Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PROSES INDUSTRI KIMIA PEMBUATAN GAS INDUSTRI: HIDROGEN

Disusun Oleh : Asha Herda Afianti Edward Cantona Taufan M. Dzikri Hanif W. M. Sutan Gerry S. Nita Ariani Wiwit Arum 21030112130135 21030112140143 20130112130084 21030112110099 21030112120022 21030112130090

Dosen Pengampu: Nita Aryanti, S. T., M. T., Ph. D

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

1. Pengertian Umum Hidrogen adalah unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki symbol H dan nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna, tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal, dan merupakan gas diatomik yang sangat mudah terbakar. Hidrogen merupakan unsur yang paling melimpah dengan persentase kira-kira 75% dari total massa unsur alam semesta. Unsur ini ditemukan dalam kelimpahan yang besar di bintang-bintang dan planet-planet gas raksasa. Di seluruh alam semesta ini, hidrogen kebanyakan ditemukan dalam keadaan atomik dan plasma yang sifatnya berbeda dengan molekul hidrogen. Dalam keadaan normal di bumi, unsur hidrogen berada dalam keadaan gas diatomik. Namun, gas hidrogen sangatlah langka di atmosfer bumi karena beratnya yang ringan menyebabkan gas hidrogen lepas dari gravitasi bumi. Senyawa hidrogen jarang dijumpai secara alami di bumi dan biasanya dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana. Hidrogen juga dapat dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis. Gas hidrogen dapat diperoleh melalui proses cracking atau yang biasa disebut dengan steam reforming antara gas alam dengan steam dengan bantuan katalis nikel.

2. Karakteristik Hidrogen Tabel 2.1 Sifat Termodinamika dan Fisik dari Hidrogen Gas Sifat Densitas pada 0C, (mol/cm3) 103 Hidrogen Para0,05459 1,0005 Normal 0,04460 1,00042 7,03

Faktor kompresibilitas, Z = PV/RT, pada 0C Kompresibilitas adiabatic, ( MPa-1b Koefisien ekspansi volume, ( K-1 CP pada 0C, J/(mol.K)c Cv pada 0C, J/(mol.K)c Entalpi pada 0C, J/molcd Energi dalam pada titik lebur, J/molcd

), pada 300 K, 7,12

), pada 300 K, 0,00333

0,00333

30,35 21,87 7656,6 5384,5

28,59 20,30 7749,2 5477,1

Entropi pada titik lebur, J/(mol.K)cd Kecepatan suara, m/s Viskositas, mPas (=cp) Konduktivitas termal pada titik lebur, mW/(cm.K) Konstanta dielektrik pada titik lebur Kompresibilitas isotermal, 1/ V(V/VP)T , Mpa-1 b Koefisien difusi-diri pada 0 oC, cm2/s Difusivitas gas dalam air pada 25 oC, cm2/s Diameter benturan, , m 10 10 Parameter interaksi, /k, K Panas disosiasi pada 298,16 K, kJ/mol c Catatan:
a b c d

127.77 1246 0,00839 1,841 1,00027 -9,86 435,935

139,59 1246 0,00839 1,740 1,000271 -9,86 1,285 4,8 10-5 2,928 37,00 435,881

semua nilai pada 101,3 kPa (1 atm) untuk konversi Mpa ke atm, dibagi dengan 0,101 untuk konversi J ke cal, dibagi dengan 4,184 titik dasar (nilai nol) untuk entalpi, energi dalam, dan entropi adalah 0 K untuk

gas ideal pada tekanan 101,3 kPa (1 atm) Sumber : Othmer, K., 1967 Tabel 2.2 Sifat Termodinamika dan Fisik dari Hidrogen Cair Sifat Titik lebur, K (triple point) Titik didih normal, K Suhu kritis, K Tekanan kritis, kPaa Densitas pada titik didih, mol/cm3 Densitas pada titik lebur, mol/cm3 Faktor kompresibilitas, Z = PV/RT pada titik lebur titik didih Titik kr itis 0,001606 0,01712 0,3025 0,001621 0,01698 0,3191 Hidrogen Para13,803 20,268 32,976 1298,8 0,03511 0,038207 Normal 13,947 20,380 33,18 1315 0,03520 0,03830

Kompresibilitas adiabatik, (V/VP)s, MPa-1 b pada triple point titik didih Koefisien ekspansi volume, (V/VT)p, K-1 pada triple point titik didih Panas penguapan, J/molc pada triple point titik didih Cp, J/(mol.K) c pada triple point titik didih Cv, J/(mol.K) c pada triple point titik didih Entalpi, J/mol c d pada triple point titik didih Energi dalam, J/mol c d pada triple point -622,9 435,0 -622,7 -516,6 438,7 548,3 9,50 11,57 9,53 11,60 13,13 19,53 13,23 19,70 905,5 898,3 911,3 899,1 0,0102 0,0164 0,0102 0,0164 0,00813 0,0119 0,00813 0,0119

Catatan: a untuk konversi kPa ke mm Hg, dikali dengan 7,5


b c d

untuk konversi Mpa ke atm, dibagi dengan 0,101 untuk konversi J ke cal, dibagi dengan 4,184 titik dasar (nilai nol) untuk entalpi, energi dalam, dan entropi adalah 0 K untuk gas ideal pada tekanan 101,3 kPa (1 atm)

Sumber : Othmer, 1967 Tabel 2.3 Sifat Termodinamika dan Fisik dari Hidrogen Padatan Sifat Titik lebur, K (triple point) Tekanan uap pada titik lebur, kPaa Tekanan uap pada 10 K, kPaa Densitas pada titik lebur, (mol/cm3) 103 13,803 7,04 0,257 42,91 Hidrogen ParaNormal 13,947 7,20 0,231 43,01

Panas peleburan pada titik lebur , J/molb Panas sublimasi pada titik lebur, J/molb Cp pada 10 K, J/(mol.K) b Entalpi pada titik lebur, J/molb c Energi dalam pada titik lebur, J/molb c Entropi pada titik lebur, J/(mol.K) b c Konduktivitas termal pada titik mW/(cm.K) Konstanta dielektrik pada titik lebur Panas disosiasi pada 0 K, kJ/mol Titik lebur, K (triple point) Tekanan uap pada titik lebur, kPaa Tekanan uap pada 10 K, kPaa Densitas pada titik lebur, (mol/cm3) 103 Panas peleburan pada titik lebur , J/molb Panas sublimasi pada titik lebur, J/molb Catatan:
a b b

117,5 1023,0 20,79 -740,2 -740,4 1,49 9,0 1,286 431,952 13,803 7,04 0,257 42,91 117,5 1023,0

117,1 1028,4 20,79 321,6 317,9 20,3 9,0 1,287 430,889 13,947 7,20 0,231 43,01 117,1 1028,4

lebur,

untuk konversi kPa ke mm Hg, dikali dengan 7,5 untuk konversi ke cal, dibagi dengan 4,184 c titik dasar (nilai nol) untuk entalpi, energi dalam, dan entropi adalah 0 K untuk gas ideal pada tekanan 101,3 kPa (1 atm) Sumber : Othmer, 1967 3. Spesifikasi Bahan Baku Gas Alam (Natural Gas) Gas alam adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana (CH4). Gas alam dapat ditembukan di ladang minyak, ladang gas bumi, dan juga tambang batu bara. Komponen utama dalam gas alam adalah metana (CH4) yang merupakan molekul hidrokarbon rantai terpendek dan teringan. Gas alam juga mengandung molekul-molekul hidrokarbon yang lebih berat seperti etana (C2H6), propana (C3H8), dan butana (C4H10), selain juga gas-gas yang mengandung sulfur (belerang). Tabel 3.1 Komposisi Natural Gas Komponen Metana (CH4) Etana (C2H6) Propana (C3H8) % mol 94,3996 3,1 0,5

Isobutana N-butana Pentana H2S CO2 N2 Sumber: Spath and Mann, 2000

0,1 01 0,2 0,0004 0,5 1,1

Gas alam yang telah diproses dan akan dijual bersifat tidak berasa dna tidak berbau. Akan tetapi, sebelum gas tersebut didistribusikan ke pengguna akhir, biasanya gas alam diberi bau dengan menambahkan thiol agar dapat terdeteksi bila terjadi kebocoran gas. Gas alam yang telah diproses itu sebenarnya tidak berbahaya, tetapi gas alam tanpa proses dapat menyebabkan tercekiknya pernapasan karena ia dapat mengurangi kandungan oksigen di udara pada level yang dapat membahayakan. Gas alam dapat berbahaya karena sifatnya yang sangat mudah terbakar dan menimbulkan ledakan. Gas alam lebih ringan dari udara, sehingga cenderung mudah tersebar di atmosfer. Akan tetapi, bila berada dalam ruang tertutup, seperti dalam rumah, konsentrasi gas dapat mencapai titik campuran yang mudah meledak, sehingga jika tersulut api dapat menyebabkan ledakan yang dapat mengancurkan bangunan. Kandungan metana yang berbahaya di udara adalah antara 5% hingga 15%. Pemanfaatan Gas Alam Secara garis besar, pemanfaatan gas alam dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. Gas alam sebagai bahan bakar, antara lain sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU); bahan bakar industri ringan, menengah, dan berat; bahan bakar kendaraan bermotor (BBG/NGV); sebagai gas kota untuk kebutuhan rumah tangga, perhotelan, restoran, dan sebagainya. 2. Gas alam sebagai bahan baku, antara lain bahan baku pabrik pupuk, petrokimia, methanol; bahan baku plastik LDPE (Low Density Polyethylene), LLDPE (Linear Low Density Polyethylene), HDPE (High Density Polyethylene), PE (Polyethylene), PVC (Poly Vinyl Chloride); C3 dan C4 untuk LPG; CO2 untuk soft drink, dry ice, pengawet makanan, hujan buatan, industri besi tuang, pengelasan; dan bahan pemadam api ringan 3. Gas alam sebagai komoditas energi untuk ekspor, yaitu Liquefied Natural Gas (LNG).

4. Spesifikasi Bahan Pendukung Air Rumus molekul : H2O Berat molekul : 18 : 0,804 kg/m3 : 0 0C : 100 0C Berat jenis cair : 1 gr/cm3 (pada suhu 25 0C) Berat jenis gas Titik lebur Titk didih (Othmer, 1967) Katalis Zink Oksida Rumus kimia Berat molekul Berat jenis Titik lebur Kenampakan (Othmer, 1967) Katalis Ni Rumus kimia Berat molekul Berat jenis Titik lebur Titik didih Metana (CH4) Merupakan komponen unsur terbesar (88,85%) di dalam gas alam. Berat molekul Tekanan kritis Fasa padat Titik cair Panas laten Fasa cair Densitas cair Titik didih : -182,5C : 58,68 kJ/kg : 500 kg/m3 : -161,6C : 16,043 g/mol : 45,96 bar Temperatur kritis: -82,7C : Ni : 58,69 gr/mol : 8,90 (20 0C) gr/cm3 : 1425 0C : 29000C : ZnO : 81,39 gr/mol : 5,47 gr/cm3 : 1800 0C : butirbutir dengan diameter rata-rata 366 nm

Panas laten uap : 510 kJ/kg Fasa gas Densitas gas : 0,717 kg/m3

Faktor kompresi : 0,998 Specific gravity : 0,55 : 0,035 kJ/mol.K Cp Cv Kelarutan Viskositas Etana Berat molekul Tekanan kritis Fasa padat Titik cair Panas laten Fasa cair Densitas cair : 546,59 kg/m3 : -183,3 C : 94,977 kJ/kg : 0,027 kJ/mol.K : 0,054 vol/vol : 0,0001027 poise : 30,069 g/mol : 40,2 bar

Temperatur kritis: 32,2 C

5. Proses Pembuatan Hidrogen Proses dalam pembuatan gas hidrogen difokuskan pada beberapa faktor: kandungan hidrogen dalam umpan; hidrogen yang dihasilkan dari proses; yang meliputi biaya dari umpan; biaya modal dan operasi; energi yang dibutuhkan; pertimbangan lingkungan; penggunaan yang diharapkan dari hidrogen. Spesifikasi proses komersial untuk pabrik hidrogen diperoleh dari steam reforming, oksidasi parsial, gasifikasi batubara, dan elektrolisis air. Semua proses ini menghasilkan hidrogen dari hidrokarbon dan air. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut: Steam reforming Naphta reforming 1)H2 Resid partial oxidation Cool gasification Water electrolysis (Othmer, 1967) CH1.8 + 0.98H2O + 0.51O2 1.88H2 CH0.8 + 0.6H2O + 0.7O2 H2 2H2O 2H2 + O2 CO2 + CO2 + CH4 + 2H2O CO2 + 4H2 nCO + (2n +

CnH2n + 2 + nH2O

Produksi curah hidrogen hampir 50% dihasilkan oleh proses Steam Methane Reforming (Dutton, 2002). 5. 1. Steam Methane Reforming (SMR) atau Cracking Proses Steam Methane Reforming (SMR) terdiri atas 4 langkah: a. Pemanasan stok umpan dan pemurnian (dibutuhkan karena katalis memiliki sensitivitas yang tinggi oleh ketidakmurnian, contohnya: sulfur, merkuri, dan logam lainnya) b. Steam reformer c. CO shift d. PSA purification (menyerap campuran lainnya selain dari H2 untuk menghasilkan H2 mencapai 80 90% Reaksi reformer (untuk metana): CH4 + 2H2O CH4 + H2O Kondisi operasi: CO2 + 4H2 (H0 = +164kJ /mol; secara umum beroperasi pada suhu 850 oC) CO2 + 3H2 (H0 = +205kJ /mol )

Beroperasi pada tekanan < 40 bar Reaksi sangat endotermis Konversi penguapan oleh steam dan suhu yang tinggi; konversi akan berkurang dengan tekanan yang tinggi.

Membutuhkan katalis nikel yang aktif Kemungkinan untuk tingkatan reaksi oleh adsorpsi CO2, memungkinkan suhu reaksi untuk menjadi berkurang sampai 550 oC.

Reaksi CO shift : CO + H2O CO2 + H2

Menggunakan katalis CO shift : besi oksida (secara konvensional suhu tinggi 340 460 oC), (suhu sedang) besi + tembaga oksida (suhu tinggi dimodifikasi 310 370 oC), tembaga, seng, aluminium (suhu rendah 180 280 oC)

Ukuran pabrik kecil dan sedang yang memiliki reactor shift suhu sedang yang tunggal

Pabrik skala besar memiliki 2 reaktor suhu sedang atau suhu tinggi ditambah reaktor suhu sedang

Ukuran pabrik yang umum : Kecil 500 - 3000 Nm3/jam

Sedang Besar

mencapai 25,000 Nm3/jam lebih dari 25,000 Nm3/jam

Sangat besar over 150,000 Nm3/jam (Dutton, G., 2002)

(NETL, 2002) Blok Diagram Proses Pembuatan Gas Hidrogen dari Gas Alam dengan Proses Steam Methane Reforming/Cracking

(Tambunan, 2011) 5. 2. Oksidasi Parsial Hidrogen juga dapat dibentuk oleh non-katalisis oksidasi parsial hidrokarbon.

Banyak umpan hidrokarbon yang dapat dimampatkan atau dipompa yang mungkin digunakan. Efisiensi proses secara keseluruhan adalah hanya 50% (dibandingkan SMR pada 65 75%). Oksigen murni diperlukan sebagai umpan. Reaksi reformer oksidasi parsial : Gas alam : Batu bara : CH4 + O2 C + O2 CO + 2H2 CO (1350 oC) (1350 oC)

- Proses gas sintesis - Menggunakan banyak bahan bakar fosil dan dapat beroperasi pada tekanan tinggi (>100 bar) Daftar sumber hidrogen terdiri atas tiga model teknologi : a. Catalytic Steam Reforming (CSR) melibatkan reaksi bahan bakar

hidrokarbon dan steam dalam kehadiran katalis dimana dibutuhkan sumber panas eksternal. Proses ini memiliki efisiensi yang tinggi. b. Auto Thermal Reforming (ATR) melibatkan reaksi bahan bakar hidrokarbon dan steam dalam kehadiran katalis dan oksigen dimana beberapa bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen dibutuhkan panas untuk reaksi. Proses ini dapat digunakan pada banyak perbedaan tipe dari bahan bakar. c. Catalytic Partial Oxidation Reforming (CPOX) adalah serupa seperti auto thermal reforming (ATR) tetapi menggunakan sistem operasi yang lebih simpel dan sederhana (Dutton, G., 2002).

(NETL, 2002)

5. 3. Intergrated Gasification Combined Cycle (IGCC) Dalam sistem IGCC, gasifier batubara konversi batubara di pulverisasi ke dalam gas sintesis (campuran H2 dan CO) dengan penambahan steam dan oksigen. Gas sintesis ini selanjutnya dibersihkan dari kotorannya dan digunakan untuk menghasilkan energi dalam turbin gas. (secara alternatif gas yang diproduksi dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen, bahan kimia, atau bahan bakar lainnya). Panas yang terbuang dari turbin gas digunakan dalam turbin steam untuk menghasilkan banyak elektrisitas. Telnologi gasifier terintegrasi dengan siklus yang dikombinasikan dalam jalan ini menawarkan efisiensi sistem yang tinggi dan tingkatan polusi yang sangat rendah. Sistem dirancang untuk menangani berbagai umpan, mencakup batubara dengan kandungan sulfur yang tinggi dan rendah, antrasit, dan biomassa. Secara umum sistem memiliki rentang dalam ukuran dari 200 800 MWe. Secara umum pabrik menawarkan suatu peningkatan 10% dalam efisiensi suhu melebihi stasiun pembakaran batubara konvensional. Efisiensi operasi dalah diantara 29 41%, tergantung pada karakteristik bahan bakar (yaitu kandungan sulfur, kandungan abu, dan nilai kalori), tipe dari sistem IGCC (yaitu entrained, moving-bed atau fluidized bed) dan puncak suhu turbin gas. Dalam kaitan efisiensi rendah dan biaya, IGCC hanya merupakan teknologi demonstrasi, akan tetapi hal itu diharapkan bahwa teknologi generasi kedua akan merealisasikan efisiensi dari 45 50% dan mengurangi biaya (Dutton, G., 2002).

5. 4. Pirolisis Hidrokarbon dapat dikonversi menjadi hidrogen tanpa menghasilkan CO2, jika hidrokarbon tersebut didekomposisi pada suhu yang tinggi dalam ketidakhadiran oksigen (pirolisis). Sebagai contoh methana dapat di cracked dalam katalis seperti karbon (golongan karbon, seperti jelaga C60, grafit atau karbon aktif). Dalam prinsipnya, pirolisis dapat juga diaplikasikan lebih jauh kedalam hidrokarbon kompleks, biomassa, limbah padat kota (Dutton, G., 2002).

5. 5. Elektrolisis Air Hidrogen dapat dihasilkan dari air yang dielekrolisis. Jika elektrolitas dihasilkan dari teknologi renewable (seperti solar, hidro, angin, pasang surut), maka proses tersebut disebut bebas karbon. Pemecahan elektrokimia dari air telah diketahui melalui reaksi :

H2O H2 + O2 Pabrik elektrolisis komersial secara umum mencapai efisiensi 70 75%. Ada 2 tipe dasar dari elektrolizer: a. Alkalin cair b. Membran pertukaran proton Secara umum tekanan beroperasi pada 50 bar (750 psig) yang mana tidak cukup pembebanan silinder tekanan tinggi. Konsumsi listrik dari proses elektrolisis dapat direduksi dengan operasi pada suhu tinggi (900 1000 elektrolizer tekanan tinggi (Dutton, G., 2002). 5. 6. Produksi Hidrogen secara Biologis Hidrogen dapat dihasilkan secara biologi dalam 2 proses : a. Proses fotosintesis b. Proses fermentasi Ganggang hijau dapat menangkap energi dari sinar matahari. Dibawah kondisi anaerobik, ganggang hijau menghasilkan enzim hidrogenase yang mana dapat menghasilkan hidrogen dari air dengan proses yang diketahui sebagai biofotolisis. Kondisi ini harus diatur secara hati-hati sewaktu enzim hidrogenase bekerja dalam fase gelap dan sangat sensitif pada kehadiran oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis. Ada dua tahapan proses yang digunakan untuk memaksimalkan produk hidrogen. Tantangan riset yang utama adalah: a. Peningkatan produksi hidrogen oleh suatu faktor 10, atau lebih. b. Peningkatan efisiensi konversi energi solar dari 5% menjadi 10% atau lebih. c. Memproduksi sel membran tidak hidup oleh oksigen dan hidrogen untuk menghasilkan enzim Proses biologi yang kedua untuk menghasilkan hidrogen adalah dengan menggunakan fermentasi tanpa membutuhkan cahaya. Ini dilakukan dalam keadaan gelap, dimana proses anaerobik dilaksanakan oleh banyak spesies bakteri, satu diantaranya adalah Clostridia. Reaksi melibatkan enzim hidrogenase yang bertindak untuk menghasilkan hidrogen (dan karbon dioksida): C6H12O6 + 2H2O 2CH3COOH + 2CO2 + 4H2 Secara teoritis, hidrogen yang dihasilkan adalah 0,5 m3 H2/kg karbohidrat. Bakteri fermentasi dikalikan secara cepat dan dapat menghasilkan kuantitas yang
o

C). Untuk

penyimpanan hidrogen, dapat dilakukan menggunakan kompresor atau disebut

banyak dari hidrogen, tetapi parameter rancangan dan operasional ini adalah belum mapan (Dutton, G., 2002).

6. Kondisi Operasi Pada proses SMR, berlaku kondisi operasi sebagai berikut: Beroperasi pada tekanan < 40 bar Reaksi sangat endotermis Konversi penguapan oleh steam dan suhu yang tinggi; konversi akan berkurang dengan tekanan yang tinggi. Membutuhkan katalis nikel yang aktif Kemungkinan untuk tingkatan reaksi oleh adsorpsi CO2, memungkinkan suhu reaksi untuk menjadi berkurang sampai 550 oC. Sedangkan, pada peralatannya berlaku kondisi operasi sebagai berikut: 6. 1. Tangki Penyimpanan Gas Alam Kondisi operasi: - Temperatur : 25C - Tekanan 6. 2. Desulfurisasi Bertujuan untuk menghilangkan H2S yang terdapat di dalam gas alam. Kondisi operasi: - Temperatur masuk : 375C - Temperatur keluar : 361C - Tekanan 6. 3. Reformer Furnace Merupakan tempat bereaksinya gas alam dengan steam. Kondisi operasi: - Temperatur masuk : 520C - Temperatur keluar : 850C - Tekanan : 30 bar : 30,2 bar : 10 bar

6. 4. Pressure Swing Adsorption (PSA)

Berfungsi untuk menyerap gas yang tidak diinginkan yang bercampur dengan gas H2. Kondisi operasi: - Temperatur : 43C - Tekanan : 24 bar

6. 5. Tangki Produk Merupakan tempat penampungan H2. Kondisi operasi: - Temperatur : 60C - Tekanan : 70 bar

6. 6. Tangki Penampuangan sementara PSA off gas Merupakan tempat penampungan PSA off gas sebelum dialirkan sebagai bahan bakar. Kondisi operasi: - Temperatur : 42,2C - Tekanan 7. Aplikasi Hidrogen Penggunaan terbesar H2 adalah untuk memproses bahan bakar fosil dan dalam pembuatan ammonia. Konsumen utama dari H2 di kilang petrokimia meliputi hidrodealkilasi, hidrodesulfurasi, dan hydrocracking. H2 memiliki beberapa kegunaan yang penting: 1. H2 digunakan sebagai bahan hidrogenasi, terutama dalam peningkatan kejenuhan dalam lemak tak jenuh dan minyak nabati, dan dalam produksi methanol. 2. H2 merupakan sumber hidrogen pada pembuatan asam klorida. 3. H2 digunakan sebagai reduktor pada bijih logam. 4. H2 digunakan sebagai bahan campuran dengan nitrogen (disebut dengan forming gas) sebagai gas perunut untuk pendeteksian kebocoran gas yang kecil. 5. H2 digunakan sebagai pendingin rotor di generator pembangkit listrik karena ia mempunyai konduktivitas termal yang paling tinggi diantara semua jenis gas. : 1 bar

Daftar Pustaka Longanbach, James R., et al. 2002. Hydrogen Production Facilities Plant Performance and Cost Comparisons. The United States Department of Energy, National Energy Technology Laboratory: Pennsylvania. Tambunan, Hotma Pardamean, dkk. 2011. Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Gas Hidrogen dari Gas Alam (Natural Gas) melalui Proses Steam Reforming/Cracking dengan Kapasitas Produksi 1200 Ton/Tahun. Universitas Sumatera Utara: Medan. id.wikipedia.org/wiki/Gas_alam (diakses pada 15 November 2013, pukul 22:30) id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen (diakses pada 15 November 2013, pukul 18:47)