Derajat 1 Nyeri ringan dan memerlukan obat rasa nyeri, namun aktifitas jarang terpengaruh. c. Derajat 2 Nyeri sedang dan tergolong dengan obat penghilang nyeri namun aktifitas sehari-hari terganggu. d. Derajat 3 Nyeri sangat hebat dan tak berkurang walaupun telah menggunakan obat dan tidak dapat bekerja, kasus ini segera ditangani oleh dokter.

19

Sementara itu menurut Potter (2006), karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien sering kali diminta untuk mendiskripsikan nyeri sebagai nyeri ringan, sedang atau parah. Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskripsi Verbal Deskriptor Scale (VSD) merupakan sebuah garis yang terdiri dari 3-5 kata. Pendeskripsi ini dirangking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Alat VDS ini memungkinkan klien untuk mendeskripsi nyeri. Skala penilaian numeric (Numerical Rating Scale, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Adapun skala intensitas nyeri menurut Potter (2005) adalah sebagai berikut :

10

Gambar 2.1 Skala intensitas nyeri numerik 0-10

0 Tidak nyeri

3 Menderita

4 Sangat Menderita

5 Menyiksa

Nyeri ringan Nyeri sedang

Gambar 2.2 Skala Intensitas nyeri deskriptif sederhana

Tidak nyeri

Nyeri yang tidak tertahankan

Gambar 2.3. Skala Analog Visual (VAS)

20

7. Penatalaksanaan Ada 2 tindakan untuk mengurangi nyeri dismenore yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Prosedur yang tepat secara farmakologi dapat dilakukan dengan penggunaan obat anti peradangan non-steroid (NSAID). Prosedur non farmakologi dapat dilakukan dengan relaksasi, hipnoterapi, kompres air hangat, olah raga teratur, dan distraksi yakni dengan cara mengalihkan perhatian melalui kegiatan membaca, menonton televisi, mendengarkan radio (Arifin, 2008).

C. Teknik relaksasi napas dalam 1. Pengertian Teknik relaksasi napas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat ( menahan

insipirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningklatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer & Bare, 2002). 2. Tujuan Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi napas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

21

3. Prosedur teknik relaksasi napas dalam Bentuk pernapasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernapasan diafragma yang mengacu pada pendataran kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibtakan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi. Adapun langkahlangkah teknik relaksasi napas dalam adalah sbb : a. Ciptakan lingkungan yang tenang b. Usahakan tetap rileks dan tenang c. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3 d. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks e. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali f. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan g. Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks h. Usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil terpejam i. Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri j. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang k. Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istrahat singkat setiap 5 kali. l. Bila nyeri menjadi hebat, seseorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat (Priharjo, 2002).

22

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri Teknik relaksasi napas dalam dapat dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu : 1. Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic. 2. Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002) 3 Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat Relaksasi melibatkan system otot dan respirasi dan tidak membutukan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu. Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi system syaraf otonom yang merupakan bagian dari system syaraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu. Pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti bradikinin, prostaglandin dan substansi p, akan merangsang syaraf simpatis sehingga menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan kecepatan

23

metabolisme otot yang menimbulakan pengiriman implus nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipresepsikan sebagai nyeri.

E. Penelitian Terkait Penelitian tentang nyeri diketahui bahwa ada perbedaan secara bermakna intensitas nyeri kala I persalinan normal sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi napas dalam. Nyeri persalinan kala I yang dirasakan ibu sebelum pemberian teknik relaksasi napas dalam yaitu tidak nyaman (skala nyeri 2) 13,3%, menderita (skala nyeri 3) 16,7%, sangat menderita (skala 4) 40% dan menyiksa (skala nyeri 5) 30%, setelah pemberian teknik relaksasi napas dalam yaitu kondisi tidak nyaman (skala nyeri 2) 6,7%, menderita (skala nyeri 3) 5,3%, sangat menderita skala nyeri 4) 26,7%, dan menyiksa (sklanyeri 5) 13,3% (Irawati, 2003). Relaksasi napas dalam diketahui mempunyai hubungan yang bermakna antara pemberian teknik relaksasi napas dalam dengan penurunan intensitas nyeri yang dirasakan ibu pada pemasangan kateter menetap program secsio sesaria. Penelitian yang dilakukan terhadap 30 sampel yang dilakukan teknik relaksasi napas dalam 22 sampel mengeluh nyeri sedang dan 8 sampel mengeluh nyeri berat, sedangkan pada 30 sampel yang tidak dilakukan teknik relaksasi napas dalam 9 sampel mengeluh nyeri sedang dan 21 sampel mengeluh nyeri berat (Yustini, 2002).

24

F. Kerangka Teori Menstruasi

Pelepasan Prostaglandin

Nyeri Dismenore Penatalaksanaan Non farmakologi : - Relaksasi nafas dalam - Hipnoterapi - Kompres air hangat - Olah raga teratur - Distraksi Perubahan intensitas nyeri

Faktor yang mempengaruhi: - Kejiwaan - Konstitusi - Obstruksi kanalis servikal - Faktor endokrin - Alergi Berdasarkan kuesioner McGill nyeri dibagi: 0 : Tidak nyeri 1 : Nyeri ringan 2 : Nyeri sedang 3 : Menderita 4 : Sangat menderita 5 : Menyiksa

Gambar 2.4. Sumber: Smeltzer & Bare, 2002. Keterangan : : Diteliti : Tidak Diteliti

G. Kerangka Konsep Variabel Independent Sebelum dilakukan Teknik relaksasi nafas dalam Nyeri dismenore Setelah dilakukan Teknik relaksasi nafas dalam Gambar 2.5. Kerangka Konsep Variabel Dependen

25

H. Variabel penelitian Sesuai dengan kerangka konsep penelitian, variabel yang diteliti dikelompokan menjadi variabel terikat dan variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah teknik relaksasi nafas dalam dan variabel terikatnya adalah skala nyeri dismenore.

I. Hipotesis penelitian Ha : Ada perbedaan nyeri dismenore sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam pada mahasiswi S-1 keperawatan Unimus. Ho: Tidak ada perbedaan nyeri dismenore sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam pada mahasiswi S-1 keperawatan Unimus.