Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Analgetik adalah suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri. Nyeri timbul akibat oleh berbagai rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisis sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti bradikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak. Secara umum analgetik dibagi dalam dua golongan, yaitu analgetik non narkotik dan analgetik narkotik (opioid). Analgetik narkotik (opioid) merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium. eskipun mempelihatkan berbagai efek farmakologik yang lain, golongan obat ini digunakan terutama untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. !pioum yang berasal dari getah Papaver somniferum mengandung sekitar "# jenis alkaloid diantaranya morfin, kodein, tebain, papaverin. Analgetik opioid terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri meskipun juga memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain. !piat atau yang dikenal sebagai narkotik adalah bahan yang digunakan untuk menidurkan atau melegakan rasa sakit, tetapi mempunyai potensi yang tinggi untuk menyebabkan ketagihan. Sebagian dari opiat ,seperti candu,morfin,heroin dan kodein diperoleh dari getah buah popi yang terdapat atau berasal dari negara$negara %imur %engah dan Asia. &engaruh dari berbagai obat golongan opioid sering dibandingkan dengan morfin, dan tidak semua obat golongan opioid dipasarkan di 'ndonesia. Akan tetapi dengan sediaan yang sudah ada kiranya penangganan nyeri yang membutuhkan obat opioid dapat dilakukan. %erbatasnya peredaran obat tersebut tidak terlepas pada kekhawatiran terjadinya penyalahgunaan obat

TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi !pioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat$sifat seperti opium atau morfin. (olongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. Semua analgesik opioid menimbulkan adiksi) ketergantungan. B. Klasifikasi Opioid &enggolongan opioid antara lain* +. opioid natural (morfin, kodein, pavaperin, dan tebain) ". semisintetik (heroin, dihidro morfin)morfinon, derivate tebain) ,. sintetik (petidin, fentanil, alfentanil, sufentanil dan remifentanil). C. Mekanisme Ke !a -eseptor opioid sebenarnya tersebar luas diseluruh jaringan sistem saraf pusat, tetapi lebih terkonsentrasi di otak tengah yaitu di sistem limbik, thalamus, hipothalamus corpus striatum, sistem aktivasi retikuler dan di corda spinalis yaitu substantia gelatinosa dan dijumpai pula di pleksus saraf usus. olekul opioid dan polipeptida endogen (metenkefalin, beta$endorfin, dinorfin) berinteraksi dengan reseptor morfin dan menghasilkan efek. Suatu opioid mungkin dapat berinteraksi dengan semua jenis reseptor akan tetapi dengan afinitas yang berbeda dan dapat bekerja sebagai agonis, antagonis, dan campuran. Secara umum, efek obat$obat narkotik) opioid antara lain . +. /fek sentral* a. enurunkan persepsi nyeri dengan stimulasi (pacuan) pada reseptor opioid (efek analgesi) b. &ada dosis terapik normal, tidak mempengaruhi sensasi lain. c. engurangi aktivitas mental (efek sedative) d. enghilangkan kecemasan (efek trans0uali1er) e. eningkatkan suasana hati (efek euforia), walaupun sejumlah pasien merasakan sebaliknya (efek disforia) f. enghambat pusat respirasi dan batuk (efek depresi respirasi dan antitusif) g. &ada awalnya menimbulkan mual$muntah (efek emetik), tapi pada akhirnya menghambat pusat emetik (efek antiemetik) h. enyebabkan miosis (efek miotik) i. emicu pelepasan hormon antidiuretika (efek antidiuretika) j. enunjukkan perkembangan toleransi dan dependensi dengan pemberian dosis yang berkepanjangan.

". /fek perifer* a. enunda pengosongan lambung dengan kontriksi pilorus b. engurangi motilitas gastrointestinal dan menaikkan tonus (konstipasi spastik) c. 2ontraksi sfingter saluran empedu d. enaikkan tonus otot kandung kencing e. enurunkan tonus vaskuler dan menaikkan resiko reaksi ortostastik f. enaikkan insidensi reaksi kulit, urtikaria dan rasa gatal karena pelepasan histamin, dan memicu bronkospasmus pada pasien asma. D. O"a#$o"a# opioid %an& "iasa di&'nakan dalam anas#esi an#a a lain( ). MO*+IN a. 3armakodinamik /fek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. /fek morfin pada sistem syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. 4igolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (A45). b. 3armakokinetik orfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. orfin juga dapat menembus mukosa. orfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. orfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin. /ksresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat. c. 'ndikasi orfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non$opioid. Apabila nyerinya makin besar dosis yang diperlukan juga semakin besar. orfin sering digunakan untuk meredakan nyeri yang timbul pada infark miokard, neoplasma, kolik renal atau kolik empedu, oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner, perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan, nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.

d. /fek samping /fek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi depresi pernafasan, nausea, vomitus, di11ines, mental berkabut, disforia, pruritus, konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier, retensi urin, dan hipotensi. e. 4osis dan sediaan orfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. orfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 6 jam. 4osis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah #,+$#," mg) kg 77. 8ntuk nyeri hebat pada dewasa +$" mg intravena dan dapat diulang sesuai yang diperlukan. ,. PETIDIN a. 3armakodinamik eperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor 9. Seperti halnya morfin, meperidin (petidin) menimbulkan efek analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas dan efek sentral lainnya. :aktu paruh petidin adalah ; jam. /fektivitasnya lebih rendah dibanding morfin, tetapi lebih tinggi dari kodein. 4urasi analgesinya pada penggunaan klinis ,$; jam. 4ibandingkan dengan morfin, meperidin lebih efektif terhadap nyeri neuropatik. b. &erbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut * +) &etidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air. ") etabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin adalah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang ;#<. 2urang dari +#< petidin bentuk asli ditemukan dalam urin. ,) &etidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia. 6) &etidin menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan. ;) &etidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipotermi dengan dosis "#$"; mg i.v pada dewasa. =) >ama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

c. 3armakokinetik Absorbsi meperidin dengan cara pemberian apapun berlangsung baik. Akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan ' . 2adar puncak dalam plasma biasanya dicapai dalam 6; menit dan kadar yang dicapai antar individu sangat bervariasi. Setelah pemberian meperidin '?, kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam +$" jam pertama, kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. 2urang lebih =#< meperidin dalam plasma terikat protein. etabolisme meperidin terutama dalam hati. &ada manusia meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian mengalami konjugasi. eperidin dalam bentuk utuh sangat sedikit ditemukan dalam urin. Sebanyak +), dari satu dosis meperidin ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N$demitilasi. eperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan metabolik otak, dan tekanan intra kranial. 7erbeda dengan morfin, petidin tidak menunda persalinan, akan tetapi dapat masuk ke fetus dan menimbulkan depresi respirasi pada kelahiran. d. 'ndikasi eperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. &ada beberapa keadaan klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. eperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik. e. 4osis dan sediaan Sediaan yang tersedia adalah tablet ;# dan +## mg . suntikan +# mg)ml, "; mg)ml, ;# mg)ml, @; mg)ml, +## mg)ml. . larutan oral ;# mg)ml. Sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral +## mg. 4osis untuk bayi dan anak . +$+,A mg)kg 77. f. /fek samping /fek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing, berkeringat, euforia, mulut kering, mual$muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi. -. +ENTANIL a. 3armakodinamik %urunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu analgesik, fentanil @;$+"; kali lebih poten dibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan

lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. 3entanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. 2eadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. 3entanil dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan neureptanalgesia. b. 3armakokinetik Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama dengan dengan morfin, tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya. 3entanil dimetabolisir oleh hati dengan N$dealkilase dan hidrosilasidan, sedangkan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin. c. 'ndikasi /fek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. 4osis +$, mg )kg 77 analgesianya hanya berlangsung ,# menit, karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. 4osis besar ;#$+;# mg)kg 77 digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi bensodioa1epam dan inhalasi dosis rendah, pada bedah jantung. Sediaan yang tersedia adalah suntikan ;# mg)ml. d. /fek samping /fek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot. 4osis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin plasma, A45, renin, aldosteron dan kortisol.

KESIMPULAN +. &engaruh dari berbagai obat golongan opioid sering dibandingkan dengan morfin, dan tidak semua obat golongan opioid yang dipasarkan di 'ndonesia. %erbatasnya peredaran obat tersebut tidak terlepas pada kekhawatiran terjadinya penyalahgunaan obat. ". !pioid yang sering digunakan dalam anastesi antara lain adalah morfin, petidin, fentanil. ,. !pioid adalah semua 1at baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin. !pioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan.

DA+TA* PUSTAKA 5. Sardjono, Santoso dan 5adi rosmiati 4, farmakologi dan terapi, bagian farmakologi 32$8', Bakarta, +CC; . hal . +AC$"#=. >atief. S. A, Suryadi 2. A, dan 4achlan @@$A,, +=+. uhardi dan Susilo, Penanggulangan Nyeri Pasca Bedah, 7agian Anestiologi dan %erapi 'ntensif 32$8', Bakarta +CAC, hal . +CC. !morgui, s, Buku Saku Obat-obatan Anastesi, /disi '', /(D, Bakarta, +CC@, hal . "#,$ "#@. Samekto wibowo dan Abdul gopur, farmako terapi dalam neuorologi, penerbit salemba medika . hal * +,A$+6,. Sunatrio. S, ketamin vs Petidin as Analgetic for Tiva ith Propofol , majalah 2edokteran 'ndonesia, vol * 66, nomor * ;, mei +CC6, hal . "@A$"@C. . -, Petunjuk Praktis Anestesiologi, /disi '', 7agian Anestesiologi dan %erapi 'ntensif 32$8', Bakarta, Buni, "##+, hal .