Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makhluk hidup terus mengalami perkembangan dari struktur dan fungsinya, oleh karena itu integrasi berbagai komponen dalam diri makhluk hidup menjadi sangat penting bagi kelangsung hidupnya. Salah satu komponen penting tersebut adalah sistem endokrin (Price dan Wilson, 20 2!. Sistem endokrin merupakan sistem kontrol kelenjar tanpa saluran ( ductless! yang menghasilkan hormon dan tersirkulasi di dalam tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ"organ lain. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar"kelenjar yang menyekresikan hormon yang membantu memelihara dan mengatur fungsi"fungsi #ital seperti respon terhadap stress dan cedera, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, homeostasis ion, metabolisme energi serta respon kekebalan tubuh (Price dan Wilson, 20 2!. $isfungsi hormon (sistem endokrin! akan menyebab berbagai gangguan, mengingat pentingnya sistem endokrin bagi kelangsungan hidup, maka dalam kurikulum berbasis kompetensi Pendidikan $okter %akultas &edokteran 'ni#ersitas Muhammadiyah Palembang mengadakan pembelajaran khusus mengenai sistem endokrin pada blok ke"(. )lok ini bertujuan agar mahasis*a memiliki pemahaman terhadap penyakit endokrin atau disfungsi hormon sehingga dapat melakukan tatalaksana yang baik terhadap gangguan tersebut secara komprehensif. Salah satu strategi pembelajaran di %akultas &edokteran 'ni#ersitas Muhammadiyah Palembang adalah adanya tugas pengenalan profesi (+PP!. +ugas ini merupakan salah satu kegiatan pembelajaran dalam blok yang mengharuskan mahasis*a secara kelompok untuk turun langsung ke lapangan. +ugas pengenalan profesi yang dilakukan pada blok ,- kali ini adalah obser#asi kasus struma di puskesmas, yang merupakan salah satu gangguan terkait endokrin.

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

1.2 Rumusan Masalah )erikut adalah rumusan masalah dalam tugas pengenalan profesi kali ini. . /pa penyebab dari penyakit struma0 2. )agaimana gejala dan tanda klinis dari penyakit struma0 1. )agaimana klasifikasi penyakit struma0 2. /pa pemeriksaan penunjang penyakit struma0 3. )agaimana penatalaksanaan penyakit struma0 4. )agaimana komplikasi penyakit struma0 5. )agaimana pencegahan dini yang dapat dilakukan terhadap penyakit struma0 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Mahasis*a mampu. . Mengetahui kasus struma di puskesmas 2. Memenuhi ke*ajiban tugas pengenalan profesi demi mencapai kelulusan blok ,-. 1.3.2 Tujuan husus

Mahasis*a mampu. . Mengetahui penyebab dari penyakit struma 2. Mengetahui gejala dan tanda klinis dari penyakit struma 1. Mengetahui klasifikasi penyakit struma 2. Mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang penyakit struma 3. Mengetahui penatalaksanaan penyakit struma 4. Mengetahui komplikasi penyakit struma 5. Mengetahui pencegahan dini yang dapat dilakukan terhadap penyakit struma0 1.! Man"aat )erikut ini adalah manfaat dari tugas pengenalan profesi kali ini. . $apat melihat karakteristik penderita struma 2. $apat menekan angka kejadian struma di masyarakat 1. Menambah pengalaman dalam obser#asi lapangan terhadap pasien struma secara langsung.
TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX 2

BAB II TIN#AUAN PU$TA A


2.1 De"%n%s% $truma Menurut $orland (20 2!, struma atau goiter merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan pembengkakan di bagian depan leher. Struma adalah setiap pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar tiroid yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak ()runicardi 67, /ndersen $&, )illiar +8, $unn $9, 7unter 6:, Matthe*s 6). 20 0! 2.2 E&%'em%(l(g% $truma Menurut W7;, ,ndonesia merupakan <egara yang dikategorikan endemis kejadian struma (goiter!. Penyakit ini dominan terjadi pada perempuan dibandingkan laki"laki. 'mumnya (3= kasus struma bersifat jinak (benigna! dan sisanya 3 = kasus kemungkinan bersifat ganas (maligna!. 2.3 Anat(m% 'an )%s%(l(g% elenjar T%r(%'

Menurut Snell (2004!, glandula thyroidea terdiri atas lobus kanan dan kiri yang dihubungkan oleh isthmus yang sempit. &elenjar ini merupakan organ #askular yang dibungkus oleh selubung yang berasal dari lamina pretrachealis fasciae profundae. Selubung ini melekatkan glandula pada laring dan trakea. Setiap lobus berbentuk seperti buah alpukat, dengan ape>nya menghadap ke atas sampai linea obli?ue cartilage thyroideae, basisnya terletak di ba*ah setinggi cincin trakea keempat atau kelima (Snell, 2004!. Menurut Snell (2004!, isthmus meluas melintasi garis tengah di depan cincin trakea 2, 1 dan 2. Sering terdapat lobus pyramidalis, yang menonjol ke atas dari isthmus, biasanya ke sebelah kiri garis tengah. Sebuah pita fibrosa atau muskular sering menghubungkan lobus piramidalis dengan os. 7yoideum. )ila pita ini muskular maka disebut m. le#ator glandulae thyroideae. :landula thyroidea diperdarahi oleh arteri thyroidea superior, arteri thyroidea inferior dan kadang"kadang arteri thyroidea ima. /rteri"arteri ini beranastomosis dengan luas di permukaan glandula. Sedangkan #ena"#ena
TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX 3

glandula thyroidea terdiri dari #ena thyroidea superior, #ena thyroidea media dan #ena thyroidea inferior (Snell, 2004!. Menurut :ould (20 2!, glandula thyroide terletak di aspek anterior leher, menghasilkan hormon tiroid (+1 dan +2! dan kalsitonin. Menurut Sutjahjo (20 0!, kelenjar tiroid terdiri dari folikel sferik (diameter 30"300 @meter!, sel yang mensintesiskan hormon tiroid yang terdiri dari tiroksin (+2, prohormon! dan triiodotironin (+1, hormon aktif!. &elenjar tiroid juga mengandung clear cell atau sel parafolikular atau sel A yang mensintesis kalsitonin. +1 mempengaruhi pertumbuhan, diferensiasi dan metabolisme. +1 selain disekresikan oleh kelenjar tiroid juga merupakan hasil deiodinasi dari +2 di jaringan perifer. +1 dan +2 yang disimpan terikat pada 1 protein yang berbeda, yaitu glikoprotein tiroglobulin di koloid dari folikel, prealbumin pengikat tiroksin dan albumin serum. 7anya sedikit +1 dan +2 yang tidak terikat terdapat dalam sirkulasi darah. Pengaturan sekresi hormon tiroid dilakukan oleh +S7 (Thyroid Stimulating Hormone! dari adenohipofisis. Sintesis dan pelepasannya dirangsang oleh +87 (Thyrotropin Releasing Hormone! dari hipotalamus. +S7 disekresi dalam sirkulasi dan terikat pada reseptornya di kelenjar tiroid. +S7 mengontrol produksi dan pelepasan +1 dan +2. Bfek +87 dimodifikasi oleh +1, peningkatan konsentrasi hormon tiroid, misalnya mengurangi respons adenohipofisis terhadap +87 (mengurangi reseptor +87! sehingga pelepasan +S7 menurun dan sebagai akibatnya kadar +1 dan +2 menurun (umpan balik negatif!. Sekresi +87 juga dimodifikasi tidak hanya oleh +1 tetapi juga melalui pengaruh persarafan (Sutjahjo, 20 0!.

:ambar . /natomi &elenjar +iroid

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

2.!

Et%(l(g% $truma Menurut Aandrasoma (2004!, Struma toksik biasanya disebabkan oleh hipertiroidisme atau hipotiroidisme dan eutiroidisme, sedangkan struma non toksik biasanya disebabkan oleh defisiensi yodium dalam makanan atau minuman yang kronis. 7ipertirodisme dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau gra#es yang dapat didefinisikan sebagai respon jaringan"jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan. &eadaan ini dapat timbul spontan atau adanya jenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi kelenjar tiroid yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar ($jokomoeljanto. 2005! 7ipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. &egagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar yang cukup dari hormon. 7ipotiroid didefinisikan sebagai respon jaringan"jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolisme hormon tiroid yang berlebihan ($jokomoeljanto, 2005! Butiroidisme adalah suatu keadaan hipertropi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada diba*ah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan +S7 dalam jumlah yang meningkat. Struma semacam ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea ($jokomoeljanto, 2005!

2.*

las%"%kas% $truma 'an Man%"estas%

l%n%sn+a secara klinis struma dapat

Menurut Mansjoer (2003!, berdasarkan pola pembesaran dapat dibedakan menjadi struma nodusa dan struma diffusa dan tentang keduanya. 2.*.1 $truma N('usa N(n T(ks%k ,$NNTStruma nodusa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid berbentuk nodul yang tidak disertai oleh adanya gejala hipertiroidism. Penyebab paling banyak pada struma ini adalah kekurangan yodium. $apat juga disebabkan oleh kelebihan yodium namun sangat jarang terjadi dan umumnya telah ada penyakit tiroid autoimun sebelumnya.
TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX 5

dibedakan menjadi struma toksik dan struma non toksik, berikut ini adalah uraian

Manifestasi klinis dari penderita struma nodusa non toksik ini sebagian kecil mengeluh adanya penekanan pada esofagus (disfagia! atau trakhea (sesak nafas!. )iasanya tidak disertai nyeri kecuali bila menyebabkan terjadinya suara parau. &ebanyakan penderita struma nodusa ini tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipertiroidism atau hipotiroidism. Pada pemeriksaan fisik kelenjar tiroid dilakukan dengan palpasi. Pada pemeriksaan ini yang perlu dinilai jumlah nodul, konsistensi, mobilitas, batasnya, apakah ada nyeri tekan atau tidak dan bagaimana keadaan kelenjar getah bening disekitarnya. Perhatikan juga keadaan kulit diatas nodul, adakah hiperemi, gambaran seperti kulit jeruk atau ulserasi. 2.*.2 $truma D%""usa N(n T(ks%k ,$DNTStruma difussa non toksik adalah struma yang disebabkan oleh defisiensi yodium, tiroiditis autoimun (hashimoto atau post"partum!, kelebihan yodium, stimulator reseptor +S7, inborn error metabolism, terpapar radiasi, penyakit deposisi, resistensi hormon tiroid, tiroiditis sub"akut (de Cuar#ain thyroidism dan agen"agen infeksi lain. Secara umum, struma ini memberikan gambaran gejala klinis yang tidak jauh berbeda dengan struma nodusa non toksik. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembesaran kelenjar tiroid secara keseluruhan (diffuse! dengan batas yang tidak jelas, konsistensi kenyal lebih mirip ke arah lembek. 2.*.3 $truma N('usa T(ks%k ,$NTPada struma toksik, ditemukan adanya gejala dan tanda hipertiroidism diantaranya tekanan darah dan nadi meningkat, eksoptalmus, hipertoni simpatis (kulit basah dan dingin disertai tremor halus! dan takikardi. Struma ini dikenal sebagai PlummerDs desease. Penyebab struma nodusa toksik ini diantaranya adalah defisiensi yodium yang mengakibatkan penurunan le#el +2, akti#asi reseptor +S7, mutasi somatik reseptor +S7 dan protein : serta adanya mediator"mediator pertumbuhan termasuk endotelin" factor. (B+" !, insulin like gro*th factor" , epidermal gro*th factor dan fibroblast gro*th

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

2.*.!

$truma D%""usa T(ks%k ,$DTPenyebab yang paling umum dari struma diffusa toksik yaitu :ra#eDs desease. Penyakit gra#e terjadi karena antibodi reseptor +S7 yang merangsang akti#itas tiroid itu sendiri. :ejala yang timbul dari struma diffusa toksik adalah gejala"gejala hipetiroidism. Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diidap selama berbulan"bulan. /ntibodi yang berbentuk reseptor +S7 beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.

2.. 2...1

Pat(genes%s $truma $truma T(ks%k Menurut $jokomoeljanto (2005!, pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan"lipatan sel"sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel"sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Selain itu, setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 3" 3 kali lebih besar daripada normal. Pada hipertiroidisme, kosentrasi +S7 plasma menurun, karena ada sesuatu yang EmenyerupaiF +S7, biasanya bahan"bahan ini adalah antibodi immunoglobulin yang disebut +S, (Thyroid Stimulating Immunoglobulin!, yang berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat +S7. )ahan G bahan tersebut merangsang akti#asi c/MP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme. &arena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi +S7 menurun, sedangkan konsentrasi +S, meningkat. )ahan ini mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 2 jam, berbeda dengan efek +S7 yang hanya berlangsung satu jam. +ingginya sekresi hormon tiroid yang disebabkan oleh +S, selanjutnya juga menekan pembentukan +S7 oleh kelenjar hipofisis anterior. Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid EdipaksaF mensekresikan hormon hingga di luar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel"sel sekretori kelenjar tiroid membesar atau terjadi struma toksik.

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

2...2

$truma N(n/T(ks%k Menurut 8umahorbo ( (((!, bahan dasar pembentukan hormon tiroid adalah iodium yang diperoleh dari makanan dan minuman. ,on iodium (iodida! darah masuk ke dalam kelenjar tiroid secara transport aktif dengan bantuan /+P sebagai sumber energi. Selanjutnya sel"sel folikel kelenjar tiroid akan mensintesis tiroglobulin (sejenis glikoprotein! dan selanjutnya mengalami iodinisasi sehingga akan terbentuk diiodotironin ($,+! dan monoiodotironin (M,+!. Proses ini memerlukan enHim peroksida sebagai katalisator. Proses akhir adalah berupa reaksi penggabungan dua molekul $,+ akan membentuk tetraiodotironin atau tiroksin (+2! dan molekul $,+ bergabung dengan M,+ menjadi triiodotironin (+1! untuk selanjutnya masuk ke dalam plasma dan berikatan dengan protein binding iodine. 8eaksi penggabungan ini dirangsang oleh +S7. $efisiensi iodium dapat menyebabkan sekresi hormon tiroid yang tidak adekuat, akan tetapi proses sintesis tiroglobulin oleh sel"sel folikel kelenjar tiroid tetap berlangsung, akibatnya terjadi akumulasi dari tiroglobulin yang dapat menyebabkan pembesaran pada kelenjar tiroid (struma non"toksik!.

2.0

Pemer%ksaan Penunjang $truma Menurut :reenstein dan $iana (20 0!, pemeriksaan penunjang untuk kasus struma adalah sebagai berikut. a. Pengukuran 7ormon +iroid 7anya sekitar = hormon tiroid berada dalam keadaan IbebasD dan aktif secara metabolik karena baik +2 maupun +1 terikat kuat dengan protein transport dalam plasma. /ssay +1 atau +2 ItotalD terutama mengukur hormon yang terikat protein. 7al ini dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan yang mempengaruhi konsentrasi protein. ;leh karena itu, lonjakan tunggi + 2 total akan terjadi pada kehamilan dan pada *anita yang mengkonsumsi pil kontrasepsi oral karena estrogen mengikat sintesis globulin pengikat tiroksin (Thyroxine Binding Globulin, +):!. 7asil pengukuran yang sangat rendah dapat terjadi pada indi#idu dengan defisiensi +): kongenital atau gangguan hati berat. /ssay hormon tiroid IbebasD saat ini tersedia luas dan secara umum tidak terpengaruh oleh perubahan konsentrasi protein pengikat dalam plasma (pemeriksaan %+2!.

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

b. Pengukuran 7ormon Penstimulasi +iroid (+S7! Pengukuran +S7 merupakan tes fungsi tiroid yang paling banyak digunakan. Pengukuran ini relatif tidak terganggu oleh interferensi assay dan dapat dipercaya dalam memprediksi fungsi tiroid sesuai dengan prinsip umpan balik negatif. ;leh karena itu, pada hipertiroidisme primer, konsentrasi +S7 tidak dapat dideteksi. Pada hipotiroidisme primer, konsentrasi +S7 meningkat dan pada hipotiroidisme sekunder, rendahnya kadar +2 bebas disertai dengan rendahnya konsentrasi +S7. Pemeriksaan biokimia*i lain untuk fungsi tiroid seperti pemeriksaan +87 jarang digunakan karena assay +S7 yang sangat sensitif. c. Pencitraan +iroid Pemeriksaan biokimia*i untuk fungsi tiroid dapat disertai dengan teknik pencitraan untuk memeriksa struktur dan fungsi tiroid. . 'ltrasonografi tiroid akan memperlihatkan adanya nodul dan kista tunggal atau multiple. /spirasi jarum untuk sitologi atau drainase kista dan biopsi tiroid dapat dilakukan dengan panduan ultrasonografi. 2. Skintigrafi tiroid atau pencitraan radionuklida berguna dalam mendiagnosis tiroiditis, ketika ambilan isotop sangat berkurang dan kebalikan dengan peningkatan yang merata pada tiroksikosis. <odul soliter yang terlihat secara klinis dapat diperlihatkan sebagai nodul dingin pada pencitraan dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan. Menurut +ridjaja, 6ose dan /man (20 0!, gambaran laboratorium khas pada struma endemik (struma non"toksik! adalah peningkatan uptake radioiodine pada kelenjar tiroid (8/,'!, kadar +2 total dan +2 bebas normal atau rendah, kadar +1 normal atau meningkat, kadar +S7 normal atau meningkat dan berkurangnya ekskresi iodium urin. Skintigrafi tiroid dengan radioiodida atau +c;2 menunjukkan gambaran isotop bercak"bercak. 2.1 Penatalaksaan $truma Menurut Aandrasoma dan +aylor (2004!, penatalaksanaan atau pengobatan disesuaikan dengan masing"masing struma. Penanganan pilihan pada kasus struma nodusa non toksik dan struma diffusa non toksik adalah pembedahan. ,ndikasi operasi pada struma nodusa non
TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX 9

toksik adalah . keganasan, penekanan dan kosmetik. +indakan operasi tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena, bisa berupa lobektomi (mengangkat satu lobus tiroid!, isthmolobektomi (pengangkatan lobus dan isthmus tiroid!, dan tiroidektomi subtotal. )eberapa penyulit operasi tiroid diantaranya adalah perdarahan, cedera ner#us recurren laringeus (suara menjadi parau!, cedera trakhea atau esofagus. Penanganan pada struma nodusa toksik adalah terapi antitiroid atau beta blocker dapat mengurangi gejala. Pemberian radioterapi tidak efektif seperti pada gra#e karena uptake yang rendah sehingga dibutuhkan dosis radioterapi yang tinggi. 'ntuk nodul tunggal, nodulektomi atau lobektomi tiroid adalah pilihan terapi karena kanker jarang terjadi. Penanganan pada struma difussa toksik yaitu dengan pemberian obat antitiroid meliputi propiltiourasil, karbimaHol, metimaHol untuk membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan (hipertiroidism! atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, operasi tiroidektomi!. ,ndikasi operasi tiroid pada :ra#eDs desease adalah. . Pasien muda dengan struma yang besar serta tidak berespon terhadap obat antitiroid 2. Wanita hamil (trimester ,,! yang memerlukan obat antitiroid dosis besar 1. /lergi terhadap obat antitiroid atau pasien tidak bisa menerima yodium radioaktif 2. /denoma toksik atau struma multinodula toksik 3. Penyakit gra#eDs yang berhubungan dengan satu atau lebih modul 4. Perlu mencampai hasil definitif cepat 2.2 (m&l%kas% $truma Menurut 8umahorbo ( (((!, dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ"organ di sekitarnya. $i bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan juga pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Penekanan pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX 10

)ila pembesaran ke arah luar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat semetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. 7al ini lebih berdampak pada estetika atau kecantikan. Perubahan bentuk leher dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri pasien (8umahorbo, (((!. 2.13 Pr(gn(s%s $truma Menurut /braham"<ordling M, +orring ;, 9antH M, et al (200J!, kebanyakan pasien yang diobati memiliki prognosis yang baik. Prognosis yang jelek berhubungan dengan hipertiroidism yang tidak terobati. Pasien harusnya mengetahui jika hipertiroid tidak diobati maka akan menimbulkan osteoporosis, arrhythmia, gagal jantung, koma, dan kematian. 2.11 Pen4egahan $truma Menurut /ri (20 0! beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya struma adalah . a. Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam merubah pola perilaku makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beryodium b. Mengkonsumsi makanan yang merupakan sumber yodium seperti ikan laut c. ,odisasi air minum untuk *ilayah tertentu dengan resiko tinggi. Aara ini memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan garam karena dapat menjangkau daerah luas maupun terpencil. ,odisasi dilakukan dengan memberikan yodida pada saluran air dalam pipa yang mengalir. d. Memberikan kapsul minyak beryodium (lipiodol! pada penduduk daerah endemik berat dan endemik sedang. e. Memberikan suntikan yodium dalam minyak (lipiodol 20=! diberikan 1 tahun sekali dengan dosis untuk de*asa dan anak"anak diatas 4 tahun dan untuk anak kurang dari 4 tahun 0,2"0,J cc. cc

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

11

BAB III MET5DE PELA $ANAAN


3.1 6aktu 'an Tem&at +ugas pengenalan profesi (+PP! dilaksanakan pada hari KKKK, tanggal KKKK pukul KKKK W,) sampai dengan selesai di Puskesmas 3.2 Instrumen eg%atan

,nstrumen kegiatan merupakan peralatan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan kegiatan. $alam kegiatan ini peralatan yang digunakan untuk pengambilan data beserta pendukungnya adalah. . &uesioner &uesioner adalah sebuah alat pengumpulan data yang nantinya data tersebut akan diolah untuk menghasilkan informasi tertentu. $alam hal ini, obser#er menggunakan kuesioner terbuka. &uesioner ini dapat dilihat pada lampiran. 2. /lat +ulis /lat tulis digunakan untuk mencatat hasil obser#asi kasus struma di Puskesmas 1. &amera &amera digunakan untuk dokumentasi, yakni sebagai bukti bah*a mahasis*a telah melaksanakan tugas pengenalan profesi, khususnya obse#asi terhadap kasus struma di Puskesmas. )ukti tersebut nantinya akan dilampirkan pada laporan akhir. 2. &omputer L 9aptop &omputer L 9aptop digunakan sebagai sarana pembuatan proposal dan laporan akhir kegiatan. 3.3 Taha&an eg%atan

+ahapan kegiatan meliputi tahap"tahap sebagai berikut. . +ahap persiapan a. Membuat proposal. b. Melakukan konsultasi kepada pembimbing tugas pengenalan profesi. c. Mendapatkan iHin atau /AA dari pembimbing tugas pengenalan profesi.

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

12

2. +ahap pelaksanaan Mahasis*a. a. Melakukan obser#asi terhadap kasus struma yang berpedoman pada kuesioner. b. Mencatat hasil obser#asi. 1. +ahap Penyelesaian a. Mengumpulkan semua data, mengolah, menganalisis dan menyimpulkan. b. Menyusun laporan hasil pengamatan dan pemeriksaan. c. Mendapatkan /AA laporan hasil pengamatan dan pemeriksaan dari pembimbing tugas pengenalan profesi. 3.! #a'7al eg%atan dapat dilihat jad*al pelaksanaan tugas pengenalan profesi )lok

Pada tabel

,- (Bndokrin!. +ugas pengenalan profesi ini terbagi menjadi lima jenis kegiatan yaitu penyusunan proposal pada minggu pertama dan kedua, obser#asi kasus, pembahasan dan penyusunan laporan pada minggu ketiga serta pleno dilakukan pada minggu keempat. Ta8el 1. #a'7al Pelaksanaan <o . 2. 1. 2. 3. 6enis &egiatan Penyusunan proposal ;bser#asi Pembahasan Penyusunan 9aporan Pleno Minggu , eg%atan TPP Minggu ,M <o#ember 20 2 Minggu ,, Minggu ,,,

DA)TAR PU$TA A

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

13

/braham"<ordling M, +orring ;, 9antH M, et al. Incident of Hypertiroidism in Stockholm, S*eden, 2001"2003. Bur 6 Bndrocinol. 6um 200JN 3J (4! .J21"5 /ri, W, Sudoyo, dll. 20 0. )uku /jar ,lmu Penyakit $alam. 6akarta . Pusat Penerbit ,lmu Penyakit $alam %&', )runicardi 67, /ndersen $&, )illiar +8, $unn $9, 7unter 6:, Matthe*s 6). E Thyroid, Parathyroid, and drenalF in Sch*artH Principles of Surgery. (th ed. +he Mc:ra*7ill Aompanies, Ahapter 1JN 20 0 Aandrasoma, Parakrama dan Ali#e 8. +aylor. 2004. Ringkasan Patologi 6akarta . B:A. natomi.

$jokomoeljanto. 2005. !elen"ar Tiroid, Hipotiroidisme, dan Hipertiroidisme. )uku /jar ,lmu Penyakit $alam jilid ,,,. 6akarta. B:A $orland, W./. <e*man. 20 2. !amus Saku !edokteran #orland edisi $%. 6akarta. B:A. :ould, $ouglas 6. 20 2. Buku Saku natomi !linis. 6akarta . B:A. :reenstein, )en dan $iana Wood. 20 0. 6akarta . Brlangga. t a Glance Sistem &ndokrin edisi kedua .

&onsil &edokteran ,ndonesia. 2004. Standar !ompetensi #okter. 6akarta . &onsil &edokteran ,ndonesia. Mansjoer, /rif dkk. 2003. !apita Selekta Bdisi 1 6ilid ,. 6akarta . Media /esculapius Price, Syl#ia /. dan 9orraine M. Wilson. 20 2. Patofisiologi 'olume $. 6akarta . B:A. 8umahorbo. (((. !lien dengan Gangguan &ndokrin. 6akarta . B:A. Snell, 8ichard S. 2004. natomi !linik edisi (. 6akarta . B:A. Sutjahjo, /ri. 20 0. &ndokrin )*etabolik !apita Selekta Tiroidologi. Surabaya . /irlangga 'ni#ersity Press. +ridjaja, )ambang, 6ose 89 )atubara dan /man ). Pulungan. 20 0. Buku &ndokrinologi nak edisi I. 6akarta . ,katan $okter /nak ,ndonesia. "ar

LAMPIRAN
UI$I5NER TERBU A TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX A$U$ $TRUMA 14

<ama Pasien . 6enis &elamin . 'mur Pekerjaan /lamat N5 . 2. 1. 2. 3. 4. 5. J. (. . . . #A6ABAN

0. . 2. 1.

PERTAN9AAN /pakah )apakL,bu tahu tentang penyakit gondok (struma!0 Sudah berapa lama )apakL,bu menderita kelainan ini0 )agaimana keluhan yang dirasakan pada a*al munculnya kelainan0 /pakah benjolan mengalami pembesaran0 Sebesar apa benjolan itu pada a*alnya0 )erapa lama *aktu yang diperlukan ketika benjolan itu menjadi besar0 (dari kecil G besar O kronologis! )agaimana keluhan yang dialami setelah timbul pembesaran pada daerah leher0 )apakL,bu tinggal di daerah mana0 Pegunungan, dataran atau perairan0 )agaimana dengan konsumsi makanan0 /pakah )apakL,bu gemar mengkonsumsi ikan laut atau sayur" sayuran hijau0 /dakah keluhan lain yang dirasakan0 (diare, jantung berdebar"debar, lemas!0 )agaimana dengan ri*ayat penyakit terdahulu0 ($M, hipertensi, penyakit jantung!0 )agaimana dengan ri*ayat keluarga0 /da tau tidak keluarga )apakL,bu yang mengalami keluhan yang sama0 Menurut dokter yang menangani, tindakan apa yang akan dilakukan untuk mengobati penyakit ini0 (obat saja L pembedahan!. Pemeriksaan apa saja yang telah )apakL,bu lakukan0

TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK IX

15