Anda di halaman 1dari 7

Nama NIM Prodi M.K.

: Maruf Setiawan : 3211411003 : Geografi, S1 : Geomorfologi Terapan

GEOMORFOLOGI PESISIR
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota. Pembagian Zone Wilayah Pesisir Setiap zone perairan dipesisir mengalami proses mengahasilkan struktur sedimen yang khas dan berbeda satu sama lainnya. Berdasarkan hal ini zone pesisir dibagi menjadi backshore, foreshore, shoreface, dan offshore. 1. Backshore terletak diantara batas bawah gumuk pasir (sand dune) hingga ke garis air pasang paling tinggi (mean high water line). Jadi Backshoreterdapat di amabang pantai (beach bar). 2. Foreshore yaitu zone pasang surut, kawasan yang terletak di antara batas atas dan bawah pasang air laut disebut. Backshore dan foreshoremerupkan bagian atas dari pesisir pantai. Dikawasan ini terdapat zone pemecah, zone swash dan arus sepanjang pantai (longshore current). Sehingga kawasan ini menerima tenaga aliran yang kuat. Sedimensedimen yang ada diwilayah ini kebanyakan terdiri dari material pasir. 3. Shoreface yaitu zone yang berbatasan dengan zone peralihan. Batas bawahshoreface bergantung pada rata-rata dasar gelombang maksimal (average maximum wave base). Di kawasan shoreface sedimennya terdiri dari pasir bersih, dibagian atas shoreface terdapat arus pesisir pantai. Pada saat cuaca buruk arus ini akan bertambah kuat dan akan mengkikis bagian atasshoreface dan mengendapkannya semula di bagian bawah shoreface atau membawanya kearah daratan seperti laguna. Jadi dibagian shorefacesedimennya makin kasar kearah daratan dan riak simetri berubak menjadi tak simetri dan gumuk (Clifton, 1967). Bagian bawah shoreface terdiri dari lapisan dan percampuran antara lumpur dan pasir, tetapi pada saat cuaca buruk bagian bawahnya mengalami tindakan gelombang dan akibatnya endapan pasir akan percampuran lumpur dan pasir akan terbentuk di kawasan ini. 4. Offshore merupakan zone lepas pantaiyang mengarah kelaut.

Geomorfologi Wilayah Pesisir Bentuk/morfologi wilayah pesisir, seperti pantai terjal atau landai, ditentukan oleh kekerasan (resestivity) batuan, pola morfologi dan tahapan proses tektoniknya. Relief/topografi dasar laut perairan nusantara terdiri dari berbagai tipe mulai dari paparan (shelf) yang dangkal, palung llaut, gunung bawah laut, terumbu karang dan sebagainya. Kondisi oseanografi fisik di kawasan pesisir dan lautan ditentukan oleh fenomena pasang surut, arus, gelombang, kondisi suhu, salinitas serta angin. Fenomena-fenomena tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan. Proses-proses utama yang sering terjadi di wilayah pesisir meliputi: sirkulasi massa air, percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi dan abrasi serta upwelling. Bentukan-bentukan yang umum terdapat diwilayah pesisir adalah sebagai berikut: 1. Pesisir Pantai (Beach) adalah yaitu pesisir diantara garis pasang naik dan pasang surut. 2. Laguna adalah air laut dangkal yang memiliki luas beberapa mil, sering merupakan teluk atau danau yang terletak diantara pulau penghalang dengan pantai. Laguna (haff) atau danau pantai atau pantai berdanau, yaitu bagian laut yang ada di tepi pantai yang terpisah sebagian atau seluruhnya akibat adanya lidah tanah atau kubus pesisir (nehrung). 3. Pulau Penghalang (Barrier Island) adalah gosong pasir yang tersembul dipantai yang dipisahkan dari pantai oleh laguna. Pulau penghalang ini bias tebentuk sebagai spit atau gumuk pasir yang dibentuk oleh angin atau air. 4. Delta adalah deposit lumpur, pasir, atau kerikil (endapan alluvium) yang mengendap di muara suatu sungai. Delta dibagi menjadi tiga berdasarkan bentuknya, yaitu Delta Arcuate (Berbentuk kipas), Delta Cuspate (Berbentuk gigi tajam), Delta Estuarine (Berbentuk estuarine). 5. Goa Laut (Sea Cave) merupakan goa yang terbentuk pada terbing terjal (cliff) atau tanjung (headland) sebagai akibat erosi dari hantaman gelombang dan arus. 6. Sea Arch merupakn sea cave yang telah tereosi sangat berat akibat dari hantaman ombak. 7. Sea Stack merupakan tiang-tiang batu yang terpisah dari daratan yang tersusun dari batuan yang resisten sehingga masih bertahan dari hantaman gelombang. 8. Rawa Air Asin (Salt Marsh) merupakan rawa yang terbentuk akibat genangan air laut di dinggir pantai. 9. Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok kelaut sebagai akibat erosi gelombang. 10. Bar yaitu gosong pasir dan kerikil yang terletak pada dasar laut dipinggir pantai yang terjadi oleh pengerjaan arus laut dan gelombang. Kadanngkadang terbenam seluruhnya oleh air laut. Beberapa jenis bar antara lain: a. Spit yaitu yang salah satu ujunganya terikat pada daratan, sedangkan yang lainnya tidak. Bentuknya kebanyakan lurus sejajar dengan pantai, tetepai oleh pengaruh arus yang membelok ke arah darat atau oleh pengaruh pasang naik yang besar, spit itupun membelok pula ke arah darat yang disebut Hook atau Recurved Spit (Spit Bengkok). b. Baymouth Bar adalah spit yang kedua ujungnya terikat pada daratan yang menyeberang dibagian muka teluk.

c. Tombolo adalah spit yang menghubungkan pulau dengan daratan induk atau dengan pulau lain, contohnya daratan antara Pulau Pananjung dengan daratan induknya Pulau Jawa. 11. Estuarium adalah sebagian lembah yang sudah tenggelam di sebuah pantai rendah. Estuarium terjadi karena di tempat itu terdapat perbedaan besarantara tingginya air laut pada waktu pasang naik dan pasang surut. Estuarium berbentuk corong agak jauh kea rah darat. 12. Fyord adalah lembah-lembah gletser pada zaman es yang digenangi kembali oleh air laut setelah berakhirnya zaman es 13. Ria adalah genangan air laut yang terdapat pada lembah sungai yang mengalami penurunan. 14. Teluk adalah laut yang menjorok ke darat Pantai dan pesisir berdasar fisiografi kepulauan: a. Pulau/daratan menghadap ke arah samudera lepas. Pantai dan pesisir yang menghadap ke arah laut/samudera lepas ditandai oleh tebing perbukitan curam, pantai berbentang alam kasar, berbukit terjal menerima hempasan kuat gelombang. Pantai datar berpasir adakalanya menyelingi pesisir ini, terbentuk oleh endapan sedimen sungai. Jalur ini umumnya erat kaitannya dengan jalur tumbukan atau penunjaman. Gelombang besar merupakan bagian dari sistim gelombang samudra, namun tsunami adakalanya terjadi menyusul gempa kuat yang sering terjadi di jalur ini. Contoh kota di pesisir ini antara lain: Sibolga, Padang, Bengkulu, Cilacap, dst.
b. Pantai pesisir yang menghadap cekungan belakang (tepian paparan).

Cekungan belakang dari jalur konvergensi tektonik ditandai oleh paparan landai luas dengan alur sungai (dendritic) panjang dan dataran tangkapan hujan luas, mengalir berkelok-kelok melalui rawa dan dataran limpahan banjir, ke pantai berawa dan ber tutupan tebal bakau membentuk muara delta luas dengan pulau pulau delta di depannya. Jenis pesisir ini dijumpai di perairan timur Sumatra utara Jawa dan selatan Irian. Contoh kota yang mewakili dan berada di mintakat ini adalah: Lhokseumawe, Palembang, Jakarta, Semarang, dll.
c. Pesisir menghadap tepian kontinen.

Indonesia memiliki dua tepian kontinen, Sunda dan Sahul yang ke arah mana beberapa pulau menghadapnya dengan ciri pantai landai dan sangat stabil dari gejala geologi. Dua paparan tersebut menyisakan bentang alam dataran saat sempat kering ketika susut laut hingga 145 m dari muka laut sekarang. Bentang alam saat susut laut memiliki kemiripan dengan bentang pesisir sekarang, ditandai oleh daerah limpahan banjir, rataan terumbu karang dan bakau serta endapan pasir pantai. Beberapa sisa bentang alam tinggian masih terlihat berupa pulau pulau di perairan ini (Senayang-Lingga-Bangka- NatunaKarimata dll). Landai dan dangkalnya perairan seringkali menyebabkan kekeruhan akibat agitasi laut saat musim barat sulit hilang. Rataan tipis bakau menutup pesisir perairan. Sisa pematang pantai purba membentuk rataan tipis oleh endapan pasir kuarsa. Terumbu

karang kurang pertumbuhannya di perairan ini yang umumnya ditandai oleh air keruh siltasi sedimen agitasi gelombang. Kota-kota yang mewakili antara lain: Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, dll
d. Jalur pulau busur luar.

Jalur pulau non volkanik busur luar terbentuk hampir menerus di barat dari pulau Sumatra menghadap ke lepas Samudra Hindia. Di bagian timur busur Sunda, busur luar terbentuk kembali sebagai pulau Sumba dan Sabu. Pulau-pulau tersebut terbentuk dari terangkatnya sedimen laut oleh proses penunjaman dan tumbukan lepeng, dicirikan oleh lapisan batuan yang terlipat membentuk perbukitan dan terpotong patahan. Adakalanya batu gamping terumbu karang ikut terangkat keluar membentuk perbukitan di pantai bertebing curam. Teluk terbentuk oleh struktur geologi, umumnya padanya bermuara sungai membentuk endapan pasir disekelilingnya atau tutupan bakau. Dangkalan akibat terangkatnya batuan, ditumbuhi terumbu karang yang di atasnya seringkali kemudian tumbuh bakau. Sedimen lepas atau keras terkomkakan dari endapan karbonat di pantai terbentuk dari hasil rombakan terumbu karang. Pulau-pulau di barat Sumatra mengalami gerak pengangkatan mengiringi kegempaan yang adakalanya diikuti tsunami, namun ditengarai pula adanya penurunan. Di Sumba dan Sabu, pengangkatan lebih dominan dan menerus menghasilkan undak teras. Kota-kota yang mewakili, antara lain: Muara Siberut, Waingapu, Seba, Baa, dll e. Pulau gunung api. Pantai pulau ini dicirikan oleh endapan bahan volkanik yang dimuntahkan hingga ke perairan membentuk pesisir pantai landai di bagian mana sering ditumbuhi bakau dan terumbu karang di perairannya. Endapan lahar atau lava sering mencapai rataan bakau dan terumbu, namun dapat segera tumbuh pulih kembali setelah 5-6 tahun kemudian. Pulaupulau ini membentuk jajaran dari Bali hingga Flores. Pantai curam terbentuk oleh terobosan batuan volkanik atau batuan tufa lelehan dan lahar konglomeratan yang tersemenkan. Lembah sungai dalam di hulu berakhir pada muara yang berpantai landai pada pesisir datar, namun sering berupa muara sempit. Contoh kota yang mewakili mintakat ini antara lain: Denpasar, Mataram, Bima, Banda, Maumere, dll f. Pulau kecil di laut dalam. Pulau-pulau ini dicirikan oleh lereng perairan curam, namun lereng atas dekat permukaannya sering dikelilingi oleh terumbu karang yang menempel pada batuan volkanik. Terumbu karang adakalanya terangkat membentuk undak sempit batu gamping karang dengan takik ombak, sebagai bukti adanya pengangkatan. Pantai sempit landai adakalanya ditumbuhi bakau. Contoh kota yang mewakili pemukiman di pulau ini antara lain adalah Banda.
g. Pulau-pulau kecil di paparan tepian kontinen.

Pulau terbentuk oleh tinggian batuan yang resistan dari kerjaan cuaca di kawasan geologi yang stabil bagian dari paparan kontinen. Perubahan paras muka laut lebih

mengontrol evolusi morfologi perairan ini membentuk alur perairan dangkal yang ditutupi endapan pantai dan sungai purba. Dangkalnya perairan menyebabkan kekeruhan tidak mudah hilang, menyebabkan kualitas terumbu karang kurang baik namun endapan pantai di perairan tenang mengalasi rataan tebal bakau. Pantai purba sempit terbentuk di pesisir yang menghadap ke periaran bebas yang bergelombang kuat yang membantu pembentukan endapan pasir kuarsa putih. Contoh kota yang menempati gugusan pulau ini adalah: Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, dll. h. Pulau Delta. Pulau-pulau delta terbentuk di bagian perairan landai di muara sungai yang mengalir jauh dari pedalaman mengangkut sedimen yang diendapkan dan membentuk pulau-pulau ini. Hampir seluruh pulau umumnya ditutupi bakau atau hutan tropis dataran basah pada kisaran supra tidal atau intertidal. Kota-kota di pesisir timur Sumatra dari Riau hingga Jambi menempati kawasan ini (Rumbai, dst). Daerah peralihan antara daratn dan lautan sering ditandai dengan adnya suatu perubahan kedalaman. Ada tiga daerah untuk membedakan kedalaman, yaitu sebagai berikut. 1) Continental Shelf. Continental Shelf adalah suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai (kemiringan kira-kira sebesar 0,4 %) dan berbatasan langsung dengan daerah daratan. Daerah ini biasanya mempunyai lebar antara 50-70 km dan kedalam maksimum dari lautan yang ada di atasnya tidak lebih besar di antara 100-200 m. 2) Continental Slope. Continental Slope mempunyai lereng yang lebih terjal dari Continental Shel di mana kemiringannya bervariasi antara 3 % dan 6 %. 3) Continental Rise. Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian perlahan lahan menjadi datar pada dasar lautan. Masih ada lagi istilah di kawasan pantai, yaitu lepas pantai (offshore), tepi laut depan (foreshore), dan tepi laut belakng (backshore). Morfologi Laut Dan Pantai Pada mulanya dipercaya bahwa permukaan dasar lautan itu adalah datar dan tidak mempunyai bentuk. Namun, ilmu-ilmu modern sekarang telah membuktikan bahwa topografi laut kompleks seperti daratan. Dasar laut hamper sama dengan permukaan bumi, ada yang datar, rata, lereng, ngarai, lembah, dan ada juga dataran rendah, dataran tinggi, dan gunung berapi. a. Daerah jeluk (abisal) daerah atau kawasan ini relative datar terletak di bagian laut dalam. Kawasan abisal luasnya mencakup hingga dua pertiga luas dasar lautan. b. Trench Palung memanjang adalah ngarai dasar laut sempit yang dalam dan panjang. Bagian laut yang terdalam adalah berbentuk seperti saluran yang seolah-olah terpisah sangat dalam yang terdapat di perbatasan antara benua dengan kepulauan. Contohnya palung jawa. Palung ini ada yang mencapai kedalaman 7700 m.

c. Seamount. Gunung laut adalah gunung yang ada di dasar laut. Gunung tersebut merupakan gunung-gunung berapi yang muncul dari dasar lautan, tetapi tidak dapat mencapai permukaan laut. Seamount mempunyai lereng yang curam, berpuncak runcing dan kemungkinan mempunyai tinggi 1 km. d. Pulau gunung api adalah gunung api laut yang tersembul hingga permukaan laut. e. Punggung laut atau pematang tengah samudera pematang tengah samudera adalah pegunungan besar dan sangat panjang yang ada di tengah samudera. Panjangnya hingga puluhan ribu kilometer. Contohnya. Pematang tengah samudera pasifik dan pematang tengah samudera atlantik. f. Atol-atol daerah ini terdiri dari kumpulan pulau-pulau yang sebagaian tenggelam di bawah permukaan air. Batu-batuan yang terdapat di sini ditandai oleh adanya terumbu karang yang terbentuk seperti cincin. Adapun Pantai yaitu terdiri dari beberapa kelompok yaitu: 1. Pantai curam singkapan batuan. Jenis pantai ini umumnya ditemukan di pesisir yang menghadap laut lepas dan merupakan bagian jalur tunjaman/tumbukan, berupa pantai curam singkapan batuan volkanik, terobosan, malihan atau sedimen 2. Pantai landai atau datar Pesisir datar hingga landai menempati bagian mintakat kraton stabil atau cekungan belakang. Absennya gejala geologi berupa pengangkatan dan perlipatan atau volkanisme, pembentukan pantai dikendalikan oleh proses eksogen cuaca dan hidrologi. Estuari lebar menandai muara dengan tutupan tebal bakau. Bagian pesisir dalam ditandai dataran rawa atau lahan basah. Sedimentasi kuat terjadi di perairan bila di hulu mengalami erosi. Progradasi pantai atau pembentukan delta sangat lazim. Kompaksi sedimen diiringi penurunan permukaan tanah, sementara air tanah tawar sulit ditemukan. 3. Pantai dengan bukit atau paparan pasir Pantai menghadap perairan bergelombang dan angin kuat dengan asupan sedimen sungai cukup, umumnya membentuk rataan dan perbukitan pasir. Kondisi kering dan berangin kuat dapat membentuk perbukitan pasir. Air tanah seringkali terkumpul dari air meteorik yang terjebak. Sementasi sedimen terbentuk bila terdapat cukup kelembaban dari air laut (spray) dan terik matahari. Jenis pantai ini berkembang baik di perairan yang menghadap samudra Hindia (Sumatra pantai barat, Jawa, dst.). Paparan pasir juga terbentuk di perairan yang menghadap cekungan dalam di pulau kecil atau gunung api sejauh cukup landai lereng pantai dan sedimen sungai serta agitasi gelombangnya. 4. Pantai lurus dan panjang dari pesisir datar. Pantai tepian samudra dengan agitasi kuat gelombang serta memiliki sejumlah muara sungai kecil berjajar padanya dengan asupan sedimen, dapat membentuk garis lurus dan panjang pantai berpasir. Erosi terjadi bila terjadi ketidak seimbangan lereng dasar perairan dan asupan sedimen.

5. Pantai berbukit dan tebing terjal. Bentang pantai ini ditemukan di berbagai mintakat berbeda, yaitu di jalur tumbukan/tunjaman, jalur volkanik, pulau-pulau sisa tinggian di paparan tepi kontinen, jalur busur luar atau jalur tektonik geser. Batuan keras yang terkerat patahan dan rekahan umun dijumpai di kawasan yang gejala tektoniknya kuat. Batuan terobosan atau bekuan tufa dapat membentuk tebing terjal di pantai pulau volkanik. Di kawasan dengan proses pengangkatan dan pelipatan, kecuraman lereng pantai atau bukit adakalanya tergantung arah lipatan dan kemiringan perlapisan dan kekerasan maupun kestabilan batuannya. Terjalnya tebing pantai dan kuatnya agitasi gelombang meniadakan peluang terumbu karang tumbuh, demikian halnya dengan bakau. Tutupan tumbuhan masih mampu tumbuh di lapukan batuan, terutama di kawasan dengan curah hujan memadai. 6. Pantai erosi. Terjadinya erosi terhadap pantai disebabkan oleh adanya: batuan atau endapan yang mudah tererosi, agen erosi berupa air oleh berbagai bentuk gerak air. Gerak air dalam hal ini bisa berupa arus yang mengikis endapan atau agitasi gelombang yang menyebabkan abrasi pada batuan. Erosi tidak hanya berlangsung di permukaan, namun juga yang terjadi di permukaan sedimen dasar perairan. Erosi maksimum terjadi bila enersi dari agen erosi mencapai titik paling lemah materi tererosi. Pada sedimen lepas di pantai, arus sejajar pantai oleh adanya gelombang atau arus pasang surut sudah mampu menjadi penyebab erosi. Erosi yang terjadi pada dasar perairan akan mengubah lereng yang berdampak pada perubahan posisi jatuhnya enersi gelombang pada pantai. Berikutnya, agitasi gelombang dapat merusak titik terlemah dari apapun yang ditemukan dengan enersi maksimal. Pencapaian titik terlemah dapat terjadi bila saat badai dengan gelombang kuat terjadi bersamaan dengan posisi paras muka laut jatuh pada sisi paling lemah, yaitu permukaan rataan pasir pantai. Erosi diperparah bila sedimen sungai yang menjadi penyeimbang tidak cukup mengganti sedimen yang tererosi. Pada tebing pantai batuan keras, abrasi terjadi pula namun memerlukan waktu lama untuk menghasilkan dampak yang terlihat. Takik pada batuan di ketinggian tertentu diakibatkan kerjaan abrasi ini, bila takik terlalu dalam dan beban tidak dapat tertahan lagi, bagian atas tebing runtuh. Pada beberapa kejadian, takik juga dipercepat dalamnya oleh kegiatan pelubangan biota. 7. Pantai akresi Proses akresi terjadi di pesisir yang menerima asupan sedimen lebih dari jumlah yang kemudian dierosi oleh laut. Dengan demikian, akresi merupakan kebalikan dari proses erosi. Keseimbangan yang menyebabkan dua proses tersebut berlangsung bergantian adalah kondisi: berubahnya paras muka laut, perubahan enersi agen erosi, perubahan jumlah sedimen yang tersedia, dan lereng dari dasar perairan. Akresi pantai oleh sedimen halus sering diikuti tumbuhnya bakau yang berfungsi kemudian sebagai penguat endapan baru dari erosi atau longsor. Kecepatan akresi di beberapa pantai dikendalikan oleh intensifnya sedimentasi hasil erosi di hulu.