Anda di halaman 1dari 8

APENDISITIS

PENGERTIAN Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering ! Apendiks disebut juga umbai "a"ing! Istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum! #ampai saat ini belum diketahui se"ara pasti apa fungsi apendiks sebenarnya! Namun demikian, organ ini sering sekali menimbulkan masalah kesehatan!$ Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung panjang dan sempit! Panjangnya kira%kira &"m 'kisaran (% )"m* dan berpangkal di sekum! Apendiks menghasilkan lendir %$ml per hari! +endir itu se"ara normal di"urahkan ke dalam lumen dan selanjutnya dialirkan ke sekum! Adanya hambatan dalam pengaliran tersebut, tampaknya merupakan salah satu penyebab timbulnya appendisits! ,i dalam apendiks juga terdapat immunoglobulin sekretoal yang merupakan -at pelindung efektif terhadap infeksi 'berperan dalam sistem imun*! ,an immunoglobulin yang banyak terdapat di dalam apendiks adalah IgA! Namun demikian, adanya pengangkatan terhadap apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh! Ini dikarenakan jumlah jaringan limfe yang terdapat pada apendiks ke"il sekali bila dibandingkan dengan yang ada pada saluran "erna lain!$ Apendisitis dapat mengenai semua umur, baik laki%laki maupun perempuan! Namun lebih sering menyerang laki%laki berusia &%(& tahun! ETI.+.GI Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri! /erbagai hal berperan sebagai faktor pen"etusnya! ,iantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks! .bstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras 'fekalit*, hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam

tubuh, dan "a"ing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan! Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang paling sering terjadi! Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica! ,$ Penelitian epidemiologi menunjukkan peranan kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya penyakit apendisitis! Tinja yang keras dapat menyebabkan terjadinya konstipasi! 0emudian konstipasi akan menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa! #emua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis!$ PAT.GENE#I# Patologi apendisitis bera1al di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan dinding apendiks! 2aringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus 'lendir* setiap harinya! Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke sekum menjadi terhambat! 3akin lama mukus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen! Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen! Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa! Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus! ,$ 2ika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat! 4al ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding apendiks! Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan ba1ah! 0eadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut!

/ila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren! 0eadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa! 2ika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini pe"ah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi! #ebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini! 5aranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga terbentuk massa periapendikuler yang se"ara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks! ,i dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi! Namun, jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri se"ara lambat!
,$

Pada anak%anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang lebih panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang masih kurang, memudahkan terjadinya perforasi! #edangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah! Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut! 2aringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan sekitarnya! Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan keluhan pada perut kanan ba1ah! Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi!$ 3ANI6E#TA#I 0+INI0 Gejala a1al yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar 'nyeri tumpul* di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus! 0eluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun! 0emudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan ba1ah, ke titik 3" /urney! ,i titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat! Namun terkadang, tidak

dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pen"ahar! Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi! Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar (7,) %(8,) derajat "el"ius!$,(,9 #elain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis! Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang! /erikut gejala yang timbul tersebut!$,9 ! /ila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum 'terlindung oleh sekum*, tanda nyeri perut kanan ba1ah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal! Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan! Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m!psoas mayor yang menegang dari dorsal! $! /ila apendiks terletak di rongga pelvis /ila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih "epat dan berulang%ulang 'diare*! /ila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya! Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada 1aktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi! /erikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas!$,( ! Pada anak%anak Gejala a1alnya sering hanya menangis dan tidak mau makan! #eringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya! ,an beberapa jam kemudian akan terjadi muntah% muntah dan anak menjadi lemah dan letargik! 0arena ketidakjelasan gejala

ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi! /egitupun pada bayi, 8&%:& ; apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi! $! Pada orang tua berusia lanjut Gejala sering samar%samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi! (! Pada 1anita Gejala apendisitis sering dika"aukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital 'proses ovulasi, menstruasi*, radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya! Pada 1anita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dika"aukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini! #edangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan ba1ah tetapi lebih ke regio lumbal kanan! PE3ERI0#AAN ! Pemeriksaan 6isik$,(,9 Inspeksi < pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut! Palpasi < pada daerah perut kanan ba1ah apabila ditekan akan terasa nyeri! ,an bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri! Nyeri tekan perut kanan ba1ah merupakan kun"i diagnosis dari apendisitis! Pada penekanan perut kiri ba1ah akan dirasakan nyeri pada perut kanan ba1ah! Ini disebut tanda Rovsing 'Rovsing Sign*! ,an apabila tekanan di perut kiri ba1ah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan ba1ah!Ini disebut tanda /lumberg 'Blumberg Sign*! Pemeriksaan colok dubur < pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui! 2ika saat

dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis! Pemeriksaan ini merupakan kun"i diagnosis pada apendisitis pelvika! Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator < pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang! =ji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas le1at hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan! /ila appendiks yang meradang menempel di m! psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri! #edangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang! /ila apendiks yang meradang kontak dengan m!obturator internus yang merupakan dinding panggul ke"il, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri! Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika! $! Pemeriksaan Penunjang Laboratorium < terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif '5RP*! Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara &!&&&%$&!&&&>ml 'leukositosis* dan neutrofil diatas 7);, sedangkan pada 5RP ditemukan jumlah serum yang meningkat!
,?

Radiologi < terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan 5T%s"an! Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks! #edangkan pada pemeriksaan 5T%s"an ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum!(,)

,IAGN.#I# 3eskipun pemeriksaan dilakukan dengan "ermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis masih mungkin salah pada sekitar )%$&; kasus! 0esalahan diagnosis lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki%laki! 4al ini dapat disadari

mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis! 0eluhan itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik lain!=ntuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis meragukan, sebaiknya dilakukan observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap %$ jam! 6oto barium kurang dapat diper"aya! =ltrasonografi dan laparoskopi bisa meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus yang meragukan!$ TATA +A0#ANA /ila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat adalah segera dilakukan apendiktomi! Apendektomi dapat dilakukan dalam dua "ara, yaitu "ara terbuka dan "ara laparoskopi! Apabila apendisitis baru diketahui setelah terbentuk massa periapendikuler, maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah pemberian>terapi antibiotik kombinasi terhadap penderita! Antibiotik ini merupakan antibiotik yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob! #etelah gejala membaik, yaitu sekitar ?%8 minggu, barulah apendektomi dapat dilakukan! 2ika gejala berlanjut, yang ditandai dengan terbentuknya abses, maka dianjurkan melakukan drainase dan sekitar ?%8 minggu kemudian dilakukan apendisektomi! Namun, apabila ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotik, maka dapat dipertimbangkan untuk membatalkan tindakan bedah!$,?

,A6TAR P=#TA0A @ A 3ansjoer, A!, #uprohaita!, Bardani, B!I!, #etio1ulan, B!, editor!, C/edah ,igestifD, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 0etiga, 2ilid $, 5etakan 0elima! 3edia Aes"ulapius, 2akarta, $&&), hlm! (&7%( (!

@$A #jamsuhidajat, R!, 2ong, B!,!, editor!, C=sus 4alus, Apendiks, 0olon, ,an AnorektumD, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi $! EG5, 2akarta, $&&),hlm!?(:%?9)! @(A Eeller, 2!+!, /urke, A!E!, Glass, R!3!, DA"ute Appendi"itis in 5hildrenD, !A"A http<>>jama!ama%assn!org>"gi>reprint>$:8>9>98$, ) 2uli $&&7, $:8'9*< 98$! @9A )(?! @)A 3ittal, F!0!, Goliath, 2!, #abir, 3!, Patel, R!, Ri"hards, /!6!, Alkalay, I!, Re3ine, #!, Ed1ards,3!, CAdvantages of 6o"used 4eli"al 5omputed Tomographi" #"anning Bith Re"tal 5ontrast .nly vs Triple 5ontrast in the ,iagnosis of 5lini"ally =n"ertain A"ute Appendi"itis, Archives of Surgery, http<>>ar"hsurg!ama% assn!org>"gi>"ontent>full> (:>)>9:), 3ei $&&9, (:')*< 9:)%)&& @?A Gra"e, Pier"e! A!, Neil R! /orley!, At a #lance Edisi (! Erlangga, 2akarta, $&&7, hlm! &?% &7! #impson, 2!, 4umes, ,! 2!, CA"ute Appendi"itisD, B"!, http<>>111!bmj!"om>"gi>"ontent>full>(((>7)?7>)(&, : #eptember $&&?, (((< )(&%