Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EPILEPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Neurobehaviour System Oleh : Kelompok Tutorial 12

Anisa Nur Pratiwi Gustini Putri D Istiani W Khoirunnisa Lita Puspita Dewi Mala Syaripah K Nurrul Ainy

220110090135 220110090088 220110090016 220110090075 220110090096 220110090063 220110090050

Nuryani Syamsyiyah 220110090123 Nonny Tentia M Pratiwi Ayu P Yaturrokhman 220110090037 220110090122 220110090104

Tania Tresna Delima 220110070127

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

Case I : Epilepsi A 16-year-old woman with a long history of uncontrolled seizures is referred to the epilepsi clinic for further evaluation and treatment. She has been treated with phenytoin for many years ( presently 100 mg po, TID ) but is experiencing several small seizures perweek ( complex partial seizures with no secondary generalization ) and one large seizure per month ( a secondarily generalized tonic-clonic seizure ). Because the patient has been unable to tolerate higher phenytoin doses, other alternatives for seizure control must be considered. Options include adding a newer antiepileptic drug to phenytoin ( eg. Felbamate, gabapentin or lamotrigine ). Switching the patient from phenytoin to carbamazepine could be attempted but would likely not be successful in obtaining seizure control.

Definisi Penyakit
Epilepsi adalah istilah untuk cetusan listrik lokal pada substasia grisea otak yang terjadi sewaktu-waktu, mendadak, dan sangat cepat. Secara klinis, epilepsi merupakan gangguan paroksismal dimana cetusan neuron korteks sensori mengakibatkan serangan penurunan kesadaran, perubahan fungsi motorik atau sensorik, perilaku atau emosional yang intermiten dan strereotipik.Epilepsi adalah kecenderungan terjadinya muatan listrik yang spontan dan tidak teratur secara rekuren di otak dengan manifestasi perubahan fungsi motorik, sensorik, atau psikologis.Epilepsi adalah gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak besar yang dikarekteristikan oleh kejang berulang. Keadaan ini dapat dihubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan atau hilangnya tonus otot atau gerakan dan gangguan perilaku, alam perasaan, sendasi, dan persepsi.Epilepsi, seperti yang didefinisikan oleh Commission on Epidemiology and Prognisis of Epilepsy, adalah munculnya paling tidak dua kali kejang tanpa provokasi dengan jarak antara kedua kejang paling tidak selama 24 jam.Kejang maupun epilepsi bukan merupakan diagnosis atau jenis penyakit; melainkan gejala proses lain yang memengaruhi otak dalam dalam berbagai cara, tetapi umumnya memiliki ekspresi klinis final berupa kejang.Kejang merupakan manifestasi kardinal epilepsi, meskipun tidak semua pasien kejang menderita epilepsi.Kejang adalah pelepasan neuron otak berfrekuensi tinggi yang berlebihan atau mendadak abnormal.Status epileptikus (aktivitas kejang lama yang akut) merupakan suatu rentetan kejang umum yang terjadi tanpa perbaikan kesadaran penuh diantara serangan. Istilah ini telah diperluas untuk mencakup kejang klinis atau listrik kontinu yang berakhir sedikitnya 30 menit, meskipun tanpa kerusakan kesadaraan.Status epileptikus ditegakkan apabila kejang yang terjadi bersifat kontinu, berulang dan disertai gangguan kesadaran pada periode interiktal. Durasi kejang secara tradisional adalah 15-30 menit, sedangkan, secara klinis durasi 4-5 menit sudah cukup untuk menegakkan diagnosis status epileptikus.

Etiologi
Penyebab kejang pada banyak orang tidak diketahui. Para ahli peneliti menimbulkankejang dalam percobaan binatang melalui cedera pembedahan atau kimia atau stimulus elektrik. Epilepsi sering terjadi akibat: kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti ibu menelan obat-obat tertentu yang dapat merusak otak janin seperti obat antikonvulsan yang digunakan sepanjang kehamilan, mengalami infeksi, minum alcohol, atau mengalami cedera. kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan. cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak tumor otak merupakan penyebab epilepsi yang tidak umum terutama pada anak-anak. penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak radang atau infeksi pada otak dan selaput otak penyakit keturunan seperti fenilketonuria (FKU), sclerosis tuberose dan neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang. kecerendungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normal diturunkan pada anak. Dalam banyak kasus, epilepsi tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Keadaan yang menyebabkan kelemahan untuk beberapa tipe dapat diwariskan. Epilepsi yang menyerang sebelum usia 20 tahun merupakan kelompok terbesar yaitu 75% dari pasien tersebut.

Faktor Predisposisi
Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsan yang digunakan sepanjang kehamilan. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obatobatan diabetes, atau hipertensi) harus diidentifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan. Infeksi pada masa anak-anak (campak, penyakit gondongan, meningitis bakteri) harus dikontrol dengan vaksinasi yang benar. Keracunan timbale adalah penyebab lain epilepsi yang dapat dicegah. Orang tua dengan anak yang pernah mengalami kejang demam harus diinstruksikan tentang metode untuk mengontrol demam (kompres dingin, obat antipiretik).Cedera kepala merupakan salah satu penyebab umum.

Fase Terjadinya Penyakit


Serangan motorik fokal : (serangan jacksonan) Kejang pada otot yang terkena Otot-otot disekitarnya ikut berkedut saat muatan listrik menyebar (berjalan) sepanjang korteks motorik Kehilangan fungsi motorik post-iktal (paralisis) selama beberapa jam/hari (paralisis Todd).

Serangan sinsoris fokal : Rasa kesemutan yang merambat ke tubuh selama < beberapa detik. Diagnosis bandingnya termasuk gejala sensoris pada migren yang merambat selama 10-15 menit.

Serangan oksipital : Menyebabkan kilasan cahaya pada penglihatan. Dapat menyebabkan distorsi penglihayan yang kompleks.

Serangan lobus temporal : Aura -

Merasa pernah atau belum pernah mengalami rangkaian peristiwa yang sedang terjadi ( deja vu atau jamas vu) - Timbul rasa ata bau yang tidak sedap - Rasa tidak nyaman pada daerah epigastrium Serangan - Muka menyeringai - Kerja motorik yang kompleks misalnya membuka baju - Perilaku yang aneh Post-iktal - Pemulihan biasanya cepat - Amnesia terhadap kerjadian serangan

Serangan lokal : Kesadaran normal Kompleks kesadaran terganggu

Serangan umum : Sering melibatkan struktur densefalon Petit mal terjadi pada masa anak-anak, jarang berlanjut ke masa dewasa. Banyak ditemukan. Epilepsi moklonik Epilepsi akresia kehilangan tonus postural secara total dan tibatibakolaps tiba-tiba,. Jarang. Serangan grand mal

Serangan epilepsi khas : Aura - Biasanya < 1 menit - Tergantung lokasi kelainan Serangan - Selama < beberapa menit - Jarang berlanjut sampai waktu yang lama = status epileptikus -

Fenomena pascaserangan = post-iktal - Apabila umum sangat mengantuk < beberapa jam - Apabila fokal kehilangan fungsi sementara

Manifestasi Klinis
Berbagai gambaran serangan epileptik dengan penunjukkan pada jenis epilepsi, yaitu: 1. Gerakan otot skeletal seluruh tubuh yang tonik klonik dengan hilang kesadaran serentak (grand mal epilepsi umum idiopatik). 2. Gerakan otot skeletal seluruh tubuh dengan hilang kesadaran serentak yang didahului oleh suatu aura (epilepsi umum fokal). 3. Epilepsi umum fokal dengan aura yang bersifat automatisme atau gangguan kesadaran kognitif (epilepsi fokal lobus temporalis). 4. Epilepsi umum yang didahului gerakan okuler konyugat ke salah satu sisi dengan badan yang berputar ke salah satu sisi sambil mengeluarkan suara seperti tercekik atau jeritan (epilepsi fokel adversif). 5. Epilepsi umum yang bangkit hanya jika ada sinar TV yang merangsang mata klien atau juga ada stimulus auditorik, seperti letusan peluru ataupun jika ada perangsangan terhadap panca indra lainnya (epilepsi umum idiopatik reflektorik). 6. Kejang tonik atau klonik dari salah satu anggota tubuh tanpa kehilangan kesadaran (epilepsi Jackson motorik). 7. Serangan Jackson sensorik dan juga motorik yang meluas dari satu ke daerah lain tubuh (Jacksonian March). 8. Serangan gejala defisit Neurologik yang bersifat sensorik (parestesia, hipestesia, anesthesia) pada salah satu anggota tubuh tanpa hilang kesadaran (epilepsi Jackson sensorik).

9. Serangan hilang kesadaran sejenak tanpa manifestasi motorik (petit mal), serangan pada otot skeletal yang tidak dapat bergerak sejenak dengan hilang kesadaran, sehingga badan jatuh lunglai (epilepsi umum idiopatik akinetik). 10. Kejang tonik sejenak yang timbul pada bayi (infantile spasma). 11. Serangan hilang kesadaran sejenak dengan timbul gerakan mioklonik regional unilateral atau bilateral sejenak pula, sehingga badan sering jatuh dank lien banyak mengidap luka-luka. 12. Epilepsi umum pada anak-anak dibawah umur lima tahun yang bangkit karena ada febris. 13. Serangan yang berupa perasaan didalam perut seperti mual, mulas, dll. 14. Status epileptikus, keadaan konvulsi umum yang berlangsung secara terus menerus atau timbul secara berturut-turut dengan interval sejak saja.

Klasifikasi Internasional Serangan Epilepsi.


1. Serangan Parsial a. Simptomatologik elementer (motorik, sensorik atau autonomic). Disebut epilepsi Jacksonian atau epilepsi fokal. Serangan-serangan ini terjadi tanpa kehilangan kesadaran bilaunilateral, kehilangan kesadaran bila bilateral. Serangan ini gejalanya tergantung pada daerah yang terkena, bisa terdiri dari gejala-gejala motor, sensori atau autonomic atau kombinasi ketiganya b. Simptomatologik komplek (psikomotor epilepsi atau epilepsi lobus temporalis). Serangan-serangan ini bisa terjadi pada semua umur tapi lebih sering terjadi pada orang dewasa. Didahului oleh aura yang terdiri atas gejala-gejala kognitif, afektif, psikosensori, psikomotor, atau bentuk kombinasi. Biasanya masih sadar pada waktu serangan tetapi tidak dapat mengingat kembali apa yang terjadi. 2. Serangan Umum a. Lena (absence) / Petit Mal. Serangan terjadi secara tiba-tiba, tanpa didahului aura. Kesadaran hilang selama beberapa detik, ditandai dengan terhentinyapercakapan untuk sesaat, pandangan kosong, atau mata berkedip dengan cepat. Hampir selalu pada anak-anak, mungkin menghilang waktu remaja atau diganti dengan serangan tonik-klonik.

b. Mioklonik. Serangan-serangan ini terdiri atas kontraksi-kontraksi oto-otot yang singkat dan tiba-tiba, bisa simetris atau asimetris, sinkronis atau asinkronis. Biasanya tidak ada kehilangan kesadaran selama serangan. c. Tonik. Serangan-serangan ini terdiri atas tonus otot dengan tiba-tiba meningkat dari otot ekstremitas sehinggaterbentuk sejulmlah sikap yang khas. Biasanya kesadaran hilang hanya beberapa menit. Terjadi pada anak-anak umur 1-7 tahun. d. Klonik. Serangan dimulai dengan kehilangan kesadaran yang disebabkan oleh hipotoni yang tiba-tiba atau spasme tonik yang singkat. Keadaan ini diikuti oleh sentakan-sentakan bilateral yang lamanya satu menit sampai beberapa menit yang sering asimetris dan bisa predominasi pada satu anggota tubuh. Serangan in bisa bervariasi lamanya, seringnya dan bagian dari sentakan-sentakan ini satu saat ke saat lain. Setelah serangan ini bisa terjadi kesembuhan yang cepat atau terjadi kebingungan yang lama. Dijumpai terutama sekali pada anak-anak. e. Kejang Tonik-Klonik 1. Diawali dengan hilangnya kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ektremitas, batang tubuh, dan wajah, yang langsung kurang dari 1 menit. 2. Dapat disertai dengan hilangnya kontrol kandung kebih dan usus. 3. Tidak adan respirasi dan sianosis 4. Saat tonik diikuti dengan gerakan klonik pada ekstremitas atas dan bawah. 5. letargi, konfusi, dan tidur dalam fase postical f. Kejang Atonik 1. Hilangnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk atau jatuh ketanah. 2. Singkat, dan terjadi tampa peringatan. 3. Serangan unilateral (atau predominan) 4. Serangan epilepsi yang tidak dapat digolongkan (karena datanya tidak lengkap). Status Epileptikus Jika serangan-serangan terjadi begitu sering sehingga pasien belum keluar dari satu serangan telah mendapat serangan yang lain maka pasien berada dalam status epileptikus. Serangan berulang-ulang bisa tiap tipe walaupun biasanya pada serangan umum tonik-klonik. Hal ini merupakan hal yang medis emergensi karena bisa menyebabkan kerusakan otak yang

permanen. Penyebab status epileptikus yang paling sering adalah suhu yang tinggi atau obat antileptiknya dihentikan. Penyebab lain adalah karena gangguan-gangguan metabolic, kurang tidur, meningitis, trauma otak, intoksisasi obat, menghentikan obat-obat sedative, alcohol, dll.

Infatile spasme Terjadi pada usia 3 bulan sampai 2 tahun, kejang fleksor pada ekstermitas dan kepala, kejang terjadi hanya beberapa detik dan berulang, sebagian besar penderita terjadi retardasi mental. Focal Terbagi atas tiga jenis : a. Focal motor yaitu Lesi pada lobus frontal. b. Focal sensorik yaitu lesi pada lobus parietal. c. Focal psikomotor yaitu disfungsi lobus temporal

Komplikasi
1. Skizofrenia, kejang yang terus menerus dapat menyebabkan kematian sel saraf. Apabila mengenai saraf organik maka klien dapat kehilangan memori. 2. Stroke, seperti skizofrenia, jika saraf yang mengalami kematian adalah saraf motorik, maka klien akan kehilangan kemampuan geraknya.

Pemeriksaan diagnostik
1. CT scan, untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskular abnormal, dan perubahan degeneratif serebral. 2. Elektroensefalogram (EEG), membantu dalam pengklasifikasian tipe kejang. Keadaan abnormal EEG selalu terus menerus terlihat di antara kejang, atau jika letupan muncul mungkin akubat dari hiperventilasi atau selama tidur.
3. MRI, untuk mendeteksi lesi kecil di lobus temporalis.

Penatalaksanaan.
Pengobatan pada klien epilepsi, dilakukan secara individual untuk memenuhi kebutuhan khusus klien. Tidak hanya mengobati, tapi juga mencegah. Pengobatan pada klien epilepsi berbeda-beda karena tergantung dari bentuk epilepsi yang munculdan tergantung pada perubahan kimia otak. a. Farmakoterapi Yang digunakan adalah obat golongan antikonvulsan yang digunakan untuk mengontrol kejang. Mekansme kerja dari obat tidak diketahui. Obat-obat yang merupakan golongan antikonvulsan antara lain : 1. Penytoin - Indikasi : diindikasikan untuk mengobati kejang tonik-klonik (grandmal) dan parsial kompleks, dan pencegahan serta pengobatan kejang selama atau setelah bedah syaraf. - Kontraidikasi Dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap penytoin atau hidantoin. - Interaksi obat Obat-obat yang dapat menigkatkan kadar penitoin serum Asupan alkohol akut, amiodaron, diazepam, estrogen, antagonis H, dll/ Obat-obat yang dapat menurunkan kadar penitoin serum Karbamazepin, ketergantungan alkohol kronik, reserpin, dan sukralfat. Obat yang dapat meningkatkan atau menurunkan kadar penitoin serum Fenobarbital, natrium valproat, dan asam valproat Obat-obat yang khasiatnya terganggu oleh penitoin Kortikosteroid, antikoagulan komarin, digitoksin, estrogen, furosemid, kontrasepsi oral, vitamin D, dll. - Efek samping Susunan saraf pusat Nistagmus, ataksia, banyak bicara, koordinasi menurun, dan konfusi mental. Bisa juga pusing, insomnia, gelisah, kejang motorik, dan saki kepala. Saluran cerna

Mual, muntah, konstipasi, hepatitis toksik, dan kerusakan hati. Kulit Kelainan dermatologik berupa ruam kulit skarlatiniform, disertai demam. Biasanya juga dermatitis eksfoliativa, lupus eritomatosus, dan nekrolisis epidermal toksik. Kardiovaskuler Periarteritis nodosa Jaringan penunjang Muka menjadi kasar, bibir melebar, hiperplasia gusi, dan penyakit peyronia. Imunologik Sindroma sensitivitas, lupus eritomatosus sistemik, dan kelainan imunoglobulin. Sistem hemopoetik Trombositopenia, lekopenia, granulositopenia, agranulositosis, dan pansitopenia dengan atau tanpa supresi sumsum tulang. Dosis dan cara pemberian Oral Dosis harus disesuaikan secara individual agar dapat tercapai kadar efektif dalam serum yaitu 10-20 ug/ml. Dosis dewasa Dosis terbagi Pasien yang belum mendapat penitoin dapat diberikan dosis awal 100mg 3 kali sehari dan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya dosis penunjang berkisar antara 1 kapsul 3-4 kali sehari. Jika perlu dosis dapat ditingkatkan menjadi 2 kapus 3 kali sehari. Dosis muat Pada keadaan tertentu dimana perlu dicapai kadar serum steady state secara cepat dan pemberian intravena tidak memungkinkan, maka dapat diberikan dosis muat yang harus dilakukan di klinik atau di rumah sakit. Awalnya diberikan 1g penitoin kapsul yang dibagi dalam 3 dosis (400 mg, 300mg, dan 300mg) dan diberikan dengan interval 2 jam. Dosis penunjang normal kemudian diberikan 24 jam setelah dosis muat tersebut.

Dosis anak-anak Dosis awal 5mg/kg/hari dibagi 2-3 dosis yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan sampai maksimum 300mg sehari. Dosis penunjang sehari yang dianjurkan adalah 48mg/kg. Anak-anak diatas 6 tahun memerlukan dosis minimum dewasa (300mg/hari)

2. Carbamazepin - Carbamazepine (CBZ) adalah antikonvulsan dan menstabilkan suasana hati- obat yang digunakan terutama dalam pengobatan epilepsi dan gangguan bipolar , serta neuralgia trigeminal . - Indikasi Carbamazepine biasanya digunakan untuk pengobatan kejang dan nyeri neuropatik . Ini dapat digunakan sebagai pengobatan kedua untuk gangguan bipolar dan bersama dengan agen antipsikotik dalam skizofrenia . - Efek samping efek samping umum dapat meliputi mengantuk, sakit kepala dan migrain, koordinasi motorik gangguan, dan sakit perut. 3. Felmabate - Indikasi Felbamate dapat digunakan untuk mencegah kejang parsial pada orang dewasa dan anak-anak. - Efek samping Efek samping yang umum dari felbamate meliputi: Mual, muntah, dan gangguan pencernaan Sakit kepala. Kehilangan nafsu makan Insomnia (masalah tidur) - Interaksi obat Felbamate dapat membuat pil KB kurang efektif. Jika Anda menggunakan felbamate, maka harus mengontrol kehamilan. 4. Gabapentin - Indikasi Gabapentin digunakan dalam kombinasi dengan obat antiseizure lain (antikonvulsan) untuk mengelola kejang parsial dengan atau tanpa generalisasi pada individu di atas usia 12. Gabapentin juga dapat

digunakan untuk mengobati kejang parsial pada anak-anak berusia antara 3-12 tahun. - Dosis Di atas 12 dimulai pada 300 mg diminum tiga kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sampai dengan total 1.800 mg per hari. Dalam beberapa kasus, dosis hingga 3.600 mg per hari telah ditoleransi. Anak-anak harus menerima dosis 10-15mg/kgBB/hari, dibagi menjadi tiga dosis sama. Sakit kronis dapat diobati dengan 300-3,600 mg per hari, dibagi menjadi tiga dosis sama. Ketika gabapentin digunakan untuk gangguan bipolar, dosis awal 300 mg biasanya diambil pada waktu tidur. Tergantung pada respon pasien, dosis dapat ditingkatkan setiap empat sampai tujuh hari. Banyak orang menerima manfaat terapeutik maksimal 600 mg per hari, meskipun beberapa orang yang dibutuhkan sampai 4.800 mg per hari. - Kontraindikasi Wanita yang menyusui Orang-orang yang memiliki penurunan fungsi ginjal - Efek samping Pada dewasa pusing, mengantuk, dan edema perifer (pembengkakan ekstremitas) Pada anak-anak 3-12 tahun diamati rentan mood berubah-berubah, gangguan konsentrasi, dan hiperaktif 5. Lamotrigin - Indikasi Obat antikonvulsan yang dipakai dalam pengobatan epilepsi dan gangguan bipolar - Dosis Dosis mulai adalah 25 mg seminggu 1-2 hari, yang dapat ditingkatkan 50 mg per hari dalam seminggu 2-3, 100 mg dan 200 minggu 5 minggu 6 mg . Jika pasien juga mengambil valproate dosis harus dibagi dua, jika diambil dengan carbamazepine dosis perlu dua kali lipat. - Dosis awal yang terlalu tinggi dan peningkatkan dosis dengan cepat dapat meningkatkan risiko pengembangan ruam yang serius dan dalam kasus terburuk sindrom Stevens-Johnson pasien anak yang memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan ruam dan reaksi kulit yang buruk. - Efek samping

Efek samping meliputi kehilangan keseimbangan atau koordinasi, penglihatan ganda , juling , penglihatan kabur, pusing dan kurangnya koordinasi, mengantuk, insomnia , kecemasan, mulut kering , sariawan, dan lainnya. b. Pembedahan Pembedahan diindikasikan untuk klien yang mengalami epilepsi akibat tumor intrakranial, abses, kista, atau adanya anomali vaskuler. 1. Perawatan selama kejang - Berikan privasi dan perlindungan dari orang yang ingin tahu. Pasien yang memiliki aura memerlukan waktu untuk mencari tempat aman dan pribadi. - Mengamankan pasien di lantai - Melindungi kepala dengan bantalan untuk mencegah cedera - Melepaskan pakaian yang ketat - Menyingkirkan perabot untuk menghindari cedera - Jika pasien berada di tempat tidur, bantal disingkirkan dan pagar tempat tidur ditinggikan - Jika sebelum kejang terdapat aura, masukkan spatel lidah untuk memberi bantalan diantara gigi agar lidah tidak tergigit - Jangan membuka rahang yang terkatup pada keadaan spasme karena dapat mengakibatkan gigi patah dan cedera pada bibir dan lidah - Jika mungkin , miringkan pasien ke salah satu sisi dengan kepala fleksi ke depan, yang dapat membuat lidah jatuh sehingga memudahkan saliva keluar. 2. Perawatan setelah kejang - Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi - Biasanya terdapat periode ekonfusi - Dapat terjadi periode apnea pendek - Pada saat pasien bangun, harus diorientasikan pada lingkungan - Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang, coba untuk menangani dengan pendekatan yang lembut dan memberi restrein yang lembut.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN. Pengkajian Nama Usia Jenis kelamin Pekerjaan Diagnosis medis Keluhan utama Kejang tidak terkontrol Riwayat kesehatan Sekarang Lalu : Kejang tidak terkontrol dan dirujuk ke klinik epilepsi : Mengalami kejang kecil perminggu (kejang parsial komplek tanpa kejang umum), dan satu kejang umum perbulan (kejang tonik-klonik umum sekunder). Keluarga Lingkungan Riwayat Intranatal Neonatal ::::: Nn. : 16 tahun : Perempuan :: Epilepsi

Operasi sebelumnya : Obat-obatan/terapi Pola makan Pola eliminasi Psikologi Pemerikasaan fisik Tanda- tanda vital : BB : HR : Suhu : TB : RR : : Penitoin selama beberapa tahun :::-

ANALISA DATA NO. 1 DATA -DO : -DS : klien mengalami kejang kecil perminggu (kejag parsial komplek tanpa kejang umum lanjutan), dan satu kejang umum perbulan (kejang tonikklonik umum sekunder) Masuk ke saluran napas Pengeluaran saliva tidak terkendali Potensial aspirasi Berbuih Frekuensi napas cepat saat kejang Produksi saliva berlebih Pengaturan kelenjar saliva ETIOLOGI Medula oblongata MASALAH Resiko tinggi jalan napas tidak efektif

Resti bersihan jalan napas tidak efektif 2. -DO : -DS : Arus listrik tidak terkendali dan Resiko tinggi

menyebar ke sel saraf sekitar melalui cedera sinaps

Terjadi depolarisasi masif (ledakan listrik di neuron)

Saraf perifer

Gerakan rahang tidak terkontrol

Melukai organ dimulut

Resti Cidera

3.

-DO : -DS : -

Terjadi depolarisasi masif (ledakan listrik di neuron)

Ansietas

Saraf perifer

Otot motoritas

Pergerakan aktin miosin abnormal

Tidak ada spasi antara kontraksi dan relaksasi

Kejang tonik-klonik

Ansietas

4.

-DO : -DS : klien mengalami kejang kecil perminggu (kejag parsial komplek tanpa

Terjadi depolarisasi masif (ledakan listrik di neuron)

Harga diri rendah situasional

Saraf perifer

Otot motoritas

kejang umum lanjutan), dan satu kejang umum perbulan (kejang tonikklonik umum sekunder)

Pergerakan aktin miosin abnormal

Tidak ada spasi antara kontraksi dan relaksasi

Kejang tonik-klonik

HDR Situasional

5.

-DO : -DS : klien mengalami kejang kecil perminggu (kejag parsial komplek tanpa kejang umum lanjutan), dan satu kejang umum perbulan (kejang tonikklonik umum sekunder)

Terjadi depolarisasi masif (ledakan listrik di neuron)

Resiko epileptikus

status

Saraf perifer

Otot motoritas

Pergerakan aktin miosin abnormal

Tidak ada spasi antara kontraksi dan relaksasi

Kejang tonik-klonik

Berlangsung episodik Resiko status epileptikus

Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran, apnea, sekresi berlebihan, obstruksi jalan napas oleh lidah. 2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan aktivitas otot berlebihan yang tidak terkontrol 3. Ansietas berhubungan dengan stigma negatif terhadap penyakitnya atau kejang berulang 4. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan kejang berulang 5. Resiko status epileptikus berhubungan dengan kontrol pengobatan yang tidak adekuat.

Simpulan
Epilepsi adalah gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak besar yang dikarekteristikan oleh kejang berulang. Keadaan ini dapat dihubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan atau hilangnya tonus otot atau gerakan dan gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi, dan persepsi. Dalam banyak kasus, epilepsi tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Epilepsi yang menyerang sebelum usia 20 tahun merupakan kelompok terbesar yaitu 75% dari pasien tersebut. Pemeriksaan secara diagnostic untuk klien dengan epilepsi yaitu dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan, EEG, dan MRI. Ketiga nya memiliki fungsi yang hampir sama, yaitu untuk melihat keadaan dari bagian otak yang terganggu dari klien, Untuk pemberian obat pada klien, dapat diberikan Penytoin, Felbamate, Gabapentin. Lamotrigine, dan Carbamazepin sebagai antikonvulsan yang berfungsi untuk mengontrol kejang yang dialami oleh klien. Perlu diperhatikan juga, perawatan yang fokus ketika klien mengalami kejang. Dapat dibedakan antara perawatan selama kejang dan setelah kejang. Perawatan selama kejang, contohnya seperti memberikan privasi pada klien, mengamankan dan melindungi bagian tubuh klien dari cedera, serta melepaskan pakaian yang ketat juga atribut yang dipakai klien ( misalnya,kaca mata, perhiasan,dll). Sedangkan perawatan setelah kejang yaitu mencegah terjadinya aspirasi, dan menngenalkan klien dengan lingkungan nya lagi ( karena biasanya, klien mengalami kebingungan setelah kehilangan kesadaran selama kejang).

DAFTAR PUSTAKA
Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi. Jakarta : EGC

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3 Edisi 8. Jakarta : EGC

Davey, Patrick. 2002. At a Glance MEDICINE. Jakarta : Erlangga

Dewanto, George dkk. 2009. Panduan Praktis Diagnosis & Tatalaksana Penyakit Syaraf. Jakarta : EGC

Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC

Guyton & Hall.1997.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC

Holloway, Nancy M. 2004. Medical-Surgical Care Planning. New York: Lippincott Williams & Wilkins.

Indriyantoro,dkk. 2008. Data Obat di Indonesia. Jakarta : PT. Muliapurna Jayaterbit

Muttaqin, Arif. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika.

Sherwood,Lauralee.2001.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2.Jakarta:EGC

Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. (2002). Brunner and suddarths textbook of medical surgical nursing. (4th ed). (Waluyo, A, Penerjemah). Philadhelphia: J.B. Lippincott. (Sumber asli diterbitkan, 1996).