Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

Perubahan anatomi dan fisiologi terjadi pada banyak sistem organ selama kehamilan dan persalinan. Perubahan pada tahap awal disebabkan karena peningkatan kebutuhan metabolik yangberasal dari janin, plasenta dan rahim serta peningkatan hormon kehamilan. Perubahan tahap lanjutan terjadi pada pertengahan kehamilan disebabkan oleh perubahan anatomi, tekanan mekanis dari rahim berkembang. Perubahan ini memerlukan manajemen anastesi yang khusus pada wanita hamil maupun yang akan melahirkan baik secara normal maupun dengan faktor penyulit. Menurut Koonin,dkk (1997) dalam Cunningham (2005), terdapat beberapa kausa penyebab kematian ibu yang terkait dengan kehamilan. Perdarahan dan infeksi merupakan kausa utama kematian pada kehamilan ektopik dan abortus, sedangkan hipertensi, perdarahan, dan infeksi adalah penyebab utama kematian ibu setelah pertengahan kehamilan. Gangguan hipertensi yang menjadi penyulit kehamilan sering dijumpai dan termasuk salah satu diantara tiga trias mematikan, bersama dengan perdarahan dan infeksi, yang banyak menimbulkan morbiditas dan mortalitas ibu karena kehamilan. Menurut The National Center fo Health Statistics pada tahun 1998, hipertensi dalam kehamilan merupakan faktor risiko medis yang paling sering dijumpai (Ventura dkk.,2000). Penyakit ini ditemukan pada 146.320 wanita, atau 3,7% diantara semua kehamilan yang berakhir dengan kelahiran hidup. Berg dkk (1996) melaporkan bahwa hampir 18% diantara 1450 kematian ibu di Amerika Serikat dari tahun 1987 sampai 1990 terjadi akibat penyulit hipertensi dalam kehamilan (Cunningham, 2005). Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan selain etiologi tidak jelas, juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas non medik dan sistem rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh semua lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus benar-benar dipahami oleh semua tenaga medik baik di pusat maupun daerah (Wiknjosastro, 2008) Preeklampsia-eklampsia merupakan gangguan multisistem dengan penyebab yang belum diketahui, dan merupakan penyumbang terbesar dalam hal morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal, baik di negara berkmebang maupun di negara maju. Hanya sekitar

10% dari gangguan hipertensi pada kehamilan yang selanjutnya akan menimbulkan komplikasi pada kehamilan (Pernoll, 2001). Girsang (2004) dalam Haryono (2006), melaporkan bahwa prevalensi preeklampsia dan eklampsia pada tahun 1993-1997 di RSPM adalah sekitar 5,75%, tahun 1995-1998 di RSHS sebanyak 13,0%, tahun 2000-2002 di RSHAM-RSPM sebanyak 7,0%, dan tahun 2002 di RSCM adalah sebesar 9,17%. Selanjutnya, Sofoewan (2003) dalam Haryono (2006), menyatakan bahwa angka kematian ibu akibat preeklamsia berat telah menggeser pendarahan dan infeksi sebagai penyebab utama kematian maternal. Angka persalinan seksio sesarea makin meningkat sebagai tindakan akhir dari berbagai kesulitan persalinan. Indikasi yang banyak dikemukakan adalah persalinan lama sampai persalinan macet, ruptur uteri iminens, gawat janin, janin besar, dan perdarahan antepartum. Dalam 10 tahun terakhir ini, banyak perhatian difokuskan pada upaya mengurangi angka kejadian seksio sesarea, dan mengacu pada WHO, Indonesia mempunyai kriteria angka seksio sesarea standar antara 15-20% untuk rumah sakit rujukan. Indikasi seksio sesarea tidak semata alasan medis, sampai sekarang persalinan seksio sesarea atas indikasi permintaan penderita (Cesarean Section on Request) masih menjadi topik perbincangan (Gondo, 2010). Pelahiran janin adalah penyembuhan bagi preeklampsia dan eklampsi. Namun, tidak demikian halnya apabila preeklampsia ringan tetapi serviks kaku dan tertutup, yang mengisyaratkan bahwa mungkin diindikasikan seksio sesarea apabila kehamilan akan diterminasi. Dalam penulisan laporan kasus ini, penulis ingin menggali lebih lagi mengenai penanganan preeklampsia dan eklampsi pada kehamilan dengan teknik anestesi yang adekuat.