Anda di halaman 1dari 24

REFERAT TRAUMA MAKSILOFASIAL

Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan Menyelesaikan Progran Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Bedah

Oleh : Ari Setiawan Aulia Ek i i $inar Kuku% &ra et'( Ma'a Kurnia $ewi T%ina Mauli)a 01.207.5354 01.20!.5"4# 01.20!.5"7# 01.207.5524 01.20".57!2

Pembimbing )r. Tri $*(k( +i)a,)(- S../ /A0IA1 ILMU /E$A2 RSU$ KA/U&ATE1 KU$US FAKULTAS KE$OKTERA1 U1I3ERSITAS ISLAM SULTA1 A0U10 SEMARA10 2013

/A/ I &E1$A2ULUA1 Trauma maksilofasial merupakan trauma fisik yang dapat mengenai jaringan keras dan lunak wajah. Penyebab trauma maksilofasial ber ariasi! men"akup ke"elakaan lalu lintas! kekerasan fisik! terjatuh! olah raga dan trauma akibat senjata api. Trauma pada wajah sering mengakibatkan terjadinya gangguan saluran pernafasan! perdarahan! luka jaringan lunak! hilangnya dukungan terhadap fragmen tulang dan rasa sakit. Oleh karena itu! diperlukan perawatan kegawatdaruratan yang tepat dan se"epat mungkin.# $e"elakaan lalu lintas adalah penyebab dengan persentase yang tinggi terjadinya ke"a"atan dan kematian pada orang dewasa se"ara umum dibawah usia %& tahun dan angka terbesar biasanya mengenai batas usia '#()& tahun. Berdasarkan studi yang dilakukan! *'+ kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh ke"elakaan lalu lintas. Pasien dengan ke"elakaan lalu lintas yang fatal harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan dapat mengalami "a"at permanen. Oleh karena itu! diperlukan perawatan kegawatdaruratan yang tepat dan se"epat mungkin. # ,edera maksilofasial! juga disebut sebagai trauma wajah! meliputi "edera pada wajah! mulut dan rahang. -ampir setiap orang pernah mengalami seperti "edera! atau mengetahui seseorang yang memiliki.# .ebagian besar fraktur yang terjadi pada tulang rahang akibat trauma maksilofasial dapat dilihat jelas dengan pemeriksaan dan perabaan serta menggunakan penerangan yang baik. Trauma pada rahang mengakibatkan terjadinya gangguan saluran pernafasan! perdarahan! luka jaringan lunak!hilangnya dukungan terhadap fragmen tulang dan rasa sakit. /amun! trauma pada rahang jarang menimbulkan syok dan bila hal tersebut terjadi mungkin disebabkan adanya komplikasi yang lebih parah! seperti pasien dengan kesadaran yang menurun tidak mampu melindungi jalan pernafasan dari darah! patahan gigi.# $edaruratan trauma maksilofasial merupakan suatu penatalaksanaan tindakan darurat pada orang yang baru saja mengalami trauma pada daerah maksilofasial 0wajah1. Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada trauma maksilofasial oleh dokter umum hanya men"akup bantuan hidup dasar 0basic life support1 yang berguna menurunkan tingkat ke"a"atan dan kematian pasien sampai diperolehnya penanganan selanjutnya di rumah sakit.

Oleh karena itu! para dokter umum harus mengetahui prinsip dasar 2T3. 0Advance Trauma Life Support1 yang merupakan prosedur(prosedur penanganan pasien yang mengalami kegawatdaruratan.# Prinsip(prinsip untuk mengobati patah tulang wajah adalah sama seperti untuk patah lengan atau kaki. Bagian(bagian dari tulang harus berbaris 0dikurangi1 dan ditahan dalam posisi "ukup lama untuk memungkinkan mereka waktu untuk menyembuhkan. Ini mungkin membutuhkan enam minggu atau lebih tergantung pada usia pasien dan kompleksitas fraktur itu.' Menghindari "edera merupakan hal yang terbaik! ahli bedah mulut dan maksilofasial menganjurkan penggunaan sabuk pengaman mobil! penjaga pelindung mulut! dan masker yang tepat dan helm untuk semua orang yang berpartisipasi dalam kegiatan atletik di tingkat manapun.'

/A/ II TI14AUA1 KE&USTAKAA1 2.1 $e5ini i Trau6a Mak il(5a ial Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya. Trauma pada jaringan maksilofasial dapat men"akup jaringan lunak dan jaringan keras. 4ang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. .edangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : tulang hidung! tulang arkus 5igomatikus! tulang mandibula! tulang maksila! tulang rongga mata! gigi! tulang al eolus. 4ang dimaksud dengan trauma jaringan lunak antara lain : #. 2brasi kulit! tusukan! laserasi! tato. '. ,edera saraf! "abang saraf fasial. ). ,edera kelenjar parotid atau duktus .tensen. 6. ,edera kelopak mata. %. ,edera telinga. 7. ,edera hidung.)!6 2.2 Anat(6i Mak il(5a ial Pertumbuhan kranium terjadi sangat "epat pada tahun pertama dan kedua setelah lahir dan lambat laun akan menurun ke"epatannya. Pada anak usia 6(% tahun! besar kranium sudah men"apai 8&+ "ranium dewasa. Maksilofasial tergabung dalam tulang wajah yang tersusun se"ara baik dalam membentuk wajah manusia.# Daerah maksilofasial dibagi menjadi ) bagian. Bagian pertama adalah wajah bagian atas! di mana patah tulang melibatkan frontal dan sinus. Bagian kedua adalah midfa"e tersebut. Midfa"e dibagi menjadi bagian atas dan bawah. Para midfa"e atas adalah di mana rahang atas 3e 9ort II dan III 3e 9ort fraktur terjadi dan : atau di mana patah tulang hidung! kompleks nasoethmoidal atau 5ygomati"oma;illary! dan lantai orbit terjadi. Bagian ketiga dari daerah maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah! di mana patah tulang yang terisolasi ke rahang bawah.#

<ambar #. 2natomi Maksilofasial. Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih ke"il dari tengkorak otak. Didalam tulang wajah terdapat rongga(rongga yang membentuk rongga mulut 0"a um oris1! dan rongga hidung 0"a um nasi1 dan rongga mata 0orbita1.) a. Bagian hidung terdiri atas : Os 3a"rimal 0tulang mata1 letaknya disebelah kiri:kanan pangkal hidung disudut mata. Os /asal 0tulang hidung1 yang membentuk batang hidung sebelahatas. Dan Os $onka nasal 0tulang karang hidung1! letaknya di dalam ronggahidung dan bentuknya berlipat(lipat. .eptum nasi 0sekat rongga hidung1 adalahsambungan dari tulang tapis yang tegak.)!6

b. Bagian rahang terdiri atas tulang(tulang seperti : Os Maksilaris 0tulang rahang atas1! Os =igomati"um! tulang pipi yangterdiri dari dua tulang kiri dan kanan. Os Palatum atau tulang langit(langit! terdiridari dua dua buah tulang kiri dan kanan. Os Mandibularis atau tulang rahangbawah! terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatudi pertengahan dagu. Dibagian depan dari mandibula terdapat pro"essus "ora"oids tempat melekatnya otot.)!6

Fa7ial )an,er 8(ne 9:(na ;a%a'a wa*a%< .e"ara anatomi! wajah memiliki beberapa serabut(serabut saraf yang tersebar di beberapa lokasi di wajah! ada * lokasi(lokasi penting di sekitar wajah yang apabila terjadi trauma atau kesalahan dalam penanganan trauma maksilofasial akan berakibat fatal! lokasi(lokasi tersebut disebut dengan fa"ial danger 5one.)!7

<ambar '. 9a"ial Danger =ones 2.3 E.i)e6i(l(,i Dari data penelitian itu menunjukan bahwa kejadian trauma maksilofasial sekitar 7+ dari seluruh trauma yang ditangani oleh .M9 Ilmu Bedah >. Dr..oetomo. $ejadian fraktur mandibula dan maksila terbanyak diantara ' tulang lainnya! yaitu masing(masing sebesar

'8!?% +! disusul fraktur 5igoma '*!76 + dan fraktur nasal #'! 77 +. Penderita fraktur maksilofasial ini terbanyak pada laki(laki usia produktif!yaitu usia '#()& tahun! sekitar 76!)? + disertai "edera di tempat lain! dan trauma penyerta terbanyak adalah "edera otak ringan sampai berat! sekitar %7+. Penyebab terbanyak adalah ke"elakaan lalu lintas dan sebagian besar adalah pengendara sepeda motor.#!6 2.4 Eti(l(,i Trau6a Mak il(5a ial Trauma wajah di perkotaan paling sering disebabkan oleh perkelahian! diikuti oleh kendaraan bermotor dan ke"elakaan industri. Para 5ygoma dan rahang adalah tulang yang paling umum patah selama serangan. Trauma wajah dalam pengaturan masyarakat yang paling sering adalah akibat ke"elakaan kendaraan bermotor! maka untuk serangan dan kegiatan rekreasi. $e"elakaan kendaraan bermotor menghasilkan patah tulang yang sering melibatkan midface! terutama pada pasien yang tidak memakai sabuk pengaman mereka. Penyebab penting lain dari trauma wajah termasuk trauma penetrasi! kekerasan dalam rumah tangga! dan pele"ehan anak(anak dan orang tua.#!)!6 Bagi pasien dengan ke"elakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan "a"at permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan! *'+ kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh ke"elakaan lalu lintas 0automobile).)!6
Berikut ini tabel etiologi trauma maksilofasial :

&en'e;a; .a)a (ran, )ewa a &er enta e $e"elakaan lalu lintas Penganiayaan : berkelahi Olahraga @atuh 3ain(lain 9=< 6&(6% #&(#% %(#& % %(#&

&en'e;a; .a)a anak $e"elakaan lalu lintas Penganiayaan : berkelahi

&er enta e 9=< #&(#% %(#&

Olahraga 0termasuk naik sepeda1 %&(7% @atuh %(#&

2.5 Kla i5ika i Trau6a Mak il(5a ial Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian! yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam! akibat pe"ahan ka"a pada ke"elakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian.) 2.5.1 Trau6a *arin,an lunak wa*a% 3uka adalah kerusakan anatomi! diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan : )!% #. Berdasarkan jenis luka dan penyebab: a. Akskoriasi b. 3uka sayat! luka robek ! luka ba"ok. ". 3uka bakar d. 3uka tembak '. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan ). Dikaitkan dengan unit estetik 2.5.2 Trau6a *arin,an kera wa*a%

$lasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. .e"ara umum dilihat dari terminologinya! trauma pada jaringan keras wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan : ) 1. $i;e)akan ;er)a arkan l(ka i anat(6i7 )an e tetik.a a. Berdiri .endiri : fraktur frontal! orbita! nasal! 5igomatikum! ma;illa! mandibulla! gigi dan al eolus. b. Bersifat Multiple : 9raktur kompleks 5igoma! fronto nasal dan fraktur kompleks mandibula

<ambar 6. 9raktur kompleks 5ygomati"oma;illaris yang biasa kearah inferomedial.

<ambar %. 9raktur pada daerah mandibula : 2. Dento(al eolar B. $ondilar ,. $oronoid D. >amus A. 2ngulus 9. ,orpus <. .imfisis -. Parasimfisis 2. /er)a arkan Ti.e 5raktur >! a. 9raktur simpel B Merupakan fraktur sederhana! liniear yang tertutup misalnya pada kondilus! koronoideus! korpus dan mandibula yang tidak bergigi.

B 9raktur tidak men"apai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang! terutama pada anak dan jarang terjadi.

b. 9raktur kompoun B 9raktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak. B Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi! dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut! bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. ". 9raktur komunisi B Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang ke"il atau remuk. B Bisa terbatas atau meluas! jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. d. 9raktur patologis B keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang! seperti Osteomyelitis! tumor ganas! kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. 3. &erlua an tulan, 'an, terli;at 3-! #. $omplit! fraktur men"akup seluruh tulang. '. Tidak komplit! seperti pada greenstik! hair line, dan kropresi 0 lekuk 1 4 . K(n5i,ura i 9 ,ari 5raktur < 7-! #. Tran ersal! bisa hori5ontal atau ertikal.

'. Oblique 0 miring 1 ). .piral 0berputar1 6. $omunisi 0remuk1 5. 2u;un,an antar Fra,6en 3 #. Displacement! disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat '. Undisplacement! bisa terjadi berupa : a. 2ngulasi : bersudut b. Distraksi ". $ontraksi d. >otasi : berputar e. Impaksi : tertanam Pada mandibula! berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : ? a. Dento al eolar b. Prosesus kondiloideus ". Prosesus koronoideus d. 2ngulus mandibula e. >amus mandibula f. $orpus mandibula g. idline : simfisis menti h. 3ateral ke midline dalam regio insisi us

#. K%u u .a)a 6ak ila 5raktur )a.at )i;e)akan >5-! a. 9raktur blo!"out 0fraktur tulang dasar orbita1 b. 9raktur 3e 9ort I! 3e 9ort II! dan 3e 9ort III ". 9raktur segmental mandibula

<ambar 7. I 3e 9ort I! II 3e 9ort II! III 3e 9ort III 2.# &at(5i i(l(,i Trau6a Mak il(5a ial1 $ehadiran energi kinetik dalam benda bergerak adalah fungsi dari massa dikalikan dengan kuadrat ke"epatannya. Penyebaran energi kinetik saat deselerasi menghasilkan kekuatan yang mengakibatkan "edera. Berdampak tinggi dan rendah(dampak kekuatan didefinisikan sebagai besar atau lebih ke"il dari %& kali gaya gra itasi. Ini berdampak parameter pada "edera yang dihasilkan karena jumlah gaya yang dibutuhkan untuk menyebabkan kerusakan pada tulang wajah berbeda regional. Tepi supraorbital! mandibula 0simfisis dan sudut1! dan tulang frontal memerlukan kekuatan tinggi(dampak yang akan rusak. .ebuah dampak rendah(for"e adalah semua yang diperlukan untuk merusak 5ygoma dan tulang hidung.# &ata% Tulan, Fr(ntal : ini terjadi akibat dari pukulan berat pada dahi. Bagian anterior dan : atau posterior sinus frontal mungkin terlibat. <angguan lakrimasi mungkin dapat terjadi jika dinding posterior sinus frontal retak. Duktus nasofrontal sering terganggu.

Fraktur $a ar Or;ital : ,edera dasar orbital dapat menyebabkan suatu fraktur yang terisolasi atau dapat disertai dengan fraktur dinding medial. $etika kekuatan menyerang pinggiran orbital! tekanan intraorbital meningkat dengan transmisi ini kekuatan dan merusak bagian(bagian terlemah dari dasar dan dinding medial orbita. -erniasi dari isi orbit ke dalam sinus maksilaris adalah mungkin. Insiden "edera okular "ukup tinggi! namun jarang menyebabkan kematian. &ata% Tulan, 2i)un,: Ini adalah hasil dari kekuatan diakibatkan oleh trauma langsung.* Fraktur 1a (et%6(i)al 0noes1: akibat perpanjangan kekuatan trauma dari hidung ke tulang ethmoid dan dapat mengakibatkan kerusakan pada "anthus medial! aparatus la"rimalis! atau saluran nasofrontal.#!* &ata% tulan, len,kun, 8',(6ati7: .ebuah pukulan langsung ke lengkung 5ygomati" dapat mengakibatkan fraktur terisolasi melibatkan jahitan 5ygomati"otemporal.# &ata% Tulan, :',(6ati7(6a?illar' k(6.lek 0=M,s1: ini menyebabkan patah tulang dari trauma langsung. <aris fraktur jahitan memperpanjang melalui 5ygomati"otemporal! 5ygomati"ofrontal! dan 5ygomati"oma;illary dan artikulasi dengan tulang sphenoid. <aris fraktur biasanya memperpanjang melalui foramen infraorbital dan lantai orbit. ,edera mata serentak yang umum. &ata% tulan, ra%an, ata : ini dikelompokkan sebagai 3e 9ort I! II! atau III. 8

9raktur 3e 9ort I adalah fraktur rahang hori5ontal di aspek inferior rahang atas dan memisahkan proses al eolar dan langit(langit keras dari seluruh rahang atas. 9raktur meluas melalui sepertiga bagian bawah septum dan termasuk sinus maksilaris dinding lateralis memperluas ke tulang palatina dan piring pterygoideus.

9raktur 3e 9ort II adalah fraktur piramida mulai dari tulang hidung dan memperluas melalui tulang la"rimalisC ke bawah melalui jahitan 5ygomati"oma;illaryC terus posterior dan lateral melalui rahang atas! bawah 5ygoma itu! dan ke dalam piring pterygoideus. 9raktur 3e 9ort III atau dysjun"tion kraniofasial adalah pemisahan dari semua tulang wajah dari dasar tengkorak dengan fraktur simultan dari 5ygoma! rahang! dan tulang hidung. <aris fraktur meluas melalui tulang ethmoid posterolaterally! orbit! dan jahitan pterygoma;illary ke fosa sphenopalatina.8 Fraktur 6an)i;ula: Ini dapat terjadi di beberapa lokasi sekunder dengan bentuk D(rahang dan leher "ondylar lemah. 9raktur sering terjadi bilateral di lokasi terpisah dari lokasi trauma langsung.? &ata% tulan, al@e(lar: Ini dapat terjadi dalam isolasi dari kekuatan rendah energi langsung atau dapat hasil dari perpanjangan garis fraktur melalui bagian al eolar rahang atas atau rahang bawah.#

Fraktur &an5a7ial: Ini biasanya sekunder mekanisme ke"epatan tinggi mengakibatkan "edera pada wajah atas! midfa"e! dan wajah yang lebih rendah.#

2.7 Mani5e ta i Klini <ejala klinis gejala dan tanda trauma maksilofasial dapat berupa : Dislokasi! berupa perubahan posisi yg menyebabkan maloklusi terutama pada fraktur mandibula. Pergerakan yang abnormal pada sisi fraktur. >asa nyeri pada sisi fraktur. Perdarahan pada daerah fraktur yang dapat menyumbat saluran napas. Pembengkakan dan memar pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur. $repitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran.

3aserasi yg terjadi pada daerah gusi! mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur. Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan. /umbness! kelumpuhan dari bibir bawah! biasanya bila fraktur terjadi dibawah ner us al eolaris. Pada fraktur orbita dapat dijumpai penglihatan kabur atau ganda! penurunan pergerakan

bola mata dan penurunan isus.)!#& 2." $ia,n( i 2.".1 Ana6ne a 1 Mendapatkan informasi tentang alergi! obat! status tetanus! riwayat medis dan bedah masa lalu! merupakan hal yang paling terakhir! dan peristiwa seputar "edera. 2spek yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: bagaimana mekanisme "ederaE 2pakah pasien kehilangan kesadaran atau mengalami perubahan status mentalE @ika demikian! untuk berapa lamaE 2pakah gangguan penglihatan! kilatan "ahaya! fotofobia! diplopia! pandangan kabur! nyeri! atau perubahan dengan gerakan mataE 2pakah pasien mengalami tinnitus atau ertigoE 2pakah pasien memiliki kesulitan bernapas melalui hidungE 2pakah pasien memiliki manifestasi berdarah atau yang jelas("airan dari hidung atau telingaE 2pakah pasien mengalami kesulitan membuka atau menutup mulutE 2pakah ada rasa sakit atau kejang ototE 2pakah pasien dapat menggigit tanpa rasa sakit! dan pasien merasa seperti kedudukan gigi tidak normalE 2pakah daerah mati rasa atau kesemutan pada wajahE 2.".2 &e6erik aan Fi ik1-3 A. In .ek i .e"ara sistematis bergerak dari atas ke bawah : Deformitas! memar! abrasi! laserasi! edema. 3uka tembus. 2simetris atau tidak. 2danya Maloklusi : trismus! pertumbuhan gigi yang abnormal. Otorrhea : >hinorrheaf. Tele"anthus! BattleFs sign! >a""oonFs sign. ,edera kelopak mata.

A""hymosis! epistaksisi. Defisit pendengaran. Perhatikan ekspresi wajah untuk rasa nyeri! serta rasa "emas

/. &al.a i #. Periksa kepala dan wajah untuk melihat adanya le"et! bengkak! e""hymosis! jaringan hilang! luka! dan perdarahan! Periksa luka terbukauntuk memastikan adanya benda asing seperti pasir! batu kerikil. '. Periksa gigi untuk mobilitas! fraktur! atau maloklusi. @ika gigi a ulsi! mengesampingkan adanya aspirasi. ). Palpasi untuk "edera tulang! krepitasi! terutama di daerah pinggiran supraorbital dan infraorbital! tulang frontal! lengkungan 5ygomati"! dan pada artikulasi 5ygoma dengan tulang frontal! temporal! dan rahang atas. 6. Periksa mata untuk memastikan adanya e;ophthalmos atau enophthalmos! menonjol lemak dari kelopak mata! ketajaman isual! kelainan gerakan okular! jarak interpupillary! dan ukuran pupil! bentuk!dan reaksi terhadap "ahaya! baik langsung dan konsensual. %. *. Perhatikan sindrom fisura orbital superior! ophthalmoplegia! ptosis dan proptosis. Memeriksa ruang anterior untuk mendeteksi adanya perdarahan! seperti hyphema. kompleks nasoethmoidal. 8. 3akukan tes palpasi bimanual hidung! bius dan tekan intranasal terhadap lengkung orbital medial. .e"ara bersamaan tekan "anthus medial. @ika tulang bergerak! berarti adanya kompleks nasoethmoidal yang retak. #&. 3akukan tes traksi. Pegang tepi kelopak mata bawah! dan tarik terhadap bagian medialnya. @ika GtarikanG tendon terjadi! bisa di"urigai gangguan dari "anthus medial. ##. Periksa hidung untuk tele"anthus 0pelebaran sisi tengah hidung1 atau dislokasi. Palpasi untuk kelembutan dan krepitasi. #'. Periksa septum hidung untuk hematoma! massa menonjol kebiruan! laserasi pelebaran mukosa! fraktur! atau dislokasi! dan rhinorrhea "airan "erebrospinal. 7. Balikkan kelopak mata dan periksa benda asing atau adanya laserasi. ?. Palpasi daerah orbital medial. $elembutan mungkin menandakan kerusakan pada

#).

Periksa untuk laserasi liang telinga! kebo"oran "airan serebrospinal! integritas membran timpani! hemotympanum! perforasi! ataue""hymosis daerah mastoid 0Battle sign1.

#6. Periksa lidah dan men"ari luka intraoral! e""hymosis! atau bengkak. .e"ara Bimanual meraba mandibula! dan memeriksa tanda(tanda krepitasi atau mobilitas. #%. Tempatkan satu tangan pada gigi anterior rahang atas dan yang lainnya di sisi tengah hidung. #7. <erakan hanya gigi menunjukkan fraktur le fort I. <erakan di sisi hidung menunjukkan fraktur 3e 9ort II atau III. #*. Memanipulasi setiap gigi indi idu untuk bergerak! rasa sakit! gingi al dan pendarahan intraoral! air mata! atau adanya krepitasi. #?. 3akukan tes gigit pisau. Minta pasien untuk menggigit keras pada pisau. @ika rahang retak! pasien tidak dapat melakukan ini dan akan mengalami rasa sakit. #8. Meraba seluruh bahagian mandibula dan sendi temporomandibular untuk memeriksa nyeri! kelainan bentuk! atau e""hymosis. '&. Palpasi kondilus mandibula dengan menempatkan satu jari di saluran telinga eksternal! sementara pasien membuka dan menutup mulut. >asa sakit atau kurang gerak kondilus menunjukkan fraktur. '#. Periksa paresthesia atau anestesi saraf.) 2.! &e6erik aan &enun*an,3 #. Hajah Bagian 2tas : ,T(s"an )D dan ,B,T(s"an )D 0,one Beam ,T(s"an )D1. ,T(s"an aksial koronal. Imaging 2lternatif diantaranya termasuk ,T ."an kepaladan I(ray kepala

'. Hajah Bagian Tengah : ,T(s"an )D dan ,B,T(s"an )D 0,one Beam ,T(s"an )D1. ,T s"an aksial koronal. Imaging 2lternatif diantaranya termasuk radiografi posisi waters dan posteroanterior 0,aldwells1! .ubmento ertek 0@ughandles1. ). Hajah Bagian Bawah :

,T(s"an )D dan ,B,T(s"an )D. Panorami" I(ray. Imaging 2lternatif diagnostik men"akup posisi : ( Posteroanterior 0,aldwells1. ( Posisi lateral 0."hedell1. ( Posisi towne.

<ambar *. Pemeriksaan >adiologi

2.10 &enatalak anaan3 Penatalaksanaan awal pada pasien dengan ke"urigaan trauma masilofasial yaitu meliputi : #. Periksa kesadaran pasien. '. Perhatikan se"ara "ermat wajah pasien : 2pakah asimetris atau tidak. 2pakah hidung dan wajahnya menjadi lebih pipih.

). 2pakah ada -ematoma : a. 9raktur =ygomatikus Terjadi hematoma yang mengelilingi orbita! berkembang se"ara"epat sebagai permukaan yang bersambungan se"ara seragam. Periksa mulut bagian dalam dan periksa juga sulkus bukal atas apakah ada hematoma! nyeri tekan dan krepitasi pada dinding 5igomatikus. b.9raktur nasal Terdapat hematoma yang mengelilingi orbita! paling berat kearah medial.

". 9raktur Orbita 2pakah mata pasien "ekung kedalam atau kebawah E 2pakah sejajar atau bergeser E 2pakah pasien bisa melihat E 2pakah dijumpai diplopia E -al ini karena : o Pergeseran orbita o Pergeseran bola mata o Paralisis saraf ke JI o Adema d. 9raktur pada wajah dan tulang kepala.

>aba se"ara "ermat seluruh bagian kepala dan wajah : nyeri tekan! deformitas! iregularitas dan krepitasi. >aba tulang 5igomatikus! tepi orbita! palatum dan tulang hidung!pada fraktur 3e 9ort tipe II atau III banyak fragmen tulang ke"il sub "utis pada regio ethmoid. Pada pemeriksaan ini jika rahang tidak menutup se"ara sempurna berarti pada rahang sudah terjadi fraktur.

e. ,edera saraf Dji anestesi pada wajah 0 saraf infra orbita1 dan geraham atas 0saraf gigi atas1.

f. ,edera gigi >aba giginya dan usahakan menggoyangkan gigi bergerak abnormal dan juga disekitarnya. 2.11 &r( e)ur .enatalak anaan ke,awat)aruratan trau6a 6ak il(5a7ial.11 Pada pasien dengan trauma hebat atau multiple trauma akan die aluasi dan ditangani se"ara sistematis! di titik beratkan pada penentuan prioritas tindakan berdasarkan atas riwayat terjadinya ke"elakaan dan derajat beratnya trauma. #. 2pakah Pasien dapat bernapas E @ika sulit : 2da obstruksi. 3idahnya jatuh kearah belakang atau tidak. '.,uriga adanya 9raktur Mandibula. $ait dengan jari tangan anda mengelilingi bagian belakang palatum durum! dan tarik tulang wajah bag tengah dengan lembut kearah atas dan depan memperbaiki jalan napas dan sirkulasi mata. >eduksi ini diperlukan pengetahuan dan ketrampilan yang baik juga gaya yang besar jika fraktur terjepit dan jika reduksi tidak berhasil lakukan Tra"heostomi. Dntuk melepaskan himpitan tulang pegang al eolus maksilaris dengan for"ep khusus 0>owes1 atau for"ep bergerigi tajam yang kuat dan goyangkan. ). @ika lidah atau rahang bawah jatuh ke arah belakang 3akukan beberapa jahitan atau jepitkan handuk melaluinya!dan se"ara lembut tarik kearah depan! lebih membantu jika posisi pasien berbaring! saat e akuasi sebaiknya dibaringkan pada salah satu sisi 6. @ika "edera rahang yang berat dan kehilangan banyak jaringan

Pada saat mengangkutnya! baringkan pasien dengan kepalapada salah satu ujung sisi dan dahinya ditopang dengan pembalut di antara pegangan. %. @ika pasien merasakan lebih enak dengan posisi duduk Biarkan posisi demikian mungkin jalan napas akan membaik dengan "epat ketika ia melakukannya. -isap mulutnya dari sumbatan bekuan darah. @alan napas buatan 0OP2! ATT1 mungkin tidak membantu. 7. @ika hidungnya "edera parah dan berdarah -isap bersih 0su"tion1 dan pasang /P2 atau pipa karet tebalyang sejenis ke satu sisi. @ika terjadi perdarahan : Ikat pembuluh darah yang besar atau jika terjadi perdarahan yang sulit gunakan tampon yang direndam adrenalin yang dipakai untuk ngedep perdarahan yang hebat. Tampon post nasal selalu dapat menghentikan perdarahan. @ika perlu gunakan jahitan hemostasis sementara. Tujuan Perawatan pasien trauma maksilofasial : a. b. ". d. Memperbaiki jalan napas. Mengontrol perdarahan. Dapat menggigit se"ara normal reduksi akan sempurna. ,egah deformitas reduksi pada fraktur hidung dan 5igoma

*. Pemeriksaan Intra Oral. 4ang harus di perhatikan pada saat melakukan pemeriksaan intra oral adalah adanya floating pada susunan tulang(tulang wajah! seperti : Mandibular floating. Ma;illar floating. =ygomati"um floating 4ang dimaksud dengan floating disini adalah keadaan dimana salah satu dari struktur tulang diatas terasa seperti melayang saat dilakukan palpasi! jika terbukti adanya floating! berarti ada kerusakan atau fraktur pada tulang tersebut.) Pasien dengan trauma maksilofasial harus dikelola dengan segera! dimana dituntut tindakan diagnostik yang "epat dan pada saat yang sama juga diperlukan juga tindakan resusitasi yang "epat. >esusitasi mengandung prosedur dan teknik teren"ana untuk mengembalikan pulmonary al eolaris entilasi! sirkulasi dan tekanan darah yang efektif dan untuk memperbaiki efek yang merugikan lainnya dari trauma maksilofasial. Tindakan

pertama yang dilakukan ialah tindakan #rimar$ Surve$ yang meliputi pemeriksaan ital sign se"ara "ermat! efisien dan "epat. $egagalan dalam melakukan salah satu tindakan ini dengan baik dapat berakibat fatal.## @adi se"ara umum dapat disimpulkan! penderita trauma maksilofasial dapat dibagi dalam ' kelompok : #. $elompok perlukaan maksilofasial sekunder pada relati e trauma ke"il! misalnya dipukul atau ditendang! dapat di terapi pada intermediate atau area terapi biasa pada ruang gawat darurat. '. $elompok perlukaan maksilofasial berat sekunder kedalam trauma tumpul berat! misalnya penurunan kondisi se"ara "epat dari ke"elakaan lalulintas atau jatuh dari ketinggian! harus diterapi di tempat perawatan kritis pada instalasi gawat darurat : #.Trauma maksilofasial berat harus di rawat di ruang resusitasi atau kritis area diikuti dengan teknik 2T3. '.4akinkan dan jaga potensi jalan napas dengan immobilisasi tulang leher. a. .etengah duduk jika tidak ada ke"urigaan perlukaan spinal! atau jika penderita perlu melakukannya. b. @aw trush dan "hin lift. ". Traksi lidah : Dengan jari! O(slik suture atau dengan handuk ). Andotrakel intubasi : oral intubasi sadar atau >.I atau krikotiroidotomi 6. Berikan oksigenasi yang adekuat . %.Monitor tanda ital setiap % K #& menit! A$<! "ek pulse o;imetry. 7. Pasang # atau ' infus perifer dengan jarum besar untuk pengantian "airan. *. 3aboratorium : ,rossmat"h golongan darah! darah lengkap! ureum :elektrolit : kreatinin. ?. 9asilitas penghentian perdarahan yang berlangsung. a. Penekanan langsung. @epitan hidung!Tampon hidung atau tenggorokan. b. Bahan haemostati" asam trane;amid 0"y"lokapron1. Dosis : '%mg:kg BB IJ bolus pelan selama % K #& menit.)!## Beberapa pegangan pada bedah plastik dapat digunakan dalam menangani trauma dan luka pada wajah :

#. 2sepsis. '. Debridement! bersihkan seluruh kotoran dan benda asing. ). -emostasis! sedemikian rupa sehingga setetes darah pun tidak bersisa sesudah dijahit. 6. -emat jaringan! hanya jaringan yang nekrosis saja yang boleh dieksisi dari pinggir luka. %. 2traumatik! seluruh tindakan bedah dengan "ara dan bahan atraumatik. 7. 2pproksimasi! penjahitan kedua belah sisi pinggir luka se"ara tepat dan teliti. *. /on tensi! tidak boleh ada tegangan dan tarikan pinggir luka sesudah dijahit. Benang hanya berfungsi sebagai pemegang ?. Aksposure! luka sesudah dijahit sebaiknya dibiarkan terbuka karena penyembuhan dan perawatan luka lebih baik! ke"uali ditakutkan ada perdarahan di bawah luka yang harus ditekan 0pressure1