Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Istilah korupsi di Indonesia pada mulanya hanya terkandung dalam khazanah perbincangan umum untuk menunjukkan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukuan pejabat-pejabat negara. Namun karena penyakit tersebut sudah mewabah dan terus meningkat dari tahun ke tahun bak jamur di musim hujan , maka banyak orang memandang bahwa masalah ini bisa merongrong kelancaran tugas-tugas pemerintah dan merugikan ekonoimi negara. Persoalan korupsi di Negara Indonesia terbilang kronis, bukan hanya membudaya tetapi sudah membudidaya . Pengalaman pemberantasan korupsi di

Indonesia menunjukkan bahwa kegagalan demi kegagalan lebih sering terjadi terutama terhadap pengadilan koruptor kelas kakap dibanding koruptor kelas teri. Beragam lembaga, produk hukum, reformasi birokrasi, dan sinkronisasi telah dilakukan, akan tetapi hal itu belum juga dapat menggeser kasta pemberantasan korupsi. Seandainya saja kita sadar, pemberantasan korupsi meski sudah ada pada tahun keenam perayaan hari antikorupsi ternyata masih jalan ditempat dan berkutat pada tingkat kuantitas. Keberadaan lembaga-lembaga yang mengurus korupsi belum memiliki dampak yang menakutkan bagi para koruptor, dbahkan hal tersebut turut disempurnakan dengan pemihakan-pemihakan yang tidak jelas. Dalam masyarakat yang tingkat korupsinya seperti Indonesia, hukuman yang setengah-setengah sudah tidak mempan lagi. Mulainya dari mana juga merupakan masalah besar, karena boleh dikatakan semuanya sudah terjangkit penyakit birokrasi. Oleh karena itu, makalah ini mencoba memaparkan korupsi dan antikorupsi. B. Rumusan Masalah 1. Apakah definisi korupsi? 2. Apa saja faktor-faktor penyebab korupsi? 3. Apa saja bentuk-bentuk tindakan yang di anggap sebagai perbuatan korupsi? 4. Apa saja landasan hukum korupsi? 5. Apa badan yang megatasi masalah korupsi?
Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011 1

C. Tujuan 1. Mengetahui definisi korupsi 2. Mengetahui faktor-faktor penyebab korupsi 3. Mengetahui bentuk-bentuk tindakan yang di anggap sebagai perbuatan korupsi 4. Mengetahui landasan hukum korupsi 5. Mengetahui badan yang mengatasi masalah korupsi

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Korupsi Secara sederhana korupsi didefinisikan sebagai menyalahgunakan kekuasaan kepercayaan untuk keuntungan pribadi.1Menurut pemakaian umum istilah korupsi pejabat, kita menyebut korup apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang swasta dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi. Dalam bahasa latin, corruption bermakna busuk, rusak, mengggoyahkan, memutar balik, menyogok. Beberapa pengertian menurut para ahli sebagai berikut: Kartini kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagai tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. UU No.20 Tahun 2001, korupsi merupakan tindak pidana sebagaimana diamaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tindak pidana korupsi. Korupsi lebih ditekankan pada perbuatan yang merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas untuk keuntungan pribadi atau golongan. Centre for international crime prevention merumuskan kejahatan korupsi sebagai tindakan pemberian atau penerimaan suap,

penggelapan, pemalsuan, pemerasan, penyalahgunaan jabatan atau wewenang,pertentangan kepentingan, memiliki usaha sendiri, tebang pilih, menerima komisi, nepotisme, atau sumbangan tidak sah. B) Faktor Penyebab Korupsi Menurut buku sosiologi korupsi, faktor penyebab korupsi sebagai berikut: a. Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan b. Kelemahan pengajaran agama dan etika
1

Pope,Jeremy.2003.Strategi Memberantas Korupsi Elemen Sistem Intregitas Nasional .Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

c. Kolonialisme d. Kurangnya pendidikan e. Kemiskinan f. Tiadanya tindak hukuman yang keras g. Kelangkaan lingkungan antikorupsi h. Struktur pemerintahan i. Perubahan radikal j. Keadaan masyarakat Singh (1974) menemukan dalam penelitiannya bahwa penyebab korupsi di India adalah kelemahan moral,tekanan ekonomi, hambatan struktur administrasi, hambatan struktur sosial. Merican (1971) menyatakan sebab-sebab korupsi sebagai berikut: a. Peninggalan pemerintahan kolonial b. Kemiskinan dan ketidaksamaan c. Gaji yang rendah d. Persepsi yang poppuler e. Pengaturan yang tele f. Pengetahuan yang tidak cukup dari bidangnya. Ainan (1982) menyebutkan beberapa sebab terjadinya korupsi yaitu: a. Perumusan perundang-undangan yang kurang sempurna b. Administrasi yang lamban, mahal, dan tidak luwes. Pengertian korupsi Dalam Ensiklopedia Indonesia disebut korupsi (dari bahasa Latin:corruptio= penyuapan, corruptore= merusak) gejala dimana para pejabat , badan-badan negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan, serta ketidakberesan lainnya. C) Bentuk-Bentuk / Tindakan Yang Dianggap Sebagai Perbuatan Korupsi 1. Korupsi yang berkaitan dengan kerugian negara, diantaranya : a) Melawan hukum untuk memperkaya diri dan dapat merugikan keuangan negara b) Menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

2. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap, diantaranya: a) Menyuap pegawai negeri b) Memberi hadiah kepada pegawai negeri karena jabatannya. c) Pegawai negeri menerima suap 3. Korupsi yang berkaitan dengan penggelapan dalam jabatan 4. Korupsi yang berkaitan dengan perbuatan pemerasan 5. Korupsi yang berkaitan dengan perbuatan curang a) Pemborong berbuat curang b) Pengawas proyek membiarkan perbuatan curang c) Rekanan TNI / POLRI berbuat curang d) Pengawasan rekanan TNI / POLRI berbuat curang e) Penerimaan barang TNI / POLRI membiarkan perbuatan curang f) Pegawai negeri menyerobot tanah sehingga merugikan orang lain 6. Korupsi yang berkaitan dengan benturan kepentingan dalam pengadaan Pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan atau persewaan yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya. Sedangkan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi yaitu : 1. Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi 2. Tersangka tidak memberikan keterangan mengenai kekayaannya 3. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening 4. Saksi atau ahli yang tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu. 2

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24033/4/Chapter%20II.pdf

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

D) Landasan Hukum Korupsi Adapun Undang-Undang yang mengatur tentang korupsi antara lain: a. Undang-undang Nomor 24 PRP Tahun 1960 tentang pengusutan, penuntutan, dan pemeriksaan tindak pidana korupsi. b. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. c. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. d. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. e. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. f. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang komisi pemberantasan tindak pidana korupsi. Undang-undang No. 24 PRP tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi. Namun, dengan perkembangan masyarakat kurang mencukupi untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan, Undang-undang tersebut diganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat, karena itu diganti dengan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang baru sehingga diharapkan lebih efektif dalam mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi. Di samping itu, ada juga Tap. MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme(KKN) serta Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas muncul KKN. Dari Undang-Undang itu

lembaga Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN).

Kemudian dengan adanya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi3, maka pasal yang mengatur KPKPN, yaitu

Jaya, hermansyah.2008. Memeberantas Korupsi Bersama KPK (Komisi Pemberantas Korupsi ) Kajian Yuridis Normatif UU Nomor 31 Tahun 1999 Jonto UU Nomor 20 Tahun 2001 Versi UU Nomor 30 Tahun 2002. Jakarta : Sinar Grafika.
Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011 6

pasal 10 sampai pasal 19 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 yang dinyatakan tidak berlaku lagi. Begitu pula pasal 27 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tim Gabungan dinyatakan tidak berlaku dan beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. E) Upaya Penanggulangan Budaya Korupsi Adalah Sebagai Berikut: 1. Preventif Membangun dan mempublikasikan etos pejabat dan pegawai baikndi instansi pemerintah maupun swasta tentang pemisahan yang jelas dan tajam antara milik pribadi dan milik perusahaan atau milik negara. Mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji) bagi pejabat dan pegawai negeri sesuai denagn kemajuan ekonomi dan kemajuan swasta, agar pejabat dan pegawai saling menegakkan wibawa dan intregitas jabatannya dan tidak terbawa oleh godaan dan kesempatan yang diberikan oleh wewenangnya. Menumbuhkan kebanggaan kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan. Kebijakan pejabat dan pegawai bkanlah bahwa mereka kaya dan melimpah, akan tetapi mereka terhormat karena jasa pelayanannya kepada masyarakat dan negara. Bahwa teladan dan pelaku pimpinan dan atsan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan. Menumbuhkan pemahaman dan kebudayaan politik yang terbuka untuk kontrol, koreksi dan peringatan, sebab wewenangdan kekuasaan itu cenderung disalahgunakan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menumbuhkan sense of belongingness dikalangan pejabat dan pegawai, sehingga mereka merasa perusahaan tersebut adalah milik sendiri dan tidak perlu korupsi, dan selalu berusaha berbuat yang terbaik. 2. Represif Perlu penayangan wajah koruptor ditelevisi Herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan pejabat.

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

F) Badan Pemberantas Korupsi A. KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) Lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidan korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam memberatas tindak pidana korupsi. Tindak pidan korupsi di indonesia telah meluas dalam masyarakat. Meningktanya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja terhadap perekonomian masyarakat tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelaggaran hak sosial dan hak ekonom masyarakat. Oleh karena itu, tindak pidana korupsi tidak dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi kejahatan luar biasa. Begitu pula upaya dalam pemberantasanya tidk dapat dilkukan secar biasa, tetapi dituntut cara-cara luar biasa4. Berdasarkan ketentuan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantas Tindak Pidana Korupsi sebagaimna telah diubah dengan undang undang nomor 20 tahun 2001, badan khusus tersebut disebut Komisi Pemberatas Korupsi yang memiliki kewenangan melakukan koordinasi dan supervisi, termasuk melakukan penyelidikan, penyidikan, dan peuntutan. Adapun mengenai pembentukan, susunan organisasi, tata kerja dan pertanggung jawaban, tugas dan wewenang keanggotaanynya diatur denagn undang-undang. Kewenangan komisi pemberantas korupsi dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi meliputi tindak pidana korupsi yang : 1. Melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidan korupsi yag dilakukan oleh aparat penegak hukum dan penyelenggara hukum dan penegak hukum. 2. Mendapatkan perhatian yang meresahkan perhatian masyarkat 3. Menyangkut kerugian negara paling sedikit rp 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) ( Pasal 11 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002)5 Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Komisi Pemberantas Korupsi berasaskan pada :
4

Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.

Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

a.

Kepastian hukum adalah asa dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undagan, kepatutan dan keadilan, dalam setiap kebajikan menjalankan tugas dan wewenang komisi pemberantas korupsi.

b.

Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang kinerja Komisi Pemberantas Korupsi dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

c.

Akuntibilitas adalah asas yang mementukna bahwa setiap kegiatan dan hasilakhir kegiatan Komisi Pemberantas Korupsi haru dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesaui dengan peraturan perundag-undangan yang berlaku6.

d.

Kepentingan umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteranaan umum dengan cara aspiratif, akomodatif, dan selektif.

e.

Proposionslitas adalah asas yag mengutamakan keseimbagan antara tugas, wewenang, tanggung jawab, dan kewajiban Komisi Pemberantas Korupsi.

B. Tugas, wewewang, dan kewajiban komisi pemberantasan korupsi 1) Tugas komisi pemberntasan korupsi a. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidanan korupsi. b. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. c. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi d. Melakukan tindakan tindakan pencehgahan tindak korupsi e. Melakukan monior terhadap penyelenggraan pemerintahan negara (pasal 6 UU NO 30 Tahun 2002). 2) Wewenang Komisi Pemberantas Korupsi a. Mengkoordinasiakn penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi. b. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

c. Melaksanakan pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi d. Maminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait e. Meminta lapora instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi (pasal 7 undang-undang nomor 30ntahun 2002)7 3) Penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan Segala kewenangan yang berkaitan dengan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan yang diatur dalam Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana berlaku juga bagi penyelidik, penyidik dan penuntut umum pada Komisi Pemberantas Korupsi (pasal 38 ayat (1)).8 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana tidak berlaku bagi penyidik tindak pidana korupsi. Penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku dan berdasarkan hukum acar pidana yang berlaku dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi, penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, dilaksanakan berdasarkan perintah dan bertindaak untuk dan atas nama komisi pemberantasan korupsi. 1. Penyelidikan

Penyelidik adalah penyelidik pada komisi pemberantasan korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh komisi pemberantasan korupsi (Pasal 43 ayat (1) UndangUndang Nomor 30 Tahun 2002). Penyelidik melaksanakan fungsi penyelidikan tindak pidana korupsi. Jika dalam melakukan penyelidikan menemukan bukti permulaan yang cukup adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam waktu paling lambat tujuh hari kerja terhitung sejak tanggal ditemukan bukti permulaan yang cukup, penyelidik melaporkan pada komisi pemberantasan korupsi. Bukti
7

Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika. Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

10

permulaan yang cukup dinggap telah ada apabila telah ditemukan sekurangkurangnya dua alat bukti. Dalam hal penyelidik melakukan tugasnya tidak menemukan bukti permulaan yang cukup, penyelidik melaporkan pada komisi pemberantasan korupsi dan KPK menghentikan penyelidikan. Jika KPK berpendapat bahwa perkara tersebut diteruskan, KPK melaksanakan penyidikan sendiri atau dapat melimpahkan perkara tersebut kepada penyidik kepolisian atau kejaksaan 2. Penyidikan Penyidik adalah penyidik pada komisi pemberantasan korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh komisi pemberantasan korupsi (Pasal 43 ayat (1) UndangUndang Nomor 30 Tahun 2002)9. Penyidik melaksanakan fungsi penyelidikan tindak pidana korupsi. Atas dasar dugaan yang kuat adanya bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat melakukan penyitaan tanpa izin ketua pengadilan negeri berkaitan dengan tugas penyelidikannya. Penyidik wajib membuat berita acara penyitaan pada hari penyitaan yang memuat : a. Nama, jenis, dan jumlah barang atau benda berharga lain yang disita; b. Keterangan tempat, waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan penyitaan; c. Keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang atau benda berharga lain; d. Tanda tangan dan identitas penyidik yang melakuka penyitaan; e. Tanda tangan dan identitas dari pemilik atau orang yang menguasai barang tersebut. Salinan berita acara penyitaan disampaikan pada tersangka atau keluarganya. Apabila suatu tindak pidana korupsi terjadi dan KPK belum melakukan penyidikan, sedangkan perkara telah dilakukan penyidikan oleh kepolisian atau kejaksaan instansi tersebut wajib memberitahukan kepada KPK paling lambat 14 hari kerja terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan. Jika KPK sudah mulai melakukan penyidikan, maka kepolisian dan kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan.

Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

11

3.

Penuntutan Penuntut adalah penuntut umum pada KPK yang diangkat dan diberhentikan

oleh KPK. Penuntut adalah jaksa penuntut umum. Penuntut umum, setelah menerima berkas perkara dari penyidik, paling lambat 14 hari kerja wajib melimpahkan berkas perkara tersebut kepada pengadilan negeri10. C) Pemeriksaan di Sidang Pengadilan Perkara tindak pidana korupsi diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu 90 hari kerja sejak perkara dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi. Pemeriksaan perkara dilakukan oleh majelis hakim berjumlah 5 orang yang terdiri atas dua orang hakim pengadilan negeri dan 3 orang hakim ad hoc. Dalam hal putusan pengadilan tindak pidana korupsi dimohonkan banding ke pengadilan tnggi, perkarabtersebut diperiksa dan diputus dalam jangka waktu 60 hari kerja sejak berkas perkara diterima oleh pengadilan tinggi11. Dalam putusan pengadilan tinggi tindak pidana korupsi dimohonkan kasasi kepada Mahkamah Agung, perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam jangka waktu 90 hari hari kerja sejak tanggal berkas diserahkan ke Mahkamah Agung12. G) ANTI KORUPSI 1. Pengertian anti korupsi Anti korupsi artinya tidak setuju, tidak suka, dan tidak senang terhadap korupsi13. Anti korupsi secara mudahnya dapat diartikan tindakan yang tidak menyetujui terhadap berbagai upaya yang dilakukan setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,menyalahgunakan kewenangan,kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara atau keuangan Negara.

10

Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika. Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika. Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.

11

12

13

Wijayanto,dkk.2009. Korupsi mengorupsi Indonesia : sebab, akibat, dan prospek pemberantasan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

12

2. Prinsip prinsip anti akorupsi Prinsip-prinsip anti korupsi pada dasarnya merupakan langkah-langkah antisipatif yang dilakukan untuk memberantas laju pergerakan korupsi. Pada dasarnya prinsip-prinsip antikorupsi terkait dengan semua aspek kegiatan publik yang menuntut adanya integritas, objektivitas, kejujuran, keterbukaan, tanggung gugat, dan meletakkan kepentingan public di atas kepentingan individu. Dalam konteks korupsi ada beberapa prinsip yang harus ditegakkan untuk mencegah terjadinya korupsi, yaitu: a. Akuntabilitas Prinsip akuntabilitas merupakan pilar penting dalam rangka mencegah terjadinya korupsi14. Prinsip ini pada dasarnya dimaksudkan agar segenap kebijakan dan langkahlangkah yang dijalankan sebuah lembaga dapat dipertanggung jawabkan secara sempurna. Oleh karena itu prinsip akuntabilitas sebagai prinsip pencegahan tindak korupsi membutuhkan perangkat-perangkat pendukung, baik berupa perundang-undangan (de jure) maupun dalam bentuk komitmen dan dukungan masyarakat (de facto). Sebagai bentuk perwujudan prinsip akuntabilitas, undang-undang keuangan Negara juga menyebutkan adanya kewajiban ganti rugi yang diberlakukan atas mereka yang karena kelengahan atau kesengajaan telah merugikan Negara. Prinsip akuntabilitas pada sisi lain juga mengharuskan agar setiap penganggaran biaya dapat disusun sesuai target atau sasaran. b. Transparansi Transparansi merupakan prinsip yang mengharuskan semua proses

kebijakan dilakukan secara terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui oleh publik15. Transparansi menjadi pintu masuk, sekaligus kontrol bagi seluruh proses dinamika struktural kelembagaan seluruh sektor kehidupan publik mensyaratkan
14

Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
15

Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011 13

adanya transparansi, sehingga tidak terjadi distorsi dan penyelewengan yang merugikan masyarakat. Dalam bentuk yang paling sederhana, keterikatan interaksi antar dua individu atau lebih mengharuskan adanya keterbukaan. Keterbukaan dalam konteks ini merupakan bagian dari kejujuran untuk saling menjunjung kepercayaan (trust) yang terbina antar individu. Dalam konteks pemberantasan korupsi yang melibatkan kekuasaan dan keuangan, ada sektorsektor yang mengharuskan keterlibatan masyarakat agar tidak terjebak dalam lingkartan setan korupsi yang begitu akut dan menyengsarakan rakyat. Sektor-sektor yang harus melibatkan masyarakat adalah sebagai berikut: 1) proses penganggaran yang bersifat dari bawah ke atas (bottom up), mulai dari perencanaan, implementasi, laporan pertanggungjawaban dan penilaian (evaluasi) terhadap kinerja anggaran. 2) proses penyusunan kegiatan atau proyek pembangunan dan anggaran. Hal ini terkait pula dengan proses pembahasan tentang sumber-sumber pendanaan (anggaran pendapatan) dan alokasi anggaran (anggaran belanja) pada semua tingkatan. 3) proses pembahasan tentang pembuatan rancangan peraturan yang beraturan dengan strategi penggalangan dana pembangunan dalam penetapan retribusi, pajak serta aturan-aturan lain yang berkaitan dengan penganggaran pemerintah. 4) proses pembahasan tentang tata cara dan mekanisme pengelolaan proyek mulai dari pelaksanaan tender, pengerjaan teknis, pelaporan financial pertanggung jawaban secara teknis dari proyek yang dikerjakan oleh pimpinan proyek atau kontraktor. 5) proses evaluasi terhadap penyelenggaraan proyek yang dilakukan secara terbuka dan bukan hanya pertanggung jawaban secara administrative

c. Fairness Fairness merupakan salah satu prinsip anti korupsi yang mengedepankan kepatuhan atau kewajaran16. Prinsip fairness saesungguhnya lebih ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi dalam penganggaran proyek pembangunan, baik dalam bentuk mark up maupun ketidakwajaran kekuasaan lainnya. Jika mempelajari

16

Wijayanto,dkk.2009. Korupsi mengorupsi Indonesia : sebab, akibat, dan prospek pemberantasan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

14

definisi korupsi sebelumnya, maka dalam korupsi itu sendiri terdapat unsur-unsur manipuilasi yang penyimpangan baik dalam bentuk anggaran, kebijakan, dan sebagainya. Untuk menghindari pelanggaran terhadap prinsip fairness, khususnya dalam proses penganggaran, di perlukan beberapa lanhkah sebagai berikut: 1) komprehensif dan disiplin yang berarti mempertimbangkan keseluruhan aspek, berkesinambungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran, dan tidak melampaui batas (off budget). 2) fleksibilitas yaitu adanya diskresi tertentu dalam konteks efisiensi dan efektibilitas17. 3) terprediksi yaitu ketetapan perencanaan atasa dasar asas value vor money dan menghindari defisit dalam tahun anggaran berjalan18. 4) kejujuran yaitu adanya bias perkiraan penerimaan maupun pengeluaraan yang di sengaja, yang berasal dari pertimbangan teknis maupun politis. 5) Informative yakni perlu sistem informasi pelaporan yang teratur dan informative sebagai dasar penilaian kinerja, kejujuran dan proses pengembalian keputusan. d. Kebijakan anti korupsi Kebijakan merupakan sebuah usaha mengatur tata interaksi dalam ranah sosial. Korupsi sebagai bentuk kejahatan luar biasa yang mengancam tata kehidupan berbangsa telah memaksa setiap Negara membuat undang-undang untuk mencegahnya. Beberapa Negara membuat aturan main anti korupsi yang mempersempit ruang gerak perilaku korupsi. Kebijakan tersebut tidak selalu identik dengan undang-undang anti korupsi, namu bias berupa undang-undang kebebasan mengakses informasi, undangundang di sentralisasi, undang-undang anti monopoli, maupun yang lainnya yang dapat memudahkan masyarakat mengetahui sekaligus mengontrol kinerja dan penggunaan anggaran Negara oleh para pejabat Negara.
17

Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
18

Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011 15

Kebijakan antikorupsi dapat di lihat dalam beberapa perspektif,yaitu: 1) isi kebijakan. Komponen penting dari sebuah kebijakan adalah isi dari kebijakan tersebut. Dengan kata lain, kebijakan anti-korupsi menjadi efektif apabila di dalamnya terkandung unsur-unsur yang terkait dengan persoalan korupsi sebagai focus dari kegiatan tersebut. 2) pembuat kebijakan. Kebijakan antikorupsi tidak bisa dilepaskan dari para pembuat kebijakan. Paling tidak, isi dari kebijakan merupakan cermin dari kualitas dan integritas pembuatnya. Sekaligus akan menentukan kualitas isi kebijakan tersebut. 3) penegakan kebijakan. Penegak kebijakan dalam struktur kenegaraan modern terdiri dari kepolisian, pengadilan, pengacara, dan lembaga pemasyarakatan. Apabila penegak kebijakan tidak memiliki komitmen untuk meletakkanya sebagai aturan yang mengikat bagi semua, termasuk bagi dirinya, maka sebuah kebijakan hanya akan menjadi instrumen kekuasaan yang justru melahirkan kesenjangan, Ketidakadilan, dan bentuk penyimpangan lainya. 4) kultur kebijakan (hukum). Eksitensi sebuah kebijakan terkait dengan nilainilai, pemahaman, sikap, persepsi, dan kesadaran masyarakat terhadap hukum undangundang anti korupsi. Lebih jauh kultur kebijakan ini akan menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. e. Kontrol kebijakan Menurut David Korten lebih dari tiga dasawarsa, pembangunan di asumsikan dari pemerintah dan untuk pemerintah sendiri. Ini berarti bahwa fungsi, peran, dan kewenangan pemerintah teramat dominan hingga terkesan bahwa proses kenegaraan hanya menjadi tugas pemerintah dan sama sekali tidak perlu melibatkan rakyat. Seolaholah, pemerintah dan sama sekali tidak perlu melibatkan rakyat19. Seolah-olah, pemerintah paling mengetahui seluk beluk kehidupan masyarakat di negaranya. Itulah sebabnya, di tengah arus demokratisasi, paradigma tersebut harus di rekonstruksi sehingga tumbuh tradisi baru berupa control kebijakan. Paling tidak terdapat tiga model control terhadap kebijakan pemerintah, yaitu:

19

Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011 16

1) Partisipasi. Melakukan kontrol terhadap kebijakan dengan ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaannya. 2) Oposisi. Mengontrol dengan menawarkan alternatif kebijakan baru yang dianggap lebih layak. 3) Revolusi. Mengontrol dengan mengganti kebijakan yang dianggap tidak sesuai.

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

17

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Secara sederhana korupsi didefinisikan sebagai menyalahgunakan kekuasaan kepercayaan untuk keuntungan pribadi. Tindakan-tindakan manipulasi dan keputusan mengenai keuangan yang membahayakan ekonomi. Bentuk bentuk korupsi meliputi penghianatan terhadap kepecayaan Pengkhianatan merupakan bentuk korupsi paling sederhana . Semua orang yang berkhianat atau mengkhianati kepercayaan atau amanat yang diterimanya adalah koruptor. Amanat dapat berupa apapun, baik materi maupun non materi (ex: pesan, aspirasi rakyat).Anggota DPR yang tidak menyampaikan aspirasi rakyat/menggunakan aspirasi untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk korupsi. Penyalahgunaan kekuasaan, penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan material. Unsur-unsur yang dapat dikatakn korupsi yaitu melawan hukum, memperkaya diri sendiri dan merugikan ekonomi negara. Salah satu hal mengapa di indonesia korupsi semakin sulit diberantas Karena korupsi sudah mendarah daging, sehingga perilaku korupsi sudah menjadi hal yang biasa dan bukan lagi dianggap sebagai penyakityang harus segera

disembuhkan.Dengan demikian, semakin sulitnya membedakan mana perilaku korupsi dan mana yang bukan korupsi Ibarat maling teriak maling. Salah satu yang termasuk anti korupsi yaitu KPK (komisi Pemberantas Korupsi.

B. Saran

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

18

DAFTAR PUSTAKA Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika. Jaya, hermansyah.2008. Memeberantas Korupsi Bersama KPK (Komisi Pemberantas Korupsi ) Kajian Yuridis Normatif UU Nomor 31 Tahun 1999 Jonto UU Nomor 20 Tahun 2001 Versi UU Nomor 30 Tahun 2002. Jakarta : Sinar Grafika. Wijayanto,dkk.2009. Korupsi mengorupsi Indonesia : sebab, akibat, dan prospek pemberantasan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24033/4/Chapter%20II.pdf

Makalah PKN Pendidikan Biologi 2011

19