Anda di halaman 1dari 3

Kata taki menandakan bahwa jantung berdenyut di atas normal (> 100 kali per menit), sedangkan aritmia

menandakan bahwa denyut jantung yang terjadi tidak beraturan. Keluhan utama pasien biasanya berupa perasaan berdebar-debar. Nyeri dada dan sesak nafas tidak seberat bila gambaran EKG berupa ST-elevasi. Resiko kematian takiaritmia pun konon tidak sebesarinfark miokard akut. Pun begitu, takiaritmia adalah salah satu penyebab terjadinya gagal jantung, lebih tepatnya, gagal jantung kiri.

Takiaritmia adalah gangguan pada sistem konduksi listrik jantung dimana jantung berdetak sangat cepat. Takiaritmia bisa terjadi secara fisiologis (setelah melakukan kegiatan berat) dan patologis (diluar jantung: demam, anemia, gangguan kelenjar tiroid, dehidrasi) bisa juga disebabkan oleh gangguan pada jantung ( penyakit jantung koroner, penyakit jantung katup, kardiomiopati).

Takiaritmia dibagi dua yaitu takiaritmia suraventrikular dan aritmia ventricular.

1. Takiaritmia supraventricular a. Patogenesis

b. Diagnosis EKG Takikardia dengan kompleks QRS regular sempit, biasanya dengan kecepatan 150-200 denyut/menit. Bisa terlihat gelombang P regular disela-sela kompleks QRS. c. Gambaran klinis Biasanya timbul sebagai serangan palpitasi cepat rekuren berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam bahkan bisa beberapa hari d. Terapi Memperlambat konduksi melalui nodus AV bisa menghentikan takikardia. Manuver vagotonik yang meningkatkan tonus vagus, misalnya manuver Valsava, menelan air dingin, atau memijat sinus karotis Pemberian obat yang memperlambat atau memblok dalam nodus AV

Adenosin intravena memblok konduksi nodus AV sementara (kurang dari 4 detik) blocker, verapamil atau flekainid bermanfaat sebagai profilaksis oral jangka panjang atau terapi intermiten Ablasi radiofrekuensi adalah terapi terpilih jika gejala cukup berat untuk diberi pengobatan jangka panjang

2. Takikardia Ventrikel a. Diagnosis EKG Kompleks QRS lebar dengan bentuk yang abnormal. Dugaan VT harus selalu ada bila pasien memiliki riwayat penyakit jantung dengan manifestasi takikardia regular dan komplek QRS lebar : Pada VT monomorfik, bentuk QRS semuanya seragam, biasanya frekuensi denyut 120-190 kali/menit. Terdapat bukti-bukti aktivitas atrium independen, misalnya gelombang P berdiosiasi VT polimorfik kurang regular, lebih kacau, kadang-kadang dengan variasi fisik khas pada bentuk QRS b. Gambaran klinis Denyut nadi cepat, bisa lemah atau tidak teraba. Pasien bisa dalam keadaan gagal jantung akut, dengan kompensasi yang sangat tidak adekuat, mengalami henti jantung (VT tanpa denyut), atau dengan keadaan umum relative baik, kecuali adanya palpitasi cepat atau sesak nafas. c. Terapi VT tanpa denyut atau menuju kea rah kolaps kardiovaskuler : kardioversi DC, bisa segera atau setelah anesthesia/ sedasi darurat. VT dengan hemodinamik stabil : lidokain (lignokain) intravena atau obat-obatan amiodaron. Jangan pernah menggunakan kombinasi banyak obat. Jika pemberian obat tidak berhasil gunakan kardioversi DC

VT polimorfik : kardioversi DC, magnesium intravena, koreksi kelainan metabolic atau elektrofisiologi yang mendasari. Denyut jantung yang lambat memperpanjang interval QT dan bisa memperburuk VT polimorfik, pemasangan pacu untuk meningkatkan denyut jantung sering kali mencegah atau secara dramatis mengurangi insidens VT polimorfik