Anda di halaman 1dari 0

78

POTENSI PENGGUNAAN KEMBALI AIR LIMBAH: STUDI


KASUS INDUSTRI POLIPROPILENA
PT. TRIPOLYTA INDONESIA, TBK










ANDINA BUNGA LESTARI






Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister sains pada
Program Studi Pengelolaan Sumber Daya alam dan Lingkungan


















SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009


79

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN


SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Potensi Penggunaan Kembali Air
Limbah : Studi Kasus Industri Polipropilena PT. Tripolyta Indonesia, Tbk adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan mau pun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2009


Andina Bunga Lestari
NIM P051060071















80

ABSTRACT
ANDINA BUNGA LESTARI. The Potential of Wastewater Reuse: Case Study of
Polypropylene Industry at PT. Tripolyta Indonesia, Tbk. Under direction MUHAMMAD
ROMLI, SUPRIHATIN and ARION SAID.

Water is the most important thing in industry, including polypropylene industry. The problem
of water crisis that can happen in Indonesia must be anticipated by minimizing water usage in
industry. One way to minimizing water use, is by reuse wastewater. In polypropylene
industry wastewater reuse can be done in PCW unit. This research work would reuse a
wastewater from outlet of PCW unit to be reuse again as a demineral water. The demineral
water would be used again in PCW unit. The result showed that reused water can be effected
by filtration method. The material of filter is metal, and the porous size is 13 m. This
method can minimizes water used 42.7%, minimizes chemical used 42.7% and electricity it is
uses 41.6%. This treatment also can reduce dust 14.08 kg/day. In this research work the
technology recommended is press filter technology.

Keywords : wastewater, reuse, polypropylene, filtration.






























81

RINGKASAN


ANDINA BUNGA LESTARI. Potensi Penggunaan Kembali Air Limbah: Studi Kasus
Industri Polipropilena PT. Tripolyta Indonesia, Tbk. Dibimbing oleh MUHAMMAD
ROMLI, SUPRIHATIN dan ARION SAID.

Plastik merupakan salah satu produk yang penggunaannya cukup besar di Indonesia.
Bahan baku pembuat plastik adalah biji plastik. Salah satu jenis biji plastik yang digunakan
pada berbagai produk adalah polipropilena. Permintaan polipropilena di Indonesia pada tahun
2010 diperkirakan sebesar 1 juta ton. Komponen yang digunakan dalam jumlah besar adalah
air. Air yang digunakan sebagian besar merupakan air demineral (air bebas mineral).
Menurut BPPT kota - kota besar di Indonesia mulai kekurangan air bersih (BPPT 2008).
Apabila kondisi ini terus dibiarkan berlangsung tanpa dilakukannya upaya pengelolaan yang
berkelanjutan, dikhawatirkan pada tahun-tahun mendatang pasokan air bersih untuk kebutuhan
sehari-hari tidak terpenuhi. Karena air merupakan sumberdaya alam yang sangat dibutuhkan
bukan hanya oleh industri, namun juga oleh masyarakat, oleh sebab itu industri yang
menggunakan air dalam jumlah yang cukup besar harus mengambil langkah-langkah
penghematan pengunaan air, agar air dapat dimanfaatkan dengan seoptimal dan seminimal
mungkin. Permasalahan di atas dapat diatasi salah satunya dengan menggunakan kembali
limbah cair pada berbagai industri yang menggunakan air dalam jumlah banyak, seperti
industri penghasil polypropylene. Salah satu perusahaan penghasil polypropylene terbesar di
Indonesia ialah PT. Tripolyta Indonesia Tbk (TPI). Penghematan penggunaan air dapat
dilakukan dengan cara melakukan penggunaan kembali limbah cair.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah melakukan efisiensi penggunaan air melalui
usaha reuse terhadap limbah cair. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
karakteristik air limbah, membuat alternatif reuse air limbah, menganalisis kelayakan dari
aspek analisis biaya, teknis/teknologi dan lingkungan dan memberi masukan pada kebijakan
perusahaan pada penggunaan air. Penelitian dilakukan di PT. TPI, Tbk.Cilegon-Banten.
Metode pengumpulan data meliputi tiga tahapan, yaitu : (1)Karakterisasi Limbah Cair
Faktor fisik dan kimia yang dianalisa: Debit, suhu, pH, Konduktifitas, Total Suspended Solid
(TSS) dan Silika (SiO
2
). (2) Analisis Teknik dan teknologi pengolahan limbah yang diperoleh
melalui studi pustaka dan (3) Percobaan Filtrasi
Hasil karakterisasi limbah cair selama 24 jam menunjukkan waktu tidak mempengaruhi
nilai pH. Nilai Konduktivitas, TSS dan kadar silika menunjukkan peningkatan pada setiap
waktu pengamatan, dikarenakan penumpukan dust yang menyebabkan peningkatan nilai
tersebut. Saringan yang paling sesuai digunakan pada penelitian ini adalah saringan dengan
ukuran 13m. Hasil pencampuran antara limbah cair dan air demineral menunjukkan
penurunan nilai konduktivitas, nilai tertinggi adalah 8.5 s/cm dan nilai terendah 5.8
s/cm.Perbandingan yang digunakan yaitu perbandingan 5:1. Penghematan dari segi
lingkungan (pada perbandingan 5:1) meliputi : penghematan penggunaan air sebesar 42.7%
Penghematan penggunaan bahan kimia sebesar 42.7%. Penghematan penggunaan listrik
sebesar 41.6%. Pengurangan pembuangan beban limbah padat ke lingkungan 14.08 kg/hari
dengan nilai ekonomi Rp.1 798 595. Penghematan dari segi ekonomi sebesar Rp.
643,507,370/tahun (39.13%).
Pada penelitian ini terdapat dua alternatif jenis alat penyaring yaitu bag filter yang
membutuhkan investasi sebesar Rp.281,974,000 dengan nilai payback period selama 7 bulan
dan alternatif ke-2 Press filter memerlukan investasi sebesar Rp.506 528 000 dengan nilai
payback period selama 1 tahun 2 bulan.
82

Pada penelitian ini direkomendasikan menggunakan alat Press filter, karena alat ini
lebih mudah dan praktis dari segi pengelolaan. Perbandingan antara air limbah dan air
demineral yang digunakan sebesar 5:1. Pemilihan perbandingan 5:1 dinilai lebih
menguntungkan dari segi ekonomi, serta telah memenuhi kriteria air demineral yang
dibutuhkan.

Kata Kunci : air limbah, penggunaan kembali, polipropilena, filtrasi.











































83
















Hak cipta Milik IPB, Tahun 2009
Hak cipta dilindung Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penulisan laporan, penulisan kritik atau peninjauan suatu masalah;
dan pengutipan tersebut tidak merudikan kepentingan yang wajar oleh IPB. Dilarang
mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun
tanpa izin IPB.
























84

POTENSI PENGGUNAAN KEMBALI AIR LIMBAH: STUDI


KASUS INDUSTRI POLIPROPILENA
PT. TRIPOLYTA INDONESIA, TBK










ANDINA BUNGA LESTARI






Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister sains pada
Program Studi Pengelolaan Sumber Daya alam dan Lingkungan


















SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009


85



















Penguji Luar Komisi pada ujian Tesis : Dr. M. Yani































86

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang telah
dilaksanakan sejak bulan April 2008 ini adalah Potensi Penggunaan Kembali Air Limbah :
Studi Kasus Industri Polipropilena PT. Tripolyta Indonesia, Tbk.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Muhammad Romli, M.Sc selaku Ketua
Komisi Pembimbing, Dr.Ir. Suprihatin, Dipl.Eng dan Dr. Arion Said, DEA selaku Anggota
Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan tesis
ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Pimpinan dan Staff PT. Tripolyta
Indonesi,Tbk di Cilegon, Banten. Terima kasih kepada orang tua dan kakak tercinta atas segala
doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.


Bogor, Januari 2009



Andina Bunga Lestari






























87

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung pada Tanggal 3 Oktober 1982 dari Bapak H.Muhamad
Effendi Husein dan Ibu Jitinder Effendi (Alm). Penulis merupakan anak kedua dari dua orang
bersaudara. Tahun 2000 penulis lulus dari SMU Negeri 4 Bandung dan pada tahun yang sama
lulus seleksi ujian masuk Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Biologi Program Biologi
Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan lulus pada tahun 2005.
Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan bidang minat
Pencemaran Lingkungan.


























88

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI.......................................................................................................
DAFTAR TABEL................................................................................................
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................
1.2 Kerangka Pemikiran................................................................................
1.3 Perumusan Masalah................................................................................
1.4 Tujuan Penelitian....................................................................................
1.5 Manfaat Penelitian..................................................................................
1.6 Ruang Lingkup Penelitian.......................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Plastik.....................................................................................................
2.2 Polipropilene...........................................................................................
2.3 Bahan Campuran....................................................................................
2.4 Bahan Baku Penunjang...........................................................................
2.5 Limbah Cair............................................................................................
2.6 Limbah Cair Industri...............................................................................
2.7 Teknologi Pengolaha Air........................................................................
2.8 Minimalisasi Limbah..............................................................................
2.9 Proses Penggunaan Air di PT.TPI..........................................................
2.10 Proses Pengolahan Air di PT.TPI........................................................
2.11 Limbah Limbah Cair PT.TPI................................................................

III. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
3.1 PT. Tri Polyta Indonesia Tbk..................................................................
3.2 Visi dan Misi Perusahaan.......................................................................
3.2.1 Visi...............................................................................................
3.2.2 Misi...............................................................................................
3.3 Tujuan.....................................................................................................
3.4 Sejarah Perkembangan Perusahaan........................................................
3.5 Lokasi dan Tata Letak Pabrik................................................................
3.6 Struktur Organisasi.................................................................................
3.7 Produk Yang Dihasilkan........................................................................

IV. METODE PENELITIAN
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian.................................................................
4.2 Rancangan Penelitian.............................................................................
4.2.1 Jenis dan Sumber Data..................................................................
4.2.2 Metode Pengumpulan Data............................................................
4.2.3 Analisis Data.................................................................................

V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakterisasi Limbah Cair.......................................................................
.i
iii
iv
.v

.1
.2
.4
.6
.6
.6


.8
.8
10
11
14
16
17
20
21
22
27


29
30
30
30
31
31
32
33
34


37
37
37
37
40


43
89

5.2 Teknik dan Teknologi Pengolahan Limbah.............................................


5.3 Tahapan Filtrasi.......................................................................................
5.3.1 Model Alat Penyaring.....................................................................
5.3.2 Aspek Lingkungan.........................................................................
5.4 Aspek Ekonomi........................................................................................
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan..............................................................................................
6.2 Saran.......................................................................................................
6.3 Rekomendasi..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................
LAMPIRAN........

48
53
61
65
70

74
75
75

76
78





















90

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Katalis Yang Digunakan di PT.TPI.........................................................
2. Klasfikasi Produk Berdasarkan Grade.....................................................
3. Hasil Pengamatan Sifat Fisik dan Kimia Tahapan Pra Penelitian...........
4. Tipe Membran Filter................................................................................
5. Parameter Air Demineral PT.TPI.............................................................
6. Hasil Pengamatan Nilai pH......................................................................
7. Hasil Pengamatan Nilai Konduktivitas....................................................
8. Hasil Pengamatan Kadar Silika................................................................
9. Hasil Pengamatan Nilai TSS....................................................................
10. Nilai Konduktivitas Hasil Pencampuran Air Limbah dan Air
Demineral.................................................................................................
11. Debit Air Berdasarkan Ukuran Teori.......................................................
12. Spesifikasi Bag Filter...............................................................................
13. Spesifikasi Press Filter............................................................................
14. Penggunaan Air PT.TPI Tahun 2007.......................................................
15. Penghematan Pengunaan Air...................................................................
16. Penghematan Pengunaan Bahan Kimia...................................................
17. Jumlah Dust Yang Dapat Tersaring........................................................
18. Nilai Ekonomi Dust Yang Berdasar Ukuran Saringan............................
19. Penghematan Biaya Dengan Diterapkannya Sistem Reuse
(Perbandingan 2:1)..................................................................................

20. Penghematan Biaya Dengan Diterapkannya Sistem Reuse
(Perbandingan 5:1)..................................................................................

21. Penghematan Biaya Dengan Diterapkannya Sistem Reuse
(Perbandingan 9:1)..................................................................................

22. Investasi Penerapan Reuse Air Alternatif 1.............................................
23. Investasi Penerapan Reuse Air Alternatif 2.............................................

14
35
44
51
53
53
55
56
58
60
61
63
64
66
67
68
70
70
71
71
72
72
73



91


DAFTAR GAMBAR
Halaman

1. Diagram Alir Kerangka Pemikiran Penelitian...............................................
2. Diagram Alir Perumusan Masalah.................................................................
3. Neraca Pengunaan Air di PT.TPI...................................................................
4. Rata-Rata pH Air Limbah Yang Keluar Dari Unit PCW Setiap 3 Jam
(Pengamatan Tanggal 25-26 Juni 2008).........................................................
5. Rata-Rata Konduktivitas Air Limbah Yang Keluar Dari Unit PCW Setiap
3 Jam (Pengamatan Tanggal 25-26 Juni 2008)..............................................

6. Rata-Rata Silika Air Limbah Yang Keluar Dari Unit PCW Setiap 3 Jam
(Pengamatan Tanggal 25-26 Juni 2008)........................................................

7. Rata-Rata TSS Air Limbah Yang Keluar Dari Unit PCW Setiap 3 Jam
(Pengamatan Tanggal 25-26 Juni 2008)........................................................

8. Hasil Pengamatan Nilai pH............................................................................
9. Hasil Pengamatan Nilai Konduktivitas...........................................................
10. Hasil Pengamatan Kadar Silika .....................................................................
11. Hasil Pengamatan Nilai TSS ........................................................................
12. Diagram Penerapan Model Reuse Air Pada Unit PCW (Alternatif 1)...........
13. Diagram Penerapan Model Reuse Air Pada Unit PCW (Alternatif 1)...........

..3
..5
22

44

44

45

46

53
55
56
58
61
63











92


DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1 Diagram Penggunan Air di PT.Tripolita Indonesia Tbk...............
Lampiran 2 Diagram Proses Produksi PT.Tripolyta Indonesia Tbk.................
Lampiran 3 Proses Pembentukan Air Demin Dan Skema Pembentukan Air
Demineral....................................................................................
Lampiran 4 Peta Lokasi Pt.Tripolyta Indonesia Tbk.......................................
Lampiran 5 Data Hasil Pengamatan pH Pada Tahapan Prapenelitian.............
Lampiran 6 Data Hasil Pengamatan Konduktivitas Pada Tahapan
Prapenelitian.................................................................................

Lampiran 7 Data Hasil Pengamatan Silika Pada Tahapan Prapenelitian.........
Lampiran 8 Data Hasil Pengamatan TSS Pada Tahapan Prapenelitian............
Lampiran 9 Foto Foto.......................................................................................
Lampiran 10 Foto- Foto Saringan.....................................................................
Lampiran 11 Alat Bag Filter.............................................................................
Lampiran 12 Alat Rotary Drum Filter..............................................................
Lampiran 13 Besarnya Konsumsi Listrik Pada Proses Deminerasasi.................
Lampiran 14 Biaya Pembuatan Air Demineral..................................................
Lampiran 15 Data Hasil Pengamatan Tahapan Penelitian.................................
Lampiran16 Hasil Analisis One Way Anava dan Kruskal Wallis Untuk Data
Pada Tahapan Karakterisasi Limbah Dengan Mengunakan
Software SPSS 16.00.....................................................................
Lampiran 17 Hasil Analisis Two way Anava Untuk Data Pada Tahapan
Filtrasi Dengan Mengunakan Software SPSS 16.00.....................







78
79

80
81
82

83
84
85
86
87
88
89
90
91
92


93

94

93

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plastik merupakan salah satu produk yang penggunaannya cukup besar di Indonesia,
diantaranya adalah sebagai produk yarn, fiber, pembungkus berbagai produk dalam kemasan,
produk - produk rumah tangga dan pada berbagai produk lainnya. Bahan baku pembuat
plastik adalah bijih plastik. Salah satu jenis bijih plastik yang digunakan pada berbagai
produk adalah polipropilena (CH
2
CH(CH
3
))
n
. Permintaan polipropilena di Indonesia pada
tahun 2010 diperkirakan sebesar 1 juta ton (Laporan tahunan PT. Tripolyta Indonesia Tbk,
2000).
Salah satu komponen yang digunakan dalam jumlah besar pada proses produksi industri
polipropilena adalah air. Selain digunakan untuk berbagai kebutuhan domestik, air digunakan
pada Unit Utillity (proses pembuatan H
2
, Regeneration exchanger, boiler) dan pada Unit
Proses PCW (Pellet Cooling Water). Air yang digunakan sebagian besar merupakan air
demineral (air bebas mineral), yang memerlukan proses demineralisasi untuk
mendapatkannya (Lampiran 3).
Air merupakan sumberdaya alam yang tidak tak terbatas. Kebutuhan air masyarakat
semakin meningkat dan ketersediaan air bersih di kota - kota besar semakin berkurang.
Permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti pencemaran, penggundulan hutan,
kegiatan pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan dan berubahnya fungsi daerah-
daerah tangkapan air (BPPT, 2008).

Apabila kondisi ini terus dibiarkan berlangsung tanpa dilakukannya upaya pengelolaan
yang berkelanjutan, dikhawatirkan pada tahun-tahun mendatang defisit air akan semakin besar
sehingga tidak terpenuhinya pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, air perkotaan,
industri, pertanian dan sebagainya. Selain itu dapat menimbulkan masalah lingkungan yang sulit
94

ditanggulangi seperti pencemaran air dan sumber air yang semakin parah, intrusi air laut, dan
meluasnya land subsidence (Hehanussa et.al, 2004).
Karena air merupakan sumberdaya alam yang sangat dibutuhkan bukan hanya oleh
industri, namun juga oleh masyarakat, maka diperlukan langkah-langkah penghematan
pengunaan air, agar air ketersediannya tetap terjaga. Permasalahan di atas dapat diatasi salah
satunya dengan menggunakan kembali air limbah pada berbagai industri yang menggunakan
air dalam jumlah banyak, seperti industri penghasil polipropilena.
Salah satu perusahaan penghasil polipropilena terbesar di Indonesia ialah PT. Tripolyta
Indonesia, Tbk (PT.TPI). Penghematan penggunaan air di PT. TPI dapat dilakukan dengan
cara melakukan penggunaan kembali (reuse) air limbah.

1.2 Kerangka Pemikiran
Air merupakan sumberdaya alam yang vital diperlukan oleh makhluk hidup. Sebagian
besar industri sangat membutuhkan air dalam proses produksinya. Keterbatasan ketersediaan
air bersih merupakan hambatan bagi berbagai pihak, termasuk PT. TPI yang memperoleh air
dengan cara membeli. Keterbatasan ketersediaan air di kemudian hari harus disadari dan
diantisipasi sejak dini untuk mempertahankan keberlangsungan pembangunan dan kegiatan
industri yang berkesinambungan.
Kegiatan penghematan penggunaan air dalam hal ini adalah reuse (penggunaan
kembali) yang dapat diterapkan di PT. TPI yaitu penggunaan kembali air limbah yang
biasanya dibuang ke laut. Kegiatan ini harus mendapatkan dukungan dari elemen kebijakan
pemerintah dan pihak perusahaan serta kemampuan karyawan. Layak atau tidaknya kegiatan
tersebut ditinjau dari aspek teknologi, finansial dan lingkungan, sehingga berdampak positif
bagi kesinambungan pabrik bijih plastik polipropilena yang akhirnya mendatangkan
95

keuntungan finansial, sosial dan lingkungan. Diagram kerangka pemikiran dapat dilihat pada
Gambar 1.











Gambar 1 Diagram alir kerangka pemikiran penelitian

1.3 Perumusan Masalah
PT. TPI merupakan salah satu produsen bijih plastik polipropilena terbesar di
Indonesia. Secara keseluruhan kapasitas produksi sebesar 360.000 sampai dengan 380.000
ton bijih plastik per tahun, tergantung pada kombinasi jenis yang diproduksi (PT. Tripolyta
Indonesia Tbk, 2007).
Salah satu komponen yang dibutuhkan dalam proses produksinya adalah air.
Berdasarkan neraca kebutuhan air PT. TPI diketahui bahwa kebutuhan air sebanyak 27
m
3
/jam yang digunakan untuk seluruh kegiatan operasional pabrik. Air yang digunakan
dalam jumlah yang tidak sedikit ini diperoleh dengan cara membeli dari PT. Peteka Karya
Tirta (PKT).
Berkurangnya
persediaan
Air Limbah
Keberlanjuta
n Usaha
Pencemaran
Lingkungan
Penggunaan kembali
air limbah
Ekonomi
Teknik
Keuntunga
n
Keuntungan
Finansial
Keuntunga
n Sosial
Penghematan Penggunaan
Industri Polipropilena
96

Air yang dibutuhkan pada unit proses PCW adalah air demineral, hingga dibutuhkan
proses demineralisasi terlebih dahulu sebelum digunakan, yaitu proses penghilangan atau
pengurangan mineral-mineral yang terkandung di dalam air. Proses demineralisasi
membutuhkan biaya yang besar, dikarenakan membutuhkan energi (listrik) serta penggunaan
bahan kimia (HCl dan NaOH). Unit proses PCW menghasilkan sisa buangan berupa air
limbah dan limbah padat. Air limbah yang telah memenuhi baku mutu lingkungan dibuang
ke outlet (laut). Air limbah yang dibuang masih bercampur dengan limbah padat berupa dust
(serpihan bekas pemotongan pelet polipropilena). Apabila tidak dilakukan pengolahan limbah
padat yang berupa dust dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Agar air limbah dapat di reuse sebagai air demineral, maka harus memenuhi
kualitifikasi air demineral. Menurut Metcalf dan Eddy (1991) dan CUSIWWC (2005) analisis
terhadap air limbah yang akan di reuse melalui tahapan penyiapan teknologi yang dapat
digunakan. Selain itu juga perlu dilakukan evaluasi kelayakan finansial, lingkungan dan
teknis/teknologi.
Berdasarkan uraian diatas maka terdapat beberapa pertanyaan penelitian, yaitu:
1. Bagaimanakah karakteristik air limbah dilihat dari aspek fisik dan kimia?
2. Perlakuan (treatment) apakah yang dapat diterapkan dalam reuse penggunaan air?
3. Bagaimanakah penerapan alternatif reuse tersebut ditinjau dari aspek kelayakan teknis /
teknologi, finansial dan lingkungan?
Diagram alir perumusan masalah dapat dilihat pada Gambar 2.





97














1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah melakukan efisiensi penggunaan air di PT. TPI
melalui usaha reuse terhadap air limbah, sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Mengukur kualitas air limbah.
2. Mencari alternatif reuse air limbah.
3. Menganalisis kelayakan dari aspek Analisis Biaya, teknis/teknologi dan lingkungan.
4. Memberi masukan pada kebijakan perusahaan pada penggunaan air.

1.5 Manfaat Penelitian
1. Memberi masukan pada pihak manajemen PT. TPI, Tbk pada khususnya dan industri
bijih plastik pada umumnya mengenai alternatif reuse air limbah yang mungkin
diterapkan pada industri ini.
Gambar 2 Diagram alir perumusan masalah
Evaluasi Kelayakan Finansial, Teknis/Teknologi dan
Input Bahan Baku:
Propilen
Etilen
H
2
Katalis
Steam
naftah
Polipropilena
Resin Degas Bin
(fase cair)
Zat
Unit Pellet cooling
water (PCW)
Air Tanah
HCl dan
NaOH
Air
Pellet
Polipropilen
a
Limbah :
Cair
Padatan
(dust)
Pencemaran
Lingkungan
Penggunaan Kembali
Demineraleralisa
si unit
98

2. Perbaikan kualitas lingkungan dengan melakukan penghematan penggunaan


sumberdaya air melalui proses reuse.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan studi kasus pada industri polipropilena dengan penetapan
PT. TPI sebagai kesatuan dari kegiatan produksi yang dilakukan dengan ruang lingkup
penelitian meliputi :
1. Karakterisasi air limbah meliputi : pH, konduktifitas, TSS dan kandungan silika.
2. Melakukan identifikasi alternatif reuse air limbah.
3. Melakukan pengolahan air limbah dengan filtrasi.
4. Membandingkan air hasil pengolahan dengan air demineral.
5. Melakukan analisis kelayakan lingkungan, teknis dan ekonomi.
6. Kegiatan reuse air limbah dilakukan pada unit Pellet Colling Water (PCW) train 3.














99

II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Plastik
Plastik adalah material yang komponen utamanya merupakan senyawa kromolekul
organik. Material ini dapat dibentuk atau mengalami perubahan pada kondisi tertentu seperti
panas dan tekanan. Plastik juga bisa disebut dengan polimer, yang berasal dari kata Poly
yang berarti banyak dan meros yang berarti bagian (Karian H, 2003).
Secara garis besar plastik dibedakan menjadi termoplastik yang memiliki sifat mudah
meleleh dan mengembang pada berbagai pelarut. Jenis kedua adalah termoset yaitu plastik
yang memiliki sifat keras karena terjadinya ikat silang antara molekulnya, rapat dan sukar
menggembang. Jenis terakhir adalah elastomer yaitu salah satu jenis plastik yang memiliki
sifat tidak dapat meleleh dan larut namun dapat mengembang.

2.2 Polipropilena
Polipropilena adalah suatu jenis polimer alifatik jenuh (rantai lurus, tanpa ada ikatan
rangkap pada atom karbon) dari golongan poliolefin (berasal dari gas hasil cracking minyak
bumi) (Harrison, 2007).
Secara bahasa, polipropilena berasal dari kata poly yang berarti banyak dan propylene
yang berarti senyawa hidrokarbon yang memiliki atom karbon berjumlah tiga dan atom
hidrogen berjumlah enam dengan satu ikatan rangkap pada atom karbonnya dengan rumus
molekul (CH
2
CH(CH
3
))
n
.
Seperti polimer pada umumnya, polipropilena merupakan penghambat panas dan listrik
yang baik, bahan relatif ringan dan mudah di bentuk. polipropilena memiliki ketahanan kimia
yang baik dan ketahanan terhadap fatik, termasuk keretakan tegangan akibat lingkungan.
polipropilena memiliki kejernihan translucent (pertengahan antara tembus padang dan
100

berkabut). polipropilena merupakan material dengan perbandingan kekuatan dengan berat


jenis paling tinggi diantara material-material lain, sehingga sifat ini menyebabkan
polipropilena menjadi polimer yang banyak digunakan.
Polipropilena merupakan polimer termoplastik, artinya polimer yang apabila
dipanaskan pada temperatur tertentu dapat meleleh. Sifat termoplastik ini menyebabkan
polipropilena dapat diproses dengan pemanasan sampai temperatur lelehnya kemudian dapat
dibentuk dan setelah pemakaian dapat didaur ulang kembali menjadi produk baru.
Polipropilena merupakan polimer semi kristalin, yang terdiri atas dua bagian, yaitu fase
kristalin dan fase amorf. Fase kristalin adalah bagian dimana rantai-rantai molekul
polipropilena tersusun secara teratur, sedangkan fase amorf adalah bagian dimana rantai
molekul tersusun secara acak dan tidak beraturan. Fase kristalin memiliki berat jenis lebih
berat dari fase amorf. Fase kristalin memberikan kekuatan, kekakuan dan kekerasan pada
polipropilena, namun sisi lain fase kristalin juga menyebabkan polipropilena menjadi lebih
getas hingga mengurangi kekuatan dan mudah pecah terutama pada temperatur rendah.
(Anonim, 2007).

Polipropilena diperoleh dari bahan baku berupa propilen yang diperoleh dari hasil
perengkahan steam nafta dan gas oil pada temperatur 700 - 950
o
C. Hingga dihasilkan
propilena dengan spesifikasi (kemurnian bahan kimia 90 - 95%) sebanyak 2 - 5%. Untuk
menjadi propilena dengan spesifikasi polimerisasi maka propilena tersebut harus dimurnikan
hingga 99.5%. Kebutuhan propilena tergantung pada permintaan pasar. Rasio antara laju
konsumsi propilena dengan laju produksi polipropilena sebesar 1.01 1.05 (Tripolyta
Indonesia , Tbk, 2007).

2.3 Bahan campuran
101

Untuk memperoleh kemampuan pemprosesan perlu dilakukan penambahan bahan


campuran yang dilakukan saat plastik masih dalam bentuk mentahnya. Hal utama dalam
penambahan bahan campuran adalah aditif. Aditif digunakan untuk memberi pengaruh
terhadap hasil pengolahan. Kemudian hasil pengolahan diubah dari plastik mentah ke bentuk
atau ukuran tertentu untuk diproses selanjutnya. Bentuk dan ukuran yang dihasilkan secara
fisik berbentuk seperti butiran (granula).
Contoh dari aditif adalah antioksidan, memberi efek tahan terhadap oksidasi, pigmen,
memberi warna plastik, platicizers, menurunkan modulus elastis. Bahan mentah plastik
biasanya berupa granula, bubuk atau cairan yang kemudian dimasukan dalam produk
setengah jadi. Pada tahapan inilah biasanya terjadi pencampuran dan diproses sesuai dengan
kebutuhan untuk aplikasi berupa lembaran plastik, film tabung dll. Produk akhir biasanya
berupa plastik hasil cetakan dengan alat injection molding.

2.4 Bahan Baku Penunjang
Bahan baku penunjang yang digunakan pada proses pembentukan polipropilena adalah
sebagai berikut:
- Hidrogen (H
2
)
Hidrogen digunakan sebagai pengendali melt flow produk atau dikenal sebagai
pengakhir dalam reaksi pembentukan rantai sehingga polipropilena dapat diperoleh dengan
berat dan panjang rantai tertentu. Polipropilena yang dihasilkan dengan melt flow tinggi
membutuhkan hidrogen dalam jumlah yang sedikit.
Hidrogen juga digunakan dalam regenerasi bejana deoxo nitrogen dan etilen serta
hidrogenerasi pemisahan MAP (Metil Asetilen Propadien) pada sistem pemurnian propilena.
2. Nitrogen
102

Nitrogen yang digunakan dibagi menjadi dua macam yaitu nitrogen bertekanan tinggi
(40 kg/cm
2
) dan nitrogen bertekanan rendah (7.8 kg/cm
2
). Nitrogen bertekanan tinggi
digunakan dalam sistem reaksi (untuk menjaga kestabilan tekanan dan temperatur di dalam
reaktor dan sebagai gas pembawa katalis pada reaktor) dan sistem pemurnian propilena,
sedang nitrogen bertekanan rendah digunakan untuk sistem aditif, slurry feed tank, pembawa
propilena dalam vent recovery system dan pada roses resin degassing. Nitrogen digunakan
karena bersifat inert (tidak bereaksi) sehingga tidak mengganggu jalannya reaksi polimerisasi.
3. Katalis
Katalis digunakan untuk reaksi polimerisasi pada fase gas. Kataliss berbentuk bubuk
padatan kuning muda yang dilarutkan dalam minyak mineral putih. Komponen utama katalis
adalah senyawa TiCl
4
dan MgCl
2
dalam bentuk partikel padat. Minyak membantu melindungi
kontak dengan udara luar dan juga berfungsi sebagai zat pembawa sehingga katalis dapat
dipompa ke dalam reaktor. Produktivitas dari katalis tergantung dari suhu, jenis kokatalis,
laju deaktivasi dan perbandingan antara kokatalis dan umpan.
4. Kokatalis
Kokatalis berfungsi sebagai pembentuk komplek katalis aktif yang dapat
mempermudah terjadinya polimerisasi. Kokatalis yang digunakan adalah TEAL (Tri etil
Alumunium) yang terdiri atas tri etil alumunium, tri-n-propil almunium, tri-n-butil
alumunium, tri isobutil almunium, Almunium dan Clorine serta hibrisa dalam bentuk AlH
3
,
CH
4
, etilena dan isobutilena.
TEAL berfase cair pada suhu ruangan, bening, tidak berwarna, titik didih 186
o
C dan
titik beku -58
o
C. Kokatalis sangat berpengaruh terhadap produktivitas katalis. Reaksi antar
kokatalis dan katalis membentuk logam aktif yang memungkinkan terjadinya polimerisasi.
5. Selectivity Control Agent (SCA)
103

Digunakan sebagai pengatur kecenderungan terhadap rantai isotaktik dalam polimer


dengan cara menghambat sisi aktif katalis yang menghasilkan resin ataktik yang tidak
diinginkan secara selektif. Karena adanya efek racun ini maka SCA dapat menurunkan
produktivitas katalis.
6. Etilena
Digunakan dalam pembuatan baik kopolimer acak maupun impact blok. Terkadang
etilena dalam jumlah kecil juga digunakan untuk membuat produk homopolimer agar
diperoleh produk yang lebih baik. Penambahan etilena akan menghasilkan produk yang lebih
jernih dan memiliki kekuatan impact yang lebih baik.
7. Aditif
Penggunaan aditif dalam industri plastik pada saat ini sangat penting. Selain berguna
menjaga kondisi plastik itu sendiri, aditif mampu mengubah sifat-sifat asli plastik yang ingin
diproses lebih lanjut. Aditif menjadi berkembang karena aditif sangat berperan dalam
perencanaan produk plastik. Wujud fisik aditif bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan.
Aditif dibagi menjadi 3 bagian yaitu padatan, cairan dan gas. Aditif yang digunakan di
PT.TPI berfase padat. Umumnya aditif harus memiliki syarat sebagai berikut:
- Efisien dalam fungsi
- Stabil
- Tidak beracun, berbau dan berasa
- Efisien dari segi ekonomi
Dalam proses pengolahan plastik polipropilena aditif yang ditambahkan adalah oksidan,
organik peroksida, anti slip agent, filler, penjernih, nucleating agent, penghalang asam.



104

Beberapa katalis yang digunakan di PT.TPI adalah:


Tabel 1 Katalis yang digunakan di PT.TPI
Jenis Nama Fungsi
Aceptor Calsium Stearate Zinc
Oxide
Menetralisir residu katalis
yang bersifat asam dan
dapat menyebabkan
korosi.
Anti Block Agent Celite White Mist Mencegah produk plastik
menempel.
Anti Oxidant Irganox 1010 Mencegah terjadinya
oksidasi rantai polimer
dan berwarna kuning.
Clarifying Agent Millad 3988 Membuat produk lebih
jernih.
Heat stabilizer Everfost-168 Mencegah degradasi
akibat panas dan udara.
Lubricant Arcawax C Pelicin saat molding.
Slip Agent Ecucamid Membuat produk lebih
licin.
UV Stabilizer Cysorb UV-346 Mencegah kerusakan
akibat sinar matahari.
Nucleating Agent Millad 3905 Untuk produk yang
aplikasinya banyak
mengalami benturan

Aditif ditambahkan pada resin sebelum pelletizing, tergantung pada kegunaan akhir dari
polipropilena yang diproduksi dan grade polipropilena yang diinginkan. Diagram proses
produksi di PT. TPI, Tbk dapat dilihat pada Lampiran 2.

2.5 Limbah Cair
Setiap proses produksi pasti menghasilkan sisa buangan berupa limbah. Limbah adalah
bahan sisa pada suatu kegiatan atau proses produksi. Limbah dapat berupa padatan, cairan
atau gas. Berdasarkan jenis pencemarnya limbah cair dapat diklasifikasikan menjadi limbah
cair dengan pencemar bersifat fisik, kimia dan biologi (NRC Committee, 2005). Air dapat
dikatakan sebagai limbah pencemar apabila terdapat perubahan jumlah padatan, warna, bau,
rasa, konduktivitas, turbiditas dan temperatur (Tebbut, 1998). Temperatur menunjukan
derajat atau tingkat panas air limbah yang ditunjukan kedalam skala-skala. Temperatur
105

merupakan parameter yang penting dalam pengoperasian unit pengolahan limbah, karena
berpengaruh terhadap proses biologi dan fisika.
Bau merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau tergantung pada sensitivitas
indra penciuman seseorang. Adanya bau-bauan yang lain menunjukan adanya hidrogen
sulfida yang dihasilkan oleh permukaan zat-zat organik dalam kondisi anaerobik. Pada air
limbah, warna biasanya disebabkan oleh kehadiran materi-materi dissolved, suspended dan
senyawa-senyawa koloidal, yang dapat dilihat dari spektrum warna yang terjadi. Padatan
yang terdapat di dalam air limbah dapat diklasifikasikan menjadi floating dan suspended atau
dissol (Siregar A, 2005).
Bahan pencemar air dapat berupa pencemar fisik, kimia dan biologi. Pencemar fisik
berupa padatan yang masuk kedalam air, pencemar kimia yaitu bahan pencemar berupa unsur
atau senyawa kimia yang terdapat di dalam air baik terlarut, tersuspensi, koloid dan lain-lain.
Pencemar biologi merupakan mikro atau makro organisme organik dan anorganik yang
berada dalam air baik dalam kondisi aerob atau anaerob (Alley R, 2007).
Karakterisasi air limbah yang biasa diukur ialah temperatur, nilai pH, alkalinitas,
padatan, kebutuhan O
2
, nitrogen, fosfor. Temperatur diukur dengan menggunakan
termometer air raksa dengan skala fahrenheit dan celcius. Elemen lain yang dapat digunakan
termometer bimetel, trasmitor, termometer kopel (Siregar A, 2005).
Nilai pH air digunakan untuk mengekspresikan kondisi keasaman (konsentrasi ion
hidrogen) air limbah. Skala pH berkisar antara 1-14. Kisaran nilai pH 1-7 kondisi asam,
sedangkan pH 7-14 kondisi basa, nilai 7 kondisi netral. Alkalinitas adalah ion bikarbonat,
karbonat dan hidroksida. Meskipun demikian borat, silikat, fosfat dapat berperan sebagai
kontributor alkalinitas (Cherimisinoff N, 2002).
Pada limbah cair terdapat beberapa perlakuan diantaranya pengolahan secara fisik,
pengolahan secara kimia dan pengolahan secara biologi. Pengolahan secara kimiawi
106

merupakan pengolahan terhadap limbah dengan menggunakan penambahan bahan-bahan


kimia, melakukan pH kontrol, oksidasi atau reduksi bahan kimia, precipitation logam,
koagulasi dan flokulasi, disinfectiao, air stripolipropilenaing dan penggantian ion (Hidayat W,
2008). Pengolahan secara biologi dilakukan pada limbah yang biasanya bersifat organik baik
secara aerobik maupun anaerobik. Pengolahan secara fisik dapat dilakukan melalui
perlakuan dengan ekualisasi, screening, shredding, grit removal, sedimentasi, flotation,
filtrasi membran filtrasi, temperatur, mixing, evaporasi (Tebbutt, 1998).

2.6 Limbah Cair Industri
Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang
dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal,
pencucian dan pembilasan peralatan blowdown beberapa peralatan seperti kettle, boiler dan
sistem air pendingin, serta sanitary, wastes. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus
menerapkan prinsip pengendalian limbah secara cermat dan terpadu baik didalam proses
produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (and- pipe pollution
prevention). Pengendalian dalam proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar
bahan pencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang telah
ditetapkan.
Namun, masalah air limbah tidak sesederhana yang dibayangkan, karena pengolahan
air limbah memerlukan biaya investasi yang besar dan biaya operasi yang tidak sedikit.
Untuk itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan cermat, dimulai dari perencanaan
yang teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau
Unit Pengelolaan Limbah (UPL) yang besar, serta pengoperasian yang cermat (Kadariah,
1999).
Dalam pengolahan air limbah itu sendiri terdapat beberapa parameter kualitas yang
digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu : parameter
107

organik, karakteristik fisik dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran
jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari Total Organic
Carbon (TOC), Chemical Oxygen Demand (COD), Biochemical Oxygen Demand (BOD),
minyak dan lemak (O&G) dan Total Pethrolum Hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik
dalam air limbah dapat dilihat dari parameter Total Suspended Solids (TSS), pH, temperatur,
warna, bau dan potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat
berupa senyawa organik atau anorganik (Alley R, 2007).

2.7 Teknologi Pengolahan Air limbah
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar
di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen dan senyawa
organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Menurut
Cherimisinoff N, 2002 pengolahan air limbah dapat dibagi menjadi 5 tahap:
1. Pengolahan Awal (Pre-treatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah.
Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah : Screen and
grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2. Pengolahan Tahap Pertama (Premary treatment)
Pada dasarnya pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama
dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang
berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah :
neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation dan
filtration.
3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
108

Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air
limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan
pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah : activated
sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated logoon, stabilization basin,
rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4. Pengolahan tahap ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah :
coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange,
membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya
kemudian diolah kembali melalui proses: degistion or wet combustion, pressure
filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooningor drying bed,
incineration atau landfill.

Dalam menentukan proses apa yang akan digunakan didahului dengan
mengelompokan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan
indikator parameter. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan
secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan dan
kemudahan pengopearasian. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi
yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah
pertimbangan pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau
bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk: Memastikan bahwa
teknologi yang dipilih terdiri dari proses -proses yang sesuai dengan karakteristik
limbah yang akan diperoleh, mengembangkan dan mengumpulkan data yang
109

diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan, menyediakan


informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.

2.8 Minimalisasi Limbah
Upaya untuk mencegah dan/atau mengurangi timbulnya limbah, dimulai sejak
pemilihan bahan, teknologi proses, penggunaan materi dan energi serta pemanfaatan produk
sampingan pada suatu sistem produksi. Minimalisasi limbah dapat dilakukan dengan cara
reduce, reuse, recycle dan recovery (Anonim, 2003).
- Reduce : Upaya untuk mengurangi pemakaian bahan baku seefisien mungkin
didalam suatu proses produksi, juga memperhatikan agar limbah yang
terbuang menjadi sedikit.
- Reuse : Upaya penggunaan limbah untuk digunakan kembali tanpa mengalami proses
pengolahan atau perubahan bentuk. Reuse dapat dilakukan didalam atau
diluar daerah proses produksi yang bersangkutan.
- Recycle : Upaya pemanfaatan limbah dengan cara proses daur ulang melalui
pengolahan fisik atau kimia, baik untuk menghasilkan produk yang sama
maupun produk yang berlainan. Daur ulang dapat dilakukan didalam atau
diluar daerah proses produksi yang bersangkutan.
- Recovery : Upaya pemanfaatan limbah dengan jalan memproses untuk memperoleh
kembali materi/energi yang terkandung didalamnya.
Kegiatan minimasasi limbah meliputi pencegahan pencemaran yang dikenal dengan
nama in-process recycling and reuse atau on-site closed-loop. Bahan kimiawi bergerak hanya
didalam produksi khusus dan tidak akan muncul sebagai limbah. Upaya yang dilakukan pada
tahap ini adalah reduce, reuse dan recycling. Penanggulangan pencemaran yang dikenal
dengan nama out-of-process recycling and reuse atau out-of-loop. Penggunaan kembali
110

bahan atau produk sampingannya oleh pabrik (meskipun berada di pabrik yang sama) atau
melalui sebuah fasilitas diluar (off-site-facility) tidak dapat dianggap sebagai pencegahan
pencemaran. Alasannya adalah bahwa pencemaran / limbah telah terjadi (meskipun bahan
atau produk sampingan digunakan kembali sebagai bahan baku yang berharga) dan resikonya
untuk pekerja, konsumen dalam masyarakat dan lingkungan bertambah karena kebutuhan
untuk out process handling, storage, transportation dan reuse. Kegiatan penanggulangan
dilakukan setelah kegiatan pencegahan sudah tidak dimungkinkan lagi.
Metode 4R (Reduce, Reuse, Recycle and Recovery) pada dasarnya ditujukan untuk
efisiensi penggunaan materi dan energi serta ketidakmurnian limbah sehingga dapat
digunakan kembali dan pemanfaatan kembali limbah untuk menghasilkan bahan baku
sekunder atau memanfaatkan limbah yang semula dianggap tidak berharga menjadi produk
lain.

2.9 Proses Penggunaan Air di PT.TPI
Air pada industri polipropilena digunakan pada proses pelletezer, water cooler, H
2
generation, regeneration exchanger, boiler dan domestik. Pada proses water cooler
digunakan air laut. Sedang pada proses lainnya, kecuali domestik, menggunakan air tanah
yang diolah terlebih dahulu menjadi air demineral. Neraca pengunaan air di PT. TPI adalah
sebagai berikut:







111







2.10 Proses Pengolahan Air di PT.TPI
Fungsi dari dari water treatment system adalah untuk meningkatkan kualitas air
sehingga tidak akan mengganggu proses maupun peralatan yang digunakan, dengan cara
memisahkan suspensed solid dalam air tanah. Kebutuhan air di PT. TPI diperoleh dari air
artesis yang dibeli dari PT. Peteka Karya Tirta (Pertamina Tongkang Group) Ciwadan dengan
kapasitas 30 m
3
/jam.
Air dari PT. Peteka Karya Tirta masuk ke Pre-Treatment Coamecal T-1502 yang
berfungsi untuk menghilangkan zat impuritis seperti menghilangkan padatan yang tersuspensi
(suspended solid) dalam air seperti lumpur, pasir dan sebagainya. Unit Coamecal yang terdiri
dari bagian koagulasi, flokulasi dan klarifikasi dengan tempat pencampuran hasil filtrasi
(Treated Water Chamber).
Air dari PT. Peteka masuk ke kolom Koagulasi yang dilengkapi sistem penambahan
aluminaktif dan sebuah pengaduk untuk menyempurnakan pencampuran, alumunium
diinjeksikan ke dalam kolom untuk mengikat kotoran-kotoran yang terdapat dalam air tanah
dan menghasilkan partikel-partikel yang tidak stabil sehingga terbentuk partikel yang lebih
besar kemudian masuk ke bagian flokulasi dan klarifikasi dengan saluran pembuangan
lumpur. Tahap ini dilakukan di dalam kolom bertingkat, lumpur dan partikel-partikel yang
membentuk flok mengendap, air masuk tingkat berikutnya kemudian masuk ke tahap filtrasi,
sedangkan lumpur dan padatan lainnya dikeluarkan melalui saluran pembuangan lumpur
secara bertahap (Pinayungan, 2003).
Air tanah
27m
3
/jam
Demineralisas
Penambahan bahan kimia
(HCL dan NaOH)
UNIT PROSES:
PCW
UNIT UTILITY:
Pembuatan H
2

Regeneration Exchanger
Boiler
Domestik
Fire hydrant
Hose station
Diperoleh dengan cara
membeli dari
PT. Peteka
13m
3
/jam
14m
3
/jam
7m
3
/jam 6m
3
/jam
Gambar 3 Neraca pengunaan air di PT.TPI
112

Di bagian filtrasi air di saring dari padatan-padatan tersuspensi yang tidak terendapkan
pada tahap sebelumnya, media penyaringan terdiri dari grafit, antrasit, dan pasir. Peralatan
filtrasi ini dilengkapi 2 buah pompa backwash pada setiap unitnya, level air di dalam tangki
filtrasi tinggi karena adanya penyumbatan oleh kotoran yang terbawa pada proses koagulasi
dan flokulasi. Setelah difiltrasi air yang bebas lumpur dan kotoran dipompakan ke dalam
fresh water tank dengan menggunakan tiga buah pompa intermediate type sentrifugal. Air
bersih yang berada di Freshwater Tank dialirkan ke unit:
1. Unit Demineralisasi
Unit demineralisasi (unit pembuatan air demineral) dengan menggunakan dua buah
pompa fresh water (Lampiran 3). Dalam Unit ini air dari fresh water tank dipompakan
dengan menggunakan dua buah service water pump yang melalui proses perlakuan
awal yaitu filtrasi dengan karbon aktif jenis AMCF-IOOO T. Activated Carbon Filter
(ACF) yang digunakan berbentuk silinder vertikal 2 buah (A/B). Filter ini berfungsi
menghilangkan kekeruhan, chlor, senyawa organik, bau, warma, dan padatan
tersuspensi yang masih tersisa yang terkandung dalam air sehingga tidak terjadi
oksidasi dan foiling pada resin ion exchanger. Media penyaringnya terdiri dari gravel
dan karbon akif.
Unit Demineralisasi terdari dari kation exchanger, kolom degasifier dan anion
exchanger. Air hasil filtrasi dengan karbon aktif dilewatkan dalam kolom resin
penukaran kation asam kuat menghilangkan ion-ion bermuatan positif di dalam air,
dimana reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :


Di dalam resin permukaan kation, logam dihilangkan membentuk asam pada saat
pertukaran hidrogen dari resin dengan kation dalam air, terbentuklah larutan asam.

2RH + R
2
+ HA


Mg
2+

Ca
2+
2Na
+

Mg
Na
Ca
113

Asam-asam bikarbonat dalam air akan bereaksi membentuk asam karbonat, reaksi yang
terjadi :



Untuk menghilangkan gas karbon, air kemudian dialirkan ke kolom degasifier
dengan cara aerasi menggunakan blower. Air yang telah dilewatkan ke dalam kolom
degasifier masuk ke dalam kolom penukaran anion untuk dihilangkan kandungan asam,
CO
2
yang tersisa dan ion silika. Reaksi yang terjadi:





Air kemudian dimasukkan ke dalam demine water tank. Apabila kation exchanger
tidak dapat lagi mengikat ion positif karena jenuh, maka kation exchanger tersebut
harus dikembalikan ke semula (diregenerasi) dengan menginjeksikan larutan HCl 35 %.
Proses reaksinya sebagai berikut :
R
2
- Ca + 2 HCl 2 R - H + CaCl
2

R
2
- 2Na + 2 HCL 2 R -H + 2NaCl
R
2
- Mg + 2 HCL 2 R - H + MgCl
2

Untuk mengembalikan Anion Resin yang sudah jenuh, maka anion exchanger
tersebut harus dikembalikan ke semula (diregenerasi) dengan menginjeksikan larutan
NaOH 20%. Proses ini dikenal dengan proses regenerasi (Pinayungan, 2003). Proses
regenerasi sendiri terdiri atas beberapa tahapan, sebagai berikut :

Ca(HCO
3
)
2
+

2RH CaR
2
+ 2H
2
CO
3
H
2
CO
3
CO
2
+
H
2
O

2R-OH + 2R +
H
2

H
2
SO
HCl
CO
2

H
2
S
2
O
3
SO
4
Cl
2
(HCO
3
)
2
(HS
2
O
3
)
114

- Anion Back Wash


Berguna untuk menghilangkan endapan pada anion exchanger tower sehingga
resin akan membaur dan memudahkan air untuk mengalir.
- Kation Back Wash
Berguna untuk menghilangkan endapan pada kation exchanger tower sehingga
resin akan membaur dan memudahkan air untuk mengalir.
- Anion dan Kation Rest
Pada tahapan ini resin yang telah membaur didiamkan untuk diinjeksi NaOH
ACF ke dalam proses regenerasi.


- Anion Water Injection
Berfungsi untuk mengimbangi tekanan pada anion tower sehingga pada
penginjeksian NaOH.
- Kation Water Injection
Berfungsi untuk mengimbangi tekanan panas, kation tower sehingga pada saat
injection resin tidak cafry over.
- Anion Pre Heat
Proses ini dilakukan untuk membantu melepaskan kotoran yang melekat pada
sel-sel dengan cara dipanaskan dengan low steam sehingga resin bisa
mengembang dan kotoran bisa terlepas.
- NaOH Injection
Proses ini dilakukan untuk mengembalikan ion-ion positif pada resin (OH
-
) yang
selama service mengikat ion negatif.
- HCl Injection
115

Agar mengembalikan ion-ion negatif pada resin (H) yang selama beroperasi
mengikat ion positif .
- Displacement
Bertujuan membuang sisa-sisa bahan kimia yang tidak bereaksi secara sempurna
ke sewer.
- Rinse
Proses pembilasan anion dan kation exchanger agar bersih.
2. Unit Drinking Water dan House Station
Unit drinking water dan house station menggunakan dua buah pompa service
water. Untuk unit drinking water sebelumnya diinjeksikan chlorine (saat ini sudah
tidak dipakai) untuk membunuh mikroorganisme yang ada dalam air. Air yang
dihasilkan pada proses ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sanitasi.
3. Unit Fire Water Hydrant
Unit fire water hydrant dengan menggunakan 2 buah pompa jockey, 1 buah
pompa electric dan 1 buah pompa diesel. Selain menggunakan fresh water, unit juga
menggunakan air laut untuk keadaan darurat apabila persediaan air di fresh water
tank habis.

2.11 Limbah Cair PT.TPI
Limbah cair dapat berasal dari air buangan proses, air laut (pendingin) dan oli / minyak
bekas. Air buangan bersumber dari :
- Hidrogen Plant
Berupa cairan yang berasal dari plan keluar dari water seal dan mist eliminator pada
saat overflow. Cairan yang keluar dialirkan ke caustic pit (karena masih mengandung
116

KOH) maka diolah terlebih dahulu kemudian dialirkan menuju ke final check water
pit sebelum dibuang ke laut.
- Nitrogen Plant
Cairan yang berasal dari compressor dan drain separator langsung dialirkan menuju
ke final check water pit sebelum dibuang ke laut.
- Regenerasi air dari unit air demineral
Air buangan dengan adanya chemical injection yang mengandung asam basa pada
regenerasi anion/kation exchanger dialirkan ke neuralization pit untuk dilakukan
pengecekan pH sebelum dialirkan menuju ke final check water pit.
- Proses (Pelettizing)
Yaitu dari PCW unit yang kemudian dialirkan ke final check water pit.
- Backwash Water dari unit demineral.
Langsung dialirkan ke final check water pit.
- Boiler Blowdown dan Sanitary Waste Water
Langsung dialirkan ke final check water pit
- Laboratorium
Dapat berupa solar, mineral oil bekas uji mutu, xylene, asam, basa dan reagent lain
yang telah terpakai dikumpulkan untuk dikirim ke PPLI (Prasada Pamunah Limbah
Indonesia).







117

III. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN



3.1 PT. Tri Polyta Indonesia Tbk
PT. Tri Polyta Indonesia Tbk (TPI) adalah produsen biji plastik polipropilena terbesar
di Indonesia. Polipropilena yang dihasilkan Perusahaan meliputi homopolymer, random
copolymer dam impact copolymer. Produk homopolymer terutama digunakan sebagai bahan
baku dalam pembuatan berbagai macam produk konsumen seperti plastik kemasan makanan,
peralatan rumah tangga, karung plastik, alas karpet dan aplikasi-aplikasi lainnya. Sementara
itu produk random copolymer dan impact copolymer masing-masing terutama digunakan
sebagai bahan baku dalam pembuatan komponen kendaraan, barang electronik, botol plastik
dan berbagai aplikasi lainnya (PT.Tripolyta Indonesia Tbk, 2007). produk-produk Perusahaan
terutama dipasarkan di Indonesia dengan menggunakan merk dagang Trilene.
Perusahaan didirikan pada tahun 1988 dan mulai beroperasi secara komersial pada
tahun 1992 dengan dua lajur produksi yang berkapasitas total 160.000 ton per tahun. Pada
akhir tahun 1993, Perusahaan menyelesaikan proyek debottlenecking yang berhasil
meningkatkan kapasitas produksi menjadi 215.000 ton per tahun. Lajur produksi ketiga
selesai dibangun pada tahun 1995. Secara keseluruhan, ketiga lajur produksi tersebut
mempunyai kapasitas untuk memproduksi 360.000 sampai dengan 380.000 ton
polypropylene per tahun, tergantung pada kombinasi jenis yang diproduksi.
Pabrik Perusahaan terletak di kawasan industri petrokimia di Cilegon, Banten dan
menggunakan teknologi gas UNIPOL yang merupakan proses reaksi gas bertekanan rendah
yang dikembangkan oleh Union Carbide Corporation dan Shell Chemical Company.
Teknologi UNIPOL tidak menghasilkan limbah cair, sementara sebagian besar limbah
padat yang dihasilkan ditampung kembali dan di daur ulang.
Perusahaan menerima sertifikasi ISO 9002 pada tahun 1996, ISO 14001 pada tahun
2000 dan selanjutnya ISO 9001 pada tahun 2002. Sebagai bentuk realisasi kebijakan bisnis
perusahaan yang menekankan pentingnya aspek lingkungan, perusahaan telah memperoleh
penghargaan dari kementerian Lingkungan Hidup berupa sertifikasi perusahaan ramah
lingkungan dengan kategori hijau untuk PROPER 2004-2005.

3.2 Visi dan Misi Perusahaan
3.2.1 Visi
118

Menjadi pilihan utama pelanggan dan penyedia terbesar produk olefin dan polyolefin
yang menjanjikan kesejahteraan masa depan pemegang saham, karyawan dan pemangku
kepentingan lainnya.
3.2.2 Misi
Kami menyediakan produk olefin dan polyolefin bermutu tinggi yang melampaui
harapan pelanggan sehingga dapat memberikan manfaat maksimum kepada pemegang
saham, karyawan dan pemangku kepentingan lainnya.

3.3 Tujuan
a. Sisi Keuangan:
Tingkatkan kinerja keuangan yang tinggi dan berkesinsmbungan.
b. Sisi Pelanggan :
Memiliki pelanggan yang setia
Menjadi pemimpin pasar
c. Sisi proses Bisnis Internal:
Proses yang sangat baik dan handal yang menciptakan kemitraan bernilai tambah.
d. Sisi Pembelajaran dan Pertumbuhan :
Karyawan terberdayakan yang berpedoman pada nilai dan keyakinan bersama.
Optimum pemanfaatan teknologi tekologi informasi sebagai pemampu organisasi
yang sehat sebagai pemacu sinergi.




3.4 Sejarah Perkembangan Perusahaan

PT.Tripolyta Indonesia,Tbk merupakan perseroaan terbatas yang didirikan
berdasarkan akte notaris No. 40 tanggal 2 November 1984. Akte notaris tersebut kemudian
diubah menjadi akte notaris No.117 tanggal 7 November 1987, berdasarkan persetujuan dari
mentri Kehakiman Republik Indonesia sesuai dengan SK No.C2-1786.HT.01.01-Tahun 1988.
PT TPI didirikan pada tanggal 22 Januari 1985 dengan lisensi dari BKPN
No.07/17/PMDN/1985. Perusahaan ini memperoleh fasilitas berdasarkan Undang-Undang
Penanaman Modal Dalam Negeri dengan surat Persetujuan Negeri PMDN Tanggal 6
119

September 1985 No.169/I/PMDN/1985. Perusahaan ini berstats perusahaan Penanaman


Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik
di Indonesia yang sebelumya masih di impor.
Konstruksi PT.TPI dimulai pada tanggal 15 Janiari 1990. Setelah mengalami uji coba
hingga tanggal 9 maret 1992 dan mulai operasi pada tanggal 22 Mei 1992. Pada awal
pengoprasiaan PT.TPI hanya memiliki 2 unit rangkaian produksi (train) yang masing
masing berkapasitas 80.000 ton/tahun. Dalam perkembangannya terjadi peningkatan
kemampuan prodksi melalui proses modifikasi terhadap kapasitas produksi (debottlencking)
tahap I menjadi 120.000 ton/tahun dan pembangunan train III pada tahun1994.
Pada awalnya, semua bahan baku di impor, sejak tahun 1995 80% kebutuhan bahan
baku pabrik ini dipenuhi oleh PT.Chandra Asri Petrochemical Center dan 20% impor. Bahn
baku penunjang lainnya adalah hidrogen, nitrogen, katalis, kokatalis, SCA dan aditif. Sampai
tahun 1995, hidrogen da nitrogen dihaslkan sendiri oleh PT.TPI.Setelah terjadi peningkatan
produksi maka sebagian pasokan hidrogen di pasok dari PT.Chandra asri Petrochemical
Center. Sedangkan katalis dan bahan kimia lainnya selama ini dibeli dari Shell Chemical
Company di Amerika Serikat.



3.5 Lokasi dan Tata Letak Pabrik

Pabrik Polipropilena terletak di kawasan industri Pancapuri di Kawasan Industri
Berat Cilegon, tepatnya di Jalan Raya anyer Km.123, Desa Gunung sugih, Kecamatan
Ciwadan, Kotamadya Cilegon, Propinsi Banten. Sedangkan kantor Pusatnya terletak di
Wisma Barito Pasific Tower A lantai 9 Jakarta Pusat. Pabrik PT.TPI menempati lahan seluas
1555.915 m
2
dengan status tanah berupa hak guna bangunan
Secara geometris Lokasi PT.TPI dikelilingi oleh perairan, baik berupa aliran sungai
maupun laut. Pada sisi timur laut pabrik ini berbatan dengan PT. Dong Jin Indonesia
sedangkan pada sisi barat dan utara berbatasan dengan Selat Sunda. Sedangkan pada sisi
barat daya, selatan dan timur berbatasan dengan PT.CAPC. Denah lebih lengkap dapat di
lihat pada lampiran 4.
Alasan mengapa lokasi pabrik PT.TPI dipilih dibangun ditepi laut adalah ditinjau dari
segi (1) ketersedian bahan baku utama yaitu berupa propilena yang 80% diperoleh dari PT.
CAPC, yang terletak bersebrangan dengan PT.TPI, hingga mempermudah transportasi bahan
120

yang dilakukan dengan menggunakan pipa penghubung.(2) sarana transportasi bahan baku
dan produk yang selain didistribusikan melalui jalan darat juga melalui laut. PT.TPI memiliki
dua dermaga yang digunakan sebagai tempat menerima impor bahan baku dari luar negeri.
(2) Kersedian air, hal ini dikarenakan pabrik ini menggunakan air laut sebaai pendingin.
Sedangkan kebutuhan air lainnya diperoleh dari PT. PETEKA Karya Tirta yang memperoleh
air dari penggalian sumur artesis dan dari PT. Karakatau Tirta Industri yang mengambil air
dari pengolahan air permukaan. (3) Kemudahan distribusi produk dan (4) Ketersedian energi
listrik.

3.6 Struktur organisasi
PT.Tripolyta Indonesia, TBK merupakan perusahan yang berbentuk Perseroan
terbatas (PT) dengan status penanaman modal dalam negeri dengan anggaran dasar
termaktum pada berita negara RI No.779 Tahun 1988 dan No.3181 Tahun 1990 PT. TPI
menjual sahamnya pada masyarakat umum sehingga kukuasaan dipegang oleh pemegang
saham, yaitu dewan direksi.
Pemegang kekuasaan tertinggi perusahaan terletak pada rapat umum pemegang
saham. Untuk mengawasi jalannya perusahaan, dibentuk oleh suatu dewan komisaris yang
mewakili para pemegang saham. Untuk mengawasi jalannya perusahaan, dibentuk suatu
dewan komisaris yang mewakili pemegang saham. Dalam pelaksanaan kegiatan operasional,
kukuasaan dipegang oleh dewan direksi yang terdiri dari 4 direktur yaitu :manufacturing
Director, sales and marketting Director, accounting Director, Corporate administration
Director and Planning&Budgeting Director. Dewan komisaris dan dewan direksi
berkedudukan di kantor pusat, Wisma Barito Pasific Tower Jakarta, Yaitu di Gedung
Bimantara lantai 10 Jakarta. Edangkan untuk operasional pabrik sehari-hari dipimpin oleh
seorang Plant Manager yang diangkat oleh dewan direksi.
Pelaksanaan kegiatan sehari-hari di pabrik dipimpin oleh plant manager. Secara
hirarki, urutan kedudukan dalam struktur organisasi di PT.TPI adalah : dewan komisaris,
dewan direksi, chief executive board, executive vice president, manager, superintendent,
supuervisor dan operator.

3.7 Produk yang dihasilkan

Produk yang dihasilkan oleh PT.TPI terdisi atas berbagai grade sesuai dengan
kebutuhan dan permintaan pasar. Jenis produk yang dipasarkan meliputi homopolymer,
121

random copolymer dan block copolymer. Produk homopolymer terutama digunakan sebagai
bahan baku dalam pembutan berbagai macam produk konsumen seperti plastik kemasan
makanan, peralatan rumah tangga, karung plastik alas karpet dan lain.lain. Sedangkan produk
random copolymer dan block copolymer digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan
komponen kendaraan, barang elektronik, botol plastik dan lain-lain.
Berikut adalah beberapa produk yang diklasifikasikan berdasarkan grade dengan tata
namanya.




Tabel 2. Klasfikasi produk berdasarkan grade
Jenis Polipropilena Pemprosesan Melt Flow Aplikasi Akhir
H= Homopolymer
R= Random
Copolymer
B= Block copolymer
F = Film
Y= Yarn
I = Injection
mold
E= Extrusion
B= Blow Mold
S= Spinning
BO = Biaxially oriented
TQ = Turbular Quench
WL = Woven
Lamination
FY = Flat Yarn
CP = Cast Package
CM = Cast Metallizing
HO = Houseware
HC = High Clarity
BL = BOPP Lamination
GA = General
Application
BN = Battery Nucleating
FY= Fiber Yarn
CS= Continuous
Spinning
TF= Thermoforming

Aplikasi dari berbagai spesifikasi produk tersebut dapat digunakan untuk berbagi
keperluan antara lain :
122

a. BOPP (Biaxially Orienred Polipropilena)Film


Jenis ini merupakan resin dengan berat molekul tertinggi yang diproduksi.
Penggunaannya antara lain untuk kemasan makanan, rokok, plastik laminating,
bagian dalam tas dan dekorasi.
b. Yarn
Jenis ini banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk dengan sifat
plastik yang kuat licin dan tidak menyerap air. Hingga banyak digunakan sebagai
karung bahan kimia, bagian bawah karpet dan tali rafia

c. IPP (Inflation Polipropilena) film
Resin ini paling banyak diproduksi dan digunakan untuk kemasan makanan,
kantong plastik bagian dalam dan pembungkus tekstil.
d. Injection Molding
Produk ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga seperti botol,
peralatan dapur. Selain untuk keperluan rumah tangga produk ini digunakan juga
untuk keperluan otomotif (Oswald, 2002).
e. Fiber
Terdapat dua jenis fiber yang diproduksi, yaitu meliputi : tipe HS 17 CS dan HS22,
CS. Jenis ini digunakan untuk karpet, benang dan plastik pelapis.
f. Thermoforming
Banyak digunakn sebagai bahan baku gelas dan wadah plastik. Bersifat benibg,
kuat dan tidak berasa.
g. Cast Film
Digunakan untuk bahan pelapis metal atau logam. Berupa lembaran yang dalam
pembuatannya hanya ditarik dengan satu arah, lembut karena bersifat fleksibel.








123

IV. METODE PENELITIAN



4.1 Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Trypolita Indonesia, Tbk. Jl. Raya Anyer Km.123,
Ciwadan Cilegon Banten. Waktu penelitian April Juli 2008.

4.2 Rancangan Penelitian
4.2.1 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data
primer diperoleh melalui survei lapangan dan analisis laboratorium. Data sekunder diperoleh
melalui studi pustaka, hasil studi dan data pendukung lainnya baik dari perusahaan maupun
instansi terkait yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.
4.2.2 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini melalui tahapan Karakterisasi Air Limbah, Analisis Teknik dan
Teknologi Pengolahan Limbah dan Percobaan Filtrasi. Dengan metode pengumpulan data
sebagai berikut :
4.2.2.1 Karakterisasi Air limbah
Karakterisasi air limbah dari Unit PCW dilakukan setiap 3 jam dengan jangka waktu 24
jam. Sampel yang diambil berasal dari saluran akhir PCW tank. Faktor fisik dan kimia yang
dianalisa yaitu : Debit, suhu, pH, Konduktifitas, Total Suspensi Solid (TSS) dan Silika (SiO
2
).
Hasil yang diharapkan dari tahapan penelitian pendahuluan adalah data/informasi tentang
parameter air limbah yang belum memenuhi persyaratan dan kententuan teknik penanganan
yang dibutuhkan.

4.2.2.2 Tahapan Penelitian Analisis Teknik Dan Teknologi Pengolahan Limbah.
124

Setelah diperoleh karakterisasi air limbah, maka dilakukan analisis teknik dan teknologi
yang paling tepat digunakan. Hasil analisis ini diperoleh melalui studi pustaka.

4.2.2.3 Percobaan Filtrasi
Setelah diperoleh teknik yang paling tepat untuk penanganan limbah maka dilakukan
percobaan laboratorium. Penanganan tersebut diarahkan untuk memperbaiki kualitas air
limbah hingga memenuhi persyaratan air demineral. Rancangan percobaan yang dilakukan
adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Dengan jumlah faktor yang digunakan diketahui
setelah dilakukan tahapan 1 dan 2.
Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah :
Ho : Variasi suhu dan ukuran pori tidak berpengaruh terhadap nilai silika, konduktivitas,
TSS dan kadarsilika bila dibandingkan dengan kontrol.
H1 : Variasi suhu dan ukuran pori tidak berpengaruh terhadap nilai silika, konduktivitas,
TSS dan kadarsilika bila dibandingkan dengan kontrol.

Hasil yang diharapan pada tahapan ini:
- Mengetahui banyaknya debit air yang dapat digunakan kembali.
- Mengetahui besarnya pengurangan (gram) penggunaan bahan kimia.
- Perbaikan nilai kualitas air limbah.
- Mengetahui banyaknya pengurangan penggunaan energi listrik.
- Evaluasi finansial dengan melakukan analisis biaya dan inventasi penerapan reuse
air.
- Memperoleh nilai payback periode.
Dalam melakukan percobaan beberapa parameter yang diperhatikan yaitu dilihat dari
segi teknis/teknologi dan lingkungan. Dari segi teknik dan teknologi yang diamati yaitu :
125

Tingkat kompleksitas dari cara penggunaan dan keamanan diperoleh dengan cara profesional
judgment.
Pengamatan dari segi lingkungan meliputi: Debit air yang dapat digunakan kembali dan
menghitung berapa banyak air yang dibeli dari PT. Peteka sebelum dan sesudah penerapan
alternatif yang dilakukan. Hasil yang diperoleh dalam bentuk persentase, banyaknya
pengurangan (gram) penggunaan bahan kimia yaitu HCl dan NaOH sebelum dan sesudah
penerapan alternatif yang dilakukan. Hasil yang diperoleh dalam bentuk persentase.
Peningkatan kualitas air limbah yaitu dengan menganalisa parameter fisik dan kimia terhadap
air limbah sebelum dan sesudah penerapan alternatif yang dilakukan, banyaknya
pengurangan penggunaan energi listrik sebelum dan sesudah penerapan alternatif yang
dilakukan. Hasil yang diperoleh dalam bentuk persentase.
Metode evaluasi finansial dengan melakukan analisis biaya dan inventasi penerapan
reuse air dan mengetahui nilai payback periode dari sistem yang diterapkan.




4.2.3 Analisis data
4.2.3.1 Karakterisasi Air limbah
Untuk mengetahui karakteristik air limbah yang dibuang ke outlet, dilakukan analisis
laboratorium. Hasil analisis dengan pengamatan selama 24 jam pengamatan dilakukan setiap
3 jam sekali, dianalisis apakah terdapat perbedaan rata-rata nilai pada setiap jam pengamatan
dalam waktu 24 jam. Uji statistika yang dilakukan adalah uji perbandingan rata-rata dengan
uji one way anova, dengan nilai = 0.05. Varian dari parameter X setiap jamnya dikatakan
126

sama atau homogen bila nilai signifikansi > 0.05 dan varian dari parameter X setiap jamnya
dikatakan tidak sama bila nilai signifikansi < 0.05.
Data yang diperoleh dari analisis laboratorium dibandingkan dengan data hasil
analisis fisik dan kimia air demineral berdasarkan parameter yang telah ditetapkan. Dari
analisis ini akan diketahui parameter apa yang melebihi ketentuan air demineral yang
digunakan pada unit PCW di PT. TPI.

4.2.3.2 Tahapan Penelitian Analisis Teknik Dan Teknologi Pengolahan Limbah.
Pada tahapan penelitian analisis teknik dan teknologi pengolahan limbah, dilakukan
analisis tentang teknik pengolahan air limbah apa yang paling tepat diterapkan pada
penelitian ini. Setelah menetapkan teknik yang tepat, penelitian dilanjutkan dengan
menentukan alat apa dan sistem seperti apa yang akan diterapkan. Pemilihan teknik dan
teknologi pengolahan air limbah berdasarkan profesional judgment, yang diperoleh setelah
melakukan studi pustaka.





4.2.3.3 Percobaan Filtrasi.
Pada tahapan percobaan ini dilakukan proses penyaringan dengan berbagai variasi
ukuran saringan dan variasi suhu. Parameter yang dianalisis setelah dilakukan penyaringan
pada berbagai ukuran saringan dan suhu adalah : Debit, suhu, pH, Konduktifitas, Total
Suspended Solid (TSS) dan Silika (SiO
2
).
Analisis data dilakukan terhadap rata-rata parameter fisik kimia yang tidak sesuai
dengan kualifikasi air demineral perlakuan untuk mengetahui beda signifikan rata-rata
parameter yang diuji perperlakuan. Uji satistik yang dilakukan ialah uji Anova yang
dilanjutkan dengan uji Duncan (Wijaya, 2001; Santoso S, 2002). Data diolah dengan
127

menggunakan program komputer SPSS versi 16.00 dan dibantu dengan bantuan buku
panduan SPSS Multivariate (Wijaya, 2001; Santoso S, 2002).
Analisis kelayakan finansial yang dilakukan adalah menghitung biaya inventasi serta
melakukan analisis biaya untuk menghitung besarnya penghematan yang dapat dilakukan
dengan diterapkannya sistem ini. Payback period adalah waktu yang diperlukan proyek untuk
menghimpun dana intern (internal generating atau net cash flow) guna mengembalikan
jumlah dana yang telah dimasukan dalam proyek (Soeharto, 2002).
Nilai Payback period dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Payback Period = Total Nilai Investasi / Penghematan Bersih

Semakin pendek payback period, semakin kecil resiko investasi yang dihadapi investor,
sehingga semakin menarik proyek yang diusulkan itu (Soekartawi, 1996).












128

V. HASIL DAN PEMBAHASAN



5.1 Karakterisasi Air limbah
Berdasarkan hasil pengamatan di lapang diketahui bahwa proses produksi di PT. TPI,
berlangsung selama 24 jam setiap harinya dengan jumlah produksi yang berbeda setiap
jamnya. Perbedaan tingkat produksi berpengaruh terhadap kualitas limbah. Hasil pengamatan
terhadap air limbah yang keluar dari unit PCW selama 24 jam yang dilakukan setiap 3 jam
disajikan pada Lampiran 5-8.
Pada tahapan ini dilakukan uji statistika dengan menggunakan uji rata-rata one way
anova untuk data pH dan konduktivitas, serta uji non parametrik kruskal wallis untuk nilai
silika dan TSS (dikarenakan data tidak homogen). Keempat parameter uji dianalisa selama 24
jam dengan rentang waktu pemeriksaan 3 jam dengan tujuan untuk mengetahui apakah
perbedaan waktu pengamatan berpengaruh terhadap nilai parameter limbah yang dihasilkan.
Hasil pengujian menunjukan bahwa data pH tidak menunjukan perbedaan nilai selama waktu
pengamatan.
Data konduktivitas, TSS dan kadar silika menunjukan perbedaan rata-rata selama waktu
pengamatan. Data konduktivitas, TSS dan silika memilki nilai yang berbeda setiap jam
pengamatannya, disebabkan oleh penumpukan dust (Lampiran 9) hasil penyaringan yang
menyebabkan peningkatan nilai pada setiap waktu pengamatan.
Hasil pengamatan menunjukan bahwa suhu air limbah stabil pada 71
o
C dan debit 65
m
3
/jam. Produk yang diproduksi terdiri atas HF 10 TQ dengan aditif berupa MAB yang
mengandung : CN cart B125, ZnO
2
, Cd (kadmium), Pb (timbal), Dusil (silikon dioxide).
Pengamatan menunjukan bahwa nilai rata-rata pH selama 24 jam pengamatan 7.08
0.02 , konduktivitas 10.70 0.14 s/cm, kadar SiO
2
1.84 1.25 mg/L dan nilai rata rata
TSS adalah 1 821.79 334.16 mg/L. Hasil analisis yang dilakukan terhadap kontrol (air
129

demineral) yang dihasilkan dari proses demineralisasi pada saat dilakukan penelitian
diketahui bahwa nilai rata-rata pH 7.39 0.00, konduktivitas 3.35 0.00 s/cm, kadar SiO
2

tidak teridentifikasi (ttd) dan TSS 0 0.00 mg/L (Tabel 3).

Tabel 3. Hasil Pengamatan sifat fisik dan kimia tahapan prapenelitian
Parameter Satuan Rata-Rata Air limbah Rata-Rata Air Demin
pH - 7.08 0.02 7.39 0.00
Konduktivitas s/cm 10.70 0.14 3.35 0.00
Kadar SiO
2
mg/L 1.84 1.25 Ttd
TSS mg/L 1821.79 334.16 0 0.00

Nilai pH dari sampel air buangan dari PCW tidak berbeda jauh, yaitu sekitar pH netral.
Nilai pH air cenderung berubah menjadi asam setelah digunakan. Kecenderungan ini
disebabkan adanya penambahan zat aditif yang tidak tercampur ke dalam pellet dan ikut
terlarut ke dalam air buangan PCW. Nilai pH air limbah masih berada dalam kisaran nilai pH
air demineral yang dipersyaratkan oleh PT. TPI (Nilai pH: 7-10). Gambar 5 menunjukan pH
air limbah yang keluar dari unit PCW setiap 3 jam sekali (pengamatan tanggal 25-26 Juni
2008).

Gambar 5 Rata - rata ph air limbah yang keluar dari unit PCW setiap 3 jam (pengamatan
tanggal 25-26 Juni 2008)

130

Gambar 6 menunjukan nilai rata-rata konduktivitas sampel adalah 10.70 0.14 s/cm
lebih tinggi dibandingkan dengan nilai konduktivitas demineral yaitu 3.35 0.00 s/cm.
Apabila dibandingkan dengan standar air demineral yang ditetapkan oleh PT. TPI maka nilai
konduktivitas mendekati nilai maksimum yang ditetapkan yaitu < 10 s/cm.

Gambar 6 Rata-rata konduktivitas air limbah yang keluar dari unit PCW setiap 3 jam (pengamatan
tanggal 25-26 Juni 2008)

Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa nilai konduktivitas air limbah PCW tank cenderung
mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut disebabkan semakin banyaknya zat aditif yang
digunakan seiring dengan semakin banyaknya jumlah produksi yang dilakukan selama
rentang waktu pengamatan. Nilai konduktivitas mengalami penurunan saat pagi hari
dikarenakan produksi yang tidak terlalu tinggi pada pagi hari dan meningkat pada siang hari.
Nilai rata-rata kadar SiO
2
yaitu 1.84 1.25 mg/L jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
standar yang ada yaitu SiO
2
< 0.1 mg/L. Tingginya nilai kadar silika dikarenakan adanya
penyaringan yang belum optimal hingga menyebabkan dust masih terbawa, banyaknya dust
yang mengandung silika menyebabkan tingginya nilai silika pada sampel. Gambar 7
menunjukan rata-rata kadar silika air limbah yang keluar dari unit PCW tank setiap 3 jam
pada pengamatan tanggal 25-26 Juni 2008.
131


Gambar 7 Rata-rata kadar silika air limbah yang keluar dari unit PCW setiap 3 jam (pengamatan
tanggal 25-26 Juni 2008)



Gambar 8 menunjukan hasil pengamatan TSS mengalami peningkatan yang tajam
dibandingkan dengan air demineral. Nilai rata-rata TSS air limbah yaitu 1821.79 334.16
mg/L sedangkan air demineral tidak mengandung TSS. Walaupun pada persyaratan air
demineral yang dikemukakan oleh Pinayungan (2003) tidak menyebutkan tentang ketentuan
TSS, namun tingginya nilai TSS dapat merusak alat PCW tank. Oleh karena itu nilai TSS
harus dikurangi, mendekati nilai 0. Tingginya nilai TSS disebabkan belum optimalnya
penyaringan yang dilakukan hingga dust banyak terdapat pada air buangan dari unit PCW.

132

Gambar 8 Rata-rata TSS air limbah yang keluar dari unit PCW setiap 3 jam (pengamatan tanggal 25-
26 Juni 2008)

Tingginya nilai TSS dari waktu ke waktu dikarenakan adanya penumpukan TSS pada
saluran pembuangan yang belum diangkat. Penumpukan ini menyebabkan peningkatan
jumlah TSS karena penyaringan yang tidak optimal menyebabkan tidak semua dust tersaring.
Hingga bila kita mengabaikan adanya penumpukan yang disebabkan saringan yang tidak
optimal dan keteraturan waktu pengangkatan limbah dust, maka dapat disimpulkan faktor
waktu tidak berpengaruh terhadap kualitas air limbah dari unit PCW tank.

5.2 Teknik dan Teknologi Pengolahan Limbah
Teknik pengolahan air limbah dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologi.
Pemilihan teknik yang akan digunakan disesuaikan dengan jenis polutan, kemudahan proses
penanganan, investasi dan keefektifan penggunaan teknik yang dipilih. Menurut Rothenbag D
dan Ulvaenus (2003) metode pengolahan air limbah secara fisika meliputi (1) Equalization :
yaitu suatu proses untuk mereduksi atau membuang beberapa variasi pada air limbah. (2)
Screening : yaitu suatu langkah untuk memisahkan padatan anorganik dari padatan lain
berdasarkan ukuran partikel. (3) Shredding : yaitu suatu proses pencacahan padatan dalam
ukuran besar hingga dapat melewati saringan dan terpisah dari air. (4) Grit Removal : yaitu
proses pemisahan materi anorganik yang terdapat dalam air limbah dengan cara penyaringan
mengunakan pasir, sehingga materi anorganik tertahan pada pasir. (5) Sedimentation : yaitu
proses yang paling dasar pada pengolahan air limbah, pada proses ini akan memisahkan
antara padatan dan cairan, padatan akan mengendap dan terpisah dengan cairan. (6)
Flotation: yaitu proses untuk memisahkan partikel padat atau partikel cair dari cairan dengan
gravitasi. Metode ini dapat diakukan dengan koagulasi, flokulasi atau disolved udara. (7)
Filtration: yaitu proses yang menggunakan suatu membran yang terbuat dari material tertentu
sebagai penyaring. (8) Temperature Control: yaitu proses perubahan temperatur berpengaruh
133

terhadap kecepatan proses pengendapan dan pengambangan, kecepatan reaksi kimia dan
kecepatan aktivitas organisme. Hal ini dikarenakan adanya perubahan nilai fiskositas seiring
dengan perubahan temperatur. (9) Mixing : dilakukan apabila materi cair terlarut terintegrasi
secara sempurna dengan limbah, limbah padatan tersuspensi pada limbah dan udara atau
oksigen harus tercampur dengan air limbah pada pengolahan aerobik. (10) Evaporative: yaitu
proses yang memanfaatkan panas air limbah untuk mengevaporasi air limbah.
Teknik pengolahan secara fisik dapat dikategorikan berdasarkan penampakan fisiknya
seperti dari padatan, warna, bau, rasa, konduktivitas dan temperatur. Berdasarkan jenis
padatannya padatan dapat dibedakan menjadi padatan yang terlarut atau tak terlarut. Besarnya
nilai padatan yang terkandung pada suatu air limbah dapat diketahui dengan mengukur Total
Solids (TS), Total Suspended Solids (TSS): TSS merupakan besarnya nilai total solid yang
tertahan pada kertas saring dengan ukuran pori 0.45 m. Tujuan dari uji TSS yaitu untuk
mengetahui karakteristik dari air limbah. Dengan uji TSS kita dapat memutuskan metode apa
yang sesuai untuk menghilangkan padatan yang terdapat di dalam air limbah. Metode
tersebut dapat dilakukan dengan cara settling, floatling atau filtring. Parameter lain yang
diukur ialah Total Dissolved Solids (TDS), bertujuan untuk mengetahui besarnya bahan kimia
atau biologi berbentuk padatan yang terdapat pada air limbah, serta tidak dapat dihilangkan
dengan cara settling, floatling atau filtring (AWWA, 1999).
Proses pengolahan limbah secara kimia meliputi : (1) Kontrol pH, (2) Oksidasi/
Reduksi, (3) Pengendapan logam, (4) Koagulasi/Flokulasi, (5) Stripping dan, (6) Adsorpsi.
Proses pengolahan yang terakhir adalah secara biologi, proses ini meliputi : pengolahan
biologi secara aerobik, dan pengolahan biologi secara anaerobik. Pengolahan secara biologi
yaitu pengolahan limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme sebagai pengurai limbah
(Cherimisinoff N, 2002).
134

Berdasarkan hasil karakteristik terhadap air limbah diketahui bahwa nilai yang tidak
memenuhi persyaratan adalah kadar SiO
2
, konduktivitas dan TSS. Oleh sebab itu, perlu
dilakukan perlakuan agar nilai parameter tersebut dapat memenuhi kualitas air demineral
yang diinginkan.
Parameter yang menunjukan nilai tertinggi bila dibandingkan dengan ambang batas
yang diinginkan adalah TSS, hingga TSS merupakan parameter utama yang membutuhkan
perlakuan khusus. Tingginya nilai TSS disebabkan oleh banyaknya dust yang terkandung di
dalam air. Dust tersebut berbentuk serbuk sampai dengan butiran berwarna putih dan
mengambang pada air pada suhu ruangan. Dust merupakan serpihan yang dihasilkan pada
saat proses pemotongan pellet polipropilena yang terbawa oleh air dan mengandung silika.
Penanganan yang dapat dilakukan untuk mengurangi TSS dalam air limbah adalah dengan
cara penyaringan (filtrasi).
Filtrasi merupakan proses pemisahan serat, partikel padat dan sejenisnya yang berasal
dari air buangan limbah melalui suatu membran granural. Proses filtrasi meliputi straining,
settling, dan adsorption (Anonim, 2008). Proses filtrasi sangat dipengaruhi oleh material
penyaring dan ukuran pori membran penyaring. Tipe filter dibagi menjadi :
1. Cartridge Filter :
Cartridge Filter biasanya berupa sebuah keranjang vertikal yang berfungsi sebagai
penyaring. Tujuan dari bentuk saringan berupa keranjang yaitu untuk memaksimalkan
luas area penyaringan. Media penyaring dapat terbuat dari kertas, kain, atau logam.
2 Preasure Filter :
Preasure Filter terdiri atas granular-granular yang berfungsi memberi tekanan dari
pompa.
3 Gravity Filter :
135

Gravity Filter merupakan filter granular yang menggunakan tekanan dari air sebagai
medianya. Pada metode ini memanfaatkan teori dasar dari gravitasi.
Selain jenis filter hal lain yang perlu diperhatikan pada proses filtrasi adalah ukuran
pori dari membran filter. Ukuran membran filter tercantum dalam tabel dibawah ini :
Tabel 4 Tipe membran filter
Tipe Membran Filter Ukuran pori minimum
(nm)
Ukuran pori maksimum
(nm)
Mikrofilter 200 10.000
Ultrafilter 1 20
Nanofilter 0.5 2
Reserve Osmosis 0.1 1
Sumber : Anonim, 2008
Mikrofilter dapat memisahkan padatan yang tersuspensi atau berbentuk koloid dalam
ukuran besar pada limbah. Pengunaan dari mikrofilter yaitu untuk memisahkan padatan yang
berbentuk suspensi yang tidak dapat dipisahkan oleh media filter biasa. Ultrafilter digunakan
pada padatan koloid dan atau molekul organik yang berukuran besar. Ultrafilter biasanya
digunakan pada proses pemisahan lemak atau minyak pada industri makanan dari air limbah.
Nanofilter dapat digunakan untuk pemisahan molekul organik yang berukuran kecil dan
untuk memisahkan padatan air limbah. Reserve osmosis memiliki fungsi untuk memisahkan
padatan dari limbah dengan cara osmosis.
Berdasarkan uraian diatas maka pada penelitian ini dipilih metode filtrasi dengan tujuan
agar TSS yang sebagian besar berupa dust dapat disaring dengan menggunakan saringan
dengan jenis material dan ukuran pori tertentu. Jenis material yang dipilih adalah dari jenis
metal, hal ini karena sifat metal yang tahan karat dan suhu tinggi sehingga metal dipilih
sebagai bahan dari penyaring.
Beragamnya ukuran dust mulai dari butiran sampai berbentuk serbuk menyebabkan
perlu dilakukannnya analisis mengenai ukuran pori yang tepat yang dapat digunakan sebagai
136

penyaring (Alley, 2007). Ukuran saringan yang dipilih adalah 13, 100, 125, 200, 250 dan 325
m dengan diameter saringan 24 cm (Lampiran 10).
Proses filtrasi juga dapat menurunkan nilai silika. Tingginya nilai silika disebabkan
oleh adanya dust yang mengandung silika yang ikut terbawa. Dengan filter yang baik maka
dust tidak akan terbawa larut dan nilai kadar SiO
2
dalam air limbah tidak berubah atau
bertambah. Untuk menurunkan nilai konduktivitas dapat dilakukan melalui pengenceran
dengan menambahkan air demineral sebagai pengencer. Tingginya nilai konduktivitas
disebabkan adanya penambahan aditif yang tidak tercampur sempurna pada saat proses
produksi.

5.3 Tahapan Filtrasi
Pada tahapan ini dilakukan percobaan laboratorium dengan cara melakukan
penyaringan terhadap air limbah yang keluar dari unit PCW. Penyaringan dilakukan dengan
menggunakan penyaring berbahan metal dengan berbagai ukuran pori yaitu 13, 100, 125,
200, 250 dan 325 m dengan diameter saringan 24 cm dengan variasi suhu 30, 50 dan 70
o
C.
Hasil yang diperoleh juga dibandingkan dengan ketentuan air demineral yang telah
ditetapkan oleh PT. TPI kriteria air yang hendak digunakan sebagai berikut :
Tabel 5 Parameter Air Demineral PT. TPI
Parameter Satuan Rata-rata Air limbah
pH - 7-10
Konduktivitas s/cm < 10
Kadar SiO
2
mg/L < 0.1
TSS mg/L Mendekati nol
Sumber : Pinayungan, 2003
Hasil analisis laboratorium diketahui bahwa air buangan yang keluar dari PCW setelah
disaring menunjukan nilai pH untuk masing - masing ukuran pori seperti tercantum dalam
tabel 9 berikut :
Tabel 6 Hasil pengamatan nilai pH
137

Ukuran Saringan
(m)
Suhu
(
o
C)
Nilai pH
13 30 7.37 0.026
50 7.36 0.015
70 7.38 0.021
100 30 7.37 0.015
50 7.37 0.026
70 7.37 0.020
125 30 7.36 0.015
50 7.37 0.021
70 7.38 0.010
200 30 7.37 0.017
50 7.37 0.012
70 7.37 0.032
250 30 7.37 0.017
50 7.37 0.010
70 7.37 0.012
325 30 7.37 0.017
50 7.37 0.023
70 7.37 0.038
Air Demineral 7.08 0.020


Data diatas menunjukan bahwa nilai pH setelah melalui penyaringan dengan
menggunakan penyaring berbahan metal dengan berbagai ukuran memiliki nilai pH lebih
besar dari 7, nilai tersebut tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan kontrol (7.39). Bila
dibandingkan dengan standar ketentuan air demineral yang ditentukan oleh PT. TPI (nilai pH
7-10) maka penyaringan dengan menggunakan bahan metal berbagai ukuran pori
menunjukan hasil yang relatif sama dan berada dalam kisaran yang ditentukan.
Uji statistik menunjukan perlakuan fisik berupa penyaringan dengan berbagai ukuran
pori dan suhu tidak berpengaruh terhadap nilai pH, seperti terlihat pada grafik yang ditujukan
pada Gambar 9:
138


Gambar 9 Hasil pengamatan nilai pH
Nilai konduktivitas untuk masing masing ukuran pori berdasarkan hasil penelitian
tercantum dalam Tabel 7 berikut :



Tabel 7 Hasil pengamatan nilai konduktivitas
Ukuran Saringan
(m)
Suhu
(
o
C)
Nilai Konduktivitas
(s/cm)
13 30 9.57 0.026
50 9.57 0.015
70 9.58 0.025
100 30 9.57 0.010
50 9.57 0.026
70 9.57 0.020
125 30 9.56 0.015
50 9.57 0.021
70 9.58 0.010
200 30 9.57 0.017
50 9.57 0.012
70 9.57 0.032
250 30 9.57 0.017
50 9.57 0.012
70 9.58 0.015
325 30 9.57 0.017
50 9.57 0.017
70 9.57 0.032
Kontrol 10.7 0.140
139


Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan niai konduktivitas. Peningkatan
tersebut disebabkan adanya penambahan zat aditif. Hasil uji statistik menunjukan bahwa
ukuran pori dan suhu tidak berpengaruh terhadap nilai konduktivitas. Bila dibandingkan
dengan kontrol (nilai konduktivitas sebelum dilakukan penyaringan) terjadi penurunan nilai
konduktivitas dalam kisaran yang kecil.
Bila dibandingkan dengan standar ketentuan air demineral yang ditentukan oleh PT.
TPI (nilai konduktivitas < 10 s/cm) maka air buangan yang telah disaring masih memenuhi
kriteria air demineral, namun nilai tersebut berada dekat dengan ambang batas yang
ditentukan, seperti terlihat pada grafik dibawah ini:

Gambar 10 Hasil pengamatan nilai konduktivitas

Hasil analisis laboratorium diketahui bahwa air buangan yang keluar dari PCW setelah
disaring menunjukan kadar silika untuk masing - masing ukuran pori seperti tercantum dalam
tabel 8 berikut :
Tabel 8 Hasil pengamatan kadar silika
Ukuran Saringan
(m)
Suhu
(
o
C)
Kadar silika (mg/L)
13 30 0.001 0.00
50 0.001 0.00
140

70 0.002 0.00
100 30 0.003 0.00
50 0.003 0.00
70 0.003 0.00
125 30 0.011 0.00
50 0.012 0.00
70 0.010 0.00
200 30 0.036 0.00
50 0.036 0.00
70 0.035 0.00
250 30 0.081 0.04
50 0.056 0.02
70 0.057 0.02
325 30 0.132 0.00
50 0.131 0.00
70 0.132 0.00
Kontrol 1.840 1.25

Hasil uji statistika menunjukan bahwa ukuran pori berpengaruh terhadap nilai silika.
Hal ini dikarenakan sebagian besar silika telah tersaring. Bila dibandingkan dengan kontrol
terjadi penurunan nilai silika.
Bila dibandingkan dengan standar ketentuan air demineral yang ditentukan (nilai silika
< 0.1 mg/L) saringan dengan ukuran pori 325 m memiliki kadar silika diatas 0.1 mg/L,
sedangkan ukuran lainnya memiliki nilai dibawah 0.1 mg/L, seperti terlihat pada grafik
dibawah ini:

Gambar 11 Hasil pengamatan kadar silika
141

Nilai TSS untuk masing masing ukuran pori seperti tercantum dalam tabel 9 berikut :
Tabel 9 Hasil pengamatan nilai TSS
Ukuran Saringan (m) Suhu
(
o
C)
Nilai TSS
( mg/L)
13 30 12.81 0.01
50 12.79 0.01
70 12.00 0.00
100 30 15.40 0.01
50 15.41 0.01
70 15.40 0.00
125 30 57.70 0.06
50 57.72 0.01
70 57.73 0.07
200 30 96.50 0.02
50 97.77 0.05
70 97.82 0.02
250 30 127.26 0.38
50 108.13 0.08
70 107.93 0.07
325 30 183.65 0.34
50 175.80 0.04
70 183.80 0.04
Kontrol 0

Dari data diatas dapat dilihat bahwa semakin kecil ukuran pori semakin kecil nilai TSS.
Bila dibandingkan dengan kontrol terjadi penurunan nilai TSS. Bila dibandingkan dengan
standar ketentuan air demineral yang ditentukan oleh PT. TPI,Tbk (nilai TSS mendekati 0)
maka saringan dengan ukuran pori 13 m merupakan saringan dengan nilai TSS yang paling
mendekati nol.
Hasil uji statistik menunjukan bahwa ukuran dari saringan memberikan pengaruh
terhadap nilai TSS, seperti terlihat pada grafik pada Gambar 12.
142


Gambar 12 Hasil pengamatan nilai TSS

Secara keseluruhan bila dibandingkan dengan nilai air demineral yang ditetapkan oleh
PT. TPI dapat dilihat bahwa pada saringan dengan ukuran pori 13, 100 dan 125, m sudah
memenuhi kriteria. Saringan dengan 200 dan 250 m masih memiliki nilai TSS yang tinggi.
Hingga saringan yang dapat digunakan adalah saringan ukuran pori 13, 100 dan 125 m.
Saringan yang akan digunakan yaitu saringan dengan ukuran pori 13 m, karena saringan
dengan ukuran tersebut menunjukan nilai kualitas terbaik.
Nilai konduktivitas terendah yang diperoleh adalah 8.74 0.055 s/cm pada ukuran
saringan 13 m. Nilai tersebut masih mendekati batas yang ditentukan yaitu 10 s/cm. Untuk
menurunkan nilai konduktivitas maka perlu dilakukan pencampuran dengan air demineral
yang diperoleh dari proses dimineralisasi. Pengaruh proses pencampuran antara air demineral
dengan air limbah buangan dari unit PCW tank dapat dilihat pada tabel 10.





143

Tabel 10 Nilai konduktivitas hasil pencampuran air limbah dan air demineral
Nilai Perbandingan
Air Limbah : Air Demineral
Nilai konduktivitas
(s/cm)
9:1 8.5 0.01
8:1 8.3 0.02
7:1 7.7 0.00
6:1 7.3 0.01
5:1 7.0 0.01
4:1 6.8 0.01
3:1 6.6 0.00
2:1 6.2 0.01
1:1 5.8 0.05

Tabel 10 menunjukan penurunan nilai konduktivitas, nilai tertinggi adalah 8.5 s/cm dan
nilai terendah 5.8 0.050 s/cm. Diperoleh nilai tengah 7.11 yaitu pada perbandingan air
limbah dan air demineral 5:1.
Secara keseluruhan hasil penelitian bila dibandingkan dengan nilai akhir demineral
yang ditetapkan oleh PT. TPI,Tbk saringan dengan ukuran pori 13, 100 dan 125 m telah
memenuhi kriteria, sedangkan saringan dengan ukuran 200, 250, dan 325 m tidak
memenuhi standar kriteria, karena memiliki nilai TSS yang tinggi. Berdasarkan penjelasan
diatas saringan yang dapat digunakan pada penelitian ini ialah saringan dengan ukuran pori
13, 100 dan 125 m.
Berdasarkan hasil studi literatur diketahui bahwa semakin kecil ukuran pori suatu
saringan berpengaruh terhadap laju kecepatan penyaringan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju kecepatan penyaringan diantaranya adalah ukuran pori, ukuran padatan
yang terdapat pada air limbah, dan banyaknya padatan pada air limbah dan fiskositas dari air
limbah tersebut.
Untuk mengetahui pengaruh ukuran saringan terhadap laju kecepatan penyaringan air
limbah yang keluar dari unit PCW di PT. TPI dilakukan pengukuran debit air saat dilakukan
penyaringan. Hasil pengamatan menunjukkan besar ukuran pori saringan tidak menunjukkan
144

perbedaan debit. Laju kecepatan penyaringan air limbah pada saringan dengan ukuran pori
13, 100 dan 125 m adalah sebagai berikut:
Tabel 11 Debit air berdasarkan ukuran pori.

Ukuran
Saringan (m)
Debit
(m3/jam)
13 11.4 0.01
100
11.1 0.01
125 10.9 0.01

5.3.1 Model Alat Penyaring
Terdapat berbagai macam teknologi / alat yang dapat digunakan untuk melakukan
proses pengolahan limbah dengan cara filtrasi. Penggunaan teknologi/ alat disesuaikan
dengan kebutuhan dari proses pengolahan tersebut. Beberapa aspek yang dapat diperhatikan
dalam pemilihan alat adalah : kapasitas pengolahan, kemudahan penggunaan alat,
keefektifitasan dari alat dan aspek biaya.
Pada penelitian dilakukan analisis terhadap dua alternatif jenis alat penyaring. Alat
penyaring yang pertama berupa bag filter dan alternatif yang kedua ialah press filter.
Dikarenakan proses produksi PT. TPI,Tbk berlangsung selama 24 jam tanpa henti, maka air
buangan akan terus mengalir keluar dari unit PCW. Besarnya debit air yang keluar akan
berbeda-beda tergantung pada besarnya produksi. Selama siklus produksi terus berjalan maka
siklus air tidak akan berhenti. Hingga air yang keluar dari unit PCW akan dialirkan dan
dipompakan masuk ke alat penyaringan. Setelah disaring air akan kembali dipompakan untuk
masuk ke unit PCW kembali. Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :
145

Gam
bar 13 Diagram penerapan model reuse air pada unit PCW (alternatif 1)

Pemilihan bag filter dikarenakan bag filter lebih ekonomis dan tahan lama. Bag filter
yang digunakan memiliki saringan berupa keranjang yang dapat menampung dust. Bag filter
memiliki bahan dasar baja. Prinsip kerja dari alat ini ialah dengan menampung padatan
berupa dust ke dalam saringan yang berupa keranjang/kantung (Abhishek Filter Technik,
2008). Kantung-kantung tersebut dapat menampung dust sebanyak 15-20 kg, apabila telah
penuh dust dalam saringan harus dikeluarkan dengan cara manual. Agar pengambilan dust
dapat dilakukan tanpa mengganggu proses penyaringan maka akan digunakan 2 bag filter.
Kedua bag filter ini akan digunakan secara bergantian (Lampiran 11 ).
Keterangan :
Warna Hitam = Sistem saat ini
Warna merah = Sistem
tambahan yang
akan diterapkan
146

Alternatif yang kedua yaitu dengan menggunakan press filter. Alat ini akan
menampung dan mengolah air yang berasal dari unit PCW 1, 2 dan 3. Air dari ketiga unit ini
akan dibawa dan digabungkan masuk ke dalam alat pengolahan, sebelum dikembalikan ke
dalam sistem. Secara skematis diagram penerapan model reuse air pada unit PCW dapat
dilihat pada Gambar 14. Alat ini memisahkan antara padatan dan air secara mekanik. Pada
alat ini juga terdapat lima filter berbentuk lembaran yang beputar secara berkala sehingga
dapat memisahkan antara limbah padat dan air limbah (MEEEF 2006) (Lampiran 12).
Bila dibandingkan kedua alternatif diatas memiliki kelebihan dan kekurangan.
Keuntungan penerapan alternatif pertama ialah lebih hemat dari segi biaya dan tidak
membutuhkan tempat tertentu, sedangkan dari alternatif yang kedua lebih mudah dan praktis
pada proses pemisahan padatan dari limbah.














147















Gambar 14 Diagram penerapan model reuse air pada unit PCW (alternatif 2)

5.3.2 Aspek Lingkungan
Tujuan dari diterapkannnya sistem ini selain untuk memberi keuntungan dari segi
ekonomi, juga melakukan penghematan dari aspek lingkungan. Penghematan dari aspek
lingkungan yang diharapkan dari diterapannya sistem ini adalah penghematan penggunaan air,
penghematan penggunaan bahan kimia, penghematan penggunaan listrik dan pengurangan
beban pencemar berupa padatan dust ke lingkungan. Analisis penghematan dari aspek
lingkungan akan dilihat dari perbandingan pencampuran air limbah yang digunakan kembali
dengan air demineral dengan perbandingan 2:1 ; 5:1 dan 9:1.


Clarifiying
system
PT.PTK
Fresh Water
Fresh
Water
Tank
Demin System
Bahan
Kimia
Demin
Water
Tank
PCW Tank
1
Water
pump
PCW Tank
2
PCW Tank
3
Bag
Penampung
148

5.3.2.1 Penghematan Penggunaan Air


Penghematan penggunaan air yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan
melakukan proses reuse air dari unit PCW. Air yang telah diolah akan digunakan kembali
pada unit tersebut. Penggunaan kembali air menyebabkan berkurangnya jumlah air tanah
yang digunakan.
Penggunaan air oleh PT. TPI,Tbk pada tahun 2007 adalah sebagai berikut:
Tabel 12 Penggunaan air PT. TPI tahun 2007
Air Tanah
(m
3
)
Air Denimeral
(m
3
)
Air Limbah PCW
(m
3
)
132 139.6 114 904 61 320

Air yang digunakan pada percobaan ini adalah air limbah PCW tank, yaitu sebesar 61
320.01 m
3
/tahun. Pada proses reuse air dilakukan proses pencampuran air limbah dengan air
demineral dengan tujuan untuk menurunkan nilai konduktivitas. Perbandingan antara jumlah
air limbah yang akan di reuse dengan air demineral adalah 2:1 ; 5:1 dan 9:1. Jumlah air
limbah yang dapat digunakan kembali adalah 61 320 m
3
air limbah, dengan perbandingan air
limbah dengan air demineral 2:1, air demineral yang dapat dihemat sebesar 35 260 m
3
/tahun.
Dengan penggunaan air demineral akan menyebabkan pengurangan penggunaan air tanah
yang akan diolah menjadi air demineral. Air tanah yang dapat dihemat sebesar 30 660 m
3
/tahun atau terjadi penghematan penggunaan air tanah sebesar 26.7 %.
Pada perbandingan air limbah dengan air demineral 5:1, air demineral yang dapat
dihemat sebesar 49 056 m
3
/tahun. Air tanah yang dapat dihemat sebesar 56 415 m
3
/tahun
atau terjadi penghematan penggunaan air tanah sebesar 42.7 %, sedangkan pada
perbandingan air limbah dengan air demineral 9:1, air demineral yang dapat dihemat sebesar
62 684 m
3
/tahun. Air tanah yang dapat dihemat sebesar 54 507 m
3
/tahun atau terjadi
penghematan penggunaan air tanah sebesar 54.6 %. Besarnya penghematan dapat dilihat pada
tabel :
149

Tabel 13 Penghematan penggunaan air



Perbandingan Air Tanah
(m
3
)
Air Demineral
(m
3
)
Persentasi
(%)
2:1 30 660 35 260 26.7
5:1 49 056 56 415 42.7
9:1 54 507 62 684 54.6

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa penghematan penggunaan air terbesar yaitu
pada perbandingan 9:1 dan penghematan penggunaan air terkecil yaitu pada perbandingan
2:1. Penghematan penggunaan air pada perbandingan 9:1 27.9 % lebih hemat dibandingkan
dengan penghematan penggunaan air pada perbandingan 2:1 dan 11.9 % lebih hemat
dibandingkan dengan perbandingan 5:1. Perbandingan 5:1 lebih hemat 16% dibandingkan
perbandingan 2:1.

5.3.2.2 Penghematan Penggunaan Bahan Kimia
Pada proses pembuatan air demineral (Lampiran 3) bahan kimia yang digunakan adalah
NaOH dan HCl. Bahan kimia tersebut dibutuhkan untuk proses regenerasi kation dan anion
exchange. Kebutuhan NaOH PT. TPI pada tahun 2007 adalah 61 905 kg/tahun sedangkan
kebutuhan HCl 135 031 kg/tahun.
Reuse air yang akan dilakukan akan menghemat penggunaan air demineral.
Penghematan penggunaan air demineral akan mengurangi jumlah air demineral yang harus
dihasilkan setiap tahunnya. Pengurangan jumlah air demineral yang harus diproduksi, akan
mengurangi jumlah bahan kimia yang digunakan. Pengurangan penggunaan NaOH dan HCl
yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Tabel 14 Penghematan penggunaan bahan kimia
Perbandingan NaOH
(Kg)
HCl
(m
3
)
Persentasi
(%)
2:1 16 518 36 031 26.7
5:1 24 170 57 649 42.7
9:1 29 366 64 055 54.6

150

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa dengan penerapan sistem ini pada perbandingan 9:1
dapat menghemat setengah dari penggunaan bahan kimia yang bias digunakan. Hasil
perhitungan menunjukan perbandingan 9:1 lebih hemat 27.9% dibandingkan perbandingan
2:1 dan 11.9% lebih hemat dari perbandingan 5:1., sedangkan perbandingan 5:1 lebih hemat
16% dibanding perbandingan 2:1.

5.3.2.3 Penghematan Penggunaan Listrik
Pengoperasian unit demineralisasi dilakukan secara batch process. Dimana setelah
dihasilkan 200 m
3
air, akan dilakukan proses regenerasi dari kation dan anion exchange.
Proses ini berlangsung selama 2 jam untuk setiap unit, menggunakan listrik sebesar 47.3 KW.
Dalam konsumsi listrik pertahun untuk menjalankan unit ini adalah 408.7 KW (Lampiran 13).
Proses penerapan reuse air, dapat menggurangi besarnya penggunaan listrik yang
dibutuhkan untuk melakukan proses demineralisasi. Proses penerapan reuse air,
membutuhkan energi listrik sebesar 0.5 kwH (4380 KW/tahun).
Dengan menerapkan alternatif ini maka jumlah energi listrik yang dapat dihemat pada
perbandingan penggunaan air limbah dan air demineral 9:1 ialah 46.4 % atau 189 482
KW/tahun. Pada perbandingan penggunaan air limbah dan air demineral 5:1 170 094
KW/tahun atau 41.6 %, sedangkan pada perbandingan penggunaan air limbah dan air
demineral 2:1 penghematan yang terjadi sebesar 25.6% atau 104.67 KW/tahun.
Penerapan alternatif dengan perbandingan 9:1 lebih hemat 20.8 % dibanding
perbandingan 5:1 dan 4.8% lebih hemat dari perbandingan 2:1. Bila dibandingan antara
perbandingan penggunaan air limbah dan air demineral pada perbandingan 5:1 dan 2:1,
perbandingan 5:1 lebih hemat 16 %.

5.3.2.4 Pengurangan Pembuangan Beban Limbah Padat Pada Lingkungan

151

Pada proses penyaringan air limbah terdapat dust (limbah padat) yang tersaring saat
dilakukan proses penyaringan. Dust sendiri merupakan potongan pellet yang berupa serpihan
sampai butiran timbul karena adanya proses pelletisasi. Apabila dibuang ke lingkungan dalam
jumlah yang banyak dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan menurunnya kualitas
lingkungan. Apabila dust tidak tersaring, dust akan terbuang ke laut dan apabila terjadi
penumpukan dapat menyebakan pencemaran. Dust yang mengandung silika apabila terbuang
ke laut kemungkinan besar akan termakan oleh organisme laut, dan terbawa pada proses
rantai makanan hingga membahayakan bagi organisme (Al-Mutaz I.S, 2004). Banyaknya
dust yang dapat tersaring dengan diterapkannya sistem ini adalah sebagai berikut:
Tabel 15 Jumlah dust yang dapat tersaring
Ukuran Saringan (m) Dust (gr/L) Dust per hari(kg)
13 51.49 14.08
100
50.94 13.93
125
50.89 13.59
200
50.80 13.27
250
50.67 10.32
325
50.65 8.70

Selain dapat memperbaiki kualitas lingkungan dan mencegah proses pencemaran
lingkungan, penyaringan dust juga mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi. Dust
memiliki nilai ekonomi sebesar Rp.350/kg. Besarnya keuntungan ekonomi yang dapat
diperoleh dengan melakukan pengumpulan dust untuk dijual kembali kepada pengumpul
dapat dilihat pada tabel:
Tabel 16 Nilai ekonomi dust berdasarkan ukuran saringan
Ukuran Saringan
(m)
Nilai ekonomi dust/tahun
(Rp)
13 1 798 595
100 1 780 015
125 1 737 243
200 1 695 336
250 1 318 806
325 1 121 542

152

5.4 Aspek Ekonomi


5.4.1 Analisis Biaya Penghematan Debit Air dan Pengurangan Penggunaan Bahan Kimia
Analisis biaya dilakukan untuk mengetahui besarnya keuntungan dari segi finansial
yang dapat diperoleh apabila sistem ini diterapkan. Penghematan terjadi dikarenakan adanya
pengurangan proses pembuatan air demineral pada unit demineralisasi. Untuk menghasilkan
air demineral per tahun, biaya yang dibutuhkan adalah Rp.1 057 113 130,00 (Lampiran 14).
Dengan diterapkannya sistem ini maka penghematan yang dapat dilakukan dengan
perbandingan penggunaan air limbah dan air mineral sebesar 2:1 adalah Rp. 906 617 690,00
atau sebesar 14.24%. Penghematan terjadi dikarenakan pengurangan pembelian air tanah,
pengurangan pembelian bahan kimia berupa NaOH dan HCl serta pengurangan pemakaian
listrik. Penghematan ini tentunya menguntungkan dari segi ekonomi terhadap perusahaan.
Besarnya penghematan dapat dilihat pada tabel 17, sebagai berikut:
Tabel 17 Penghematan biaya dengan diterapkannya sistem reuse (perbandingan 2:1)
ITEM
Besar
Penghematan
Harga
(Rupiah)
Total
(Rupiah)
Raw water (M
3
) 129 073 4000 516 294 400
HCl(Kg) 99 000 900 89 100 000
NaOH(Kg) 45 387 2350 106 659 450
Listrik(KwH) 304 006 640 194 563 840
Total 906 617 690

Besarnya penghematan yang dapat dilakukan dengan perbandingan penggunaan air
limbah dan air demineral sebesar 5:1 adalah Rp. 643 507 370 atau sebesar 39.13%. Besarnya
penghematan dapat dilihat pada tabel 18, sebagai berikut:
Tabel 18 Penghematan biaya dengan diterapkannya sistem reuse (perbandingan 5:1)
ITEM
Besar
Penghematan
Harga
(Rupiah)
Total
(Rupiah)
Raw water (M
3
) 83 083.6 4000 332 334 400
HCl(Kg) 77 562 900 69 805 800
NaOH(Kg) 37 735 2350 88 677 250
Listrik(KwH) 238 578 640 152 689 920
Total 643 507 370

153

Besarnya penghematan yang dapat dilakukan dengan perbandingan penggunaan air


limbah dan air demineral sebesar 9:1 adalah Rp. 591 157 050 atau sebesar 44.08%. Besarnya
penghematan dapat dilihat pada tabel 19, sebagai berikut:
Tabel 19 Penghematan biaya dengan diterapkannya sistem reuse (perbandingan 9:1)
ITEM
Besar
Penghematan
Harga
(Rupiah)
Total
(Rupiah)
Raw water (M
3
) 77 632.6 4000 310 530 400
HCl(Kg) 70 976 900 63 878 400
NaOH(Kg) 32 539 2350 76 466 650
Listrik(KwH) 219 190 640 140 281 600
Total 591 157 050

Untuk menerapkan sistem ini terdapat dua alternatif yang dapat digunakan. Alternatif
yang pertama yaitu menggunakan alat berupa pembelian unit bag filter, pompa, saringan dan
lain-lain. Alternatif yang kedua yaitu menggunakan press filter.
Untuk penerapan alternatif pertama dibutuhkan investasi sebesar Rp.281.974 000
dengan nilai payback period selama 7 bulan. Besarnya investasi yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
Tabel 20 Inventasi penerapan reuse air alternatif 1.
Alat dan bahan Jumlah Harga (Rp) Total (Rp)
Alat 6 19 400 000 116 400 000
Saringan 12 970 000 11 640 000
Pipa 3 690 168 000 115 920 000
Pompa 6 5 204 000 31 224 000
Pekerja 1 940 000
Lain-lain 4 850 000
Total 281 974 000

Untuk penerapan alternatif kedua dibutuhkan investasi sebesar Rp.506.528.000 dengan
nilai payback period selama 1 tahun 2 bulan. Besarnya investasi yang dilakukan adalah
sebagai berikut :


154

Tabel 21 Inventasi penerapan reuse air alternatif 2.


Alat dan bahan Jumlah Harga (Rp) Total (Rp)
Alat 1 129 000 000 129 000 000
Saringan 12 970 000 11 640 000
Pipa 3 2.000 168 000 336 000 000
Pompa 2 5 729 000 11 458 000
Pekerja 7 1 940 000 13 580 000
Lain-lain 4 850 000 4 850 000
Total 506 528 000






















155

VI. KESIMPULAN DAN SARAN



6.1 Kesimpulan
1. Hasil karakterisasi limbah cair selama 24 jam menunjukan waktu tidak mempengaruhi
nilai pH. Nilai Konduktivitas, TSS dan kadar silika menunjukan peningkatan pada setiap
waktu pengamatan, dikarenakan penumpukan dust yang menyebabkan peningkatan nilai.
2. Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik filtrasi. Nilai pH dan
konduktivitas tidak dipengaruhi ukuran saringan. Ukuran saringan mempengaruhi nilai
silika dan TSS. Semakin kecil ukuran saringan semakin kecil nilai silika dan nilai TSS
yang semakin besar. Saringan yang paling sesuai digunakan pada penelitian ini adalah
saringan dengan ukuran 13m.
3. Hasil pencampuran antara limbah cair dan air demineral menunjukkan penurunan nilai
konduktivitas, nilai tertinggi adalah 8.5 s/cm dan nilai terendah 5.8 0.050 s/cm.
4. Penghematan dari segi lingkungan pada perbandingan 5:1 meliputi : penghematan
penggunaan air sebesar 42.7%. Penghematan penggunaan bahan kimia sebesar 42.7%.
Penghematan penggunaan listrik sebesar 41.6%. Pengurangan pembuangan beban limbah
padat ke lingkungan dengan saringan 13m sebesar 14.08 kg/hari dengan nilai ekonomi
Rp.1 798 595.
5. Penghematan yang dapat dilakukan dengan perbandingan penggunaan air limbah dan air
demineral 2:1 adalah Rp. 906 617 690 (14.24%), 5:1 adalah Rp. 643 507 370 (39.13%),
9:1 adalah Rp. 591 157 050 (44.08%).
6. Pada penelitian ini terdapat dua alternatif jenis alat penyaring yaitu bag filter yang
membutuhkan investasi sebesar Rp.281 974 000 dengan nilai payback period selama 7
bulan dan alternatif ke-2 rotary bag filter memerlukan investasi sebesar Rp.639 528 000
dengan nilai payback period selama 1 tahun 2 bulan.
156


6.2 Saran
1. Diperlukan pengawasan terhadap pengangkutan dust agar berlangsung secara berkala.
Karena penumpukan dust dapat berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan nilai
silika dan konduktivitas.
2. Diperlukan analisis kimia terhadap parameter konduktifitas, pH dan silika secara berkala
untuk memastikan bahwa kualitas air yang di reuse tetap memenuhi kualifikasi air
demineral yang dibutuhkan oleh PT. TPI,Tbk.
3. Teknik ini dapat digunakan pada industri polipropilena lainnya dengan melakukan kajian
yang lebih lanjut terhadap kegiatan produksinya, sehingga upaya mewujudkan
penghematan peggunaan sumber daya alam serta mewujudkan industri berwawasan
lingkungan dapat terwujud dengan baik.

6.3 Rekomendasi
Pada penelitian ini direkomendasikan menggunakan alat rotary bag filter, karena alat
ini lebih mudah dan praktis dari segi pengelolaan. Perbandingan antara air limbah dan air
demineral yang digunakan sebesar 5:1. Pemilihan perbandingan 5:1 dinilai lebih
menguntungkan dari segi ekonomi, serta telah memenuhi kriteria air deminseral yang
dibutuhkan.










157

Daftar Pustaka


Abhishek Filter Technik. 2008. Basket Filter. [terhubung berkala]. www. Abhishekfilter.com.
[24 November 2008].

Al-Mutaz I.S 2004. Silica Remuval During Lime Softening in Water Treatment Plant.
International Confrensi on Water Resources&Arid Environment.

Alley R. 2007. Water Quality control Handbook Second Edition. New York :Mc Graw Hill.

[AWWA] American Water Works Association. 1999. Water Quality and Treatment fifth
edition. New York: Mcgraw-Hill, Inc.

Anonim. 2008. Filtration. [terhubung berkala]. www.ddtl-diatomite.com. [24 November
2008].

Anonim. 2008. Filtrers. [terhubung berkala]. www.tan.com. [24 November 2008].

Anonim. 2007. Polypropylene. [terhubung berkala]. www.swicofil.com. [16 juli 2008].

Anonim. 2003. Konsep Produksi Bersih dan Penerapan Pada Sektor Industri. [terhubung
berkala]. http://www.usudigitallibrari.org.com. [12 Maret 2008].

BPPT. 2008. Krisis Air Di Negeri Kaya Air. [terhubung berkala]. http://www.bppt.go.id. [12
Maret 2008].

Cherimisinoff N. 2002. Handbook Of Water and Wastewater Plant Operations. Norfolk. CRC
Press.

Committee on U.S-Iranian Workshop on Water Conservation (CUSIWWC). 2005. Water
Conservation, Reuse, and Recycling: Proceedings of an Iranian-American Workshop.
[terhubung berkala] . http:// www.nap.edu/ catalog/11241.html. [2 April 2008].

Harrison K. 2007. Polypropylene. [terhubung berkala].
http://en.wikipedia.org/wiki/Polypropylene. [16 juli 2008].

Hehanussa P.E., G.S. Haryani, H. Pawitan. 2004. Transformasi kebijakan Pengelolaan
Sumber daya Air, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. LIPI Press.

Hidayat,W. 2008. Teknologi Pengolahan Air Limbah. [terhubung berkala] .
www.majarikanayakan.com. [2 April 2008].

Karian H. 2003. Handbook of Polypropilenae and Polypropilenae Composites 2
nd
Edition.
New York: Marcel Dekker.

Kinasih P. 2007. Studi Komperatif Penambahan Zat Aditif Claryfying Agent (Millad 3988)
dan Nutcleating Agent (ADK NA-21 dan HPN-68L) Pada Produk PoliPropilena
Homopolimer IPP-Film Grade. Laporan Kerja Praktek. Depok. Universitas Indonesia.

158

[MEEEF] Middle East Economic Engineering Forum. 2006. The Rotary Drum Filter.
[terhubung berkala] . www.eng.forum.com. [24 Nopember 2008].

Metcalf dan Eddy. 1991. Wastewater Enginerering treatment, disposol and reuse. New York:
Mc.Graw-Hill Publishing company.

NRC Committee. 2005. Water Convervation, Reuse and Recycling. Washington DC:
National Academies Press.

Pinayungan A. 2003. Training Module :Water treatment. Cilegon : PT.tripolyta Indonesia
Tbk.

Rothenbag D dan Ulvaenus. 2003. Handbook Of Water & Wastewater Treatment Plant
Operations. CRC Press.

Santoso S. 2002. Mengolah Data Statistik Secara Profesional SPSS 10. Yogyakarta:
Elexmedia.

Siregar, A. 2005. Pengolahan Limbah Cair. Yogyakarta: Kanisius.

Soeharto I. 2002. Studi Kelayakan Proyek Industri. Jakarta: Erlangga.

Soekartawi. 1996. Panduan Membuat Usulan Proyek Pertanian dan perdesaan : Yokyakarta.

Tebbutt T. 1998. Principles of Water Quality Fifth edition. London :Butterworth Heinemann.

Tripolyta Indonesia Tbk. 2000. Laporan Tahunan. Cilegon: PT. Tripolyta Indonesia Tbk.

Tripolyta Indonesia Tbk. 2007. Profil Perusahaan. [terhubung berkala]. www.tripolyta.org.
[12 Maret 2008].

Wijaya K. 2001. Analisis Statistik dengan Program SPSS 10.0. Bandung: Alfabeta.










159




LAMPIRAN

























78

79

Lampiran 2. Diagram Proses Produksi PT.Tripolyta Indonesia Tbk


80

Lampiran 3. Proses Pembentukan Air Demineral Dan Skema Pembentukan Air Demineral
Proses Pembentukan Air Demineral








81

Lampiran 4. Peta Lokasi Pt.Tripolyta Indonesia Tbk




82

Lampiran 5. Data Hasil Pengamatan pH Pada Tahapan Karakterisasi Limbah




Waktu Pengamatan
(Pukul)
Replikasi pH
7:00 1 7.10
2 7.03
3 7.07

X
7.07 0.020
10:00 1 7.08
2 7.06
3 7.06

X
7.07 0.007
13:00 1 7.08
2 7.07
3 7.06

X
7.07 0.006
16:00 1 7.08
2 7.06
3 7.06

X
7.07 0.007
19:00 1 7.08
2 7.08
3 7.07

X
7.08 0.003
22:00 1 7.08
2 7.08
3 7.08

X
7.08 0.000
1:00 1 7.08
2 7.12
3 7.1

X
7.1 0.012
4:00 1 7.08
2 7.09
3 7.09

X
7.09 0.003












83

Lampiran 6. Data Hasil Pengamatan Konduktivitas Pada Tahapan Karakterisasi Limbah




Waktu Pengamatan
(Pukul)
Replikasi Konduktivitas (s/cm)
7:00 1 10.7
2 10.6
3 10.7

X
10.7 0.06
10:00 1 10.5
2 10.4
3 10.5

X
10.5 0.06
13:00 1 10.6
2 10.6
3 10.7

X
10.60.06
16:00 1 10.5
2 10.4
3 10.5

X
10.50.06
19:00 1 10.7
2 10.7
3 10.93

X
10.80.13
22:00 1 10.8
2 10.7
3 10.7

X
10.80.06
1:00 1 10.8
2 10.8
3 10.7

X
10.80.06
4:00 1 10.7
2 10.8
3 10.8

X
10.80.06












84

Lampiran 7. Data Hasil Pengamatan Silika Pada Tahapan Karakterisasi Limbah




Waktu Pengamatan
(Pukul)
Replikasi Silika (mg/L)
7:00 1 0.604
2 0.600
3 0.589

X
0.5980.008
10:00 1 0.531
2 0.535
3 0.620

X
0.5620.050
13:00 1 0.522
2 0.517
3 0.515

X
0.5180.004
16:00 1 1.738
2 1.752
3 1.747

X
1.7520.007
19:00 1 2.103
2 1.874
3 1.886

X
2.0480.613
22:00 1 1.993
2 2.036
3 2.114

X
1.9540.128
1:00 1 3.271
2 2.950
3 3.928

X
3.3830.499
4:00 1 3.957
2 4.004
3 3.870

X
3.9440.068












85

Lampiran 8. Data Hasil Pengamatan TSS Pada Tahapan Karakterisasi Limbah



Waktu Pengamatan
(Pukul)
Replikasi TSS (mg/l)
7:00 1 1357.6
2 1367.2
3 1583.6

X
1436.1 73.8
10:00 1 1563.6
2 1563.6
3 1600.0

X
1575.73 12.1
13:00 1 1632.0
2 1644.8
3 1634.4

X
1637. 1 3.8
16:00 1 1633.2
2 1694.1
3 1852.8

X
1726.7 65.46
19:00 1 1996.8
2 1942.0
3 1960.0

X
1966.3 16.1
22:00 1 1891.2
2 1905.2
3 1829.2

X
1875.2 23.4
1:00 1 2548.0
2 2102.0
3 2326.0

X
2325.3 12.8
4:00 1 2392.0
2 2346.0
3 1357.6

X
2031.9 33.7













86


Lampiran 9


























Lampiran 10 : Foto-Foto Saringan























Foto 1 : Pipa Outlet PCW Tank Foto 2 : Saluran Outlet PCW Tank menuju ke laut
Foto 3 : Hasil penyaringan dust Foto 4 : Tempat penampungan dust sementara
Foto 5 : Saluran Outlet PCW Tank menuju ke laut
87




















































Foto 1 : Filter dengan ukuran pori 13 m
Foto 3 : Filter dengan ukuran pori 125 m
Foto 2 : Filter dengan ukuran pori 100 m
Foto 4 : Filter dengan ukuran pori 200 m

Foto 5 : Filter dengan ukuran pori 250 m Foto 6: Filter dengan ukuran pori 325 m
88

Lampiran 11. Alat Bag Filter




Sumber : www. Abhishekfilter.com




Lampiran 12. Alat Filter Press


89




Sumber : www.ddtl-diatomite.com





















90

Lampiran 13. Besarnya Konsumsi Listrik Pada Proses Deminerasasi




Sub Area P&I no. Tag no. Description
Power
(kW)
total
power
Power
(kW)
Water Treatment
System
617A-7
G-8326 A,B Service Water Pump 7.5 15
G-8322 A,B Fresh Water Pump 5.5 11 5.5
G-8307 A,B Demine Water Pump 7.5 15 7.5
G-8325 A,B Drinking Water Pump 5.5 11
Y-8305 -
G01A/B-3
Alum injection pump

0
Y-8305-
T01A/B-5
Alum mixer 0.1 0.2
Y-8305-
T01A/B-4
Mixer 0.1 0.2
Y-8503-
G01A/B-1,2
Back wash pump 2 4
Y-8305-
G02A,B,C
Intermediate pump 3.7 11.1 7.4
Y-8305-K07
A,B
Degassifier fan 0.75 1.5 1.5
Y-8305-G08
A,B
Degassifier water pump 2.2 4.4 4.4
Y 8305G11
A,B
Regeneration pump 5.5 5.5 11
Y 8305 C13 Acid pump 0.4 0.4 0.4
Y-8305 G15 Caustic pump 0.4 0.4 0.4
Y 8305 G16
A,B
Waste water pump 3.7 7.4 3.7
Y 8305 - K17 Blower 5.5 5.5 5.5
TOTAL 92.6 47.3
Total power = 92.6 kW
Demin unit capacity 10 ton/h (1 unit)
20 ton/h (total)









91

Lampiran 14. Biaya Pembuatan Air Demineral



HARGA Total
PRODUKSI DEMINERAL
(M
3
)
114 904,0
KONSUMSI BAHAN
KIMIA
ACID 900 135 031,0
Rp/Kg 121 527 900,0
CAUSTIC 2350 61 905,0
Rp/Kg 145 476 750,0
KONSUMSI RAW WATER 4000 132 139,6
(M3) Rp/m3 528 558 400,0
JAM OPERASI 8 640,0
KONSUMSI LISTRIK 640 408 672,0
47.3 Rp/KWh 261 550 080,0
KW
TOTAL RP 1,057,113,130.0
(RP/TON) 9,200.0
92

Lampiran 15. Data Hasil Pengamatan Tahapan Filtrasi


Ukuran
pori
Repli
kasi
pH Konduktifitas Silika TSS
30 50 70 30 50 70 30 50 70 30 50 70
300 1 7.38 7.36 7.38
9.58 9.57
9.58 0.14 0.13 0.13 184.80 174.40 188.20
2 7.34 7.35 7.35
9.54
9.55 9.55 0.13 0.13 0.13 184.60 174.40 178.60
3 7.39 7.38 7.40
9.59
9.58 9.60 0.13 0.13 0.13 182.70 178.60 184.60
x 7.37 7.36 7.38 9.57 9.57 9.58 0.13 0.13 0.13 184.03 175.80 183.80
200 1 7.37 7.38 7.37
9.57 9.58
9.57 0.06 0.06 0.06 107.88 108.13 107.97
2 7.35 7.34 7.35
9.56
9.54 9.55 0.06 0.06 0.06 108.16 108.21 107.85
3 7.38 7.39 7.39
9.58
9.59 9.59 0.06 0.05 0.06 108.18 108.06 107.98
x 7.37 7.37 7.37 9.57 9.57 9.57 0.06 0.06 0.06 108.07 108.13 107.93
125 1 7.36 7.36 7.38
9.56 9.56
9.58 0.04 0.04 0.03 97.63 97.72 97.83
2 7.35 7.35 7.37
9.55
9.55 9.57 0.04 0.04 0.04 97.66 97.77 97.83
3 7.38 7.39 7.39
9.58
9.59 9.59 0.03 0.04 0.04 97.66 97.81 97.79
x 7.36 7.37 7.38 9.56 9.57 9.58 0.04 0.04 0.04 97.65 97.77 97.82
125 1 7.38 7.38 7.38
9.58 9.58
9.58 0.01 0.01 0.01 57.68 57.72 57.72
2 7.35 7.36 7.33
9.55
9.56 9.53 0.01 0.01 0.01 57.72 57.73 57.80
3 7.38 7.38 7.39
9.58
9.58 9.59 0.01 0.01 0.01 57.80 57.71 57.66
x 7.37 7.37 7.37 9.57 9.57 9.57 0.01 0.01 0.01 57.73 57.72 57.73
100 1 7.38 7.38 7.38
9.58 9.58 9.58
0.00 0.00 0.00 15.42 15.40 15.40
2 7.35 7.36 7.36
9.55 9.56 9.56
0.00 0.00 0.00 15.42 15.42 15.40
3 7.38 7.37 7.38
9.58 9.58 9.59
0.00 0.00 0.00 15.40 15.40 15.40
x 7.37 7.37 7.37 9.57 9.57 9.58 0.00 0.00 0.00 15.41 15.41 15.40
13 1 7.38 7.38 7.38
9.58 9.58 9.58
0.00 0.00
0.00
12.80 12.78 12.80
2 7.35 7.34 7.32
9.55 9.55 9.53
0.00 0.00
0.00
12.84 12.80 12.80
3 7.38 7.38 7.39
9.58 9.58
9.59 0.00
0.00
0.00 12.80 12.80 12.80
x 7.37 7.37 7.36 9.57 9.57 9.57 0.00 0.00 0.00 12.81 12.79 12.80

xciii


Lampiran 16. Hasil Analisis One Way Anava dan Kruskal Wallis Untuk Data
Pada Tahapan Karakterisasi Limbah Dengan Mengunakan
Software SPSS 16.00

(1) Hasil Analisis One Way Anava Data pH


Sum of Squares Df
Mean
Square F Sig.
Between
Groups
0.003 7 0.000 1.659 0.190
Within Groups 0.004 16 0.000

Total 0.007 23



(2) Hasil Analisis One Way Anava Konduktivitas


Sum of Squares Df
Mean
Square F Sig.
Between
Groups
0.348 7 0.050 9.399 0.000
Within Groups 0.085 16 0.005

Total 0.432 23



(3) Hasil Analisis Kruskal Wallis Nilai Silika


Silika
Chi-
Square
22.067
Df 7
Asymp.
Sig.
0.002


(4) Hasil Analisis Kruskal Wallis TSS


TSS
xciv

Chi-
Square
21.943
Df 7
Asymp.
Sig.
0.003


Lampiran 17. Hasil Analisis Two way Anava Untuk Data Pada Tahapan Filtrasi
Dengan Mengunakan Software SPSS 16.00

(1) Hasil Analisis Two Way Anava Data pH Terhadap Ukuran Saringan Dan
Variasi Suhu

Source
Type III
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
Corrected
Model
0.001
a
17 5.980E-5 .136 1.000
Intercept 2932.670 1 2932.670 6653958.088 0.000
saringan 0.000 5 2.111E-5 0.048 0.999
suhu 0.000 2 6.667E-5 0.151 0.860
saringan * suhu 0.001 10 7.778E-5 0.176 0.997
Error 0.016 36 0.000

Total 2932.687 54

Corrected Total 0.017 53


(2) Hasil Analisis Two Way Anava Data Konduktivitas Terhadap Ukuran
Saringan Dan Variasi Suhu

Source
Type III
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
Corrected
Model
0.001
a
17 5.196E-5 0.128 1.000
Intercept 4946.159 1 4946.159 1.220E7 0.000
saringan 0.000 5 2.111E-5 0.052 0.998
suhu 0.000 2 7.222E-5 0.178 0.838
saringan * suhu 0.001 10 6.333E-5 0.156 0.998
xcv

Error 0.015 36 0.000



Total 4946.174 54

Corrected Total 0.015 53








(3) Hasil Analisis Kruskal Wallis Data Nilai silika Terhadap Ukuran Saringan
Dan Variasi Suhu


Source
Type III
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
Corrected Model 0.108
a
17 0.006 51.282 0.000
Intercept 0.089 1 0.089 715.683 0.000
suhu 0.000 2 7.921E-5 .637 0.535
VAR00008 0.104 5 0.021 166.907 0.000
suhu *
VAR00008
0.001 10 0.000 .852 0.584
Error 0.004 36 0.000

Total 0.199 54

Corrected Total 0.113 53



(4) Hasil Analisis Kruskal Wallis Data TSS Terhadap Ukuran Saringan Dan
Variasi Suhu

Source
Type III
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
Corrected Model 180404.785
a
17 10612.046 85.353 0.000
Intercept 339735.995 1 339735.995 2732.495 0.000
suhu 186.502 2 93.251 0.750 0.480
VAR00008 175736.715 5 35147.343 282.690 0.000
xcvi

suhu *
VAR00008
765.054 10 76.505 0.615 0.791
Error 4475.944 36 124.332

Total 520385.942 54

Corrected Total 184880.729 53