Anda di halaman 1dari 25

PERAN TEORI HUKUM TERHADAP HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA DI PERADILAN AGAMA A.

Latar Belakang Indonesia adalah negara hukum (rechtsstaat), begitu bunyi Pasal 1 Ayat (3) UUD 194 Amandemen !etiga" #e$atutnya $engertian negara hukum dimaksud diartikan secara dinamis baik dalam tataran sistem hukum ero$a kontinental semacam Indonesia mau$un sistem hukum Anglo #a%on" &emang sebagian ahli ber$enda$at konse$ negara hukum itu cenderung lebih dekat $ada sistem kontinental karena mengusung konse$ #u$remacy o' (eneral )a* dari$ada sistem Anglo #a%on yang menekankan $ada asas stare decisis yang memungkinkan hakim untuk membentuk hukum (+udge made la*)" ,amun demikian $andangan ini sudah berubah, hukum tidak lagi semata-mata di'ungsikan sebagai re'leksi kekuasaan yang berdaulat, teta$i harus $ula di$ertanyakan hakekat dan substansi hukum tersebut" !arena itu menurut .oogers dan /armelink sebenarnya $atut mem'ungsikan hakim sebagai de$uty legislators atau $seudo legislators" (oldstein, menerangkan setidaknya ada 3 (tiga) konse$ kedudukan hakim dalam $enegakan hukum (la* en'orcement)" Pertama, dalam kerangka total en'orcement conce$t, dimana hakim dihara$kan menegakkan hukum secara menyeluruh baik norma mau$un nilai yang terkandung didalamnya" .al ini sulit dilakukan karena dalam men+alankan hukum itu sendiri terda$at kerangka due $rocess o' la* sehingga terda$at $embatasan lain se$erti $enera$an .ukum Acara" !edua, 'ull en'orcement conce$t yaitu terhada$ sisi-sisi yang masih grey area hakim memberikan diskresinya atas berbagai keterbatasan substansi hukum, struktur hukum mau$un budaya hukum" !etiga, adalah actual en'orcement conce$t" 0leh karena itulah kekuasaan kehakiman itu tidak hanya

mengandung $engertian otoritas hukum teta$i +uga ke*a+iban hukum yang meru$akan kekuasaan yang melekat $ada hakim dan $engadilan untuk melaksanakan 'ungsi $emerintahan beru$a mengadili dan memutus (ad+udication)" .akim adalah 'igur #entral dalam $roses $eradilan, senantiasa dituntut untuk membangun kecerdasan intelektual, terutama kecerdasan emosinal, kecerdasan moral dan s$iritual, +ika kecerdasan intelektual, emosional dan moral s$iritual terbangun dan te$elihara dengan baik bukan hanya akan memberikan man'aat ke$ada diri sendiri, teta$i +uga akan memberikan man'aat bagi masyarakat dalam konteks $enegakan hukum"1 !emam$uan ketiga unsur $enting tersebut, dalam diri seorang .akim harus mem$eroleh $erhatian seimbang dalam ke$ribadian, kedinasan dan dalam $ergaulan kemasyarakatan, sehingga keluhuran dan martabat hakim dimana$un dan ka$an$un akan teta$ ter+aga ter$elihara" #ecara 'ormalistic, tugas .akim adalah memeriksa dan memutus $erkara, yang dia+ukan ke$adanya, teta$i se+ati 'iloso'is tugas hakim harus ber+uang mengerahkan segala kemam$uan meli$uti kecerdasan intetelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan s$iritual untuk menemukan kebenaran dan keadilan yang sangat abstrak ditengah-tengah hiruk $ikuknya kehidu$an" !arena hakim dalam memutus $erkara *a+ib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidu$ dalam masyarakat. disini terkandung akti1itas kegiatan 'iloso'is dan sosiologis yang harus +uga dilakukan oleh seorang .akim"2 Putusan .akim yang adil dalam $enera$an hukum akan
Ahmad !amil, Pedoman Perilaku .akim dalam $ers$ekti' 3ilsa'at 4tika, Dalam &a+alah .ukum, suara Uldilag ,o" 13", &A5I, 6akarta, 2778, .al" 38" 2 Ahmad !amil, Pedoman Perilaku .akim dalam $ers$ekti' 3ilsa'at 4tika, Dalam &a+alah .ukum, suara Uldilag ,o" 13", &A5I, 6akarta, 2778, .al" 38"
1

men+adi $uncak keari'an bagi $enyelesaian $ermasalahan hukum yang ter+adi dalam kehidu$an bernegara, karena $utusan .akim yang dia*ali dengan irah-irah 9D4&I !4ADI)A, :45DA#A5!A, !4;U.A,A, sinyal beta$a itu .akim secara <A,(

&A.A 4#A= hakikinya adalah $enegakan h ukum dan keadilan di$ertanggung+a*abkan oleh

ke*a+iban harus 1ertikal dengan

mem$ertaruhkan nama Allah s*t" Untuk menegakkan suatu keadilan dalam $enera$an hukum

harus ada sumber hukum beru$a hukum-hukum tertulis yang sudah terkodi'ikasi" .akim memutus dalam memeriksa dan

$erkara, menghada$isuatu

k e n ya t a a n , bah*a hukum tertulis tersebut tern ya t a tidak s e l a l u da$at menyelesaikan .akim masalah yang dihada$i" :ahkan itu

seringkali

harus menemukan

sendiri

hukum

(Rechtsvinding), menci$takan

dan>atau

(Rechtsschepping), untuk melengka$i hukum yang sudah ada, dalam memutus suatu $erkara" .akim atas inisiati' sendiri harus menemukan hukum , karena .akim tidak boleh menolak $erkara dengan alasan hukum tidak ada, tidak lengka$, atau hukum samar-samar " ;ermasuk +uga dalam hal ini adalah $ara
@ ?

Ibid", hal" 43 #udikno &ertokusumo, #udikno &ertokusumo, 2771, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, cet" II, )iberty, <ogyakarta, .alaman 17" ? #udikno &ertokusumo dan A" Pitlo, 1993, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Aitra Aditya :akti, 6akarta, .alaman @" @ Indonesia, Undang-Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No.4 tahun 2004, )," ,o" 9 tahun 2774, ;), ,o" 43 9, $s"1?" :erbunyi sebagai berikutB (1) Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu $erkara yang dia+ukan dengan dalih bah*a hukum tidak ada atau kurang +elas, melainkan *a+ib untuk memeriksa dan mengadilinya

.akim di$eradilan agama" Untuk itu .akim Agama senantiasa harus melengka$i diri dengan ilmu hukum, teori hukum dan 'ilsa'at hukum" .akim Agama tidak boleh membaca hukum itu hanya secara normati' (yang t e r l i h a t ) s a + a" D i a di tu n tu t untuk da$at melihat hukum itu secara lebih dalam, lebih luas, dan lebih +auh kede$an" Dia harus mam$u melihat hal-hal yang melatar belakangi suatu k e t e nt u a n -k e t e nt u an t e r t ul is , $ e mi k i r an - $e m i ki r a n a $ a yang ada di sana, dan bagaimana rasa keadilan dan kebenaran
8

masyarakat akan hal itu" " Untuk mam$u ber$eran dalam

itu,

.akim

Agama

+uga

harus

$roses $enemuan hukum (rechtsvinding) dan saat memutus melakukan $erkara" $eran

$enci$taan hukum (rechtsschepping), $ada &asalahnya sekarang, sanggu$kah

.akim Agama

se$erti tersebut di atasC 6a*abannya harus sanggu$, Agama harus mem$unyai memiliki hukum tersebut" metode $engetahuan yang

.akim cuku$, serta

$roses ber$ikir yuridis, didalam $enera$an

Dari $ertimbangan yang telah diuraikan di atas, terlihat bah*a suatu ka+ian tentang $eran .akim Agama dalam $enera$an hukum, adalah suatu hal yang menarik untuk dika+i>dibahas, yang dituangkan dalam bentuk

makalah yang diberi +udul 9 PERAN HAKIM AGAMA, METODE BERPIKIR YURIDIS DALAM DAN KONSEP KEADILAN

PENERAPAN HUKUM.

#ugi+anto Darmadi, 1998, Kedudukan Hukum dalam llmu dan Filsa at . AD &andar &a+u, 6akarta, .alaman 3" :andingkan dengan ;heo .*i+bers, 199 , 3ilsa'at

.ukum, !anisius, 6akara, .alaman 1@-18"

B. Masala P!k!k. #e$erti diungka$ di atas, masalah $okok yang hendak dicari +a*abannya dalam $enelitian ini adalah 9:agaimana $eran seorang

.akim Agama, metode ber$ikir yuridis, dan konse$ keadilan dalam $enera$an hukum=" &asalah ini da$at dirinci men+adi bebera$a masalah berikut yang $erlu dicari +a*abannya sendiri, yaituB 1" :agaimana Peran .akim Agama dalam Penemuan .ukum untuk men+a*ab masalah $okok itu

(Rechtsvinding) dan Penci$taan .ukum (rechtsschepping)C 2" :agaimana &etode>Aara :er$ikir <uridis Penera$an .ukumC 3" :agaimana !onse$ !eadilan dalam Penera$an .ukum oleh .akim Agama dalam &emutus suatu PerkaraC ". Pe#$a asan %. Peran Hak&# Aga#a Dala# Pene#'an H'k'# (!e"hts#inding$ )an Pen*&+taan H'k'# (re"htss"he%%ing$. Para ahli 'ilsa'at hukum memang berbeda $enda$at mengenai a$akah .akim $unya $eran untuk menemukan hukum, yang kadangkala atau selalu berarti menyim$ang dari undang-undang" Dalam Undang-Undang ,omor 4 ;ahun 2774 tentang !ekuasaan !ehakiman sebagai hasil re1isi Undang-Undang ,omor 14 ;ahun 19@7, :ab ID tentang .akim dan !e*a+ibannya, Pasal 28 ayat (1) dinyatakan bah*aB E.akim *a+ib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan .akim Agama dalam

keadilan yang hidu$ dalam masyarakatE" #elan+utnya dalam $en+elasan dari $asal tersebut disebutkanB E!etentuan ini dimaksudkan agar $utusan .akim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakatE" !etentuan Pasal 28 ayat (1) ini meru$akan $engulangan dengan sedikit $erubahan dari Pasal 2@ Undang-Undang ,omor 14 ;ahun 19@7 yang digantikannya"
9

Dari ketentuan di atas, tersirat secara +uridis mau$un 'iloso'is, .akim mem$unyai ke*a+iban atau hak untuk melakukan $enemuan hukum dan $enci$taan hukum, agar $utusan yang diambilnya da$at sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat" !etentuan ini berlaku bagi semua .akim dalam semua lingkungan $eradilan dan dalam semua tingkatan" #elan+utnya, dalam u$aya menyelesaikan suatu $erkara yang disodorkan ke$adanya (.akim), maka menurut #udikno, ada tiga taha$an yang harus dile*ati seorang .akim, yakni mengkonstatir 'akta-'akta, mengkualifikasikan $eristi*a dan mengkonstitusikan $eristi*a hukum " &enurut #udikno, mengkonstatir 'akta-'akta adalah menilai benar tidaknya suatu $eristi*a konkrit yang dia+ukan di$ersidangan, baik $erkara $idana atau $erdata, dan hal ini memerlukan $embuktian" 6adi yang harus dibuktikan adalah 'akta atau $eristi*a konkrit" #edangkan dalam taha$ kualifikasi hakim menilai $eristi*a konkrit ('akta-'akta) a$a atau mana" Dengan kata lain,
17

tersebut termasuk hubungan

mengkuali'isir berarti mengelom$okkan atau menggolongkan $eristi*a konkrit tersebut masuk dalam kelom$ok atau golongan $eristi*a hukum a$a ($encurian, $emerasan,
9 17

)ihat UU" ,o" 4 ;ahun 2774 tentang !ekuasaan !ehakiman, $asal 28 ayat (1)" #udikno &ertokusomo, Penemuan Hukum F 0$" cit., .alaman 49"

$erGinaan, +er*ek*!kan ter's #ener's, +engan&a,aan -as#an& , $eralihan hak dan sebagainya) kegiatan dengan yang +alan bersi'at menera$kan logis" Dalam $eraturannya $roses ini

sebagai suatu

adakalanya .akim bukan +uga harus

hanya

menera$kan $eraturan

teta$i

menci$takan hukumnya" #elan+utnya, taha$

akhir adalah mengkonstituir atau memberi konstitusinya, yakni hakim menentukan hukumnya, memberi k eadilan, menentukan hukum dari suatu hubungan hukum antara $eristi*a hukum dengan sub+ek hukum (terdak*a, tergugat atau$un $enggugat)" #elan+utnya, $ada dasarnya hakim memang harus menera$kan hukum yang ada dalam $eraturan $erundang-undangan" Adanya hukum yang tertulis dalam bentuk $erundang-undangan sebagai *u+ud dari asas legalitas, memang lebih men+amin adanya ke$astian hukum" ;eta$i undang- undang sebagai $roduk $olitik, tidak mudah untuk diubah dengan ce$at mengikuti $erubahan masyarakat" Disisi yang lain,

dalam kehidu$an modern dan kom$lek serta dinamis se$erti sekarang ini, masalah-masalah hukum banyak dan beragam yang menuntut $emecahan yang segera"
11

yang

dihada$i

masyarakat

semakin

Dalam $raktek, .akim menghada$i dua kendala, yakni seringkali kata atau kalimat undang-undang tidak +elas, atau undang-undang tidak lengka$ dalam arti belum tegas-tegas mengatur suatu kasus konkrit yang dia+ukan ke$ada .akim" Padahal disisi lain, .akim dilarang

menolak mengadili suatu $erkara yang dia+ukan ke$adanya dengan dalih hukum tidak

&ukhsin Asyro', &sas-&sas Penemuan Hukum dan Pen"i%taan Hukum oleh Hakim dalam Proses Peradilan, 277?, Artikel dalam Daria Peradilan, tahun ke HHI ,o" 2 2"

11

ada atau kurang +elas, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1? ayat (1) UU",o" 4 ;h" 2774" !endala yang dihada$i ini, menurut #udikno,
12

diatasi .akim

dengan dua cara" 6ika $eraturannya tidak +elas, .akim melakukan inter$retasi>$ena'siran terhada$ bunyi undang-undang berbagai metode otentik, sistematis, historis, $eraturannya tidak lengka$, .akim akan metode contrario, melakukan $enalaran
13

dengan $ena'siran 6ika

inter$retasi>$ena'siran, sosiologis dan

se$erti

lain-lain"

(reasoning),

+uga

dengan

berbagai

$enalaran > argumentum

argumentasi per

tertentu se$erti argumentum a (analogi) "' dan

analogiam

$enyem$itan hukum (rechts-verfijning). Atas dasar tersebut, maka .akim +uga ber$eran disam$ing menera$kan hukum +uga menemukan dan menci$takan hukum" Pada *aktu mengadili, .akim menentukan hukum in concreto terhada$ suatu $eristi*a tertentu" Dengan demikian $utusan hakim adalah hukum atau dengan $utusannya .akim membuat hukum (judge made la ). Disam$ing lembaga

legislati' sebagai $embentuk yang ob+ekti' abstrak, maka membentuk atau

hukum .akim +uga

menci$ta hukum, hanya sa+a hukum yang dici$takan


!"

.akim adalah hukum inconcreto.

#ecara tekstual, sebagaimana telah disebutkan, undang -undang memang menuntut .akim untuk menggali nilai-nilai yang hidu$ dalam
&ertokusomo #udikno,Penemuan Hukum F"0$"cit., .alaman 142" Ahmad Ali menyebutkan,= &etode Penalaran >Argumentasi ini dengan nama konstruksi .ukum, lihat bukunya 'engembara di Belantara Hukum , 1997, :ulan :intang, 6akarta, .alaman 1 8"
13 12

14

Ibid., .alaman 133"

masyarakat, melakukan a$akah

yang $enemuan

secara hukum

'iloso'is berarti menuntut .akim untuk dan $enci$taan hukum" .anya sa+a,

dengan

dalih kebebasan hakim tersebut, atau dengan dalih atas dasar keyakinannya, lalu .akim boleh $enyim$angan memberi terhada$ undang$ena'siran

.akim harus memutus sekehendak undang hatinya

melakukan atau

(contra legem)

inter$retasi>

terhada$ undang-undang" 6a*abnya tentu sa+a tidak, karena hal itu akan menimbulkan

kekacauan dan ketidak $astian hukum" Penemuan dan $enci$taan hukum oleh .akim dalam $enera$an hukum dan keadilan, haruslah

dilakukan atas $rinsi$- $rinsi$ atau asas-asas tertentu, yang men+adi dasar sekaligus rambu-rambu bagi .akim dalam menera$kan kebebasannya dalam menemukan dan menci$takan hukum"

.. Met!)e/ "ara Ber+&k&r H'k'#.

Y'r&)&s

Hak&# Aga#a

)ala# Penera+an

Untuk menegakkan suatu keadilan dalam $enera$an hukum harus ada sumber hukum beru$a hukum-hukum tertulis" Dalam sistem hukum civil la , hukum tertulis adalah meru$akan $rimadona sebagai sumber hukum" .al itu ditandai oleh munculnya suatu gerakan kodi'ikasi, oleh aliran legisme, yaituB aliran dalam ilmu hukum dan $eradilan yang

tidak mengakui hukum di luar Undang-Undang" &ereka mengatakan bah*a hukum adalah identik dengan Undang-Undang, sedangkan kebiasaan dan ilmu $engetahuan

hukum, diakui sebagai hukum a$abila undang- undang menun+uknya " #elan+utnya mereka mengatakan, bah*a undang-undang (kodi'ikasi) +ustru diadakan untuk membatasi hakim, yang karena kebebasannya telah men+urus ke arah kese*enang-*enangan atau tirani " A$abila hukum tertulis tidak lengka$, atau belum da$at men+a*ab $ermasalahan yang ada untuk menyelesaikan sengketa yang dihada$i, barulah dicari kelengka$annya dari sumber hukum yang lain-lainnya" &enurut #udikno &ertokusumo, sumber hukum adalahB $eraturan $erundangan-undangan, kemudian
1?

kebiasaan, yuris$rudensi, 6adi, terda$at

$er+an+ian internasional, barulah doktrin"

hirarkhi atau ke*erdaan dalam sumber hukum, ada t i n gk a t a n - ti n gk a t 1@ an" # e l a i n itu menurut ;AP &P5, sumber hukum meli$utiB P ancas ila, .ukum tertulis, dan .ukum ;idak ;e rtulis , yang di$akai sebagai sumber (bahan) menyusun $eraturan $erundang-undangan"
18

.akim dalam memeriksa dan memutus $erkara, menghada$i suatu k e n ya t a a n , bah*a hukum tertulis tersebut tern ya t a tidak s e l a l u da$at

#udikno &ertokusumo dan A" Pitlo, 1993,

Bab-Bab Tentang(...0$"cit.)

.alaman 17"

6"A" Pontier, EPenemuan .ukum (Rechtvinding)", diter+emahkan oleh :" Arie' #hidarta (Untuk digunakan secara terbatas hanya untuk kalangan sendiri, )aboratorium .ukum 3akultas .ukum Uni1ersitas !atolik Parahiyangan, :andung 2777), hal" 4" Disana dikatakanB !odi'ikasi sebagai sarana untuk membatasi kekuasaan $ara hakim" !odi'ikasi hukum mengim$lementasikan bah*a tugas $engembangan hukum secara 'ormal dibebankan ke$ada $embentuk undang-undang, dan bukan hakim" 1@ #udikno &ertokusumo, 2771, Penemuan HukumFF"0$"cit", .alaman 48" 18 !eteta$an &a+elis Permusya*aratan 5akyat 5e$ublik Indonesia ,oB III>&P5>2777,Tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang -undangan) %s. *. <ang berbunyi sebagai berikutB (1) #umber .ukum adalah sumber yang di+adikan bahan untuk $enyusunan $eraturan $erundang-undangan" (2) #umber .ukum terdiri atas #umber .ukum ;ertulis dan ;idak ;ertulis" (3) #umber .ukum Dasar ,asional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 194 , yaitu !etuhanan <ang &aha 4sa, !emanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang di$im$in oleh hikmat kebi+aksanaan dalam ;ubuh Undang-Undang Dasar 194 "

1?

menyelesaikan masalah yang dihada$i"

19

:ahkan seringkali .akim harus

menemukan sendiri hukum itu (Rechtsvinding), dan>atau menci$takan (Rechtsschepping), untuk melengka$i hukum yang sudah ada, dalam memutus suatu $erkara" .akim atas inisiati' sendiri harus menemukan hukum , karena .akim tidak boleh menolak $erkara dengan alasan hukum tidak ada, tidak lengka$, atau hukum samar-samar " ;ermasuk +uga dalam hal ini adalah $ara .akim di$eradilan agama" Untuk menemukan>menera$kan hukum dan menci$takan hukum haruslah melalui metode" dalam & etode $enemuan
22 21 27

hukum

hanya

da$at digunakan hukum

$raktek

hukum

" &etode

$enemuan

+uga bukan teori hukum" &etode $enem uan hukum terdiri se$ertiB $ena'siran gramatikalI atau

atas $ena'siran hukum, $ena'siran sosiologis"

sistematisI dan $ena'siran &etode $enemuan hukum

teleologis

+uga mencaku$ konstruksi

hukum, se$ertiB analogi , argumentum a kontrario, dan $enghalusan hukum "


23

&etode $enemuan

hukum

hanya

di$ergunakan dalam $raktek terutama oleh hakim dalam memeriksa dan memutus $erkara" &etode $enemuan hukum diarahkan $ada suatu $eristi*a yang
#udikno &ertokusumo, Penemuan HukumF"0$"cit., .alaman 17" #udikno &ertokusumo, Bab-Bab TentangF0$"cit., .alaman @" 21 Indonesia, Undang-Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No.4 tahun 2004, )," ,o" 9 tahun 2774, ;), ,o" 43 9, $s"1?" :erbunyi sebagai berikutB (1) Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu $erkara yang dia+ukan dengan dalih bah*a hukum tidak ada atau kurang +elas, melainkan *a+ib untuk memeriksa dan mengadilinya 22 #ugi+anto Darmadi, 0$"cit", .alaman ?3" 23 #udikno &ertokusumo, Penemuan Hukum #., 0$"cit ., .alaman ?-@4" Di sana diuraikan secara $an+ang lebar tentang $ena'siran dan konstruksi hukum tersebut" Untuk +elasnya silahkan membaca sendiri literature tersebut, karena secara detail tidak akan dimuat dalam uraian $enelitian singkat ini" #elain itu, telah banyak literatur yang membahas dan menguraikan akan hal itu"
27 19

bersi'at khusus, konkret, dan indi1idual" 6adi, metode $enemuan hukum adalah bersi'at E$raktikalE, karena lebih di$ergunakan

dalam $raktek hukum" .asil dari metode $enemuan hukum, adalah terci$tanya $utusan di$ergunakan $engadilan yang baik, yang da$at

sebagai sumber $embaharuan hukum" Putusan hakim

ber$eran +uga terhada$ $erkembangan hukum dan ilmu hukum, oleh karena itu ke$utusan hakim +uga da$at digunakan sebagai bahan ka+ian dalam ilmu hukum" !emam$uan kualitas $utusan seorang .akim Agama akan terlihat dari

yang dilakukannya" Putusan yang berkualitas, adalah yang sudah

hasil dari $roses ber$ikir .akim Agama yang bersangkutan,

barang tentu dengan bekal $engetahuan yang cuku$ tinggi dalam ilmu hukum, 'ilsa'at hukum, serta berbagai ilmu $enun+ang teori hokum, lain, yang ini,

dimilikinya" 0leh karena itu, dalam uraian selan+utnya dari tulisan

akan memuat tentang bekal $engetahuan dan $roses ber$ikir .akim tersebut" &enga$a $enemuan hukum $erluC .akim dalam memeriksa

dan memutus $erkara, ternyata menghada$i suatu kenyataan, bah*a hukum yang sudah ada tidak da$at secara $as untuk men+a*ab dan menyelesaikan sengketa yang dihada$i" .akim harus mencari kelengka$annya, dengan menemukan sendiri hukum itu "
24

&enurut

#udikno

&ertokusumoB

!egiatan

kehidu$an manusia itu sangat luas, tidak terhitung +umlah dan +enisnya, sehingga tidak mungkin tercaku$ dalam suatu $eraturan $erundang -undangan dengan tuntas dan +elas" &aka *a+arlah kalau tidak ada

$eraturan $erundang-

)ihatB #udikno &ertokusumo, Bab-bab Tentang##., 0$"cit", .alaman 17I dan )ie 0en .ock 0$"cit", .alaman 8"

24

undangan yang da$at mencaku$ keseluruhan kegiatan kehidu$an manusia, sehingga tidak ada $eraturan $erundang-undangan yang lengka$

selengka$- lengka$nya dan yang +elas se+elas-+elasnya" 0leh karena hukumnya tidak +elas, maka +erta#a1ta#a .akim harus dicari dan ditemukan"
2

0a)&,

harus menggunakan hukum tertulis terlebih

dahulu, akan teta$i a$abila hukum tertulis tersebut ternyata tidak cuku$ atau tidak $as, maka barulah hakim mencari dan menemukan sendiri hukum itu dari sumber-sumber hukum lainnya " #umber-sumber hukum lainnya tersebut, adalahB yuris$rudensiI doktrinI traktatI kebiasaan atau hukum tidak tertulis " &enurut :" Arie' #idharta, ada ? (enam) +alur $roses $embentukan hukum, salah satunya adalah melalui +alur $roses $eradilan " Proses dan cara ber$ikir .akim untuk menemukan hukum, da$at dikelom$okkan ke )ala# . ()'a2 al&ran, ,a&t'3 (%2. Al&ran k!nser4at&56 )an (.2. Al&ran +r!gres&5 . Dari karya $utusan seorang .akim, da$at diketahui a$akah dia termasuk kelom$ok aliran konser1ati' atau aliran $rogresi'" &ereka sendiri tidak menyebutkan bah*a mereka adalah $enganut dari salah satu aliran tersebut" :ahkan, seringkali seorang .akim kasus (secara kasuistis) berubah-ubah $endirian" Dalam kasus (A) misalnya, dia memutus
2 2?

2?

2@

28

.7

dalam setia$

dalam

aliran konser1ati',

teta$i

dalam

kasus

(:) dia

#udikno &ertokusumo, Penemuan Hukum F"", 0$"cit", .alaman 3@" )ihatB Ps" 1? dan Ps" 28 UU ,o" 4 ;ahun 2774I dan #udikno &ertokusumo, 0$"cit", .alaman 8" 2@ )ihatB #udikno &ertokusumo, Bab-bab tentangFF", 0$"cit", .alaman 8I dan +uga #udikno &ertokusumo, Penemuan Hukum F, o$"cit", .alaman 18" 28 :ernard Arie' #idharta, !e eksi Tentang Struktur +lmu Hukum , 2777, &andar &a+u, :andung, .alaman 189" :eliau mengatakanB Proses $embentukan hukum itu berlangsung melalui $roses $olitik yang menghasilkan $erundang-undangan, $roses $eradilan yang menghasilkan yuris$rudensi, $utusan birokrasi, $emerintahan yang menghasilkan

keteta$an, $rilaku hukum *arga masyarakat dalam kehidu$an sehari-hari, dan $engembangan ilmu hukum" 29 #udikno &ertokusumo, Bab-bab TentangF", 0$"cit", .alaman "

memutus dalam aliran $rogresi'" Aliran konser1ati' dan aliran $rogresi' $ernah men+adi $rimadona $ada +amannya masing-masing"
37

#ebagai reaksi

terhada$ tidak adanya

ke$astian hukum $ada sekitar tahun 1877, oleh karena $enggunaan hukum kebiasaan yang beraneka ragam, muncullah gerakan-gerakan

kodi'ikasi, disertai timbulnya aliran legisme, ya ng tidak mengakui hukum indentik, diluar undang-undang" .ukum dan undang-undang itu

sedangkan kebiasaan dan ilmu $engetahuan diakui sebagai


31

hukum a$abila undang - undang menun+uknya " #e+ak saat itu hingga sekarang, tan$a disadari, terda$at kelom$ok kelom$ok hakim, yang lebih mengutamakan hukum tertulis sebagai sumber utama untuk memutus $erkara" !elom$ok-kelom$ok hakim yang ber$ikir secara demikian digolongkan ke$ada suatu aliran konser1ati'" Artinya, hakim dalam memeriksa dan memutus suatu $erkara berusaha
32

mem$ertahankan nilai -nilai yang ada di dalam masyarakat " Dari strukturnya, hukum terlihat sebagai hal yang cenderung

mem$ertahankan status Juo" .ukum berusaha untuk menghindar dari $erubahan" .ukum men+aga stabilitas " &ereka tidak $ernah ber$ikir, bah*a melalui $utusan- $utusannya, mereka da$at menci$takan nilai-nilai baru, atau mereka da$at
&en+adi $rimadona $ada +aman kodi'ikasi, +aman ligisme, dimana ilmu $engetahuan hukum tidak mengakui hukum di luar undang-undang" Pandangan ini berkembang di 4ro$a sekitar tahun 1937-1987 yang di$elo$ri a+aran &ontesJuie*" #etelah itu muncul aliran $rogresi', madGab historis dan freirechtschule, yang ber$enda$at bah*a undang-undang tidak lengka$" Di sam$ing undang-undang masih ada sumber-sumber lain, yaituB kebiasaan" ;okoh Don #a1ignya melahirkan sistem aGas-aGas hukum ($egriffsjurispruden%). )ihatB #udikno &ertokusumo, Penemuan Hukum)(..0$"cit", .alaman 8-11" 31 )ihat kembaliB UU ,o" 4 tahun 2774" $s" 1? dan $s" 28" 32 #udikno &ertokusumo, Penemuan Hukum()oc""cit"
37

33

33

#ugi+anto Darmadi, 0$"cit", .alaman

"

merekayasa suatu masyarakat yang baru yang sesuai dengan $erkembangan +aman dan tekhnologi masyarakat " Pada aliran konser1ati', .akim hanya mengkonstatir bah*a undang-undang da$at ditera$kan $ada $eristi*anya, kemudian .akim
34

menera$kannya menurut bunyi undang-undang" Dengan demikian maka $enemuan hukum tidak lain meru$akan $enera$an undang -undang yang ter+adi secara ter$aksa atau silogisme " )ie 0en .ock mengatakan Ededuksi logisE, menemukan sendiri hukum yang berlaku untuk $eristi*a konkret" .akim tidak menci$takan sesuatu yang baru, .akim hanya menemui dan menyatakan tersembunyi hanya sekedar mulut
&' 3

$ikiran-$ikiran dalam atau corong

yang
3?

undang- undang "

.akim

undang-undang, substantie
&(

automate $ada bunyi

atau la bouche de la loi . .akim tergantung hakim berada heterotonom, diluar memutus oleh karena

undang-undang,

berdasarkan $eraturan-$eraturan yang

dirinya,

karena itu .akim tidak mandiri, .akim harus tunduk ke$ada undang-undang "
39

heterotonom

DA8TAR KEPUSTAKAAN A. B'k' 9B'k'. Arie' #idharta, :ernard, 2777, !e leksi Ten tang S tu k tu r +lmu Hu kum . Aet" II, AD" &andar &a+u, 6akarta" AsshiddiJie, 6imly, 277?, Konsolidasi Naskah UUD 1945 setelah perubahan keempnt. Rajawali Pres, Jakarta. Asyro', &ukhsin, 277?, &sas-&sas Penemuan Hukum dan Pen"i%taan Hukum oleh Hakim dalam Proses Peradilan, Artikel dalam Daria Peradilan, tahun ke HHI ,o" 2 2 , &A5I, 6akarta" Darmadi, #ugi+anto" 1998, Kedudukan Hukum dalam +lmu dan Filsa at Aet" I, AD &andar &a+u, 6akarta" Darmodihar+o, Dar+i K #hidarta" 2771, Pokok-Pokok Filsa at Hukum &lam) 5a+a*ali Pres, 6akarta" 4di*arman, Pidana 'ati ,itin-au ,ari Sudut Pandangan Hak &sasi 'anusia.((uru :esar 3." U#U dan !onsultan .ukum di &edan)" .artono, #unaryati, 1994, Penelitian Hukum di +ndonesia Pada &khir &bad Ke-20 . Alumni, :andung" .ui+bers, ;heo, 1992, Filsa at Hukum ,alam .intasan Se-arah. !anisius, 6akarta" ---------------- , 199 , Filsa at Hukum. cet" III, !anisius, 6akarta" &aslo*, A".", 19 4, 'oti#astion and %ersonalit/ , .ar$ers, ,e* <ork" &amu+i, #eri, 2773, Penelitian Hukum Normati , Aet" ?" P; 5a+a (ra'indo Persada, 6akarta" &ertokusumo, #udikno, et A" Pitlo" 1993, Bab-bab Tentang Penemuan Hukum) Aitra Aditya, 6akarta" ---------------, 2771, Penemuan Hukum sebuah %engantar, )iberty, 6og+akarta" 0en .ock, )ie, 19 9, 0uris%rudensi Sebagai Sumber Hukum, Pidato Pengukuhan (uru :esar di U"I", 6akarta" Pontier, 6"A", 2777, Penemuan Hukum 1!e"ht#inding ), diter+emahkan oleh :" Arie' #hidarta, )aboratorium .ukum 3akultas .ukum Uni1ersitas !atolik Parahiyangan, :andung" Purbacaraka, Purnadi dan #oekanto, #oer+ono, 1993, Perihal Kaidah Hukum, cet" ID, P; Aitra Aditya :akti, :andung" 5asyidi, )ili dan Putra, ):" /i+ata, 1993, Hukum Sebagai Suatu Sistem , P; 5ema+a 5asdakarya, :andung"

#chheltens, D"3",1983, +ntending Tot ,e 2i-sbegeerte 3an Het !e"ht. ;er+emahan #iregar, :akri, Pengantar Filsa at Hukum, 4rlangga, 6akarta" #iahaan, )intong , 2777, Quo 3adis Normati#e Thingking-Pro il .akim P;U,E" Dimuat dalam ma+alah E(ema PeratunE, tahun DI ,o" 13 ;ri*ulan III " #oekanto, #oer+ono, 1991, Fungsi Hukum ,an Perubahan Sosial , cet. III" P; Aitra Aditya :akti, :andung" #ri D+atmiati, ;atiek, 2774, Prinsi% +4in Usaha +ndustri ,i +ndonesia, Disertasi Doktor Program Pascasar+ana Uni1ersitas #urabaya" Dan, 4ikema .ommes" 1999, .ogi"a en re"hts#inding) 1roneogra ie$ #ri-e uni#ersiteit. /iarda" Drie )*pen +an de Rechtsvindings. De1enterB /"4"6 - ;+eink /illink" B. Per'n)ang 9Un)angan. UU, 45 &mandemen ketiga. Keteta%an 'a-elis Permus/a6aratan !ak/at !e%ublik +ndonesia Tentang Sumber Hukum . ;AP &P5 5I no" 111>2777" Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, Undang-undang ,o" 14 ;ahun 19@7" )," 19@7" ,o" @4 Tentang Peruhahan Undang Undang Nomor *4 Tahun *785 Tentang 'ahkamah &gung, Undang-undang ,o" ;ahun 2774" )," 2774" ,o" 9, ;)," 43 9" UU, 45 &mandemen ketiga. Undang-Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman. ,, -o." )ahun .//", 0-o. 1 )ahun .//", )0- -o."&21.