Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pelayanan dan informasi keluarga berencana merupakan suatu intervensi kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta merupakan hak asasi manusia. Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam tekhnologi kontrasepsi, misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosisi rendah pada pil kombinasi, atau dari AKDR inert ke AKDR yang mengeluarkan levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Salah satu alat kontrasepsi yang akan di bahas pada makalah ini adalah tentang IUD / AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah: 1. Apa pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)? 2. Apa saja jenis-jenis kontrasepsi IUD? 3. Bagaimana cara kerja IUD? 4. Apa saja Keuntungan dan Kerugian IUD? 5. Apa indikasi dan kontara indikasi KB IUD? 6. Bagaimana cara pemasangan IUD?

C. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu: 1. Mengetahui pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)? 2. Mengetahui jenis-jenis kontrasepsi IUD? 3. Mengetahui bagaimana cara kerja IUD? 4. Mengetahui Keuntungan dan Kerugian IUD? 5. Mengetahui indikasi dan kontara indikasi KB IUD? 6. Mengetahui cara pemasangan IUD?

BAB II PEMBAHASAN
A. Pembinaan Aseptor KB Melalui Konseling Dalam pembinaan pada akseptor KB sangat penting terutama pada pasangan usia subur yang baru menikah dalam penggunaan alat kontrasepsi dengan tujuan memberikan dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB serta penurunan angka kelahiran yang bermakna. Untuk mencapai tujuan tersebut ada tiga fase, yaitu : a. fase menunda kesuburan yaitu dimana PUS akan menunda kehamilan dengan usia istri kurang dari 20 tahun b. fase menjarangkan kehamilan yaitu menjarangkan kehamilan dengan memberi jarak kelahiran anak 2 4 tahun dan periode usia istri antara 20 30 atau 35 tahun c. fase mengakhiri kesuburan atau kehamilan. yaitu keadaan dimana mengakhiri kesuburan atau kehamilan setelah mempunyai 2 orang anak dengan periode usia istri diatas 30 tahun.

B. IUD 1. Definisi IUD Intra Uterine device (IUD) adalah alat kecil berbentuk-T terbuat dari plastik dengan bagian bawahnya terdapat tali halus yang juga terbuat dari plastik.Sesuai dengan namanya IUD dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Pemasangan bisa dengan rawat jalan dan biasanya akan tetap terus berada dalam rahim sampai dikeluarkan lagi. IUD mencegah sperma tidak bertemu dengan sel telur dengan cara merubah lapisan dalam rahim menjadi sulit ditempuh oleh sperma (Kusmarjadi, 2010). Alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR / IUD ) merupakan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim yang relatif lebih efektif bila dibandingkan dengan metode pil, suntik dan kondom. Alat kontrasepsi dalam rahim terbuat dari plastik elastik, dililit tembaga atau campuran tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas dengan waktu penggunaan dapat mencapai 2-10 tahun, dengan metode kerja mencegah masuknya sprematozoa/sel mani ke dalam saluran tuba. Pemasangan dan pencabutan alat kontrasepsi ini harus dilakukan oleh tenaga medis (dokter atau bidan

terlatih), dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi namun tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar infeksi menular seksual (Imbarwati, 2009). IUD yaitu alat yang terbuat dari plastik yang dimasukkan ke dalam rahim dan mencegah kehamilan dengan cara menganggu lingkungan rahim dan menghalangi terjadinya pembuahan maupun implantasi (ILUNI FKUI, 2010). AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) atau spiral, atau dalam bahasa Inggrisnya Intra-Uterine Devices, disingkat IUD adalah alat yang dibuat dari polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yang ditempatkan di dalam rahim.Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan bisa dilepaskan setiap saat bila klien berkeinginan untuk mempunyai anak.AKDR ini bekerja dengan mencegah pertemuan sperma dengan sel telur (Kusumaningrum, 2009). 2. Jenis-Jenis IUD Jenis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain adalah : a. Copper-T IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus.Lilitan tembaga halus ini mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan) yang cukup baik (Imbarwati, 2009). b. Copper-7 IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama dengan lilitan tembaga halus pada IUD Copper-T (Imbarwati, 2009). c. Multi load IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung bawah 3,6 cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load yaitu standar, small, dan mini (Imbarwati, 2009). d. Lippes loop IUD ini terbuat dari polyethelene, berbentuk huruf spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya Lippes loop terdiri dari

4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning) dan tipe D berukuran 30 mm dan tebal (benang putih). Lippes loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan dari pemakaian IUD jenis ini adalah bila terjadi perforasi, jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastic (Imbarwati, 2009). Spiral bisa bertahan dalam rahim dan menghambat pembuahan sampai 10 tahun lamanya.Setelah itu harus dikeluarkan dan diganti. Bahan spiral yang paling umum digunakan adalah plastic atau plastic bercampur tembaga. Terdapat dua jenis IUD yaitu IUD dengan tembaga dan IUD dengan hormon (dikenal dengan IUS = Intrauterine System). IUD tembaga (copper) melepaskan partikel tembaga untuk mencegah kehamilan sedangkan IUS melepaskan hormon progestin (Kusmarjadi, 2010). Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan dengan cara menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga rahim dan dapat dipakai selama 10 tahun. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya efektif untuk 1 tahun dan dapat digunakan untuk kontrasepsi darurat (ILUNI FKUI, 2010).

3. Cara Kerja IUD Cara kerja kontrasepasi spiral yaitu: a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri c. Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi. d. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi (Muhammad, 2008).

4. Kelemahan dan Kelebihan Intra uterine devise (IUD) memiliki keuntungan yaitu: a. Sangat efektif mencegah kehamilan, sekali pakai terus berfungsi sampai dibuka

b. Sangat efektif. 0,6 - 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan) c. Pencegahan kehamilan untuk jangka yang panjang sampai 5-10 tahun d. Tidak mempengaruhi hubungan seksual e. Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A f. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI g. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi) h. Dapat digunakan sampai menopouse i. Tidak ada interaksi dengan obat-obat j. Membantu mencegah kehamilan ektopik k. Relatif tidak mahal l. Nyaman (tidak perlu diingat-ingat seperti jika memakai pil) m. Dapat dibuka kapan saja (oleh dokter) n. Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi o. Segera berfungsi (AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan) p. Efek samping yang rendah q. Dapat menyusui dengan aman r. Tidak dirasakan oleh pemakai ataupun pasangannya (Kusmarjadi, 2010). s. Sangat efektif (0,5 1 kehamilan per 100 wanita setelah pemakaian selama satu tahun) t. Tidak terganggu faktor lupa u. Metode jangka panjang (perlindungan sampai 10 tahun dengan menggunakan Tembaga T 380A) v. Mengurangi kunjungan ke klinik w. Lebih murah dari pil dalam jangka panjang (Kusumaningrum, 2009).

IUD baik untuk wanita yang: a. Menginginkan kontrasepsi dengan tingkat efektifitas yang tinggi, dan jangka panjang b. Tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan anak

c. Memberikan ASI d. Berada dalam masa postpartum dan tidak memberikan ASI e. Berada dalam masa pasca aborsi f. Mempunyai resiko rendah terhadap PMS g. Tidak dapat mengingat untuk minum sebutir pil setiap hari h. Lebih menyukai untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang memang tidak boleh menggunakannya. i. Yang benar-benar membutuhkan alat kontrasepsi darurat (Kusumaningrum, 2009).

Kelemahan kontrasepsi IUD yaitu: a. Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada infeksi menular b. Efek samping umum terjadi perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar mensturasi, saat haid lebih sakit c. Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar) d. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS e. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti pasangan f. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas g. Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR h. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1 - 2 hari i. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih yang dapat melepas (Muhammad, 2008). j. Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD dipasang segera setelah melahirkan)

k. Perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu (Imbarwati, 2009). Sedangkan efeknya antara lain rasa kram dan sakit pinggang sesaat sampai beberapa jam setelah pemasangan. Beberapa wanita mengalami perdarahan ringan dan nyeri sampai beberapa minggu setelah pemasangan. Kadang haid bisa banyak pada IUD tembaga (Kusmarjadi, 2010). l. Spiral tidak melindungi dari berbagai penyakit yang menular melalui hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS. Bukan hanya itu saja, spiral akan memperparah penyakit Anda, menyebabkan komplikasi-komplikasi serius, seperti radang mulut rahim yang bisa membuat Anda kehilangan kesuburan (mandul) (Zahra, 2008).

Penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada saat : a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil. b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid. c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pascapersalinan; setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). d. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi. e. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi (Imbarwati, 2009).

Kelemahan dari penggunaan IUD adalah perlunya kontrol kembali untuk memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Waktu kontrol IUD yang harus diperhatikan adalah : a. 1 bulan pasca pemasangan b. 3 bulan kemudian c. setiap 6 bulan berikutnya d. bila terlambat haid 1 minggu e. perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya (Imbarwati, 2009).

5. Efek Samping Seminggu pertama, mungkin ada pendarahan kecil.Ada perempuan-perempuan pemakai spiral yang mengalami perubahan haid, menjadi lebih berat dan lebih lama, bahkan lebih menyakitkan. Tetapi biasanya semua gejala ini akan lenyap dengan sendirinya sesudah 3 bulan (Zahra, 2008). Perdarahan dan kram selama minggu-minggu pertama setelah pemasangan.Kadangkadang ditemukan keputihan yang bertambah banyak.Disamping itu pada saat berhubungan (senggama) terjadi expulsi (IUD bergeser dari posisi) sebagian atau seluruhnya.Pemasangan IUD mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman dan dihubungkan dengan resiko infeksi rahim (Kusumaningrum, 2009). Masalah kesehatan yang paling berbahaya akibat pemakaian spiral adalah terjadinya radang mulut rahim.Kebanyakan ini terjadi pada masa 3 bulan pertama, tetapi umumnya bukan akibat spiral itu sendiri.Pada penderitanya sudah terkena infeksi ketika spiral dipasang.Inilah sebabnya Anda harus memeriksakan kondisi seputar vagina dan rahim sebelum memasang spiral, sehingga jika ada tanda-tanda infeksi pemasangan spiral bisa dibatalkan. Jika kondisi mulut rahim biasa-biasa saja tapi tak urung Anda terkena radang juga, barangkali pemasang spiral (perawat, bidan, dokter, atau siapa saja di pos pelayanan KB atau puskesmas) tidak memasang spiral dalam kondisi steril atau benar-benar bersih dan aman. Hati-hatilah memilih di mana saja atau pada siapa meminta layanan ini (Zahra, 2008).

6. Kontra Indikasi Wanita yang boleh menggunakan kontrasepsi IUD yaitu: a. Usia reproduktif b. Keadaan nulipara c. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang d. Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi g. Risiko rendah dari IMS h. Tidak menghendaki metoda hormonal

i. Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari j. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 - 5 hari senggama k. Perokok l. Gemuk ataupun kurus (Muhammad, 2008).

Jangan memakai spiral jika: a. Sedang hamil atau kemungkinan hamil b. Berisiko tinggi terkena penyakit yang menular lewat hubungan seks (bila mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, atau bila suami/pasangan punya pasangan lain) c. Pernah mengalami infeksi saluran peranakan atau rahim, atau infeksi sesudah persalinan/sesudah aborsi d. Pernah hamil di luar rahim (hamil dalam saluran fallopian) e. Mendapat haid yang berat (darah yang keluar sangat banyak) diserat rasa sakit yang hebat f. Sangat kekurangan darah merah (anemia) g. Belum pernah hamil (Zahra, 2008).

Kontra indikasi wanita pengguna kontrasepsi IUD yaitu: a. Hamil atau diduga hamil b. Infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin c. Pernah menderita radang rongga panggul d. Penderita perdarahan pervaginam yang abnormal e. Riwayat kehamilan ektopik f. Penderita kanker alat kelamin (Kusumaningrum, 2009).

Kondisi dimana seorang wanita tidak seharusnya menggunakan IUD adalah : a. Kehamilan b. Sepsis c. Aborsi postseptik dalam waktu dekat d. Abnormalitas anatomi yang mengganggu rongga Rahim e. Perdarahan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya f. Penyakit tropoblastik ganas g. Kanker leher rahim, kanker payudara, kanker endometrium h. Penyakit radang panggul i. PMS (premenstrual syndrome) 3 bulan terakhir dan imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) j. TBC panggul (ILUNI FKUI, 2010).

Wanita yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah: a. Sedang hamil b. Perdarahan vagina yang tidak diketahui c. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis) d. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik e. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat mempengaruhi kavum uteri f. Penyakit trofoblas yang ganas g. Diketahui menderita TBC pelvik h. Kanker alat genital i. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm (Muhammad, 2008).

7. Cara Penggunaan atau Pemasangan IUD dapat dipasang kapan saja selama periode menstruasi bila wanita tersebut tidak hamil.Untuk wanita setelah melahirkan, pemasangan IUD segera (10 menit setelah

pengeluaran plasenta) dapat mencegah mudah copotnya IUD.IUD juga dapat dipasang 4 minggu setelah melahirkan tanpa faktor risiko perforasi (robeknya rahim).Untuk wanita menyusui, IUD dengan progestin sebaiknya tidak dipakai sampai 6 bulan setelah melahirkan.IUD juga dapat dipasang segera setelah abortus spontan triwulan pertama, tetapi direkomendasikan untuk ditunda sampai involusi komplit setelah triwulan kedua abortus.Setelah IUD dipasang, seorang wanita harus dapat mengecek benang IUD setiap habis menstruasi (ILUNI FKUI, 2010).

8. Prosedur Kerja Pemasangan IUD Kebijaksanaan a. Petugas harus siap ditempat. b. Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta. c. Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi. d. Alat-alat yang tersedia : 1) Gyn bed 2) Timbangan berat badan 3) Tensimeter dan stetoskop 4) IUD set steril 5) Bengkok 6) Lampu 7) Kartu KB (kl, K IV) 8) Buku-buku administrasi dan registrasi KB 9) Meja dengan duk steril 10) Sym speculum 11) Sonde Rahim 12) Lidi kipas dan kapas first aid secukupnya. 13) Busi / dilatator hegar 14) Kogel tang 15) Pincet dan gunting

e. Langkah-langkah: 1) Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, efek samping dan cara menanggulangi efek samping. 2) Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan. 3) Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan, mengukur tensimeter. 4) Mempersilakan calon peserta untuk mengosongkan kandung kemih. 5) Siapkan alat-alat yang diperlukan. 6) Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan posisi Lithotomi. 7) Petugas cuci tangan 8) Pakai sarung tangan kanan dan kiri 9) Bersihkan vagina dengan kapas first aid 10) Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan posisi uterus. 11) Pasang speculum sym. 12) Gunakan kogel tang untuk menjepit cervix. 13) Masukkan sonde dalam rahim untuk menentukan ukuran, posisi dan bentuk rahim. 14) Inserter yang telah berisi AKDR dimasukkan perlahan-lahan ke dalam rongga rahim, kemudian plugger di dorong sehingga AKDR masuk ke dalam inserter dikeluarkan. 15) Gunting AKDR sehingga panjang benang 5 cm 16) Speculum sym dilepas dan benang AKDR di dorong ke samping mulut rahim. 17) Peserta dirapikan dan dipersilakan berbaring 5 menit 18) Alat-alat dibersihkan 19) Petugas cuci tangan 20) Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi / dialami setelah pemasangan AKDR dan kapan harus control 21) Membuat nota pelayanan 22) Menyerahkan nota pelayanan kepada peserta untuk diteruskan ke bagian administrasi pelayanan.

23) Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan untuk dilaporkan ke bagian Rekam Medik (Imbarwati, 2009). Catatan : a. Bila pada waktu pamasangan terasa ada obstruksi, jangan dipaksa (hentikan) konsultasi dengan dokter. b. Bila sonde masuk ke dalam uterus dan bila fundus uteri tidak terasa, kemungkinan terjadi perforasi, keluarkan sonde, dan konsultasikan ke dokter. c. Keluarkan sonde dan lihat batas cairan lendir atau darah, ini adalah panjang rongga uterus. Ukuran normal 6 7 cm. d. Bila ukuran uterus kurang dari 5 cm atau lebih dari 9 cm jangan dipasang (Imbarwati, 2009).

9. Prosedur Pencabutan IUD a. Tujuan umum : Agar pasien yang akan melepas AKDR mendapat pelayanan yang cepat, puas, dan sesuai dengan kebutuhan. b. Tujuan khusus : Mempersiapkan ibu agar cepat mengenal efek samping dilepaskan AKDR. c. Kebijaksanaan : 1) Petugas harus siap ditempat 2) Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta. 3) Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi. 4) Alat-alat yang harus tersedia lengkap sesuai dengan standart yang ditentukan : a) Meja dengan alas duk steril. b) Sarung tangan kanan dan kiri c) Lidi kapas, kapas first aid secukupnya. d) Cocor bebek / speculum e) Tampon tang. f) Tutup duk steril g) Bengkok

h) Lampu i) Timbangan berat badan j) Tensimeter dan k) Stetoskop 5) Langkah-langkah : a) Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, efek samping dan cara menanggulangi efek samping. b) Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan. c) Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan, mengukur tensimeter. d) Siapkan alat-alat yang diperlukan. e) Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan posisi Lithomi. f) Bersihkan vagina dengan Lysol g) Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan dan posisi uterus. h) Pasang speculum sym. i) Mencari benang IUD kemudian dilepas dengan tampon tang j) Setelah IUD berhasil dilepas, alat-alat dibereskan. k) Pasien dirapikan kembali l) Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi / dialami setelah AKDR dilepas dan kapan harus control m) Menyerahkan nota pelayanan dan menerima pembayaran sesuai dengan nota n) Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan, register KB untuk dilaporkan ke bagian Rekam Medik (Imbarwati, 2009).

C. Kie Dalam Pelayanan KB Adalah salah satu tahap yang sangat penting dalam asuhan kebidanan khususnya dalam pelayanan keluarga berencana. TUJUAN 1. Memperluas jangkauan program 2. Pembinaan pengelolaan dan peserta 3. Melembagakan penerimaan Harus diketahui betul karakteristik kelompok sasaran, untuk melakukan persiapan diri dan menentukan target KIE yang diharapkan. Indikator keberhasilan KIE dapat dilihat dari : 1. Meningkatnya pelayanan (akses) 2. Meningkatnya kelompok yang menangani masalah KB 3. Meningkatnya peserta baru dan lestari 4. Meningkatnya kesadaran tentang KB 5. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang dampak keberhasilan KB

D. Konseling 1. Definisi Konseling Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh ahli (konselor) kepada individu yang mengalami masalah (klien). Pendekatan yang dilakukan adalah pendedakatan humanistik dan client oriented. Konseling juga berhubungan dengan permalsahan sosial, budaya dan perkembangan selain permasalahan yang berhubungan dengan fisik, emosi dan kelainan

mental.Konseling merupakan pertemuan antara konselor dengan kliennya yang memungkinkan terjadinya dialog dan bukan pemberian terapi atau treatment. 2. Tujuan Konseling Menghapus atau menghilangkan tingkat laku maladaptif (masalah) untuk digantikan denga tingkah laku yang baru yang adaptif yang diinginkan klien. Tujuan konseling adalah : a. Membantu klien memperoleh kesadaran pribadi, dan memahami kenyataan b. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya

c. Mengentaskan ketergantungan pada orang lain d. Meningkatkan kesadaran bahwa masalah dapat diatasi

3.

KONSELING KONTRASEPSI Adalah komunikasi tatap muka dimana satu pihat membantu pihak lain untuk mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut, jelas, tepat dan benar serta kemampuan untuk memahami pihak lain/calon akseptor.

4.

TUJUAN KONSELING KONTRASEPSI a. Memberikan informasi yang tepat lengkap dan obyektif ttg metode kontrasepsi b. Menghilangkan perasaan keragu-raguan c. Membantu klien memilih kontrasepsi yg cocok baginya d. Memberikan informasi ttg berbagai alat dan obat kontrasepsi

5.

TUGAS KONSELOR a. Membuat klien memiliki pengetahuan b. Membantu klien mempertimbangkan keputusannya memilih kontrasepsi c. Memberikan kesiapan psikologis d. Mempertimbang klien apakah memenuhi persyaratan e. Memberikan penjelasan ttg kemungkinan terjadinya efek samping f. Mendokumentasi inform concent/choice g. Menjadwalkan kunjungan ulang/ rujukan klien

6.

JENIS KONSELING a. Konseling awal Dilakukan bagi mereka yang sama belum tahu tentang KB b. Konseling pemilihan cara Dilakukan bagi mereka yang sudah mengerti tentang KB tetapi memerlukan bantuan untuk memilih cara ber KB yang paling cocok untuk dirinya c. Konseling pemantapan Bertujuan agar klien memahami jenis alat kontrasepsi yang cocok baginya dan mengetahui kemungkinan efek samping dan bagaimana cara mengatasinya. Pada konseling ini sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan keterangan diri. d. Konseling pengayoman

Ditujukan untuk mengatasi masalah yang timbul sesudah memakai alat kontrasepsi, misalnya mengalami efek samping. e. Konseling perawatan/pengobatan Dilakukan bagi mereka yang mengalami kegoncangan kejiwwaan karena masalah keluarga yang berkaitan dengan KB atau karea efek penggunaan KB 7. PRINSIP KONSELING a. Layani masing2 klien dngan baik Provider adalah suatu kehormatan, berilah perhatian kepada setiap klien, ciptakan kepercayaan agar klien mau menceritakan hal yang sensitif sekalipun, dan jaminlah klien bahwa rahasia mereka tidak akan diberitakan kepada orang lain. Jawab pertanyaan klien secara lengkap. b. Berinteraksi Dengarkan, pelajari, dan berilah respon kepada klien.Berilah semangat kepada klien agar mau berbicara kepada provider. c. Tujuan informasi kepada klien Pelajari informasi apa yang dibutuhkan klien. Sebagai contoh pasangan muda tentu saja ingin mengetahui bagaimana cara menjarangkan kelahiran setelah kelahiran anak pertama mereka. d. Hindari informasi yang berlebihan Jangan memberikan informasi yang berlebihan.Pilihlah informasi yang benar-benar diperlukan klien. Memberikan informasi yang berlebihan akan membuat klien kesulitan mengingatnya. e. Layani metode yang diinginkan oleh klien Provider membantu klien menentukan pilihannya.Jika klien telah memutuskan suatu metode tertentu, bantulah klien agar mempunyai kesiapan untuk menggunakannya meliputi keuntungan dan kerugian. Tawarkan juga metode lain yang lebih baik sesuai kondisinya. Klien yang memilih sendiri setelah mendapatkan informasi yang tepat biasanya akan menggunakan alat kontrasepsi tersebut dalam waktu lama. f. Bantu klien siap dan mengingat Tunjukkan contoh-contoh agar klien mudah mengingat.Biarkan klien memegang. Gunakan alat bantu seperti flipchart, poster, atau leaflet sederhana.

8. ENAM TOPIK Konseling Bidang Kepada Calon Akseptor : a. b. c. d. e. f. Efektifitas suatu metode Untung ruginya Efek samping dan komplikasinya Cara menangani efek samping Bagaimana cara mencegah Infeksi Menular Seksual Kapan klien harus kembali

9. LANGKAH LANGKAH KONSELING : Dikenal dengan GATHER : G : Greeting klien A : Ask client about themselves T : Tell client about choices H : Help client make an informed choices E : Explain fully how to use the choosen method R : Return visits shoud be celcome Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan SATU TUJU : Sapa Salam klien Tanyakan klien Uraikan kepad klien Batu klien menentukan pilihannya Jelaskan Ulangi kunjungan

E. Sikap Petugas Kesehatan Dalam Melakukan Konseling Yang Baik Terutama Bagi Calon Klien Kb Baru 1. Memperlakukan klien dengan baik Petugas bersikap sabar, memperlihatkan sikap menghargai setiap klien, dan menciptakan suatu rasa percaya diri sehingga klien dapat berbicara secara terbuka dalam segala hal termasuk masalah-masalaah pribadi sekalipun. Petugas meyakinkan klien bahwa ia tidak akan mendiskusikan rahasia klien dengan orang lain.

2. Interaksi antara petugas dank lien Petugas harus mendengarkan, mempelajari dan menaggapi keadaan klien karena setiap klien mempunyai kebutuha dan tujuan reproduksi yanh berbeda. Bantuan terbaik seorang petugas adalah dengan dengan cara memahami bahwa klien adalah manusia yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Oleh karenan itu, petugas harus mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya. 3. Memberikan informasi yang baik dan benar kepada klien Dengan mendengarkan apa yang disampaikan klien berarti petugas belajar mendengarkan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh setiap klien. Sebagai contoh pasangan muda yang baru menikah mungkin menginginkan lebih banyak informasi mengenai masalah penjarangan kelahiran. 4. Menghindari pemberian informasi yang berlebihan Klien membutuhkan penjelasan yang cukup dan tepat untuk menentukan pilihan (informed choice). Namun tidak semua klien dapat menangkap semua informasi tentang berbagai jenis kontrasepsi. Terlalu banyak informasi yang diberikan akan menyebabkan kesulitan bagi klien dalam mengingat informasi yang penting. Hal ini disebut kelebihan informasi.Pada waktu memberikan informasi petugas harus memberikan waktu bagi klien untuk berdiskusi, bertanya, dan mengajukan pendapat. 5. Membahas metode yang diingini klien Petugas membantu klien membuat keputusan mengenai pilihannya, dan harus tanggap terhadap pilihan klien meskipun klien menolak memutuskan atau menangguhkan penggunaan kontrasepsi. Di dalam melakukan konseling petugas mengkaji apakah klien sudah mengerti mengenai jenis kontrasepsi, termasuk keuntungan dan kerugiannya serta bagaimana cara penggunaannya. Konseling mengenai kontrasepsi yang dipilih dimulai dengan mengenalkan berbagai jenis kontrasepsi dalam program Keluarga Berencana. Petugas mendorong klien untuk berpikir melihat persamaan yang ada dan membandingkan antar jenis kontrasepsi tersebut. Dengan cara ini petugas membantu klien untuk membuat suatu pilihan (informed choice). Jika tidak ada halangan dalam bidang kesehatan sebaiknya klien mempunyai pilihan kontrasepsi sesuai dengan pilihannya.Bila memperoleh

pelayanan kontrasepsi sesuai dengan yang dipilihnya. Klien akan menggunakan kontrasepsi tersebut lebih lama dan lebih efektif. 6. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat Petugas memberi contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan pada klien agar memahaminya dengan memperlihatkan bagaimana cara-cara penggunaannya. Petugas juga memperlihatkan dan menjelaskan dengan flip charts, poster, pamphlet, atau halaman bergambar. Petugas juga perlu melakukan penilaian bahwa klien telah mengerti.Jika memungkinkan, klien dapat membawa bahan-bahan tersebut ke rumah. Ini akan membantu kilen mengingat apa yang harus dilakukan juga dapat membari tahu kepada orang lain.

Langkah-Langkah Konseling KB (SATU TUJU) Dalam memberikan konseling, khususnya bagi calon klien KB yang baru, hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang sudah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU.Penerapan SATU TUJU tersebut tidak perlu dilakukan secara berurutan karena petugas harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien.Beberapa klien

membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah yang satu disbanding dengan langkah yang lainnya. Kata kunci SATU TUJU adalah sebagai berikut: a. SA: SApa dan Salam kepada klien secara terbuka dan sopan. Berikan perhatian sepenuhnya kepada mereka dan berbicara di tempat yang nyaman serta terjamin privasinya. Yakinkan klien untuk membangun rasa percaya diri. Tanyakan kepada klien apa yang perlu dibantu serta pelayanan apa yang dapat diperoleh. b. T: Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien untuk berbicara mengenai pengalaman Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, tujuan, kepentingan, harapan, serta keadaan kesehatan dan kehidupan keluarganya. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan oleh klien. Berikan perhatian kepada klien apa yang disampaikan klien sesuai dengan kata-kata, gerak isyarat dan caranya. Coba tempatkan diri kita di dalam hati klien. Perlihatkan bahwa kita memahami. Dengan memahami pengetahuan, kebutuhan dan keinginan klien, kita dapat membantunya.

c. U: Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa pilihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis kontrasespsi. Bantulah klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia ingini, serta jelaskan pula jenis-jenis kontrasepsi lain yang ada. Juga jelaskan alternative kontrasepsi lain yang mungkin diingini oleh klien. Uraikan juga mengenai rediko penularan HIV/ AIDS dan pilihan metode ganda. d. TU: BanTUlah klien menentukan pilihannya. Bantulah klien berpikir mengenai apa yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Doronglah klien untuk menunjukkan keinginannya dan mengajukan pertanyaan. Tanggapilah secara terbuka. Petugas membantu klien mempertimbangkan kriteria dan keinginan klien terhadap setiap jenis kontrasepsi. Tanyakan juga apakah pasangannya akan memberikan dukungan dengan pilihan tersebut. Jika memungkinkan diskusikan mengenai pilihan tersebut kepada pasangannya. Pada akhirnya yakinkan bahwa klien telah membuat suatu keputusan yang tepat. Petugas dapat menanyakan: Apakah Anda sudah memutuskan pilihan jenis kontrasepsi? Atau apa jenis kontrasepsi terpilih yang akan digunakan? e. J: Jelasakan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya. Setelah klien memilih jenis kontrasepsi, jika diperlukan, perlihatkan alat/ obat kontrasepsi. Jelaskan bagaimana alat/ obat kontrasepsi tersebut digunakan dan bagaimana cara penggunaannya. Sekali lagi doronglah klien untuk bertanya dan petugas menjawab secara jelas dab terbuka. Beri penjelasan juga tentang manfaat ganda metode kontrasepsi, misalnya kondom yang dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS). Cek pengetahuan klien tentang penggunaan kontrasepsi pilihannya dan puji klien apbila dapat menjawab dengan benar. f. U: Perlunya dilakukan kunjungan Ulang. Bicarakan dan buatlah perjanjian kapan klien akan kembali untuk melakukan pemeriksaan lanjutan atau permintaan kontrasepsi jika dibutuhkan. Perlunya juga selalu mengingatkan klien untuk

kembali apabila terjadi suatu masalah.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas, kesimpulan umum yang dapat diambil tentang AKDR/IUD adalah sebagai berikut :

AKDR merupakan alat kontrasepsi modern AKDR merupakan alat kontrasepsi jangka panjang AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan yang benar AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan pertama

Kemungkinan terjadi perdarahan atau spoting beberapa hari setelah pemasangan Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih banyak dan lama AKDR tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk Virus AIDS

B. Saran Bila Anda ingin menghentikan pemakaian spiral, segera kunjungi pekerja kesehatan yang memasangnya, atau yang terlatih. Jangan mencoba mencopot spiral sendiri di rumah.

DAFTAR PUSTAKA
Saifudin, dkk (Ed). 2006. Buku Panduan praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo Diposkan oleh RUSLI A. KATILI di 04.47 http://ruslicakulyankb.blogspot.com/2011/04/kiedalam-pelayanan-kb.html
http://tiangayu.blogspot.com/2012/07/makalah-kb-iud_13.html