Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Lipid adalah sekumpulan senyawa di dalam tubuh yang memiliki ciri-ciri yang serupa dengan malam, gemuk (grease), atau minyak. Karena bersifat hidrofobik, golongan senyawa ini dapat dipakai tubuh sebagai sarana yang bermanfaat untuk berbagai keperluan. Misalnya jenis lipid yang dikenal sebagai trigliserida berfungsi sebagai bahan bakar yang penting. Senyawa ini sangat efisien untuk dipakai sebagai simpanan bahan penghasil energi karena terkumpul dalam butir-butir kecil yang hampirhampir bebas air, membuatnya jauh lebih ringan daripada timbunan karbohidrat setara yang sarat air. Jenis lipid yang lain lagi merupakan bahan structural yang penting. Kemampuan lipid jenis ini untuk saling bergabung menyingkirkan air dan senyawa polar lain menyebabkannya dapat membentuk membran sehingga memungkinkan adanya berbagai organisme yang kompleks. Membran tersebut memisahkan satu sel dengan sel yang lain di dalam jaringan, serta memisahkan berbagai organel di dalam sel menjadi ruangan-ruangan yang memiliki ciri kimia tertentu sehingga dapat ditata dan diatur sendiri (Gilvery & Goldstein 1996). Lemak merupakan sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar di dalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil produksi organ hati, yang bisa disimpan di dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi. Fungsi lemak adalah sebagai sumber energi, pelindung organ tubuh, pembentukan sel, sumber asam lemak esensial, alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas, dan memelihara suhu tubuh. Sehubungan dengan hal tersebut maka sangat penting didalam menguji derajat kelarutan lemak sehingga dalam penggunaannya, lemak dapat berfungsi secara optimal. Lemak dan minyak adalah bahan-bahan yang tidak larut dalam air yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Sumber dari tumbuhan meliputi

biji-bijian dari tanaman tahunan misalnya kedelai, biji kapas, kacang tanah, rape seed, bunga matahari dan sebagainya. Ada juga pohon-pohon yang menghasilkan minyak antara lain pohon palem penghasil minyak kelapa dan minyak zaitun. Sedangkan dari sumber hewani meliputi hewan seperti babi, sapi, domba, dan hewan hewan laut seperti sardin dan ikan paus. Lemak dan minyak yang digunakan dalam makanan sebagian besar adalah trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dan berbagai asam lemak (Buckle : 1987). Komponen penyusun minyak dan lemak kurang lebih sama yaitu gliserol dan trigliserida atau triasilgliserol. Perbedaan yang signifikan dari lemak dan minyak adalah dilihat dari bentuknya. Istilah lemak biasa digunakan untuk ampuran trigliserida yang berbentuk padat saat berada pada suhu ruang sedangkan istilah minyak biasa digunakan saat campuran trigliserida berbentuk cair pada suhu ruang juga. Lipid yang paling sederhana dan paling banyak mengandung asam lemak sebagai unit penyusunnya adalah triasilgliserol, juga sering disebut lemak, lemak netral, atau trigliserida. Jenis lipid ini merupakan contoh lipid yang paling sering dijumpai baik pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Triasilgliserol adalah komponen utama dari lemak penyimpan atau depot lemak pada sel tumbuhan dan hewan, tetapi umumnya tidak dijumpai pada membran. Triasilgliserol adalah molekul hidrofobik nonpolar, karena molekul ini tidak mengandung muatan listrik atau gugus fungsional dengan polaritas tinggi (Lehninger 1982). Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat dibagi dalam beberapa golongan.. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes); (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, cerebrosida; (3) derivate lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol dan sterol. Di samping itu berdasarkan

sifat kimianya yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu lipid yang dapat disabunkan, yakni yang dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid. Lipid dibagi dalam beberapa golongan berdasarkan kemiripan struktur kimianya, yaitu: asam lemak, lemak, lilin, fosfolipid, sfingolipid, terpen, steroid, lipid kompleks. (Riawan, 1990)

B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk menguji berbagai bahan yang mengandung lipid (lemak dan minyak) dalam beberapa pelarut (aquades, alkohol, dan aseton).

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Lipid (dari kata yunani Lipos. Lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicerikan oleh sifat kelarutannya. Terutama lipid tidak bisa larut dalam air, tetapi larut dalam larutan non polar seperti eter (Hart, 2003). Suatu Lipid didefinisikan sebagai senyawa organic yang terdapat dalam alam serta tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic non polar sperti suatu hidrokarbon atau dietil eter ( Fessenden & Fessenden,1982) Lemak/ minyak ialah trigliserida, yaitu trimester dari dliserol. Asam lemak ialah asam yang diperoleh dari proses penyabunan lemak/ minyak (Hart, 2003). Lemak secara kimia diartikan sebagai ester dari asam lemak dan gliserol. Rumus umum lemak yaitu: R1,R2,dan R3 adalah rantai hidrokarbon dengan jumlah atom karbon dari 3 sampai 23, tetapi yang paling umum dijumpai yaitu 15 dan 17 (Salirawati et al,2007). Minyak / lemak merupakan lipida yang banyak terdapat di alam. Minyak merupakan senyawa turunan ester dari gliserol dan asam lemak. Struktur umumnya adalah : CH2-O-C-R1, CH-OCR2 , CH2OCR3. R1,R2, R3 adalah gugus alkil mungkin saja sama atau juga beda. Gugus alkil tersebut dibedakan sebagai gugus alkil jenuh (tidak terdapat ikanatanrangkap) dan tidak jenuh (terdapat ikan rangkap) (Hart, 2003) Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol,kedua istilah ini berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak dan minyak bersifat sebarang: pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan minyak bersifat cair. Sebagian besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak (fessenden & fessenden, 1982) Lemak digolongkan berdasarkan kejenuhan ikatan pada asam lemaknya. Adapun penggolongannya adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh (Salirawati et al,2007). Lemak yang mengandung asam-asam lemak jenuh, yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Dalam lemak hewani misalnya lemak babi dan lemak sapi, kandungan asam lemak jenuhnya lebih dominan (Salirawati et al,2007). Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mempunyai ikatan

rangkap. Jenis asam lemak ini dapat di identifikasi dengan reaksi adisi, dimana ikatan rangkap akan terputus sehingga terbentuk asam lemak jenuh (Salirawati et al,2007). Lipid adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut dalam air, dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform dan eter. Asam lemak adalah komponen unit pembangun pada hampir semua lipid. Asam lemak adalah asam organik berantai panjang yang mempunyai atom karbon dari 4 sampai 24. Asam lemak memiliki gugus karboksil tunggal dan ekor hidrokarbon nonpolar yang panjang. Hal ini membuat kebanyakan lipid bersifat tidak larut dalam air dan tampak berminyak atau berlemak (Lehninger 1982). Hawab (2004) juga menambahkan bahwa ciri khusus dari zat atau senyawa lipid ialah tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut lemak, yaitu cairan pelarut nonpolar, seperti khloroform, eter, aseton, dan

sebagainya. Pelarut seperti eter dan klorofom yang digunakan disebut juga sebagai pelarut lemak. Sesuai pendapat Poedjiadi (1994) bahwa pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena yang sering disebut pelarut lemak. Lipid adalah senyawa yang merupakan ester dari asam lemak dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus lain. Lipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic seperti eter, aseton, kloroform, dan benzene (Salirawati et al,2007) a. Asam Oleat Asam oleat atau asam Z-9-oktadekenoat merupakan asam lemak tak jenuh yang banyak dikandung dalam minyak zaitun. Asam ini tersusun dari 18 atom C dengan satu ikatan rangkap di antara atom C ke-9 dan ke-10. Selain dalam minyak zaitun (55-80%), asam lemak ini juga terkandung dalam minyak bunga matahari kultivar tertentu, minyak raps, serta minyak biji anggur. Rumus kimia: CH3(CH2)7CHCH(CH2)7)COOH. Asam lemak ini pada suhu ruang berupa cairan kental dengan warna kuning pucat atau kuning kecokelatan. Asam ini memiliki aroma yang khas. Ia tidak larut dalam air, titik leburnya 15.3C dan titik didihnya 360C. b. Minyak Kelapa

Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemaknya digolongkan dalam minyak asam laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar, yaitu 44-52% dalam minyak. Berdasarkan tingkat ketidakjenuhannya yang dinyatakan dengan bilangan iod, maka minyak kelapa dapat dimasukkan kedlam golongan non drying oil, karena bilangan iod minyak berkisar antara 7,5-10,5. (Ketaren, 1986). Asam lemak jenuh minyak kelapa kurang lebih 90%. Minyak kelapa mengandung 84% trigliserida dengan tiga molekul asam lemak jenuh, 12% trigliserida dengan dua asam lemak jenuh dan 4% trigliserida denganasam lemak jenuh (Ketaren,1986). Sifat fisik Minyak kelapa yang terpenting adalah tidak mencair tahap demi tahap seperti lemak yang lain akan tetapi langsung berubah menjadi cair, hal ini disebabkan karena titik cair asam lemak penyusunnya bedekatan, asam lemak laurat 44C,asam lemak miristat 54C, asam lemak palmitat 63C. Dengan demikian plastisitasa trigliserida juga terbatas. c. Minyak Sawit Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya adalah merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen penyusunnya yang utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (Nurhida Pasaribu, 2004). Minyak sawit adalah fraksi cair berwarna kuning kemerahan yang diperoleh dengan cara fraksinasi minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil) dan telah mengalami proses pemurnian (Ketaren, 1986). Muchtadi (1996) menyatakan bahwa munyak sawit sebagai salah satu jenis minyak nabati tidak mengandung kolesterol, pada saat proses pemurnian CPO menjadi minyak sawit kolesterol yang dimiliki CPO mengalami degradasi. Sterol yang dimiliki minyak sawit adalah fitosterol yang sebenarnya akan dapat menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) dan meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein). Minyak sawit merupakan sumber minyak nabati yang penting disamping minyak kelapa, kacang-kacangan, jagung dan sebagainya. Minyak kelapa sawit memiliki kadar air 0,25% (Hardja, 2001).

d. Mentega Putih (Shortening) Shortening yang dikenal di pasaran sebagai Mentega Putih adalah lemak yang dapat dimakan (edible fat) yang digunakan untuk berbagai macam keperluan seperti membuat adonan roti, bahan untuk membuat butter cream, dan juga untuk menggoreng. Disebut sebagai Shortening karena pada saat adonan roti dicampur, lemak akan menghambat pembentukan gluten yang ada pada terigu, atau dengan kata lain memperpendek gluten (dalam bahasa Inggeris to shorten). Dari kata to shorten atau memperpendek inilah muncul istilah Shortening. Arti sesungguhnya dari shortening adalah lemak atau campuran yang memiliki sifat plastisitas tertentu sehingga mampu membuat makanan seperti roti dan kue menjadi lembut. Bahan baku shortening adalah 100% lemak, yang dapat terdiri dari satu atau beberapa jenis lemak atau minyak, shortening biasanya merupakan campuran lemak dimana bisa terdiri dari lemak nabati semua (biasanya yang sudah dijenuhkan), campuran lemak nabati dengan lemak hewani atau lemak ikan; bisa pula merupakan campuran lemak hewani (lemak babi, lemak sapi) saja. e. Margarin Margarin atau oleo margarine pertama dibuat orang dan dikembangkan tahun 1869 oleh Mege Moories dengan menggunakan lemak sapi. Margarin

merupakan pengganti mentega dengan rupa, bau, konsistensi, rasa dan nilai gizi yang hampir sama. Margarin juga merupakan emulsi air dalam minyak, dengan persyaratan mengandung tidak kurang 80% lemak. Lemak yang digunakan untukpembuatan margarin dapat berasal dari lemak hewani atau lemak nabati. Lemak hewani yang digunakan biasanya lemak babi (lard), lemak sapi, oleo, oil, sedangkan minyak nabati yang sering digunakan adalah minyak kelapa, minyak inti sawit, minyak bji kapas, minyak kedelai, minyak wijen, minyak kapok, minyak jagung, dan minyak gandum. Dari minyak nabati margarin, yang umumnya berasal dari kelapa sawit. Teksturnya lebih padat dan titik lelehnya lebih tinggi dari pada mentega karena ada proses hidrogenasi (penjenuhan asam lemak). Warnanya lebih kuning dari mentega karena adanya tambahan zat pewarna alami, seperti karotenoid.

Margarine kaya akan lemak tak jenuh yang mengandung omega-3 dan omega-6. Teksturnya lebih kaku, stabil di suhu ruang (artinya tidak mudah meleleh). Proses ini menghasilkan lemak trans yang diperkirakan meningkatkan kadar LDL dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Lemak trans dianggap lebih berbahaya untuk kesehatan daripada lemak jenuh. Margarine mempunyai aroma tak sewangi mentega, namun sebaliknya mempunyai daya emulsi yang baik sehingga bisa menghasilkan tekstur kue yang kokoh. Alkohol Alkohol dapat mengeliminasi bakteri dengan mengkoagulasi protein. Alkohol mempunyai sifat mudah menguap. Alkohol menghilangkan lapisan lemak dan sebum kulit yang merupakan pelindung alami kulit terhadap infeksi bakteri (Lay dan Hastowo, 1992).

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan a. Alat: 15 buah tabung reaksi, spatula, gelas ukur, 2 buah pipet tetes, dan 3 buah pipet ukur. b. Bahan: sampel percobaan (asam oleat, minyak kelapa sawit, mentega putih, margarin dan minyak kelapa) dan pelarut (aquades, alkohol dan aseton).

B. Prosedur Pelarut sebanyak 2 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih

Ditambahkan beberapa tetes bahan percobaan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi pelarut

Tabung digojog kuat-kuat

Hasil yang diperoleh diamati dan dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil No. Pelarut 1. Aquades Lemak/minyak Asam oleat Keterangan Tidak terlarut, larutan berwarna kuning di atas dan berwarna putih bening di bawahnya

Minyak kelapa

Tidak terlarut, larutan berwarna putih keruh di atas dan berwarna putih bening di bawahnya.

Mentega putih

Tidak terlarut, larutan berwarna putih berbentuk gumpalan di atas dan larutan bening di bawahnya.

Minyak kelapa sawit

Tidak terlarut, larutan berwarna putih keruh kekuningan di atas dan larutan bening di bawahnya.

Margarin

Tidak terlarut, larutan berwarna kuning menggumpal di atas dan larutan bening di bawahnya.

2. Alkohol

Asam oleat

Tidak terlarut, terdapat gumpalan seperti putih telur di dalam larutan yang keruh.

Minyak kelapa

Tidak terlarut, larutan berwarna putih di atas dan larutan bening di bawahnya.

Mentega putih

Tidak terlarut, larutan berwarna putih agak menggumpal di atas dan larutan bening di bawahnya.

Minyak kelapa sawit

Tidak terlarut, larutan berwarna putih keruh agak kekuningan di atas dan larutan bening di bawahnya.

Margarin

Tidak terlarut, larutan berwarna kuning yang menggumpal di atas dan larutan bening di bawahnya.

3. Aseton

Asam oleat

Terlarut, larutan berwarna kuning.

Minyak kelapa

Terlarut, larutan berwarna putih bening.

Mentega putih

Tidak terlarut, larutan bening di atas

dan ada gumpalan putih di bawahnya.

Minyak kelapa sawit

Terlarut, larutan berwarna putih keruh.

Margarin

Tidak terlarut, ada endapan kuning di bawah larutan yang bening.

B. Pembahasan Praktikum yang dilakukan di Laboratorium Pangan dan Gizi Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman adalah mengenai Uji Kualitatif Lipid terutama mengenai kelarutannya jika direaksikan dengan pelarut-pelarut seperti aquades, aseton dan alkohol. Seluruh lemak dan minyak yang digunakan dalam praktikum kali ini (asam oleat, minyak kelapa, minyak sawit, margarin, dan mentega putih) yang dimasukkan ke dalam air menghasilkan adanya dua lapisan larutan yang tidak

menyatu (tidak larut). Lapisan atas pada beberapa lipid (asam oleat dan margarin) terbentuk gumpalan putih hingga kuning. Ada juga yang tidak menggumpal berwarna putih hingga keruh kekuningan seperti minyak kelapa, minyak sawit, dan mentega putih. Sedangkan lapisan bawahnya umumnya berwarna bening. Hal ini sudah sesuai dengan banyak referensi yang menyebutkan bahwa minyak dalam air akan membentuk emulsi yang tidak stabil, karena bila dibiarkan kedua cairan akan terpisah menjadi dua lapisan. Molekul-molekul zat akan mudah berikatan jika sifatnya sama. Artinya, air akan mudah bercampur dengan air, minyak dengan minyak, dan sebagainya. Air dan minyak tidak bisa menyatu disebabkan karena keduanya memiliki sifat yang berbeda. Jika dilihat dari muatannya, molekul air memiliki muatan listrik yang menyebabkannya memiliki gaya tarik menarik. Tidak jauh beda dengan magnet, molekul air akan mudah tertarik dan menarik molekul yang memiliki muatan listrik juga, sehingga berikatan satu sama lain. Sebaliknya, akan bersifat saling bertolakan dengan molekul yang tidak memiliki muatan listrik. Minyak ini sama sekali tidak mempunyai muatan listrik yang dapat membuatnya memiliki gaya tarik menarik dengan air. Jadi, molekul-molekulnya pun tidak dapat berikatan. Satu sifat yang khas mencirikan golongan lipid (termasuk minyak dan lemak) adalah daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya eter, benzen, kloroform) atau sebaliknya ketidak-larutannya dalam pelarut air. Sedangkan lipid yang diberi alkohol pada umumnya hanya sedikit larut. Referensi di atas ada yang terjadi dan ada yang tidak terjadi pada praktikum kali ini. Seperti misalnya pada pelarut alkohol, praktikum kali ini menghasilkan lipid (asam oleat, mentega putih, minyak sawit, dan margarin) yang tidak terlarut dengan lapisan atas terdapat gumpalan lemak yang berwarna putih hingga kuning dan lapisan bawah bening keruh. Sedangkan untuk minyak kelapa pada lapisan atas berwarna putih dan larutan bening di bawahnya. Untuk lipid yang diberi pelarut aseton seharusnya dapat larut karena pada referensi telah dijelaskan bahwa lipid larut dalam senyawa nonpolar termasuk aseton. Sedangkan pada praktikum didapatkan hasil bahwa sebagian lipid (asam oleat, minyak kelapa, dan minyak sawit) larut dalam aseton dengan masing-

masing larutan berwarna kuning, putih bening dan putih keruh dan sebagian lagi (mentega putih dan margarin) tidak terlarut dengan masing-masing larutan ada gumpalan putih dan endapan kuning dibawah larutan bening. Hal ini bisa terjadi karena beberapa kesalahan dari bahan yang digunakan baik dari lipid maupun pelarutnya (aseton) yang menurun kualitasnya. Selain itu juga bisa terjadi karena human error sehingga hasil yang didapatkan belum sesuai dengan referensi yang ada.

V.

PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah dilakukan praktikum mengenai Uji Kualitatif Lipid terutama tentang kelarutannya terhadap beberapa pelarut, didapatkan hasil yaitu, untuk pelarut air, semua lipid yang diuji membentuk dua lapisan yang tidak menyatu (tidak larut) dengan Lapisan atas pada beberapa lipid (asam oleat dan margarin) terbentuk gumpalan putih hingga kuning. Ada juga yang tidak menggumpal berwarna putih hingga keruh kekuningan seperti minyak kelapa, minyak sawit, dan mentega putih. Sedangkan lapisan bawahnya umumnya berwarna bening. Untuk pelarut alkohol menghasilkan lipid (asam oleat, mentega putih, minyak sawit, dan margarin) yang tidak terlarut dengan lapisan atas terdapat gumpalan lemak yang berwarna putih hingga kuning dan lapisan bawah bening keruh. Sedangkan untuk minyak kelapa pada lapisan atas berwarna putih dan larutan bening di bawahnya. Untuk aseton didapatkan hasil bahwa sebagian lipid (asam oleat, minyak kelapa, dan minyak sawit) larut dalam aseton dengan masingmasing larutan berwarna kuning, putih bening dan putih keruh dan sebagian lagi (mentega putih dan margarin) tidak terlarut dengan masingmasing larutan ada gumpalan putih dan endapan kuning dibawah larutan bening.

B. Saran Agar praktikum ke depannya dapat berlangsung lebih baik lagi disarankan agar praktikan dapat lebih menguasai materi yang akan dipraktikkan terlebih dahulu sebelum melakukan praktikum sehingga hasilnya dapat lebih optimal dan human error dapat yang terjadi dapat berkurang.

DAFTAR PUSTAKA Buckle, 1987. Ilmu Pangan. UI Press, Jakarta Fessenden dan Fessenden. 1982. Kimia Organik II,edisi ketiga. Jakarta: Erlangga Gilvery, Goldstein. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional Edisi 3. Airlangga University Press: Surabaya Hardja, B. S. 2001. Studi pembuatan mentega coklat tiruan dan minyak sawit dengan proses interestifikasi enzimatik. Laporan Penelitian, Hibah Bersaing. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hart, Harold. 2003. Kimia Organik Suatu Kulaih Singkat. Erlangga: Jakarta Hawab, H.M. 2004. Pengantar Biokimia Edisi Revisi. Bayumedia Publishing, Jakarta. Ketaren.1986. Pengantar teknologi minyak dan lemak pangan. Jakarta:Universitas Indonesia press Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Maggy Thenawijaya, penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. Muchtadi, T. 1996. Peranan teknologi pangan dalam peningkatan nilai tambah produk minyak sawit Indonesia. Orasi Ilmiah. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Pasaribu, Nurhida. 2004. Minyak Buah Kelapa Sawit. Makalah. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Ut-Press, Jakarta. Riawan, S. 1990. Kimia Organik. Edisi 1. Binarupa Aksara: Jakarta Salirawati et al.2007. Belajar Kimia Menarik. Jakarta: Grasindo