Anda di halaman 1dari 4

Praktikum Fitopatologi|Acara V

PENGENDALIAN DENGAN PASIR-OATMEAL

Pengendalian secara hayati merupakan upaya yang dapat diterapkan dalam mengatasi serangan ptogen pada tanaman. Pengendalian dengan cara seperti ini pada dasarnya mengandalkan kemampuan antagonistik jamur antagonis terhadap jamur patogen yang melibatkan mekanisme kompetisi, eksploitasi atau antibiosis. Eksploitasi dan antibiosis merupakan mekanisme antagonistik penting yang dapat dilakukan oleh Trichoderma spp. Keduanya dapat berlangsung sendiri-sendiri ataupun bersama-sama dalam suatu komplek interaksi yang terjadi karena jamur antagonis menghasilkan enzim-enzim hidrolitik seperti -1,3-glukanase, -1,3(4)-glukanase dan kitinase yang dapat mendegradasi dinding sel jamur lain, sedangkan mekanisme antibiosis dapat terjadi karena pengaruh senyawa metabolit bersifat toksik yang disekresi oleh Trichoderma spp. Selama fase tertentu dari pertumbuhannya yang dapat menghambat atau mematikan jamur lawan. Beberapa spesies Trichoderma spp. Diketahui dapat menghasilkan senyawa enzim seperti diatas sehingga jamur-jamur tersebut dapat digunakan sebagai agen biokontrol. Beberapa jamur patogenik yang diparasiti diantaranya adalah Sclerotium rolfsii, Rhizoctonia solani, Fusarium sp., Botrytis cinerea, Phytium sp., Phytophthora sp. dan lain-lain. Berbagai jenis metabolit juga telah diidentifikasi dari Trichoderma spp. Dan terbukti menunjukkan efek negatif terhadap pertumbuhan jamur lain secara in vitro. Antibiotik yang dihasilkan oleh isolat-isolat Trichoderma diantaranya adalah trichodermin, hexahydrobenzopyran-5-one, pyridone, anthraquainone, butenolida, trichothecene, 6-pentyl -pyrone (6-pp). S. rolfsii merupakan salah satu jamur tanah yang dapat membentuk sclerotia pada fase tertentu dari pertumbuhannya. Sclerotia merupakan suatu struktur multi-hifa berbentuk seperti tabung yang terbentuk pada miselium primer. Struktur ini kemudian dapat terlepas pada saat kematangannya tercapai. Sclerotia bedinding keras, mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang ekstrim melalui fase dormansi dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungannya membaik, kemudian membentuk hifa somatik atau apotesium untuk selanjutnya berkembang biak kembali memenuhi siklus hidupnya. Sclerotia mempunyai daya tahan yang tinggi di dalam tanah sehingga dapat berperan untuk menunjang viabilitas jamur ini di habitatnya. Pembentukan miselia vegetatif secara aktif dari S. rolfsii selalu mengarah kepada inisiasi pembentukan sklerotia. Intervensi terhadap miselia S. rolfsii dan proses

Praktikum Fitopatologi|Acara V

pembentukannya oleh Trichoderma spp. Dapat terjadi mengingat adanya properti enzim hidrolitik dan senyawa metabolit toksik yang dipunyai oleh jamur antagonis ini dan pada sisi lain, komponen dinding sel miselia S. rolfsii sebagian besar (67,5%) terdiri dari polisakarida, disamping keberadaan komponen minor lain seperti heksosa (3,7%), lemak (7,9%), protein (2,7%). Dengan adanya intervensi terhadap pembentukan dan perkembangan miselia oleh Trichoderma spp maka potensi pembentukan sclerotia akan menurun dan kemampuan kelangsungan hidupnya juga berkurang. Pembentukan sclerotia pada S. rolfsii selalu diawali terlebih dahulu dengan pembentukan miselia yang sebagian terbesar komponen penyusun dinding selnya adalah polisakarida. Dengan adanya intervensi terhadap pembentukan dan perkembangan miselia oleh Trichoderma spp. Maka potensi pembentukan sklerotia dan viabilitasnya akan menurun sehingga kemampuan kelangsungan hidupnya juga berkurang.

TUJUAN 1. Mengetahui pengaruh mekanisme antagonistik Trichoderma spp. terhadap pembentukan dan viabilitas sclerotia pada Sclerotium rolfsii. 2. Mengetahui seberapa besar kemampuan penekanan Trichoderma spp. terhadap pembentukan dan viabilitas sklerotia pada S. rolfsii. 3. Mengetahui spesies Trichoderma manakah yang mempunyai kemampuan menekan pembentukan dan viabilitas sklerotia pada S. rolfsii paling tinggi.

MATERI Alat : Autoklaf, oven, laminar air flow (LAF), lemari pendingin, pinset, lampu bunsen, timbangan, blender, ayakan, tabung reaksi, cawan perti, labu erlenmeyer. Bahan : Jamur Trichoderma spp, Sclerotium rolfsii, Rhizoctonia solani, media PDA, media agar air, butiran pasir, sereal oatmeal, kertas bechkote (Whatman) dan membran selofan (UCB Cellophane)

CARA KERJA a. b. Penyiapan inokulum jamur Uji eksploitasi (Brown, 1988) b.1. Dibuat media pasir-oatmeal dengan cara sbb: pasir dicuci sampai bersih, dikeringkan menggunakan oven, diayak lembut dan dicampur dengan butiran oatmeal yang telah digiling dengan komposisi 1,5% b/b. Campuran ini dimasukkan masing-masing

Praktikum Fitopatologi|Acara V

seberat 50 g ke dalam labu erlenmeyer ukuran 250 ml. Kedalamnya dimasukkan akuades sebanyak 3 ml kemudian disterilisasi menggunakan autoklaf bertekanan 1 atm selama 15 menit. b.2. Biakan masing-masing spesies Trichoderma dan S. rolfsii diinokulasikan ke dalam media ini masing-masing sebnayak 3 potong inokulum ukuran 4 mm, diinkubasikan pada suhu kamar selama seminggu untuk dipergunakan sebagai inokulum. b.3. Dibuat kembali media pasir-oatmeal dengan cara kerja dan proporsi pembagian sama dengan langkah b.1., kedalamnya diinokulasikan 1 gram inokulum secara aseptis dari hasil langkah b.2. sesuai dengan perlakuan 3.1. Disiapkan juga kontrol berupa 1 seri inokulum tunggal S. rolfsii. (Kontrol bukan bagian dari perlakuan, tetapi digunakan sebagai pembanding untuk menentukan : (a) nilai persentase penghambatan terhadap pembentukan dan (b) viabilitas sclerotia). b.4. Semua perlakuan diinkubasi pada suhu kamar selama 5 minggu, setiap hari diagitasi dengan pengocokan menggunakan tangan selama 1 menit. Dilakukan pengamatan terhadap hari ke berapa sklerotia untuk pertama kali dapat terlihat. b.5. Pada akhir masa inkubasi, isi labu erlenmeyer dituang dan disebarkan merata di atas kertas benchote (Whatman) dan dikeringkan diatas oven pada suhu 600C selama 18 jam. b.6. Sclrotia yang terbentuk dipisahkan dari komponen non-sklerotia dan dihitung, dibandingkan dengan kontrol untuk mendapatkan angka persentase penghambatan pembentukannya. b.7. Diambil 50 butir sklerotia secara acak dari tiap perlakuan dan diinokulasikan ke dalam 10 ml media agar air di dalam cawan petri, diinkubasi pada suhu kamar selama 3 hari. Jumlah sklerotia yang berkecambah dihitung, dibandingkan dengn jumlah sklerotia yang dikecambahkan dan dibandingkan lagi dengan kontrol untuk mendapatkan angka persentase viabilitasnya. c. Uji Antibiosis (Brown, 1988; Mumpuni, 1996) c.1. Media PDA (10 ml) dituangkan kedalam cawan petri diameter 9 cm, setelah memadat keatasnya diletakkan lembaran membran selofan steril yang ukurannya sedikit lebih lebar daripada ukuran cawan petri dan dibiarkan beberapa saat sampai kelebihan air menguap. c.2. Potongan inokulum masing-masing spesies jamur Trichoderma dan R. solani diinokulasikan tepat di tengah media hasil preparasi tersbut diatas dan diinkubasikan

Praktikum Fitopatologi|Acara V

pada suhu kamar selama beberapa hari sampai tepi koloninya mencapai jarak 1 cm dari tepi cawan. c.3. Lembaran membran selofan kemudian diangkat berikut koloni jamur Trichoderma sp. yang tumbuh diatasnya, kemudian pada tempat yang persis sama diinokulasikan potongan inokulum jamur S. rolfsii. c.4. Kontrol dibuat dengan menginokulasikan potongan inokulum jamur S. rolfsii dengan ukuran yang sama pada media yang sebelumnya juga telah diberi membran selofan tetapi tidak diinokulasi dengan Trichoderma sp. maupun R. solani (Kontrol bukan bagian dari perlakuan, tetapi digunakan untuk menentukan nilai: (a) penghambatan pertumbuhan miselia S. rolfsii, (b) penghambatan pembentukan sklerotia dan (c) pengurangan viabilitas sklerotia). R. solani dipergunkan dalam pengujian ini untuk melihat adanya pengaruh kemungkinan penurunan kadar nutrisi media oleh Trichoderma spp., dengan pertimbangan jamur ini memiliki kecepatan tumbuh yang relatif sama dengan Trichoderma spp. Tetapi tidak mengeluarkan senyawa yang bersifat antagonis terhadap S. rolfsii, sehingga dapat diasumsikan bahwa R. solani memanfaatkan nutrisi dalam jumlah yang relatif sama dengan Trichoderma spp. c.5 Pengamatan dilakukan dengan cara (a) mengukur pertumbuhan diameter koloni jamur S. rolfsii hasil perlakuan setiap hari sampai hari ke 4, data pertumbuhan koloni pada hari ke 4 dibandingkan dengan kontrol untuk mendapatkan angka persentase penghambatannya, (b) melanjutkan proses inkubasi sampai diperoleh sklerotia yang tumbuh dari masing-masing perlakuan dan kontrol, dihitung jumlahnya dan dicatat pada inkubasi ke berapa sklerotia untuk pertama kali terbentuk. Diambil seluruh sklrotia yang terbentuk dari tiap perlakuan dan diinokulasikan ke dalam 10 ml media agar air dalam cawan petri, diinkubasi pada suhu kamar selama 3 hari. Jumlah sklerotia yang berkecambah dihitung, dibandingkan dengan jumlah sklerotia yang dikecambahkan dan dibandingkan lagi dengan kontrol untuk mendapat angka persentase viabilitasnya.