Anda di halaman 1dari 5

A.

Epidemiologi

Ensefalopati hipertensi banyak ditemukan pada usia pertengahan dengan riwayat hipertensi essensial sebelumnya. Menurut penelitian di Amerika, sebanyak 60 juta orang yang menderita hipertensi, kurang dari 1 % mengidap hipertensi emergensi. Mortalitas dan morbiditas dari penderita ensefalopati hipertensi bergantung pada tingkat keparahan yang dialami. Selain itu, diteliti bahwa insiden hipertensi essensial pada orang kulit putih sebanyak 20-30%, sedangkan pada orang kulit itam sebanyak 80%. Sehingga orang kulit hitam lebih beresiko untuk menderita ensefalopati hipertensi. Sekitar 2030 % orang dewasa di negara berkembang menderita hipertensi. Tekanan darah meningkat sesuai bertambahnya usia, dan hipertensi lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita, terutama kelompok usia muda dan paruh baya. Di Amerika, 60 juta orang menderita hipertensi, sekitar 1% berkembang menjadi hipertensi emergensi. Ensefalopati hipertensi kebanyakan diderita pada usia paruh baya, yang mempunyai riwayat hipertensi jangka panjang. Frekuensi ensefalopati hipertensi lebih sering terjadi pada etnis kulit hitam (Gamie, 2011).

B.

Terapi

1. Terapi Non Farmakologis Penurunan tekanan darah arterial, sesuai dengan tingkatan tekanan darah pasien terutama yang berhubungan dengan kejadian neurologis, harus dilakukan dengan monitoring secara tetap dan titrasi obat, tekanan darah arterial diukur dengan kateterisasi jika memungkinkan. Terapi ini bertujuan untuk menurunkan tekanan darah arterial sebesar 25% selama 1-2 jam dan tekanan darah diastolic ke 100-110 mmHg. Jika dengan penurunan tekanan darah arterial memperburuk keadaan neurologis, maka harus dipertimbangkan kembali rencana pengobatannya (Cuciureanu, 2007). 2. Terapi Farmakologis Untuk obat anti hipertensi intravena yang bekerja cepat hanya labetalol, sodium nitroprusside dan phenoldopam (pada gagal ginjal) yang sudah terbukti efektif pada ensefalopati hipertensi. Pada pasien dengan tekanan darah diastolik > 109 mmHg tanpa kerusakan organ akut (hipertensi urgensi), tekanan darah diturunkan secara bertahap selama lebih 2448 jam, dengan menggunakan obat oral. Penurunan secara cepat akan meningkatkan morbiditas. Pada pasien dengan hipertensi disertai kerusakan organ (hipertensi emergensi)

seperti ensepalopati hipertensi, penurunan tekanan darah dilakukan cepat tetapi terkontrol untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Bagaimanapun, tekanan darah tidak harus diturunkan sampai normal. Obat-obatan yang digunakan pada ensefalopati hipertensi harus memiliki sedikit atau tidak ada pengaruh menrugikan terhadap sistem saraf pusat. Obat-obatan yang tidak boleh diberikan termasuk clonidine, reserpine, and methyldopa. Meskipun pengaruh kuat diazoxide belum jelas, obat ini tidak digunakan karena berpengaruh besar terhadap penurunan aliran darah otak. Obat-obatan yang dipakai terdiri dari labetalol, nicardipine, dan esmolol. Nicardipine merupakan turunan calcium channel blocker; dihydropyridine generasi kedua, yang merupakan vasodilatoy kuat dan selektif terhadap vascular otak. Obat ini juga mampu meningkarkan stroke volume dan aliran darah koroner. Nicardipine dalam dosis bolus 5-15 mg/h IV dan dosis maintenance 3-5 mg/h dapat juga digunakan. Nifedipine sublingual, clonidine, diazoxide, atau hydralazine intravena tidak direkomendasikan karena dapat mempengaruhi penurunan yang tidak terkontrol dari tekanan darah arterial yang mengakibatkan iskemi cerebral dan renal. Labetalol adalah suatu beta adrenergic blockers, menurunkan tekanan darah tanpa mempengaruhi aliran darah orak. Sering digunakan sebagai initial therapy. Karena bersifat nonselective beta-blocking, labetalol tidak boleh diberikan pada penderita penyakit saluran nafas reaktif dan syok kardiogenik. Dosis inisial alah 20 mg dosis bolus, kemudian 20-80 mg dosis intravena setiap 10 menit sampai tekanan darah yang diinginkan atau total dosis sebesar 300 mg tercapai. Sodium nitroprusside, sebuah vasodilator, memiliki onset yang cepat (hitungan detik) dan durasi yang singkat dalam bekerja (1-2 menit). Bagaimanapun, ini dapat mempengaruhi suatu venodilatasi cerebral yang penting dengan kemungkinan menghasilkan peningkatan aliran darah otak dan hipertensi intracranial. Dosis inisial 0,3-0,5 mcg/kg/min IV, sesuaikan dengan kecepatan tetesan infus sampai target efek yang diharapkan tercapi dengan dosis ratarata 1-6 mcg/kg/min. Pengobatan yang tepat pada kasus ensefalopati hipertensi terdiri dari labetalol, enalaprilat, nicardipine, urapidil, hydralazine. Meskipun sodium nitroprussiate mungkin dapat meningkatkan tekanan intracranial, banyak ahli masih menggunakan sebagai terapi. Pada kasus ini, penggunaan Clonidine tidak dianjurkan karena menekan system saraf pusat. Penurunan tekanan darah pada pasien stroke iskemik dapat menurunkan aliran darah otak, di mana hal tersebut mengganggu autoregulasi yang dapat menyebabkan ischemic injury. Menurut The American Stroke Association and the European Stroke Initiative

guidelines merekomendasikan penggunaan antihipertensi untuk stroke iskemik akut dengan kondisi adanya kerusakan organ di luar otak, atau jika tekanan darah sangat tinggi; tekanan darah sistol > 220 mmHg atau diastol >120 mmHg berdasarkan batas teratas normal autoregulation. The American Heart Association guidelines terbaru merekomendasikan labetalol atau nicardipine jika tekanan darah sistolik >200 mmHg atau diastol 121 sampai 140 mmHg, and nitroprusside pada tekanan darah diastol > 140 mmHg. Hal ini didasarkan bahwa nitroprusside bukan pilihan yang tepat pada kondisi patologis intracranial. Bagaimanapun, penurunan bertahap tekanan darah sistemik akan menyesuaikan dengan perfusi serebral. Penurunan tekanan darah arterial, sesuai dengan tingkatan tekanan darah pasien terutama yang berhubungan dengan kejadian neurologis, harus dilakukan dengan monitoring secara tetap dan titrasi obat, tekanan darah arterial diukur dengan kateterisasi jika memungkinkan. Terapi ini bertujuan untuk menurunkan tekanan darah arterial sebesar 25% selama 1-2 jam dan tekanan darah diastolic ke 100-110 mmHg. Jika dengan penurunan tekanan darah arterial memperburuk keadaan neurologis, maka harus dipertimbangkan kembali rencana pengobatannya. Untuk obat anti hipertensi intravena yang bekerja cepat hanya labetalol, sodium nitroprusside dan phenoldopam (pada gagal ginjal) sudah terbukti efektif pada ensefalopati hipertensi. Pada pasien dengan tekanan darah diastolik lebih dari 109 mmHg tanpa kerusakan organ akut (hipertensi urgensi), tekanan darah diturunkan secara bertahap selama lebih 2448 jam, dengan menggunakan obat oral. Penurunan secara cepat akan meningkatkan morbiditas. Pada pasien dengan hipertensi disertai kerusakan organ (hipertensi emergensi) seperti ensepalopati hipertensi, penurunan tekanan darah dilakukan cepat tetapi terkontrol untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Bagaimanapun, tekanan darah tidak harus diturunkan sampai normal. Obat-obatan yang digunakan pada ensefalopati hipertensi harus memiliki sedikit atau tidak ada pengaruh menrugikan terhadap sistem saraf pusat. Obat-obatan yang tidak boleh diberikan termasuk clonidine, reserpine, and methyldopa. Meskipun pengaruh kuat diazoxide belum jelas, obat ini tidak digunakan karena berpengaruh besar terhadap penurunan aliran darah otak. Obat-obatan yang dipakai terdiri dari labetalol, nicardipine, dan esmolol. Nicardipine merupakan turunan calcium channel blocker dihydropyridine generasi kedua, yang merupakan vasodilator kuat dan selektif terhadap vascular otak. Obat ini juga mampu meningkarkan stroke volume dan aliran darah koroner. Nicardipine dalam dosis bolus 5-15 mg/h IV dan dosis maintenance 3-5 mg/h dapat juga digunakan. Nifedipine sublingual, clonidine, diazoxide, atau hydralazine intravena tidak direkomendasikan karena

dapat mempengaruhi penurunan yang tidak terkontrol dari tekanan darah arterial yang mengakibatkan iskemi cerebral dan renal. Labetalol adalah suatu beta adrenergic blockers, menurunkan tekanan darah tanpa mempengaruhi aliran darah orak. Sering digunakan sebagai initial therapy. Karena bersifat nonselective beta-blocking, labetalol tidak boleh diberikan pada penderita penyakit saluran nafas reaktif dan syok kardiogenik.Dosis inisial alah 20 mg dosis bolus, kemudian 20-80 mg dosis intravena setiap 10 menit sampai tekanan darah yang diinginkan atau total dosis sebesar 300 mg tercapai. Sodium nitroprusside, sebuah vasodilator, memiliki onset yang cepat (hitungan detik) dan durasi yang singkat dalam bekerja (1-2 menit). Bagaimanapun, ini dapat mempengaruhi suatu venodilatasi cerebral yang penting dengan kemungkinan menghasilkan peningkatan aliran darah otak dan hipertensi intracranial. Dosis inisial 0,3-0,5 mcg/kg/min IV, sesuaikan dengan kecepatan tetesan infus sampai target efek yang diharapkan tercapi dengan dosis ratarata 1-6 mcg/kg/min. Pengobatan yang tepat pada kasus ensefalopati hipertensi terdiri dari labetalol, enalaprilat, nicardipine, urapidil, hydralazine. Meskipun sodium nitroprussiate mungkin dapat meningkatkan tekanan intracranial, banyak ahli masih menggunakan sebagai terapi. Pada kasus ini, penggunaan Clonidine tidak dianjurkan karena menekan system saraf pusat. Penurunan tekanan darah pada pasien stroke iskemik dapat menurunkan aliran darah otak, di mana hal tersebut mengganggu autoregulasi yang dapat menyebabkan ischemic injury. The American Stroke Association and the European Stroke Initiative guidelines merekomendasikan penggunaan antihipertensi untuk stroke iskemik akut dengan kondisi adanya kerusakan organ di luar otak, atau jika tekanan darah sangat tinggi; tekanan darah sistol > 220 mmHg atau diastol >120 mmHg berdasarkan batas teratas normal autoregulation. The American Heart Association guidelines terbaru merekomendasikan labetalol atau nicardipine jika tekanan darah sistolik >200 mmHg atau diastol 121 sampai 140 mmHg, and nitroprusside pada tekanan darah diastol > 140 mmHg. Hal ini didasarkan bahwa nitroprusside bukan pilihan yang tepat pada kondisi patologis intracranial. Bagaimanapun, penurunan bertahap tekanan darah sistemik akan menyesuaikan dengan perfusi serebral. Nifedipine sublingual, clonidine, diazoxide, atau hydralazine intravena tidak direkomendasikan karena dapat mempengaruhi penurunan yang tidak terkontrol dari tekanan darah arterial yang mengakibatkan iskemi cerebral dan renal (Cuciureanu, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Cuciureanu, D.

2007.

Hypertensive Encephalopathy: Between Diagnostic and Reality.

Roumanian Journal of Neurology, vol. 114-177. Gamie, Zakareya. 2011. Posterior reversible encephalopathy syndrome in a child with cyclical vomiting and hypertension: a case report. Journal of Medical Case Reports, vol. 5:137.