Anda di halaman 1dari 8

PENGGUNAAN INSEKTISIDA NABATI SURIAN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA BOKTOR PADA TANAMAN ALBASIA

ALBASIA (Albizia falcataria)

Albasia atau sering disebut sengon adalah tanaman perkebunan yang dapat tumbuh pada ketinggian 300-800 mdpl. Dengan ketinggian tersebut secara otomatis tanaman ini menginginkan suhu yang relatif rendah. Suhu yang rendah inilah yang dapat memacu serangan hama, terutama hama utama tanaman albasia, yaitu hama boktor. Dan dewasa ini, serangan hama boktor perlu perhatian khusus dari petani albasia sendiri guna mengurangi dampak negatif yang dirugikannya.

HAMA BOKTOR (Xystrocera festiva)

Hama boktor adalah hama utama tanaman albasia, atau sering disebut juga hama penggerek batang tanaman albasia. Serangan hama boktor terjadi pada tanaman berumur 3 tahun, yaitu pada saat diameter batang sekitar 10-12 cm. Gejala awal hama boktor ini ditandai dengan adanya serbuk gerek halus yang menempel pada permukaan kulit batang dan adanya luka berbentuk lubang pada batang albasia. Dimana luka tersebut dibuat hama boktor untuk meletakkan telur-telurnya yang kurang lebih sebanyak 200 buah. Warna telurnya putih kekuningan. Lama stadia telur ratarata 20 hari dengan kisaran antara 15-20 hari. Kemudian telur menetas dan menjadi larva. larva tersebut tentunya lapar, dan larva itu akan memakan jaringan xylem dan floem yang terdapat didalam batang albasia. Fase ini adalah fase yang paling merusak. Daur hidup stadia larva sangat panjang, yakni antara 20-21 bulan dengan melalui 10 kali pergantian kulit. Larva muda yang baru menetas berukuran panjang 3-5 mm dan berwarna putih bening, sedangkan panjang badan larva dewasa bisa mencapai 80mm dengan lebar badan sekitar 12mm. Kemudian larva akan mengalami pupanisasi selama 30-32 hari dan pada akhirnya akan menjadi imago. Pada saat itu, hama boktor dewasa akan mulai menggerek batang albasia dan meletakkan telurnya, begitulah terus menerus. jadi siklus hidup hama boktor dari telur hingga menjadi dewasa kurang lebih selama 24 bulan, atau 2 tahun. jika dibiarkan maka kulit tanaman albasia akan mati, terkelupas, dapat roboh atau patah. Selain itu juga serangan hama boktor ini dapat mengurangi volume dan kualitas dari kayu albasia itu sendiri. Inilah yang perlu diperhatikan oleh petani-petani albasia.

Sifat Hama Boktor 1. Laju penyebarannya sangat cepat 2. Laju perkembangbiakannya cukup tinggi 3. Tahan terhadap stress lingkungan yang tidak menguntungkan.

4. Dapat hidup pada beberapa jenis tanah, baik kategori tanah ringan, sedang maupun berat. 5. Model serangan boktor memberi peluang adanya serangan hama lain yaitu rayap sehingga memperbesar kerusakan dan kerugian produksi.

Untuk pengendalian hama boktor sendiri : Pengendalian secara silvikultur dilakukan dengan : Upaya pemuliaan, melalui pemilihan benih/bibit yang berasal dari sengon yang memiliki ketahanan terhadap hama boktor. Pengendalian secara manual, antara lain dilakukan dengan : 1. Mencongkel kelompok telur boktor pada permukaan kulit batang sengon, 2. Menyeset kulit batang tepat pada titik serangan larva boktor sehingga larva boktor terlepas dari batang dan jatuh Pengendalian secara fisik/mekanik, antara lain dilakukan dengan : 1. Kegiatan pembelahan batang sengon yang terserang boktor, 2. Pembakaran batang terserang boktor sehingga boktor berjatuhan ke tanah, 3. Dengan cara pembenaman batang terserang ke dalam tanah. Pengendalian secara biologis, dilakukan dengan : Parasitoid telur boktor (kumbang pengebor kayu Macrocentrus ancylivorus), jamur parasit (Beauveria bassiana), dan penggunaan predator boktor (kumbang kulit kayu Clinidium sculptilis). Kemudian dapat menggunakan insektisida nabati yang akan kita bahas selanjutnya.

TANAMAN SURIAN (Toona sinensis Merr) Deskripsi Surian (Toona sinensis Roem) merupakan jenis pohon menggugurkan daun yang termasuk dalam famili meliaceae. Surian dapat tumbuh pada ketinggian 350 -2000 m di atas permukaan laut. Di Indonesia penyebarannya terdapat di P. Sumatera, Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa tenggara Timur dan Irian Jaya. Sifat pohon Surian dapat tumbuh baik di tempat-tempat terbuka dan mendapatkan cahaya langsung. Jenis ini menghendaki iklim agak kering. tanah yang di kehendaki meliputi tanah-tanah berlempung yang dalam, subur, berdrainase baik serta menyenangi tanah basah. Pohon Surian termasuk jenis yang tumbuh cepat,dengan batang lurus, bertajuk ringan, berakar tunggang dalam, dan berakar cabang banyak. Warna kayu teras merah coklat, muda bersemu ungu.

Manfaat Jenis tanaman surian di kenal memiliki daun dan kulit yang beraroma cukup tajam, secara tradisional petani menggunakan daun Surian untuk menghalau hama serangga tanaman. Dan khususnya untuk petani albasia, memanfaatkan daun dan kulit surian untuk mengendalikan hama utama tanaman albasia, yaitu hama boktor. Namun bagian daun lebih sering digunakan para petani sebagai insektisida nabati, karena daun tanaman suren mengandung senyawa tetranortriterpenoid, yaitu unsur surenon, surenin, dan surenolakton yang mampu digunakan sebagai pengusir hama (repellant) dan bersifat insektisida dan antifeedant (menghambat daya makan) terhadap larva hama boktor. Selain mampu mempengaruhi aktivitas makan hama, kandungan daun surian tersebut juga mampu mengganggu sistem reproduksi hama dan mampu mengusir kehadiran hama boktor. Selain hama boktor, hama yang mampu ditanggulangi oleh daun surian ini adalah tungau, walang sangit, kutu kebal, ulat, dan kutu daun.

CARA PEMBUATAN INSEKTISIDA NABATI SURIAN

Alat dan Bahan : - 10 kg daun surian - 150 liter air - saringan - 1 buah drum besar - Alat penumbuk

Cara Membuat : 1. 10 Kg daun surian ditumbuk, karena zat yang digunakan berada di tulang-tulang daun, dan direndam dalam drum yang memuat 150 liter air 2. Diamkan hasil tumbukan selama 24 jam 3. Kemudian disaring, diambil sarinya. 4. Setelah disaring, baru aplikasikan ke tanaman, namun harus diencerkan terlebih dahulu dengan air untuk dimasukkan kedalam tangki penyemprot dengan perbandingan 1:9 (1 liter larutan diencerkan dengan 9 liter air)

Rekomindasi Aplikasi : - Waktu aplikasi pestisida organik yang paling bagus adalah pagi dan sore. Pasalnya pagi hari belum ada sinar matahari sehingga cairan tidak menguap dan lebih banyak diserap tanaman, begitu juga dengan sore hari karena hanya ada sedikit sinar.

- Aplikasi diberikan 2x dalam seminggu secara konsisten. Namun disarankan 3 hari pertama memakai daun mindi, 3 hari kedepannya memakai daun surian. Cara ini dilakukan agar hama tidak menjadi kebal. - insektisida dari daun surian ini baik diberikan kepada semua fase yang terjadi pada hama boktor, namun lebih efektif pada fase larva. karena perkembangan larvanya yang sangat lama dan merupakan fase yang paling merusak. Dengan diberikannya insektisida ini, maka akan menghambat daya konsumsi larva tersebut, dan mampu mematikan larva tersebut. kemudian efek lainnya seperti baunya yang khas akan mengusir hama boktor dewasa, dan mampu menghambat sistem reproduksinya agar tidak dapat bertelur. - insektisida disemprotkan di sekitar batang albasia. Terutama pada sekitar lubang yang dibuat hama boktor pada batang albasia. - selain itu juga tanaman surian dapat menjadi insektisida hidup, artinya dapat ditanam di sekitar atau sebagai tanaman pagar albasia karena efek bau yang ditimbulkan dari daun dan kulitnya yang mampu mengusir keberadaan hama boktor. namun akan terkesan sulit karena pohon surian ini yang menghendaki dataran yang tinggi, jika albasia dibudidayakan didataran rendah maka solusi terbaiknya adalah menggunakan insektisida dari ekstrak daun surian tersebut.

KLASIFIKASI TANAMAN SURIAN

Kingdom Divisi Klas Ordo Famili Genus Spesies

: Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Sapindales : Meliaceae : Toona : Toona sinensis Merr

KLASIFIKASI HAMA BOKTOR

Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Subordo Famili Subfamili Genus Spesies

: Arthropoda : Mandibulata : Insecta : Pterygota : Coleoptera : Polyphaga : Cerambycidae : Cerambycinae : Xystrocera : Xystrocera festiva

MINDI

EKSTRAK DAUN MINDI Bahan dan Alat : - Pucuk segar daun mindi - Air 1 liter - Kain saring

Cara Membuat : 1. Pucuk daun segar dirajang sampai halus 2. Rendam dalam 1 liter air selama 24 jam, kemudian saring

Cara Penggunaan :

Semprotkan pada seluruh tanaman yang terserang pada pagi dan sore

Mindi Mengandung margosin, glikosdida, flafonoid Cara kerja racun: Menolak serangga, menghambat pertumbuhan, memengaruhi sistem saraf, pernapasan, dan sebagai racun perut. Ulat grayak, kutu daun, anjing tanah, belalang, wereng, dan hama gudang Mindi adalah pohon yang bercabang banyak dan kulit batang yang berwarna coklat tua.[3] Batangnya silindris, dan tidak berbanir. Kulit batangnya warnanya abu-abu coklat, beralur membentuk garis-garis dan bersisik. Kandungan bahan aktif pada daun mindi adalah flavone glicoside, quercitrin, dan kaemferol, selain itu daun tumbuhan ini mengandung protein yang tinggi yang bersifat insektisidal dan bersifat penolak terhadap nematoda. Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 10m - 20m, biasanya ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang-kadang juga merupakan poohon liar di daerah-daerah dekat pantai dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut.[2] Pohon ini tumbuhnya cepat dan berasal dari Cina,[3] Burma, dan India.[4] Tumbuhan ini banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis. DiIndonesia, tumbuhan ini banyak ditanam di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya.[4] Selain itu, di Indonesia, tumbuhan ini di kebunkebun, dan di pekarangan.[5]

TEKNIK BUDIDAYA SURIAN

Penyimpanan Benih Pengemasan benih sebelum digunakan disarankan menggunakan wadah kedap udara seperti kaleng dan wadah plastik berpenutup. Suhu penyimpanan sekitar 25-30C dengan kelembaban berkisar 70-80%. Teknik di atas setelah 6 bulan mampu mempertahankan persen kecambah 25-50%. Teknik lain adalah dengan memasukkan biji ke dalam wadah yang tertutup rapat, kemudian disimpan di ruang dingin (suhu 3-10C). Teknik ini mampu mempertahankan viabilitas benih hingga 612 bulan dengan persen kecambah 56,6%, namun secara periodik akan mengalami penurunan viabilitas. TEKNIK PERSEMAIAN A. Penyemaian benih

Penyiapan bak kecambah dan media semai (pasir halus hasil ayakan setebal 20-25 cm). Penaburan benih surian ke dalam media semai secara merata (benih sebaiknya dicampur pasir halus sebelum penaburan). Penutupan benih dengan pasir halus setebal 1-2 cm. B. Penyapihan B.1 Penyapihan Penyiapan bedeng sapih dengan naungan (atap jerami,daun kelapa/nipah,sarlon-net) di atasnya Penyiapan kantong sapih dan plastik hitam (ukuran panjang 15 cm dan diameter 10 cm) diisi dengan campuran topsoil + pupuk kandang/kompos (perbandingan 5 : 1). Kantong sapih disusun di bedeng sapih. Kritenia kecambah untuk disapih antara lain telah berumur 3-4 minggu, memiliki pertumbuhan sehat, memiliki sepasang daun sempurna bebas hama/penyakit. Kecambah disapih kedalam kantong plastik yang sebelumnya telah dibuatkan lubang kecil dan tusuk bambu, kemudian tanah ditekan untuk membuat kecambah tidak mudah goyah. Bibit setelah berumur 2-3 bulan, umumnya sudah siap di tanam di lapangan. B.2 . Pembuatan bibit tanpa penyapihan Teknik ini dilakukan dengan menyemai langsung benih pada kantong plastik di bedeng persemaian. Setelah berumur 2,5-3 bulan bibit yang tumbuh siap ditanam di lapangan. Teknik ini memiliki kekurangan karena bibit yang tumbuh sering memiliki pertumbuhan tidak seragam dan membutuhkan penyapihan ekstra (apabila benih rendah). C. Pengangkutan Bibit Tahap ini dapat dilakukan dengan didahului seleksi bibit dengan penampilan seragam dan sehat serta membuang bibit dengan pertumbuhan tertekan kerdil, batang bengkok, batang patah dan bibit terserang hama/penyakit. Bibit hasil seleksi sewaktu dibawa ke lokasi penanaman terlebih dulu disusun dalam kantong plastik atau keranjang dan wadah lain dengan rapi untuk menghindari kerusakan bibit selama pengangkutan.

. Teknik Penanaman Tahapan penanaman: 1. Pengolahan lahan dapat dilakukan secara manual maupun mekanis. Secara manual dapat membuat cemplongan (pembuatan lubang tanam dan penggemburan). Secara mekanis dapat menggunakan traktor (pembajakan dan penggemburan lahan), kemudian dilanjutkan pembuatan lubang tanam.

2. Ukuran lubang tanam sebaiknya berukuran panjang x lebar x dalam (30cm x30cm x 25cm) 3. Jarak tanam sebaiknya mempertimbangkan ruang tumbuh ideal, terutama tajuk tanaman tidak tertekan dalam perkembangannya yaitu 3 x 2m, 3 x 3m atau 3 x 4m. 4. Pupuk dasar: 1-2 minggu sebelum penanaman setiap lubang tanam diberi pupuk kandang masing-masing 1-2 kg. Jika tanah terlalu masam dapat ditambahkan kapur dolomit (0,5 kg/lubang tanam) yang pemberiannya dilakukan bersamaan pemberian pupuk kandang. 5. Penanaman bibit diiakukan dengan membuang kantong piastik sebelumnya dengan tetap menjaga media dan akar tidak pecah. Padatkan tanah di sekitar lubang tanam untuk memperkokoh kedudukan bibit yang baru ditanam. 6. Tahapan Pemeliharaan: o Penyulaman harus segera dilakukan pada tahun pertama setelah penanaman dengan mengganti tanaman mati atau tanaman kerdil dengan bibit yang umurnya sama, dengan menyesuaikan musim hujan. o Lakukan pemupukan dengan dosis anjuran (pupuk Urea : TSP: KC1 dengan komposisi 200 kg: 100 kg 50 kg, setiap Ha). o Pengendalian gulma: merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan dengan melakukan penyiangan 3-4 minggu sekali dilanjutkan penggemburan tanah di sekitar lubang tanam. Penyiangan diiakukan 2-3 tahun atau sampai tanaman bebas tekanan gulma. o Pengendalian hama/penyakit: Sampai saat ini belum banyak hama/penyakit yang serius menyerang pohon surian. Namun untuk serangan belalang sering membuat daun rusak dan pengendaliannya dilakukan dengan melakukan penyemprotan insektisida secepatnya. o Pemangkasan: Untuk mendapatkan tinggi bebas cabang optimal, maka pemangkasan cabang harus dilakukan dengan gergaji pangkas sehingga pembentukan mata kayu yang dapat menurunkan kualitas kayu dapat ditekan. o Penjarangan: Untuk mendapatkan pertumbuhan optimal pada diameter batang, maka penjarangan dapat dilakukan apabila tajuk pohon telah saling menekan, dengan membuang pohon yang tertekan pertumbuhannya, tajuk pohon batang yang bengkok dan pohon terserang hama/ penyakit dan dilakukan secara bertahap dengan o intensitas penjarangan 25-30%.