Anda di halaman 1dari 13

PENYEMBUHAN FRAKTUR 5 Votes FRAKTUR HEALING Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menajubkan.

Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur merupakan dasar untuk mengobati fragmen fraktur. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai tejadi konsolidasi. Factor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan, selain factor biologis yang juga merupakan suatu factor yang sangat essential dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur berbeda pada tulang kortikal pada tulang panjang serta tulang kanselosa pada metafisis tulang panjang atau tulang pendek, sehingga kedua jenis penyembuhan tulang ini harus dibedakan. Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut : 1. eacti!e Phase i. Fracture and inflammatory phase ii. "ranulation tissue formation #. eparati!e Phase iii. $allus formation i!. %amellar bone deposition &. emodeling Phase !. emodeling to original bone contour PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KORTIKAL Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri dari 5 fase, yaitu : 1. Fase hematoma 'pabila tejadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang mele(ati kanalikuli dalam system ha!ersian mengalami robekan dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. )ematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstra!asasi darah kedalam jaringan lunak.

*steosit dengan lakunannya yang terletak beberapa millimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin a!askular tulang yang mati pada sisi + sisi fraktur segera setelah trauma. ,aktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai # + & minggu. 1. Fase prol !eras sel"ler s"#per osteal $a% e%$osteal Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel + sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagi akti!itas seluler dalam kanalis medularis. 'pabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferansiasi sel + sel mesenkimal yang berdiferensiasi kedalam jaringan lunak. Pada tahap a(al dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan jumlah dari sel + sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. -aringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. .etelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologist kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radioluscen. Pada fase ini dimulai pada minggu ke # + & setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke / + 0. 1. Fase pem#e%t"&a% &al"s 'Fase "% o% se(ara &l % s) .etelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada kondroblast membentuk tulang ra(an. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam + garam kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur. 1entuk tulang ini disebut mo!en bone. Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau (o!en bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. 1. Fase &o%sol $as 'Fase "% o% se(ara ra$ olo*+) ,o!en bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan + lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh akti!itas osteoblas yang menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara bertahap. Pada fase & dan / dimulai pada minggu ke / + 0 dan berakhir pada minggu ke 0 + 1# setelah terjadinya fraktur. 1. Fase remo$el %* 1ilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru akan membentuk bagian yang meyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini perlahan + lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan + lahan menghilang. 2alus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi system ha!ersian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk susmsum.

Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 0 + 1# dan berakhir sampai beberapa tahun dari terjadinya fraktur. PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KAN,ELO,A Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi secara cepat karena beberapa factor, yaitu : 1. Vaskularisasi yang cukup #. Terdapat permukaan yang lebih luas &. 2ontak yang baik memberikan kemudahan !askularisasi yang cepat /. )ematoma memberikan peranan dalam penyembuhan fraktur Tulang kanselosa yang berlokalisasi pada metafisis tulang panjang, tulang pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis. Peyembuhan fraktur pada tulang kanselosa melalui proses pembentukan kalus interna dan endosteal. Pada anak + anak proses penyembuhan pada daerah korteks juga memegang peranan penting. Proses osteogenik peyembuhan sel dari bagian endosteal yang menutupi trabekula, berproliferasi untuk membentuk (o!en bone primer di dalam daerah fraktur yang disertai hematoma. Pembentukan kalus interna mengisi ruangan pada daerah fraktur. Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi pada daerah dimana terjadi kontak langsung diantara permukaan tulang fraktur yang berarti satu kalus endosteal. 'pabila terjadi kontak dari kedua fraktur maka terjadi union secara klinis. .elanjutnya (o!en bone diganti oleh tulang lamellar dan tulang mengalami konsolidasi. PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG RA-AN PER,ENDIAN Tulang ra(an hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuan untuk regenerasi. Pada fraktur interartikular penyembuhan tidak terjadi melalui tulang ra(an hialin, tetapi terbentuk melalui fibrokartilago. -AKTU PENYEMBUHAN FRAKTUR ,aktu penyembuhan fraktur ber!ariasi secara indi!idual dan berhubungan dengan beberapa factor penting pada penderita, antara lain: Um"r pe%$er ta ,aktu penyembuhan tulang pada anak + anak jauh lebih cepat pada orng de(asa. )al ini terutama disebabkan karena akti!itas proses osteogenesis pada daerah periosteum dan endoestium dan juga berhubungan dengan proses remodeling tulang pada bayi pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila unur bertambah Lo&al sas $a% &o%! *"ras !ra&t"r %okalisasi fraktur memegang peranan sangat penting. Fraktur metafisis penyembuhannya lebih cepat dari pada diafisis. 3isamping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur tran!ersal lebih lambat penyembuhannya dibanding dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak.

Per*esera% a.al !ra&t"r Pada fraktur yang tidak bergeser dimana periosteum intak, maka penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan pada fraktur yang bergeser. Terjadinya pergeseran fraktur yang lebih besar juga akan menyebabkan kerusakan periosteum yang lebih hebat. /as&"lar sas pa$a &e$"a !ra*me% 'pabila kedua fragmen memiliki !askularisasi yang baik, maka penyembuhan biasanya tanpa komplikasi. 1ila salah satu sisi fraktur !askularisasinya jelek sehingga mengalami kematian, maka akan menghambat terjadinya union atau bahkan mungkin terjadi nonunion. Re$"&s $a% Imo# l sas eposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk !askularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. 4mobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang akan mengganggu penyembuhan fraktur. -a&t" mo# l sas 1ila imobilisasi tidak dilakukan sesuai (aktu penyembuhan sebelum terjadi union, maka kemungkinan untuk terjadinya nonunion sangat besar. R"a%*a% $ a%tara &e$"a !ra*me% serta %terpos s oleh 0ar %*a% lema&. 1ila ditemukan interposisi jaringan baik berupa periosteal, maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya, maka akan menghambat !askularisasi kedua ujung fraktur. A$a%+a %!e&s 1ila terjadi infeksi didaerah fraktur, misalnya operasi terbuka pada fraktur tertutup atau fraktur terbuka, maka akan mengganggu terjadinya proses penyembuhan. 1a ra% , %o2 a Pada persendian dimana terdapat cairan sino!ia merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur. Gera&a% a&t ! $a% pas ! a%**ota *era& "erakan pasif dan aktif pada anggota gerak akan meningkatkan !askularisasi daerah fraktur tapi gerakan yang dilakukan didaerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu !askularisasi. Penyembuhan fraktur berkisar antara & minggu + / bulan. ,aktu penyembuhan pada anak secara kasar setengah (aktu penyembuhan daripada orang de(asa.

Patah Tulang 5fraktur6 adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya. P'T') tulang, termasuk keretakan tulang, secara alami bias menyambung sendiri. Penanganan yang tepat sejak terjadi trauma mempercepat proses penyambungan tulang.*bat Patah Tulang 3okter 7r(ien 4sparnadi .p*T menyebut beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan tulang menyambung. 8akni meliputi lokasi patah tulang, usia, dan ada9tidaknya penyakit yang mengikuti. :Penyembuhan patah tulang 5fraktur6 yang berlokasi di ekstremitas superior 5lengan, tangan6 lebih cepat daripada tulang9tulang ekstremitas inferior 5tungkai, kaki6, :katanya. .ebab tulang ekstremitas superior memiliki fungsi mengangkat beban, makan, dan minum. .edangkan tulang tungkai dan kaki memiliki beban lebih berat. 4tu sesuai dengan fungsinya sebagai penopang berat badan. :;ntuk mengembalikan kekuatan tulang tungkai dan kaki, dibutuhkan (aktu lebih lama, :jelas spesialis orthopaedi dan traumatologi itu. 3itilik dari faktor usia, semakin muda saat patah tulang terjadi, semakin cepat proses penyembuhannya. )al tersebut terkait dengan kemampuan regenerasi sel pada usia muda yang lebih baik.*bat Patah Tulang -ika ada penyakit yang mengikuti kejadian patah tulang. Proses penyembuhannya lebih lama. 'da beberapa penyakit penghambat pemulihan tulang. 3i antaranya, kanker tulang, Paget<s disease, dan infeksi tulang. :4nfeksi terbanyak adalah osteomyelitis. 4nfeksi jenis ini terjadi pada patah tulang terbuka yang mengakibatkan kuman dari luar bias masuk ke jaringan di sekitar lokasi patah tulang.= ujar dokter yang berpraktik di .; )aji .urabaya tersebut.*bat Patah Tulang -ika tak ada factor penghambat, tulang dapat tersambung secara sempurna. 1egitu pula kekuatannya. Tulang mungkin saja tak tersambung secara sempurna 5mal union6. Pada kondisi itu, kekuatan tulang yang sudah tersambung berkurang. Pada kasus mal union berat, sambungan tulang membentuk sudut yang mengakibatkan tonjolan di kulit. :*tot di sekitar tulang yang membentuk sudut menjadi tidak seimbang sehingga memunculkan rasa ngilu saat otot beraktifitas,: jelasnya. 2ekuatan tulang menjadi tak seimbang. .ebab, di perlekatan otot yang menempel pada tulang bersudut itu, ada yang kencang dan ada yang kendur.*bat Patah Tulang 2asus lain yang berdampak nyeri pada tulang yang petah adalah non union 5tulang gagal tersambung6 dan delayed union 5tulang terlambat menyambung6. 2ondisi itu mungkin berkaitan dengan kurangnya nutrisi pada jaringan pembentuk tulang. >ormalnya, patah tulang pada bayi akan tersambung selama 159&? hari. 'nak9anak mem butuhkan (aktu 19# bulan, dan de(asa #9& bulan.*bat Patah Tulang 2erusakan tersebut sering diperparah dengan pemijatan saat patah tulang. Padahal, pijat yang menekan saraf dan oto di sekita tulang yang patah ra(an menimbulkan perdarahan di ba(ah kulit. :-ika tejadi perdarahan, secara otomatis saraf dan otot membutuhkan (aktu lebih lama untuk sembuh,= tegasnya. >utrisi untuk pembentukan tulang tertunda karena otot dan saraf harus menyembuhkan diri dulu.

8ah persendian di tubuh kita ada berbagai jenis ada yang merupakan sendi engsel seperti lutut, siku. 'da yang mampu kita putar dan gerakkan ke banyak arah seperti tulang leher dengan sendi putarnya. 'da sendi yang hanya mampu bergeser seperti tulang belakang kita. 'da juga sendi peluru yang berada pada tulang bahu kita. @asing9masing mempunyai fungsi dan gerakan tersendiri. .ebagaimana mesin membutuhkan pelumas maka tubuh kita juga butuh :oli= alami. Tulang persendian kita mempunyai selaput sendi atau membran sino!ial yang menghasilkan minyak sino!ial. $airan ini berfungsi sebagai pelumas sehingga gesekan berjalan lancar dan halus dan tidak menimbulkan rasa nyeri atau sakit . @inyak sino!ial juga mengandung berbagai jenis nutrisi dan campuran gas oksigen, nitrogen, dan karbon dioksida. %etusan gas dan pergeseran jaringan >ah, saat 'nda mematah9matahkan tangan, ruangan berisi cairan di sekitar sendi akan meregang. 2arena regangan itulah, gas di dalam cairan akan dilepaskan. %etusan gas9gas itulah yang menghasilkan bunyi di persendian. @enurut para ilmu(an, cairan sendi harus menyerap gas kembali beberapa saat sebelum 'nda dapat membuat bunyi yang sama. Tendon dan ligamen juga penyebab timbulnya suara. -aringan lunak di persendian ini mirip dengan karet yang mengikat otot dengan ujung9ujung tulang agar tidak lepas. 1egitu pula dengan ligamen yang menghubungkan tulang dengan tulang lainnya. .aat persendian digerakkan, kadang9kadang tendon dan ligamen lepas dari tempatnya, namun segera kembali. @isalnya, saat lutut 'nda berbunyi karena berdiri dari posisi duduk. Pada penderita arthritis, suara gemeretak sangat mudah terjadi dan rasanya sangat nyeri. Tulang belulang kehilangan jaringan tulang ra(an sehingga ujung9ujung tulangnya kasar. $airan sino!ial bertambah banyak sehingga sendi terasa kaku dan sakit. Para ilmu(an telah mempelajari apakah kebiasaan mematah9matahkan sendi dapat memicu arthritis atau merusak organ tubuh. 1eberapa hasil penelitian menunjukkan bah(a kegiatan tersebut dapat dilakukan kapan saja tanpa berisiko apa pun. @eskipun demikian, penelitian lainnya menunjukkan bah(a akti!itas yang berlebihan akan merusak jaringan lembut di sekitar sendi sehingga tangan bengkak dan sulit digerakkan. .umber: %i!e.cience.com dan 2ompas

Penularan !irus polio terutama melalui jalur fekal9oral dan membutuhkan kontak yang erat. Pre!alensi infeksi tertinggi terjadi pada mereka yang tinggal serumah dengan penderita. 1iasanya bila salah satu anggota keluarga terinfeksi, maka yang lain juga terinfeksi. 2ontaminasi tinja pada jari tangan, alat tulis, mainan anak, makanan dan minuman, merupakan sumber utama infeksi. $ara penularan !irus polio secara lebih mendetail akan disampaikan di tulisan berikutnyaA .ekarang kita bahas perjalanan penyakit setelah terinfeksi !irus polio. Virus polio hanya menyerang primata, termasuk manusia. Virus polio masuk melalui saluran cerna. .etelah masuk, !irus akan bereplikasi 5memperbanyak diri6. .ampai saat ini belum diketahui secara pasti, tipe sel dan tempat spesifik yang digunakan !irus ini untuk bereplikasi pertama kalinya. )anya saja, !irus ini dapat diisolasi dari jaringan limfe di saluran cerna, sehingga diduga tempat replikasi pertama !irus tersebut adalah di jaringan limfe saluran cerna terutama :bercak Peyer= dan tonsil. @eskipun begitu, tidak jelas apakah !irus polio memang bereplikasi di tempat tersebut atau :hanya terserap= oleh jaringan limfe setelah bereplikasi di sel epitel saluran cerna. Fase ini berlangsung &91? hari, dapat sampai & minggu. Virus polio pada fase ini dapat ditemukan di ludah dan feses, dan berperan dalam proses penularan. .etelah memperbanyak diri di jaringan limfe saluran cerna, !irus polio akan menyebar melalui darah 5!iremia6 untuk menuju sistem retikuloendotelial lainnya, termasuk diantaranya nodus limfe, sunsum tulang, hati, dan limpa, dan mungkin ke tempat lainnya seperti jaringan lemak coklat dan otot. .ebagian besar dari mereka yang terinfeksi !irus polio tidak menunjukkan gejala apapun, atau menunjukkan gejala yang disebut poliomielitis abortif 5ada yang menyebutnya fase klinis minor dari infeksi !irus polio6. "ejalanya mirip infeksi !irus pada umumnya, yaitu demam, nyeri tenggorokan, gangguan saluran cerna 5mual, muntah, rasa tidak enak di perut, konstipasi atau mungkin diare6, dan atau gejala yang menyerupai influenBa, ditandai dengan sakit kepala, mialgia 5nyeri otot6, dan badan terasa lemas. .ebagian besar dari mereka yang terinfeksi dapat mengatasi infeksi yang terjadi sebelum timbul !iremia yang kedua.

.ekitar 5C dari mereka yang terinfeksi, setelah perbanyakan !irus di sistem retikuloendotelial dan tempat lainnya, akan terjadi penyebaran !irus di darah 5!iremia6 yang kedua. @eskipun sistem saraf pusat 5mungkin6 dapat terserang ketika !iremia pertama, namun mayoritas terjadi setelah !iremia kedua 53i sini poin utama pentingnya !aksinasi polio. Penjelasan lebih detail di artikel yang akan datang6. 4nfeksi !irus polio pada sistem syaraf pusat dapat menyebabkan penyakit meningitis 5radang selaput otak6 aseptik 5tidak disertai infeksi bakteri6 non9paralitik atau dapat berupa poliomielitis paralitik 5paralitik D kehilangan kemampuan untuk bergerakElumpuh, sebagian atau total6. 4nfeksi pada sistem syaraf pusat inilah yang ditakutkan pada infeksi !irus polio.

Pada 5C mereka yang terinfeksi !irus polio, akan mengalami !iremia mayor. Viremia ini dikaitkan dengan apa yang disebut poliomielitis abortif. 3ari mereka yang mengalami !iremia mayor ini, ada yang kemudian menunjukkan gejala dan tanda in!asi !irus polio pada sistem syaraf pusat. 4n!asi !irus polio pada syaraf pusat dapat menyebabkan meningitis aseptik non paralitik dan poliomielitis paralitik. @eningitis aseptik non paralitik terjadi pada 19#C infeksi !irus polio, dan dikaitkan dengan panas tinggi 5mungkin dengan faringitis6, mialgia, anoreksia, mual, muntah, nyeri kepala, kaku pada leher, punggung, dan anggota gerak ba(ah. Pada pemeriksaan cairan serebrospinal dapat ditemukan peningkatan leukosit 51?9#?? selEmm&6 dan sedikit peningkatan protein 5/?95? mgEd%6. Poliomielitis paralitik tidak disertai perubahan sensasi atau kognisi. 1erdasarkan manifestasi spesifiknya, poliomielitis paralitik dapat dibagi menjadi poliomielitis spinal, poliomielitis bulbar, dan poliomielitis bulbospinal. Faktor yang mempengaruhi terjadinya poliomielitis spinal belum diketahui secara pasti. )anya saja, diduga akti!itas fisik dan injeksi intramuskular ketika fase klinis minor berperan penting 5itulah kenapa, dahulu ketika angka kejadian infeksi polio masih tinggi, ada yang berpendapat bah(a anak panas tidak boleh disuntik, karena siapa tahu panasnya disebabkan oleh infeksi !irus polio6. Poliomielitis spinal dia(ali dengan mialgia 5nyeri otot6, spasme otot 5kontraksi otot yang tidak sadar dan abnormal6, kemudian diikuti dengan penurunan kekuatan otot asimetris, terutama anggota gerak ba(ah dan menjadi maksimal setelah /0 jam. )al ini disebabkan destruksi sel saraf motorik 5bagian tanduk depan sistem syaraf tulang belakang6, yang diikuti dengan dener!asi otot skeletal yang disarafinya. Poliomielitis bulbar 5bagian dari batang otak6 biasanya hanya disertai gangguan minimal pada otot gerak ba(ah. 1iasanya terjadi pada anak, dan sering ditemukan pada mereka yang tonsil dan adenoidnya 5Damandel6 sudah diambil 5itulah kenapa jika sedang terjadi (abah polio operasi pengambilan amandel sebaiknya ditunda6. Poliomielitis bulbar mempunya angka kematian yang tinggi, karena gangguan !asomotor seperti hipertensi, hipotensi, kolaps sirkulasi 5shock6, disfungsi autonom, disfagia 5kesulitan menelan6, disfonia 5kesulitan bersuara6 dan kegagalan pernafasan. Poliomielitis bulbospinal terjadi karena in!asi !irus polio pada batang otak dan sistem syaraf tulang belakang. .elain itu !irus polio juga dapat menyebabkan ensefalitis 5radang otak6 akut. @ekanisme !irus polio menginfeksi sistem syaraf pusat masih belum diketahui secara pasti. 'da & hipotesis, yang pertama, !irus polio menginfeksi sistem syaraf pusat melalui transport

aFon 5sel syaraf panjang yang menghantarkan signal syaraf6 dengan arah yang berla(anan 5signal syaraf bergerak dari sistem syaraf pusat ke otot, !irus bergerak dari otot ke sistem syaraf pusat6. )ipotesis kedua adalah !irus menembus sa(ar darah otak, independen dari keberadaan reseptor seluler untuk !irus polio 5$31556. 3an hipotesis ketiga, !irus polio diimpor ke sistem syaraf pusat melalui sel makrofag 5mekanisme kuda Trojan6. .ampai saat ini, mayoritas bukti ilmiah mendukung hipotesis yang pertama. @anusia memiliki tulang dan sendi 5sistem gerak6 yang memiliki banyak fungsi untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa kondisi fit tulang dan sendi, manusia akan kesulitan untuk melakukan akti!itas sehari9hari. 1erikut ini adalah beberapa bentuk kelainan tulang belakang 1. 1. ,&ol os s

DEFINI,I .koliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal 5leher6, torakal 5dada6 maupun lumbal 5pinggang6. .ekitar /C dari seluruh anak9anak yang berumur 1?91/ tahun mengalami skoliosisG /?9H?C diantaranya ditemukan pada anak perempuan. PENYEBAB Terdapat & penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital 5ba(aan6, biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam

pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu 2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut: 9 Cerebral palsy 9 Distrofi otot 9 Polio 9 Osteoporosis juvenil
1. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

GE3ALA "ejalanya berupa: 9 tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping 9 bahu danEatau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya 9 nyeri punggung 9 kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama 9 skoliosis yang berat 5dengan kelengkungan yang lebih besar dari H?I6 bisa menyebabkan gangguan pernafasan. 2ebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada punggung bagian ba(ah, tulang belakang membengkok ke kiriG sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri. PENGOBATAN Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi kelengkungan 5cur!ature6 serta stadium pertumbuhan tulang. -ika kelengkungan kurang dari #?I, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan 5eFamining6 secara teratur 5regularly6 setiap H bulan. Pada anak9anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai #59&?I, karena itu biasanya dianjurkan5recomended6 untuk menggunakan brace 5alat penyangga6 untuk membantu memperlambat progresi!itas kelengkungan 5cur!ature6 tulang belakang. 1race dari Milwaukee !oston efektif dalam mengendalikan progresi!itas skoliosis, tetapi harus dipasang selama #& jamEhari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. 1race tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler. -ika kelengkungan mencapai /?I atau lebih, biasanya 5usualy6 dilakukan pembedahan. Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang9tulang. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 19# alat logam yang terpasang sampai tulang pulih 5kurang dari #? tahun6. .esudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang. 2adang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang. 1. K !os s

DEFINI,I Penyakit .cheuermann adalah suatu keadaan yang ditandai dengan nyeri punggung dan adanya bonggol di punggung 5kifosis6. 2ifosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang yang bisa terjadi akibat trauma, gangguan perkembangan atau penyakit degeneratif. 2ifosis pada masa remaja juga disebut penyakit .cheuermann. GE3ALA "ejalanya berupa: 9 nyeri punggung yang menetap tetapi sifatnya ringan 9 kelelahan 9 nyeri bila ditekan dan kekakuan pada tulang belakang 9 punggung tampak melengkung 9 lengkung tulang belakang bagian atas lebih besar dari normal. DIAGNO,A 3iagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik 5lengkungan punggung yang abnormal6. -uga dilakukan pemeriksaan neurologis 5saraf6 untuk mengetahui adanya kelemahan atau perubahan sensasi6. ontgen tulang belakang dilakukan untuk mengetahui beratnya lengkungan tulang belakang. PENGOBATAN 2asus yang ringan dan non9progresif bisa diatasi dengan menurunkan 5reduce6 berat badan 5sehingga ketegangan pada punggung berkurang6 dan menghindari akti!itas berat.

-ika kasusnya lebih berat, kadang digunakan brace 5penyangga6 tulang belakang atau penderita tidur dengan alas tidur yang kakuEkeras. -ika keadaan semakin memburuk, mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki kelainan pada tulang belakang.

1. 4. Lor$os s

Tulang belakang yang normal jika dilihat dari belakang akan tampak lurus. %ain halnya pada tulang belakang penderita lordosis, akan tampak bengkok terutama di punggung bagian ba(ah . "ejala yang timbul akibat lordosis berbeda9beda untuk tiap orang. "ejala lordosis yang paling sering adalah penonjolan bokong. "ejala lain ber!ariasi sesuai dengan gangguan lain yang

menyertainya seperti distrofi muskuler, gangguan perkembangan paha, dan gangguan neuromuskuler. >yeri pinggang, nyeri yang menjalar ke tungkai, dan perubahan pola buang air besar dan buang air kecil dapat terjadi pada lordosis, tetapi jarang. -ika terjadi gejala ini, dibutuhkan pemeriksaan lanjut oleh dokter. .elain itu, gejala lordosis juga seringkali menyerupai gejala gangguan atau deformitas tulang belakang lainnya, atau dapat diakibatkan oleh infeksi atau cedera tulang belakang. ;ntuk membedakannya dilakukan beberapa pemeriksaan seperti :

.inar J. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur dan menilai kebengkokan, serta sudutnya. @agnetic resonance imaging 5@ 46 $omputed tomography scan 5$T .can6 Pemeriksaan darah

Tujuan pengobatan lordosis adalah menghentikan semakin membengkoknya tulang belakang dan mencegah deformitas 5kelainan bentuk6. Penatalaksanaan lordosis tergantung pada penyebab lordosis. %atihan untuk memperbaiki sikap tubuh dapat dilakukan jika lordosis disebabkan oleh kelainan sikap tubuh. %ordosis yang terjadi akibat gangguan paha harus diobati bersama dengan gangguan paha tersebut.