Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau yang biasa dikenal sebagai penyakit lambung akibat refluks asam

lambung, adalah masalah kesehatan yang cukup umum. GERD merupakan gerakan membaliknya isi lambung menuju esofagus. GERD juga mengacu pada berbagai kondisi gejala klinis atau perubahan histologi yang terjadi akibat refluk gastroesofagus. Ketika esofagus berulangkali kontak dengan material refluks untuk waktu yang lama, dapat terjadi inflamasi esoagus (esofagitis refluks) dan dalam beberapa kasus berkembang menjadi erosi esofagus (esofagitis refluks). EPIDEMIOLOGI GERD dapat terjadi pada semua umur tetapi kebanyakan terjadi pada usia diatas 40 tahun. Walaupun kematian yang disebabkan ole GERD sangat jarang terjadi, gejala dari GERD mungkin memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup penderita. Dalam populasi barat, kisaran prevalensi untuk GERD adalah 10% sampai 20% dari populasi. Prevalensi dari GERD bervariasi tergantung dari wilayah geografis, tetapi negara barat merupakan wilayah dengan kasus GERD tertinggi. Kecuali selama kehamilan dan kemungkinan NERD, tidak timbul perbedaan yang signifikan pada kasus antara pria dan wanita. NERD cenderung terjadi pada wanita dan pada pasien sekitar 10 tahun lebih muda dari pasien yang mengalami erosi. Walaupun jenis kelamin tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada terjadinya GERD, hal ini merupakan faktor penting pada terjadinya Barret esofagus, komplikasi dari GERD dimana epitel squamous normal digantikan oleh epitel kolumnar khusus. Barret esofagus sering terjadi pada pria dewasa berkulit putih di negara barat. PATOFISIOLOGI Faktor utama terjadinya GERD adalah gangguan refluk asam lambung dari lambung menuju esofagus. Pada beberapa kasus, refluks esofageal dikaitkan dengan ketidaksempurnaan tekanan atau fungsi dari sfinkter esofageal bawah (Lower Esophageal Spinchter/LES). Sfinkter secara normal berada pada kondisi tonik (berkontraksi) untuk mencegah refluks materi lambung dari perut dan berelaksasi saat menelan untuk membuka jalan makanan ke dalam perut. Penurunan tekanan LES dapat disebabkan oleh (a) relaksasi sementara LES secara spontan, (b) peningkatan sementara tekanan intraabdominal, atau (c) LES atonik. Permasalahan pada mekanisme pertahanan mukosa normal lainnya, seperti faktor anatomi, pembersihan esofagus (waktu kontak asam dengan mukosa esofageal yang terlalu lama), resistensi mukosal, pengosongan lambung, faktor pertumbuhan epidermis dan pendaparan saliva, mungkin juga dapat menyebabkan refluk gastroesofageal. Faktor agresif yang dapat mendukung kerusakan esofageal saat refluks ke esofagus termasuk asam lambung, pepsin, asam empedu dan enzim pankreas. Dengan demikian komposisi, pH dan volume refluksat serta durasi pemaparan adalah faktor yang paling penting pada penentuan konsekuensi refluks gastroesofageal.

Tabel 1. Makanan dan obat-obatan yang dapat memperburuk gejala GERD