Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MANAJEMEN LINGKUNGAN PERKOTAAN KONDISI INFRASTRUKTUR PERKOTAAN SECARA UMUM

DISUSUN OLEH KELOMPOK 3 Anindita Sari Nadia Morica M. Arief Setiawan Adhriani Puji Ismail Aulia 210801101200 21080110120023 21080110140 210801101200 2108011014

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan infrastruktur, seperti jalan, pelabuhan, bandara, sistem penyediaan tenaga listrik, irigasi, sistem penyediaan air bersih, sanitasi, dsb, memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan tingkat perkembangan suatu wilayah, yang antara lain dicirikan oleh laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa studi terdahulu bahwa daerah yang mempunyai kelengkapan sistem infrastruktur yang lebih baik, mempunyai tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik pula, dibandingkan dengan daerah yang mempunyai kelengkapan infrastruktur yang terbatas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyediaan infrastruktur merupakan factor kunci dalam mendukung pembangunan nasional. Keadaan infrastruktur Indonesia secara keseluruhan jika dibandingkan dengan negara- negara tetangga dapat dianggap belum maju. Kondisi kelistrikan Indonesia juga menempati nomor 2 dari bawah. Secara umum, dapat dikatakan bahwa dari sisi infrastruktur. Indonesia merupakan negara ASEAN yang kurang menarik bagi investasi. Semenjak krisis ekonomi porsi pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur juga memiliki kecenderungan menurun. Meskipun sejak desentralisasi pemerintah pusat sudah memindahkan beberapa tanggung jawab ke pemerintah daerah namun pengeluaran infrastruktur pada tingkat pemda juga tidak meningkat banyak untuk menggantikan penurunan pengeluaran pemerintah pusat. Hal ini kurang mendukung bagi iklim Investasi usaha karena pembangunan infrastukrur baru otomatis menurun demikian juga dana untuk memelihara infrastruktur yang sudah ada. Dapat dilihat juga terjadi ketimpangan pembangunan infrastruktur antara Kawasan barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), secara umum diketahui bahwa infrastruktur di Pulau Jawa lebih maju jika dibandingkan dengan infrastruktur di luar Pulau Jawa. Misalnya panjang jalan di Indonesia hampir mencapai sepertiganya berada si Pulau Jawa, 80% kapasitas listrik nasional berada di sistem Jawa-Madura-Bali(JAMALI). Demikian pula sambungan telepon dan kapasitas air bersih yang lebih dari setengahnya berada di Jawa- Bali. Ketimpangan dapat dilihat dari besarnya investasi yang berada di pulau Jawa, padahal luasnya hanya mencakup 7%

dari seluruh wilayah indonesia. Pulau jawa merupakan penyumbang PDB terbesar indonesia menghasilkan lebih dari 60% total output Indonesia(BPS, 2007).

1.2 Perumusan Masalah 1. Apakah infrastruktur perkotaan secara umum? 2. Bagaimana kondisi infrastruktur perkotaan secara umum?

1.3 Perumusan Tujuan 1. Mengetahui apa itu infrastruktur perkotaan secra umum. 2. Mengetahui bagaimana kondisi infrastruktur secara umum

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Umum Sarana dan prasarana fisik, atau sering disebut dengan infrastuktur, merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem pelayanan masyarakat. Berbagai fasilitas fisik merupakan hal yang vital guna mendukung gerak roda pemerintahan, perekonomian, industri dan berbagai kegiatan sosial di masyarakat dan pemerintahan. Mulai dari sistem energi, transportasi jalan raya, bangunan-bangunan perkantoran dan sekolah, hingga telekomunikasi, rumah peribadatan dan jaringan layanan air bersih, kesemuanya itu memerlukan adanya dukungan infrastruktur yang handal. Demikian luasnya cakupan layanan masyarakat tersebut, maka peran infrastruktur dalam mendukung dinamika suatu negara menjadi sangatlah penting artinya. Adalah suatu hal yang umum bila kita mengkaitkan pertumbuhan eknomi dan pembangunan suatu negara dengan pertumbuhan infrastruktur di negara tersebut. Saat ini Infrastruktur merupakan salah satu bidang yang akhir akhir ini mendapat sorotan luas masyarakat, terutama terkait dengan kejadian longsornya beberapa bagian ruas jalan tol Cipularang, yang oleh sebagian pihak dikategorikan sebagai salah satu bentuk kegagalan bangunan. Dalam konteks pembangunan infrastruktur kejadian semacam itu merupakan bagian dari resiko yang harus diantisipasi baik pada tahap pra-konstruksi,

konstruksi maupun pasca-konstruksi.

2.2 Kondisi Infrastruktur Perkotaan Berbagai laporan badan dunia seperti World Bank, menekankan peran infrastruktur dalam pembangunan negara, dan bagaimana negara-negara di dunia melakukan investasi di sector tersebut (Fay dan Yeppes 2003). Sejarah juga menjelaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu bangsa tercermin dari ketersediaan dan kualitas aset infrastrukturnya (Hudson et al.

1997). Sebagai faktor penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat, fasilitas infrastruktur nasional secara umum berada dalam kondisi yang buruk. Di berbagai surat kabar sangat sering dijumpai artikel-artikel yang menggambarkan kondisi buruk fasilitas infrastruktur nasional: kebocoran sistem saluran air bersih, pemadaman aliran listrik, kelongsoran tempat pembuangan akhir sampah perkotaan, polusi air limbah perkotaan, polusi badan air, keruntuhan jembatan, kondisi buruk jalan raya, dan lain sebagainya. Kesemua masalah itu mencerminkan semakin rendahnya kualitas layanan infrastruktur publik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Masalah yang berkaitan dengan infrastruktur publik bukan hanya terjadi di negaranegara yang sedang berkembang seperti Indonesia, tetapi juga merupakan permasalahan nasionalSeminar Nasional Pembangunan Infrastruktur Untuk Semua Kerjasama Tiga Universitas UI-UGM-ITB utama yang tengah dihadapi oleh negara-negara maju di Amerika Utara dan Eropa, serta Asia Utara. Pada tahun 1988 the National Council on Public Works Improvement, komisi yang ditetapkan kongres Amerika, menerbitkan buku berjudul Fragile Foundation: A Report on Americas Public Works, yang memberikan nilai C cukup untuk kondisi berbagai fasilitas infrastruktur publik di Amerika Serikat (NCPWI, 1988). Lebih dari satu dekade sejak laporan tersebut ASCE telah melakukan tiga kali penilaian, yang secara umum menggambarkan semakin turunnya kualitas infrastruktur publik tersebut. Beberapa fasilitas infrastruktur, seperti jalan raya, air bersih dan air kotor bahkan memperoleh penilaian Dsangat buruk. Menurut perkiraan, diperlukan anggaran hingga hingga US$ 2,2 triliun untuk lima tahun mendatang guna membawa kondisi infrastruktur nasional menjadi baik (ASCE, 2009). Di tengah anggaran negara yang terus menerus dihimpit defisit yang semakin membesar, Negara sekuat Amerika Serikat pun tidak akan mudah mengatasinya. Apa yang terjadi di Amerika Serikat tersebut tentunya dapat terjadi pula di Indonesia apabila tidak diantisipasi dan disikapi dengan bijaksana sejak dini. 2.2.1 Infrastruktur Jalan Jalan merupakan infrastruktur yang sangat dibutuhkan bagi transportasi darat. Fungsi jalan adalah sebagai penghubung satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dalam konteks pembangunan pertanian dan ekonomi, jaringan jalan sangat dibutuhkan untuk kelancaran arus faktor produksi maupun pemasaran hasil. Jalan merupakan infrastruktur penting untuk memperlancar distribusi barang dan faktor produksi antar daerah serta meningkatkan mobilitas penduduk. Besarnya mobilitas ekonomi tahun 2002 yang melalui jaringan jalan nasional dan

propinsi

rata-

rata

per

hari

dapat

mencapai

sekitar

201

juta

kendaraan-kilometer

(Bappenas,2003). Secara umum kondisi infrastruktur jalan di Indonesia masih sangat lambat dibandingkan dengan di negara-negara tetangga lainnya (ISEI, 2005). Pembangunan jalan tol di Indonesia telah dimulai sejak 26 tahun lalu, namun total panjang jalan tol yang telah dibangun hingga saat ini hanya 570 kilometer (km). Padahal di Malaysia yang baru memula pembangunan jalan tol 20 tahun lalu total panjang jalan tol yang berhasil dibangun sudah mencapai 1.230 km. Di China, panjang jalan tol mencapai lebih dari 100.000 km dan jalan arteri sekitar 1,7 juta km dengan tingkat kepadatan jalan 1.384 km/1 juta penduduk. Sementara itu, panjang jaringan jalan non-tol di Indonesia telah mencapai 310.029 km (Tabel 3-2). Sejak Pra-Pelita hingga tahun 2002, panjang jalan kabupaten mencapai lebih dari 50% dan total panjang jalan, Sedangkan panjang jalan propinsi rata- rata 18,96% dari total panjang jalan non-tol, sisanya merupakan jalan nasional dan jalan kota.
Periode Status Jalan Nasional(Km) Propinsi(Km) Kabupaten(Km) Pra-Pelita Sampai dengan 1968 9.780 21.116 48.717 Tabel 2-1 Pelita I (1969-1974) 10.167 22.682 49.134 Pelita II (1974-1979) 10.945 25.878 58.159 Panjang Jaringan Jalan27.500 (non-tol) di Indonesia Pelita III (1979-1984) 11.500 81.696 Pelita IV (1984-1989) 12.594 33.398 113.631 Pelita V (1989-1994) 17.800 32.250 168.600 Pelita VI (1994-1999) 26.853 39.746 172.030 Propenas (2002) 26.271 39.746 223.318 Kota(Km) 2.314 2.314 6.276 10.080 11.080 25.514 26.102 21.526 Total(Km) 81.927 84.297 101.258 130.776 170.703 244.164 264.730 310.029

Sumber : Ditjen Praswil, 2002.

Penyebaran pembangunan jaringan jalan juga tidak merata, cenderung lebih terpusat di Pulau Sumatera dan Jawa. Walaupun pembangunan jalan terus dilakukan, namun selama ini pembangunan tersebut lebih terfokus di kawasan barat Indonesia. Hal ini terlihat dari total panjang jalan yang dibangun di Sumatera dan Jawa mencapai lebih dari 60% dari total panjang secara keseluruhan (Tabel 3-3). Selain rendahnya tingkat pembangunan jaringan jalan di Indonesia Bagian Timur, sistem jaringan jalan yang merupakan lintas utama di masing-masing pulau di timur Indonesia, terutama Kalimantan dan Sulawesi belum terhubungkan. Jika hal ini terus berlanjut maka hal ini dapat mengganggu kegiatan investasi di sektor ekonomi dan lainnya yang memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Wilayah Sumatera Jawa Kalimantan Panjang Bali & Nusa Tenggara Sulawesi Maluku & Papua Total

Status Jalan Nasional Propinsi Kabupaten 7.622 14.654 75.470 4.373 8.498 Tabel 2-260.445 4.804 3.557 20.560 Jaringan Jalan Menurut Wilayah 2.069 4.724 20.507di 5.235 4.631 32.028 2.167 2.848 14.308 26.270 38.912 223.318

Kota 7.106 9.714 1.307 Indonesia, 1.020 2.019 360 21.526

Total Km 104.852 83.030 30.228 2000 (km) 28.320 43.913 19.683 310.026

% 33,8 26,8 9,8 9,1 14,2 6,3 100

Sumber : Ditjen Praswil, 2000

Selain masalah pentingnya pembangunan jaringan jalan, pemeliharan jaringan jalan yang sudah ada juga merupakan hal yang penting. Kurangnya pemeliharaan mengakibatkan kondisi jalan mudah mengalami kerusakan. Pada tahun 2004, dari total panjang jalan 348.148 km (Tabel 3-4), kondisi jalan yang rusak mencapai 19% dari 34.629 km jalan nasional, 37% dari 46.499 km jalan provinsi, 56% dari 240.946 km jalan kabupaten, dan 4% dari 25.518 km jalan kota. Di samping itu terdapat jalan tol sepanjang 606 km yang secara keseluruhan dalam kondisi baik. Kondisi sistem jaringan jalan pada tahun 2004 yang meliputi jalan nasional, provinsi, kabupaten, kota maupun jalan tol yang dalam kondisi baik dan sedang mencapai 54% dari seluruh jaringan jalan yang ada. Jenis Jalan Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Jalan Kota Jalan Tol Total Kondisi Jalan (%) Baik Sedang Rusak Ringan 34.629 37,4 7,7 Tabel 2-3 44,0 46.499 27,5 35,3 14,4 Kerusakan Jaringan Jalan Nasional (2002-2004) 240.946 17,0 26,4 21,9 25.518 9,0 87,0 4,0 606 100,0 0,0 0,0 348.148 20,0 33,7 18,2 Panjang (Km) Rusak Berat 10,9 22,7 34,7 0,0 0,0 28,1

Sumber : Ditjen Praswil 2004 Dapat dikatakan secara umum, keadaan infrastruktur jalan di Indonesia masih kurang

mendukung untuk menarik investasi, baik dari segi panjang jalan maupun keadaan jalan.

2.2.3 Infrastruktur Listrik Tenaga listrik adalah salah satu sumber energi vital yang diperlukan sebagai sarana pendukung produksi atau kehidupan sehari-hari, dan tenaga listrik memegang peranan penting dalam upaya mendukung pembangunan nasional secara luas baik ekonomi, sosial maupun budaya. Dapat dilihat bahwa dari tahun-ke-tahun konsumsi listrik di Indonesia terus meningkat, baik dari jumlah pelanggan rumah tangga, kelompok usaha dan lainnya. Namun peningkatan konsumsi seharusnya didukung oleh penambahan kapasitas produksi listrik dari pembangunan pembangkit- pembangkit listrik baru. Sehingga pemadaman akibat kekurangan pasokan listrik dapat dikurangi. Hal tersebut sudah mulai terasa di berbagai pulau di Indonesia, terutama di luar Jawa sering terjadi pemadaman total (black out), contohnya di Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan dan Lampung. Di Pulau Jawa sendiri-pun juga sering terjadi pemadaman listrik secara bergilir. Sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia, pertumbuhan kelistrikan di negara ini bisadikatakan bertumbuh dengan baik, karena pembangunan infrastruktur kelistrikan telah mampu mengimbangi kebutuhan tenaga listrik yang mencapai pertumbuhan rata-rata 13% per tahun. Dalam kurun waktu 1969-1993 kapasitas pembangkit tenaga listrik nasional meningkat tajam dari 542 MW menjadi 13.569 MW atau meningkat lebih dari 24 kali lipat. Investasi dalam pembangunan fasilitas ketenaga dengan kapasitas sebesar 7.996 MW, jaringan transmisi sepanjang 6.350 km, gardu induk dengan kapasitas 16.816 MVA, serta berbagai jaringan tegangan listrik lainnya (Kadin, 2006). Walaupun terjadi perkembangan infrastruktur kelistrikan, namun listrik di Indonesia dirasakan masih jauh dari mencukupi. Akses terhadap listrik masih sulit, diperkirakan sekitar 90 juta penduduk, yang diantaranya 90% adalah masyarakat miskin tidak mendapat akses listrik. Selain itu, biaya sambungan di daerah pedesaan 33% lebih mahal daripada di perkotaan. Biaya sambungan yang mahal membuat tingkat pemasangan listrik di Indonesia termasuk rendah di Asia. Tingkat elektrikfikasi nasional di Indonesia telah mencapai 53% namun masih berada di bawah rata-rata dunia sebesar 74% (Tabel 2-3). Pelaksanaan pembangunan jaringan kelistrikan di Indonesia juga masih belum merata. Pembangunan jaringan listrik lebih banyak dilakukan di wilayah Jawa- Bali. Pada tahun 2003, sekitar 80% dari total pelanggan PLN berada di pulau Jawa dan Bali.

Listrik Tingkat Kualitas Listrik Transmisi & distribusi Negara 2-3 1-7) Elektrifikasi (%) Tabel(skala yang putus Austalia 100 6,4 7,6 Kinerja Infrastruktur Listrik Indonesia dan beberapa Negara Lainnya India 43 2,7 26,6 Filipina 80 3,1 14,0 Sri Langka 62 2,9 19,9 Thailand 82 5,3 7,9 Indonesia 53 3,4 11,3 China 98 4,6 6,9 Vietnam 75 3,0 13,4 Malaysia 96 5,7 8,0 Singapura 100 6,6 4,2 Korea 100 6,2 5,2 Mongolia 90 ... ...

Sumber : World Bank (2004)

Sejak tahun 1997 hingga 2004 relatif tidak ada penambahan kapasitas baik pada system Jamali (Jawa- Madura-Bali) maupun sistem diluar Jamali. Sehingga saat ini Indonesia mengalami kekurangan pasokan listrik. Dikarenakan listrik merupakan kebutuhan dasar yang penting dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas rumah tangga dan bisnis mengandalkan listrik sebagai sumber energi. Tak heran bila permintaan terhadap listrik terus meningkat. Pembangunan sarana dan prasarana tenaga listrik memerlukan investasi yang sangat tinggi, mengingat investasi pada bidang ini bersifat padat modal, teknologi dengan resiko investasi tinggi, serta memerlukan persiapan dan konstruksi yang lama. Oleh karena itu penambahan kapasitas listrik nasional jadi terhambat terutama setelah krisis ekonomi melanda Indonesia.

2.2.4 Infrastruktur Air Bersih Air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di dunia ini. Kebutuhan akan air oleh manusia menyangkut dua hal, yaitu air untuk kehidupan kita sebagai makhluk hayati dan air untuk kehidupan kita sebagai manusia yang berbudaya.1 Kebutuhan akan air diperlukan dalam produksi bahan makanan kita, seperti untuk tanaman padi, sayur-sayuran,holitkultura, kehidupan ikan, ternak dan sebagainya. Usaha masyarakat untuk mendapatkan air bersih sangat beragam, dari mulai menggunakan pompa, sumur, mata air sampai membeli air dari

pedagang keliling. Meskipun begitu, di Indonesia, akses terhadap air bersih masih dinilai rendah bila dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut laporan Bank Dunia, terdapat 78% dari populasi Indonesia yang memiliki akses air bersih (World Bank, 2002).

Berdasarkan Tabel 2-3 diperoleh bahwa hampir 80 % penduduk Indonesia telah mampu mengakses pada sumber air bersih. Namun masyarakat Indonesia yang memperoleh perbaikan sanitasi baru mencapai 63,5 % penduduk saja pada tahun 2002. Artinya sampai saat ini masalah sanitasi atau penyehatan lingkungan belum mendapatkan perhatian dari masyarakat maupun dari pemerintah. Padahal penyehatan lingkungan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perbaikan terhadap air bersih. Persentase Akses Masyarakat terhadap perbaikan
sanitasi 1990 Tabel 2-447 Jumlah masyarakat yang mendapat akses terhadap perbaikan sanitasi (%) Masyarakat Terhadap Air Akses Jumah masyarakat yang mendapat 71 akses perbaikan terhadap air (%) Tahun 2000 55

2002 63,5 78

dan Sanitasi
78

Sumber : UNDP, 2004 dan BPS, 2003

Berdasarkan data tabel di atas, berarti ada sekitar 22% dari populasi yang tidak memiliki akses terhadap air yang layak dikonsumsi (Tabel 2-4), sedangkan akses terhadap air bersih sangatlah dibutuhkan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta dari pemerintah untuk membantu masyarakat dalam mendapatkan air bersih melalui pengadaan seluran pipa oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Jumlah PDAM di seluruh Indonesia mencapai 294 buah pada tahun 2002, dengan total kapasitas produksi sebesar 1.095.374 m3/detik, terjadi peningkatan sebesar 97.04% jika dibandingkan pada tahun 1994 yang sebesar 1.063.432 2.2.5 Infrastruktur Telekomunikasi Penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia memang telah mengalami pembangunan yang cukup pesat. Awal pembangunan telekomunikasi diawali tahun 1882, yaitu saat didirikannya sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Namun perkembangan infrastruktur telekomunikasi saat ini dirasa masih kurang, melihat luas dan jumlah populasi Indonesia yang sangat besar. Khususnya ketimpangan penyelenggaraan infrastruktur telekomunikasi yang sebagian besar akses masih

dinikmati oleh warga perkotaan.

Telepon STB (Sambungan Telepon Pengguna Tabel 2-5 Tetap Bergerak) Internet Brunei 25,27 40,06 10,23 Perbandingkan Persentase Teledensitas Infrastruktur Kamboja 0,26 2,76 0,22 IndonesiaTelekomunikasi 3,65 5,52 3,77 dan Informatika Indonesia dengan Negara ASEAN Laos 1,12 1,00 0,27 Malaysia 18,16 44,20 34,53 Myanmar 0,72 0,13 0,05 Filipina 4,17 19,13 4,40 Singapura 46,29 79,56 50,43 Thailand 10,55 26,04 9,64 Vietnam 5,41 3,37 4,30 Rata- rata Asia 13,64 15,03 6,74 Negara

Personal Computer 7,76 0,2 1,19 (2003) 0,33 14,68 0,51 2,77 62,20 3,98 0,98 4,45

Sumber : International Telecommunications Union (ITU), 2004

Berdasarkan tabel diatas, sambungan telepon tetap di Indonesia masih sangat rendah yaitu 3,65%, yang secara sederhana dapat diartikan bahwa dari 100 penduduk Indonesia, dan ini masih tergolonng rendah di bandingkan dengan negara lainnya.

2.2.6 Infrastruktur Kesehatan Salah satu faktor dalam membangun sumber daya manusia adalah kesehatan, pada tingkat mikro yaitu pada tingkat individual dan keluarga, kesehatan adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih enerjik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan yang tinggi. Selanjutnya, anak yang sehat mempunyai kemampuan belajar lebih baik dan akan tumbuh menjadi dewasa yang lebih terdidik. Dalam keluarga yang sehat, pendidikan anak cenderung untuk tidak terputus jika dibandingkan dengan keluarga yang tidak sehat. Pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan ekonomi jangka panjang. Beberapa pengalaman sejarah besar membuktikan berhasilnya tinggal landas ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang cepat didukung oleh terobosan penting di

bidang kesehatan masyarakat, pemberantasan penyakit dan peningkatan gizi. Dalam upaya mendukung peningkatan kesehatan masyarakat maka dibutuhkan juga infrastruktur kesehatan yang memadai. Infrastruktur kesehatan dalam skripsi ini diwakili oleh ketersediaan puskesmas dan rumah sakit dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan dasar, yaitu Puskesmas yang diperkuat juga dengan Puskesmas Pembantu dan Puskesmas keliling, telah didirikan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, jumlah puskesmas di seluruh Indonesia adalah 7.550 unit, Puskesmas Pembantu 22.002 unit dan Puskesmas keliling 6.132 unit. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2001 yang sebanyak 7.277 unit Puskesmas dan 21.587 unit Puskesmas Pembantu. Fasilitas pelayanan kesehatan lainnya adalah Rumah Sakit yang terdapat di hampir semua kabupaten/kota, Untuk rumah sakit terdapat sebanyak 1.215 RS, terdiri dari 420 RS milik pemerintah, 605 RS milik swasta, 78 RS milik BUMN dan 112 RS milik TNI & Polri, dengan jumlah seluruh tempat tidur sebanyak 130.214 tempat tidur. Meskipun fasilitas pelayanan kesehatan dasar tersebut terdapat di semua kecamatan, namun pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan masih menjadi kendala. Fasilitas ini belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat, terutama terkait dengan biaya dan jarak transportasi.

2.2.7 Infrastruktur Pendidikan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya. Pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa serta member kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2003 menyimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Kenaikan 1 % rata-rata pendidikan tenaga kerja menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB) atau ekonomi riil per kapita sebesar 0,29 % dengan asumsi yang lain tetap (ceteris paribus). Sementara itu kenaikan 1 % rata-rata jam kerja tenaga kerja akan menaikkan PDB sebesar 0,18 % dan kenaikan 1 % rata-rata pendidikan penduduk akan menaikkan PDB sebesar 0,19 %. Di lain pihak kenaikan 1% modal fisik per tenaga kerja hanya menaikkan PDB sebesar 0,04 %. Dari informasi di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak saja dipengaruhi oleh meningkatnya pendidikan tenaga kerja tetapi juga oleh pendidikan penduduk secara keseluruhan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan taraf pendidikan penduduk Indonesia termasuk pelaksanaan Wajib Belajar

Pendidikan DasarSembilan Tahun yang diharapkan tuntas pada tahun 2008 yang dapat diukur antara lain dengan peningkatan angka partisipasi kasar jenjang pendidikan sekolah menengah pertama dan yang sederajat menjadi 95 %. Namun demikian sampai dengan tahun 2003 belum seluruh rakyat dapat menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang telah menyelesaikan jenjang sekolah menengah pertama atau jenjang yang lebih tinggi baru mencapai 45,8 % dan rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 7,1 tahun. Dari pembahasan diatas, dapat dikatakan bahwa keadaan infrastruktur Indonesia dari segi kualitas maupun kualitas masih kurang baik. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang kurang merata juga membuat disparitas ekonomi dan sosial antar wilayah di Indonesia menjadi lebih besar. 2.3 Kondisi Kritis Infrastruktur Nasional Indonesia tercatat sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan status tersebut, faktor sarana dan prasarana (infrastruktur) untuk keterhubungan antar wilayah dan daerah merupakan harga mati dan mutlak tersedia. Bahkan tidak sebatas tersedia saja, kualitas infrastruktur pun harus terjamin. Alasannya, infrastruktur merupakan urat nadi dalam setiap kegiatan, terutama aktivitas ekonomi. Berbicara mengenai kondisi infrastruktur di Indonesia, seolah tidak ada habisnya. Ada saja keluhan publik atas kondisi sarana dan prasarana di dalam negeri, mulai dari kondisi jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, hingga sanitasi air bersih. Yang paling sederhana tentu keluhan atas kondisi jalan. Masalah infrastruktur juga selalu menghiasi berbagai diskusi dan seminar di kalangan akademis dan pelaku ekonomi. Tujuannya menemukan solusi dan langkah perbaikan yang bisa disampaikan ke pemerintah. Rendahnya kualitas dan kondisi infrastruktur kerap dijadikan kambing hitam atas beberapa persoalan bangsa, khususnya yang berkaitan dengan ekonomi, bisnis, dan iklim usaha. Tingginya harga bahan kebutuhan pokok di wilayah timur Indonesia, kerap dikaitkan dengan faktor terbatasnya infrastruktur yang menghambat arus barang. Infrastruktur juga dijadikan salah satu penyebab utama rendahnya minat investasi di luar pulau Jawa. Minimnya sarana dan prasarana menjadi bahan pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya. Turunnya daya saing Indonesia di antara negara lain, lagi-lagi disebabkan karena kondisi infrastruktur yang belum memadai dan berada jauh di bawah negara lain dalam satu kawasan.

Kualitas infrastruktur di Tanah Air juga dituding menjadi salah satu faktor yang menghambat akselerasi laju pertumbuhan ekonomi nasional. Selalu saja masalahnya pada sektor infrastruktur. Ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandi mengatakan, kondisi infrastruktur Indonesia sangat memprihatinkan dibandingkan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Di antara negara-negara se-Asia Tenggara, kualitas infrastruktur di Indonesia menjadi terendah kedua, hanya lebih baik dari Filipina, kata Eric di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam laporan World Economic Forum 2012-2013, kualitas infrastruktur Indonesia benar-benar berada di titik nadir. Infrastruktur Indonesia berada di urutan ke 92. Sementara Filipina berada di posisi 98 dan Malaysia berada di posisi 29. Singapura berada di posisi kedua dengan infrastruktur terbaik di Asia Tenggara. Dibanding laporan pada 20112012, ranking kualitas infrastruktur Indonesia menurun. Tahun lalu Indonesia ada di peringkat 82. Sementara Filipina saat itu masih di ranking 113 dan Malaysia berada di ranking 23. Singapura tetap di ranking 2.

1. Jalan rusak Oktober lalu, jalan di kawasan Cilincing Raya, Jakarta Utara ambles dan menimbulkan lubang menganga selebar 34 meter. Tidak hanya di Cilincing, jalan di pusat kota Jakarta pun bernasib sama. Pada September lalu, jalan yang berada tepat di wisma Sudirman menuju Thamrin mengalami kerusakan cukup parah karena ambles sedalam 50-70 cm. Kondisi jalan yang buruk mengakibatkan terjadinya kemacetan cukup panjang. Itu salah satu gambaran kondisi kritis jalan di ibu kota. Di daerah tentu lebih memprihatinkan. Data Kementerian Pekerjaan Umum menyebutkan, saat ini secara keseluruhan kondisi jalan rusak di Indonesia mencapai 3.800 kilometer atau 10 persen dari total panjang jalan nasional yang mencapai 38.500 kilometer. Hampir setiap wilayah di Indonesia, tidak terlepas dari persoalan jalan rusak. Tingkat kerusakan jalan terparah ada di wilayah III atau di Indonesia Timur. Sekitar 17,72 persen dari total panjang jalan di wilayah tersebut dinyatakan rusak. Tidak heran jika penduduk di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo merasa kurang diperhatikan pemerintah. Indikatornya sangat sederhana, kondisi jalan yang tidak layak. Total panjang jalan di enam provinsi tersebut mencapai 6.692,07 kilometer. Panjang jalan di Papua Barat mencapai

2.111,44 kilometer, Papua Barat 963,24 kilometer, Maluku 1.066,65 kilometer, Maluku Utara 511,89 kilometer, Nusa Tenggara Barat 632,17 kilometer, dan Nusa Tenggara Timur sepanjang 1.406,68 kilometer. Pemandangan dan kondisi serupa juga terjadi di wilayah I sepanjang Aceh hingga Lampung. Sekitar 11,84 persen dari total panjang jalan di wilayah ini, dinyatakan rusak. Sedangkan wilayah II yang meliputi Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, tingkat kerusakannya mencapai 7,97 persen dari total panjang jalan yang ada. Kerusakan jalan tidak hanya dinikmati warga di wilayah-wilayah tersebut. Warga di ibukota dan sekitarnya juga harus menerima kondisi jalan yang tidak sesuai harapan. Dari total panjang jalan nasional di Jabodetabek yang mencapai 420 kilometer, 15 kilometer dinyatakan dalam kondisi rusak. Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto mengakui, jalan di Indonesia belum sepenuhnya dalam kondisi mantap. Namun, kata dia, dari data yang dimilikinya, proporsi jalan rusak semakin minim. Pemerintah mengklaim kondisi jalan yang rusak ringan 0,8 persen dari keseluruhan jalan nasional. Sedangkan kondisi jalan yang masuk kategori rusak berat sebesar 9,2 persen dari panjang jalan nasional keseluruhan 38.500 kilometer.

2. Bandara Menjelang akhir Agustus lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan tiba-tiba membersihkan lantai bandara. Tepatnya di terminal keberangkatan 2F. Dari pengakuan salah seorang staf kementerian BUMN, Dahlan sering berkomentar mengenai kondisi lantai bandara yang kerap dikeluhkan pengguna jasa penerbangan. Aksi Dahlan tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Soekarno Hatta. Kondisi bandara tersebut juga sudah tidak nyaman lagi. Sebab, bandara internasional ini sudah sangat padat bahkan over load baik dari sisi penerbangan maupun penumpang. Bandara Soekarno Hatta tercatat menduduki peringkat ke 11 bandara tersibuk di dunia. Dengan jumlah pergerakan penumpang mencapai 51,5 juta pergerakan atau tumbuh 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, kondisi infrastruktur energi di bandara Soekarno Hatta juga cukup memprihatinkan. Beberapa kali bandara ini mati lampu. Untuk sekelas bandara internasional, mati lampu adalah hal yang cukup memalukan. Sedikit melirik ke belakang, Bandara Soekarno Hatta pernah mengalami pemadaman listrik dalam 4 bulan berturut-turut pada 2011. Berawal pada tanggal 21 Juli tahun 2011 listrik padam karena gardu induk Muara Karang terbakar, tanggal 6 Agustus karena kedipan listrik, tanggal 17 September

karena mesin listrik bandara mati, dan 1 Oktober padam karena kurangnya pasokan. Pada tahun ini kembali terjadi pemadaman listrik di Bandara Soekarno Hatta. Pemadaman berawal pada 25 April, di mana saat itu PLN wilayah Tangerang melakukan pemadaman. Pada 24 September pemadaman kembali terjadi di bandara terbesar di Indonesia itu. Terputusnya aliran listrik PLN ke Terminal 2 tersebut disebabkan adanya kebakaran di daerah Kosambi, Tangerang. Yang terbaru, Minggu (16/12), pasokan listrik Bandara Soekarno Hatta kembali terganggu. Akibatnya, sistem radar dan kelistrikan navigasi penerbangan di bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II itu kembali mati. Kejadian mati lampu juga dialami di pintu masuk utama wisatawan asing ke Indonesia. Gangguan kelistrikan terjadi di bandara Ngurah Rai Bali, pada akhir November lalu. Akibatnya, sejumlah layanan bandara internasional itu terganggu. Bandara Husein

Sastranegara punya cerita lain. Bandara yang terletak di Bandung itu sudah tidak mampu melayani secara maksimal. Sebab, fasilitas yang ada sudah memasuki level over kapasitas. Bandara yang hanya bisa menampung 1 juta penumpang per tahun itu dinilai perlu peningkatan fasilitas.

3. Jembatan Pertengahan Februari lalu, jembatan kayu yang membentang di atas sungai Cihideung, Ciampea, Bogor, Jawa Barat, tiba-tiba ambruk saat belasan orang sedang melintas di atasnya. Saat kejadian tersebut, sungai Cihideung memang sedang meluap akibat hujan deras di kawasan puncak Bogor. Jembatan kayu sendiri diduga sudah rapuh sehingga gampang amruk. Pada pertengahan tahun, tepatnya bulan Juni lalu, sebuah kapal tanker APC Aussie 1 menabrak jembatan enam yang menghubungkan Pulau Galang Kecil dengan Pulau Galang. Jembatan enam merupakan rangkaian dari enam jembatan yang menghubungkan Pulau Batam dan pulau-pulau kecil. Jembatan Enam sebenarnya bernama Jembatan Raja Kecil. Namun, masyarakat lebih mengenal dengan nama jembatan enam, sesuai urutan rangkaian jembatan. Jembatan terakhir itu memiliki panjang lebar tinggi 180 x 45 x 9,5 meter. Mantan Presiden BJ Habibie adalah perancang jembatan tersebut. Pada September lalu, jembatan gantung Lewi Dahu di Kali

Cikondang di Desa Cibaregbeg, Kecamatan Cibeber, Cianjur, Jabar ambruk. Ketika ambruk, tujuh siswa SD jatuh ke sungai. Cerita mengenai robohnya jembatan terus berlanjut. Akhir November lalu, dua sisi pylon atau tiang penyangga Jembatan Kartanegara, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ambruk ke Sungai Mahakam. Akibat kejadian tersebut, alur Sungai Mahakam otomatis tidak bisa dilewati kapal atau perahu karena ada kabel atau kawat utama jembatan yang diperkirakan jatuh membentang di Sungai Mahakam. Di penghujung tahun, atau bulan ini, setidaknya sudah ada dua kejadian jembatan yang ambruk. Jembatan penyeberangan di atas Sungai Malili di Dusun Patanda, Desa Wewangriu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan putus. Akibat kejadian tersebut puluhan orang tercebur ke sungai Malili. Kejadian lain, jembatan yang menghubungkan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dengan Kecamatan Bayah, Kabupaten Pandeglang, Banten terputus. Jembatan tersebut putus akibat diterjang arus Sungai Cikahuripan. Rangkuman kejadian-kejadian tersebut menggambarkan kualitas jembatan di dalam negeri. Bahkan, kondisi jembatan yang cukup memprihatinkan juga menjadi sorotan dunia. Beberapa media asing sempat menulis tentang jembatan indiana jones di Lebak, Banten. Kondisi jembatan gantung tersebut menarik perhatian media asing lantaran anak kecil harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan tersebut.

4. Pelabuhan Salah satu catatan laporan World Economic Forum adalah kondisi infrastruktur pelabuhan dalam negeri. Padahal, sebagai negara maritim, pelabuhan adalah salah satu urat nadi yang mutlak terjaga kualitasnya. Dengan kondisi geografis sebagai negara kepulauan, pergerakan arus barang dan jasa melalui laut termasuk pilihan yang cukup efektif. Di dunia internasional, 90 persen arus barang mengandalkan peran dan jasa angkutan laut. Bahkan untuk arus barang dari dan keluar Indonesia, hampir 100 persen melalui laut. Tidak heran jika pengusaha di Indonesia selalu berteriak manakala terjadi kemacetan dan penumpukan kendaraan di pelabuhan. Kemacetan panjang hampir selalu terjadi di Pelabuhan Merak. Penumpukan kendaraan ternyata ada hubungannya dengan pungutan liar. Pemerintah mengakui jika ada berbagai kendala dalam pelayanan penyeberangan di Selat Sunda yang menghubungkan Jawa dan Sumatera. Salah satunya banyaknya pungutan liar dan kurangnya kapal membuat antrean kendaraan terutama truk, semakin panjang.

Menteri Perhubungan E.E Mangindaan mengakui manajemen dalam pengangkutan tidak tertata dengan baik. Hal ini terbukti dari kapal yang beroperasi. Kapal yang berada di Bakaheuni tidak mau balik kembali ke Merak untuk mengangkut muatan. Selain itu, adanya pungutan liar yang dimanfaatkan sejumlah pegawai dalam antrean penyeberangan pulau Jawa Sumatera. Sebagai negara Maritim, pengembangan pelabuhan nasional masih sangat minim. Misalnya, pengembangan pelabuhan Tanjung Priok, sampai saat ini belum ada kejelasan terkait lahan setelah adanya bentrok dengan warga soal makam Mbah Priok. Hal sama juga terjadi di pelabuhan Merak, Banten, yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera, yang selalu mengalami kendala dalam pelayaran bahkan dalam beberapa hari ini terus mengalami kendala dalam angkutan barang. Pemerintah hanya mengatakan baru bisa mengkaji pengembangan pelabuhan tersebut. Pemerintah mengaku hanya bisa melakukan diversifikasi penggunaan pelabuhan untuk mengurai kepadatan penggunaan Pelabuhan Merak yang selama ini menjadi satu-satunya akses penyeberangan menuju Sumatera.

5.

Infrastruktur kereta api

Kereta api termasuk salah satu sarana transportasi massal yang cukup efektif. Peran kereta api hanya bisa dilakukan dengan maksimal jika didukung sarana dan prasarana yang memadai. Mulai dari rel kereta hingga ketersediaan sinyal kereta. Infrastruktur kereta api masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan PT KAI selaku otoritas pengelola transportasi ini. Kondisi infrastruktur kereta masih butuh pembenahan. Pada November lalu, musibah longsor terjadi pada jalur KRL lintas Bojong Gede-Cilebut dengan berkedalaman sekitar 35 meter dan memiliki panjang sekitar 200 meter. Akibat longsor tersebut jalur rel kereta api menggantung sepanjang 75 meter, sehingga rel tidak dapat dilalui kereta. Tiga tiang beton Listrik Aliran Atas (LAA) juga ikut terseret longsor. Masalah lain terkait infrastruktur adalah sinyal kereta yang masih buruk. Masyarakat pengguna jasa kereta api telah akrab dengan persoalan terlambatnya jadwal kereta. Ternyata, faktor keterlambatan jadwal kereta api tidak terlepas dari persoalan sinyal PT KAI yang sering mengalami gangguan. Setelah disentil oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengenai persoalan sinyal kereta, Kementerian Perhubungan juga meminta PT KAI menyikapi persoalan gangguan sinyal secara serius untuk meminimalisir keterlambatan dan kacaunya jadwal operasional kereta.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


Kondisi infrastruktur daerah merupakan bagian terbesar dari prasarana untuk pelayanan masyarakat di Indonesia. Sayangnya, kondisi infrastruktur di daerah-daerah tersebut masih belum memadai. Kondisi infrastruktur daerah yang belum memadai akibat minimnya kapasitas pembiayaan pemerintah daerah untuk pemeliharaan, peningkatan dan pembangunan infrastruktur daerah. a. Dari sisi irigasi hanya mencapai 48% untuk irigasi kabupaten atau kota dan 39% untuk irigasi provinsi masih baik. Sedangkan untuk lainnya masih belum memadai dan terbilang buruk. b. Kondisi jalan di daerah yang belum memadai bisa dapat dilihat dari penampakannya. Seperti jalan provinsi yang memiliki tingkat kondisi baik baru mencapai 68%, sementara kabupaten atau kota masih 59%. Adapun sisanya masih belum menerapkan standar yang sudah ditentukan. c. Masih banyak yang belum baik dan memadai infrastruktur daerah. Jalan provinsi yang baik hanya 68%, sedangkan jalan untuk kabupaten atau kota masih sebesar 59% yang terbilang mantaP. d. Demikian pula kondisi cakupan pelayanan air minum masih sangat kecil sebesar 53% dari target MDG's 68,87%, pelayanan sanitasi 55,5% dari target 62,12%.

3.2 Saran

Untuk itu Kementerian PU bertanggung jawab langsung, dalam Turbinwas selaku penyelenggara secara umum untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan infrastruktur. Dari sisi dana DAK yang merupakan bagian solusi untuk memenuhi sebagian kekurangan dana dan sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah

DAFTAR PUSTAKA Jurnal Seminar Nasioanal Pembangunan Infrastruktur Untuk Semua Kerja Sama Universitas, UI-UGM-ITB http://bisnis.liputan6.com/read/701681/menteri-pu-akui-kondisi-infrastruktur-ri-belum-memadai http://cgclipping.wordpress.com/2012/12/26/lima-kondisi-kritis-infrastruktur-nasional/