Anda di halaman 1dari 23

Laporan PBL MODUL JATUH SISTEM TUMBUH KEMBANG & GERIATRI

oleh : KELOMPOK 1B Firghana Atta i i %ha&r'((ah An*i Fat a+ati Mahir -'.(i Ar*a/ati N'r Ai./ah M'.taira( An*i T&nri S/ahirah Sai* Har*i A.hari M1H Titin Arni/anti Ir.an K'rnia+an An*i N'r3annah Ka**ira3a N'r Sa4rian/ Liha+a 11!"!#!11$ 11!"!)!1") 11!"!,!1"1 11!"!,!!## 11!"!,!!"# 11!"!,!!!1 11!"!,!10, 11!"!,!!21 11!"!,!!)$ 11!"!,!!$$ 11!"!,!11! 11!"1!!12$

FAKULTAS KEDOKTERAN UNI5ERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR "!1"

PENDAHULUAN

Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari harapan hidup penduduknya. Demikian juga di indonesia sebagai suatu negara berkembang, dengan perkembangan yang cukup baik, makin tinggi harapan hidupnya diproyeksikan dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2000 yang akan datang. Pada tahun 2000 jumlah orang lanjut usia diproyeksikan sebesar 7,28 dan pada tahun 2020 sebesar !!,"# $%PS, !&&2'. Dari data (S)*%ureau o+ the ,ensus, bahkan -ndonesia diperkirakan akan mengalami pertambahan .arga lansia tersebar seluruh dunia,antara tahun !&&0*202/, yaitu sebesar #!# . $0insella 1 2aeuber, !&&"'. 3al ini semua merupakan gambaran pada seluruh negara*negara di dunia, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemajuan dalam kondisi sosio*ekonominya masing*masing. 4amun, ilmu pengetahuan dan teknologi masih ditantang dengan menerangkan sebab*sebab orang menjadi tua $menua5aging'. %anyak teori*teori menua diajukan yang belum memuaskan semua pihak. Proses menua ini merupakan suatu misteri kehidupan yang masih belum dapat diungkap, mungkin merupakan suatu masalah yang paling sulit untuk dipecahkan.

S6&nario " 6aki7laki umur 88 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan menurut keluarganya tiba*tiba terpeleset dan jatuh terduduk didepan kamar mandi tadi pagi. Setelah itu kedua tungkai tak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih dirasakan oleh penderita. Sejak seminggu penderita terdengar batuk*batuk dan agak sesak napas serta na+su makan sangat berkurang tetapi tidak demam. Penderita selama ini mengidap dan minum obat penyakit kencing manis dan tekanan darah tinggi, kedua mata dianjurkan untuk operasi tetapi penderita selalu menolak. Kata .'(it 7 9atuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat 1996). Kata 6'n8i 7 kejadian sehingga penderita mendadak terbaring:terduduk di lantai:tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa hilang kesadaran.(Reuben,

1. 6aki*laki 88 tahun. 2. 9atuh terduduk. 3. kedua tungkai tidak bisa bergerak,tetapi masih terasa jika dicubit. 4. %atuk*batuk, agak sesak na+as, na+su makan berkurang. 5. ;i.ayat penyakit D<, 3ipertensi. 6. Dianjurkan operasi mata tapi penderita selalu menolak.
P&rtan/aan 7 !. %agaimana proses penuaan= 2. >tiologi jatuh pada lansia= ". )pa saja +aktor resiko dari jatuh= #. )pakah ada hubungan ri.ayat penyakit terdahulu dengan gejala yang dialami oleh pasien sekarang= /. )pakah ada hubungan obat dikonsumsi dengan jatuh= 8. )pakah ada hubungan penyakit mata dengan jatuh=

7. )pa yang menyebabkan pasien tidak bisa menggerakan tungkainya dan

masih merasa jika diraba dan dicubit= 8. %agaimana pendekatan diagnostik pada pasien tersebut= &. )pa komplikasi yang bisa terjadi akibat jatuh= !0. %agaimana penanganan a.al dan pencegahannya= !!. %agaimana dari sudut pandang pespekti+ islam terhadap lansia= P& 4aha.an 7

1.

Ana(i.i. 6a.'. *an *a9tar

a.a(ah pa*a .6&nario

Da9tar

a.a(ah

"1

Pro.&. M&n'a jaringan untuk memperbaiki diri:mengganti diri dan

De+inisi <enua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan*lahan kemampuan mempertahankan struktur dan +ungsi normalnyasehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas $termasuk in+eksi' dan memperbaiki kerusakan yang diderita $,onstantinides, !&&#' )dapun teori*teori yang membahas mengenai proses menua sebagai berikut: a' 2eori ?enetic ,lock <enurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies* spesies tertentu. 2iap spesies mempunyai didalam nuclei $inti sel' nya suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. 9am ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita itu berhenti akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastro+al. b' 2eori motasi somatic @aktor*+aktor penyebab terjadinya proses menua adalah +actor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatic. Sekarang sudah umum diketahui bah.a radiasi dan Aat kimia dapat memperpendek umur, sebaliknya menghindari terkenanya radiasi atau tercemar Aat kimia yang bersi+at karsinogenik atau toksik, dapat memperpanjang umur. <enurut

teori ini, terjadinya mutasi yang progresi+ pada D4) sel somatic, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan +ungsional sel tersebut. c' ;usaknya system imun tubuh. 9ika mutasi somatic menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel , maka hal ini dapat menyebabkan system imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya.perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristi.a autoimun.$?oldstein,!&8&' d' 2eori menua akibat metabolisme Pentingnya metabolism sebagai +actor penghambat umur panjang. Semakin sebaliknya. e' 0erusakan akibat radikal bebas ;adikal bebas $;%' dapat terbentuk di alam bebas, dan di dalam tubuh jika +agosit pecah, dan sebagai produk sampingan didalam rantai pernapasan didalam mitokondria $ Ben, !&&"'. ;adikal bebas dihasilkan saat terbentuk )2P sehingga radikal bebas ini akan menghancurkan sel* sel semakin lama semakin banyak maka sel*sel mati. tinggi metabolism seseorang dan maka akan menambah umur dan pertumbuhan dan menurunkan memperpendek

3.

Etio(ogi 3at'h a*a(ah 7 a. 0ecelakaan merupakan penyebab jatuh yang utama $"0*/0 jatuh lansia' kasus

<urni kecelakaan misalnya terpeleset,tersandung. ?abungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan*kelainan

akibat proses menua misalnya karena mata kurang a.as, benda* benda yang ada dirumah tertabrak, lalu jatuh. b. 4yeri kepala dan atau Certigo. c. 3ipotensi orthostatic: 3ypoColemia: curah jantung Dis+ungsi otonom Penurunan kembalinya darah Cena ke jantung 2erlalu lama berbaring

Pengaruh obt*obat hipotensi 3ipotensi sesudah makan Diuretik:antihipertensi )ntidepresan trisiklik SedatiCa )ntipsikotik Bbat*obat hypoglikemik alkohol

d. Bbat*obatan

e. Proses penyakit yang spesi+ik Penyakit*penyakit akut seperti : 0ardioCaskuler : * aritmia * * 4eurologi * * * * * +. Stenosis aorta Sinkope sinus carotis : * 2-) Stroke Serangan kejang Parkinson 0ompresi sara+ spinal karena spondilosis Penyakit cerebelum

-diopatik $tak jelas sebabnya' * * * Drop attack $serangan roboh' Penurunan darah ke otak secara tiba*tiba 2erbakar matahari

g. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba*tiba

:1 Fa6tor ri.i6o 3at'h *i4agi *'a go(ongan 4&.ar; /ait' 7 a. @aktor*+aktor intrinsik $+aktor dari dalam' b. @aktor*+aktor ekstrinsik $+aktor dari luar' @aktor instrinsik @aktor ekstrinsik

Kondisi fisik dan neuropsikiatri Penurunan visus dan pendengaran Perubahan neuro muskuler, ga a ber!alan, dan reflek postural karena proses menua FALLS (JATUH)

"bat#obatan ang diminum $lat#alat bantu ber!alan %ingkungan ang tidak mendukung &berbaha a'

5. H'4'ngan 4at'6; .&.a6 napa. *an anor&6.ia *&ngan 3at'h


Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadinya penurunan anatomik dan +ungsional atas organnya masih besar. Penurunan anatomik dan +ungsional dari organ tersebut akan menyebabkan lebih mudah timbulnya penyakit pada organ tersebut. Salah satunya pada system gastrointestinal. <ulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan mor+ologik degeneratiCe, antara lain perubahan atro+ik pada rahang, sehingga gigi lebih mudah tanggal. Perubahan atro+ik juga terjadi pada mukosa, kelenjar dan otot*otot pencernaan. %erbagai perubahan mor+ologik akan menyebabkan perubahan +ungsional sampai perubahan patologik, diantaranya gangguan mengunyah dan menelan, serta perubahan na+su makan. ?iAi yang kurang dan timus yang mengalami resorbsi akan menyebabkan mudah terkena in+eksi. -n+eksi saluran napas menyebabkan batuk dan sesak. %atuk dan sesak disebabkan karena perubahan anatomi dan penurunan +ungsi +isiologis dari system respirasi. Perubahan anatomi diantaranya peningkatan diameter trachea dan saluran napas utama, membesarnya duktus alCeolaris, berkurangnya elastisitas penyangga parenchyma paru, penurunan massa jaringan massa paru, berkurangnya kekuatan otot*otot pernapasan, dan kekakuan dinding thoraks. Sedangkan penurunan +ungsi +isiologis yaitu kekuatan otot pernapasan menurun, Centilasi dan per+usi paru menurun, menurun $,D, @D,, @>D!', meningkat $@;,, ;D'. 0eadaan tersebut dapat menyebabkan penurunan system imun sehingga mudah terkena in+eksi dan menyebabkan batuk. Sesak yang terjadi menyebabkan hipoksia sehingga aliran oksigen ke otak menurun dan menyebabkan jatuh.

6. Ri+a/at p&n/a6it t&r*ah'(' *&ngan 3at'h /ang *ia(a i pa.i&n

7. H'4'ngan o4at /ang *i6on.' .i *&ngan 3at'h

8. H'4'ngan p&n/a6it

ata *&ngan 3at'h

9. Etio(ogi pa.i&n ti*a6 4i.a


&ra.a 3i6a *ira4a *an *i8'4it

&ngg&ra66an t'ng6ain/a *an

a.ih

Pada kasus ini pasien dinyatakan jatuh terpeleset. <ekanisme trauma Seseorang yang jatuh terpeleset kemungkinan bisa ke depan atau ke be* lakang. 9ika jatuh ke depan maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas sebagai akibat menahan tubuh dengan tangan. Sedangkan jika jatuh ke belakang maka kemungkinan akan mengala* mi trauma capitis atau cidera ekstremitas atas atau cidera tulang belakang $Certebra'. Pada kasus ini tidak dikeluhkan adanya trauma capitis atau cidera ek* stremitas atas, cidera yang terjadi hanya berupa tungkai yang tidak dapat dig* erakkan tapi masih berasa. -ni berarti bah.a kemungkinan yang mengalami gangguan adalah persara+an motorik tungkai tersebut sementara sara+ sen* soriknya masih ber+ungsi dengan baik. Secara anatomis tungkai $ekstremitas ba.ah' dipersara+i oleh serabut sara+ dari Certebra segmen lumbal dan sacral. 9adi kemungkinan besar keti* ka terjatuh, pasien tersebut mengalami trauma Certebra segmen lumbal* sakral yang mengakibatkan tertekannya ramus*ramus sara+ di cornu anterior atau bagian dari kornu anterior dari segmen lunbosakral tersebut yang tertekan yang ber+ungsi sebagai sara+ motorik pada kedua tungkai yang mengakibatkan tungkai tidak dapat digerakkan.

1!1 P&n*&6atan *iagno.ti6 Pada pasien geriatri: usia lanjut, kita harus melakukan pemeriksaan: assesmen secara holistik: paripurna, berkesinambungan dan tepat. Dengan maksud agar dapat meninjau keseluruhan dari gangguan +isisnya, psikososial dan juga gangguan +ungsional sehingga nantinya dapat mengidenti+ikasikan masalah tersebut termasuk mengidenti+ikasikan +aktor resiko yang berperan serta kemudian merencanakan penatalaksanaan menyeluruh dengan penekanan pada kemampuan +ungsional pasien atau setidaknya memberikan perhatian yang sama dengan diagnosis dan pengobatan penyakit sebab kompleksitas masalah pada usia lanjut dapat meningkatkan resiko iatrogenik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi : a. )namnesa ri.ayat penyakit $jatuhnya' )namnesa dibuat baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau keluarganya. )namnesis ini meliputi :

1. Seputar jatuhnya : mencari penyebab jatuhnya misalnya apa kare*


na t&rp&(&.&t; tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, .aktu mau berdiri dari jongkok atau sebaliknya, sedang buang air kecil atau

besar, sedang batuk atau bersin, sedang menol.h tiba*tiba ataupun aktiCitas lainnya.

2. ?ejala yang menyertai : seperti nyeri dada, berdebar*debar, nyeri


kepala tiba*tiba, Certigo, pingsan, lemas, kon+usio, inkontinens, .&.a6 na9a..

3. 0ondisi komorbid yang releCan : pernah menderita hip&rt&n.i; *i<


a4&t&. &((it'., stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, de+icit rematik dll

4. ;eCie. obat*obatan yang diminum : anti hip&rt&n.i $ al+a inhibitor


non spesi+ik dll ', diuretic, autonomic bloker, anti depresan, hipnotik, anEiolitik, analgetik, psikotropik; A%E inhi4itor dll /. ;eCie. keadaan lingkungan : tempat jatuh apakah licin:bertingkat* tingkat dan tidak datar, pencahayaannya dll b. Pemeriksaan @isis !. <engukur tanda Citalnya : 2ekanan darah $tensi', nadi, per* na+asan$respirasinya' dan suhu badannya $panas:hipotermi' 2. 0epala dan leher : apakah terdapat penurunan Cisus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimban* gan, bising. ". Pemeriksaan jantung : kelainan katup, aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus carotis dll #. 4eurologi : perubahan status mental, de+isit +okal, neuropati per* i+er, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll /. <uskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi, problem kaki $podiatrik', de+ormitas dll c. )ssesmen @ungsionalnya Seyogyanya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebiasaan pasien dan aspek +ungsionalnya dalam lingkungannya, ini sangat berman+aat untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan. Pada assesmen +ungsional dilakukan obserCasi atau pencarian terhadap : !. @ungsi gait dan keseimbangan : obserCasi pasien ketika bangkit dari duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau duduk diba.ah dll.

2. <obilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat %antu $ kursi roda, tripod, tongkat dll' atau dibantu berjalan oleh keluarganya.

3. )kti+itas kehidupan sehari*hari : mandi, berpakaian, berpergian,


kontinens. 2erutama kehidupannya dalam keluarga dan lingkungan sekitar $untuk mendeteksi juga apakah terdapat depresi dan lain*lain'. d. Pemeriksaan tambahan !. ;adiologi : melihat ada tidaknya +raktur, perlu juga +oto thoraks untuk melihat ada tidaknya pneumonia 2. 6aboratorium : pemeriksaan darah rutin, ?DS, >lektrolit, (rin, albumin, S?B2 dan S?P2, +raksi lipid, @ungsi tiroid e. Pemeriksaan +ungsi !. Penapisan depresi : skor ?DS !/ $?eriatric Depression Scale !/'

2. Pemeriksaan kemampuan mental dan kogniti+ : skor )<2


$)bbreCiated <ental 2est' dan <<S> $<ini <ental State >Eamination' ". Penilaian status +ungsional : -ndeks )D6Fs %arthel $)ctiCity Daily 6iCing' 111 Ko p(i6a.i /ang *apat t&r3a*i 6ar&na 3at'h a*a(ah =Kan&; 1,,:> 5an< *&r<%a &n; 1,,1?

a. Perlukaan $injury'
;usaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri:Cena.

* * * * * *

Patah tulang $fraktur' : PelCis @emur $collum +emur' 3umerus 6engan ba.ah 2ungkai ba.ah 0ista

3ematom subdural 0omplikasi akibat tidak dapat bergerak $imobilisasi'

b. Pera.atan rumah sakit

;esiko penyakit*penyakit iatrogenik Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan +isik Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri,

c. Disability

dan pembatasan gerak d. ;esiko untuk dimasukkan dalam rumah pera.atan e. <ati

12. P&nanganan /ang *apat *i(a6'6an


2ujuan penatalaksanaan ini untuk mencegah terjadinya jatuh berulang dan menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan +ungsi )0S terbaik, dan mengembalikan kepercayaan diri penderita. The Panel on fall telah merekomendasikan penanganan jatuh pada masyarakat, sesduah melakukan asistment secara menyeluruh, mengidenti+ikasikan anormalitas dari komponen kontrol postural dan per+ormen +isik secara menyeluruh dari keseimbangan dan cara berjalan, juga masalah kesehatan, status +ungsional, dan cara mendapatkan bantuan $4nodim 9B, )leEander 4%, 200/'. Penyebab yang potensial berpengaruh dicatat dan direncanakan strategi penanganan baik interCensi secara +armakologi:pembedahan 1 rehabilitasi seperti yang tercantum pada appendik @ $3ile >S, Studenski S), 2007G )ssesment 1 treatment'. Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau eliminasi +aktor resiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan ini harus terspadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter $geriatrik, neurologik, bedah ortopedi, rehabilitasi medik, psikiatrik, dll', sosial.orker, arsitek, dan keluarga penderita. Penatalaksanaan bersi+at indiCidualis, artinya berbeda untuk setiap kasus karena perbedaan +aktor*+aktor yang bersama*sama mengakibatkan jatuh. %ila penyebab merupakan penyait akut penanganannya menjadi lebih mudah, sederhana, dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh serta e+ekti+. 2etapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik, multi+aktorial sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat, rehabilitasi, perbaikan

lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lansia itu. Pada kasus lain interCensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya pembatasan bepergian:akti+itas +isik, penggunaan alat bantu gerak. P&ng&(o(aan gangg'an p&ng(ihatan =Nno*i JO; A(&@an*&r NB; "!!2? Peresepan lensa kaca mata harus dapat mengoreksi dengan tepat gangguan ketajaman penglihatan. 0acamata dengan lensa tunggal lebih dipilih dibandingkan dengan lensa multi+okal karena menimbulkan gangguan persepsi kedalaman dan kontras bagian tepi yang meningkatkan resiko jatuh. 0atarak yang dilakukan ekstraksi akan menurunkan resiko jatuh meskipun katarak tunggal. (ntuk gangguan adaptasi gelap terapi dengan mengganti terapi glaukoma yang tidak menyebabkan miosis. -nterCensi gangguan penglihatan ini umumnya tidak e+ekti+ sebagai interCensi tunggal. Penglihatan dapat berperan menurunkan resiko jatuh sebagai bagian program penurunan resiko secara multi+aktorial. P&ng&(o(aan gangg'an 6&.&i 4angan 6atihan merupakan komponen yang paling berhasil dari program penurunan resiko jatuh dan merupakan interCensi tunggal yang e+ekti+ berdasarkan meta analisis. Pada lansia yang memiliki resiko tinggi untuk jatuh, kebutuhan dan lama latihan keseimbangan sangat indiCidual. Penelitian terkini menyarankan latihan kelompok juga e+ekti+. 6atihan keseimbangan pada pasien lansia dapat dilihat pada appendik @. Int&rA&n.i o4at<o4atan 2erapi obat*obatan pada pasien harus dikaji lebih lanjut. Bbat* obatan yang diberikan harus benar*benar diperlukan, obat*obatan yang terlalu banyak akan meningkatkan resiko jatuh. )pabila memungkinkan terapi non+armakologi harus dilakukan pertama kali. %enAodiasepin baik yang kerja panjang maupun yang kerja pendek meningkatkan resiko jatuh demikian juga trisiklik antidepresan dan golongan selectiCe serotonin reuptake inhibitor khususnya pada dosis tinggi. Bbat*obat psikotropika harus dimulai dengan dosis rendah dan kemudian dinaikkan perlahan $4nodim 9B, )leEander 4%, 200/'. Pemberian obat*obat penghiang sakit kronik secara terjad.al lebih

e+ekti+ dibandingkan pemberian bila diperlukan. 2erapi ekstrapiramidal dengan leCodopadan obat yang lain dapat memperbaiki imobilitasi tetapi sering tidak dapat memperbaiki instabilitas postural $3ile >S, Studenski S), 2007'. Postural hipertensi dapat dikontrol dengan penyesuaian dosis obat, kaus kaki kompresi, perubahan perilaku misalnya menghindari perubahan posisi yang mendadak, latihan ;B< $Range of Motion' akti+ pada ekstremitas ba.ah untuk meningkatkan venous return sebelum posisi berdiri. Int&rA&n.i (ing6'ngan -nterCensi tunggal pada penelitian terkontrol mengatakan bah.a modi+ikasi lingkungan akan meningkatkan keamanan, namun tidak menurunkan resiko jatuh. %agaimana pun interCensi lingkungan merupakan bagian dari program multi+aktorial, keamanan lingkungan di+ikirkan berpengaruh menurunkan resiko yang paling mudah dilakukan $4nodim 9B, )leEander 4%, 200/'. P& a6aian a(a. 6a6i %erjalan dengan menggunakan kaus kaki sebaiknya dicegah. Sepatu harus sesuai dengan ukuran kaki, kuat, dan mempunyai bentuk yang baik dengan sol yang tidak licin, dan hak yang rendah. )las kaki dengan tali sepatu sering menyebabkan slip. Sepatu olahraga kurang menyebabkan jatuh pada orang tua $4nodim 9B, )leEander 4%, 200/'. Int&rA&n.i p&n*i*i6anBp&ng&tah'an /ang 4&rh'4'ngan 3at'h Data*data interCensi ini sedikit tersedia. Satu penelitian acak terkontrol yang dilakukan oleh ;einsch dan ka.an*ka.an yang mengikutkan 2"0 lansia yang hidup di masyarakat membandingkan tentang peningkatan pengetahuan tentang jatuh yang dilakukan seminggu sekali dengan peningkatan pengetahuan kesehatan yang tidak ada hubungan dengan jatuh. 0edua interCensi ini setelah diikuti selama ! juta tahun mendapatkan bah.a pengetahuan tentang jatuh saja tidak memberikan pengaruh terhadap angka kejadian jatuh $@ink 3), Hyman 9@, 3anlon 92, 200"'. 101 P&n8&gahan

(saha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan. )da " usaha pokok untuk pencegahan ini, antara lain : $2inetti, !&&2G Dan*der*,ammen, !&&!G ;euben, !&&8', I*&nti9i6a.i 9a6tor r&.i6o Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk

mencariadanya +aktor intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan asessment keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari:menyebabkan jatuh. 0eadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. 6antai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda*benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga sudah tidak aman $lapuk, dapat bergeser sendiri' sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan:tempat akti+itas lansia. 0amar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. H, sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding. %anyak obat*obatan yang berperan terhadap jatuh. <ekanisme tersering termasuk sedasi, hipotensi ortostatic, e+ek ekstrapiramidal, miopati dan gangguan adaptasi Cisual pada penerangan yang redup. Bbat*obatan yang menyebabkan sedasi diantaranya golongan benAodiasepin $DiaAepam, chlordiaAepoEide, +luroAepam, desmethy* diaAepam, oEaAepam, loraAepam, nitraAepam, triaAolam, alpraAolam', antihistamin bersi+at sedati+, narkotik analgesik, trisiklik antidepresan $)mitryptiline, -mipramine', SS;- $SelectiCe Serotonin ;euptake -nhibitor' misalnya +luoEetine, setraline, antipsikotik, antikonCulsan dan etanol $2reCor )9, Hay H6, 2002'. Bbat*obat yang menyebabkan hipotensi orthostatic e+ek seperti antihipertensi, misalnya antiangina, obat antiparkinson, trisiklik antidepresan dan anti psikotik. Bbat*obat yang menyebabkan ekstrapiramidal metokloperamide, anyipsikotik, SS;-. Bbat*obatan yang menyebabkan miopati misalnya

kortikosteroid, colchisine,

statin dosis

tinggi

terutama apabila

dikombinasi dengan +ibrat, inter+eron. Bbat yang menyebabkan miosis seperti pilocarpine untuk pengobatan glaukoma. Dosis, .aktu pemberian, dan ketaatan minum obat juga mempengaruhi terjadinya jatuh. Pasien dengan obat yang banyak:poli+armasi rentan pula mempengaruhi keseimbangan $3ile >S, Studenski S), 2007'. )lat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripoid, kruk atau .alker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia. P&ni(aian 8ara 4&r3a(an =GAIT? *an 6&.&i 4angan * P&ni(aian po(a 4&r3a(an .&8ara 6(ini. Salah satu bentuk aplikasi +ungsional dari gerak tubuh adalah pola jalan. 0eseimbangan, kekuatan dan +lesibilitas diperlukan untuk mempertahankan postur yang baik. 0etiga elemen itu merupakan dasar untuk me.ujudkan pola jalan yang baik pada setiap indiCidu. Pola jalan yang normal dibagi 2 +ase yaitu:

@ase pijakan $stance hase' @ase ini adalah +ase dimana kaki bersentuhan dengan pijakan. @ase ini 80 persen dari durasi berjalan yang dibagi menjadi " yaitu:

!eel stroke yaitu saat tumit salah satu kaki menyentuh


pijakan.

Mi" stance yaitu saat kaki menyentuh pijakan. Push off yaitu saat kaki meninggalkan pijakan. @ase dimana kaki tidak menyentuh pijakan $s#ing hase'
@ase ini #0 persen dari durasi berjalan yang dibagi menjadi " yaitu:

$cceleration yaitu saar kaki ada di depan tubuh. %#ing through yaitu saat kaki berayun ke depan. &eselerasi yaitu saat kaki kembali bersentuhan dengan
pijakan.

Dalam pola jalan lansia ada beberaa perubahan yang mungkin terjadi, diantaranya sebagai berikut: Sedikit ada rigiditas pada anggota gerak terutama anggota gerak atas dari anggota gerak ba.ah. ;igiditas akan hilang apabila tubuh bergerak. ?erakan otomatis menurun, amplitudo dan kecepatan berkurang seperti hilangnya ayunan tangan saat berjalan. 3ilangnya kemampuan untuk meman+aatkan graCitasi sehingga kerja otot meningkat. 3ilangnya ketepatan dan kecepatan otot, khususnya otot penggerak sendi panggul. 6angkah lebih pendek agar merasa lenih aman. Penurunan perbandingan antara +ase mengayun terhadap +ase menumpu. Penurunan rotasi badan terjadi karena e+ek sekunder kekakuan sendi. Penurunan ayunan tungkai saat +ase mengayun Penurunan sudut antara tumit dan lantai Penurunan irama jalan Penurunan rotasi gelang bahu dan panggul Penurunan kecepatan ayunan lengan dan tungkai * P&ni(aian 6&.&i 4angan Pemeriksaan keseimbangan seharusnya dilakukan saat berdiri secara statis dan dinamik, termasuk pemeriksaan kemampuan untuk bertahan terhadap ancaman baik internal maupun eksternal. Pemeriksaan statis termasuk lebar cara berdiri sendiri dan cara berdiri sempit dengan kedua kaki yang nyaman tanpa dukungan ekstremitas atas, diikuti oleh berdiri dengan mata tertutup untuk menghilangkan pengaruh Cisual untuk penderita gangguan keseimbangan. Penghilang input Cisual saat berdiri dengan kaki menyempit $Tes Ro'berg' membutuhkan in+ormasi somatosensorik dan Cestibuler, sehingga meningkatnya goyangan menandakan adanya masalah sensori peri+er Cestibuler. %agi

lansia yang dapat melakukan tes Ro'berg dengan baik, tes statis yang lebih sulit seperti semitandem, tandem dan satu kaki yang terangkat dapat dilakukan. 0emampuan untuk mempertahankan postur berdiri sebagai respon dari gangguan internal dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk melakukan tes pencapaian +ungsionaltes dinamik respon tubuh untuk gangguan eksternal dapat dilakukan jika penderita lansia telah mampu untuk melakukan tes keseimbangan statis lebar tanpa menggunakan alat bantu atau bantuan ekstremitas atas. 2es re+leks yang benar $The test of righting refle(es', pemeriksa berdiri dibelakang pasien yang diminta untuk menarik atau mendorong, dan bereaksi untuk mempertahankan tetap berdiri. Pemeriksa kemudian secara cepat mendorong pelCis pasien pada bagian belakang sambil menjaga pasien secara dekat. 0ekuatan dorongan dengan amplitudo yang cukup untuk mengubah pusat massa keluar dari dasar landasan pasien. ;espon yang kas, satu kaki akan berpindah ke belakang secara cepat tanpa bantuan ekstremitas atas atau bantuan pemeriksa. ;espon yang abnormal disebut reaksi balok kayu:ti'ber reaction yang mana tidak ada usaha untuk menggerakkan kaki dan diperkirakan adanya de+isit sistem nerCous sentral, sering bersama dengan komponen ekstrapiramidal.

M&ngat'rB

&ngata.i 9a6tor .it'a.iona(

@aktor situasional yang bersi+at serangan akut:eksaserbasi akut penyakit yang diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lingkungan lansia dapat secara dicegah periodik. dengan @aktor situasional bahaya mengusahakan perbaikan

lingkungan seperti tersebut di atas. @aktor situasional yang berupa akti+itas +isik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita akti+itas +isik seberapa jauh yang aman bagi penderita, akti+itas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasi pemeriksaan kondisi +isik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan akti+itas +isik yang sangat melelahkan atau berisiko tinggi untuk

terjadinya jatuh.

%uku ajar geriatri ;.%oedhi*Darmojo 1:1 P&r.p&6ti9 I.(a t&ntang (an.ia a*a(ah

%uku ajar geriatri ;.%oedhi*Darmojo Da+tar Pustaka

1. ( )lamet )u ono, )pP*,K+. Prof. *r. 2,,1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. -akarta . /alai Penerbit 0K12. 2. /oedhi, *armo!o, 3. 2,,4. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ) edisi ke-4. -akarta . /alai Penerbit 0K12. 3. $delman,5,$lan.*al ,P,5el.20 Common Problems In er!"#r!$s.2,,1.56 73$8#(2%% 29:+39$:2"9$% +*2:2"9.

0)2) P>4?)42);

)lhamdulillah, segala puji dan syukur kami ucapkan kepada )llah SH2 atas segala rahmat dan anugerah*4ya, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan laporan diskusi <odul ", Skenario 9atuh, pada blok Sistem 2umbuh 0embang dan ?eriatri ini, yang disusun dan diajukan untuk memenuhi persayaratan pada diskusi panel Sistem 2umbuh 0embang dan ?eriatri, @akultas 0edokteran (<-. 0ami menyadari bah.a penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik positi+ yang bersi+at membangun dan saran* saran dari pihak yang terkait, agar dapat kami gunakan sebagai pembelajaran kami menjadi lebih baik ke depannya. )khirnya, harapan kami semoga laporan ini dapat berman+aat bagi kita semua. <akassar, !/ 9anuari 20!2

0elompok !%

Anda mungkin juga menyukai