Anda di halaman 1dari 0

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Natrium Klorida (NaCl)
Natrium Klorida, yang juga dikenal sebagai garam meja, atau garam
karang, merupakan senyawa ion dengan rumus NaCl. Natrium Klorida
adalah garam yang paling berperan penting dalam salinitas laut dan dalam
cairan ekstraselular dari banyak organisme multiselular. Garam sangat
umum digunakan sebagai bumbu makanan dan pengawet. Natrium Klorida
adalah garam yang berbentuk kristal atau bubuk berwarna putih. NaCl dapat
larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol. NaCl juga merupakan
senyawa natrium yang berlimpah di alam.
2NaCl + 2H
2
O Cl
2
+ H
2
+ 2NaOH
Natrium Klorida digunakan dalam proses kimia untuk skala besar
produksi senyawa yang mengandung Sodium atau Khlor. Sejak akhir abad
ke 19, pada waktu proses elektrolisis secara besar besaran diperkenalkan,
telah dapat dibuat bermacam macam senyawa dengan bahan baku NaCl,
misalnya Natrium Hidroksida, Asam Klorida, Natrium Karbonat, Natrium
Sulfite dan senyawa senyawa lainnya.
Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan
cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam
setiap liternya mempunyai komposisi Natrium Klorida 9,0 gram dengan
osmolalitas 308 mOsm/l setara dengan ion ion Na+ 154 mEq/l dan Cl 154
mEq/l (InETNA,2004:16 ; ISO Indonesia,2000:18).
9
Natrium Klorida 0,9% adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh
tubuh, karena alasan ini, tidak ada reaksi hipersensitivitas dari natrium
Klorida. Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley &
Aucker,1999). Natrium Klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti
plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson,
1992). Natrium Klorida tersedia dalam beberapa konsentasi, yang paling
sering digunakan Natrium Klorida 0,9%. Ini adalah konsentrasi normal dari
Natrium Klorida dan untuk alasan ini Natrium Klorida disebut juga normal
saline (Lilley & Aucker, 1999). Natrium Klorida 0,9% merupakan larutan
isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari
kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka
menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih
murah.
2.1.1. Biological fungsi
Pada manusia, intake garam dalam jumlah yang tinggi telah
lama dikenal dapat meningkatkan tekanan darah, khususnya di
beberapa individu. Terlebih baru-baru ini, garam telah menunjukkan
dapat melemahkan produksi senyawa oksida. Kontribusi senyawa
oksida (NO) ke keadaan homeostasis oleh inhibiting vascular
berhubungan dengan kelancaran kontraksi otot dan pertumbuhan,
agregasi platelet, dan adhesi leukosit ke endothelium.
2.1.2. Crystal struktur
Setiap atom memiliki enam tetangga terdekat, dengan geometri
bersegi delapan. Sodium chloride berbentuk kristal dengan wajah-
10
tengah kubik simetri. Semakin besar ion klorida, ditampilkan di
sebelah kanan sebagai spheres hijau, dapat diatur dalam kubik
menutup kumpulan, sementara ion klorida kecil, ditampilkan di
sebelah kiri sebagai perak spheres, terdapat jarak di antara semua isi
kubik. Setiap ion dikelilingi oleh enam ion dari jenis lainnya;
sekitarnya ion berada di vektor yang sempurna berbentuk segi
delapan.
Gambar. 1
Struktur kristal sodium chloride.
Setiap atom memiliki enam tetangga terdekat, dengan geometri bersegi delapan.
Dasar struktur yang sama ini ditemui dalam banyak mineral dan
umumnya dikenal sebagai garam karang atau batu-garam struktur kristal.
Digambarkan sebagai wajah-tengah kubik (FCC) kisi-kisi dengan dua atom
dasar. Atom pertama terletak di setiap titik kisi, dan yang kedua atom
terletak setengah jalan antara kisi poin FCC unit di sepanjang tepi sel. Hal
ini dibentuk bersama-sama dengan ionic bond dan desakan elektrostatik.
11

Gambar 1.1
Gambar garam kristal dan strukturnya
Tabel. 1.
Nama IUPAC Garam, Kelarutan, Titik Didih, Tampilan dan Informasi lain
Tentang Garam
Nama
IUPAC
Nama lain Kelarutan
dalam air
Solubility Bau Refractive indeks
(n
D)
Sodium
Chloride
Common
garam; garam
karang; garam
meja, garam
batu
35,6 g/100 mL
(0 C)
35.9 g/100
mL(25C)
39.1 g/100 mL
(100C)
Larut dalam
gliserin,
ethylene
glycol,
formic acid
yg tdk dpt di
HCl
Tanpa bau 1,5442 (589 nm)
Titik
didih
Koordinasi
geometri
Flash point
Lainnya
anions
Lainnya
cations
Thermodynamic
data
1465C(1
738K)
Bersegi
delapan (Na
+)
Bersegi
delapan (Cl
-)
Tidak mudah
terbakar
Sodium
fluor
Sodium
bromida
Lithium
khlorida
Potassium
chloride
Tahap sifat
Solid, liquid, gas
12
Sodium
iodide
Rubidium
khlorida
Caesium
chloride
Tampilan Molecular
formula
Molar mass Kepadatan Struktur
kristal
Titik cair
Tak
berwarna /
kristal
putih solid
Na Cl
58,443 g / mol 2,165 g / cm
3
Kubik
(lihat
teks), cF8
801C(1074K)
13
2.2. Konsep Dasar Pembedahan dan Post Operatif
2.2.1. Konsep Dasar Keperawatan Perioperatif
Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun
kedaruratan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan.
Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar operasi rumah sakit,
meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak memerlukan
hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah
ambulatori. Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan
intervensi pembedahan mencakup pula pemberian anastesi atau
pembiusan yang meliputi anastesi lokal, regional atau umum. Sejalan
dengan perkembangan teknologi yang kian maju. Prosedur tindakan
pembedahan pun mengalami kemajuan yang sagat pesat. Dimana
perkembangan teknologi mutakhir telah mengarahkan kita pada
penggunaan prosedur bedah yang lebih kompleks dengan
penggunaan teknik-teknik bedah mikro (micro surgery techniques)
atau penggunaan laser, peralatan by Pass yang lebih canggih dan
peralatan monitoring yang lebih sensitif.
Kemajuan yang sama juga ditunjukkan dalam bidang farmasi
terkait dengan penggunaan obat-obatan anestesi kerja singkat,
sehingga pemulihan pasien akan berjalan lebih cepat. Kemajuan
dalam bidang teknik pembedahan dan teknik anastesi tentunya harus
diikuti oleh peningkatan kemampuan masing-masing personel
(terkait dengan teknik dan juga komunikasi psikologis) sehingga
hasil yang diharapkan dari pasien bisa tercapai. Perubahan tidak
14
hanya terkait dengan hal-hal tersebut diatas. Namun juga diikuti oleh
perubahan pada pelayanan. Untuk pasien-pasien dengan kasus-kasus
tertentu, misalnya : hernia. Pasien dapat mempersiapkan diri dengan
menjalani pemeriksaan dignostik dan persiapan praoperatif lain
sebelum masuk rumah sakit. Kemudian jika waktu pembedahannya
telah tiba, maka pasien bisa langsung mendatangi rumah sakit untuk
dilakukan prosedur pembedahan. Sehingga akan mempersingkat
waktu perawatan pasien di rumah sakit.
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan
untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang
berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah
perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase
pengalaman pembedahan, yaitu fase praoperatif, fase intraoperatif
dan fase post operatif. Masing- masing fase dimulai pada waktu
tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan
peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing
mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang
dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan
dan standar praktik keperawatan. Di samping perawat, kegiatan
perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain
yang berkompeten dalam merawat pasien sehingga kepuasan pasien
dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan optimal.
15
2.2.2. Fase Pembedahan
1. Pra operatif
Fase praoperatif dimulai ketika ada keputusan untuk
dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke
meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu
tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di
tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan
menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan dan
pembedahan.
Keperawatan praoperatif merupakan tahapan awal dari
keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan
secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini
disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan
untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang
dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap
berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien
meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan
untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi.
2. Intraoperatif
Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau
dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan
ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan
mencakup pemasangan infus, pemberian medikasi intaravena,
melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang
16
prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Contoh :
memberikan dukungan psikologis selama induksi anestesi,
bertindak sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur posisi
pasien di atas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip
dasar kesimetrisan tubuh.
3. Post operatif
Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke
ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir dengan evaluasi
tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktivitas
keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama
periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen
anestesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi.
Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan
penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan
tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan
rehabilitasi serta pemulangan.
2.2.3 Indikasi dan Klasifikasi Pembedahan
Tindakan pembedahan dilakukan dengan berbagai indikasi,
diantaranya adalah :
1. Diagnostik : biopsi atau laparotomi eksplorasi
2. Kuratif : Eksisi tumor atau mengangkat apendiks yang
mengalami inflamasi
3. Reparatif : Memperbaiki luka multipel
4. Rekonstruktif/Kosmetik : mammoplasty, atau bedah plastik
17
5. Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki
masalah, contoh : pemasangan selang gastrostomi yang dipasang
untuk mengkompensasi terhadap ketidakmampuan menelan
makanan.
Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka
tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan,
yaitu :
1. Kedaruratan/Emergency
Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin
mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa ditunda.
Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus,
fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar
sangat luas.
2. Urgen
Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat
dilakukan dalam 24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih
akut, batu ginjal atau batu pada uretra.
3. Diperlukan
Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat
direncanakan dalam beberapa minggu atau bulan. Contoh :
Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Gangguan
tyroid, katarak.
18
4. Elektif
Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi
pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka tidak terlalu
membahayakan. Contoh : perbaikan Scar, hernia sederhana,
perbaikan vaginal.
5. Pilihan
Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan
sepenuhnya pada pasien. Indikasi pembedahan merupakan
pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. Contoh :
bedah kosmetik.
Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan di
bagi menjadi :
1. Minor
Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko
kerusakan yang minim. Contoh : insisi dan drainage kandung
kemih, sirkumsisi.
2. Mayor
Menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian
sangat serius. Contoh : Total abdominal histerektomi, reseksi
colon, dll.
2.2.4. Keperawatan Post Operatif
Keperawatan post operatif adalah periode akhir dari
keperawatan perioperatif. Selama periode ini proses keperawatan
diarahkan pada menstabilkan kondisi pasien pada keadaan
19
equlibrium fisiologis pasien, menghilangkan nyeri dan pencegahan
komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu
pasien kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman dan
nyaman.
Upaya yang dapat dilakukan diarahkan untuk mengantisipasi
dan mencegah masalah yang kemungkinan mucul pada tahap ini.
Pengkajian dan penanganan yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan
untuk mencegah komplikasi yang memperlama perawatan di rumah
sakit atau membahayakan diri pasien. Memperhatikan hal ini, asuhan
keperawatan post operatif sama pentingnya dengan prosedur
pembedahan itu sendiri.
Perawatan post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya
adalah :
1. Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca
anestesi (recovery room).
Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan
atau unit perawatan pasca anastesi (PACU: post anasthesia care
unit) memerlukan pertimbangan pertimbangan khusus.
Pertimbangan itu diantaranya adalah letak insisi bedah,
perubahan vaskuler dan pemajanan. Letak insisi bedah harus
selalu dipertimbangkan setiap kali pasien pasca operatif
dipindahkan. Banyak luka ditutup dengan tegangan yang cukup
tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah regangan
sutura lebih lanjut. Selain itu pasien diposisikan sehingga ia tidak
20
berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang
drainase.
Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien
digerakkan dari satu posisi ke posisi lainnya. Seperti posisi
litotomi ke posisi horizontal atau dari posisi lateral ke posisi
terlentang. Bahkan memindahkan pasien yang telah di anestesi ke
brankard dapat menimbulkan masalah gangguan vaskuler juga.
Untuk itu pasien harus dipindahkan secara perlahan dan cermat.
Segera setelah pasien dipindahkan ke barankard atau tempat
tidur, gaun pasien yang basah (karena darah atau cairan lainnnya)
harus segera diganti dengan gaun yang kering untuk menghindari
kontaminasi. Selama perjalanan transportasi tersebut pasien
diselimuti dan diberikan pengikatan di atas lutut dan siku serta
side rail harus dipasang untuk mencegah terjadi resiko injury.
Selain hal tersebut di atas untuk mempertahankan
keamanan dan kenyamanan pasien. Selang dan peralatan drainase
harus ditangani dengan cermat agar dapat berfungsi dengan
optimal. Pasien ditransportasikan dari kamar operasi ke ruang
pemulihan. Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab
perawat sirkuler dan perawat anestesi dengan koordinasi dari
dokter anestesi yang bertanggung jawab.
2. Perawatan post anestesi di ruang pemulihan (recovery room)
Setelah selesai tindakan pembedahan, pasien harus dirawat
sementara di ruang pulih sadar (recovery room : RR) sampai
21
kondisi pasien stabil, tidak mengalami komplikasi operasi dan
memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal
perawatan).
Alat monitoring yang terdapat di ruang ini digunakan untuk
memberikan penilaian terhadap kondisi pasien. Jenis peralatan
yang ada diantaranya adalah alat bantu pernafasan : oksigen,
laringoskop, set trakheostomi, peralatan bronkhial, kateter nasal,
ventilator mekanik dan peralatan suction. Selain itu di ruang ini
juga harus terdapat alat yang digunakan untuk memantau status
hemodinamika dan alat-alat untuk mengatasi permasalahan
hemodinamika, seperti : apparatus tekanan darah, peralatan
parenteral, plasma ekspander, set intravena, set pembuka jahitan,
defibrilator, kateter vena, torniquet. Bahan-bahan balutan bedah,
narkotika dan medikasi kegawatdaruratan, set kateterisasi dan
peralatan drainase. Selain alat-alat tersebut di atas, pasien post
operasi juga harus ditempatkan pada tempat tidur khusus yang
nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien, seperti :
pemindahan darurat. Dan dilengkapi dengan kelengkapan yang
digunakan untuk mempermudah perawatan. Seperti tiang infus,
side rail, tempat tidur beroda, dan rak penyimpanan catatan
medis dan perawatan. Pasien tetap berada dalam PACU sampai
pulih sepenuhnya dari pengaruh anestesi, yaitu tekanan darah
stabil, fungsi pernafasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95%
dan tingkat kesadaran yang baik.
22
Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan
kesiapan pasien untuk dikeluarkan dari PACU adalah :
a. Fungsi pulmonal yang tidak terganggu
b. Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang
adekuat
c. Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah
Orientasi pasien terhadap tempat, waktu dan orang
d. Haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam
e. Mual dan muntah dalam kontrol
f. Nyeri minimal
3. Transportasi pasien ke ruang rawat
Transportasi pasien bertujuan untuk mentransfer pasien
menuju ruang rawat dengan mempertahankan kondisi tetap stabil.
Waspadai hal-hal berikut : henti nafas, vomitus, aspirasi
selama transportasi.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat transportasi
klien:
a. Perencanaan
Pemindahan klien merupakan prosedur yang
dipersiapkan semuanya dari sumber daya manusia sampai
dengan peralatannya.
b. Sumber daya manusia (ketenagaan)
Orang yang boleh melakukan proses transfer pasien
adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan
23
yang mungkin terjadi selama transportasi. Perhatikan juga
perbandingan ukuran tubuh pasien dan perawat. Harus
seimbang.
c. Eguipment (peralatan)
Peralatan yang dipersiapkan untuk keadaan darurat,
misal : tabung oksigen, sampai selimut tambahan untuk
mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan
dalam kondisi siap pakai.
d. Prosedur
Untuk beberapa pasien setelah operasi harus ke bagian
radiologi dulu dan sebagainya. Sehingga hendaknya sekali
jalan saja. Prosedur-prosedur pemindahan pasien dan
posisioning pasien harus benar-benar diperhatikan demi
keamanan dan kenyamanan pasien.
e. Passage (jalur lintasan)
Hendaknya memilih jalan yang aman, nyaman dan yang
paling singkat. Ekstra waspada terhadap kejadian lift yang
macet dan sebagainya.
4. Perawatan di ruang rawat
Ketika pasien sudah mencapai bangsal, maka hal yang
harus kita lakukan, yaitu :
a. Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien,
drainage, tube/selang, dan komplikasi. Begitu pasien tiba di
bangsal langsung monitor kondisinya. Pemerikasaan ini
24
merupakan pemmeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal
setelah post operasi.
b. Manajemen Luka
Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan
luka tidak mengalami perdarahan abnormal. Observasi
discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan
pengangkatan jahitan.
c. Mobilisasi dini
Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM,
nafas dalam dan juga batuk efektif yang penting untuk
mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan
mengeluarkan sekret dan lendir.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan
kondisi pasien kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai
macam latihan spesifik yang diperlukan untuk
memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.
e. Discharge Planning
Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan
informasi kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang
perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan
kondisi/penyakitnya post operasi.
25
Ada 2 macam discharge planning :
1) Untuk perawat : berisi point-point discahrge planing yang
diberikan kepada klien (sebagai dokumentasi)
2) Untuk pasien : dengan bahasa yang bisa dimengerti
pasien dan lebih detail.
Dalam merencanakan kepulangan pasien, kita harus
mempertimbangkan 4 hal berikut:
1) Home care preparation
Memodifikasi lingkungan rumah sehingga tidak
mengganggu kondisi klien. Contoh : klien harus diatas
kursi roda/pakai alat bantu jalan, buat agar lantai rumah
tidak licin. Kita harus juga memastikan ada yang merawat
klien di rumah.
2) Client/family education
Berikan edukasi tentang kondisi klien. Cara
merawat luka dan hal-hal yang harus dilakukan atau
dihindari kepada keluarga klien, terutama orang yang
merawat klien.
3) Psychososial preparation
Tujuan dari persiapan ini adalah untuk memastikan
hubungan interpersonal sosial dan aspek psikososial klien
tetap terjaga.
26
4) Health care resources
Pastikan bahwa klien atau keluarga mengetahui
adanya pusat layanan kesehatan yang terdekat dari rumah
klien, seperti rumah sakit, puskesmas dan lain-lain. Jadi
jika dalam keadaan darurat bisa segera ada pertolongan.
2.2.5. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada saat pasca
operasi :
1. Gangguan pertukaran gas b.d. efek residual anestesi
2. Tidak efektifnya bersihan jalan napas b.d. peningkatan sekret
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d. insisi bedah dan posisi
selama pembedahan
4. Gangguan integritas kulit b.d. luka bedah dan pemasangan drain
5. Potensial injuri b.d. efek anestesi, sedasi and immobilisasi
6. Defisit volume cairan b.d. kehilangan cairan selama pembedahan
7. Penurunan eliminasi urin b.d. agen anestesi dan immobilisasi
8. Defisit perawatan diri b.d. luka operasi, nyeri dan treatment
regimen
9. Kurang pengetahuan b.d. kurang informasi tentang treatment
regimen
Intervensi keperawatan :
Secara umum intervensi keperawatan yang diberikan kepada
pasien post operasi meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Memastikan fungsi pernafasan yang optimal
27
2. Meningkatkan ekspansi paru
3. Memenuhi kebutuhan cairan
4. Menghilangkan ketidaknyamanan pasca operatif : nyeri
5. Menghilangkan kegelisahan
6. Menghilangkan mual dan muntah
7. Menghilangakan distensi abdomen
8. Mempertahankan suhu tubuh normal
9. Menghindari cedera
10. Mempertahankan status nutrisi yang normal
11. Meningkantkan fungsi urinarious yang normal
12. Meningkatkan eliminasi usus
13. Pengaturan posisi
14. Ambulasi
15. Melakukan perawatan luka operasi dengan teknik steril
16. Membantu pasien dalam memenuhi perawatan kebersihan diri
17. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan pasien post
operatif.
2.2.6. Komplikasi Post Operatif
1. Syok
Syok yang terjadi pada pasien bedah biasanya berupa syok
hipovolemik, syok nerogenik jarang terjadi. Tanda-tanda syok
secara klasik adalah sebagai berikut :
Pucat, kulit dingin, basah, pernafasan cepat, sianosis pada
bibir, gusi dan lidah, nadi cepat, lemah dan bergetar, penurunan
28
tekanan darah, urine pekat. Intervensi keperawatan yang dapat
dilakukan adalah kolaborasi dengan dokter terkait dengan
pengobatan yang dilakukan seperti terapi obat, penggantian
cairan per IV dan juga terapi pernafasan. Terapi obat yang
diberikan meliputi obat-obatan kardiotonik (natrium sitroprusid),
diuretik, vasodilator dan steroid. Cairan yang digunakan adalah
cairan kristaloid sperti ringer laktat dan koloid seperti terapi
komponen darah, albumin, plasma. Terapi pernafasan dilakukan
dengan memantau gas darah arteri, fungsi pulmonal dan juga
pemberian oksigen melalui intubasi atau nasal kanul. Intervensi
mandiri keperawatan meliputi : dukungan psikologis, pembatasan
penggunaan energi, pemantauan reaksi pasien terhadap
pengobatan, peningkatan periode istirahat, pencegahan hipotermi
dengan menjaga tubuh pasien agar tetap hangat karena hipotermi
mngurangi oksigenasi jaringan, melakukan perubahan posisi
pasien tiap 2 jam dan mendorong pasien untuk melakukan nafas
dalam untuk meningkatkan fungsi optimal paru, pencegahan
komplikasi dengan memonitor pasien secara ketat selama 24 jam
seperti edema perifer dan edema pulmonal.
2. Perdarahan
Penatalaksanaan perdarahan seperti halnya pada pasien
syok. Pasien diberikan posisi terlentang dengan posisi tungkai
kaki membentuk sudut 20 derajat dari tempat tidur sementara
lutut harus dijag tetap lurus. Penyebab perdarahan harus dikaji
29
dan diatasi. Luka bedah harus selalu diinspeksi terhadap
perdarahan. Jika perdarahan terjadi, kassa steril dan balutan yang
kuat dipasangkan dan tempat perdarahan ditinggikan pada posisi
ketinggian jantung. Pergantian cairan koloid disesuaikan dengan
kondisi pasien.
3. Trombosis vena profunda
Trombosis vena profunda adalah trombosis yang terjadi
pada pembuluh darah vena bagian dalam. Komplikasi serius yang
bisa ditimbulkan adalah embolisme pulmonari dan sindrom pasca
flebitis.
4. Retensi urin
Retensi urine paling sering terjadi pada kasus-kasus
pembedahan rektum, anus dan vagina. Atau juga setelah
herniofari dan pembedahan pada daerah abdomen bawah.
Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter kandung kemih.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan
kateter untuk membatu mengeluarkan urine dari kandung kemih.
5. Infeksi luka operasi (dehisiensi, evicerasi, fistula, nekrose, abses)
Infeksi luka post operasi seperti dehisiensi dan sebaginya
dapat terjadi karena adanya kontaminasi luka operasi pada saat
operasi maupun pada saat perawatan di ruang perawatan.
Pencegahan infeksi penting dilakukan dengan pemberian
antibiotik sesuai indikasi dan juga perawatan luka dengan prinsip
steril.
30
6. Sepsis
Sepsis merupakan komplikasi serius akibat infeksi dimana
kuman berkembang biak. Sepsis dapat menyebabkan kematian
bagi pasien karena dapat menyebabkan kegagalan multi organ.
7. Embolisme pulmonal
Embolsime dapat terjadi karena benda asing (bekuan darah,
udara dan lemak) yang terlepas dari tempat asalnya terbawa di
sepanjang aliran darah. Embolus ini bisa menyumbat arteri
pulmonal yang akan mengakibatkan pasien merasa nyeri seperti
ditusuk-tusuk dan sesak nafas, cemas dan sianosis. Intervensi
keperawatan seperti ambulatori pasca operatif dini dapat
mengurangi resiko embolus pulmonal.
8. Komplikasi Gastrointestinal
Komplikasi pada gastrointestinal paling sering terjadi pada
pasien yang mengalami pembedahan abdomen dan pelvis.
Komplikasinya meliputi obstruksi intestinal, nyeri dan juga
distensi abdomen.
2.3 Konsep Luka
2.3.1 Pengertian Luka
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas
jaringan (Mansjoer, 2000:396). Menurut InETNA, luka adalah
sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal,
luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada
31
kontinuitas atau kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai
dengan kehilangan substansi jaringan.
Luka adalah terganggunya integritas normal dari kulit dan
jaringan dibawahnya. Trauma dapat terjadi secara tiba-tiba atau
disengaja, luka dapat terbuka atau tertutup, bersih atau
terkontaminasi, superficial atau dalam. (Kozier, 1992).
Luka dapat digambarkan sebagai gangguan dalam kontinuitas
sel sel, kemudian diikuti dengan penyembuhan luka yang
merupakan pemulihan kontinuitas tersebut(Brunner&Suddarth,1984)
Ketika terjadi luka, beragam efek dapat terjadi :
1. Kehilangan segera semua atau sebagian fungsi organ
2. Respon stress simpatis
3. Hemoragi dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel
2.3.2 Penyebab Luka
Mekanik
1) Benda Tajam
2) Benda Tumpul
3) Ledakan atau tembakan
Non Mekanik
1) Bahan Kimia
2) Thermik
3) Radiasi
32
2.3.3 Klasifikasi Luka
Luka dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis sesuai dengan
mekanisme cedera dan tingkat kontaminasi luka pada saat
pembedahan. (Brunner&Suddarth).
2.3.3.1 Mekanisme cedera, luka dapat digambarkan sebagai insisi,
kontunisi, laserasi, atau tusuk.
1) dibuat dengan potongan bersih menggunakan instrument
tajam sebagai contoh; luka yang dibuat oleh ahli bedah
dalam setiap prosedur operasi. Luka bersih (luka yang
dibuat secara aseptik) biasanya ditutup dengan jahitan
setelah semua pembuluh darah diligasi dengan cermat.
2) dibuat dengan dorongan tumpul dan ditandai dengan
cedera berat bagaian yang lunak, hemoragi, dan
pembengkakan.
3) adalah luka dengan tepi yang bergerigi, tidak teratur,
seperti luka yang dibuat oleh kaca atau goresan kawat
4) diakibatkan oleh bukaan kecil pada kulit, sebagai contoh
luka yang dibuat oleh peluru atau tusukan tusukan pisau.
2.3.3.2 Tingkatan kontaminasi luka dapat digambarkan dengan luka
bersih, kontaminasi bersih, terkontaminasi atau kotor atau
terinfeksi.
1) Luka bersih adalah luka bedah tidak terinfeksi dimana
tidak terdapat inflamasi. Saluran pernapasan, percernaan,
genital atau saluran kemih yang tidak terinfeksi tidak
33
dimasuki. Luka bersih biasanya dijahit tertutup; jika
diperlukaan dengan sistem drainase tertutup (mis,
Jackson-pratt) dipasangkan. Kemungkinan relatif dari
infeksi luka adalah 1% - 5%.
2) Luka kontaminasi-bersih adalah luka bedah dimana
saluran pernapasan, pencernaan, genital, atau perkemihan
dimasuki dibawah kondisi yang terkontrol; tidak terdapat
kontaminasi yang tidak lazim. Kemungkinan relatif
infeksi luka : 3%-11%.
3) Luka terkontaminasi mencakup luka kontaminasi, baru,
luka akibat kecelakaan, dan prosedur bedah dengan
pelanggaran dalam teknik asepsis atau semburan banyak
dari gastrointestinal, termasuk dalam kategori ini adalah
insisi dimana terdapat inflamasi akut, nonpurulen.
Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah 10% - 17%.
4) Luka kotor atau terinfeksi adalah luka dimana organisme
yang menyebabkan infeksi pascaoperatif terdapat lapang
operatif sebelum pembedahan. Hal ini mencakup luka
traumatic yang sudah lama dengan jarimngan yang
terlupas tertahan dan luka yang melibatkan infeksi klinis
yang sudah ada atau visera yang mengalami perforasi.
Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah lebih dari
27%.
34
Adapun klasifikasi luka yang lain (menurut sumber :
pmrmateri.blogspot.com/2008/11/materi-pp-macam2gangguan.html-
48k diakses pada tanggal 23 Juni 2009) adalah :
2.3.3.3. Berdasarkan penyebab
Mekanik :
1) Ekskoriasi atau luka lecet
2) Vulnus scisum atau luka sayat, contoh : tersayat benda
tajam
3) Vulnus Abrasio atau luka terkikis, luka hanya bagian
luar kulit/ belum mengenai pembuluh darah.
4) Vulnus laseratum atau luka robek, contoh: jaringan
yang rusak dengan luka agak dalam; tergilas mesin.
5) Vulnus punctum atau luka tusuk, contoh: luka bagian
luar kecil tetapi luka bagian dalam besar; terkena benda
runcing.
6) Vulnus morsum atau luka karena gigitan binatang
7) Vulnus Contusum atau luka memar, contoh : cedera
pada jaringan bawah kulit, terbentur benda tumpul.
8) Vulnus combustio atau luka bakar
9) Vulnus Sclopetorum atau luka tembak, contoh: luka
(pinggir) kehitam-hitaman, tembakan peluru.
Non Mekanik :
1) Bahan Kimia, Terkena zat kimia misal: air raksa
2) Thermik, Terkena sengatan listrik
35
3) Radiasi, Pengaruh sinar radiasi, misal sinar X
2.3.3.4. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan
1) Ekskoriasi
2) Skin avulsion
3) Skin loss
2.3.4. Berdasarkan derajat kontaminasi
1) Luka bersih
a) Luka sayat elektif
b) Steril, potensial terinfeksi
c) Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus
respiratorius,traktus elimentarius, traktus genitourinarius.
2) Luka bersih tercemar
a) Luka sayat elektif
b) Potensi terinfeksi : spillage minimal, flora normal
c) Kontak dengan orofaring, respiratorius, elimentarius dan
genitourinarius
d) Proses penyembuhan lebih lama
3) Luka tercemar
a) Potensi terinfeksi: spillage dari traktus elimentarius, kandung
empedu, traktus genito urinarius, urine
b) Luka trauma baru : laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi.
4) Luka kotor
a) Akibat proses pembedahan yang sangat terkontaminasi
b) Perforasi visera, abses, trauma lama.
36
2.3.5. Tipe Penyembuhan luka
Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka, dimana
pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang
hilang.
2.3.5.1. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu
penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan
bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
Luka dibuat secara aseptik, dengan pengerusakan
jaringan minimum, dan penutupan dengan baik seperti
dengan surture, sembuh dengan sedikit reaksi jaringan
melalui intensif pertama. Ketika luka sembuh melalui
intensif pertama, jaringan granulasi tidak tampak dan
pembentukan jaringan parut minimal.
2.3.5.2. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder)
yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer.
Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan
hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Proses
penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka
jenis ini biasanya tetap terbuka.
Pada luka dimana terjadi pembentukan pus
(supurasi) atau dimana tepi luka tidak saling merapat,
proses pembaikan kurang sederhana dan membutuhkan
waktu lama. Ketika akses di insisi akan terjadi kolaps
sebagian, tetapi sel-sel yang sudah mati dan masih sekarat
37
yang membentuk dindingnya masih dilepaskan kedalam
kavitas. Jaringan ini terdiri atas karifer yang sangat halus,
berdinding tipis dan kuncup yang nantinya membentuk
jaringan ikat. Kuncup ini disebut granulasi, membesar
sampai mereka memenuhi area yang ditinggalkan oleh
jaringan rusak. Sel-sel disekitar kapiler mengubah bentuk
bulat mereka menjadi panjang tipis dan saling menindih
satu sama lain untuk membentuk jaringan parut atau
sikatrik. Penyembuhan menjadi lengkap bila sel-sel kulit
(epitelium) tumbuh diatas granulasi ini. Metode perbaikan
ini disebut penyembuhan melalui granulasi.
2.3.5.3. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu
luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah
tindakan debridement. Setelah diyakini bersih, tepi luka
dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe
penyembuhan luka yang terakhir. Jika luka dalam baik yang
belum di suture atau terlepas dan kemudian disuture
kembali nantinya, dua permukaan granulasi yang
berlawanan disambungkan. Hal ini mengakibatkan jaringan
parut yang lebih dalam dan lebih luas.
38
2.4. Fisiologi Penyembuhan Luka
Beragam proses seluler yang saling tumpang tindih dan terus
menerus memberikan konstribusi terhadap pemulihan luka: regenerasi sel,
proliferasi sel, dan pembentukan kolagen. Respons jaringan terhadap
cedera melewati beberapa fase: inflamasi, proliferatif, dan maturasi.
2.4.1. Fase Inflamasi
Respons vaskular dan selular terjadi ketika jaringan terpotong
atau mengalami cedera. Vasokontriksi pembuluh terjadi dan
bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol
perdarahan. Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit
dan diikuti oleh vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan
kemampuan vasokontriksinya karena norepinefrin dirusak oleh
enzim intraselular. Juga, histamin dilepaskan, yang meningkatkan
permeabilitas kapiler.
Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah
seperti antibodi, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air
menembus spasium vaskular selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan
edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri. Netrofil adalah
leukosit pertama yang bergerak ke dalam jaringan yang rusak.
Monosit yang berubah menjadi makrofag menelan debris dan
memindahkannya dari area tesebut. Antigen-antibodi juga timbul.
Sel-sel basal pada pinggir luka mengalami mitosis, dan
menghasilkan sel-sel anak yang bermigrasi.
39
Dengan aktivitas ini, enzim protealitik disekresikan dan
menghancurkan bagian dasar bekuan darah. Celah antara kedua sisi
luka secara progresif terisi, dan sisinya pada akhirnya saling
bertemu dalam 24 sampai 48 jam. Pada saat ini, migrasi sel
ditingkatkan oleh aktivitas sumsum tulang hiperplastik.
2.4.2. Fase Proliferatif
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring
untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup
pada pinggiran luka; kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang
merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.
Kolagen adalah komponen utama dari jaringan ikat yang
digantikan. Fibroblas melakukan sintesis kolagen dan
mukopolisakarida. Dalam periode 2 sampai 4 minggu, rantai asam
amino membentuk serat-serat dengan panjang dan diameter yang
meningkat; serat-serat ini menjadi kumpulan bundle dengan pola
yang tersusun baik. Sintesis kolagen menyebabkan kapiler untuk
menurun jumlahnya. Selain itu, sintesis kolagen menurun dalam
upaya untuk menyeimbangkan jumlah kolagen yang rusak. Sintesis
dan lisis seperti ini mengakibatkan peningkatan kekuatan.
Setelah 2 minggu, luka hanya memiliki 3% sampai 5% dari
kekuatan kulit aslinya. Sampai akhir bulan, hanya 35% sampai
59% kekuatan luka tercapai. Tidak akan lebih dari 70% sampai
80% kekuatan dicapai kembali. Banyak vitamin, terutama vitamin
40
C, membantu dalam proses metabolisme yang terlibat dalam
penyembuhan luka.
2.4.3. Fase Maturasi
Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblast mulai
meninggalkan luka. Jaringan parut tampak besar, sampai fibril
kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini,
sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi
meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus
berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12
minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari
jaringan sebelum luka.
Tabel 1.2. Fisiologi penyembuhan luka
Fase Waktu Peristiwa
Inflamatori (juga
disebut fase lag
atau eksudatif)
1 4 hari terbentuk bekuan darah
luka menjadi edema
debris dari jaringan yang
rusak dan bekuan darah
difagositosis
Proliferatif (juga
disebut fase
fibroblastik atau
jaringan ikat)
5 20 hari terbentuk kolagen
terbentuk jaringan granulasi
kekuatan tegangan luka
meningkat
Maturasi (juga
disebut fase
diferensiasi,
21 hari sampai
sebulan atau bahkan
tahunan
fibroblast meninggalkan luka
kekuatan tegangan luka
meningkat
41
resorptif,
remodeling atau
plateau)
serat- serat kolagen disusun
kembali dan dikuatkan untuk
mengurangi ukuran jaringan
parut
2.5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan
dinamis karena merupakan suatu kegiatan bioseluler dan biokimia yang
terjadi saling berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya
terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka, namun
dipengaruhi pula oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik
(InETNA,2004:13).
2.5.1. Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat
berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi : usia, status
nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status
imunologi, dan penyakit penyerta (hipertensi, DM,
Arthereosclerosis).
2.5.2. Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita
yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi
: pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma
jaringan (InETNA,2004:13).
42
Tabel 1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
Faktor Rasional Pengkajian / intervensi
keperawatan
Usia pasien Makin tua pasien, makin
kurang lentur jaringan
Lakukan tindakan terhadap
semua jaringan dengan hati
hati
Penanganan jaringan Penanganan yang kasar
menyebabkan cedera dan
memperlambat
penyembuhan luka
Lakukan terhadap jaringan
dengan cermat dan
menyeluruh
Hemoragi 1. Akumulasi darah
menciptakan ruang rugi
juga sel - sel mati yang
harus disingkirkan
2. Area menjadi media
pertumbuhan infeksi
1. Pantau tanda tanda
vital
2. Amati letak insisi
terhadap defisit
volume
Hipovolemi Volume darah yang tidak
mencukupi mengarah pada
vasokontroksi dan
penurunan oksigen dan
nutrient yang tersedia untuk
penyembuhan luka
1. Pantau terhadap defisit
volume (kerusakan
sirkulasi)
2. Perbaikan dengan
penggantian cairan
sesuai yang diresepkan
Factor lokal edema Penurunan suplai oksigen
melalui tekanan interstisial
pada pembuluh darah
Tinggikan bagian yang
sakit, pasang kompres
dingin
Teknik pembalutan 1. Memungkinkan invasi Ikuti pedoman untuk teknik
43
yang tidak adekuat
1.terlalu kecil
2.terlalu kencang
dan kontaminasi bakteri
2. Mengurangi suplai
oksigen yang membawa
nutrient dan oksigen
pembalutan yang tepat
Defisit nutrisi 1. Sekresi insulin dapat
dihambat, sehingga
menyebabkan glukosa
darah meningkat
2. Dapat terjadi penipisan
protein kalori
1. Pantau kadar glukosa
darah
2. Berikan suplemen
vit.A dan C sesuai
yang diresepkan
3. Perbaiki kekurangan:
dapat membutuhkan
terapi nutrisi parental
Benda asing Benda asing memperlambat
penyembuhan
Jaga agar luka bebas dari
benang balutan, bedak
tabur, dan bedak dari
sarung tangan
Defisit oksigen,
insufisien oksigenasi
jaringan
Oksigen yang tidak
memadai dapat diakibatkan
tidak adekuatnya fungsi paru
dan kardiovaskular, juga
vasokontriksi setempat.
Berikan dorongan untuk
napas dalam , berbalik,
batuk terkontrol
Penumpukan drainase Sekresi yang menumpuk
mengganggu proses
penyembuhan
1. Pantau sistem drainase
portable atau tertutup
lainnya terhadap
ketepatan fungsi
2. Lakukan tindakan
44
untuk membuang
sekresi yang
menumpuk
Medikasi steroid Dapat menyamarkan adanya
infeksi dengan mengganggu
respon inflamasi normal
Waspadalah terhadap kerja
atau efek medikasi yang
diterima pasien
Overaktif pasien 1. Menghambat perapatan
luka
2. Mengganggu
penyembuhan yang
diingikan
1. Gunakan tindakan
untuk menjaga tepi
luka merapat;
memplester,
membebat, membalut
2. Anjurkan pasien untuk
istirahat
Gangguan sistemik
1. Syok hemoragik
2. Asidosis
3. Hipoksia
4. Gagal ginjal
5. Penyakit hepar
6. Sepsis
Status imunosupresi
Ini merupakan depresan
fungsi sel yang secara
langsung mempengaruhi
penyembuhan luka
Pasien lebih rentan terhadap
invasi bakteri/virus,
mekanisme pertahanan
tubuh mengalami kerusakan
1. Ketahui sifat dari
gangguan spesifik
2. Berikan pengobatan
yang diresepkan
3. Pemeriksaan kultur
dapat diindikasi untuk
menentukan antibiotik
yang tepat
4. Berikan perlindungan
maksimum untuk
mencegah infeksi.
Batasi pengunjung
yang menderita
45
demam, lakukan
kewajiban mencuci
tangan staf
Stersor luka
1. Muntah
2. Manuver
valsava
3. Batuk kuat
4. Mengejan
Menghasilkan tegangan pada
luka, terutama forsio
1. Berikan dorongan
untuk sering berbalik
dan ambulasi, dan
berikan meditasi
antiemetik sesuai yang
diresepkan
2. Bantu pasien dalam
membebat insisi
2.6. Komplikasi Penyembuhan Luka
Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang
berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang
tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak
adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya
infeksi.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah: hematoma,
nekrosis jaringan lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar dan
juga infeksi luka (InETNA,2004:6).
2.6.1. Hematoma (Hemoragi)
46
Balutan diinspeksi terhadap hemoragi pada interval yang
sering selama 24 jam setelah pembedahan. Setiap perdarahan
dalam jumlah yang tidak semestinya dilaporkan. Pada waktunya,
sedikit perdarahan terjadi pada luka, dibawah kulit. Hemoragi ini
biasanya berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan
pembentukan bekuan di dalam luka. Jika bekuan kecil, maka akan
terserap dan tidak harus ditangani. Ketika bekuannya besar, dan
luka biasanya agak menonjol, dan penyembuhan akan terhambat
kecuali bekuan ini dibuang. Setelah beberapa suture dilepas oleh
dokter, bekuan dievakuasi dan luka ditutup dengan kasa. Proses
penyembuhan biasanya dengan granulasi, atau penutupan sekunder
dapat dilakukan.
2.6.2. Infeksi (Sepsis Luka)
Infeksi luka bedah adalah infeksi nosokomial kedua
terbanyak di Rumah Sakit. Bagian yang paling penting dari
pencegahan terletak pada penatalaksanaan luka dan teknik bedah
yang sangat cermat. Selain itu, kebersihan dan disinfeksi
lingkungan juga penting.
Staphylococcus aureus menyebabkan banyak ineksi luka
pascaoperatif. Infeksi lainnya dapat terjadi akibat Escherichia coli,
Proteus vulgaris, Aerobacter aerogenes, Pseudomonas aeruginosa,
dan organisme lainnya.
47
Bila terjadi proses inflammatory, hal ini biasanya
menyebabkan gejala dalam 36 sampai 48 jam. Frekuensi nadi dan
suhu tubuh pasien meningkat, jumlah SDP meningkat, dan luka
biasanya menjadi membengkak, hangat dan nyeri tekan dengan
nyeri insisional. Tanda-tanda lokal mungkin tidak terdapat ketika
infeksi sudah mendalam.
Ketika diagnosis infeksi luka pada luka pascaoperaitf telah
ditegakkan, ahli bedah biasanya melepaskan satu suture atau lebih
dan, dibawah kewaspadaan aseptik, memisahkan luka dengan
gunting tumpul atau hemostat. Ketika insisi telah dibuka, maka
dipasang drain.
Contoh infeksi dapat berupa:
1) Selulitis
Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam
bidang jaringan. Semua manifestasi inflamasi tampak dalam
hal ini, streptokokus sering menjadi organisme penyebab.
Antibiotik sistemik biasa menunjukkan hasil yang efektif. Jika
ekstremitas merupakan tempat terjadinya infeksi, meninggikan
ekstremitas tersebut dapat mengurangi edema dependen dan
pemasangan kompres hangat dapat meningkatkan sirkulasi
darah setempat. Istirahat dapat mengurangi kontraksi otot yang
dapat menyebabkan masuknya organisme ke dalam sistem
sirkulasi.
48
2) Abses
Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan
pengumpulan pus (bakteri, jaringan nekrotik, dan SDP).
Biasanya titik tempatnya terjadi nyeri tekan. Karena area
tersebut mendapat tekanan, maka terdapat kecenderungan bagi
infeksi untuk menumbuhkan bakteri yang dapat menyerang
jaringan sekitarnya (selulitis) atau spasiumm vascular
(baktereimia, sepsis). Pengobatannya adalah drainase bedah
atau eksisi dan pemberian antibiotik. Kekambuhan dapat
dicegah dengan membiarkan luka yang ditangani mengalir.
Istirahat, meninggikan bagian yang sakit, dan pemanasan
sangat membantu.
3) Limfangitis
Limfangitis adalah penyebaran infeksi dari selulitis atau
abses ke sistem limfatik. Hal ini diatasi dengan istirahat dan
antibiotik.
2.6.3. Dehisens dan Eviserasi
Komplikasi dehisens (gangguan insisi atau luka bedah) dan
eviserasi (penonjolan isi luka) terutama serius bila melibatkan
insisi atau luka abdomen. Komplikasi ini terjadi akibat jahitan yang
terlepas, infeksi, dan yang lebih sering lagi, setelah batuk yang kuat
atau mengejan. Komplikasi ini juga dapat terjadi karena usia yang
lanjut, status nutrisi yang buruk atau penyakit kardiovaskular pada
pasien yang menjalani pemmbedahan abdomen.
49
Ketika tepi luka memisah dengan lambat, intestine dapat
menonjol secara bertahap, atau tidak sama sekali, dan tanda
pertama dapat berupa cairan peritoneal yang keluar mengandung
darah (serosanguinosa) dan luka. Bila ruptur luka terjadi secara
mendadak, koil usus dapat terdorong keluar dari abdomen. Sering
terjadi, pasien mengatakan sesuatu keluar dari perut saya.
Eviserasi menyebabkan nyeri dan dapat berkaitan dengan muntah.
2.7. Penatalaksanaan/Perawatan Luka
2.7.1. Pengkajian Luka
Luka dapat dikaji berdasarkan pada:
1) Kondisi luka
a) Warna dasar luka :
Slough (yellow)
Necrotic tissue (black)
Infected tissue (green)
Granulating tissue (red)
Epithelialising (pink)
b) Lokasi ukuran dan kedalaman luka
c) Eksudat dan bau
d) Tanda-tanda infeksi
e) Keadaan kulit sekitar luka : warna dan kelembaban
f) Hasil pemeriksaan laboratorium yang mendukung
2) Status nutrisi klien : BMI, kadar albumin
50
3) Status vascular : Hb, TcO2
4) Status imunitas: terapi kortikosteroid atau obat-obatan
immunosupresan yang lain
5) Penyakit yang mendasari : diabetes atau kelainan vaskularisasi
lainnya
2.8. Manajemen Perawatan Luka
Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang
dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka,
penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antibiotik dan
pengangkatan jahitan.
2.8.1. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi
dan eksplorasi).
2.8.2. Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan kulit.
Untuk melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan
cairan atau larutan antiseptik seperti:
1) Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2
menit).
2) Halogen dan senyawanya
a) Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat,
berspektrum luas dan dalam konsentrasi 2% membunuh
spora dalam 2-3 jam
b) Povidon Yodium (Betadine, septadine dan isodine),
merupakan kompleks yodium dengan polyvinylpirrolidone
51
yang tidak merangsang, mudah dicuci karena larut dalam
air dan stabil karena tidak menguap.
c) Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya
untuk antiseptik borok.
d) Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan
senyawa biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid,
tidak berwarna, mudah larut dalam air, tidak merangsang
kulit dam mukosa, dan baunya tidak menusuk hidung.
3) Oksidansia
a) Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan fungisida agak
lemah berdasarkan sifat oksidator.
b) Perhidrol (Peroksida air, H2O2), berkhasiat untuk
mengeluarkan kotoran dari dalam luka dan membunuh
kuman anaerob.
4) Logam berat dan garamnya
a) Merkuri klorida (sublimat), berkhasiat menghambat
pertumbuhan bakteri dan jamur.
b) Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%. Sifatnya
bakteriostatik lemah, mempercepat keringnya luka dengan
cara merangsang timbulnya kerak (korts)
5) Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%).
52
6) Derivat fenol
a) Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai antiseptik
wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi dan luka
bakar.
b) Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci
tangan.
2.8.3. Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan,
memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka;
menghindari terjadinya infeksi; membuang jaringan nekrosis dan
debris (InETNA, 2004:16).
Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu
diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian
luka. Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan
menghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu
rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Pemilihan cairan dalam
pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka.
Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan
pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal
Saline. Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini
merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak
mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium
klorida 9,0 g dengan osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-
53
ion Na
+
154 mEq/l dan Cl
-
154 mEq/l (InETNA,2004:16 ; ISO
Indonesia,2000:18).
Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam
pembersihan luka yaitu :
1) Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk
membuang jaringan mati dan benda asing.
2) Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati.
3) Berikan antiseptic
4) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian
anastesi lokal
5) Bila perlu lakukan penutupan luka (Mansjoer,2000: 398;400)
2.8.4. Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta
berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka
yang terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya
dibiarkan sembuh per sekundam atau per tertiam.
2.8.5. Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat
tergantung pada penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi
sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi, mengupayakan
lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan,
sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya
rembesan darah yang menyebabkan hematom.
54
2.8.6. Pemilihan Balutan Luka
Balutan luka (wound dressings) secara khusus telah
mengalami perkembangan yang sangat pesat selama hampir dua
dekade ini. Revolusi dalam perawatan luka ini dimulai dengan
adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh Professor G.D Winter
pada tahun 1962 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tentang
keadaan lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka.
Menurut Gitarja (2002), adapun alasan dari teori perawatan
luka dengan suasana lembab ini antara lain:
1) Mempercepat fibrinolisis
Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan
lebih cepat oleh netrofil dan sel endotel dalam suasana lembab
2) Mempercepat angiogenesis
Dalam keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup
akan merangsang lebih pembentukan pembuluh darah dengan
lebih cepat.
3) Menurunkan resiko infeksi
Kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika
dibandingkan dengan perawatan kering.
4) Mempercepat pembentukan Growth factor
Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka
untuk membentuk stratum corneum dan angiogenesis, dimana
produksi komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam
lingkungan yang lembab.
55
5) Mempercepat terjadinya pembentukan sel aktif.
Pada keadaan lembab, invasi netrofil yang diikuti oleh
makrofag, monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih
dini.
Pada dasarnya prinsip pemilihan balutan yang akan
digunakan untuk membalut luka harus memenuhi kaidah-kaidah
berikut ini:
1) Kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang
dikeluarkan oleh luka (absorbing)
2) Kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan
mengurangi resiko terjadinya kontaminasi mikroorganisme
(non viable tissue removal)
3) Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration)
4) Melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan
5) Kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau
pendistribusian antibiotic ke seluruh bagian luka (Hartmann,
1999; Ovington, 1999).
Perawatan luka dengan menggunakan NaCl 0,9% pada luka
bersih yang di insisi atau luka operasi adalah sebagai berikut :
1) Terdapat set perawatan luka yang terdiri dari : bak instrumen
steril yang di dalamnya terdapat kom kecil, kassa steril, pinset
anatomis, handscoon; gunting dan plester.
2) Cairan NaCl 0,9%.
56
3) Setelah semua alat siap, cairan NaCl 0,9% dituangkan ke dalam
kom kecil.
4) Masukkan kassa steril ke dalam kom kecil yang berisi cairan
NaCl 0,9% lalu peras.
5) Bersihkan luka post operasi pasien dengan kassa yang telah
dibasahi dengan NaCl0,9%.
6) Ambil kassa lain yang telah dibasahi dengan NaCl 0,9% dan
diperas lalu di lebarkan dan diletakkan di atas luka sesuai
dengan lebar atau panjang luka.
7) Letakkan kembali kassa steril kering di atas kassa tersebut.
8) Plester sesuai dengan kebutuhan.
Mekanisme NaCl 0,9% dapat berperan penting dalam
proses penyembuhan luka :
1) Cairan NaCl 0,9% sangat baik digunakan pada fase inflamatori
dalam proses penyembuhan luka karena pada keadaan lembab
invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit, dan
limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini.
2) Suasana lembab yang diciptakan dari kompres NaCl 0,9%
dalam merawat luka dapat mempercepat terbentuknya stratum
corneum dan angiogenesis untuk proses penyembuhan luka
3) Pada fase proliferatif dalam fisiologi penyembuhan luka, cairan
NaCl 0,9% yang digunakan untuk perawatan luka sangat
membantu melindungi granulasi jaringan agar tetap lembab
sehingga membantu proses penyembuhan luka.
57
4) Cairan NaCl 0,9% yang digunakan pada perawatan luka post
operasi dapat melindungi granulasi jaringan dari kondisi
kering, sehingga dapat mempercepat kesembuhan
5) NaCl 0,9% pada perawatan luka post operasi dapat menjaga
kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses
penyembuhan
6) Luka post operasi yang diberikan balutan kompres cairan NaCl
0,9% dapat memperkecil terjadinya infeksi karena kejadian
infeksi pada perawatan luka dengan suasana lembab relatif
lebih kecil dibandingkan dengan perawatan kering.
7) NaCl 0,9% tidak menghambat pertumbuhan jaringan sehingga
dapat membantu proses penyembuhan pada luka post operasi.
8) Cairan NaCl 0,9% merupakan larutan isotonis yang tidak
berbahaya untuk perawatan luka post operasi
2.8.7. Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik
dan pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan
antibiotik. Pengobatan, antibiotik propilatik diberikan ketika
diduga terjadi kontamanasi, atau ketika alat prostetik dimasukkan
kedalam luka yang bersih. Luka yang terinfeksi tidak ditutup
sampai segala upaya telah dilakukan untuk membuang semua
jaringan devitalis dan terinfeksi, prosedurnya disebut debridemen.
Sering kali drain kecil dipasang sebelum luka dijahit untuk
58
mencegah pengumpulan limfe dan darah dan memperlambat proses
penyembuhan.
2.8.8. Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi.
Waktu pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor
seperti, lokasi, jenis pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap
penderita dan adanya infeksi (Mansjoer,2000:398 ; Walton,
1990:44).
Tabel 1.4. Waktu Pengangkatan Jahitan
No Lokasi Waktu
1 Kelopak mata 3 hari
2 Pipi 3-5 hari
3 Hidung, dahi, leher 5 hari
4 Telinga,kulit kepala 5-7 hari
5 Lengan, tungkai, tangan,kaki 7-10 hari
6 Dada, punggung, abdomen 7-10 hari
Sumber. Walton, 1990:44
59
2.9. Asuhan Keperawatan Luka
2.9.1. Pengkajian
1) Aktivitas/Istirahat
Tanda : Keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit
2) Sirkulasi
Tanda : Hipotensi
3) Integritas Ego
Tanda : Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan
Gejala : Ansietas, ketergantungan.
4) Eliminasi
Tanda : Penurunan bising usus
5) Makanan/Cairan
6) Tanda : Anoreksia
7) Nyeri/Kenyamanan
Tanda : Berbagai nyeri
8) Pernapasan
Tanda : Batuk, sulit mengeluarkan sekret
Gejala : Tirah baring yang lama.
2.9.2. Diagnosa Keperawatan
1) Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan adanya luka
invasive
2) Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan daerah
yang di insisi
60
3) Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya
sayatan /luka operasi.
2.9.3. Intervensi Keperawatan
1) Monitor kesadaran
2) Tanda-tanda vital
3) Intake dan output
4) Ajarkan pasien tentang menajemen nyeri dengan teknik nafas
dalam atau pengalihan nyeri.
5) Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-
hati, jangan sampai drain tercabut.
6) Perawatan luka operasi secara steril.
2.9.4. Evaluasi
1) Tidak timbul komplikasi. Pasien tetap dalam tingkat optimal
tanpa cacat.
2) Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
3) Luka insisi normal tanpa infeksi.
4) Luka operasi baik
2.10. Teori Penyakit
2.10.1. Appendisitis
1). Pengertian
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi
akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling
umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
61
Apendisitis merupakan peradangan pada usus
buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007).
2). Klasifikasi
Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau
segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.
Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.
Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis
atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis
kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan
pada usia tua.
3). Anatomi Fisiologis Appendiks
Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial
(organ yang tidak berfungsi) yang melekat sepertiga jari. Terletak
di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum,
bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada
pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior.
Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu
daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan
pusat. Panjang apendiks rata-rata 6 9 cm. Lebar 0,3 0,7 cm. Isi
0,1 cc, cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin.
4). Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh
infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus
terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada
62
lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya
disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit),
hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing
dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering
menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan
hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007).
5). Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat
terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari
faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan
intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar
hebat secara progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam
kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang
terinflamasi berisi pus.
6). Manifestasi Klinik
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang
terdiri dari : Mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan
bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut
sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah.
Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke
perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini,
penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini
dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai
37,8-38,8 Celsius.
63
Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di
semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya
tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu
terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat.
Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. (Anonim,
Apendisitis, 2007).
7). Pemeriksaan Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan
atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta
pemeriksaan penunjang lainnya.
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh
perut, tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. Jika
sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan
sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc.
Burney.
Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan
penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai
respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme
yang menyerang.
Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis
yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju
endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat.
Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
64
Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk
menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi
peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai
berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara
dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi
ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.
8). Penatalaksanaan
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah
ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai
pembedahan dilakukan. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa
ditegakkan. Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat
apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko
perforasi.
Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau
spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang
merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
2.10.2. Ganglion
1). Pengertian
Kista Ganglion atau biasa disebut Ganglion merupakan
kista yang terbentuk dari kapsul suatu sendi atau sarung suatu
tendo. Kista ini berisi cairan kental jernih yang mirip dengan jelly
yang kaya protein. Kista merupakan tumor jaringan lunak yang
paling sering didapatkan pada tangan. Ganglion biasanya melekat
pada sarung tendon pada tangan atau pergelangan tangan atau
65
melekat pada suatu sendi; namun ada pula yang tidak memiliki
hubungan dengan struktur apapun. Kista ini juga dapat ditemukan
di kaki. Ukuran kista bervariasi, dapat bertambah besar atau
mengecil seiring berjalannya waktu dan bahkan menghilang. Selain
itu kadang dapat mengalami inflamasi jika teriritasi. Konsistensi
dapat lunak hingga keras seperti batu akibat tekanan tinggi cairan
yang mengisi kista sehingga kadang didiagnosis sebagai tonjolan
tulang. Ganglion timbul pada tempat-tempat berikut ini:
a). Pergelangan tangan punggung tangan ("dorsal wrist
ganglion"), pada telapak tangan ("volar wrist ganglion"), atau
kadang pada daerah ibu jari. Kista ini berasal dari salah satu
sendi pergelangan tangan, dan kadang diperberat oleh cedera
pada pergelangan tangan.
b). Telapak tangan pada dasar jari-jari ("flexor tendon sheath
cyst"). Kista ini berasal dari saluran yang menjaga tendon jari
pada tempatnya, dan kadang terjadi akibat iritasi pada tendon -
tendinitis.
c). Bagian belakang tepi sendi jari ("mucous cyst"), terletak di
sebelah dasar kuku. Kista ini dapat menyebabkan lekukan pada
kuku, dan dapat menjadi terinfeksi dan menyebabkan infeksi
sendi walaupun jarang. Hal ini biasanya disebabkan arthritis
atau taji tulang pada sendi.
66
2). Etiologi
Penyebab ganglion tidak sepenuhnya diketahui, namun
ganglion dapat terjadi akibat robekan kecil pada ligamentum yang
melewati selubung tendon atau kapsul sendi baik akibat cedera,
proses degeneratif atau abnormalitas kecil yang tidak diketahui
sebelumnya.
3). Patofisiologi
Kista ganglion dapat berupa kista tunggal ataupun berlobus.
Biasanya memiliki dinding yang mulus, jernih dan berwarna putih.
Isi kista merupakan musin yang jernih dan terdiri dari asam
hialuronik, albumin, globulin dan glukosamin. Dinding kista
terbuat dari serat kolagen. Kista dengan banyak lobus dapat saling
berhubungan melalui jaringan duktus.
Normalnya, sendi dan tendon dilumasi oleh cairan khusus
yang terkunci di dalam sebuah kompartemen kecil. Kadang, akibat
arthritis, cedera atau tanpa sebab yang jelas, terjadi kebocoran dari
kompartemen tersebut. Cairan tersebut kental seperti madu, dan
jika kebocoran tersebut kecil maka akan seperti lubang jarum pada
pasta gigi jika pasta gigi ditekan, walaupun lubangnya kecil dan
pasta di dalamnya kental, maka akan mengalir keluar- dan begitu
keluar, tidak dapat masuk kembali. Hal ini bekerja hampir seperti
katup satu arah, dan akan mengisi ruang di luar area lubang. Ketika
kita menggunakan tangan kita untuk bekerja, sendi akan meremas
dan menyebabkan tekanan yang besar pada kompartemen yang
67
berisi cairan tersebut- ini dapat menyebabkan benjolan dengan
tekanan yang besar sehingga sekeras tulang.
Cairan pelumas mengandung protein khusus yang
menyebabkannya kental dan pekat dan menyulitkan tubuh untuk
me-reabsorbsi jika terjadi kebocoran. Tubuh akan mencoba untuk
menyerap kembali cairan tersebut, tapi hanya sanggup menyerap
air yang terkandung di dalamnya sehingga membuatnya lebih
kental lagi. Biasanya, pada saat benjolan cukup besar untuk dilihat,
cairan tersebut telah menjadi sekental jelly.
4). Tanda dan Gejala
Meskipun kista ganglion umumnya asimtomatik, gejala
yang muncul dapat berupa keterbatasan gerak, parestesia dan
kelemahan. Kista ganglion umumnya soliter, dan jarang
berdiameter di atas 2 cm. Dapat melibatkan hampir semua sendi
pada tangan dan pergelangan tangan. Dorsal wrist, volar wrist,
volar retinakular dan distal interfalangeal merupakan kista ganglion
yang paling sering ditemukan pada tangan dan pergelangan tangan.
Ganglion terbesar terletak di belakang lutut dan biasa disebut Kista
Baker.
Ganglion umumnya tidak nyeri, namun dapat menyebabkan
nyeri ketika digerakkan atau menyebabkan masalah mekanis
(terbatasnya ruang gerak) tergantung dari lokasi ganglion tersebut.
Kista ganglion memiliki kecenderungan untuk membesar dan
mengecil, kemungkinan karena cairan yang terdapat dalam kista
68
terserap kembali ke dalam sendi atau tendon untuk kemudian
diproduksi kembali. Masalah terbesar dengan ganglion adalah
ketakutan pasien bahwa benjolan tersebut merupakan sesuatu yang
gawat.
5). Penatalaksanaan
Terdapat tiga pilihan utama penatalaksanaan ganglion.
Pertama, membiarkan ganglion tersebut jika tidak menimbulkan
keluhan apapun. Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien
diyakinkan bahwa massa tersebut bukanlah kanker atau hal lain
yang memerlukan pengobatan segera, pasien diminta untuk
membiarkan dan menunggu saja. Jika ganglion menimbulkan
gejala dan ketidaknyamanan ataupun masalah mekanis, terdapat
dua pilihan penatalaksanaan: aspirasi (mengeluarkan isi kista
dengan menggunakan jarum) dan pengangkatan kista secara bedah.
Aspirasi melibatkan pemasukan jarum ke dalam kista dan
mengeluarkan isinya setelah mematirasakan daerah sekitar kista
dengan anestesi lokal. Karena diperkirakan bahwa inflamasi
berperan dalam produksi dan akumulasi cairan di dalam kista, obat
anti inflamasi (steroid) kadang diinjeksikan ke dalam kista sebagai
usaha untuk mengurangi inflamasi serta mencegah kista tersebut
terisi kembali oleh cairan kista.
Jika kista rusak, menimbulkan nyeri, masalah mekanis dan
komplikasi saraf (hilangnya fungsi motorik dan sensorik akibat
tekanan ganglion pada saraf) atau timbul kembali setelah aspirasi,
69
maka eksisi bedah dianjurkan. Hal ini melibatkan insisi di atas
kista, identifikasi kista, dan mengangkatnya bersama dengan
sebagian selubung tendo atau kapsul sendi dari mana kista tersebut
berasal. Lengan kemudian dibalut selama 7-10 hari. Eksisi kista ini
biasanya merupakan prosedur minor, tapi dapat menjadi rumit
tergantung pada lokasi kista dan apakah kista tersebut melekat pada
struktur lain seperti pembuluh darah, saraf atau tendon.
2.10.3. FAM (Fibroadenoma Mammae)
1). Pengertian
Fibroadenoma Mammae ( FAM ) adalah suatu kelainan
struktur anatomis yang disebabkan oleh tumbuhnya jaringan, atau
neoplasma jinak yang terutama pada wanita muda
(R.Sjamsuhidajat, 1998 : 541)
FAM adalah tumor jinak dan berbatas tegas dengan
konsistensi padat dan kenyal, penanganannya dengan
pengangkatan tumor kemudian specimen diperiksa untuk
mengetahui adanya keganasan ( Sylvia A. Price, 1995 : 1141 ).
2). Etiologi
Penyebab FAM belum diketahui secara pasti, namun ada
beberapa yang mempengaruhi timbulnya tumor ini antara lain :
a). Konstitusi genetika
Adanya kecenderungan pada keluarga tertentu yang menderita
kanker.
b). Pada kembar monozigot terdapat kanker yang sama.
70
Terdapat kesamaan lateralis kanker payudara keluarga dekat
dari penderita kanker payudara.
c). Pengaruh hormone
FAM umumnya pada wanita, biasanya ukuran akan meningkat
pada saat menstruasi atau pada saat hamil karena produksi
hormone estrogen meningkat. Pada laki-laki kemungkinannya
sangat rendah.
d). Pengobatan hormonal banyak yang memberikan hasil pada
kanker.
e). Makanan
Makanan yang banyak mengandung lemak dan zat kimia.
f). Radiasi daerah dada
Radiasi dapat menyebabkan mutasi gen.
3). Patofisiologi
Fibroadenoma mamae bukan merupakan satu-satunya
penyakit pada payudara, namun insiden kasus tersebut tinggi,
tergantung pada jaringan payudara yang terkena, estrogen dan usia
permulaan. Tumor dapat terjadi karena mutasi dalam DNA sel.
Penimbunan mutasi merupakan pemicu munculnya tumor.
Penimbunan mutasi di jaringan fibrosa dan jaringan epitel dapat
menyebabkan proliferasi sel yang abnormal sehingga akan tampak
tumor yang membentuk lobus lobus hal ini dikarenakan terjadi
gangguan pada nukleus sel yang menyebabkan sel kehilangan
fungsi deferensiasi yang disebut anaplasia. Dengan rangsangan
71
estrogen fibroadenoma mamae ukurannya akan lebih meningkat
hal ini terlihat saat menstruasi dan hamil. Nyeri pada payudara
disebabkan karena ukuran dan tempat pertumbuhan fibroadenoma
mamae. Karena fibroadenoma mamae tumor jinak maka
pengobatan yang dilakukan adalah dengan mengangkat tumor
tersebut, untuk mengetahui apakah tumor itu ganas atau tidak
tumor yang sudah di ambil akan di bawa ke laboratorium patologi
untuk pemeriksaan lebih lanjut.
4). Manifestasi Klinik
Tanda gejala fibrosis mamae khas berupa daerah yang
nyeri, lunak (terutama menjelang menstruasi), biasanya berbatas
tegas dengan konsistensi yang meningkat. Sering kepadatan dan
ketegangan berkurang setelah menstruasi, tidak terdapat tanda-
tanda bahwa kelainan ini merupakan predisposisi kanker.
Melalui pemeriksaan mikroskopi fibroadenoma mammae
akan terlihat :
a). Tampak jaringan tumor yang berasal dari masenkim (jaringan
ikat fibrosa) dan berasal dari epitel (kelenjar epitel) yang
berbentuk lobus-lobus.
b). Lobuli terdiri dari jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar
yang berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang
(intrakanalikuler)
c). Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau
kolumnar pendek uniform.
72
5). Pemeriksaan penunjang
a). Mammography
Pemeriksaan mammografy terutama berperan pada
payudara yang mempunyai jaringan lemak yang dominan serta
jaringan fibroglanduler yang relatif sedikit. Pada mammografy,
keganasan dapat memberi tanda-tanda primer dan skunder.
Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign (Stelata),
adanya perbedaan yang nyata anatara ukuran klinis dan
radiologis, adanya mikroklasifikasi, adanya spikulae, dan
distensi pada struktur arsitektur payudara. Tanda skunder
berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi,
perubahan posisi papila dan areola, adanya bridge of tumor,
keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur,
infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mamma, dan adanya
metastasis ke kelenjar (gambaran ini tidak khas) (Mansjoer A,
2000:284).
Mammografi di gunakan untuk mendiagnosis wanita
dengan usia tua sekitar 60 tahun atau 70 tahun.
b). Ultrasonography (USG) payudara
Untuk mendeteksi luka- luka pada daerah- daerah padat
pada payudara usia muda karena fibroadenoma pada wanita
muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik jika
menggunakan mammografi.
73
Pemeriksaan ini hanya membedakan antara lesi atau
tumor yang solid dan kistik. Pemeriksaan gabungan antara
USG dan mammografi memberikan ketepatan diagnostik yang
lebih tinggi (Mansjoer A, 2000:284).
c). Aspirasi
Mengambil kandungan breast yang menggunakan Fine
Needle Aspiration Cytologi (FNAC). Pada FNAC akan diambil
sel dari fibroadenoma mammae dengan menggunakan
penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada
suntikan. Dari alat tersebut akan diperoleh sel yang terdapat
pada fibroadenoma dan hasil pengambilan akan di kirim ke
laboratorium patologi untuk diperiksa dibawah mikroskop.
d). Xeroradiography
Sama dengan mammography kecuali adanya suatu plat
aluminium dengan suatu pelapis selenium bermuatan listrik
digunakan pada tempat dimana tempatkan film hitam putih
sinar X mammography.
e). Thermograpy
Merupakan teknik mengukur dan mencatat emisi panas
yang berasal dari payudara dengan menggunakan sinar infra
merah.
f). Biopsi Payudara
Merupakan suatu cara untuk meyakinkan apakah tumor
jinak atau tidak, berbahaya atau tidak berbahaya dengan
74
mengambil jaringan dari penderita secara bedah untuk
dilakukan pemeriksaan mikroskopik.
6). Penatalaksanaan
a). Biopsi eksisi
Dilaksanakan dengan mengangkat seluruh jaringan
tumor beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya bila tumor
<5cm (Mansjoer A, 2000:284).
Eksterfasi FAM adalah suatu tindakan pembedahan
yang dilakukan untuk mengangkat tumor mammae (Barbara C.
Long, 1996:511).
Terapi dari fibroadenoma mammae dengan operasi
pengangkatan tumor ini tidak akan merubah bentuk payudara,
tetapi hanya akan meninggalkan jaringan parut yang nanti akan
diganti oleh jaringan normal secara perlahan.
b). Biopsi insisi
Dengan mengangkat sebagian jaringan tumor dan
sedikit jaringan sehat, dilakukan untuk tumor yang inoperabel
atau lebih besar dari 5 cm (Mansjoer A, 2000:284).
Tujuan dilakukan tindakan pembedahan ini adalah
untuk menegakkan diagnosa, untuk memperkecil penyebaran
tumor, untuk mengetahui apakah tumor ini ganas atau tidak
dengan cara pemeriksaan Patologi Anatomi terlebih dahulu.
75
2.10.4. Nevus
1). Pengertian
Nevus adalah istilah umum yang menggambarkan adanya
bercak berpigmen pada kulit. Nevus terdiri dari bermacam-macam
jenis, antara lain yang disebut nevus melanositik dan giant hairy
nevus. Nevus jenis ini merupakan kelainan yang jinak. Nevus
melanositik oleh orang awam dikenal sebagai istilah tahi lalat
(nevus pigmentosus). Giant hairy nevus menjadi penting karena
sekitar 10-15% dapat berkembang menjadi ganas.
2). Penyebab
Nevus adalah tumor yang paling sering dijumpai pada
manusia, merupakan tumor yang berasal dari sel-sel melanosit.
Nevus umumnya muncul saat lahir atau segera setelah lahir,
terbanyak pada dewasa muda, dan menurun pada orang tua.
3). Gejala
Pada dasarnya nevus tidak memberikan gejala apa-apa jika
memang nevus itu jinak. Namun kita perlu mengenal tanda-
tandanya jika nevus itu ganas antara lain: ulserasi (luka) dan
perdarahan spontan, membesar dan warna lebih gelap, pigmen
menyebar dari ke kulit sekitarnya, di sekitarnya ada lesi-lesi yang
lebih kecil mengelilinginya, inflamasi tanpa didahului trauma,
nyeri dan gatal.
76
4). Penatalaksanaan
Nevus umumnya tidak memerlukan terapi kecuali bila
pasien menginginkan nevus diangkat atau dokter mencurigai
perubahan kearah keganasan. Terapi yang dipilih adalah eksisi
sederhana Nevus yang dicurigai ganas harus dibiopsi dan
sekalian diangkat/ dioperasi.
2.10.5. Hernia
1). Pengertian
Secara umum hernia merupakan proskusi atau penonjolan
isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan
abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan
kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
Hernia inguinalis adalah penonjolan hernia yang terjadi
pada kanalis inguinal (lipat paha).
Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ
dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau
yang didapat. (Long, 1996 : 246).
2). Klasifikasi
a). Berdasarkan letaknya :
Inguinal. Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi :
indirek/lateralis dan direk/medialis. Hernia indirek/lateralis
terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda
spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi
pada pria daripada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan
77
anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering
turun ke skrotum. Umumnya pasien mengatakan turun
berok, burut atau kelingsir atau mengatakan adanya
benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa
mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila
menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila
posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Hernia
direk/medialis, hernia ini melewati dinding abdomen di
area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia
inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada
lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada
area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini
disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis
eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna
ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul
benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya
akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan
funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia.
Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada anulus
inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur.
Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia
ini jarang sekali menjadi ireponibilis.
Femoral : Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral
dan lebih umum pada wanita daripada pria. Ini mulai
78
sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang
membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan
hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke
dalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarserata
dan strangulasi dengan tipe hernia ini.
Umbilikal : Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih
umum pada wanita dan karena peningkatan tekanan
abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan
wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi
bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat
karena masalah pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak
adekuat, distensi ekstrem atau kegemukan.
Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui
jaringan parut yang lemah.
b). Berdasarkan terjadinya :
Hernia bawaan atau kongenital Patogenesa pada jenis
hernia inguinalis lateralis (indirek): Kanalis inguinalis
adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8
kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut.
Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke
daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum
yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi
yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami
obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui
79
kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini
tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu,
maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila
kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga
terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini
akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka
terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul
hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua
kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan
lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang
menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal
tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis
lateralis akuisita.
Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat).
c). Menurut sifatnya, hernia dapat disebut :
Hernia reponsibel/reducible, yaitu bila isi hernia dapat
keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan
masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada
keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
Hernia ireponsibel, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat
dikembalikan ke dalam rongga. Ini biasanya disebabkan
oleh perlekatan isi kantong pada peri tonium kantong
hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta (accretus =
80
perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan rasa nyeri
ataupun tanda sumbatan usus.
Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio =
terperangkap, carcer = penjara), yaitu bila isi hernia terjepit
oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong
terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut
disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau
vaskularisasi.
Secara klinis hernia inkarserata lebih
dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan
pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai
hernia strangulata. Hernia strangulata mengakibatkan
nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak
mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit.
Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat
karenanya perlu mendapat pertolongan segera.
2.10.6. Struma
1) Pengertian
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar
tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa
disertai tanda-tanda hypertiroidisme.
2) Anatomi
Kelenjar tyroid mempunyai dua lobus, struktur yang kaya
vaskularisasi, lobus terletak di sebelah lateral trakea tepat
81
dibawah laring dan dihubungkan dengan jembatan jaringan
tiroid, yang disebut isthmus, yang terlentang pada permukaan
anterior trakea. Secara mikroskopik, tiroid terutama terdiri atas
folikel steroid, yang masing masing menyimpan materi
koloid dibagian pusatnya. Folikel memproduksi, menyimpan
dan mensekresi kedua hormon utama T
3
(triodotironin) dan T
4
(tiroksin). Jika kelenjar secara aktif mengandung folikel yang
besar, yang masing masing mempunyai jumlah koloid yang
disimpan dalam jumlah besar sel selnya, sel sel
parafolikular mensekresi hormon kalsitonin. Hormon ini dan
dua hormon lainnya mempengaruhi metabolisme kalsium.
3) Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan
hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran
kelenjar tyroid antara lain :
a) Defisiensi iodium
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering
terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya
kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.
b) Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa
hormon tyroid.
c) Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti
substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai)
82
d) Penghambatan sintesa hormon oleh obat obatan (misalnya
thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).
4) Patofisiologi
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan
tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang
mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi
darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam
kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang
distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan
menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid.
Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin
membentuk tiroksin (T
4
) dan molekul yoditironin (T
3
). Tiroksin
(T
4
) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi
Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada
tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T
3
) merupakan
hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat
mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid
sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T
4
) dan melalui
rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH
oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran
kelenjar tyroid.
5) Manifestasi Klinik
Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar
dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus
83
dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan
area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi
dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan
6) Penatalaksanaan
a) Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi
penduduk di daerah endemik sedang dan berat.
b) Edukasi
Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat,
dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian
garam beriodium.
c) Penyuntikan lipidol
Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang
tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun
sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas
enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2
cc 0,8 cc.
d) Tindakan operasi
Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat
dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil,
terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ
sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang
pasti akan dicurigai.
84
2.10.7. Fraktur
1) Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddart, 2000)
2) Jenis fraktur
g) Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang
dan biasanya mengalami pergeseran.
h) Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis
tengah tulang.
i) Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya
kulit.
j) Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau
membran mukosa sampai ke patahan tulang.
k) Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang
patah,sedang sisi lainnya membengkak.
l) Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang.
m) Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa
frakmen.
n) Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke
dalam.
o) Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi
(terjadi pada tulang belakang).
p) Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh
ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.
85
3) Etiologi
a) Trauma
b) Gerakan pintir mendadak
c) Kontraksi otot ekstem
d) Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma
4) Manifestasi Klinik
a) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai
fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema.
b) Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang
patah.
c) Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat
fraktur.
d) Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya.
e) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
5) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan
lokasi, luasnya.
b) Pemeriksaan jumlah darah lengkap.
c) Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d) Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk
klirens ginjal.
86
6) Penatalaksanaan
a) Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi
fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk
kembali seperti letak semula. Salah satu jenisnya adalah
ORIF (open reduction internal fixation) apabila diartikan
dari masing-masing kata adalah sebagai berikut; Open
berasal dari bahasa Inggris yang berarti buka, membuka,
terbuka, Reduction berasal dari bahasa Inggris yang berarti
koreksi patah tulang, Internal berasal dari bahasa Inggris
yang berarti dalam, Fixation berasal dari bahasa Inggris
yang berarti keadaan ditetapkannya dalam satu kedudukan
yang tidak dapat berubah. Jadi dapat disimpulkan sebagai
koreksi patah tulang dengan jalan membuka dan memasang
suatu alat yang dapat membuat fragmen tulang tidak dapat
bergerak.
b) Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
c) Mempertahankan dan mengebalikan fungsi.
Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai
kebutuhan
Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
Status neurovaskuler (misal: peredaran darah, nyeri,
perabaan gerakan) dipantau
87
Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk
meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan
peredaran darah
7) Komplikasi
a) Malunion : patah tulang telah sembuh dalam posisi yang
tidak seharusnya.
b) Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan
tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan
normal.
c) Non union : tulang yang tidak menyambung kembali
2.11. Indikator Mutu Klinik
Indikator mutu klinik adalah pengukuran langsung dan tidak
langsung suatu peristiwa atau kondisi mutu klinik di rumah sakit. Atau
diartikan juga sebagai ukuran kuantitas sebagai pedoman untuk mengukur
dan mengevaluasi kualitas asuhan pasien dan berdampak terhadap
pelayanan.
Karakteristik indikator yang harus dipenuhi adalah :
1. Sahih (Valid)
2. Dapat dipercaya (Reliabel)
3. Peka (Sensitif)
4. Spesifik (Spesifik)
5. Berhubungan (Relevan)
88
Beberapa Indikator Mutu Klinik Keperawatan yang dilaunching
oleh Direktorat Keperawatan pada tahun 2009 adalah :
1. Safety patient yang terdiri dari : kejadian pasien jatuh, infeksi
nosokomial karena jarum infus dan luka operasi bersih, kesalahan
pemberian obat dan angka dekubitus setelah pasien dirawat.
2. Kenyamanan dan kepuasan yang antara lain terdiri dari : privacy,
ketidakbisingan, pelayanan yang memuaskan, dan kebersihan.
3. Kemandirian yang terdiri dari : mandi/menyikat gigi, berpakaian,
melakukan aktifitas, makan per oral, minum per oral, eliminasi,
memelihara fungsi pernafasan, manajemen nyeri.
4. Kecemasan yang terdiri dari : pemberian pendidikan kesehatan kepada
pasien, pendidikan kesehatan dapat membantu menurunkan
kecemasan.
Indikator indikator itu dilaporkan oleh perawat di ruang
perawatan setiap hari dengan blangko khusus indikator mutu klinik
keperawatan. Setiap hari Perawat Supervisi mengumpulkan data-data itu,
kemudian pada akhir bulan data itu ditabulasi dan dihitung, untuk
kemudian dievaluasi kinerja pelayanan keperawatan berdasarkan indikator
tersebut.
89
2.12. Penelitian Terkait
Penelitian yang terkait dan berhubungan dengan penelitian yang
akan diteliti oleh peneliti, yaitu :
1. Yasir Arifin dari Medan, Sumatera Utara dalam penelitiannya yang
berjudul hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi
nosokomial terhadap cara perawatan luka pasien post operatif
appendik di RSUD Sr. Djoelham Binjai. Dalam penelitian tersebut,
variabel independennya adalah tingkat pengetahuan perawat tentang
infeksi nosokomial, sedangkan variabel dependennya adalah cara
perawatan luka post operatif appendik. Peneliti mengatakan tertarik
dengan hal tersebut karena selama menjalani praktek di rumah sakit,
masih banyak perawat yang mengabaikan teknik steril. Oleh karena itu
diangkatlah masalah tersebut untuk dijadikan penelitian. Hasil dari
penelitian tersebut menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara
tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial terhadap cara
perawatan luka pasien post operatif appendik.
2. Nurul Istikomah dari Semarang, Jawa Tengah dalam penelitiannya
yang berjudul perbedaan perawatan luka dengan menggunakan
povodine iodine 10% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan
luka pada pasien post operasi prostatektomi di ruang anggrek RSUD
Tugurejo Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perbedaan perawatan luka dengan menggunakan Povodine Iodine 10%
dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka pada pasien post
operasi prostatektomi di Ruang Anggrek RSUD Tugurejo Semarang.
90
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra-eksperimen
(Pre-experiment design) dengan rancangan PretestPostest yang
dilaksanakan pada 10 pasien post operasi prostatektomi yang dirawat
di Ruang Anggrek RSUD Tugurejo Semarang. Analisa data yang
digunakan uji beda statistik parametrik yaitu Independent t-test untuk
mengetahui perbedaan perawatan luka dengan menggunakan Povodine
Iodine 10% dengan menggunakan NaCl 0,9% terhadap penyembuhan
luka dengan memenuhi syarat kelayakannya yaitu p value dengan
nilai 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan luka post
operasi antara sebelum dan sesudah diberi betadine 10% ada perbedaan
yang bermakna. Perawatan luka post operasi antara sebelum dan
sesudah diberi NaCl 0,9% tidak ada perbedaan yang bermakna. Hasil
independent t-test menunjukkan menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan proses penyembuhan luka yang signifikan antara pasien
post operasi prostatektomi yang diberikan perawatan luka dengan
menggunakan betadine 10% dan NaCl 0,9% dengan p value 0,040.
Maka betadine 10% lebih baik dari NaCl 0,9% didalam proses
penyembuhan luka post operasi prostatektomi. Ada perbedaan proses
penyembuhan antara luka post operasi prostatektomi yang dirawat
dengan menggunakan Betadine 10% dan NaCl 0,9%.
3. Uli Rimadhani Masruroh dari Semarang, Jawa Tengah dalam
penelitiannya yang berjudul pengaruh penggunaan larutan NaCl 0,9%
dengan larutan betadine 10% terhadap proses penyembuhan luka post
operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Semarang.
91
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan
larutan NaCl 0,9% dengan Betadine 10% terhadap proses
penyembuhan luka post operasi di Rumah Sakit Umum Daerah
Ambarawa Semarang. Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment
dengan Cohort Prospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan 40 responden yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu 20
responden dilakukan perawatan dengan Betadine 10% sebagai
kelompok kontrol dan 20 responden dilakukan perawatan dengan NaCl
0,9% sebagai kelompok perlakuan. Data dikumpulkan melalui lembar
observasi yang berisi 4 pertanyaan. Untuk mengetahui pengaruh antara
peggunaan larutan Betadine 10% dan NaCl 0,9% terhadap proses
penyembuhan luka digunakan analisis statistik dengan Uji-t
Independent. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang
bermakna terhadap pengaruh penggunaan Larutan NaCl 0,9% dengan
Betadine 10% setelah dilakukan intervensi pada luka post operasi yang
ditunjukkan dengan nilai Sig (2-tailed) = 0,687 lebih besar dari #945; =
0,05. Kesimpulannya penyembuhan luka merupakan proses fisiologis
yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : faktor sistemik,
individu, dan lokal. Dalam perawatan luka post operasi, NaCl 0,9%
memiliki pengaruh yang relatif sama dengan Betadine 10% sehingga
NaCl 0,9% dapat digunakan sebagai larutan pengganti Betadine 10%.
Dari hasil penelitian diharapkan ada penelitian lebih lanjut untuk
menyempurnakan hasil penelitian dengan pengelompokan responden
yang lebih baik.