Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TERNAK UNGGAS SISTEM DIGESI DAN REPRODUKSI UNGGAS

Disusun oleh: Irfansyah Widyantono 12/333053/PT/06290 Kelompok III

Asisten : Alvin Dwika Putra Permana

LABORATORIUM ILMUTERNAK UNGGAS BAGIAN PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

PENDAHULUAN

Latar Belakang Unggas merupakan hewan bersayap dari kelompok aves yang telah mengalami domestikasi, hidupnya diatur oleh manusia dan memberikan hasil berupa barang (daging, telur, bulu) dan jasa (kesenangan, pendapatan). Unggas merupakan ternak yang produktif, yang dapat memberikan hasil yang maksimal. Kebutuhan akan hasil ternak unggas dari waktu ke waktu semakin meningkat. Kebutuhan itu antara lain kebutuhan daging ayam, telur sebagai sumber protein, feses untuk pupuk, bulu dan lain lain.Tetapi dalam kebutuhan yang tinggi tersebut tidak disertai dengan pemenuhan kebutuhan yang mencukupi, dengan kata lain jumlah permintaan tidak sebanding dengan peningkatan hasil ternak unggas yang besar. Umumnya produk dari unggas yang banyak diminati oleh masyarakat adalah daging dan telur. Daging unggas diminati masyarakat karena daging ayam dapat menggantikan daging sapi, bahkan lebih baik dari daging sapi. Telur ayam banyak diminati oleh masyaralat , hal ini disebabkan karena kandungan protein didalam telur sangat tinggi, sehingga telur merupakan sumber protein hewani. Kedua kebutuhan tersebut dipenuhi oleh ternak ayam yang berbeda dan bersifat monopurpose.ayam broiler sebagai penghasil daging dan ayam layer sebagai penghasil telur. Tujuan Praktikum Praktikum Ilmu Ternak Unggas acara sistem digesti dan reproduksi unggas bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana prinsip pencernaan, proses pencernaan, dan alat atau organ yang terlibat dalam sistem pencernaan serta fungsinya, dalam sistem digesti. Sedangkan

pada sistem reproduksi untuk mengetahui dan memahami anatomi alat reproduksi baik jantan dan betina, proses reproduksi, dan fungsi dari alat atau organ reproduksi.

Manfaat Praktikum Manfaat dari praktikum Ilmu Ternak Unggas acara sistem digesti dan reproduksi unggas adalah untuk mengerti dan memahami prinsip pencernaan, proses pencernaan, dan alat atau organ yang terlibat dalam sistem pencernaan serta fungsinya, dalam sistem digesti. Sedangkan pada sistem reproduksi untuk mengetahui dan memahami anatomi alat reproduksi baik jantan dan betina, proses reproduksi, dan fungsi dari alat atau organ reproduksi.

MATERI DAN METODE

Materi Alat. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum sistem digesti dan reproduksi unggas adalah mata pisau no. 10 surgical blade, gunting JMC, timbangan camry, pinset yamaco, scalpel tagimaco, plastik, kamera, dan pita ukur butterfly bland. Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum sistem digesti dan reproduksi unggas adalah dua ayam betina layer afkir umur lebih dari 72 minggu. Berat ayam A dan B yang digunakan dalam praktikum adalah 1536 gram dan 1632 gram.

Metode Ayam yang telah dipotong dibedah kemudian dikeluarkan seluruh organ pencernaan dan organ reproduksinya. Seluruh organ yang dikeluarkan diusahakan jangan sampai putus. Organ kemudian diletakkan diatas plastik bening dan diatur secara utuh dan urut kemudian diambil gambarnya dan digambar. Panjang setiap bagian organ diukur dan dipotong lalu dikeluarkan semua isinya, dicuci lalu ditimbang beratnya masing-masing, kemudian dicatat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Sistem Digesti Ayam Berdasarkan hasil praktikum digesti organ-organ pencernaan didapatkan hasil panjang dan berat organ-organ digesti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini : Tabel 1.1. Organ-organ digesti Parameter Ayam A Panjang Berat (cm) (gram) Oesophagus 12 5 Crop 10 7 Proventrikulus 12 3 Gizzard 6 26 Usus Halus : a.Duodenum 33 9 b.Jejenum 76 18 c.Ileum 62 11 Coecum 18 3 Usus Besar 16 10 Kloaka 5 15 Ayam B Panjang Berat (cm) (gram) 16,5 4 9 9 14 11,5 8,5 24 31 72 67 23 11,5 3 24 20 17 9 6 22 Keterangan

Berdasarkan hasil praktikum sistem digesti dan reproduksi pada unggas dapat diketahui panjang dan berat organ-organ digesti tambahan pada unggas yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini : Tabel 1.2. Organ-organ tambahan Parameter Organ a. Hati b. Pankreas c. Limfa Ayam A Panjang Berat (cm) (gram) 46 3 1 Ayam B Panjang Berat (cm) (gram) 31 2 2 Keterangan

Sistem Reproduksi Ayam Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil panjang dan berat organ-organ reproduksi pada ayam yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini: Tabel 1.3. Sistem Reproduksi Ayam Betina Parameter Ayam A Ayam B Panjang Berat Panjang Berat (cm) (gram) (cm) (gram) Ovarium+Ovum 68 9 46 Infundibulum 9 1 11 1 Magnum 32 36 29 34 Isthmus 12 7 13 13 Uterus 7 18 13 8 Vagina 7 5 10 27 Pembahasan Keterangan

Sistem Digesti Ayam Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, ayam yang digunakan adalah ayam layer betina afkir yang berumur lebih dari 72 minggu dengan berat ayam 1536 gram (untuk ayam A) dan ayam B yang berumur lebih dari 72 minggu dengan berat 1632 gram. Digesti merupakan suatu proses pemecahan partikel-partikel pakan dari ukuran yang besar menjadi ukuran yang kecil yang terjadi di dalam organ-organ pencernaan, yaitu agar dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pencernaan dapat dibagi menjadi pencernaan mekanik dan kimiawi.

Gambar 1. Organ digesti unggas

Mulut. Mulut unggas tidak mempunyai bibir, pipi, dan gigi tetapi mempunyai paruh sebagai gantinya, sehingga pakan yang telah berada di dalam mulut langsung ditelan masuk ke dalam tembolok yang merupakan perbesaran dari oesophagus. Lidah ayam memiliki beberapa kelenjar dan sedikit syaraf pengecap, serta berfungsi sebagai sendok atau cangkir pada waktu meneguk makanan (Kartasudjana, 2005).

Gambar 2. mulut unggas Oesophagus. Oesophagus merupakan saluran pencernaan yang menghasilkan mukosa berlendir (Mucos) yang berfungsi membantu melicinkan pakan menuju tembolok (crop). Menurut Kartasudjana (2005), kisaran normal panjang oesophagus adalah 20 sampai 25 cm dan beratnya 5 sampai 7,5 gram. Dari hasil praktikum diperoleh panjang oesophagus ayam A dan ayam B adalah 12 dan 16,5 cm. Berat oesophagus ayam A adalah 5 gram dan ayam B adalah 4 gram. Hal tersebut menunjukan hasil praktikum kurang sesuai dengan kisaran normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan oesophagus, antara lain umur, jenis kelamin, dan pakan yang diberikan.

Gambar 3. Oesophagus Unggas Crop. Crop berfungsi untuk menampung dan membasahi pakan sehingga lunak. Daya tampung pakan dari tembolok sebesar 250 gram. Melalui oesophagus makanan menuju crop untuk disimpan sementara. Kisaran normal panjang crop adalah 7 sampai 10 cm dan beratnya 7 sampai 12 gram (Neil, 1991). Panjang crop hasil praktikum untuk ayam A 10 cm, dan ayam B 9 cm. Sedangkan beratnya pada kisaran normal yaitu 7 gram untuk ayam A dan 9 gram untuk ayam B. Hal ini jika dibandingkan sesuai dengan literatur yang tersedia. Apabila terdapat perbedaan maka dapat disebabkan oleh perbedaan umur, pakan, maupun genetik. Crop mempunyai sebuah bakteri yang untuk menjaga kesehatan dan produktivitas. Bakteri ini dinamakan bakteri Chlorella vulgaris, bakteri tersebut akan meningkatkan jumlah Lactobacillus ingluwei yang berperan untuk pencernaan sari-sari makanan di crop (Anonim, 2011).

Gambar 4. Crop Unggas

Proventrikulus. Proventikulus disebut juga perut kelenjar atau lambung kelenjar yang terletak diatas gizzard, mensekresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan lemak (Yuwanta, 2004).

Pencernaan dari crop makanan kemudian masuk ke proventrikulus. Proventrikulus pakan bercampur dengan getah proventrikulus atau getah lambung. Kemudian pakan masuk ke empedal untuk dihancurkan secara mekanik dengan adanya kontraksi otot empedal yang dibantu adanya grit sehingga pakan menjadi bentuk pasta (Kamal, 1999). Panjang normal proventrikulus sekitar 6 cm dan beratnya 7,5 sampai 10 g. Panjang proventrikulus ayam A adalah 12 gram dan ayam B adalah 14 gram, sedangkan berat proventrikulus ayam A dan B adalah 3 dan 11,5 cm. Hal tersebut menunjukan hasil praktikum kurang sesuai dengan kisaran normal. Menurut Blakely dan Bade (1991), perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh kecepatan pertumbuhan pada masing-masing ayam.

Gambar 5. Proventikulus Unggas Gizzard. Pakan yang berasal dari proventrikulus masuk ke dalam gizzard untuk dihancurkan secara mekanik, dengan adanya kontraksi otot gizzard yang dibantu oleh adanya grit sehingga pakan menjadi bentuk pasta (Kamal, 1999). Gizzard mensekresikan enzim yang berfungsi

melindungi permukaan empedal terhadap kerusakan yang mungkin disebabkan oleh pakan atau zat lain yang tertelan (Yuwanta, 2004). Menurut Neil (1991), kisaran normal beratnya adalah 25 sampai 30 gram. Hasil praktikum didapatkan untuk ayam A dan B adalah 26 dan 24 gram. Berarti hasil dari pengukuran tidak jauh dari kisaran normal. Ukuran dan

kekuatan crop dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan jenis pakan dari ayam tersebut (Yuwanta, 2004).

Gambar 6. Gizzard Unggas Small Intestinum (usus halus). Terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, ileum. Dalam duodenum terdapat ductus pankretikus yang berguna dalam pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein. Bagian ini terjadi penyerapan sari-sari makanan, dan hasilnya akan dibawa ke dalam darah (Suprijatna, 2005). Jejenum dan illeum merupakan kelanjutan dari duodenum. Fungsinya sama dengan duodenum. Usus halus (small intestine) dinamakan juga intestinum tenue, panjangnya

mencapai 120 cm dan terbagi dalam 3 bagian, yaitu Duodenum, Jejenum, dan Ileum (Yuwanta, 2004). Sedangkan hasil yang didapatkan dari praktikum untuk panjang usus halus secara keseluruhan mencapai 171 cm untuk ayam A dan 170 cm untuk ayam B. Maka, dapat disimpulkan kalau panjang usus halus kedua ayam tersebut tidak dalam kisaran normal. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis ayam, umur dan kebiasaan pakan yang dikonsumsi (Suprijatna, 2005).

Gambar 7,8,9. Doudenum, jejenum, ileum Unggas

Coecum. Setelah dari usus halus makanan menuju ke dalam sekum. coecum terdiri atas dua seca, panjangnya sekitar 20 cm dengan berat normal antara 6 sampai 8 gram (Suprijatna, 2005). Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data untuk panjang sekum ayam A adalah 18 cm dan B adalah 23 cm. Berat coecum ayam A dan B adalah 3 dan 9 gram. Panjang sekum pada kedua ayam tersebut tidak sesuai dengan kisaran normal disebabkan oleh faktor genetik ayam. Untuk beratnya, kedua ayam tersebut berada pada kisaran normal. Perbedaan tersebut karena perbedaan pertumbuhan dan performans masing-masing ayam. Ceca juga mempunyai bakteri-bakteri yang penting dalam proses digesti pada ayam, yakni bakteri C. Vulgaris yang akan mempengaruhi pada bakteri-bakteri di dalam ceca (Anonim, 2009).

Gambar 10. Coecum Unggas Usus Besar. Saluran pencernaan selanjutnya adalah usus besar, bagian ini terjadi perombakan partikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi feses. Pada bagian ini juga bermuara ureter dari ginjal untuk membuang urin yang bercampur dengan feses sehingga feses unggas dinamakan ekskreta (Yuwanta, 2004). Panjang normal usus besar adalah 10 sampai 12 cm (Suprijatna, 2005). Panjang usus besar ayam A adalah 16 cm dan ayam B adalah 11,5 cm. Berat usus besar adalah 4 sampai 6 g (Suprijatna, 2005). Berat usus besar ayam A dan B adalah 10 dan 6 g. Dari hasil tersebut didapatkan bahwa untuk berat dan panjang usus besar dan pada ayam A dan B tidak berada pada kisaran

normal. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis ayam, umur dan kebiasaan pakan yang dikonsumsi (Suprijatna, 2005).

Gambar 11. Usus besar Unggas Kloaka. Saluran pencernaan ayam berakhir pada bagian kloaka yaitu merupakan muara keluaran urine, telur dan ekskreta. Kloaka mempunyai panjang normal 1,3 cm sampai 3 cm dan berat normal 6 sampai 8 gram (Suprijatna, 2005). Data yang diperoleh pada praktikum untuk panjang kloaka adalah 5 cm untuk ayam A dan 3 cm ayam B. Sedangkan berat kloaka adalah 15 gram untuk ayam A dan 22 gram untuk ayam B. Panjang dan berat sesuai dengan kisaran normal. kloaka untuk ayam A dan ayam B tidak

Gambar 12. Kloaka Unggas Organ-Organ Tambahan Hati. Hati dalam proses pencernaan berfungsi untuk

mensekresikan getah empedu yang dibawa ke dalam duodenum. Fungsi dari getah empedu ini untuk menetralkan asam lambung (HCl),

membentuk sabun terlarut dengan lemak bebas. Kedua fungsi tersebut membantu dalam absorbsi dan translokasi asam lemak. Data yang didapat dari praktikum adalah 46 gram untuk ayam A dan 31 gram untuk ayam B, sehingga dapat dikatakan bahwa ayam A normal dan ayam B tidak normal. Normal berat hati ayam A 46,08 gram dan ayam B 48,96 gram menurut sumber di atas bahwa berat hati ayam adalah 3% dari berat badan ayam itu sendiri. Perbedaan ukuran tersebut disebabkan oleh perbedaan umur ayam dan ukuran tubuh ayam yang digunakan untuk praktikum (Yuwanta, 2004).

Gambar 13. Hati Unggas Pankreas. Pankreas mensekresikan getah pankreas (pancreatic juices) yang berfungsi dalam pencernaan pati, lemak dan protein serta mensekresikan insulin, pankreas memiliki dua fungsi yang semuanya berhubungan dengan penggunaan energi ransum, yaitu eksokrin, berperan mensuplai enzim yang mencerna karbohidrat, protein dan lemak ke dalam usus halus. Endokrin, berfungsi menggunakan dan mengatur nutrien yang berupa energi untuk diserap dalam tubuh untuk proses dasar pencernaan, pada ayam dewasa berat pankreas bermacam-macam tergantung dari jenis dan spesies. Namun umumnya pada kisaran 2-5 gram (Yuwanta, 2004). Hasil pengukuran pada praktikum diperoleh berat 3 dan 2 gram untuk ayam A dan B, sehingga sesuai dengan kisaran normal.

Gambar 14. Pankreas Unggas

Limfa. Limfa berfungsi sebagai pemecah sel darah merah menjadi sel darah putih (Yuwanta, 2004). Hasil pengukuran berat didapatkan limfa memiliki berat 1 dan 2 gram untuk ayam A dan B. Kisaran normal pada unggas sendiri antara 1 gram hingga 2,5 gram (Suprijatna, 2005). Sehingga hasil pengukuran sesuai dengan kisaran normal.

Gambar 15. Limfa Unggas Sistem Reproduksi Ayam Jantan Testis. Unggas jantan dua buah testis yang berada di dalam rongga perut bagian atas, terletak memanjang di punggung dekat dengan ujung ginjal sebelah depan dan di bawahnya. Ayam tidak memiliki skortum disebelah luar tubuh seperti pada jenis ternak lain. Testis berbentuk lonjong, berwarna kuning pucat dan sering memiliki anyaman pembuluh darah merah di permukaan (Yuwanta, 2004). Bobot testis pada ayam terjadi karena adanya peningkatan pada proses spermatogenesisnya, sehingga selain meningkatkan jumlah spermatozoa yang terbentuk juga

akan diikuti dengan perubahan jumlah sel sertoli dan jumlah sel leydig, yaitu terjadinya hiperplasia (Anonim. 2003). Vas deferens. Saluran deferens adalah suatu pembuluh yang merupakan kelanjutan dari tabung semiferus. Setiap saluran deferens membuka ke jonjot kecil yang secara bersama berfungsi sebagai alat penggerak. Organ ini terletak di dinding atas kloaka dan bertugas memancarkan sperma (Yuwanta, 2004). Papilla. Papilla telah mengalami rudimeter dan terletak pada salah satu lipatan medio ventral dari kloaka. Papilla ini merupakan alat kelamin primer bagi ayam jantan. Papilla pada saat terjadi perkawinan hanya mampu menempel pada kloaka ayam betina. Pada beberapa unggas yang lain seperti pada itik manila (entog), angsa papilla ini cukup panjang dan berkelok-kelok (Yuwanta, 2004). Sistem Reproduksi Betina Ovarium dan Ovum. Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis, dan perkembangan dan pemasakan telur. Ovarium berbentuk seperti buah anggur dan terdapat di dalam rongga tubuh yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur bersama kuning telur dan penghasil hormon estrogen. Menurut (Suprijatna, 2005), berat normal ovarium adalah 36 sampai 38 gram. Berat ovarium yang telah ditimbang adalah untuk ayam A 51 gram dan untuk ayam B adalah 46 gram. Berat ovarium ayam A dan B tidak sesuai dengan literatur yang ada karena disebabkan oleh usia ayam, faktor genetik ayam, serta perawatan ayam tersebut (Yuwanta. 2004).

Gambar 16. Ovarium Unggas

Infundibulum. Infundibulum merupakan tempat untuk menangkap sel telur pada waktu diovulasikan dan tempat pembungkusan sel telur bersama dengan kuning telur albumen yang pertama. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan untuk panjang infundibulum ayam A dan B adalah 2 cm dan beratnya adalah 9 gram untuk ayam A dan 11 gram untuk ayam B. Menurut Suprijatna (2005), panjang normal infundibulum adalah 6 cm. Perbedaan hasil untuk panjang infundibulum yang didapatkan disebabkan oleh faktor genetik ayam, umur, jenis kelamin dan perawatan ayam tersebut (Yuwanta. 2004).

Gambar 17. Infundibulum Unggas Magnum. Magnum tersusun dari sel goblet yang berfungsi dalam mensekresikan putih telur kental dan cair. Panjang magnum kurang lebih 33 cm (Yuwanta, 2004). Panjang magnum ayam A 32 cm, ayam B 29 cm. Kedua data tersebut tidak pada kisaran normal. Perbedaan ukuran tersebut disebabkan oleh perbedaan umur ayam dan ukuran tubuh ayam yang digunakan untuk praktikum (Yuwanta. 2004).

Gambar 18. Magnum Unggas

Isthmus. Hasil penukuran menunjukkan bahwa ayam A dan B memiliki panjang dan berat isthmus 12 dan 13 cm. Menurut Yuwanta (2004), panjang isthmus adalah 10, menurut kisaran normal umum 8 sampai 10 cm dan berat 5 gram. Hasil pengukuran dalam praktikum dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak pada kisaran normal, hali ini disebabkan oleh perbedaan umur ayam dan genetik ayam. Fungsi isthmus adalah mensekresikan selaput telur (Yuwanta, 2004).

Gambar 19. Isthmus Unggas Uterus. Telur yang belum jadi ini dari isthmus akan didorong masuk ke uterus. Uterus akan disekresikan albumen cair dalam jumlah sedikit, air dan minenal serta sedikit magnesium dan kalsium. Sebelum disekresikan kerabang telur tipis akan disekresikan terlebih dahulu putih telur cair yang berjumlah 20 sampai 25 persen dari jumlah putih telur. Bahan kerabang yang disekresikan sebagian besar terdiri dari CaCO3 sebanyak 93 sampai 98% (Yuwanta, 2000). Hasil pengukuran menunjukkan panjang uterus pada ayam A dan B adalah 12 dan 13 cm, sedangkan beratnya adalah 7 dan 13 gram. Hasil pengukuran setelah dibandingkan tidak sesuai dengan kisaran normal, hal ini dapat disebabkan oleh faktor umur, faktor geneti, dan tingkat produksi telur.

Gambar 20. Uterus Unggas Vagina. Hasil praktikum menunjukkan ayam A dan ayam B mempunyai panjang sebesar 7 cm dan 10 cm, kemudian berat 5 dan 27 gram. Menurut Yuwanta (2004) panjang vagina adalah 10 cm. Hasil tersebut kurang lebih sesuai dengan kisaran normal. Jikapun berbeda, hal tersebut disebabkan oleh umur ayam, pakan serta jenis kelamin ayam yang digunakan.

Gambar 21. Vagina Unggas

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa urutan saluran pencernaan atau sistem digesti pada unggas antara lain mulut, oesophagus, crop, proventrikulus, gizzard, small intestinum, large intestinum, dan kloaka. Serta terdapat organ tambahan yaitu hati, pankreas, dam limfa Ukuran-ukuran alat pencernaan berdasarkan pengamatan masih banyak yang berbeda dengan kisaran normal. Hasil pengukuran yang tidak sesuai dengan literatur dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang membedakan adalah genetik, jenis pakan, dan umur. Prinsip pencernaan pada unggas adalah pencernaan secara mekanik, kimiawi, dan secara mikrobilogik. Sistem reprodusi ayam betina terdiri dari dua bagian utama yaitu ovarium dan oviduct. Oviduct terdiri dari beberapa bagian yaitu infundibulum, magnum, dan isthmus, uterus, dan vagina. Perbadaan ukuran panjang dan berat alat-alat reproduksi ayam betina dapat disebabkan oleh umur, bangsa, ukuran, berat badan, jenis pakan, dan lingkungan. Sistem reproduksi ayam jantan dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu sepasang testis, sepasang ductus deferens,dan organ kopulasi yang bersifat rudimenter yang terdapat dalam kloaka.

DAFTAR PUSTAKA Anonim . 2009. http.// www. poultry scince.com / microbial community composition of the crop and ceca contents of laying hens fed diets suplemented with Chlorella vulgaris. 5 Oktober Jam 15.00. Anonimb. 2009. http.// www. poultry science.com/ Physiology endocrinology and reproduction of the turkey vagina with and without an egg mass in the uterus. 5 Oktober Jam 15.00. Anonim. 2003. http//. www. animal production. Com / performans organ reproduksi primer ayam lokal (Gallus domesticus) Jantan dengan Induksi Hormon Gonadotropin. 5 Oktober Jam 15.45. Blakely, Jand David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Cetakan ke-8 Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Kamal, Muhammad. 1994. Nutrisi Ternak 1. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Kartasudjana, R. dan G. Suprijatna. 2005. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta. Neil, A.C. 1991. Bilogy, 2nd edition. The Benyamin Commming Publishing. Compay Inc. Ped., Wood Hity. Suprijatna, E. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta. Yuwanta, T. 2000. Dasar Ternak Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Yuwanta, T.2004. Dasar Ternak Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
a