Anda di halaman 1dari 5

5.

Masalah yang perlu diperhatikan dalam penanganan bayi BBLR

a. Suhu tubuh

Pusat pengatur panas badan masih belum sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah. Otot bayi masih lemah. Lemak kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan. Kemampuan metabolisme panas masih rendah sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar 360 C sampai 370 C.

b. Pernapasan

Pusat pengatur pernapasan belum sempurna. Surfaktan paru-paru masih kurang sehingga perkembangannya tidak sempurna. Otot pernapasan dan tulang iga lemah. Dapat disertai penyakit: penyakit hialin membran, mudah infeksi paruparu, gagal pernapasan.

c. Alat pencernaan makanan

Belum berfungsi sempurna sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah atau kurang baik. Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna sehingga pengosongan lambung berkurang. Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi pneumonia.

d. Hepar yang belum matang (immature)

Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi hiperbilirubinemia (kuning) sampai ikterus.

e. Ginjal masih belum matang (immature)

Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna.

f. Perdarahan dalam otak

Pembuluh darah bayi prematur masih rapuh dan mudah pecah. Sering mengalami gangguan pernapasan, sehingga memudahkan terjadinya perdarahan dalam otak. Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi. Pemberian oksigen belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan nekrosis (Manuaba, 2001).

4. Penatalaksanaan 1. Pengaturan suhu

Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah, dan permukaan badan relatif luas. Oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator (Manuaba, 2001).

2. Makanan bayi

Alat pencernaan bayi masih belum sempurna seperti refleks isap, telan dan batuk, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kgBB dan kalori 110 kal/kgBB agar berat badan bertambah sebaik-baiknya. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur 3 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia. Karena reflek isap masih lemah sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit tetapi frekuensi lebih sering

ASI merupakan makanan yang paling utama sehingga ASI yang paling dahulu diberikan. Bila faktor mengisapnya kurang maka ASI dapat diperas diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan yang diberikan sekitar 200 cc/kgBB/hari (Manuaba, 2001).

3. Menghindari infeksi

Bayi BBLR mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukkan antibodi belum sempurna oleh karena itu upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan BBLR. Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi BBLR secara khusus dan terisolasi dengan baik (Manuaba, 2001).

5. Komplikasi

Menurut Keumala Pringgardani (2007) ada beberapa gangguan atau komplikasi terkait dengan kasus bayi baru lahir rendah, seperti: 1. Gangguan pernapasan. Salah satu sebabnya bayi menelan air ketuban sehingga masuk ke dalam paru-paru dan mengganggu pernapasannya. Ini tidak hanya dialami bayi BBLR tetapi juga bayi cukup bulan. Khusus bayi prematur, umumnya gangguan pernapasannya berkaitan dengan organ paru-paru yang belum matang. 2. Kasus-kasus berat seperti pendarahan otak, kelainan jantung, hipoglikemia (kadar gula rendah) dan lainnya. 3. Infeksi. Bayi bisa terkena infeksi saat di jalan lahir atau tertular infeksi ibu melalui plasenta. 4. Kejang saat dilahirkan. Biasanya bayi akan dipantau dalam 1 X 24 jam untuk dicari penyebabnya. Misalnya karena ada infeksi sebelum lahir (prenatal), atau karena pendarahan intrakrania, atau karena vitamin B6 yang dikonsumsi ibu. 5. Apneu periodik (henti napas), sering terjadi pada bayi BBLR karena prematuritas. Organ paru-paru dan susunan saraf pusat yang belum sempurna dapat mengakibatkan bayi berhenti bernapas. 6. Ikterus atau kuning. Jika terjadi di hari pertama dapat dipastikan ada kelainan pada bayi, seperti ketidaksesuaian golongan darah ibu dan bayi. Bila kuning terjadi setelah 5-7 hari sesudah bayi dilahirkan biasanya karena karena fungsi hati yang belum matang sehingga bayi belum bisa mengeluarkan bilirubin atau disebut kuning fisiologis. 7. Muntah, biasanya ada suatu kelainan di pencernaan bayi yang memungkinkan tindakan bedah. 8. Diatenis abdomen, kelainan yang berkaitan dengan usus bayi. 9. Gangguan elektrolit/gangguan sirkulasi dalam tubuh