Anda di halaman 1dari 5

Judul Karya Nama Sekolah

: Second Life : Dewi Puspitasari : SMA Negeri 1 Metro

Burung gereja kembali bercicit merdu. Ku hirup udara segar yang mulai mencoba mendekap. Teriknya mentari menyilaukan pagi ini. Akhirnya, aku terbebas setelah 1,5 tahun menetap di panti Rehabilitasi Bogor. Ya, itulah yang harus ku jalani. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk duduk di kelas dan memperhatikan dosen menyampaikan materi, malah ku pergunakan untuk rehabilitasi. Aku termenung dan memikirkan apa yang harus aku lakukan di kehidupan kedua ini. Ku hanturkan puji syukur kepada Allah SWT. Baru ku sadari hidup adalah sebuah anugerah terindah. Aku benar-benar hilang arah dan tujuan. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang tidak asing bagiku, suara itu membangunkan lamunanku. Anakku sayang... Suara itu terdengar lembut, ku lihat cahaya putih yang sangat cerah dan ku fokuskan pengelihatanku pada cahaya itu. Bunda.. Ucapku lirih. Hatiku terguncang, tubuhku kaku. Aku benar-benar ingin menarik bayangan putih itu. Tapi apa daya, sosok dengan wajah yang tersenyum itu perlahan menghilang. Tak kuasa ku menahan bendungan air mataku. sangat ku sesali, ibu meninggal karena aku. Beliau terkena serangan jantung saat mengetahui aku terjerat narkoba dan harus direhabilitasi. Semasa hidupnya, aku tak pernah mematuhi perintahnya, aku menjadi brutal setelah ayah meninggal. Ayah memang sangat dekat denganku, kepergiannnya mengubah hidupku. Key! Teriak Willy kakakku, ia adalah satu-satunya saudara yang ku punya. Ia adalah muslim yang sangat taat. Sifatnya sangat bertolak belakang denganku. Kenapa nangis? Bukannya ini hari lahirmu kembali? Atau jangan-jangan kau masih ingin di rehab? tanya nya mengejek. Aku melihat ibu, ia memanggilku dengan wajahnya yang tersenyum jawabku lirih. Kemudian kakak mengantarkan aku ke makam ibu. Kami mendoakannya dengan setulus hati. Makam ibu bersebelahan dengan makam ayah, jadi kami juga berdoa untuknya.

Apakah kau benar-benar menyesali perbuatanmu? Tentu saja! Apa kau ingin merubah hidupmu... demi ibu? tanya nya dengan serius Apa?? aku tercengang dengan apa yang ia bicarakan Ia meninggalkanku. Aku menyusul di belakangnya, kamipun berjalan pulang dibawah teriknya mentari.

Hari ini aku sangat lelah. Aku berbaring di ranjang teddy bearku, aku masih memikirkan kata-katanya. Terdengar sayup-sayup lantunan ayat-ayat suci yang indah. Pikiran dan hatiku sangat tenang. Entah mengapa hatiku merasa sejuk, sudah lama aku tidak

merasakannya. Perlahan kakiku berjalan menuju kamar kakak dengan pintu yang terbuka. Ia sedang membaca. Ternyata, itu sebuah k;itab. Al-Quran gumamku, dengan seketika hatiku bergetar. Mau membacanya? tanyanya sambil menoleh ke arah ku Tapi, aku tidak bisa membacanya jawabku datar Oh iya, aku lupa. Mana ada, orang yang baru mengenal Al-Quran lalu bisa langsung membacanya dengan nadanya yang mengejek Ah, kau ini. kenapa selalu mengejekku? Ya ya, maaf. karena itu, aku akan mengajarkannya padamu dan juga semua tentang islam Benarkah? Ya, tentu saja Awalnya aku merasa ragu untuk mengubah hidupku. Akan tetapi,seminggu, dua minggu, sebulan, setahun, ku lalui dunia baruku. Memang terasa sangat berbeda. Aku mulai bahagia dengan kehidupan baru ini. Islam ternyata seindah ini, yang dulunya aku selalu menghambur-hamburkan yang ku punya dan melakukan apa saja yang aku senangi, tetapi sekarang aku menyadarinya.

Hari-hariku diisi dengan ibadah dan kuliah. Kefasihanku membaca Al-Quran sudah mulai meningkat. Ya, walaupun aku harus terus memperbaiki sholatku. Aku bersyukur kepada Allah SWT, karena ia telah memberikan aku kesempatan untuk bertobat. Malam ini bulan bersinar terang, di temani bintang-bintang yang menghiasi langit malam kota Bandung. Di balkon rumah aku termenung, seraya berkata, Bunda, kali ini putrimu yang cantik akan menjadi apa yang kau inginkan selama ini. Aku telah merubah semua kebiasaan burukku. Aku akan selalu mendoakanmu dan ayah, agar kalian selalu tenang disana Sejenak aku menetralkan pikiranku. Aku segera masuk kamar dan berbaring

diranjang teddy bearku. Entah mengapa aku merasa ada yang aneh akhir-akhir ini. Satu per satu fungsi organ tubuhku terkadang menghilang. Ragaku mulai merasa tidak enak, apakah aku akan menyusul mereka? Pertanyaan itu selalu terlontar saat aku merasakan keanehan itu.

Pagi hari, keanehan-keanehan itu pun muncul di meja makan. Tiba-tiba tanganku mati rasa, aku tak bisa menggerakkannya. Kenapa gak di makan? Keliatannya memang gak enak, tapi cobain dulu geh Aku hanya terdiam. Mencoba menggerakan tangan berharap keajaiban terjadi. Aku memaksakan jari-jariku menyentuh gelas, tapi gelas itu terjatuh. Apa yang terjadi denganmu? Kau tidak apa-apa? Tidak, aku tidak apa-apa. Oh ya, bakalan telat nih. Dosen bawel itu bakalan marah-marah. Ayo kak, biar bibi aja yang ngeberesin Jawabku mengalihkan kata-katanya. Kejadian itu terulang terus menerus. Kakak memintaku untuk dirawat di rumah sakit, tapi aku menolak. Aku menahan diri untuk tidak dirawat. aku percaya keajaiban pasti akan datang. Aku yakin, aku mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernapas lebih lama. Kalau memang tidak bisa sembuh, aku ingin melewatkan masa-masa terakhirku bersama kakak. Hari yang sejuk. aku merasa kedamaian hari ini. Tak tahu mengapa, hari ini sangat berbeda. Kakak, aku ingin menanyakan suatu hal padamu Ya, tanyakan saja jawabnya dengan tidak memperhatikanku, mata yang hanya terfokus pada sebuah telivisi

Apakah orang yang mati itu membawa sesuatu? Maksudmu? Ya, seperti... bekal kematian? Kakak membelalakan mata, seolah-olah bertanya apa maksud pertanyaanku. Kak, jawab. Kok malah diem Hmm. Ada sih, amal-amal sholih. Selain itu, ada juga 3 bekal yang tidak akan terputus, amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan juga doa anak yang sholih Ayah dan bunda beruntung, kemungkinan mereka memiliki semuanya. Sedangkan aku, mungkin hanya 2 dari yang kau sebutkan. Kalau begitu, aku akan berusaha mencari doa anak yang shalih! Hahahaha... apa? Dasar konyol! Kau mau mengangkat anak? Mengurus diri sendiri saja belum benar. Kamipun tertawa lepas, tak pernah aku melihat sebelumnya ia tertawa seperti itu, setelah kepergian ayah dan ibu. Tapi, mungkin kesempatan mereka untuk mendapatkan doa anak yang sholih hanya tinggal satu Apa? Apa maksudmu? Kakak terkaget mendengar ucapanku, ia mulai tidak konsen dengan televisinya Tidak, bukan apa-apa Apa kau tidak ingin lagi mendoakan mereka? Kau mau kembali ke dunia lalumu?! Jangan konyol! Dasar aneh! Mana ada yang mau kembali ke kehidupan kelam. Aku hanya ingin mengganggu konsentrasimu! jawabku sedikit marah, Tiba-tiba aku merasa pusing, mataku mulai tidak fokus. Kak, tolong dengarkan apa yang ku bicarakan dan ku harap jangan berkomentar kataku dengan serius. Kakak mulai memperhatikanku. Aku sangat berterimakasih padamu. Kau sudah menjadi kakakku selama ini. kau tidak pernah merasa malu atas kehidupan kelam adikmu ini. Kau selalu memberiku semangat,

percaya diri, optimis untuk selalu bergerak maju. Tapi aku, aku hanya bisa menyusahkanmu. Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Aku minta maaf, karena aku, bunda meninggal Kakak mulai ingin berkata, tapi aku tak membiarkannya. Kau telah mengubah hidupku, mengajarkanku tentang Islam yang sebenarnya. Banyak halhal baru yang kau ajarkan. Tanpa kusadari bekal kematianku terkumpul. Maaf, bila suatu hari nanti aku yang lebih dulu bertemu dengan ayah dan bunda. Aku harap kau juga mendoakanku seperti kau mendoakan mereka. Jadilah kau seperti yang sekarang, jangan berubah.. jangan pernah berubah kak. Sesulit apapun hidupmu, kau harus terus berjuang!. Jangan menangis, jangan sedih ya kak. Aku yakin kau bisa menghadapinya. Kau tidak sendiri, ada Allah SWT yang selalu menjagamu, mintalah pertolongan pada-Nya. Terimakasih kakak Ku berikan senyum terindahku pada kakak. Sekejap ku merasa tak bertenaga. Tubuhku lunglai. Dengan setengah sadar, ku dengar suara kakak menjeritkan namaku, dan dia menuntunku membaca lafadz kematian . Cahaya putih yang pernah ku lihat, kini datang lagi. Aku melihat bunda dan ayah disampingku. Mereka tersenyum dan membawaku pergi. Lalu kami menghilang.