Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI 3 : ANALISIS VEGETASI

Di susun Oleh: MERIS NUSPITA S. NIM : 133174044 ANIS NORAWATI NIM : 133174056 RISKA ANITA B. NIM : 133174069 YOUDHIA GANIS NIM : 133174083 ALFIAN SAAT A. NIM : 133174076

KELAS 2013 C
PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Komunitas adalah kumpulan dari populasi-populasi dari berbagai jenis dalam suatu daerah. Populasi yang membentuk komunitas merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam mempelajari struktur dan komposisi suatu vegetasi

digunakan pendekatan ke sifat dasar dari komunitas, yaitu keadaan individu-individu dalam membentuk populasinya. Dengan menganalisis keadaan individu-individu tersebut kita dapat menjabarkan karakteristik komunitas tumbuhan dengan baik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000). Secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yangtumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi lahan, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut. Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan

sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara menentukan analisis vegetasi tersebut? 2. Berapa nilai penting dan indeks keanekaragaman/diversitas pada vegetasi tersebut? 3. Bagaimana kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada vegetasi tersebut?

1.3 Tujuan 1. Menjelaskan cara menentukan analisis vegetasi tersebut. 2. Mengetahui nilai penting dan indeks keanekaragaman/diversitas pada vegetasi tersebut. 3. Mengetahui kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada vegetasi tersebut. 1.4 Hipotesis Pada vegetasi tersebut, terdapat hubungan antara kekerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada vegetasi tersebut adalah sebagai berikut: Hipotesis kerja Jika semakin besar hubungan antara kerapatan dengan kerimbunan, kerimbunan dengan frekuensi, dan kerapatan dengan frekuensi pada vegetasi tersebut maka semakin besar pula nilai penting yang didapatkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastis karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984; Sundarapandian dan Swamy, 2000). Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001). Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatif. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994). Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990). Nilai penting merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif). Jika disususn dalam bentuk rumus maka akan diperoleh: Nilai Penting = Kr + Dr + Fr Harga relatif ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dua jenis

tumbuhan yang memiliki harga nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Surasana, 1990). Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keragaman atau indeks nilai penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1994).

BAB III METODOLOGI

3.1 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Tali rafia 2. Meteran 3. Kantong plastik 4. Termometer tanah

3.2 Langkah Kerja 1. Ukur tali rafia sesuai panjang petak yang akan diamati dengan menggunakan meteran. 2. Kemudian ukur petak 1x1 meter, buat sebanyak 4 kali 3. Pasang patok kayu pada petak 1x1, kemudian ikat patok kayu dengan menggunakan tali raffia yang telah tersedia, membentuk suatu persegi. 4. Lakukan hal yang sama pada petak berikutnya 5. Amati spesies yang terdapat pada setiap petak 6. Hitung jumlah individu masing-masing spesies dan tentukan frekuensi serta indeks kerapatan maisng-masing spesies.

BAB V KESIMPULAN