Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Parasit dapat menyebabkan kelainan pada kulit. Parasit-parasit yang sering menginfeksi kulit manusia adalah pedikulosis, scabies, dan creeping disease. Pedikulosis adalah infeksi kulit atau rambut pada manusia yang desebabkan oleh pediculus (tergolong family pediculae). Selain menyerang manusia penyakit ini juga menyerang binatang oleh karena itu dibedakan pediculus humanus dengan pediculus animalis. Pediculus ini merupakan parasir obligat artinya harus menghisap darah manusia untuk dapat bertahan hidup. Penyakit ini banyak terjadi di lingkungan yang padat dan penularannya dapt melalui benda yang dipakai oleh penderita ataupun secara kontak langsung.2 Pengetahuan dasar tentang penyakit scabies diletakkan oleh Von Hebra, bapak dermatologi modern. Penyebabnya pertama kali ditemukan oleh Benomo pada tahun 1687, kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada sukarelawan selama perang dunia II.2 Invasi penyakit creeping disease sering terjadi pada anak-anak terutama yang sering berjalan tanpa alas kaki, atau yang sering berhubungan dengan tanah atau pasir.Demikian pula para petani dan tentara sering mengalami hal yang sama. Penyakit ini banyak terdapat di daerah tropis atau subtropis yang hangat dan lembab.2 Infeksi parasit pada kulit manusia dapat menular melalui kontak secara langsung atau kontak secara tidak langsung. Untuk itu melakukan pengobatan terhadap seseorang yang memiliki keluhan yang sama dengan penderita dalam waktu yang bersamaan sangat dianjurkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah infeksi ulang dari parasit tersebut (rekuren).

BAB II

PENYAKIT PARASIT PADA KULIT

Penyakit parasit yang sering terjadi pada manusia diantaranya: pedikulosis, scabies, dan creeping disease. 2.1 Pedikulosis Pedikulosis merupakan infeksi kulit dan rambut manusia yang disebabkan oleh Pediculus dari famili Pediculidae. Pediculus ini dapat menyerang manusia maupun hewan sehingga dibedakan Pediculus humanus untuk yang menyerang manusia dan Pediculus animalis untuk yang menyerang hewan. Pediculus merupakan parasit obligat yang harus menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan hidup. Pada manusia sendiri, terdapat klasifikasi pedikulosis berdasarkan spesies pediculus yang menyerang beserta tempat predileksinya yaitu:2 1. Pediculus humanus capitis yang menyebabkan pedikulosis kapitis 2. Pediculus humanus corporis yang menyebabkan pedikulosis korporis 3. Pthirus pubis yang menyebabkan pedikulosis pubis 2.1.1 Pedikulosis Kapitis Definisi Pedikulosis Kapitis merupakan infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus capitis.2

Epidemiologi Infestasi dari Pediculus humanus capitis ini tersebar luar diseluruh dunia dan biasanya menyerang anak-anak usia sekolah. Penyakit ini cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat misalnya di asrama dan panti asuhan. Selain itu faktor kebersihan yang kurang baik seperti jarang membersihkan rambut atau rambut yang susah dibersihkan (rambut panjang pada wanita) juga turut berperan dalam penyebaran penyakit ini. Cara penularan penyakit ini biasanya melalui perantara seperti sisir, bantal, kasur, dan topi.2

Gambar 1. Kutu rambut dan pubis Sumber: http://www.aafp.org/afp/2004/0115/afp20040115p341-f1.jpg

Etiologi Pediculus humanus capitis memiliki 2 mata dan 3 pasang kaki. Yang betina berukuran panjang 1,2-3,2 mm dan lebar sekitar setengah dari panjangnya sedangkan yang jantan lebih kecil dan jumlahnya sedikit. Kaki Pediculus humanus capitis didesain untuk mencengkeram rambut dan dapat berjalan 23cm permenit. Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Pediculus humanus capitis betina dapat bertelur 5-10 telur perhari. Telur diletakkan di sepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut sehingga makin ke ujung terdapat telur yang lebih matang. Pediculus humanus capitis harus menghisap darah terlebih dahulu sebelum melakukan kopulasi. Jangka waktu hidup Pediculus humanus capitis sekitar 30 hari. Pediculus humanus capitis biasanya hanya dapat hidup 1-2 hari di luar scalp sedangkan telurnya dapat bertahan hingga 10 hari.2,3

Gambar 2: Telur kutu di rambut Sumber: Wolff K et al. Fitzpatricks dermatology in general medicine 7th ed. New York: McGraw-Hill;2007.

Gambar 3: Siklus Pediculosis Capitis Sumber : http://2.bp.blogspot.com/BbkpNrItqQU/Tb_USrICbDI/AAAAAAAAADM/218TRutRfWQ/s1600/siklus%20kutu.p ng

Gambar 4: Siklus hidup Sumber : http://seekerofthetruth12.files.wordpress.com/2010/12/1.jpg?w=535

Patogenesis Kelainan kulit yang timbul biasanya disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap saliva yang diproduksi Pediculus humanus capitis saat menghisap darah. 2

Gejala Klinis Gejala mula yang dominan hanya rasa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serta dapat meluas ke seluruh kepala. Kemudian karena garukan dapat menyebabkan erosi, eskoriasi, dan infeksi sekunder berupa pus dan krusta. Bila terjadi infeksi sekunder yang berat, rambut akan bergumpal karena banyaknya pus dan krusta dan disertai perbesaran kelenjar getah bening regional. Pada keadaan ini kepala akan memberikan bau busuk.2,5

Pembantu diagnosis Cara yang paling diagnostik adalah menemukan kutu atau telur terutama dicari di daerah oksiput dan temporal. Telur berwarna abu-abu dan berkilat.2,5

Diagnosis Banding Tinea kapitis, Pioderma, Dermatitis seboroika 2,5

Pengobatan Pengobatan bertujuan memusnahkan seluruh Pediculus humanus capitis dan mengobati infeksi sekunder. Pengobatan yang terbaik adalah malathion 0,5% atau 1% bentuk lotio atau spray. Cara pakainya adalah pada malam hari sebelum tidur rambut dicuci dengan sampo kemudian diapakai lotio malathion dan kepala ditutup dengan kain. Keesekon harinya rambut dicuci lagi dengan sampo dan disisir dengan sisir halus dan rapat. Obat ini sukar didapat.2

Di Indonesia obat yang cukup efektif dan mudah didapat adalah Gammexane 1%. Cara pakainya dioleskan lalu didiamkan 12 jam kemudian dicuci dan disisir agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih ada telur, dapat diulangi seminggu kemudian. Obat lainnya adalah benzil benzoat 25%.2 Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya rambut dicukur, infeksi sekunder diobati dulu dengan antibiotika sistemik dan topical lalu disusul obat di atas dalam bentuk sampo.Higiene merupakan salah satu sarat untuk tidak terjadi residif. 2

2.1.2 Pedikulosis Korporis Definisi Infeksi kulit yang disebabkan oleh Pediculus humanus var corporis.2

Epidemiologi Pedikulosis Korporis sering juga disebut penyakit orang miskin dimana banyak ditemukan pada orang dewasa yang homeless, grup yang hidup dengan kebersihan yang kurang, para pengungsi, penggembala, dan para tentara pada waktu perang. Penyakit ini sering disebut penyakit vagabond karena kutu idak melekat pada kulit namun pada serat kapas di sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah. Tidak ada predileksi untuk ras, usia, dan jenis kelamin. Cara penularannya adalah melalui pakaian dan pada orang yang dadanya berambut terminal kutu dapat melekat langsung pada rambut tersebut dan dapat ditularkan melalui kontak langsung.2

Gambar 5: Pediculosis corporis Sumber: http://vecteursetlutte.ifrance.com/images/Pediculus%20humanus%20corporis .jpg

Etiologi Pediculus humanus corporis juga memiliki 2 jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Pediculus humanus corporis betina berukuran 1,2-4,2 mm dan lebar sekitar setengah panjang sedangkan yang ajntan lebih kecil. Secara umum Pediculus humanus corporis berukuran 30% lebih besar dari Pediculus humanus capitis. Jangka waktu hidup Pediculus humanus corporis sekitar 18 hari dan dapat bertahan pada pakaian tanpa menghisap darah selama 3 hari. 2,5

Patogenesis Kelainan kulit yang timbul biasanya disebabkan garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap saliva yang diproduksi Pediculus humanus corporis saat menghisap darah. 2

Gejala Klinis Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan karena gatal baru dapat berkurang setelah garukan yang lebih intensif. Kadang timbul infeksi sekunder dengan perbesaran kelenjar getah bening regional.2

Diagnosis Banding Neurotic excoriation, Skabies, gigitan serangga, dan folikulitis.2,5

Pengobatan Di Indonesia obat yang cukup efektif dan mudah didapat adalah Gammexane 1%. Cara pakainya dioleskan ke seluruh tubuh lalu didiamkan 24 jam kemudian penderita mandi. Jika masih belum sembuh, dapat diulangi 4 hari kemudian. Obat lain adalah bubuk malathion 2% dan benzil benzoat 25%. Pakaian harus di setrika dengan tujuan membunuh telur dan kutu.2

2.1.3. Pedikulosis Pubis Definisi Pedikulosis Pubis merupakan infeksi rambut pada daerah pubis dan sekitarnya akibat Pthirus pubis. 2

Epidemiologi Penyakit ini menyerang orang dewasa dan digolongkan sebagai penyakit akibat hubungan seksual serta dapat pula menyerang kumis dan janggut. Infeksi ini juga dapat terjadi pada anak-anak yaitu pada alis dan bulu mata serta pada tepi batas rambut kepala. Cara penularannya umumnya dengan kontak langsung. 2

Etiologi Pthirus pubis memiliki 2 jenis kelamin dengan yang betina lebih besar dari yang jantan dan panjang sama dengan lebar yaitu 1-2 mm. Pithirus pubis sering disebut crab louse karena kemiripan morfologinya dengan kepiting. Jangka waktu hidup Pthirus pubis adalah 2 minggu dan Pithirus pubis dewasa dapat hidup sampai 36 jam di luar host nya.2,3

Gejala Klinis Gejala utama yang timbul adalah gatal di daerah pubis dan sekitarnya. Gatal dapat meluas hingga ke abdomen dan dada. Dijumpai bercak-bercak

yang berwarna keabu-abuan atau kebiruan yang disebut makula serulae. Kutu ini dapat dilihat dengan mata biasa dan biasanya susah dilepaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam folikel rambut. Gejala lainnya adalah black dot yaitu bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam. Bercak hitam ini merupakan krusta dari darah yang sering salah diinterpretasikan sebagai hematuria. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder dengan perbesaran kelenjar getah bening.2,5

Gambar 5 :Pediculosis Pubis Sumber: encrypted-tbn3.gstatic.com

Diagnosis Banding Dermatitis seboroika, tinea kruris 2,5

Pengobatan Pengobatannya mirip dengan pedikulosis lainnya yaitu Gammexane 1% atau benzil benzoat 25% yang dioleskan dan didiamkan selama 24 jam. Pengobatan diulangi 4 hari kemudian jika belum sembuh. Sebaiknya rambut kelamin dicukur. Pakaian dalam disetrika dan mitra seksual juga diperiksa.2 Krotamiton 1% krim atau lotion ,dioleskan sekali sehari dan dapat diulang sesudah satu minggu. Infeksi sekunder diobati dengan antibiotik seperti penisilin dan eritromisin.5

2.2 Skabies Definisi Skabies merupakan infestasi pada kulit manusia yang disebabkan oleh penetrasi parasit obligat Sarcoptes Scabiei varian hominis ke epidermis. 2
9

Epidemiologi Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi skabies. Skabies dapat menyerang pada semua kalangan meskipun lebih banyak pada kalangan sosioekonomi yang rendah. Selain itu faktor kebersihan juga menjadi faktor yang menunjang perkembangan dari penyakit ini. Skabies lebih prevalen pada daerah urban/ perkotaan terutama daerahdaerah yang sangat padat. 2 Cara transmisi dapat melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. Pada kontak langsung terjadi kontak antara kulit dengan kulit contohnya berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual. Sedangkan untuk kontak tidak langsung dapat melalui benda seperti pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi dan terkadang oleh bentuk larva.2

Etiologi Sarcoptes scabiei termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis namun juga ada Sarcoptes scabiei lain misalnya Sarcoptes scabiei var. animalis. Secara morfologi berbentuk oval, punggung cembung, dan bagian perut rata. Ukurannya 330-450 mikron x 250-350 mikron untuk yang betina dan 200-240 mikron x 150-200 mikron untuk yang jantan. Sarcoptes scabiei dewasa memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang di belakang di mana yang betina berakhir dengan rambut sedangkan untuk yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan pasangan kaki keempat berakhir dengan alat perekat. 2,3

10

Gambar 6: Sarcoptes scabiei


Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/

Siklus hidup dari Sarcoptes scabiei : setelah terjadi kopulasi di atas kulit, S.scabiei jantan akan mati atau kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Sarcoptes scabiei betina yang telah dibuahi akan menggali teowongan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter perhari dan meletakkan telurnya 24 butir perhari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sekitar sebulan. Telur akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang memiliki 3 pasang kaki. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang memiliki bentuk yaitu jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Siklus hidup dari telur sampai menjadi bentuk dewasa memerlukan waktu 8-12 hari.
2,3

Gambar 7: siklus hidup scabies Sumber:gophoto.it/view.php?i=http://healthinessbox.files.wordpress.c om

11

Gambar 8: Perjalanan penyakit dan predileksi scabies


Sumber: http://seekerofthetruth12.wordpress.com

Patogenesis Kelainan pada kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh skabies tetapi juga oleh penderita itu sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi akibat sensitisasi terhadap sekret dan eskret dari S.scabiei memerlukan waktu kirakira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu akan terdapat kealinan kulit yang menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan lainlain. Intervensi berupa garukan akan dapat menyebabkan lesi sekunder seperti erosi, eskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Rata-rata jumlah Sarcoptes scabiei yang berada pada host biasanya tidak lebih dari 20, kecuali pada crusted scabies atau disebut juga Norwegian scabies dimana pada host dapat

12

berjumlah sampai jutaan Sarcoptes scabiei. Bentuk crusted scabies ini ditandai dengan dermatosis berkrusta pada tangan dan kaki, kuku yang distofik, dan skuama yang generalisata. Bentuk ini sangat menular namun rasa gatalnya sedikit. Sarcoptes scabiei dapat ditemukan dalam jumlah besar. Individu dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus), manula, dan pasien dengan pengobatan imunosurpresi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena crusted scabies . 2

Gambar 9: Lesi pada skabies Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:ScabiesD08.JPG Klasifikasi Skabies Terdapat beberapa bentukskabies atipik yang jarang ditemuan dan sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain 6 : 1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated) Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.6 2. Skabies incognito Bentuk ini timbul pada skabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.

13

3. Skabies nodular Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat di daerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau skabies. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin daat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti skabies dan kortikosteroid 4. Skabies yang ditularkan melalui hewan Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang seringkontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabei var binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.6 5. Skabies Norwegia Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisatadan hyperkeratosis yang tebal. Tempat presileksi biasanya kilit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembang biak dengan mudah. 6. Skabies pada bayi dan anak Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. 6

14

7. Skabies terbaring di tempat tidur (bed ridden) Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.6

Gejala Klinis Terdapat 4 tanda kardinal : a. Pruritus nokturna, gatal pada malam hari disebabkan karena aktivitas Sarcoptes scabiei ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Pada sebuah perkampungan padat penduduk, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan terkena infeksi dari Sarcoptes scabiei juga. Selain itu dapat terjadi hiposensitisasi dimana seluruh keluarganya terkena infestasi dari Sarcoptes scabiei namun tidak menunjukkan gejala. Di sini penderita tersebut hanya bertindak sebagai carrier. c. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, dengan ratarata panjang 1 cm. Pada ujung kunikulus ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorf (pustul, erosi, eskoriasi, dsb). Tempat predileksinya biasanya madalah tempat dengan stratum korneum yang tipis yaitu: sela-sela jari tangan, pergelangan, siku bagian luar, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi biasanya pada telapak tangan dan kaki. d. Ditemukan S.scabiei pada satu atau lebih stadium hidup. Menemukan Sarcoptes scabiei merupakan hal paling diagnostik. 2

Gambar 10: Lesi pada skabies Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/10/Scabiesburrow.jpg/220px-Scabies-burrow.jpg

15

Diagnosis Banding Penyakit skabies disebut-sebut sebagai the great imitator karena gejala-gejalanya dapat menyerupai berbagai jenis penyakit kulit dengan keluhan gatal. Adapun diagnosis banding skabies adalah: dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis herpetiformis, eksema dishidrotik, pedikulosis korporis, prurigo, reaksi gigitan serangga, dan lain-lain.2,5

Pengobatan Syarat obat yang ideal untuk skabies adalah: a. Efektif untuk seluruh stadium b. Tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik c. Tidak berbau dan kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian d. Mudah diperoleh dan murah Cara pengobatan skabies adalah seluruh anggota keluarga harus diobati termasuk penderita yang hiposensitisasi.

Jenis obat topikal: a. Sulfur presipitatum dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Jenis obat ini kurang efektif terhadap stadium telur karena itu penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangan yang lain adalah berbau dan mengotori pakaian serta terkadang dapat menimbulkan iritasi. Namun obat ini aman untuk bayi kurang dari 2 tahun. b. Benzil-benzoat (20-25%) efektif untuk seluruh stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. c. Gammexane (Gama Benzena Heksa Klorida), kadarnya 1% dalam krim atau lotio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap seluruh stadium, mudah digunakan, dan jarang menyebabkan iritasi. Obat ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali dan dapat diulangi seminggu kemudian jika gejala masih ada. d. Krotamiton 10% dalam krim atau lotio, juga merupakan obat pilihan yang memiliki 2 efek sebagai anti skabies dan anti gatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.

16

e. Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan gammexane dengan efektivitas yang sama. Aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Dapat diulangi setelah seminggu jika belum sembuh. Tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 2 bulan. 2,4,5 Keluhan gatal dapat diberi antihistamin dengan setengah dosis dan infeksi sekunder diberi antibiotika.4 Prognosis Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta pengobatan dan menghilangkan factor predisposisi, maka penyakit ini dapat diberantasa dan member prognosis yang lebih baik. 2

2.3 Creeping disease Definisi Cutaneous Larva Migrans adalah kelainan kulit yang merupakan peradangan berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing.
2

Epidemiologi Penyakit ini ditemuka tersebar luas di daerah tropis dan subtropis terutama Afrika, India, Amerika Serikat bagian tenggara, Amerika Tengah dan Selatan, dan Asia Tenggara. Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak terutama yang berjalan tanpa alas kaki, bermain tanah atau pasir, ataupun berjalan di daerah pantai. Demikian juga terjadi pada petani dan tentara. 2

Etiopatogenesis Penyebab utama dari penyakit ini adalah larva yang berasal dari cacing tambang anjing dan kucing yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Selain itu dapat pula oleh Bunostomum phlebotomum (cacing pada sapi) dan Uncinaria stenocephala (cacing pada anjing-anjing Eropa). Larva lalat misalnya Castrophilus dan cattle fly juga dapat menyebabkan penyakit ini. Biasanya larva yang menginfeksi ini merupakan stadium ketiga dari siklus hidupnya. Nematoda hidup di hospes, telurnya

17

tedapat pada kotoran binatang dan menjadi larva yang mampu melakukan penetrasi ke kulit. Larva ini tinggal di kulit dan berjalan-jalan sepanjang dermo-epidermal, setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit.2

Gambar 11 : Lesi pada creeping disease Sumber: Wolff K et al. Fitzpatricks dermatology in general medicine 7th ed. New York: McGraw-Hill;2007. Gejala Klinis Masuknya larva biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula timbul papul yang kemudian diikuti lesi yang khas yaitu lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok dengan diameter 2-3 mm berwarna kemerahan. Adanya lesi papul eritematosa menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari.2,4 Perkembangan papul merah ini menjalar seperti benang berkelokkelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul, dan membentuk terowongan. Mencapai panjang beberapa cm. Rasa gatal biasanya lebih hebat malam hari.Tempat predileksi adalah tungkai, plantar, tangan, anus, bokong, dan paha.

Diagnosis Berdasarkan bentuk khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus dan berkelok-kelok ,menimbul dan terdapat papul atau vesikel diatasnya. 2

18

Diagnosis banding Dengan melihat adanya terowongan harus dibedakan dengan scabies, pada scabies terowongan yang terbentuk tidak akan sepanjang penyakit ini. Bila melihat bentuk polisiklik sering dikacaukan dengan dermatofitosis. Pada permukaan lesi berupa papula, karena itu sering diduga insect bite. Bila invasi larva yang timbul serentak ,papul-papul lesi dini sering menyerupai herpes zoster stadium permulaan. 2,4,5

Pengobatan Tiabendazol cukup efektif dengan dosis 50 mg/kg BB/ hari, sehari 2 kali, diberikan berturut-turut selama 2 hari. Dosis maksimum adalah 3 gr sehari. Jika belum sembuh dapat diulang setelah beberapa hari. Efek sampingnya adalah mual, pusing, dan muntah. Obat ini sukar didapat. Obat lain adalah Albendazole dengan dosis 400mg sebagai dosis tunggal diberikan 3 hari berturut-turut. Cara lain adalah dengan cyrotherapy menggunakan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45 menit sampai 1 jam selama 2 hari berturutturut. 2,4

19

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Terjadinya penyakit parasit pada kulit, kebanyakan terjadi pada orang yang memiliki higienis yang kurang baik seperti pada orang yang jarang mandi, jarang keramas, jarang mencuci pakaian, dan jarang mencuci tangan setelah kontak dengan tanah . Maka dari itu timbullah infeksi dari parasit hewani ini seperti pedikulosis, scabies dan creeping disease. Selain faktor kebersihan yang kurang, infeksi yang disebabkan oleh parasit juga banyak terjadi pada orang-orang yang memiliki kehidupan sosioekonomi yang rendah dan orang-orang yang tinggal di tempat yang padat penghuni. Pengobatan sebaiknya dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan penderita yang memiliki keluhan yang sama, yang tinggal dilingkugan sekitar penderita. Hal ini dilakukan untuk mengulangi kejadian rekurensi.

3.2 Saran
Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat dicegah dengan meningkatkan kesadaran diri atas kebersihan diri baik lingkungan. Perilaku sehat yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi parasit pada kulit diantaranya: a. Mandi setiap hari minimal dua kali sehari, dengan menggunakan sabun. b. Menggunakan pakaian bersih setiap hari c. Mencuci tangan setelah berkontak dengan tanah atau setelah berkebun atau setelah membersihkan lingkungan d. Menggunakan sarung tangan saat berkebun atau membersihkan lingkungan e. Menjauhkan binatang liar seperti kucing dan anjing dari lingkungan tempat tinggal f. Menghindari pemakaian baju, handuk, topi sisir rambut secara bersama-sama dalam satu rumah g. Mengkonsumsi makanan yang bergizi agar daya tahan tubuh terjaga.

20

BAB IV DAFTAR PUSTAKA


1. Wolff K et al. Fitzpatricks dermatology in general medicine 7th ed. New York: McGraw-Hill;2007.p.2023-2037. 2. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi kelima. Jakarta: FKUI;2007. P.119-126. 3. Gandahusada S dkk. Parasitologi Kedokteran edisi ketiga. Jakarta :FKUI;2006 4. Bag/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK.Unair/RSU Dr.Sutomo Surabaya. Penyakit kulit dan Kelamin.Surabaya:Airlangga University Press;2008 5. Siregar RS. Saripati Penyakit kulit edisi dua .Jakarta:EGC;2004 6. Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipocrates.

21