Anda di halaman 1dari 5

Biobutanol sebagai biofuel generasi kedua di Indonesia

Posted on October 1, 2008 by yalun

Biofuel adalah termasuk topik teknologi yang paling hangat didiskusikan pada saat ini di samping isu pemanasan global. Seiring dengan kesadaran bahwa minyak bumi akan habis cepat atau lambat, ide pengembangan biofuel sebagai alternatif bahan bakar muncul sejak 1970an. Sejak saat itu berbagai riset telah dilakukan guna menghasilkan teknologi yang mampu memproduksi bahan bakar dari biomassa. Indonesia yang saat ini mengalami krisis energi juga mulai giat mengembangkan biofuel. Contoh produksi biofuel misalnya bioethanol dari gula, dengan proses fermentasi oleh ragi, sejenis mikroorganisme yang umum digunakan dalam pembuatan minuman keras. Biofuel yang lain adalah biodiesel yang diolah dari minyak nabati seperti minyak kelapa sawit dan minyak biji jarak. Di Indonesia, beberapa industri biofuel sudah beroperasi seperti biodiesel di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara global, dalam lima tahun ke depan produksi bioethanol diperkirakan mencapai 27 milyar gallon per tahun, sedangkan biodiesel sebesar 4 milyar gallon per tahun. Adapun biofuel di atas dikategorikan sebagai biofuel generasi pertama. Karakteristik biofuel generasi awal ini adalah umumnya menggunakan gula atau minyak dari tumbuhan sebagai bahan baku. Bioethanol dari pati jagung atau gula tebu dan biodiesel dari minyak tumbuhan termasuk dalam kategori ini. Keuntungan biofuel jenis ini adalah teknologinya sudah cukup maju sehingga memungkinkan produksi massal sehingga layak secara ekonomis. Namun dampak negatifnya tidak kalah besar yaitu terserapnya bahan pangan seperti pati dari jagung, gula tebu dan minyak goreng, yang menyebabkan kenaikan harga akibat supply tidak mencukupi kebutuhan pasar. Biofuel generasi kedua hadir sebagai solusi dari dampak negatif seperti disebut di atas. Bahan baku yang digunakan adalah bahan-bahan non pangan dan limbah seperti batang padi, jerami, kertas bekas, dan bagasse (batang tebu yang telah diperas). Dalam artikelnya di majalah sains no.1 dunia Science, pakar Teknik Kimia terkemuka Gregory Stephanopoulos dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menyatakan bahwa biofuel dari bahan non pangan akan menjadi trend dalam 10-15 tahun ke depan. Tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana mengolah bahan-bahan tersebut agar bisa diproses dengan teknologi biofuel yang telah ada sekarang. Misalnya bagaimana memecah selulosa di bagasse menjadi gula murni yang bisa difermentasi, terbebas dari zat kimia yang bisa menghambat proses fermentasi. Beberapa proses telah diteliti dan diterapkan mulai dari proses enzimatik, penggunaan asam encer pada temperature dan tekanan tinggi, dan uap. Jika kita analisis lebih lanjut jenis biofuel yang bisa diproduksi, salah satu pilihan adalah biobutanol, sejenis alkohol seperti bioethanol. Saat ini biobutanol bisa diproduksi baik secara fermentasi maupun non-fermentasi walaupun biayanya masih lebih mahal dari produksi bioethanol. Jenis alkohol dengan empat atom karbon ini memiliki kandungan energi hampir menyamai premium, yaitu sebesar 29 MJ/liter dengan bilangan oktan 96. Nilai ini jauh di atas bioethanol sebesar 22 MJ/liter. Ron Cascone dalam artikelnya di jurnal ilmiah terkemuka Chemical Engineering Progress terbaru di bulan Agustus 2008 memaparkan banyak

keuntungan biobutanol relatif terhadap bioethanol. Pertama, biobutanol memiliki beberapa karakteristik fisika dan kimia lebih mirip ke bensin. Hal ini menyebabkan tidak perlu membangun infrastruktur baru untuk transportasi. Biobutanol juga tidak larut dalam air seperti bioethanol sehingga tidak mudah menyebabkan korosi. Kedua, biobutanol dapat dicampur dengan bensin dalam kadar bervariasi. Hal yang sama tidak dimungkinkan dengan bioethanol. Campuran bioethanol bensin memiliki kadar bioethanol maksimum 10 %. Lebih daripada itu harus ada modifikasi khusus pada mesin kendaraan bermotor. Ketiga, akibat kandungan energi yang tidak jauh berbeda dengan bensin, maka bensin campur biobutanol lebih ekonomis daripada bensin campur bioethanol. Keempat, secara lingkungan biobutanol lebih aman daripada bioethanol karena jika tumpah tidak mudah mencemari air tanah akibat sifatnya yang menolak air. Dari uraian singkat di atas maka alternatif terbaik jenis biofuel yang bisa menjadi pengganti atau aditif dari bensin adalah biobutanol. Riset biobutanol giat dilakukan di negara maju untuk menghasilkan teknologi yang bisa membuat biobutanol bersaing secara ekonomis dengan biofuel lainnya. Adapun bahan baku yang dipakai harus dari bahan non pangan. Indonesia sebagai produsen beras terbesar ke-3 dan gula tebu ke-9 dunia tentu memiliki potensi ketersediaan batang padi dan bagasse yang melimpah. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mendirikan industri biofuel generasi kedua seperti biobutanol dari bahan baku non pangan di Indonesia. Butuh investasi besar baik dana maupun sumber daya manusia yang perlu diusahakan dalam waktu dekat. Kita perlu belajar dari kesuksesan Brazil sebagai penguasa bioethanol dunia dan berswasembada energi sehingga mempunyai bargaining power ketika bernegosiasi dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Tongkol Jagung Gantikan Bensin, Mengapa Tidak? 10 MAY 2011 648 VIEWS NO COMMENT

Biobutanol dapat langsung menggantikan bensin tanpa perlu modifikasi mesin. Sembilan mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam tiga kelompok berbedamembuktikan ada banyak alternatif energi dari bumi Indonesia untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM). Tak semuanya butuh upaya baru.

Tinggal manfaatkan limbah yang selama ini ada, diolah men jadi biofuel yang bahkan tak butuh modifikasi mesin untuk menggunakannya. Salah satunya,

biofuel berbahan baku tongkol jagung. Adalah tiga sekawan Eliza Bratadjaja, Michael Enoh Prasetya, dan Richard, mengolah dan merancang pabrik peng olahan tongkol jagung menjadi biobutanol. Karya mereka merupakan salah satu finalis Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional (LRPTN) XII kategori energi yang berlangsung di kampus ITB.

Mereka bertiga merancang pabrik bernama PT Tiga Perkasa. Dalam pemikiran mereka, kebutuhan bahan bakar di Indonesia terus meroket, membutuhkan sumber energi terbarukan. Tongkol jagung mereka pilih dengan alasan sederhana. Murah, kata Eliza. Juga, tongkol jagung selama ini hanya menjadi limbah tak berguna. Menurut Eliza, harga tongkol jagung yang mereka dapatkan Rp 800 per kilogram.

Pabrik yang mereka rancang akan butuh pasokan bahan baku 1,2 juta ton tongkol jagung per tahun. Menurut mereka, angka ini tak akan jadi masalah karena produksi jagung nasional 12,5 juta ton per tahun. Dalam penelitian mereka, tong kol jagung ternyata memiliki biomassa yang cocok untuk proses gasifikasi. Lagi pula, pemrosesan tongkol jagung juga mendapatkan hasil samping selain biobutanol yang juga bernilai ekonomis. Hasil samping itu adalah metanol dengan kemurnian tinggi dan campuran etanol-propanol.

Namun, tiga sekawan ini sepa kat memproduksi biobutanol untuk menghasilkan bioetanol bukan tanpa alasan. Biobutanol tak bersifat korosif terhadap mesin kendaraan. Kandungan energi biobutanol juga lebih tinggi daripada bioetanol, yaitu 110 kBtu dibandingkan 78 kBtu. Biobutanol juga dapat langsung menggantikan bensin tanpa perlu modifikasi mesin sama sekali, papar Eliza.

Teknologi yang dipakai untuk mengolah tongkol jagung menjadi biobutanol, sebut Eliza, adalah thermochemical. Menu rut dia, teknologi yang mereka pakai memang bukan teknik fermentasi seperti jamaknya pembuatan biofuel. Dengan

thermochemical, syngas dikonversi menjadi alkohol melalui reaksi FischerTrpsch. Ini memang terbilang (teknologi) baru, ujarnya.

Secara sederhana, proses pem buatan biobutanol dari tongkol jagung ini akan dimulai dengan penurunan kadar air menjadi sekitar lima persen. Setelah kering, tongkol jagung dipotong-potong sampai ukuran tertentu menggunakan cone crusher. Potongan tersebut lalu diolah menjadi gas, menggunakan gasifier.

Syngas hasil gasifikasi berupa gas sintesis yang mengandung karbon monoksida dan hidrogen dibersihkan dengan bantuan cyclone, tar reformer, water scrubber, serta MEA absorber. Cyclone berfungsi memisahkan syngas dengan pasir olivine dan char dari gasifier. Tar reformer berupa reaktor berkatalis digunakan untuk mengubah tar menjadi syngas. Water scrubber dan MEA absorber berfungsi menyingkirkan zat-zat yang bersifat asam dan dapat merusak peralatan. Syngas yang telah dibersihkan akan menjadi umpan untuk reaktor sintesis alkohol.

Jenis reaktor yang digunakan adalah fixed bed reactor dengan katalis Cu (tembaga), Mn (mangaan), Ni (nikel), atau ZrO2 (zirkonia). Produk dari reaktor ini akan berupa campuran alkohol, sisa syngas yang tidak bereaksi, dan alkana lain. Alkohol dari tahapan reaktor di atas akan dipisahkan dalam bentuk cair dengan bantuan flash drum.

Proses distalasi di flash drum menggunakan dua kolom yang akan menghasilkan metanol dan biobutanol dengan kemurnian tinggi pada kolom pertama. Kolom kedua distalasi akan menghasilkan campuran etanol, propanol, dan air.

Hasil yang didapat dari proses ini adalah biobutanol sebanyak 99,99 persen-mol (mol adalah satuan standar internasional untuk satuan zat), setara 16,5 ton per jam. Juga didapatkan metanol sebanyak 96,85 persen-mol, setara dengan 32,28 ton per jam. Hasil samping lain adalah etanol (48,66 persenmol), propanol (24,55 persenmol), dan air (20,5 persen-mol, setara 7,55 ton per jam). Tim ini yakin

proses yang mereka ajukan punya nilai ekonomi tinggi. Karena hasil samping yang didapat pun punya nilai jual. Metanol, misalnya, akan dihargai Rp 2.000 per kilogram. Sementara biobutanol sebagai hasil utama, akan dihargai Rp 8.800 per kilogram.

Limbah dari produksi biobutanol ini akan berupa limbah pa -dat, cair, dan gas. Limbah padat berupa pasir olivine, partikulat, dan char. Limbah padat tersebut akan dipakai sebagai landfill, sementara abu sisa pembakaran akan dikirim ke PPLI untuk dijadikan batako, sedangkan katalis jenuh akan diregenerasi. Limbah cair berupa senyawa organik dan sulfur akan diolah di WWT, sedangkan limbah gas berupa CO2 (karbon dioksida) dari sistem flare akan dibuang.

Limbah gas berupa NH3 (gas amonia) dan H2S (hidrogen sulfida) diarahkan ke sistem scrubber dan absorber. Meski berbahan baku murah, total investasi yang dibutuhkan untuk biobutanol berbahan tongkol jagung ini ternyata mencapai Rp 800 miliar. Mereka merencanakan mendapat modal dari pinjaman bank dengan bunga 15 persen per tahun. Dengan asumsi hari kerja adalah 300 hari per tahun, usia pabrik mereka bisa mencapai 20 tahun dengan kapasitas produksi 120 ribu ton per tahun.

Dalam rancangan mereka, return on investment akan mencapai 19,2 persen dengan rate of return sebesar 28,23 persen dan payback periode berlangsung selama 3,5 tahun. Break event point (BEP) yang didapat adalah 12 persen. Michael me ngatakan keuntungan masih da pat bertambah dari penjualan kredit karbon dari proses produksi. Tiga sekawan ini merancang lokasi yang tepat untuk pab -riknya adalah Bojonegoro, Jawa Timur, dengan pertimbangan ketersediaan bahan baku dan utilitas.