Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

BAB 3

KARAKTERISTIK KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

Bab ini berisikan mengenai gambaran umum Kabupaten Kepulauan Meranti dan gambaran umum kecamatan Pulau Merbau.

3.1

Gambaran Umum Kabupaten Kepulauan Meranti


Kabupaten Kepulauan Meranti terletak di propinsi Riau bagian utara

atau terletak pada bagian pesisir Timur Pulau Sumatera dengan koordinat 01039'33" - 01025'08 Lintang Utara (LU) dan 102010'29" - 103016'43 Bujur Timur (BT) terletak pada posisi strategis pelayaran internasional tersibuk di dunia yaitu Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan Malaysia dan berada pada 2 segitiga pertumbuhan ekonomi yaitu Indonesia-MalaysiaSingapura (IMS-GT) dan segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia dan Thailand (IMT-GT) seperti yang dapat dilihat pada Gambar. Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan kabupaten baru pecahan dari Kabupaten Bengkalis yang dibentuk berdasarkan UU No. 12 tahun 2009 dengan luas seluaruh wilayah Kabupaten adalah 682.285 Ha dengan wilayah darat 359.806 Ha dan wilayah laut 322.479 Ha, yang terdiri dari 7 kecamatan dan 73 desa/kelurahan. Berdasarkan batasan administratif pasca pemekaran, wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki batas - batas sebagai berikut : a) Utara b) Selatan c) Barat d) Timur : Berbatasan dengan Selat Malaka dan Malaysia. : Berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan : Berbatasan dengan Kabupaten Bengkalis : Berbatasan dengan Selat Pinang Masak dan Kabupaten Karimun

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 1

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.1, Gambar 3.1, dan Gambar 3.2 berikut. Tabel 3.1
No. 1 2 3 4 5 6 7 Wilayah Administrasi Kabupaten Kepulauan Meranti Kecamatan Tebing Tinggi Tebing Tinggi Barat Merbau Rangsang Rangsang Barat Pulau Merbau Tebing Tinggi Timur Jumlah Sumber : Kabupaten Kepulauan Meranti Dalam Angka 2010 Ibukota Kecamatan Selat panjang Alai Teluk Belitung Tanjung Samak Bantar Kuala Merbau Sungai Tohor Luas Daratan (Ha) 8.182 49.480 111.024 65.610 25.370 21.544 78.596 359.806 Persetase luas (%) 2,27 13,75 30,86 18,23 7,05 6,00 21,84 100,00 Desa dan Kelurahan 9 8 14 13 15 15 7 73

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 2

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

STUDY KELAYAKAN KAWASAN PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

Gambar 3.1. Peta Orientasi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 3

DI PULAU MERBAU

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Gambar 3.2. Peta Administrasi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 4

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Dengan mengetahui kondisi fisik suatu wilayah dapat menjadi modal awal dalam melakukan perencanaan tata ruang. Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari wilayah daratan dan lautan. Wilayah daratan Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari tiga pulau utama (besar) yaitu Pulau Rangsang, Pulau Tebing Tinggi, dan Pulau Padang yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yaitu pulau Merbau, Topang, Burung, Panjang, Menggung, Setahun, Berembang. Kondisi fisik dasar wilayah dapat diuraikan sebagai berikut:

3.1.1 Topografi dan Bentuk Wilayah Kondisi topografi Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan wilayah di Pesisir Timur Pulau Sumatra yang berdaratan rendah dengan topografi yang sebagian besar relatif datar dengan rata-rata kemiringan lereng 2-6,1 meter yang berkisar antara 0-2% serta memiliki ketinggian 5-7 meter dpl. Wilayah daratan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagian besar terdiri dari rawa gambut dan rawa lebak, sedangkan sebagian lainnya upland dengan kemiringan lereng antara 0-25 meter. Berdasarkan betuk dan ukuran butirannya, jenis tanah di Kabupaten Kepulauan Meranti dibedakan atas 3 (tiga) bagian, yaitu tekstur halus yang dapat dijumpai pada hampir semua kecamatan, tekstur sedang (lumpur) dan tekstur kasar (pasir). Tabel 3.2
No Tinggi Ibukota Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti dari Permukaan Laut Kecamatan Ibukota Kecamatan Tinggi Rata Rata (m) 5 6 6 7 7 5 7

Merbau Teluk Belitung 1 Rangsang Tanjung Samak 2 Rangsang Barat Bantar 3 Tebing Tinggi Selatpanjang 4 Tebing Tinggi Barat Alai 5 Pulau Merbau Kuala Merbau 6 Tebing Tinggi Timur Sungai Tohor 7 Sumber : Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Bengkalis, 2006

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 5

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

STUDY KELAYAKAN KAWASAN PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

Gambar 3.3. Peta Topografi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 6

DI PULAU MERBAU

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Secara fisiografis, wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti tergolong pada Kepulauan bagian timur Sumatera, sedangkan secara detail merupakan daratan yang berkembang dari sedimen yang telah mengalami pengangkatan. Bahan aluvial yang berkembang dari endapan sungai disepanjang aliran sungai dan bahan gambut bagian lebih jauh dari sungai. Ketinggian dari muka laut < 500 meter. Fisiografi wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Cekungan Rawa Unit ini dijumpai dibagian tengah, berupa cekungan tertutup yang terdiri dari rawa gambut yang berasal dari bahan endapan aluvial. Bentuk wilayah datar sampai cekung (0 3%) dengan drainase jelek. 2) Dataran Bentuk wilayah pada unit fisiografi ini adalah bergelombang sampai berombak (3 18%). Drainase sedang sampai baik. Disamping yang terbentuk dari endapan aluvial, bentuk dataran ini juga berasal dari sabuk meander dan teras laut tua. Dengan demikian, landform di wilayah ini didominasi oleh kelompok kubah gambut dan kelompok marin. Kelompok gubah gambut berkembang dari endapan organik dan semakin tebal jika semakin jauh dari pantai. Gambut yang dipengaruhi oleh air laut mempunyai potensi sulfat masam. Sedang kelompok marin berkembang dari endapan mineral yang dipengaruhi pasang surut air laut dan mempunyai lebar bervariasi antara 0,5 5 km. Daerah daerah lahan basah ini merupakan hasil proses sedimentasi estuarin dan perimarin (kuala), terlihat dari adanya pelebaran pantai yang disebabkan oleh penambahan bahan endapan dan proses angkutan. Semua endapan marin diendapkan pada lingkungan daerah bergaram atau payau dan sebagai hasilnya. Tanahnya mengandung garam dan berlumpur, terutama pada daerah yang masih muda dengan vegetasi mangrove. Selain itu, karena sebagain besar daerah ini mempunyai drainase terhambat, tanahnya belum matang atau setengah matang (half ripe) mengandung pirit yang membentuk tanah sulfat masam atau potensial sulfat masam.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah III - 7

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.1.2 Geologi Jenis tanah yang banyak terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah jenis tanah gambut trofik. Berdasarkan struktur dan jenis tanahnya, daratan wilayah Kabupaten Meranti didominasi endapan permukaan tua yang terdiri dari lempung, lanal, kerikil lempungan, sisa-sisa tumbuhan dan pasir granit. Beberapa daerah didominasi oleh endapan permukaan muda berbentuk rawa gambut berwarna abu-abu kecoklatan pada keadaan bahas, sangat lunak, plastis, rekah kerut tinggi, mengandung bahan organik. Tanah gambut yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan jenis tanah gambut trofik yang dibentuk oleh bahan-bahan sisa tanaman purba yang berlapis-lapis hingga mencapai ketebalan >30 cm. Bahan organik yang membentuk tanah gambut pada umumnya memiliki ketebalan di atas 75 cm, bahkan di beberapa lokasi memiliki ketebalan >3 meter. Harga tekanan unconfined streght kurang dari 0,5 kg per cm2 dan memiliki sifat keteknikan buruk, kurang teguh, daya dukung rendah dan mudah terjadi amblesan maupun tererosi. Batuan dasar terdapat pada kedalaman lebih dari 60 meter. Pengikisan dapat terjadi di semua daerah tepian selat, sungai dan parit sebagai akibat hantaman oleh gelombang dan pasang surut. Pengikisan terutama disebabkan oleh buruknya sifat tanah yang bersifat lunak, sehingga menyebabkan garis pantai semakin landai dan mundur. Keadaan ini juga akan merusak tumbuhan bakau. Sedangkan lumpur hasil pengikisan juga menyebabkan pedangkalan setempat, sehingga mengganggu jalur lalu lintas air. Kondisi geologi wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti termasuk berumur kuarter dan tersier. Tersier terdiri dari 3 formasi, yaitu: formasi petani (Tup), formasi Telisa (TMT) dan formasi Pematang (Tlpe). MenurutVan Bemelen (1970) formasi petani disebut sebagai lapisan Palembang Tengah dan bawah, sedangkan kuarter terdiri dari formasi Minas, (Qpmi), endapan permukaan muda (Qh) dan endapan permukaan tua (Qp). Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa wilayah pesisir ini didominasi oleh endapan rawa yang berupa lumpur, liat dan bahan organik.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah III - 8

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Endapan lumpur liat umumnya dijumpai di daerah pantai. Bagian yang jauh dari pantai terbentuklah tanah dengan bahan induk organik yang merupakan sisa vegetasi rawa. Bahan endapan rawa merupakan proses akumulasi atas aktifitas laut/marin dan sungai. Akibat keadaaan tata air yang kurang baik maka terjadi penumpukkan bahan organik karena proses pelapukan terhambat. Akhir terbentuknya tanah organik (gambut) yang sebagian besar mempunyai kedalaman besar dari 2 meter (kubah gambut). Sebagaian besar kubah gambut ini telah diusahakan oleh masyarakat untuk pertanian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.4 berikut.

3.1.3 Klimatologi Dari aspek klimatologi, Kabupaten Kepulauan Meranti terletak di dataran rendah yang beriklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh sifat iklim laut dengan temperatur udara berkisar antara 260 320 C, dengan curah hujan tahun 2009 berkisar antara 651 1092,4 mm/tahun. Musim kemarau di Kabupaten Kepulauan Meranti pada umumnya terjadi pada bulan Februari Agustus dan musim hujan terjadi pada bulan September Januari dengan jumlah hari hujan pada tahun 2005 berkisar antara 25 63 hari/tahun. Kondisi klimatologi ini mengalamai perubahan yang dipengaruhi oleh iklim global.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 9

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

STUDY KELAYAKAN KAWASAN PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

Gambar 3.4. Peta Geologi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 10

DI PULAU MERBAU

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.1.4 Hidrologi Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki banyak sungai, baik besar maupun kecil, yaitu terdapat 13 buah sungai diantaranya terdapat di Kecamatan Merbau, Kecamatan Rangsang, Kecamatan Tebing Tinggi dan Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Sungai-sungai tersebut adalah Sungai Merbau, Sungai Selat Akar, Sungai Pinang Rapat, Sungai Simpang Kiri, Sungai Mengkopot, Sungai Melibur, Sungai Batang Hari, Sungai Suir Kiri, Sungai Tohor, Sungai Perumbi, Sungai Suir Kanan, dan Sungai Jabi (Bengkalis dalam Angka 2009). Selain itu terdapat sungai yang terdapat tasik diantaranya Tasik Putri Puyu, Tasik Tanjung Padang, Tasik Air Putih, Tasik Ular, Tasik Penyagun, Tasik Meskil, Tasik Nambus dan Tasik Perekat di Kecamatan Merbau, Kecamatan Rangsang dan Kecamatan Tebing Tinggi. Kualitas air tanah di daerah wilayah pesisir bersifat asam atau payau dengan salinitas tinggi, sehingga untuk kebutuhan air sehari-hari, sebagian besar penduduk memanfaatkan air hujan. Kualitas air di perairan pesisir pada umumnya dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat di sepanjang sungai yang bermuara ke perairan tersebut, kegiatan wilayah pesisir itu sendiri, dan kegiatan laut lepas yang berbatasan dengan perairan pesisir dimaksud. Selat Bengkalis menjadi lalu lintas pelayaran. Sungai-sungai ini banyak dilayari oleh kapal-kapal dan kegiatan penduduk seperti perkebunan, perikanan, perkayuan, dan lain-lain. Keadaan drainase wilayah sebagian besar dicirikan oleh adanya tanah gambut yang tersebar di Kecamatan Tebing Tinggi dan Rangsang. Hampir seluruh wilayah pesisir kadang-kadang terjadi genangan. Keberadaan gambut yang mendominasi lahan Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan kantongkantong penyimpanan air yang sangat besar. Berdasarkan penelitian menunjukkan 1 m lahan gambut menyimpan 850 liter air (Muhammad M. Noor 2001). Adanya potensi sumberdaya air tersebut perlu dipertimbangkan upaya pemanfaatannya sebagai alternatif sumber air bersih setempat.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 11

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

STUDY KELAYAKAN KAWASAN PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

Gambar 3.5. Peta Hidrologi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 12

DI PULAU MERBAU

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Bahan tanah gambut memegang peranan penting dalam sistem hidrologi suatu lahan rawa. Salah satu sifat gambut yang berperan dalam sistem hidrologi adalah daya menahan air yang dimilikinya. Gambut memiliki daya menahan air yang besar hingga 300 800 % dari bobotnya. Selain daya menahan air, gambut juga memiliki daya melepas air (yaitu jumlah air yang dilepaskan jika permukaan air diturunkan per satuan kedalaman) yang juga besar. Dalam kaitan ini, keberadaan lahan gambut yang sangat dalam (>4 meter) sangat penting untuk dipertahankan sebagai daerah konservasi air. Peran ini semakin penting jika dibagian hilir terdapat kota kota seperti Kota Selat Panjang dan Alai. Di wilayah pesisir, instrusi air laut menyebabkan kualitas air tanah di Kabupaten Kepulauan Meranti ini bersifat asin/payau dengan salinitas tinggi, sebagaian masyarakat memanfaatkan air huajn untuk kebutuhan air bersih.

3.1.5 Oceanografi Kualitas perairan Kabupaten Kepulauan Meranti tergolong dalam kualitas sedang, kandungan logam berat Pb, Cd, dan Cu tergolong tinggi dan melebihi baku mutu. Perairan Selat Kepulauan Meranti mempunyai kualitas air yang dapat dikatakan baik, dengan catatan kandungan ketiga logam berat (Pb, Cd dan Cu) melebihi baku mutu bagi biota laut baik untuk keperluan budidaya perikanan maupun untuk keperluan taman laut konservasi. Kedalaman laut dibedakan atas laut dangkal dan laut dalam. Laut dangkal memiliki kedalaman berkisar 3 20 meter. Pada lokasi tertentu kedalam laut berkisar 20 30 meter, yang merupakan kedalaman efektif sebagai lokasi pelabuhan. Sedangkan yang termasuk laut dalam adalah perairan Selat Malaka dengan kedalaman berkisar 20 40 meter. Perairan ini telah dimanfaatkan sebagai jalur pelayaran kapal. Perairan di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti menimbulkan arus dan gelombang laut yang cukup besar secara periodik, khusus di perairan Selat

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 13

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Malaka. Arah arus dan gelombang laut cenderung terjadi satu arah, yakni Barat Timur dan Timur Barat.

3.1.6 Fisiografi dan Satuan Lahan Fisiografi Kabupaten Kepulauan Meranti sebagian besar merupakan dataran yang berawa-rawa, yang terdiri dari rawa gambut, rawa lebak, dan rawa pasang surut dan hanya sebagian kecil yang merupakan lahan kering ( 20%). Lahan kering terbagi menjadi daerah dengan bentuk wilayah datar sampai dengan berbukit kecil. Berdasarkan peta satuan lahan dan tanah (Puslitanak, LREP I, 1991) (Gambar 3.6) fisiografi Kabupaten Kepulauan Meranti dikelompokan menjadi empat grup fisiografi yang terdiri dari 25 satuan lahan.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 14

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

STUDY KELAYAKAN KAWASAN PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

Gambar 3.6. Peta Rawan Bencana Abrasi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 15

DI PULAU MERBAU

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.1.7

Klasifikasi dan Karakteristik Tanah Klasifikasi dan karakteristik tanah disuatu wilayah perlu diketahui

agar perkembangan suatu wilayah untuk budidaya dapat disesuaikan dengan komoditas ataupun kelompok komoditas yang akan dikembangkan. Tanah di Kabupaten Kepulauan Meranti dapat diklasifikasikan menjadi empat ordo tanah utama, yaitu : Histosol, Entisol, Inseptisol dan Ultisol berdasarkan pada Sistem Taksonomi Tanah. Histosol atau Organosol atau gambut dijumpai pada daerah cekungan, depresi atau bagian bagian terendah dipelembaban. Pada sisi luar Histosol akan dijumpai Inceptisol atau Kambisol. Ordo Ultisol atau Podsolik dijumpai pada bagian atas daerah yang bergelombang, berdampingan dengannya juga dijumpai Oksisol. Pada bagian pantai atau tanggul sungai dijumpai entisol atau aluvial juga dengan luasan yang sedikit. karakteristik tanah yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti disajikan pada Tabel 3.3. Setelah diklasifikasi lebih lanjut sampai dengan kategori subgroup ditemukan 14 subgroup tanah. Parameter yang membedakan diantaranya adalah perkembangan profil, warna dan tekstur. Informasi mengenai sifat sifat dan karakteristik jenis tanah didasarkan pada hasil hasil kegiatan penelitian sebelumnya yang kemudian dilengkapi dengan pengamatan penelitian sebelumnya yang kemudian dilengkapi dengan pengamatan lapangan pada tempat tempat yang dianggap mewakili. Digunakan Peta Satuan Tanah dan Lahan dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor, 1990), Peta Sebaran Lahan Gambut dan Potensi Karbon di Propinsi Riau (Wahyunto, Ritung dan Subagyo, 2003). Analisis SIG dilakukan dengan teknik tumpang tepat (overlay).

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 16

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Tabel 3.3 No 1 2 3 4 1 2 1 2 3 1 2 3 1

Jenis Tanah di Kabupaten Kepulauan Meranti

Ordo Tanah Histosol/Organosol/Gambut

Sub Group Tanah Typic Haplofibrist Typic Haplohemist Typic Sulfohemist Typic Haplosaprist Typic Udipsamments Typic Hydraquents Typic Dystrudepts Typic Sulfaqueqts Humic Psammentic Dystrudepts Typic Kandiudults Typic Kanhapludults Typic Hapudults Inceptic Hapludox

Entisol/Aluvial

Inceptisol/Kambisol

Ultisol/Podsolik

Oxisol/Podsolik

Sumber : Profil Meranti, 2008

1) Histosol Histosol atau Organosol atau gambut merupakan jenis tanah yang mempunyai tingkat dekomposisi saprik (Typic Heplosaprst), hemik (Typic Haplohemist) berwarna hitam sampai merah gelap, reaksi tanah masam sampai dengan sangat masam dan ketebalan gambut bervariasi dari 50 cm sampai dengan > 3 meter ; gambut dangkal (50 100 cm), gambut tengahan (100 200 cm), gambut dalam (200 300 cm) dan gambut sangat dalam (>300 cm). Substratum liat berwarna kelabu sampai dengan coklat gelap kekelabuan dan reaksi tanah masam. Lapisan ini terkadang mengandung pirit yang dicirikan oleh reaksi H2O2 kuat, Kedalaman yang mengandung bahan sulfidik bervariasi antara 100 sampai dengan 150 cm dari permukaan (Typic Sulfohemist). Ciri utama lainnya adalah muka air tanah yang tinggi dan sering melebihi permukaan tanah.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 17

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

2) Entisol Ordo tanah ini berkembang dari bahan aluvium, mempunyai tingkat kematangan setengah matang (Typic Udipsamments), reaksi tanah sangat masam sampai dengan masam dan drainase terhambat (Typic Hidraquents). Tekstur bervariasi dan liat sampai dengan pasir dan umumnya liat, berwarna kelabu sangat gelap kecoklatan sampai dengan hitam. Tanah ini berada dengan luasan sedikit pada dataran banjir sungai atau laut (Histic Sulfaquents). 3) Inceptisol Tanah tanah inceptisol dibedakan menjadi great group Typic Dystrudeps, Humitrudeps dan Typic Sulfaquents. Ordo ini berkembang dari bahan aluvium berupa endapan liat di atas endapan pasir, reaksi tanah sangat masam sampai dengan masam, matang (ripe) dan drainase terhambat. Horison A berwarna kelabu sangat gelap sampai dengan kelabi terang. Kadang kadang terdapat karatan berwarna coklat kekuningan, tekstur liat sampai dengan liat berdebu, konsentrasi lekat dan agak plaktis, reaksi tanah sangat masam sampai dengan masam. Lapisan ini mengandung gahan sulfidik (pirit) pada kedalaman > 50 cm dari permukaan. 4) Ultisol dan Oksisol Tanah Tanah ini di daerah ini dibedakan menjadi great group Typic Kandiudults, Typic Hapludults, Typic Kanhapludults dan Inceptic Hapludox. Sebagian besar tanah mempunyai kedalaman yang dalam (> 1 meter) dengan drainase umumnya baik, pH berkisar sangat masam sampai masam, tekstur lempung berpasir sampai lempung liat berpasir. Kandungan C Organik lapisan atas umunya rendah. N total selalu rendah diantara semua tanah. Kandungan P total dan P tersedia bervariasi sangat rendah. Begitu juga kandungan K total dan K- tersedia. Kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa umumnya rendah.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 18

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.1.8 Flora dan Fauna Jenis flora yang menonjol terutama terdapat di hutan-hutan wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti adalah : Meranti, Punak, Sungkai, Bintangor, Api-api, Bakau, Nibung dan puluhan jenis lainnya. Kayu-kayuan ini sebagian besar merupakan jenis kayu komersial yang digunakan sebagi bahan baku industri kayu dan meubel. Hasil hutan lainnya adalah berupa rotan, damar dan getah jelutung, disamping itu juga terdapat puluhan jenis anggrek hutan, pinang merah, palm dan sebagainya. Sedangkan jenis fauna yang masih terdapat di kawasan hutan wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti diantaranya seperti : Beruang Madu, Lutung, Kera, Rusa, Kijang, Kancil, ayam hutan dan berbagai jenis ular, burung dan buaya.

3.1.9 Bencana Alam Ada beberapa bencana yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti baik itu bencana alam maupun bencana buatan (human factor). Bencana alam abrasi di Kabupaten Kepulauan Meranti umumnya terjadi di daerah pesisir. Potensi besar becana abrasi terjadi di Kecamatan Rangsang. Apabila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan rusaknya sarana dan prasarana umum yang ada. Gelombang penyebab abrasi ini cukup tinggi. Abrasi juga didukung dengan kondisi tingkat kerusakan hutan mangrove yang tergolong cukup parah. Selain abrasi Bencana banjir juga sering kali terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti, curah hujan yang tinggi mengakibatkan bencana ini terjadi. Potensi terjadinya terdapat di Kecamatan Rangsang akibat dampak dari curah hujan yang tinggi tetapi tidak didukung dengan kualitas saluran air yang baik pula. Selain itu, rendahnya permukaan tanah di wilayah pesisir dan tingginya air pada waktu pasang, menyebabkan terjadi banjir di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 19

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.1.10 Karakteristik Masyarakat Meranti Masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti sebagaian besar merupakan etnis Melayu. Etnis tersebut masih berorientasi terhadap budaya melayu dan timur dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya leluhur nenek moyang. Hal ini merupakan karakteristik masyarakat melayu dan penduduk etnis lain di Meranti. Selain menjunjung tinggi nilai budaya, penduduk meranti juga maenjunjung tinggi nilai rohani. Antara kehidupan sesama dengan Tuhan diupayakan selaras. Penduduk Meranti berpandang bahwa segala diptaan Tuhan harus dijaga dan dipelihara, oleh karena itu dalam kaitan memanfaatkan alam dan melestarikan alam menjadi bagian yang tidak terpisahkan baginya. Dalam hal penggunaan waktu masyarakat Melayu relatif longgar dengan waktu. Tetapi dalam pandangan mereka terhadap hakekat manusia dengan sesamanya sikap persaudaraan dan kebersamaan merupakan satu hal yang sangat utama, dimana kebersamaan dan demokratis adalah kunci utama. Mayoritas penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti beragama Islam. Sebagian besar masyarakatnya berasal dari rumpun Melayu yang merupakan penduduk asli Kabupaten Kepulauan Meranti, sehingga dalam kehidupan sehari-harinya berpegang pada adat Melayu. Disamping suku Melayu, Kabupaten Bengkalis juga didiami oleh suku-suku lainnya, seperti : Suku Minang, Batak, Suku Bugis, Suku Jawa, Tionghoa dsb, serta terdapat penganut agama lainnya, seperti : Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Masyarakat Melayu umumnya sangat menekankan sikap yang persaudaraan dan kebersamaan, dalam menghadapi permasalahan

ada, mereka menunjukkan suasana kebersamaan dan demokratis. Dengan demikian masyarakat Melayu kabupaten Kepulauan Meranti ini termasuk kepada masyarakat transisi, yakni diantara modern dan tradisional. Dalam segala kehidupan, mereka senantiasa berpegang pada prinsip keseimbangan. Keseimbangan antara hidup dan mati, antara menguasai dan menjaga keseimbangan alam, antara waktu bekerja, mencari nafkah dengan menjaga hubungan baik dengan sesamanya, antara mencari nafkah (harta) dengan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah III - 20

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

beribadah (mengamalkan ajaran agama). Prinsip keseimbang ini sangat berpengaruh terhadap semangat atau etos kerja dan pandangan terhadap hidup yang lebih baik di masa depan. Sistem pengaturan kehidupan sosial kemasyarakatan berdasarkan adat dapat dilihat dari tahap-tahap yang harus dilalui oleh setiap orang Melayu selama hidupnya. Secara umum adat istiadat Melayu bersandarkan pada kaidah agama Islam atau dengan kata lain Melayu selalu identik dengan Islam, hal ini tercermin pada acara kelahiran, beranjak dewasa, pernikaham dan kematian. Masyarakat Melayu yang tinggal di pesisir sangat jarang sekali sebagai pedagang (berjualan atau jenis dagang lainnya seperti masyarakat Minang, Tionghoa, Batak dan Jawa) mereka cenderung lebih memanfaatkan (mengekploitasi) hasil-hasil alam yang telah disediakan oleh alam seperti sumberdaya alam yang terdapat di darat (hutan) maupun di laut.

3.1.11 Jumlah dan Sebaran Penduduk Diketahui jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti adalah 216.329 jiwa yang terdiri dari 112.621 jiwa laki-laki dan 103.708 jiwa perempuan dengan tingkat kepadatan 58 Jiwa/Km2 dengan sex ratio sebesar 106.74 (Bengkalis Dalam Angka 2009 dan analisis). Sebaran penduduk di Kabupaten Kepulauan Meranti cenderung terkonsentrasi di wilayah bahwa perkembangan Kecamatan Tebing Tinggi 85.742 jiwa (39.63%) Merbau 49.044 jiwa (22.07%). Persebaran kepadatan penduduk ini menjelaskan ekonomi di kecamatan seperti Tebing Tinggi dan Merbau lebih maju di

bandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sumberdaya alam, infrastruktur dan transportasi yang lebih memadai di bandingkan kecamatan lainnya yang memiliki akses transportasi dan potensi daerah yang belum tergali secara maksimal. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti secara keseluruhan mengalami penurunan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 sebesar 1,24 % yaitu

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 21

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

204.579 jiwa menjadi 202.060 jiwa yang kemudian mengalami kenaikan cukup signifikan pada tahun 2009 menjadi 216.329 jiwa. Tabel 3.4
No Sebaran dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2009 Luas Area (Km2) 1.348,91 681,00 241,60 849,50 586,83 3.707,84 % 36,38% 18,27% 6,52% 22,91% 15,82% 100,00 Penduduk Jiwa 49.044 31.060 34.370 85.742 16.113 216.329 % 22,07% 14,36% 15,89% 39,63% 8,05% 100,00 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 36 46 142 101 28 58

Kecamatan . Merbau Rangsang Rangsang Barat Tebing Tinggi Tebing Tinggi Barat Jumlah

1 2 3 4 5

Sumber : Paparan Bupati Kepulauan Meranti, 2009

Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan. Kondisi geografis yang memerlukan kelengkapan prasarana dan sarana penghubung yang terpadu. Sehingga dapat menghubungkan wilayah daratan dan wilayah kepulauan menjadi satu kesatuan. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa panjang jalan di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah 3.294,00 km dengan catatan panjang jalan aspal/beton/semen sepanjang 2.519,03 km (76,47 %), diperkeras 14,10 km (0,43 %), dan tanah 760,87 km (23,10 %). Dirinci menurut kondisi jalan tercatat 874,91 km (26,56 %) dalam keadaan baik; 270,67 km (8,22 %) sedang; 1.379,19 km (41,87 %) rusak dan 769,23 km (23,35%) rusak berat (Paparan Bupati Kepulauan Meranti, 2009).

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 22

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Tabel 3.5

Panjang dan Jenis Jalan per Kecamatan pada Tahun 2009 (km) Kecamatan Rangsang

Jenis Jalan Aspal / Beton Diperkeras Tanah Jumlah

Tebing Tinggi 1.867,50 1,00 118,50 1.987,00

Tebing Tinggi Barat 143,00 10,00 96,00 249,00

Rangsang Barat 141,00 3,00 126,00 270,00

Merbau

Total

% 76,47 0,43 23,10

143,14 0,00 206,52 349,66

224,39 2.519,03 0,10 213,85 14,10 760,87

438,34 3.294,00 100,00

Sumber :Paparan Bupati Kepulauan Meranti, 2009

Tabel 3.6

Panjang dan Kondisi Jalan per Kecamatan pada Tahun 2009 (km) Kecamatan Tebing Kabupaten Rangsang Tinggi Tebing Tinggi Barat 159,10 181,00 139,16 58,90 1.136,00 633,00 1.987,00 44,00 24,00 0,00 249,00 83,61 86,74 40,15 349,66

Kondisi Jalan Baik Sedang Rusak Rusak Berat Jumlah

Rangsang Barat

Merbau

Total

152,00 50,00 37,00 31,00 270,00

243,65 34,16 65,08

874,91 270,67 769,23

26,56 8,22 41,87 23,35

95,45 1.379,19

438,34 3.294,00 100,00

Sumber :Paparan Bupati Kepulauan Meranti, 2009

3.1.12 Perhubungan Air Prasarana perhubungan air yang terdiri dari prasarana perhubungan laut dan sungai, memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung transportasi wilayah kepulauan. Prasarana perhubungan laut dan sungai di Kabupaten Kepulauan Meranti didukung oleh : pelabuhan-pelabuhan ibukota kecamatan, pelabuhan-pelabuhan pedesaan pesisir serta pelabuhan-pelabuhan internasional. Perkembangan prasarana pelabuhan utama di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah 5 pelabuhan yang menjadi aset Kabupaten Kepulauan Meranti. Selain pelabuhan, terdapat juga dermaga penyebrangan

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 23

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

yang merupakan kepanjangan dari jaringan prasarana jalan yang terputus akibat adanya sungai atau selat.

Tabel 3.7
No

Pelabuhan-Pelabuhan Utama di Kabupaten Kepulauan Meranti


Wilayah Pelayanan Tebing Tinggi, Tebing Tinggi Barat, Rangsang, Rangsang Barat dan Merbau. Rangsang

Nama Pelabuhan Selat Panjang

Kegiatan Yang dilayani

Komoditi pertanian Komoditi agroindustri Komoditi perdagangan Kebutuhan sehari-hari Penumpang orang Interchange timur Komoditi Pertanian Komoditi Agroindustri Penumpang orang Exit and Entry Point ke Batu Pahat Komoditi pertanian Penumpang orang Exit and entry point ke Batu Pahat Komoditi pertanian Penumpang orang

Arahan Fungsi dan Hierarki Pelabuhan Pengumpan Regional

Realisasi

Sudah Terbangun

Tanjung Samak

Pengumpan Regional Sudah Terbangun Pengumpan Lokal

Teluk Belitung

Merbau

Sudah Terbangun

Bandul

Merbau

Pengumpan Lokal Pengumpan Lokal

Tanjung Rangsang Komoditi pertanian Kedabu Sumber : Evaluasi dan Sinkronisasi RTRW kab Bengkalis 2002-2012

Sudah Terbangun Sudah Terbangun

Tabel 3.8
No. 1. 2. 3. 4.

Dermaga Penyeberangan Utama yang Kabupaten Kepulauan Meranti


Lokasi Dermaga Fungsi Menghubungkan Pulau Bengkalis dengan Pulau Padang Menghubungkan Pulau Bengkalis dengan Pulau Padang Menghubungkan Pulau Tebing Tinggi dengan Pulau Rangsang Ds. Menghubungkan Kecamatan Tebing Tinggi Barat dengan Kabupaten Siak Jenis Perahu Motor Perahu Motor Perahu Motor RORO (blm. Berjalan) Realisasi Sudah Terbangun Sudah Terbangun Sudah Terbangun Sudah Terbangun

Ds. Ketam Putih Ds. Tanjung Padang Ds. Merani Bunting Ds. Tj. Peranap Ds. Insit Ds. Bantar Ds. Mengkikit Menngkapan Buton

Sumber: Evaluasi dan Sinkronisasi RTRW Kabupaten Bengkalis

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 24

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.2

Gambaran Umum Kecamatan Pulau Merbau


Dikarenakan lokasi penelitian dalam pekerjaan Penyusunan Studi Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan

KelayakanKawasan

Meranti Di Pulau Merbau berada di Kecamatan Merbau, pada sub bab berikut ini dipaparkan mengenai gambaran umum Kecamatan Merbau Kabupaten Meranti. Kecamatan Merbau merupakan kecamatan yang memiliki luas paling besar di antara kecamatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Menurut data luas Kecamatan Merbau mencapai 968,91 Km2. Kecamatan Pulau Merbau merupakan pemekaran dari Kecamatan Merbau, untuk sementara, Ibu Kota Kecamatan Pulau Merbau adalah Semukut. Jumlah desa di Kecamatan Pulau Merbau saat ini sebanyak 11 (sebelas) desa yang mana sebelumnya hanya 7 (tujuh) desa. Adapun sebelas desa tersebut adalah Desa Semukut, Desa Centai, Desa Batang Meranti, Desa Tanjung Bunga, Desa Kuala Merbau, Desa Pangkalan Balai, Desa Renak Dungun, Desa Baran Melintang, Desa Ketapang Permai, Teluk Ketapang dan Desa Padang Kamal.

3.2.1 Administrasi Kecamatan Pulau Merbau 3.2.1.1 Jumlah Desa


Ibu Kota Kecamatan Pulau Merbau adalah Semukut. Jumlah desa di Kecamatan Pulau Merbau saat ini sebanyak 11 (sebelas) desa yang mana sebelumnya hanya 7 (tujuh) desa, yaitu : - Desa Semukut

- Desa Padang Kamal (pemekaran desa semukut) - Desa Centai - Desa Batang Meranti (pemekaran desa Centai) - Desa Teluk Ketapang - Desa Ketapang Permai (pemekaran desa Teluk Ketapang) - Desa Baran Melintang - Desa Pangkalan Balai (pemekaran desa Baran Melintang) - Desa Kuala Merbau - Desa Renak Dungun
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah III - 25

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

- Desa Tanjung Bunga

Gambar 3.7

Peta Administrasi Kecamatan Pulau Merbau

Sumber: Profil Kecamatan Pulau Merbau, 2012

3.2.1.2 Kelembagaan Pemerintahan Formal di Kecamatan Pada tingkat Kecamatan, Kecamatan Pulau Merbau dipimpin oleh Camat dan dalam menjalankan roda pemerintahan, Camat Pulau Merbau dibantu oleh Sekretaris Kecamatan, Kepala Seksi Pemerintahan, Kepala Seksi PMD, Kepala Seksi Kesosbud, Kepala Seksi Trantib, dan beberapa orang Kepala Sub Bagian serta beberapa staf dan Aparatur yang membidangi masing-masing bidang sesuai dengan tupoksi masing-masing. Untuk lebih jelasnya pada dilihat pada Tabel 3.9 berikut ini.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 26

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Tabel 3.9

Daftar Jabatan dan Nama Aparatur Pemerintahan

Jabatan

Nama

NIP 19580918 198208 1 001 19610308 198111 1 001 19697142 200212 1 002 196750317 201001 1 17 19780815 200801 1 015 196750317 201001 1 17 19780815 200801 1 015 19697142 200212 1 002 19680305 198908 1 001 -

Camat Wan Abdul Malik, S.Pd.I Sekretaris Camat H. Suyatno, S.Pd. MM Kasi Pemerintahan Atan Ibrahim, S.Pd (Plt) Kasi PMD Masnawi, S.Ag (Plt) Kasi Kessosbud Hasan, S.Sos.I. MM (Plt) Plh.Kasi Trantib Kasubbag Perencanaan Masnawai, S.Ag Kasubbag Keuangan Hasan, S.Sos.I. MM Kasubbag Administrasi Atan Ibrahim, S.Pd Umum Pemegang Kas Toni Anuar Pembantu Bendahara M. Ilham Akbar Maja, Pengeluaran S.Pd Pembantu Bendahara Pengelola Gaji Sumber: Profil Kecamatan Pulau Merbau, 2012

3.2.1.3 Kelembagaan Pemerintahan Formal di Desa


Lembaga pemerintahan formal yang ada di desa adalah Kepala Desa dan aparatnya, BPD, dan LKMD. Sedangkan ditingkat dusun adalah Kepala Dusun, Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.10 berikut ini.

Tabel 3.10
No 1 2 3 4 5 6 7

Nama-nama Kepada Desa, BPD dan LKMD di Kecamatan Pulau Merbau


Kepala Desa M. Saiful Ibrahim, S.Pd Bakhtiar Amiruddin Zawir Aizudin Sumarno Ketua BPD Jamrizal Syahrudin Julita Fadilah Kamarudin Edi Wariza Tarmizi Suhaimi Ketua LKMD Asari Tanza Tuladi Suparmi H. Dolah M. Yusuf Zamri Edi Sugianto

Desa / Kelurahan Semukut Padang Kamal Centai Batang Meranti Teluk Ketapang Ketapang Permai Baran Melintang

8 Pangkalan Balai Atman 9 Kuala Merbau Hasnan 10 Renak Dungun Mukhtar 10 Tanjung Bunga Nizam Sumber: Profil Kecamatan Pulau Merbau, 2012

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 27

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

3.2.1.4 Kelembagaan Non Formal Lembaga non formal di tingkat desa berupa kelompok-kelompok wirid Yasin, kelompok arisan ibu-ibu, Kelompok ini biasanya terbentuk karena kesamaan kepentingan dalam bidang ekonomi, maupun sosial budaya. Sedangkan di tingkat kecamatan, lembaga non formal ini dapat berupa lembaga adat dan lembaga sosial. Lembaga adat yang ada di Kecamatan Pulau Merbau adalah Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR). Mayoritas penduduk di Kecamatan Pulau Merbau beragama Islam, sehingga kelembagaan agama yang ada berupa lembaga-lembaga keislaman, seperti Ikatan Remaja Masjid (IRMA) dan lain sebagainya.

3.2.2 Data Geografis Kecamatan Pulau Merbau merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, dengan Ibukota Kecamatan Semukut, Jarak Ibukota Kecamatan Pulau Merbau, Semukut ke Ibu Kota Kabupaten, Selat panjang 25 Km, dan ke Ibu Kota Propinsi Riau, Pekan Baru 250 Km. Luas wilayah Kecamatan Pulau Merbau seluruhnya 375,00 Km2, dengan batas-batas sebagai berikut : a. Sebelah Utara : Selat Malaka (Malaysia) b. Sebelah Selatan : Selat Rengit c. Sebelah Timur : Selat Asam d. Sebelah Barat : Selat Air Hitam

3.2.3 Aksesibilitas Kecamatan Pulau Merbau dari Ibu Kota Kabupaten dapat dicapai dengan melintasi jalan laut dan darat. Apabila dilihat dari letak geografisnya sebenarnya kecamatan Pulau Merbau terpisah oleh Selat Rengit dengan ibukota kabupaten, tetapi dikarenakan jalan penghubung darat belum ada sehingga hampir seluruh masyarakat saat ini menggunakan akses laut dan
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah III - 28

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

mengunakan jasa penyeberangan, antar kecamatan, ke kabupaten dan provinsi. Selain itu juga banyak jalan-jalan penghubung antar desa yang masih belum disemenisasi dan banyak yang berlubang. Dengan kondisi seperti ini, perjalanan dari Ibu Kota Kabupaten ke Kecamatan Pulau Merbau memakan waktu + 60 menit dengan menggunakan sepeda motor. Untuk lebih Jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.11 berikut. Tabel 3.11
Jarak Tempuh dari Desa ke Ibukota Kecamatan dan Ibu Kota Kabupaten. Jarak Tempuh ke Ibukota Kabupaten Darat Laut (Menit) (Km) 25 60 32 110 30 90 29 90 39 140 42 155 45 150 52 180 55 80 43,5 80 48 80

Jarak Tempuh ke Ibukota Kecamatan Darat Laut (Menit) (Km) Semukut 0,5 Padang Kamal 7 Centai 5 Batang Meranti 4 Teluk Ketapang 14 30 Ketapang Permai 17 40 Baran Melintang 20 60 Pangkalan Balai 27 80 Kuala Merbau 30 90 Renak Dungun 18,5 90 Tanjung Bunga 23 90 Sumber: Profil Kecamatan Pulau Merbau, 2012

Desa

Sementara ini jalan antara kecamatan dengan ibu kota kabupaten melalui Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Direncanakan akan dilakukan pembangunan jembatan Selat Rengit sebagai penghubung antara Pulau Tebing Tinggi dan Pulau Merbau.

3.2.4 Kependudukan Penduduk Kecamatan Pulau Merbau berjumlah 17.770 Jiwa, atau 4.067 KK. Dari jumlah penduduk tersebut yang tergolong penduduk miskin sebesar 62 %, sisanya tergolong kelompok sedang dan kaya.. Distribusi penduduk di Kecamatan Pulau Merbau dapat dilihat pada Tabel 3.12. berikut.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah III - 29

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

Tabel 3.12
No

Distribusi Jumlah Penduduk di Kecamatan Pulau Merbau Tahun 2012. KK Penduduk Miskin KK Jiwa 318 894 91 362 234 702 151 453 156 468 145 435 257 771 167 501 388 970 278 834 157 771 2.342 7.161

Jumlah Penduduk Jiwa 1 Semukut 495 2.158 2 Padang Kamal 198 876 3 Centai 561 1.820 4 Batang Meranti 267 1.217 5 Teluk Ketapang 278 1.426 6 Ketapang Permai 246 1.300 7 Baran Melintang 458 1.803 8 Pangkalan Balai 250 1.349 9 Kuala Merbau 624 2.730 10 Renak Dungun 455 2.023 11 Tanjung Bunga 235 1.068 JUMLAH 4.067 17.770 Sumber: Profil Kecamatan Pulau Merbau, 2012

Desa / Kelurahan

3.2.5 Potensi Sumber Daya Alam 3.2.5.1 Ketersediaan Sarana dan Prasarana Umum Ditinjau dari ketersediaan sarana dan prasarana umum, Kecamatan Pulau Merbau merupakan salah satu kecamatan yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Kepulauan Meranti. untuk lebih jelasnya dapat dilikat pada Tabel 3.13 berikut ini. Tabel 3.13
No. 1.
Beberapa Sarana dan Prasarana Umum yang Ada di Kecamatan Pulau Merbau.

Sarana/Prasarana Sarana Pendidikan

Jumlah - PAUD 12 (dua belas) Buah - TK 5 (Lima) - SD 23 (dua puluh tiga) Buah - SLTP 8 (Delapan) Buah - SLTA 6 (Dua) Buah

Keterangan Termasuk MDA Termasuk MTs Termasuk MAS

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 30

LAPORAN ANTARA

Penyusunan Studi KelayakanKawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti Di Pulau Merbau

No. .

Sarana/Prasarana Sarana Perekonomian

Jumlah

Keterangan

- Pasar 1 Buah - Koperasi - Toko/Kios/Warung 103 Buah - Rumah Makan 3 Buah - Kilang Sagu 1 Buah - Pabrik Arang 8 buah 3. Sarana Kesehatan - Puskesmas 1 buah - Puskesmas Pembantu 4 Buah - Polindes 2 Buah - Balai Pengobatan 4 Sarana Rumah - Mesjid 29 Buah Ibadah - Musholla/Surau 31 Buah - Gereja 1 Buah - Vihara 1 buah Sumber: Profil Kecamatan Pulau Merbau, 2012

3.2.5.2 Ekonomi Mayoritas mata pencaharian penduduk di Kecamatan Pulau Merbau adalah sebagai petani Karet (60 %), petani kelapa (5 %), dan petani sagu (15 %), pedagang (10 %), karyawan baik pemerintah maupun swasta (2%), nelayan (5 %), dan lain-lain (3 %). Keberadaan perkebunan sagu, perkebunan kelapa, dan perkebunan karet di beberapa desa sedikit terhambat dalam hal pemasaran hasil perkebunan untuk mendongkrak ekonomi warga desa, disebabkan permasalahan sarana jalan.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

III - 31