Anda di halaman 1dari 107

PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Masalah Di Indonesia peranan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak hanya sebatas pengelolaan sumber daya dan produksi barang dan jasa yang meliputi hajat hidup orang banyak tetapi juga berbagai kegiatan produksi dan pelayanan umum. Menurut Pasal 1 Undang undang Nomor 1! tahun "##$ tentang Badan Usaha Milik Negara (UU BUMN)% BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan se&ara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. 'ekayaan yang dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari (PBN untuk dijadikan modal BUMN sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 1# jo. Pasal ) (yat (1) UU BUMN. *elain itu juga berasal dari kapitalisasi &adangan dan sumber lainnya yang diatur dalam Pasal ) (yat (") dan (yat ($) UU BUMN. Pembinaan dan pengelolaaannya tidak lagi didasarkan pada sistem (PBN% namun didasarkan pada prinsip prinsip perusahaan yang sehat% hal ini seperti yang dijelaskan dalam Pasal ) (yat (1) UU BUMN. Maksud dan tujuan BUMN dijelaskan dalam Pasal " (yat (1) dan (yat (") UU BUMN adalah untuk+ 1. memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya, ". mengejar keuntungan, $. menyelenggarakan keman-aatan umum berupa penyediaan barang dan atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup rakyat banyak, ). menjadi perintis kegiatan kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor s.asta dan koperasi serta, /. turut akti- memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah% koperasi dan masyarakat. Pasal ! UU BUMN menyebutkan bah.a BUMN terdiri dari Persero dan Perum. Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagai atas saham yang bertujuan untuk keman-aatan umum berupa penyediaan barang dan atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan% seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 angka ) UU BUMN. *elanjutnya mengenai perum ini diatur dalam Bab III% Pasal $/ sampai dengan Pasal 0" UU BUMN. 1rgan Perum ada $ yaitu+ menteri% direksi dan de.an penga.as% sebagaimana disebutkan dalam Pasal $2 UU BUMN.

Persero adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit /1 3 (limapuluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh negara 4epublik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan% hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka " UU BUMN. Pembentukan Persero sebenarnya merupakan .ujud keinginan negara untuk ikut &ampur dalam mengendalikan perekonomian nasional. Ini terbukti dari aturan aturan hukum yang dibuat pemerintah untuk mengatur persero% antara lain UU BUMN serta peraturan pelaksanaannya. *ehubungan dengan ini persero lebih merupakan instrumen pengendali perekonomian% seperti yang disebutkan dalam Pasal 1" UU BUMN. Peranan pemerintah melalui BUMN dalam perekonomian negara adalah pemerintah tidak bertindak sebagai eigenaar tetapi sebagai be5itter untuk atas nama rakyat. 'arena BUMN hanya merupakan pelaksana dari hak negara untuk menguasai% bukan untuk memiliki sumber ekonomi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak% sedangkan pemilik atau eigenaar adalah rakyat karena kedaulatan ada di tangan rakyat . 6al ini sesuai dengan pendapat Moh. 6atta dalam mengupas konsep kata 7dikuasai negara8 untuk Pasal $$ UUD 1!)/. menurut Moh 6atta% 7dikuasai negara8 tidak berarti negara sendiri menjadi pengusaha% usaha.an atau ondernemer% tetapi &ukup bila kekuasaan negara terdapat pada pembuatan peraturan guna melan&arkan jalannya ekonomi . Penegasan ini penting terkait sementara pendapat yang menyatakan negara bisa menjadi pengusaha (enterpreneur) berdasarkan kata 7dikuasai negara8 dalam Pasal $$ UUD 1!)/ . Mimpi the -ounding -athers terhadap BUMN diletakkaan pada ji.a Pasal $$ UUD 1!)/. Belajar dari sejarah perjalanan BUMN% sejak kemerdekaan sampai sekarang dari generasi pertama sampai keempat (1!)/ 1!/!% 1!/! 1!2)% 1!2) 1!9"% 1!9" "#"#) tak kunjung menemukan grand uni-ied design BUMN . Negara pada prinsipnya dapat melakukan tindakan tindakan yang dianggap perlu demi kepentingan rakyat% baik dalam lingkup hukum publik maupun pri:at. Penggunaan sarana hukum pri:at dalam bentuk usaha negara ditegaskan dalam Pasal 1 angka " jo. Pasal 11 UU BUMN% terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas (P;). Dipakainya konstruksi P; pada bentuk usaha negara Persero% tentu mempunyai alasan alasan tertentu. 'arakter yang menarik pada P; adalah statusnya sebagai badan hukum yang mempunyai kekayaan terpisah (separated legal entity) dan modal yang terbagi atas saham saham (shares) . Dalam perkembangannya% pengelolaan BUMN se&ara pro-esional belumlah maksimal% meskipun menurut *o-yan Djalil dalam Bisnis Indonesia menyatakan bah.a menjelang akhir tahun "##2 kinerja BUMN mengalami kenaikan antara lain dengan de:iden sebesar 4p "$%9 triliun% tetapi dengan adanya 8perbedaan

persepsi tentang BUMN8 sepanjang tahun "##2 yang patut di&atat% tere-leksi dalam dua kejadian penting% yaitu pertama berkaitan dengan 8isu korupsi8 sehingga status BUMN perlu diubah dan kedua% perihal 8kepailitan8 . Dalam praktik hingga a.al tahun "##! ternyata di Indonesia belum ada satupun BUMN Persero yang pada akhirnya benar benar diputus pailit oleh Pengadilan. Beberapa BUMN Persero pernah dimohonkan pailit ke Pengadilan Niaga% dan oleh Pengadilan Niaga diputuskan pailit dengan dasar pertimbangan telah memenuhi syarat pailit yang diatur dalam Pasal " Undang undang No. $2 ;ahun "##) tentang 'epailitan dan Penundaan 'e.ajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut UU' dan P'PU)% tetapi pada akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah (gung (selanjutnya disebut M() . Meskipun menurut UU' dan P'PU% tidak ada larangan atau pembatasan bah.a BUMN Persero tidak bisa dipailitkan. ;etapi pernah juga terdapat beberapa BUMN yang dimohonkan pailit% dan pada akhirnya Pengadilan Niaga memutuskan bah.a permohonan pailit tersebut tidak dapat diterima atau ditolak . Barulah pada bulan <uli ;ahun "##! yang lalu pada akhirnya Mahkamah (gung dalam tingkat kasasi mengabulkan permohonan pailit terhadap BUMN Persero dalam kasus kepailitan P;. Iglass (Persero) di *urabaya . 'epailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh 'urator di ba.ah penga.asan 6akim Penga.as sebagaimana diatur dalam UU' dan P'PU (Pasal 1 angka 1 UU' dan P'PU). 6enry =ampbell Bla&k dalam Bla&k>s ?a. Di&tionary menyatakan 8Bankrupt is the state or &ondition o- a person (indi:idual% partnership% &orporation% muni&ipality)% .ho is unable to pay its debts as they are% or be&ome due8 . Untuk menetapkan keyakinan kreditur bah.a debitur se&ara nyata akan mengembalikan pinjaman atau membayar utang utang tersebut% maka hukum kepailitan memberlakukan beberapa asas utama terkait dengan jaminan sebagaimana dituangkan dalam Pasal 11$1 B@ dan 11$" B@ . Pasal 11$1 B@ menyatakan 8segala harta kekayaan debitur% baik yang bergerak maupun yang tak bergerak% baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari% menjadi jaminan untuk segala perikatan debitur8 . *yarat untuk dapat dinyatakan pailit adalah diatur dalam Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU% yaitu debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh .aktu dan dapat ditagih% dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan% baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 UU BUMN% bah.a persero identik dengan P;% maka berlaku segala ketentuan dari prinsip prinsip yang berlaku untuk P; termasuk dalam hal kepailitan. (pabila persero mengalami kepailitan% maka berlakulah ketentuan UU P;.

(kibat kepailitan terhadap debitor pailit ialah debitor tersebut demi hukum kehilangan hak untuk mengurus harta kekayaannya. *eluruh kekayaaan perusahaan selanjutnya diambil alih oleh kurator% hal tersebut dilakukan karena pada dasarnya kepailitan adalah sita. *elanjutnya harta kekayaan yang disita tersebut akan dibagi kepada para kreditor sesuai dengan prosentase tagihannya. Penyitaan seluruh aset tersebut berpengaruh bagi perekonomian negara Indonesia. 1leh karena itu UU' dan P'PU memberikan syarat permohonan pernyataan pailit terhadap BUMN harus diajukan oleh pihak yang memiliki kapasitas dalam pengelolaan keuangan negara% dalam hal ini Menteri 'euangan . *ebagai perusahaan milik negara% perusahaan perseroan terus mengalami perkembangan. (kan tetapi sangat disayangkan bah.a masih ada masalah yang masih belum 7&lear8 terkait dengan adanya unsur kepemilikan negara terhadap aset atau kekayaan persero khususnya bila terjadi kepailitan terhadap persero. 6al ini apabila dikaji berdasarkan ketentuan Pasal " huru- (g) UU No. 12 tahun "##$ tentang 'euangan Negara (selanjutnya disebut UU 'N) jis. Pasal ) (yat (1) dan Pasal 11 UU BUMN. *ebagaimana disebutkan dalam UU BUMN bah.a Persero adalah BUMN yang berbentuk Perseroan ;erbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit /1 3 sahamnya dimiliki oleh negara 4I yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. ;erhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas (P;) yang diatur oleh UU No. 1 tahun 1!!/. UU tersebut telah di&abut dan diganti dengan UU No. )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas. 'eran&auan mulai timbul% bah.a konsep kepemilikan negara terhadap kekayaan negara yang dipisahkan yang terdapat dalam UU 'N ini tidak sejalan atau tidak harmonis dengan konsep kekayaan yang dipisahkan merupakan kekayaan badan hukum sebagaimana diatur dalam UU BUMN dan UU P; yang mendasarkan pada teori badan hukum dan teori kuasa lingkungan . Mulai timbul 7grey area8 antara hukum publik dan hukum pri:at atas kekayaan negara yang telah dipisahkan dari (PBN yang menjadi penyertaan modal negara dalam BUMN Persero. Disharmonisasi antara UU 'N dengan UU BUMN% UU P;% dan UU' dan P'PU% UU Perbendaharaan Negara (selanjutnya disebut UU PBN) termasuk juga dalam Undang undang Pemberantasan ;indak Pidana korupsi (selanjutnya disebut UU P;P') pada akhirnya menimbulkan 7keran&auan pemahaman8 antara entitas hukum publik dengan entitas hukum pri:at% khususnya terkait dengan konsep 7uang publik (negara)8 dengan 7uang pri:at (P; atau Persero)8% dan mengenai kapan terjadinya trans-ormasi hukum dari 7uang publik menjadi uang pri:at8% atau sebaliknya terhadap kekayaan negara yang telah dipisahkan dari (PBN yang menjadi penyertaan modal BUMN Persero. Mengenai hal ini masih 8debatable8 oleh berbagai kalangan hingga sekarang% inilah grey area yang harus segera diperjelasAdiluruskan untuk kedepan.

'ekaburan pengertian keuangan negara dimulai oleh de-inisi keuangan negara dalam Pasal 1 angka 1% UU 'N yang menyatakan+ 7keuangan negara adalah semua hak dan ke.ajiban negara yang dapat dinilai dengan uang% serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan ke.ajiban tersebut8. *elanjutnya Pasal " menyatakan 7keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1% meliputi antara lain kekayaan negaraAkekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang% surat berharga% piutang barang% serta hak hak lain yang dapat dinilai dengan uang% termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negaraAperusahaan daerah8. *elain pada Pasal " huru- (g) UU 'N% kesalahan juga terjadi dalam Peraturan Pemerintah No. 1) tahun "##/ tentang ;ata =ara Penghapusan Piutang NegaraA Daerah. Pasal 1!% menyatakan 7Penghapusan se&ara bersyarat dan penghapusan se&ara mutlak atas piutang perusahaan negaraAdaerah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku8 . *elanjutnya Pasal "# menyatakan bah.a 7;ata &ara dan penghapusan se&ara bersarat dan penghapusan se&ara mutlak atas piutang perusahaan negaraAdaerah yang pengurusan piutang diserahkan kepada PUPN% diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri 'euangan. Dengan demikian peraturan ini tidak memisahkan antara kekayaan BUMN Persero dan kekayaan Negara sebagai pemegang saham8 . (danya inkonsistensi mengenai konsep uang negara atau uang persero tersebut% pada akhirnya juga berpengaruh terhadap masalah permohonan kepailitan yang terjadi pada BUMN Persero. 'arena apabila mengikuti pola pikir UU 'N% maka terhadap BUMN Persero tidak dapat dipailitkan oleh siapapun karena menurut ketentuan Pasal /# huru- a UU PBN% pihak manapun dilarang melakukan penyitaan terhadap uang atau surat berharga milik negaraAdaerah baik yang berada pada instansi pemerintah maupun pada pihak ketiga . Padahal esensi dari kepailitan adalah adanya sita umum. ;etapi berdasarkan UU BUMN% UU P;% UU' dan P'PU % demikian juga berdasarkan teori badan hukum serta teori kuasa lingkungan maka terhadap BUMN Persero dapat dipailitkan seperti layaknya P; biasa. 6al ini juga diperkuat oleh Bat.a M( No.@'M(ACudA"#ADIIIA"##0 terkait dengan adanya kredit ma&et pada Bank bank BUMN pada tahun "##0 tersebut. 'arena adanya ketidakjelasan konsep tentang keuangan negaraAuang publik serta adanya inkonsistensi dalam aturan hukum tersebut maka mengakibatkan dalam praktik hukum timbul ketidakpastian hukum (un&ertainty)% multi ta-sir% bahkan masih terjadi debatable. Meskipun sudah diatur dalam UU' dan P'PU% ternyata dalam praktik masih terjadi penyimpangan. *ebagai &ontoh kasus% yang terjadi pada kasus kepailitan P;. Dirgantara Indonesia (Persero) (untuk selanjutnya disebut P;. DI (Persero) yang telah diputus pailit oleh Pengadilan Niaga <akarta Pusat dengan Nomor+ )1APailitA"##2 PN. NiagaA<kt. Pst% telah diputus pailit yang kemudian dibatalkan oleh M( dalam

putusannya Nomor+ #2/ 'APdt. *usA"##2. Berikutnya dalam kasus kepailitan atas P;. Iglass (Persero) dengan Putusan Pengadilan Niaga *urabaya Nomor+ #1APailitA"##!A PN% yang menolak permohonan pailit atas P; Iglass Persero dan Putusan Mahkamah (gung 4I Nomor+ $!2 'APdt.*usA"##!% mengabulkan P;. Iglass untuk dipailitkan oleh P; Inter&heem Plasagro <aya pada <uli "##!. Pada de.asa ini% sepanjang pengetahuan saya% belum menemukan yang se&ara khusus meneliti tentang 7'epailitan BUMN Persero8 dilakukan di Indonesia. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh sarjana lain% tesis% dan disertasi akan diuraikan di ba.ah ini dimaksudkan sebagai titik tolak sekaligus bahan perbandingan. Dalam bidang hukum 'epailitan% disertasi *unarmi dengan <udul 7Menuju 6ukum 'epailitan Cang Melindungi 'reditor dan Debitor8 . Penelitian dalam tesis saya yang berjudul 7'e.enangan Penyelesaian *engketa 'epailitan Berklausula (rbitrase (*tudi 'asus Putusan Pailit (ntara P;. En:ironmental Net.ork Indonesia Mela.an P;. Putra Putri Bortuna @indu . Disertasi M. 6adi *hubhan tentang 7Prinsip prinsip 6ukum 'epailitan8 . PenelitianAdisertasi *iti (nisah yang berjudul 7Perlindungan 'epentingan 'reditor dan Debitor Dalam 6ukum 'epailitan Di Indonesia8 . Disertasi ;ata @ijayanta% Uni:ersitas 'ebangsaan Malaysia (U'M) yang berjudul+ 7Penyelesaian 'es 'ebankrapan Di Pengadilan Niaga Indonesia Dan Mahkamah ;inggi Malaysia% *uatu 'ajian Perbandingan8. Beberapa sarjana yang melakukan penelitian terkait dengan BUMN dan kekayaan Persero% antara lain+ dalam Disertasi (minuddin% dengan judul 7Pri:atisasi BUMN (Persero)8 . PenelitianA;esis dari *ya-ardi% dengan judul 7*tatus 6ukum 'euangan Negara Cang Dipertanggungja.abkan 1leh BUMN+ (*tudi 'asus 'redit Bank Mandiri 'epada P; =FN P;. ;ahta Medan)8. ;esis tersebut menyimpulkan bah.a% sampai saat ini belum ada ketegasan pengertian 'euangan Negara terutama terkait dengan salah satu unsur dari pasal pasal UU P;P'% UUD )/ sebagaimana telah dilakukan ) kali amandemen tidak menyebutkan se&ara apa yang dimaksud dengan keuangan negara. . Berikutnya Disertasi @uri (driyani% dengan judul 7'edudukan Persero Dalam 6ubungan Dengan 6ukum Publik Dan 6ukum Pri:at8. 'esalahan dalam pengelolaan kekayaan persero dianggap merugikan negara . Berdasarkan uraian beberapa penelitian tersebut bah.a sejauh yang dapat saya ketahui selama ini masih belum terdapat penelitian yang menggali dan menganalisis se&ara mendalam terhadap masalah masalah BUMN Persero dalam 'epailitan. Berdasarkan pada alasan alasan tersebut saya berkeyakinan bah.a substansi penelitian dan penulisan disertasi ini memiliki nilai orisinalitas maupun aktualitas sebagai sebuah karya penelitian dan penulisan akademik. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka yang menjadi legal issue dalam penelitian ini adalah+

1. (pakah kekayaan BUMN Persero merupakan kekayaan negaraG ". (pakah BUMN Persero dapat dipailitkanG 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk + 1. Menggali% menganalisis dan membangun argumentasi baru tentang kedudukan kekayaan BUMN Persero dalam hukum keuangan publik dan mengenai Perbendaharaan Negara% serta mempertegas kembali tentang konsep 8keuangan negara8% khususnya pada BUMN Persero. ". Menggali% menganalisis dan membangun argumentasi baru mengenai esensi sita umum dalam kepailitan BUMN Persero serta proses dan pemberesan dalam kepailitan BUMN Persero. 1. . Man!aat Penelitian 6asil penelitian dari disertasi ini diharapkan dapat memberikan man-aat atau sumbangan berharga berupa+ 1. 'onsep pemikiran baik se&ara teoritikal maupun praktikal dalam pengembangan ilmu hukum dan peraturan perundang undangan dalam bidang hukum kepailitan% PerseroanAP;% BUMN% hukum perbendaharaan negara% hukum keuangan publik% khususnya dalam mempertegas kembali konsep 8keuangan negara8 atauAmembangun argumentasi baru mengenai kedudukan kekayaan BUMN Persero dan konsep keuangan negara% serta esensi sita umum atas kekayaan BUMN Persero. *ehingga diharapkan konsep ini akan mengubah berbagai peraturan peruu an di bidang 'euangan Negara ('N)% Perbendaharaan Negara (PBN)% dll. ". *ebagai sumbangan pemikiran tentang kemungkinan bagi upaya untuk mereposisi kembali pada masa mendatang mengenai norma norma tentang BUMN Persero serta adanya konsistensi dalam konsep kepemilikan BUMN Persero sebagai entitas pri:at yang harus dibedakan dengan konsep hukum publik sebagai bagian dari .ilayah hukum administrasi negara. $. 4e-erensi bagi pemerintah dalam melakukan harmonisasi peraturan perundang undangan antara bidang hukum keuangan publik dengan bidang hukum perseroan dan hukum kepailitan% khususnya re:isi terhadap UU 'N% UU PBN% khususnya yang berkaitan dengan pengertianAkonsep keuangan negara% kekayaaan negara yang dipisahkan dari (PBN% dan sita atas kekayaan BUMN Persero. 1.". Met#$e Penelitian 1.".1. Pen$ekatan masalah

;ipe penelitian ini adalah merupakan penelitian normati-% karena yang dikaji adalah -iloso-i dari norma norma yang terkait dengan pokok permasalahan yang diteliti% yaitu norma dalam bidang 6ukum 'euangan Negara% bidang Perseroan dan bidang 'epailitan. Pendekatan yang akan dilakukan untuk menganalisis kedua permasalahan hukum tersebut adalah pendekatan udang undang (statute approa&h)% pendekatan konseptual (&on&eptual approa&h)% dan pendekatan kasus (&ase approa&h) . 1.".2. %um&er &ahan hukum Bahan bahan hukum yang dipergunakan berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer terdiri dari peraturan perundang undangan% di bidang 'epailitan dan P'PU serta peraturan perundang undangan di bidang 'N% PBN% BUMN% P;% 'U6D% Putusan putusan 'epailitan pada BUMN Persero oleh Pengadilan Niaga maupun oleh Mahkamah (gung dalam tingkat 'asasi dan Peninjauan 'embali. Bahan hukum sekunder diperoleh dari buku teksAliteratur yang membahas mengenai kekayaan negara sebagai entitas publik maupun entitas pri:at% perbendaharaan negara% keuangan negara% badan usaha milik negara perum dan persero. Dalam entitas pri:at% misalnya tentang P;% BUMN Persero% kepailitan% tulisan tulisan hukum dan hasil hasil penelitian hukum maupun bidang ekonomi yang membahas tentang BUMN dan kepailitan dalam bentuk artikel maupun jurnal. *elain itu publikasi hukum dan ekonomi tentang BUMN Persero dan kepailitan melalui situs situs dan .ebsite pengadilan niaga% yakni http+AA....pengadilan niaga.go.idA% http+AA....hukumonline.&omA% serta kamus hukum juga akan dipergunakan untuk menterjemahkan terminologi terminologi asing. 1.".3. Pr#se$ur 'engum'ulan &ahan hukum Bahan hukum primer berupa peraturan perundang undangan di bidang BUMN dan kepailitan serta peraturan pelaksanaanya yang berkaitan dengan legal issue dikumpulkan melalui metode in:entarisasi dan kategorisasi. In:entarisasi bahan hukum ini dimulai dengan identi-ikasi bahan hukum dilanjutkan dengan klasi-ikasi atau pemilahan bahan hukum yang dilakukan se&ara sistematis dan logis. Bahan hukum akan diperoleh dari peraturan peraturan nasional. Disamping itu pula akan dikumpulkan putusan putusan peradilan niaga baik putusan pengadilan niaga ataupun putusan majelis pernigaan Mahkamah (gung 4epublik Indonesia dengan ;ermohon pailit atau Pemohon pailit adalah BUMN Persero. Pengumpulan putusan melalui buku himpunan putusan putusan pailit baik yang diterbitkan oleh Mahkamah (gung maupun oleh ;atanusa% melalui =D 4om yang dikompilasi oleh Pusat *tudi 6ukum dan 'ebijakan Indonesia (selanjutnya disebut P*6')% melalui do.nloading pada internet.

Bahan hukum sekunder dikumpulkan dengan sistem kartu &atatan% baik dengan kartu ikhtisar yang memuat ringkasan tulisan sesuai dengan aslinya% dan se&ara garis besar% kartu kutipan yang dipergunakan untuk men&atat pokok permasalahan yang diteliti% serta kartu ulasan yang berisi analisis atas masalah yang ditemukan. 1.". . Analisis &ahan hukum Bahan hukum primer dan sekunder yang telah terkumpul melalui in:entarisasi tersebut% kemudian dikelompokkan dan dikaji dengan pendekatan undang undang (statute approa&h) untuk memperoleh pengetahuan yang mendasar dari bahan hukum tersebut. Bahan bahan hukum tersebut bersi-at preskripti-. *ebagai ilmu yang bersi-at preskripti-% ilmu hukum mempelajari tujuan hukum% nilai nilai keadilan% :aliditas aturan hukum% konsep konsep hukum% dan norma norma hukum. *ebagai ilmu terapan ilmu hukum menetapkan standar prosedur% ketentuan ketentuan rambu rambu dalam melaksanakan aturan hukum. *i-at preskripti- keilmuan hukum ini merupakan sesuatu yang substansial di dalam ilmu hukum . *etelah itu bahan hukum yang telah diklasi-ikasikan tersebut kemudian dianalisis% dikaji dan dipelajari dengan membandingkan dengan doktrin% teori dan prinsip hukum yang dikemukakan para ahli% berdasarkan penalaran atau logika dalam argumentasi hukum. (nalisis dilakukan untuk menemukan kebenaran pragmatis dan atau koherensi. 1.(. %istematika Penulisan *istematika penulisan Disertasi ini disusun menjadi beberapa bab. Dia.ali dengan Bab I% Pendahuluan. Pada bab I ini menjelaskan se&ara umum hal hal yang menjadi ?atar Belakang Masalah% 4umusan Masalah% ;ujuan dan Man-aat Penelitian% Metode Penelitian serta *istematika Penulisan. Uraian Bab I ini merupakan landasan sekaligus sebagai penuntun dalam rangka untuk memahami substansi pada bab bab selanjutnya. Bab II% Prinsip dan 'arakteristik BUMN Persero di Indonesia. Dalam Bab II ini dia.ali dengan uraian mengenai+ *ejarah dan Bentuk BUMN% BUMN sebagai Badan hukum dan syarat badan hukum. *elanjutnya tentang Prinsip BUMN yang berisi pengertian% -ungsi dan tujuan serta prinsip dasar BUMN. Berikutnya adalah tentang 'arakteristik BUMN Persero. Pemaparan dimulai dari Pembentukan BUMN Persero melalui Penyertaan Modal Negara% *umber sumber penyertaan Modal Negara% Perbandingan antara BUMN Persero dengan Perseroan ;erbatas% Modal% Prinsip kepengurusan satu organ% Berlakunya hukum pri:at pada Persero% 'ekayaan BUMN Persero dalam separate legal entity% Pertanggungja.aban terbatas pada saham dan diakhiri dengan uraian mengenai 6ak hak negara sebagai pemegang saham. Bab III% 6ukum 'euangan BUMN Persero. Uraian pada Bab III ini dia.ali dengan Paradigma 'euangan Negara yang diurai dalam 4uang ?ingkup

'euangan Negara dalam Undang undang dan 'euangan Negara menurut doktrinAahli hukum. Berikutnya adalah uraian mengenai 6ak menguasai Negara dalam 'euangan Publik yang terdiri dari 'onsep 6ukum 'euangan Publik dan *tatus 6ukum 'ekayaan BUMN Persero. Bab ID% BUMN Persero Dalam 'epailitan. Pembahasan ini dia.ali dengan ;injauan umum tentang 'epailitan yang berisi syarat pailit% pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit% dan akibat hukum kepailitan. Berikutnya adalah membahas legal issue dalam disertasi ini yaitu mengenai (spek 6ukum BUMN Persero yang dipailitkan. Pembahasan ini diurai dalam BUMN Persero yang dapat dipailitkan% Pihak yang dapat mengajukan kepailitan BUMN Persero% 'edudukan 6ukum Direksi BUMN Persero dalam kepailitan% ;erhadap 'ekayaan BUMN Persero dapat dilakukan *ita Umum dalam 'epailitan. ;erakhir dalam bab ID ini adalah merupakan kajian terhadap putusan putusan pailit atas BUMN Persero yaitu khususnya analisis terhadap kasus 'epailitan P;. DI Persero ("##0 "##2) dan terhadap putusan pailit atas P;. IF?(** (Persero) tahun "##! "#1#% juga perbandingan antara kedua kasus kepailitan tersebut. Cang sebelumnya dia.ali dengan analisis se&ara umum terhadap permohonan pailit atas BUMN Persero sebelumnya (antara lain P;. Dok dan 'apal 'odja Bahari% P;. 6utama 'arya Persero% P;. (suransi <i.a Indonesia (<(*IND1). Bab D. Merupakan bab Penutup% yang meliputi+ 'esimpulan dan *aranA rekomendasi atas masalah yang diteliti dalam disertasi ini. 'esimpulan merupakan intisari dari keseluruhan substansi disertasi yang dirumuskan dalam kalimat sederhana dan singkat% sedangkan saranArekomendasi merupakan usulan peneliti yang bertitik tolak dari pokok pokok kesimpulan.

)). PR)N%)P DAN *ARA*TER)%T)* BUMN PER%ER+ D) )ND+NE%)A 2.1. %ejarah $an Bentuk BUMN ".1.1. *ejarah BUMN Pengaturan BUMN sudah dilakukan sejak tahun 1!0#% yaitu Undang undang Nomor 1! Prp. ;ahun 1!0# dengan tujuan mengusahakan adanya keseragaman dalam &ara mengurus dan menguasai serta bentuk hukum dari Badan Usaha Negara yang ada. Pada tahun 1!0! ditetapkan Undang undang Nomor ! ;ahun 1!0!. Dalam Undang undang ini BUMN disederhanakan menjadi tiga bentuk yaitu Perusahaan <a.atan (Perjan) yang tunduk pada Indonesis&he Bedrij:en.et (*tbl 1!"2+ )1!)% Perusahaan umum (Perum) yang tunduk pada Undang Undang Nomor 1! Prp. ;ahun 1!0#% Perusahaan Perseroan (Persero) yang tunduk pada 'U6D (*tbl. 19)2+ "$) khususnya pasal pasal yang mengatur perseroan terbatas yang telah diganti dengan Undang undang Nomor 1 ;ahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas dan saat in telah diubah dengan Undang undang Nomor )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas.

*ebagai peraturan pelaksana dari ditetapkan Undang undang Nomor ! ;ahun 1!0! ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor $ ;ahun 1!9$ jo. Peraturan Pemerintah Nomor 1" ;ahun 1!!9 tentang Persero% Peraturan Pemerintah Nomor 1$ ;ahun 1!!9 tentang Perum dan Peraturan Pemerintah Nomor 0 ;ahun "### tentang Perjan. 'etentuan tersebut sekarang telah diperbaiki dengan Undang undang Nomor 1! ;ahun "##$ tentang Badan Usaha Milik Negara (?embaran Negara ;ahun "##$ No. "#% ;ambahan ?embaran Negara )"!2). *ebelum ada Inpres No. 12 ;ahun 1!02 dan UU No. ! ;ahun 1!0!% hanya dikenal satu bentuk usaha negara yaitu perusahaan negara yang diatur oleh UU No. 1! Prp. ;ahun 1!0# tentang Perusahaan Negara (UU Perusahaan Negara) . Namun ada badan usaha negara yang karena -ungsi dan si-atnya dianggap khusus maka tidaklah ditundukkan pada UU No. 1! Prp. ;ahun 1!0# % akan tetapi diatur tersendiri% misalnya Perusahaan Pertambangan Minyak dan Fas Bumi Negara (PE4;(MIN(). <adi bentuk Persero tidak dipakai pada PE4;(MIN(. PE4;(MIN( merupakan usaha negara yang khusus% dan didirikan berdasar UU No. 9 ;ahun 1!21. 'ekhususan PE4;(MIN( adalah bahan galian strategis% yang dijadikan sumber in&ome negara yang utama. PE4;(MIN( juga harus menjadi penyedia kebutuhan bahan bakar migas dalam negeri. Utnuk itu kegiatan usaha PE4;(MIN( diproteksi hanya untuk negara . Pada tahun 1!9$ krisis harga minyak terjadi. *ubsidi dari PE4;(MIN( berkurang% sementara keuntungan dari Persero belum dapat menggantikan PE4;(MIN(. Berdasarkan hal itu diterbitkan PP No. $ ;ahun 1!9$ tentang ;ata =ara Pembinaan Dan Penga.asan Perjan% Perum dan Persero jo. PP No. "9 ;ahun 1!9$. ;ujuan peraturan ini adalah peningkatan kinerja dengan mekanisme korporasi. Namun masih harus perlu diperhatikan terkait dengan PP ini karena ternyata dalam PP tersebut peran peran BUMN masih saling bertentangan atau ada &on-light o- interest dan pengaturannya masih terlalu umum berlaku untuk ketiga bentuk badan usaha tidak hanya untuk Persero saja sebagaimana diatur dalam Pasal 1 (yat ("). 6asil dari PP No. $ ;ahun 1!9$ jo. PP No. "9 ;ahun 1!9$ &ukup menggembirakan. *tuktur hukum dan permodalan Persero sedikit demi sedikit diubah dalam rangka kemandiriannya agar tidak membebani negara. Melalui PP No. // ;ahun 1!!# tentang Persero yang Menjual *ahamnya 'epada Masyarakat melalui Pasar Modal jo. PP No. /! ;ahun 1!!0% khusus bagi Persero go publi& berlaku beberapa ketentuan yang dirasa mengikat Persero. *elanjutnya berdasarkan Pasal "1 (yat (1) UU No. 2 ;ahun 1!!" tentang Perbankan% UU No. 1) tahun 1!02 di&abut berlakunya dan semua bank milik negara ditetapkan menjadi Persero. Perubahan besar terhadap Persero terjadi setelah terbitnya UU No. 1 ;ahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas. *elain itu keikut sertaan Indonesia dalam -orum

regional maupun multilateral terkait dengan adanya globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan% telah merubah perspekti- kebijakan negara terhadap perseroan. Penyesuaian pengaturan Persero pertama kali dilakukan dengan PP No. /! tahun 1!!0 tentang Perubahan PP No. // ;ahun 1!!#. Perubahan yang dilakukan berdasarkan Pasal 1 PP No. /! ;ahun 1!!0 adalah dimungkinkannya bagi Persero go publi&% untuk memiliki jumlah direksi sesuai dengan kebutuhan% dan minimal dua orang. 'etentuan ini merupakan kelengkapan yang -inal untuk kemandirian persero. Pada akhirnya seluruh penyesuaian untuk Persero disatukan dalam satu PP No. $ tahun 1!9$ diubah dalam tiga buah Peraturan Pemerintah% yang memisahkan pengaturan untuk masing masing bentuk usaha negara. Persero terkait dengan karakter khususnya sebagai P; yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki negara melalui penyertaan modal% se&ara khusus diatur dalam PP No. 1" ;ahun 1!!9 tentang Persero. Perum diatur dalam PP No. 1$ tahun 1!!9 tentang Perusahaan Umum (Perum) dan Perjan diatur dalam PP No. 0 ;ahun "### tentang Perusahaan <a.atan (Perjan). PP No. 1" tahun 1!!9 juga dapat dikatakan sebagai embrio re-ormasi untuk merubah Persero menjadi mandiri. PP ini juga merupakan dasar hukum bagi persero untuk melakukan e-isiensi dengan &ara go publi& sampai dengan jumah )!3. Perubahan terhadap PP No. 1" tahun 1!!9 dilakukan dengan PP No. )1 ;ahun "##1. Perubahan dilakukan dengan memberikan keleluasaan penuh pada 4UP* terkait pemberhentian Direksi dan atau 'omisaris sebelum selesai masa tugasnya . Perubahan lain melalui PP No. 0) tahun "##1% 'edudukan% ;ugas dan 'e.enangan Menteri 'euangan selaku 4UP*APemegang *aham dialihkan kepada Menteri BUMN. Bersamaan dengan itu 'eppres No. ""9AM tahun "##1% 'antor Menteri Negara BUMN dibentuk. Perkembangan hukum pada persero dimulai kembali setelah terjadi krisis ekonomi dunia pada tahun "##". (rahan IMB ter&ermin pada masterplan BUMN "##" untuk melakukan pri:atisasi bagi Persero yang sehat. E-isiensi melalui pri:atisasi telah banyak dilakukan pada periode ini. Dasar hukum yang dipakai adalah tetap menga&u pada PP No. // ;ahun 1!!# jo. PPNo. /! ;ahun 1!!0 dan PP No. 1" tahun 1!!9 jo. PP No. )/ tahun "##1. 'emudian pada tahun "##$% terbit " (dua) undang undang yang saling terkait yaitu UU No. 1! ;ahun "##$ tentang BUMN dan UU No. 12 tahun "##$ tentang 'euangan Negara (selanjutnya disebut UU 'euangan Negara). Dalam UU BUMN ini menghilangkan bentuk Perjan. Dengan demikian usaha negara hanya berbentuk Perum dan Persero. Untuk kategori Persero masih ditetapkan sama dengan Pasal 1 angka " PP No. 1" tahun 1!!9% sebagai usaha negara yang minimal modalnya dimiliki negara sebesar /1 3 dengan bentuk P;.

Bersamaan dengan ini% PE4;(MIN( diubah bentuknya menjadi Persero berdasarkan PP No. $1 tahun "##$ tentang Pengalihan Bentuk PE4;(MIN( menjadi Persero PE4;(MIN(. PE4;(MIN( menjadi pro-it oriented dan berdasarkan Pasal 0 PP No. $1 tahun "##$% tetap harus menjalankan tugas menyediakan dan mendistribusikan BBM untuk kebutuhan dalam negeri . Pada perkembangan berikutnya beberapa peraturan pelaksanaan UU BUMN diterbitkan% antara lain+ PP No.)1 tahun "##$ tentang Pelimpahan 'e.enangan Menneg BUMN% yang menggantikan PP No. 0) ;ahun "##1, PP No. )) tahun "##/ tentang ;ata =ara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada BUMN dan P;. 2.1.1. Bentuk,&entuk BUMN Bentuk BUMN mengalami perubahan. Pada a.alnya ada banyak bentuk% kemudian di sederhanakan berdasarkan Pasal 1 UU No. ! tahun 1!0! tentang Bentuk bentuk Usaha Negara menjadi $ (tiga) buah bentuk Badan 6ukum dalam Badan Usaha Milik Negara yaitu Perusahaan Perseroan (Persero)% Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan <a.atan (Perjan). Bentuk bentuk badan hukum ini didasarkan pada si-at usaha dan maksud didirikannya BUMN tersebut. 'husus untuk Pertamina yang juga merupakan salah satu BUMN gabungan antara Permina% Permigan dan Pertamin diatur khusus dalam UU No. 9 tahun 1!21 tentang Migas dan kemudian diganti dengan UU No. "" tahun "##". *elanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal ! UU No. 1! ;ahun "##$% BUMN terdiri dari Persero dan Perum. *elanjutnya Persero dibedakan menjadi Persero (tertutup) dan Persero ;erbuka. *elanjutnya akan diuraikan bentuk bentuk BUMN yang pernah ada di Indonesia sebagaimana berikut ini+ 1. Perjan atau Perusahaan -a.atan Perjan mempunyai makna sebagai publi& ser:i&e yang berarti memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan memegang syarat syarat e-isiensi dan e-ekti-itas. Perjan merupakan bagian dari departemenA direktorat jendralA direktoratA pemerintahan daerah sehingga antara perjan dan publik terdapat suatu hubungan yang berupa layanan bagi publik karena sebagaimana Pasal " (yat 1 PP No. 0 tahun "### dikatakan bah.a maksud dan tujuan dari Perjan adalah menyelenggarakan kegiatan usaha yang bertujuan untuk keman-aatan masyarakat umum. 2. Perum atau Perusahaan Umum

Perum digunakan untuk menjalankan usaha untuk kepentingan umum (kepentingan produksi% distribusi dan konsumsi se&ara keseluruhan) dan untuk memupuk keuntungan dan biasanya bergerak di bidang jasa :ital (publi& utilities). Perum pada dasarnya menyediakan jasa barang atau jasa :ital untuk kepentingan umum. Namun pemerintah dimungkinkan untuk menetapkan beberapa usaha yang bersi-at publik utility tanpa membentuk suatu perusahaan negara% misalnya dengan bantuan modal s.asta. Dalam me.ujudkan maksud dan tujuannya% Perum dapat memperoleh dana langsung dari (PBN% dengan demikian Perum harus tunduk pada ketentuan mengenai pelaksanaan (PBN. Namun% Perum dimungkinkan untuk menerima dana di luar (PBN% seperti mengejar keuntungan. Mengejar keuntungan bagi Perum% seperti pada penjelasan umum UU BUMN angka DII% adalah untuk mempertahankan eksistensinya guna menjaga kemandiriannya dalam melaksanakan keman-aatan umum% agar bisa hidup berkelanjutan. 3. Perser# atau Perusahaan Perser#an Perseroan pada hakekatnya adalah entitas usaha biasa yang kekayaannya (saham) terpisah dari kekayaan negara% dengan kepemilikan saham baik seluruhnya atau sebagian oleh Negara. ;erhadap persero berlaku prinsip prinsip yang terdapat dalam UU No. 1 tahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas. Dengan demikian pelaksanaan penyertaan modal negara ke dalam Persero juga tunduk pada ketentuan UU No. 1 tahun 1!!/ yang sekarang telah diubah lagi menjadi UU No. )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas. Pada UU No 1! tahun "##$ tentang BUMN% Persero sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka " adalah BUMN yang berbentuk Perseroan ;erbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit /1 3 sahamnya dimiliki oleh negara yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Berdasarkan de-inisi diatas% dapat ditarik unsur unsur yang melekat di dalam Persero% yakni 1).Persero adalah badan usaha% ("). Persero adalah Persero ;erbatas. Mengingat persero adalah P;% pendiriannya dan pengelolaan Persero tunduk pada UU No. 1 tahun 1!!/ sebagaimana telah diubah dengan UU No. )# tahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas (selanjutnya disebut UU P;)% dengan beberapa penge&ualian. Pasal $ UU BUMN dan penjelasannya menyebut kan bah.a BUMN% dalam hal ini Persero% tunduk pada UU No. 1 tahun 1!!/ termasuk perubahannya (jika ada) dan peraturan pelaksanaan. *alah satu penge&ualian ketentuan UU No. 1 ;ahun 1!!/ mensyaratkan minimal ada dua orang pemegang saham (Pasal 2 (yat (1) UU P;). Maksud dan tujuan pendirian Persero berdasarkan ketentuan Pasal 1" UU BUMN adalah+ menyediakan barang danAatau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Berdasarkan

ketentuan Pasal 1$ UU BUMN% organ Persero adalah 4UP*% direksi% dan komisaris. 2.1.2. BUMN %e&agai Ba$an Hukum Dalam teori hukum suatu organisasi atau lembaga dapat menjadi subyek hukum sama halnya seperti manusia% ketika ia memenuhi persyaratan tertentu baik yang ditetapkan se&ara -ormal dengan sistem tertutup oleh hukum positi- atau peraturan perundang undangan maupun sistem terbuka yang dianut oleh Pasal 10/$ B@. Dalam kaitan dengan konstruksi badan hukum% hubungan antara teori hukum dan hukum positi- merupakan suatu hubungan dialektis. ;eori hkum merupakan teori dari gejala hkum positi- (positi:e re&ht:ers&hijnsel) dalam kehidupan masyarakat yang tidak dapat dikesampingkan guna men&apai kesempurnaan pengertian suatu badan hukum. 1leh karena itu tinjauan mengenai badan hukum hendaknya tidak saja dilihat dari segi hukum positi-% tetapi tinjauan tersebut harus pula melihat segi teoritisnya . (pabila ditinjau dari sudut hukum yang menguasai dikenal ada " (dua) jenis badan hukum yaitu badan hukum publik dan badan hukum pri:at. Pertama% badan hukum publik% mempunyai ke.enangan mengeluarkan kebijakan publik% baik yang mengikat umum (misalnya undang undang perpajakan) maupun yang tidak mengikat umum (misalnya Undang undang (PBN). *elanjutnya negara sebagai badan hukum publik tidak mungkin melaksanakan ke.enangannya tanpa melalui organnya yang di.akili oleh pemerintah sebagai otoritas publik. Negara dapat mendirikan badan hukum publik (daerah) maupun mendirikan badan hukum perdata (Persero). 'edua% badan hukum pri:at% tidak mempunyai ke.enangan mengeluarkan kebijakan publik yang dapat mengikat masyarakat umum. Badan hukum perdataApri:at ini tidak mempunyai ke.enangan membentuk badan hukum publik% maupun mengeluarkan kebijakan publik yang mengikat umum. 2.1.2.1. %/arat &a$an hukum Mengenai syarat badan hukum se&ara khusus tidak diatur% akan tetapi kita dapat merujuk pada ketentuan Pasal 10/$ B@ (Bab kesembilan) tentang Perkumpulan . Dalam pasal 10/$ B@% yang merupakan peraturan umum menyebut adanya tiga ($) ma&am perkumpulan (badan hukum)% ialah + yang diadakan oleh kekuasaan umum, perkumpulan yang diakui oleh kekuasaan umum, perkumpulan yang diperkenankan atau untuk suatu maksud tertentu yang tidak berla.anan dengan Undang undang atau kesusilaan. Pasal 10/$ B@ ini ternyata mengatur baik badan hukum publik maupun badan hukum pri:at . (kan tetapi tidak memberikan perbedaan antara korporasi dengan pemisahan kekayaan suatu tujuan tertentu% karena selainnya menyebut tentang pekumpulan dari orang orang% juga tentang lembaga umum yang diadakan

(ingesteld) oleh kekuasaan umum. Mengenai Cayasan% undang undang sama sekali tidak menyebutnya dan demikian juga mengenai perseroan. 'arena itu adalah berlebih lebihan% jika terhadap pasal 10/$ B@ dikatakan sebagai peraturan dasar atau ketentuan umum bagi badan hukum . ?agi pula% lebih dari seratus tahun yurisprudensi dan literatur tidak memberikan pandangan dan pendapat yang jelas mengenai pertanyaan+ sampai sejauhmana pengertian 85edelijk li&haam8 dengan 8re&htspersoon8 itu jatuh bersamaan . Menurut (li 4idlo% ketentuan dalam Pasal 10/$ B@ yang diterjemahkan oleh *ubekti ada satu yang salah dalam menerjemahkannya yaitu 5edelijkli&haam diterjemahkan menjadi badan susila% tetapi jelas yang dimaksud ialah badan hukum (re&ht person)% bukan perkumpulan . (ri-in P. *oeria (tmadja % memaknai keberadaan Pasal 10/$ B@ tentang suatu badan hukum dengan ber&irikan pada+ (1) badan hukum didirikan atau diadakan oleh penguasaApemerintah% sebagai &ontoh+ daerah didirikan dengan UU% misalnya pendirian 'abupaten. ("). Badan hukum diakui oleh penguasa% &ontohnya *ubak di Bali. ($). Badan hukum dengan konstruksi keperdataan% misalnya dengan perjanjian pasal 1$"# B@. ;erkait dengan hak dan ke.ajiban anggota organ badan hukum% berdasarkan Pasal 100# B@ diatur menurut ketentuan yan diadakan oleh pemerintah atau reglemen atau oleh suatu badan hukum itu sendiri. (pabila aturan yang akan diberlakukan pemerintahApenguasa tidak ada% yang dipakai ialah yang ditentukan dalam Bab IH% Buku III 'U6 Perdata. Pasal 10/$ B@ ini tidak se&ara tegas dan jelas bentuk yuridisnya landasan pendirian badan hukum yang khususnya dilakukan oleh pemerintah. Pasal 10/$ ini bersi-at open sistem% oleh karena itu landasan yuridis pendirian tersebut dapat saja dilakukan dengan atau dalam bentuk undang undang% peraturan pemerintah atau keputusan presiden. 6al tersebut berlaku juga untuk penguasa di daerah tentunya. Untuk badan hukum melalui konstruksi hukum perdata% telah ditetapkan dalam undang undang tersendiri% misalnya perseroan terbatas dengan Undang undang No. )# ;ahun "##2% badan hukum perkoperasian dengan Undang undang No. "/ ;ahun 1!!$ dan lain sebagainya. BUMN dan BUMD diatur dalam undang undang yang bersi-at umum seperti Perjan dalam IB@ maupun dalam undang undang atau peraturan pemerintah yang se&ara khusus diterbitkan untuk menidirkan setiap masing masing BUMN atau peraturan daerah untuk mendirikan BUMD . 2.1.2.2. Te#ri &a$an hukum Untuk men&ari dasar hukum dari badan hukum timbul beberapa teori mengenai badan hukum% antara lain + 1. ;eori -i&tie dari :on *a:igny

". ;eori harta kekayaan bertujuan (doel:ermongens theorie) dari Brin5. $. ;eori organ dari 1tto :on Fierke. ). ;eori propierete &elle&ti:e dari Planiol (ge5amenlijke :ermongens I theori Molengraa-). *e&ara ringkas dari keempat teori mengenai badan hukum tersebut diatas dapat disimpulkan bah.a teori propiete &olle&ti:e berlaku untuk korporasi% badan hukum yang mempunyai anggota% tetapi untuk yayasan teori ini tidak banyak artinya. *ebaliknya teori harta kekayaan bertujuan (doel:ermongens theorie) ini tepat untuk badan hukum Cayasan yang tidak mempunyai banyak anggota. ;etapi teori -i&tie yang memperumpamakan badan hukum seolah olah sebagai manusia itu berarti sebenarnya tidak ada% sedangkan sebaliknya teori organ memandang badan hukum itu suatu realitas yang sebenarnya sama dengan manusia. Dalam doktrin badan hukum atau re&htpersoon (&orpus habere) mempunyai hak dan ke.ajiban yang sama dengan subjek hukum lainnya seperti manusia atau natuurlijke persoon. 1leh karena itu% sangat tipis didepan hukum untuk membedakan hak dan ke.ajiban kedua subjek tersebut.. Meskipun badan hukum tidak dalam pengertian jus gentium% sebagaimana halnya subjek hukum manusia% diperlukan persyaratan tertentu untuk dapat dikatan memiliki re&htbe:oegdheid atau kemampuan hukum (Pasal "! 'U6 Perdata) . Menurut doktrine syarat syarat (unsur unsur) yang dapat dipakai sebagai kriteria untuk menentukan adanya kedudukan sebagai suatu badan hukum atau re&htpersoon agar memiliki kemampuan hukum selain memenuhi syarat -ormal yuridis juga memenuhi ) syarat (materiil)% yaitu+ (1). memiliki kekayaanA keuangan terpisah% ("). memiliki tujuan tertentu% ($). memiliki kepentingan tertentu% dan ()). mempunyai kepentingan tertentu

2.1. *arakteristik BUMN Perser# 2.1.1. Pem&entukan BUMN Perser# Melalui Pen/ertaan M#$al Negara Dalam Pasal ) (yat (1) UU BUMN disebutkan bah.a modal Persero berasal dari uangAkekayaan Negara yang dipisahkan. Dalam konsep hukum perseroan pemisahaan kekayaan Negara yang kemudian dimasukkan dalam modal Persero disebut sebagai penyertaan modal. Dalam konsep hukum publikAhukum administrasi% penyertaan modal negara adalah pemisahaan kekayaan negara. Untuk itu diperlukan prosedur administrasi sesuai dengan aturan aturan pengelolaan kekayaan negara. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 2 PP No. )) ;ahun "##/ tentang ;ata =ara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara pada BUMN dan Perseroan ;erbatas% bah.a 7Penyertaan Modal Negara adalah pemisahan kekayaan negara dari (nggaran

Belanja dan Pendapatan Negara atau penetapan &adangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN danAatau Perseroan ;erbatas lainnya% dan dikelola se&ara korporasi8. *elanjutnya dalam Pasal ) PP No. )) ;ahun "##/ menentukan bah.a% setiap penyertaan dari (PBN dilaksanakan sesuai ketentuan bidang keuangan negara. Berdasarkan ketentuan Pasal ) (yat ($) UU BUMN penyertaan dari (PBN harus digunakan Peraturan Pemerintah (PP) . Untuk penyertaan negara yang tidak berasal dari (PBN% pada penjelasan Pasal ) (yat (/) UU BUMN ditegaskan dapat dilakukan dengan keputusan 4UP* atau Menteri Negara BUMN dan dilaporkan kepada Menteri 'euangan. Penyertaan modal berdasarkan Pasal / PP No. )) ;ahun "##/ dapat dilakukan oleh negara antara lain dalam hal (a). pendirian BUMN atau Perseroan ;erbatas. Pendirian Persero adalah merupakan bagian dari penyertaan modal. *ebelum sebuah 7penyertaan8 menjadi modal Persero% diperlukan adanya syarat kajian yang mendalam tentang pentingnya 7penyertaan8 tersebut dilakukan. 'ajian ini dilakukan $ (tiga) menteri yakni oleh Menteri 'euangan% Menteri Negara BUMN dan Menteri ;eknis. *e&ara rin&i prosedur 7penyertaan8 diatur Pasal 1# (yat (1) sampai (yat ()) PP Nomor )) ;ahun "##/ ;entang ;ata =ara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara Pada BUMN Dan Perseroan ;erbatas. Proses berikutnya% adalah diatur dalam Pasal 1" PP Nomor )) ;ahun "##/ bah.a berdasar kajian yang layak tersebut kemudian Presiden menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pendirian Persero% yang memuat pendirian% maksud dan tujuan% dan jumlah kekayaan yang dipisahkan untuk modal Persero. <umlah antara 7penyertaan negara8 dengan modal harus sama. Dalam PP pendirian juga dimuat bah.a penyertaan modal Negara adalah kekayaan Negara yang dipisahkan yang berasal dari (PBN ;ahun (nggaran tertentu. Berdasarkan PP Pendirian ini% Menteri Negara BUMN me.akili Negara% menghadap notaris untuk memenuhi tata &ara pendirian sebuah Perseroan ;erbatas. 6al hal yang termuat dalam PP Pendirian akan dimuat dalam (nggaran Dasar Persero. 'edudukan Menteri Negara BUMN me.akili negara sebagai pemegang saham% merupakan delegasi ke.enangan dari Presiden% namun proses peralihan ke.enangan tidak terjadi langsung dari Presiden kepada Menteri Negara BUMN (Pasal 0 UU BUMN). Menteri 'euangan selanjutnya melimpahkan sebagian kekuasaan pada Menteri Negara BUMN% dan atau kuasa substitusinya% bertindak untuk dan atas nama negara sebagai pemegang saham. Pelimpahan ini diatur Pasal 1 PP Nomor )1 ;ahun "##$ tentang Pelimpahan 'edudukan% ;ugas Dan 'e.enangan Menteri 'euangan Pada Perusahaan Perseroan (Persero)% Perusahaan Umum (Perum) Dan Perusahaan <a.atan (Perjan) 'epada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara 7. *etelah proses pemisahaan kekayaan negara melalui PP Pendirian selesai dilakukan% pendirian Persero selanjutnya dilakukan melalui prosedur hukum pri:atAhukum perseroan. Melalui prosedur hukum ini berubahlah penyertaan negara menjadi modal Persero yang ber.ujud saham saham. *ejak Persero berdiri

berdasarkan hukum pri:atAperseroan% Persero dianggap mempunyai hak dan ke.ajiban sendiri lepas dari negara. ;anggal pengesahan pendirian Persero oleh Menteri 6ukum dan 6(M 4I% merupakan tanggal pemisahan tanggung ja.ab antara pemegang saham dengan Persero sebagai badan hukum (separate legal entity). Dalam hukum perseroan sebelum memperoleh status badan hukum% negara% direksi dan komisaris bertanggung ja.ab pribadi atas perbuatan hukum perseroan . Menurut (ri-in P. *oeria (tmadja % bah.a telah terjadi trans-ormasi hukum publik ke hukum pri:at yakni ketika terjadi transaksi% maksudnya adalah ketika telah ada akte pendirian P; maka sejak saat itulah telah dikuasai oleh hukum pri:at yakni hukum perseroan. 'arena pembuatan akte pada hakekatnya adalah merupakan suatu kontrakAperjanjian% dan kontrak itu adalah merupakan suatu perbuatan hukum pri:at. 2.1.2. %um&er,sum&er Pen/ertaan M#$al Negara *umber utama penyertaan Negara adalah (PBN% disamping sumber lainnya. Pada Pasal 1 angka 2 UU 'N diatur bah.a yang dimaksud (PBN adalah ren&ana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DP4. (PBN ditetapkan tiap tahun% yang berisi anggaran pendapatan% anggaran belanja% dan pembiayaan. Pendapatan negara adalah hak pemerintah% sedang belanja adalah ke.ajiban pemerintah . *umber sumber dana untuk penyertaan negara pada BUMN diatur dalam Pasal ) (yat (") UU Nomor 1! ;ahun "##$ tentang BUMN sebagai berikut+ bah.a penyertaan modal negara dalam rangka pendirian atau penyertaan pada BUMN bersumber dari+ (a). (nggaran Pendapatan dan Belanja Negara ((PBN)% (b). kapitalisasi &adangan, (&). sumber lainnya% yaitu antara lain adalah keuntungan re:alusai aset. Pasal " (yat (") PP Nomor )) ;ahun "##/ memberikan pengaturan tambahan lebih luas bah.a sumber yang berasal dari (PBN untuk BUMN meliputi+ (a). dana segar, (b). proyek proyek yang dibiayai oleh (PBN, (&). piutang negara pada BUMN atau Perseroan ;erbatas % (d). aset aset negara lainnya. Berdasar pengaturan ini maka terdapat dua ma&am penggunaan 7penyertaan modal negara8. Pertama% 7penyertaan modal negara8 yang digunakan pemerintah untuk mendirikan perusahaan% dan kedua 7penyertaan modal negara8 yang disebut hanya dengan penyertaan saja. 'arena terkait (PBN% maka semua penyertaan ini harus digunakan Peraturan Pemerintah (PP)% kemudian untuk penyertaan yang berasal dari kapitalisasi &adangan dan sumber lainnya% dilakukan dengan 4UP* atau oleh Menneg BUMN . *umber sumber lain yaitu keuntungan re:aluasi aset, dan agio saham . Penjelasan Pasal ) (yat (/) UU BUMN menegaskan bah.a apabila sumber sumber dana ini akan dijadikan penyertaan% tidak perlu dilakukan dengan Peraturan Pemerintah% sebab berdasarkan Penjelasan Pasal ) (yat (") bah.a sumber dana ini telah terpisah dari (PBN.

;erkait sumber sumber ini terdapat beberapa kemungkinan penggunaan. *e&ara tegas penggunaan sumber sumber ini harus dibedakan% sebab akan terkait dengan pertanggungja.aban keuangan yang berbeda pula. Perlu diketahui bah.a% -okus pengaturan UU BUMN dan peraturan pelaksanaannya adalah hanya pada tata &ara penyertaan% sehingga diperlukan Peraturan Pemerintah (PP). Dalam penjelasan Pasal ) (yat (1) UU BUMN menegaskan hal ini% bah.a sesudah proses penyertaan% pembinaan dan pengelolaan keuangan BUMN tidak lagi didasarkan pada mekanisme (PBN% tetapi didasarkan pada prinsip prinsip perusahaan yang sehat. Batasan penggunaan mekanisme (PBN adalah pada penggunaan dana tersebut. (pabila kemudian dana dana tersebut di atas tidak dijadikan penyertaan modal% tetapi murni untuk membiayai proyek proyek pemerintah yang dilaksanakan oleh BUMN% maka pertanggungja.abannya adalah pertanggungja.aban sesuai asas asas pengelolaan keuangan negara. Dalam hal ini kedudukan BUMN adalah sebagai pengguna anggaranApengguna barang . ".1.$. Perbandingan antara BUMN Persero dengan P; Bah.a ada dua karakter utama yang terdapat dalam P;% yaitu (1). statusnya sebagai badan hukum yang mempunyai kekayaan terpisah (separate legal entity) dan ("). modal yang terbagi atas saham saham (shares). Pada karakter pertama% kekayaan terpisah atau separate legal entity% penting diadopsi untuk menghilangkan birokrasi dan rigiditas% yang menjadi problem pengembangan Perusahaan Negara. Dengan separate legal entity% Persero dapat memisahkan diri dari pengaruh negara% dapat melakukan tindakan hukum dalam lingkup hukum pri:at (pri:atre&hthandeling) atau melakukan bisnis (bisnis5akelijk) tanpa diganggu birokrasi. Pada karakter kedua% adopsi bah.a modal Persero juga diinginkan terbagi atas saham seperti pada P;% merupakan solusi tepat dari permasalahan in:estasi negara pada usaha patungan atau joint :enture. Dalam joint :enture% jumlah modal yang diin:estasikan oleh para pihak dan kontribusi manajerial seringkali sulit die:aluasi% sehingga sering terjadi perselisihan. Dengan saham pembagian keuntungan menjadi jelas% sebab semua keuntungan dibagi se&ara jelas dalam bentuk de:iden. 2.1.3.1. BUMN Perser# )$entik $engan PT (pakah BUMN Persero itu sebenarnya suatu bentuk tersendiri yang sama dengan P; ataukah BUMN Persero itu 7identik8 dengan P;. Untuk menja.ab pertanyaan ini sebaiknya lihat kembali pada ?ampiran Inpres No. 12 tahun 1!02% khususnya pada poin " yang menyatakan bah.a 7status hukumnya sebagai badan hukum perdata yang berbentuk Perseroan ;erbatas8. 'emudian dalam Pasal " UU No. ! ;ahun 1!0! dinyatakan bah.a 7Persero8 adalah perusahaan dalam bentuk Perseroan ;erbatas seperti diatur menurut ketentuan ketentuan 'itab Undang undang 6ukum Dagang ('U6D% *tb. 19)2+ "$% sebagaimana yang telah beberapa

kali diubah dan ditambah)% baik yang untuk saham sahamnya untuk sebagian maupun seluruhnya dimiliki negara8. Peraturan Pemerintah No. 1" tahun 1!0! dalam Pasal 1% menyebutkan bah.a bentuk Persero sebagai 7Perseroan ;erbatas8. PP tersebut melaksanakan UU No. ! ;ahun 1!0! menyebutnya Perusahaan Perseroan ;erbatas (P;) dan Perseroan (Persero) tidak ada bedanya% hanya yang terakhir ini disebut dengan Perusahaan Perseroan (Persero) dikarenakan adanya uang negara yang telah disisihkan khusus untuk itu dengan peraturan perundang undangan yang berlaku. Dalam penjelasan umum PP No. 1" ;ahun 1!0!% dinyatakan bah.a PP ini tidaklah dimaksudkan untuk dijadikan suatu peraturan perundang undangan 7suigeneris8 bagi Persero disamping ketentuan ketentuan yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas sebagaimana termaktub dalam 'itab Undang undang 6ukum Dagang (*tbl. 19)2+ "$). Dalam Pasal 1 angka 1 UU P; disebutkan% Perseroan ;erbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal didirikan berdasarkan perjanjian% melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang undang serta peraturan pelaksanaannya. Berdasarkan uraian tersebut% saya sependapat dengan 4udhi Prasetya dan (ri-in P. *oeria (tmadja bah.a Persero itu tidak lain adalah identik dengan Perseroan ;erbatas (P;). (palagi dalam UU P; No. )# tahun "##2 Pasal 1 angka 1 tersebut jelas jelas menyebut Perseroan ;erbatas dengan kata 7Perseroan8% demikian juga dalam penjelasan umumnya. Dalam Pasal / PP No. 1" tahun 1!0!% dinyatakan akta pendiriannya harus di buat di hadapan notaris. Dalam hubungan ini% Pasal $ jo. Pasal / nya menunjuk Menteri 'euangan atau Menteri yang bidangnya sesuai dengan tujuan dan lapangan usaha Persero sebagai yang diserahi kekuasaan oleh Menteri 'euangan atau Menteri yang bidangnya sesuai dengan tujuan lapangan usaha Persero sebagai yang diserahi kekuasaan oleh Menteri 'euangan me.akili negara sebagai pendiri. Dalam praktik% bahkan diikuti pula prosedur dimintakan pengesahan Menteri 'ehakiman% dida-tarkan di Pengadilan Negeri dan diumumkan dalam ;ambahan Berita Negara sebagaimana P; biasa. 2.1.3.2. Tata 0ara 'en$irian BUMN Perser# ;ata &ara pendirian BUMN Persero pada dasarnya sama dengan tata &ara pendirian sebuah P;. 6al ini merupakan konsekuensi hukum pengaturan Pasal 1 angka " jo. Pasal 11 UU BUMN% pada BUMN Persero berlaku prinsip prinsip hukum P;. Persamaan tersebut% adalah mulai dari pembuatan akta notaris% pengesahan Menkum dan 6(M 4I% penda-taran perusahaan dan pengumuman pada ;ambahan Berita Negara.

'emudian di dalam Pasal 11 disebutkan% terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 1 tahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas. Berdasarkan Pasal 10# Undang undang Nomor )# tahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas% maka sejak tanggal 10 (gustus "##2 UU No. 1 ;ahun 1!!/ mengenai P; sudah tidak berlaku lagi. *ehingga ketentuan Pasal 11 UU BUMN ini kemudian tentunya menga&u pada ketentuan yang baru yaitu UU No. )# tahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas. <adi berdasarkan ketentuan Pasal 11 UU BUMN jo. Pasal 10# UU No. )# tahun "##2% tentang P; maka untuk pendirian BUMN Persero berlakulah semua ketentuan yang ada dalam Bab II (Pasal 2 "!) UU No. )# tahun "##2% tentang P;. ;ata &ara pendirian P; yang diatur oleh UU P; merupakan standar yang harus diikuti bagi semua badan usaha yang akan mengambil karakter P; sebagai suatu badan hukum (legal entity). 1leh karena itu pendirian suatu perseroan harus memenuhi syarat syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 2 yang telah ditetapkan% antara lain bah.a + JPerseroan didirikan dua orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia8. ".1.$.$. 'etentuan khusus atau Penge&ualian dalam Pendirian BUMN Persero Pada prinsipnya seluruh ketentuan yang mengatur mengenai pendirian Perseroan adalah sama dengan pendirian P;. Namun demikian bila dikaji lebih dalam memang ada satu ketentuan khusus yang merupakan penge&ualian bagi Perseroan. Perbedaan tersebut adalah terkait dengan jumlah pendiri atau pemegang saham dan dari mana asal modal tersebut atau siapa pemilik modal% sebagaimana diatur dalam Pasal 2 (yat (2) poin (a) UU P; yang baru yakni Undang undang Nomor )# tahun "##2. 'etentuan ini lahir sebagai re:isi terhadap UU P; No. 1 tahun 1!!/ yang sebelumnya tidak mengatur hal ini% jadi Pasal 2 (yat (2) huru- (a) ini merupakan ketentuan baru yang telah disesuaikan dengan UU BUMN. Di dalam UU P; terdapat beberapa ketentuan yang merupakan penge&ualian atau dapat juga dikatakan sebagai penyimpangan. 'husus untuk pendirian Persero yang seluruh sahamnya dimiliki negara (selanjutnya dikategorikan P; ;ertutup)% dalam UU P; terdapat pengaturan khusus yang berbeda dengan UU P; tahun 1!!/ yang telah di&abut berlakunya dengan UU No. )# tahun "##2 tentang P;. Pengaturan ini merupakan pengaturan perke&ualian yang hanya berlaku bagi P; P; yang seluruh sahamnya dimiliki Negara% disamping P; P; yang mengelola bursa e-ek% lembaga kliring dan penjaminan% lembaga penyimpanan dan penyelesaian% dan lembaga lain yang diatur Undang undang Pasar Modal. Di dalam Pasal 2 (yat (2) UU P; ditentukan bah.a+ 7'etentuan yang me.ajibkan Perseroan didirikan oleh " (dua) orang atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (1)% dan ketentuan pada ayat (/)% serta ayat (0) tidak berlaku bagi +

a. Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh negara, atau b. Perseroan yang mengelola bursa e-ek% lembaga kliring dan penjaminan% lembaga penyimpanan dan penyelesaian% dan lembaga lain sebagaimana diatur dalam Undang Undang tentang Pasar Modal8. Berdasarkan pengaturan ini% dapat dikatakan bah.a pengaturan Pasal 2 (yat (1) UU P; mengenai syarat pendirian P; 7dua orang atau lebih8 tidak diperlukan pada pendirian Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh negara% tetapi tetap berlaku untuk Persero yang hanya sebagian saja modalnya dimiliki negara (selanjutnya dikategorikan menjadi P; ;erbuka). Pengaturan Pasal 2 (yat (2) UU P; merupakan pengaturan perke&ualian. Pengaturan demikian tentu menyimpangi konsep perseroan sebagai asosiasi modal. Berdasarkan pengaturan ini pula Pasal 2 (yat (/) dan (yat (0) UU P; menjadi tidak berlaku. *elain itu Pasal 2 (yat (2) huru- (a) UU P; juga bertentangan dengan Pasal $0 (yat (1) UU P; yang menentukan bah.a% 7perseroan dilarang mengeluarkan saham untuk dimiliki sendiri8. Penerbitan saham adalah suatu upaya pengumpulan modal dimana dalam Pasal 1 angka 1 UU P; ditentukan dengan tegas bah.a 7P; adalah badan hukum persekutuan modal8% dan oleh karena itu .ajar apabila penyetoran saham saham seharusnya dilakukan oleh banyak pihak. Dalam Penjelasan Pasal 2 (yat (2) UU P; ditegaskan bah.a pengaturan demikian berlatar belakang karena status dan karakteristik yang khusus dari P; yang akan didirikan. *ebagai asumsi sementara dapat dikatakan bah.a pendirian Persero dengan seluruh saham milik negara% sengaja tidak didasari oleh alasan asosiasi modal% tetapi hanya mengambil man-aat dari karakter sebuah P;. Untuk itu tata&ara pendiriannya persis sama dengan tata&ara pendirian P; umumnya. Persero demikian dapat disejajarkan dengan pendirian P; ;ertutup atau one man business% yang memang tidak berkehendak adanya partisipasi pihak luar. 6al inilah yang dimaksudkan dalam Penjelasan Pasal 2 (yat (2) UU P; dengan penyebutan mempunyai 7status dan karakteristik yang khusus8. 'arena kekhususan ini pulalah maka pendirian Persero dapat didirikan oleh Menteri Negara BUMN saja.

".1.1. Modal BUMN Persero Mengenai modal BUMN Persero seluruhnya atau minimal /13 merupakan milik negara yang berasal dari kekayaan negara yang telah dipisahkan. *ebagai dasar hukum modal Persero adalah UU BUMN Pasal 1 angka " jo. Pasal ) dan penjelasannya serta Pasal $) untuk Perseroan ;erbuka berlaku UU No. )# tahun "##2 tentang P;. Dalam Pasal 1 angka " UU BUMN disebutkan bah.a perusahaan perseroan yang selanjutnya disebut Persero% adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit /1 3

sahamnya dimiliki Negara 4epublik Indonesia yang tujuannya mengejar keuntungan. *elanjutnya Pasal ) (yat (1) menyatakan bah.a modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Cang dimaksud dengan 7kekayaan negara yang dipisahkan8 adalah pemisahan kekayaan negara dari (nggaran Pendapatan dan Belanja Negara ((PBN) untuk dijadikan penyertaan modal negara (PMN) pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem (nggaran Pendapatan dan Belanja Negara% namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip prinsip perusahaan yang sehat. Mengenai penyertaan modal negara ke dalam BUMN diatur oleh Pasal ) (yat (") UU BUMN jo. Pasal 1 angka 2 jis. Bab II (Pasal 1# 1$) PP Nomor )) ;ahun "##/ tentang ;ata&ara Penyertaan Dan Penatausahaan Modal Negara Pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan ;erbatas. Penyertaan modal negara dalam rangka pendirian atau penyertaan pada BUMN bersumber dari+ (a).(nggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (b).'apitalisasi &adangan. (&). *umber lainnya% antara lain adalah keuntungan re:aluasi aset danAatau agio saham. Penyertaan Modal Negara (PMN) adalah pemisahan kekayaan negara dari (PBN atau penetapan &adangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN danAatau P; lainnya% dan dikelola se&ara korporasi. *etiap penyertaan modal negara dalam rangka pendirian BUMN atau P; yang dananya berasal dari (PBN ditetapkan dengan PP. 6al ini se&ara khusus diatur dalam Pasal ) (yat ($) UU BUMN. Pemisahan kekayaan negara untuk dijadikan penyertaan modal negara ke dalam modal BUMN hanya dapat dilakukan dengan &ara penyertaan langsung negara ke dalam modal BUMN tersebut% sehingga setiap penyertaan tersebut perlu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). *ebagai tindak lanjut dari ketentuan Pasal ) (yat ($) UU BUMN% dibentuklah PP 4epublik Indonesia Nomor )) ;ahun "##/ tentang ;ata&ara Penyertaan Dan Penatausahaan Modal Negara Pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan ;erbatas% yang ditetapkan pada tanggal "/ 1ktober "##/% dalam ;ambahan ?embaran Negara 4epublik Indonesia Nomor )///. Demikian juga% setiap ada perubahan penyertaan modal negara% baik berupa penambahan maupun pengurangan% termasuk perubahan struktur kepemilikan negara atas saham Persero atau Perseroan ;erbatas% ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) . Penambahan penyertaan dari kapitalisasi &adangan dan sumber lainnya &ukup dengan keputusan 4UP*A Menteri dan dilaporkan kepada Menteri 'euangan karena pada prinsipnya kekayaan negara tersebut pada prinsipnya telah terpisah dari (PBN .

*elanjutnya% karena menurut Pasal 11 UU BUMN menyatakan bah.a terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas sebagaimana diatur dalam UU No. 1 tahun 1!!/ tentang P; yang telah di &abut berlakunya berdasarkan Pasal 10# UU No. )# ;ahun "##2 tentang P;% maka segala hal yang terkait dengan ketentuan mengenai modal BUMN selain berlaku ketentuan Pasal 1 angka " jo. Pasal ) (yat (1) (0) UU BUMN juga berlaku semua ketentuan mengenai modal dalam UU P; No. )# tahun "##2. Dalam Bab III UU P; No. )# tahun "##2 mengatur mengenai Modal dan *aham (Pasal $1 )2 mengatur tentang Modal) dan (Pasal )9 0" tentang *aham). Pasal $1 UU P; menyebutkan modal perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham% tetapi tidak menutup kemungkinan peraturan perundang undangan dibidang pasar modal mengatur modal perseroan terdiri atas saham tanpa nilai nominal. Modal Perseroan paling sedikit berjumah 4p /#.###.###% % tetapi dalam undang undang yang mengatur kegiatan usaha tertentu dapat menentukan jumlah minimum modal perseroan yang lebih besar daripada ketentuan modal dasar tersebut sehingga pengaturan minimum dalam Undang undang Perseroan ini merupakan bagian modal yang harus dimiliki oleh para pendiri. Modal perseroan dibedakan menjadi $ (tiga)% yaitu + Modal dasar ((uthori5ed =apital atau EKuity)% modal yang ditempatkan (Issued &apital)% modal yang disetor (Paid up =apital). ".1.". 'epengurusan *atu 1rgan Dalam BUMN Persero Persero adalah badan hukum yang berbentuk P;. 'epengurusan P; dilakukan oleh suatu Jorgan>% yaitu lembaga tersendiri yang mempunyai kedudukan terpisah dari para pemegang saham . Demikian juga dengan Persero. Berdasar Pasal 1$ UU BUMN jo. Pasal 1 angka " UU P;% 1rgan PerseroA P; terdiri dari 1) 4UP*, (") Direksi, dan ($) De.an 'omisaris. 'edudukan negara pada persero adalah pemegang saham. *ebagai pemegang saham% negara dapat menyalurkan kepentingannya melalui 4UP*. 'edudukan negara terpisah dari direksi persero% yaitu sebagai organ yang menjalankan kepengurusan yang dilakukan direksi persero. Negara tidak dapat ikut &ampur dalam kepengurusan yang dilakukan direksi persero. Negara dapat ikut &ampur dalam persero% hanya dengan &ara menggunakan hak haknya sebagai pemegang saham dalam 4UP*. Pasal 1 (yat ()) (yat (0) UU P; memberikan de-inisi tentang ketiga lembaga atau organ organ ini sebagai berikut+

4apat Umum Pemegang *aham (4UP*) adalah organ perseroan yang mempunyai .e.enang yang tidak diberikan kepada direksi atau de.an komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang undang ini danAatau anggaran dasar. Direksi adalah organ perseroan yang ber.enang dan bertanggung ja.ab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan% sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta me.akili perseroan% baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. De.an 'omisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan penga.asan se&ara umum danAatau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi. Dalam konsep hukum perseroan% hubungan hukum organ organ Persero yaitu 4UP*% direksi dan de.an komisaris berdiri sendiri sendiri. Berhasil tidaknya suatu persero bergantung pada organ organ ini. Masing masing organ mempunyai ke.enangan dan tanggung ja.ab sendiri menurut dan dalam batas yang diatur dalam UU P; dan (nggaran Dasar. 'edudukan ketiganya adalah sejajar atau neben dan bukan untergeordnet . Pengaturan umum organ perseroan diatur dalam UU P;% sedangkan lebih detil diatur dalam (nggaran Dasar perseroan yang umumnya disesuaikan dengan spesi-ikasi masing masing usaha perseroan. ".1.".1. 'e.enangan dan tanggung ja.ab direksi dalam hal kepailitan BUMN Persero 'husus mengenai kedudukan direksi berdasarkan Pasal !" (yat (1) UU P; diatur bah.a% 7direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan8. Penjelasan Pasal !" (yat (1) UU P; menegaskan bah.a% 7ketentuan ini menugaskan direksi untuk mengurus perseroan yang antara lain meliputi pengurusan sehari hari dari perseroan8. Maksud pengurusan sehari hari tidak dijelaskan oleh UU P;. Namun dalam Pasal 1 angka 1" PP No. )/ ;ahun "##/ diatur bah.a% 7Pengurusan adalah kegiatan yang dilakukan oleh direksi dalam upaya men&apai maksud dan tujuan perusahaan8. Berdasar pengaturan pengaturan di atas dapat dikatakan% mengurus perseroan semata mata adalah ke.enangan penuh direksi yang tidak dapat di&ampuri organ lain. Pengaturan pengaturan ini juga memberikan pedoman kepada direksi agar di dalam mengurus perseroan selalu berorientasi pada maksud dan tujuan perseroan. Pada sisi lain kebebasan direksi dalam mengurus perseroan dijamin oleh Pasal !" (yat (") UU P; yang menentukan bah.a% direksi dalam pengurusan perseroan dapat mengambil kebijakan yang dipandangnya tepat% yang dalam sistem &ommon la. hal ini dikenal dengan 7duty to retain dis&retion 8. 'ebijakan yang dipandang tepat berdasar Penjelasan Pasal !" (yat (") UU P; adalah kebijakan yang didasarkan pada keahlian% peluang yang tersedia% dan kela5iman dalam dunia usaha yang sejenis. Pada Pasal !" (yat ($) UU P; ditentukan bah.a% direksi dapat terdiri dari satu orang atau beberapa orang. Dalam hal direksi terdiri atas

lebih dari satu orang maka salah satu diangkat sebagai direktur utama% dan selebihnya sebagai .akil .akil direktur . @e.enang direksi dalam pengurusan atau day to day operation perseroan dapat dikategorikan dalam tiga hal yaitu mengatur dan menyelenggarakan kegiatan kegiatan usaha perseroan, mengelola kekayaan perseroan, dan me.akili perseroan di dalam dan di luar pengadilan . Dari ketiga hal di atas dapat dikatakan bah.a direksi mempunyai " (dua) ma&am ke.enangan yaitu pengurusan dan per.akilan . *ehubungan dengan hal ini perlu diketahui bah.a pengurusan perseroan pada dasarnya adalah ke.ajiban semua anggota direksi tanpa ke&uali (&ollegiale bestuurs :erant.oordelij kheid). ;ermasuk sebagai ke.ajiban direksi dalam pengurusan atau day to day operation perseroan. *edangkan tanggung ja.ab direksi diatur dalam Pasal !2% 1##% 1#1% dan 1#" UU P; jo. Pasal 1!% "1% ""% "$% "0 UU BUMN . Direksi bertanggung ja.ab atas pengurusan perseroan. Pengurusan perseroan sebagaimana dimaksud% .ajib dilaksanakan setiap anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung ja.ab. (nggota direksi tidak dapat dipertanggungja.abkan atas kerugian perseroan apabila antara lain+ dapat membuktikan kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Dalam hukum perusahaan% dikenal adanya teori Business <udgment 4ule% yaitu suatu doktrin yang menetapkan bah.a direksi suatu perusahaan tidak bertanggung ja.ab atas kerugian yang timbul dari suatu tindakan pengambilan keputusan apabila tindakan direksi tersebut didasari itikad baik dan si-at kehati hatian. Dengan prinsip ini% direksi mendapatkan perlindungan sehingga tidak perlu mendapat justi-ikasi dari pemegang saham atau pengadilan atas keputusan mereka dalam pengelolaan perusahaan UU P; ini pada dasarnya menganut sistem per.akilan kolegial% yang berarti tiasp tiap anggota direksi ber.enang me.akili perseroan. Namun% untuk kepentingan perseroan% anggaran dasar dapat menentukan bah.a perseroan di.akili oleh anggota direksi tertentu . Business jugment rule ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan bagi direksi agar dalam melakukan tugasnya tidak perlu takut terhadap an&aman tanggung ja.ab pribadi. Dengan kata lain% business jugment rule mendorong direksi untuk lebih berani mengambil resiko daripada terlalu hati hati . Menurut ;aKyudin 'adir% direksi tidak perlu takut mengambil keputusan bisnis sepanjang keputusan yang diambil berdasarkan itikad baik dan tidak melanggar -idu&iary duty serta berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku . Prinsip tersebut juga men&erminkan asumsi bah.a pengadilan tidak dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam bidang bisnis ketimbang direksi. 6al ini disebabkan para hakim pada umumnya tidak memiliki ketrampilan kegiatan

bisnis dan baru mulai mempelajari permasalahan setelah terjadi -akta -akta. Namun business jugment rule hanya berlaku terhadap pertimbangan atau keputusan bisnis% termasuk keputusan untuk tidak bertindak. Prinsip tersebut tidak dapat diterapkan ketika tidak ada keputusan bisnis yang diambil. (kan tetapi% sejauhmana business jugment rule dapat diterapkan oleh pengadilan di luar konteks pengambilan keputusan% hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipastikan . *elanjutnya mengenai tanggung ja.ab direksi dalam hal kepailitan perseroan sebagimana diatur dalam Pasal 1#) (yat (1) (/) UU P;. Direksi tidak ber.enang mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri kepada pengadilan niaga sebelum memperoleh persetujuan 4UP*% dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam undang undang tentang kepailitan dan penundaan ke.ajiban pembayaran utang (UU' dan P'PU). Permohonan kepailitan diajukan ke pengadilan niaga. Dalam hal kepailitan terhadap perseroan karena kesalahan atau kelalaian direksi dan harta pailit tidak &ukup untuk membayar seluruh ke.ajiban perseroan dalam kepailitan tersebut% setiap anggota direksi se&ara tanggung renteng bertanggung ja.ab atas seluruh ke.ajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut. ;anggung ja.ab tersebut berlaku juga bagi anggota direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota direksi dalam jangka .aktu / (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diu&apkan. (nggota direksi tidak bertanggung ja.ab atas kepailitan perseroan apabila antara lain dapat membuktikan kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan penuh tanggung ja.ab untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Untuk membuktikan kesalahan atau kelalaian direksi% gugatan diajukan ke pengadilan niaga sesuai dengan ketentuan dalam Undang undang tentang 'epailitan dan Penundaan ke.ajiban Pembayaran Utang (UU' dan P'PU). 'eseluruhan ketentuan sebagaimana dimaksud diatas% berlaku juga bagi direksi dari perseroan yang dinyatakan pailit berdasarkan gugatan pailit pihak ketiga. ".1.".". 'e.enangan dan tanggung ja.ab komisaris dalam hal kepailitan Perseroan Dalam Pasal 1 angka 2 UU BUMN menyebutkan% komisaris adalah organ Persero yang bertugas melakukan penga.asan dan memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan persero. 6al ini sejalan dengan Pasal 1 angka 0 UU P; yang menyatakan bah.a de.an komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan penga.asan se&ara umum danAatau khusus sesuai dengan anggaran dasar s.erta memberi nasihat kepada direksi. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 0 UU P; dapat dikatakan bah.a adanya de.an komisaris merupakan keharusan .

*elanjutnya tugas komisaris diatur dalam Pasal $1 $" UU BUMN jo. Pasal 1#9 UU P;. Dalam Pasal $1 UU BUMN menyatakan bah.a komisaris bertugas menga.asi direksi dalam menjalankan kepengurusan Persero serta memberikan nasihat kepada direksi. 'omisaris dalam melakukan tugasnya berke.ajiban antara lain memberikan pendapat dan saran kepada 4UP* mengenai ren&ana kerja dan anggaran perusahaan yang diusulkan direksi, mengikuti perkembangan kegiatan persero% memberikan pendapat dan saran kepada 4UP* mengenai setiap masalah yang dianggap penting bagi pengurusan Persero, 'e.enangan komisaris yang diatur dalam UU P; adalah selaras dengan ketentuan dalam UU BUMN. ;ugas utama de.an komisaris berdasar Pasal 1#9 (yat (1) UUP; adalah melakukan penga.asan atas kebijakan pengurusan yang dijalankan direksi% dan memberi nasihat kepada direksi. Menurut Bred ;umbuan% de.an komisaris tidak mempunyai peran dan -ungsi eLe&uti:e. Meskipun dalam anggaran dasar ditentukan bah.a dalam hal hal tertentu direksi harus mendapat persetujuan de.an komisaris% namun persetujuan tersebut tidak termasuk pengurusan . De.an komisaris adalah organ penga.as mandiri yang tidak dikenal dalam sistem &ommon la.. Meskipun istilah Board o- Dire&tors pada sistem &ommon la. yang terbagi atas eLe&uti:eAmanaging dire&tors dan non eLe&uti:e dire&tors memberi kesan bah.a badan tersebut mirip de.an komisaris% namun kemiripan tersebut semu karena pada hakikatnya Board o- Dire&tors dimaksud adalah organ eLe&uti:e. 'e.enangan penga.asan yang diper&ayakan kepada de.an komisaris adalah demi kepentingan perseroan% bukan kepentingan pemegang saham. 6al ini ditegaskan dalam Pasal 1#9 (yat (") UU P; bah.a penga.asan yang dilakukan de.an komisaris bukan penga.asan yang me.akili pemegang saham. De.an komisaris bertanggung ja.ab atas penga.asan perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1#9 (yat (1) UU P; . *etiap anggota de.an komisaris .ajib dengan itikad baik% kehati hatian% dan bertanggung ja.ab dalam menjalankan tugas penga.asan dan pemberian nasihat kepada direksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1#9 (yat (1) untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan (ayat "). *etiap anggota de.an komisaris ikut bertanggung ja.ab se&ara pribadi atas kerugian perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (") tersebut. 'etentuan ini menegaskan bah.a apabila de.an komisaris bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya sehingga mengakibatkan kerugian pada perseroan karena pengurusan yang dilakukan oleh direksi% anggota de.an komisaris tersebut ikut bertanggung ja.ab sebatas dengan kesalahanatau kelalaiannya. Dalam hal de.an komisaris terdiri atas " (dua) anggota de.an komisaris atau lebih% tanggung ja.ab tersebut berlaku se&ara tanggung renteng bagi setiap anggota de.an komisaris .

(kan tetapi anggota de.an komisaris tidak dapat dipertanggung ja.abkan atas kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat $ apabila dapat membuktikan anatara lain telah melakukan penga.asan dengan itikad baik dan kehati hatian untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. *elanjutnya mengenai tanggung ja.ab komisaris dalam hal kepailitan diatur dalam Pasal 11/ (yat (1) ($) UU P;. Bah.a dalam hal terjadi kepailitan yang disebabkan oleh adanya kesalahan atau kelalaian de.an komisaris dalam melakukan penga.asan terhadap pengurusan yang dilaksanakan oleh direksi dan kekayaan perseroan tidak &ukup untuk membayar seluruh ke.ajiban perseroan akibat kepailitan tersebut% setiap anggota de.an komisaris se&ara tanggung renteng ikut bertanggung ja.ab dengan anggota direksi atas ke.ajiban yang belum dilunasi. Pasal 11/ (yat ($) UU P; menyebutkan% anggota de.an komisaris tidak dapat dimintai pertanggung ja.aban atas kepailitan perseroan apabila dapat membuktikan antara lain+ kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, telah melakukan tugas penga.asan dengan itikad baik% kehati hatian% untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. ".$./.$. 'e.enangan 4UP* dalam kepailitan BUMN Persero 4UP* adalah organ Persero yang memegang kekuasaan tertinggi dalam Persero dan memegang segala .e.enang yang tidak diserahkan kepada direksi atau komisaris% dalam batas yang ditentukan dalam UU P; danAatau anggaran dasar . 'e.enangan 4UP* adalam BUMN Persero diatur dalam Pasal 1) UU BUMN. Dalam Pasal 1) (yat (1) menyebutkan bah.a Menteri bertindak selaku 4UP* dalam hal seluruh saham Persero dimiliki oleh negara dan bertindak selaku pemegang saham pada Persero dan perseroan terbatas dalam hal tidak seluruh sahamnya dimiliki negara. Bagi Persero yang seluruh modalnya (1##3) dimiliki oleh negara% Menteri yang ditunjuk me.akili negara selaku pemegang saham dalam setiap keputusan tertulis yang berhubungan dengan Persero adalah merupakan keputusan 4UP*. Bagi Persero dan perseroan terbatas yang sahamnya dimiliki negara kurang dari 1##3% Menteri berkedudukan selaku pemegang saham dan keputusannya diambil bersama sama dengan pemegang saham lainnya dalam 4UP*. *elanjutnya Menteri dapat memberikan kuasa dengan hak substitusi kepada perorangan atau badan hukum untuk me.akilinya dalam 4UP*. Cang dimaksud 8perorangan8 adalah seseorang yang menduduki jabatan di ba.ah Menteri yang se&ara teknis bertugas membantu Menteri selaku pemegang saham pada Persero yang bersangkutan. Namun demikian% dalam hal dipandang perlu% tidak menutup kemungkinan kuasa juga dapat diberikan kepada badan hukum sesuai dengan peraturan perundang undangan .

Pihak yang menerima kuasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (")% .ajib terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Menteri untuk mengambil keputusan dalam 4UP* mengenai+(a). perubahan jumlah modal, (b). perubahan anggaran dasar% (&). ren&ana penggunaan laba% (d). penggabungan% peleburan% pengambilalihan% pemisahan% serta pembubaran% (e). in:estasi dan pembiayaan% (-). kerja sama Persero% (g). pembentukan anak perusahaan% dan (h). pengalihan akti:a. Meskipun kedudukan Menteri selaku .akil pemerintah telah dikuasakan kepada perorangan atau badan hukum untuk me.akilinya dalam 4UP*% untuk hal hal tertentu penerima kuasa .ajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari Menteri sebelum hal hal dimaksud diputuskan dalam 4UP*. 6al ini perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Meneteri mengingat si-atnya yang sangat sytrategis bagi kelangsungan persero. Dalam UU P;% 4UP* diatur dalam Bab DI% Pasal 2/ Pasal !1. Berdasarkan Pasal 1 (yat ()) UU P; dapat dikatakan bah.a 4UP* atau Feneral Meeting o*hareholders mempunyai kekuasaan yang tidak dimiliki oleh direksi dan komisaris. 6al ini tampak pada ke.enangan ke.enangan 4UP* yang memang tidak dapat diserahkan pada direksi dan komisaris antara lain+ mengangkat dan memberhentikan direksi dan komisaris, memperoleh semua keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan dari direksi dan atau komisaris, menetapkan perubahan anggaran dasar, dan menyetujui atau menolak konsolidasi% merger% akuisisi% kepailitan dan pembubaran perusahaan. 'e.enangan ke.enangan 4UP* tersebut adalah ke.enang an berdasarkan UU P;. *eperti diketahui% selain berdasarkan UU P;% ke.enangan ke.enangan organ perseroan juga diatur dalam anggaran dasar. 4UP* merupakan tempat para pemegang saham menyalurkan kepentingannya. 1leh karena itu keputusan keputusan penting terkait 7kepentingan pemegang saham8 harus melalui mekanisme 4UP*. Bred ;umbuan menyatakan bah.a% 4UP* adalah tempat para pemilik modal menentukan orang yang akan diper&aya mengurus perseroan yaitu direksi dan de.an komisaris . Pada sisi yang lain konstruksi 4UP* adalah sesuai dengan karakteristik P; sebagai asosiasi modal% yang memungkinkan saham dimiliki orang banyak. 4UP* merupakan lembaga yang dibentuk dengan tujuan agar pemegang saham tidak ikut &ampur se&ara langsung dalam kepengurusan P;. *elain itu 4UP* juga merupakan penghalang direksi agar direksi tidak bertindak se.enang .enang. 'e.ajiban menyelenggarakan 4UP* ada pada direksi dan de.an komisaris. Berdasarkan Pasal 9# (yat (1) UU P;% apabila direksi dan atau de.an komisaris menolak melakukan pemanggilan 4UP* dalam jangka .aktu yang ditentukan% pemegang saham yang meminta penyelenggaraan 4UP* dapat mengajukan permohonan kepada ketua Pengadilan Negeri untuk menetapkan pemberian i5in kepada pemohon melakukan sendiri pemanggilan 4UP*. 4UP* ber.ujud rapat pemegang saham. Namun khusus untuk Persero ;ertutup% yang seluruh sahamnya dimiliki negara% .ujud 4UP* tidak selalu dalam bentuk rapat pemegang saham. 1rgan 4UP* digantikan oleh Menteri Negara BUMN.

Penggantian ini tidak bersi-at prinsipiil% artinya bah.a penggantian ini tidak bertentangan dengan konsep 4UP* dalam hukum perseroan. 6al ini dilakukan untuk e-isiensi . Berdasarkan uraian uraian di atas dapat disimpulkan bah.a pada prinsipnya 4UP* mempunyai dua -ungsi yaitu + (1). sebagai lembaga kontrol dalam .ujud menerima pertanggung ja.aban direksi dan de.an komisaris, dan ("). sebagai tempat pemegang saham menyalurkan kepentingannya. ".1.$. Berlakunya 6ukum Pri:at pada BUMN Persero Untuk menja.ab pertanyaan sesungguhnya sampai sejauh mana berlakunya hukum pri:at pada Persero% bah.a memang ada beberapa hal atau aspek yang perlu dikemukakan terkait dengan keberlakuan hukum pri:at pada Persero% yaitu antara lain mengenai+ (1) pendirian persero% itu harus melalui akte notaris% (") dengan kepengurusan satu organ% yang terdiri dari $ organ yakni 4UP*% direksi dan de.an komisaris% dan ($) konsep negara sebagai pemegang saham. 'arena poin 1 dan " tersebut telah saya bahas sebelumnya pada poin ".$.$.". dan poin ".$./% maka disini saya langsung pada poin $ (ketiga)% tentang konsep negara sebagai pemegang saham. Mengenai keberlakuan hukum pri:at pada Persero adalah pada konsep negara sebagai pemegang saham. Bah.a dalam konsep Negara sebagai pemegang saham% ini terkait dengan $ hal yaitu bah.a + (1). 'ekayaan Persero dalam separate legal entity% ("). Pertanggungja.aban terbatas pada saham% ($). 6ak hak negara sebagai pemegang saham. J".1.1. 'ekayaan BUMN Persero dalam separate legal entity Pada Persero berlaku prinsip prinsip hukum P; (Pasal 1 angka " jo. Pasal 11 UU BUMN). Untuk itu seluruh si-at dan karakter P; sudah 7seharusnya8 menjadi si-at dan karakter Persero. 'emandirian P; yang tidak lain juga kemandirian Persero sebagai separate legal entity% memberi pemahaman bah.a 7penyertaan modal negara8 dalam Persero merupakan kekayaan Persero% dan bukan lagi kekayaan Negara. Menurut Pasal 1 angka 1 UU P;% P; ditentukan sebagai badan hukum atau legal entity atau re&htspersoon yang dibedakan dari natural person. 'etentuan ini penting sebab tidak semua badan usaha merupakan badan hukum. *ebagai &ontoh Maats&hap% perseroan Birma dan =ommanditaire Denoots&hap (=D) adalah bukan badan hukum. *tatus badan hukum diperoleh bila undang undang tegas menetapkan tentang hal itu. 1leh karena itu sebagai badan hukum P; dapat melakukan perbuatan perbuatan hukum seperti layaknya manusia dan dapat mempunyai harta kekayaan sendiri. Untuk memperjelas hal ini% akan saya uraikan sedikit tentang teori badan hukum. Bah.a badan hukum adalah segala sesuatu berdasarkan kebutuhan masyarakat yang oleh hukum diakui sebagai subyek hukum. ;eori teori hukum tentang badan hukum berusaha memberikan rasionalisasi yang mensejajarkan kedudukan badan

hukum dengan manusia. ;ujuannya adalah agar 7hak hak dan ke.ajiban8 yang dimiliki% atau 7perbuatan perbuatan hukum yang dapat dilakukan8 atau 7tanggung ja.abnya8 sama dengan manusia. Beberapa teori tentang badan hukum% misalnya oleh Don *a:igny dengan teori -iksi bah.a badan hukum adalah suatu -iksi% buatan pemerintah% tidak riil. 1leh karena itu dalam melakukan perbuatan hukum harus di.akili manusia . Dan Praag% menyatakan bah.a sesungguhnya dalam sistem hukum modern% badan hukum itu adalah suatu pengertian yuridis tertentu% yaitu adanya suatu badan yang diakui sebagai persoon yang dapat menjalankan tindakan hukum% terlepas dari manusia orang perorangannya . 4udhi Prasetya membedakan badan hukum publik (publiekre&htelijke re&htspersoon) dan badan hukum pri:at (pri:atre&htelijke re&htspersoon) . Pembedaan ini tidak penting% tetapi sangat berman-aat untuk mengetahui batas batas keberlakuan antara hukum pri:at dan hukum publik. Dikatakan bah.a dalam badan hukum pri:at se&ara otomatis hanya berlaku hukum pri:at% tetapi dalam badan hukum publik tidak berarti hanya berlaku hukum publik% sebagaimana dijelaskan :an Praag dalam bukunya 4udhi Prasetya tentang 'edudukan Mandiri P;. 'onsekuensi P; adalah badan hukum% memba.a dampak yang sangat kuat. P; harus dianggap sebagai subyek hukum yang mandiri (persona standi in judi&io). 'edudukan ini berakibat bah.a P; mempunyai ke.enangan sama seperti manusia atau 7ha:e same po.ers as an indi:idual to do all things ne&essary or &on:inient to &arry on business or a--airs8 . P; mempunyai hak dan ke.ajiban sendiri terpisah (separate) dari para pendirinya. 'edudukan pendiri adalah pemegang saham. 6utang P; adalah bukan hutang para pemegang saham. ;anggung ja.ab P; hanya terbatas pada jumlah saham yang ditanamkan pada P;. (.al mula pengakuan kemandirian P; atau a ne. legal entity seperate -rom its shareholders% digambarkan oleh Philip N. Pilai menga&u putusan hakim tahun 19!2 di Inggris pada kasus 7*alomon :. *alomon M =o ?td8 . Dalam kasus ini *alomon% a boot shoe manu-a&turer adalah sebuah -irma dan *alomon M =o ?td adalah P; (limited). Penjualan atau pengalihan (&on:ersion) bentuk -irma menjadi perseroan terbatas merupakan dasar (-oundation) hukum perusahaan modern (modern &ompany la.) . Melalui kasus ini dapat dipelajari bah.a Jsatu orang> saja &ukup untuk mengambil man-aat dari karakter separate legal entity dan sistem pertanggungan ja.ab terbatas (limited liabilty) yang dimiliki sebuah P;. ".1.". Pertanggungja.aban ;erbatas pada *aham *istem pertanggungja.aban terbatas hanya sampai harta P;% diatur Pasal $ (yat (1) UU P; bah.a+ 7Pemegang saham perseroan tidak bertanggung ja.ab se&ara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggung ja.ab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah diambilnya8. Penjelasan Pasal $ (yat (1) UU P; menyebutkan bah.a% 7ketentuan dalam Pasal $ (yat (1) mempertegas &iri perseroan terbatas% bah.a pemegang saham hanya

bertanggung ja.ab sebesar nilai saham yang diambilnya dan tidak meliputi harta kekayaan pribadinya8. Cang menjadi kun&i pokok dalam sistem pertanggungja.aban terbatas (limited liability) adalah memperke&il resiko kerugian pribadi yang mungkin timbul dari suatu jenis usaha. 'arena sistem inilah kemudian bentuk P;. banyak dipilih bahkan pemerintah pun memilih bentuk P; ini untuk PE4;(MIN( misalnya. Bahkan dapat saja seorang pemegang saham juga berkedudukan sebagai pemegang saham dari P; P; lain. *eorang pendiri% dalam hal ini negara dapat saja mendirikan dua% tiga atau lebih P; untuk satu jenis usahanya. *etelah kasus *alomon% para hakim baik di (merika maupun di beberapa negara &ommon la. system lain mengijinkan membuka sistem pertanggung ja.aban terbatas yang dikenal dengan 7&adar perseroan8 atau J&orporate :eil> dalam kondisi tertentu. *ebab dari kasus *alomon dipelajari bah.a telah terjadi penyalahgunaan konsep separate legal entity dan prinsip pertanggungan ja.ab terbatas (limited liability) dalam P;. Pier&ing the &orporate :eil tumbuh untuk mengantisipasi penyalahgunaan badan hukum yang dalam konsep hukum perseroan Belanda disebut dengan misbruik :an re&htpersonnen. Pier&ing the &orpoorate :eil telah diadopsi oleh Pasal $ UU P; ;ahun 1!!/ yang telah di&abut dan juga Pasal $ (yat (") UU P; yang baru No. )# ;ahun "##2. 'etentuan Pasal $ (yat (") tersebut dimaksudkan bah.a% pertanggungja.aban terbatas tidak berlaku apabila pemegang saham baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk meman-aatkan P; untuk kepentingan pribadi% dan atau pemegang saham terlibat dalam perbuatan mela.an hukum yang dilakukan P; dan atau pemegang saham baik langsung maupun tidak langsung se&ara mela.an hukum menggunakan kekayaan P; yang mengakibatkan kekayan P; menjadi tidak &ukup untuk melunasi hutang P;. Pengaturan Pasal $ UU P; merupakan pengaturan yang bersi-at pre:entiterhadap penyalahgunaan bentuk P; atau misbruik :an re&htpersonen. Dalam keadaan demikian apabila kekayaan P; atau Persero tidak &ukup untuk membayar utang utangnya% maka sudah se.ajarnya bila pemegang sahamAnegara harus trurut dipertanggungja.abkan se&ara pribadi. Di (merika *erikat% bila terjadi penyalah gunaan korporasi (abuse atau -raud o- the limited liabilty &orporatie)% maka :eil pier&ing berlaku% yang dengan kata lain tidak berlaku lagi pertanggungja.aban terbatas . Dalam hal kepailitan di Belanda diterbitkan undang undang yang dikenal @et op Misbruik :an 4e&htpersonen. Dalam undang undang ini diatur tentang tanggung ja.ab pengurus se&ara pribadi bila kekayaan perseroan tidak &ukup untuk membayar utang utangnya% tetapi harus dibuktikan hal hal berikut + pengurus nyata nyata tidak melaksanakan tugasnya se&ara pantas (.anneer het bestuur 5ijn taak kennelijk onbehoorlijk hee-t :er:uld)% dapat diperkirakan penyebab utama dari kepailitan adalah ketidak pantasan pengurus dalam menjalankan tugasnya (en aanemelijk is dat dit een belangrijke oor5aak is :an het -ailisement).

Pada sisi lain se&ara ekonomis sistem pertanggungja.aban terbatas P; merupakan stimulan untuk mendorong kesediaan seseorang menanamkan modalnya dalam P; . 'arena makna 7terbatas8 mangandung arti dua keterbatasan yaitu pada pada P; terbatas hanya sampai pada harta kekayaan P;% dan pada pemegang saham% terbatas pada sahamnya saja. 'euntungan lain dari sisi pertanggungja.aban terbatas P;% adalah bah.a pemegang saham pada saat menanamkan sahamnya pada sebuah P;% dapat memperhitungkan terlebih dahulu maksimal resiko kerugian yang mungkin terjadi. Untuk itu 4udhi Prasetya menuliskan bah.a pertanggung ja.aban terbatas adalah mutlak dilekatkan pada P; terkait dengan si-at P; sebagai asosiasi modal. ".1.$. 6ak hak Negara sebagai Pemegang *aham Penyetoran modal baik pada saat pendirian maupun saat penambahan modal P; merupakan suatu penyertaan yang hanya dapat dilakukan dalam bentuk pembelian saham saham. 'onsekuensi dari adanya lembaga saham ini% maka ketika negara menyertakan modalnya dalam Persero% harus pula dilakukan melalui 7pembelian saham saham8. Demi hukum kekayaan negara yang dipisahkan itu menjadi kekayaan Persero% bukan lagi menjadi kekayaan negara. 'edudukan negara sejak saat itu berubah menjadi pemegang saham yang kedudukannya sejajar dengan pemegang saham lain. Dalam kedudukan sebagai pemegang saham% negara dapat menggunakan hak haknya seperti pemegang saham umumnya. 6al tersebut diatur dalam UU P; dan anggaran dasar perseroan. Untuk Persero% maka negara sebagai pemegang saham diatur dalam UU P; dan anggaran dasar Persero. Isi anggaran dasar Persero sama dengan anggaran dasar P; umumnya% karena Depkum dan 6(M menetapkan a&uan standar pembuatan anggaran dasar P; yang berlaku untuk semua jenis P;. 6ak hak pemegang saham terkait dengan ke.enangan ke.enangan yang dimiki 4UP*% de:iden dan hak lain. 'e.enangan 4UP* pada umumnya terkait pada keberlangsungan perseroan. De:iden merupakan hak pemegang saham terkait keuntungan perseroan. 6ak lain terkait hak gugat pemegang saham perseroan. Dalam Pasal /" (yat (1) UU P; ditentukan bah.a saham memberikan hak hak mendasar terkait kepentingan pemegang saham pada perseroan yaitu% penggunaan hak suara% di:iden dan hak lain sebagai berikut+ menghadiri dan mengeluarkan suara dalam 4UP*, menerima pembayaran di:iden dan sisa kekayaan hasil likuidasi, dan menjalankan hak lainnya berdasarkan Undang Undang. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam 4UP* adalah hak pemegang saham terkait dengan ke.enangan 4UP* yang tidak diberikan pada direksi dan komisaris. 'e.enangan ke.enangan ini terkait dengan keberlangsungan perseroan antara lain+ mengubah anggaran dasar (Pasal 1! (yat (1) dan Pasal 99 UU P;)% menyetujui penggabungan% peleburan% pengambilalihan% atau pemisahan perseroan (Pasal 9! (yat (1) UU P;)% mengangkat dan memberhentikan direksi dan komisaris (Pasal !) (yat !1 jo. Pasal 111 (yat (1) UU P;), dan mengambil keputusan yang mengikat di luar 4UP*. (Pasal !1 UU P; dan penjelasannya).

Perubahan anggaran dasar merupakan hal penting terkait dengan tata organisasi perseroan. 1leh karena itu selain harus ditetapkan oleh 4UP*% perubahan anggaran dasar berdasarkan Pasal $# (yat (1) huru- b UU P; harus mendapatkan persetujuan Menkum dan 6(M dan diumumkan dalam ;ambahan Berita Negara. Penggunaan hak suara dalam 4UP* dipengaruhi oleh klasi-ikasi saham. (rtinya bah.a saham dengan klasi-ikasi berbeda memberikan hak yang berbeda pula pada pemegangnya. P; dapat mengeluarkan satu atau lebih klasi-ikasi saham. Bila anggaran dasar tidak menentukan lain% dianggap bah.a setiap saham yang dikeluarkan mempunyai satu hak suara atau one share one :ote (Pasal 9) (yat (1) UU P;). *elain hak suara dalam 4UP*% hak hak penting lain pemegang saham adalah keuntungan. (da tiga ma&am keuntungan yang dapat diharapkan oleh para pemegang saham yaitu (a). pembagian keuntungan tahunan yang disebut di:iden% (b). keuntungan dari &apital gain% khusus untuk P; terbuka% (&). pembagian sisa harta kekayaan P; dalam hal P; bubar. De:iden merupakan hak pemegang saham atas bagian keuntungan dari perseroan yang setiap akhir tahun dibagikan kepada para pemegang saham% namun demikian di:iden tidak selalu dapat dibagikan setiap tahun. Dalam Pasal 21 (yat (") UU P; ditentukan bah.a di:iden merupakan keseluruhan laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk &adangan sebagaimana yang dibagikan kepada pemegang saham. Pembagian sebagian atau seluruh laba bersih untuk di:iden% &adangan% danAatau pembagian lain seperti tantiem (tantieme) untuk anggota direksi dan de.an komisaris% serta bonus untuk karya.an% harus mendapatkan persetujuan 4UP*. Bila laba bersih perseroan tidak &ukup menutup kerugian tahun buku sebelumnya% perseroan tidak dapat membagi di:iden. ))). HU*UM *EUAN1AN BUMN PER%ER+ $.1. Paradigma 'euangan Negara Untuk menja.ab pertanyaan apakah yang dimaksud dengan istilah keuangan negara% dan dimanakah hal keuangan negara ini diatur% kita dapat merujuk pada ketentuan yang terdapat dalam Undang undang Dasar 1!)/ (selanjutnya disingkat UUD 1!)/). Mengenai keuangan negara dalam UUD 1!)/ diatur dalam Bab DIII% tentang hal 7'euangan8% Pasal "$ sebagai berikut + 1. (PBN ditetapkan tiap tiap tahun dengan Undang undang. (pabila DP4 tidak menyetujui anggaran yang diusulkan pemerintah% maka pemerintah menjalankan anggaran tahun lalu, ". segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang undang, $. ma&am dan harga mata uang ditetapkan dengan undang undang, ). hal keuangan negara selajutnya diatur dengan undang undang,

/. untuk memeriksa tanggung ja.ab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa 'euangan% yang peraturannya ditetapkan dengan undang undang. 6asil pemeriksaan itu diberitahukan kepada DP4. Dalam berbagai peraturan perundang undangan yang berkaitan dengan keuangan negara tidak pernah se&ara tegas mende-inisikan dan memberikan batas hukum keuangan negara. *ebelum ditetapkannya paket peraturan perundang undangan keuangan negara pada medio "##$ "##0 % Badan Pemeriksa 'euangan (selanjutnya disebut BP') sebagai lembaga pemeriksa eksternal pemerintah% mende-inisikan keuangan negara sebagai seluruh objek pemeriksaan BP' sebagaimana diatur dalam penjelasan Pasal " Undang undang Nomor / ;ahun 1!2$ tentang Badan Pemeriksa 'euangan (selanjutnya disebut UU BP'). Dengan kata lain% rumusan normati- mengenai keuangan negara tidak pernah ditentukan dalam ketentuan batang tubuhnya% tetapi terdapat pada penjelasannya . Menurut (ri-in P. *oeria (tmadja bah.a, 7peranan hukum keuangan negara pada saat ini tengah diuji untuk memberikan pemahaman yang komprehensi- teoritis praktis dalam proses pende.asaan sistem keuangan negara di Indonesia% khususnya dalam meneguhkan pengertian keuangan negara yang memihak pada konsepsi kemandirian badan hukum dan kebijakan otonomi daerah. Perubahan ketentuan dalam UUD 1!)/ dan peranan peraturan perundang undangan yang mengatur keuangan negara tidak memberikan kepekaan pada realitas tuntutan kemandirian badan hukum dan otonomi daerah sebagai suatu bentuk hasrat politik (politi&al .ill) yang diperlukan untuk menjalankan perubahan kebijakan keuangan negara yang berorientasi pada kemajuan dalam sistem keuangan negara8 . *elama ini terdapat pemahaman yang kurang tepat terhadap keuangan negara yang mengandung potensi mengurangi konsepsi berpikir atas man-aat dan hakikat keuangan negara. Bahkan hukum keuangan negara dalam tataran praktik menurut (ri-in% mengalami kemunduran (set ba&k)% yang menunjukkan terjadinya gejala konser:atisme dalam pembentukan peraturan perundang undangan yang mengatur keuangan negara yang dikha.atirkan akan memba.a akibat goyahnya pondasi keuangan negara sebagai tiang penyangga penyelenggara negara dalam memberikan pelayanan publik . 4uang lingkup keuangan negara ini dia-irmasi se&ara normati- dalam UU 'N% khususnya dalam Pasal ". 4uang lingkup keuangan negara yang diatur dalam Pasal " UU 'N tidak lagi bersi-at interpretasi ekstensi- % tetapi justru merupakan ketentuan yang bersi-at ekstensi-% yang dalam tataran rasional yuridis menjadi tidak logis dan mengandung paradoks di dalamnya. 4uang lingkup tersebut pada hakikatnya menunjukkan batas hukum keuangan negara yang justru menjadi tanpa batas dan mengesampingkan pembedaan antara hukum keuangan negara (publik)% baik yang diatur oleh negara maupun daerah% dan hukum keuangan pri:at. Bahkan% Pasal " UU 'N yang merumuskan se&ara lengkap keuangan negara &enderung menimbulkan kerugian keuangan negara dan membangkrutkan negara.

6al ini khususnya ditujukan pada Pasal " huru- (i) UU 'N% yang menyatakan salah satu arti keuangan negara adalah kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan -asilitas yang diberikan pemerintah. Dengan rumusan ketentuan tersebut% negara akan turut bertanggung ja.ab terhadap kekayaan pihak s.asta yang memperoleh -asilitas pemerintah. Pasal " huru- (i) ini tidak membedakan dengan se&ara tegas uang publik dan uang pri:at sehingga akan menyebabkan keuanganAkekayaan pemerintah tdak berbeda dengan uang keuanganA kekayaan pihak lain% &ontohnya Pertamina. Dengan demikian% apabila pihak s.asta yang memperoleh -asilitas pemerintah dalam keadaan insol:ensi% dan dinyatakan pailit% negara harus turut bertanggung ja.ab atas utang s.asta. 6al ini disebabkan kekayaan pihak lain yang dimilikinya itu diperoleh dengan menggunakan -asilitas yang diberikan Pemerintah. *ituasi seperti ini pernah dihadapi pemerintah dalam kasus P;. 'araha Bodas ('B=)% dimana Pertamina dituntut untuk membayar ganti rugi U*N "01 juta oleh 'B= atas proyek pengembangan Pembangkit ?istrik ;enaga Panas Bumi (P?;P) berdasarkan Energy *ales =ontra&t (E*=) yang ditunda salah satu proyeknya oleh pemerintah karena akan berpotensi negara menanggung kerugian yang diderita oleh perusahaan tersebut% termasuk uang !/3 milik pemerintah yang berada di negara (merika *erikat . 1leh sebab itu% perlu segera dilakukan penelaahan kembali terhadap keuangan negara yang proporsional. *aya sependapat dengan (ri-in P. *oeria (tmadja yang mengkritik ruang lingkup keuangan negara dalam Pasal " UU 'N sebagai konsep hukum yang men&ampuraduk kan de-inisi keuangan negara% keuangan daerah% keuangan BUMN% keuangan BUMD% bahkan keuangan badan badan lain yang memperoleh -asilitas dari pemerintah% di mana pengelolaan dan pertanggungja.aban keuangannya telah diatur se&ara rin&i dalam peraturan perundang undangan tersendiri. 1leh karena itu untuk menunjukkan adanya batas yang tegas antara hukum keuangan negara (publik)% dan hukum keuangan pri:at bisa dibuktikan apabila BUMN Persero itu dalam kepailitan% karena pada prinsipnya yang mengalami kepailitan itu adalah badan hukum perseroan (negara sebagai badan hukum pri:at dengan menyertakan modalnya sebagai saham dalam perseroan minimal /1 3 atau seluruh sahamnya) bukan negara sebagai badan hukum publik. $.1.1. 4uang lingkup keuangan negara dalam Undang undang *ebelum lahirnya paket UU 'N tahun "##$% rumusan normati- mengenai keuangan negara terdapat dalam Penjelasan Pasal " UU BP'% yaitu sebagai seluruh objek pemeriksaan BP'. Dengan kata lain% rumusan normati- mengenai keuangan negara tidak pernah ditentukan dalam ketentuan batang tubuhnya% tetapi terdapat pada penjelasannya. BP' sebagai lembaga pemeriksa eksternal pemerintah% juga menyatakan ruang lingkup keuangan negara dapat dilihat pada praktik pemeriksaan yang selalu dilakukannya.

Berdasarkan pengertian 'euangan Negara menurut UU Nomor / ;ahun 1!2$ tersebut% BP' menetapkan luas lingkup pemeriksaan tanggung ja.ab 'euangan Negara oleh BP' men&akup seluruh kekayaan negara dengan tanpa membedakan aturan pengelolaan dan pertanggungja.aban masing masing obyek pemeriksaan. Padahal% Pasal "$ (yat (/) UUD 1!)/ jelas menyatakan BP' melakukan pemeriksaan terhadap tanggung ja.ab keuangan negara. Dalam praktiknya% BP' sebagai lembaga eksternal keuangan negara lebih berpendapat bah.a maksud keuangan negara ialah seluruh penerimaan dan pengeluaran negara se&ara keseluruhan% kekayaan harta negara seluruhnya% kebijakan sektor anggaran% -iskal moneter% dan akibatnya% serta keuangan lainnya. Perluasan lingkup keuangan negara dalam penjelasan Pasal " UU BP' jelas membebani ke.enangan BP' yang tidak hanya melakukan pemeriksaan tanggung ja.ab keuangan negara% tetapi juga pengelolaan keuangan negara yang menjadi tugas lembaga internal keuangan negara. 4e5im perluasan ruang lingkup keuangan negara berdasarkan ketentuan UU BP' ini kemudian dijadikan norma imperati- dalam Pasal " UU 'N sekaligus menegaskan nya sebagai obyek pemeriksan BP'. Dengan kata lain% sebagai lembaga audit negara tertinggi% ke.enangan pemeriksaan BP' meluas tidak hanya pada ruang lingkup keuangan negara pada anggaran pendapatan dan belanja negara ((PBN) . Pengertian 'euangan Negara menurut UU 'N sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 1 adalah semua hak dan ke.ajiban negara yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu% baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanan hak dan ke.ajiban tersebut. Pendekatan yang dipergunakan untuk merumuskan de-inisi stipulati- keuangan negara adalah dari sisi objek% subjek% proses dan tujuan . Bidang pengelolaan 'euangan Negara yang demikian luas dapat dikelompokkan dalam sub bidang pengelolaan -iskal atau pajak% sub bidang pengelolaan moneter% dan sub bidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan . Menurut Pasal " UU 'N% ruang lingkup keuangan negara meliputi ! (sembilan) kelompok pengertian kekayaan negara sebagaimana disebutkan dalam Pasal " huru- (a) I " huru- (i) . 'esembilan kelompok pengertian kekayaan negara tersebut menyebabkan pengertian kekayaan negara yang harus diperiksa oleh BP' berkembang menjadi sangat luas% termasuk juga kekayaan pihak lain yang diperoleh oleh pihak yang bersangkutan dengan menggunakan -asilitas yang diberikan oleh pemerintah (Pasal " huru- i). Bahkan% kekayaan pihak lain yang dikuasai pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan danA atau kepentingan umum dikategorikan pula sebagai kekayaan pemerintah yang harus diperiksa BP' . Pasal " huru- (g) UU 'N yang mengelompokkan kekayaan negara yang dipisahkan pada perusahaan negara atau perusahaan daerah ke dalam pengertian

keuangan negara telah memperluas pengertian keuangan negara. 6al ini disebabkan keuangan negara yang sudah dipisahkan terutama ke dalam bentuk saham% status hukum uang tersebut bukan lagi merupakan keuangan negara. (kan tetapi telah terjadi trans-ormasi hukum dari status hukum keuangan publik menjadi status hukum keuangan pri:at. Dengan demikian negaraAdaerah pada saat bersamaan dengan pemisahan kekayaan tersebut% tidak lagi memiliki imunitas publik sehingga kedudukan negaraAdaerah dari segi hukum% sama halnya dengan kedudukan hukum pemegang saham s.asta lainnya karena perseroan terbatas yang sahamnya% baik diba.ah /1 3 maupun 1## 3 dimilik negaraAdaerah% .ajib tunduk pada UU P; yang berada dalam domain hukum perdata% dan bukan masuk dalam domein hukum publik berdasarkan lingkungan kuasa hukum yang berlaku (gebeidsleer) . 4uang lingkup keuangan negara berdasarkan Pasal " huru- (g) UU 'N menimbulkan keran&auan dari aspek yuridis. UU 'N ini telah men&ampur adukkan hukum publik dan hukum perdataApri:at% sementara antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat tajam dengan segala implikasinya. 'eran&auan itu dapat dikategorikan sebagai suatu hal yang menyimpang apabila dilakukan pengkajian dan penelusuran peraturan perundang undangan lainnya. 'etentuan Pasal " huru- (g) ini tidak mengikat se&ara yuridis tatkala dikaitkan dengan Pasal 1 angka " UU BUMN bah.a Persero% yang selanjutnya disebut PE4*E41 adalah Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk Perseroan ;erbatas yang modalnya terbagi atas saham yang seluruh atau paling sedikit /1 3 sahamnya dimiliki Negara 4epublik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. 'emudian Pasal ) (yat (1) UU BUMN yang menegaskan modal badan usaha milik negara merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. *ementara itu penjelasannya menentukan bah.a yang dimaksud dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari (PBN untuk dijadikan penyertaan modal negara pada badan usaha milik negara untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem anggaran pendapatan dan belanja negara% namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip prinsip perusahaan yang sehat. Di lain pihak% Pasal 1 angka 1 UU P;% menegaskan bah.a Perseroan ;erbatas% yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal% yang didirikan berdasarkan perjanjian% melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. 'emudian Pasal 2 (yat ()) UU P; yang menegaskan perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya 'eputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan. Berdasarkan ketentuan% baik dalam UU BUMN maupun UU P;% BUMN merupakan badan hukum perseroan yang pengesahannya dilakukan dengan 'eputusan Menteri 6ukum dan 6ak (sasi Manusia (6(M) serta tunduk pada hukum pri:at. Disamping itu% badan usaha milik negara memiliki kekayaan terpisah dengan kekayaan negara maupun pemegang saham (pemilik)% direksi

(pengurus)% dan komisaris (penga.as). Meskipun negara memiliki saham paling sedikit /13 ketika terdapat piutang pada badan usaha milik negara karena akibat dari perjanjian yang dilakukan selaku entitas perusahaan% hak tersebut tidak boleh dikelompokkan sebagai piutang negara sebagai konsekuensi pemisahan kekayaan negara mengingat badan usaha milik negara tersebut telah memiliki kekayaan tersendiri bukan merupakan kekayaan negara dalam kategori sebagai keuangan negara. 6al ini dimaksudkan agar mekanisme pengelolaan% termasuk pengurusan piutang badan usaha milik negara% dilakukan berdasarkan prinsip prinsip perusahaan yang sehat dan tidak boleh mengesampingkan peraturan perundangan yang berlaku . Badan hukum publik dan pri:at memiliki perbedaan se&ara prinsipil dalam pengelolaan keuangannya. Badan hukum publik dalam mengelola keuangannya tunduk pada hukum publik% sedangkan badan hukum pri:at dalam mengelola keuangannya tunduk pada hukum pri:at. *ebagai &ontoh% negara sebagai badan hukum publik dalam mengelola keuangannya tunduk pada peraturan yang terkait dengan keuangan negara. *ementara itu% badan usaha milik negara sebagai persero dalam mengelola keuangannya tunduk pada hukum perdata yang terkait dengan hata kekayaan yang dimilikanya . *ubstansi Pasal " UU 'N mendapat banyak kritik dari para ahli hukum seperti (ri-in P. *oeria (tmadja dan <usu- Indrade.a% khususnya terhadap rumusan Pasal " huru- (g) dan Pasal " huru- (i) yang memberikan rumusan yang begitu luas seolah olah tanpa batas terhadap pengertian kekayaan atau aset negara. Dalam Pasal " huru- (i) UU 'N ditegaskan bah.a kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan -asilitas yang diberikan oleh negara. 'etentuan ini mengandung makna bah.a kekayaan pihak s.asta% tatkala memperoleh -asilitas dari negara dalam pergaulan hukum menimbulkan kerugian dan bahkan dinyatakan pailit% berarti negara .ajib bertanggung ja.ab atas beban yang dipikul oleh pihak s.asta tersebut. Pada akhirnya% suatu saat negara mengalami kepailitan karena beban yang dipikul terlalu berat% baik terhadap keuangan negara yang dikelola oleh pemerintah sebagai badan hukum publik maupun terhadap badan hukum pri:at . 'ritik (ri-in P. *oeria (tmadja terhadap UU 'N% adalah UU No. 12 ;ahun "##$ tentang 'euangan Negara dapat diartikan undang undang tersebut merupakan undang undang organik dari Pasal "$ = UUD 1!)/. Namun% ternyata substansi yang diatur dalam undang undang tersebut bukan mengenai hal hal lain 'euangan Negara% melainkan antara lain mengenai penyusunan (PBN% (PBD% hubungan keuangan antara pemerintah dan perusahaan negara% perusahaan daerah% perusahaan s.asta% serta badan pengelola dana masyarakat di luar domein hukum keuangan negara. 4upanya pembuat undang undang tidak memahami perbedaan prinsipiil antara keuangan negara% keuangan daerah% keuangan perusahaan negara maupun perusahaan daerah. Bahkan keuangan s.asta pun diatur dalam undang undang keuangan negara ini .

<usu- Indrade.a menyatakan kritik atas rumusan Pasal " UU 'N sebagai perumusan keuangan negara yang mengaburkan esensi otonomi daerah dan kemandirian suatu perseroan terbatas. 6al ini disebabkan de-inisi tersebut memasukkan keuangan daerah dan keuangan BUMN yang berbentuk persero ke dalam keuangan negara dengan menyamakan status hukum uang keduanya sebagai uang negara. Dalam konsep hukum keuangan publik% seharusnya yang termasuk dalam keuangan negara ialah segala sesuatu yang diatur dan dipertanggung ja.abkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara ((PBN)% dan yang termasuk dalam keuangan daerah ialah yang diatur dan dipertanggung ja.abkan dalam anggaran pendapatan belanja daerah ((PBD)% begitu pula dengan BUMN yang berbentuk persero sudah termasuk dalam status hukum pri:at. Dalam konsep hukum yang responsi-% negara mem-asilitasi dan melindungi hukum yang terkait dengan hak perdata (pri:at rights) dalam bentuk pembentukan hukum pri:at. *ementara itu% hak negara (state rights) ter-ormulasikan dalam peraturan perundang undangan yang bersi-at publik dengan menitikberatkan pada sanksi. 'onsep ini tentu tidak bisa di&ampuradukkan% sehingga menimbulkan kesan negara berperan ganda dalam melaksanakan -ungsi se&ara bersamaan% yaitu sebagai yang memiliki hak dan hak menjalankan -ungsi kenegaraan. 1leh sebab itu% hak milik negara harus diterjemahkan sebagai hak publik negara jika terkait dengan -ungsi kenegaraan dan kepemerintahan. Namun% de-inisi keuangan negara dalam Pasal 1 UU 'N menentukan hak publik negara adalah juga hak milik negara% sehingga ada penerapan de-inisi meta-oris dalam memahami pengertian keuangan negara dengan memperkuat semua struktur kekuasaan negara sebagai kepemilikan negara . Dalam hal ini rumusan de-inisi keuangan negara sebagai% 7semua hak dan ke.ajiban negara yang dapat dinilai dengan uang% serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan ke.ajiban tersebut8% men&ampuradukkan hak dan ke.ajiban negara (publik) dan kepemilikan negara (pri:at). 'ritik atas de-inisi meta-oris dalam memahami keuangan negara adalah terletak pada dua dimensi tersebut% yang menimbulkan paradoks dalam ketentuan ruang lingkup keuangan negara% sehingga bersi-at ekstensi-. Paradoks rasionalitas keuangan negara dengan menggunakan de-inisi meta-oris terletak pada rumusan pengertian keuangan negara dari sisi obyek% subyek% proses% dan tujuan yang menurut penjelasan umum UU 'N. Penjelasan keuangan negara tersebut dilekatkan pada de-inisi meta-oris yang memperluas konsep keuangan negara yang tidak memiliki batasan pasti dan jangkauan yang tidak lagi men&akup negara% tetapi kesemua yang bersi-at publik yang dikuasai negara% dan tidak lagi hanya 7dimiliki negara8. (da paradoks dalam penjelasan keuangan negara tersebut% yaitu pemahaman yang keliru atas keuangan negara yang dikuasai dan yang dimiliki negara. Dalam ilmu hukum% pengertian hak menguasai negara dalam keuangan negara% jika dita-sirkan

se&ara sistematis logis dengan Pasal $$ UUD 1!)/% se&ara yuridis mengarah pada -ungsi regulasi negara. Dengan demikian% menurut konsep UUD 1!)/ hubungan negara dalam kaitannya dengan keuangan yang dikuasainya mengandung hubungan penguasaan publik negara. Dengan dasar penguasaan negara% pendayagunaan% pengelolaan% dan peman-aatan semua keuangan yang dikuasai negara oleh negara berdasarkan ke.enangan publiknya. 6al ini berarti negara menetapkan suatu peraturan perundang undangan yang menentukan mekanisme aturan keuangan yang dikuasainya tersebut. (pabila yang dimaksudkan keuangan yang dikuasai negara% ruang lingkupnya bukanlah keuangan negara% tetapi keuangan publik yang meliputi keuangan negara% keuangan daerah% keuangan BUMN dan keuangan BUMD% dan keuangan badan hukum perdata lainnya. Dengan mendasarkan pada pengertian yuridis normati- makna menguasai negara menggunakan pena-siran teleologis . 'euangan negara yang dikuasai negara memiliki pre-erensi negara sebagai badan hukum publik atau organisasi kekuasaan yang memiliki kekuasaan memaksa. Dengan kata lain% negara sebagai pemilik keuangan atau saham di beberapa perusahaan bukanlah keuangan negara% tetapi keuangan perdata yang dimiliki negara sebagai subyek hukum perdata. 1leh sebab itulah% dalam konsep yuridis% hak menguasai negara dalam keuangan negara tidak mungkin dijalankan oleh negara dengan kapasitasnya sebagai subyek hukum perdata% atau dengan menjalankan praktik usaha langsung karena statusnya sebagai badan hukum publik dan organisasi kekuasaan. 1leh sebab pembedaan itulah% negara harus terlepas dari kegiatan usaha yang dilakukan langsung% sehingga negara membentuk badan hukum yang menyelenggarakan kegiatan usaha yang mandiri% yang terlepas dari tanggung ja.ab negara sebagai badan hukum publik. *e&ara terstruktur% pembedaan keuangan publik yang dikuasai negara dan keuangan negara yang dimiliki negara tergambarkan dalam bagan sebagai berikut + *e&ara prinsip UU Nomor 12 ;ahun "##$ tidak *e&ara prinsip UU Nomor 12 ;ahun "##$ tidak membedakan status hukum uang dan kepemilikan kekayaan dalam suatu badan% apakah itu milik negara% milik daerah% milik badan usaha milik daerah% atau milik s.asta atau perseorangan. Pada dasarnya pengaturan demikian justru menyalahi konsep hukum keuangan publik yang se&ara tegas membedakan antara milik publik (publi& domain) dan milik pri:at (pri:a domain). $.1.". 'euangan negara menurut doktrinApandangan ahli hukum Pembatasan atas pengertian keuangan negara dimaksudkan tidak untuk membatasi atau meminimalisasi hak kepunyaan negara dalam keuangan yang dimilikinya% justru dimaksudkan mengatur hak dan ke.ajiban negara% khususnya yang paling krusial menjaga negara untuk tidak menanggung risiko yang terjadi pada keuangan badan lain yang bukan merupakan tanggungan ke.ajiban negara.

(da ke&enderungan bah.a perluasan keuangan negara hanya dimaksudkan untuk memperluas kepemilikan negara% tanpa disadari kepemilikan tersebut berindikasi pada beban risiko yang harus ditanggung negara jika keuangan dalam badan tersebut mengalami kerugian atau kepailitan. Perluasan de-inisi keuangan negara &enderung menimbulkan inkonsistensi dalam aturan pengelolaan dan pertanggungja.abannya. M. I&h.an berpendapat bah.a keuangan negara adalah ren&ana kegiatan se&ara kuantitati- (dengan angka angka di antaranya di.ujudkan dalam jumlah mata uang)% yang akan dijalankan untuk masa mendatang% la5imnya satu tahun mendatang . Menurut Foedhart% keuangan negara merupakan keseluruhan undang undang yang ditetapkan se&ara periodik yang memberikan kekuasaan pemerintah untuk melaksanakan pengeluaran mengenai periode tertentu dan menunjukkan alat pembiayaan yang diperlukan untuk menutup pengeluaran tersebut . Pendapat :an der 'emp% keuangan negara adalah semua hak yang dapat dinilai dengan uang% demikian pula segala sesuatu (baik berupa uang ataupun barang) yang dapat dijadikan milik negara berhubungan dengan hak hak tersebut. Pengertian keuangan negara dari :an der 'emp ini dinilai mendekati dengan pengertian keuangan negara yang pernah direkomendasikan dalam *eminar I=@ di <akarta pada tanggal $# (gustus / *eptember 1!2#. Berdasarkan rekomendasi *eminar I=@ bah.a pengertian keuangan negara adalah semua hak dan ke.ajiban yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu% baik berupa uang% maupun barang yang dapat dijadikan milik negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan ke.ajiban tersebut . 6arun (lrasid menyatakan maksud keuangan negara adalah (PBN berdasarkan konstruksi hukum Pasal "$ (yat (1) UUD 1!)/ yang menyatakan+ 7(nggaran Pendapatan dan Belanja ditetapkan tiap tiap tahun dengan undang undang. (pabila De.an Per.akilan 4akyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan Pemerintah% maka pemerintah menjalankan anggaran tahun yang lalu8. *elain itu% didasarkan atas Pasal "$ (yat ()) UUD 1!)/ yang menyatakan 7hal keuangan negara selanjutnya diatur dengan Undang undang8. Dengan mena-sirkan dari keuangan negara yang disetujui oleh DP4 adalah Undang undang% pengertian terhadap keuangan negara adalah (PBN. Pengertian keuangan negara menurut 6arun (lrasid merupakan pengertian keuangan negara yang sempit dengan meletakkan keuangan negara yang hanya disetujui oleh DP4. Pendapat 6amid *. (ttamimi terhadap de-inisi keuangan negara berbeda dengan 6arun (lrasid. Menurut 6amid *. (ttamimi keuangan Negara tidak hanya apa yang diatur (PBN saja% tetapi se&ara meluas yang men&akup di dalamnya keuangan daerah% BUMN% dan BUMD. Dengan demikian% pengertian keuangan negara yang dide-inisikan oleh 6amid *. (ttamimi merupakan keuangan negara yang diperluas terhadap obyek maupun sumber asal keuangan negara tersebut. Pada dasarnya BP' sangat menyetujui dan sependapat dengan pendapat 6amid *. (ttamimi ini% tetapi justru menimbulkan permasalahan hukum terhadap status

hukum uang adalah milik publik atau pri:at. <ika keuangan negara dan keuangan daerah dikatagorikan sebagai uang publik% seharusnya keuangan dalam BUMN dan BUMD menjadi uang pri:at. Namun pembedaan tersebut tidak dianut oleh 6amid *. (ttamimi maupun BP'. Menurut (ri-in P. *oeria (tmadja untuk memahami de-inisi keuangan negara harus melihat tiga interpertasi atau pena-siran dari Pasal "$ UUD 1!)/ sebagai landasan konstitusional keuangan negara. Pena-siran pertama adalah+ 7O pengertian keuangan negara diartikan se&ara sempit% dan untuk itu dapat disebutkan sebagai keuangan negara dalam arti sempit% yang hanya meliputi keuangan negara yang bersumber pada (PBN% sebagai suatu sub sistem dari suatu sistem keuangan negara dalam arti sempit8. Pada rumusan di atas% terlihat yang dimaksud dengan keuangan negara adalah semua aspek yang ter&akup dalam (PBN yang diajukan oleh pemerintah kepada DP4 setiap tahunnya. Dengan demikian% dapat dikatakan (PBN merupakan deskripsi dari keuangan negara dalam arti sempit yang menyebabkan penga.asan terhadap (PBN juga merupakan penga.asan terhadap keuangan negara. Pena-siran kedua Pasal "$ UUD 1!)/ menurut (ri-in P. *oeria (tmadja berkaitan dengan metode sistematik dan historis yang menyatakan+ 7O keuangan negara dalam arti luas% yang meliputi keuangan negara yang berasal dari (PBN% (PBD% BUMN% BUMD% dan pada hakikatnya seluruh harta kekayaan negara% sebagai suatu sistem keuangan negaraO8 <ika didasarkan pada rumusan sebelumnya tersebut% dapat dilihat arti keuangan negara dalam arti luas. Dalam pemahaman ini makna keuangan negara merupakan segala sesuatu kegiatan atau akti:itas yang berkaitan erat dengan uang yang diterima atau dibentuk berdasarkan hak istime.a negara untuk kepentingan publik. Pemahaman tersebut kemudian lebih diarahkan pada dua hal% yaitu kepada hak dan ke.ajiban negara yang timbul dari makna keuangan negara. (dapun yang dimaksud dengan hak dalam hal ini ialah hak men&iptakan uang, hak mendatangkan hasil% hak melakukan pungutan% hak meminjam% dan hak memaksa. *ementara itu% yang dimaksud dengan ke.ajiban adalah ke.ajiban menyelenggarakan tugas negara demi kepentingan masyarakat% dan ke.ajiban membayar hak hak tagihan pihak ketiga berdasarkan hubungan hukum atau hubungan hukum khusus. Pena-siran ketiga menurut (ri-in P. *oeria (tmadja dilakukan melalui pendekatan sistematik dan teleologis atau sosiologis terhadap keuangan negara yang dapat memberikan pena-siran yang relati- lebih akurat sesuai dengan tujuannya. Maksudnya ialah+ 7(pabila tujuan mena-sirkan keuangan negara tersebut dimaksudkan untuk mengetahui sistem pengurusan dan pertanggungja.abannya% maka pengertian keuangan negara tersebut adalah sempit. *elanjutnya pengertian keuangan negara apabila pendekatannya dilakukan dengan menggunakan &ara pena-siran sistematis dan teleologis uantuk mengetahui sistem penga.asan atau pemeriksaan

pertanggung ja.aban% maka pengertian keuangan negara dalam arti luas% yakni termasuk di dalamnya keuangan yang berada dalam (PBN% (PBD% BUMNAD dan pada hakikatnya seluruh kekayaan negara merupakan obyek pemeriksaan dan penga.asan8. Pena-siran ketiga ini tampak paling esensial dan dinamis dalam menja.ab berbagai perkembangan yang ada di dalam masyarakat. Pena-siran ini akan sejalan dengan perkembangan masyarakat de.asa ini yang menuntut adanya ke&epatan tindakan dan kebijakan% khususnya dari pemerintah% baik yang berdasarkan atas hukum (re&htshandeling) maupun yang berdasarkan atas -akta (-ietelijke handeling). Dapat dilihat juga dalam pena-siran ketiga ini betapa ketat perumusan keuangan negara dalam aspek pengelolaan dan pertanggungja.abannya. 3.3. %tatus Hukum *eka/aan BUMN Perser# (pabila kita merujuk pada ketentuan tentang konsep badan hukum maka kekayaan BUMN itu 7bukan merupakan aset negara8 karena kekayaan negara tersebut pada prinsipnya telah dipisahkan dari harta kekayaan negara menjadi harta perusahaan dalam hal ini adalah BUMN sejak saat ditetapkannya Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang adanya pemisahan kekayaan tersebut% sebagaimana diatur dalam Pasal ) (yat (1)% (yat ($)% dan (yat (0) UU BUMN. *ejak saat itulah berlaku adanya ;rans-ormasi hukum status hukum dari uang negara menjadi uang pri:at . Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan sebagimana diatur dalam Pasal ) (yat (1) UU BUMN. 'ekayaan negara yang dipisahkan adalah kekayaan negara yang berasal dari (nggaran Pendapatan dan Belanja Negara ((PBN) untuk dijadikan penyertaan modal negara pada Persero danAatau PE4UM serta Perseroan ;erbatas lainnya (Pasal 1 angka 1#) UU BUMN. Demikian juga dalam penjelasan Pasal ) (yat (1). Cang untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem (nggaran Pendapatan dan Belanja Negara ((PBN)% namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip prinsip perusahaan yang sehat. Berdasarkan ketentuan Pasal ) (yat (1)% ($)% dan (/) serta Pasal 1 angka 1# UU BUMN tersebut jelaslah% bah.a batas hukum kekayaan negara sebagai badan hukum publik adalah pada adanya atau terjadinya pemisahan kekayaan negara untuk kemudian menjadi modal penyertaan dalam berdirinya BUMN baik yang berbentuk Perum ataupun yang berbentuk Persero yaitu dengan adanya penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang adanya pemisahan kekayaan negara ke dalam modal BUMN dalam bentuk penyertaan langsung . *ejak saat itulah terjadi perubahan kepemilikan atas kekayaan negara dari yang semula kapasitasnya sebagai badan hukum publik yang mengelola uang publik yang menga&u pada adanya ketentuan ketentuan untuk berlakunya ketentuan hukum publik menjadi badan hukum pri:at yang harus mengelola uang pri:at dengan mendasarkan kepada aturan atau ketentuan mengenai badan hukum pri:at

dalam hal ini adalah UU P; ;ahun 1!!/ sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU BUMN beserta penjelasannya. Mengingat Persero pada dasarnya merupakan Perseroan ;erbatas% semua ketentuan UU P; ;ahun 1!!/% sekarang telah diganti dengan UU No. )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas% termasuk pula segala peraturan pelaksanaannya berlaku juga bagi Persero. (ri-in P. *oeria (tmadja dengan tegas menyatakan hal ini dengan menggunakan teorinya tentang adanya ;rans-ormasi Uang Publik ke dalam Uang pri:at . *aya sependapat dengan (ri-in% karena hal ini sangat sesuai dengan masing masing konsep hukum yang berlaku yaitu konsep hukum publik dan konsep hukum pri:at% yang masing masing mempunyai karakteristik tersendiri yang tidak sama satu dengan lainnya. Dengan adanya batas atau pembedaan yang tegas dalam konsep yang kemudian diterapkan dalam bentuk produk peraturan perundangan yang pada akhirnya akan dijadikan dasar rujukan dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul% menurut saya akan menjadi lebih baik karena tidak akan mun&ul adanya keran&auan dalam penerapan hukumnya. *ehingga tidak akan menimbulkan ditariknya permasalahan di ranah pri:at dengan penyelesaiannya menggunakan aturan pada ranah publik. <adi pada prinsipnya hal ini dikembalikan pada ranah hukum masing masing% masalah pada ranah hukum pri:at dengan konsep dan kerangka aturan hukum pri:at% sedangkan masalah pada ranah hukum publik dengan menggunakan kerangka konsep dan aturan pada hukum publik atau istilahnya kembali pada khitah masing masing. Dalam Pasal 1 (yat (") UU BUMN menyatakan bah.a Perusahaan Persero% yang selanjutnya disebut Persero% adalah BUMN yang berbentuk Perseroan ;erbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit /1 3 (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara 4epublik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Pasal 11 UU BUMN mengatakan terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas sebagaimana diatur dalam Undang Undang No. )# tahun "##2 tetang Perseroan ;erbatas. Untuk BUMN yang berbentuk Persero% pendiriannya diusulkan oleh Menteri kepada Presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri ;eknis dan Menteri 'euangan. Pengkajian ini dilaksanakan untuk menentukan layak tidaknya Persero tersebut didirikan melalui pengkajian atas peren&anaan bisnis dan kemampuan untuk mandiri serta mengembangkan usaha dimasa mendatang. Pelaksanaan pendirian Persero dilakukan oleh Menteri dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang undangan% hal ini mengingat Menteri merupakan .akil negara selaku pemegang saham pada Persero dengan berpedoman pada peraturan perundang undangan . (da satu hal lagi yang mesti diperhatikan dalam pendirian BUMN yaitu mengenai maksud dan tujuannya% karena antara Persero dan Perum itu berbeda sebagaimana telah ditegaskan dalam Pasal 1" UU BUMN untuk Persero dan Pasal $0 untuk Perum.

Dalam Pasal 1" UU BUMN mengatur tentang maksud dan tujuan pendirian Persero adalah+ 1. menyediakan barang danAatau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, ". mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Persero sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional dituntut untuk dapat memenuhi permintaan pasar melalui penyediaan barang danAatau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat baik di pasar dalam negeri maupun internasional. Dengan demikian dapat meningkatkan keuntungan dan nilai Persero yang bersangkutan sehingga akan memberikan man-aat yang optimal bagi pihak pihak yang terkait. Paling tidak inilah yang diharapkan oleh pembentuk undang undang ketika negara memisahkan harta kekayaannya untuk kemudian didirikan BUMN Persero dengan tujuan utama untuk mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan dengan &ara mampu menyediakan barang danAatau jasa yang bermutu tinggi agar punya daya saing yang kuat di pasar. ?ain halnya dengan Perum% maksud dan tujuan pendiriannya lebih kepada untuk pelayanan publik (publi& ser:i&e) bukan untuk men&ari keuntungan sebagaimana halnya Persero% sebagaimana diatur dalam Pasal $0 UU BUMN. 'arakteristik suatu badan hukum adalah pemisahan harta kekayaan badan hukum dari harta kekayaan pemilik dan pengurusnya. Dengan demikian suatu badan hukum yang berbentuk Perseroan ;erbatas memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan direksi (sebagai pengurus)% komisaris (sebagai penga.as)% dan pemegang saham (sebagai pemilik). Begitu juga kekayaan yayasan sebagai badan hukum terpisah dari kekayaan pengurus yayasan dan anggota yayasan% serta pendiri yayasan. *elanjutnya kekayaan koperasi sebagai badan hukum terpisah dari kekayaan pengurus dan anggota koperasi . BUMN yang berbentuk Perum juga adalah badan hukum. Pasal $/ (yat (") UU BUMN menyatakan% PE4UM memperoleh status badan hukum sejak diundangkannya peraturan pemerintah tentang pendiriannya. Maka berdasarkan hal hal tersebut diatas kekayaan BUMN Persero maupun kekayaan BUMN Perum sebagai Badan 6ukum bukanlah kekayaan negara atau bukanlah merupakan aset negara. 'ekaburan pengertian 'euangan Negara sebenarnya dimulai oleh de-inisi tentang 'euangan Negara dalam Undang undang No. 12 tahun "##$ tentang 'euangan Negara yang menyatakan keuangan negara adalah semua hak dan ke.ajiban negara yang dapat dinilai uang% serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan ke.ajiban tersebut (Pasal 1 angka 1). Pasal " menyatakan bah.a 'euangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1% meliputi antara lain+ kekayaan negaraAkekayaan daerah yang dikelola

sendiri atau oleh pihak lain berupa uang% surat berharga% piutang% barang serta hak hak lainnya yang dapat dinilai dengan uang% termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negaraA perusahaan daerah. Erman 4ajagukguk berpendapat bah.a kekayaan yang dipisahkan tersebut dalam BUMN dalam lahirnya adalah berbentuk saham yang dimiliki oleh negara% bukan merupakan kekayaan negara tetapi merupakan harta kekayaan BUMN tersebut. *aya sangat sependapat dengan (ri-in maupun Erman mengenai hal ini% tentunya juga dengan merujuk adanya teori mengenai Badan 6ukum khususnya teori propierete &elle&ti:e dari Planiol yang menyatakan hak dan ke.ajiban badan hukum itu pada hakekatnya adalah hak dan ke.ajiban anggota bersama sama. Dan teori ini berlaku untuk badan hukum korporasi sebagaimana telah saya uraikan pada bab " (".1.$.1) mengenai *yarat tentang Badan 6ukum. *elain itu di dalam Pasal 10/$ B@ juga disebutkan mengenai syarat syarat atau unsur sebagai badan hukum antara lain adalah adanya kekayaanA keuangan terpisah. 1leh karena itu dalam BUMN karena sebagai badan hukum maka pada BUMN tersebut memiliki kekayaan tersendiri yang terpisah dari kekayaan milik negara. (kan tetapi ada yang mengartikan kakayaan negara yang dipisahkan tersebut tetap milik negara% bukan milik BUMN sebagai badan hukum. Pendapat ini keliru% sebagai &ontoh% andaikata kita memasukkan tanah 6ak Milik sendiri sebagai modal P;% 6ak Milik tadi berubah menjadi 6FB atau 6FU atas nama P;% bukan atas nama kita lagi. 'ekayaan kita hanya saham sebagai bukti modal yang kita setor dan sebagai pemilik perusahaan. 'eran&auan terjadi dalam penjelasan dalam UU 'N yang menyatakan bah.a pendekatan yang digunakan dalam merumuskan 'euangan Negara adalah dari sisi obyek% subyek% proses dan tujuan. Demikian juga dalam Pasal " huru- (g)% yang menyatakan 8kekayaan negaraA kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang% surat berharga% piutang% barang serta hak hak lain yang dapat dinilai dengan uang% termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negaraAperusahaan daerah8. 'esalahan terjadi lagi dalam Peraturan Pemerintah No. 1) tahun "##/ tentang ;ata =ara Penghapusan Piutang NegaraADaerah. Dalam pasal 1! menyebutkan bah.a penghapusan se&ara bersyarat dan penghapusan se&ara mutlak atas piutang perusahaan negaraAdaerah yang pengurusan piutang diserahkan kepada PUPN% diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri 'euangan. Dengan demikian peraturan ini 7tidak memisahkan antara kekayaan BUMN Persero dan kekayaan negara sebagai pemegang saham8. ;ampaknya pemerintah menyadari kekeliruan pemikiran tersebut di atas ketika menghadapi kredit bermasalah (non per-orming loanA NP?) Bank P;. B4I (Persero) ;bk% P;. Bank BNI (Persero) ;bk% P;. Bank Mandiri (Persero) ;bk. 'emudian pemerintah meren&anakan penghapusan Pasal 1! dan Pasal "# PP No. 1) tahun "##/ ini. Menteri 'euangan *ri Mulyani menyatakan + 8*elanjutnya pengurusan piutang perusahaan negaraAdaerah dilakukan berdasarkan UU Perseroan ;erbatas dan UU Badan Usaha Milik Negara

(BUMN). <adi disebutkan bah.a aturan yang mengatur bank bank BUMN adalah UU Perseroan dan UU BUMN8. Mengenai adanya usulan perubahan PP No. 1) ;ahun "##/ tersebut menjadi perdebatan di dalam 'omisi HI karena dianggap membatalkan Pasal " huru- (g) UU 'N. (da usul anggota DP4% untuk perubahan PP No. 1) ;ahun "##/ ini perlu meminta Bat.a Mahkamah (gung 4I. Namun ada pula yang berpendapat% pemerintah harus membuat peraturan pemerintah pengganti undang undang (PE4PU) untuk membatalkan Pasal " huru- (g) UU 'N. Menteri 'euangan melalui surat Nomor /$")AM'A#1A"##0 tanggal "0 <uli "##0 meminta Bat.a Mahkamah (gung. Mahkamah (gung dalam -at.anya menyatakan bah.a 7tagihan bank BUMN bukan tagihan negara karena Bank BUMN Persero tunduk pada UU No. 1 tahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas8. Dengan demikian dapat diartikan Mahkamah (gung berpendapat kekayaan negara terpisah dari kekayaan BUMN Persero. *elanjutnya tentu keuangan BUMN Persero bukan keuangan negara. Menurut saya sebenarnya tidak diperlukan adanya Bat.a atau meminta Bat.a Mahkamah (gung mengenai hal ini% karena sudah jelas di dalam UU BUMN mengatur bah.a pada BUMN Persero karena merupakan Perseroan ;erbatas maka berlaku dan tunduk pada UU No. 1 ;ahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas yang sekarang telah diubah dengan UU No. )# tahun "##2 yang diatur dalam Pasal 10#. ;entunya sebagai BUMN Persero% maka kekayaan atau aset yang ada adalah merupakan kekayaan atau aset BUMN itu sendiri sebagai badan hukum sudah bukan aset milik negara lagi. Meskipun demikian -at.a M( tersebut adalah merupakan sesuatu hal yang baik karena isinya menguatkan tentang adanya kekayaan negara terpisah dari kekayaan BUMN Persero. <adi Bat.a Mahkamah (gung ini menegaskan lagi keberadaan UU BUMN dan UU Perseroan ;erbatas dan mengesampingkan ketentuan Pasal " huru- (g) tentang UU 'N. Ini memang terkesan ran&u% karena keberadaan UU dikuatkan atau ditegaskan oleh sebuah Bat.a M(. Padahal keberadaan Bat.a itu se&ara teori adalah tidak mengikat se&ara hukum artinya boleh diikuti% boleh juga tidak diikuti karena tidak akan ada sanksi hukum ketika dilanggar. 6anya kemudian dalam perjalanan .aktunya Bat.a M( @'M(ACudA"#ADIIIA "##0% tanggal 10 (gustus "##0 tentang 8Piutang BUMN Bukan Merupakan Piutang Negara8 ini juga tidak se&ara konsisten diikuti bahkan oleh si penanda tangan Bat.a itu sendiri 8Marianna *utadi8 ketika harus memutuskan kasus 'epailitan P;. DI (Persero) dalam 'asasi tahun "##2% Nomor+ #2/ 'APdt. *usA "##2. Berdasarkan Bat.a M( No+@'M(ACudA"#ADIIIA"##0% Mahkamah (gung telah mengeluarkan -at.a mengenai pemisahan aset negara dan aset perusahaan milik negara yang dikha.atirkan berdampak pada penanganan perkara korupsi . 'ekha.atiran tersebut jelas mere-leksikan paham tiadanya imunitas negara sebagai badan hukum pri:at dan badan hukum publik.

?ahirnya Bat.a M( Nomor+@'M(ACudA"#ADIIIA"##0% ;anggal 10 (gustus "##0 tersebut terkait dengan adanya kasus kredit ma&et pada segenap bank bank BUMN antara lain pada Bank Mandiri% yang dikha.atirkan akan berdampak pada adanya indikasi korupsi apabila merujuk pada ketentuan UU No. $1 ;ahun 1!!! mengenai ;indak Pidana 'orupsi sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. "# ;ahun "##1 (selanjutnya disebut UU ;P') yang mana Undang undang tersebut juga mendasarkan pada UU 'N khususnya pada Pasal " hurur- (g) dan Pasal " huru- (i). 'arena menurut kedua UU tersebut% bah.a kerugian yang ditimbulkan terhadap BUMN itu merupakan kerugian negara. 'arena dalam Pasal " huru- (g) bah.a kekayaan negara yang dipisahkan pada perusahaan negaraAperusahaan daerah merupakan kekayaan negara% oleh karena itu kekayaan yang ada pada BUMN Persero itu menurut konsep UU 'euangan Negara adalah merupakan kekayaan negara sehingga apabila BUMN mengalami kerugian maka negaralah yang harus menanggung kerugian% sehingga negara perlu menalangi kerugian yang terjadi. Dalam Pasal " huru- (i) UU 'N% menyebutkan kekayaan pihak lain yang di peroleh dengan menggunakan -asilitas yang diberikan pemerintah. 'ekayaan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam huru- i meliputi kekayaan yang dikelola oleh orang atau badan lain berdasarkan kebijakan pemerintah% yayasan yayasan di lingkungan kementrian negaraAlembaga% atau perusahaan negaraAdaerah . Bakta yang terjadi terhadap mun&ulnya -at.a M( tersebut adalah kekha.atiran dampaknya terhadap penanganan korupsi. 'ekha.atiran demikian menimbulkan pemahaman aset yang dipisahkan dan pemberantasan korupsi merupakan tindakan yang tunduk pada satu sistem hukum. Dengan demikian% jelas tidak memberikan kriteria yang e-ekti- guna membedakan kedudukan badan hukum publik dan badan hukum pri:at. Berdasarkan adanya kekha.atiran mengenai hal tersebut maka dalam kasus ma&etnya kredit yang ada pada Bank bank BUMN ketika itu% kemudian Menteri 'euangan 4epublik Indonesia pada tanggal "0 <uli "##0 meminta -at.a kepada Mahkamah (gung. *ebenarnya kekha.atiran sementara pihak terhadap -at.a M( akan berdampak pada penanganan perkara korupsi &enderung dilatarbelakangi pemahaman hukum yang tidak tepat mengenai status hukum keuanganAkekayaan negara. 1leh sebab itu% ke&enderungan perluasan objek pemeriksaan pengelolaan keuangan yang diindikasikan sebagai korupsi ke sektor pri:at% khususnya perusahan negara% tidak memiliki kadar kualitas teori hukum yang memadai. (pabila perluasan pemeriksaan tersebut dilakukan ke sektor pri:at% khususnya di lingkungan perusahaan negara% -akta yang terjadi adalah 8negara memonopoli ke.enangannya% baik sebagai badan hukum publik sekaligus badan hukum pri:at8. 6al ini berarti negara adalah pihak dan hakim sekaligus dalam menghadapi penyimpangan keuangan dalam perusahaan negara. (kibatnya justru tidak menguntungkan negara% yaitu pertama menunjukkan tidak adanya prioritas negara dalam mengkonstruksikan pemberantasan korupsi. 'edua% tidak ada

strategi negara yang komprehensi- dalam me.ujudkan kebijakan anti korupsi. 'etiga% aparat hukum negara tidak memahami masalah mendasar dalam hal terjadinya penyimpangan keuangan disebabkan dasar utamanya adalah ke.enangan dan kekuasaan untuk memperluas identi-ikasi korupsi . 1leh sebab itu% -at.a M( yang menyatakan penyertaan modal negara dalam perusahaan negara tidak dikatagorikan sebagai keuangan negara merupakan kebijakan hukum yang menerapkan prinsip kehati hatian. Untuk kepentingan jangka pendek% -at.a M( merupakan alternati- taktis untuk membangun keper&ayaan publik dan kepastian hukum di kalangan sektor pri:at. Di sisi lain% untuk jangka panjang% -at.a M( strategis dalam merumuskan kebijakan anti korupsi yang digagas negara agar konsentrasi dan -okus pada tindakan aparatur penyelenggara negara. Di samping itu% -at.a M( akan mendorong negara untuk menentukan kriteria yang objekti- dalam menentukan aspek kerugian keuangan negara se&ara rasional oleh pihak yang ber.enang dalam melakukan pemeriksaan dan penga.asan keuangan negara. Dalam kontekstualisasi seperti itu% tidak diragukan lagi rasionalitas dalam pengaturan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung ja.ab keuangan dalam praktiknya akan menguntungkan semua pihak% khususnya pihak yang terkait dalam sektor pri:at sebagai domain yang berbeda dengan sektor publik. 6al ini terjadi karena M( telah menentukan batas batas yuridis dalam menentukan kerugian keuangan negara sebagai kerugian negara dan kerugian keuangan sektor pri:at sebagai kerugian sektor pri:at% sehingga negara tidak perlu menanggung risiko apapun dalam hal terjadinya masalah hukum dalam sektor pri:at. 6al lain yang perlu diperhatikan terkait dengan luasnya &akupan obyek kekayaan negara menurut UU 'N adalah menurut kabarnya juga disebabkan oleh pembuatan UU 'euangan Negara yang konseptornya mendasarkan pada sistem atau standar akuntansi akrual (a&rual basis) bukan melandaskan pada 7konsep hukum8 tentang keuangan negara. (palagi UU 'N ini belum pernah ditanda tangani oleh Presiden Mega.ati *oekarno Putri% tetapi tetap berlaku karena berdasarkan ketentuan dalam hasil amandemen UUD 1!)/ Pasal "# (yat (/) yang pada intinya setelah satu bulan mendapat persetujuan DP4 se&ara otomatis UU akan berlaku. <adi meski tidak ditanda tangani Presiden berlaku sebagai dokumen resmi negara. Ini artinya se&ara hukum administrati- kenegaraan tidak ada yang bertanggung ja.ab atas berlakunya UU 'N karena Presiden tidak pernah menanda tangani UU tersebut. Mengenai sebuah Undang undang tanpa pengesahan atau memperoleh tanda tangan Presiden% memang ada persoalan yuridis yang mun&ul ketika sebuah Undang undang tersebut sebelum diundangkan tidak mendapat pengesahan Presiden. *e&ara hukum% Presiden berhak untuk tidak menandatangani atau tidak mengesahkan 4UU yang telah disetujui bersama antara DP4 dengan Pemerintah, dan 4UU itu sah se&ara hukum sebagai UU. Namun% tidak adanya pengesahan Presiden menyisakan banyak masalah dan pertanyaan. Mengenai hal ini sempat timbul pro kontra.

(ri-in P. *oeria (tmadja berpendapat bah.a berdasarkan sudut 6ukum ;ata negara (*taat in rust% 1ppenheim) atau negara dalam keadaan Jdiam8% berdasarkan Pasal "# (yat (/) UUD 1!)/% Undang undang No. 12 ;ahun "##$ sah menjadi undang undang dan .ajib diundangkan. (kan tetapi% berdasarkan sudut 6ukum (dministrasi Negara (*taat in be.eging% 1ppenheim) atau negara dalam keadaan 7bergerak8 keabsahannya se&ara yuridis tidak mempunyai dasar hukum yang kuat. 6al ini mengingat UU No. 12 ;ahun "##$ yang merupakan dokumen resmi negara dengan lambang negara Faruda Pan&asila dan berkepala Presiden 4epublik Indonesia% tetapi tidak di tanda tangani oleh Presiden . Berdasarkan sudut pandang 6ukum (dministrasi Negara% jelas dokumen negara yang tidak ditanda tangani oleh yang berhak adalah tidak sah dan belum mempunyai kekuatan mengikat umum atau anggota masyarakat. Berdasarkan teori hukum konstitusi% UUD hanya merupakan lingkungan kompetensi (&ompetentie a-bakening dan &ompetntie tokeninning) pada organ negara. Untuk melaksanakannya% diperlukan 6ukum (dministrasi Negara agar tindakan organnya dapat mengikat anggota masyarakat . ;indakan Presiden dengan tidak menandatangani UU No. 12 tahun "##$ ini% maka se&ara moral maupun yuridis politis Presiden tidak dapat dikatakan ikut bertanggung ja.ab dalam &arut marutnya UU ini. Mengenai hal ini M. 6adi *hubhan kurang sependapat% karena tidak ditandatanganinya suatu UU itu dimungkinkan se&ara konstitusi Dalam tulisannya di harian 'ompas% tanggal 12 <uli "##$ dengan judul 7Benomena UU ;anpa Pengesahan Presiden8 . (da $ alasan menurut 6adi% terutama pada alasan 8moral8 yang paling nampak dalam praktiknya. Bah.a jika nanti di kemudian hari terjadi sesuatu karena 4UU yang tidak ditanda tangani itu% maka Presiden tidak disalahkan karena UUD membolehkan demikian% di mana sampai batas $# hari tidak ditandatangani Presiden% UU itu sudah berlaku. Demikian juga bila kita mau &ermati% pada UU 'N di mana terjadi benturan kepentingan antar intern lembaga pemerintah% seperti Bapenas dengan Departemen 'euangan. Dalam kondisi yang demikian% hal yang mungkin dilakukan Presiden adalah tetap mengesahkan 4UU yang telah disetujui bersama antara DP4 dengan pemerintah% kendati Presiden tidak berkenan atas 4UU itu. <ika di kemudian hari terjadi sesuatu yang tidak diprediksikan seperti semula% UU itu bisa diamandemen lagi. Namun ternyata hingga saat ini UU 'N belum pernah dire:isiAamandemen meskipun ada banyak kritik dari ahli keuangan negara dan bahkan sempat masuk Prolegnas tahun "##0 "##! 3. . BUMN Perser# T&k. Dalam UU P; No. )# ;ahun "##2% Pasal 1 angka 2 juga kita temui kata 7Perseroan ;erbuka8% bah.a Perseroan ;erbuka adalah Perseroan Publik atau Perseroan yang melakukan pena.aran umum saham% sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan di bidang pasar modal. *ebagaimana telah diuraikan sebelumnya dalam Bab II% khususnya pada poin ".$.$.1. bah.a BUMN Persero identik dengan P;% maka segala hal menyangkut BUMN Persero ;erbuka (yang selanjutnya disebut BUMN Persero ;bk.) adalah

menga&u kepada ketentuan yang mengatur mengenai P; ;erbuka atau P; ;bk. sebagaimana di atur dalam UU P; jo. UU No. 9 ;ahun 1!!/ tentang Pasar Modal. Dan untuk selanjutnya BUMN Persero ;bk. saya sebut dengan P;. ;bk. 'enyataan bah.a P;. ;bk. bersi-at khusus terbukti dengan ketentuan UU P; lebih lanjut. 6al ini dapat dilihat darai adanya rumusan lainnya yang diatur oleh UU P;% yang memberikan perlakuan khusus bagi P; ;bk.% yaitu berupa% antara lain dalam Pasal 10 (yat ($)% tentang nama ;bk.% Pasal $1 (yat (")+ mengenai besarnya modal dasar minimum% dan ke.ajiban untuk memiliki sekurang kurangnya dua orang Direksi (Pasal !" (yat ())% dan dua orang 'omisaris (Pasal 1#9 (yat (/). *elanjunya untuk hal hal lainnya berlakulah ketentuan umum yang sama dengan ketentuan yang diberlakukan untuk P; ;ertutup. 'riteria selanjutnya mengenai P;. ;bk. atau Perusahan Publik akan ditentukan dalam peraturan perundang undangan Pasar Modal% yang dalam hal ini adalah UU No. 9 ;ahun 1!!/ (selanjutnya disebut UU PM). (pabila diba&a se&ara menyeluruh dalam UU PM% tidak akan kita temukan satu patah katapun yang menyebutkan tentang 8Perseroan ;erbatas ;erbuka8% termasuk dalam ketentuan Umum Bab 1 Pasal 1 UU PM yang mengatur mengenai pengertian dan de-inisi dari istilah istilah yang dipergunakan dalam UU PM tersebut . Meskipun demikian dapat kita rujuk beberapa Pasal yang dapat menjelaskan atau mengindikasikan bah.a P; ;erbuka menurut UU PM adalah Emiten dan atau Perusahaan Publik. Pengertian atau de-inisi tersebut dapat ditemukan dalam UU PM+ Pasal 1 angka 0% angka 1$% angka 1/% angka "# dan angka "". *elain UU P;% aturan main mengenai P;. ;bk. dapat ditemukan dalam UU PM% yang memberikan aturan yang lebih ketat dan terperin&i bagi P;. ;bk. dibandingkan dengan UU P;. *etelah mengetahui dengan jelas tentang BUMN Persero ;bk. bah.a segala hal ketentuan yang mengaturnya sama dengan yang berlaku pada P;. ;bk.% maka selanjutnya akan menguraikan mengenai status kekayaan BUMN Persero ;bk. *ebagaimana telah diuraikan sebelumnya bah.a BUMN Persero identik dengan P;% maka kekayaan atau aset yang terdapat dalam BUMN Persero merupakan aset atau kekayaan Persero sebagai badan hukum pri:at. Bukan kekayaan negara lagi% karena kekayaan tersebut merupakan kekayaan yang telah dipisahkan dari sistem (PBN dan menjadi modal penyertaan negara pada BUMN Persero yang selanjutnya menga&u kepada prinsip prinsip perusahaan yang sehat sebagaimana ditentukan oleh Pasal 11 UU BUMN yang dalam hal ini menunjuk kepada UU P; dan dalam pelaksanaanya juga mendasarkan kepada prinsip Food =oorporate Fou:ernan&e (F=F) khususnya bagi BUMN.

<adi jelas dalam hal ini bah.a negara sebagai salah satu pemegang saham dalam BUMN Persero tersebut% sebesar minimal /1 3. Dalam hal ini Negara berposisi sebagai pengusaha dengan ikut menanamkan modalnya dalam BUMN Persero% dalam kedudukan seperti ini negara melakukan tindakan hukum pri:at yang harus mendasarkan pada segala ketentuan yang berlaku pada ranah hukum pri:at. Dengan &iri yang menonjol adalah pada tindakan hukum pri:at adalah adanya hak dan ke.ajiban sebagai badan hukum pri:at. Demikian juga kedudukan Negara dalam BUMN Persero ;bk. barangkali yang membedakan disini adalah gradasi atau tingkatan tentang jumlah atau prosentase tentang kepemilikan saham saja. Bah.a BUMN Persereo ;bk.% ini artinya saham saham yang ada selain merupakan saham milik negara sebagian (minimal /1 3 atau lebih) dan sebagiannya yang lebih tersebut (maksimal )! 3) adalah milik publik (publik tersebut bisa in:estor dalam negeri maupun in:estor asing). Barangkali pertanyaan yang kemudian menggelitik dan pantas kita renungkan bersama adalah% bagaimana bila BUMN Persero ;bk. ;ersebut% saham milik negara adalah /1 3 dan selebihnya )! 3 semuanya adalah dimiliki oleh in:estor asingG Mungkinkah% dan bagaimana dengan kekayaan yang terdapat dalam BUMN Persero ;bk. tersebutG Bagaimana implikasinya kedepanG 6al inilah barangkali yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama. (pabila hal ini tidak segera diatur dengan jelas dengan tetap mengedepankan kesejahteraan rakyat dan kepentingan bangsa kedepan menurut saya sungguh akan sangat membahayakan dan memprihatinkan tentunya. *ebagai gambaran mengenai BUMN Persero ;bk. yang terdapat di Indonesia pada saat ini antara lain adalah, P;. <asa Marga (Persero) ;bk. dan P;. Bank BNI (Persero) ;bk. P;. <asa Marga (Persero) dibentuk tanggal 1 Maret 1!29 dengan tujuan menyelenggarakan jalan tol Indonesia. ;ahun "##$ bekerjasama dengan in:estror asing dari Malaysia melalui Net 1ne *olution ?td.% telah memberikan jasa manajemen pengoperasian <alan ;ol <amuna di bangladesh selama lima tahun. Pada tanggal 1" No:ember "##2% status berubah jadi Perusahaan terbuka dengan melepas $#3 sahamnya kepada publik melalui Bursa E-ek Indonesia. P;. Bank BNI Persero ;bk. % pada tahun 1!!" status hukum dan nama Bank BNI berubah menjadi P; Bank Nasional Indonesia (Persero) sementara keputusan untuk menjadi Perusahaan Publik di.ujudkan melalui pena.aran saham perdana di Pasar Modal pada tahun 1!!0. 'eputusan Bank BNI untuk me.ujudkan perusahaan publi& di.ujudkan mlalui pena.aran saham perdana kepada masyarakat melalui pasar modal. Bank BNI merupakan bank pemerintah pertama yang %me&atatkan sahamnya di Bursa E-ek <akarta dan Bursa E-ek *urabaya. Nama bbank Bni mendapat tambahan menjadi 8P; Bank Negara Indonesia (Persero) ;bk. yang menandakan statusnya sebagai Perusahaan PublikA;erbuka

)2. BUMN PER%ER+ DALAM *EPA)L)TAN .1. Tinjauan Umum Tentang *e'ailitan Di dalam UU' dan P'PU ;ahun 1!!9 jo. BD tidak pernah mende-inisikan mengenai pengertian 7pailit8. Di dalam UU' dan P'PU ini disebutkan mengenai syarat pailit yaitu dalam Pasal 1 (yat (1) jo. BD% bah.a pailit adalah 7debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak memPbayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh .aktu dan dapat diPtagih% dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan yang ber.enang sebagaimana dimaksud dalam Pasal "% baik atas permohonannya senPdiri% maupun atas permintaan seorang atau lebih krediturnya8. *ementara pada UU' dan P'PU yang baru% yaitu UU No. $2 ;ahun "##)% Pasal 1 (yat (1) menyebutkan 'epailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh 'urator di ba.ah penga.asan 6akim Penga.as sebagaimana diatur dalam Undang undang ini . 4etno.ulan menyatakan 'epailitan adalah eksekusi massal yang ditetapkan dengan keputusan hakim% yang berlaku serta merta% dengan melakukan penyitaan umum atas semua harta orang yang dinyatakan pailit% baik yang ada pada .aktu pernyataan pailit% maupun yang diperoleh selama kepailitan berlangsung% untuk kepentingan semua kreditur% yang dilakukan dengan penga.asan pihak yang ber.ajib. Dari pengertian kepailitan seperti disebutkan diatas% dapat disimpulkan+ a. 'epailitan dimaksudkan untuk men&egah penyitaan dan eksekusi yang dimintakan oleh kreditur se&ara perorangan. b. 'epailitan hanya mengenai harta benda debitur% bukan pribadinya. <adi% ia tetap &akap untuk melakukan perbuatan hukum di luar hukum kekayaan. *itaan terhadap seluruh harta kekayaan debitur disebut pula sebagai eksekusi kolekti- (&olle&ti:e eLe&ution) . *uatu proses khusus dari eksekusi kolektidilakukan se&ara langsung terhadap semua kekayaan yang dimiliki oleh debitur untuk man-aat semua kreditur . ;ujuan kepailitan menurut Baillissements:erordening adalah melindungi kreditor konkuren untuk memperoleh hak haknya berkaitan dengan berlakunya asas yang menjamin hak hak yang berpiutang (kreditor) dari kekayaan orang yang berutang (debitor) . ;ujuan ini sesuai dengan asas sebagaimana yang ter&antum dalam Pasal 11$1 B@. 6ukum memberlakukan asas tersebut untuk memantapkan keyakinan kreditur bah.a debitur akan melunasi utang utangnya . ;ujuan lain UU' dan P'PU adalah untuk men&egah ke&urangan yang dilakukan oleh para kreditur. UU' dan P'PU juga berupaya untuk melindungi kreditor dan

debitornya% dengan &ara men&egah ke&urangan yang dilakukan debitor untuk melindungi para kreditor dengan membuat suatu pembagian yang seimbang terhadap harta kekayaan debitor. UU' dan P'PU juga menjamin agar pembagian harta kekayaan debitur di antara para krediturnya sesuai dengan asas pari passu pro rata parte% sesuai dengan asas yang ter&antum dalam Pasal 11$" B@. ).1.1.*yarat pengajuan pailit ;entang syarat untuk dapat dipailitkan sebelumnya diatur dalam Pasal 1 UU' dan P'PU ;ahun 1!!9 yang telah diubah dengan UU' dan P'PU yang baru yakni UU No. $2 ;ahun "##)% Pasal " (yat (1). Pada prinsipnya keduanya mengatur hal yang sama% hanya berbeda penempatan pasal saja. Dalam Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU disebutkan 8debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh .aktu dan dapat ditagih% dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan% baik atas permintaan sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih krediturnya8. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut% maka untuk dapat dinyatakan pailit seorang debitur harus memenuhi syarat syarat berikut ini+ a. debitur mempunyai dua atau lebih kreditor b. tidak membayar sedikitnya satu utang jatuh .aktu dan dapat di tagih &. atas permohonanya sendiri maupun atas permintaan seorang atau lebih kreditornya. Pernyataan pailit diperiksa se&ara sederhana (sumir)% ialah bila dalam mengambil keputusan tidak diperlukan alat alat pembuktian seperti diatur dalam buku ke ID 'U6 Perdata &ukup bila peristi.a itu telah terbukti dengan alat alat pembuktian yang sederhana. Pernyataan pailit dapat dimohon oleh seorang atau lebih kreditor% debitor% atau jaksa penuntut umum untuk kepentingan umum. 'epailitan tidak membebaskan seorang yang dinyatakan pailit dari ke.ajiban untuk membayar utang untangnya. ).1.". Pihak yang dapat mengajukan pailit Dalam UU' dan P'PU terdapat perubahan tentang siapa saja pihak yang ber.enang mengajukan permohonan kepailitan. Pasal " (yat (1) sampai dengan (yat (/) UU' dan P'PU ;ahun "##) (yang baru) mengatur hal ini. Pihak pihak yang mengajukan pailit adalah + 1. Debitor senPdiri% ". *eorang atau lebih kreditornya%

$. 'ejaksaan untuk kePpentingan umum% ). Bank Indonesia (BI) /. Badan Penga.as Pasar Modal (B(PEP(M) atau 0. Menteri 'euangan *elanjutnya mengenai pihak pihak yang dapat mengajukan permohonan pailit ke pengadilan niaga tersebut dapat dijelaskan seperti berikut+ ).1.$.(kibat 6ukum 'epailitan *etelah putusan permohonan pernyataan pailit diu&apkan oleh hakim pengadilan niaga% maka timbulah sejumlah akibat hukum terhadap perbuatan hukum yang dilakukan oleh debitor. Mengenai akibat kepailitan telah diatur dalam Bab II% bagian 'edua% Pasal "1 Pasal 0/ UU' dan P'PU. (kibat akibat kepailitan tersebut antara lain terhadap debitor% harta kekayaan debitor% perikatan debitor% perjanjian timbal balik% perjanjian se.a% perjanjian kerja% penerimaan .arisan oleh debitor pailit% hak jaminan% dan hak retensi . (kibat hukum kepailitan terhadap + harta kekayaan debitor pailit (Pasal "1 <o. Pasal "")% Debitor Pailit (Pasal ") <o. Pasal "0)% *emua perikatan yang di buat Debitor pailit (Pasal "/)% Perjanjian perjanjian tertentu (Pasal $0 )#)% Perjanjian kerja (Pasal $!)% @arisan(Pasal )#)% 6ibah (Pasal )$ )))% 'reditor Pemegang 6ak <aminan (Pasal // /9)% 6ak 4etensi 'reditor (Pasal 01)% ;rans-er dana dan transaksi e-ek (Pasal ") (yat ($) dan ()) .1. As'ek Hukum *e'ailitan BUMN Perser# 'egagalan suatu perusahaan yang pada akhirnya menuju pada kepailitan% bukanlah sesuatu yang luar biasa yang jarang terjadi% akan tetapi merupakan hal yang biasa dan bahkan sering terjadi dalam dunia usaha. *uatu perusahaan yang pada mulanya merupakan perusahaan yang sehat namun pada akhirnya menjadi bangkrut atau pailit adalah -enomena yang banyak terjadi baik perusahaan yang tergolong ke&il sampai perusahaan raksasa. Dunia sempat terperangah dengan bangkrutnya perusahaan minyak raksasa asal (merika *erikat% yakni EN41N% di Indonesia misalnya 'asogi dan Bakri Froup . 'asus Enron dan ?ehmon Brothers merupakan bagian dari keterkejutan dunia terhadap -akta bagaimana suatu korporasi yang kelihatan begitu besar% sehat dan po.er-ul tiba tiba begitu saja dipailitkan. Istilah transparansi yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari doktrin good &orporate go:ernan&e hanya merupakan debat atau tudingan tudingan pelipur lara setelahnya. *ituasi yang sangat sulit yang merupakan bola panas perekonomian global saat ini suka atau tidak suka telah bergulir masuk pada .ilayah perekonomian Indonesia% yang sangat

memungkinkan mendorong peningkatan kon-lik utang piutang di kalangan pelaku usaha . Demikian juga Indonesia sempat heboh bahkan terjadi demo dimana mana ketika P;. DI (Persero) yang merupakan salah satu BUMN yang sempat mengedepan masa pemerintahan Presiden B.<. 6abibie dipailitkan oleh Pengadilan Niaga <akarta Pusat tahun "##2. ;ak kurang para birokrat termasuk @akil Presiden <usu- 'alla ketika itu turut angkat bi&ara. 6al ini dikarenakan BUMN tersebut adalah perusahaan milik negara sehingga kalau sampai dipailitkan maka 7seolah olah negaralah yang akan bangkrut sehingga tidak mungkin dan tidak layak apabila negara itu pailit atau bangkrut. ;etapi mereka semua lupa barangkali bah.a kegagalan perusahaan bukanlah &a&at bagi seorang pengusaha akan tetapi merupakan salah satu dimensi dari resiko usaha. Negara dalam hal melalui Menteri 'euangan untuk ikut dalam dunia usaha dengan mendirikan perusahaan yang disebut BUMN (khususnya Persero). *ehingga kedudukan negara adalah sebagai pengusaha yang memiliki saham di Persero tadi. *ebagai konsekuensi yuridisnya dari melaksanakan kegiatan usaha tersebut maka negara bisa memperoleh keuntungan atau sebaliknya akan menanggung kerugian. Dan pada akhirnya adanya kerugian tersebut se.aktu .aktu bisa mengarah pada kebangkrutan atau kepailitan. Mestinya -iloso-i inilah yang harus dipegang kuat oleh kita semua masyarakat Indonesia% termasuk oleh pemerintah dan terlebih lagi para aparat penegak hukum di Indonesia. (da banyak teori tentang sebab sebab kepailitan suatu perusahaan% misalnya dari Mark Ingebretsen menyebutkan ada sepuluh alasan besar mengapa suatu perusahaan akan bangkrut% yakni+ 7membiarkan harga saham mendikte strategi% perusahaan yang tumbuh terlalu &epat% mengabaikan konsumen% mengabaikan pergeseran paradigma% melibatkan diri dalam perang harga berkepanjangan% mengabaikan ke.ajiban an&aman krisis% berino:asi terlalu sering% peren&anaan suksesi yang buruk% sinergi sinergi yang gagal% serta arogansi dari perusahaan8. Namun dari sekian banyak teori sebab sebab kepailitan yang ada dua penyebab utama kepailitan yaitu+ pertama% sebab internal perusahaan yang lebih disebabkan oleh salah urus pihak direksi dan manajemen. 'edua% sebab eksternal perusahaan yang lebih disebabkan karena berubahnya lingkungan bisnis . BUMN Persero adalah merupakan badan hukum. Badan hukum sebagai subyek hukum yang mempunyai kekayaan terpisah dari kekayaan perseronya juga dapat dinyatakan pailit. Dengan pernyataan pailit% organ badan hukum tersebut akan kehilangan hak untuk mengurus kekayaan badan hukum. Pengurusan harta kekayaan badan hukum yang dinyatakan pailit beralih pada kuratornya. 1leh karena itu maka gugatan hukum yang bersumber pada hak dan ke.ajiban harta kekayaan debitur pailit harus diajukan pada kuratornya. Dalam UU BUMN% Pasal 1 angka 1 disebutkan bah.a Badan Usaha Milik Negara% yang selanjutnya disebut BUMN adalah badan usaha yang seluruhnya

atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan se&ara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Perusahaan perseroan% yang selanjutnya disebut Persero adalah BUMN yang berbentuk Perseroan ;erbatas yang modalnya terbagi atas saham yang seluruhnya atau paling sedikit /1 3 sahamnya dimiliki negara 4I yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. ;erhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas sebagaimana diatur dalam UU No. 1 tahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas yang sekarang telah di&abut dan dinyatakan tidak berlaku lagi berdasarkan Pasal 10# UU No. )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas. Berdasarkan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU serta UU P; dan UU BUMN% maka terhadap BUMN juga dapat dikenai kepailitan. (kan tetapi harus diperhatikan adalah apakah BUMN sebagai badan hukum tersebut berbentuk Perum ataukah Persero% karena apabila berbentuk Perum maka seperti ketentuan dalam penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU bah.a yang ber.enang mengajukan permohonan kepailitan adalah Menteri 'euangan% tetapi apabila berbentuk Persero berdasarkan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU jo. UU P; dan UU BUMN maka yang mengajukan kepailitan sama seperti ketika suatu P; mengalami pailit artinya dapat diajukan oleh debitur% kreditur atau para krediturnya. *ebelumnya pada Bab II% Nomor ".$.$.1 telah saya bahas bah.a Persero itu identik atau sama dengan P;% maka untuk menja.ab permasalahan ini tentunya kita harus mendasarkan pada ketentuan UU P; ;ahun "##2 dan UU' dan P'PU. ).".1.BUMN Persero dapat dipailitkan Perseroan adalah asosiasi modal yang oleh UU P; diberi status sebagai badan hukum. 1leh karena Perseroan adalah badan hukum (re&htperson) maka Perseroan adalah subyek hukum mandiri atau persona standi in judi&io. *ejauh menyangkut kedudukannya dimuka hukum% Perseroan seperti halnya orang perseorangan (manusia) adalah pengemban hak dan ke.ajiban (drager :an re&hten en :erpli&htingen). (kan tetapi berbeda dari perseorangan% sekalipun Perseroan adalah subyek hukum yang mandiri% pada hakikatnya Perseroan adalah suatu 8arti-i&ial person8 karena merupakan produk kreasi hukum . 6al inilah yang menjadi sebab mengapa Perseroan memerlukan organ organ tertentu seperti 4UP*% direksi% dan komisaris untuk dapat melakukan perbuatan hukum . 'arena untuk melakukan perbuatan hukum mutlak memerlukan jasa manusia sebagai .akilnya maka sudah tepatlah apa yang dinyatakan oleh UU P; Pasal !$ (yat (1)% yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah 8orang perseorangan yang &akap melakukan perbuatan hukum% O..8. 'etentuan serupa juga berlaku bagi anggota de.an komisaris yang diatur dalam Pasal 11# (yat (1) UU P;.

*ebagai legal entity% P; dapat mengajukan permohonan pailit ataupun dimohonkan pailit. *ebagaimana hal ini telah se&ara tegas diatur dalam Pasal 1 angka (") dan angka ($) UU' dan P'PU% bah.a yang dapat menjadi kreditur ataupun debitur adalah 8orang8. Pengertian kata 8orang8 dalam pengertian kreditur dan debitur dalam UU' dan P'PU tersebut meliputi orang pribadi (personal entity) ataupun badan hukum (legal entity). Perseroan ;erbatas atau P; adalah 8orang8 dalam bentuk badan hukum (legal entity) . *ebagai suatu legal entity% P; merupakan pribadi hukum yang mandiri yang se&ara tegas mempunyai keterpisahan dalam pelaksanaan hak dan ke.ajiban dengan masing masing pribadi pemegang saham ataupun pengurusnya (separate entity separate liability) . @alaupun P; merupakan .adah persekutuan modal dari para pemodalnya% akan tetapi% pada saat P; disahkan menjadi suatu badan hukum oleh Depkum dan 6(M berdasarkan Pasal 2 (yat ()) jo. Pasal 1 (yat (1) UU P;% maka sejak saat itulah P;. lahir menjadi 8orang8 yang memiliki kekayaan sendiri yang terpisah dari masing masing pemegang sahamnya yang se&ara mandiri dapat dipergunakan untuk melaksanakan akti:itas bisnisnya denngan pihak lain% begitu pula penyelesaian ke.ajibannya ataupun utang utangnya kepada krediturnya dengan menggunakan hartanya berdasarkan Pasal 11$1 B@ dan Pasal 1 angka (0) UU' dan P'PU . 6al tersebutlah yang menjadi dasar% bah.a dalam UU' dan P'PU% P; dapat dikategorkan sebagai kreditor ataupun debitor% sehingga sebagai kreditur P; mempunyai ke.enangan (presona in standi judi&io) untuk mengajukan permohonan pernytaan pailit terhadap debitornya ataupun sebaliknya dimohonkan pailit oleh kreditornya ataupun se&ara :olunter oleh dirinya senidri atas terpenuhinya bukti bah.a P; tersebut memenuhi syarat untuk dapat dimohonkan pailit . Demikian juga menurut Bred BF. ;umbuan% bah.a perseroan sebagai subyek hukum mandiri &akap dan ber.enang atas namanya dan untuk kepentingannya sendiri mengadakan aneka ragam hubungan hukum mengenai harta kekayaan (:ermongensre&htelijke re&hstbetrekkingen) dalam upayanya melaksanakan maksud dan tujuannya. 'onsekuensi dari kenyataan tersebut adalah bah.a terhadap Perseroan dapat dimohonkan pernyataan pailit oleh kreditornya . Bilamana permohonan pernyataan pailit diputuskan maka karena hukum ke.enangan pengurusan dan pemberesan atas seluruh kekayaan Perseroan yang ter&akup dalam harta pailit sejak tanggal putusan pernyataan pailit se&ara eklusidiberikan kepada kurator . 'epailitan adalah sita umum atas semua harta kekayaan Debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh 'urator di ba.ah penga.asan 6akim Penga.as sebagaimana diatur daam UU' dan P'PU . 'epailitan meliputi seluruh kekayaan debitor pada saat putusan pernyataan pailit diu&apkan serta segala sesuatu yang diperoleh selama kepailitan. Debitor kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit sejak tanggal putusan pernyataan pailit diu&apkan.

*ebagaimana telah diuraikan sebelumnya bah.a Persero itu sama dengan P;% maka terhadap Perseroan juga tentunya dapat dipailitkan% dengan &atatan apabila telah terpenuhi syarat syarat untuk dapat dipailitkan seperti yang ditentukan dalam Pasal " UU' dan P'PU. *ampai disini memang ada hal yang harus diperhatikan dengan &ermat% khususnya ketika terkait dengan siapa yang ber.enang untuk dapat mengajukan permohonan kepailitan (legal standing) nya ketika menyangkut debitornya tersebut adalah BUMN. Dalam Pasal " UU' dan P'PU dinyatakan bah.a pihak pihak yang mengajukan permohonan kepailitan atas debitor yang tidak membayar utang utangnya adalah+ (1). Debitor sendiri% ("). *eorang atau lebih kreditor, ($). 'ejaksaan ,()). Bank Indonesia, dan (/). Menteri 'euangan. ).".".Pihak Cang Dapat Mengajukan permohona pailit BUMN Persero Menurut Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU% dalam hal debitor adalah perusahaan asuransi% dana pensiun% atau BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik % permohonan pailit diajukan oleh Menteri 'euangan. Berdasarkan penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU dinyatakan% yang dimaksud BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik adalah BUMN yang seluruhnya modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham. ?ebih lanjut dengan mere-er pada UU BUMN Pasal 1 angka )% bah.a BUMN yang modalnya tidak terbagi dalam saham adalah Perusahaan Umum (Perum). BUMN yang berbentuk Perusahaan Perseroan (Persero) tidak termasuk dalam kategori ini karena seluruh modal Persero terbagi dalam saham yang seluruhnya atau sebagian besar dimiliki Negara . *aya kurang sependapat mengenai &ontoh yang diberikan oleh *utan 4emy *jahdeini% terkait dengan 8badan usaha milik negara yang bergerak di bidang kepentingan publik8. 4emy memberi &ontoh bah.a 8BUMN yang dimaksud% misalnya Pertamina% P?N% P; '(I% dan <asa Marga8 . (lasannya% karena pada -aktanya &ontoh &ontoh yang disebutkan tersebut adalah merupakan badan usaha milik negara yang berbentuk PE4*E41. *ementara bila mendasarkan pada ketentuan yang ada dalam penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU dan lebih lanjut dihubungkan dengan UU BUMN Pasal 1 angka )% jelas jelas bah.a yang dimaksudkan adalah BUMN Perum bukan Persero. Dalam penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU tersebut yang membedakan adalah mengenai modalnya% seluruhnya dimiliki oleh negara dan 8terbagi atas saham8 atau 8tidak terbagi atas saham8. (rtinya Bila BUMN tersebut modalnya 8tidak terbagi atas saham8 dengan kata lain BUMN Perum% maka permohonan kepailitan diajukan oleh Menteri 'euangan. Dalam hal ini Menteri 'euangan sebagai representasi negara sebagai pemilik modal. (pabila BUMN tersebut modalnya 8terbagi atas saham8% itu artinya BUMN Persero maka seharusnya menggunakan dasar hukum Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU yaitu permohononan kepailitan boleh diajukan oleh kreditur atau debitur itu sendiri. *ehingga tidak harus diajukan oleh Menteri 'euangan. Mengapa demikian% karena -iloso-inya Persero adalah sebagai suatu legal entity% identik dengan P;. yang merupakan pribadi hukum yang mandiri yang se&ara tegas

mempunyai keterpisahan dalam pelaksanaan hak dan ke.ajiban dengan masing masing pribadi pemegang saham ataupun pengurusnya (separate entity separate liability). *ementara dalam Persero% Menteri 'euangan berkedudukan sebagai pemegang saham% sehingga hak dan ke.ajiban yang ada sama seperti pemegang saham biasa yang lainnya. Pasal 1 UU BUMN menentukan bah.a BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki Negara melalui penyertaan langsung berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan. UU BUMN mengenal dua bentuk BUMN% yakni Perusahaan perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). 'e.enangan Menteri 'euangan 4I untuk mengajukan pernyataan kepailitan hanya untuk BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik. Penjelasan Pasal " UU' dan P'PU menyatakan% BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. Dengan penjelasan diatas tentunya mudah di-ahami apabila ada BUMN Persero atau saya sebut dengan Persero saja apabila telah memenuhi syarat untuk dipailitkan maka bukan merupakan ke.enangan atau tidak harus Menteri 'euangan yang mengajukan kepailitan seperti yang terjadi pada &ontoh kasus kepailitan P; DI (Persero) pada tahun "##2. 'arena apabila mendasarkan pada ketentuan ketentuan UU' dan P'PU dan UU BUMN seperti yang telah diuraikan tadi maka sebagai Persero% pengajuan pailit P;. DI (Persero) tidak harus diajukan oleh Menteri 'euangan% akan tetapi dapat se&ara langsung diajukan oleh kreditornya% sepanjang persyaratan untuk memohonkan pailit sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU telah terpenuhi. Inilah yang dijadikan dasar pertimbangan oleh majelis hakim dalam putusannya No. )1APailitA"##2APN. NiagaA<kt. Pst tanggal ) *eptember "##2 atas P;. Dirgantara Indonesia (Persero) % yang antara lain berbunyi seperti berikut+ 8menimbang% bah.a berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka majleis hakim sependapat dengan Pemohon bah.a ;ermohon Pailit P;. Dirgantara Indonesia (Persero) tidak termasuk dalam kategori BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal " (yat (/) UU 'epailitan dan P'PU sehingga dengan demikian Pemohon Pailit mempunyai kapasitas hukum untuk mengajukan Permohonan pailit terhadap ;ermohon Pailit% P;. Dirgantara Indonesia (Persero)8. *esungguhnya status P;. DI (Persero) tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN yang bergerak dalam bidang publik sebagaimana yang dimaksud oleh pasal 1 angka ) UU BUMN. 'arena dalam P;. DI (Persero) seluruh modalnya terbagi dalam saham. Mengenai status hukum P;. DI (Persero) dapat dilihat dalam Berita Negara mengenai persetujuan akte perubahan anggaran dasar Perseroan ;erbatas ;anggal "/ 1ktober "##/ No. 9/ oleh Depkum dan 6(M 4I. *esuai dengan 'eputusan Menkum dan 6(M 4I No.= #)02#.6;.#1.#) tahun "##/ dalam Pasal 1 angka 1 disebutkan Perseroan ;erbatas ini bernama Perusahaan Perseroan

(Persero) P;. Dirgantara Indonesia disingkat P;. DI (Persero). 'emudian dalam Pasal ) (yat (") dan (yat ($) disebutkan pemegang saham dan P;. Dirgantara Indonesia (Persero) adalah Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara 4I &K. Negara 4epublik Indonesia dan Menteri 'euangan 4I &K. Negara 4epublik Indonesia . Pada dasarnya% permohonan pailit kepada BUMN Persero% bukan baru pertama kali diajukan ke Pengadilan Niaga. *ebelumnya% pengajuan pailit telah pernah diajukan kepda P;. 6utama 'arya (Persero) yang pada tingkat kasasi telah diputuskan pailit. (kan tetapi kemudian putusan kasasi tersebut dibatalkan Majelis 6 akim P' M(. ;idak dengan menggunakan alasan hukum seperti yang diajukan dalam putusan P;. DI (Persero)% akan tetapi dengan membuktikan -akta bah.a ke.ajiban P;. Persero tersebut kepada kreditur lainnya% ternyata telah dilunasi% sehingga terbukti mempunyai kreditur lainnya seperti yang dipersyaratkan oleh Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU. Demikian juga terhadap permohonan pailit yang diajukan oleh ;he Dietnam Brontier Bund terhadap P;. D1' dan Perkapalan 'odja Bahari (Persero) yang ditolak oleh Pengadilan Niaga hingga pada tahap kasasi% tidak didasarkan oleh adanya hak khusus terhadap Persero . Pertimbangan yang dipergunakan hakim Mahkamah (gung pada tingkat 'asasi dalam membatalkan putusan Pengadilan Niaga <akarta Pusat atas putusan pailit P;. DI (Persero)% antara lain seperti dikutip berikut+ 8 bah.a oleh karena itu% Pemohon kasasi IA;ermohon sebagai Badan Usaha Milik Negara yang keseluruhan modalnya dimiliki negara dan merupakan obyek :ital industri% adalah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang kepentingan publik yang hanya dimohonkan pailit oleh Menteri 'euangan sebagaimana dimaksud oleh Pasal " (yat (/) UU No. $2 A "##)8. *aya sependapat dengan 4i&ardo *imanjuntak dalam hal ini% bah.a Pengadilan Niaga harus se&ara berani mengambil sikap yang tegas dan berkepastian hukum sehubungan dengan kedudukan BUMN dalam hal permohonan pailit yang tetap akan memungkinkan diajukan kepadanya sebagai badan hukum pendukung hak dan ke.ajiban. M( tidak dapat dengan begitu saja mengesampingkan ketentuan yang telah ditegaskan dalam Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU dan dalam penjelasannya serta dalam UU BUMN yang se&ara jelas dimaksudkan dalam hal BUMN tersebut adalah Persero% maka permohonan pailit terhadapnya dapat diajukan se&ara langsung oleh krediturnya . ).".$.'edudukan hukum direksi BUMN Persero dalam kepailitan Direksi adalah organ Perseroan yang ber.enang dan bertanggung ja.ab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan% sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta me.akili perseroan% baik didalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar UU P;. me.ajibkan pada setiap anggota direksi untuk beritikad baik dan penuh tanggung ja.ab untuk melakukan penga.asan perseroan untuk kepentingan dan usaha perseroan.

(rtinya direksi harus bertanggung ja.ab atas setiap pengurusan dan per.akilan terhadap perseroan dalam rangka untuk kepentingan dan tujuan perseroan. Demikian juga mestinya di dalam menjalankan BUMN yang berbentuk Persero% karena pada prinsipnya pengelolaan untuk BUMN Persero itu sama dengan pengelolaan dalam Perseroan ;erbatas. *ehingga direksi mempunyai -ungsi dan peranan yang sangat sentral dalam paradigma perseroan terbatas. 'arena pentingnya -ungsi dan kedudukan direksi% Nindyo Pramono menyitir teori organisme dari 1tto Don Fierke dan teori per.akilan dari Paul *&holten dan Bregstein. Menurut teori organisme% pengurus adalah organ atau alat perlengkapan dari badan hukum. *eperti halnya manusia mempunyai organ organ seperti+ kaki% tangan% pan&a indera% dan karena setiap gerakan organ organ itu dikehendaki atau diperintahkan oleh otak manusia% maka setiap gerakan atau akti:itas pengurus badan hukum dikehendaki atau diperintah oleh badan hukum sendiri sehingga pengurus adalah personi-ikasi dari badan hukum itu sendiri. *ebaliknya menurut Paul *&olten dan Bregstein% bah.a pengurus me.akili badan hukum. (nalog dengan pendapat Fierke dan Paul *&holten% maka direksi P;. bertindak me.akili P;. sebagai badan hukum. 6akekat dari per.akilan adalah bah.a seseorang melakukan sesuatu perbuatan untuk kepentingan orang lain atas tanggung ja.ab orang itu . Dari ketentuan normati- dalam UU P; dan teori dari Fierke *&holten Bregstein maka -ungsi direksi adalah melakukan pengurusan dan per.akilan . *ehubungan dengan kepailitan perseroan perlu diperhatikan bah.a selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 jo. Pasal 1"" UU' dan P'PU% yang se&ara khusus berlaku bagi pengurusAdireksi dan komisaris prseroan dan badan hukum lainnya. Bah.a pernyataan pailit tidak dengan sendirinya mengakibatkan perseroan menjadi bubar. 'arena berkenaan dengan kepailitan Persero bisa bubar% hanya apabila terjadi salah satu dari dua kejadian berkenaan dengan kepailitan perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1)" (yat (1) huru- d dan e UU P;% bah.a pembubaran perseroan terjadi+ (d).dengan di&abutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap% harta pailit perseroan tidak &ukup untuk membayar biaya kepailitan, (e).karena harta pailit perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insol:ensi sebagaimana diatur dalam undang undang tentang kepailitan dan penundaan ke.ajiban pembayaran utang. 1leh karena itu% perseroan pailit ke&uali dibubarkan sebagaimana disebut di atas% tetap &akap dan ber.enang melakukan perbuatan hukum. Cang kemudian perlu diperhatikan adalah tentang bagaimana selanjutnya ke.enangan organ organ Perseroan pailit.

'epailitan tidak menyentuh status badan hukum% mengingat bah.a kepailitan berkaitan dengan dan hanya men&akup harta kekayaan badan hukum. Badan hukum sebagai subyek hukum mandiri tetap &akap bertindak dan oleh karena itu% pada dasarnya organ organ badan hukum tersebut mempunyai ke.enangannya berdasarkan hukum (re&hpersonenre&htelijke be:oegdheden) . 1leh karena itu apabila Persero tadi mengalami kepailitan% maka direksi BUMN Persero tersebut tetap ber.enang me.akili perseroan se&ara sah dalam melakukan setiap perbuatan hukum% baik yang berhubungan dengan hak dan ke.ajibannya% sejauh perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan pengurusan (beheersdaden) dan perbuatan pengalihan (bes&hikkingsdaden) berkenaan dengan kekayaan perseroan yang ter&akup dalam harta pailit . (kan tetapi 4emi *jahdeini berpendapat lain% menurutnya 'urator berkedudukan sama dengan direksi perseroan karena kurator menggantikan kedudukan direksi perseroan setelah perseroan dinyatakan pailit. *aya sependapat dengan Bred BF.;umbuan % bah.a kepailitan sebuah perseroan tidak berarti status badan hukum suatu P;. menjadi hilang. Eksisnya badan hukum P;. berarti organ organ perseroan juga harus tetap eksis. *tatus badan hukum suatu perseroan yang pailit% tetap eksis sebelum perseroan tersebut dibubarkan yang dilanjutkan dengan likuidasi. 'arena status badan hukum BUMN Persero sebagai badan hukum pri:at itu sama dengan P;. maka apabila terjadi kepailitan pada BUMN Persero sama perlakuannya dengan kepailitan yang terjadi pada sebuah P;. 'epailitan perseroan berakibat bah.a Perseroan (&K. 1rgan organnya) tidak lagi se&ara sah dapat melakukan perbuatan hukum yang mengikat harta pailit Perseroan% karena ke.enangan tersebut se&ara ekslusi- ada pada kurator. 6al ini tidak berarti bah.a kurator selanjutnya menggantikan kedudukan organ organ Perseroan. Pada dasarnya organ organ Perseroan tetap ber-ungsi sesuai dengan UU P; dan anggaran dasarnya. 'husus berkenaan dengan tugas kurator% perlu diperhatikan bah.a baik direksi maupun de.an komisaris .ajib memberikan in-ormasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 dan Pasal 1") UU' dan P'PU "##). Bah.a dalam kepailitan suatu badan hukum% ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal !$IPasal !2 hanya berlaku terhadap pengurus badan hukum tersebut% dan ketentuan Pasal 11# (yat (1) berlaku terhadap pengurus dan komisaris . Pasal 11# (yat (1) menyatakan% debitor pailit .ajib menghadap hakim Penga.as% 'urator atau panitia kreditor apabila dipanggil untuk memberi keterangan. *ementara M. 6adi *hubhan berpendapat bah.a% yang ber.enang melakukan pengurusan dan pemilikan adalah kurator% dan demi hukum usaha P; tersebut harus berhenti. <ika mau melanjutkan usaha (on going &on&ern) harus ijin hakim penga.as% akan tetapi dalam praktik% tenaga direksi masih diperlukan oleh kurator sehingga direksi dapat membantu kurator. <adi harus ada pelimpahan .e.enang atau perintah dari kurator.

(mir (badi <usu- % sejalan dengan pendapat Bred bah.a kurator tidak menggantikan kedudukan direksiAkomisaris sehubungan dengan pengurusan kekayaan perusahaan pailit. 'urator hanya bertanggung ja.ab atas pengurusan dan pemberesan kekayaan perusahaan. 'e.ajiban dan tanggung ja.ab sebagai pengurus perusahaan% di luar pengurusan kekayaan perusahaan% tetap berada di tangan direksi dan komisaris. Meskipun ada kesan bah.a dengan ke.enangan tanggung ja.ab yang dimilikinya% kurator menggantikan kedudukan direksiA komisaris% termasuk pemenuhan ke.ajiban perusahaan sebagai suatu badan usaha atau badan hukum. 6al ini juga dinyatakan dalam Pasal 1)$ (yat (1) jo. Pasal 1)" (yat (") UU P;. Dalam Pasal 1)$ (yat (1) UU P; menyatakan dengan tegas bah.a+ 8pembubaran perseroan tidak mengakibatkan Perseroan kehilangan status badan hukum sampai dengan selesainya likuidasi dan pertanggungja.aban likuidator diterima oleh 4UP* atau pengadilan8. ).".).;anggung ja.ab direksi BUMN Persero dalam kepailitan Untuk membahas mengenai tanggung ja.ab direksi BUMN Persero atas kepailitan tersebut% ada dua doktrin yang penting untuk dikemukakan yaitu+ -idu&iary duty dan business judgement rule . Dalam teori tentang perseroan terbatas yang mutakhir mengenai ke.ajiban pengurus perseroan memiliki " ma&am ke.ajiban menurut *utan 4emi *jahdeini % yaitu+ 1. *tatutory duties% yaitu ke.ajiban yang se&ara tegas ditentukan oleh undang undang. Mengenai statutory duty sebagaimana diatur dalam UU P; Pasal !" (yat (1)% Pasal !2 (yat (1) dan Pasal !9 (yat (1)% yang pada intinya bah.a tugas utama pengurus perseroan (direksi) adalah melaksanakan pengurusan perseroan sebaik baiknya untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta me.akili perseroan di dalam dan di luar pengadilan% sehingga maksud dan tujuan perseroan akan ter&apai. ;ugas kepengurusan direksi tidak terbatas pada kegiatan rutin% melainkan juga ber.enang dan .ajib mengambil inisiati- membuat ren&ana dan perkiraan mengenai perkembangan perusahaan untuk masa mendatang dalam rangka me.ujudkan maksud dan tujuan perseroan. ". Bidu&iary duties direksi terhadap perseroan ter&ermin dalam dua ma&am ke.ajiban yaitu (1) duty o- loyalty and good -aith dan (") duty o- &are and diligen&e . Dalam konteks duty o- loyalty and good -aith% direksi tidak semata mata hanya melaksanakan tugas untuk dan bagi kepentingan perseroan% melainkan juga para stakeholders perseroan yang didalamnya juga meliputi kepentingan dari para pemegang saham perseroan% kreditor perseroan dalam arti luas% yang meliputi juga para pemasok% rekanan kerja% juga konsumen. Berdasarkan duty o- &are atau ke.ajiban untuk berhati hati% anggota direksi dan pega.ai suatu perseroan harus

bersikap dan berbuat+ 8;hey must eLer&ise that degree o- skill% diligen&e% and &are that a reasonably prudent person .ould eLer&ise in similar &ir&umstan&es8 . Menurut 4emy% bah.a di negara negara yang menganut &ommon la. system a&uan yang dipakai adalah standard o- &are atau 8standar kehati hatian8. (pabila direksi telah bersikap dan bertindak melanggar standar o- &are% direksi tersebut dianggap telah melanggar duty o-- &are nya. *ementara menurut Munir Buady menyatakan adanya doktrin putusan bisnis (business judgement rule)% ini merupakan suatu doktrin yang mengajarkan bah.a suatu putusan direksi mengenai akti:itas perseroan tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun% meskipun putusan tersebut kemudian ternyata salah atau merugikan perseroan sepanjang putusan tersebut memenuhi syarat sebagai berikut+ 1. putusan sesuai hukum yang berlaku ". dilakukan dengan itikad baik $. dilakukan dengan tujuan yang benar (proper purpose) ). putusan tersebut mempunyai dasar dasar yang rasional (rational basis) /. dilakukan dengan kehati hatian (due &are) seperti dilakukan oleh orang yang &ukup hati hati pada posisi yang serupa 0. dilakukan dengan &ara yang se&ara layak diper&ayainya (reasonable belie-) sebagai yang terbaik (best interest) bagi perseroan. Funa.an @idjaya menyatakan bah.a dalam konsepsi business judgement rule seorang anggota direksi tidak dengan mudah dianggap telah melakukan pelanggaran atas duty o- &are and skill% selama ia dalam mengambil suatu tindakana telah didasarkan pada itikad baik% ke&uali jika terdapat ke&urangan (-raud)% benturan kepentingan (&on-li&t o- interest)% atau perbuatan mela.an hukum (illegality). Business judgement rule se&ara tradisional juga dikonsep untuk melindungi kepentingan anggota direksi dari pertanggungja.aban diambilnya keputusan usaha tertentu yang mengakibatkan kerugian bagi perseroan . <adi sebenarnya dengan diberlakukannya prinsip judgement rule% terjadi beban pembuktian terbalik% dimana pihak yang menduga bah.a direksi (danAatau anggotanya) tidak boleh bertindak se&ara baik untuk keuntungan perseroan .ajib membuktikan adanya dugaan tersebut . Dari uraian tersebut diatas% seolah olah kedua doktrin tersebut 8-idu&iary duty8 dan 8business judgement rule8 saling bertolak belakang. Menurut 4obert =harles =lark agar kedua doktrin ini tidak saling berbenturan% tetapi dapat sejalan satu dengan yang lainnya perlu dijadikan pegangan -ormulasi berikut+ 8the dire&tors business judgement &an not be atta&ked unless their judgement .as arri:ed at in negligent manner% or .as tainted by -raud% &on-li&t o- interest% or illegality8 atau

se&ara lain dirumuskan bah.a 8the business judgement rule presupposes that reasonable deligen&e lies behind teh judgement in Kuestion8. =lark mengakui bah.a untuk membuat kedua konsep tersebut konsisten satu sama lain tidaklah mudah karena memisahkan antara apa yang disebut a honest dan a negligent mistake sangat sulit dilakukan. Dalam UU P;. yang baru ini rupanya telah menganut prinsip 8business judgement rule8 sebagaimana dituangkan dalam Pasal !" (yat (")% yaitu+ direksi ber.enang menjalankan pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kebijaksanaan yang dipandang tepat% dalam batas yang ditentukan dalam Undang undang ini danAatau (nggaran Dasar. Dalam penjelasan pasal tersebut dibatasi de-inisi kebijakan yang dipandang tepat yaitu kebijakan yang didasarkan pada+ (1). keahlian% ("). peluang yang tersedia% dan ($). kela5iman dalam dunia usaha yang sejenis. Di dalam Undang undang% mengenai tanggung ja.ab direksi dalam hal terjadi kepailitan sebagaimana diatur dalam Pasal 1#) UU P;% adalah+ 1. direksi tidak ber.enang mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri kepada Pengadilan Niaga sebelum memperoleh persetujuan 4UP*% dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang undang tentang 'epailitan dan Penundaan 'e.ajiban Pembayaran Utang% ". dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terjadi karena kesalahan atau kelalaian direksi dan harta pailit tidak &ukup untuk membayar seluruh ke.ajiban perseroan dalam kepailitan tersebut% setiap anggota direksi se&ara tanggung renteng bertanggungja.ab atas seluruh ke.ajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut% $. tanggung ja.ab sebagaimana dimaksudkan pada ayat (") berlaku juga bagi anggota direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota direksi dalam jangka .aktu / tahun sebelum putusan pernyataan pailit diu&apkan% ). anggota direksi tidak bertanggungja.ab atas kepailitan perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (") apabila dapat membuktikan+ a. 'epailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya. b. ;elah melakukan pengurusan dengan itikad baik% kehati hatian% dan penuh tanggung ja.ab untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. &. ;idak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan% dan d. ;elah mengambil tindakan untuk men&egah terjadinya kepailitan

/. ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (")% ayat ($)% dan ayat ()) berlaku juga bagi direksi dari perseroan yang dinyatakan pailit berdasarkan gugatan pihak ketiga. Berdasarkan Pasal 1#) khususnya (yat ())% memberi kesempatan pada direksi untuk tidak bertanggung ja.ab atas kepailitan perseroan apabila direksi dapat membuktikan ) hal sebagaimana disebutkan dalam ayat ()). Dengan demikian% beban pembuktian berada pada direksi yang bersangkutan. Mengenai pembuktian adanya unsur kesalahan atau kelalaian ini menjadi kun&i utama dalam menuntut pertanggung ja.aban anggota direksi. Menurut *utan 4emy *jahdeini% yang dimaksudkan dengan 8kesalahan8 dalam Pasal !# (yat (") UU P; yang lama adalah 8kesengajaan8% karena dalam Pasal !# (yat (") UU P; lama disebut pula se&ara tersendiri unsur 8kelalaian8 . 4emy sependapat dengan sikap pengadilan pengadilan (merika *erikat% bah.a seorang anggota direksi perseroan dalam menjalankan tugasnya hanya bertanggung ja.ab apabila kelalaian yang dilakukan adalah kelalaian berat (gross negligen&e) . Dalam UU' dan P'PU% ada " pasal yang dapat diterapkan terhadap pengurus perseroan baik direksi maupun komisaris% yaitu Pasal 111 dan Pasal 1"". Di dalam UU P; yang baru yakni UU No. )# ;ahun "##2 juga telah mengatur tentang tanggung ja.ab yang seimbang dan adil antara direksi dan de.an komisaris dalam hal terjadi kepailitan suatu perseroan% yang mana sebelumnya dalam UU P; yang lama yaitu UU No. 1 tahun 1!!/ tidak dibebankan kepada de.an komisaris. )."./.;erhadap kekayaan BUMN Persero dapat dilakukan sita umum dalam kepailitan ;erhadap kekayaan BUMN yang berbentuk Persero maupun Perum dapat saja dilakukan sita umum dalam kepailitan. 'arena status harta kekayaan yang ada pada BUMN yang berbentuk Persero maupun Perum% keduanya adalah merupakan harta kekayaan negara yang telah dipisahkan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) sebagaimana ketentuan Pasal ) (yat ($) UU BUMN. 1leh karena itu berdasarkan PP tersebut harta kekayaan negara yang telah dipisahkan tersebut dengan menga&u pada doktrin mengenai badan hukum% sudah bukan merupakan aset negara atau milik negara lagi tetapi telah menjadi harta kekayaan BUMN baik itu yang berbentuk Perum apalagi BUMN yang berbentuk Persero maka sejak adanya akte notaris tentang pendirian persero% jelas jelas merupakan badan hukum pri:at. 'arena BUMN sebagai sebuah badan usaha yang berbadan hukum maka sebagai konsek.ensi yuridisnya adalah dapat mempunyai hak dan ke.ajiban layaknya subyek hukum pribadi atau person. 1leh karena itu sudah tidak ada aset negara atau modal milik negara lagi tetapi yang ada adalah modal atau saham milik perseroan itu sendiri sebagai badan hukum.

*ehingga aset BUMN Perum dan Persero tidak termasuk dalam pengertian atau kategori ketentuan Pasal /# khususnya huru- (a) dan (d) UU PBN . 1leh karena itu terhadap aset BUMN Persero tersebut karena tidak masuk dalam pengertian aset milik negara maka tentunya dapat dilakukan sita. Dalam UU PBN% pada Bab DIII mengatur mengenai ?arangan Penyitaan Uang dan Barang Milik NegaraA Daerah danA atau Cang Dikuasai NegaraA Daerah. Pasal /#% menyebutkan 7pihak mana pun dilarang melakukan penyitaan terhadap+ a. uang atau surat berharga milik negaraAdaerah baik yang berada pada instansi Pemerintah maupun pada pihak ketiga, d. barang tidak bergerak dan hak kebendaan lainnya milik negaraAdaerah, 'arena bukan merupakan uang danAatau barang milik negara (tidak memenuhi rumusan Pasal /# huru- (a) dan (d) UU PBN% maka menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 jo. Pasal " (yat (/) dan penjelasannya UU' dan P'PU% aset BUMN termasuk obyek dalam kepailitan artinya terhadap aset BUMN dapat diajukan untuk dimohonkan pailit. 6anya memang ada ketentuan yang berbeda terkait dengan siapa pihak yang dapat mengajukan pailit ke pengadilan niaga antara BUMN yang berbentuk Perum dengan yang berbentuk Persero. 'arena menurut UU' dan P'PU apabila terkait dengan kepailitan BUMN Perum yang harus mengajukan adalah Menteri 'euangan sebagaimana penjelasan Pasal " (yat (/)% lain halnya dengan BUMN Persero maka yang berlaku adalah ketentuan Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU. Dalam Pasal 1 angka 1 UU' dan P'PU menyebutkan 'epailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh 'urator di ba.ah penga.asan 6akim Penga.as sebagaimana diatur dalam Undang undang ini. 'emudian terkait dengan syarat dan putusan untuk pailit sebagaimana diatur dalam Pasal " (yat (1)% bah.a debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih% dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan% baik atas permohonan satu atau lebih krediturnya. (yat (/)% dalam hal debitor adalah Perusahaan (suransi% Perusahaan 4easuransi% Dana Pensiun% atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang kepentingan pulik% permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri 'euangan. 'husus mengenai kepailitan terhadap Badan Usaha Milik Negara maka dapat dirujuk penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU seperti berikut+ 8Cang dimaksud Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang kepentingan publik8 adalah Badan Usaha Milik Negara yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. 'e.enangan Menteri 'euangan dalam pengajuan permohonan pailit untuk instansi yang berada diba.ah penga.asannya seperti

ke.enangan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat ($) dan badan penga.as pasar Modal sebagaimana dimaksud pada ayat ())8. Dari penjelasan Pasal " (yat (/) tersebut diatas maka dapat dimaknai bah.a bila BUMN itu modal seluruhnya berasal dari negara dan tidak terbagi atas saham berarti bukan BUMN Persero. 'arena apabila Persero maka terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi P; sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 1 tahun 1!!/ tentang Perseroan ;erbatas yang sekarang telah di&abut dan dinyatakan tidak berlaku oleh Pasal 10# UU No. )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas. Dalam Pasal 2 (yat (1) UU P; yang baru disebutkan bah.a Perseroan didirikan oleh " (dua) orang atau lebih dan modalnya terbagi atas saham (ayat "). 'arena bukan Persero berarti Perum karena menurut UU BUMN% bentuk BUMN hanya ada dua yaitu Perum dan Persero. *ehingga untuk BUMN Persero berlaku ketentuan Pasal " (yat (1) artinya untuk dapat mempailitkan BUMN Persero bukan ke.enangan Menteri 'euangan untuk mengajukan permohonan kepailitan tersebut% dan apabila BUMN dalam bentuk Perum maka yang ber.enang untuk mengajukan permohonan kepailitan adalah Menteri 'euangan. Ini artinya terhadap BUMN pun dapat dimohonkan untuk dipailitkan bukan kebal pailit% hanya pihak yang mengajukan permohonan kepailitan saja yang berbeda% bila Perum oleh Menteri 'euangan sebagai pihak yang me.akili pemerintah pada Perum sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1$ tahun 1!!9 yang merujuk pada penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU. Untuk Persero diajukan oleh debitur itu sendiri% kreditur atau para krediturnya sebagaimana ketentuan dalam Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU ).$. 'ajian ;erhadap Putusan putusan Pengadilan Niaga dan Mahkamah (gung 4I atas 'epailitan BUMN Persero *elama kurun .aktu berlakunya UU 'epailitan No. ) ;ahun 1!!9 (1!!9 "##)) dan UU No. $2 tahun "##) ("##) "#1#Asekarang)% tidak banyak kita temukan permohonan pernyataan pailit yang menyangkut debitor atau kreditor BUMN Persero. Beberapa permohonan kepailitan atas BUMN Persero memang kita temukan% yakni selama kurun .aktu berjalannya kedua UU' dan P'PU tersebut (periode 1!!9 "##2) sekitar ) kasus saja% itupun pada akhirnya tidak ada satu pun BUMN Persero yang betul betul berakhir dengan dipailitkan sampai tahun "##2. Barulah kemudian di ;ahun "##2 pada kasus P; DI (Persero) dinyatakan pailit oleh PN Niaga <akarta Pusat% akan tetapi Mahkamah (gung 4I dalam kasasi mengabulkan permohonan kasasi sehingga P; DI (Persero ;ID(*' P(I?I;. Berikutnya tahun "##!% Mahkamah (gung dalam putusan 'asasi% P;. IF?(* (Persero) dinyatakan pailit pada tanggal $# <uli "##! yang membatalkan putusan Pengadilan Niaga *urabaya. Inilah menurut saya% yang menjadikan suatu hal yang menarik untuk dikaji pada BUMN Persero. Beberapa kasus terkait dengan permohonan pailit yang menyangkut BUMN Persero yang berhasil saya telusuri adalah seperti diuraikan dalam tabel 1 berikut+

;abel ).$.1. Permohonan pailit yang berkaitan dengan BUMN Persero (1!!9 "#1#) No. Pemohon PailitA Debitur ;ermohon PailitA 'reditur No. Putusan (mar Putusan 1 =anadian Imperial Bank o- =ommer&e P;. 6U;(M( '(4C( (PE4*E41) P Niaga+ Putusan No. )$APailitA1!!! APN.NiagaA<kt.Pst% ;anggal $ (gst 1!!! Permohonan tidak dapat diterima M(A'asasi+ Putusan No. "!A'A NA1!!!% ;anggal ) 1kt 1!!! Menolak Permohonan 'asasi M(AP'+ Putusan No. "0AP'A N A1!!!% tanggal 9 Des 1!!! Menolak Permohonan P' ". =hinatrust =ommer&ials Bank P;. (suransi <asa Indonesia (Persero) P Niaga+ Putusan No. //APailitA1!!! APN. NiagaA <kt.Pst.% tanggal "# *ept 1!!! Menolak permohonan pemohon M(A'ss+Putusan No. #$$A 'AN A1!!!% 1 No:1!!! Menolak Permohonan kasasi $. ;he 6ongkong =hinesse Bank ?;D. P;. Dok dan Perkapalan 'odja Bahari (Persero) P Niaga+ Putusan No. 91APailit A1!!!A PN. NiagaA<kt.Pst.% tanggal "/ No: 1!!! Permohonan tidak dapat diterima P Niaga+ Putusan No. #0APailit A"###A PN. NiagaA<kt.Pst.% tanggal "/ Beb. "### Permohonan tidak dapat diterima P Niaga+ Putusan No. $"APailit A"###A PN. NiagaA<kt.Pst.% tanggal 1) <uni "### Menolak Permohonan Pailit M(A'asasi+ Putusan No. "1A'A NA"###% ;anggal 0 <uli "### Menolak Permohonan 'asasi ). *uryono% Nugroho% *ayudi ($ orang mantan pekerja P;. DI Persero) P;. Dirgantara Indonesia (Persero) P Niaga+ Putusan No. )1APailitA "##2A PN. NiagaA<kt.Pst.% tanggal% $ *ept "##2 Mengabulkan Permohonan Pailit% (P;. DI. (Persero) P(I?I; P;. Dirgantara Indonesia (Persero)% dan P;. Perusahaan Pengelola (set (Persero) *uryono% Nugroho% *ayudi ($ orang mantan pekerja P; DI) M(A'asasi+Putusan No. #2/A'A NA"##2% tanggal% "" 1kt "##2 Menolak Permohonan pemohon% (P;. DI (Persero) ;ID(' P(I?I;

/. P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C( P;. IF?(* (Persero) P Niaga+ Putusan No. #1APailitA "##!A PN. Niaga. *by% ;anggal #$ (pril "##! Menolak Permohonan pemohon% (P;. IF?(* (Persero) ;ID(' P(I?I; P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C( P;. IF?(* (Persero) Putusan No. $!2 'APdt. *usA "##!% ;anggal $# <uli "##!. Mengabulkan permohonan pemohon%P;. IF?(* (Persero) P(I?I; Dua &ontoh kasus kepailitan atas BUMN Persero yang terakhir (yaitu Putusan pailit atas ;ermohon pailit P;. DI (Persero) dan P;. IF?(* (Persero) inilah yang kemudian dikaji dan pembahasan se&ara khusus dan mendalam untuk Disertasi ini. Untuk lebih jelasnya% maka terhadap putusan putusan pailit P;. DI (Persero) serta P;. IF?(* (Persero) sebagai BUMN Persero yang berposisi sebagai pihak ;ermohon pailit dilakukan analisisApembahasan se&ara mendalam dan rin&i terhadap ptutusan putusan Pengadilan Niaga dan putusan Mahkamah (gung dalam 'asasi yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (inkra&ht :ange.ijsde) akan dibahas dalam uraian tersendiri dalam bab ini ).$.1.'asus 'epailitan P;. DI (Persero) ).$.1.1.'asus Posisi *e&ara ringkas kasus posisi kepailitan P;. DI (Persero) dapat dideskripsikan seperti berikut+ Permohonan pailit ini diajukan oleh $ orang mantan pekerja P;. DI (Persero)% yaitu 6eryono% Nugroho% dan *ayudi. 'asus ini bermula dari adanya P6' terhadap 0./01 orang pekerja P;. DI (Persero) pada tahun "##$. Permohonan kepailitan diajukan antara lain berdasarkan+ adanya utang (Pasal 1 (yat (0) UU') yang telah jatuh .aktu dan dapat ditagih% dimana utang ini timbul berdasarkan adanya Putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P) Pusat) No.+ 1)"A#$A#" 9AHAP6'A1 "##) tanggal "! <anuari "##) yang telah berkekuatan hukum tetap dengan nomor urut $$"% 12") dan "#9". Dalam amar III dari Putusan P)P antara lain memutuskan+ me.ajibkan kepada Pengusaha P;. DI (Persero) memberikan kompensasi pensiun dengan mendasarkan besarnya upah pekerja terakhir dan <aminan 6ari ;ua sesuai UU No. $ tahun 1!!" tentang 'etenagakerjaan. Perhitungan dana pensiun yang menjadi ke.ajiban ;ermohon untuk membayar kepada Pemohona adalah masing masing sebagai berikut+ 6eryono% sebesar 4p 9$.$)2.90"%9"% Nugroho sebesar 4p 0!.!/9.#2!%""% dan *ayudi% sebesar 4p 2).#)#.9"2%!1. ).$.1.".Putusan Pengadilan ).$.1.".1.Pengadilan Niaga

Berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga Nomor+ )1APailit A"##2 PN. NiagaA <kt. Pst % yang diu&apkan dalam sidang terbuka pada hari *elasa% tanggal ) *eptember "##2% bah.a P;. DI (Persero) dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya oleh 6akim Majelis yang dipimpin oleh (ndriana Nurdin% dengan hakim anggota Makassau% dan 6eru Pramono. ).$.1.".". Mahkamah (gung P;. DI (Persero) sebagai pihak yang dikalahkan kemudian mengajukan upaya hukum 'asasi ke Mahkamah (gung. 'asasi tersebut diajukan selain oleh P;. DI (Persero) juga dimohonkan oleh P;. Perusahaan Pengelola (set (Persero). Dalam putusan 'asasi Mahkamah (gung Nomor+#2/'APdt.*usA"##2 memutuskan+ mengabulkan permohonan 'asasi dari para Pemohon 'asasi+ (1) P;. Dirgantara Indonesia (Persero)% (") P;. Perusahaan Pengelola (set (Persero). *erta membatalkan putusan Pengadilan Niaga <akarta Pusat Nomor+)1APailit A"##2 PN.NiagaA<kt.Pst. ;anggal ) *eptember "##2. Cang diputuskan dalam rapat permusya.aratan Mahkamah (gung pada hari *enin% tanggal "" 1ktober "##2% dipimpin 'etua Majelis 6akim Mariana *utadi% beranggotakan (bdul 'adir Moppong dan (tja *andjaya. ).$.1.$.(nalisis Putusan Pengadilan Niaga <akarta Pusat yang menyatakan pailit P;. DI (Persero) karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan man-aat pensiun serta jaminan hari tua kepada eks pekerjanya sejak "##$. Ini lebih mengedepankan tentang batas hukum kekayaan negara sebagai badan hukum publik. 4eaksi yang ditunjukkan pemerintah selaku pemegang saham P; DI (Persero)% melalui Menteri Negara BUMN% yang dalam memori kasasi dengan menyampaikan argumen aset negara tidak dapat disita berdasarkan Undang undang 'euangan Negara &enderung menguatkan negara memiliki pre-erensi untuk meniadakan batasan hukum kekayaan negara. (pabila mendasarkan pada reaksi pemerintah dan paket peraturan perundang undangan yang mengatur keuangan negara% pengertian aset negara memang men&akup arti yang seluas luasnya. 'ekayaan negara dapat berbentuk uang% benda tidak bergerak dan benda bergerak% termasuk di dalamnya kekayaan negara yang dipisahkan sebagaimana BUMN. Dengan demikian% kekayaan negara tidak lagi memiliki pre-erensi batasan kekayaan yang dimiliki negara sebagai badan hukum publik. (kan tetapi% kedudukan negara sebagai badan hukum pri:at melalui kepemilikan sahamnya di BUMN juga dikatagorikan sebagai kekayaan negara. Dengan demikian% se&ara normati- BUMN merupakan kekayaan negara dan dikatagorikan sebagai 'euangan Negara berdasarkan Pasal " huru- (g) UU Nomor 12 ;ahun "##$ ;entang 'euangan Negara. 'etentuan inilah yang telah digunakan pemerintah sebagai bahan memori kasasi atas putusan Pengadilan Niaga <akarta

Pusat dan alasan ini pula yang kemudian dijadikan pertimbangan hukum oleh Mahkamah (gung dalam memutus permohonan 'asasi P;. DI (Persero). Di samping itu% Majelis 6akim Pengadilan Niaga <akarta Pusat dinilai mengesampinkan Pasal /# huru- d Undang undang Nomor 1 ;ahun "##) ;entang Perbendaharaan Negara yang melarang pihak manapun melakukan penyitaan terhadap benda tidak bergerak dan hak kebendaan milik negara% termasuk di dalamnya kekayaan BUMN. Berdasarkan teori hukum keuangan negara% putusan Pengadilan Niaga <akarta Pusat justru dapat dibenarkan karena BUMN tidak dapat dikatagorikan sebagai kekayaan negara dan bahkan tidak dapat dimasukkan dalam ruang lingkup keuangan negara. *istem pengelolaan dan pertanggung ja.aban P;. DI (Persero) sebagai sebuah korporasi dan perseroan yang tunduk pada ketentuan hukum pri:at% tidak dapat dikesampingkan karena pemilik sahamnya adalah negara. 6al ini disebabkan kedudukan negara dalam P;. DI (Persero) berada dalam kapasitas sebagai badan hukum pri:at yang sama dengan subyek hukum lainnya dalam lapangan akti:itas keperdataan. Dengan demikian% putusan Pengadilan Niaga <akarta Pusat merupakan dasar justi-ikasi hukum yang menegaskan 8tiadanya pembedaan status hukum BUMN dalam menghadapi tuntutan kepailitan8. Majelis hakim telah menerapkan asas a:oidable &onseKuen&es atau asas akibat yang tidak dapat dihindari di mana pihak yang merugikan harus membayar kerugian. Dengan asas ini% status hukum BUMN sebagai bagian dari ruang lingkup keuangan negara dan kekayaan negara telah dikesampingkan. Dengan demikian% P;. DI (Persero) sebagai suatu korporasi atau perseroan dinyatakan telah merugikan kepentingan eks karya.annya% sehingga harus membayar kerugian tersebut. Namun% putusan ini membuktikan bah.a putusan pailit yang ditujukan kepada P;. DI (Persero) se&ara tegas tidak menjadikan negara sebagai badan hukum publik ikut pailit karena se&ara teori hukum keuangan publik% kepailitan hanya ditujukan pada persona pri:at perusahaan tersebut% dan bukan pada persona negara sebagai organisasi kekuasaan penyelenggara negara. Putusan Majelis 6akim Pengadilan Niaga <akarta Pusat tampaknya menguatkan Bat.a Mahkamah (gung No.@'M(ACudA"#ADIIIA"##0 pada tahun "##0% tentang penyelesaian utang terkait dengan kredit ma&et pada Bank bank BUMN (Bank Mandiri) yang menyatakan kekayaan yang dipisahkan tidak dapat dikatagorikan sebagai keuangan negara. *ikap badan peradilan ini justru memberikan penyadaran hukum mengenai batas batas kedudukan negara dalam lapangan kekayaan negara yang telah dipisahkan. Dalam hal ini% pemerintah dan aparatur negara lainnya perlu merekonstruksi kembali batasan hukum tanggung ja.ab dan risiko negara dalam hal kekayaan negara yang telah dipisahkan.

Dalam teori hukum% pembedaan kedudukan negara tersebut menjadi dasar sistematisasi hukum. Dalam kedudukannya sebagai badan hukum publik% negara merupakan pihak yang memiliki kemampuan memaksa dalam bentuk pengambilan keputusan (regeringsbesluit) yang bersi-at strategi atau tindakan pemerintahan (regeringsmaatregelen) yang bersi-at menegakkan hukum dan .iba.a negara. Dalam kedudukannya sebagai badan hukum publik% hukum yang berlaku adalah hukum publik. *ebaliknya% dalam kedudukannya sebagai badan hukum pri:at% negara memiliki hak atas kebendaan (jus in rem) dan hak atas orang (jus in personam) yang .ujud pelaksanaannya tunduk dan ditetapkan berdasarkan hukum pri:at. Dengan demikian% dalam menjalankan akti:itas keperdataan% norma norma dalam hukum perdata berlaku bagi negara. Berdasarkan dari segi teori hukum dan kontekstualisasi ilmu hukum tersebut% sangat tepat Bat.a Mahkamah (gung yang menyatakan kekayaan negara yang dipisahkan dari dalam (PBN dan (PBD sebagai penyertaan modal dalam perusahaan negara tidak diklasi-ikasikan sebagai keuangan negara. 6al ini berarti Bat.a Mahkamah (gung se&ara tegas telah mengesampingkan pengertian keuangan negara dalam Pasal " huru- (g) UU Nomor 12 ;ahun "##$ ;entang 'euangan Negara% yang menyatakan% 7kekayaan negaraAkekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang% surat berharga% piutang% barang% serta hak hak lain yang dapat dinilai dengan uang% termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negaraA perusahaan daerah8. (set negara yang dipisahkan sebagai penyertaan modal dalam perusahaan negara menjadikan kedudukan negara dalam perusahaan tersebut sebagai badan hukum pri:at. Negara memposisikan diri sebagai subyek hukum pri:at yang kedudukannya sama dan sederajat dengan pihak yang lainnya dalam perusahaan tersebut. Pemahaman hukum tersebut menjadi dasar rele:ansibilitas -at.a M( di mana tindakan yang berbeda% meskipun keduanya dilakukan oleh negara% ditundukkan sistem hukum yang berbeda% yaitu hukum publik atau hukum pri:at. Bat.a M( menegaskan pembedaan posisi negara sebagai badan hukum pri:at dalam perusahaan negara% sehingga negara tidak berperilaku sebagai badan hukum publik pada saat melakukan hubungan keperdataan yang akhirnya dapat merusak kepribadian hukum negara . Dengan demikian% jelas penyertaan modal negara dalam perusahaan negara tidak dapat dikatagorikan sebagai keuangan negara. Dalam perspekti- hukum% keuanganAkepunyaan negara adalah yang ditentukan sebagai milik negara dan disediakan (oleh negara) untuk dipergunakan dalam rangka kepentingan pelayanan -ungsi pemerintahan negara dan tunduk pada peraturan perundang undangan yang bersi-at publik. Dengan demikian% keuanganA kekayaan negara yang tidak ditujukan pada kepentingan pelayanan -ungsi pemerintahan negara tidak dapat dikatagorikan sebagai kekayaanAkeuangan negara.

6al ini berarti hukum telah menentukan pembedaan kedudukan negara sebagai badan hukum publik yang tunduk pada peraturan perundang undangan yang bersi-at publik dan negara sebagai badan hukum pri:at yang tunduk pada ketentuan hukum pri:at. Negara tidak memiliki keleluasan untuk mengeluarkan .e.enang yang bersi-at publik dalam pengelolaan sektor pri:at yang tata kelola dan tata tanggung ja.abnya tunduk pada ketentuan pri:at. Pembedaan ini merupakan konsep hukum modern yang sangat membedakan imunitas publik dan imunitas pri:at dengan maksud menjelaskan batas batas keuanganAkekayaan yang dimiliki setiap badan hukum. Dalam kasus ini% pemerintah sebagai representasi pemilik saham P;. DI (Persero) diminta menyadari tanggung ja.ab atas risiko kepemilikan saham yang diakui sebagai kekayaan negara. 'e&enderungan yang terjadi selama ini% pengakuan atas penguasaan kekayaan negara% termasuk kekayaan negara yang dipisahkan% hanya ditujukan pada pengakuan keuntungan dan asetnya. (kan tetapi% risiko dan tanggung ja.ab atas kerugian yang dialami pihak lain (a&tual damages)% negara seakan lepas tangan. Dalam hal ini% negara perlu diberikan pembelajaran hukum kekayaaan negara yang memadai% sehingga persepsi atas penguasaan semua aset kekayaan negara di manapun mengandung risiko ke.ajiban dan tanggung ja.ab% bukan sekadar pengakuan atas hak kepemilikannya saja. *elanjutnya dalam putusan 'asasi Mahkamah (gung dengan hakim ketua Majelis Mariana *utadi membatalkan Putusan pailit atas kasus P;. DI (Persero) pada hari *enin% tanggal "" 1ktober "##2 melalaui Putusan Nomor+ #2/ 'APdt. *usA"##2. Menurut saya% dalam memutuskan 'asus kepailitan P;. DI (Persero) ini majelis hakim masih kurang &ermat atau tidak tepat dalam mempergunakan dasar hukum dan dasar pertimbangannya. *ehingga berakibat pada keliru dalam menarik kesimpulan yang mengakibatkan pada salahnya dalam penerapan hukum untuk memutuskan kepailitan P;. DI (Persero) yang semestinya benar benar telah memenuhi syarat untuk dapat dipailitkan sebuah BUMN Persero menjadi 7seolah olah8 syarat tersebut tidak terpenuhi. Demikian juga dalam penggunaan dasar hukum mestinya menga&u atau mengedepankan pada berlakunya asas hukum 7leL spe&ialist derogat legi generali8 terhadap UU' dan P'PU% UU BUMN dan UU P; sebagai leL spe&ialist dan UU 'N sebagai legi generali mestinya% bukan sebaliknya. *ementara dalam putusan kasasi ini Mahkamah (gung lebih mendasarkan pada keberadaan Pasal " huru- (g) UU 'N dan Pasal /# poin d UU PBN (hukum publik)% bukan mendasarkan kepada hukum pri:at terlebih dahulu (UU' dan P'PU% UU P; dan UU BUMN). Demikian juga apabila kita kembali merujuk pada Bat.a Mahkamah (gung tahun "##0 yang pada intinya atau mengesampingkan keberadaan Pasal " huru- (g) UU 'N dan menegaskan kembali ketentuan dalam UU BUMN dan ketentuan mengenai BUMN Persero sebagaimana diatur dalam UU P; tahun 1!!/ dan telah diubah ;ahun "##2% akan tetapi dalam putusan kasasi atas kasus P;. DI (Persero) ini ternyata mendasarkan pada Pasal " huru- (g) UU 'N dan Pasal /# UU PBN. Ini artinya -at.a Mahkamah (gung tersebut diingkari oleh Majelis 6akim 'asasi Mahkamah (gung% apalagi yang menanda tangani -at.a tersebut adalah Mariana

*utadi sebagai @akil 'etua Mahkamah (gung (@aka M() yang juga menjadi hakim ketua majelis dalam memutuskan perkara kepailitan P;. DI (Persero) dalam tingkat 'asasi. <adi Mahkamah (gung bersikap tidak konsisten terhadap -at.anya sendiri% meskipun memang berdasarkan teori ilmu hukum hal ini sah sah saja karena tidak ada sanksi yang mengikat ketika sebuah -at.a itu dilanggar namun se&ara etika moral menurut saya hal ini sangat tidak layak untuk di&ontoh. *aya berpendapat bah.a putusan majelis hakim pada Pengadilan Niaga tingkat pertama adalah sudah tepat dan lebih dapat dipertanggungja.abkan baik dari aspek hukum kepailitan maupun dari aspek hukum keuangan publik dibandingkan dengan putusan Mahkamah (gung dalam 'asasi atas kasus kepailitan P;. DI (Persero) ini. Dari aspek hukum kepailitan% maka telah memenuhi rumusan Pasal " (yat (1) jo. Pasal " (yat (/) dan lebih khusus pada penjelasan Pasal " (yat (/) bagian BUMN. Berdasarkan ketentuan ini maka dapat disimpulkan bah.a terhadap BUMN yang modal seluruhnya berasal dari kekayaan negara dan terbagi atas saham berarti maksudnya adalah BUMN Persero maka dapat diajukan kepailitan oleh 'reditornya bukan oleh Menteri 'euangan. 'arena BUMN Persero sebagai badan hukum pri:at maka asetnya adalah aset milik BUMN Persero itu sendiri sebagai Badan 6ukum bukan merupakan aset atau kekayaan milik negara sehingga hal ini tidak memenuhi rumusan Pasal /# huru- (d) UU PBN. 1leh karena itu terhadap BUMN Persero dapat dikenai kepailitan% karena kepailitan adalah merupakan sita umum. <adi terhadap aset BUMN Persero dapat dilakukan disita. (pabila BUMN Persero sampai jatuh pailit ini tidak berarti negara ikut pailit% karena yang pailit hanyalah 7BUMN Persero8 nya saja artinya negara hanya akan menderita kerugian sebatas besarnya modal yang ditanamkan dalam BUMN Persero tersebut. 1leh sebab itu% jalan penyelesaian yang terbaik atas kasus P;. DI (Persero) ini adalah negara melalui pemerintah memberikan pinjaman atau penyertaan modal tambahan kepada P;. DI (Persero) untuk menyelesaikan ke.ajiban kepada eks pekerja P;. DI (Persero). *olusi ini dimungkinkan se&ara hukum berdasarkan Pasal ") (yat (1) UU 'N% yang pada hakikatnya memperjelas konsep hubungan negara sebagai pemilik saham dan P;. DI (Persero) sebagai salah satu BUMN. *elengkapnya bunyi Pasal ") (yat (1) UU 'N adalah+7Pemerintah dapat memberikan pinjamanA hibahApenyertaan modal kepada dan menerima pinjamanAhibah dari perusahaan negaraA daerah8. ;indakan demikian menunjukkan negara mengutamakan hak menguasai negara sebagai badan hukum publik yang memberikan pelayanan umum dan menjaga hak kesejahteraan rakyatnya% khususnya eks karya.an P;. DI (Persero). Dibandingkan menonjolkan hak memiliki negara yang mengesankan negara melalaikan tanggung ja.ab publiknya terhadap eks pekerja yang merupakan .arga negara yang harus pula dilindungi ).$.".'asus 'epailitan P;. IF?(* (Persero) ).$.".1.'asus Posisi

P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C(APemohon pailit% mempunyai tagihan kepada P;. IF?(* (Persero)A ;ermohon pailit yang bersumber pada adanya kesepakatan mengadakan kerjasama pembelian =hemi&al. ;ermohonAP;. IF?(* (Persero) sebagai pemesan =hemi&al dan PemohonAP;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C( yang mengadakan dan mengirimkan =hemi&al% harga =hemi&al telah disepakati berdasarkan Pur&hase order dan =hemi&al yang telah dipesan sudah dikirimkan% pembayaran harga yang telah disepakati tersebut dalam rupiah sebesar 4p 1#"./$1.!$0.###% dan dalam dollar sebesar U*N 10/%910.$9. Utang tersebut diakui dengan tegas oleh termohon. ;elah dilakukan berbagai upaya agar termohon dapat menyelesaikan pembayaran hutangnya kepada Pemohon% dengan jalan musya.arah mu-akat% baik melalui pertemuan langsung dengan ;ermohon maupun kuasa hukum Pemohon melalui surat *omasi tanggal "" Desember "##9% namun hingga tanggal ! Bebruari "##! ketika permohonan dida-tarkan belum ada itikad baik dari termohon untuk membayar hutang tersebut. ).$.".".Putusan Pengadilan ).$.".".1.Pengadilan Niaga Pengadilan Niaga *urabaya telah memutuskan dalam Putusan Nomor #1APailitA "##!APN. Niaga *by. % menyatakan eksepsi dari ;ermohon tidak dapat diterima% dan dalam Pokok Perkara+ Menolak permohonan pemohon pailit P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C(. Majelis 6akim yang memutuskan perkara tersebut terdiri dari 6j. 4r. *uryadani ('etua Majelis)% Mulyanto dan 6. (li Makki sebagai hakim anggota% dibantu panitera pengganti 6. Muhammad Isa% pada tanggal $# Maret "##! diu&apkan dalam sidang terbuka untuk umum dengan dihadiri oleh 'uasa Pemohon pailit dan 'uasa ;ermohon pailit. ).$.1.".1.Mahkamah (gung Putusan Mahkamah (gung 4I dalam 'asasi+ mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C( tersebut, membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri *uarabaya Nomor. #1ApailitA"##!APN. Niaga. *by% tanggal $1 Maret "##! Mengadili sendiri+ Dalam eksepsi+ Menyatakan bah.a eksepsi dari termohon tidak dapat diterima, Dalam Pokok Perkara+

mengabulkan permohonan pernyataan pailit Pemohon 'asasiA pemohon untuk sebagian menyatakan ;ermohonAP;. IF?(* (Persero) berkantor pusat di <l. Ngagel 1/$% *urabaya% dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya menunjuk dan mengangkat saudara Binsar Pamopo Pakpahan% hakim niaga pada Pengadilan Negeri *urabaya sebagai 6akim Penga.as% dst.. Majelis 6akim yang memutuskan P;. IF?(* (Persero) tersebut pailit adalah 6. Mohammad *aleh% 6akim (gung yang ditetapkan oleh 'etua Mahkamah (gung sebagai 'etua Majelis dan hakim anggota terdiri dari ;akdir 4ahmadi dan *yamsul Ma>ari-% panitera pengganti 4e5a Bau5i dan diu&apkan dalam sidang terbuka untuk umum pada tanggal $# <uli "##!% dengan tidak dihadiri oleh para pihak. ).$.".$.(nalisis ;erhadap putusan Pengadilan Niaga *urabaya% dengan 6akim majelis yang beranggotakan Mulyanto dan 6. (li Makki% dengan 'etua Majelis 4r. *uryadani% telah menolak permohonan pailit yang diajukan oleh Pemohon pailit P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C( mela.an P;. IF?(* (Persero) pada $1 Maret "##!. Cang menjadi dasar pertimbangan (ratio de&idendi) majelis hakim dalam memutuskan perkara tersebut yaitu karena seluruh assetAharta kekayaan dari ;ermohon (dalam hal ini P;. IF?(* (Persero) adalah 7milik negara8 dan sesuai dengan ketentuan UU No. $2 ;ahun "##) permohonan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri 'euangan. 'arena Pemohon dalam mengajukan permohonan pailit tersebut tidak memiliki kuasa dari Menteri 'euangan% maka menurut majelis tidak ada dasar hukum dari Pemohon untuk memohon agar pihak ;ermohon dinyatakan pailit . *ekalipun permohonan Pemohon pailit telah nyata dan terbukti memenuhi syarat untuk dinyatakan pailit sebagaimana dinyatakan dalam Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU "##) . *elain itu majelis hakim juga berpedoman pada adanya Putusan Mahkamah (gung 4.I. No. #2/ 'APdt.*usA"##2 tertanggal "" 1ktober "##2. Majelis 6akim juga menyimpulkan yang alur pikirnya adalah bah.a P;. IF?(* (Persero) merupakan BUMN yang bergerak di bidang publik% yang berarti sesuai dengan penjelasan dalam Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU "##)% maka Pemohon pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri 'euangan dan tidak dapat diajukan oleh pihak lain atau siapapun juga. Dan kenyataan yang ada melarang adanya penyitaan terhadap asetAharta kekayaan negara sebagaimana diatur dalam Pasal /# UU No.1 tahun "##) tentang Perbendaharaan Negara. *ementara menunjuk kepada UU' dan P'PU Pasal 1 angka 1 bah.a kepailitan semua kekayaan debitur pailit harus dilakukan sita umum% maka apabila debitor pailit (in &assuA dalam perkara ini)% maka seluruh harta kekayaannya milik negara akan terbentur pada Pasal /# UU No. 1 tahun "##)% ke&uali permohonan pailit diajukan oleh

Menteri 'euangan selaku .akil pemerintah dalam otoritas sebagai pemilik kekayaan negara yang dipisahkan dari Bendahara Umum Negara . *aya tidak sependapat dengan dasar pertimbangan yang dipergunakan Majelis 6akim Pengadilan Niaga *urabaya untuk memutusakan permohonan pailit yang diajukan oleh P;. IN;E4=6EM terhadap P;. IF?(* Persero ini. Menurut saya% majelis hakim tidak &ermat% kurang runtut kerangka alur berpikirnya serta kurang memahami kandungan makna dalam Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU "##) dan penjelasannya. (palagi bila dihubungkan dengan UU BUMN% Pasal 1 angka ). 'embali kepada kesimpulan majelis hakim yang dijadikan dasar pertimbangan bah.a P;. IF?(* (Persero) adalah 7BUMN yang bergerak di bidang publik8% kesimpulan ini menurut saya sudah keliru karena P;. IF?(* Persero adalah bukan BUMN yang bergerak di bidang publik. (lasanya+ 1. merujuk pada penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU "##)% bah.a modal P; IF?(* seluruhnya memang berasal dari kekayaan negara 7yang dipisahkan8% namun jelas terbagi ke dalam saham dan terbukti dimiliki oleh Menteri BUMN KK negara 4I sebesar 0$% 9"3% dan oleh P; Bank BNI% ;bk. sebesar $0%193. ". karena BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik menurut Pasal 1 angka ) UU BUMN jelas menunjuk pada PE4UM% sementara P;. IF?(* (Persero) adalah PE4*E41 bukan PE4UM. 6al ini dapat diketahui dari adanya -rase 7Perseroan ;erbatas8 yang disingkat 7P;8 didepan nama IF?(* dan kata 7Persero8 dibelakang nama IF?(*% maka hal ini telah menunjukkan adanya karakter Pesero sebagaimana ditentukan dalam Pasal 10 (yat (") UU P; jis. Pasal 1 angka "% Pasal ! dan Bab II UU BUMN. Pasal 10 (yat (") UU P;% menyatakan+ 7Nama perseroan harus didahului dengan -rase 7Perseroan ;erbatas8 atau disingkat 7P;8. $. apabila dikaitkan dengan tujuan pendirian BUMN% maka jelas ada perbedaan yang mendasar% bah.a PE4UM bertujuan untuk keman-aatan umum berupa barang danAjasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan (Pasal 1 angka ) UU BUMN)% sementara PE4*E41 tujuan utamanya mengejar keuntungan (Pasal 1 angka " UU BUMN). *elanjutnya mengenai kesimpulan majelis hakim yang menyatakan bah.a 7P;. IF?(* (Persero) merupakan BUMN yang bergerak di bidang publik% yang berarti sesuai dengan penjelasan dalam Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU "##)% maka Pemohon pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri 'euangan dan tidak dapat diajukan oleh pihak lain atau siapapun juga% menurut pandangan saya ini juga keliru dalam memahami maksud Pasal " (yat / dan penjelasannya.

Maksud dari penjelasan Pasal " (yat (/)% bah.a BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik adalah BUMN seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham itu maksudnya bukankah itu adalah PE4UM. Menurut pendapat saya% antara isi Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU dengan penjelasannya memang agak kabur (:age norm)% karena dalam Pasal " (yat (/) menyatakan tentang BUMN yang bergerak dibidang kepentingan publik% sementara dalam penjelasan pasalnya menyebutkan tentang modal BUMN yang dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham. Norma yang kaburAtidak jelas dapat menimbulkan adanya pena-siran yang berbeda dalam praktik pengadilan kepailitan. Maka apabila yang mau dimohonkan untuk dipailitkan adalah PE4UM harus diajukan oleh Menteri 'euangan% hal ini oleh Undang undang dipersamakan dengan BI dan Bapepam yaitu untuk kepentingan institusi diba.ah binaannya. ?ogikanya ketika bukan BUMN Perum maka pastilah BUMN Persero . Dan karena Persero yang juga identik dengan P; maka jelas Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU berlaku. *ehingga untuk mengajukan pailit tidak harus atau bukanlah oleh Menteri 'euangan% tetapi bisa oleh debitor itu sendiri atau kreditor atau para kreditor. Maka permohonan pailit yang diajukan oleh Pemohon pailit dalam hal ini P;. IN;E4=6EM terhadap P;. IF?(* (Persero) adalah benar dan sudah tepat% bukan harus oleh Menteri 'euangan% dasar hukumnya jelas yaitu Pasal " (yat (/) jo. Pasal " (yat (1) sehingga tidak perlu diinterpretasikan. Berikutnya% kesimpulan majelis hakim terkait dengan adanya kenyataan yang melarang untuk 7menyita aset milik negara8. Memang benar terhadap asetAharta kekayaan milik negara tidak dapat dilakukan penyitaan. 6al ini dinyatakan dalam Pasal /# UU No. 1 tahun "##) tentang Perbendaharaan Negara% sebagai berikut+ 7Pihak mana pun dilarang melakukan penyitaan terhadap+ (a). uang atau surat berharga milik negaraAdaerah baik yang berada pada instansi Pemerintah maupun pada pihak ketiga, (b).barang tidak bergerak dan hak kebendaan lainnya milik negaraAdaerah8. *ementara itu kepailitan pada hakekatnya adalah merupakan sita umum (Pasal 1 angka 1 UU' dan P'PU). *ehingga terhadap harta kekayaan negaraAaset negara tidak bisa di pailitkan. Namun pertanyaan mendasar yang harus dija.ab disini adalah% apakah kekayaan atau aset yang terdapat pada P;. IF?(* (Persero) merupakan kekayaan negara ataukah kekayaan P;. IF?(* (Persero) sebagai badan hukum. Merujuk kepada ketentuan Pasal ) (yat (1) dan penjelasannnya jis. Pasal 1 angka " dan Pasal 11 UU BUMN serta doktrin badan hukum dalam perseroan maka kekayaan Persero bukanlah merupakan kekayaan negara lagi akan tetapi merupakan kekayaan Perseroan itu sebagai badan hukum. *ehingga terhadap kekayaan P;. IF?(* (Persero) bukanlah merupakan kekayaan negara lagi tetapi merupakan kekayaan P;. IF?(* (Persero) itu sebagai sebuah badan hukum perseroan.

'arena terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip yang berlaku bagi Perseroan ;erbatas% maka dapat saya katakan bah.a Perseroan itu identik dengan Perseroan ;erbatas (P;) . *ehingga semua karakteristik yang ada dalam perseroan terbatas juga berlaku untuk Persero (BUMN Persero). 1leh karena Perseroan ;erbatas (P;) merupakan badan hukum maka sesuai dengan adanya doktrin mengenai badan hukum bah.a sebagai sebuah badan hukum melekat atau mempunyai hak dan ke.ajiban sendiri. Maka terhadap badan hukum tersebut dalam hal ini Perseroan juga bisa memiliki harta kekayaan sendiri. *ehingga dalam hal ini% kekayaan yang terdapat dalam P;. IF?(* (Persero) bukanlah kekayaan atau asset milik negara lagi akan tetapi merupakan aset atau aan P;. IF?(* (Persero) itu sebagai sebuah badan hukum yang mandiri. ?ebih lanjut hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan teori 7;rans-ormasi 6ukum uang publik ke uang pri:at8 dari (ri-in P. *oeria (tmadja% sebagaimana telah diuraikan pada bab III. Berikutnya masih terkait dengan kesimpulan hakim yang kemudian dijadikan dasar pertimbangan% yakni terkait dengan adanya ketentuan dalam penyitaan aset negara. Bah.a berdasarkan ketentuan hukum yang ada% maka harta kekayaan yang ada dalam P;. IF?(* (Persero) bukanlah merupakan kekayaan negara akan tetapi merupakan kekayaan P;. IF?(* (Persero) sebagai sebuah badan hukum. Maka terhadap kenyataan ini tentunya dapatlah dilakukan sita atau dikenai kepailitan berdasarkan ketentuan Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU. *ehingga dasar pertimbangan majelis hakim yang menyatakan bah.a aset yang ada pada P;. IF?(* (Persero) adalah merupakan aset negara sehingga tidak boleh disitaAtidak bisa dipailitkan berdasarkan Pasal /# Undang undang No. 1 ;ahun "##) tentang Perbendaharaan Negara adalah salah besar. Menurut pandangan saya% ada kekeliruan yang nyata dari majelis hakim dalam menggunakan dasar hukum dalam memutuskan kasus ini. 'arena asetAharta kekayaan yang ada dalam P;. IF?(* (Pesero) bukanlah aset negara% sehingga terhadapnya dapat di sita. (da satu hal lagi yang merupakan kekeliruan majelis hakim dalam memahami masalah sita terhadap kekayaan negara% yang di&antumkan sebagai dasar pertimbangan yang berbunyi berikut ini + 7Menimbang% bah.a disamping itu dari kenyataan yang ada dan berdasarkan Pasal /# UU No.1 ;ahun "##) tentang Perbendaharaan Negara jo. Pasal 1 angka 1 UU' dan P'PU+ 7'epailitan semua kekayaan debitor pailit harus dilakukan sita umum% maka apabila debitor pailit tersebut (in &assuA dalam perkara ini) yang seluruh harta kekayaannya milik Negara% jelas menurut hukum tidak dapat dilakukan sita% ke&uali permohonan pailit diajukan Menteri 'euangan% O. (Pasal 0 (yat (") jo. Pasal 9 UU No. 12 tahun "##$ tentang 'euangan Negara. 'ata 7ke&uali8 disini dapat diartikan bah.a terhadap harta kekayaan negara tetap dapat dilakukan sita atau dinyatakan pailit asalkan permohon pailit diajukan oleh Menteri 'euangan. (rtinya ini masih ada peluang untuk dapat dipailitkan% asalkan Menteri 'euangan yang mengajukan permohonan pailit. 'alau memang benar

demikian% apakah ini justru tidak malah bertentangan dengan ketentuan dalam Pasal /# UU No. 1 tahun "##) itu sendiri% yang jelas jelas menyatakan bah.a 7pihak manapun di larang melakukan penyitaan terhadap barang milik negara8. Cang harus dingat dan perhatikan kembali adalah sebenarnya apa -iloso-i dari penyitaan itu sendiri. Cang terakhir% saya tidak sependapat dengan majelis hakim yang berpedoman kepada Putusan Mahkamah (gung 4I No.#2/ 'APdt.*usA"##2 tertanggal "" 1ktober "##2. Putusan tersebut adalah merupakan Putusan Mahkamah (gung yang pada intinya membatalkan Putusan Pengadilan Niaga <akarta Pusat atas pailitnya P;. DI (Persero). (lasan saya adalah+ Putusan Mahkamah (gung 4I No. #2/ 'APdt.*usA"##2 tertanggal "" 1ktober "##2% merupakan perkara antara P;. DI (Persero) mela.an 6eryono% Nugroho% *ayudi (mantan pekerja P;. DI (Persero)% dan pertimbangan hukumnya dikutip dan dijadikan dasar pertimbangan hukum dalam putusan <udeL Ba&tie Perkara No. #1APailitA"##!APN. Niaga. *by.% tanggal $1 Maret "##!. Putusan Mahkamah (gung 4I No.#2/'APdt.*usA"##2 ini kurang tepat dijadikan a&uan oleh <udeL Ba&tie% karena masih terjadi kontro:ersi% karena putusan tersebut inkonsisten dengan -at.a yang pernah dikeluarkan M(% yang dalam -at.a M( berpandangan+ 7Bah.a piutang BUMN bukan merupakan piutang negara begitupun terhadap utangnya dan menyatakan pengelolaan modal BUMN tidak lagi didasarkan sistem (PBN melainkan prinsip prinsip perusahaan yang sehat8. *ehingga putusan ini menurut saya juga masih belum layak untuk dijadikan yurisprudensi% meskipun untuk menjadi sebuah yurisprudensi tidak ada ukurannya yang pasti harus berapa jumlahnya. ;etapi yang pasti saya berpandangan bah.a belum atau tidak layak sebagai yurisprudensi lebih berkaitan dengan substansi putusan yang masih ada 7kontro:ersi dan inkonsisten8. *elain itu% dalam pertimbangan hukum yang dikemukakan oleh majelis hakim terkesan 7asal ambil7 dan 7asal kutip8 saja terhadap adanya Putusan Mahkamah (gung 4I No. #2/ 'APdt.*usA"##2% tertanggal "" 1ktober "##2 yang di&antumkan sebagai dasar pertimbangan putusan yang digunakan sebagai ratio de&idendi atas kasus ini. *ementara terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara ke dua kasus kepailitan P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero) % dalam pertimbangan hukumnya hanya mengutip mudahnya saja tanpa dilandasi dengan ketentuan hukum yang berlaku sesuai dengan konteks permasalahannya. *ungguh ini men&erminkan (maa-) adanya ketidak siapan dan ketidak-ahaman atau ketidak mengertian apalagi menguasai akan substansi materi atas permasalahan kasus yang diajukan ke hadapan hakim dan harus diputuskan oleh majelis hakim dalam .aktu yang &ukup singkat yakni paling lambat 0# hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit dida-tarkan . *ebagai &ontoh% salah satu anngota majelis hakim tidak bisa membedakan antara BUMN yang berbentuk Perum maupun yang disebut dengan Persero.Pokoknya% yang penting BUMN itu

adalah perusahaannya negara% maka kekayaan yang ada pun juga milik negara. Dan karena merupakan aset milik negara% ya tidak dapat dipailitkan. (palagi ada putusan pailit yang menyangkut BUMN Persero yaitu pailitnya P;. DI (Persero) pada tahun "##2. *emula P;. DI (Persero) di putus pailit oleh Pengadilan Niaga <akarta Pusat% namun kemudian dibatalkan oleh Mahkamah (gung dalam 'asasi yang diajukan oleh P;. DI (Persero) yang dikabulkan oleh Mahkamah (gung% sehingga P;. DI (Persero) tidak pailit lagi. Putusan Ma inilah yang kemudian dijadikan dasar pertimbangan majelis hakim pemutus pada Pengadilan Niaga pada Pengadilan negeri *urabaya. Cang kemudian dijadikan yurisprudensi dengan memasukkannya kedalam dasar pertimbangan bahkan dengan tanpa menguraikan substansinya sama sekali. *ehingga hanya mengutip mudahnya saja tanpa dilandasi dengan ketentuan hukum yang berlaku sesuai dengan konteks permasalahannya. (ntara kepailitan P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero) memang ada persamaanya yaitu sama sama merupakan Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk Persero.Namun meskipun sama sama Persero tetap ada perbedaannya. P;. DI (Persero) itu BUMN yang bergerak dalam bidang publik% dalam jasa :ital% untuk kepentingan masyarakat banyak% dan modalnya semua milik negara. (kan tetapi kalau P;. IF?(* (Pesero) berbeda% modalnya tidak sepenuhnya milik negara karena ada unsur masyarakatAs.astanya dan kegiatan usaha bisnis murni . *elanjutnya adalah analisisApembahasan terhadap Putusan Mahkamah (gung 4I No. $!2'APdt.*usA"##!. Bah.a Mahkamah (gung pada hari 'amis% tanggal $# <uli "##!% telah mengabulkan permohonan 'asasi dari Pemohon P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C(% dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri *urabaya No. #1APailitA"##!APN. Melalui Putusan M( 4I No. $!2 'APdt. *usA"##!% majelis hakim yang terdiri dari 6. Mohammad *aleh ('etua Majelis)% dengan 6akim hakim (gung sebagai anggota+ ;akdir 4ahmadi dan *yamsul Ma>ari- serta dibantu panitera pengganti 4e5a Bau5i% dalam sidang terbuka unytuk umum dengan tidak dihadiri oleh para pihak% menyatakan bah.a ;ermohonAP;. IF?(* (Persero)% yang berkantor pusat di <l. Ngagel 1/$% *urabaya% dalam keadaan P(I?I; dengan segala akibat hukumnya. Meskipun begitu dalam perkara ini terdapat perbedaan pendapat (disenting opinion) dari 'etua Majelis yang berpendapat, bah.a 7(lasan alasan kasasi tidak dapat dibenarkan karena+ bah.a judeL -a&tie tidak salah menerapkan hukum dan pertimbangannya sudah tepat dan benar sesuai dengan putusan Mahkamah (gung No. #2/ 'APdt. *usA"##2 tanggal "" 1ktober "##2, kesimpulan+ judeL -a&tie tidak salah dalam menilai dan memberi pertimbangan serta menerapkan hukum, dan mengusulkan agar menolak permohonan kasasi,

Menurut pandangan saya% kali ini Mahkamah (gung sudah tepat dalam memutuskan permohonan pailit P;. IN;E4=6EM terhadap P;. IF?(* (Persero). Dasar pertimbangan hukum sebagai ratio de&idendi yang pada akhirnya digunakan untuk mengambil keputusan &ukup bagus% lengkap dan sangat layak. Dalam memutuskan perkara ini% majelis hakim dalam kasasi pada prinsipnya berpendapat sama atau membenarkan alasan alasan yang dikemukakan oleh pemohon pailit dan menyatakan bah.a <udeL Ba&tieAPengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri *urabaya telah salah menerapkan hukum. (lasan alasan kasasi atau keberatan keberatan yang diajukan oleh Pemohon 'asasi itulah yang kemudian menjadi dasar pertimbangan (ratio de&idendi) majelis hakim. Dalam hal ini saya lebih apresiati- lagi terhadap Pemohon pailit yang sudah mampu membuat memori kasasinya yang begitu lengkap terutama dari aspek hukumnya dengan menggunakan dasar hukum serta pendapat para ahli hukumApraktisi &ukup lengkap dan sangat komprehensi-% sehingga terlihat menguasai betul pokok permasalahan dari kasus yang sedang di hadapi dan perjuangkan. Mungkin sadar bah.a pemohon pailit lagi berhadapan dengan siapa% 7BUMN Persero8 yang selama ini direpresentasikan sebagai 7negara8. Dan negara dalam sejarahnya selama ini tidak pernah 7keliru8 apalagi 7salah8. Negara juga tidak pernah pailit atau bangkrut karena memang negara sebagai badan hukum publik tidak bisa dipailitkan. *ebagai &ontoh kasus% hal ini pernah ditunjukkan dengan adanya putusan pailit atas P;. DI (Persero) oleh Pengadilan Niaga <akarta% yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah (gung dalam kasasi. (kan tetapi negara ketika ikut berbisnis dengan mendirikan BUMN Persero% tentunya akan beresiko% yaitu kalau tidak 7untung8 ya 7rugi8. Itu sebagai konsekuensi apabila negara ikut berbisnis atau masuk dalam dunia usaha. 'alau untung itu memang yang diharap harapkan% tetapi ketika mengalami kerugian% mungkin saja sampai pada peristi.a yang disebut 7pailit8. Meskipun begitu negara tidak akan pailit% karena kalaupun perusahaan negara tersebut mengalami pailit% maka negara hanya akan menanggung kerugian sebesar 7saham8 yang dimilikinya. Ini tidak akan menyebabkan negara benar benar bangkrut. 6al inilah yang belum pernah dialami oleh Indonesia% negeri kita ter&inta. ;api apapun itu% saya tetap pro-i&iat pada majelis hakim dalam kasasi% yang telah mampu memutus dengan argumentasi hukum yang sebenar benarnya sesuai dengan teori teori hukum yang selama ini diajarkan di negeri ter&inta ini. 'arena sayang sekali ketika di kampus kampus atau di tempat tempat pendidikan diajarkan ilmu khususnya ilmu hukum yang bagus dan benar% ketika harus berhadapan dengan permasalahan yang semestinya dapat diselesaikan dengan ilmu yang dimiliki sebagai pisau analisis% kemudian menjadi tumpul dengan segala negosiasi yang ada serta seribu satu ma&am alasan dan kepentingan. (lasan alasan yang dikemukan dan menjadi dasar pertimbangan majelis hakim dalam kasasi sudah tepat% yaitu+

;ermohon 'asasi merupakan BUMN yang modalnya terbagi dalam saham% dimana kepemilikan sahamnya tidak seluruhnya dikuasaiAdimiliki negara% tetapi terbagi dua yaitu+ 0$% 9"3 milik Menteri BUMN KK Negara 4I dan $0%19 3 milik P;. BNI ;bk. Di mana saham P;. BNI ;bk. juga sahamnya dimiliki masyarakatAs.asta, ;ujuan ;ermohon 'asasi adalah untuk men&ari keuntungan, karenanya Pemohon dapat langsung mengajukan permohonan pailit tanpa harus mendapat i5in dan kuasa dari Menteri 'euangan% karena ;ermohon bukanlah BUMN sesuai dengan pengertian seperti ter&ermin di dalam penjelasan Pasal " (yat (/) UU' dan P'PU "##). *elain itu bidang kegiatan ;ermohon 'asasi tidak se&ara langsung diman-aatkan oleh publik seperti halnya P;. Faruda% P?N% dan Pertamina. Dengan di&antumkannya klausula 7yang bergerak di bidang kepentingan publik8% mengandung arti bah.a tidak semua BUMN permohonan pailitnya hanya ditujukan oleh Menteri 'euangan. 6al ini juga sebagaimana dinyatakan oleh *yamsul Ma>ari- % bah.a kasus kepailitan yang terjadi pada P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero)% meskipun sama sama sebagai BUMN Persero% ini lain. 'arena kalau dalam P;. DI (Persero) itu merupakan BUMN yang bergerak di bidang publik% dan juga obyek :ital% sehingga kalau dipailitkan masyarakat yang akan dirugikan. *ementara P;. IF?(* (Persero) itu adalah bergerak bukan dalam bidang publik. *elain itu dalam P;. IF?(* (Persero) sahamnya tidak semua dipegang negara dalam hal ini Menteri BUMN% tetapi juga dimiliki s.asta. <adi s.asta ada masuk disitu. P;. IF?(* ini betul betul murni bisnis% untuk men&ari untung. <adi yang paling membedakan antara P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero) adalah pada 7Perusahaan yang bergerak di bidang publik8. Mengenai pengertian atau apa yang dimaksud dengan BUMN 7yang bergerak di bidang kepentingan publik8% ini menurut saya masih ada yang perlu dijelaskan atau sinkronisasi. Dari hasil kajian yang saya lakukan% ditemukan adanya perbedaan pengertianA pemahaman yang terdapat dalam peraturan perundangan (UU' dan P'PU% UU BUMN) dengan pemahaman hakim dalam praktik peradilan niaga terhadap apa yang dimaksud dengan BUMN 7yang bergerak di bidang kepentingan publik8. 'arena saya menemukan beberapa penjelasan yang berbeda antara UU' dan P'U dengan UU BUMN maupun dasar pertimbangan yang digunakan oleh majelis hakim dalam memutuskan masalah kepailitan dalam praktik peradilan. *ehingga bila di&ermati hal ini dapat menimbulkan pengertian yang berbeda% karena istilah yang dipergunakan berbeda beda% dikha.atirkan maknanyapun akan bebeda pula. (pakah perlu ada penyamaan istilah yang dipakai atau paling tidak ada sinkronisasi sehingga jelas ada kesamaan arti dan maksud dari BUMN 7yang bergerak di bidang kepentingan publik8.

Beberapa pengertian tentang BUMN 7di bidang kepentingan publik8 saya temukan dalam + 1. Dalam UU' dan P'PU Pasal " (yat (/) dan penjelasannya, 7O.% atau Badan Usaha Milik Negara 7yang bergerak dibidang kepentingan publik8% permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri 'euangan8. Penjelasan Pasal " (yat (/)+ Badan Usaha Milik Negara 7yang bergerak dibidang kepentingan publik8 adalah badan usaha milik negara yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. Menurut UU BUMN Pasal 1 angka ), bah.a Badan Usaha Milik Negara yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham itu adalah PE4UM. Perum% bertujuan untuk keman-aatan umum berupa penyediaan barang danAatau jasaOO8. <adi berdasarkan UU' dan P'PU Pasal " (yat (/) dan penjelasannya jo. Pasal 1 angka ) UU BUMN% yang dimaksud dengan BUMN 7yang bergerak dibidang kepentingan publik8 adalah PE4UM. ". Dalam pertimbangan Putusan Mahkamah (gung 4I. No. #2/ 'APdt.*usA"##2 tanggal "" 1ktober "##2, 7.. disebutkan P; DI (Persero) sebagai perusahaan BUMN pemegang sahamnya adalah Menteri BUMN KK Negara 4I dan Menteri 'euangan KK Negara 4I% 7yang bergerak pada obyek industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategis8% karena itu M( membatalkan putusan pailit PN <akarta Pusat. <adi menurut Putusan Mahkamah (gung 4I. No. #2/ 'APdt.*usA"##2 tanggal "" 1ktober "##2, pengertian BUMN 7yang bergerak dibidang kepentingan publik8% maksudnya adalah BUMN 7yang bergerak pada obyek industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategis8. (pakah Perum itu merupakan BUMN 7yang bergerak pada obyek industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategisG8. <a.abnya ya% apabila merujuk pada Pasal 1 angka ) jo. Pasal $0 (yat (1) UU BUMN. Di dalam UU BUMN dinyatakan dalam Pasal 1 angka )% PE4UM adalah Badan Usaha Milik Negara yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham% yang bertujuan untuk keman-aatan umum berupa penyediaan barang

danAatau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. ?ebih lanjut dinyatakan dalam Pasal $0 (yat (1) UU BUMN% bah.a maksud dan tujuan Perum adalah menyelenggarakan usaha yang bertujuan untuk keman-aatan umum berupa penyediaan barang danAatau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. ;etapi% apakah P;. D I (Persero) itu merupakan Perum% yang memenuhi rumusan Pasal 1 angka ) jo. Pasal $0 (yat (1) UU BUMNG <elas bukan Perum. P;. DI (Persero) jelas jelas merupakan Perseroan% karena modalnya terbagi atas saham meskipun 1##3 atau seluruhnya dimiliki oleh negara dan tujuannya men&ari untung% meskipun memang 7bergerak pada obyek industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategis8. *ehingga menjadi tidak jelas% ukurannya apaG Bentuk dari BUMN nyakah atau penekannya lebih kepada 7jenis usaha atau tujuan dari kegiatan usahanya8G karena pada -aktanya yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam kasasi untuk membatalkan putusan pailitnya P;. DI (Persero) adalah pada makna usahanya yaitu karena P;. DI (Persero) 7bergerak pada obyek industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategis8% meskipun jelas jelas P;. DI (Persero) adalah sebuah Persero bukan Perum. Bahkan dari sebutan namanyapun sudah jelas dengan kata 7Persero8 sebagaimana disyaratkan oleh UU P;. $. Dalam pertimbangan Putusan Mahkamah (gung 4I. No. $!2 'APdt.*usA"##!% tanggal $1 <uli "##!, 7OBUMN yang modalnya terbagi dalam saham% dimiliki negara dan s.astaA masyarakat% tujuannya men&ari keuntungan, bidang kegiatannya 7tidak se&ara langsung diman-aatkan oleh Publik8 seperti halnya P;. Faruda% P?N% dan Pertamina. Dengan di&antumkannya klausula 7yang bergerak di bidang kepentingan publik8% mengandung arti bah.a tidak semua BUMN permohonan pailitnya hanya ditujukan oleh Menteri 'euangan8. <adi menurut Putusan Mahkamah (gung 4I. No. $!2 'APdt. *usA"##!% tanggal $1 <uli "##!, bah.a BUMN 7di bidang kepentingan publik8 adalah BUMN yang modalnya terbagi dalam saham% dimiliki negara dan s.astaAmasyarakat% tujuannya men&ari keuntungan, bidang kegiatannya 7tidak se&ara langsung diman-aatkan oleh Publik8. Menurut hemat saya% dalam putusan pailit atas P;. IF?(* (Persero) ini% lebih menekankan pada alasan 7si-at kegiatan usaha8 atau 7tujuan8 dari BUMN itu sendiri% apakah se&ara langsung diman-aatkan oleh publik ataukah tidak. Bila 7se&ara langsung diman-aatkan oleh publik8% maka BUMN tidak dapat dipailitkan ke&uali diajukan hanya oleh Menteri 'euangan (seperti P;. DI (Persero) artinya mestinya berlaku untuk 7Perum8% meskipun P;. DI (Persero) sekali lagi bukanlah Perum. Namun% apabila 7se&ara langsung tidak dapat diman-aatkan oleh publik8%

maka BUMN itu dapat dipailitkan bukan oleh Menteri 'uangan Negara tetapi oleh Debitor itu sendiri atau 'reditornya% dan ini adalah Persero. <adi bukan pada bentuk dari BUMN itu sendiri. Menurut hemat saya akan lebih mudah dan jelas% apabila menggunakan pengertian BUMN 7yang bergerak dibidang kepentingan publik8 itu sebagaimana yang telah diatur dalam undang undang kepailitan dan UU BUMN% yakni dengan lebih menekankan kepada pengertian bentuk dari BUMN itu sendiri yang terdiri dari " jenis yaitu PE4UM dan PE4*E41. *ebab bila yang menjadi penekanan arti lebih kepada si-at kegiatan usahanya akan terjebak seperti pada kasus pailitnya P;. DI (Persero)% yang kemudian seolah olah P;. DI (Persero) itu dipersamakan dengan ketentuan yang ada pada PE4UM. ;erakhir% mengenai adanya disenting opinionAperbedaan pendapat dari ketua majelis hakim dalam memutuskan perkara ini% hal ini memang dibenarkan oleh UU' dan P'PU tahun "##) sebagaimana diatur dalam Pasal 9 (yat (0) huru- b yang di muat dalam putusan kasasi Mahkamah (gung. Meskipun di dalam ketentuan UU' dan P'PU ini sendiri antara isi pasal dengan penjelasannya terasa 7kontradikti-8% karena menurut Pasal 9 (yat (0) huru- b% pendapat yang berbeda tersebut 7.ajib dimuat dalam putusan pengadilan8% sedangkan di dalam penjelasan Pasal 9 (yat (0) huru- b% pendapat yang berbeda itu dimuat 7sebagai lampiran dari putusan pengadilan8 tersebut. Meskipun demikian% menurut saya dengan adanya dissenting opinion dari ketua majelis kasasi% paling tidak ini menunjukkan adanya perdebatan atau adu argumentasi% dan terdapat olah pikir diantara anggota majelis hakim sehingga diharapkan seorang hakim memang bukan hanya sebagai 7&orong undang undang8. *ehingga betul betul diharapkan mampu melahirkan 7keadilan8 dan 7kepastian hukum8% yang nampak bertentangan atau saling menjauh untuk kemudian dipertemukan. Itulah tugas seorang hakim% tidak ringan memang. 6anya sayang% alasan alasan 'etua Majelis 'asasi dalam disenting opinion nya% menurut saya justru jauh dari yang semestinya. *aya tidak setuju dengan alasan yang dikemukakan% karena menurut saya justru putusan Mahkamah (gung No. #2/ 'APdt.*usA"##2 tanggal "" 1ktober "##2% itu yang tidak tepat% kenapa harus diikuti. (palagi alasan yang dikemukakan tanpa disertai dengan uraian dasar hukum yang jelas dan lengkap% sehingga terkesan maa-% 7yang penting punya pendapat yang berbeda8. Dari &ontoh " kasus kepailitan yakni P;. DI (Persero) yang telah diputus pailit oleh Pengadilan Niaga <akarta Pusat melalui Putusan No.+ )1AP(I?I;A"##2APN.Niaga <kt Pst.% tertanggal $ *ept. "##2 yang kemudian dibatalkan melalui 'asasi Mahkamah (gung dalam Putusan No.+ #2/ 'APdt.*usA"##2 tanggal "" 1ktober "##2% sehingga P;. DI (Persero) tidak pailit lagi karena merupakan perusahaan milik negara yang 7bergerak pada obyek industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategis8.

*elanjutnya pada tahun "##! terjadi lagi permohonan kepailitan yang ditujukan kepada P;. IF?(* (Persero) yang juga merupakan sebuah BUMN Persero% oleh Pengadilan Niaga *urabaya permohonan pailit ;idak dikabulkan dengan dasar pertimbangan hukum yang dipakai antara lain karena P;. DI (Persero) ;idak dapat dipailitkan selain oleh Menteri 'euangan karena perusahaan milik negara yang asetnya pun juga merupakan aset negara sehingga ini akan bertentangan dengan ketentuan Pasal /# Undang undang No. 1 tahun "##) tentang Perbendaharaan Negara. ;etapi justru sebaliknya Mahkamah (gung dalam 'asasi membatalkan Putusan Pengadilan Niaga *urabaya itu% dengan dasar pertimbangan hakim antara lain adalah bah.a modal P;. IF?(* (Persero) terbagi dalam saham dan kepemilikan sahamnya tidak seluruhnya dikuasaiAdimiliki negara% tetapi juga dimiliki oleh P;. Bank BNI ;bk. yang nota bene sahamnya milik masyarakatAs.asta% serta bidang kegiatan P;. IF?(* (Persero) 7tidak se&ara langsung diman-aatkan oleh publik8% tujuannya men&ari untung% maka meskipun P;. IF?(* (Persero) adalah sebuah perseroan milik Menteri BUMN KK. Negara dapat dipailitkan. Dari kedua peristi.a yang menyangkut kepailitan atas BUMN Persero itu dapat menunjukkan dan membuktikan bah.a aset yang ada dalam BUMN Persero adalah bukan aset negara lagi% dan ketika negara ikut masuk ke dalam duania usaha atau negara ikut berbisnis% harus siap mengahadapi resiko% baik keuntungan yang akan diterima maupun kerugian yang mungkin timbul% sehingga ketika benar benar menderita kerugian yang kemudian bisa menjurus pada terjadinya pailit% maka negara pun harus bisa menerima. 'arena meskipun begitu negara tidak akan pailit% karena apabila benar benar sampai terjadi pailit atas kegiatan bisnis yang dimiliki oleh negara (BUMN Persero) pada prinsipnya negara hanya akan menderita kerugian sebesar saham yang dimilikinya% tidak lebih. *ehingga negara tidak akan pailit atau bangkrut karena hal ini juga tidak dimungkinkan oleh Pasal /# khusunya huru- (d) UU No. 1 tahun "##) tentang Perbendaharaan Negara% yang menyatakan bah.a 7pihak manapun dilarang melakukan penyitaan terhadap barang tidak bergerak dan hak kebendaan lainnya milik negaraAdaerah8. *ementara esensi dari 7kepailitan8 adalah merupakan sita umum atas semua kekayaan debitor pailit% dst..sebagaimana dinyatakan dalam Pasal " (yat (1) UU' dan P'PU. Maka terbukti bah.a negara Indonesia ter&inta ini tidak mengalami kepailitan meskipun P;. IF?(* (Persero) telah diputus pailit oleh Mahkamah (gung pada $1 <uli "##!. *ehingga yang menarik untuk diperhatikan dan dipertanyakan kemudian adalah% mengapa ketika P;. DI (Persero) diputus pailit oleh Pengadilan Niaga <akarta Pusat pada ) *eptember "##2% menjadi perhatian yang amat sangat dari semua kalangan masyarakat di Indonesia dari mulai dari pejabat% birokrat% praktisi% kalangan buruhAkarya.an sampai ke masyarakat yang a.am akan hukum sekalipun% sementara ketika P;. IF?(* (Persero) dipailitkan oleh Mahkamah (gung dalam putusan kasasi pada <uli "##!% semua kalangan masyarakat Indonesia 7adem ayem8 alias tidak ada yang mempermasalahkannya. ).$.".).Perdamaian dalam kepailitan P;. IF?(* (Persero)

Di dalam UU' dan P'PU dikenal adanya perdamaian% ada " ma&am yakni perdamaian dalam rangka P'PU% yaitu pertama sebelum debitur dinyatakan pailit sebagaimana diatur dalam Pasal "0/ Pasal "!) dan yang kedua adalah perdamaian yang dita.arkan oleh Debitor setelah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga sebagaimana diatur dalam UU' dan P'PU% Bagian 'eenam Bab I% Pasal 1)) Pasal 122 . Di dalam kasus kepailitan P;. IF?(* (Persero)% pada akhirnya terjadi perdamaian setelah P;. IF?(* (Persero) dinyatakan pailit oleh Mahkamah (gung dalam putusan 'asasi Nomor+ $!2 'APdt.*usA"##!% tanggal $# <uli "##!. 6al ini memang dimungkinkan oleh Undang undang meskipun sekali lagi bah.a menurut UU' dan P'PU ta.aran perdamaian itu mestinya dilakukan setelah debitor dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. 'arena dalam kasus kepailitan P;. IF?(* (Persero)% Pengadilan Niaga tidak menyatakan pailit barulah kemudian ketika dimohonkan 'asasi oleh P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C(% Mahkamah (gung dalam putusannya menyatakan P;. IF?(* (Persero) pailit dengan segala akibat hukumnya. Dalam proses kepailitan P;. IF?(* (Persero)% Debitor pailit dalam hal ini P;. IF?(* (Persero) kemudian mena.arkan adanya ren&ana perdamaian kepada para debitor sebagamana hal ini diperbolehkan menurut ketentuan Pasal 1)) UU' dan P'PU. Meskipun ketentuan ini tidak la5im apabila dibandingkan dengan negara negara lain% karena di negara lain tersebut biasanya diberlakukan ketentuan bah.a kesempatan untuk mengajukan perdamaian (di negara lain tersebut disebut dengan istilah reorgani5ationA rehabilitationA restru&turing) diajukan sebelum permohonan pernyatan pailit diajukan kepada pengadilan atau diajukan sebelum pengadilan memutuskan debitor dinyatakan pailit. Pada umumnya Undang undang 'epailitan di negara lain menentukan bah.a setelah debitor dinyatakan pailit% debitor tidak lagi berhak mengajukan permohonan atau pena.aran perdamaian kepada para kreditornya. <ustru putusan pailit adalah sebagai konsek.ensi ren&ana perdamaian yang diajukan oleh Debitor atau 'reditor tidak berhasil disepakati oleh Debitor dan para 'reditornya . Berbeda dengan ketentuan UU' dan P'U kita yang mengambil sikap memberikan keleluasaan pada Debitor. Menurut pandangan saya% akan lebih baik apabila pena.aran perdamaian dilakukan sebelum adanya pernyatan pailit. *ehingga kepailitan% memang benar benar merupakan upaya yang terakhir di lakukan% atau dapat dikatakan bah.a pailit merupakan sebuah punishment bagi si Debitor karena tidak dapat melaksanakan ke.ajibannya kepada si kerditor dalam membayar ke.ajiban atau hutang hutangnya. *ehingga sebagai konsek.ensi yuridis Debitor harus menerima segala akibat hukum dari pernyataan pailit tersebut. (pabila Debitor tidak mau menerima resiko tersebut maka sebaiknya melakukan upaya perdamaian dengan para 'reditor dengan harapan 'reditor akan memperoleh pelunasan atau pembayaran dengan lebih baik dibandingkan bila terjadi kepailitan dan sebaliknya bagi Debitor% dia akan dapat melunasi ke.ajibanAhutang hutangnya atau memberikan pembayaran yang lebih dibandingkan apabila Debitor dinyatakan pailit. *ehingga hal ini akan lebih berdampak positi- bagi kedua belah pihak% dkreditor maupun Debitor.

*elanjutnya akan saya uraikan se&ara ringkas mengenai terjadinya Perdamaian dalam 'asus 'epailitan P;. IF?(* (Persero)% berdasarkan adanya perjanjian perdamaian dengan para 'reditornya tanggal 10 Desember "##!. Berdasarkan laporan yang dibuat oleh 6akim Penga.as Pengadilan Niaga yang diangkat dan di tunjuk sebagai 6akim Penga.as berdasarkan Putusan Mahkamah (gung 4I tanggal $# <uli "##!% No. $!2 'APdt.*usA"##! <o. No. Pailit A"##!APN. Niaga *by. tanggal $1 Maret "##! dalam kasus kepailitan P;. IF?(* (Persero) (dalam pailit). Bah.a proses pengajuan dam pembahasan ren&ana perdamaian yang diajukan oleh P;. IF?(* (Persero) (dalam pailit) telah memenuhi syarat syarat yang ditentukan menurut UU' dan P'PU% dan karena itu 4en&ana Perdamaian patut untuk disahkan (homologasi). Berdasarkan hal itu% maka 6akim Penga.as berpendapat bah.a majelis 6akim Pemutus untuk mengesahkan Pembahasan 4en&ana perdamaian P;. IF?(* (Persero) (dalam pailit) tersebut dalam perkara No. $!2 'APdt. *usA"##! <o. No.#1APailitA"##!A PN. Niaga. *by. Pengesahan ren&ana perdamaian dilaksanakan pada tanggal 1$ <anuari "#1# di kantor Pengadlan Niaga *urabaya% para pihak yang hadir dalam 4apat Pembahasan 4en&ana Perdamaian hadir juga dalam rapat pengesahan Perdamaian tersebut. ?aporan ini dibuat untuk memenuhi ketentuan Pasal "9) (yat (1) UU' dan P'PU% yang ditetapkan di *urabaya pada tanggal #/ <anuari "#1# oleh 6akim Penga.as% Binsar Pamopo Pakpahan% *.6.% M.6. Berdasarkan atas laporan dari 6akim Penga.as terhadap kepailitan P;. IF?(* (Persero) (dalam pailit) tersebut% selanjutnya majelis 6akim Pemutus Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri *urabaya% pada tanggal 1$ <anuari "#1# menyelenggarakan sidang untuk mengesahkan Perjanjian Perdamaian yang telah disepakati P;. IF?(* (Persero) (dalam pailit) dengan para 'reditor pada 10 Desember "##!. Dasar pertimbangan yang dikemukaan oleh Majelis 6akim Pemutus adalah+ karena antara Pemohon Pailit (Debitor pailit) dan ;ermohon Pailit ('reditor Pailit) telah dapat ter&apai perdamaian dalam rangka pemberesan kepailitan debitor Pailit P;. (Persero)% maka sesuai dengan ketentuan Pasal 1/! (yat (1) UU' dan P'PU tidak terdapat adanya alasan Pengadilan untuk menolak melakukan pengesahan perdamaian% oleh karena itu Pengadilan memberikan pengesahan Perdamaian tersebut. Mengingat Pasa 1/9 dan pasal 1/! (yat (1) UU' dan P'PU% serta pasal pasal lain dari peraturan perundang undangan yang bersangkutan.

Berdasarkan pertimbangan hukum tersebut diatas% maka Majelis 6akim Pemutus Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri *urabaya% yang terdiri dari Mulyanto ('etua Majelis)% dengan anggota 6. (li Makki dan *iti <am5anah% yang dibantu oleh panitera pengganti Muhammad Isa% telah mengadili+ 1. Menyatakan sah Perjanjian perdamaian tertanggal 10 Desember "##!. ". Menghukum P;. IF?(* (Persero) selaku debitor pailit dan Para 'reditor untuk mentaati Perjanjian Perdamaian tertanggal 10 Desember "##! yang telah disahkan tersebut. $. Menghukum P;. IF?(* (Persero) untuk membayar biaya perkara sebesar 4p /.###.###% ).$."./.4ehabilitasi (kibat adanya perdamaian dalam P;. IF?(* (Persero) (dalam pailit) maka kepailitan akan berakhir. Cang sebelumnya didahului dengan adanya 4ehabilitasi. Cang dimaksud >rehabilitasi> adalah pemulihan nama baik Debitor yang semula dinyatakan pailit% melalui putusan Pengadilan yang berisi keterangan bah.a Debitor telah memenhi ke.ajibannya . 'etentuan mengenai rehabilitasi sebagai mana diatur dalam Bab II% Bagian 'esebelas% Pasal "1/ ""1 UU' dan P'PU. Pasal "1/ UU' dan P'PU menyatakan% setelah berakhirnya kepailitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100% Pasal "#" dan Pasal "#2% maka Debitor atau ahli .arisnya berhak mengajukan permohonan rehabilitasi kepada Pengadilan yang telah mengu&apkan putusan pernyataan pailit. Permohonan rehabilitasi baik oleh Debitor maupun ahli .arisnya tidak akan dikabulkan% ke&uali apabila pada surat permohonan tersebut dilampirkan bukti yang menyatakan bah.a semua 'reditor yang diakui sudah memperoleh pembayaran se&ara memuaskan. Cang dimaksud dengan Jpembayaran se&ara memuaskan> adalah bah.a 'reditor yang diakui tidak akan mengajukan tagihan lagi terhadap Debitor% sekalipun mereka mungkin tidak menerima pembayaran atas seluruh tagihannya. Permohonan rehabilitasi harus diumumkan paling sedikit dalam " surat kabar harian yang ditunjuk oleh Pengadilan (Pasal "10 dan Pasal "12 UU' dan P'PU). 'etika rehabilitasi sudah dilaksanakan% maka untuk selanjutnya berakhirlah kepailitan P;. IF?(* (Persero). 'arena kepailitan sudah berakhir maka tentunya tidak akan terjadi adanya sitaAeksekusi dalam kasus kepailitan P;. IF?(* (Persero) ini. (pabila perdamaian tersebut ternyata tidak dapat dilaksanakan% maka terhadap Debitor pailit% misalnya P;. IF?(* (Persero) dapat diajukan untuk dipailitkan lagi dengan &ara 'reditor menyampaikan kepada Pengadilan tentang tidak dapat dilaksanakannya Perjanjian Perdamaian oleh Debitor (dalam pailit) tersebut% dan begitu seterusnya.

).$.$.Perbandingan Pailit P;.DI (Persero) dengan P;.IF?(* (Persero) (pabila kita bandingkan mengenai kepailitan P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero) adalah ada persamanaan dan perbedaannya. Persamaannya adalah% keduanya sama sama merupakan BUMN Persero% yang modalnya berasal dari kekayaan negara yang telah dipisahkan untuk kemudian ditanamkan sebagai penyertaan negara dalam Persero. *ebagaimana memenuhi ketentuan UU BUMN (Pasal 1 angka "% Pasal 1 angka 1#% Pasal ) (yat 1 dan (yat "% Pasal 11). 'arena merupakan BUMN Persero maka berdasarkan ketentuan Pasal 11 UU BUMN% untuk selanjutnya dalam pengelolaannya berdasarkan pada prinsip prinsip perusahaan Perseroan ;erbatas yang diatur oleh UU P;. *ebagai sebuah Perseroan% tentunya juga mengenal adanya kepailitan sebagaimana ditentukan oleh UU' dan P'PU. Maka BUMN Persero sebagai suatu Badan Usaha yang berbentuk Persero identik dengan P;% untuk dapat dipailitkan dapat diajukan oleh Debitor itu sendiri% 'reditor atau para 'reditor% <aksa demi kepentingan umum% Bank Indonesia apabila terkait dengan lembaga perbankan% Bapepam bila terkait dengan Pasar Modal serta oleh Menteri 'euangan apaibila menyangkut Dana Pensiun% (suransi% 4easuransi. (pabila BUMN Persero tersebut memenuhi syarat syarat untuk dapat dinyatakan pailit. Cang kesemuanya tersebut telah diatur atau ditentukan di dalam UU' dan P'PU. Perbedaannya antara P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero) adalah pada besarnya (prosentase) nilai saham% kepemilikan sahamAsiapa pemegang saham yang ada serta bidang kegiatan usaha tersebut ditujukan untuk apa atau kepada siapa. 6al inilah yang kemudian menjadikan " kasus kepailitan ini putusannya menjadi berbeda meskipun sama sama merupakan BUMN yang berbentuk Persero. Menurut pertimbangan hukum M( 4I bah.a P;. DI (Persero)% keseluruhan modalnya (1## 3) dimiliki oleh negara yang pemegang sahamnya adalah Menteri Negara BUMN KK Negara 4epublik Indonesia dan Menteri 'euangan 4I KK Negara 4epublik Indonesia. ;erbaginya modal P;. DI (Persero) atas saham yang pemegangnya adalah Menteri Negara BUMN KK Negara 4I dan Menteri 'euangan 4I KK. Negara 4I adalah untuk memenuhi ketentuan Pasal 2 (yat (1) dan (yat ($) UU No. 1 tahun 1!!/ tentang P;% yang me.ajibkan pemegang saham suatu perseroan sekurang kurangnya dua orang. P;. DI (Persero) adalah BUMN yang bergerak dalam bidang kepentingan publik% berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam lampiran Peraturan Menteri Perindustrian 4I No.#$AM INDAPE4A)A "##/% tanggal 1! (pril "##/% disebutkan P;. DI (Persero) adalah obyek :ital industri. Cang dimaksud dengan obyek :ital industri adalah ka.asan lokasi% bangunanAinstalasi dan atau usaha industri yang

menyangkut hajat hidup orang banyak% kepentingan negara danAatau sumber pendapatan negara yang bersi-at strategis. *ementara P;. IF?(* (Persero)% modal berasal dari kekayaan negara yang telah dipisahkan% dengan komposisi pemegang saham seperti berikut+ saham 0$%9"3 saham milik Menteri BUMN dan $0%19 3 milik P;. Bank BNI ;bk. Dengan komposisi pemegang saham sebagaimana tersebut diatas maka P;. IF?(* (Persero) di nyatakan sebagai BUMN Persero yang tidak bergerak di bidang kepentingan publik karena ada unsur s.asta masuk% bukan seratus persen dimiliki oleh negara tetapi juga dimiliki oleh s.astaAmasyarakat (P;. Bank BNI ;bk.) dan tujuannya murni untuk kegiatan bisnis alias men&ari untung saja. Inilah perbedaan yang utama menurut Majelis 6akim pada Mahkamah (gung sehingga antara P;. DI (Persero) dengan P;. IF?(* (Persero) berbeda meskipun keduanya merupakan BUMN dengan sebutan yang sama 8Persero8. 'eberadaan Pasal 00 UU BUMN yang memberikan tugas tambahan kepada Persero tertentu untuk menyelenggarakan keman-aatan umum seperti pada P;. DI (Persero) ini pada akhirnya mengaburkan eksistensi Persero dengan Perum% sehingga dalam praktik sulit di&apai adanya kepastian hukum dan keadilan. *ehingga ketika BUMN dalam bentuk Persero diberi tugas Publi& *er:i&e 1bligation (P*1)% maka dalam praktik Persero yang demikian disamakan dengan Perum dan semua ketentuan mengenai Perum yang diberlakukan meskipun BUMN tersebut masih tetap berlabel 8Persero8. *ehingga seolah olah tidak ada perbedaan antara Perum dengan Persero% yang ada hanya BUMN yang merupakan perusahaan milik negara karena modal penyertaan yang ada berasal dari kekayaan negara yang telah dipisahkan dari (PBN. D. PENU;UP 1.1. 'esimpulan Berdasarkan dari hasil pembahasan dalam disertasi ini% maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut+ 1. 'ekayaan yang ada pada BUMN Persero adalah merupakan kekayaan negara yang telah dipisahkan dari sistem (PBN sebagai penyertaan modal dalam pendirian BUMN Persero% yang berlaku segala ketentuan dan prinsip prinsip P; sebagai badan hukum pri:at yang tujuan pendiriannya untuk men&ari keuntungan. 'ekayaan yang ada dalam BUMN Persero adalah merupakan 'ekayaan Persero sebagai badan hukum pri:at. Dalam hal negara melakukan tindakan hukum pri:at (pri:aat re&htelijk handeling) maka berlaku ketentuan hukum pri:at dan dalam hal negara melakukan tindakan hukum publik (publiek re&htelijk handeling) maka berlaku ketentuan hukum publik. 'etika negara menanamkan modal penyertaan pada BUMN Persero% maka kekayaan BUMN Persero merupakan kekayaan BUMN Persero sebagai badan hukum pri:at% dan dalam hal ini negara sebagai salah satu pemegang saham dalam BUMN Persero berkedudukan sebagai badan hukum pri:at% negara memiliki hak atas kebendaan (jus in rem) dan hak atas orang

(jus in personam) yang .ujud pelaksanaannya tunduk dan ditetapkan berdasarkan hukum pri:at. 6al ini juga dikuatkan oleh Bat.a Mahkamah (gung No.@'M(ACudA"#ADIIIA"##0 dalam kasus kredit ma&et pada Bank BUMN Persero (Bank Mandiri)% bah.a aset BUMN Persero merupakan asetAkekayaan Perseroan sebagai badan hukum% bukan merupakan asetAkekayaan negara. Dalam hal negara sebagai badan hukum publik% memiliki kemampuan memaksa dalam bentuk pengambilan keputusan (regeringsbesluit) yang bersi-at strategi atau tindakan pemerintahan (regeringsmaatregelen) yang bersi-at menegak kan hukum dan .iba.a negara. ". 'arena kekayaan yang terdapat pada BUMN Persero adalah merupakan kekayaan P;. Persero bukan merupakan kekayaan negara% maka terhadap P;. Persero dapat dipailitkan. 'arena kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh 'urator di ba.ah penga.asan 6akim Penga.as. Dalam hal kepailitan terhadap BUMN Persero% Pasal /# UU PBN (hukum publik) yang mengatur adanya larangan sita terhadap asetAkekayaan negara tidak dapat diberlakukan% karena negara melakukan tindakan hukum pri:at (pri:aat re&htelijk handeling) maka UU' dan P'PU yang berlaku. *ebagaimana terjadi dalam kasus pailitnya P;. IF?(* (Persero) yang di diajukan oleh P;. IN;E4=6EM P?(*(F41 <(C(% meskipun pada akhirnya terjadi 7PE4D(M(I(N8 yang telah disahkan oleh Pengadilan Niaga pada PN *urabaya 1$ <anuari "#1#. Putusan Pailit terhadap P;. IF?(* (Persero) ini menjadi bukti sekaligus menegaskan bah.a Negara tidak pailit meskipun Perusahaan Negara (BUMN PerseroAP;. IF?(* (Persero) itu pailit. 6al ini menunjukkan bah.a ketika negara melakukan tindakan hukum pri:at berlaku ketentuan hukum pri:at (pri:aat re&htelijk handeling)% meskipun dalam .aktu yang bersamaan negara juga dapat melakukan tindakan hukum publik. Maka tindakan M( yang membatalkan putusan PN. Niaga <akarta Pusat atas pailit P;. DI (Persero) menunjukkan adanya 8inkonsistensi M(8 terhadap Bat.a M( No.@'M(ACudA"#ADIIIA"##0 yang mengesampingkan Pasal " huru(g) UU 'N dan menegaskan kembali ketentuan dalam UU BUMN dan UU P; sebagai dasar pelaksanaan operasional BUMN Persero serta UU' dan P'PU bila berkaitan dengan kepailitan. Meskipun dalam kasus kepailitan P;. DI. (Persero)% M( membatalkan putusan PN. Niaga <akarta Pusat dengan menggunakan dasar pertimbangan bah.a yang harus mengajukan pailit adalah Menteri 'euangan karena P;. DI (Persero) bergerak di bidang kepentingan publik. *ampai sekarang pengertian bergerak di bidang 7kepentingan publik8 belum ada kesamaan makna baik dalam tataran teoritik (dalam UU) maupun praktik (dalam putusan pengadilan). 1. *aranA4ekomendasi *aran yang dapat disampaikan dalam disertasi ini adalah, 1. Perlu dilakukan harmonisasi Undang undang di bidang 'euangan Negara (UU 'N% UU PBN) dengan UU yang terkait dengan pengaturan BUMN (UU BUMN% UU P;% UU' dan P'PU) dengan memposisikan UU BUMN sebagai Undang undang payung yang merupakan Undang undang organik dari Pasal $$ UUD

1!)/% sehingga perlu membatasi terhadap pengertian 7keuangan negara8 yang terlalu luas &akupannya khususnya terhadap ketentuan Pasal " huru- (g) UU 'N yang sangat berpotensi Jmerugikan keuangan negara>% karena kekayaan negara yang telah dipisahkan termasuk kategori keuangan negara. *eyogyanya kekayaan negara yang telah dipisahkan tidak lagi masuk dalam kategori keuangan negara% tetapi mengikuti prinsip prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat seperti diatur dalam UU P;% penerapan prinsip F=F dalam BUMN. Maka seharusnya dilakukan perubahan perumusanA rede-inisi pengertian 7kekayaan negara8 dalam UU No. 12 ;ahun "##$% tentang 'euangan Negara. *elain itu sebaiknya negara dengan tegas mengatur bentuk BUMN antara Perum dan Persero% agar tidak terjadi kon-lik kepentingan dengan tidak memberikan lagi tugas Publi& *er:i&e 1bligation (P*1) kepada Persero (Pasal 00 UU BUMN seyogyanga dihapus). Negara semestinya lebih mengutamakan 7hak menguasai negara8 sebagai badan hukum publik dengan memberikan pelayanan umum% menjaga kesejahteraan rakyat% dari pada lebih menonjolkan 7hak memiliki negara8% sebagaimana amanat Pasal $$ UUD 1!)/. ". Perlu adanya pengertianAmakna yang sama mengenai apa yang dimaksud BUMN yang bergerak di bidang 7kepentingan publik8. 'arena antara 'etentuan Pasal " (yat (/) dengan penjelasannya tidak sejalan (norma kaburA :agen norm) (Pasal " (yat (/) menyebut tentang BUMN di bidang kepentingan publik% sementara dalam penjelasannya menyatakan BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh negara dan tidak terbagi atas saham). (ntara isi pasal dan penjelasannya tidak sinkron% maka seyogya ketentuan Pasal " (yat (/) dengan penjelasannya selaras% misalnya dengan langsung menyebut Perum. Demikan juga hendaknya hakim hati hati dalam memutuskan% apabila undang undang sudah mengatur dengan jelas maka tidak perlu mena-sirkan lagi% agar dapat di&apai adanya kepastian hukum sekaligus yang berkeadilan bagi para pihak yang berperkara ;entang Penulis+ Dr 6j 4ahayu 6artini *6 M*i M6um% dosen 'opertis @ilayah DII% DP' pada Bakultas 6ukum Uni:ersitas Muhammadiyah Malang. 'ontak person+ #91 "$$ 2)00)#. Email+ yayuka&hmadQyahoo.&o.id

DA3TAR BA4AAN BU*U5

(driyani% @uri% 'edudukan Persero dalam 6ubungan Dengan 6ukum Publik Dan Badan 6ukum Pri:at% Disertasi% Naskah Ujian ;ahap II% PP* Unair% "##!. RRRRRR% 'edudukan Persero dalam 6ubungan Dengan 6ukum Publik Dan Badan 6ukum Pri:at% 4ingkasan Disertasi% PP* Unair% "##!. (minuddin% Pri:atisasi BUMN Persero% Disertasi% PP* Unair% *urabaya% 1!!!. (nisah% *iti% Perlindungan 'epentingan 'reditor Dan Debitor Dalam 6ukum 'epailitan Di Indonesia% ;otal Media% Cogyakarta% "##9. (sshiddiKie% <imly% Freen =onstitution% Nuansa 6ijau Undang Undang Dasar Negara 4epublik Indonesia ;ahun 1!)/% 4aja.ali Pers% <akarta% Ed 1% "#1#. (sikin% Sainal% 6ukum 'epailitan M Penundaan Pembayaran Utang% =etakan pertama% 4aja.ali Pers% <akarta% "##1. Budiarto% (gus% 'edudukan 6ukum dan ;anggung <a.ab Pendiri Perseroan ;erbatas% Fhalia Indonesia% <akarta% "##". =ampbell Bla&k% 6enry% Bla&k>s ?a. Di&tionary% @est Publishing =o.% *t. Paul Minnesota% *iL Edition% 1!!1. =hidir% (li% Badan 6ukum% (lumni% Bandung% 1!!!. Dja-ar *aidi% Muhammad% 6ukum 'euangan Negara% 4aja.ali Press% 4aja Fra-indo Persada% <akarta% "##9. Djumhana% Muhammad% Pengantar 6ukum 'euangan Daerah% =etakan I "##2% =itra (ditya Bakti% Bandung. Emir5on% <oni% Prinsip prinsip Food =oorporate Fo:ernan&e% Paradigma Baru Dalam Praktik Bisnis Indonesia% Fenta Pers% Cogyakarta% "##2. Buady% Munir% 6ukum Pailit 1!!9 Dalam ;eori Dan Praktek% =et. 1% =itra (ditya Bakti% Bandung% 1!!!. RRRRRR% 6ukum Pailit Dalam ;eori Dan Praktek% Edisi 4e:isi (Disesuaikan dengan UU No. $2 tahun "##))% =etakan 'etiga% "##/% =itra (ditya Bakti% Bandung% "##/. RRRRRR% Doktrin doktrin Modern Dalam =orporate ?a. dan Eksistensinya Dalam 6ukum Indonesia% Bandung% =etakan Pertama% "##". Finting% <amin% 6ukum Perseroan ;erbatas (UU No. )# ;ahun "##2)% =etakan "##2% =itra (ditya Bakti% Bandung. RRRRRR % 6ukum Pailit Dalam ;eori Dan Praktek% Edisi 4e:isi (Disesuaikan dengan UU No. $2 tahun "##))% =etakan 'etiga% "##/% =itra (ditya Bakti% Bandung% "##/. RRRRRR % Perseroan ;erbatas Paradigma Baru% =etakan ke 1% =itra (ditya Bakti% Bandung% "##$. 6artini% 4ahayu% Penyelesaian *engketa 'epailitan Dengan 'lausul (rbitrase Di Indonesia% 'en&ana Prenada Media% <akarta% <anuari% "##!. RRRRRRI% Penyelesaian *engketa 'epailitan dengan 'lausul (rbitrase Di Indonesia+ Dualisme 6ukum kepailtan dan (rbitrase% 'en&ana Prenada Media Froup% <akarta% =etakan Pertama% <anuari "##!. RRRRRRI% 6ukum 'epailitan% Berdasarkan UU No. $2 ;ahun "##) ;entang 'epailitan dan P'PU% UMM Press% Malang% =etakan 'edua% Maret "##9.

RRRRRR % 'e.enangan Penyelesaian *engketa 'epailitan Berklausula (rbitrase (*tudi 'asus Putusan Pailit (ntara P;. En:ironmental Net.ork Indonesia Mela.an P;. Putra Putri Bortuna @indu)% ;esis% PP* Uni:ersitas Muhammadiyah Malang% "##0. 6ui5ink% <.B.% Insol:entie% alih bahasa ?inus Doludja.a% =et. 1% Pusat *tudi 6ukum Dan Ekonomi Bakultas 6ukum Uni:ersitas Indonesia% <akarta% "##). Ibrahim% 4. 1!!2% Prospek BUMN dan 'epentingan Umum% =itra (ditya Bakti% Bandung. <ono% 6ukum 'epailitan% *inar Fra-ika% <akarta% "##9. 'hairandy% 4id.an% Editor% Masalah masalah 6ukum Ekonomi 'ontemporer% Bakultas 6ukum Uni:ersitas Indonesia% ?embaga *tudi 6ukum dan Ekonomi% <akarta% "##0. RRRRRR % Food =orporate Fo:ernan&e% Edisi 4e:isi% =etakan kedua% ;otal Media% Cogyakarta% "##!. 'hairandy% 4id.an% dan Malik% =amelia% Food =oorporate Fo:ernan&e% Perkembangan Pemikiran dan Implementasinya di Indonesia dalam Perspekti- 6ukum% ;otal Media% Cogayakarta% "##2. Mar5uki% Peter% Mahmud% Penelitian 6ukum% 'en&ana% Prenada Media Froup% "##0. Prasetya% 4udhi% 'edudukan Mandiri Perseroan ;erbatas% Disertai Dengan Ulasan Menurut Undang undang No. 1 ;ahun 1!!/% =itra (ditya Bakti% Bandung% =etakan 'edua% 1!!0. RRRRRR % 6amilton% Neil% ;he 4egulation o- Indonesia *tate Enterprises% ?a. Publi& Enterprise In (sia% International ?egal &enter% Praeger Publisher% Ne. Cork% 1!20. RRRRRR % Bahan (jar Program *$ Ilmu 6ukum% Mata 'uliah 6ukum Dan Pengembangan Ekonomi% PP* Unair% *urabaya% "##9. RRRRRRI% Bahan (jar Program *$ Ilmu 6ukum% Mata 'uliah Penunjang Disertasi (M'PD) 8'arakteristik persero8% PP* Unair% *urabaya% "##!. Program Pas&asarjana% Peraturan Pendidikan Program Doktor% Program Pas&asarjana Uni:ersitas (irlangga% *urabaya% "##9. 4emi *jahdeini% *utan% 6ukum 'epailitan% Memahami Baillissements:erordening <un&to Undang undang No. ) tahun 1!!9% Fra-iti% <akarta% =etakan pertama% Desember "##". RRRRRI% 6ukum 'epailitan, Memahami Undang undang No. $2 ;ahun "##) ;entang 'epailitan% <akarta% Fra-iti% <akarta% Edisi Baru% <anuari "##!. 4ido% (li 4.% Badan 6ukum Dan 'edudukan Badan 6ukum Perseroan% Perkumpulan% 'operasi% Cayasan% @aka-% (lumni% bandung% 1!91. *hubhan% M. 6adi% Prinsip prinsip 6ukum 'epailitan% Disertasi% Program Pas&asarjana Unair% "##0. RRRRR % 6ukum 'epailitan% Prinsip% Norma% dan Praktik di Peradilan% 'en&ana% Prenada Media% <akarta% "##9. *oebekti% 4.% 4. ;jitrosudibio% 'itab Undang undang 6ukum Perdata% Pradnya Paramita% <akarta% =etakan ke 1"% 1!9#.

*oeria (tmadja% (ri-in% 'euangan Publik Dalam Perspekti- 6ukum+ ;eori% Praktik% dan 'ritik% Badan Penerbit Bakultas 6ukum Uni:ersitas Indonesia% "##/. RRRRRI% 6ukum 'euangan Publik% Bahan 'uliah Program Magister Ilmu hukum% M'+ 6ukum 'euangan Publik% B6 UI Program Pas&asarjana% "##". RRRRRI% 'apita *elekta 'euangan Negara% *uatu ;injauan Curidis% Uni:ersitas ;arumanegara% UP; Penerbitan% 1!!0. RRRRRR% Bahan (jar mata 'uliah Penunjang Diserytasi (M'PD) 86ukum 'euangan Publik8% PP* Uni:ersitas Indonesia% <akarta% "##!. RRRRRR% 6ukum 'euangan Negara *uatu ;injauan Curidis 6istoris% Framedia% <akarta% 1!90. *ri Djatmiati% ;atik% Prinsip I5in Usaha Industri Indonesia% Disertasi% PP* Unair% "##). *ya-ardi% *tatus 6ukum 'euangan Negara Cang Dipertanggungja.abkan 1leh BUMN+ (*tudi 'asus 'redit Bank Mandiri 'epada P; =FNA P;. ;ahta Medan)% ;esis% B6 UI% PP*% <akarta% "##!. Pringgodigdo% (.'.% ;iga Undang undang Dasar% Pembangunan% <akarta% 1!9!. 4ia.an @% ;jandra% 6ukum (dministrasi Negara% Uni:ersitas (tma <aya Cogyakarta% "##9. 4ido% (li 4.% Badan 6ukum Dan 'edudukan Badan 6ukum Perseroan% Perkumpulan% 'operasi% Cayasan% @aka-% (lumni% Bandung% 1!91. *imanjuntak% 4i&ardo% "##/% Esensi Pembuktian *ederhana Dalam 'epailitan. *jahdeini% *utan 4emy% 6ukum 'epailitan+ Memahami Baillisements :erordening <un&to Undang undang No.) ;ahun 1!!9% Fra-iti% <akarta% "##". RRRRRRR % *jahdeini% *utan 4emy% 6ukum 'epailitan , Memahami Undang undang No. $2 ;ahun "##) ;entang 'epailitan% Edsisi Baru% Fra-iti% <akarta% "##!. *oebekti 4.% ;jitrosudibio 4.% 'itab Undang undang 6ukum Dagang dan Undang undang 'epailitan% Pradnya Paramita% <akarta% =etakan ke "$% 1!!2. RRRRRR% 'itab Undang undang 6ukum Perdata% Pradnya Paramita% <akarta% =etakan ke 1"% 1!9#. *ri Djatmiati% ;atik% Prinsip I5in Usaha Industri Indonesia% Disertasi% PP* Unair% "##). *oemantri% Priambodo% Dibyo% Perjalanan Panjang Dan Berliku% 4e-leksi BUMN 1!!$ "##$+ *ebuah =atatan ;entang Peristi.a% Pandangan Dan 4enungan Dalam *atu Dasa.arsa% Media Pressindo% "##). *ubhan% M. 6adi% Prinsip prinsip 6ukum 'epailitan% Disertasi% Program Pas&asarjana Unair% "##0. RRRRRR% Prinsip prinsip 6ukum 'epailitan% 'en&ana% Prenada Media% <akarta% "##9. *ugiharto% ?aksamana *ukardi% dkk% BUMN Indonesia Isu% 'ebijakan% dan *trategi% EleL Media =umputindo% 'elompok Framedia% <akarta% "##/.

*uhardi% Funarto% 4e:italisasi BUMN% Uni:ersitas (tma <aya Cogyakarta% "##2. *utedi% (drian% Prinsip 'etrbuakaan dalam Pasar Modal% 4estrukturisasi Perusahaan dan Food =oorporate Fo:ernan&e% BP. =ipta <aya% <akarta% "##0. ;jager% I. Nyoman dkk% "##$% =orporate Fo:ernan&e + ;antangan dan 'esempatan bagi 'omunitas Bisnis Indonesia% P;. Prehailindo% <akarta. ;jandra% @. 4ia.an% 6ukum 'euangan Negara% Frasindo% Framedia @idiasarana Indonesia% <akarta% "##0. ;jokromidjojo% Bintoro. 1!!). Pengantar (dministrasi Pembangunan% ?P$E*% <akarta. Urger M% 4oberto% ;eori 6ukum 'ritis+ Posisi 6ukum dalam Masyarakat Modern% Nusa Media% =etakan 'edua% No:emer "##9. @idjaja% Funa.an% *eri 6ukum Bisnis+ ;anggung <a.ab Direksi (tas 'epailitan Perseroan% 4ajaFra-indo Persada% <akarta% % =etakan 'edua% <uli "##). Cani% (hmad M @idjaya% Funa.an% *eri 6ukum Bisnis+ 'epailitan% =et. "% 4aja.ali Press% <akarta% "###. RRRRRRI% *eri 6ukum Bisnis+ Perseroan ;erbatas% 4aja.ali Press% 4aja Fra-indo% <akarta% 1!!!.

ART)*EL6 MA*ALAH6 -URNAL5

(nisah% *iti% Perlindungan 'epentingan 'reditor Dan Debitor Dalam UU 'epailitan+ *tudi Putusan putusan Pengadilan Niaga dan Mahkamah (gung% <urnal 6ukum Bisnis% Dolume "9 No.1 ;ahun "##!% (kreditasi <urnal Ilmiah *' No. /"ADI';IA'ep.A"##"% hal. 1) "$. Djajanto% Pandu% BUMN Dan 'edudukan 6ukumnya ;erkait Dengan 'euangan Negara% Makalah Dalam *eminar Bakultas 6ukum Unie:ersitas airlangga% *urabaya% 1 No:ember "##9. 6arjono% Badan Usaha Mlik Negara dan ;indak Pidana 'orupsi% Panitia Pringatan Pendidikan ;inggi 6ukum di *urabaya% (lumni Bakultas 6ukum UN(I4% 1 No:ember "##9. Ibrahim 4.% ?andasan Biloso-is dan Curidis 'eberadaan BUMN+ *ebuah ;injauan% <urnal 6ukum Bisnis% Dolume "0 No.1 ;ahun "##2% (kreditasi <urnal Ilmiah *' No. /"ADI';IA'ep.A"##"% hal. / 1). Indra.ati% Culi% 'edudukan badan 6ukumANon Badan 6ukum dalam Pengelolaan 'euangan *e&ara 1tonom dalam Peraturan Perundang undangan% Pendidikan ?anjutan Ilmu 6ukum Di ?ingkungan Departemen Pekerjaan Umum% <akarta% ! (gustus "##9. RRRRRR% Food Fo:ernan&e Pengelolaan 'euangan Negara% Pendidikan ?anjutan Ilmu 6ukum% PP?I6 Bakultas 6ukum Uni:ersitas Indonesia% <akarta% ! (gustus "##9. 'hairandy% 4id.an% 'onsepsi 'ekayaan Negara Cang Dipisahkan dalam Perusahaan Perseroan% <urnal 6ukum Bisnis% Dolume "0 No.1 ;ahun "##2% (kreditasi <urnal Ilmiah *' No. /"ADI';IA'ep.A"##"% hal. $" $!. RRRRRRI% (nalisis Putusan Mahkamah (gung Mengenai 'epailitan P; Dirgantara Indonesia (Persero)% <urnal 6ukum Bisnis%

Dolume "9 No.1 ;ahun "##!% (kreditasi <urnal Ilmiah *' No. /"ADI';IA'ep.A"##"% hal. $# $0. 'holil% Muna.ar% 6ukum Perseroan ;erbatas (Berdasar UU No. $2 ;ahun "##) tentang Perseroan ;erbatas)% P. Poin% (Dosen B6 UN*). P. *oeria% (ri-in% (tmadja% 6ukum 'euangan Negraa pas&a 0# ;ahun Indonesia Merdeka% RRRRRRI% Undang undang 'euangan negara perlu diamandemen% ....google.&o.id% diakses pada tanggal ) maret "##!. Patriadi% Pandu% Man-aat 'onsep Food Fo:ernan&e Bagi Institusi Pemerintah dan BUMN Dalam 'ebijakan Pri:atisasi BUMN% 'ajian Ekonomi dan 'euangan% Dol. 9% no. $% *eptember "##). Pramono% Nindyo% ;anggung <a.ab dan 'e.ajiban Pengurus P; (Bank) Menurut UU No. )# ;ahun "##2 tentang Perseroan ;erbatas% Buletin 6ukum Perbankan dan 'ebanksentralan% Dolume / Nomor $% Desember "##2. Prasetya% 4udhi% Pertanggungja.aban Direksi Dalam Perseroan ;erbatas% Makalah dalam *eminar tentang 8'orupsi di BUMNABUMD8% Panitia Peringatan Pendidikan ;inggi 6ukum di *urabaya% (lumni Bakultas 6ukum UN(I4% 1 No:ember "##9. Puji N. Dian% *imatupang% 6ak Menguasasi Negara Dalam 'euangan Publik% 'onsep% ;eori% Dan Praktek% Bahan Perkuliahan 6ukum (dministrasi Negara% B6 UI% "##2. RRRRRR % Inkonsistensi Dan Upaya 6armonisasi 6ukum Dalam Peraturan Perundang Undangan 'euangan Negara Indonesia% Materi Pendidikan dan Pelatihan 6ukum 'euangan negara 'erja sama Departemen Pekerjaan Umum 4I Dan Bakultas 6ukum Uni:ersitas indonesia% jakarta% 9 (gustus "##9. RRRRRRI% '4I;I' Curidis ;erhadap paket UU 'euangan Negara Dan BP'% Program Magister Ilmu 6ukum Uni:ersitas 'risten Indonesia. 4ajagukguk% Erman% Pengertian 'euangan Negara dan 'erugian Negara+ ?ahirnya PP $$ ;ahun "##0 Dan Implikasinya bagi Pembarantasan 'orupsi. *idik% Ma&h-ud% 4e:italisasi 1rganisasi Pengelola 'ekayaan Negara *ebagai @ujud Food Fo:ernan&e manajemen 'euangan Negara% <urnal 'euangan Publik% Dol.)% No.1% (pril "##0% hal 1 "$. *imanjuntak% 4i&ardo% 6ukum 'omersial dan Pengadilan Niaga ('omersial) Indonesia% Majalah 6ukum Nasional% Badan Pembinaan 6ukum Nasional% Departemen 'ehakiman Dan 6ak (sasi Manusia% No. 1% "##"% hal.1#9 1"#. *hubhan% M. 6adi% ;anggung <a.ab 1rgan organ Perseroan terbatas (P;) atas 'epailitan P;% dalam Majalah Ilmu 6ukum CU4IDI'(% Dolume "1% No. 1% <anuari "##0% I**N #"1/ 9)!H% hal $) /!. *oeria P.% (ri-in% (tmadja% 6ukum 'euangan Negraa pas&a 0# ;ahun Indonesia Merdeka% ....pemantauperadilan.&om RRRRRR % Undang undang 'euangan negara perlu diamandemen% ....google.&o.id% diakses pada tanggal ) maret "##!. *oepomo% Pemahaman 'euangan Negara Dalam ;indak Pidana 'orupsi% Do.nload Internet% 4abu "" (gustus "##2% internet.

*ri Nurbayanti% 6erni% 4e-ormasi 6ukum 'epailitan Di Indonesia% dalam <urnal 6ukum <EN;E4(% (pril <uni "##2% Edisis 10 tahun ID% hal. /9 90. *unarmi% Menuju 6ukum 'epailitan Cang Melindungi 'reditor dan Debitor% dalam buku kumpulan Disertasi tentang Masalah masalah 6ukum Ekonomi 'ontemporer% Bakultas 6ukum Uni:ersitas Indonesia% ?embaga *tudi 6ukum Dan Ekonomi% "##0% hal. $)1 $!". RRRRRRI% Perbandingan *istem 6ukum 'epailitan (ntara Indonesia (=i:il ?a. system) Dengan (merika *erikat (=ommon ?a. *ystem)% B6% U*U% e U*U 4esipository Q "##) Uni:ersitas *umatra Utara. ;risna.an% 6ilman% 4esensi Buku+ 'euangan Publik Dalam Perspekti6ukum ;eori% Praktk% dan 'ritik% Badan penerbit -akultas 6ukum UI% <akarta% "##/% uletin 6ukum Perbankan Dan 'ebanksentralan% Dolume $% Nomor $% Desember "##/ % hal )" )/. ;umbuhan% Bred% Pandangan Curidis ; entang P; dan 1rgan organnya% ;anggal "2 *eptember "##1% ....hukumonline.&om @ahyudi% (ri% 6ertanto% (spek aspek Penting Untuk Dipahami 1leh para (hliA Praktisi 6ukum ;erhadap Penyusunan ?aporan 'euangan Pada *uatu Perseroan ;erbatas (*uatu Pendekatan F11D =orporate Fo:ernan&e) <urnal 6ukum Dan Pembangunan% tahun ke $9 No.1 <anuari "##9% I**N #"1/ !092% hal $#1 $1/. @idjaya% Funa.an% ;anggung <a.ab Direksi (tas 'epailitan Perseroan% 4aja Fra-indo Persada% <akarta% =etakan ke "% <uli "##).

-urnal5

<urnal 6ukum Bisnis% *epuluh ;ahun UU 'epailitan Dan E-ekti:itasnya% Dolume "9 No.1 ;ahun "##!% I**N+ #9/"A)!1"% (kreditasi <urnal Ilmiah *' No. /"ADI';IA'ep.A"##". <urnal Ilmu 6ukum 8(manna Fappa8 Bakultas 6ukum Uni:ersitas 6asanuddin% I**N+ #9/$ 10#!% (kreditasi B No. 1#9ADI';IA'EP A"##2% Dolume 10 Nomor "% <uni "##9. <urnal 6ukum Bisnis% BUMN+ Masih Perlukah DipertahankanG% Dolume "0 No.1 ;ahun "##2% I**N+ #9/"A)!1". <urnal 6ukum Bisnis% Permasalahan Utang dan 4UU 'epailitan Baru% Dolume 12 <anuari "##"% I**N+ #9/"A)!1". <urnal 6ukum Bisnis% *epuluh ;ahun UU 'epailitan Dan E-ekti:itasnya% Dolume "9 No.1 ;ahun "##!% I**N+ #9/"A)!1".

)NTERNET5

E--nu *ubiyanto% ;ak *ah% Putusan Pailit Untuk P; DI% 1pini% <a.a Pos% 'amis% 0 *eptember "##2% diakses 2 *eptember "##9. Err.id% Bat.a M(% Piutang BUMN adalah BU'(N MI?I' PEME4IN;(6% 'oran ;empo% "0 *eptember "##0.

'elik Pramudya% 'epailitan BUMN% http+AA&li&k gtg.blogspot.&omA"##9A1#A kelemahan hukum kepailitan di indonesia.html% 4abu% "##9 *eprtember 12% diakses ! <anuari "##!. 'omisi 6ukum Nasional% Pengertian 'euangan Negara dalam ;indak Pidanan 'orupsi% %opini% 6ttp+AA....komisihukum.go.idAkonten.phpG namaTopini% diakses 4abu% tanggal $# Desemeber "##9. M. 6adi *hubhan% Eks Pekerja P; DI 'ian Menderita% http+AA opinibebas. epajak.orgA blogApage A"A% 1&tober "!th% "##2% diakses ! <anuari "##!. Sen Umar Purba% (&hmad% 7'alau Negara BerniagaO.8% ! (pril% "##9% http+AA....madani ri.&om. % diakses 4abu% $# Desember "##9. ....hukumonline% (turan Penyelesian NP? ;erkendala Bat.a M(% berita% "A9A#0% diakses / No:ember "##9. ....hukumonline% Bat.a M( yang Menjadi 'ontro:ersi% berita% $A1#A#0% diakses / No:ember "##9. ....hukumonline% P; DI Dimohonkan Pailit% berita% 1#A2A#2% diakses / No:ember "##9. ....hukumonline% P; Dirgantara Indonesia Dinyatakan Pailit% berita% )A!A#2% diakses / No:ember "##9. http+AA....kompas.&om.% P; DI Batal Pailit% ) *eptember "##2% diakses 2 *eptember "##9. ttp+AA....detik-ina&e.&om% *o-yan Perjuangkan Pembatalan Putusan Pailit P; DI% #)A#!A"##2% diakses 2 *eptember "##9. http+AA....seputar indonesia.&om.% P; DI Di:onis Pailit% #/A#!A"##2% diakses 2 *eptember "##9. http+AA....kompas.&om% P; DI Dipailitkan Pemerintah 'asasi. Menneg BUMN+ 'inerja Perusahaan *edang Bagus% 4abu% #/ *eptember "##2% diakses / No:ember "##9. http+AA....antara.&o.id% Pengadilan Niaga <akarta Pusat Pailitkan P; DI% diakses 2 *eptember "##9. http+AA....kompas.&om% Pemerintah Diminta ;ak Inter:ensi Putusan Pailit P; DI% berita% 1" *eptember "##2% diakses / No:ember "##9. ....hukumonline% BUMN =uma Bisa Dipailitkan Menkeu% M( Batalkan Pailit P; DI% berita% "/A1#A#2% diakses / No:ember "##9. http+AA....kompas.&om% P; DI Batal Pailit% 4abu% ") 1ktober "##2% diakses / No:ember "##9. ....hukumonline% 6ukum 'epailitan Indonesia di (mbang Pailit+ *epuluh ;ahun Pengadilan Niaga% Bokus% $A11A#9% diakses ) No:ember "##9% jam #!.)". http+AA&li&k gtg.blogspot.&omA"##9A1#Akelemahan hukum kepailitan di indonesia.html% 4abu% "##9 *eprtember 12% diakses ! <anuari "##!. http+AA....hukumonline. http+AA....pemantauperadilan.&om http+AAre&htheory.blogspot.&omA"##9A11Abadan hukum dalam perseroan terbatas.html.

*+RAN7MA-ALAH5

Bisnis Indonesia% Edisi+ #" (pril "##9.

;empo% "0 *eptember "##0% Bat.a M(% Piutang BUMN adalah Bukan Milik Pemerintah>