Anda di halaman 1dari 21

ORBITA Orbit adalah bagian tulang tengkorak yang berongga, tempat mata dan struktur sekelilingnya berada.

Penyakit orbit dapat timbul dari dalam orbit itu sendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik yang mempengaruhi beberapa jaringan atau organ tubuh. Beberapa tanda gangguan orbital termasuk: Protrusi bola mata (bola mata menonjol keluar) Nyeri Diplopia atau pandangan ganda Kehilangan penglihatan Kelopak mata kemerahan dan bengkak Secara umum, berbagai tipe penyakit orbital dapat diklasifikasikan menjadi kategori sebagai berikut: 1. Tumor Orbital Tumor orbital dapat bersifat jinak atau ganas, dan mungkin menyerang pada anak kecil maupun orang dewasa. Beberapa contoh termasuk: Anak Jinak Kista Dermoid Ganas Dewasa Jinak Ganas Meni Rhabdomiosarkoma ngio ma Glio Fibrous displasia Sarkoma Ewings ma saraf optik Mestatases Limphoma

(a)

(b)

Pasien dengan kelopak atas kiri bengkak dan kepenuhan

CT scan menunjukkan masa limphoma pada bagian superonasal orbit

(b) Pasien dengan protrusi mata kiri nnnnnccccccc

(b)

nnn cccccc cccccc

nn

CT scan menunjukkan masa superolateral di kiri orbit, lokasi dan penampakan masa mengacu pada tipe tumor kelenjar lakrimal jinak disebut adenoma pleomorfik.

2. Gangguan Inflamatori (menular atau tidak menular) a. Infeksi / Menular Infeksi orbital atau sellulitis orbital dapat disebabkan oleh bakteri, jamur ata organism parasit. Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi sinus yang berdekatan pada daerah periokular, atau cidera. Juga merupakan kondisi opthalmik gawat darurat yang memerlukan rawat inap dan pengobatan antibiotik karena penyebaran infeksi rongga sinus ke dalam otak dapat membahayakan jiwa. Operasi untuk mengeringkan abses orbital mungkin diperlukan. (b)

Anak dengan kehadiran sellulitis orbital kiri disertai panas dan mata kiri bengkak dan kemerahan

CT scan pasien yang sama menunjukkan kumpulan nanah (abses) dalam orbit dan protrusi mata kiri

b. Gangguan inflamatori tidak menular Beberapa penyebab kasus inflamasi orbital tipe ini termasuk: granulomatosis Wegener, eritematosus lupus sistemik, sarkoidosis dan sindrom Sjogren. Untuk mendiagnosa inflamasi yang terjadi dalam orbit secara spesifik biasanya dibutuhkan biopsi dan tes darah. Namun, pada 50-60% kasus, tidak ditemukan penyebabnya secara spesifik. Pengobatan biasanya melibatkan penggunaan obat imunosupresif.

Pasien dengan inflamasi orbital kiri disertai mata kiri bengkak dan kemerahan (gangguan inflamatori non-spesifik kelenjar lakrimal)

3. Gangguan Struktural Kerusakan struktur orbit termasuk cacat congenital (sejak lahir) yang mengakibatkan formasi kista, seperti kista dermoid, dan kerusakan karena cidera seperti cidera orbit yang mengakibatkan keretakan dinding orbital. Kista dermoid umumnya hadir sebagai benjolan tanpa nyeri dari kanak-kanak dan tidak selalu membutuhkan operasi pengangkatan kecuali mempengaruhi penglihatan atau menyebabkan bengkak yang tidak enak dilihat. Keretakan dinding orbital umumnya mempengaruhi medial dan dasar orbit, yang berlokasi antara mata dan hidung, dibawah masing-masing mata. Tidak semua keretakan perlu diperbaiki. Biasanya hanya keretakan besar dan keretakan yang menyebabkan penglihatan ganda yang sangat mengganggu karena penjeratan otot, yang diperbaiki.

4. Gangguan Vaskular Malformasi vaskular seperti malformasi limfangioma or venouslimpatik pada dasarnya bersifat jinak tetapi dapat menyebabkan hilangnya penglihatan karena penekanan terhadap saraf optik. Kondisi tersebut juga seringkali menyebabkan mata menonjol yang tidak enak dilihat dan mungkin mempengaruhi posisi dan pergerakan mata mengakibatkan penglihatan ganda. Pemeriksaan klinis dan CT scan atau angiogram diperlukan dalam membuat diagnosis yang tepat. Lesi ini sering dibiarkan saja jika tidak menyebabkan kecacatan penglihatan atau penglihatan ganda.

PALPEBRA Struktur mata yang berfungsi sebagai proteksi lini pertama adalahpalpebra. Fungsinya adalah mencegah benda asing masuk, dan juga membantuproses lubrikasi permukaan kornea. Pembukaan dan penutupan palpebradiperantarai oleh muskulus orbikularis okuli dan muskulus levator palpebra.Muskulus orbikularis okuli pada kelopak mata atas dan bawah mampumempertemukan kedua kelopak mata secara tepat pada saat menutup mata.Padasaat membuka mata, terjadi relaksasi dari muskulus orbikularis okuli dankontraksi dari muskulus levator palpebra di palpebra superior.Otot polos padapalpebra superior atau muskulus palpebra superior (Mller muscle) juga berfungsidalam memperlebar pembukaan dari kelopak tersebut.Sedangkan, palpebrainferior tidak memiliki muskulus levator sehingga muskulus yang ada hanyaberfungsi secara aktif ketika memandang kebawah (Encyclopdia Britannica, 2007). Selanjutnya adalah lapisan superfisial dari palpebra yang terdiri dari kulit,kelenjar Moll dan Zeis, muskulus orbikularis okuli dan levator palpebra.Lapisandalam terdiri dari lapisan tarsal, muskulus tarsalis, konjungtiva palpebralis dankelenjar meibom (Wagner, 2006). Serabut otot muskulus orbikularis okuli pada kedua palpebra dipersarafi cabang zigomatikum dari nervus fasialis sedangkan muskulus levator palpebradan beberapa muskulus ekstraokuli dipersarafi oleh nervus okulomotoris.Ototpolos pada palpebra dan okuler diaktivasi oleh saraf simpatis.Oleh sebab itu,sekresi adrenalin akibat rangsangan simpatis dapat menyebabkan kontraksi ototpolos tersebut (Encyclopdia Britannica, 2007). Kelainan Pada Palpebra 1. Entropion Ektropion involusional adalah malposisi kelopak mata berupa berputarnya margo palpebramenjauhi bola mata, yang terjadi pada usia tua, disebabkan olehadanya laxity jaringan.Ektropion involusional umumnya terjadi pada kelopak mata bawah. Terjadi ketidakseimbangan antara otot protaktor dan retraktor dari palpebra inferior, yang mengakibatkan laxity palpebra, baik horizontal (tarsus dan orbikularis) maupun vertikal (retraktor palpebra inferior dan septum orbita). Laxity pada tendon kantus lateral lebih sering dijumpai dibandingkan dengan kantus medial. Dalam proses terjadinya ektropion involutional, yang terjadi terlebih dahulu adalah eversi pungtum lakrimal,kemudian ektropion margo palpebra inferior sisi medial, dan selanjutnya seluruh margo palpebra inferior mengalami perputaran keluar menjauhi bola mata. Patogenesis Perubahan involusional pada palpebra inferior melibatkan beberapa mekanisme yang saling berinteraksi satu sama lain meliputi degenerasi serabut serabut kolagen akibat penuaan, efek gravitasi, serta enoftalmus akibat atrofi dan atau prolaps lemak orbita berkaitan dengan faktor usia. Palpebra inferior menjadi flacid akibat relaksasi berlebihan dari jaringan, serta atonik akibat denervasi muskulus orbikularis. Berbagai hipotesa telah dikemukakan sebagai dasar patogenesis terjadinya ektropion involusional. Tiga faktor utama yang terlibat di dalamnya yakni laxity horizontal palpebra inferior, terutama pada tendon kantus

lateral, laxity tendon kantus medial, dan yang ketiga adalah disinsersi dari retraktor palpebra inferior. Laxity dapat disebabkan oleh perubahan involusional atau proptosis kronik (axial ocular globe projection). Ketidakseimbangan ukuran antara isi orbita dengan palpebra juga berperan dalam timbulnya laxity. Terjadi penurunan isi orbita dikarenakan oleh atrofi lemak orbita dan melemahnya ligamen ligament inferior orbita sebagai penyokong. Laxity tendon kantus medial dapat menyebabkan eversi pungtum tanpa ektropion seluruh palpebra inferior yang terlihat nyata. Disinsersi retraktor palpebra inferior mungkin kurang penting pada ektropion dibandingkan dengan pada patogenesis entropion, akan tetapi bila disinsersi ini didapatkan, maka dapat terjadi ektropion involusional subtipe tarsal. Faktor faktor tersebut saling berkorelasi satu sama lain, menyebabkan pemanjangan horizontal palpebra inferior, dan terjadi eversi palpebra. Data statistik menunjukkan bahwa pasien pasien ektropion involusional mempunyai tarsus yang lebih besar dari ukuran normal sesuai dengan usianya. Diperkirakan bahwa hal ini disebabkan karena pasien ektropion involusional mengalami proses atrofi akibat penuaan pada tarsus yang lebih lambat. Meskipun demikian, laxity kantus bersamaan dengan penurunan tonus muskulus orbikularis preseptal dan pretarsal tetap dapat menimbulkan vektor mekanik atau gaya gravitasi yang cukup besar untuk menarik tarsus yang lebar ini sehingga terjadi eversi kelopak mata. Temuan tersebut membuat para ahli berpendapat bahwa tarsus yang lebar merupakan faktor etiologi utama yang berperan dalam patogenesis ektropion involusional, dan bukan merupakan akibat sekunder dari tertariknya tarsus akibat laxity tendon. 2. Ptosis Ptosis adalah istilah medis untuk suatu keadaan dimana kelopak mata atas (palpebra superior) turun di bawah posisi normal saat membuka mata yang dapat terjadi unilateral atau bilateral. Posisi normal palpebra superior adalah 2 mm dari tepi limbus atas dan palpebra inferior berada tepat pada tepi limbus bawah. Kelopak mata yang turun akan menutupi sebagian pupil sehingga penderita mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara menaikkan alis matanya atau meng-hiperekstensikan kepalanya. Bila ptosis menutupi pupil secara keseluruhan maka keadaan ini akan mengakibatkan ambliopia. Pada ptosis kongenital, selain menyebabkan ambliopia, juga dapat menimbulkan strabismus. Etiologi Secara garis besar ptosis dapat dibedakan atas 2, yaitu :
Ptosis

yang didapatkan (aquired); pada umumnya disebabkan oleh : a. Faktor mekanik Akibat berat yang abnormal dari palpebra dapat menyulitkan otot levator palpebra mengangkat palpebra.Hal ini dapat disebabkan oleh inflamasi akut atau kronik berupa edema, tumor atau materi lemak yang keras, misalnya xanthelasma. b. Faktor miogenik

Ptosis pada satu atau kedua kelopak mata sering merupakan tanda awal myasthenia gravisdan kejadiannya diatas 95% dari kasus yang ada. c. Faktor neurogenik (paralitik) Terdapat intervensi pada jalur bagian saraf cranial III yang mempersarafi otot levator pada tingkat manapun dari inti okulomotor ke myoneural junction.Ptosis didapat (acquired) biasanya terjadi unilateral. d. Faktor trauma Trauma tumpul maupun tajam pada aponeurosis levator maupun otot levator sendiri juga menyebabkan ptosis. Pada pemeriksaan histologik, defek terjadi karena adanya kombinasi faktor miogenik, aponeurotik dan sikatriks.Perbaikan terkadang terjadi dalam 6 bulan atau lebih, jika tidak ada perbaikan maka tindakan pembedahan dapat menjadi alternatif. Ptosis kongenital; akibat kegagalan perkembangan m.levator palpebra. Dapat terjadi sendiri maupun bersama dengan kelainan otot rektus superior (paling sering) atau kelumpuhan otot mata eksternal menyeluruh (jarang). Hal ini bersifat herediter.

Tanda dan Gejala Pasien ptosis sering datang dengan keluhan utama jatuhnya kelopak mata atas dengan atau tanpa riwayat trauma lahir, paralisis n. III, horner syndrom ataupun penyakit sistemik lainnya.Keluhan tersebut biasanya disertai dengan ambliopia sekunder. Pada orang dewasa akan disertai dengan berkurangnya lapang pandang karena mata bagian atas tertutup oleh palpebra superior. Pada kasus lain, beberapa orang (utamanya pada anak-anak) keadaan ini akan dikompensasi dengan cara memiringkan kepalanya ke belakang (hiperekstensi) sebagai usaha untuk dapat melihat dibalik palpebra superior yang menghalangi pandangannya. Biasanya penderita juga mengatasinya dengan menaikkan alis mata (mengerutkan dahi). Ini biasanya terjadi pada ptosis bilateral.Jika satu pupil tertutup seluruhnya, dapat terjadi ambliopia. Ptosis yang disebabkan distrofi otot berlangsung secara perlahan-lahan tapi progresif yang akhirnya menjadi komplit. Ptosis pada myasthenia gravis onsetnya perlahan-lahan, timbulnya khas yaitu pada malam hari disertai kelelahan, dan bertambah berat sepanjang malam.Kemudian menjadi permanen.Ptosis bilateral pada orang muda merupakan tanda awal myasthenia gravis. Pada ptosis kongenital seringkali gejala muncul sejak penderita lahir, namun kadang pula manifestasi klinik ptosis baru muncul pada tahun pertama kehidupan.Kebanyakan kasus ptosis kongenital diakibatkan oleh suatu disgenesis miogenic lokal. Bila dibandingkan dengan otot yang normal, terdapat serat dan jaringan adipose di dalam otot, sehingga akan mengurangi kemampuan otot levator untuk berkontraksi dan relaksasi. Kondisi ini disebut sebagai miogenic ptosis kongenital.

Pada kepustakaan lain digambarkan juga perbedaan klinik antara congenital myogenic and neurogenic ptosis dan congenital aponeurotic ptosis. Pengobatan Apabila ptosisnya ringan, tidak didapati kelainan kosmetik dan tidak terdapat kelainan visual seperti ambliopia, strabismus dan defek lapang pandang, lebih baik dibiarkan saja dan tetap diobservasi. Penanganan ptosis pada umumnya adalah pembedahan.Pada anak-anak dengan ptosis tidak memerlukan pembedahan secepatnya namun perlu tetap diobservasi secara periodik untuk mencegah terjadinya ambliopia.Bila telah terjadinya ambliopia, pembedahan dapat direncanakan secepatnya.Namun jika hanya untuk memperbaiki kosmetik akibat ptosis pada anak, maka pembedahan dapat ditunda hingga anak berumur 3-4 tahun.

3. Hordeolum Hordeolum merupakan infeksiakutyang umumnya disebabkan oleh bakteriStaphylococcuspada kelenjar palpebra. Hordeolum terbagi atas hordeolum eksterna yang merupakan infeksi pada kelenjar yang lebih kecil dan superfisial (Zeis atau Moll) dan hordeolum interna dimana infeksi terjadi pada kelenjar Meibom. Etiologi Lebih sering pada anak kecil dan dewasa muda, meskipun tidak ada batasan umur dan pada pasien dengan tarikan pada mata akibat ketidakseimbangan otot atau kelainan refraksi.Kebiasaan mengucek mata atau menyentuh kelopak mata dan hidung, serta adanya blefaritis kronik merupakan faktor-faktor yang umumnya berkaitan dengan hordeolum rekuren. Organisme penyebab adalah Staphylococcus aureus Patogenesis Kebanyakan hordeolum disebabkan infeksiStaphylococcus, biasanya Staphylococcus aureus. Infeksi tersebut dapat mengenai kelenjar Meibom (hordeolum interna), maupun kelenjar Zeis dan Moll (hordeolum eksterna). Proses tersebut diawali dengan pengecilan lumen dan statis hasil sekresi kelenjar. Statis ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus sehingga terjadi pembentukan pus dalam lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak gambaran abses, dengan ditemukannya sel Polimorfonuklear (PMN) dan debris nekrotik. Nyeri, hiperemis, dan edema palpebra adalah gejala khas pada hordeolum.Intensitas nyeri mencerminkan beratnya edema palpebra. Apabila pasien menunduk, rasa sakit bertambah.Pada pemeriksaan terlihat suatu benjolan setempat, warna kemerahan, mengkilat dan nyeri tekan, dapat disertai bintik kuning atau putih yang merupakan akumulasi pus pada folikel silia. Tanda dan Gejala Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali, yaitu tampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah, berwarna kemerahan dan nyeri.Hordeolum eksterna

adalah infeksi pada kelenjar Zeis dan kelenjar Moll.Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak mata bagian luar (palpebra).Hordeolum interna adalah infeksi yang terjadi pada kelenjar Meibom.Pada hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak mata bagian dalam). Benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibanding hordeolum eksternum. Pada stadium selulitis ditandai dengan adanya benjolan keras, kemerahan, lokal, nyeri, edema, umumnya pada margo palpebral. Pada stadium absesditandai dengan adanya pus yang dapat terlihat berupa bintik kuning atau putih pada kelopak mata pada silia yang terifeksi.Umumnya pembentukan hordeolum tunggal, namun bisa lebih dari satu/multipel (hordeola). Pseudoptosis atau ptosis dapat terjadi akibat bertambah beratnya kelopak mata sehingga sukar diangkat.Pada pasien dengan hordeolum, kelenjar preaurikel kadang ditemukan ikut membesar.Keluhanlain yang umumnya dirasakan oleh penderita hordeolum diantaranya rasa mengganjal pada kelopak mata, nyeri tekan dan intensitas nyeri bertabah bilapasien menunduk.Hordeolum dapat membentuk abses di kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan nanah. Pengobatan Dapat dengan kompres air hangat 2-3 kali per hari sangat membantu pada stadium selulitis. Ketika bintik pus sudah terbentuk dapat dilakukan evakuasi dengan epilasi pada silia yang berkaitan.Insisi pembedahan jarang dilakukan kecuali pada abses yang besar. Antibiotik tetes (3-4 kali sehari) dan salep antibiotik (saat akan tidur) sebaiknya diberikan setiap tiga jam untuk mengontrol terjadinya infeksi. Obat anti inflamasi dan analgetik dapat diberikan untuk mengurangi nyeri dan edema.Pada kasus tertentu yang jarang terjadi, hordeolum dapat menyebabkan timbulnya selulitis preseptal sekunder sehingga dibutuhkan pemberian antibiotik sistemik.Antibiotik sistemik dapat digunakan pula untuk kontrol segera infeksi.Pada hordeolum rekuren, perlu dicari dan diterapi kondisi predisposisi yang berkaitan.Jika tidak ada perbaikan kondisi dalam 48 jam, insisi dan drainase bahan purulent dapat diindikasikan. Pada tindakan pembedahan berupa insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesia topikal dengan pantokain tetes mata.Dilakukan anestesi infiltrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi yang bila : Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra. Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra. Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotik. 4.Chalazion Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang tersumbat.Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan kronis tersebut.Biasanya kelainan ini dimulai penyumbatan kelenjar oleh infeksi dan jaringan parut lainnya.

Etiologi Kalazion juga disebabkan sebagai lipogranulomatosa kelenjar Meibom.Kalazion mungkin timbul spontan disebabkan oleh sumbatan pada saluran kelenjar atau sekunder dari hordeolum internum.Kalazion dihubungkan dengan seborrhea, chronic blepharitis, dan acne rosacea. Patofisiologi Kalazion merupakan radang granulomatosa kelenjar Meibom.Nodul terlihat atas sel imun yang responsif terhadap steroid termasuk jaringan ikat makrofag seperti histiosit, sel raksasa multinucleate plasma, sepolimorfonuklear, leukosit dan eosinofil. Kalazion akan memberi gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemik, tidak ada nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preaurikuler tidak membesar.Kadangkadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut. Kerusakan lipid yang mengakibatkan tertahannya sekresi kelenjar, kemungkinan karena enzim dari bakteri, membentuk jaringan granulasi dan mengakibatkan inflamasi.Proses granulomatous ini yang membedakan antara kalazion dengan hordeolum internal atau eksternal (terutama proses piogenik yang menimbulkan pustul), walaupun kalazion dapat menyebabkan hordeolum, begitupun sebaliknya.Secara klinik, nodul tunggal (jarang multipel) yang agak keras berlokasi jauh di dalam palpebra atau pada tarsal.Eversi palpebra mungkin menampakkan kelenjar meibom yang berdilatasi.
Tanda dan Gejala Benjolan pada kelopaka mata, tidak hiperemis dan tidak ada nyeri

tekan.
Pseudoptosis Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat

tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut.


Pada anak muda dapat diabsobsi spontan. Diagnosis

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan kelopak mata.Kadang saluran kelenjar Meibom bisa tersumbat oleh suatu kanker kulit, untuk memastikan hal ini maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsi. Pengobatan Kadang-kadang kalazion sembuh atau hilang dengan sendirinya akibat diabsorbsi (diserap) setelah beberapa bulan atau beberapa tahun. Kompres hangat 10-20 menit 4kali sehari.

Antibiotika topikal dan steroid disertai kompres panas dan bila tidak berhasil dalam waktu 2 minggu maka dilakukan pembedahan. Bila kecil dapat disuntik steroid dan yang besar dapat dilakukan pengeluaran isinya. Bila terdapat sisa bisa dilakukan kompres panas. Untuk mengurangi gejala : Dilakukan ekskokleasi isi abses dari dalamnya atau dilakukan ekstirpasi kalazion tersebut.Insisi dilakukan seperti insisi pada hordeolum internum. Bila terjadi kalazion yang berulang beberapa kali sebaiknya dilakukan pemeriksaan histopatologik untuk menghindarkan kesalahan diagnosis dengan kemungkinan adanya suatu keganasan. Ekskokleasi Kalazion Terlebih dahulu mata ditetesi dengan anastesi topikal pentokain.Obat anestesia infiltratif disuntikan dibawah kulit didepan kalazion.Kalazion dijepit dengan klem kalazion kemudian klem dibalik sehingga konjungtiva tarsal dan kalazion terlihat. Dilakukan insisi tegak lurus margo palpebra dan kemudian isi kalazion dikuret sampai bersih. Klem kalazion dilepas dan diberi salep mata. Pada abses palpebra pengobatan dilakukan dengan insisi dan pemasangan drain kalau perlu diberi antibiotik, lokal dan sistemik. Analgetika dan sedatif diberikan bila sangant diperlukan untuk rasa sakit.

KONJUNGTIVA

1. Pterigium Definisi Menurut kamus kedokteran Dorland, pterygium adalah bangunan mirip sayap, khususnya untuk lipatan selaput berbentuk segitiga yang abnormal dalam fisura interpalpebralis, yang membentang dari konjungtiva ke kornea, bagian puncak (apeks) lipatan ini menyatu dengan kornea sehingga tidak dapat digerakkan sementara bagian tengahnya melekat erat pada sclera, dan kemudian bagian dasarnya menyatu dengan konjungtiva. Menurut American Academy of Ophthalmology, pterygium adalah poliferasi jaringan subconjunctiva berupa granulasi fibrovaskular dari (sebelah) nasal konjuntiva bulbar yang berkembang menuju kornea hingga akhirnya menutupi permukaannya. Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip daging yang menjalar ke kornea, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif .

Epidemiologi Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah diatas 40olintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Terdapat hubungan antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah.

Mortalitas/Morbiditas Pterygium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam fungsi visual atau penglihatan pada kasus yang kronis. Mata bisa menjadi inflamasi sehingga menyebabkan iritasi okuler dan mata merah. Berdasarkan beberapa faktor diantaranya : 1. Jenis Kelamin Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan wanita. 2. Umur Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun. Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi, sedangkan pasien yang berumur 20-40tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterygium yang paling tinggi.

Etiologi Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi. Pterygium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan pterygium antara lain uap kimia, asap, debu dan benda-benda lain yang terbang masuk ke dalam mata. Beberapa studi menunjukkan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini.

Patofisiologi Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan ultraviolet, debu, kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea. Pterigium ini biasanya bilateral, karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Semua kotoran pada konjungtiva akan menuju ke bagian nasal, kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi inferior. Daerah nasal konjungtiva juga relatif mendapat sinar ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain, karena di samping kontak langsung, bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak langsung

akibat pantulan dari hidung, karena itu pada bagian nasal konjungtiva lebih sering didapatkan pterigium dibandingkan dengan bagian temporal. Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium, Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase. Histologi, pterigium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi subepitel yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan di pewarnaan H & E . Berbentuk ulat atau degenerasi elastotic dengan penampilan seperti cacing bergelombang dari jaringan yang degenerasi. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. Epitel diatasnya biasanya normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau bahkan displastik dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet.

Gejala Klinis Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain: mata sering berair dan tampak merah

merasa seperti ada benda asing timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium tersebut, biasanya astigmatisme with the rule ataupun astigmatisme irreguler sehingga mengganggu penglihatan pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual sehingga tajam penglihatan menurun.

Pemeriksaan Fisik Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera) pada limbus, berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea. Sclera dan selaput lendir luar mata (konjungtiva) dapat merah akibat dari iritasi dan peradangan.

A.

Cap: Biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu pada kornea yang kebanyakan terdiri atas fibroblast, menginvasi dan menghancurkan lapisan bowman pada kornea

B. C.

Whitish: Setelah cap, lapisan vaskuler tipis yang menginvasi kornea Badan: Bagian yang mobile dan lembut, area yang vesikuler pada konjunctiva bulbi, area paling ujung

Berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke kornea dan badan. Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson ) Derajat 1 : Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea Derajat 2 : Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea Derajat 3 : Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm)

Derajat 4 : Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.

Diagnosa Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu atau kedua mata, disertai rasa gatal, kemerahan dan atau bengkak. Kondisi ini mungkin telah ada selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahan-lahan, pada akhirnya

menyebabkan penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari peradangan dan iritasi. Sensasi benda asing dapat dirasakan, dan mata mungkin tampak lebih kering dari biasanya. penderita juga dapat melaporkan sejarah paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu. Test: Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visus terpengaruh. Dengan menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan pterygium tersebut.11 Dengan menggunakan sonde di bagian limbus, pada pterigium tidak dapat dilalui oleh sonde seperti pada pseudopterigium.

Diagnosa Banding 1. Pinguekula Penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi, berbentuk nodul yang berwarna kekuningan.

2. Pseudopterigium Pterigium umumnya didiagnosis banding dengan pseudopterigium yang merupakan suatu reaksi dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea. Pada pengecekan dengan sonde, sonde dapat masuk di antara konjungtiva dan kornea. Pseudopterigium merupakan

perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat akibat ulkus. Sering terjadi saat proses penyembuhan dari ulkus kornea, dimana konjungtiva tertarik dan menutupi kornea.

Pseudopterigium dapat ditemukan dimana saja bukan hanya pada fissura palpebra seperti halnya pada pterigium. Pada pseudopterigium juga dapat diselipkan sonde di bawahnya

sedangkan pada pterigium tidak. Pada pseudopterigium melalui anamnesa selalu didapatkan riwayat adanya kelainan kornea sebelumnya, seperti ulkus kornea. Selain pseudopterigium, pterigium dapat pula didiagnosis banding dengan pannus dan kista dermoid.

Beda pterigium dengan pseudopterigium Pterigium Sebab Proses degeneratif Pseudopterigium Reaksi tubuh penyembuhan dari luka bakar, GO, difteri, dll. Sonde Tak dapat dimasukkan di Dapat dibawahnya Tidak Anak dimasukkan

bawahnya Kekambuhan Residif Usia Dewasa

Terapi 1. Konservatif Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.

2. Bedah Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin, angka kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.10 3. Indikasi Operasi Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena astigmatismus Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

4. Teknik Pembedahan Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan, dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea. Banyak teknik bedah telah digunakan, meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel. Terlepas dari teknik yang digunakan, eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya. Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat, jaringan parut yang minimal dan halus dari permukaan kornea. a) Teknik Bare Sclera Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium, sementara memungkinkan sclera untuk epitelisasi. Tingkat kekambuhan tinggi, antara 24 persen dan 89 persen, telah didokumentasikan dalam berbagai laporan. b) Teknik Autograft Konjungtiva Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi 40 persen pada beberapa studi prospektif. Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva bulbar superotemporal, dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut. Komplikasi jarang terjadi, dan untuk hasil yang optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati

jaringan Tenon's dari graft konjungtiva dan penerima, manipulasi minimal jaringan dan orientasi akurat dari grafttersebut. LawrenceW. Hirst, MBBS, dari Australia merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik ini. c) Cangkok Membran Amnion Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan pterigium. Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi, sebagian besar peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai. Sayangnya, tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang ada,diantara 2,6 persen dan 10,7 persen untuk pterygia primer dan setinggi 37,5 persen untuk kekambuhan pterygia. Sebuah keuntungan dari teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar konjungtiva. Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera , dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap ke bawah. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan episcleral dibawahnya. Lemfibrin juga telah digunakan dalam autografts konjungtiva.

5. Terapi Tambahan Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah, dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini, namun ada komplikasi dari terapi tersebut. MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan iradiasi beta. Namun, dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan. Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke sclera setelah eksisi pterygium, dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal setelah operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas. Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan, karena menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium, meskipun tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan yang tersedia. Namun, efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral ,

endophthalmitis dan pembentukan katarak, dan ini telah mendorong dokter untuk tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya. Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan dengan pemberian: 1. Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari, bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6minggu. 2. Mitomycin C 0,04% (o,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone. 3. Sinar Beta. 4. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama 6minggu, diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol, dan steroidselama 1 minggu.

Komplikasi 1. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut Gangguan penglihatan-Mata kemerahan Iritasi Gangguan pergerakan bola mata. Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea Dry Eye sindrom.

2. Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut: Infeksi Ulkus kornea Graft konjungtiva yang terbuka Diplopia Adanya jaringan parut di kornea.

Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan. Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-80%. Angka ini bisa dikurangi sekitar 515% dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau transplant membran amnion pada saat eksisi.

Pencegahan Pada penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti nelayan, petani yang banyak kontak dengan debu dan sinar ultraviolet dianjurkan memakai kacamata pelindung sinar matahari.

Follow up Menilai adanya komplikasi post operasi, seperti diplopia akibat terpotongnya musculus rectus oculi medial, ditemukan adanya perforasi kornea, penilaian strabismus dari gerakan bola mata, pada graft konjuntivanya ada yang terbuka atau tidaknya, dan tanda-tanda peradangan pada intraokuler akibat otot terpotong.

Prognosis Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Umumnya prognosis baik. Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta radiasi. Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Prosedur yang baik dapat ditolerir pasien dan disamping itu pada beberapa hari post operasi pasien akan merasa tidak nyaman, kebanyakan setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai aktivitasnya. . Pasien dengan pterygia yang kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan eksisi dan grafting dengan konjungtiva / limbal autografts atau transplantasi membran amnion pada pasien tertentu.