Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sungguh sangat ironis sekali hasil survai bisnis tahun 2013 yang dilakukan oleh institusi Political and Economic Risk Consultacy (PERC) menempatkan Indonesia pada peringkat satu negara terkorup dari 16 negara tujuan investasi. Sangat disayangkan jika terjadi labeling negara terkorup dari sekian banyak negara di dunia terhadap Indonesia. Lalu apakah memang hal ini telah dibiarkan sedemikian rupa hingga bisa terjadi banyak korupsi di Indonesia itu karena tidak adanya langkah preventif pemerintah sejak dahulu? Rasanya tidak, dan perlu diketahui pada era orde lama hingga orde baru, hingga reformasi keberadaan sebuah lembaga yang dibuat demi memberantas korupsi dan etika anti korupsi yang sasarannya tentu berbeda dari orde ke orde, sangat dibutuhkan dan nyata ada dibentuk demi memberantas dan menurunkan angka korupsi. KKN di Indonesia sudah merupakan menjadi budaya dan mentalitas bangsa ini, sesuatu yang usah kita bantah. KKN di negeri ini sudah menjadi bagian hidup dan kehidupan, dari tingkat bawah hingga atas, hampir tidak ada bagian yang tidak tersentuh KKN. Karena itu wajar, jika korupsi di negeri ini sudah menjadi penyakit kanker stadium IV. Akibat kejahatan korupsi di negeri ini yang membuat kemakmuran rakyat masih sekadar mimpi. Korupsi dimulai dengan semakin mendesaknya usaha-usaha pembangunan yang diingiinkan, sedangkan proses birokrasi relative lambat, sehingga setiap orang atau badan menginginkan jalan pintas yang cepat dengan memberikan imbalan-imbalan dengan cara memberikan uang pelicin (uang sogok). Praktek ini akan berlangsung terus menerus sepanjang tidak adanya kontrol dari pemerintahan dan masyarakat, sehingga timbul golongan pegawai yang termasuk OKB-OKB (orang kaya baru) yang memperkaya diri sendiri (ambisi material). Kita kerap berfikir pesimis tentang pemberantasan korupsi, terlalu banyak simposium dan analisa untuk memberantas korupsi. Sehingga cara ataupun trik untuk memberantas korupsi yang telah menjamur di negeri ini layak kita diskusikan bersama demi terciptanya kemakmuran rakyat dan kehidupan tanpa korupsi.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian dari korupsi? 2. Bagaimana cara efektif untuk memberantas korupsi ? 3. Bagaimana perkembangan lembaga korupsi dari waktu ke waktu ? 4. Bagaimana kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam system ketatanegaraan Indonesia ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian korupsi. 2. Untuk mengetahui cara efektif untuk memberantas korupsi. 3. Untuk mengetahui perkembangan lembaga korupsi dari waktu ke waktu. 4. Untuk mengetahui kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam system ketatanegaraan Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian korupsi Korupsi menurut bahasa Latin yaitu corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.Terdapat berbagai pengertian tentang korupsi menurut para ahli, diantaranya : Menurut Prof. Subekti, korupsi adalah suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan uang negara untuk kepentingannya. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagai tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna menegeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan Negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan Negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya dengan alas an hokum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri. Adapun ciri-ciri korupsi, antara lain: 1. Melibatkan lebih dari satu orang. Setiap perbuatan korupsi tidak mungkin dilakukan sendiri, pasti melibatkan lebih dari satu orang. Bahkan, pada perkembangannya acapkali dilakukan secara bersama-sama untuk menyulitkan pengusutan. 2. Serba kerahasiaan. Meski dilakukan bersama-sama, korupsi dilakukan dalam koridor kerahasiaan yang sangat ketat. Masing-masing pihak yang terlibat akan berusaha semaksimal mungkin menutupi apa yang telah dilakukan. 3. Melibat elemen perizinan dan keuntungan timbal balik. Yang dimaksud elemen perizinan adalah bidang strategis yang dikuasai oleh negara menyangkut pengembangan usaha tertentu. Misalnya izin mendirikan bangunan, izin perusahaan,dan lain-lain. 4. Selalu berusaha menyembunyikan perbuatan/maksud tertentu dibalik kebenaran. 5. Koruptor menginginkan keputusan-keputusan yang tegas dan memiliki pengaruh. Senantiasa berusaha mempengaruhi pengambil kebijakan agar berpihak padanya. Mengutamakan kepentingannya dan melindungi segala apa yang diinginkan.
3

6. Tindakan korupsi mengundang penipuan yang dilakukan oleh badan hukum publik dan masyarakat umum. Badan hukum yang dimaksud suatu lembaga yang bergerak dalam pelayanan publik atau penyedia barang dan jasa kepentingan publik. 7. Setiap tindak korupsi adalah pengkhianatan kepercayaan. Ketika seseorang berjuang meraih kedudukan tertentu, dia pasti berjanji akan melakukan hal yang terbaik untuk kepentingan semua pihak. Tetapi setelah mendapat kepercayaan kedudukan tidak pernah melakukan apa yang telah dijanjikan. 8. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif dari koruptor sendiri. Sikap dermawan dari koruptor yang acap ditampilkan di hadapan publik adalah bentuk fungsi ganda yang kontradiktif. Di satu pihak sang koruptor menunjukkan perilaku menyembunyikan tujuan untuk menyeret semua pihak untuk ikut bertanggung jawab, di pihak lain dia menggunakan perilaku tadi untuk meningkatkan posisi tawarannya. B. Cara Efektif Untuk Memberantas Korupsi Pemberantasan tindak korupsi tampaknya akan makin sulit. Bukan hanya karena pelaku dan modusnya makin pintar dan sisitem yang masih korup, namun justru karena cara memberantasnya yang masih utopis dan diwarnai polemic. Upaya pemberantasan korupsi terkendala diakibatkan oleh setidaknya lima hal, sebagai berikut : Pertama, pemaknaan terhadap korupsi yang sempit. Korupsi dilihat sebagai tindak kejahatan yang berdiri sendiri. Nyatanya korupsi dalam pemaknaan yang luas, merupakan salah satu kejahatan lintas personal tertua di bumi ini. Nyaris tidak ada bangsa atau negara yang bebas dari praktik kotor ini, termasuk di negara-negara yang sudah maju sekalipun. Praktik dan modus korupsi senantiasa juga berkembang dan makin canggih. Di lain pihak, manusia dilahirkan tidak dalam keadaan suci dan bersih. Kedua, pemberantasan korupsi terkesan lebih utopis daripada realistis.Seharusnya karena wataknya sudah sedemikian mendarah daging dan kronis, pemberantasan korupsi harus dimaknai sebagai tindakan meminimalisasi korupsi, bukan menghilangkan korupsi. Penulis tak percaya korupsi bisa punah dan lenyap. Celakanya, selama ini pemberantasan korupsi oleh pemerintah diletakkan dalam kerangka utopis yang akhirnya menuai cemooh dari publik karena tak kunjung menuai hasil. Ketiga, pemberantasan korupsi melulu menggunakan pendekatan legal-regulatif. Ada anggapan bahwa pemberantasan korupsi lewat langkah legal (sistem hukum) dan
4

regulasi (aturan) yang ada selama ini tidak cukup memadai untuk memberantas korupsi. Ironisnya, pemerintah justru mengulangi pendekatan tersebut dengan dekorasi kelembagaan baru (termasuk pembentukan Timtastipikor). Padahal bukan rahasia lagi, instrumen legalregulatif justru kerap kali diperdaya menjadi perisai bagi koruptor. Instrumen legal-regulatif menjadi pertarungan tafsir belaka yang bisa dimenangkan siapa saja yang memiliki sumber daya politik dan ekonomi yang lebih. Banyak koruptor yang bebas berkeliaran bersandar kepada pasal-pasal legal-regulatif yang ada atau berkolusi dengan aparat penegak hukum. Pendekatan ini acap memandang korupsi sebagai tindakan melanggar hukum an sich. Perilaku koruptif belum dilihat sebagai pelanggaran terhadap relasi sosial manusia. Korupsibelum dianggap sebagai cacat sosial. Korupsi akhirnya menjadi soal bukti dan delik formal. Ketika tidak cukup bukti pelanggaran hukum, seseorang dianggap tidak melakukan korupsi.Dalam konteks ini sulit mengatakan Soeharto sebagai koruptor karena nyaristidak ditemukan celah hukum yang dia langgar. Juga jangan heran bila ada pejabat yang disangkakan korupsi masih bisa melenggak dan menduduki jabatan publik tanpa merasa bermasalah. Padahal di negara yang berhasil mengurangi tindak korupsi, korupsi, selain dilihat sebagai tindakan melanggar hukum juga dilihat sebagai pelanggaran etis dan moral. Keempat, pemberantasan korupsi belum menyentuh pembersihan institusi penegak hukum. Selama ini fokus perhatian korupsi tertuju kepada pelaku korupsi langsung. Padahal, korupsi adalah kerja lintas personal. Aparat penegak hukum termasuk banyak terlibat di dalamnya. Namun, publik belum melihat ada terobosan untuk membersihkan lingkungan penegak hukum. Upaya pemberantasan korupsi yang hanya bertumpu pada tindakan hukum terhadap pelaku tanpa tindakan pembersihan institusi peradilan, hanyalah kesia-siaan. Kelima, kenyataan bahwa gerakan antikorupsi, khususnya yang dibangun kelompok masyarakat sipil, berjalan di tempat. Kegagalan ini diakibatkan setidaknya dua hal. Pertama, gerakan tersebut tidak memiliki strategi pendekatan baru untuk memberantas korupsi. Mereka juga terjebak dalam aktivitas yang sloganistik dan temporer yang akhirnya tidak mampu mendorong empati dan solidaritas publik. Beberapa memang ada yang menuai hasil seperti gerakan antikorupsi di tingkat lokal (Sumbar, Sulsel, dll), namun tak jarang yang mati pelan-pelan. Dua tahun yang lalu kita mendengar gerakan antikorupsi yang dideklarasikan dua ormas keagamaan terbesar namun akhirnya redup nyaris tak terdengar. Kedua, gerakan-gerakan tersebut 'gagal' membuktikan bahwa elemen masyarakat sipil lebih baik dari state. Maraknya praktik korupsi yang juga dilakukan oleh organisasi dan personal
5

masyarakat sipil (termasuk korupsi di KPU) secara perlahan mengurangi tingkat kepercayaan publik kepada upaya pemberantasan korupsi. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan upaya pemberantasan korupsi harus diarahkan kepada pencegahan perbuatan korupsi dan penyelesaian kasus korupsi yang terjadi, dengan strategi dan aksi baru. Pertama, menyinergikan pendekatan legal-regulatif dengan social-control. Kalau legal-regulatif bertumpu pada prosedur dan mekanisme hukum, maka social-kontrol bertumpu pada penilaian dan koreksi sosial dengan mengandalkan partisipasi publik. Pendekatan ini setidaknya akan mampu menjawab antara kebenaran hukum dan rasa adil masyarakat. Sayangnya,pembentukan Timtastipikor belum menyentuh pendekatan ini. Personal di lembaga itu melulu berasal dari penegak hukum formal tanpa melibatkan elemen masyarakat sebagai pelaku hukum informal yang juga penting. Penyelesaian kasus Soeharto dan para konglomerat hitam yang sulit dijerat lewat prosedur hukum, barangkali dapat menggunakan pendekatan sosial-kontrol tersebut. Minimal, bila pendekatan hukum mentok, mereka bisa didekati untuk mengembalikan kekayaan yang bukan haknya. Komunitas sosial atau masyarakat khususnya yang termarginalisasi menjadi penting dilibatkan dalam kontrol sosial. Merekalah korban utama dari korupsi dan layak menilai soal adil dan benar. Kedua, mereformasi sistem birokrasi dan sistem pengendalian keuangan di lembaga-lembaga negara. Konsentrasi perbaikan mekanisme dan prosedur hukum tidak akan optimal tanpa adanya reformasi sistem yang mengatur manajemen dan mekanisme kerja aparatur pemerintah. Acap kali pemberantasan korupsi mandek ketika pelaku berlindung pada mekanisme dan prosedur yang berlaku di lembaga-lembaga pemerintah. Jangan heran ada ungkapan '(korupsi) sudah sesuai prosedur. Perlu ada semacam koreksi total terhadap berbagai aturan yang mengatur mekanisme, manajemen, dan pertanggungjawaban di tiap lembaga pemerintah dari pusat sampai ke daerah. Ketiga, tentu saja, dalam jangka panjang menjalankan pendidikan antikorupsi di sekolah-sekolah formal. Pendidikan ini bisa disandingkan dengan pendidikan kewarganegaraan. Bagaimanapun watak antikorupsi hanya bisa dimulai dari pendidikan sebagai awal mula pembelajaran kesadaran. Tentu saja ini bukanlah tugas ringan, namun harus dilaksanakan. Ini yang disebut memberantas korupsi dengan partisipasi publik. Maraknya korupsi oleh organisasi dan personal masyarakat sipil mengurangi kepercayaan publik kepada upaya pemberantasan korupsi.

C. Perkembangan Lembaga Korupsi Dari Waktu Ke Waktu Pada orde lama, tercatat ada dua kali dibentuk Lembaga atau badan pemberantasan korupsi yaitu pertama Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran) Panitia Retooling Aparatur Negara (PARAN) yang antara lain, menghasilkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 1962 tentang Pokok-pokok Organisasi Aparatur Pemerintah Negara Tingkat Tertinggi. Dua tahun kemudian dibentuk Komando Tertinggi Retooling Aparatur Revolusi (KONTRAR) dengan Keppres Nomor 98 Tahun 1964, yang merupakan kelanjutan dari PARAN, lebih bersifat politis, sesuai dengan keadaan waktu itu . Paran dibentuk dengan perangkat aturan Keadaan Bahaya, dan kedua dibentuk Lembaga Operasi Budhi pada 1963, melalui Keputusan Presiden No. 275 Tahun 1963, pemerintah menunjuk lagi A.H Nasution sebagai ketuanya. Masingmasing dari lembaga tersebut tentu berbeda sasarannya, misal pada Paran, sasarannya adalah pejabat yang korup, sedangkan Operasi Budhi memiliki sasaran utama yaitu perusahaanperusahaan negara serta lembaga-lembaga negara lainnya yang dianggap rawan praktek korupsi dan kolusi. Kemudian karena alasan politis kedua lembaga tersebut dibubarkan, lalu muncul lagi lembaga baru yaitu Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi (Kontrar) dengan Presiden Soekarno menjadi ketuanya serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani, yang masih sama berkutat pada pemberantasan korupsi. Lalu bagaimana kelanjutan sepak terjang lembaga-lembaga pemberantas korupsi pada era orde lama tersebut? Hasilnya masih bisa ditebak, deadlock. Lalu, pada orde baru, dibentuklah TPK atau Tim Pemberantasan Korupsi yang diketuai Jaksa Agung. Saat itu adalah era pemeritahan Soeharto. Menurut Soeharto pada masa itu, TPK dinilai kurang efektif, maka presiden saat itu, Soeharto menunjuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa, Prof Johannes, I.J. Kasimo, MrWilopo, dan A. Tjokroaminoto, dengan tugas utama membersihkan Departemen Agama, Bulog, CV Waringin, PT Mantrust, Telkom, Pertamina, dan lain-lain. Ketika Komite Empat menyampaikan hasil temuan atas kasus korupsi di Pertamina, ternyata tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah. . hasilnya pun dapat terbukti lemahnya kontrol dan pengawasan pemerintah saat itu terkait dengan pemberantasan korupsi. Selanjutnya masih dalam rangka pemberantasan korupsi, sebuah lembaga baru pun dibentuk bernama Operasi Tertib (Opstib) dengan tugas antara lain memberantas korupsi. Perselisihan pendapat mengenai metode pemberantasan korupsi yang bottom up atau top down di kalangan

pemberantas korupsi itu sendiri cenderung semakin melemahkan pemberantasan korupsi, sehingga Opstib pun hilang. Hal mengenai pemberantasan korupsi pun berlanjut hingga menuju era reformasi yang saat itu ditandai dengan dikeluarkannya UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi yang merupakan sebuah bentuk Undang-undang pemberantasan korupsi yang baru pengganti yang ada sebelumnya yaitu UU nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Usaha pemberantasan korupsi dimulai oleh B.J. Habibie dengan pembentukan berbagai komisi atau badan baru, seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid, membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK). Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) dibentuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000. Namun, di tengah semangat menggebu-gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim ini, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31 Tahun 1999. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN, dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tugas KPKPN melebur masuk ke dalam KPK, sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Hingga kini dan seterusnya KPK menjadi lembaga pemberantas korupsi yang diharapkan dapat menurunkan angka korupsi di Indonesia dari waktu ke waktu yang akan datang. D. Kedudukan KPK Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Komisi Pemberantasan Korupsi, atau disingkat menjadi KPK, adalah komisi di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan

memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Seiring berjalannya Reformasi di Indonesia muncul berbagai macam perubahan dalam sistem Ketatanegaraan, khususnya perubahan pada Konstitusi Negara Indonesia. Salah satu hasil dari Perubahan Konstitusi Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Negara RI Tahun 1945) adalah beralihnya supremasi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi supremasi konstitusi. Akibatnya, MPR bukan lagi
8

lembaga tertinggi negara karena semua lembaga negara didudukkan sederajat dalam mekanisme checks and balances. Sementara itu, konstitusi diposisikan sebagai hukum tertinggi yang mengatur dan membatasi kekuasaan lembaga-lembaga negara. Perkembangan konsep triaspolitica juga turut memengaruhi perubahan struktur kelembagaan di Indonesia. Di banyak negara, konsep klasik mengenai pemisahan kekuasaan tersebut dianggap tidak lagi relevan karena tiga fungsi kekuasaan yang ada tidak mampu menanggung beban negara dalam menyelenggarakan pemerintahan. Untuk menjawab tuntutan tersebut, negara membentuk jenis lembaga negara baru yang diharapkan dapat lebih responsif dalam mengatasi persoalan aktual negara. Maka, berdirilah berbagai lembaga negara yang membantu tugas lembaga-lembaga negara tersebut yang menurut Prof. Dr.Jimly Asshidiqie, SH disebut sebagai Lembaga Negara Bantu dalam bentuk dewan, komisi, komite, badan, ataupun otorita, dengan masing-masing tugas dan wewenangnya. Beberapa ahli tetap mengelompokkan lembaga negara bantu dalam lingkup eksekutif, namun ada pula sarjana yang menempatkannya tersendiri sebagai cabang keempat kekuasaan pemerintahan. Dalam konteks Indonesia, kehadiran lembaga negara bantu menjamur pasca perubahan UUD Negara RI Tahun 1945. Berbagai lembaga negara bantu tersebut tidak dibentuk dengan dasar hukum yang seragam. Beberapa di antaranya berdiri atas amanat konstitusi, namun ada pula yang memperoleh legitimasi berdasarkan undang-undang ataupun keputusan presiden. Salah satu lembaga negara bantu yang dibentuk dengan undang-undang adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun bersifat independen dan bebas dari kekuasaan manapun, KPK tetap bergantung kepada kekuasaan eksekutif dalam kaitan dengan masalah keorganisasian, dan memiliki hubungan khusus dengan kekuasaan yudikatif dalam hal penuntutan dan persidangan perkara tindak pidana korupsi. Ke depannya, kedudukan lembaga negara bantu seperti KPK membutuhkan legitimasi hukum yang lebih kuat dan lebih tegas serta dukungan yang lebih besar dari masyarakat.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Upaya pemberantasan korupsi terkendala diakibatkan oleh setidaknya lima hal, yaitu pemaknaan terhadap korupsi yang sempit, pemberantasan korupsi terkesan lebih utopis daripada realistis, pemberantasan korupsi melulu menggunakan pendekatan legal-regulatif, pemberantasan korupsi belum menyentuh pembersihan institusi penegak hokum, serta kenyataan bahwa gerakan antikorupsi, khususnya yang dibangun kelompok masyarakat sipil, berjalan di tempat. Hal mengenai pemberantasan korupsi pun berlanjut hingga menuju era reformasi yang saat itu ditandai dengan dikeluarkannya UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi yang merupakan sebuah bentuk Undang-undang pemberantasan korupsi yang baru pengganti yang ada sebelumnya yaitu UU nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Salah satu lembaga negara bantu yang dibentuk dengan undang-undang adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun bersifat independen dan bebas dari kekuasaan manapun, KPK tetap bergantung kepada kekuasaan eksekutif dalam kaitan dengan masalah keorganisasian, dan memiliki hubungan khusus dengan kekuasaan yudikatif dalam hal penuntutan dan persidangan perkara tindak pidana korupsi.

B. Saran Langkah cerdas dalam pemeberantasan korupsi hendaknya diapklikasikan oleh semua pihak baik pemerintah dan masyarakat untuk meminimalisir korupsi yang semakin membudaya di Indonesia.

10

DAFTAR PUSTAKA

Anonime.1954. Korupsi . http://www.mail-archive.com diakses pada tanggal 21 November 2013. Muzadi, H. 2004. MENUJU INDONESIA BARU, Strategi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Malang : Bayumedia Publishing. Saleh, Wantjik. 1978. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia. Samosir,Djisman.1985. Hukum Pidana Indonesia. Bnadung : Sinar Baru.

11