Anda di halaman 1dari 8

A. Tujuan Menetapkan kandungan zat pewarna dalam saus B.

Prinsip Dasar Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip partisi dan adsorpsi secara selektif karena adanya perbedaan daya serap terhadap adsorben dan kelarutan komponen kimia terhadap cairan pengelusi. C. Dasar Teori Warna merupakan salah satu faktor sensori yang dipakai oleh manusia untuk menilai suatu produk atau keadaan lingkungan. Khusus dalam hal makanan, warna mempunyai tempat tersendiri yang cukup penting dalam penilaian kosumen. Hasil suatu penelitian menunjukkan bahwa warna untuk makanan menempati urutan kedua dari kriteria penilaian, yaitu setelah kesegaran makanan. Selanjutnya baru diikuti oleh bau, rasa, komposisi, nilai gizi dan seterusnya. Meskipun nilai gizi makanan merupakan faktor yang amat penting, dalam kenyataannya daya tarik suatu jenis makanan lebih dipengaruhi oleh penampakan, bau dan rasanya. Penggunaan pewarna makanan telah banyak memperoleh sorotan baik di luar negeri maupun di dalam negeri sehubungan dengan segi-segi keamanannya. Tidak dapat disangkal bahwa pewarna makanan tidak berperan dalam memperbaiki nilai gizi makanan kecuali beta-karoten, apo-karotenal dan riboflavin; dan juga sama sekali tidak diperlukan untuk survival, akan tetapi ditinjau dari sudut estetika bahan pewarna ini amat penting. ada masa kini pewarna makanan pada umumnya digunakan dengan tujuan-tujuan sebagai berikut : 1. Memperbaiki penampakan dari makanan yang warnanya memudar akibat proses termal atau yang warnanya diperkirakan akan menjadi pudar selama penyimpanan, misalnya sayuran. 2. Memperoleh warna yang seragam pada komoditi yang warna alamiahnya tidak seragam. Dengan penambahan pewarna diharapkan penampakan produk tersebut akan lebih seragam dengan demikian penerimaan produk

tersebut oleh konsumen juga akan lebih mantap. Contoh : pewarnaan kulit jeruk. 3. Memperoleh warna yang lebih tua dari aslinya. Misalnya pada produkproduk seperti minuman ringan dan yogurt yagn diberi tambahan flavor tertentu konsumen seringkali mengasosiasikan flavor tersebut dengan suatu warna yang khas. 4. Melindungi zat-zat flavor dan vitamin-vitamin yang peka terhadap cahaya selama penyimpanan. Dalam hal ini pewarna tersebut berfungsi sebagai penyaring cahaya/tirai yang menghambat masuknya cahaya. 5. Memperoleh penampakan yang lebih menarik dari bahan aslinya, misalnya pewarnaan agar-agar. 6. 7. Untuk identifikasi produk, misalnya margarin berwarna kuning. Sebagai indikator visual untuk kulitas. Sehubungan dengan ini pewarna juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses pengolahan, penyimpanan dan pengawasan kualitas. Zat warna makanan secara umum dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : zat warna alami, zat warna yang identik dengan zat warna alami, dan zat warna sintetis. a. Zat warna alami Zat warna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari tumbuhan, hewan, atau dari sumber-sumber mineral. Contohnya Karotenoid, Antosianin, Kurkumin, Biksin b. Zat Warna yang Identik dengan Zat Warna Alami Zat warna ini masih satu golongan dengan kelompok zat warna alami, hanya zat warna ini dihasilkan dengan cara sintesis kimia, bukan dengan cara ekstraksi atau isolasi. ng termasuk golongan ini adalah karotenoid murni antara lain canthaxanthin (merah), apo-karoten (merah-oranye), beta-karoten (oranye-kuning). Semua pewarna-pewarna ini memiliki batas-batas

konsentrasi maksimum penggunaan, terkecuali beta-karoten yang boleh digunakan dalam jumlah tidak terbatas.

c. Zat Warna Sintetis Zat warna sintetik ditemukan oleh William Henry Perkins tahun 1856, zat pewarna ini lebih stabil dan tersedia dari berbagai warna. Zat warna sintetis mulai digunakan sejak tahun 1956 dan saat ini ada kurang lebih 90% zat warna buatan digunakan untuk industri makanan. Salah satu contohnya adalah tartrazin, yaitu pewarna makanan buatan yang mempunyai banyak macam pilihan warna, diantaranya Tartrazin CI 19140. Selain tartrazin ada pula pewarna buatan, seperti sunsetyellow FCF (jingga), karmoisin (Merah), brilliant blue FCF (biru). Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi cair yang paling sederhana. Pada Kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas serupa dalam hal fase diamnya berupa lapisan tipis dan fase geraknya mengalir karena kerja kapiler. Perbedaannya dalam sifat dan fungsi fase diam. Pada KLT, fase cair lapisan tipis (tebal 0,1-2 mm) yang terdiri dari bahan padat yang dilapiskan kepada permukaan penyangga datar yang biasanya terbuat dari kaca, tapi dapat pula terbuat dari pelat polimer atau logam. Lapisan melekat kepada permukaan dengan bantuan bahan pengikat, biasanya CaSO4 atau amilum (pati). Pada KLT, zat penyerap merupakan lapisan tipis serbuk halus yang dilapiskan pada lempeng kaca, plastik atau logam secara merata, umumnya digunakan lempeng kaca. Lempeng yang umumnya dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan yang tercapai dapat didasarkan pada adsorbsi, partisi atau kombinasi kedua efek, tergantung dari jenis zat penyangga, cara pembuatan dan jenis pelarut yang digunakan. KLT dengan lapis tipis penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan bercak dengan harga Rf yang identik dan ukuran hampir sama, dengan menotolkan zat uji dan baku pembanding pada lempeng yang sama. Perbandingan visual ukuran bercak yang dapat digunakan untuk memperkirakan kadar secara semikuantitatif. Titik tempat campuran ditotolkan pada ujung pelat atau lembaran disebut titik awal dengan cara menempatkan cuplikan itu disana disebut penotolan. Garis depan pelarut adalah bagian atas fase gerak atau pelarut ketika ia bergerak melalui

lapisan, dan setelah pengembangan selesai , merupakan tinggi maksimum yang diperoleh pelarut. Perilaku senyawa tertentu di dalam sistem kromatografi tertentu dinyatakan dengan harga Rf. Angka ini diperoleh dengan membagi jarak yang ditempuh oleh bercak linarut dengan jarak yang ditempuh oleh garis depan pelarut. Keduanya diukur dari titk awal dan harga Rf beragam mulai dari 0 sampai 1. Karmin merupakan bentuk pewarna cochineal lebih murni (lake asam karminat). Karmin diperoleh dengan cara mengekstraksi asam karminat, kemudian dilapisi dengan aluminium. Karmin digunakan untuk melapisi bahan protein yang diproses dengan menggunakan retort dan memberikan lapisan merah jambu (winarno 2008). Asam karminat dan karmin stabil terhadap sinar tetapi tidak stabil terhadap panas, ph dan iradiasi. Warna larutan asam karminat dipengaruhi oleh nilai ph. Pada ph rendah (kondisi asam) memberikan warna jingga sementara itu pada ph tinggi (kondisi basa) memberikan warna violet. Karmin digunakan untuk melapisi bahan berprotein dan memberikan lapisan warna merah pada jambu. Struktur kimia karmin:

D. Alat dan Bahan Alat : Chamber Siliki gel GF 254 Statif Klem bulat Corong pisah Klem bulat Bahan : Sampel (saus bantal) Amonium Asam asetat Etanol 96% Butanol Aquadest

Labu ukur 100 ml Gelas kimia 100 ml Gelas ukur 10 ml Gelas ukur 100 ml Benang wol 15 cm (warna putih) Botol semprot Pensil Penggaris Batang pengaduk Statif

Karmin PA

E. Prosedur Kerja 1. Preparasi Sampel


benang wol masukkan dalam sampel

sampel

(+) 25 ml NH4OH

masukkan benang wol ke dalam gelas kimia 100 ml

ambil benang wol, cuci berulang-ulang dengan air hingga bersih

panaskan di atas api sambil diaduk-aduk 10 menit

(+) larutan asam asetat encer

panaskan di atas penangas air sampai zat warna pada benang wol luntur

ambil benang wol dan saring larutan berwarna, dan uapkan larutan yang mengandung pewarna

2. Uji Kualitatif zat pewarna

Identifikasi analit dilakukan dengan menggunakan plat silika GF254 dengan ukuran 10 cm x 2 cm

sebelumnya lakukan penjenuhan chamber terlebih dahulu

analit ditotolkan pada plat dengan jarak 1 cm dari garis bawah dan 1 cm dari garis atas

totolkan juga zat pembanding dengan pipa kapiler

Noda yang terbentuk diukur nilai Rfnya

Setelah eluen sampai pada garis batas, elusi dihentikan

elusi dengan menggunakan eluen nbutanol:etanol: air (5:1,4:1)

F. Data Hasil Praktikum

Keterangan: A : noda standar B : noda sampel Rf standar = Rf sampel = G. Pembahasan

Pada percobaan ini dilakukan identifikasi karmin dengan menggunakan kromatografi lapis tipis berdasarkan kecepatan partisi dan adsorbsi dari zat uji ke dalam eluen, dengan parameter Rf dari noda yang terbentuk. Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Pada praktikum kromatografi lapis tipis ini, sampel yang digunakan adalah saus. Zat warna yang diduga terdapat dalam saus adalah karmin. Karmin merupakan zat warna sintetis yang dilarang penggunaanya dalam bahan tambahan pangan. Penggunaan zat warna sintetis dapat menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada fungsi hati dalam tubuh kita. Sebelum melakukan proses KLT, dilakukan terlebih dahulu preparasi sampel untuk memisahkan zat warna dengan komponen-komponen lainnya yang terdapat dalam saus. Sampel ditambahkan dengan amonium hidroksida 2% (dilarutkan dalam etanol 70%), penambahan amonium hidroksida 2% bertujuan untuk memisahkan zat warna yang terikat pada komponen penyusun saus lainnya. Masukkan benang wool yang bebas lemak. Penggunaan benang wool sendiri digunakan untuk mengadsorpsi zat warna. Benang wool yang digunakan harus bebas lemak karena jika lemak tersebut bisa menjadi barrier pada saat ekstraksi zat warna. Kemudian didihkan, tujuannya untuk mempercepat proses adsorpsi zat warna ke dalam benang wool. Benang wool yang sudah didihkan, dicuci menggunakan aquadest berulang-ulang. Tujuannya untuk menghilangkan

senyawa-senyawa lain yang menenpel pada benang wool. Tambahkan asam asetat 10% untuk melarutkan zat warna yang ada dalam benang wool. Fase diam yang digunakan pada KLT adalah silika gel. Silika gel digunakan sebagai adsorben untuk kromatografi senyawa-senyawa netral, asam dan basa. Selain itu silika gel mempunyai efek pemisahan melalui proses adsorbsi dan partisi. Silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Permukaan silika gel sangat polar, gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawasenyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Walls dan atraksi dipol- dipol. Sebelum dilakukan uji KLT, chamber yang berisi eluen harus dijenuhkan. Alasan dilakukan penjenuhan adalah agar tekanan dalam chamber sama, sehingga

noda yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan. selain itu untuk mencegah terjadinya tailing. Eluen yang digunakan adalah butanol : etanol : air (5 : 1,4 : 1). Pemilihan eluen ini didasarkan pada sifat dari senyawa yang akan ditentukan yaitu semi polar. Berdasarkan data hasil praktikum dan perhitungan didapat nilai Rf standar 0,718 dan Rf sampel 0,410. Hal ini menunjukan bahwa sampel tidak mengandung pewarna karmin, sehingga aman untuk dikonsumsi.

H. Kesimpulan Berdasarkan data hasil praktikum dan perhitungan didapat nilai Rf standar 0,718 dan Rf sampel 0,410. Hal ini menunjukan bahwa sampel tidak mengandung pewarna karmin, sehingga aman untuk dikonsumsi.

I. Daftar Pustaka Akbari, Imam. 2012. Identifikasi Jajanan Anak Sekolah Dasar Kencana Jakarta Pusat Yang Mengandung Rhodamin B dan Methanil YellowSkripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: Depok. Mamoto, Lidya Valda, dan Fatimawali G. C. 2013. Analisis Rhodamin B Pada Lipstik Yang Beredar Di Pasar Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi vol. 2 No. 02. UNSRAT.