Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh Segala puji dan rasa syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat

Allah SWT. Yang senantiasa mencurahkan rahmatnya kepada kita semua. Shalawat dan salam juga senantiasa kiranya penulis limpahkan kepada nabi Muhammad SAW. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen yang bersangkutan yang telah memberikan kesempatan waktu untuk penyelesaian makalah ini dan dengan limpahan rahmat dan karunia Allah sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Upaya Pelestarian Ikan Paus . Penulis meyakini bahwa di dalam penulisan makalah ini tentu masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan maupun penguasaan materi. kami sangat mengharapkan kepada seluruh pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kemajuan dalam berfikir untuk penulis agar makalah ini dapat dibuat dengan yang lebih sempurna lagi. Akhirnya kepada Allah juga lah penulis minta ampun, semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan sedikit ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan kita yang sudah ada sebelumnya. Amin.

Pandeglang, Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................ DAFTAR ISI.......................................................................................

i ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................. B. Tujuan ................................................................................ C. Manfaat .............................................................................. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Konservasi ....................................................... B. Habitat, Persebaran, Populasi, dan Konservasi Paus Biru . C. Laut Sawu Sebagai Tempat Pelestarian Paus .................... BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................ 14 3 7 9 1 2 2

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................

15

ii

MAKALAH UPAYA PELESTARIAN IKAN PAUS


Diajukukan untuk memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Bahasa

Disusun Oleh : Nama : Dina Rosdiana NIM : D.08.13.0019 Kelas : I A

PROGRAM STUDI DIKSATRASIADA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MATHLAUL ANWAR


BANTEN 2013
iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Di Lamalera, Kabupaten Lembata juga menjadikan ikan paus sebagai obyek wisata yang menarik. Bedanya, di Amerika turis menikmati kelihaian ikan paus melompat di perairan, di Lamalera para turis menonton nelayan memburu ikan paus yang diikuti dengan ritual adat yang kental. Setiap musim perburuan ikan paus, banyak wisatawan dari berbagai negara turun ke Lamalera untuk menyaksikan kelihaian para nelayan memburu ikan paus hingga ke perairan yang paling dalam. Bahkan, saat memburu ikan paus sering nelayan menjadi korban jika yang diburu lebih kuat dari armada dan peralatan yang dimiliki nelayan. Dilaporkan sudah 475 ekor paus yang ditangkap nelayan Lamalera, sementara proses reproduksi ikan paus berlangsung lambat sampai ikan paus berusia dewasa 20 tahun. Hal ini sangat berpengaruh terhadap menurunnya populasi sehingga nelayan Lamalara mulai kesulitan mendapatkan ikan paus. Menurunnya populasi ini jangan dipandang sebelah mata. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata perlu memikirkan dan mencari jalan keluar agar ikan paus yang sudah dikenal dunia, itu tidak punah. Perburuan ikan paus oleh masyarakat Lamalera yang diperkirakan dimulai tahun 1600-an, tanpa ada pelestarian sehingga berdampak pada menurunnya populasi. Nelayan yang memburu ikan paus di musim lefa (MeiAgustus) dan musim baleo (September-April) mempengaruhi populasi ikan paus. Sebab, proses reproduksi ikan paus yang berlangsung lambat menunggu sampai ikan paus berusia dewasa 20 tahun dan bisa melahirkan bayi, tak sebanding dengan populasi ikan paus yang mati diburu.

B. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah tentang Upaya Pelestarian Paus Biru (Balaenoptera musculus) , yaitu : 1) Untuk mengetahui seberapa penting kajian mengenai upaya pelestarian Paus Biru (Balaenoptera musculus) 2) Untuk memberikan informasi tentang penanggulangan permasalahan mengenai keberadaan Paus Biru (Balaenoptera musculus) yang terancam punah di Lamahera 3) Menggalakan upaya pelestarian Paus Biru (Balaenoptera musculus) yang berbasis lingkungan berkelanjutan agar keberadaannya tetap lestari.

C. Manfaat Manfaat dari pembuatan makalah tentang Upaya Pelestarian Paus Biru (Balaenoptera musculus) yaitu : 1) Agar mahasiswa dapat mengetahui seberapa penting upaya pelestarian hewan-hewan di Indonesia yang terancam punah, khususnya species Paus Biru (Balaenoptera musculus) yang dilindungi undang-undang 2) Dengan adanya makalah ini diharapkan akan menciptakan mahasiswa yang berwawasan dan peduli terhadap lingkungan terutama keberadaan species-species yang terancam punah di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Konservasi Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut : 1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary). 2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982). 3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).

4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980). Maka dapat dikatakan konservasi adalah tindakan yang menurunkan kadar, menghentikan, mengendalikan, pemeliharaan atau melindungai lingkungan dari segala tindakan yang diakibatkan oleh manusia. Konservasi menitikberatkan terhadap perlindungan lingkungan yang berasal dari kerusakan yang terjadi. Konservasi bukan suatu tindakan penyelamatan dari bahaya, konservasi bersifat memperbaharui atau memberikan perbaikan erhadap lingkungan pada situasi kondisi yang aktid dan dinamis. Di dalam kamus besar bahasa Indonesia. Konservasi dapat didefinisikan sebagai pelestarian, usaha konservasi hutan dan tanah terus menerus dilakukan untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup Pemeliharaan dan perlindungan sesuatu untuk mencegah kemusnahan, kerusakan dan sebagainya dengan cara pengawetan. Keadaan sedikit berubah ketika pengertian konservasi telah mengarah kepada arah perlindungan lingkungan atau pengaturan lingkungan yang digunakan pada masa kini konservasi semakin diakui dan konservasi berarti banyak hal yang berarti (i) Konservasi yang diartikan sebagai perlindungan (ii) Konservasi yang diartikan sebagai Penyelamatan terhadap lingkungan (iii) Konservasi yang diartikan sebagai Pembaharuan (iv) Konservasi yang diartikan sebagai Pengaturan terhadap lingkungan. Hukum lingkungan Internasional secara garis besar mengatur mengenai perlindungan lingkungan hidup dan usaha-usaha yang dapat dilakukan guna tercapainya suatu kelestarian sumber daya alam yang erat kaitannya dengan konservasi dan peningkatan kualitas hidup manusia. Konservasi menurut hukum lingkungan internasional memiliki dua pengertian : 1. Untuk menjaga tetap aman atau dari bahaya, perusakan atau penghilangan agar tetap ada, untuk menjaga kelangsungan hidup. 2. Untuk menjaga keberadaannya dari penghancuran atau perubahan.

Konservasi sendiri bertujuan untuk melindungi lingkungan sebagai suatu keseluruhan. Lingkungan bukan hanya flora dan fauna saja, namun lingkungan tempat makhluk hidup tersebut berada. Konservasi sumber daya hayati memiliki keistimewaan dalam hal sumber daya tersebut merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui yang apabila tidak dilestarikan akan mengalami kepunahan. Konservasi lingkungan hidup terkait dengan eksploitasi lingkungan dan sumber daya alam, dimana eksploitasi yang boleh dilakukan adalah sepanjang eksploitasi tersebut dilakukan secara rasional, beralasana, objektif dan berdasarkan kaidah ilmiah. Selain itu dalam melakukan perlindungan pada makhluk hidup, makhluk hidup tersebut harus diperlakukan sebagai suatu unit biologis. Dalam pelaksanaan suatu konservasi, institusi internasional memiliki fungsi antara lain: 1. Mengatur yurisdiksi terhadap sumber daya tersebut 2. Melakukan penelitian hukum 3. Evaluasi dan koordinasi 4. Mengatur mekanisme pelaksanaan hukum internasional dan mengatur penyelesaian sengketa 5. Mengadakan suatu diskusi ilmiah Konservasi sangat penting dilakukan terutama apabila dilakukan terhadap hewan langka. Kelangkaan ini dapat membahayakan bukan hanya species dan habitatnya tapi juga dapat menggangu ekosistem. Sehingga tidak jarang konservasi membutuhkan kesepakatan bilateral, regional maupun global dalam melaksanakan praktek konservasi. Permasalah yang paling utama dalam hal konservasi adalah eksploitasi berlebihan, selainnya perdagangan ilegal, penangkangan hewan yang sedang bermigrasi dan kurangnya perlindungan terhdap species yang menjadi warisan alam dunia. Pada pelaksanaannya, setiap negara memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam melakukan pelestarian keanekaragaman hayati dan negara mampu membangun strategi nasional untuk konservasi. Selanjutnya, negara juga dapat melakukan penetapan kawasan lindung serta memperbaiki ekosistem yang rusak. Sehingga negara juga bertanggung jawab dalam

melakukan peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat mengenai konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Dalam melakukan konservasi secara efektif terutama pada fauna yang hidup di laut adalah menetapkan jumlah tangkapan, jens serta ukuran ikan (ketentuan dalam UNCLOS 1982 Bab XII 1, pasal 192 237). Konservasi juga berjalan efektif apabila dilakukan penebaran ikan baru, budidaya ikan dan perlingdungan. Selain itu perlu juga diperhatikan alat tangkapnya. Selain negara, elemen masyarakat juga perlu melakukan langkah konservasi misalnya oleh (LSM WWF September 1961), yang akan melahirkan kebijakan baru. Konservasi juga penting untuk menyelematkan generasi mendatang sehinga perlu dilakukan secara terkoordinir dan terorganisir. Pengaturan perlindungan fauna terutama dalam hal pengurangan kehilangan keanekaragaman hayati diatur dalam Convention on Biological Diversity (CBD) dan Johannesburg Declaration on Sustainable Development (secara global mengatur mengenai perlindungan terhadap keanekaragaman hayati, terutama perikanan dan pembentukan jaringan perlindungan kawasan laut. CBD merupakan suatu perjanjian multilateral yang mengikat para pihak untuk menyelesaikan permasalahan global, khususnya tentang keanekaragaman hayati, akibat laju kerusakan hayati yang cepat serta untuk melindungi kebutuhan masyarakat internasional untuk mengupayakan perlindungan bagi kelangsungan hidup alam dan umat manusia. Dalam CBD ada prinsip, negar berdaulat dalam memanfaatkan sumber daya hayati sesuai dengan kebijakan pembangunan lingkungan sendiri dan bertanggung jawab dalam menjamin kegiatannya tidak menimblkan kerusakan terhadap lingkungan negara lain Rio 15. Tujuan CBD adalah untuk melakukan konservasi keanekaragaman hayati yakni segala macam makhluk hidup, ekosistem, tempat makhluk hidup tersebut tinggal. Secara khusus CBD memberikan pengaturan dalam rangak pelaksanaan perlindungan fauna kawasan lindung, dan memberikan

penekanan dalam pembentukan suatu peraturan nasional mengenai praktek masyarakat adat dan konservasi. CBD juga mengatur kewajiban para peserta konvensi dalam hal bekerja sama, secara langsung maupun tidka langsung melalui org. internasional yang terpercaya dan menghormati yurisdiksi nasional untuk melakukan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan dari keanekaragaman hayati. Konservasi juga dapat dilakukan melalui pertukaran informasi, penelitian teknis, pelatihan, survei.

B. Habitat, Persebaran, Populasi, dan Konservasi Paus Biru Paus Biru (Balaenoptera musculus) dipercaya sebagai hewan terbesar yang pernah ada di dunia. Dengan ukurannya paus biru bukan sekedar menjadi hewan mamalia terbesar di laut, paus biru juga mengalahkah ukuran besar binatang-binatang darat lainnya. Panjang tubuh paus biru mencapai 33 meter. Paus biru dalam bahasa Inggris sering disebut sebagai Blue Whale, Pygmy Blue Whale, Sibbalds Rorqual, Sulphur-bottom Whale. Sedangkan dalam bahasa latin, paus biru dinamai Balaenoptera musculus. Linnaeus memberi nama paus biru dengan nama genus yang berasal dari kata Latin balaena yang berarti paus dan kata Yunani pteron yang berarti sirip atau sayap. Nama spesiesnya, musculus, adalah kependekan kata Latin mus yang berarti tikus. Kata musculus bisa bisa juga diartikan sebagai otot. Ciri-ciri dan Perilaku Paus Biru. Paus biru (Balaenoptera musculus) mempunyai tubuh panjang dan lonjong dengan panjang tubuh mencapai 33 meter dan berat (massa) mencapai 181 ton atau lebih. Dengan ukurannya ini paus biru dipercaya sebagai hewan terbesar yang pernah ada di dunia.

Paus biru, hewan terbesar di bumi Warna punggung paus biru didominasi oleh warna biru kehijauan atau abu-abu dengan pembatas putih tipis. Sedangkan di bagian perut mempunyai warna yang lebih terang. Ujung kepala dan ekor umumnya berwarna abu-abu. Paus biru memiliki kepala pipih berbentuk U. Di bagian atas kepala terdapat lubang untuk mengisap oksigen dan membuang karbondioksida. Ketika bernafas, paus mengeluarkan sebuah semburan kolom vertikal yang menakjubkan (seperti air mancur) dengan ketinggian mencapai 12 meter. Paru-paru paus biru dapat menampung udara hingga 5000 liter. Ikan paus mempunyai indera peraba dan pendengaran yang tajam. Ia mengetahui arah di dalam air dengan mengikuti gema suara yang dibuatnya. Selain sebagai alat navigasi, suara yang dihasilkan dipercaya juga sebagai bentuk komunikasi antar sesama dan untuk mendeteksi mangsa. Paus biru (Balaenoptera musculus) merupakan hewan mammalia. Hewan terbesar di dunia ini pun menyusui anaknya layaknya mammalia lainnya. Bedanya, air susu ikan paus biru agak berbeda dari yang kita kenal. Bentuknya agak padat dan sangat berlemak. Induk paus memiliki otot khusus di sekitar kelenjar susu. Ketika ikan paus menggerakkan otot ini, tekanan yang dihasilkan membuat induk tersebut mampu menyemprotkan air susu langsung ke dalam mulut bayinya. Yang unik lagi, ternyata makanan hewan raksasa dengan ukuran terbesar di dunia ini tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya. Paus biru (Balaenoptera musculus) ternyata mempunyai makanan utama krill. Krill

merupakan sejenis udang kecil dengan ukuran sekitar 8-60 mm. Unik, hewan sebesar 33 meter mempunyai makanan hewan seukuran 8 milimeter, meskipun dalam seharinya, paus biru memakan hingga 40 juta ekor krill atau sekitar 3,6 ton krill. Habitat, Persebaran, Populasi, dan Konservasi Paus Biru. Paus biru merupakan mammalia laut yang dapat ditemukan hampir di seluruh belahan bumi termasuk di perairan Indonesia. Hingga awal abad ke-20, paus biru (Balaenoptera musculus) dapat ditemukan dalam jumlah yang melimpah di seluruh dunia dengan kisaran populasi antara 200.000-300.000 ekor. Namun kini menurut perkiraan IUCN Redlist populasi hewan terbesar ini diperkirakan hanya tersisa antara 11.000 dan 25.000 ekor saja. Menurunnya populasi paus biru diakibatkan oleh perburuan yang dilakukan sejak akhir 1800-an. Perubahan temperatur laut diperkirakan juga mempengaruhi populasi krill yang menjadi makanan utama paus biru. Hal ini memberikan pengaruh pada jumlah populasi paus biru. Lantaran populasinya yang semakin menurun, IUCN Redlist memasukkan paus biru (Balaenoptera musculus) dalam status konservasi endangered (Terancam Punah) sejak 1996. CITES juga telah memasukkan paus biru ke dalam daftar Apendiks I. Sedangkan di Indonesia, paus biru termasuk dalam hewan yang dilindungi dan tercantum dalam PP No. 7 Tahun 1999.

C. Laut Sawu Sebagai Tempat Pelestarian Paus Laut Sawu yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal sebagai habitat ikan paus terkaya. Namun di balik itu semua, perburuan paus terus terjadi. Kalau tidak terkontrol, bisa jadi, kawasan tersebut sepi ikan paut. Salah satu upaya menyelamatkan populasi ikan paus adalah dengan menjadikan laut tersebut sebagai kawasan konservasi nasional. Deklarasi Laut Sawu sebagai kawasan konservasi nasional akan dilakukan saat digelarnya World Ocean Confrence and Coral Triangle

Initiative Summit di Manado, Sulawesi Utara. laut seluas 4,5 juta hektare tersebut akan menjadi satu-satunya kawasan konservasi nasional yang khusus melindungi ikan paus," Sawu dipilih menjadi kawasan konservasi nasional karena laut antara Provinsi NTT dan Australia tersebut merupakan tempat habitat terbesar ikan paus. Laut Sawu merupakan jalur migrasi 14 jenis ikan paus, termasuk jenis langka, yakni ikan paus biru (Balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (Physeter macrocephalus). Masyarakat setempat menjadikan ikan paus tersebut sebagai satwa buru. Hal ini perlu diwaspadai karena jika perburuan ini tidak terkontrol bisa jadi ikan paus dari jenis langka itu bisa punah. 1. Sejak Abad Ke-17 Tidak mudah memang bagi masyarakat Lamalera yang tinggal di sekitar Laut Sawu. Bukan apa-apa, mereka sudah terbiasa memburu ikan paus itu sejak tahun 1600-an. Dulu, paus-paus yang berhasil diburu diumumkan di gereja, tetapi kebiasaan tersebut kini tak dilakukan lagi. Kegiatan tersebut dalam istilah setempat dikenal dengan Nuang Leva yang dalam bahasa daerah Lamaholot berarti musim melaut. Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, NTT, sejak tahun 1957 perburuan itu telah membunuh sekitar 475 paus. Maklum, setiap tahun mereka berhasil membunuh antara 20 - 50 paus. Hasil pembantaian paus terbanyak dalam tempo 22 tahun terjadi pada 1969, yakni 56 paus. Lalu pada 2007 dibunuh 48 paus. Perburuan agak mengendor pada 1983, yakni hanya dua paus. Namun selama dua tahun (2004-2005), perburuan tersebut tak terekam jumlah perolehannya. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh para penggiat konservasi di Indonesia. Bukan apa-apa, proses reproduksi paus berlangsung lambat dan menunggu sampai paus berusia dewasa 20 tahun dan bisa melahirkan bayi. Hal ini tentunya tak sebanding dengan populasi paus yang mati diburu. Dalam pengertian biologis, paus tidak dikategorikan sebagai ikan tetapi

10

mamalia (menyusui) yang tergolong dalam ordo Cetacean. Ia bernafas dengan paru-paru, memiliki sirip dada sebagai alat keseimbangan pada saat berenang, dan sirip ekor sebagai alat berenang. Setelah menyelam selama sekitar 90 menit pada kedalaman 1.000 meter, paus akan kembali permukaan air laut untuk menarik nafas. Nafas hangat dihembuskan paus sehingga tampak seperti air mancur. Paus-paus berimigrasi dan melewati perairan Lamalera setiap musim. Menurut penelitian, terdapat 24 jenis paus di Perairan Indonesia. Lima jenis di antarnya digolongkan paus tidak bergigi (mysticati) dan selebihnya jenis bergigi (odontoceti). Jenis paus lodan atau koteklema (Physeter catodon) merupakan paus bergigi yang banyak dijumpai di Laut Flores, Sawu, dan Banda. Daerah penyebaran paus meliputi Samudra Hindia, Samudra Pasifik, sampai perairan Kutub Utara (Benua Antartika). Perkiraan jalur migrasi koteklema (sperm whale) dari Samudra Pasifik melewati Laut Banda, Laut Flores masuk Laut Sawu melalui perairan Pulau Alor dan ke Samudra Hindia di Selatan Sumba atau sebaliknya. Rute ini merupakan jalur tetap dan vital. Selain arusnya bagus, juga pada saat tertentu terdapat banyak makanan berupa cumi-cumi yang hidup di kawasan laut dalam. Migrasi ini juga bertujuan mencari perairan yang hangat bagi paus untuk melahirkan. Paus yang baru dilahirkan akan selalu dekat dengan induknya untuk berlindung, meski harus bermigrasi ribuan mil jauhnya. Sementara itu, paus biru (blue whale) tumbuh cepat. Saat lahir beratnya tiga ton dan akan mencapai 32 ton setelah tujuh bulan. Setiap induk paus hanya melahirkan seekor bayi paus. Ia membutuhkan makanan dan susu untuk bayinya. Karena itu paus akan migrasi setiap musim mencari perairan yang kaya makanan. Dan Laut Sawu merupakan salah satu jalur migrasi paus dalam mencari makanan.

11

2. Datangkan Wisman Kampung kecil Lamalera yang terletak di pinggiran selatan Pulau Lembata sejak lama sudah menjadi sorotan wisatawan dunia. Maklum, di kampung kecil inilah para pemburu ikan paus itu berasal.

Mereka menggunakan sampan bercadik bernama paledang. Para nelayan mendekatkan paledang dengan ikan buruan. Lalu ikan raksasa tersebut ditombaki dengan tempuling (tombak) berpengait. Caranya sedikit nekat, seorang nelayan melompat dari paledangnya. Tidak jarang mereka terseret hingga laut lepas, bila mangsa buruan itu buas dan tidak cepat mati. Perburuan paus di Lamalera ini terjadi antara Mei-Oktober. Selama musim ini, kampung tersebut menebarkan bau amis dari jemuran dendeng daging Kotaklema. Hampir di setiap rumah penduduk dilengkapi pancuran dadakan, khusus yang mengalirkan tetesan minyak dari potongan lemak dendeng yang dijemur. Sebagian tampungan minyak paus ini dipakai sebagai bahan bakar penerangan pelita di waktu malam. Selama sepekan nelayan biasanya mampu menangkap 2-3 paus. Ada orang khusus yang ditugaskan untuk memantau pergerakan paus di laut. Ia duduk di ketinggian bukit sambil memandang ke laut. Kalau ada pergerakan paus, ia berteriak memanggil nelayan, pemilik perahu. Warga sekitar lalu mengejar dan menangkap. Inilah atraksi yang banyak mendapat sorotan wisatawan dunia. Setiap musim berburu tiba, pantai-pantai di Kampung Lamalera tak sepi dari turis-turis asing. Maklum Lamalera juga dekat dengan Pulau Komodo yang selama ini sudah menjadi surga bawah laut bagi penyelam dunia. Selama 2008, jumlah kunjungan wisman di beberapa kabupaten. Di antaranya Kota Kupang sebanyak 2,600 orang, TTS (189), Belu (202), Rote Ndao (580), Ende (2.276), Ngada (7.725), dan Sumba Barat (540). Sedangkan pintu masuk lainnya, seperti Manggarai Barat dan daerah lainnya belum

12

memasukkan data. Wisman terbanyak biasanya berasal dari Australia, Belanda, Jerman, dan Jepang. Selama kurun waktu 2007-2008 lalu, banyak nelayan yang mengaku semakin kesulitan memburu paus. Penyebabnya, mamalia laut tersebut semakin sulit ditemukan. Inilah gambaran jika paus di perairan tersebut semakin punah, kata Agus. Karena alasan itulah lalu pemerintah akan menetapkan Laut Sawu sebagai kawasan konservasi. Dengan pembentukan zonasi dan tata ruang laut, diharapkan kegiatan perburuan paus ini menjadi lebih terkontrol, ujarnya. Ke depan, penataan tata ruang ini menghasilkan mata pencaharian laternatif bagi masyarakat setempat. Penetapan zonasi ini, lanjut Agus, akan membagi perairan-perairan mana saja yang boleh dijadikan zona konservasi dan zona pemanfaatan. Jadi kegiatan berburu bisa dilakukan di luar zona konservasi dan cara yang lebih terkontrol lagi, Sementara itu, organisasi lingkungan hidup dunia, World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia sudah mencatat beberapa langkah konkret untuk bekerja bersama pemerintah lokal dan regional dalam rangka mendorong pembangunan kawasan perlindungan laut dan pembangunan sosial ekonomi. Pada waktu yang bersamaan, WWF bekerja bersama masyarakat lokal juga untuk mengawasi perburuan paus. Organisasi ini juga sudah memfasilitasi tiga kabupaten di NTT untuk mewujudkan pembentukan Kawasan Konservasi Laut (KKL) di Perairan Solor, Lembata dan Alor. Di antaranya diawali dengan lokakarya guna menyamakan persepsi, yang berlangsung di Lewoleba Kabupaten Lembata, sejak April 2008 lalu.

13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Konservasi sendiri bertujuan untuk melindungi lingkungan sebagai suatu keseluruhan. Lingkungan bukan hanya flora dan fauna saja, namun lingkungan tempat makhluk hidup tersebut berada. Konservasi sumber daya hayati memiliki keistimewaan dalam hal sumber daya tersebut merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui yang apabila tidak dilestarikan akan mengalami kepunahan. Lantaran populasinya yang semakin menurun, IUCN Redlist memasukkan paus biru (Balaenoptera musculus) dalam status konservasi endangered (Terancam Punah) sejak 1996. CITES juga telah memasukkan paus biru ke dalam daftar Apendiks I. Sedangkan di Indonesia, paus biru termasuk dalam hewan yang dilindungi dan tercantum dalam PP No. 7 Tahun 1999. Deklarasi Laut Sawu sebagai kawasan konservasi nasional akan dilakukan saat digelarnya World Ocean Confrence and Coral Triangle Initiative Summit di Manado, Sulawesi Utara. laut seluas 4,5 juta hektare tersebut akan menjadi satu-satunya kawasan konservasi nasional yang khusus melindungi ikan paus

14

DAFTAR PUSTAKA

Baedhowi. 2001. Studi Kasus dalam Teori dan Paradigma Penelitian Sosial oleh Salim, Agus (ed.). Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. Berkes, F. et. al. 2001. Managing Small-scale Fisheries: Alternative Directions and Methods.Ottawa: International Development Research Centre. Damanik, Riza, Budiarti Prasetiamartati, dan Arif Satria. 2006. Menuju Konservasi yang Pro Rakyat dan Pro Lingkungan. Jakarta: WALHI. Dermawan, Agus. 2007. Kajian Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut yang Menunjang Perkanan Berkelanjutan pada Era Otonomi Daerah (Kasus Taman Nasional Bunaken dan Daerah Perlindungan Laut Blongko, Sulawesi Utara). Tesis. Program Pasca Sarjana IPB. Fisher, S. et. al. 2001. Mengelola Konflik: Kemampuan dan Strategi untuk Bertindak. S. N. Kartikasari dkk., Penerjemah. Jakarta: The British Council.

15