Anda di halaman 1dari 62

ANALISIS PENGARUH KELENGKAPAN SUMBER BELAJAR DAN KEMANDIRIAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS IX SMP

NEGERI 10 PRABUMULIH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Pendidikan akan menjadi modal bangsa untuk menjadi lebih maju dan berkembang ke arah yang lebih baik lagi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 263) disebutkan bahwa Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2005: 10) Pendidikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga dapat menambah pemahaman dan mengubah cara tingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan tiap individu. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sejalan dengan perkembangan jaman ke arah globalisasi diperlukan adanya sumber daya manusia yang berkualitas dalam segala bidang kehidupan. Dengan adanya globalisasi tersebut maka pendidikan mempunyai peranan penting dalam mencetak sumber daya manusia yang cakap, terampil, dan handal sesuai dengan bidang yang dimilikinya. Mengingat arti pentingnya pendidikan, maka sekarang ini pemerintah sangat memperhatikan pembangunan di bidang pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Selain itu, upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperkuat sistem pendidikan nasional dalam pembangunan pendidikan adalah dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
1

Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang tersebut disebutkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah sebagai berikut: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Dengan adanya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di atas, jelas bahwa pemerintah berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan menyelenggarakan pendidikan nasional yaitu pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman. Pendidikan nasional merupakan upaya pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan baik untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga melalui pendidikan nasional diharapkan potensi peserta didik berkembang sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan ada peningkatan taraf hidup manusia kearah yang lebih baik.

Pendidikan yang ada akan mewujudkan manusia pembangunan yang dapat diandalkan. Kurikulum dibuat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam kurikulum pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi ada muatan yang wajib dicantumkan, salah satunya adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pembelajaran merupakan proses dimana manusia belajar dengan lebih luas. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Di dalam proses pembelajaran ini manusia melakukan aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan membekas (W.S. Winkel, 1991: 36). Pendapat yang lain menyatakan learning is the process by which an organism changes its behaviour as a result of experience (Maltby, 1995: 219). Artinya bahwa belajar adalah suatu proses dari perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman. Tujuan setiap proses pembelajaran adalah diperolehnya hasil yang optimal. Dengan optimalisasi proses pembelajaran tersebut diharapkan para peserta didik dapat meraih prestasi belajar yang optimal dan memuaskan (Yulianto Bambang Setyadi, 2002: 160). Untuk mendukung tercapainya keberhasilan atau prestasi yang baik bagi siswa, salah satunya adalah dengan belajar. Keberhasilan dan kegagalan belajar ditandai dengan prestasi yang muncul setelah melakukan suatu usaha pembelajaran. Kualitas pendidikan erat sekali hubungannya dengan prestasi belajar. Prestasi belajar yang dicapai setiap siswa tidaklah sama, ada yang mencapai prestasi tinggi, sedang, dan rendah. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor-faktor yang

mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat serta faktor-faktor baik itu eksternal maupun internal. Demikian juga yang dialami dalam memperoleh prestasi belajar. Pencapaian prestasi yang tinggi dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebagaimana diungkapkan oleh Slameto (2003: 54): Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kutipan Slameto di atas bahwa prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam individu siswa dan faktor dari luar individu siswa. Faktor dari dalam individu siswa meliputi faktor psikologis antara lain kemandirian belajar, minat, kecerdasan, bakat, motivasi, kedisiplinan belajar, dan lain-lain. Sedangkan factor dari luar individu siswa misalnya meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial serta instrument yang berupa kurikulum, program, sarana, fasilitas dan juga guru. (Slameto, 2003: 54). Prestasi belajar seseorang pada dasarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait satu dengan yang lain. Sehingga tidak ada faktor tunggal yang secara otomatis dan berdiri sendiri mempengaruhi dan menentukan prestasi belajar seseorang. Seperti kelengkapan sumber belajar yang merupakan factor eksternal dalam diri siswa dan kemandirian siswa yang merupakan faktor internal dari dalam diri siswa. Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2003: 77) sumber belajar adalah segala daya yang dapat dimanfaatkan guna memberikan kemudahan kepada seseorang dalam belajarnya. Sumber belajar itu dapat berupa media atau alat bantu belajar serta

bahan baku penunjang. Seperti contoh guru, buku pelajaran, majalah, koran, televisi, dan internet. Sedangkan faktor lain yaitu kemandirian siswa menurut Suharsimi Arikunto (1990: 108), merupakan kemampuan siswa untuk melakukan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas dan tanggung jawab siswa tanpa tergantung orang lain. Seorang anak yang memiliki kemandirian belajar, akan mampu bertanggung jawab, berani menghadapi masalah dan resiko serta tidak mudah terpengaruh atau tergantung kepada orang lain. Dengan kemandirian belajar diharapkan siswa lebih banyak belajar sendiri dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain, karena itu siswa perlu memiliki kemauan yang kuat dan disiplin yang tinggi dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Kemauan yang keras akan mendorong siswa untuk tidak lekas putus asa dalam menghadapi kesulitan, sedangkan disiplin tinggi diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Jadi kemandirian adalah suatu kecenderungan menggunakan kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan masalah secara bebas, progresif dan penuh inisiatif tanpa tergantung pada orang lain. Salah satu indikator kemandirian siswa adalah mau mencari sumber belajar lain. Kelengkapan fasilitas belajar dan kemandirian siswa disatu sisi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, namun kelengkapan sumber belajar saja atau kemandirian siswa ternyata tidak menjamin peningkatan prestasi belajar siswa. Terbukti banyak sekolah yang menyedikan kelengkapan sumber belajar tidak disertai dengan prestasi siswa yang gemilang bila tidak diikuti dengan kemandirian siswa, sebaliknya kemandirian siswa tidak dapat meningkatkan prestasi belajar bila tidak diikuti dengan kelengkapan sumber belajar. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kemandirian belajar. Menurut Good dalam Slameto yang dikutip dari,

http://www.smadwiwarna.net/website/data/artikel/kemandirian.htm,

kemandirian

belajar adalah belajar yang dilakukan dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan dari pihak luar. Sedangkan menurut Shirley Gould yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto (1995:108) independence adalah fredoom from dependence dan sebagai exemption from realiance on, or control by, others. Mandiri diartikan sebagai suatu keadaan yang bebas dari ketergantungan kepada orang lain atau dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kemandirian berarti kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan bebas dari ketergantungan dari orang lain. Sehingga belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri, melainkan suatu prinsip belajar yang bertumpu pada kegiatan dan tanggung jawab siswa sendiri bukan suruhan atau anjuran orang lain. Sejauh ada motivasi diri yang mendorong kegiatan belajar dengan demikian maka ia akan dapat mencapai keberhasilan dari belajarnya. Sedangkan menurut Jacob Utomo yang dikutip dari http: // www.smadwiwarna.net / website / data / artikel / kemandirian.htm, Kemandirian adalah mempunyai kecenderungan bebas berpendapat. Kemandirian merupakan suatu kecederungan menggunakan kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan suatu masalah secara bebas, progresif, dan penuh dengan inisiatif. Pendapat ini diartikan bahwa seseorang yang mempunyai kemandirian akan bertanggungjawab dan tidak tergantung kepada orang lain. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kemandirian belajar merupakan faktor penting yang harus dimiliki oleh siswa dalam proses belajar pembelajaran dan jelas akan memperbaiki mutu dari proses belajar tersebut karena sarana prasaran atau fasilitas untuk mendukung keberhasilan kegiatan tersebut. Selain mendukung tercapainya prestasi siswa yang tinggi, fasilitas belajar yang ada di sekolah berperan dalam dalam upaya meningkatkan citra sekolah di mata masyarakat. Hal tersebut sebagimana dikutip dari http: //yudhistira31.wordpress.com /2011/08/12/

fasilitas-sekolah-citra-sekolah konsep-mencari-ilmu/12 Agus 2011, Banyak sekolah dalam belajar yang diikuti kemandirian, siswa akan melakukan kegiatan belajarnya dengan penuh tanggung jawab, kemauan yang kuat dan memiliki disiplin yang tinggi sehingga hasil belajar akan dapat dicapai dengan maksimal. Selain faktor kemandirian belajar di atas, faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah fasilitas belajar. Fasilitas belajar sendiri adalah satu dari sekian banyak faktor ekstern yang mempunyai pengaruh terhadap prestasi siswa. Setiap kegiatan pastinya membutuhkan adanya yang berlomba melengkapi dan

memodernisasi fasilitas belajar-mengajar, bahkan dengan sarana yang memanfaatkan teknologi canggih, seperti: kelas dengan perlengkapan multimedia, sarana olahraga yang sedang populer, laboratorium komputer dan bahasa, absensi elektronik, laboratorium IPA & Fisika, hingga amphitheatre, dan lain-lain. Dari kutipan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa semakin lengkap fasilitas yang dimiliki oleh sekolah maka hasil belajar yang dicapai siswa juga akan semakin baik. Fasilitas belajar yang lengkap dan memadai akan mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar lebih giat. Dengan penyediaan fasilitas belajar yang lengkap dan memadai maka diharapkan siswa akan selalu terdorong untuk belajar. Kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa disatu sisi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, namun kelengkapan sumber belajar saja atau kemandirian siswa ternyata tidak menjamin peningkatan prestasi belajar siswa. Terbukti banyak sekolah yang menyedikan kelengkapan sumber belajar tidak disertai dengan prestasi siswa yang gemilang bila tidak diikuti dengan kemandirian siswa, sebaliknya kemandirian siswa tidak dapat meningkatkan prestasi belajar bila tidak diikuti dengan kelengkapan sumber belajar.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ANALISIS PENGARUH KELENGKAPAN SUMBER BELAJAR DAN KEMANDIRIAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 10 PRABUMULIH

1.2. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, penulis dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut: 1. Kurangnya kemandirian siswa dalam belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. 2. Adanya kelengkapan dan ketersediaan fasilitas belajar dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. 3. Motivasi belajar siswa yang tinggi terhadap pelajaran tertentu berpengaruh terhadap tingginya prestasi belajar siswa pada pelajaran tersebut. 4. Kurang adanya minat siswa untuk belajar berpengaruh pada hasil belajar siswa. 5. Kedisiplinan siswa yang kurang dalam belajar berpengaruh terhadap prestasi siswa. 6. Kemampuan guru dalam mengajar di kelas berpengaruh terhadap prestasi siswa.

1.3. Perumusan Masalah Perumusan masalah merupakan hal yang penting yang nantinya akan menjadi penunjuk arah untuk merumuskan suatu hipotesis. Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara kelengkapan sumber belajar dengan prestasi belajar IPS pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih tahun ajaran 2011/2012 ? 2. Adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara kemandirian siswa dengan

prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih tahun ajaran 2011/2012 ? 3. Adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa secara bersama-sama terhadap prestasi belajar IPS pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih tahun ajaran 2011/2012 ?

1.4. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah hal yang sangat penting. Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai (Suharsimi Arikunto, 2002: 51). Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara kelengkapan sumber belajar dengan prestasi belajar IPS. 2. Untuk mengetahui adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara kemandirian siswa dengan prestasi belajar IPS 3. Untuk mengetahui adakah pengaruh yang positif dan signifikan antara kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan.

1.5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, maka adapun manfaat yang akan diperoleh yaitu : 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan pemikiran yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. 2. Manfaat Praktis Sebagai sarana bagi penulis untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi para pihak yang berkepentingan dengan penelitian ini antar lain : a. Siswa Memberi masukan kepada siswa agar dapat memanfaatkan sumber belajar dengan optimal dan lebih mandiri, sehingga dapat tercapai prestasi belajar yang baik. b. Guru dan Sekolah Memberikan masukan kepada guru dan sekolah agar lebih memperhatikan kelengkapan sumber belajar dan membangkitkan kemandirian siswa agar tercapai prestasi belajar yang optimal. c. Pembaca Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai masukan bagi orang tua agar lebih memberikan perhatian dan dukungan kepada siswa dalam kegiatan belajar siswa.

10

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Tinjauan Tentang Kelengkapan Sumber Belajar a. Pengertian Sumber Belajar Belajar mengajar merupakan proses yang tidak terlepas dari komponenkomponen yang saling berinteraksi. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Dalam batas-batas tertentu manusia dapat belajar dengan sendiri dan mandiri tanpa bantuan orang lain, namun dalam batas-batas tertentu manusia dalam belajar memerlukan bantuan pihak lain. Hadirnya orang lain dalam pembelajaran dimaksudkan agar belajar menjadi lebih mudah, lebih efektif, lebih efisien dan mengarah pada tujuan, upaya inilah yang dimaksud dengan pembelajaran. Pembelajaran yang baik belum dapat menjamin baiknya prestasi belajar, masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar, diantaranya adalah peserta didik itu sendiri. Hakekatnya pembelajaran secara umum dilukiskan Gagne sebagai upaya yang tujuannya adalah membantu orang belajar. Peristiwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar. Dalam pengertian sederhana, sumber belajar adalah guru dan bahanbahan pengajaran atau bahan pelajaran, baik buku-buku bacaan atau semacamnya. Dalam arti luas yang dimaksud sumber belajar adalah segala daya yang dapat digunakan untuk kepentingan proses atau aktifitas pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung, diluar diri peserta didik (lingkungan) yang melengkapi diri mereka pada saat pengajaran berlangsung. Mulyasa berpendapat bahwa "sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses belajar

11

mengajar" (Mulyasa, 2002: 48). Suatu sumber belajar adalah "suatu lingkungan belajar yang dirancang khusus, dengan maksud membangkitkan semangat siswa untuk menggunakan berbagai media pembelajaran, mengajak mereka untuk terlibat dalam kegiatan belajar yang berubah-ubah dan dapat menerima tanggung jawab yang lebih besar dalam hal belajar mereka" (Latuheru, 1988: 87). Dengan kata lain bahwa segala yang mendatangkan manfaat atau mendukung dan menunjang individu untuk berubah kearah yang lebih positif, dinamis, atau menuju perkembangan dapat disebut sumber belajar. Sumber belajar dalam pengajaran adalah segala apa (daya, lingkungan, pengalaman) yang dapat digunakan dan dapat mendukung proses atau kegiatan pengajaran secara lebih efektif dan dapat memudahkan pencapaian tujuan pengajaran atau belajar tersedia (segala disediakan atau dipersiapkan), baik yang langsung maupun tidak langsung, baik yang konkrit atau yang abstrak (Ahmad Rohani & Abu Ahmadi, 1991: 154). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian sumber belajar adalah segala macam apa yang ada diluar diri seseorang yang memudahkan dan mendukung proses atau kegiatan pengajaran untuk memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.

b. Peranan Sumber Belajar Sumber belajar mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran yang dilakukan, adapun peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : 1) Peranan sumber belajar dalam pembelajaran Individual. Pola komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat

12

pembelajaran individual adalah pada peserta didik, sedang guru mempunyai peranan sebagai penunjang atau fasilitator. Dalam pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda yaitu : a) Front line teaching method, dalam pendekatan ini guru berperan menunjukkan sumber belajar yang perlu dipelajari. b) Keller Plan, yaitu pendekatan yang menggunakan teknik personalized system of instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual c) Metode proyek, peranan guru cenderung sebagai penasehat disbanding pendidik, sehingga peserta didiklah yang bertanggung jawab dalam memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar. 2) Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Klasikal Pola komunikasi dalam belajar klasikal yang dipergunakan adalah komunikasi langsung antara guru dengan peserta didik. Hasil belajar sangat tergantung oleh kualitas guru, karena guru merupakan sumber belajar utama. Sumber lain seolah-olah tidak ada peranannya sama sekali, karena frekuensi belajar didominasi interaksinya dengan guru. Pemanfaatan sumber belajar selain guru, sangat selektif dan sangat ketat di bawah petunjuk dan kontrol guru. Peranan Sumber Belajar secara keseluruhan seperti terlihat dalam pola komunikasinya selain guru rendah. Keterbatasan penggunaan sumber belajar terjadi karena metode pembelajaran yang utama hanyalah metode ceramah. Perhatian yang penuh dalam belajar dengan metode ceramah (attention spannya) makin lama makin menurun drastis. Hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan SOVOCOM COMPANY di Amerika dalam Sardiman A.M (2005: 155-156), tentang kemampuan manusia dalam menyimpan pesan adalah : verbal

13

(tulisan) 20%, Audio saja 10%, visual saja 20%, Audio visual 50%. Tetapi kalau proses belajar hanya menggunakan methode (a) Membaca saja, maka pengetahuan yang mengendap hanya 10% (b) Mendengarkan saja pengetahuan yang mengendap hanya 20%. (c) Melihat saja pengetahuan yang mengendap bisa 50%. Dan (e) Mengungkapkan sendiri pengetahuan yang mengendap bisa 80%. (f) Mengungkapkan sendiri dan mengulang pada kesempatan lain 90%. Dari penjelasan tersebut diatas, bahwa guru harus pandai memilih dan mengkombinasikan metode pembelajaran dengan belajar yang ada. 3) Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Kelompok Pola komunikasi dalam belajar kelompok, menyajikan dua pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar yaitu pola a) Buzz sessions (diskusi singkat) adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik untuk didiskusikan singkat sambil jalan. Sumber belajar yang digunakan adalah materi yang digunakan sebelumnya. b) Controllet discussion (diskusi dibawah kontrol guru), sumber belajarnya antara lain adalah bab dari suatu buku, materi dari program audio visual, atau masalah dalam praktek laboratorium. c) Tutorial adalah belajar dengan guru pembimbing, sumber belajarnya adalah masalah yang ditemui dalam belajar, harian, bentuknya dapat bab dari buku, topik masalah dan tujuan instruksional tertentu. d) Team project (tim proyek) adalah suatu pendekatan kerjasama antar anggota kelompok dengan cara mengenai suatu proyek oleh tim. e) Simulasi (persentasi untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya). f) Micro teaching, (proyek pembelajaran yang direkam dengan video). g) Self helf group (kelompok swamandiri).

14

c. Fungsi Sumber Belajar Sumber belajar memiliki fungsi penting dalam proses belajar. Sumber belajar memiliki fungsi sebagai berikut : 1) Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik. b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah. 2) Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya. 3) Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian. 4) Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; dan b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit. 5) Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; dan b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. 6) Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

15

Fungsi-fungsi

di

atas

sekaligus

menggambarkan

tentang

pentingnya

kelengkapan sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa. d. Klasifikasi Sumber Belajar Wallington dalam bukunya Job in Instruction Media Study menyatakan bahwa "peran utama sumber belajar adalah membawa atau menyalurkan stimulus dan informasi kepada siswa" (Nana Sudjana & Ahmad Rivai, 2003: 78). AECT (Association of Education Communication Technology) mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6 macam. yaitu : 1) Message (pesan), yaitu informasi atau ajaran yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk gagasan, fakta, arti dan data. Termasuk dalam komponen pesan adalah semua bidang studi atau mata kuliah atau bahan pengajaran yang diajarkan kepada peserta didik. 2) People (orang), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengola, dan penyaji pesan. Termasuk kelompok ini adalah guru, dosen, tutor, dan peserta didik. 3) Materials (bahan), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat atau perangkat keras ataupun oleh dirinya sendiri. Berbagai program media termasuk kategori materials seperti transparansi, slide, film, video, modul, majalah, dan buku. 4) Device (alat), yaitu sesuatu (perangkat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya : overhead projector, slide, video, tape recorder, radio, dan televisi. 5) Technique (teknik), yaitu prosedur yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang, dnn lingkungan untuk menyampaiknn pesan. Misalnya : pengajaran berprogram, simulasi demonstrasi, tanya jawab, dan CBSA.

16

6) Setting (lingkungan), yaitu situasi atau suasana sekitar dimana pesan disampaikan, baik lingkungan fisik seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, taman, lapangan, maupun lingkungan non fisik misalnya suasana belajar itu sendiri : tenang, ramai, dan lelah. (Ahmad Rohani & Abu Ahmadi, 1991: 155). Sedangkan Nana Sudjana dan Ahmad Rivai mengklasifikasikan sumber belajar sebagai berikut: 1) Sumber belajar tercetak : buku, majalah, brosur, koran, ensiklopedi, kamus, dan lain-lain. 2) Sumber belajar non cetak : film, slides, video, transparansi, dan sebagainya. 3) Sumber belajar yang berbentuk fasilitas : perpustakaan, ruang belajar, lapangan olah raga, dan lain-lain. 4) Sumber belajar berupa kegiatan : wawancara, kerja kelompok, observasi, permainan, dan lain-lain. 5) Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat : teman, terminal, pasar, toko, pabrik, museum, dan lain-lain. (Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 2003: 80). Belajar yang mengutamakan sumber belajar adalah sistem belajar yang berorientasi pada siswa untuk belajar secara individual. Sistem belajar ini akan memungkinkan keseluruhan kegiatan belajar dilakukan dengan menggunakan sumber belajar baik manusia maupun non manusia dalam situasi belajar yang diatur secara efektif. Dalam hal ini sumber belajar yang dimaksud adalah segala sesuatu diluar diri siswa yang dapat digunakan siswa dalam membantu belajarnya, memotivasi siswa untuk belajar, dan mempernudah siswa dalam mencapi tujuan belajarnya. Sumber belajar ini meliputi guru sebagai penyaji pesan dan teknik yang digunakan untuk menyampaikan pesan, bahan atau alat yang digunakan baik berupa buku pegangan

17

dan buku penunjang pendidikan kewarganegaraan serta lingkungan belajar siswa di sekolah. e. Memilih Sumber Belajar Memilih sumber belajar harus didasarkan pada kriteria tertentu. Menurut Sudjana dan Rivai ada dua kriteria, yaitu "kriteria umum dan criteria berdasarkan tujuan yang hendak dicapai" (Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 2003: 84). Adapun kriteria-kriteria tersebut sebagai berikut: 1) Kriteria umum Kriteria umum merupakan ukuran kasar dalam memilih berbagai sumber belajar, misalnya : a) Ekonomis dalam pengertian murah Ekonomis tidak berarti harganya selalu harus murah. Bisa saja dana pengadaan sumber belajar itu cukup tinggi, sehingga harganya mahal tetapi

pemanfaatannya dalam jangka panjang, maka itu sudah termasuk terhitung murah. b) Praktis dan sederhana Praktis artinya tidak memerlukan pelayanan serta pengadaan sampingan yang sulit dan langka. Sedangkan sederhana maksudnya tidak memerlukan pelayanan yang menggunakan keterampilan khusus yang rumit. Semakin praktis dan sederhana sumber belajar itu, semakin perlu diprioritaskan untuk dipilih dan digunakan. c) Mudah diperoleh Mudah diperoleh, artinya sumber belajar itu dekat tidak perlu diadakan atau dibeli di toko atau pabrik. Sumber belajar yang tidak dirancang lebih mudah diperoleh asal jelas tujuannya dan dapat dicari di lingkungan sekitar.

18

d) Bersifat Fleksibel Fleksibel artinya bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan tidak dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya kemajuan teknologi, nilai, budaya, keinginan berbagai pemakai sumber belajar itu sendiri. e) Komponen-komponennya sesuai dengan tujuan Komponen-komponen yang sesuai dengan tujuan merupakan criteria yang paling penting. Sering terjadi sumber belajar mempunyai tujuan yang sesuai, pesan yang dibawakan juga cocok, tetapi keadaan fisik tidak terjangkau karena di luar kemampuan disebabkan oleh biaya yang tinggi yang tidak dapat terjangkau dan banyak memakan waktu sehingga pemanfaatannya tidak efektif dan efisien. 2) Kriteria berdasarkan tujuan Beberapa kriteria sumber belajar berdasarkan tujuan antara lain adalah: a) Sumber belajar untuk memotivasi. Sumber belajar untuk memotivasi ini sangat berguna untuk siswa yang lebih rendah tingkatannya, karena penggunaannya dimaksudkan untuk memotivasi mereka terhadap mata pelajaran yang diberikan agar prestasinya dapat meningkat lebih baik. b) Sumber belajar untuk tujuan pengajaran Sumber belajar yang digunakan untuk tujuan sumber belajar ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Kriteria ini dipakai untuk memperluas bahan pelajaran, melengkapi berbagai kekurangan bahan, dan sebagai kerangka mengajar yang sistematis bagi para guru. c) Sumber belajar untuk penelitian

19

Sumber belajar untuk penelitian ini merupakan bentuk yang dapat diobservasi, dianalisis, dan dicatat secara teliti. Jenis sumber belajar ini diperoleh langsung dari masyarakat. d) Sumber belajar untuk memecahkan masalah Sumber belajar untuk memecahkan masalah memiliki beberapa cirri yang harus diperhatikan, misalnya sebelum mulai perlu diketahui, apakah masalah yang dihadapi sudah cukup jelas sehingga bisa diperoleh sumber belajar yang tepat? Apakah bisa disediakan? Dimana bisa memperolehnya? Kesimpulan : benarkah atau tepatkah keputusan yang diambil terhadap sumber belajar itu? e) Sumber belajar presentasi Sumber belajar presentasi disini lebih ditekankan kepada arti sumber sebagai alat, metode, atau strategi penyampaian pesan. fungsi sumber belajar ini sebagai strategi, teknik, atau metode (Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, 2003: 84-86). Kedua kriteria pemilihan sumber belajar tersebut berlaku baik untuk belajar yang dirancang maupun sumber belajar yang dimanfaatkan.

f. Indikator Kelengkapan Sumber Belajar Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 515-516) lengkap yaitu segalagalanya telah tersedia dengan sempurna sedangkan kelengkapan berarti hal yang lengkap atau kekompletan. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kelengkapan sumber belajar adalah tersedianya segala macam apa yang ada diluar diri seseorang yang memudahkan dan mendukung proses atau kegiatan pengajaran untuk memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.

20

Sumber belajar tidak terebatas pada sarana yang dirancang tetapi juga mengarah kepada dua hal yaitu pemanfaatan sumber belajar, dan pengelolaan sumber belajar yang digunakan untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Suatu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran menurut Mulyasa antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik (Mulyasa, 2002: 47). Indikator kelengkapan sumber belajar adalah sebagai berikut : 1) Kelengkapan buku acuan atau buku penunjang. Guru memegang peranan penting dalam sebuah proses belajar mengajar, tetapi siswa juga dituntut agar dapat memanfaatkan sumber-sumber yang ada. Dengan demikian siswa tidak tergantung pada guru dan dapat belajar dengan baik tanpa didampingi oleh guru selama proses belajar berlangsung. "Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, peserta didik dituntut tidak hanya mengandalkan diri dari apa yang terjadi di dalam kelas, tetapi harus mampu dan mau menelusuri aneka ragam sumber belajar yang diperlukan" (Mulyasa, 2002: 47). Berdasarkan Permendiknas No. 2 (2008: 4) Buku teks digunakan sebagai acuan wajib oleh pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Schorling dan Batchelder (1956) memberikan empat ciri buku teks yang baik, yaitu : a) Direkomendasikan oleh guru-guru yang berpengalaman sebagai buku teks yang baik; b) Bahan ajarnya sesuai dengan tujuan pendidikan, kebutuhan siswa, dan kebutuhan masyarakat; c) cukup banyak memuat teks bacaan, bahan drill dan latihan/tugas; dan d) memuat ilustrasi yang membantu siswa belajar.

21

2) Pemanfaatan Perpustakaan Salah satu sumber belajar yang cukup mendukung adalah perpustakaan. Siswa diharapkan dapat memanfaatkan sumber belajar karena menurut Mulyasa "pemanfaatan sumber belajar seoptimal mungkin sangatlah penting, karena keefektifan proses pembelajaran ditentukan oleh kemampuan peserta didik dalam memanfaatkan sumber belajar yang ada" (Mulyasa, 2002: 50). 3) Kondisi Lingkungan Non Fisik Lingkungan non fisik juga sangat mendukung proses belajar siswa, karena suasana yang ramai akan menganggu konsentrasi sebagian siswa. Sebaliknya suasana yang tenang atau damai akan memberi kemudahan kepada siswa dalam belajar. Lingkungan non fisik misalnya suasana belajar itu sendiri yang meliputi Suasana tenang, ramai, lelah dan sebagainya (Ahmad Rohani & Abu Ahmadi, 1991: 155). 4) Sumber Belajar Non Cetak Sumber belajar non cetak misalnya : film, slides, video, transparansi, realita, objek, dan lain-lain" (Nana Sudjana & Ahmad Rivai, 2003: 80). Sumber ini dapat digunakan di sekolah maupun di rumah. Melalui sumber ini siswa dapat melatih nalar dan mengembangkan pemahamannya melalui pembelajaran dengan melihat secara langsung. 5) Orang sebagai penyampai pesan "Orang sebagai penyampai pesan adalah orang yang menyimpan informasi atau menyalurkan informasi" (Nana Sudjana & Ahmad Rivai, 2003: 80). Orang yang menyampaikan pesan secara langsung seperti guru, konselor, administrator, yang diniati secara khusus dan disengaja untuk kepentingan belajar.

22

6) Teknik penyampaian pesan Teknik penyampaian pesan adalah "prosedur yang disiapkan dalam mempergunakan bahan pelajaran, peralatan, situasi, dan orang untuk menyampaikan pesan" (Nana Sudjana & Ahmad Rivai, 2003: 80). Teknik penyampaian pesan juga dapat berupa "langkah-langkah operasional untuk menelusuri secara lebih teliti menuju pada penguasaan keilmuan secara tuntas" (Mulyasa, 2002: 50). Jadi dapat disimpulkan bahwa dapat dikatakan sumber belajar lengkap apabila ada kelengkapan buku acuan atau buku penunjang, pemanfaatan perpustakaan, kondisi lingkungan non fisik, sumber belajar non cetak, orang sebagai penyampai pesan dan teknik penyampaian pesan.

2.1.2. Tinjauan Tentang Kemandirian Belajar a. Pengertian Kemandirian Belajar Kemandirian secara morfologi berasal dari kata dasar mandiri yang berarti tidak tergantung dengan orang lain. Mendapat imbuhan ke-an menjadi kemandirian yang menyatakan hal atau keadaan berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 710) bahwa Mandiri adalah keadaan dapat berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa kemandirian merupakan suatu keadaan atau perilaku yang dimiliki oleh seseorang karena dorongan dari dalam diri sendiri tanpa tergantung dari orang lain. Menurut Hoistein yang dikutip oleh Ali Imran juga menyatakan sebagai berikut kemandirian menandakan sesuatu dengan tidak adanya ketergantungan dan perlunya kebebasan bagi munculnya keputusan, penilaian, pendapat, dan pertanggungjawaban.

23

Kemandirian juga dapat terungkap sebagai keswakaryaan atau diartikan bekerja sendiri dengan inisiatif sendiri (Ali Imran, 2000: 202). Sementara itu Anwar Hartoyo yang dikutip oleh Nasution memberikan definisi belajar mandiri sebagai suatu sistem, yaitu suatu sistem pembelajaran yang didasarkan pada disiplin terhadap diri sendiri yang dimiliki oleh siswa dan disesuaikan dengan keadaan perorangan siswa yang melipuli antara lain : kemampuan, kecakapan belajar, kemauan, minat, waktu yang dimiliki, dan keadaan sosial ekonominya (Tamrin Nasution, 1986: 175). Sistem belajar mandiri diharapkan dapat membuat siswa lebih banyak belajar mandiri atau dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain. Siswa perlu mempunyai kemauan yang kuat serta disiplin yang tinggi dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Kemauan yang keras akan mendorong siswa tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan belajarnya. Sedangkan disiplin yang tinggi diperlukan supaya siswa selalu belajar sesuai dengan jadwal waktu yang diaturnya sendiri. Pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah suatu bentuk kebebasan siswa dalam mengidentifikasi dirinya yaitu mampu menemukan kompetensi, mampu mengaktualisasikan diri secara bertanggung jawab dan mampu melakukan yang lebih. Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selamaberlangsungnya perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungannya, sehingga individu tersebut pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri tanpa tergantung kepada orang lain. Dalam perkembangan pendidikan, siswa dituntut untuk dapat belajar secara aktif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Di dalam proses pembelajaran setiap siswa selalu diarahkan agar menjadi peserta didik yang mandiri, dan untuk menjadi mandiri

24

seseorang harus belajar, sehingga dapat dicapai suatu kemandirian belajar. Kaitannya dengan hal ini, siswa dituntut untuk dapat menumbuhkan kemandiriannya dalam belajar, agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Menurut Jerrold E. Kemp yang diterjemahkan oleh Asril Marjohan (1994: 154) bahwa metode belajar yang sesuai kecepatan sendiri juga disebut belajar mandiri, pengajaran sendiri, atau belajar dengan mengarahkan diri sendiri. Pendapat serupa dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1995: 108) bahwa Membantu siswa untuk mandiri berarti menolong mereka bebas dari bantuan orang lain. Sedangkan menurut Haris Mudjiman (2006: 7) mengemukakan bahwa, Belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Jadi dalam melakukan aktivitas belajar menekankan bahwa individu siswalah yang mengalami secara langsung dan bebas dari ketergantungan. Belajar mandiri bukan berarti belajar seorang diri, melainkan di dalam melakukan proses belajar mengajar siswa mampu meningkatkan kemauan dan keterampilannya sehingga didalam melakukan kegiatan belajarnya siswa dapat meminimalkan bantuan dari pihak lain sebagai perwujudan dapat belajar mandiri ataupun belajar secara berkelompok. Menurut Herman Holstein (1997: 5) Dengan mandiri tidak berarti murid-murid belajar secara individualis tetapi sebaliknya situasi dibina untuk kelompok dan setiap murid menjadi patner sesamanya. Dalam situasi ini, guru ataupun orang tua hanya sebagai fasilitator bagi siswa untuk dapat lebih mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya secara maksimal. Sebagaimana dikemukakan oleh Schunk dalam Utari Sumarmo (2006), agar anak menjadi pribadi yang mampu belajar mandiri atau self regulated learner, maka guru atau orang tua sebaiknya: 1) Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menghindarkan sesuatu

25

yang akan mengganggu belajar siswa/anak misalnya video-game atau permainan yang tidak relevan. 2) Memberi tahu siswa/anak bagaimana cara mengikuti suatu petunjuk. 3) Mendorong siswa/anak agar memahami metode dan prosedur yang benar dalam menyelesaikan suatu tugas. 4) Membantu siswa mengatur waktu. 5) Menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa/anak bahwa mereka mampu mengerjakan tugas yang diberikan. 6) Mendorong siswa/anak untuk mengontrol emosi dan tidak mudah panik ketika menyelesaikan tugas atau menghadapi kesulitan. 7) Memperlihakan kemajuan yang telah dicapai siswa/anak. 8) Membantu siswa/anak cara mencari bantuan belajar. b. Indikator Kemandirian Perilaku mandiri memiliki beberapa ciri tertentu. Drost (1995: 152) mengungkapkan bahwa ciri orang yang mandiri antara lain : 1) Menyadari bahwa dirinya adalah individu yang unik yang berbeda dari yang lain. 2) Pengorbanan tujuan-tujuan material dan sifat kepribadian akan mendorong seseorang mencapai tujuan, 3) Integrasi diri dengan lingkungan, dan 4) Aktualisasi yang merupakan ungkapan dari kepribadian individu. Sejalan dengan itu, Schultz Doane (1995: 159) mengemukakan bahwa eksistensi manusia yang sehat memiliki ciri-ciri spiritualitas, kebebasan dan tanggung jawab. Spiritualitas sebagai konsep tidak dapat diungkapkan, namun dapat dipikirkan sebagai roh atau jiwa. Kebebasan sebagai suatu hal yang tidak dapat di kendalikan oleh faktor non spiritual, insting maupun kondisi lingkungan, namun kebebasan digunakan untuk mengembangkan diri secara penuh. From dalam Schultz Doane (1995: 162), mengemukakan bahwa perilaku mandiri memiliki ciri adanya tanggung jawab, inisiatif yang tinggi, kebebasan berkreasi, integritas dan identitas yang jelas yang

26

bermuara pada ide-ide baru yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Sedangkan menurut Emil Salim seseorang dikatakan mempunyai kemandirian apabila mempunyai ciri sebagai berikut : 1) Bebas, yakni timbulnya tindakan atas kehendak sendiri bukan karena orang lain, bahkan tidak tergantung pada orang lain. 2) Progresif dan ulet, seperti tampak pada mengejar prestasi, penuh ketekunan, merencanakan, dan mewujudkan harapan-harapannya. 3) Berinisiatif, yakni mampu berfikir dan bertindak secara orisinil, kreatif dan penuh inisiatif. 4) Pengendalian diri dari dalam, yaitu adanya kemampuan mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya, serta mampu mempengaruhi lingkungan atas usahanya sendiri. 5) Kemantapan diri mencakup aspek percaya pada diri sendiri dan memperoleh kepuasan atas usahannya sendiri. (Emil Salim, 1991: 31). Kemandirian perlu ditanamkan pada diri anak sejak kecil agar anak terbiasa hidup mandiri. Kemandirian merupakan unsur penting dalam setiap kegiatan belajar. Siswa yang mandiri dalam menghadapi permasalahan tidak akan mudah putus asa dan pantang menyerah, karena dengan kemampuan yang dia miliki dan kepercayaan yang ada pada dirinya maka dia akan memiliki inisiatif untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya tanpa tergantung pada orang lain. Ciri-ciri kemandirian belajar diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai indikator kemandirian siswa dalam belajar yaitu sebagai berikut : 1) Memiliki Inisiatif yang tinggi. Yaitu mampu berfikir dan bertindak secara orisinil, kreatif dan penuh inisiatif seperti contoh memanfaatkan waktu luang dengan baik.

27

2) Pengendalian diri dari dalam Yaitu adanya kemampuan mengatasi masalah yang dihadapi, mampu

mengendalikan tindakannya, mampu berintegrasi dengan lingkungan serta mampu mempengaruhi lingkungan atas usahanya sendiri. 3) Memiliki integritas dan identitas yang jelas Yaitu progresif, ulet, bertanggung jawab dan menyadari bahwa dirinya adalah individu yang unik yang berbeda dari yang lain. 4) Mampu mengaktualisasikan dirinya, Yaitu mampu menampilkan hal-hal baru yang aktual dan tidak mengikuti gaya orang lain. 5) Kebebasan berkreasi dan berinovasi, Yaitu timbulnya tindakan atas kehendak sendiri bukan karena orang lain, bahkan tidak tergantung pada orang lain. 6) Percaya diri Yaitu percaya akan kemampuan diri sendiri. Siswa yang memiliki kemandirian belajar bukan berarti tidak membutuhkan orang lain dalam belajar, tetapi dalam hal ini dia cenderung untuk mendayagunakan segenap kemampuan yang dia miliki dalam menyelesaikan tugasnya tanpa menunggu bantuan orang lain. Kemandirian belajar erat kaitannya dengan motivasi dan hasrat berprestasi. Seseorang yang telah mencapai kemandirian belajar senantiasa termotivasi untuk selalu belajar dan meningkatkan prestasi.

2.1.3. Prestasi Belajar a. Pengertian Prestasi Belajar Belajar merupakan hal yang aktual dan dihadapi setiap orang. Hampir semua kecakapan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran, dan sikap manusia berkembang
28

karena belajar. Menurut Sadirman (2007:21), belajar adalah usaha mengubah tingkah laku, jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Sedangkan menurut Ali (1987:14) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Prestasi belajar atau yang disebut hasil belajar dalam penelitian ini adalah berupa angka-angka tertentu yang tercantum dalam nilai raport. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan. Selanjutnya Winkel (2004 : 162) mengatakan : Prestasi adalah bukti keberhasilan yang telah dicapai. Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan, kecakapan/skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif. Secara singkat belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman. Tujuan penyelenggaraan sekolah menengah secara khusus untuk memberikan kemampuan minimal bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan dan hidup dalam masyarakat, menyiapkan sebagian besar warga Negara menuju masyarakat belajar pada masa yang akan datang, menyiapkan lulusan menjadi anggota masyarakat yang memahami dan menginternalisasi perangkat gagasan dan nilai masyarakat beradab dan cerdas, dan khusus untuk SMA, lulusan atau output memiliki keahlian atau keterampilan tertentu yang dapat dipergunakan untuk memasuki dunia kerja/ dunia usaha. Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil menurut Djamarah dan Zain (2002:120) adalah hal-hal sebagai berikut: a) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok.

29

b) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa baik secara individu atau kelompok. Menurut Sadirman (2007:27) merumuskan bahwa, pengertian hasil belajar adalah Suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Sedangkan menurut Sudjana (2005:21) hasil belajar adalah Kemampuan-kemampuan yang dimiliki setelah ia menerima pengalaman belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan dalam diri manusia baik secara mental atau psikis yang berlangsung melalui interaksi aktif dengan lingkungan yang diperoleh anak melalui kegiatan belajar mengajar. Menurut Nana Sujana faktor yang dapat mendukung prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa yang dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu yang pertama; factor dari dalam diri siswa itu sendiri dan yang kedua; factor yang datang dari luar diri siswa itu sendiri atau factor lingkungan. a) Faktor dalam diri siswa antara lain: (1) kemampuan siswa, (2) motivasi belajar, (3) perhatian siswa, (4) sikap dan kebiasaan belajar, (5) ketekunan belajar, (6) ekonomi siswa, (7) fisik dan psikis. b) Faktor dari luar diri siswa (1) Kompetensi guru, antara lain: menguasai bahan, mengelola proses belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi belajar siswa untuk kependidikan pengajaran, mengenal fungsi dan program

30

pelayanan bimbingan dan penyuluhan, memahami dan menafsirkan hasilhasil penelitian guna keperluan pengajaran. (2) Karakteristik kelas, antara lain: besar kelas, sasaran kelas, fasilitas dan sumber belajar yang tersedia. (3) Karakteristik sekolah, antara lain: disiplin sekolah, perpustakan yang ada di sekolah, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah, estetika dalam arti sekolah memberikan perasaan nyaman dan kepuasan belajar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berhasil tidaknya usaha seseorang dalam belajar dipengaruhi beberapa macam hal. Untuk mencapai hasil belajar yang baik haruslah ada keselarasan antara faktor faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. b. Aspek-Aspek Prestasi Belajar Pada hakikatnya prestasi belajar adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah seseorang belajar. Adapun hasil belajar tersebut menurut para ahli dapat dikelompokan sebagai berikut. Menurut Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Slameto (2010:15) menyatakan bahwa hasil belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu keterampilan motoris, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan strategi kognitif. Sedangkan menurut Ahmad Tafsir (2008:34) menjelaskan bahwa: Hasil belajar atau bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi 3 (tiga) aspek yaitu: 1) tahu, mengetahui (knowing) 2 terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing) dan 3) melaksanakan yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekuen (being). Pendapat lain diberikan Benjamin S. Bloom dalam Winkel (2004:272) bahwa bahwa hasil belajar diklasifikasikan ke dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain) dan ranah psikomotor (psychomotor domain).

31

Bertolak dari ketiga pendapat tersebut di atas, penulis lebih cenderung kepada pendapat Benjamin S. Bloom. Kecenderungan ini didasarkan pada alasan bahwa ketiga ranah yang diajukan lebih mudah terukur, dalam artian bahwa untuk mengetahui prestasi belajar yang dimaksudkan mudah dan dapat dilaksanakan, khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal selain itu ketiga ranah tersebut dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai prestasi belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai yang diperoleh siswa setelah dilakukan evaluasi atau tes. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis berkesimpulan bahwa jenis prestasi belajar itu meliputi 3 (tiga) ranah atau aspek, yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain); 2) ranah afektif (affective domain); dan 3) ranah psikomotor (psychomotor domain). c. Indikator Prestasi Belajar. Indikator dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa prestasi belajar dapat dinyatakan berhasil apabila memenuhi ketentuan kurikulum yang disempurnakan. Pada dunia pendidikan, pengukuran prestasi belajar sangat diperlukan. Karena dengan diketahui prestasi siswa maka diketahui pula kemampuan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Untuk mengetahui prestasi belajar dapat dilakukan dengan cara memberikan penilaian atau evaluasi dengan tujuan supaya siswa mengalami perubahan secara positif. Menurut Muhibbin Syah (2008:141) Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah progam. Hal ini dapat dilihat dari sejauh mana perubahan yang telah terjadi melalui kegiatan belajar mengajar. Pengajaran harus mengetahui sejauh mana siswa akan mengerti bahan yang akan diajarkan. Penilaian sumber informasi tentang hasil pengajaran yang telah disajikan. Pengukuran prestasi belajar tersebut dapat menggunakan suatu alat untuk mengevaluasi yaitu test. Test dipakai untuk memulai hasil belajar siswa dan hasil belajar mengajar dari pendidik. Menurut Muhibbin Syah (2008:142): Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dapat dilakukan dengan cara memberi penilaian atau evaluasi yaitu untuk memeriksa kesesuian antara apa yang diharapkan dan apa yang tercapai, hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki dan mendekatkan tujuan yang diinginkan.
32

Berdasarkan uraian-uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengukuran prestasi belajar dapat dilakukan dengan cara memberi penilaian atau evaluasi. Penilaian atau evaluasi yang dilakukan dapat diketahui dengan menggunakan suatu test tertulis atau test lisan yang mencakup semua materi yang diajarkan dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data dokumentasi berupa nilai rapot yang dinyatakan dalam bentuk angka yang diperoleh dari proses belajar selama satu semester.

2.1.6. Materi Pembelajaran IPS di SMP

Menurut Surya (2008:7), pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Mudjiono dkk (2002:297), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah: suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru secara terprogram untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, untuk membuat siswa belajar secara lebih aktif.yang diberikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD sampai SMP, bahkan sampai jenjang SMA. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, ekonomi.
33

Melalui mata pelajaran IPS, preserta didik diarahkan untuk dapt menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Disiplin ilmu sosial yang termasuk dalam mata pelajaran IPS adalah : 1). Ilmu Geografi (aspek yang dipelajarai mencakup manusia, tempat, dan linngkungan), 2). Ilmu Sejarah (aspek yang dipelajari mencakup waktu, keberlanjutan, dan perubahan), 3). Ilmu Sosiologi (aspek yang dipelajari mencakup sistem sosial dan budaya), 4). Ilmu Ekonomi (aspek yang dipelajari mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan). Tujuan mempelajari mata pelajaran IPS sebagaimana dikemukakan oleh Banks (dalam Asmi, 2002 : 243) bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan untuk menghadapi isu dan masalah sosial secara rdeflekti 2.2. Penelitian Yang Relevan Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu No 1. Judul PENGARUH KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA DAN FASILITAS BELAJAR DI SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR KETERAMPILAN KOMPUTER DAN PENGELOLAAN INFORMASI (KKPI) SISWA KELAS XI JURUSAN ADMINISTRASI Peneliti Sari Agustina Variabel 1. Kemandirian Belajar 2. Fasilitas Belajar 3. Prestasi Belajar Metodologi Dalam penelitian ini mengguna kan pendekatan penelitian kuantitaif dengan metode deskriptif asosiatif (korelasional ) Hasil Terdapat pengaruh yang signifikan antara kemandirian belajar siswa terhadap prestasi belajar mata pelajaran Ketarampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Negeri I Karanganyar tahun pelajaran
34

PERKANTORAN SMK NEGERI I KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2009/2010

2.

HUBUNGAN ANTARA EMOTIONAL SUPPORT, KONSEP DIRI DAN KEMANDIRIAN BELAJAR DENGAN

Fitri Ismeini

1. Emosional Metode suport deskriptif 2. Konsep diri korelasi 3. Kemandirian Belajar 4. Prestasi Belajar

2009/2010. 2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara fasilitas belajar di sekolah terhadap prestasi belajar mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Negeri I Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010. 3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara kemandirian belajar siswa dan fasilitas belajar di sekolah secara bersama-sama terhadap prestasi belajar mata pelajaran Ketarampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran SMK Negeri I Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010. . emotional support memiliki nilai minimum 51, nilai maksimum 90, nilai rata-rata 70,1333, standar deviasi 12,35602,
35

PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SLB-D YPAC SURAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010

dengan varian 152,671. Variabel konsep diri memiliki nilai minimum 52, nilai maksimum 94, nilai rata-rata 71,2667, standar deviasi 11,86107, dengan varian 140,685. Variabel kemandirian belajar memiliki nilai minimum 50, nilai maksimum 101, nilai rata-rata 75,4, standar deviasi 13,5865, varian 184,593. Variabel prestasi belajar matematika memiliki nilai minimum 56, nilai maksimum 84, nilai rata-rata 66,7667, standar deviasi 6,33373, varian 40,116.

1.

Penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Perbedaannya yaitu penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih tahun pelajaran 2011/2012 dimana di tempat tersebut dan pada siswanya belum pernah dijadikan objek penelitian dengan variabel yang sama. Penelitian ini juga ditekankan pada prestasi belajar IPS dimana dalam mempelajari mata pelajaran ini diperlukan banyak sumber belajar karena materi pembelajarannya selalu mengikuti perkembangan jaman sehingga memerlukan kemandirian siswa untuk terus menggali ilmu dari berbagai sumber belajar setiap saat. Penelitian ini juga bermaksud untuk mengungkap pengaruh antara kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa

36

terhadap prestasi belajar IPS secara bersamaan pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih.

2.3. Kerangka Berfikir 1. Hubungan Kelengkapan Sumber Belajar dengan Prestasi Belajar. Kelengkapan sumber belajar dengan prestasi belajar merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kelengkapan sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada diluar diri seseorang yang memudahkan dan mendukung proses atau kegiatan pengajaran yang diciptakan dengan sengaja untuk memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. Dapat dikatakan lengkap sumber belajarnya apabila memiliki ciri ada kelengkapan buku acuan dan buku

penunjang, pemanfaatan perpustakaan, kondisi lingkungan non fisik, sumber belajar non cetak, orang sebagai penyampai pesan dan teknik penyampaian pesan. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan dari kelengkapan sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa. Pendayagunaan sumber belajar memiliki arti yang sangat penting untuk melengkapi dan memperkaya ilmu. Kelengkapan sumber belajar juga menguntungkan bagi guru dan siswa dalam mencapai prestasi yang tinggi. Dengan menggunakan sumber belajar yang lengkap dan maksimal, mereka akan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kemampuan dan kemauan siswa dalam menggunakan sumber belajar yang ada maka semakin baik pula prestasi belajarnya. 2. Hubungan Kemandirian Siswa dengan Prestasi Belajar Siswa Kemandirian siswa merupakan salah satu faktor internal yang mampu meningkatkan prestasi belajar. Kemandirian siswa adalah suatu bentuk kebebasan

37

siswa dalam mengidentifikasi dirinya yaitu mampu menemukan kompetensi, mampu mengaktualisasikan diri secara bertanggung jawab dan mampu melakukan yang lebih. Kemandirian siswa adalah suatu bentuk kebebasan siswa dalam berinisiatif tinggi, pengendalian diri dari dalam, memiliki integritas dan identitas, kemampuan mengaktualisasikan diri, kebebasan berekspresi dan berinovasi, dan percaya diri. Berdasarkan penelitian yang terdahulu menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemandirian belajar dengan hasil belajar siswa. Dengan kemandirian, siswa akan mampu bertanggung jawab dan sadar akan tugasnya untuk belajar. Jadi semakin tinggi tingkat kemandirian seseorang, maka prestasinya akan semakin baik pula. Melalui sikap mandiri siswa diharapkan siswa mampu menggunakan kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan masalah tanpa banyak tergantung kepada orang lain.

3. Hubungan antara Kelengkapan Sumber Belajar dan Kemandirian Siswa dengan Prestasi Belajar Siswa Sumber belajar secara langsung tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan belajar. Dalam proses belajar diperlukan kesiapan mental dan kemauan serta kemampuan untuk memanfaatkan berbagai macam sumber belajar yang ada. Sumber belajar berperan besar terhadap peningkatan kemampuan belajar mandiri para siswa. Kemandirian timbul akibat adanya sumber belajar yang lengkap dan untuk memanfaatkan sumber belajar diperlukan kemandirian. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dengan kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.

38

Hubungan kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa dengan prestasi belajar siswa sebagaimana telah dikemukakan diatas dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 1. Bagan Alur Hubungan antara Kelengkapan Sumber Belajar dan Kemandirian Siswa dengan Prestasi Belajar Siswa

Kelengkapan Sumber Belajar (X1)

Prestasi belajar (Y)

Kemandirian Belajar (X 2)

2.4. Perumusan Hipotesis Hipotesis merupakan pernyataan mengenai suatu hal yang harus diuji kebenarannya (Djarwanto PS & Pangestu Subagyo, 1996: 183). Hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kelengkapan sumber belajar dengan prestasi belajar. 2. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kemandirian siswa dengan prestasi belajar.

39

3. Ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa secara bersama-sama terhadap prestasi belajar.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ilmiah merupakan kegiatan untuk memperoleh kebenaran secara ilmiah yang dilakukan untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu peristiwa atau suatu pengetahuan. Untuk memperoleh kebenaran, suatu penelitian perlu menggunakan metode ilmiah yang tepat, agar data yang didapatkan adalah data yang obyektif, valid, dan reliabel, sehingga hasil yang diperoleh benarbenar dapat dipertanggungjawabkan. Sukardi (2005 : 19) mendefinisikan metodologi penelitian adalah usaha seseorang yang dilakukan secara sistematis mengikuti aturanaturan guna menjawab pertanyaan yang hendak diteliti. Dari pendapat tersebut, dapat diartikan bahwa metodologi penelitian merupakan pengetahuan tentang prosedur atau cara yang digunakan dalam proses menemukan, mengembangkan, menguji kebenaran dengan menggunakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Adapun aspek-aspek metodologi yang

dipergunakan dalam penelitian ini akan penulis uraikan sebagai berikut :

40

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 Prabumulih tahun ajaran 2011/ 2012 yang beralamat di Jalan Raya Palembang-Prabumulih. Adapun alasan pemilihan tempat penelitian adalah : a. Tersedianya data yang berhubungan dengan masalah penelitian dan berguna untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian b. Belum pernah diadakan penelitian terkait masalah yang akan diteliti oleh peneliti

3.1.2. Waktu Penelitian Pengalokasian waktu merupakan langkah awal agar penelitian dapat berjalan dengan teratur. Adapun rencana-rencana penelitian terbagi persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2011/ 2012. Waktu penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut : Jadwal Penelitian. No Kegiatan September 2011 Oktober 2011 November 2011 Desember 2011 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pengajuan Judul Pembuatan Proposal Pengajuan Proposal Izin Penelitian Instrumen Penelitian Penelitian Pengumpulan data //////////////// //////////////// //////////////// ///////////////// //////////////// ///////////////// ///////////////// ///////////////// ////////////////

41

8. 9.

Olah data Laporan Penelitian

///////////////// //////////////// ////////////////

3.2. Populasi dan Sample 3.2.1. Populasi Populasi merupakan keseluruhan individu dari permasalahan yang diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 108) Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dalam penelitian ini, berdasarkan penggolongan populasi di atas maka termasuk populasi yang terhingga yaitu populasi yang memiliki elemen atau unsur dengan jumlah tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 116 siswa. 3.2.2. Sampel Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 109) Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Mengenai penentuan sample penelitian ini, apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 2025% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari : a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana, b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data, dan c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja jika sample besar, hasilnya akan lebih baik. Jadi jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejumlah 30 siswa atau 26% dari jumlah populasi. Jumlah ini dianggap representative karena sudah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Suharsimi Arikunto.

42

3.2.3. Sampling Menurut Djarwanto PS dan Pangestu Subagyo (1998: 111) Sampling adalah cara atau teknik yang dipergunakan untuk mengambil sampel. Ada dua macam teknik pengambilan sampel yaitu non random sampling dan random sampling. a. Non Random Sampling Non random sampling adalah cara pengambilan sampel yang tidak semua anggota populasi diberi kesempatan untuk dipilih menjadi sampel (Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 1997: 114). b. Ramdom sampling Random sampling adalah teknik sampel dimana semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel (Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 1997: 111). Random sampling meliputi simple random sampling, proportionate stratified random sampling, dispropotionate stratified random sampling, dan cluster random sampling. Teknik yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah random sampling dengan cara Cluster Random Sampling yaitu pemilihan sample yang dilakukan secara acak, dari kelas yang sudah ditentukan. Kelas yang telah ditentukan adalah kelas X-1 sampai dengan X-3. Adapun langkah-langkahnya : 1) Membuat suatu daftar yang berisi semua subyek yang ada dalam populasi (Siswa kelas IX Prabumulih). 2) Memberi kode-kode yang berwujud angka-angka untuk tiap-tiap subyek yang dimaksudkan. 1, IX 2, IX 3 dan di SMP Negeri 10

43

3) Menuliskan kode-kode itu untuk masing-masing dalam satu lembar kertas kecil. 4) Mengulung-gulung kertas itu dengan baik 5) Memasukkan gulungan-gulungan kertas itu sesuai dengan kertas masingmasing ke dalam tempolong atau kaleng. 6) Mengkocok baik-baik tempolong atau kaleng itu. 7) Mengambil kertas gulungan itu sebanyak yang dibutuhkan, yaitu 30 orang siswa. 3.3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan yang dibutuhkan dalam penelitian. Data dan keterangan tersebut dapat diperoleh dengan menentukan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. Ketepatan pemilihan teknik pengumpulan data sangat diperlukan, karena tanpa adanya ketepatan, maka data yang diperoleh dalam penelitian tidak mungkin memberikan hasil yang tepat. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan metode angket. 1. Metode Dokumentasi Dokumentasi yaitu mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya" (Suharsimi Arikunto, 2002: 206). Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk mencari data tentang sejarah dan profil SMP Negeri 10 Prabumulih, daftar nama siswa kelas IX yang akan digunakan sebagai sampel penelitian, daftar nilai mata pelajaran IPS siswa kelasI X dan sumber belajar yang ada di sekolah tersebut.

44

2. Metode Angket "Angket adalah sejumlah pertanyaan atau pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui" (Suharsimi Arikunto, 2002: 123). Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, yaitu suatu bentuk angket yang memberi kesempatan kepada responden untuk memilih alternative jawaban yang telah disediakan. Angket tersebut dimaksudkan untuk mengukur kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa.

3.4. Instrumen Penelitian a. Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti sebagai suatu yang diteliti, dipelajari dan ditarik kesimpulannya oleh peneliti. Penelitian ini melibatkan tiga variabel yang terdiri atas dua variable bebas dan satu variabel terikat. Penjabaran variabel tersebut adalah sebagai berikut: 1) Variabel bebas (independent variable) Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau disebut variable penyebab. Variabel bebas dalam penelitian ini ada dua yaitu : kelengkapan sumber belajar (X1) dan kemandirian siswa (X2). 2) Variabel terikat (dependent variable) Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau disebut variable tergantung. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar IPS pada siswa kelas IX SMP Negeri 10 Prabumulih (Y).

45

b. Pembuatan Instrumen Instrumen penelitian berupa angket yang digunakan untuk mendapatkan data. Data yang dibutuhkan adalah data tentang kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa. Sebelum instrumen atau soal dibuat, maka terlebih dahulu disusun kisi-kisi untuk angket. Kisi-kisi angket yang perlu dibuat adalah kisi-kisi angket yang diambil dari definisi konsep yang kemudian dijadikan definisi operasional. c. Langkah-Langkah Penyusunan Angket 1) Menetapkan tujuan Dalam penelitian ini, angket disusun dengan tujuan untuk mendapatkan data tentang latar belakang pendidikan guru, pengalaman mengajar guru, pembelajaran, dan prestasi belajar siswa. 2) Merumuskan definisi konsep dari variabel yang diteliti : a. Definisi konsep kelengkapan sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada diluar diri seseorang yang memudahkan dan mendukung proses atau

kegiatan pengajaran yang diciptakan dengan sengaja untuk memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. b. Definisi konsep kemandirian siswa adalah suatu bentuk kebebasan siswa dalam mengidentifikasi dirinya yaitu mampu menemukan kompetensi, mampu mengaktualisasikan diri secara bertanggung jawab dan mampu melakukan yang lebih. 3) Merumuskan definisi operasional dari variabel yang diteliti : a. Definisi operasional kelengkapan sumber belajar yaitu kelengkapan sumber belajar adalah sumber belajar yang meliputi kelengkapan buku acuan dan buku penunjang, pemanfaatan perpustakaan, kondisi lingkungan non fisik, sumber belajar non cetak, orang sebagai penyampai pesan dan teknik penyampaian pesan.
46

b. Definisi operasional kemandirian siswa adalah suatu bentuk kebebasan siswa dalam berinisiatif tinggi, pengendalian diri dari dalam, memiliki integritas dan identitas, kemampuan mengaktualisasikan diri, kebebasan berekspresi dan berinovasi, dan percaya diri. Penelitian ini menggunakan angket berdasarkan skala Likert, dengan pertimbangan sebagai berikut : 1) Untuk menggali informasi tentang diri responden 2) Memudahkan responden dalam menjawab pertanyaan yang dinilai paling sesuai dengan keadaan dirinya. 3) Memperlancar penelitian, karena skor telah ditentukan terlebih dahulu sesuai dengan tingkatannya. Skala Likert yang digunakan adalah yang memiliki empat katagori jawaban, yaitu sangat setuju sekali, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Penetapan empat kategori jawaban karena untuk menhindari hasil penelitian yang bisa. Penskoran atas empat katagori tersebut adalah sebagai berikut : 1) Skoring untuk item positif, dengan ketentuan sebagai berikut : a) Sangat Setuju : Nilainya 4 b) Setuju : Nilainya 3 c) Tidak Setuju : Nilainya 2 d) Sangat tidak setuju : Nilainya 1 2) Skoring untuk item negatif dengan ketentuan sebagai berikut : a) Sangat Setuju : Nilainya 1 b) Setuju : Nilainya 2 c) Tidak Setuju : Nilainya 3 d) Sangat tidak setuju : Nilainya 4

47

Angket ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa.

Tabel 3.1. Kisi-kisi Angket Variabel Indikator No. item Kelengkapan 1) Kelengkapan buku acuan atau buku 1,2,3,4,5,6,7,8 Sumber penunjang. Belajar 2.pemanfaatan perpustakaan, 9,10, 3. kondisi lingkungan non fisik, 4. sumber belajar non cetak, 16 11,12,13,14,15 Skala likert

5. orang sebagai penyampai pesan dan 17,18,19,20 teknik penyampaian pesan. Kemandirian 1.berinisiatif tinggi, Belajar 2.pengendalian diri dari dalam, 3.memiliki integritas dan identitas,
1,2,3,4 5,6,7,8,9 10,11,12,13,14,15,16

likert

4. kemampuan mengaktualisasikan 17,18,19,20,21,22,23,24 diri, 5. kebebasan danberinovasi, berekspresi


25,26

3.5. Uji Coba Instrumen Penelitian ini menggunakan instrumen yang berupa angket kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa. Sebelum angket digunakan, perlu dilakukan uji coba atau try out terlebih dahulu kepada subjek diluar sampel. Hal ini didasari oleh pendapat Hadari Nawawi, yaitu "untuk uji coba dapat dilakukan pada sejumlah kecil orang yang termasuk populasi tetapi tidak terpilih sebagai sampel (Hadari Nawawi,
48

1995: 122). Uji coba instrumen ini akan diberikan kepada 20 siswa. Uji coba instrumen dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas untuk mengetahui bahwa angket yang akan digunakan adalah valid dan reliabel. a. Uji Validitas "Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen" (Suharsimi Arikunto, 2002: 144). Sebuah angket dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Valid berarti dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Pengujian validitas instrumen menggunakan pengujian validitas konstruksi dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan berlandaskan teori tertentu kemudian dikonsultasikan dengan ahli. 2) Instrumen yang telah disetujui ahli kemudian dicobakan pada 20 orang dari populasi diluar sampel. 3) Setelah data ditabulasikan kemudian dilakukan pengujian. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui kesahihan suatu instrumen adalah teknik korelasi product moment dengan angka kasar, yaitu dengan menggunakan rumus : rxy = NXY (X)(Y) {NX- X}{ NY- Y} Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y X = skor tiap-tiap item Y = jumlah dari skor item N = Jumlah subjek

49

Jika rxy > rtabel pada taraf signifikan 5% berarti item (butir soal) valid, sebaliknya bila rxy < rtabel maka butir soal tidak valid sekaligus tidak memiliki persyaratan (Suharsimi Arikunto, 2002: 146). b. Uji Reliabilitas "Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui tingkat kehandalan sesuatu" (Suharsimi Arikunto, 2002: 154). Untuk menguji kehandalan instrument digunakan rumus Spearman Brown, yaitu sebagai berikut: 2{r} r11 = {1+ r}

Keterangan : r11 = korelasi antara skor setiap belahan r1/21/2 = koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan Skor item dikatakan reliabel apabila r hitung > r tabel setelah harga tersebut dikonsultasikan dengan tabel r (Suharsimi Arikunto, 2002: 156).

3.6. Teknik Analisis Data 1. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas Uji normalitas ini untuk mengetahui apakah data skor intensitas kelompok kelengkapan sumber belajar dan kemandirian siswa maupun skor prestasi belajar siswa sudah mengikuti distribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakah uji liliefors, langkah-langkahnya sebagai berikut:

50

1) Menghitung Zi Zi = [Xi X] S Keterangan : X = Xi N S = N[Xi - X] N[N 1] Zi = angka bantu X = rata-rata S = simpangan baku 2) Untuk setiap angka baku (Zi) dengan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang : F (Zi) = P (Zi < Zi) 3) Hitung S (Zi) = banyaknya Zi,Z2,.....,Nn yang Zi N 4) Hitung selisih F (Zi) - S (Zi) dan tentukan harga mutlaknya 5) Cari nilai terbesar selisih F (Zi) - S (Zi) dan jadikan L hitung 6) Tarik kesimpulan : a) Jika L hitung > L tabel maka ditolak hipotesis statistik, berarti distribusi sebenarnya tidak normal b) Jika L hitung < L label, diteriina hipotesis statistik, berarti distribusi sebenarnya normal (Sudjana S, 1996: 466-468).

b. Uji Linieritas Uji linieritas dilakukan untuk mengetahui apakah model persamaan linier yang diperoleh cocok dengan keadaan atau tidak. Langkah-langkah yang digunakan dalam uji linieritas sebagaimana telah dikemukakan oleh Sudjana sebagai berikut: 1) Nilai X : yang sama harus disusun bersatu dengan Yi pasangannya
51

2) Menghitung: a) KJ(1) = [Yi - Yi] N b) KJ(2) = KJres - KJ(E) c) KJ(C) = KJres - KJ(TE) 3) Menghitung a) df(E) = N K b) df(TE) = K-2 K = banyaknya kelompok X 4) Menghitung: a) RJK(E) = JK(E) df(E) b) RJK(TE) = JK(TC) df(TC)

5) Fhitung = JK(TC) df(E)

6) Ftabel = (l-3)(K-2.N-K) Jika Fhitung > Ftabel, hipotesis nol ditolak, berarti persamaannya tidak linier Jika Fhitung < Ftabel, hipotesis nol diterima, berarti persamaannya linier (Sudjana S, 1996: 330).

c. Uji Independensi

52

Uji independensi antar variabel X dilakukan untuk mengetahui bahwa antara variabel bebas (X1 dan X2) saling lepas atau tidak terjadi korelasi, rumus korelasi yang digunakan adalah sebagai berikut: N[X1X2] - [X1][X2] {N[X1] - [X1]}{ N[X2] - [X2]} Keterangan: r x1 x2
=

rx1x2 = Koefisien korelasi antar prediktor X1 = Jumlah skor variabel X1 X2 = Jumlah skor variabel X2 N = Banyaknya sampel Kriteria uji, jika rhitung < rtabel maka antar variabel bebas tidak tergantung atau independen. 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Adapun langkah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut: a. Analisis Korelasi Parsial "Korelasi parsial (partial correlation) adalah korelasi antara sebuah variable terikat (dependent variable) dengan sebuah variabel bebas tertentu (independent variable), sementara sejumlah variabel bebas lainnya sifatnya tetap atau konstan" (Djarwanto PS & Pangestu Subagyo, 1998: 352). Koefisien korelasi parsial dinyatakan dengan rumus : r Y1,2 = r Y1 -

r Y2r12 r Y1r12

(1-rY2)(1-r12)
r Y2,1 = r Y2 -

(1-rY1)(1-r12)

53

Koefisien korelasi Y dengan X1 r Y1 = n ( X1Y) - ( X1)( Y) n( X1) - ( X1)[n( Y)( Y)]

Koefisien korelasi Y dengan X2 rY2 = n ( X2Y) - ( X2)( Y) n( X2) - ( X2)[n( Y)( Y)]

Koefisien X1 korelasi dengan X2 rY12 = n ( X1X2) - ( X1)( X2) n( X1) - ( X1)[n( X2)( X2)]

(Djarwanto PS & Pangestu Subagyo, 1998: 352-354).

b. Uji t (Uji Parsial) Uji t parsial digunakan untuk menguji koefisien korelasi parsial dengan langkahlangkah sebagai berikut : 1) Perumusan hipotesis H0 : = 0, tidak ada pengaruh variabel bebas (X1, X2) terhadap variable terikat (Y) H0 : 0, ada pengaruh variabel bebas (X1, X2) terhadap variabel terikat (Y) 2) Menentukan nilai ttabel dengan tingkat keyakinan 95 % atau = 5% dan degree of freedom (df) = n-k 3) Kriteria pengujian H0 diterima apabila thitung < ttabel H0 ditolak apabila thitung > ttabel 4) Menentukan nilai t hitung dengan rumus

thitung = b
54

S Keterangan : t = nilai t hitung = koefisien regresi S = standar error 5) Menentukan kesimpulan pengujian dengan cara membandingkan antara thitung dengan t tabel. 6) Apabila , thitung < ttabel maka H0 diterima, berarti tidak ada pengaruh yang positif antara variabel independent dengan variabel dependent. Apabila thitung > ttabel, maka H0 ditolak, berarti ada pengaruh yang positif antara variabel independent dengan variabel dependent (Supranto. C, 1994: 285).

d. Analisis Korelasi Berganda Korelasi berganda (multiple correlation) merupakan alat ukur untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat (variabel Y) dengan beberapa variabel bebas (varibel X1 dan X2) secara serempak dengan ketentuan sebagai berikut : Korelasi berganda : r Y12 =

b1 x1 y + b2 x2 y

Y2 (Djarwanto PS & Pangestu Subagyo, 1998: 350). e. Uji F Uji F dilakukan untuk pengujian signifikasi terhadap koefisien korelasi ganda. Rumus pengujiannya adalah : F = R (N m 1) m(1 - R) Keterangan : F = harga F garis regresi

55

N = cacah kasus m = cacah prediktor R = koefisien korelasi antara kriterium (y) dengan prediktor (x1 dan x2). Sebelumnya mencari: 1) JKT = y2 2) JK reg= R2(y2) 3) Jkres= (1-R2)(y2) 4) dbr = N-1 5) db reg = m 6) db res = N-m-1 Keterangan : Derajat kebebasan (db) untuk menguji harga F (Sutrisno Hadi, 2000: 26). f. Analisis Regresi Berganda Regresi berganda (multiple regression) digunakan untuk mengetahui pertautan (association) antara variabel terikat (variabel Y) dengan beberapa variable bebas (varibel XI dan X2) sebagai berikut : Regresi berganda : Y = a + b1X1 +b2X2 (Djarwanto Ps & Subagyo, 1998 : 309). g. Uji Sumbangan Relatif (SR) dan Sumbangan Efektif (SE) 1) Sumbangan Relatif (SR) dalam persen (%) SR%X1 = a1 X1Y a1 X1 + a2 X2Y

2) Sumbangan Efektif (SE) dalam persen (%) SE%x1 =SR%X1.R2

56

SE%x2 =SR%X2.R2 (Sutrisno Hadi, 2000: 42)

ANGKET KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA A. Petunjuk Umum : Angket ini hanya untuk kepentingan ilmiah dan tidak akan berpengaruh terhadap reputasi Anda di sekolah ini. Silahkan mengisi dengan sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya berdasarkan pikiran Anda dan sesuai dengan yang Anda alami. 1. Tulislah nama dan nomor urut anda di sudut kanan atas pada lembar jawaban. 2. Bacalah setiap nomor dengan seksama. B. Petunjuk Khusus : Tuliskan pendapat Anda terhadap setiap pernyataan ( pertanyaan ) dengan cara memberikan tanda menyilang ( X ) huruf-huruf pada lembar jawaban sebagai berikut : SS : Jika Sangat Setuju S : Jika Setuju TS : Jika Tidak Setuju ST S : Jika Sangat Tidak Setuju C. Pernyataan

No

Pernyataan Berinisiatif tinggi Sebelum belajar, saya menyiapkan buku-buku, alat tulis menulis atau peralatan belajar yang lain yang saya butuhkan. Sesudah ulangan atau tes, saya membiarkan begitu saja soalsoal ulangan tersebut, dan saya tidak peduli apakah saya sudah bisa menjawab atau tidak. Saya belajar secara teratur tidak hanya ketika akan ulangan saja Saya belajar sendiri tanpa diperintah oleh orang tua

SS

TS

STS

1.

2.

3.

57

5.

Pengendalian diri dari dalam Ketika bapak/ibu guru memberikan kesempatan untuk bertanya maka kesempatan itu saya biarkan saja, meskipun ada materi pelajaran yang belum saya pahami Setiap ada permasalahan dalam memahami materi pelajaran, saya bertanya kepada orang lain Saya meminjam alat tulis menulis atau peralatan belajar lainnyakepada teman Saya belajar sesuai dengan jadwal yang saya buat Saya baru belajar kalau situasi memungkinkan Memiliki integritas dan identitas diri

6.

8 9

10

Saya memberikan saran atau usul kepada bapak/ibu guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran di dalam kelas Apabila ada soal-soal atau tugas yang sulit, saya berusaha untuk memecahkan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain Setiap ada pekerjaan rumah (PR) atau tugas dari bapak/ibu guru langsung saya kerjakan pada hari itu juga Saya mengerjakan pekerjaan rumah (PR)/tugas yang diberikan bapak/ibu guru sewaktu-waktu dan kapanpun, sesuka hati saya Saya mengumpulkan pekerjaan rumah (PR)/tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru tepat waktu Apabila ada pekerjaan rumah (PR)/tugas saya mengumpulkan tugas tersebut sewaktu-waktu atau kapanpun yang penting mengumpulkan Saya yakin bahwa setiap tugas yang saya kerjakan adalah benar

11

12

13

14

15

16

Kebebasan berekspresi dan berinovasi,

58

17

Jika materi pelajaran belum saya pahami saya berusaha mencari buku-buku perpustakaan untuk membantu memahami Saya mengerjakan pekerjaan rumah (PR)/tugas dibantu oleh orang lain Saya merasa bahwa semua pelajaran itu penting dan ada gunanya Saya suka meminjam buku catatan milik teman untuk disalin di rumah Sesudah tes/ulangan, saya mencoba mengulang kembali untuk menjawab tes tersebut di rumah Apabila ada soal-soal yang salah yang belum bisa saya jawab, saya berusaha untuk membetulkannya Meskipun banyak acara di TV yang menarik, saya tetap belajar Jika ada kesulitan dalam belajar saya biasanya mampu mengatasi masalah sendiri

18

19

20

21

22

23

24

25

Kemampuan mengaktualisasikan diri, Saya percaya pada kemampuan saya sendiri bahwa saya akan berhasil dalam belajar Ketika teman mengajak untuk jalan-jalan, saya tetap memilih untuk belajar

26.

59

ANGKET KELENGKAPAN SUMBER BELAJAR A. Petunjuk Umum : Angket ini hanya untuk kepentingan ilmiah dan tidak akan berpengaruh terhadap reputasi Anda di sekolah ini. Silahkan mengisi dengan sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya berdasarkan pikiran Anda dan sesuai dengan yang Anda alami. 1. Tulislah nama dan nomor urut anda di sudut kanan atas pada lembar jawaban. 2. Bacalah setiap nomor dengan seksama. B. Petunjuk Khusus : Tuliskan pendapat Anda terhadap setiap pernyataan ( pertanyaan ) dengan cara memberikan tanda menyilang ( X ) huruf-huruf pada lembar jawaban sebagai berikut : SS : Jika Sangat Setuju S : Jika Setuju TS : Jika Tidak Setuju ST S : Jika Sangat Tidak Setuju C. Pernyataan

No. Pernyataan Kelengkapan buku acuan dan buku penunjang : Buku paket memadai jumlahnya Buku paket mendukung pembelajaran Buku pendamping memadai jumlahnya Buku pendamping mendukung pembelajaran LKS memadai jumlahnya LKS meningkatkan hasil belajar Bank soal memadai jumlahnya Bank soal meningkatkan kemampuan belajar siswa Pemanfaatan perpustakaan Sarana perpustakaan memadai Ruangan perpustakaan bersih dan nyaman Sumber belajar non cetak, Alat peraga memadai jumlahnya Alat peraga meningkatkan semangat belajar Alat tulis memadai untuk pembelajaran

SS

TS

STS

1 2 3 4 5 6 7 8

9 10

11 12 13

60

14 15

Kelengkapan alat tulis membantu kelancaran belajar Media belajar elektronik seperti, OHP, radio, televis, computer, infocus tersedia.

16

Kondisi lingkungan non fisik Kebersihan kelas meningkatkan semangat belajar

17 18 19 20

Orang Sebagai Penyampai pesan dan teknik penyampain pesan Para guru mengajar dengan menggunakan media. Guru selalu menggunakan metode ceramah tanpa melibatkan siswa Media pembelajaran yang digunakan guru selallu bervariasi Banyak guru yang belum bisa memanfaatkan media elektronik yang tersedia.

61

62