Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini
dapat diselesaikan.

Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata pelajaran pkn kls 2
semester ganjil.

Terima kasih disampaikan kepada Bpk/Ibu guru pembimbing yang telah


membimbing dan memberikan pelajaran demi lancarnya tugas ini.

Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi


tugas mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

Kuta selatan, 07 agustus 2009


Penyusun

Fiki firmansyah…….8
Fadil arialdi………...7
Eka julianto………...5
Eka pradana………...6

1
DAFTAR ISI

1. Pendahuluan ………………………………………………...
3
2. pentingnya sosialisasi politik dalam pengembangan budaya
politik………………………………………………………..4
a. pengertian sosialisasi politik………………...………...4
b. metode sosialisasi politik……………………………...5
c. sarana sosialisasi politik……………………………….7
d. peranan partai politik dalam sosialisasi budaya politik .9
3. Peran serta budaya politik partisipan………………………17
a. penyebab timbulnya gerakan kea rah partisipasi politik
……………...………………………………………...18
b. jenis – jenis partisipasi politik…..……………………19
c. budaya politik partisipan……………………………..23
4. Daftar pustaka………………………………………………24

2
PENDAHULUAN

Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki


peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Manusia dalam
kedudukannya sebagai makhluk sosial, senantiasa akan berinteraksi
dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan
hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat
dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan papan (rumah).
Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi
diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian,
pemberian upah kerja, status sebagai anggota masyarakat, anggota
suatu partai politik tertentu dan sebagainya.

Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu


bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang
bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat
terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik
politik. Jika secara tidak langsung, hal ini sebatas mendengar
informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi.
Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam
peristiwa politik tertentu.

Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam


interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-
institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan
membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang
praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh
karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-
pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap
negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lai-lain.

Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat


dengan ciri-ciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi
masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan
kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku
aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang
memerintah.

Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi


dan sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas. Dengan
demikian, budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik
dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola
pengalokasian sumber-sumber masyarakat.

3
A. PENTINGNYA SOSIALISASI POLITIK DALAM
PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK

1. PENGERTIAN SOSIALISASI POLITIK

Sosialisasi politik adalah cara-cara belajar seseorang terhadap pola-pola


sosial yang berkaitan dengan posisi-posisi kemasyarakatan seperti yang diketengahkan
melalui bermacam-macam badan masyarakat.
Almond dan Powell, sosialisasi politik sebagai proses dengan mana sikap-sikap dan
nilai-nilai politik ditanamkan kepada anak-anak sampai metreka dewasa dan orang-
orang dewasa direkrut ke dalam peranan-peranan tertentu.
Greenstein dalam karyanya "International Encyolopedia of The Social Sciences" 2
definisi sosialisasi politik:

a. Definisi sempit, sosialisasi politik adalah penanaman informasi politik yang


disengaja, nilai-nilai dan praktek-praktek yang oleh badan-badan instruksional secara
formal ditugaskan untuk tanggung jawab ini.

b. Definisi luas, sosialisasi politik merupakan semua usaha mempelajari politik baik
formal maupun informal, disengaja ataupun terencana pada setiap tahap siklus
kehidupan dan termasuk didalamnya tidak hanya secara eksplisit masalah belajar politik
tetapi juga secara nominal belajat bersikap non politik mengenai karakteristik-
karakteristik kepribadian yang bersangkutan.
Easton dan Denuis, sosialisasi politik yaitu suatu proses perkembangan seseorang untuk
mendapatkan orientasi-orientasi politik dan pola-pola tingkah lakunya.
Almond, sosialisasi politik adalah proses-proses pembentukan sikap-sikap politik dan
pola-pola tingkah laku.
Proses sosialisasi dilakukan melalui berbagai tahap sejak dari awal masa kanak-kanak
sampai pada tingkat yang paling tinggi dalam usia dewasa. Sosialisasi beroperasi pada 2
tingkat:

a. Tingkat Komunitas
Sosialisasi dipahami sebagai proses pewarisan kebudayaan, yaitu suatu sarana bagi
suatu generasi untuk mewariskan nilai-nilai, sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan
politik kepada generasi berikutnya.

4
b.Tingkat Individual Proses sosialisasi politik dapat dipahami sebagai proses warga
suatu Negara membentuk pandangan-pandangan politik mereka.
Dalam konsep Freud, individu dilihat sebagai objek sosilaisasi yang pasif sedangkan
Mead memandang individu sebagai aktor yang aktif, sehingga proses sosialisasi politik
merupakan proses yang beraspek ganda. Di satu pihak, ia merupakan suatu proses
tertutupnya pilihan-pilihan perilaku, artinya sejumlah kemungkinan terbuka yang sangat
luas ketika seorang anak lahir menjadi semakin sempit sepanjang proses sosialisasi. Di
lain pihak, proses sosialisasi bukan hanya merupakan proses penekanan
2. METODE SOSIALISASI POLITIK ( oleh Rush dan Althoff)

1. Imitasi

Peniruan terhadap tingkah laku individu-individu lain. Imitasi penting dalam


sosialisasi masa kanak-kanak. Pada remaja dan dewasa, imitasi lebih
banyakbercampur dengan kedua mekanisme lainnya, sehingga satu derajat
peniruannya terdapat pula pada instruksi mupun motivasi.

2. Instruksi

Peristiwa penjelasan diri seseornag dengan sengaja dapat ditempatkan dalam


suatu situasi yang intruktif sifatnya.

3. Motivasi

Sebagaimana dijelaskan Le Vine merupakan tingkah laku yang tepat yang cocok
yang dipelajari melalui proses coba-coba dan gagal (trial and error).

Jika imitasi dan instruksi merupakan tipe khusus dari pengalaman, sementara
motivasi lebih banyak diidentifikasikan dengan pengalaman pada umumnya.
Sosialisasi politik yang selanjutnya akan mempengaruhi pembentukan jati diri
politik pada seseorang dapat terjadi melalui cara langsung dan tidak langsung.
Proses tidak langsung meliputi berbagai bentuk proses sosialisasi yang pada
dasarnya tidak bersifat politik tetapi dikemudian hari berpengatuh terhadap
pembentukan jati diri atau kepribadian politik. Sosialisasi politik lnagsung
menunjuk pada proses-proses pengoperan atau pembnetukan orientasi-orientasi
yang di dalam bentuk dan isinya bersifat politik.

Proses sosialisasi politik tidak langsung meliputi metode belajar berikut:

1. Pengoperasian Interpersonal

Mengasumsikan bahwa anak mengalami proses sosialisasi politik secara


eksplisitdalam keadaan sudah memiliki sejumlah pengalaman dalam hubungna-
hubungan dan pemuasan-pemuasan interpersonal.

2. Magang

5
Metode belajat magang ini terjadi katrna perilau dan pengalaman-pengalaman
yang diperoleh di dalam situasi-situasi non politik memberikan keahlian-keahlian
dan nilai-nilai yang pada saatnya dipergunakan secara khusus di dalam konteks
yang lebih bersifat politik.

3. Generalisasi

Terjadi karena nilai-nilai social diperlakukan bagi bjek-objek politik yang lebih
spesifik dan dengan demikian membentuk sikap-sikap politik terentu.

Proses sosialisasi langsung terjadi melalui:

1) Imitasi

Merupakan mode sosiaisasi yang paling ekstensif dan banyak dialami anak
sepanjang perjalanan hidup mereka. Imitasi dapat dilakukan secara sadar dan
secara tidak sadar.

2) Sosialisasi Politik Antisipatoris

Dilakukan untuk mengantisipasi peranan-peranan politik yang diinginkan atau


akan diemban oleh actor. Orang yang berharap suatu ketika menjalani pekerjaan-
pekerjaan professional atau posisi social yang tinggi biasanya sejak dini sudah
mulai mengoper nilai-nilai dan pola-pola perilaku yang berkaitan dengan peranan-
peranan tersebut.

3) Pendidikan Politik

Inisiatif mengoper orientasi-orientasi politik dilakukan oleh “socialiers” daripada


oleh individu yang disosialisasi. Pendidikan politik dapat dilakukan di keluarga,
sekolah, lembaga-lembaga politik atau pemerintah dan berbagai kelompok dan
organisasi yang tidak terhitung jumlahnya. Pendidikan politik sangat penting bagi
kelestarian suatu system politik. Di satu pihak, warga Negara memerukan
informasi minimaltentang hak-hak dan kewajiban yang mereka mliki untuk dapat
memasuki arena kehidupan politik. Di lain pihak, warga Negara juga harus
memperoleh pengetahuan mengenai seberapa jauh hak-hak mereka telah dipenuhi
oleh pemerintah dan jika hal ini terjadi, stabilitas politik pemerintahan dapat
terpelihara.

4) Pengalaman Politik

Kebanyakan dari apa yang oleh seseorang diketahui dan diyakini sebagai politik
pada kenyataannya berasal dari pengamatan-pengamatan dan pengalamn-
pengalamannya didalam proses politik.

6
3. SARANA SOSIALISASI POLITIK

1. Keluarga

Merupakan agen sosialisasi pertama yang dialami seseorang. Keluarga


memiliki pengaruh besar terhadap anggota-anggotanya. Pengaruh yang paling
jelas adalah dalam hal pembentukan sikap terhadap wewenang kekuasaan. Bagi
anak, keputusan bersama yang dibuat di keluarga bersifat otoritatif, dalam arti
keengganan untuk mematuhinya dapat mendatangkan hukuman. Pengalaman
berpartisipasi dalam pembuatan keputusan keluarga dapat meningkatkan perasaan
kompetensi politik si anak, memberikannya kecakapan-kecakapan untuk
melakukan interaksi politik dan membuatnya lebih mungkin berpartisipasi secara
aktif dalam sistem politik sesudah dewasa.

2. Sekolah

Sekolah memainkan peran sebagai agen sosialisasi politik melalui


kurikulum pengajaran formal, beraneka ragam kegiatan ritual sekolah dan
kegiatan-kegiatan guru.
Sekolah melalui kurikulumnya memberikan pandangan-pandangan yang kongkrit
tentang lembaga-lembaga politik dan hubungan-hubungan politik. Ia juga dapat
memegang peran penting dalam pembentukan sikap terhadap aturan permainan
politik yang tak tertulis. Sekolah pun dapat mempertebal kesetiaan terhadap
system politik dan memberikan symbol-simbol umum untuk menunjukkan
tanggapan yang ekspresif terhadap system tersebut.
Peranan sekolah dalam mewariskan nilai-nilai politik tidak hanya terjadi melalui
kurikulum sekolah. Sosialisasi juga dilakukan sekolah melalui berbagai upacara
yang diselenggarakan di kelas maupun di luar kelas dan berbagai kegiatan ekstra
yang diselenggarakan oleh OSIS.

3. Kelompok Pertemanan (Pergaulan)

Kelompok pertemanan mulai mengambil penting dalam proses sosialisasi


politik selama masa remaja dan berlangsung terus sepanjang usia dewasa. Takott
Parson menyatakan kelompok pertemanan tumbuh menjadi agen sosialisasi politik
yang sangat penting pada masa anak-anak berada di sekolah menengah atas.
Selama periode ini, orang tua dan guru-guru sekolah sebagai figur otoritas
pemberi transmitter proses belajar sosial, kehilangan pengaruhnya. Sebaliknya
peranan kelompok-kelompok klik, gang-gang remaja dan kelompok-kelompok

7
remaja yang lain menjadi semakin penting. Pengaruh sosialisasi yang penting dari
kelompok pertemanan bersumber di dalam factor-faktor yang membuat peranan
keluarga menjadi sangat penting dalam sosialisasi politik yaitu:

a. Akses yang sangat ekstensif dari kelompok-kelompok pertemanan terhadap


anggota mereka.

b. Hubungan-hubungan pribadi yang secara emosional berkembang di dalamnya.


Kelompok pertemanan mempengaruhi pembentukan orientasi politik individu
melalui beberapa cara yaitu:

a. Kelompok pertemanan adalah sumber sangat penting dari informasi dan sikap-
sikpa tentang dunia social dan politik. Kelompok pertemanan berfungsi sebagai
“communication channels”.

b. Kelompok pertemanan merupakn agen sosialisasi politik sangat penting karena


ia melengkapi anggota-anggotanya dengan konsepsi politik yang lebih khusus
tentang dunia politik.

c. Mensosialisasi individu dengan memotivasi atau menekan mereka untuk


menyesuaikan diri dengan sikap-sikap dan perilaku yang diterima oleh kelompok.
Di satu pihak, kelompok pertemanan menekan individu untuk menerima orientasi-
orientasi dan perilaku tertentu dengna cara mengancam memberikan hukuman
kepada mereka yang melakukan penyimpangan terhadap norma-norma keluarga,
seperti melecehkan atau tidak menaruh perhatian kepad amereka yang
menyimpang.

4. Pekerjaan

Organisasi-organisasi formal maupun non formal yang dibentuk


berdasarkan lingkungan pekerjaan, seperti serikat buruh, klub social dan yang
sejenisnya merupakan saluran komunikasi informasi dan keyakinan yang jelas.

5. Media Massa

Media massa seperti surat kabar, radio, majalah, televise dan internet
memegang peran penting dalam menularkan sikap-sikap dan nilai-nilai modern
kepada bangsa-bangsa baru merdeka. Selain memberikan infoprmasi tentang
informasi-informasi politik, media massa juga menyampaika nilai-nili utama yang
dianut oleh masyarakatnya.

6. Kontak-kontak Politik Langsung

Tidak peduli betapa positifnya pandangan terhadap system poltik yang telah
ditanamkan oleh eluarga atau sekolah, tetapi bila seseorang diabaikan oleh
partainya, ditipu oleh polisi, kelaparan tanpa ditolong, mengalami etidakadilan,

8
atau teraniaya oleh militer, maka pandangan terhadap dunia politik sangat
mungkin berubah.

4. PERANAN PARTAI POLITIK DALAM SOSIALISASI


BUDAYA POLITIK

A. PENGERTIAN PARTAI POLITIK

Di bawah mi disampaikan beberapa definisi mengenai partai politik:

Carl J. Fredirch, mendefinisikan partai politik adalah:

“Sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut


atau mempertahankan pengawasan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya
dan berdasarkan pengawasan mi memberikan kepada anggota partainya
kemanfaatan yang bersifat ideal maupun material” (a political party is a group of
human beings stability organized with the objective of giving to members of the
party, trough such control ideal and material benefits and advantages.

Raymond Garfield Gettel memberi batasan bahwa:

“Partai politik terdiri dan sekelompok warga negara yang sedikit banyak
terorganisir, yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan yang dengan
memakai kekuasaan memilih bertujuan mengawasi pemerintahan dan
melaksanakan kebijakan umum mereka” (a political party of a group of citizens,
more or less organized who act s political unit and who, by the use of their voting
power and to control the government and carry out their general polingles.

Menurut George B Huszr dan Thomas H. Stevenson, partai politik adalah:

“Sekelompok orang-orang yang terorganisir untuk ikut serta


mengendalikan pemerintahan, agar dapat melaksanakan programnya dalam
jabatan” (a political party is a group at people organized to sucure control ‘f
government morder to puts program in to effect and it member in offce).”
Sigmund Neumann dalam karangannya “Modern Political Parties” bahwa definisi
partai adalah:

“Organisasi dan aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai


pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan satu
golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang
berbeda” (a political party terniiculate organization of society as active political

9
agent those who are conserned with the control of the governmental power and
who compete for popular support with another group holding divergent view).’2
Suatu batasajauh lebih sederhana dan batasan yang dikemukakan oleh Neumann,
dikemukakan oleh RH. Soltau. Dalam hal mi Soultau menyatakan:

“Partai politik adalah sekelompok warga Negara yang sedikit banyak


terorganisir, yang bertindak sebagai satu kesatuan politik dan yang dengan
memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih bertujuan untuk menguasai
pemerintahan dan melaksanakan kebijakan umum mereka” (a political party is a
group of citizen more or less organized, who act as a political unit and who, bay
the use of their voting power, aim to control the government and carry out their
general politicies). 13

Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang
terorganisir yang anggota-anggota mempunyai orientasi nilai-nilai dan citacita
yang sama.

Menurut George B Huszr dan Thomas H. Stevenson, partai politik adalah:

“Sekelompok orang-orang yang terorganisir untuk ikut serta


mengendalikan pemerintahan, agar dapat melaksanakan programnya dalam
jabatan” (a political party is a group at people organized to sucure control ‘f
government morder to puts program in to effect and it member in offce).”
Sigmund Neumann dalam karangannya “Modern Political Parties” bahwa definisi
partai adalah:

“Organisasi dan aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai


pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan satu
golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang
berbeda” (a political party terniiculate organization of society as active political
agent those who are conserned with the control of the governmental power and
who compete for popular support with another group holding divergent view).’2
Suatu batasajauh lebih sederhana dan batasan yang dikemukakan oleh Neumann,
dikemukakan oleh RH. Soltau. Dalam hal mi Soultau menyatakan:

“Partai politik adalah sekelompok warga Negara yang sedikit banyak


terorganisir, yang bertindak sebagai satu kesatuan politik dan yang dengan
memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih bertujuan untuk menguasai
pemerintahan dan melaksanakan kebijakan umum mereka” (a political party is a
group of citizen more or less organized, who act as a political unit and who, bay
the use of their voting power, aim to control the government and carry out their
general politicies). 13

10
Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok
yang terorganisir yang anggota-anggota mempunyai orientasi nilai-nilai dan
citacita yang sama.

B. MACAM – MACAM PARTAI POLITIK

Menurut Haryanto, parpol dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya


secara umum dapat dibagi mejadi dua kategori, yaitu:

1. Partai Massa,

dengan ciri utamanya adalah jumlah anggota atau pendukung yang


banyak. Meskipun demikian, parta jenis ini memiliki program walaupun program
tersebut agak kabur dan terlampau umum. Partai jenis ini cenderung menjadi
lemah apabila golongan atau kelompok yang tergabung dalam partai tersebut
mempunyai keinginan untuk melaksanakan kepentingan kelompoknya.
Selanjutnya, jika kepentingan kelompok tersebut tidak terakomodasi, kelompok
ini akan mendirikan partai sendiri;

2. Partai Kader,

kebalikan dari partai massa, partai kader mengandalkan kader-kadernya


untuk loyal. Pendukung partai ini tidak sebanyak partai massa karena memang
tidak mementingkan jumlah, partai kader lebih mementingkan disiplin anggotanya
dan ketaatan dalam berorganisasi. Doktrin dan ideologi partai harus tetap terjamin
kemurniannya. Bagi anggota yang menyeleweng, akan dipecat keanggotaannya.
(Haryanto: dalam buku suntingan Toni Adrianus Pito, Efriza, dan Kemal Fasyah;
Mengenal Teori-Teori Politik. Cetakan I November 2005, Depok. Halaman 567-
568)

Sedangkan tipologi berdasarkan tingkat komitmen partai terhadap


ideologi dan kepentingan, menurut Ichlasul Amal terdapat lima jenis partai politik,
yakni:

1. Partai Proto,

adalah tipe awal partai politik sebelum mencapai tingkat perkembangan


seperti dewasa ini. Ciri yang paling menonjol partai ini adalah pembedaan antara
kelompok anggota atau “ins” dengan non-anggota “outs”. Selebihnya partai ini
belum menunjukkan ciri sebagai partai politik dalam pengertian modern. Karena

11
itu sesungguhnya partai ini adalah faksi yang dibentuk berdasarkan
pengelompokkan ideologi masyarakat;

2. Partai Kader,

merupakan perkembangan lebih lanjut dari partai proto. Keanggotaan


partai ini terutama berasal dari golongan kelas menengah ke atas. Akibatnya,
ideologi yang dianut partai ini adalah konservatisme ekstrim atau maksimal
reformis moderat;
3. Partai Massa, muncul saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga dianggap
sebagai respon politis dan organisasional bagi perluasan hak-hak pilih serta
pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut. Partai massa
berorientasi pada pendukungnya yang luas, misalnya buruh, petani, dan kelompok
agama, dan memiliki ideologi cukup jelas untuk memobilisasi massa serta
mengembangkan organisasi yang cukup rapi untuk mencapai tujuan-tujuan
ideologisnya;

4. Partai Diktatorial,
sebenarnya merupakan sub tipe dari parti massa, tetapi meliki ideologi
yang lebih kaku dan radikal. Pemimpin tertinggi partai melakukan kontrol yang
sangat ketat terhadap pengurus bawahan maupun anggota partai. Rekrutmen
anggota partai dilakukan secara lebih selektif daripada partai massa;

5. Partai Catch-all,
merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa. Istilah Catch-all
pertama kali di kemukakan oleh Otto Kirchheimer untuk memberikan tipologi
pada kecenderungan perubahan karakteristik. Catch-all dapat diartikan sebagai
“menampung kelompok-kelompok sosial sebanyak mungkin untuk dijadikan
anggotanya”. Tujuan utama partai ini adalah memenangkan pemilihan dengan
cara menawarkan program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai
pengganti ideologi yang kaku
(Ichlasul Amal. Teori-teori Mutakhir Partai Politik Edisi Revisi. Penerbit Tiara
Wacana, Yogyakarta, 1996)
Menurut Peter Schroder, tipologi berdasarkan struktur organisasinya terbagi
menjadi tiga macam yaitu;

1. Partai Para Pemuka Masyarakat, berupa gabungan yang tidak terlalu ketat, yang
pada umumnya tidak dipimpin secara sentral ataupun profesional, dan yang pada
kesempatan tertentu sebelum pemilihan anggota parlemen mendukung kandidat-
kandidat tertentu untuk memperoleh suatu mandat;

2. Partai Massa, sebagai jawaban terhadap tuntutan sosial dalam masyarakat


industrial, maka dibentuklah partai-partai yang besar dengan banyak anggota
dengan tujuan utama mengumpulkan kekuatan yang cukup besar untuk dapat
membuat terobosan dan mempengaruhi pemerintah dan masyarakat, serta
“mempertanyakan kekuasaan”;

3. Partai Kader, partai ini muncul sebagai partai jenis baru dengan berdasar pada

12
Lenin. Mereka dapat dikenali berdasarkan organisasinya yang ketat, juga karena
mereka termasuk kader/kelompok orang terlatih yang personilnya terbatas.
Mereka berpegangan pada satu ideologi tertentu, dan terus menerus melakukan
pembaharuan melalui sebuah pembersihan yang berkseninambungan.

C. SISTEM KEPARTAIAN

Sistem kepartaian adalah “pola kompetisi terus-menerus dan bersifat


stabil, yang selalu tampak di setiap proses pemilu tiap negara.” Sistem kepartaian
bergantung pada jenis sistem politik yang ada di dalam suatu negara. Selain itu, ia
juga bergantung pada kemajemukan suku, agama, ekonomi, dan aliran politik
yang ada. Semakin besar derajat perbedaan kepentingan yang ada di negara
tersebut, semakin besar pula jumlah partai politik. Selain itu, sistem-sistem politik
yang telah disebutkan, turut mempengaruhi sistem kepartaian yang ada.

Sistem kepartaian belumlah menjadi seni politik yang mapan. Artinya, tata cara
melakukan klasifikasi sistem kepartaian belum disepakati oleh para peneliti ilmu
politik. Namun, yang paling mudah dan paling banyak dilakukan peneliti adalah
menurut jumlah partai yang berkompetisi dalam sistem politik.

Sistem partai di Negara manapun dalam suatu jangka waktu tertentu memiliki
persamaan – persamaan dan perbedaan - perbedaan sistem yaitu;

1. sistem partai pluralistis


2. sistem partai dominant

13
D. SYARAT – SYARAT PENDIRIAN PARTAI POLITIK

1. Partai politik harus didirikan oleh paling sedikit 50 (lima puluh)


orang
warga negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun.

2. Dalam pendirian dan pembentukan partai politik harus menyertakan


30% (tiga puluh persen) keterwakilan perempuan.

3. Pendirian Partai Politik harus disertai dengan akta notaris. Dalam


akta
notaris tersebut harus memuat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran
Rumah Tangga (ART) serta kepengurusan partai politik tingkat pusat.

4. Anggaran Dasar (AD) partai politik memuat paling sedikit:


a. asas dan ciri partai politik;
b. visi dan misi partai politik
c. nama, lambang, dan tanda gambar partai politik;
d. tujuan dan fungsi partai politik;
e. organisasi, tempat kedudukan, dan pengambilan keputusan;
f. kepengurusan partai politik;
g. peraturan dan keputusan partai politik;
h. pendidikan politik; dan
i. keuangan partai politik

4. Kepengurusan partai politik tingkat pusat disusun dengan


menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen)
keterwakilan perempuan.

5. Kepengurusan partai politik tingkat provinsi dan kabupaten/kota


disusun dengan memperhatikan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh
persen) keterwakilan perempuan yang diatur dalam AD dan ART partai
politik masing-masing.

14
E. TUJUAN PARTAI POLITIK

Tujuan umum Partai Politik adalah :

a. Mewujudkan cita-cita nasional Bangsa Indonesia sebagaimana


dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;

b. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan


menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

c. Tujuan khusus Partai Politik adalah memperjuangkan cita-cita para


anggotanya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

F. FUNGSI PARTAI POLITIK

Adapun fungsi partai politik, menurut Sigmund Neumann (1981), ada 4 (empat)
yaitu :

1. fungsi agregasi.
Partai menggabungkan dan mengarahkan kehendak umum masyarakat
yang kacau. Sering kali masyarakat merasakan dampak negatif suatu kebijakan
pemerintah, misalnya kenaikan BBM di Indonesia 1 Oktober 2005 lalu yang
demikian tinggi. Namun ketidakpuasan mereka kadang diungkapkan dengan
berbagai ekspresi yang tidak jelas dan bersifat sporadis. Maka partai
mengagregasikan berbagai reaksi dan pendapat masyarakat itu menjadi suatu
kehendak umum yang terfokus dan terumuskan dengan baik.

2. fungsi edukasi.
Partai mendidik masyarakat agar memahami politik dan mempunyai
kesadaran politik berdasarkan ideologi partai. Tujuannya adalah mengikutsertakan
masyarakat dalam politik sedemikian sehingga partai mendapat dukungan
masyarakat. Cara yang ditempuh misalnya dengan memberi penerangan atau
agitasi menyangkut kebijakan negara serta menjelaskan arah mana yang

15
diinginkan partai agar masyarakat turut terlibat perjuangan politik partai.

3. fungsi artikulasi.
Partai merumuskan dan menyuarakan (mengartikulasikan) berbagai
kepentingan masyarakat menjadi suatu usulan kebijakan yang disampaikan
kepada pemerintah agar dijadikan suatu kebijakan umum (public policy). Fungsi
ini sangat dipengaruhi oleh jumlah kader suatu partai, karena fungsi ini
mengharuskan partai terjun ke masyarakat dalam segala tingkatan dan lapisan.
Bila fungsi ini dilakukan ditambah dengan fungsi edukasi, ia akan menjadi
komunikasi dan sosialisasi politik yang sangat efektif dari partai yang selanjutnya
akan menjadi lem perekat antara partai dan massa.

4. fungsi rekrutmen.
Ini berarti partai melakukan upaya rekrutmen, baik rekrutmen politik
dalam arti mendudukan kader partai ke dalam parlemen yang menjalankan peran
legislasi dan koreksi maupun ke dalam lembaga-lembaga pemerintahan, maupun
rekrutmen partai dalam arti menarik individu masyarakat untuk menjadi kader
baru ke dalam partai. Rekrutmen politik dilakukan dengan jalan mengikuti
pemilihan umum dalam segala tahapannya hingga proses pembentukan
kekuasaan. Karenanya, fungsi ini sering disebut juga fungsi representasi.
Sedangkan menurut Roy Macridis, fungsi-fungsi partai sebagai berikut: (a)
Representatif (perwakilan), (b) Konvensi dan Agregasi, (c) Integrasi (partisipasi,
sosialisasi, mobilisasi), (d) Persuasi, (e) Represi, (f) Rekrutmen, (g) Pemilihan
pemimpin, (h) Pertimbangan-pertimbangan, (i) Perumusan kebijakan, serta (j)
Kontrol terhadap pemerintah. (Macridis : dalam buku karya Ichlasul Amal, Teori-
teori Mutakhir Partai Politik. Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1988).

G. HAK PARTAI POLITIK

1. Perlakuan sama adil, sederajat dari negara


2. Mengatur RTO secara mandiri
3. Ikut pemilu
4. Mencalonkan pres & wapres dll.

H. KEWAJIBAN PARTAI POLITIK

1. Mengamalkan Pancasila dan UUD 1945


2. Menjaga keutuhan NKRI
3. Menjunjung tinggi hukum, demokrasi, HAM
4. Menyukseskan PEMILU dan Pembangunan dll.

16
B. PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

Partisipasi secara harafiah berarti keikutsertaan, dalam konteks politik


hal ini mengacu pada pada keikutsertaan warga dalam berbagai proses politik.
Keikutsertaan warga dalam proses politik tidaklah hanya berarti warga
mendukung keputusan atau kebijakan yang telah digariskan oleh para
pemimpinnya, karena kalau ini yang terjadi maka istilah yang tepat adalah
mobilisasi politik. Partisipasi politik adalah keterlibatan warga dalam segala
tahapan kebijakan, mulai dari sejak pembuatan keputusan sampai dengan
penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta dalam pelaksanaan
keputusan.

Konsep partisipasi politik ini menjadi sangat penting dalam arus pemikiran
deliberative democracy atau demokrasi musawarah. Pemikiran demokrasi
musyawarah muncul antara lain terdorong oleh tingginya tingkat apatisme politik
di Barat yang terlihat dengan rendahnya tingkat pemilih (hanya berkisar 50 -
60 %). Besarnya kelompok yang tidak puas atau tidak merasa perlu terlibat dalam
proses politik perwakilan menghawatirkan banyak pemikir Barat yang lalu datang
dengan konsep deliberative democracy.

Di Indonesia saat ini penggunaan kata partisipasi (politik) lebih sering


mengacu pada dukungan yang diberikan warga untuk pelaksanaan keputusan
yang sudah dibuat oleh para pemimpin politik dan pemerintahan. Misalnya
ungkapan pemimpin "Saya mengharapkan partispasi masyarakat untuk
menghemat BBM dengan membatasi penggunaan listrik di rumah masihng-
masing". Sebaliknya jarang kita mendengar ungkapan yang menempatkan warga
sebagai aktor utama pembuatan keputusan.

Dengan meilhat derajat partisipasi politik warga dalam proses politik rezim atau
pemerintahan bisa dilihat dalam spektrum:

• Rezim otoriter - warga tidak tahu-menahu tentang segala kebijakan dan


keputusan politik
• Rezim patrimonial - warga diberitahu tentang keputusan politik yang telah
dibuat oleh para pemimpin, tanpa bisa mempengaruhinya.
• Rezim partisipatif - warga bisa mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh
para pemimpinnya.
• Rezim demokratis - warga merupakan aktor utama pembuatan keputusan
politik.

17
1. PENYEBAB TIMBULNYA GERAKAN KEARAH
PARTISIPASI POLITIK

Menurut Myron Weiner, terdapat lima penyebab timbulnya gerakan ke


arah partisipasi lebih luas dalam proses politik, yaitu sebagai berikut :

a. Modernisasi dalam segala bidang kehidupan yang menyebabkan masyarakat


makin banyak menuntut untuk ikut dalam kekuasaan politik.

b. Perubahan-perubahan struktur kelas sosial. Masalah siapa yang berhak


berpartisipasi dan pembuatan keputusan politik menjadi penting dan
mengakibatkan perubahan dalam pola partisipasi politik.

c. Pengaruh kaum intelektual dan kemunikasi masa modern. Ide demokratisasi


partisipasi telah menyebar ke bangsa-bangsa baru sebelum mereka
mengembangkan modernisasi dan industrialisasi yang cukup matang.

d. Konflik antar kelompok pemimpin politik, jika timbul konflik antar elite, maka
yang dicari adalah dukungan rakyat. Terjadi perjuangan kelas menentang melawan
kaum aristokrat yang menarik kaum buruh dan membantu memperluas hak pilih
rakyat.

e. Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial, ekonomi, dan


kebudayaan. Meluasnya ruang lingkup aktivitas pemerintah sering merangsang
timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisasi akan kesempatan untuk ikut serta
dalam pembuatan keputusan politik.

18
2. JENIS – JENIS PARTISIPASI POLITIK

Partisipasi politik sangat terkait erat dengan seberapa jauh demokrasi


diterapkan dalam pemerintahan. Negara yang telah stabil demokrasinya, maka
biasanya tingkat partisipasi politik warganya sangat stabil, tidak fluktuatif. Negara
yang otoriter kerap memakai kekerasan untuk memberangus setiap prakarsa dan
partisipasi warganya. Karenanya, alih-alih bentuk dan kuantitas partisipasi
meningkat, yang terjadi warga tak punya keleluasaan untuk otonom dari jari-
jemari kekuasaan dan tak ada partisipasi sama sekali dalam pemerintahan yang
otoriter. Negara yang sedang meniti proses transisi dari otoritarianisme menuju
demokrasi galib disibukkan dengan frekuensi partisipasi yang meningkat tajam,
dengan jenis dan bentuk partisipasi yang sangat banyak, mulai dari yang bersifat
“konstitusional” hingga yang bersifat merusak sarana umum.
Karena begitu luasnya cakupan tindakan warga negara biasa dalam menyuarakan
aspirasinya, maka tak heran bila bentuk-bentuk partisipasi politik ini sangat
beragam. Secara sederhana, jenis partisipasi politik terbagi menjadi dua: Pertama,
partisipasi secara konvensional di mana prosedur dan waktu partisipasinya
diketahui publik secara pasti oleh semua warga. Kedua, partisipasi secara non-
konvensional. Artinya, prosedur dan waktu partisipasi ditentukan sendiri oleh
anggota masyarakat yang melakukan partisipasi itu sendiri (PPIM, 2001).
Jenis partisipasi yang pertama, terutama pemilu dan kampanye. Keikutsertaan dan
ketidakikutsertaan dalam pemilu menunjukkan sejauhmana tingkat partisipasi
konvensional warganegara. Seseorang yang ikut mencoblos dalam pemilu, secara
sederhana, menunjukkan komitmen partisipasi warga. Tapi orang yang tidak
menggunakan hak memilihnya dalam pemilu bukan berarti ia tak punya
kepedulian terhadap masalah-masalah publik. Bisa jadi ia ingin mengatakan
penolakan atau ketidakpuasannya terhadap kinerja elite politik di pemerintahan
maupun partai dengan cara golput.
Partisipasi politik yang kedua biasanya terkait dengan aspirasi politik seseorang
yang merasa diabaikan oleh institusi demokrasi, dan karenanya, menyalurkannya
melalui protes sosial atau demonstrasi. Wujud dari protes sosial ini juga beragam,
seperti memboikot, mogok, petisi, dialog, turun ke jalan, bahkan sampai merusak
fasilitas umum.

1. Partisipasi Politik di Negara Demokrasi

Di negara demokrasi, partisipasi dapat ditunjukan di pelbagai kegiatan. Biasanya


dibagi – bagi jenis kegiatan berdasarkan intensitas melakukan kegiatan tersebut.
Ada kegiatan yang yang tidak banyak menyita waktu dan yang biasanya tidak
berdasarkan prakarsa sendiri besar sekali jumlahnya dibandingkan dengan jumlah

19
orang yang secara aktif dan sepenuh waktu melibatkan diri dalam politik.
Kegiatan sebagai aktivis politik ini mencakup antara lain menjadi pimpinan partai
atau kelompok kepentingan.
Di Negara yang menganut paham demokrasi, bentuk partisipasi politik
masyarakat yang paling mudah diukur adalah ketika pemilihan umum
berlangsung. Prilaku warga Negara yang dapat dihitung itensitasnya adalah
melalui perhitungan persentase orang yang menggunakan hak pilihnya ( voter
turnout ) disbanding dengan warga Negara yang berhak memilih seluruhnya.
Di Amerika Serikat umumnya voter turnout lebih rendah dari Negara – Negara
eropa barat. Orang Amerika tidak terlalu bergairah untuk member suara dalam
pemilihan umum. Akan tetapi mereka lebih aktif mencari pemecahan berbagai
masalah masyarakat serta lingkungan melalui kegiatan lain, dan menggabungkan
diri dengan organisasi organisasi seperti organisasi politik, bisnis, profesi dan
sebagainya.

2. Partisipasi Politik di Negara Otoriter

Di Negara otoriter seperti komunis, partisipasi masa diakui kewajarannya, karena


secara formal kekuasaan ada di tangan rakyat. Tetapi tujuan yang utama dari
partisipasi massa dalam masa pendek adalah untuk merombak masyarakat yang
terbelakang menjadi masyarakat modern dan produktif. Hal ini memerlukan
pengarahan yang ketat dari monopoli partai politik.
Terutama, persentase yang tinggi dalam pemilihan umum dinilai dapat
memperkuat keabsahan sebuah rezim di mata dunia. Karena itu, rezim otoriter
selalu mengusahakan agar persentase pemilih mencapai angka tinggi. Akan tetapi
perlu diingat bahwa umumnya system pemilihan di Negara otoriter berbeda
dengan system pemilihan di Negara Demokrasi, terutama karena hanya ada satu
calon untuk setiap kursi yang diperebutkan, dan para calon tersebut harus
melampaui suatu proses penyaringan yang ditentukan dan diselenggarakan oleh
partai komunis.
Di luar pemilihan umum, partisipasi politik juga dapat di bina melalui organisasi –
organisasi yang mencakup golongan pemuda, golongan buruh, serta organisasi –
organisasi kebudayaan. Melalui pembinaan yang ketat potensi masayarakat dapat
dimanfaatkan secara terkontrol. Partisipasi yang bersifat community action
terutama di Uni soviet dan China sangat intensif dan luas. Melebihi kegiatan
Negara demokrasi di Barat. Tetapi ada unsur mobilisasi partisipasi di dalamnya
karena bentuk dan intensitas partisipasi ditentukan oleh partai.
Di Negara – Negara otoriter yang sudah mapan seperti China menghadapi dilema
bagaimana memperluas partisipasi tanpa kehilangan kontrol yang dianggap
mutlak diperlukan untuk tercapainya masyarakat yang diharapkan. Jika kontrol ini
dikendorkan untuk meningkatkan partisipasi, maka ada bahaya yang nantinya
akan menimbulkan konflik yang akan mengganggu stabilitas. Seperti yang
dilakuakn oleh China di tahun 1956/1957. Pada saat itu dicetuskannya gerakan
“Kampanye Seratus Bunga” yaitu dimana masyarakat diperbolehkan untuk
menyampaikan kritik. Namun pengendoran kontrol ini tidak berlangsung lama,
karena ternyata tajamnya kritik yang disuarakan dianggap mengganggu stabilitas
nasional. Sesuda terjadi tragedy Tiananmen Square pada tahun 1989, ketika itu

20
ratusan mahasiswa kehilangan nyawanya dalam bentrokan dengan aparat, dan
akhirnya pemerintah memperketat kontrol kembali.

3. Partisipasi Politik di Negara Berkembang

Negara berkembang adalah negara – Negara baru yang ingin cepat mengadakan
pembangunan untuk mengejar ketertinggalannya dari Negara maju. Hal ini
dilakukan karena menurut mereka berhasil atau tidaknya pembangunan itu
tergantung dari partisipasi rakyat. Peran sertanya masyarakat dapat menolong
penanganan masalah – masalah yang timbul dari perbedaan etnis, budaya, status
sosial, ekonomi, agama dan sebagainya. Pembentukan identitas nasional dan
loyalitas diharapkan dapat menunjang pertumbuhannya melalui partisipasi politik.
Di beberapa Negara berkembang partisipasi bersifat otonom, artinya lahir dari diri
mereka sendiri, masih terbatas. Oleh karena itu jika hal ini terjadi di Negara-
Negara maju sering kali dianggap sebagai tanda adanya kepuasan terhadap
pengelolaan kehidupan politik. Tetapi jika hal itu terjadi di Negara berkembang,
tidak selalu demikian halnya. Di beberapa Negara yang rakyatnya apatis,
pemerintah menghadapi menghadapi masalah bagaimana caranya meningkatkan
partisipasi itu, sebab jika tidak partisipasi akan menghadapi jalan buntu, dapat
menyebabkan dua hal yaitu menimbulkan anomi atau justru menimbulkan
revolusi.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi


Partisipasi Politik Masyarakat

1. Faktor Sosial Ekonomi


Kondisi sosial ekonomi meliputi tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan
jumlah keluarga.

2. Faktor Politik

Arnstein S.R (1969) peran serta politik masyarakat didasarkan kepada politik
untuk menentukan suatu produk akhir. Faktor politik meliputi :

a. Komunikasi Politik.

Komunikasi politik adalah suatu komunikasi yang mempunyai konsekuensi


politik baik secara aktual
maupun potensial, yang mengatur kelakuan manusia dalam keberadaan suatu
konflik. (Nimmo, 1993:8). Komunikasi politik antara pemerintah dan rakyat
sebagai interaksi antara dua pihak yang menerapkan etika (Surbakti, 1992:119)
.
b. Kesadaran Politik.

21
Kesadaran politik menyangkut pengetahuan, minat dan perhatian seseorang
terhadap lingkungan
masyarakat dan politik (Eko, 2000:14). Tingkat kesadaran politik diartikan
sebagai tanda bahwa warga masyarakat menaruh perhatian terhadap masalah
kenegaraan dan atau pembangunan (Budiarjo, 1985:22).

c. Pengetahuan Masyarakat terhadap

Proses Pengambilan Keputusan. Pengetahuan masyarakat terhadap proses


pengambilan keputusan akan menentukan corak dan arah suatu keputusan yang
akan diambil (RamlanSurbakti 1992:196).

d. Kontrol Masyarakat terhadap Kebijakan Publik.

Kontrol masyarakat terhadap kebijakan publik yakni masyarakat menguasai


kebijakan publik dan memiliki kewenangan untuk mengelola suatu obyek
kebijakan tertentu (Arnstein, 1969:215). Kontrol untuk mencegah dan
mengeliminir penyalahgunaan kewenangan dalam keputusan politik
(Setiono,2002:65). Arnstein1969:215), kontrol masyarakat dalam kebijakan
publik adalah the power of directing. Juga mengemukakan ekspresi politik,
memberikan aspirasi atau masukan (ide, gagasan) tanpa intimidasi yang
merupakan problem dan harapan rakyat (Widodo, 2000:192), untuk meningkatkan
kesadaran kritis dan keterampilan masyarakat melakukan analisis dan pemetaan
terhadap persoalan aktual dan merumuskan
agenda tuntutan mengenai pembangunan (Cristina, 2001:71).

3. Faktor Fisik Individu dan Lingkungan Faktor fisik individu sebagai sumber

kehidupan termasuk fasilitas serta ketersediaan pelayanan umum. Faktor


lingkungan adalah kesatuan ruang dan semua benda, daya, keadaan, kondisi dan
makhluk hidup, yang berlangsungnya berbagai kegiatan interaksi sosial antara
berbagai kelompok beserta lembaga dan pranatanya (K. Manullang dan
Gitting,1993:13).

4. Faktor Nilai Budaya

Gabriel Almond dan Sidney Verba (1999:25), Nilai budaya politik atau civic
culture merupakan basis yang membentuk demokrasi, hakekatnya adalah politik
baik etika politik maupun teknik (Soemitro 1999:27) atau peradapan masyarakat
(Verba, Sholozman, Bradi, 1995). Faktor
nilai budaya menyangkut persepsi, pengetahuan, sikap, dan kepercayaan politik.

22
3. BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

adalah salah satu jenis budaya politik bangsa. Budaya politik partisipan
dicirikan dengan adanya orientasi yang tinggi terhadap semua objek politik, baik
objek umum, input, output serta pribadinya sendiri selaku warga negara.
Pelaksanaan budaya politik partisipan juga dapat diterapkan oleh seorang pelajar
dilingkungan sekolahnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/search?hl=id&q=hak+partai+politik&btnG=Telusuri&meta=

http://hukumham.info/images/O_ddi/pdf_syarat-syarat%20pendirian%20parpol.pdf

http://www.slideshare.net/supriono/partai-politik

http://www.asiatour.com/lawarchives/indonesia/partai/uu_partai_babIII.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Partisipasi_politik

http://mediakita-kita.blogspot.com/2009/01/perilaku-dan-partisipasi-politik-di.html

http://www.google.co.id/search?q=budaya+politik+partisipan&hl=id&start=10&sa=N

http://fikifirmansyah.blogspot.com/tugasku/

http://www.google.co.id/search?hl=id&q=kata+pengantar&btnG=Telusuri&meta=

24
25